Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS

PTERYGIUM
I.

IDENTITAS PASIEN

Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku/Bangsa
Pekerjaan
Alamat
Rekam Medik
Tanggal Periksa
Tempat Periksa
Pemeriksa
II.

: An. S
: 71 Tahun
: Perempuan
: Islam
: Makassar
: IRT
: Romang Lompoa
: 268802
: 4 Maret 2016
: RSUD Syekh Yusuf
: dr. Yuyun Rahayu Gobel,Sp. M

ANAMNESIS
Keluhan Utama
: Rasa mengganjal pada mata kiri
Anamnesis Tambahan : Pasien datang ke poli RSUD Syekh Yusuf dengan keluhan rasa
mengganjal pada mata kiri. Hal ini dialami sejak 2 tahun yang
lalu. Keluhan disertai rasa gatal pada mata kiri, penglihatan kabur
kabur, mata sering merah (+), sering berair (-). Pasien tidak
merekok, tapi di rumah suami dan menantu merokok. Pasien
sering memasak dengan menggunakan bahan bakar dari kayu. Hal
ini baru pertama kali dirasakan oleh pasien dan baru berobat ke
dokter. Riwayat memakai kacamata (-), riwayat trauma tidak ada.
Riwayat HT (+), DM (-).

III.

PEMERIKSAAN OPHTALMOLOGI

OD

OS

A. Inspeksi
Pemeriksaan
Palpebra
Aparatus
Lakrimal
Silia
Konjunctiva

OD
Edema (-)
Lakrimasi (-)

OS
Edema (-)
Lakrimasi (-)

Normal
Injeksi (-)

Normal
Hiperemis (+), tampak selapu

Bulbi

t bentuk segitiga didaerah


nasal, dengan apeks sudah
sampai

pupil

tapi

belum

melewati pupil.
Mekanisme
Muskular
Kornea
BMD
Iris
Pupil

Normal,

ke

Normal, ke segala arah

segala arah
Jernih
Kesan normal
Coklat,
kripte

Jernih
Kesan normal
Coklat, kripte (+)

(+)
Bulat, central

Bulat, central

B. Palpasi

Pemeriksaan
Test Okuler
Nyeri tekan
Massa Tumor
Glandula Preaurikuler

OD
Tn
(-)
(-)
Pembesaran (-)

OS
Tn
(-)
(-)
Pembesaran (-)

C. Pemeriksaan Visus
VOD
VOS

: 20/40
: 20/50

D. Tonometer Applanasi Goldman


TOD
TOS

: Tidak dilakukan pemeriksaan


: Tidak dilakukan pemeriksaan

E. Color Sense
Tidak dilakukan pemeriksaan
F. Penyinaran Oblik
Pemeriksaan
Konjungtiva
Kornea
BMD
Iris
Pupil

OD
Hiperemis (-)
Jernih
Normal
Coklat
Bulat, central

OS
Hiperemis (+)
Jernih
Normal
Coklat
Bulat, central

G. Slit Lamp
SLOD

: Konjunctiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD kesan normal,

SLOS

iris coklat, pupil bulat, lensa agak keruh.


: Hiperemis (+), tampak selaput bentuk segitiga didaerah nasal,
dengan apeks sudah sampai pupil tapi belum melewati pupil,
kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, pupil bulat, lensa
agak keruh.

IV.

RESUME
Seorang pasien perempuan berumur 71 tahun datang ke poliklinik mata RSUD Syekh

Yusuf dengan keluhan mata kabur pada kedua mata terutama saat melihat jarak jauh. Keluhan
dirasakan perlahan-lahan, sejak 2 tahun yang lalu. Pasien tidak merekok, tapi di rumah suami

dan menantu merokok. Pasien sering memasak dengan menggunakan bahan bakar dari kayu.
Hal ini baru pertama kali dirasakan oleh pasien dan baru berobat ke dokter. Riwayat memakai
kacamata (-), riwayat trauma tidak ada. Riwayat HT (+).
Pada pemeriksaan oftalmologi secara inspeksi dan palpasi pada OD konjungtiva
hiperemis (-), kornea jernih, mekanisme muscular ke segala arah, iris coklat, pupil bulat. OS
Hiperemis (+), tampak selaput bentuk segitiga didaerah

nasal, dengan apeks sudah sampai

pupil tapi belum melewati pupil, kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, pupil bulat.
Pada pemeriksaan refraksi VOD 20/40 dan VOS 20/50. Pemeriksaan tonometri tidak dilakukan
pemeriksaan. Sedangkan pada pemeriksaan slit lamp di dapatkan OD konjungtiva hiperemis (-),
kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, pupil bulat, lensa agak keruh, OS
Hiperemis (+), tampak selaput bentuk segitiga didaerah nasal, dengan apeks melewati limbus,
belum mencapai pupil, kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, pupil bulat, lensa agak
keruh.

V.

DIAGNOSIS :
OS Pterygium derajat III

VI.

TERAPI
Medikamentosa : Inmatrol 4 dd 1gtt

VII.

ANJURAN :
Eksisi Pterygium

VIII. PROGNOSIS :
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad sanam : Bonam
Qua ad kosmetikam : Bonam
IX.

EDUKASI :
Memberitahukan pada pasien untuk menghindari terkena asap rokok dan kalau bisa

disarankan ke pasien untuk menggunakan kompor atau gas untuk memasak, serta mengurangi
paparan sinar matahari dengan menggunakan kacamata.

X.

DISKUSI
Dari hasil anamnesis pada pasien ini, ditemukan keluhan utama adanya rasa
mengganjal pada mata kiri Hal ini dialami sejak 1tahun yang lalu. Keluhan disertai
rasa gatal pada mata, penglihatan kabur, mata sering merah (+). Pasien tidak merekok,
tapi di rumah suami dan menantu merokok. Pasien sering memasak dengan
menggunakan bahan bakar dari kayu. Hal ini baru pertama kali dirasakan oleh pasien
dan baru berobat ke dokter. Riwayat memakai kacamata (-), riwayat trauma tidak ada.
Riwayat HT (+), DM (-).
Pada pemeriksaan oftalmologi VOD 20/40, VOS 20/50 . TODS : Tn. SLOD :
konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD kesan normal, iris coklat, pupil bulat,
lensa agak keruh. SLOS: Hiperemis (+), tampak selaput bentuk segitiga didaerah nasal,
dengan apeks sudah mencapai pupil tapi belum melewati pupil, kornea jernih, BMD

kesan normal, iris coklat, pupil bulat, lensa agak keruh. Pasien pada kasus ini di
diagnosis sebagai OS Pterygium derajat 3 dan disarankan untuk dilakukan operasi
eksisis pterygium, dengan alasan pasien merasa tidak nyaman dan penglihatan mulai
kabur.
TINJAUAN PUSTAKA
PTERYGIUM
A. DEFINISI
Pterigium berasal dari bahasa Yunani yaitu Pteron yang artinya sayap (wing).
Pterigium didefinisikan sebagai pertumbuhan jaringan fibrovaskuler pada konjungtiva dan
tumbuh menginfiltrasi permukaan kornea, umumnya bilateral di sisi nasal, biasanya berbentuk
segitiga dengan kepala/apex menghadap kesentral kornea dan basis menghadap lipatan
semilunar pada cantus.1,2

Gambar : Gambaran mata normal dan yang terdapat pterigium


B. ANATOMI
ANATOMI KONJUNGTIVA
Konjungtiva merupakan membran

yang

menutupi

sclera

dan

kelopak

matabagian belakang. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :


1. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal ini sukar digerakkan
dari tarsus
2. Konjungtiva bulbi, menutupi sclera dan mudah digerakan dari sclera
dibawahnya.
3. Konjungtiva forniks, merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsaldengan
konjungtiva bulbi.
6

Konjungtiva

bulbi

dan

forniks

berhubungan

dengan

sangat

longgar

dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.

ANATOMI KORNEA
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus
cahaya,merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata bagian depan. Kornea
terdiri dari lima lapis, yaitu :
1. Epitel

Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng Pada sel
basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi
lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi selgepeng, sel basal
berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan selpoligonal di depanya
melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran
air,

elektrolit,

dan

glukosa

yang

merupakan

barrier.epitel

berasal

dari ektoderm permukaan.


2. Membran Bowman
Terletak dibawah membran basal epitel kornea yang merupakankolagen
yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal daribagian depan
stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.
3. Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar
satudengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedangdi
bagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembaliserat kolagen
memakan

waktu

yang

lama

yang

kadang-kadang

sampai

15 bulan.

Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas terletak di


antara seratkolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat
kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
4. Membrane descement
Merupakan membran aselular dan merupakan

batas

belakang

stromakornea dihasilkan selendotel dan merupakan membran basalnya. Bersifat


sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyaitebal 40m.
5. Endotel
Berasal dari mesotellium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20
40 um. Endotel melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan
zonula okluden.
Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf
siliarlongus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan
suprakoroid,masuk ke dalam stroma kornea, menembus membrane bowman
melepaskanselubung schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada
kedua lapisterdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin

ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah


limbusterjadi dalam waktu 3 bulan. Trauma atau penyakit yang merusak endotel
akan mengakibatkan system pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi
endotel dan terjadi edemakornea. Endotel tidak mempunyai daya regenarasi.
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata
disebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, yaitu

40

dioptri.

Gambar : Lapisan Kornea

C. EPIDEMIOLOGI
Di Indonesia, hasil survei Departemen Kesehatan RI tahun 1982 menunjukkan bahwa
pterigium menempati urutan ketiga insiden terbesar dari penyakit mata dengan 8,79%. Hasil
survei nasional tahun 1993-1996 tentang angka kesakitan mata di 8 propinsi di Indonesia
menempatkan pterigium pada urutan kedua dengan 13,9%.3 Gizzard dkk dalam penelitian di
Indonesia menemukan bahwa angka prevalensi tertinggi ditemukan di propinsi Sumatra. 4
Sedangkan dari survei kesehatan indra penglihatan dan pendengaran tahun 1995 prevalensi
penyakit mata di Sulawesi Utara menempatkan pterigium pada urutan pertama dengan 17,9%.5
Mandang pada tahun 1970 menemukan 14,69% pterigium khususnya di 19 desa dan 17,50%

pterigium di 3 ibukota kecamatan di Kabupaten Minahasa. Di Minahasa, pterigium merupakan


penyakit mata nomor 3 sesudah kelainan refraksi dan penyakit infeksi luar. Mangindaan dan
Bustani melaporkan 21,35% pterigium di 2 desa di Kabupaten Minahasa Utara. Hasilnya
12,92% pada pria dan 8,43% pada wanita. Sebanyak 9,55% berusia di atas 50 tahun, dengan
pekerjaan sebagai petani sebesar 10,11%, insidens terbanyak adalah pterigium stadium 3 dengan
42,11%, dan insiden pterigium yang tumbuh di bagian nasal sebesar 55,26 %.
D. ETIOLOGI
Etiologi pterigium belum diketahui secara jelas. Diduga merupakan suatu proses
peradangan dan degenerasi yang disebabkan oleh iritasi kronis akibat debu, pasir, cahaya
matahari, lingkungan berangin, dan udara yang panas. Selain itu faktor genetik dicurigai
menjadi salah satu faktor predisposisi.
Faktor risiko yang mempengaruhi munculnya pterigium antara lain:
1

Radiasi ultraviolet
Faktor risiko utama yang berasal dari lingkungan sebagai penyebab
timbulnya pterigium adalah paparan sinar matahari. Sinar ultraviolet yang
diabsorbsi oleh kornea dan konjungtiva akan mengakibatkan kerusakan dan
proliferasi sel. Iklim dan waktu berada di luar ruangan merupakan faktor penting

yang mempegaruhi paparan radiasi ultraviolet.


Faktor Genetik
Pada beberapa kasus dilaporkan terdapat sekelompok anggota keluarga
dengan pterigium dan berdasarkan penelitian case control menunjukkan bahwa
pterigium kemungkinan diturunkan secara autosom dominan.

Faktor lain
Iritasi kronik atau inflamasi yang terjadi pada area limbus atau perifer
kornea merupakan pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya
limbal sebagai teori baru patogenesis dari pterigium. Wong juga menunjukkan
adanya pterygium angiogenesis factor dan penggunaan pharmacotherapy
antiangiogenesis sebagai terapi. Debu, kelembaban yang rendah, trauma kecil
dari bahan partikel tertentu, dry eye, dan virus papilloma juga dapat menjadi
penyebab pterigium.

E. KLASIFIKASI PTERIGIUM

10

Pterigium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi yaitu:


1. Pterigium dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:
a
Pterigium simpleks; jika terjadi hanya di bagian nasal atau
temporal saja.
b Pterigium dupleks; jika terjadi di bagian nasal dan temporal
2. Berdasarkan perjalan penyakit, pterigium dibagi menjadi yaitu :
Pterigium progresif : tebal dan vascular dengan beberapa infiltrate di kornea

di depan kepala pterigium ( disebut cap dari pterigium)


Pterigium regresif : tipis, atrofi, sedikit vascular. Akhirnya menjadi bentuk

membran tidak pernah hilang


3. Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan harus
diperiksa dengan slit lamp pterigium dibagi 3 yaitu:
- T1 (atrofi) : pembuluh darah episkleral jelas terlihat
- T2 (intermediet) : pembuluh darah episkleral sebagian terlihat
- T3 (fleshy, opaque) : pembuluh darah tidak jelas.
4. Berdasarkan stadium pterigium dibagi ke dalam 4 stadium yaitu:
Stadium I
: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
Stadium II
: Jika pterigium sudah melewati limbus dan belum mencapai

pupil, tidak lebih dari 2 mm melewati kornea.


Stadium III : Jika pterigium sudah melebihi stadium II tetapi tidak melebihi
pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal ( diameter pupil sekitar 3 4

mm)
Stadium IV

: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga

mengganggu penglihatan.

Pterigium stadium I

Pterigium stadium 2

11

Pterigium stadium 3

Pterigium stadium 4

F. PATOFISIOLOGI
Terjadinya pterygium sangat berhubungan erat dengan paparan sinar matahari,
walaupun dapat pula disebabkan oleh udara yang kering, inflamasi, dan paparan
terhadap angin dan debu atau iritan yang lain. UV-B merupakan faktor mutagenik
bagi tumor supressor gene p53 yang terdapat pada stem sel basal di limbus. Ekspresi
berlebihan sitokin seperti TGF- dan VEGF (vascular endothelial growth factor)
menyebabkan regulasi kolagenase, migrasi sel, dan angiogenesis.
Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial
fibrovaskular. Jaringan subkonjungtiva mengalami degenerasi elastoid (degenerasi
basofilik) dan proliferasi jaringan granulasi fibrovaskular di bawah epitel yaitu
substansia propia yang akhirnya menembus kornea. Kerusakan kornea terdapat pada
lapisan membran Bowman yang disebabkan oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular
dan sering disertai dengan inflamasi ringan. Kerusakan membran Bowman ini akan
mengeluarkan substrat yang diperlukan untuk pertumbuhan pterygium. Epitel dapat
normal, tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia.
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea. Pada keadaan defisiensi
limbal stem cell, terjadi konjungtivalisasi pada permukaan kornea. Gejala dari defisiensi
limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis,
kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik. Tanda ini juga
ditemukan pada pterygium dan oleh karena itu banyak penelitian yang menunjukkan
bahwa pterygium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi localized
interpalpebral limbal stem cell. Pterygium ditandai dengan degenerasi elastotik dari
12

kolagen serta proliferasi fibrovaskuler yang ditutupi oleh epitel.

Pada

pemeriksaan

histopatologi daerah kolagen abnormal yang mengalami degenerasi elastolik tersebut


ditemukan basofilia dengan menggunakan pewarnaan hematoxylin dan eosin,
Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas. Epitel diatasnya
biasanya normal, tetapi mungkin acanthotic, hiperkeratotik, atau bahkan displastik dan
sering menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet.

F. GEJALA KLINIS
Pterigium dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Pterygium dapat hanya
terdiri atas sedikit vaskular dan tidak ada tanda-tanda pertumbuhan. Pterygium dapat aktif
dengan tanda-tanda hiperemia serta dapat tumbuh dengan cepat. Pasien yang mengalami
pterygium dapat tidak menunjukkan gejala apapun (asimptomatik). Kebanyakan gejala
ditemukan saat pemeriksaan berupa iritasi, perubahan tajam penglihatan, sensasi adanya
benda asing atau fotofobia. Penurunan tajam penglihatan dapat timbul bila pterygium
menyeberang axis visual atau menyebabkan meningkatnya astigmatisme. Efek lanjutnya
yang disebabkan membesarnya ukuran lesi menyebabkan terjadinya diplopia yang
biasanya timbul pada sisi lateral. Efek ini akan timbul lebih sering pada lesi-lesi rekuren
(kambuhan) dengan pembentukan jaringan parut. Pterigium dapat tidak memberikan
keluhan atau akan memberikan keluhan mata iritatif, gatal, merah, sensasi benda asing
dan mungkin menimbulkan astigmat atau obstruksi aksis visual yang akan memberikan
keluhan gangguan penglihatan.
G. Diagnosa Banding Pterigium
Pseudopterigium
Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat.
Pseudopterigium ini sering terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea sehingga
konjungtiva menutupi kornea.

13

Gambar : Pseudopterigium
Perbedaan pseudopterigium dengan pterigium antara lain:

Pseudopterigium didahului dengan adanya riwayat kerusakan permukaan kornea


seperti tukak kornea, sedangkan pada pterigium tidak.
Pseudopterigium muncul pada bagian konjungtiva yang terdekat dengan tempat
proses abnormal pada kornea sebelumnya.
Pada puncak pterigium terdapat islet of Fuchs pada kornea, sedangkan pada
pseudopterigium tidak.
Jumlah pembuluh darah pada pseudopterigium sama dengan keadaan mata normal,

sedangkan pada pterigium terdapat peningkatan vaskularisasi.


Pseudopterigium dapat diselipi sonde di bawahnya, sedang pada terigium tidak

Pterigium bersifat progresif, sedangkan pseudopterigium tidak.


H. DIAGNOSIS
Anamnesis

Pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama
sekali(asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain: .
a. Mata sering berair dan tampak merah.
b. Merasa seperti ada benda asing
c. Timbul astigmatase akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium
tersebut, biasanya astigmatase with the rule ataupun astigmatase irregular
sehingga menganggu penglihatan.
d. Pada stadium yang lanjut ( derajat III dan IV ) dapat menutupi pupil dan
aksis visual sehingga tajam penglihatan menurun.
Pemeriksaan Fisik
14

Pada inspeksi pterygium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada permukaan


konjuntiva. Pterygium dapat memberikan gambaran yang vaskular dan tebal tetapi ada juga
pterygium yang avaskuler dan flat. Perigium paling sering ditemukan pada konjungtiva nasal
dan berekstensi ke kornea nasal, tetapi dapat pula ditemukan pterygium pada daerah temporal.
H. PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi
perlu dilakukan tindakan untuk menghindari faktor-faktor penyebab seperti
paparan radiasi ultraviolet, angin, dan debu dengan tujuan mengurangi risiko
berkembangnya pterigium pada individu yang memiliki risiko tinggi. Pasien disarankan
untuk menggunakan topi yang memiliki pinggiran dan menggunakan kacamata
pelindung untuk mengurangi paparan cahaya matahari, angin, dan debu pada mata.
Tindakan pencegahan ini bahkan lebih penting untuk pasien yang tinggal di daerah
subtropis atau tropis, dan pada pasien yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Mediakamentosa
Pada pterigium yang ringan tidak perlu diobati. Untuk pterigium derajat 1-2
yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik
dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan
kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau
mengalami kelainan pada kornea.
Tindakan operatif
Tindakan pembedahan adalah suatu tindak bedah plastik yang dilakukan dengan
indikasi:
1. Pterigium telah memasuki kornea lebih dari 4 mm.
2. Pertumbuhan yang progresif, terutama pterigium jenis vaskular.
3. Mata terasa mengganjal.
4. Visus menurun, terus berair.
5. Mata merah sekali.
6. Telah masuk daerah pupil atau melewati limbus.
7. Alasan kosmetik.

15

Pascaoperasi biasanya akan diberikan terapi lanjut seperti pengggunaan sinar radiasi
atau terapi lainnya untuk mencegah kekambuhan seperti mitomycin C.
Jenis Operasi pada Pterigium antara lain:

Bare sklera : bertujuan untuk menyatukan kembali konjungtiva dengan permukaan


sklera. Kerugian dari teknik ini adalah tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan
yang dapat mencapai 40-75%.

Simple Closure : menyatukan langsung sisi konjungtiva yang terbuka, diman teknik ini
dilakukan bila luka pada konjuntiva relative kecil.

Sliding flap : dibuat insisi berbentuk huruf L disekitar luka bekas eksisi untuk
memungkinkan dilakukannya penempatan flap.

Rotational flap : dibuat insisi berbentuk huruf U di sekitar luka bekas eksisi untuk
membentuk seperti lidah pada konjungtiva yang kemudian diletakkan pada bekas eksisi.

Conjungtival graft : menggunakan free graft yang biasanya diambil dari konjungtiva
bulbi bagian superior.

Tindakan pembedahan untuk eksisi pterigium biasanya bisa dilakukan pada pasien rawat
jalan dengan menggunakan anestesi lokal, bila perlu diperlukan dengan memakai sedasi.
Perawatan pasca operasi, mata pasien biasanya merekat pada malam hari, dan dirawat memakai
obat tetes mata atau salep mata antibiotic atau antinflamasi

16

a. Pterigium.
b. Batas pterigium yang akan dieksisi.
c. Pterigium telah dieksisi.
d. Konjungtiva di daerah yang tidak terkena sinar UV, misalnya pada
bagian bawah palpebra superior, diambil sebagai autograft.
e. Autograft konjungtiva tersebut dipindahkan ke bagian pterigium yang
telah dieksisi.
I. KOMPLIKASI
Komplikasi pterygium meliputi sebagai berikut:2
Pra-operatif:
1. Astigmat
Salah satu komplikasi yang disebabkan oleh pterygium adalah astigmat karena
pterygium dapat menyebabkan perubahan bentuk kornea akibat adanya mekanisme
penarikan oleh pterygium serta terdapat pendataran daripada meridian horizontal pada
kornea yang berhubungan dengan adanya astigmat. Mekanisme pendataran itu sendiri
belum jelas. Hal ini diduga akibat tear meniscus antara puncak kornea dan peninggian
pterygium. Astigmat yang ditimbulkan oleh pterygium adalah astigmat with the rule
dan iireguler astigmat.
2. Kemerahan
3. Iritasi
4. Bekas luka yang kronis pada konjungtiva dan kornea

17

5. Keterlibatan yang luas otot ekstraokular dapat membatasi penglihatan dan menyebabkan
diplopia.
Intra-operatif:
Nyeri, iritasi, kemerahan, graft oedema, corneoscleral dellen (thinning), dan perdarahan
subkonjungtival dapat terjadi akibat tindakan eksisi denganconjunctival autografting, namun
komplikasi ini secara umum bersifat sementara dan tidak mengancam penglihatan.
Pasca-operatif:
Komplikasi pasca eksisi adalah sebagai berikut:
1. Infeksi, reaksi bahan jahitan, diplopia, jaringan parut, parut kornea, graft konjungtiva
longgar, perforasi mata, perdarahan vitreus dan ablasi retina.
2. Penggunaan mitomycin C post operasi dapat menyebabkan ektasia atau nekrosis sklera
dan kornea
3. Pterygium rekuren.

J. PENCEGAHAN
Pada orang dengan risiko tinggi seperti yang bertempat tinggal di daerah
tropis, beraktivitas di luar ruangan dalam waktu yang lama misalnya nelayan dan
petani, serta banyak berkontak dengan debu dan sinar matahari dianjurkan untuk
memakai topi dan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari paparan sinar
matahari dan debu. Tindakan-tindakan pencegahan tersebut juga perlu dilakukan oleh
pasien yang telah menjalani prosedur pengangkatan pterigium dengan tujuan mencegah
kekambuhan.
K. PROGNOSIS
Ketajaman penglihatan dan dari segi kosmetik pasien setelah pterigium dieksisi
menjadi baik. Rasa tidak nyaman pada hari pertama setelah operasi dapat ditoleransi.
Kebanyakan pasien setelah 48 jam pasca operasi sudah dapat beraktivitas kembali.
Rekurensi pterigium setelah operasi masih merupakan suatu masalah sehingga
untuk mengatasinya berbagai metode dilakukan termasuk pengobatan dengan

18

antimetabolit, antineoplasia, dan transplantasi konjungtiva. Pasien dengan pterigium


yang berulang dapat dilakukan kembali prosedur pengangkatan dengan cara eksisi
kemudian dilakukan konjungtiva autograft atau transplantasi membran amnion.
Umumnya rekurensi pterigium terjadi pada 36 bulan pertama setelah operasi.
Pada orang yang berisiko tinggi timbulnya pterigium seperti memiliki riwayat
keluarga dengan pterigium, berkerja di luar ruangan dalam waktu lama, dan tinggal di
daerah yang berangin dianjurkan memakai topi dan kacamata pelindung untuk
mengurangi paparan sinar matahari pada mata

DAFTAR PUSTAKA
1. GPterygium. 2015. Available in URL http://www.baysideeyes.com.au/eyeconditions/pterygium-and-pingueculum/
2. Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Perawatan Mata. Jakarta: Sagung Seto
3. Ilyas dan Rahayu, Sri. 2013. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Keempat. Badan
Penerbit FKUI
4. Vaughan DG, Asbury T, Riodan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14.
Jakarta: Widya Medika 2000. 175-183
5. Ilyas, Sidarta. 2010. Atlas Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Sagung Seto
6. Fisher,
P.
2015.
Avalaible
in
URL
http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview#showall

19