Anda di halaman 1dari 10

Dalam proses identifikasi dikenal sembilan metode identifikasi, yaitu (Idries, 1997) :

1)

Metode visual

Metode ini dilakukan dengan memperhatikan korban secara teliti, terutama wajahnya oleh pihak keluarga atau
rekan dekatnya, maka identitas korban dapat diketahui. Walaupun metode ini sederhana, untuk mendapatkan
hasil yang diharapkan perlu diketahui bahwa metode ini baru dapat dilakukan bila keadaan tubuh dan terutama
wajah korban masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukkan yang lanjut. Selain itu perlu
diperhatikan faktor psikologis, emosi, dan latar belakang pendidikan karena faktor-faktor tersebut dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan. Juga perlu diingat bahwa manusia itu mudah terpengaruh dengan sugesti,
khususnya sugesti dari pihak penyidik.
2)

Pakaian

Pencatatan yang teliti atas pakaian, bahan yang dipakai, mode, dan adanya tulisan-tulisan, seperti merek
pakaian, penjahit, laundry, dan inisial nama dapat memberikan informasi yang berharga, milik siapakah pakaian
tersebut. Bagi korban yang tidak dikenal, menyimpan pakaian secara keseluruhan atau potongan-potongan
dengan ukuran 10 cm x 10 cm adalah tindakan yang tepat agar korban masih dapat dikenali walaupun tubuhnya
sudah dikubur.
3)

Perhiasan

Anting-anting, kalung, gelang serta cincin yang ada pada tubuh korban, khususnya bila perhiasan itu terdapat
inisial nama seseorang yang biasanya terdapat pada bagian dalam dari gelang atau cincin, akan membantu
dokter atau pihak penyidik dalam menentukan identitas korban. Mengingat kepentingan tersebut maka
penyimpanan dari perhiasan haruslah dilakukan dengan baik.
4)

Dokumen

Kartu Tanda Penduduk, Surat Izin Mengemudi, paspor, kartu golongan darah, tanda pembayaran, dan lain
sebagainya dapat menunjukkan identitas korban. Benda-benda tersebut biasa ditemukan dalam dompet atau tas
korban.
5)

Medis

Pemeriksaan fisik secara keseluruhan yang meliputi bentuk tubuh, tinggi, berat badan, warna mata, adanya cacat
tubuh, kelainan bawaan, jaringan parut bekas operasi, dan tato dapat turut membantu menentukan identitas
korban. Pada beberapa keadaan khusus, tidak jarang harus dilakukan pemeriksaan radiologis, yaitu untuk
mengetahui keadaan sutura, bekas patah tulang atau pen, serta pasak yang dipakai pada perawatan penderita
patah tulang.
6)

Gigi

Bentuk gigi dan bentuk rahang merupakan ciri khusus dari seseorang, sedemikian khususnya sehingga dapat
dikatakan tidak ada gigi atau rahang yang identik pada dua orang berbeda. Hal ini menjadikan pemeriksaan gigi
memiliki nilai yang tinggi dalam penentuan identitas seseorang. Satu keterbatasan pemanfaatan gigi sebagai
sarana identifikasi adalah belum meratanya sarana untuk pemeriksaan gigi, demikian pula pendataannya (rekam
medik gigi) karena pemeriksaan gigi masih dianggap sebagai hal yang mewah bagi kebanyakan rakyat
Indonesia.
7)

Sidik jari

Dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik jari yang sama, walaupun kedua orang
tersebut kembar. Atas dasar ini, sidik jari merupakan sarana yang penting khususnya bagi kepolisian didalam
mengetahui identitas seseorang. Pemeriksaan sidik jari ini mudah dilakukan dan murah pembiayaannya.
Walaupun pemerikasaan sidik jari tidak dilakukan oleh dokter, dokter masih mempunyai kewajiban untuk
mengambilkan (mencetak) sidik jari, khususnya sidik jari pada korban meninggal dan keadaan mayatnya telah
membusuk.
8)

Serologi

Sampel darah dapat diambil dari dalam tubuh korban, maupun bercak darah yang berasal dari bercak-bercak
pada pakaian. Hal-hal tersebut dapat menentukan golongan darah si korban.
9)

Eksklusi

Metode ini umumnya hanya dipakai pada kasus dimana banyak terdapat korban (bencana massal), seperti
peristiwa kecelakaan pesawat, kecelakaan kereta api, dan kecelakaan angkutan lainnya yang membawa banyak
penumpang. Dari daftar penumpang (passenger list) pesawat terbang akan dapat diketahui siapa saja yang
menjadi korban. Bila dari sekian banyak korban tinggal satu yang belum dapat dikenali oleh karena keadaan
mayatnya sudah sedemikian rusak, maka atas bantuan daftar penumpang akan dapat diketahui siapa nama
korban tersebut, caranya yaitu dari daftar penumpang yang ada dikurangi korban lain yang sudah diketahui
identitasnya.
Dari sembilan metode tersebut hanya metode identifikasi dengan sidik jari yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter
dan dokter gigi, melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian (Idries, 1997). Walaupun ada sembilan metode
identifikasi yang kita kenal, dalam prakteknya untuk menentukan identitas seseorang tidak perlu semua metode
dikerjakan. Dari sembilan metode tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat metode identifikasi
yang dianggap primer, yaitu identifikasi dengan sidik jari dan gigi. Hal tersebut dikarenakan jarang bahkan
hampir tidak ada sidik jari dan gigi yang identik antara dua orang berbeda, sehingga kedua metode tersebut
bersifat sangat individual dan memiliki validitas yang sangat tinggi. Apabila dilakukan pemeriksaan DNA, hasil
pemeriksaannya juga dapat dijadikan bahan identifikasi primer, hanya saja metode identifikasi dengan DNA
membutuhkan biaya yang mahal (Depkes RI, 2006).
Identifikasi dalam kedokteran gigi forensik ada beberapa macam, yaitu (Lukman, 2006):
1)

Identifikasi ras korban maupun pelaku melalui gigi-geligi dan antropologi ragawi.

2)

Identifikasi seks atau jenis kelamin korban melalui gigi-geligi, tulang rahang, dan antropologi ragawi.

3)

Identifikasi umur korban (janin) melalui benih gigi.

4)
5)

Identifikasi umur korban melalui gigi susu (decidui).


Identifikasi umur korban melalui gigi campuran.

6)

Identifikasi umur korban melalui gigi tetap.

7)

Identifikasi korban melalui kebiasaan menggunakan gigi.

8)

Identifikasi korban melalui pekerjaan menggunakan gigi.

9)

Identifikasi golongan darah korban melalui air liur.

10) Identifikasi golongan darah korban melalui pulpa gigi.


11) Identifikasi DNA korban melalui analisa air liur dan jaringan dari sel dalam rongga mulut.

12) Identifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya.


13) Identifikasi wajah korban melalui rekontruksi tulang rahang dan tulang facial.
14) Identifikasi melalui wajah korban.
15) Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku.
16) Identifikasi korban melalui eksklusi pada korban bencana massal.
17) Identifikasi melalui radiologi kedokteran gigi forensik.
18) Identifikasi melalui fotografi kedokteran gigi forensik, misalnya teknik fotografi superimposisi yang dilakukan
dengan menumpang-tindihkan foto postmortem dan foto wajah antemortem, teknik ini dilakukan apabila
identifikasi dengan teknik lain seperti rekam medik gigi, sidik jari, dan DNA tidak dapat dilakukan, selain itu harus
tersedia fotoantemortem yang fokus pada wajah (dibahas lebih lanjut dalam BAB III).
19) Identifikasi melalui formulir identifikasi korban.
Walaupun identifikasi dengan menggunakan gigi-geligi sudah banyak terbukti keakuratannya namun tetap saja
ada berbagai syarat yang harus terdapat pada data-data untuk identifikasi kedokteran gigi forensik agar data
tersebut bisa dikatakan valid. Ada beberapa kriteria yang merupakan syarat untuk validitas identifikasi dengan
gigi-geligi, yaitu ( Sopher, 1976):
1)
Data yang tersedia harus bersifat multipel, permanen, dapat diukur atau diteliti, sehingga menjamin
individualitas dari data yang tersedia.
2)
Terdapat registrasi yang akurat mengenai karakteristik individu (data antemortem) yang memungkinkan
untuk dibandingkan dengan data postmortem.
3)
Data dilengkapi dengan gambaran spesifik yang tahan terhadap gaya destruktif, sehingga dapat tetap
menjadi jaminan untuk keindividualitasan data walaupun tidak tersedia gambaran identifikasi lainnya.
Gigi mempunyai nilai spesifik atau individualitas yang sangat tinggi mengingat begitu tidak terbatasnya
kemungkinan kombinasi ciri-ciri khas pada gigi, baik ciri alami maupun akibat tindakan perawatan terhadap gigigeligi. Ciri-ciri khas tersebut antara lain (Ardan, 1999):
1)

Jumlah gigi

Jumlah gigi dapat menjadi suatu ciri yang khas pada seseorang. Hal ini karena jumlah gigi pada seseorang dapat
berbeda-beda. Satu atau beberapa gigi pada rahang dapat tidak ada, baik secara klinis atau radiologis, selain itu
sering juga ditemukan jumlah gigi lebih banyak dari normal. Jumlah gigi yang berkurang dapat disebabkan gigi
yang lepas alami, pencabutan, trauma (benturan dengan benda tumpul), kongenital (tidak terbentuknya benih gigi
molar ketiga, premolar kedua, incisivus kedua), impaksi, dan pergeseran gigi.
2)

Restorasi mahkota dan protesa

Restorasi mahkota dan protesa sangat bersifat individual karena dibuat sesuai kebutuhan masing-masing
individu. Beberapa ciri khas dari protesa yang dapat diamati adalah bentuk daerah relief dari langit-langit, bentuk
dan kedalamanpost-dam, desain sayap labial, penutupan daerah retromolar, warna akrilik, bentuk, ukuran dan
bahan gigi artifisial, serta bentuk dan ukuran linggir alveolar.

3)

Karies Gigi

Jumlah gigi yang karies dan letaknya dicatat dalam odontogram. Ada kemungkinan gigi yang karies sudah
ditambal, maka harus dilakukan juga pemeriksaan catatan perawatan.
Fraktur dari gigi yang karies bentuknya tidak teratur, berwarna coklat, umumnya terjadi pada gigi posterior, dilapisi
sisa-sisa makanan, dan bekas rokok. Adanya dentin sekunder menunjukkan bahwa fraktur sudah lama terjadi.
Fraktur gigi mahkota karena trauma yang baru terjadi atau pascakematian dengan bagian tepi gigi tidak
menunjukkan karies maka permukaan frakturnya cenderung tajam.
4)

Gigi yang malposisi dan malrotasi

Malposisi dapat berupa gigi berjejal, gigi saling menutup (overlapping), miring, bergeser, dan jarang-jarang.
Malrotasi dapat berupa terputarnya gigi. Keadaan malposisi dan malrotasi seringkali tidak dicatat pada
pemeriksaan sehari-hari (antemortem), maka untuk mengatasinya keadaan malposisi dan malrotasi dapat
diperiksa data postmortem dari model cetakan atau dari foto roentgen.
5)

Gigi berbentuk abnormal

Gigi dapat berbentuk abnormal karena faktor kongenital atau dapatan. Gigi abnormal yang disebabkan faktor
kongenital dapat berupa hutchinson dan gigi incisivus lateral berbentuk runcing (peg shaped). Bentuk gigi
abnormal yang disebabkan faktor dapatan antara lain akibat pekerjaan dan kebiasaan yang akan mempengaruhi
bentuk gigi.
6)

Perawatan endodontik

Perawatan endodontik merupakan perawatan bagian pulpa (rongga pulpa dan atau saluran akar). Jaringan pulpa
pada rongga pulpa dan atau saluran akar sudah non-vital atau sudah didevitalisasi, yang kemudian diawetkan
dengan bahan mumifikasi atau diisi dengan bahan pengisi berisi obat, sehingga tidak akan jadi sumber infeksi.
Sebagai bahan pengisi pulpa diberi bahan yang akan memberikan kontras, sehingga dapat terlihat jelas pada
foto roentgen. Bentuk bahan pengisi, maupun kesempurnaan pengisian pulpa dapat memberikan gambaran foto
roentgen yang spesifik. Biasanya mahkota gigi yang sudah mengalami perawatan saluran akar dibungkus
dengan mahkota tiruan dari bahan logam atau bahan porselen.
7)

Pola trabekulasi tulang

Pola trabekulasi tulang dapat dilihat pada foto roentgen antemortem maupun foto roentgen postmortem. Dari foto
roentgen tersebut dapat juga dilihat kemiringan gigi, ruang interproksimal, resorpsi tulang akibat penyakit
periodontal, perubahan pada ruangan pulpa, dan bentuk saluran akar.
8)

Oklusi gigi

Oklusi gigi adalah hubungan kontak oklusal antara gigi di rahang atas terhadap gigi di rahang bawah. Oklusi gigi
diklasifikasikan menurut klasifikasi Angle, yaitu oklusi kelas I, kelas II, dan kelas III. Masing-masing kelas
mempunyai subkelas tergantung keadaan gigi yang lain (berjejal, gigitan bersilang, dll).
9)

Patologi oral

Kelainan struktur oral dapat merupakan suatu ciri yang khas pada individu. Macam-macam kelainan struktur
rongga mulut tersebut dapat berupa:
a)

Torus mandibularis dan torus palatinus

Torus mandibularis adalah protuberansia perkembangan tulang yang kadang-kadang terdapat pada aspek lingual
mandibula di daerah premolar. Torus palatinus adalah eminensia perkembangan tulang yang kadang-kadang
terdapat pada garis median palatum keras (Harty dan Ogston, 1993).
b)

Kelainan lidah

Kelainan lidah yang khas pada individu dapat membantu proses identifikasi. Kelainan yang biasa terjadi pada
lidah dapat berupa pendeknya frenulum lingualis (ankyloglossia), lesi yang berbentuk seperti peta (geographic
tongue),fissure tongue, Fordices granules, dan Median Rhomboid Glossitis (Sonis, et al., 1995).
c)

Hiperplasia gusi karena dilantin

Hiperplasia gusi adalah pembengkakkan gingiva akibat proliferasi sel. Hal tersebut bisa timbul akibat pengobatan
(Harty dan Ogston, 1993).
d)

Pigmentasi gusi

Pigmentasi merupakan pewarnaan yang dihasilkan oleh tubuh melalui deposisi pigmen (Harty dan Ogston,
1993). Deposisi pigmen ini bisa berasal dari sumber eksogen dan endogen. Sumber eksogen dapat dikarenakan
dari deposit bahan asing pada jaringan, bakteri, fungi, dan ingesti dari bahan logam yang terdeposit di jaringan.
Sumber endogen disebabkan oleh melanin, bilirubin, dan besi (Sonis, et al., 1995). Jadi dari pigmentasi gusi ini
dapat diperkirakan penyakit sistemis yang diderita korban dan pekerjaan korban.
e)

Adanya kista pada tulang rahang

Kista adalah kantung atau rongga abnormal pada jaringan yang dikelilingi epitel. Kista memiliki batas jelas dan
mengandung cairan atau bahan semi cair (Harty dan Ogston, 1993).
Gigi-geligi juga dapat digunakan untuk menentukan jenis kelamin korban, ras korban, dan umur korban. Hal-hal
tersebut dibutuhkan sebagai data tambahan dan dapat juga digunakan sebagai alat mempersempit populasi
untuk memudahkan proses identifikasi.
1)

Penentuan jenis kelamin

Pada kasus-kasus tertentu seperti mutilasi atau korban bencana massal dengan tubuh yang sudah terpisahpisah, penentuan jenis kelamin tidak dapat dilakukan dengan mudah seperti penentuan jenis kelamin pada orang
hidup atau mayat yang masih utuh. Penentuan jenis kelamin pada kasus-kasus tersebut dapat ditentukan melalui
gigi-geligi.
Penentuan jenis kelamin melalui gigi-geligi dapat dilakukan dengan melihat bentuk lengkung gigi, ukuran
diameter mesio-distal gigi, dan kromosom yang terdapat pada pulpa. Bentuk lengkung gigi pada pria
cenderung tapered, sedangkan wanita cenderung oval, ukuran diameter mesio-distal gigi taring bawah wanita =
6,7 mm dan pria = 7 mm. Kromosom X dan Y dapat ditentukan dengan menggunakan sel pada pulpa gigi sampai
dengan lima bulan setelah pencabutan gigi dan kematian (Astuti, 2008).

2)

Penentuan ras korban

Ras korban dapat diketahui dari struktur rahang dan gigi-geliginya. Secara antropologi, ras dibagi tiga yaitu ras
kaukasoid, ras negroid, dan ras mongoloid. Masing-masing ras memiliki bentuk rahang dan struktur gigi-geligi
yang berbeda (Astuti, 2008) :
a)

Ras kaukasoid

1)

Permukaan lingual yang rata pada gigi incivus

2)

Gigi molar pertama bawah tampak lebih panjang dan bentuknya lebih tapered

3)
Ukuran buko-palatal gigi premolar kedua bawah sering ditemukan mengecil dan ukuran mesio-distal
melebar
4)

Lengkung rahang sempit

5)

Gigi berjejal

6)

Carabelli cusp pada molar pertama atas

b)

Ras negroid

1)

Akar premolar yang membelah atau tiga akar

2)

Pada premolar pertama bawah terdapat 2 atau 3 lingual cusp

3)

Gigi molar pertama bawah berbentuk segi empat dan kecil

4)

Bimaxillary protrution

5)

Kadang-kadang ditemui molar keempat

c)

Ras mongoloid

1)

Gigi incisivus pertama atas berbentuk sekop

2)

Gigi molar pertama bawah berbentuk bulat dan lebih besar

3)
Adanya kelebihan akar distal dan accesory cusp pada permukaan mesio-bukal pada gigi molar pertama
bawah
4)

Permukaan email seperti butiran mutiara

3)

Penentuan umur korban

Penentuan umur korban atau lebih tepatnya perkiraan umur juga dapat dilakukan melalui pemeriksaan gigi-geligi
(Astuti, 2008):
a)

Melihat pertumbuhan dan perkembangan gigi

Perkembangan gigi mulai dapat dipantau sejak mineralisasi gigi susu, yaitu umur empat bulan dalam kandungan
hingga mencapai saat sempurnanya gigi molar kedua tetap. Pemanfaatan molar ketiga mulai terbatas karena
sudah mulai banyaknya molar tersebut yang tidak tumbuh sempurna. Sehubungan dengan ini dikenal beberapa
tahap yang dapat dipantau dengan baik, yaitu:
1)
Intrauteri: dipantau melalui sediaan, dengan melihat tahap mineralisasi gigi dapat diketahui usia
kandungan.
2)
Postnatal tanpa gigi: berkisar antara umur 0 6 bulan, yaitu saat tumbuhnya gigi susu yang pertama.
Penentuan umur secara tetap disini masih memerlukan sediaan mikroskopis dengan melihat mineralisasi. Selain
itu dapat juga dilakukan pemeriksaan terhadap tahap perkembangan gigi yang belum tumbuh atau masih di
dalam tulang dengan bantuan roentgen.
3)
Masa pertumbuhan gigi susu: berkisar antara umur 6 bulan 3 tahun, saat bermunculannya gigi susu ke
dalam mulut. Dengan memperhatikan gigi mana yang sudah tumbuh dan belum tumbuh, umur dapat
diperkirakan dengan kisaran yang relatif sempit.
4)
Masa statis gigi susu: berkisar antara umur 3 6 tahun. Pada masa ini penentuan umur melihat tingkat
keausan gigi susu dan jika diperlukan dengan bantuan roentgen untuk melihat tahap pertumbuhan gigi tetap.
5)
Masa gigi-geligi campuran: berkisar antara 6 12 tahun. Pada masa ini umur dapat dilihat dari gigi susu
yang tanggal dan gigi tetap yang tumbuh.
6)
Masa penyelesaian pertumbuhan gigi tetap: yaitu saat tidak adanya gigi susu yang tanggal dan selesainya
pembentukan akar gigi yang terakhir tumbuh, yaitu molar kedua tetap.
b)

Metode Gustafson

Setelah masa pertumbuhan gigi tetap selesai, maka pertumbuhan dan perkembangan gigi tidak banyak lagi
memberikan bantuan untuk menentukan umur karena kondisinya dapat dikatakan menetap. Untuk itu Gustafson
(1950) menemukan 6 metode dalam menentukan umur:
1)

Atrisi: akibat penggunaan rutin pada saat makan, sehingga permukaan gigi mengalami keausan.

2)
Penurunan tepi gusi: sesuai dengan pertumbuhan gigi dan pertambahan umur, maka tepi gusi (margingingivalattachment) akan bergerak ke arah apikal.
3)
Pembentukan dentin sekunder: sebagai upaya perlindungan alami pada dinding pulpa gigi akan dibentuk
dentin sekunder yang bertujuan menjaga ketebalan jaringan gigi yang melindungi pulpa. Semakin tua seseorang
semakin tebal dentin sekundernya.
4)
Pembentukan semen sekunder: dengan bertambahnya umur, maka semen sekunder di ujung akar pun
bertambah ketebalannya.
5)
Transparansi dentin: karena proses kristalisasi pada bahan mineral gigi, maka jaringan dentin gigi
berangsur menjadi transparan. Proses transparan ini dimulai dari ujung akar gigi meluas ke arah mahkota gigi.
6)
Penyempitan atau penutupan foramen apicalis: akan semakin menyempit dengan bertambahnya umur dan
bahkan akan menutup.
Garis besar yang perlu diperhatikan dalam penentuan umur dengan gigi setelah masa pertumbuhan gigi tetap
selesai adalah sebagai berikut (Harmaini, 2001):
1)

Keausan pada gigi menunjukkan seseorang berusia di atas 50 tahun.

2)

Banyaknya tulang yang hilang terjadi pada usia lebih dari 40 tahun.

3)

Penutupan foramen apicalis molar ketiga tidak terjadi sebelum usia 20 tahun.

Ada beberapa keuntungan dengan menjadikan gigi sebagai objek pemeriksaan, yaitu (Lukman, 2006) :
1)
Gigi-geligi merupakan rangkaian lengkungan secara anatomis, antropologis, dan morpologis mempunyai
letak yang terlindung dengan otot-otot, bibir, dan pipi. Apabila terjadi trauma, maka akan mengenai otot-otot
tersebut terlebih dahulu.
2)
Gigi-geligi sukar untuk membusuk walaupun dikubur kecuali gigi tersebut sudah mengalami nekrotik atau
gangren. Umumnya organ-organ lain bahkan tulang telah hancur tetapi gigi tidak (masih utuh).
3)
Gigi-geligi di dunia ini tidak ada yang sama. Menurut Sims dan Furnes, gigi manusia kemungkinan sama
adalah 1 : 2.000.000.000.
4)
Gigi-geligi mempunyai ciri-ciri yang khusus apabila ciri-ciri gigi tersebut rusak atau berubah, maka sesuai
dengan pekerjaan dan kebiasaan menggunakan gigi bahkan setiap ras memiliki ciri yang berbeda.
5)
Gigi-geligi tahan asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang terbunuh dan direndam di dalam drum
berisi asam pekat, jaringan ikatnya hancur tetapi giginya masih utuh.
6)
Gigi-geligi tahan panas, apabila terbakar sampai dengan suhu 400 C gigi tidak akan hancur, terbukti pada
peristiwa Parkman yang terbunuh dan dibakar tetapi giginya masih utuh. Kemudian pada peristiwa aktor perang
dunia kedua, yaitu Hitler, Eva Brown, dan Arthur Boorman mereka membakar diri kedalam tungku yang besar di
dalam bunker tahanan tetapi giginya masih utuh dan gigi palsunya bisa dibuktikan. Kecuali dikremasi karena
suhunya di atas 1000 C. Gigi menjadi abu sekitar suhu lebih dari 649 C. Apabila gigi tersebut ditambal
menggunakan amalgam, maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar di atas 871 C. Apabila gigi tersebut
memakai mahkota logam atau inlay alloy emas, maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar suhu 871-1093 C.
7)
Gigi-geligi dan tulang rahang secara roentgenografis, walaupun terdapat pecahan-pecahan rahang pada
roentgenogramnya dapat dilihat (interpretasi) kadang-kadang terdapat anomali dari gigi dan komposisi tulang
rahang yang khas.
8)
Apabila korban telah dilakukan pencabutan gigi umumnya ia memakai gigi tiruan dengan berbagai macam
model gigi tiruan dan gigi tiruan tersebut dapat ditelusuri atau diidentifikasi. Menurut Scott, gigi tiruan akrilik akan
terbakar menjadi abu pada suhu 538 C sampai 649 C. Apabila memakai jembatan dari porselen maka akan
menjadi abu pada suhu 1093 C.
9)
Gigi-geligi merupakan sarana terakhir di dalam identifikasi apabila sarana-sarana lain atau organ tubuh lain
tidak ditemukan.
Berbagai keuntungan yang dapat diperoleh dengan menjadikan gigi-geligi sebagai objek pemeriksaan tersebut
dapat diperoleh dari data gigi-geligi yang memenuhi berbagai syarat validitas.
Data gigi antemortem atau disebut juga data-data prakematian gigi-geligi adalah keterangan tertulis, catatan atau
gambaran dalam kartu perawatan gigi atau keterangan dari keluarga atau orang yang terdekat (Depkes RI,
2006).

Keterangan data-data biasanya berisi (Depkes RI, 2006):


1)

Nama penderita

2)

Umur

3)

Jenis kelamin

4)

Pekerjaan

5)

Tanggal perawatan, penambalan , pencabutan, dan lain-lain

6)

Pembuatan gigi tiruan ,orthodonti, dan lain-lain

7)

Foto Roentgen

Sumber data-data antemortem tentang kesehatan dan gigi diperoleh dari (Depkes RI, 2006) :
1)

Klinik gigi rumah sakit pemerintah, TNI / Polri, dan swasta

2)

Lembaga-lembaga pendidikan

3)

Praktek pribadi dokter gigi

Data-data postmortem adalah data-data hasil pemeriksaan forensik yang dilihat dan ditemukan pada jenazah
korban (Depkes RI, 2006). Pemeriksaan gigi postmortem dilakukan oleh dokter gigi atau dokter gigi forensik.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan melakukan pencatatan kelainan-kelainan sesuai formulir yang ada,
roentgen gigi, roentgen kepala jenazah, dan bila perlu cetakan gigi jenazah untuk dianalisa (Depkes RI, 2006).
Pemeriksaan gigi postmortem ini diharapkan dapat memberikan informasi berupa ciri-ciri khas pada gigi, yaitu
jenis kelamin, umur, kebiasaan, pekerjaan, status sosial, golongan darah, ras, dan DNA (Ardan, 1999).
Definisi dan Pengertian Korban Tidak Dikenal
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), korban adalah manusia yang menjadi menderita (mati, dan
sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan sebagainya. Sedangkan kata tidak dikenal
(unidentified) menujukkan keadaan dimana belum diketahui jati diri seseorang. Korban tidak dikenal dapat
diartikan sebagai manusia yang menjadi menderita atau mati akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dan
sebagainya, dimana jati diri manusia tersebut belum diketahui.
Korban tidak dikenal tersebut bisa dalam keadaan masih hidup atau meninggal. Korban tidak dikenal yang masih
hidup dapat disebabkan oleh keadaan korban yang koma, amnesia, gangguan mental, dan keterbatasan bahasa
yang menghalangi korban untuk memberi informasi tentang jati dirinya. Korban tidak dikenal yang meninggal
dapat disebabkan oleh sulit dikenalinya jenazah korban karena keadaannya sudah rusak atau anggota tubuhnya
sudah terpisah-pisah (Knight, 1991).
Prosedur Identifikasi Korban Tidak Dikenal dalam Bidang Kedokteran Gigi.
Tim kedokteran gigi forensik terdiri dari tiga bagian dan seorang komandan. Ketiga bagian tersebut adalah
bagianpostmortem, bagian antemortem, dan bagian perbandingan. Bagian postmortem bertugas untuk
mengumpulkan
data-data
gigi postmortem ditempat
kejadian.
Bagian antemortem bertugas
untuk
mengkondisikan rekam medik gigi agar dapat diinterpretasikan. Bagian perbandingan bertugas untuk
membandingkan dan menyesuaikan data, serta menyelesaikan proses identifikasi. Komandan harus selalu siap
dan dapat mengatur pergerakan tim dengan cepat (Eckert, 1992).

Tindakan pertama yang dilakukan oleh dokter gigi forensik saat tiba di Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) adalah
menyelamatkan bahan bukti penting yang dibutuhkan untuk analisa kedokteran gigi forensik (misalnya gigi-geligi
yang berserakan). Tindakan yang perlu dilakukan langsung di TKP misalnya adalah pengambilan sampel liur
pada bite mark, pemotretan keadaan korban, dan sebagainya (Lukman, 2006).
Tindakan pertama yang bersifat umum di TKP, yaitu pada awalnya menutup TKP sebatas areal yang aman agar
bukti-bukti tidak hilang atau rusak. Selanjutnya jika ada korban periksa tanda-tanda kehidupannya. Apabila
korban masih hidup, segera selamatkan dengan mengirim ke rumah sakit terdekat. Jika sempat buat foto posisi
atau kondisi korban saat ditemukan, kemudian buat foto dan sketsa TKP seteliti mungkin. Koordinasikan dengan
unsur lain (Dokter umum, Labkrim, dsb) agar tidak saling menghambat pekerjaan masing-masing. Terakhir
lakukan tindakan yang spesifik sesuai dengan kasusnya (Lukman, 2006).
Tindakan selanjutnya setelah tindakan pertama yang bersifat umum adalah identifikasi jenazah. Tujuan
identifikasi jenazah adalah untuk mengumpulkan bukti atau petunjuk mengenai identifikasi korban atau jenazah.
Tindakan ini dilakukan dengan mencatat secara teliti keadaan korban khususnya keadaan kepala, mulut, dan
gigi-geligi. Perhatian khusus diberikan terhadap hal-hal yang mungkin berubah pada saat transportasi korban ke
ruang otopsi. Apabila kerangka yang ditemukan telah rusak atau dalam keadaan membusuk karena terendam air,
cari gigi dengan teliti karena gigi cenderung lepas dari tempatnya. Apabila gigi-geligi yang lepas telah ditemukan,
masukkan dalam kantong plastik khusus terpisah, jangan dibersihkan atau direkonstruksi di TKP, rekonstruksi
dilakukan di ruang otopsi. Pada kasus terbakar parah, jenazah atau gigi menjadi sangat rapuh, transportasi harus
dilakukan dengan hati-hati. Bagian gigi yang rapuh dan mudah rusak akibat transportasi dapat direkatkan dulu
dengan lem cair misalnya power glue,alteco, dan super glue agar tetap utuh saat transportasi. Jika terpaksa,
pemeriksaan dapat langsung dilakukan di TKP. Pada kasus mutilasi buat foto dari sisa jenazah, catat dengan
teliti, dan buat sketsa yang rinci tentang posisi tiap bagian tubuh yang terpisah (Lukman, 2006).
Setelah jenazah berada di ruang otopsi pemeriksaan intraoral mulai dilakukan, berikan kesempatan pada dokter
forensik untuk mengambil sampel cairan atau bahan dalam mulut jika diperlukan untuk pemeriksaan lab. Setelah
bersih, periksa adanya kemungkinan luka atau tanda-tanda yang tidak wajar dalam rongga mulut. Jika ada gigigeligi yang lepas, masukkan kembali gigi-geligi ke dalam soketnya. Buat pemeriksaan postmortem kedokteran
gigi forensik sesuai juknis atau formulir standar. Setelah itu, buat foto-foto detail wajah dan keadaan mulut dalam
keadaan selengkap mungkin. Jika dirasakan perlu dapat dibuat cetakan gigi dan panoramic x-ray. Setelah
pembuatan x-ray, dapat dilakukan penentuan golongan darah dengan sampel sepertiga apikal salah satu gigi.
Jika diperlukan dapat dilakukan isolasi DNA, untuk ini harus dikorbankan satu gigi yang utuh agar dapat
memperoleh jaringan pulpa yang cukup (Lukman, 2006). Pada waktu proses perbandingan, kasus-kasus yang
banyak masalah sebaiknya dikerjakan terakhir (Ardan, 1999).
Semua data-data yang diperoleh dalam identifikasi dituangkan dalam formulir baku mutu nasional, yaitu ke dalam
formulir korban tindak pidana yang berwarna merah atau disebut dengan data postmortem, pada korban hidup
tetap pula ditulis ke dalam formulir yang sama, sedangkan data-data semasa hidup ditulis ke dalam
formulir antemortem yang berwarna kuning. Hal ini berlaku pula pada pelaku, ia mempunyai kedua penulisan
data pula, antemortem dan postmortem pada kertas yang berwarna kuning dan merah (Lukman, 2006).
Setelah jenazah teridentifikasi sedapat mungkin dilakukan perawatan jenazah, antara lain perbaikan tubuh
jenazah, pengawetan jenazah, perawatan sesuai agama korban, dan memasukkan korban dalam peti jenazah.
Kemudian jenazah diserahkan pada keluarga oleh petugas khusus dari tim identifikasi berikut surat-surat yang
diperlukan. Perawatan jenazah setelah teridentifikasi dilaksanakan oleh unsur Pemerintah Daerah dalam hal ini
Dinas terkait dibantu oleh keluarga korban (Depkes RI, 2006).