Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

ADMINISTRASI KEPENDIDIKAN
SISTEM dan STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH

Disusun oleh :

Mala Fakari Abror


Ami Eka Setyowati
Vanny Adika Novitasari

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
MADIUN
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada
Saya, sehingga dapat menyusun makalah ini dengan judul Administrasi
Kependidikan Sistem dan Struktur Organisasi Sekolah. Tidak lupa sholawat serta
salam penyusun sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa kita dari jaman jahiliyah menuju jaman yang modern seperti
sekarang ini.
Ucapan terimakasih Saya sampaikan kapada Dosen Profesi Pendidikan
Samsul Arifin, S.Pd., M.Pd. dan kawan-kawan yang telah membantu dalam
menyusun makalah ini, sehingga makalah ini dapat Saya selesaikan dengan baik
dan benar. Makalah ini Saya susun untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh
dosen kepada mahasiswanya agar dapat memahami tentang Administrasi
Kependidikan Sistem dan Struktur Organisasi Sekolah
Selain itu, tujuan dari makalah ini adalah agar mahasiswa menjadi
mahasiswa yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia serta menjadikan ajaran
Islam sebagai landasan berfikir dan berperilaku dalam pengembangan profesi.
Semoga makalah ini dapat member manfaat bagi pembaca dan penulis
serta menambah ilmu pengetahuan bagikita agar menjadi manusia yang selalu
beriman kepada Allah SWT dan menjadi mahasiswa yang berakhlak mulia.

Madiun, 12 Oktober 2015

Penyusun

HALAMAN PENGESAHAN
Makalah

Profesi

Kependidikan

yang

berjudul

Administrasi

Kependidikan Sistem dan Struktur Organisasi Sekolah telah diperiksa dan


disahkan pada:
Hari

: Senin

Tanggal

: 12 Oktober 2015

Tempat

: IKIP PGRI Madiun

Tahun Akademik

: 2015/2016

Mengetahui,
Pembimbing

Samsul Arifin, S.Pd., M.Pd.


NIK/NIDN:

Penulis

Kelompok 7

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................................................
KATA PENGANTAR ....................................................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah .........................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................
1.3 Tujuan ....................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Konsep Administrasi Pendidikan ...................................................
2.2 Fungsi Administrasi Pendidikan .............................................................................
2.3 Lingkungan Bidang Garapan Administrasi Pendidikan
Menengah .....................................................................................................................
2.4 Peranan Guru dalam Administrasi Pendidikan .......................................................
2.5 Pengertian Sistem dan Struktur Organisasi Sekolah ..............................................
2.6 Unsur Struktur Organisasi Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan ..................................................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .............................................................................................................
3.2 Saran .......................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di sekolah guru berada dalam kegiatan administrasi sekolah. Sekolah
melaksanakan kegiatannya untuk menghasilkan lulusan yang jumlah serta
mutunya telah ditetapkan. Dalam lingkup administrasi sekolah itu peranan guru
amat penting.
Dalam

menetapkan

kebijaksanaan

dan

melaksanakan

proses

perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pembiyaan dan


penilaian kegiatan kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana, personalia
sekolah, keuangan dan hubungan sekolah-masyarakat, guru harus aktif
memberikan sumbangan, yang sifatnya kolaboratif, artinya pekerjaan yang
didasarkan atas kerja sama, dan bukan bersifat individual. Oleh karena itu, semua
personel sekolah termasuk guru harus terlibat.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
profesi kependidikan. Mata kuliah profesi kependidikan ini diberikan kepada
mahasiswa karena mata kuliah profesi kependidikan merupakan salah satu
pedoman atau landasan untuk menjadi seorang guru yang profesioanl.
Dalam suatu organisasi sekolah pasti terdapat sistem dan struktur
organisasi. Dalam bab XV pasal 49 Undang-Undang Nomor 2 Tahun
1989disebutkan bahwa pengelolaan system pendidikan nasional adalah tanggung
jawab menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pasal 50 menyebutkan bahwa
pengelolaan satuan dan kegiatan pendidikan diselenggarakan oleh pemerintah,
selain oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, juga menteri lain yang
menyelenggarakan satuan pendidikan yang bersangkutan.
Dalam pelaksanaan tugas pengelolaan ini menteri mempunyai aparat
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemahaman tentang system dan
srtruktur organisasi sekolah ini

sangat penting karena dapat membantu

mahasiswa untuk mengetahui proses, tingkat dan mekanisme pengambilan


keputusan pendidikan serta mengetahui alut komunikasi dalam sisitem pendidikan
nasional. Apa saja sistem dan struktur organisasi sekolah akan kami bahas dalam
makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dan konsep administrasi pendidikan ?
2. Apa sajakah fungsi administrasi pendidikan ?
3. Bagaimanakah lingkup bidang garapan administrasi pendidikan ?
4. Apakah peranan guru dalam administrasi pendidikan ?
5. Apa pengertian system dan struktur organisasi sekolah ?
6. Bagaimana unsur dalam struktur organisasi departemen pendidikan dan
kebudayaan ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dan konsep administrasi pendidikan.
2. Untuk mengetahui fungsi administrasi pendidikan.
3. Untuk mengetahui lingkup bidang garapan administrasi pendidikan.
4. Untuk mengetahui peranan guru dalam administrasi pendidikan.
5. Untuk mengetahui pengertian sistem dan struktur orgnisasi sekolah.
6. Untuk mengetahui unsur dalam struktur organisasi departemen pendidikan
dan kebudayaan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Konsep Administrasi Pendidikan
1. Pengertian Administrasi Pendidikan
Administrasi Pendidikan seringkali disalah artikan sebagai semata-mata
ketatausahaan pendidikan. Namun dari uraian berikut ini akan diketahui bahwah
pengertian administrasi pendidikan sebenarnya adalah bukan sekedar itu.
Mendefinisikan administrasi pendidikan tidak sebegitu mudah, karena ia
menyangkut pengertian yang luas. Culbertson (1982), mengatakan bahwah
Schwab pada tahun enam puluhan telah mendiskusikan bagaimana kompleksnya
administrasi

pendidikan sebagai ilmu. Ia memperkirakan bahwa ada sekitar

50.000 masalah yang mungkin timbul dalam pelaksanaan administrasi pendidikan.


Angka ini ia perkirakan dari berbagai fenomena yang ada kaitannya dengan
administrasi pendidikan, seperti masyarakat, sekolah guru, murid, orang tua, dan
variabel yang berhubungan dengan itu.
Ibarat kita mempelajari manusia, salah satu cara yang dapat kita tempuh
adalah meninjaunya dari keadaan fisik manusia itu. Kita dapat melihat bagianbagian tubuhnya, struktur tulangnya, peredaran darahnya, susunan otot-ototnya
atau pencernaannya. Namun kita juga dapat meninjaunya dari reaksi psikisnya,
hubungan dengan kelompoknya atau dari tinjauan aspek kemanusiaan lainnya.
Dengan demikian, kita tidak perlu mendefinisikan manusia. Mendefenisikan apa
itu manusia ternyata sulit, meskipun kelihstannya mudah. Hal ini disebabkan
manusia mempunyai dimensi yang sangat banyak, yang sukar disatukan kedalam
satu defenisi. Kalau misalnya kita mendefenisikan manusia sebagai makluk yang
terdiri dari kepala, perut, dua tangan, dua kaki, dan seterusnya, Kemudian timbul
pertanyaan apakah manusia yang mempunyai satu kaki dan satu tangan bukan
manusia, atau manusia yang berperilaku seperti binatang masi dapat kita sebut
manusia, meskipun organ tubuhnya lengkap. Sebagai akibatnya, akan muncul pula
berbagai pertayaan lainnya, yang juga tidak mudah dijawab dan didefenisikan.
Dengan menggunakan analogi itu, pengertian administrasi pendidikan
akan diterangkan dengan meninjaunya dari berbagai aspeknya. Marilah kita lihat
administrasi pendidikan dari berbagai aspeknya itu, agar kita dapat memahaminya

dengan lebih baik.


Pertama, admisitrasi pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk
mencapai tujuan pendidikan. seperti kita ketahui, tujuan pendidikan itu merentang
dari tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks, tergantung
linkup dan tingkat pengrtian pendidikan

yang dimaksud. Tujuan pendidikan

dalam satu jam pelajatran di kelas satu sekolah menengah pertama, misalnya,
lebih mudah dirumuskan dan dicapai dibandingkan dengan tujuan pendidikan luar
sekolah untuk orang dewasa atau tujuan pendidikan nasiola. Jika tujuan itu
kompleks, maka cara mencapai tujuab itu juga kompleks, dan sering kali tujuan
demekian itu tidak dapat dicapai oleh satu orang saja, tetapi harus melalui kerja
sama dengan orang lain, dengan segala aspek kerumitannya.
Kedua, administrasi pendidikan mengandung pengertian proses untuk
mencapai

tujuan

pendidikan.

Proses

itu

dimulai

dari

perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian. Perencanaan meliputi


kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, berao
lama, berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biayanya. Perencanaan ini
dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan.
Ke tiga, administrasi pendidikan dapat dilihat dengan kerangka berpikit
sitem. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagianbagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi
keluaran. Pengertian

ini kelihatannya sulit tetapi sebenarnya tidak demikian.

Ambillah contoh suatu sekolah dasar. Sekolah dasar itu merupakan suatu
keseluruhan yang memproses murid menjadi lulusan.
Keempat, administrasi pendidikan juga dapat dilihat

dari segi

manajemen. Jika administrasi dilihat dari sudut ini, perhatian tertuju kepada usaha
untuk melihat apakah pemanfaatan sumber-sumber yang ada dalam mencapai
tujuan pendidikan sudah mencapai sasaran yang ditetapkan dan apakah dalam
pencapaian tujuan itu tidak terjadi pemborosan.
Kelima, administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari

segi

kepemimpinan. Administrasi pendidikan dilihat dari kepemimpinan merupakan


usaha untuk menjawab pertanyaan bagaimana kemampuan administrator
pendidikan itu, apakah ia dapat melaksanakan tut wuri handayani, ing madyo

mangu karso dan ing ngarso sungtulodo dalam pencapaian tujuan pendidikan.
Keenam, administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari proses
pengambilan keputusan. Kita tahu bahwa melakukan kerja sama dan memimpin
kegitan kelompok orang bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap kali,
administrator

dihadapkan

kepada

bermacam-macam

masalah,

ia

harus

memecahkan masalah itu.


Ketujuh, administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari segi kominikasi.
Komunikasi dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha untuk membuat orang
lain mengerti apa yang kita maksudkan, dan kita juga mengerti apa yang kita
maksudkan, dan kita juga mengerti apa yang dimaksudkan orang lain itu. Jika
dalam kerja sama pendidikan tidak ada komunikasi, maka orang yang bekerja
sama itu saling tidak mengetahui apa yang dikerjakan atau apa yang dimaui teman
sekerjanya. Bila hal ini terjadi, sebenarnya kerja sama itu tidak ada dan oleh
karena itu administrasi pun tidak ada.
Kedelapan, administrasi seringkali diartikan dalam pengertian yang
sempit yaitu kegiatan tatausaha yang intinya adalah kegiatan rutin catat-mencatat,
mendokumentasikan kegiatan, menyelenggarakan surat-menyurat dengan segala
aspeknya, serta mempersiapkan laporan. Pengertian yang demikian tidak terlalu
salah, karena setiap aspek kegiatan administrasi dengan pengertian diatas, selalu
memerlukan kegiatan pencatatan. Hanya yang perlu diingat, Kegiatan tata usaha
itu tidak seluruhnya mencerminkan pengertian administrasi dalam arti seperti
yang dipaparkan pada butir-butir satu sampai tujuh diatas.

2. Konsep Administrasi Pendidikan


Untuk memahami konsep-konsep yang erat hubungannya denga
administrasi pendidikan disekolah kita perlu menelusuri konsep sistem pendidikan
nasional itu.
a. Sistem Pendidikan Nasional
Barangkali cara yang paling baik untuk memahami sistem pendidikan
nasional adalah dengan membaca definisi sistem pendidikan nasional itu dari
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang sistem
Pendidikan Nasional. Supaya otentik dan tidak keliru, ada baiknya dikutip

langsung Bab I Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang tersebut, sebagai berikut:


Sistem pendidikan nasional adalah satu kesatuan yang terpadu dari semua satuan
dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan
tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Unsur-unsur sistem pendidikan nasional menurut Undang-Undang
Nomor 2/1989 itu dapat dibedakan atas :
a. Unsur I : Dasar, Fungsi, dan tujuan sistem ( Bab I )
b. Unsur II : Norma yang dipakai dalam sistem ( Bab III, X, XI, XII, XIII,
Bab XVIII, XV, XVI, Bab XIX, Bab XX )
c. Unsur III : Jenjang pendidikan ( Bab V )
d. Unsur IV : Peserta didik ( Bab VI )
e. Unsur V : Tenaga Ke`pendidikan ( Bab VIII )
f. Unsur VI : Sumber daya `pendidikan ( Bab VIII )
g. Unsur V : Kurikulum ( Bab IX )
h. Unsur VII : Organisasi ( Bab XIV, XV )
b. Sekolah sebagai Bagian Sistem Pendidikan Nasional
Telah disebutkan bahwa jenjang pendidikan adalah unsur atau komponen
sistem pendidikan nasional, yaitu termasuk dalam komponen organisasi. Jenjang
pendidikan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan perguruan
tinggi. Pendidikan dasar merupakan pendidikan sembilan tahun, terdiri dari
program pendidikan enam tahun disekolah dasar dan program pendidikan tiga
tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama ( PP Nomor 1990 ). Bentuk satuan
pendidikan dasar terdiri atas sekolah dasar dan sekolah dasar luar biasa. Jika kita
bicara tentang sekolah menengah, maka kita berbicara tentang dua jenjang
sekolah, karena sekolah menengah pertama berada di jenjang pendidikan dasar,
sedangkan sekolah di atas sekolah menengah pertama berada pada jenjang
pendidikan menengah. Program pendidikan S1 dan LPTK, dirancang untuk
mengajar pada jenjang pendidikan menengah, meskipun dengan kurikulum yang
fleksibel ( luwes ) lulusan S1 itu juga mampu mengajar pada jenjang pendidikan
dasar.

2.2 Fungsi Administrasi Pendidikan


Paparan tentang fungsi administrasi pendidikan terutama dalam konteks
sekolah perlu dimulai dari tinjauan tentang tujuan pendidikan, dalam hal ini tujuan
sekolah menengah. Hal ini disebabkan oleh adanya prinsip bahwa pada dasarnya
kegiatan administrasi pendidikan dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan
itu.
Tujuan itu dicapai melalui serangkaian usaha, mulai dari perencanaan
sampai melaksanakan evaluasi terhadap usaha tersebut. Pada dasarnya fungsi
administrasi merupakan proses pencapaian tujuan melalui serangkaian usaha itu.
Oleh karena itu, fungsi administrasi pendidikan dibicarakan sebagai proses
perangkaian kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan itu.
1. Tujuan Pendidikan Menengah
Tujuan pendidikan menengah merupakan jabaran dari tujuan pendidikan
nasional. Oleh karena itu, pemahaman tentang keduanya perlu dilakukan, tujuan
pendidikan menengah merupakan titik berangkat administrasi pendidikan pada
jenjang sekolah menengah, dan tujuan pendidikan menengah itu juga merupakan
tolak ukur keberhasilan kegiatan administrasi pendidikan dijenjang pendidikan itu.
2. Proses sebagai Fungsi Administrasi Pendidikan Menengah
Agar kegiatan dalam komponen administrasi pendidikan menengha dapat
berjalan dengan baik dan mencapai tujuan, kegiatan tersebut harus dikelola
melalui suatu tahapan proses yang merupakan siklus, mulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pembiayaan, pemantauan, dan
penilaian seperti telah disinggung secara garis besar pada bagian terdahulu.
a. Perencanaan
Perencanaan adalah pemilihan dari sejumlah alternatif tentang penetapan
prosedur pencapaian, serta perkiraan sumber yang dapat disediakan untuk
mencapai tujuan tersebut.
b. Pengorganisasian
Seagian (1985) mengemukakan prinsip pengorganisasian itu adalah
organisasi itu mempunyai tujuan yang jelas, tujuan organisasi harus dapat
dipahami oleh setiap anggota organisasi, tujuan organisasi harus dapat diterima
oleh setiap orang dalam organisasi.

c. Pengarahan
Pengarahan diartikan sebagai suatu usaha untuk menjaga agar apa yang
telah direncanakan dapat berjalan seperti yang dikehendaki. Suharsimi Arikunto
(1988) memberikan definisi pengarahan sebagai penjelasan, petunjuk, serta
pertimbangan dan bimbingan terhadap para petugas yang terlibat, baik secara
stuktural maupun fungsional agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan lancar..
d. Pengkoordinasian
Pengkoordinasian disekolah diartikan sebagai usaha untuk menyatupadukan
kegiatan dari berbagai individu atau unit di sekolah agar kegiatan mereka berjalan
selaras dengan anggota atau unit lainnya dalam usaha mencapai tujuan sekolah. e.
f. Penilaian
Dalam waktu-waktu tertentu, sekolah pada umumnya atau anggota
organisasi sekolah seperti guru, kepala sekolah, dan murid pada khususnya harus
melakukan penilaian tentang seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan tercapai,
serta mengetahui kekuatan dan klemahan program yang dilaksanakan.

2.3 Lingkungan Bidang Garapan Administrasi Pendidikan Menengah


Untuk memahami apa yang telah diuraikan secara lebih baik secara
ringkas perlu ditegaskan hal-hal berikut:
1. Administrasi pendidikan menengah merupakan bentuk kerja suatu
personel pendidikan menengah untuk mencapai tujuan pendidikan
menengah. Tujuan umum yang akan dicapai dalam kerja sama itu adalah
membentuk keprbadian murid sesuai dengan tujuan pendidikan nasional
dan sesuai dengan tingkat perkembangannya pada usia pendidikan
menengah.
2. Administrasi pendidikan menengah merupakan suatu proses yang
merupakan daur (siklus) penyelenggaraan pendidikan menengah, di mulai
dari perencanaan, diikuti oleh pengorganisasian pengarahaan, pelaksanaan,
pemantauan, dan penilaian tentang usaha sekolah untuk mencapai
tujuannya.
3. Admistrasi pendidikan menengah merupakan usaha untuk melakukan
manajemen sistem pendidikan menengah.

4. Administrasi pendidikan menengah merupakan kegiatan pemimpin,


mengambil keputusan, serta komunikasi dalam organisasi sekolah sebagai
usaha untuk mencapai tujuan pendidikan menengah itu.
Sekolah merupakan bentuk organisasi pendidikan. Seperti telah dijelaskan,
organisasi diartikan sebagai wadah dari kumpulan manusia yang bekerja sama
untuk mencapai tujuan tertentu dengan memamfaatkan manusia itu sendiri sebagai
sumber, material, dan waktu. Agar kerjasama itu berjalan dengan baik, maka perlu
da aturan. Karena orang yang bekerja sama serta situasi yang berbeda dari satu
tempat ketempat yang lain,terjadi suasana yaqng berlainan antara satuan kerja
sama yang satu dengan yang lain. Sekolah adalah orgnisasi yang diadakan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal pendidikan menengah, maka organisasi
itu diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan menengah.

2.4 Peranan Guru dalam Administrasi Pendidikan


Sekolah merupakan subsistem pendidikan nasional dan disamping
sekolah, sistem pendidikan nasional itu juga mempunyai komponen-komponen
lainnya. Guru harus memahami apa yang terjadi di lingkungan kerjanya.
Di sekolah guru berada dalam kegiatan administrasi sekolah. Sekolah
melaksanakan kegiatannya untuk menghasilkan lulusan yang jumlah serta
mutunya telah ditetapkan. Dalam lingkup administrasi sekolah itu peranan guru
amat penting. Dalam menetapkan kebijaksanaan dan melaksanakan proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pembiyaan dan
penilaian kegiatan kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana, personalia
sekolah, keuangan dan hubungan sekolah-masyarakat, guru harus aktif
memberikan sumbangan, yang sifatnya kolaboratif, artinya pekerjaan yang
didasarkan atas kerja sama, dan bukan bersifat individual. Oleh karena itu, semua
personel sekolah termasuk guru harus terlibat.
Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992, Pasal 20
disebutkan bahwa: Tenaga kependidikan yang akan ditugaskan untuk bekerja
sebagai pengelola dan satuan pendidikan dan pengawas pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah dipilih dari kalangan guru. Ini berarti, bahwa selain
peranannya untuk menyukseskan kegiatan administrasi disekolah, guru perlu

secara sungguh-sungguh menimba pengalaman dalam administrasi sekolah, jika


karier yang ditempuhnya nanti adalah menjadi pengawas, kepala sekolah atau
pengelola satuan pendidikan yang lain.

2.5 Pengertian Sistem dan Struktur Organisasi Sekolah


Sistem dapat didefinisikan sebagai seperangkat objek dengan hubunganhubungan antara objek dan hubungan antar atributnya. Dengan kata lain, sistem
adalah suatu kesatuan utuh yang terjalin dari :
1. Sejumlah bagian,
2. Hubungan bagian-bagian, dan
3. Atribut dari bagian-bagian itu maupun dari hubungan itu.
Sistem merupakan istilah dari bahasa Yunani, yaitu dari kata system
yang artinya adalah himpunan bagian atau unsur yang saling berhubungan secara
teratur untuk mencapai tujuan bersama.
Sedang menurut beberapa ahli pengertian sistem adalah sebagai berikut :
-

Menurut Ludwig Von Bartalanfy


Sistem merupakan seperangkat unsur yang saling terikat dalam

suatuantar relasi diantara unsur-unsur tersebut dengan lingkungan. Menurut


Anatol Raporot = Sistem adalah suatu kumpulan kesatuan dan perangkat
hubungan satu sama lain.
-

Menurut L. Ackof
Sistem adalah setiap kesatuan secara konseptual atau fisik yangterdiri

dari bagian-bagian dalam keadaan saling tergantung satu sama lainnya. Istilah
sistem dapat digunakan untuk mengacu kepada jaringan yang luas, mulai dari
satuan terkecil sampai seluruh alam semesta. Semua sistem mempunyai keunikan
sifat yang memungkinkan sistem-sistem itu dapat dibedakan dari yang lain,
walaupun dengan yang sangat serupa dan dapat dibedakan dari lingkungannya.
Sedangkan struktur yaitu susunan yang diatur sedemikian rupa
berdasarkan tujuan organisasi (kelembagaan) yang berfokus pada misi dan visi
sekolah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Struktur Organisasi pendidikan yang pokok ada dua macam yaitu
sentralisasi dan desentralisasi. Di antara kedua struktur tersebut terdapat beberapa

struktur campuran yakni yang lebih cenderung ke arah sentralisasi mutlak dan
yang lebih mendekati disentralisasi tetapi beberapa bagian masih diselenggarakan
secara sentral. Pada umumnya, struktur campuran inilah yang berlaku
dikebanyakan negara dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran bagi
bangsanya.

2.6 Unsur Dalam Struktur Organisasi Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (depdikbud) merupakan salah
satu wahana dalam pengelolaan sistem pendidikan nasional. Tugas pokoknya
yaitu menyelenggarakan sebagian tugas umum pemerintah dan pembangunan
dibidang pendidikan dan kebudayaan. Atas dasar itu depdikbud bertanggung
jawab terhadap pembinaan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.
Unsur-unsur struktur organisasi Depdikbud :
1. Menteri
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan pembantu presiden
dalam mengelola sistem pendidikan nasional.
Tugas pokok menteri adalah :
-

Memimpin departemen sesuai dengan tugas pokok yang telah digariskan


pemerintah

dan

membina

aparatur

Departemen

Pendidikan

dan

Kebudayaan agar berdaya guna dan berhasil guna.


-

Menentukan kebijaksanaan pelaksanaan bidang pemerintahan yang secara


fungsional menjadi tanggung jawabnya sesuai kebijaksanaan umum yang
telah ditetapkan presiden.

Membina dan melaksanakan kerja sama dengan departemen, instansi, dan


organisasi lainnya dalam usaha pengelolaan sistem pendidikan nasional.

2. Sekretariat jenderal
Tugas pokok sekretariat jenderal diatur dalam keputusan menteri
pendidkan dan kebudayaan No. 0172/0/1983 yaitu menyelenggarakan pembinaan
adminintrasi, organisasi, dan ketatalaksanaan terhadap seluruh unsur di
lingkungan Depdikbud serta memberikan layanan teknis dan administratif kepada
menteri, inspektorat jenderal, dan unit organisasi lainnya di lingkungan

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka pelaksanaan tugas pokok


departemen.
Tugas pokok tersebut adalah :
-

Mengatur dan membina kerja sama seluruh administrasi departemen.

Mempersiapkan, mengelola dan menelaah rencana yang sesuai dengan


tugas pokok departemen.

Membina urusan tata usaha, menolak dan membina kepegawaian serta


mengelola keuangan dan peralatan seluruh departemen.

Membina dan memelihara seluruh ketatalaksanaan departemen serta


pengembangannya.

Menyelenggarakan hubungan dengan lembaga resmi dan masyarakat.

Mengkoordinasikan perumusan peraturan perundang-undangan.

Membina dan memelihara keamanan dan ketertiban di lingkungan


departemen.

3. Inspektorat Jenderal
Tugas pokok inspektorat jenderal diatur dalam keputusan Mendikbud No.
0145/0/1979. Inspektorat jenderal merupakan satuan pengawasan yang dipimpin
oleh inspektur jenderal.
Tugas pokok inspektur jenderal adalah melakuakn pengawasan dalam
lingkungan departemen terhadap pelaksanaan tugas, baik tugas yang bersifat rutin
maupun tugas pembangunan.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, inspektorat jenderal
mempunyai fungsi :
-

Memeriksa setiap unsur di lingkungan departemen mencakup bidang


administrasi umum, keuangan, hasil-hasil fisik dari pelaksanaan proyek
pembangunan dan lain-lain

Menguji serta menilai hasil laporan berkala dari setiap unsur di lingkungan
departemen atas petunjuk menteri

Mengusut kebenaran laporan di bidang administrasi atau keuangan yang


dilakukan oleh unsur di lingkungan departemen.

4. Direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah


Organisasi dan tata kerja direktorat jenderal diatur melalui keputusan

Mendikbud RI No. 0222b/0/1980. Tugas pokok direktorat jenderal adalah


menyelenggarakan sebagian tugas pokok departemen di bidang pendidikan dasar
dan menengah berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan menteri.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, direktorat jenderal
mempunyai fungsi :
-

Merumuskan

kebijaksanaan

teknis,

memberikan

bimbingan

dan

pembinaan serta memberikan perizinan dibidang pendidikan dasar dan


menengah.
-

Melaksanakan pembinaan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan


tugas pokok direktorat jenderal.

Melaksanakan pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas pokok direktorat


jenderal.

5. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.


Direktorat jenderal pendidikan tinggi adalah satuan pelaksanaan
depdikbud, yang dipimpin oleh direktur jenderal pendidikan tinggi.
Tugas pokok Direktorat Pendidikan Tinggi diatur dalam keputusan
Mendikbud No. 0222e/0/1986. Direktorat jenderal pendidikan tinggi mempunyai
tugas menyelenggarakan sebagian tugas departemen di bidang pendidikan tinggi
berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh menteri.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, direktorat jenderal
pendidikan tinggi mempunyai fungsi :
-

Merumuskan

kebijaksanaan

teknis,

memberikan

bimbingan

dan

pembinaan serta memberikan perizinan dibidang pendidikan tinggi.


-

Melaksanakan pembinaan pendidikan tinggi sesuai dengan tugas pokok


direktorat jenderal.

Melaksanakan pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas sesuai


kebijaksanaan yang ditetapkan menteri berdasarkan peraturan perundangundangan.

6. Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga


Tugas pokok Direktorat ini diatur dalam keputusan Mendikbud No.
0222d/0/1980. Salah satu tugas pokok direktorat jenderal pendidikan luar sekolah,
pemuda, dan olahraga adalah:

Merumuskan dan melaksanakan kebijksanaan teknis, memberikan


bimbingan dan pembinaan serta memberikan perizinan di bidang
pendidikan luar sekolah, pemuda, dan olahraga berdasarkan kebijaksanaan
yang ditetapkan menteri dan berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Melaksanakan pembinaan pendidikan luar sekolah, pemuda, olahraga


sesuai dengan tugas pokok direktorat jenderal dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Melaksanakan pengaman teknis atas pelaksanaan tugas pokoknya sesuai


dengan kebijaksanaan yang ditetapkan menteri dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

7. Direktorat jenderal kebudayaan


Direktorat jenderal kebudayaan merupakan satuan pelaksana depdikbud
yang dipimpin oleh seorang direktur jenderal.
Tugas Direktorat ini diatur dalam keputusan Mendikbud No. 0222e/0/1980. Tugas
pokok Dirjen Kebudayaan diantaranya adalah:
-

Merumuskan

kebijaksanaan

teknis,

memberikan

bimbingan

dan

pembinaan, serta memberikan perizinan di bidang kebudayaan sesuai


dengan kebijaksanaan yang ditetapkan menteri dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
-

Melaksanakan pembinaan kebudayaan sesuai dengan tugas pokok Dirjen


dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Melaksanakan pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas Dirjen sesuai


dengan kebijaksanaan yang ditetapkan menteri dan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

8. Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan


Badan penelitian dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan
merupakan pelaksanaan tugas dibidang peneliian dan pengembangan pendidikan
dan kebudayaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada
menteri pendidikan dan kebudayaan. Badan ini dipimpin oleh seorang kepala.
Badan ini mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas pokok
depdikbud dibidan penelitian dan pengembangan pendidikan dan kebudayaan

berdasarkan kebijaksanaan menteri pendidikan dan kebudayaan dan peraturan


perundang-undangan.
Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, badan ini mempunyai fungsi
sebagai berikut ;
-

Mempersiapkan kebijaksanaan menteri dan menetapkan kebikjasaan teknis


penelitian dan pengembangan di bidang pendidikan dan kebudayaan.

Melaksanakan penelitian dan pengembangan dibidang pendidikan dan


kebudayaan dalam rangka perumusan kebijaksanaan.

Mengkoordinasikan dan membina penelitian pendidikan dan kebudayaan,


pengembangan

kurikulum

dan

sarana

pendidikan

pengembangan

informatika, pengembangan pengelolaan pendidikan dan kebudayaan,


pengembangan inovasi pendidikan dan kebudayaan serta penelitian dan
pengembangan system pengujian.
9. Pusat-pusat dibidang khusus
Tugas pokok pusat-pusat ini diatur dalam keputusan Mendikbud No.
0222g/0/1980. Beberapa pusat khusus yang berada langsung di bawah Mendikbud
ialah :
-

Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai, mempunyai tugas melaksanakan,


mengkoordinassikan, dan membina pendidikan dan latihan pegawai
berdasaikan kebijaksanaan yang ditetapkan Mendikbud.

Pusat pembinaan perpustakaan yang bertugas melaksanakan pembinaan


perpustakaan berdasarkan kebijaksanaan Mendikbud.

Pusat Kesearan Jasmani/ Rekreasi, mempunyai tugas melaksanakan dan


membina penelitian dan pengembangan kesegaran jasmani dan rekreasi
berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan menteri.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, mempunyai tugas


melaksanakan penelitian.

Pusat Penelitin Arkeologo Nasional, mempunyai tugas melaksanakan


pembinaan penelitian di bidang Arkeologi.

Pusat Teknologi Komunikasi dan Kebudayaan bertugas melaksanakan,


mengkoordinasikan,dan

membina

kegiatan

komunikasi pendidikan dan kebudayaan.

di

bidang

teknologi

Pusat Grafika Indonesia, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di


bidang pendidikan dan latihan Grafika dan memberikan bimbingan kearah
pengembangan keahlian dan keterampilan Grafika, di luar hubungan
sekolah.

10. Struktur Organisasi Vertikal Departeman Pendidikan dan Kebudayaan


Secara keseluruhan tugas pokok instansi vertikal departemen pendidikan
dan kebudayaan diatur dalam kepitusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.
0173/0/1983. Struktur organisasi ini terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu;
a. Tingkat Provinsi
Kantor Wilayah Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi mempunyai
fungsi diantaranya sebagai berikut :
-

Membina dan mengurus pendidikan dasar serta usaha wajib belajar

Membina dan mengurus pendidikan menengah umum.

Membina dan mengurus pendidikan menengah kejuruan.

Membina dan mengurus pendidikan guru.

Membina dan mengurus pendidikan masyarakat.

Membina dan mengurus kegiatan pembinaan generasi muda termasuk


pembinaan kesiswaan.

Membina dan mengurus keolahragaan.

Membina dan mengurus kesenian.

Membina dan mengurus permuseuman, keperbukalaan, dan peninggalan


nasional.

Membina dan mengurus kesejarahan dan nilai tradisional.

Membina penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Membarikan layanan teknis dan administratif kepada semua unsur


dilingkungan kantor wilayah.

b. Tingkat Kabupaten/Kotamadya
Kantor Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten/Kotamadya
mempunyai fungsi sebagai berikut :
-

Membina dan mengurus taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah luar


biasa dan usaha wajib belajar.

Membina dan mengurus pendidikan masyarakat, kegiatamn pembinaan

generasi muda termasuk pembinaan kegiatan kesiswaan dan keolahragaan.


-

Membina dan mengurus kegiatan pengembangan kebudayaan.

Memberikan layanan teknis dan administratif kepada semua unsur di


lingkungan

Kantor

Depertemen

Pendidikaan

dan

Kebudayaan

Kabupaten/Kotamadya.
c. Tingkat Kecamatan
Kantor

Depertemen

Pendiddikan

dan

Kebudayaan

Kecamatan

mempunyai tugas melakukan sebagian tugas kantor Depertemen Pendidikan dan


Kebudayaan Kabupaten/Kotamadya di kecamatan yang bersangkutan. Untuk
menyeleggarakan tugas tersebut maka Depertemen Pendidikn dan Kebudayaan
Kecamatan mempunyai fungsi sebagai berikut :
-

Membina dan mengurus taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah luar


biasa dan usaha wajib belajar.

Membina dan mengurus pendidikan masyarakat, kegiatamn pembinaan


generasi muda termasuk pembinaan kegiatan kesiswaan dan keolahragaan.

Membina dan mengurus kegiatan pengembangan kebudayaan.

Melakukan urusan tata usaha dan keuangan, pengumpulan data dan


statistik kepegawaian dan perlengkapan di lingkungan kanto Depertemen
pendidikan dan Kebudayaan.

d. Tingkat sekolah
Unsur-unsur yang terdapat dalam organisasi sekolah adalah :
1. Unsur kepemimpinan
Unsur kepemimpinan di sekolah terdiri dari kepala sekoalh dan wakil
kepala sekolah. Adapun tugas kepala sekolah adalah:
a. Merencanakan,

menyusun,

membimbing,dan

mengawasi

kegiatan

admnistrasi pendidikan sesuai dengan kebikjakan yang telah ditetapkan.


b. Mengintegrasi dan mengkoordinasi kegiatan dari unit-unit kerja yang ada
dilingkungan sekolah.
c. Menjalin hubungan dan kerja sama dengan orang tua siswa, lembagalembaga pemerintah dan masyarakat.
d. Melaporkan

pelaksanaan

dan

hasil-hasil

pelaksanaan

kegaiatan

admnistrasi di sekolah kepada atasannya langsung. Sedangkan tugas wakil

kepala sekolah antara lain adalah membantu kepala sekolah dalam


melaksanakan tugasnya sehari-hari dam mewakili kepala sekolah apabila
kepala sekolah berhalangan.
2. Unsur tata usaha
Kegiatan tata usaha ini antara lain meliputi pekejaan surat-menyurat dan
kearsipan,pelaksanaan pengusulan pegawai, pengurusan kenaikan pangkat,
kesejahteraan pegawai.
3. Unsur urusan
Unsur urusan merupakan bgian dari organisasi sekolah yang dijabat oleh
guru, tugasnya adalah membantu penyelenggaraan kegiatan administrasi
pendidikan sekolah dalam bidang-bidang pengajaran,kesiswaan, bimbingan dan
penyuluhan, pengabdian dan kurikuler.
4. Unsur instalasi
Instalasi membantu kegiatan administrasi pendidikan disekolah dengan
jalan menyediakan layanan penunjang kegiatan belajar-mengajar disekolah. Unsur
instalasi ini meliputi perpustakaaan, laboratorium, bengkel kerja (workshop) sera
asrama.
5. Unsur pelaksana
Unsur pelaksana secara langsung melaksanakan proses belajar-mengajar
disekolah. Unsur pelaksana ini meliputi ketua jurusan, guru bidang studi, guru
kelas dn wali kelas.
6. Siswa
Siswa merupakan fokus kegiatan layanan disekolah. Dikatakan demikian
karena semua kegiatan yang dilakukan oleh setiap unsur dalam organissasi
sekolah bermuara pada siswa sebagai peserta didik.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Admisitrasi pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk
mencapai

tujuan

pendidikan.

Proses

itu

dimulai

dari

perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian. Perencanaan meliputi


kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, berao
lama, berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biayanya. Perencanaan ini
dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan.
Lingkup pembicaraan

tentang administrasi

pendidikan itu juga

tergantung pada aras (level ) tujuan pendidikan yang ingin dicapai, yaitu pada
tingkat kelas sampai pada tingkat sistem pendidikan nasional. Makin meluas
cakupannya

makin

banyak

yang

terlibat

dan

makin

kompleksnya

permasalahannya.
Sebagai tenaga kependidikan, khususnya guru, wawasan tentang
administrasi pendidikan amat penting karena pemahaman tentang latar kerja guru.
Wawasan itu dapat membatunya mengambil keputusan yang tepat dalam
melaksanakan tugasnya
Sistem pendidikan di Indonesia merupaka system yang sangat besar dan
kompleks. Berfungsiya system ini diatur dalam Undang-Undang No 2 Tahun 1998
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Salah satu wahana yang sangat menentukan
berfungsinya sistem ini adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Untuk menyelenggarakan hal tersebut, depdikbud mempunyai unsurunsur yaitu menteri, sekretariat jenderal, direktorat jenderal, badan penelitian dan
pengembangan pendidikan dan kebudayaan, pusat-pusat bidang khusus dan
instansi vertical di wilayah.
Pengetahuan ini sangat penting bagi seorang calon guru. Lebih lanjut
seorang calon guru juga harus dipersiapkan untuk mengemban tugas sebagai
tenaga kependidikan. Penyiapan ini dilakukan antara lain dengan memperbaiki
pendidikan dalam jabatannya. Jika sudah terjadi, maka pendidikan dapat
memenuhi sasaran, baik sasaran relevansi, mutu, jumlah dan efisiensi.

3.2 Saran
Sebagai orang yang menggeluti dunia pendidikan, marilah kita bersama
untuk memperbaiki dan mau ikut ber`partisipasi dalam kegiatan administrasi
sekolah.
Dalam hal ini penulis menyarankan agar sistem pendidikan di Indonesia
dapat ditingkatkan lagi dan seluruh aparat yang bersangkutan bisa menjalankan
tugasnya dengan sebaik mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 1988. Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi
dan Kejuruan. Jakarta: Ditjen Dikti.
Culbertson, j. 1982. Educational administration and planning at a crossroads in
knowledge development. Nigeria: Universitas of Ibadan. 1982.
Departemen dalam negeri, dep. Pendidikan dan kebudayaan, dan dep. Keuangan.
1983. Petunjuk administrasi program pengajaran. Jakarta: depdikbud.
Departemen pendidikan dan kebudayaan RI. 1990. Peraturan pemerintah republic
Indonesia no. 28 tahun 1990 tentang pendidikan menengah. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Harris, ben M.. 1975.supervisory behavior in education. New Jersey: prentice hall.
Milstein, M.M. and Belasco, J.A. (Ed.). 1973. Educational administration and the
behavioral sciences; a system perspective. bostom: allyn and bacom, inc
Sondang P. siagian. 1985. Filsafat administrasi. Jakarta: Gunung Agung.
Akmali, Ridha. 2010. Tugas Pokok dan Fungsi Pengelola Sekolah. [online]
http://ridhaacmal.blogspot.com. [7 mei 2012]
Radieta,

Uman.

2011.

Sistem

dan

Organisasi

http://umanradieta.blogspot.com. [7 Mei 2012]


Soetjipto. 2004. Frofesi Keguruan. jakarta: Rineka Cipta

Sekolah.

[online]