Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

IMPETIGO KRUSTOSA
1.

ANATOMI
Anatomi Kulit
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan organ terbesar tubuh

manusia. Luas kulit orang dewasa 1.5 meter persegi. Kulit merupakan organ yang
vital dan bervariasi mengikut keadaan iklim, umur, seks, ras dan juga bergantung
lokasi tubuh. Warna kulit ada bermacam-macam, dari kulit yang terang (fairskin),
pirang dan hitam, warna merah muda pada telapak kaki dan tangan bayi, serta
warna hitam kecoklatan pada genitalia orang dewasa. Demikian pula kulit
bervariasi mengenai lembut, tipis dan tebalnya; kulit yang elastik dan longgar
terdapat pada palpebra, bibir, dan preputium. Kulit yang tebal dan tegang terdapat
di telapak kaki dan tangan dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada muka, yang
lembut pada leher dan badan, yang berambut kasar terdapat pada kepala.
Kulit terbagi menjadi tiga lapisan utama yaitu lapisan epidermis, lapisan
dermis dan lapisan subkutis.
Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas:
1. stratum korneum
2. stratum lusidum
3. stratum granulosum
4. stratum spinosum
5. stratum basale
Stratum korneum adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas
beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasma telah
berubah menjadi keratin. Stratum lusidum terdapat langsung di bawah lapisan
korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang
erubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas
di telapak tangan dan kaki. Stratum granulosum merupakan dua atau tiga lapis selsel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya.

Stratum spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal
yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Stratum basale terdiri
atas sel-sel berbentuk kubus yang tersusun vertikal. Lapisan ini merupakan
lapisan epidermis yang paling bawah. Selain itu, sel ini membentuk melanin yang
mengandung butir pigmen (melanosomes).
Lapisan Dermis
Lapisan dermis adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal
daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat
dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar lapisan
dermis dibagi menjadi dua bagian yakni:
1. pars papilare
2. pars retikulare
Pars papilare merupakan bagian yang menonjol ke epidermis, berisi serabut
saraf dan pembuluh darah. Pars retikulare merupakan bagian dibawahnya yang
menonjol ke arah subkutan. Bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang
misalnya serabut kolagen, elastin, dan retikulin.
Lapisan subkutis
Lapisan subkutis adalah lanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat berisi sel-sel
lemak di dalamnya. Lapisan sel-sel lemak ini disebut panikulus adiposa, berfungsi
sebagai cadangan makanan.

Gambar 1. Anatomi kulit.


2

Fisiologi Kulit
Fungsi utama kulit ialah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu
tubuh (termoregulasi), pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D dan
keratinisasi. Kulit memproteksi tubuh dari gangguan fisis atau mekanis, misalnya
tekanan, gesekan dan tarikan. Kulit juga memproteksi tubuh dari invasi patogen
yang bisa masuk ke dalam tubuh. Selain itu, kulit juga tidak mudah menyerap air,
larutan dan benda padat. Kulit mengekskresi zat-zat yang tidak berguna atau sisa
metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan ammonia. Kulit juga
melakukan proses berkeringat untuk mengurangkan dan meregulasikan suhu
tubuh. Kulit mengandung saraf sensorik di dermis dan subkutis yang bisa
mendeteksi tekanan, nyeri, dan suhu. Melanosit membentuk pigmen melanin yang
menentukan warna kulit individu. Kulit juga membentuk vitamin D untuk
kebutuhan tubuh tapi dalam jumlah yang sedikit
.
2.

DEFINISI
Impetigo adalah penyakit kulit superfisial yang disebabkan infeksi piogenik

oleh bakteri Gram positif. Impetigo lebih sering terjadi pada usia anak-anak
walaupun pada orang dewasa dapat terjadi. Penularan impetigo tergolong tinggi,
terutama melalui kontak langsung. Individu yang terinfeksi dapat menginfeksi
dirinya sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi seringkali menyebar
dengan cepat di sekolah, tempat penitipan anak atau pada tempat dengan hygiene
buruk atau juga tempat tinggal yang padat penduduk.
Impetigo krustosa merupakan penyakit infeksi piogenik kulit superfisial yang
disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus group A beta-hemolitikus
(GABHS), atau kombinasi keduanya dan digambarkan dengan perubahan vesikel
berdinding tipis, diskret, menjadi pustul dan ruptur serta mengering membentuk
krusta Honey-colored, dengan tepi yang mudah dilepaskan.
Impetigo krustosa merupakan jenis infeksi piogenik yang paling banyak
ditemukan di dunia (70% dari kasus impetigo). Impetigo krustosa harus diobati
secara cepat dan tepat karena dapat menyebabkan beberapa komplikasi terutama
glomerulonefritis akut.

Pada negara maju, impetigo krustosa banyak disebabkan oleh Staphylococcus


aureus dan sedikit oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus (Streptococcus
pyogenes). Banyak penelitian yang menemukan 50-60% kasus impetigo krustosa
penyebabnya adalah Staphylococcus aureus dan 20-45% kasus merupakan
kombinasi Staphylococcus aureus dengan Streptococcus pyogenes. Namun di
negara berkembang, yang menjadi penyebab utama impetigo krustosa adalah
Streptococcus pyogenes. Staphylococcus aureus banyak terdapat pada faring,
hidung, aksila dan perineal merupakan tempat berkembangnya penyakit impetigo
krustosa.

Gambar 2. Anak dengan impetigo krustosa


3. EPIDEMIOLOGI
Terjadinya penyakit impetigo krustosa di seluruh dunia tergolong relative
sering. Penyakit ini banyak terjadi pada anak - anak kisaran usia 2-5 tahun
dengan rasio yang sama antara laki-laki dan perempuan. Di Amerika, impetigo
merupakan 10% dari penyakit kulit anak yang menjadi penyakit infeksi kulit
bakteri utama dan penyakit kulit peringkat tiga terbesar pada anak. Di Inggris
kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun dan
1,6% pada anak usia 5-15 tahun
Impetigo krustosa banyak terjadi pada musim panas dan daerah lembab,
seperti Amerika Selatan yang merupakan daerah endemik dan predominan,
dengan puncak insiden di akhir musim panas. Anak-anak prasekolah dan

sekolah paling sering terinfeksi. Pada usia dewasa, laki-laki lebih banyak
dibanding perempuan.
Disamping itu, ada beberapa faktor yang dapat mendukung terjadinya
impetigo krustosa seperti:
- hunian padat
- higiene buruk
- hewan peliharaan
- keadaan yang mengganggu integritas epidermis kulit seperti gigitan
serangga.
4.

PATOGENESIS

Impetigo krustosa dimulai ketika trauma kecil terjadi pada kulit normal sebagai
portal of entry yang terpapar oleh kuman melalui kontak langsung dengan pasien
atau dengan seseorang yang menjadi carrier. Kuman tersebut berkembangbiak
dikulit dan akan menyebabkan terbentuknya lesi dalam satu sampai dua minggu.
Cara infeksi pada impetigo krustosa ada 2, yaitu infeksi primer dan infeksi
sekunder.

Gambar 3. Patogenesis impetigo krustosa

Infeksi Primer
Infeksi primer, biasanya terjadi pada anak-anak. Awalnya, kuman menyebar dari
hidung ke kulit normal (kira-kira 11 hari), kemudian berkembang menjadi lesi
pada kulit. Lesi biasanya timbul di atas kulit wajah (terutama sekitar lubang
hidung) atau ekstremitas setelah trauma.
Infeksi sekunder
Infeksi sekunder terjadi bila telah ada penyakit kulit lain sebelumnya
(impetiginisasi) seperti dermatitis atopik, dermatitis statis, psoariasis vulgaris,
SLE kronik, pioderma gangrenosum, herpes simpleks, varisela, herpes zoster,
pedikulosis, skabies, infeksi jamur dermatofita, gigitan serangga, luka lecet, luka
goresan, dan luka bakar, dapat terjadi pada semua umur.
Impetigo krustosa biasanya terjadi akibat trauma superfisialis dan robekan
pada epidermis, akibatnya kulit yang mengalami trauma tersebut menghasilkan
suatu protein yang mengakibatkan bakteri dapat melekat dan membentuk suatu
infeksi impetigo krustosa. Keluhan biasanya gatal dan nyeri. Impetigo krustosa
sangat menular, berkembang dengan cepat melalui kontak langsung dari orang ke
orang. Impetigo banyak terjadi pada musim panas dan cuaca yang lembab. Pada
anak-anak sumber infeksinya yaitu binatang peliharaan, kuku tangan yang kotor,
anak-anak lainnya di sekolah, daerah rumah kumuh, sedangkan pada dewasa
sumbernya yaitu tukang cukur, salon kecantikan, kolam renang, dan dari anakanak yang telah terinfeksi
HISTOPATOLOGI
Terjadinya inflamasi superfisialis pada folikel pilosebaseus bagian atas.
Terdapat vesikopustul di subkorneum yang berisi coccus serta debris berupa
leukosit dan sel epidermis. Pada dermis terjadi inflamasi ringan yang ditandai
dengan dilatasi pembuluh darah, edema, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.
Seringkali terjadi spongiosis yang mendasari pustula. Pada lesi terdapat kokus
Gram positif.
5.

KLASIFIKASI

Impetigo krustosa termasuk dalam bentuk Pioderma. Pioderma disebabkan oleh


Staphilococcus aureus atau Streptococcus. Atau kedua-duanya.
Staphilococcus aureus
Streptococcus
Keduanya
Impetigo bulosa
Impetigo krustosa
Selulitis
Folikulitis
Ektima
Flegmon
Furunkel
Erisipelas
Pionikia
Karbunkel
S4
Tabel 1. Pioderma berdasarkan penyebabnya
Tidak ada gejala prodormal. Peradangan hanya pada daerah epidermis.
Sehingga yang terjadi adalah erosi. Impetigo dibagi 2:
UKK
Predileksi
Usia

6.

Krustosa
Bulosa
Eritem, vesikel (pecah),
Eritema, bula hipopion
krusta tebal kuning madu, bila pecah koleret
dasar erosi
Lubang hidung mulut
Ketiak, dada, punggung
Anak
Anak, dewasa
Table 2. Klasifikasi impetigo

MANIFESTASI KLINIK

Impetigo krustosa dapat terjadi di mana saja pada tubuh, tetapi biasanya pada
bagian tubuh yang sering terpapar dari luar misalnya wajah, leher, dan
ekstremitas. Impetigo Krustosa diawali dengan munculnya eritema berukuran
kurang lebih 2 mm yang dengan cepat membentuk vesikel, bula atau pustul
berdinding tipis. Kemudian vesikel, bula atau pustul tersebut ruptur menjadi erosi
kemudian eksudat seropurulen mengering dan menjadi krusta yang berwarna
kuning keemasan (honey-colored) dan dapat meluas lebih dari 2 cm. Lesi
biasanya berkelompok dan sering konfluen meluas secara irreguler. Pada kulit
dengan banyak pigmen, lesi dapat disertai hipopigmentasi atau hiperpigmentasi.
Krusta pada akhirnya mengering dan lepas dari dasar yang eritema tanpa
pembentukan jaringan scar. Lesi dapat membesar dan meluas mengenai lokasi
baru dalam waktu beberapa minggu apabila tidak diobati. Pada beberapa orang
lesi dapat remisi spontan dalam 2-3 minggu atau lebih lama terutama bila terdapat
penyakit akibat parasit atau pada iklim panas dan lembab, namun lesi juga dapat
meluas ke dermis membentuk ulkus (ektima).
7

Kelenjar limfe regional dapat mengalami pembesaran pada 90% pasien


tanpa pengobatan (terutama pada infeksi Streptococcus) dan dapat disertai
demam. Membran mukosa jarang terlibat.

Gambar 4. Atas : impetigo krustosa di ekstremitas superior pada anak-anak.


Bawah : impetigo krustosa di sekitar lubang hidung dan mulut pada anak- anak.
7.

DIAGNOSIS

Diagnosis impetigo krustosa ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik


dengan mengidentifikasi tanda dan gejala yang ada dan dapat dibantu dengan
pemeriksaan penunjang seperti pewarnaan Gram, biakan kuman, dan tes serologi
serta histopatologi.
Pada pulasan gram, ditemukan coccus Gram positif yang lebih terlihat bila
pemeriksaan dilakukan saat lesi masih berupa vesikel. Biasanya diperlukan
pemeriksaan biakan kuman dan sensitivitas bila terapi tidak menghasilkan respon

baik yang menunjukkan sudah terjadi resistensi kuman. Pada pemeriksaan


serologi didapatkan ASO titer positif lemah pada pioderma streptococcus.
Leukositosis ditemukan pada sebagian penderita impetigo krustosa.
8.

DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding Impetigo krustosa terdiri dari:

Dermatitis Atopik

Terdapat riwayat atopik seperti asma, rhinitis alergika. Lesi pruritus kronik
dan kulit kering abnormal dapat disertai likenifikasi.

Dermatitis Kontak

Gatal pada daerah sensitif yang kontak dengan bahan iritan.

Herpes Simpleks

Vesikel dengan dasar eritema yang ruptur menjadi erosi ditutupi krusta.
Umumnya terdapat demam, malaise, disertai limfadenopati.

Varisela

Terdapat gejala prodomal seperti demam, malaise, anoreksia. Vesikel dinding


tipis dengan dasar eritema (bermula di trunkus dan menyebar ke wajah dan
ekstremitas) yang kemudian ruptur membentuk krusta (lesi berbagai stadium)

Kandidiasis

Kandidiasis (infeksi jamur candida): papul eritem, basah, umumnya di daerah


selaput lendir atau daerah lipatan.

Diskoid lupus eritematous

Ditemukan (plak), batas tegas yang mengenai sampai folikel rambut.

Ektima

Lesi berkrusta yang menutupi daerah ulkus yang menetap selama beberapa
minggu dan sembuh dengan jaringan parut bila menginfeksi dermis.

Gigitan serangga

Terdapat papul pada daerah gigitan, dapat nyeri.

Skabies

Papul yang kecil dan menyebar, terdapat terowongan pada sela-sela jari, gatal
pada malam hari.
9.

PENATALAKSANAAN
A. Umum

Menjaga kebersihan agar tetap sehat dan terhindar dari infeksi kulit.

Menindaklanjuti luka akibat gigitan serangga dengan mencuci area kulit


yang terkena untuk mencegah infeksi.

Mengurangi kontak dekat dengan penderita

Bila diantara anggota keluarga ada yang mengalami impetigo diharapkan


dapat melakukan beberapa tindakan pencegahan berupa:
o Mencuci bersih area lesi (membersihkan krusta) dengan sabun dan
air mengalir serta membalut lesi.
o Mencuci pakaian, kain, atau handuk penderita setiap hari dan tidak
menggunakan peralatan harian bersama-sama.
o Menggunakan sarung tangan ketika mengolesi obat topikal dan
setelah itu mencuci tangan sampai bersih.
o Memotong

kuku

untuk

menghindari

penggarukan

yang

memperberat lesi.
o Memotivasi penderita untuk sering mencuci tangan.
B. Khusus
Pada prinsipnya, pengobatan impetigo krustosa bertujuan untuk memberikan
kenyamanan dan perbaikan pada lesi serta mencegah penularan infeksi dan
kekambuhan.
1. Terapi Sistemik
Pemberian antibiotik sistemik pada impetigo diindikasikan bila terdapat lesi
yang luas atau berat, limfadenopati, atau gejala sistemik.
a.

Pilihan Pertama (Golongan Lactam)

Golongan Penicilin (bakterisid)


Amoksisilin+ Asam klavulanat : Dosis 2x 250-500 mg/hari (25 mg/kgBB) selama
10 hari.

10

Golongan Sefalosporin generasi-ke1 (bakterisid)


Sefaleksin : Dosis 4x 250-500 mg/hari (40-50 mg/kgBB/hari) selama 10 hari.
Kloksasilin : Dosis 4x 250-500 mg/hari selama 10 hari.
b. Pilihan Kedua
Golongan Makrolida (bakteriostatik)
Eritromisin : Dosis 30-50mg/kgBB/hari.
Azitromisin : Dosis 500 mg/hari untuk hari ke-1 dan dosis 250 mg/hari untuk hari
ke-2 sampai hari ke-4.
2.Terapi Topikal
Penderita diberikan antibiotik topikal bila lesi terbatas, terutama pada wajah dan
penderita sehat secara fisik. Pemberian obat topikal ini dapat sebagai profilaksis
terhadap penularan infeksi pada saat anak melakukan aktivitas disekolah atau
tempat lainnya. Antibiotik topikal diberikan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari.

Mupirocin

Mupirocin (pseudomonic acid) merupakan antibiotik yang berasal dari


Pseudomonas fluorescent .Mekanisme kerja mupirocin yaitu menghambat sintesis
protein (asam amino) dengan mengikat isoleusil-tRNA sintetase sehingga
menghambat aktivitas coccus Gram positif seperti Staphylococcus dan sebagian
besar Streptococcus. Salap mupirocin 2% diindikasikan untuk pengobatan
impetigo yang disebabkan Staphylococcus dan Streptococcus pyogenes.

Asam Fusidat

Asam Fusidat merupakan antibiotik yang berasal dari Fusidium coccineum.


Mekanisme kerja asam fusidat yaitu menghambat sintesis protein. Salap atau krim
asam fusidat 2% aktif melawan kuman gram positif dan telah teruji sama efektif
dengan mupirocin topikal.

Bacitracin

Baciracin merupakan antibiotik polipeptida siklik yang berasal dari Strain


Bacillus Subtilis. Mekanisme kerja bacitracin yaitu menghambat sintesis dinding
sel bakteri dengan menghambat defosforilasi ikatan membran lipid pirofosfat
sehingga aktif melawan coccus Gram positif seperti Staphylococcus dan
11

Streptococcus. Bacitracin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri


superfisial kulit seperti impetigo.

Retapamulin

Retapamulin bekerja menghambat sintesis protein dengan berikatan dengan


subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat dengan peptidil transferase. Salap
Retapamulin 1% telah diterima oleh Food and Drug Administraion (FDA) pada
tahun 2007 sebagai terapi impetigo pada remaja dan anak-anak diatas 9 bulan dan
telah menunjukkan aktivitasnya melawan kuman yang resisten terhadap beberapa
obat seperti metisilin, eritromisin, asam fusidat, mupirosin, azitromisin.
10. KOMPLIKASI
1. Ektima
Impetigo yang tidak diobati dapat meluas lebih dalam dan penetrasi ke
epidermis menjadi ektima. Ektima merupakan pioderma pada jaringan kutan
yang ditandai dengan adanya ulkus dan krusta tebal.
2. Selulitis dan Erisepelas
Impetigo krustosa dapat menjadi infeksi invasif menyebabkan terjadinya
selulitis dan erisepelas, meskipun jarang terjadi. Selulitis merupakan
peradangan akut kulit yang mengenai jaringan subkutan (jaringan ikat
longgar) yang ditandai dengan eritema setempat, ketegangan kulit disertai
malaise, menggigil dan demam. Sedangkan erisepelas merupakan peradangan
kulit yang melibatkan pembuluh limfe superfisial ditandai dengan eritema
dan tepi meninggi, panas, bengkak, dan biasanya disertai gejala prodromal.
3. Glomerulonefritis Post Streptococcal
Komplikasi utama dan serius dari impetigo krustosa yang umumnya
disebabkan oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus ini yaitu
glomerulonefritis akut (2%-5%). Penyakit ini lebih sering terjadi pada anakanak usia kurang dari 6 tahun. Tidak ada bukti yang menyatakan
glomerulonefritis

terjadi

pada

impetigo

yang

disebabkan

oleh

Staphylococcus. Insiden glomerulonefritis (GNA) berbeda pada setiap

12

individu, tergantung dari strain potensial yang menginfeksi nefritogenik.


Faktor yang berperan penting atas terjadinya GNAPS yaitu serotipe
Streptococcus strain 49, 55, 57,dan 60 serta strain M-tipe 2. Periode laten
berkembangnya nefritis setelah pioderma streptococcal sekitar 18-21 hari.
Kriteria diagnosis GNAPS ini terdiri dari hematuria makroskopik atau
mikroskopik, edema yang diawali dari regio wajah, dan hipertensi.
4. Rheumatic Fever.
Sebuah kelainan inflamasi yang dapat terjadi karena komplikasi infeksi
streptokokus yang tidak diobati strep throat atau scarlet fever. Kondisi
tersebut dapat mempengaruhi otak, kulit, jantung,dan sendi tulang.
5. Pneumonia.
Pneumonia merupakan penyakit ynag banyak ditemui setiap tahun. Penyakit
ini biasa terjadi pada perokok dan seseorang yang menggunakan obat yang
menekan sistem imunitas.
6. Osteomielitis
Sebuah inflamasi pada tulang disebabkan bakteri. Inflamasi biasanya berasal
dari bagian tubuh yang lain yang berpindah ke tulang melalui darah.
7. Meningitis
Sebuah inflamasi pada membran dan cairan serebrospinal yang melingkupi
otak dan medula spinalis. Meningitis merupakan sebuah penyakit serius yang
dapat mempengaruhi kehidupan dan menghasilkan komplikasi permanen
seperti koma, syok, dan kematian.
11. PROGNOSIS
Pada beberapa individu, bila tidak ada penyakit lain sebelumnya impetigo
krustosa dapat membaik spontan dalam 2-3 minggu. Namun, bila tidak diobati
impetigo krustosa dapat bertahan dan menyebabkan lesi pada tempat baru
serta menyebabkan komplikasi berupa ektima, dan dapat menjadi erisepelas,
selulitis, atau bakterimia. Dapat pula terjadi Staphylococcal Scalded Skin
Syndrome

(SSSS)

pada

bayi

dan

dewasa

yang

mengalami

13

immunocompromised atau gangguan fungsi ginjal. Bila terjadi komplikasi


glomerulonefritis akut, prognosis anak- anak lebih baik daripada dewasa.

BAB II
STATUS PASIEN
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. E

Umur

: 9 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Tikala

Pekerjaan

: Belum bekerja

Tanggal masuk

: 29 Agustus 2016

No CM

: 0013xx

II. SUBYEKTIF
Alloanamnesis dengan ibu pasien tanggal 29 Agustus 2016
Keluhan Utama
Terdapat luka koreng di belakang leher sejak 4 hari yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang diantar oleh orang tuanya dengan keluhan terdapat
luka koreng di belakang leher sejak 4 hari yang lalu. Awalnya timbul
hanya 1 atau 2 berupa bintik kemerahan yang berisi air, kemudian esok
harinya semakin banyak. Bintik merah tersebut kemudian pecah dengan
sendirinya dan membentuk koreng berwarna kuning kecoklatan sejak 2
hari yang lalu. Panas badan disangkal.
Riwayat pengobatan yaitu pemberian bedak Caladine dilakukan
sehabis pasien mandi. Tidak ada riwayat alergi, riwayat operasi, dan riwayat

14

transfusi pada pasien. Terdapat intensitas nyeri dengan visual analogue scale
2. Riwayat penyakit dalam keluarga ada yaitu adik pasien yang berusia 5
tahun mengalami gejala yang sama yaitu berupa bintik-bintik merah berair
dan terdapat koreng pada wajahnya. Pasien baru pertama kali mengalami sakit
seperti ini.

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Riwayat alergi disangkal


Riwayat trauma pada wajah sebelumnya disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Adik pasien mengalami sakit yang serupa seperti pasien
Riwayat Kebiasaan:
Pasien makan 3-4x sehari dengan pola hidup yang dinyatakan sehat oleh
orang tuanya. Ibu pasien mengatakan pasien jarang mandi, biasanya satu
hari hanya satu kali mandi.

III. OBJEKTIF ( 10 Agustus 2016 )


Status Present
Kesadaran

: Composmentis

GCS

: 15 (E4.M6.V5)

Tekanan darah

: -

Nadi

: 88 x/ menit

Respirasi

: 18 x/ menit

Suhu

: 36,7 oC

Berat Bada

: 45 kg

Status Generalis
o

Kepala :

15

Ekspresi wajah : normal.

Bentuk dan ukuran : normal.

Rambut : normal.

Edema (-); malar rash (-); parese N VII (-); eritema (-);
nyeri tekan kepala. (-)
Mata :

o
-

Simetris; alis normal;

exopthalmus (-/-); ptosis (-/-);

nystagmus (-/-); strabismus (-/-); edema palpebra (-/-);


konjungtiva : anemis (-/-), hiperemia (-/-); sclera : ikterus (-/-),
hiperemia (-/-), pterigium (-/-); pupil : isokor, bulat, refleks
cahaya (+/+); kornea : normal; lensa : normal, katarak (-/-).
Telinga :

o
-

Bentuk : normal; lubang telinga : normal, sekret (-/-); nyeri


tekan (-/-)

Pendengaran : normal pada kedua telinga.


Hidung :

o
-

Simetris, deviasi septum (-); napas cuping hidung (-);


perdarahan (-), sekret (-).

Penciuman normal.
Mulut :

o
-

Simetris; bibir : sianosis (-), stomatitis angularis (-); gusi :


hiperemia (-), perdarahan (-); lidah : glositis (-), atropi papil
lidah (-); gigi : karang gigi (+), caries (-); mukosa : normal.

Faring dan laring : tidak dapat dievaluasi.


Leher :

o
-

Kaku kuduk (-); scrofuloderma (-); pembesaran KGB (-)

Trakea : tidak ada deviasi; JVP : tidak meningkat

Otot bantu nafas SCM aktif (+), hipertrofi (+)

Pembesaran tiroid (-)

o Thorax
16

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicula kiri

Perkusi

: Batas jantung kanan

: ICS 4 parasternal kanan

Batas jantung atas

: ICS 2 parasternal

Batas jantung kiri

: ICS 5 midclavicula kiri

Auskultasi : BJ I II murni reguler

Paru
Inspeksi

: Simetris hemitoraks kanan-kiri saat statis dan dinamis

Palpasi

: Simetris hemitorak kanan-kiri pada fremitus fokal dan


taktil

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/o Abdomen


Inspeksi

: Permukaan cembung

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Perkusi

: Timpani pada keempat quadran abdomen

Palpasi

: NT/NK/NL : -/-/-. Hepar, lien, ginjal sulit diraba.

Extremitas :

Hangat (+); edema (-); deformitas (-); tremor (-); clubbing finger (-); sianosis (-);
petechie (-); dissuse atrofi (-)
Pemeriksaan Dermatologi
UKK : Pada belakang leher, terdapat papula dan vesikel eritema kecil berbentuk bulat
dengan ukuran diameter 1-2mm. Terdapat krusta berwana kuning kecoklatan dengan
batas tegas ukuran 1-2 cm.

IV. Resume

17

Seorang anak, 9 tahun, datang dengan keluhan terdapat luka koreng di


belakang leher sejak 4 hari yang lalu. Awalnya timbul hanya 1 atau 2 berupa
bintik kemerahan yang berisi air, kemudian esok harinya semakin banyak. Bintik
merah tersebut kemudian pecah dengan sendirinya dan membentuk koreng
berwarna kuning kecoklatan sejak 2 hari yang lalu. Panas badan disangkal. Pasien
makan 3-4x sehari dengan pola hidup yang dinyatakan sehat oleh orang tuanya.
Ibu pasien mengatakan pasien jarang mandi, biasanya satu hari hanya satu kali
mandi.
Pada pemeriksaan dermatologi, ujud kelainan kulit ditemukan pada
belakang leher, terdapat papula dan vesikel eritema kecil berbentuk bulat dengan
ukuran diameter 1-2mm. Terdapat krusta berwana kuning kecoklatan dengan batas
tegas ukuran 1-2 cm.

V. Diagnosis Banding
Varicella
VI. Diagnosis Kerja
Impetigo Krustosa
VII.Tatalaksana
Amoksisilin 500mg 3x1
Gentamisin salp
Multivitamin sirup 1x1
VIII. Rencana edukasi

Anjuran untuk menjaga higienitas tubuh dengan mandi minimal 2


kali sehari.

Hindari kontak dengan pasien untuk mencegah penularan.

IX. Prognosis
Ad vitam

: ad bonam
18

Ad fungsionam

: ad bonam

Ad sanationam

: ad bonam

1. Sularsito SA, Djuanda S. Dermatitis. Dalam: Djuanda A, Hamzah M,


Aisah S, penyunting. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI, 2011;h:138-147.
2.

19