Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa keras
seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas
(ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih dan uretra), yang
dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi.
Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung
kemih (batu kandung kemih). Batu ini terbentuk dari pengendapan garam kalsium,
magnesium, asam urat, atau sistein. 1
BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah anggur. Batu
yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan biasanya dapat
keluar bersama dengan urine ketika berkemih. Batu yang berada di saluran kemih
atas (ginjal dan ureter) menimbulkan kolik dan jika batu berada di saluran kemih
bagian bawah (kandung kemih dan uretra) dapat menghambat buang air kecil. 2
Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis dapat
menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat di daerah
antara tulang rusuk dan tulang pinggang yang menjalar ke perut juga daerah
kemaluan dan paha sebelah dalam). Hal ini disebabkan karena adanya respon
ureter terhadap batu tersebut, dimana ureter akan berkontraksi yang dapat
menimbulkan rasa nyeri kram yang hebat. 1
Di Indonesia penyakit batu saluran kemih masih menempati porsi terbesar dari
jumlah pasien di klinik urologi. Insidensi dan prevalensi yang pasti dari penyakit
ini di Indonesia belum dapat ditetapkan secara pasti. 1
Dari data dalam negeri yang pernah dipublikasi didapatkan peningkatan
jumlah penderita batu ginjal yang mendapat tindakan di RSUPN-Cipto
Mangunkusumo dari tahun ke tahun mulai 182 pasien pada tahun 1997 menjadi
847 pasien pada tahun 2002, peningkatan ini sebagian besar disebabkan mulai
tersedianya alat pemecah batu ginjal non-invasif ESWL (Extracorporeal shock
wave lithotripsy) yang secara total mencakup 86% dari seluruh tindakan (ESWL,
PCNL, dan operasi terbuka). 3

Dari data di luar negeri didapatkan bahwa resiko pembentukan batu sepanjang
hidup (life time risk) dilaporkan berkisar 5-10% (EAU Guidelines). Laki-laki
lebih sering dibandingkan wanita (kira-kira 3:1) dengan puncak insidensi antara
dekade keempat dan kelima, hal ini kurang lebih sesuai dengan yang ditemukan di
RSUPN-CM. 4
Insiden terjadinya batu ginjal (nephrolithiasis) di Amerika utara, dan Eropa
diestimasikan mencapai 0,5%. Sedangkan di Amerika prevalesninya meningkat
dari 3,2% menjadi 5,2% dalam dua tahun. Nephrolitiasis merupakan penyakit
berulang, dengan tingkat kekambuhan 50% dalam 5-10 tahun dan 75% dalam 20
tahun. Sekali berulang, maka risiko berulang selanjutnya akan meningkat dan
intervalnya akan semakin pendek. Insiden nephrolithiasis, banyak terjadi pada
wanita dibandingkan pada laki- laki. Batu kapur merupakan jenis batu terbanyak
yang ditemukan pada nephrolitiasis yaitu lebih dari 80%, kemudian batu asam
urat sebanyak 5- 10% (Moe, 2006). 5
Prevalensi penyakit ginjal di Indonesia diperkirakan sebesar 13% pada lakilaki dewasa dan 7% pada perempuan dewasa. Angka kejadian batu ginjal di
Indonesia tahun 2002 berdasarkan data yang dikumpulkan dari rumah sakit di
seluruh Indonesia adalah sebesar 37.636 kasus baru, dengan jumlah kunjungan
sebesar 58.959 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah sebesar
19.018 orang, dengan jumlah kematian adalah sebesar 378 orang (Taher, et al.,
2005) 6

BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS
Identitas Penderita
Nama/no. Rekam medik
Jenis Kelamin
Tempat & tanggal Lahir
Umur
Pekerjaan
Alamat
Agama
Tanggal masuk RS
Tanggal operasi
Tanggal keluar RS

: Tn. R/31 01 56
: Laki-laki
: 29-07-1948
: 67 Tahun
: Pensiunan
: Dusun Tokai
: Islam
: 10-11-2015
: 16-11-2015
: 25-11-2015

B. ANAMNESIS
Diambil secara autoanamnesis, pada hari tanggal 10 November 2015, hari
perawatan ke-1, di bangsal ruang perawatan pelamonia.
Keluhan Utama

: Nyeri pinggang kiri

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien laki-laki, usia 67 masuk rumah sakit Pelamonia dengan keluhan
nyeri di pinggang kiri sejak beberapa tahun yang lalu. Nyeri dirasakan hilang
timbul, nyeri timbul sewaktu-waktu bisa pada saat tidur ataupun sedang duduk.
Nyeri dirasakan pasien semakin bertambah, sehingga menyulitkan pasien untuk
melakukan aktivitasnya. Nyeri juga diperberat saat pasien melakukan aktivitas
seperti berjalan dan nyeri dirasakan tembus kebelakang dan menjalar ke bawah.
Pasien tidak ada mengalami keringat dingin ataupun menggigil saat nyeri
timbul, tidak ada mual muntah, pola BAB lancar konsistensi lunak. Pasien
mengaku tidak ada penurunan berat badan dan nafsu makan. Pasien disarankan
dirawat dan direncanakan operasi batu saluran kencing 16 November 2015.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Tidak
mempunyai riwayat penyakit ginjal maupun infeksi saluran kemih. Pasien
menyangkal adanya riwayat penyakit sendi dan asam urat, riwayat operasi
3

sebelumnya disangkal, riwayat darah tinggi, kencing manis dan asma juga
disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, asma, sakit magh, keganasan pada
keluarga disangkal.
Riwayat Alergi dan obat
Riwayat alergi obat disangkal pasien.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesan sakit

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Kesan gizi

: gizi cukup

Postur tubuh

: piknikus

Cara berjalan

: normal

Cara duduk dan berbaring

: normal

Sianosis

: Tidak ada

Mobilitas ( aktif / pasif )

: Aktif

Umur menurut taksiran

: Sesuai

Tanda Vital
Tekanan darah

: 120/70mmHg

Nadi

: 76 x/menit

Suhu

: 36,60C

Frekuensi napas : 20 x /menit


Status Generalis
a. Kepala :
Normocephali, bentuk bulat, deformitas (-), warna rambut hitam tipis,
distribusi merata, tak mudah dicabut.
b. Wajah :
4

Ekspresi sakit sedang, pucat (-), kemerahan (-) sianosis (-), wajah
simetris.
c. Mata dan alis mata :
Alis madarosis (-), alis hitam simetris. Xantelasma (-), ptosis (-),
lagophtalmos (-), udem palpebra (-), Pupil bulat reguler isokor (+/+),
Konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-), RR (+/+), gerak bola mata
normal, LP normal.
d. Hidung :
Bentuk normal, liang hidung lapang sama besar, simetris, septum deviasi
(-), deformitas (-), sekret (-/-), hiperemis (-/-), darah (-/-), deviasi septum
(-/-).
e. Telinga :
Telinga Normotia, liang telinga lapang, refleks cahaya membran timpani
(+/+), sekret/serumen/darah (-/-), benjolan dan nyeri tekan sekitar liang
telinga (-/-).
f. Mulut :
- Bentuk normal, agak kering, kulit sekitar bibir normal, bibir simetris,
sianosis (-) Kering (-), sianosis (-), anemis (-), tonsil dan faring dalam
-

batas normal
Gigi dan gusi : oral higiene cukup baik, flek/bolong/karies gigi (-),
gusi warna pink, tanda inflamasi dan perdarahan gusi (-), lidah

normoglossi
Mukosa faring dan tonsil : warna pink tanpa bercak. Ulkus palatum (-),

bau napas (-), detritus dan kriptus tonsil (-)


Uvula : ditengah, warna pink, hiperemis (-), tonsil ukuran T1/T1

g. Leher :
Bentuk & ukuran normal, deviasi trakea (-), KGB & kelenjar thyroid
normal, nyeri tekan (-), kaku kuduk (-). A. Carotis denyut teraba normal,
JVP 5 +2 cmH2O,
h. Thoraks
Paru
Inspeksi : bentuk normal, lordosis (-), kifosis (-), skoliosis (-), gibus
(-), warna kulit sawo matang, ikterik (-), pucat (-), sinosis
(-), spider navy (-), roseola spot (-), dilatasi vena (-),
sternum normal datar, tulang iga & sela iga normal,

Hemithoraks simetris saat statis dan dinamis, tipe


abdominotorakal, retraksi sela iga (-).
Palpasi : Vokal fremitus kanan dan kiri simetris saat inspirasi dan
expirasi,
Perkusi : Sonor. Batas paru dengan hepar, jantung kanan, lambung,
jantung kiri normal.
Auskultasi: Suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi

:Ictus cordis teraba di ICS V, 1 cm medial linea


midclavicularis sinistra, thrill (-)

Perkusi

: sonor. batas jantung dengan paru kanan, paru kiri, batas


atas jantungnormal.

Auskultasi: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-), BJ III (-). BJ IV (-),
ES (-), SC (-), OS (-)
i. Abdomen
Inspeksi : Normal, datar, simetris, buncit (-), skafoid (-), warna kulit sawo
matang, pucat (-), ikterik (-), sianosis (-), kemerahan (-), spider navy(-),
roseola spot (-), keriput (-), dilatasi vena (-),gerak dinding perut simetris,
tipe pernapasan abdominotorakal
Palpasi : Supel, massa (-), turgor normal, retraksi (-), defence muskular (-),
rigiditas (-), NT (-), NL (-), hepar, lien, vesica vellea normal, undulasi (-),
ginjal ballotement (+)
Perkusi :
4 kuadran abdomen timpani, batas atas dan bawah hepar
normal, shifting dullnes (-)
Auskultasi: Bising usus (+) normal
j. Ekstremitas
Atas
Inspeksi : Bentuk, Kulit, Bulu rambut, Jari, Kuku, Telapak tangan,
punggung tangan normal
Palpasi : Suhu, Kelembaban, nyeri, rigiditas & atrofi otot (-), kekuatan otot
baik, Flapping tremor (-), tremor (-) hangat (+/+), oedem (-/-)

Pemeriksaan reflex fisiologis: Biceps dan triceps (+)


Bawah
Inspeksi : bentuk, kulit, bulu rambut, jari, kuku, telapak kaki normal,
kelemahan otot (-), koordinasi gerakan baik
Palpasi : Suhu, Kelembaban, nyeri normal, rigiditas & atrofi otot (-),
kekuatan otot baik, Akral hangat (+/+), oedem (-/-),
Reflex fisiologis : Reflex Patella dan Achilles (+)
Reflex patologis : Babinski (-), Oppenheim (-), Gordon (-), schaeffer (-),
chaddok (-)
Rangsang meningeal : Kaku kuduk, Brudzinsky 1 & II, Laseq, Kernig (-).
Status Lokalis
Ginjal pada region costovertebral
- Inspeksi : dalam batas normal
- Palpasi : ballotement (+); nyeri tekan (+)
- Perkusi : nyeri ketuk (+)
Ureter pada region suprapubik
- Palpasi : nyeri tekan (-)
Vesica urinaria pada region suprapubik
- Inspeksi : dalam batas normal
- Palpasi : tidak teraba buli, nyeri tekan (-)
- Perkusi
: nyeri ketuk (-)
Uretra/OUE pada region genitalia eksterna
- Inspeksi : tanda radang (-); nanah/darah/ektropion pada OUE (-)
Pemeriksaan Rectal Toucher:
-

Tonus sfingter ani baik

Mukosa rektum licin

Feses (-), lendir (-), darah (-), massa (-), nyeri (-)

Prostat teraba kenyal, simetris (+), batas atas teraba, tak teraba membesar,
permukaan regular, mobilitas (+), tidak teraba nodul, nyeri tekan (-), nodul
(-), krepitasi (-), batas atas dapat teraba

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium: 10 November 2015


Jenis Pemeriksaan
Hasil
Hematologi Lengkap
Leukosit
8.4
Eritrosit
3.57
Hemoglobin
9.8
Hematokrit
29.4
Trombosit
375
LED
145
Hitung Jenis
Basofil
0,5
Eosinofil
1,7
Limfosit
25,4
Monosit
9,1
Kimia Klinik
Hati
SGOT
13
SGPT
19
Metabolisme karbohidrat
GDS
190
Ginjal
Ureum
25
Kreatinin
1.4
Asam urat
8.0

Satuan

Nilai normal

ribu/l
Juta/ l
g/dl
%
ribu/l
mm/jam

5.0 10.0
4.50 5.50
14.0 17.4
42 52
150 440
0 20

%
%
%
%

01
24
25 40
0-99,9

mu/dl
mu/dl

<37
<42

mg/dL

<140

mg/dL
mg/dL
mg/dL

10 50
0.7-1.3
3.7-7.0

Hasil

Satuan

Nilai normal

11.7
3.80
10.3
31.6
375
136

ribu/l
Juta/ l
g/dl
%
ribu/l
mm/jam

5.0 10.0
4.50 5.50
14.0 17.4
42 52
150 440
0 20

0,5
1,7
25,4
9,1

%
%
%
%

01
24
25 - 40
0-99,9

Laboratorium 13 November 2015


Jenis Pemeriksaan
Hematologi Lengkap
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
LED
Hitung Jenis
Basofil
Eosinofil
Limfosit
Monosit

Ct-scan tanggal 5 november 2015

Kesan: Hydronefrosis sinistra ec batu staghorn


E. DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja : Nefrolithiasis
Diagnosis Primer : Batu staghorn sinistra
Diagnosis Sekunder : Kardiomegali Edema Paru
F. DIAGNOSIS BANDING
- BPH
- Tumor ginjal
- HNP

G. PENATALAKSANAAN
Ruang perawatan
Persiapan puasa 8 jam pro operasi

Amlodipin 10 mg/ 24 jam


Cefoperazone 1 gr pre op
Pasang infus RL/20 tpm
Siapkan darah 2 bag
Operatif

Dilakukan operasi Nefrectomi kiri pada tanggal 16 november 2015


Alasan Operasi :
Diagnosis Post Operasi :
Batu stoghorn kiri hidrnoefrosis Kiri
Laporan Operasi :
1. Posisi miring kiri atas
2. Kulit di desinfeksi dengan betadin, tutup dengan duk steril
3. Insisi kulit 15 cm pada ICS 11 kiri
4. Nampak fascia gerota pucat, sangat keras dan melengket
5. Bebaskan fascia gerota ke arah kranial
6. Nampak robekan pada pleura dan terlihat paru-paru yang kolaps
7. Buka fascia gerota dan kapsul ginjal yang sangat keras dan tebal
8. Bebaskan ginjal subkapsuler sampai hillus
9. Nampak pyelum dan batupada pyelum yang robek
10. Urin kental dan bernanah, identifikasi ureter dan bebaskan (ureter kaku
dan tebal)
11. Ureter dipisahkan dan diikat.
12. Buka kapsul ginjal daerah hilus untuk mengidentifikasi vaskuler ginjal
13. Vaskuler ginjal/ jaringan pada hilus dibagi dua dan di klem double
14. Ginjal dipisahkan dari hilus PA
15. Ikat pembuluh darah ginjal dengan hekson 1/0
16. Jahit pleura yang robek pada inspirasi maksimal dengan dekson 4/0
17. Jahit peritoneum yang robek dengan dekson 4/0
18. Evaluasi perdarahan, cuci dengan Nacl dan betadine pasang drain 1
buah
19. Hitung kasa lengkap, jaringan otot dijahit dua lapis dengan dekson 1/0
20. Jahit subkutis dengan chromic 3/0, jahit kuli denganzeide 3/0
21. Operasi selesai
Instruksi post operasi

Awasi tanda vital, produksi urin, produksi drain

Puasa sampai dengan os sadar betul

IVFD RL, NACL 0,9%

Foto thorax

Torasik 2x1ampul iv

10

Ranitidin 3x1 ampul iv

Cefotaxim 2x1gr iv

Dagnosis Pasca Operasi


Batu stoghorn kiri- Pionefrosis kiri
Follow up
Tanggal
10/11/2015

Subjektif

Objektif

Analisis

Nyeri akut KU : composmentis

Suspek

pada

TD: 120/70 mmHg

nefrolithiasis

abdomen

N: 76x/menit

Perencanaan

RR: 20x/menit
S: 36.8oC
11/11/2015

VAS: skala 5
Nyeri akut KU : composmentis

Suspek

Periksa hasil ct

pada

TD: 120/80 mmHg

nefrolithiasis

scan pada pasien

abdomen

N: 76x/menit

VAS: skala 5
Nyeri akut KU : composmentis

Batu staghorn

-transfusi darah 2

pada

TD: 120/70 mmHg

kiri

abdomen

N: 76x/menit

bag
-kontrol jantung

RR: 20x/menit
S: 36.6oC
12/11/2015

RR: 20x/menit
S: 36.8oC
VAS: skala 5
13/11/2015

Nyeri akut KU : composmentis

Batu staghorn -

cek hasil foto

pada

TD: 120/70 mmHg

kiri

abdomen

N: 76x/menit

thorax
cek Hb post

RR: 20x/menit

transfusi

S: 36.8oC
11

VAS: skala 3-4


14/11/2015

EKG: WNL
Nyeri akut KU : composmentis

Batu staghorn

pada

TD: 120/70 mmHg

kiri

abdomen

N: 76x/menit

Terapi lanjut

RR: 20x/menit
S: 36.8oC
15/11/2015

VAS: skala 5
Nyeri akut KU : composmentis

Batu staghorn -

R/

pada

TD: 160/80 mmHg

kiri

abdomen

N: 76x/menit

10mg 1x1
Operasi besok
Darah 2 bag

amlodipin

RR: 20x/menit
S: 36.8oC
16/11/2015

VAS: skala 5
Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 1 -

IVFD RL 20

pada

nefrectomi
-

tpm
Cefotaxim 2x

1 gr
Torasic 2x1 gr
Ranitidin 3x1

abdomen

TD: 150/70 mmHg


N: 76x/menit

sinistra

RR: 20x/menit
S: 36.8oC
VAS: skala 5
17/11/2015

Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 2 -

pada

nefrectomi

abdomen

18/11/2015

TD: 150/70 mmHg


N: 76x/menit

sinistra

RR: 20x/menit

suspek efusi

S: 36.8oC

pleura

VAS: skala 5

sinistra

tpm
Cefotaxim 2x

1 gr
Torasic 2x1 gr
Ranitidin 3x1

gr
Konsul dokter

Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 3 -

pada

nefrectomi

abdomen

TD: 140/70 mmHg


N: 76x/menit
RR: 20x/menit

sinistra

gr
Thorax foto
IVFD RL 20

paru
IVFD RL 20

tpm
Cefotaxim 2x

1 gr
Torasic 2x1 gr
12

S: 36.8oC

VAS: skala 5
19/11/2015

Ranitidin 3x1
gr

Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 4

pada

TD: 140/70 mmHg

nefrectomi

abdomen

N: 76x/menit

sinistra

RR: 20x/menit

Terapi lanjut

S: 36.8oC
VAS: skala 5
20/11/2015

Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 5

pada

TD: 140/70 mmHg

nefrectomi

abdomen

N: 76x/menit

sinistra

RR: 20x/menit

Terapi lanjut

S: 36.8oC
21/11/2015

VAS: skala 5
Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 6

pada

TD: 140/70 mmHg

nefrectomi

abdomen

N: 76x/menit

sinistra

RR: 20x/menit
S: 36.8oC

Terapi lanjut

VAS: skala 5
22/11/2015

Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 7

pada

TD: 140/70 mmHg

nefrectomi

abdomen

N: 76x/menit

sinistra

RR: 20x/menit

Terapi lanjut

S: 36.8oC
23/11/2015

VAS: skala 5
Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 8

pada

TD: 140/70 mmHg

nefrectomi

abdomen

N: 76x/menit

sinistra

13

RR: 20x/menit

Terapi lanjut

S: 36.8oC
VAS: skala 5
24/11/2015

Nyeri akut KU : composmentis

Post op hari 9

pada

TD: 140/70 mmHg

nefrectomi

abdomen

N: 76x/menit

sinistra

RR: 20x/menit
S: 36.8oC
25/11/2015

VAS: skala 1-2


Nyeri akut KU : composmentis

Terapi lanjut
Post op hari Rencana rawat

pada

TD: 120/70 mmHg

10 nefrectomi jalan

abdomen

N: 76x/menit

sinistra

RR: 20x/menit
S: 36.8oC
VAS: skala 1-2

Foto thorax PA post op tanggal 18-11 2015

14

Kesan: cardiomegali disertai tanda-tanda edema paru


PROGNOSIS
Ad vitam

: ad bonam

Ad functionam : ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

15

BAB III
PEMBAHASAN
A.

Definisi Batu Saluran Kemih


Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa
keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran
kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih
dan uretra), yang dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan
aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu
ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Batu ini
terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat, atau
sistein. 1

B.

Gejala Klinis
Keluhan yang disampaikan oleh pasien tergantung pada posisi atau

letak batu, besar batu dan penyulit yang telah terjadi. Gejala klinis/keluhan
yang ditimbulkan antara lain demam, nausea (mual), vomiting (muntah) dan
sakit atau nyeri disekitar pinggang, nyeri sewaktu buang air kecil (BAK)
bahkan susah BAK, BAK berdarah (hematuria), BAK berpasir (kristaluria)
dan pembengkakkan daerah punggung bawah.
1. Rasa Nyeri
Biasanya penderita mengeluhkan rasa nyeri yang berulang (kolik)
tergantung dari letak batu. Batu yang berada di ginjal akan menimbulkan dua
macam nyeri, yaitu nyeri kolik ginjal dan nyeri ginjal bukan kolik. Kolik
ginjal biasanya disebabkan oleh peregangan urinary collecting system (system
pelviokalises), sedangkan nyeri ginjal bukan kolik disebabkan distensi dari
kapsul ginjal. Batu ureter akan memberi gejala kolik ureter, nyeri hebat di
daerah punggung atau fosa iliaka yang letaknya lebih rendah daripada kolik
ginjal, dapat menyebar ke atas ke daerah ginjal atau ke bawah sampai ke testis
atau labia mayor.
2. Demam
Timbulnya demam merupakan tanda-tanda adanya kuman yang
beredar di dalam darah. Biasanya gejala yang timbul selain demam adalah

16

jantung berdebar-debar, tekanan darah rendah dan pelebaran pembuluh


darah di kulit. Demam akibat obstruksi saluran kemih memerlukan
dekompresi secepatnya.
3. Hematuria dan Kristaluria
Hematuria adalah adanya darah yang keluar bersama urin. Namun
lebih kurang 10-15% penderita BSK tidak menderita hematuria.Kristaluria
adalah urin yang disertai dengan pasir atau batu.
4. Nausea dan Vomiting
Obstruksi saluran kemih bagian atas sering menimbulkan mual dan
muntah.
5. Infeksi
Biasanya dengan gejala-gejala menggigil, demam, nyeri pinggang,
nausea serta muntah dan disuria. Secara umum infeksi pada batu struvit
(batu infeksi) berhubungan dengan infeksi dari Proteus sp, Pseudomonas
sp, Klebsiella sp.
C. Penegakan Diagnosis
Untuk

menegakkan

diagnosis,

dapat

dilakukan

dengan

anamnesa,

pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi.


1. Laboratorium
Pemeriksaan sedimen urin menunjukkan adanya leukosituria, hematuria, dan
dijumpai

kristal-kristal

pementuk

batu.

Pemeriksaan

kultur urin

dapat

menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea. Pemeriksaan faal ginjal


bertujuan untuk mencari kemungkinan terjadinya penurunan fungsi ginjal dan
untuk mempersiapkan pasien menjalani pemeriksaan foto IVU. Perlu juga
diperiksa kadar elektrolit yang disuga sebagai faktor penyebab timbulnya batu
saluran kemih (antara lain kadar: kalsium, oksalat, fosfat, maupun urat dalam
darah maupun dalam urin) (Purnomo, 2008). 11
2. Foto Polos Abdomen
Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya
batu radio-opak di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kasium

17

fosfat bersifat radio-opak dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain,
sedangkan batu asam urat bersifat non-opak (radio-lusent) (Purnomo, 2008). 11

3. Intra Venous Urography atau Pielografi Intra Vena (PIV)


PIV adalah pemerikasaan gold standart untuk mendeteksi adanya obstruksi
pada pasien dengan fungsi ginjal yang normal, tidak alergi dengan kontras dan
tidak sedang hamil. PIV dapat menilai anatomi dan fungsi dari organ traktus
urinarius yang mengalami obstruksi.
Pada obstruksi urinarius yang akut maka pada PIV akan terlihat:
(a). Obstruksi nefrogram
(b). Terlambatnya pengisian kontras pada sistem urinarius
(c). Dilatasi dari system urinarius, mungkin juga terjadi ginjal membesar
(d). Dapat juga terjadi ruptur fornix akibat extravasasi traktus urinarius (Purnomo,
2008; Sylvia dan Lorraine, 2003). 7
4. USG
USG merupakan alat yang baik untuk mengevaluasi ginjal pada pasien
azotermia, alergi terhadap kontras, wanita yang sedang hamil, atau pada anakanak, faal ginjal yang menurun. Informasi yang signifikan mengenai parenkim
ginjal dan sistem urinarius dapat diperoleh tanpa adanya expose dengan radiasi
dan material kontras yang dapat menimbulkan nefrotoxic dan reaksi anaplastik.
Pemeriksaan USG dapat menilai adanya batu di ginjal atau di buli-buli (yang
ditunjukkan sebagai echoic shadow), hidronefrosis, pionefrosis, atau pengerutan
ginjal (Purnomo, 2008). 11
D. Penatalaksanaan
1. Medika mentosa
Terapi medika mentosa yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri
dan memperlancar aliran urin dengan pemberian diuretik.Minum banyak air
dimaksudkan untuk mendorong batu keluar. 12
2. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsi)
ESWL adalah pemecah batu, baik batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu
buli- buli tanpa melalui tidakan invasive dan tanpa pembiusan.Batu dipecah

18

menjadi fragmen- fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran


kemih.Pecahan batu yang sedang keluar dapat menimbulkan nyeri kolik dan
menyebabkan hematuria. 12
3. Endourologi12
Tindakan endourologi adalah tindakan invasive minimal untuk mengeluarkan
batu saluran kemih yang terdiri atas pemecah batu dan kemudian
mengeluarkanya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung
kedalam saluran kemih.Alat tersebut dimasukkan melalui uretra atau melalui
insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses pemecahan batu dapat dilakukan
secara mekanik, dengan memakai tenaga hidraulik, energi gelombang suara
atau energi laser.
Beberapa tindakan endourologi adalah:
a. PNL (Percutaneus Nephro Litholapaxy), yaitu mengeluarkan batu yang
berada didalam saluran ginjal dengan caramemasukkan alat endoskopi ke
sistem kaliks melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau
dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen- fragmen kecil.
b. Litotripsi yaitu memecah batu buli- buli atau batu uretra dengan memasukkan
alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli- buli. Pecahan batu dikeluarkan
dengan eavakuator ellik.
c. Ureteroskopi atau uretero renoskopi yaitu memasukkan alat ureteroskopi per
uretram guna melihat keadaan ureter atau sistem pielo kaliks ginjal. Dengan
memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter maupun sistem
pelvikaliks dapat dipecah dengan bantuan ureteroskopi atauureterorenoskopi
ini.
d. Ekstraksi dormia yaitu mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya
melalui alat keranjang dormia.
4. Bedah Laparoskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil batu saluran kemih, cara ini
banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.
5. Pembedahan terbuka antara lain pielotomi atau nefrolitotomi untuk
mengambil batu pada ginjal dan ureterolitotomi untuk batu di ureter .
E. Komplikasi
1. Obstruksi, karena aliran urin terhambat oleh batu.
2. Infeksi saluran kemih
Infeksi dapat terjadi karena batu menimbulkan inflamasi saluran kemih dan
terhambatnya aliran urin.
19

3. Gagal ginjal akut


Gagal ginjal akut dapat terjadi karena urin yang tidak dapat mengalir, akan
kembali lagi ke ginjal, menekan bagian dalam ginjal dan mempengaruhi
aliran darah keginjal, sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada organ
tersebut.
Hidronefrosis
Penyumbatan saluran kemih bagian atas yang akut ditandai dengan rasa
sakit punggung bagian bawah. Pada sumbatan yang berlangsung lama, kadangkadang

dapat

diraba

adanya

pembengkakkan

ginjal

yang

membesar

(Hidronefrosis). Hidronefrosis adalah obstruksi aliran kemih proksimal terhadap


kandung kemih dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam
pelviks ginjal dan ureter yang dapat mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim
ginjal (Sylvia,1995).
Apapun penyebab dari hidronefrosis, disebabkan adanya obstruksi baik
parsial ataupun intermitten mengakibatkan terjadinya akumulasi urin di piala
ginjal. Sehingga menyebabkan disertasi piala dan kolik ginjal. Pada saat ini atrofi
ginjal terjadi ketika salah satu ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap maka
ginjal yang lain akan membesar secara bertahap (hipertrofi kompensatori),
akibatnya fungsi renal terganggu (Smeltzer dan Bare, 2002).
Hidronefrosis juga bisa terjadi akibat adanya penyumbatan dibawah
sambungan ureteropelvik atau karena arus balik air kemih dari kandung kemih,
salah satunya akibat batu di dalam saluran kemih yang menghalangi aliran air
kemih dari kandung kemih
Gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi penyumbatan
serta

lamanya

penyumbatan.

Jika

penyumbatan

timbul

dengan

cepat

(hidronefrosis akut), biasanya akan menyebabkan kolik renalis ( nyeri yang luar
biasa di daerah antara tulang rusuk dan tulang panggul) pada sisi ginjal yang
terkena. Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (hidronefrosis kronis),
bisa tidak menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk
dan tulang pinggul). Nyeri yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara

20

pelvis renalis atau karena penyumbatan sementara ureter akibat ginjal bergeser ke
bawah. Air kemih dari 10% penderita mengandung darah. Sering ditemukan
infeksi saluran kemih (terdapat nanah di dalam air kemih), demam dan rasa nyeri
di daerah kandung kemih atau ginjal.
Pionefrosis
Pionefrosis atau Abses perinefrik adalah abses renal yang meluas kedalam
jaringan lemak disekitar ginjal. Ini dapat diakibatkan oleh infeksi ginjal, seperti
pielonefritis atau dapat terjadi secara hematogen ( menyebar melalui aliran darah )
yang berasal dari bagian mana saja di tubuh.
Organisme penyebab mencangkup Staphylococcus, proteus dan E.coli.
kadang-kadang infeksi menyebar dari area yang berdekatan, seperti divertikulatis
atau apendisitis. Abses perinefrik/pionefrosis memiliki karakteristik nyeri tekan
akut, timbul tanda-tanda sistemik, namun abses jarang menjadi besar. (Pierce A,
Grace & Neil R. Borley. 2006 : 35)
Abses perinefrik terdiri atas abses diluar ginjal yang biasanya dibebabkan
oleh infeksi diluar pielum. Sering disertai batu pielum. Berangsur-angsur abses
menjadi besar sampai dapat diraba.Pada pemeriksaan ditemukan piuria.
( Sjamsuhidajat.2010 : 866
Pada pasien ini, di dapatkan keluhan utama berupa nyeri pada pinggang
kiri, yang sudah lama di deritanya, tapi baru kali ini dirasakan memberat hingga
tidak dapat beraktivitas. Nyeri tersebut merupakan nyeri kolik karena sudah
mengganggu aktivitas pasien dan dirasa memberat.
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yang telah di lakukan pada pasien ini, maka diagnosis pre
Operasi pada pasien ini adalah batu staghorn sinistra yang disertai
Hydronefrosis sinistra. Sesuai dengan teori, hydronefrosis yang terjadi
merupakan akibat adanya penyumbatan dibawah sambungan ureteropelvik
atau karena arus balik air kemih dari kandung kemih, salah satunya karena
adanya batu di dalam saluran kemih.
Pada saat operasi didapatkan pula abses yang terbentuk di
perirenal, sehingga diagnosis Post-Operasi adalah batu staghorn sinistra
21

dengan Pionefrosis sinistra. Dimana pionefrosis ini secara teori terjadi


akibat gangguan dari fungsi ginjal yang sudah menahun. Pionefrosis atau
Abses perinefrik adalah abses renal yang meluas kedalam jaringan lemak
disekitar ginjal. Ini dapat diakibatkan oleh infeksi ginjal, seperti
pielonefritis atau dapat terjadi secara hematogen ( menyebar melalui aliran
darah ) yang berasal dari bagian mana saja di tubuh. Tidak jarang
pasien menjalani tindakan nefrektomi atau pengambilan
ginjal karena ginjalnya sudah tidak berfungsi dan berisi
nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat tipis, atau
mengalami pengkerutan akibat batu saluran kemih yang
menimbulkan obstruksi dan infeksi yang menahun.

BAB IV
KESIMPULAN
Penanganan batu saluran kemih dilakukan dngan pengenalan sedini
mungkin melalui gejala klinis yang muncul. Tatalaksana awal yang dilakukan
adalah mengevaluasi factor resiko terbentuknya batu saluran kemih. Tindakan
pembedahan dapat dilakukan baik secara non invasive maupun terbuka. Dan tidak
sedikit pasien yang datang Rumah Sakit dengan keluhan yang sudah lama dialami
tapi baru datang berobat dalam keadaan kronik. Sehingga, sudah muncul berbagai
komplikasi.

22

DAFTAR PUSTAKA

23

1. R. Sjamsuhidajat., Wim de Jong. : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Penerbit


Buku Kedokteran EGC.
2. Eksoprodjo. S, dkk : Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia/Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.
3. Liou,

Louis.

Kidney

stone.

2009.di

Di

http://www.umm.edu/ency/article/000458.htm#ixzz2OO.
4. Martini, Frederich. 2006. The Urinary System in Fundamentals of Anatomy
and Physiology. San Francisco: Perason Education, Inc.
5. Moe. W. Orson. 2006. Kidney stones: pathophysiology and medical
management.
6. Nevins,Patricia. 2010.Complication From Kidney Stone. Diakses dari
http://www.livestrong.com/article/91839-complications-kidney-stones.
7. Prince, Sylvia dan Lorrane ,Wilson. 2003. Gangguan Sistem Ginjal dalam
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
8. Sherwood L. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. 2 nd ed. Jakarta: EGC;
2001.
9. Moore KL, Agur AM. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta: Hipokrates; 2002.
10. Sudoyo AW, Setiyohadi B, et al. Buku Ajar: Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. 4th
ed. Jakarta: BP FKUI; 2006.
11. Purnomo BB. Batu saluran kemih. Dasar-dasar urologi. Edisi 2. Jakarta: CV.
Sagung Seto; 2007.
12. Syamsuhidayat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2 nd ed. Jakarta : EGC;
2004.
13. Stoller ML. Urinary stone disease. In: Tanagho EA, McAninch JW, editors.
th

Smiths general urology. 17

Edition. New York: McGraw-Hill Medical.

2008.

24

LAMPIRAN

25

26