Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1.2 RINITIS ALERGI
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien
atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen yang sama serta dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan allergen spesifik tersebut. 5
Definisi menurut WHO ARIA (Allergi Rhinitis and its impact on Asthma) tahun 2001
adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah
mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE. 5
2.2.1 EPIDEMIOLOGI
Meskipun insiden rhinitis alergi yang tepat tidak diketahui, tampaknya menyerang sekitar
sekitar 10 % dari populasi umum. Dapat timbul pada semua golongan umur, terutama anak dan
dewasa, namun berkurang berkurang dengan bertambahnya umur. Faktor herediter berperan,
sedangkan jenis kelamin, golongan etnis dan ras tidak berpengaruh. 5
2.2.2 KLASIFIKASI
Menurut klasifikasi WHO Initiative ARIA tahun 2001, berdasarkan sifat berlangsungnya
rinitis alergi dibagi menjadi : 5
1

Intermiten (kadang-kadang) : bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4
minggu.

Persisten (menetap) : bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu.

Berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi :


1

Ringan : bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian, bersantai,
berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.

Sedang-berat : bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.

2.2.3 ETIOLOGI
Penyebab tersering adalah allergen inhalan (dewasa) dan allergen ingestan (anak-anak).
Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. tipe
berat oleh faktor non-spesifik, seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan
kelembapan yang tinggi. Berdasarkan cara masuknya, allergen dibagi atas :
1.Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan dengan udara pernafasan, misalnya tungau
debu rumah, serpihan epitel kulit binatang, rerumputan serta jamur.

2.Alerge ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu sapi, telur,
coklat, ikan laut, udang, kepiting, dan kacang-kacangan.
3.Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin dan
sengatan lebah.
4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya
bahan kosmetika, perhiasan dan lain-lain. 6

2.2.5 GAMBARAN HISTOLOGIK


Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh darah (vascular bad) dengan
pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mucus. Terdapat juga pembesaran ruang interseluler
dan penebalan membrane basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa
dan sub mukosa.
Di luar serangan, mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi persisten
sepanjang tahun, sehingga terjadi perubahan irreversible, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat
dan hiperplasia mukosa sehingga tampak mukosa hidung menebal.
Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi berupa :
1. Respon primer, yaitu proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag).Bersifat non spesifik
dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil selurunya dihilangkan, reaksi
berlanjut menjadi respon sekunder.
2. Respon sekunder, yaitu reaksi bersifat spesifik. Yang mempunyai 3 kemungkinan yaitu :
system imunitas seluler atau humoral atau kedua- duanya dibangkitkan. Bila Ag dari
sistem imunologik, maka reaksi berlanjut menjadi respon tertier.
3. Respon tertier, yaitu reaksi imunologik yang terjadi yang tidak menguntungkan tubuh.
Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya eleminasi Ag
oleh tubuh.
Gell dan Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu :
1.
2.
3.
4.
2.2.6

Tipe 1 (reaksi anafilaksis/immediate hypersensitifity)


Tipe 2 (reaksi sitotoksik)
Tipe 3 (reaksi kompleks imun)
Tipe 4 (delayed hypersensitifity).

GEJALA KLINIS
1. Serangan bersin berulang lebih dari 5 kali dalam satu kali serangan.
2. Rinore yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, kadang disertai
lakrimasi.

3. Gejala spesifik lain pada anak-anak bila penyakit berlangsung lama (lebih dari 2 tahun)
adalah bayangan gelap di daerah bawah mata (allergic shiner) akibat stasis vena
sekunder karena obstruksi hidung. Anak sering menggosok-gosok hidung dengan
punggung tangan (allergic salute). Lama- lama akantimbul garis melintang di dorsum
nasi seperti bawah bawah (allergic crease).
4. Sering disertai penyakit alergi lainnya seperti asma, urtikaria, atau eksim. 5, 7, 8

Gambar 2.2 Gambaran klinis Rinitis Alergi

2.2.7 DIAGNOSIS
Diagnosis rhinitis alergi ditegakkan berdasarkan :
1. Anamnesis Gejala rhinitis alergi yang khas adalah terdapatnya serangan bersin berulang,
rinore yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal yang kadang
disertai dengan banyaknya air mata kelur (lakrimasi).
2. Pemeriksaan Fisik Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat
atau livid disertai adanya sekret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior
tampak hipertrofi. Gejala spesifik lain pada anak adalah allergic shiner, allergic salute,
dan allergic crease, serta facies adenoid. Dinding posterior faring tampak granuler dan
edema (cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal. Lidah tampak
seperti gambaran peta (geographic tongue).
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Hitung jenis : peningkatan kadar Ig E
b. RAST (Radio Immuno Sorbent Assay Test)
c. ELISA (Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test)
d. Pemeriksaan stologi hidung
e. Prick test
f. Skin End-point Titration(SET)
g. Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT)
h. Diet eliminasi dan provokasi (Challenge Test) 5, 7, 8
2.2.8

DIAGNOSIS BANDING
Rinitis alergi perlu dibedakan dari rinitis vasomotor ataupun idiopatik, rinitis infeksiosa,

rinitis sekunder dari obat-obatan baik local (Neo-Synephrine dan kkokain) maupun sistemik (beta

bloker, aspirin, reserpin, morfin), rinitis sekunder dari factor mekanis, tumor hidung, polip
hidung, rhinorea serebrospinal, iritan kimia, factor psikologis dan mastositosis hidung.5
2.2.9 PENATALAKSANAAN
1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen
penyebabnya.
2. Medikamentosa
a. Antihistamin, dianjurkan AH-1 karen a bekerja secara inhibitor kompetitif pada
reseptor H-1 sl target. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi
dengan dekongestan secara peroral.
b. Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa, dipakai sebagai
dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin atau
topikal.
c. Preparat kortikosteroid, diberikan bila respon fase lambat tidak
dengan pengobatan sebelumnya.
d. Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromide,

berhasil diatasi

bermanfaat untuk

mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel
efektor.
e. Penstabil Sel Mastosit, untuk mencegah pelepasan histamin dari sel mastosit dan
mencegah degranulasi mastosit. Contoh Obat: Rynacom, Profilas, Zaditen, Terbutalin
dan Salbutamol
3. Operatif
Tindakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka inferior), konkoplasti atau
multiple outfractured, inferior turbinoplasty perlu dipikirkan bila konka inferior
hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3
25% atau asam triklorasetat 100%.
4.

Imunoterapi cara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala yang berat
dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil
yang memuaskan. Tujuan dari adalah pembentukan IgG bocking antibody dan penurunan
IgE. Ada 2 metode imunoterapi yang umum dilakukan yaitu intradermal dan sub-lingual. 3,
5, 6

1.2.10 KOMPLIKASI
Komplikasi rhinitis alergi yang sering adalah Polip hidung. Alergi hidung merupakan salah
satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. Otitis media efusi
yang sering residif, terutama pada anak-anak serta Sinusitis Paranasal. 6