Anda di halaman 1dari 16

UNIVERSITAS GADJAH MADA

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEODESI


Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika

BUKU II
BAHAN AJAR

MATA KULIAH

GEODESI FISIS
(TKGD3506/3 SKS)

Oleh:
Leni S Heliani
Sumaryo
Parseno

DILAKSANAKAN ATAS BIAYA


BANTUAN OPERASIONAL PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
DENGAN SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN
NOMOR : /2012
TANGGAL : Desember 2012.

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENYUSUNAN MODUL PEMBELAJARAN
BPOPTN 2012
1

a. Buku I
b. Matakuliah
c. Program Studi
d. Semester/SKS/Kode
e. Prasyarat
f. Status mata kuliah
Dosen Pengampu I
a. Nama lengkap dan gelar
b. Pangkat, Golongan, NIP
c. Jabatan Fungsional
d. Jurusan, Fak, Univ.
Dosen Pengampu II
a. Nama lengkap dan gelar
b. Pangkat, Golongan, NIP
c. Jabatan Fungsional
d. Jurusan, Fak, Univ.
Dosen Pengampu III
a. Nama lengkap dan gelar
b. Pangkat, Golongan, NIP
c. Jabatan Fungsional
d. Jurusan, Fak, Univ.

Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran


Semester ( RPKPS)
Geodesi Fisis
Teknik Geodesi dan Geomatika
V/ 3 SKS / TKGD3506
Sistem Acuan Geodetik
Wajib
Leni Sophia Heliani, M.Sc., D.Sc.
Penata, III.c., 1970 04 08 1994 12 2 001
Lektor
Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, UGM
Ir. Sumaryo, M.Si.
Pembina, IV.b., 1951 05 27 1979 03 1 002
Lektor Kepala
Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, UGM
Ir. Parseno, MT.
Penata Tinkat I, III.d., 19561008198303001
Lektor
Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, UGM

Disetujui :
Ketua Jurusan Teknik Geodesi
Ketua PS T. Geodesi dan Geomatika

Ir. Djurdjani, MSP., M.Eng., Ph.D.


NIP 195808201985021001

Yogyakarta, 20 Desember 2012


Koordinator Dosen Pengampu

Leni Sophia Heliani, M.Sc., D.Sc.


NIP 1970 04 08 1994 12 2 001

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN
PRAKATA
DAFTAR ISI
MODUL 1

: Pengantar ke dalamGgeodesi Fisis

MODUL 2

: Gaya Tarik, Gaya Sentrifugal, Gaya dan Percepatan gravitasi

MODUL 3

: Gayaberat Pada Model Elipsoid Bumi

MODUL 4

: Pengukuran Gayaberat Teristritrial

MODUL 5

: Pengukuran Gayaberat dengan Wahana Bergerak

MODUL 6

: Pengolahan Data Lapangan dan Hitungan Gayaberat di Titik Pengamatan

MODUL 7

: Metode Reduksi Gayaberat

MODUL 8

: Tes Sumatif 1 (UTS)

MODUL 9

: Konsep Penentuan Geoid Secara Gravimetrik

MODUL 10

: Penentuan Geoid Secara Gravimetrik

MODUL 11

: Satelit Gayaberat

MODUL 12

: Model Geopotensial Global

MODUL 13

: Sistem Tinggi

MODUL 14

: Penentuan Geoid Geometrik

MODUL 15

: Sistem Tinggi di Indonesia

MODUL 16

: Tes Sumatif 2 (UAS)

PRAKATA
Gedesi Fisis adala matakuliah wajib di semester V pada program studi Teknik
Geodesi dan Geomatika, Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Tekik UGM. Mata kuliah ini
diselenggarakan sebagai salah satu pendukung kompetensi yang harus dicapai lulusan
program S1 Program Studi Tekik Geodesi dan Geomaika.
Keberhasilan pencapaian kompetensi yang diharapkan pada program studi ini
sangat ditentukan oleh proses kegiatan pembelajaran. Dalam rangka menuju ke cita-cita
program studi tersebut disusunlah RPKPS untuk matakuliah Geodesi Fisis. Buku ini
diharapkan dapat digunakan sebagai acuan oleh pengampu mata kuliah Geodesi Fisis
dalam menyampaikan perkuliahan maupun oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah
ini.
Atas terselesaikannya buku 1 dan buku 2 pada kesemapatan ini penyusun
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ketua P3-UGM atas biaya yang dialokasikan guna penyusunan buku ini.
2. Ketua Jurusan Teknik Geodesi atas kepercayaan yang diberikan untuk menyusun
buku ini.
3. Tim MONEV atas masukan-masukan guna perbaikan dalam penyusunan buku
RPKPS an Bahan Ajar.
Selanjutnya harapan penyusun semoga buku ini dapat membantu pengampu matakuliah
ini dalam menyampaiakan materi dikelas dan membantu mahasiswa dalam memahami
isis matakuliah Geodesi Fisis.
Yogyakarta, 20 Desember 2012
Koordinator Dosen Pengampu

Leni S Heliani, M.Sc., D.Sc.


NIP 197004081994122001

TINJAUAN MATAKULIAH

Geodesi Fisis (Physical Geodesy)


V/ 3 SKS / TKGD3506/wajib
DESKRIPSI MATA KULIAH
:
Mata kuliah ini mencakup materi yang berkaitan dengan teori potensial dan
medan gayaberat bumi, gravimetri, penentuan geoid dengan metode gravimetrik dan
teknik satelit, sistem referensi tinggi dan aplikasi geoid dalam geodesi.

KEGUNAAN MATAKULIAH BAGI MAHASISWA :


Matakuliah ini mendasari pengetahuan tentang bagaimana menentukan bentuk dan
dimensi bumi. Dengan demikian

TUJUAN PEMBELAJARAN:
Mahasiswa dapat : (1) Menerangkan tentang teori potensial dan medan gaya berat bumi
untuk penentuan geoid. (2) Menerangkan prosedur pengukuran gayaberat untuk
keperluan studi geoid. (3) Mengkoreksi dan menghitung data ukuran gayaberat. (4)
Melakukan hitungan berbagai metode reduksi gayaberat. (5) Melakukan hitungan nilai
undulasi geoid di suatu titik dipermukaan bumi. (6) Mengaplikasikan undulasi geoid
dalam berbagai sistem tinggi.
SUSUNAN URUTAN BAHAN AJAR
BAB I : PENGANTAR KE DALAM GEODESI FISIS
a. Ruang lingkup geodesi fisis
b. Sejarah penentuan dimensi dan bentuk bumi.
c. Model bumi (topografi, geoid, elipsoid).
d. Peran gayaberat dalam geodesi
BAB II : GAYA TARIK, GAYA SENTRIFUGAL, GAYA DAN PERCEPATAN
GRAVITASI
a. Hukum Newton
b. Gaya, potensial dan percepatan gravitasi
c. Gaya, percepatan dan potensial gaya sentrifugal.
d. Gaya, percepatan dan potensial gayaberat
BAB III : GAYABERAT PADA MODEL BUMI ELIPSOID
a. Bidang ekipotensial gayaberat dan plumblines
b. Medan gayaberat pada elipsoid.
c. Gayaberat normal

BAB IV : PENGUKURAN GAYABERAT TERESTRIAL


a. Metode pengukuran gayaberat.
b. Konsep alat ukur gayaberat.
c. Skema pengamatan gayaberat
d. Klasifikasi jaring gayaberat.
e. Kalibrasi gravimeter

BAB V : PENGUKURAN GAYABERAT DENGAN WAHANA BERGERAK


a. Pengantar
b. Instrumentasi yang digunakan
c. Faktor yang mempengaruhi ketelitian data ukuran
BAB VI : PENGOLAHAN DATA LAPANGAN DAN HITUNGAN GAYABERAT
DI SETIAP TITIK PENGAMATAN
a. Koreksi data ukuran:
konversi bacaan satuan skala alat ke satuan gayaberat
koreksi pasang surut bumi
Koreksi drift
b. Perataan data ukuran
BAB VII : METODA REDUKSI GAYABERAT
a. Reduksi Free-Air.
b. Reduksi Bouguer sederhana.
c. Koreksi terain.
d. Reduksi Bouguer sempurna.
e. Teori isostasi dan reduksi isostasi
BAB VIII : UJIAN TENGAH SEMESTER (Tes Sumatif 1)
BAB IX: KONSEP PENENTUAN GEOID SECARA GRAVIMETRIK
a. Geodetic Boundary Value Problem
b. Anomali potensial.
c. Hubungan T dengan N.
d. Formula Stokes (hubungan N dengan g)
e. Penyelesaian integral Stokes dengan metode Ring Integration dan blok (grid).
BAB X : PENENTUAN GEOID SECARA GRAVIMETRIK
a. Komponen bidang geopotensial
b. Remove-restore
c. Menghitung geoid gravimetrik
BAB XI : SATELIT GAYABERAT
a. Konsep satelit gayaberat dinamik
b. Konsep satelit gayaberat geometrik

BAB XII : MODEL GEOPOTENSIAL GLOBAL


a. Arti penting model geopotensial global
b. Metoda penentuan
c. Data yang digunakan
d. Perkembangan berbagai model geopotensial global (MGG)
BAB XIII : SISTEM TINGGI
a. Konsep sistem tinggi (ortometrik, normal, elipsoid).
b. Bilangan geopotensial dan tinggi dinamis.
c. Reduksi Poincare dan Prey
BAB XIV : PENENTUAN GEOID GEOMETRIK
a. Konsep geoid geometrik
b. Aplikasi geoid geometrik.
BAB XV
a.
b.
c.

: SISTEM TINGGI INDONESIA


Kondisi sistem tinggi Indonesia
Permasalahan sistem tinggi Indonesia
Alternatif solusi sistem tinggi Indonesia

BAB XVI : UJIAN AKHIR SEMESTER (Tes Sumatif 2)

PETUNJUK PENGGUNAAN BAHAN AJAR


Buku Bahan Ajar ini digunakan sebagai pedoman baik bagi dosen pengampu
maupun mahasiswa. Materi pembelajaran pada matakuliah ini tersusun dala 16 Bab.
Setiap Bab adalah materi untuk satu kali pertemuan. Dengan buku ini diharapkan
mahasiswa dapat mengetahui materi-materi pertemuan, sehingga dapat mempersiapkan
sebelunya.
Agar supaya mahasiswa dapat lebih memahami mengenai materi yang
disampaikan setiap kali peremuan, dalam buku ini dilengkapi dengan pertanyaanpertanyaan ataupun soal latihan hitungan serta praktek. Penyelesaian soal-soal latihan
pada setiap akhir pertemuan digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan dalam proses
pembelajaran.
Supaya proses pembelajaran matakuliah Geodesi Fisis dapat berjalan lancar, maka
mahasiswa wajib:
1. membaca/ mempelajari daftar pustaka yang diwajibkan dan dianjurkan.
2. mengerjakan latihan/ tugas yang diberikan oleh Dosen pengasuh, baik berkelompok
maupun mandiri
3. Aktif bertanya, menjawab pertanyaan maupun menyampaikan pendapatnya pada saat
sesi diskusi di setiap pertemuan kuliah.

MODUL I:
PENGANTAR KE DALAM GEODESI FISIS

I.1. Pendahuluan
Bagian ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada mahasiswa tentang
lingkup pembelajaran matakuliah geodesi fisis secara keseluruhan serta keterkaitanya
dengan bidang geodesi dan bidang lain khususnya fisika.
I.1. 1. Deskripsi singkat
Pada bab I, akan dibahas materi tentang: Ruang lingkup geodesi fisis, sejarah
penentuan dimensi dan bentuk bumi, model bumi (topografi, geoid, elipsoid), dan peran
gayaberat dalam geodesi
I.1.2. Manfaat
Mahasiswa dapat memahami sejarah penentuan dimensi bumi dan arti pentingnya
data gayaberat dalam rangka mendekatkan model bumi matematis dengan bentuk bumi
fisis yang sebenarnya.
I.1.3. Relevansi,
Bab I ini mempunyai maksud memperkenalkan mahasiswa tentang ruang lingkup
geodesi secara umum dalam kaitannya dengan disiplin ilmu lainnya, sehingga mahasiswa
mendapat gambaran disiplin ilmu yang menjadi dasar ilmu geodesi dan disiplin ilmu
penunjangnya.
I.1.4. Learning outcame :
Setelah mengikuti kuliah pertemuan ke-1, mahasiswa akan dapat:
1. menjelaskan tentang ruang lingkup geodesi fisis,
2. menjelaskan perkembangan model bumi dari
3. menjelaskan aplikasi gayaberat dalam geodesi

I.2. Penyajian
I.2.1. Ruang lingkup geodesi fisis
Geodesi Fisis merupakan bagian dari Ilmu Geodesi. Ilmu Geodesi memiliki 2
misi yaitu misi yang bersifat keilmuan (Scientific ) dan misi praktis ( practical ). Misi
keilmuan Geodesi adalah : a) menentukan besar (size) dan bentuk (shape) bumi, b) studi
medan gayaberat bumi , dan c). studi geodinamika seperti misalnya: rotasi bumi, pasang
surut

atau

tide

dan

gerakan

lempeng.

Sedangkan

misi

praktis

geodesi

adalah:1).Penentuan Posisi titik-titik di bumi (Positioning) , 2). menggambarkan bumi


dalam wujud PETA ( mapping) untuk dasar 3). penyajian informasi kebumian ( geoinformation) dan analisis keruangan (spatial analysis)

Seperti telah diuraikan di atas bahwa misi keilmuan (scientific) Geodesi antara
lain adalah : menentukan bentuk dan besar bumi. Menurut sejarah perkembangan ilmu
pengetahuan geodesi, akhirnya para ahli mendefinisikan ada 3 model figure bumi : yaitu
terrain (topografi) , geoid dan ellipsoid. Topografi terdiri atas daratan (gunung dan
lembah) dan lautan merupakan wujud nyata bumi yang sesungguhnya. Sekitar 72 %
permukaan bumi tertutup oleh air (laut) dan

hanya 28 % berupa daratan. Bila

menggambarkan ujud fisik permukaan bumi baik sebagian atau keseluruhan biasanya
digambarkan secara grafis atau digital dalam bentuk peta topografi dalam berbagai skala
Menurut C.F.Gauss (1873), model bumi adalah sutu bentuk yang dapat mewakili
bumi sekaligus baik secara fisis maupun matematis. Gauss menamakan model tersebut
adalah Geoid. Kemudian para ahli mendefinisikan Geoid adalah bidang equipotensial
gayaberat yang berimpit dengan permukaan laut rata-rata atau mean sea level yang tidak
terganggu. Model Geoid dapat diilustrasikan seperti Gambar1.4.

Gambar 1.1 : Geoid dan bidang equipotensial gayaberat


Geoid sebagai model bumi yang dipilih memiliki bentuk yang tidak teratur.
Karena itu dipilih suatu figure lain yang memiliki bentuk teratur sebagai model bumi
matematis yang mendekati geoid. Bidang tersebut adalah ELLIPSOID , yaitu ellips yang
dirotasi pada sumbu pendeknya . Kita membayangkan ada suatu model bumi yang
memiliki bentuk ideal seperti ellipsoid dengan massa yang homogen. Model bumi yang
demikian dinamakan model bumi teoritis atau model bumi normal. Model bumi normal
memiliki parameter geometris : sumbu panjang(a) dan penggepengan(f), serta parameter

fisis

konstanta gravitasi bumi (GM) dan kecepatan sudut putar () . Bentuk ellipsoid

bumi dapat digambarkan seperti pada Gambar 1.5.

Ga
mbar 1.2 : Ellipsoid bumi
Hubungan geometris 3 model figure bumi seperti disebutkan di atas dapat
n
digambarkan seperti Gambar 1.6 berikut :
m

Topografi

MSL

H= tinggi
orthometris

Geoid

h
Ellipsoid

N = undulasi geoid

Gambar 1.3 : Hubungan 3 model bumi : Topografi,


Geoid dan Ellipsoid.

Dalam ruang (sistem koordinat 3 dimensi dengan origin pusat bumi ) hubungan
tersebut digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1.4 : Hubungan Topografi,Geoid dan Ellipsoid dalam ruang


koordinat dengan origin pusat bumi)

(sistem

Dengan adanya 3 figur bumi yaitu Topografi, Geoid dan Ellipsoid, lalu timbul
pertanyaan : Model figure bumi yang mana yang akan ditentukan besar dan bentuknya ?.
Jawabnya adalah ketiga-tiganya . Penentuan model bumi nyata yang sering disebut
topografi baik untuk daerah sempit maupun yang lebih luas, ditentukan dengan cara-cara
pengukuran terestris secara langsung mulai dari pengukuran, pengolahan data ukuran
sampai kepada presentasi/penggambaran bentuk topografi. Cara-cara ini dipelajari dalam
ilmu Surveying (Ukur Tanah, Fotogrametri, Hidrografi, Hitung Perataan, Proyeksi Peta,
Kartografi). Bentuk topografinya , biasanya diukur dengan acuan Mean Sea Level.
Sedangkan figure Geoid biasanya ditentukan dengan cara gravimetris (menggunakan
data gayaberat) dipelajari dalam bagian ilmu geodesi yang disebut Geodesi Fisis.
Geodesi Fisis adalah bagian ilmu geodesi yang bertujuan menentukan bentuk dan
besar bumi fisis yaitu Geoid (PENENTUAN GOID). Penentuan dimensi geoid pada
dasarnya adalah menentukan penyimpangan jarak antara geoid dan ellipsoid di setiap titik
di seluruh permukaan bumi. Dalam penentuan tersebut , sebagai bidang acuan ellpsoid
harus ditetapkan nilai-nilai parameternya terlebih dahulu. Penentuan /penetapan atau
pendifinisian ellipsoid dilakukan atas dasar rekomendasi

para ahli geodesi melalui

konvensi IAG (International Association of Geodesy) yang merupakan anggota IUGG


(International Union for Geodesy and Geophysics).

I.2.2. Sejarah penentuan dimensi dan bentuk bumi


Dalam sejarah perkembangan geodesi, terlihat hahwa disiplin ini erat kaitannya
dengan perkembangan peradaban umat manusia, knususnya yang berkaitan dengan
lingkungan fisik bumi. Lembaran tanah liat Babylonia yang diperkirakan dari 3800 tahun
sebelum Masehi memuat peta daerah antara Libanon dan Persia. Dari lembaran tanah Hat
Babylonia yang lain, dari sekitar 2800 tahun sebelum Masehi, memberikan indikasi
adanya pendaftaran tanah untuk pertanian. Laporan dari era Mesir Kuno sekitar 2200
tahun sebelum Masehi memberikan keterangan tentang pengukuran tanah dan
rekonstruksi batas persil setiap kali adanya musibah banjir sungai Nil. llmu mengukur
tanah berkembang berkembang di Mesir akibat adanya banjir sungai Nil yang menghapus
batas-batas persil. Saat itulah nampaknya awal dari perkataan "geodesi",yang secara
harafiah dapat diartikan sebagai "pembagian tanah" ataupun juga berarti "pengukuran
tanah". Di Cina 1060 tahun sebelum Masehi Kaisar Kangwang memerintahkan
dimulainya pemetaan negaia Cina. Jadi sudah sejak berabad-abad sebF!um Masehi orang
telah mengenal disiplin geodesi meski dalam pengertian yang terbatas.
Waktu yang pasti orang meninggalkan teori bahwa bumi datar tidaklah diketahui.
Pythagoras (580-496 S.M.)adalah orang Yunani pertama yang menyatakan bahwa bumi
bulat. Aristoteles (340 S.M.) dan Archimedes (250 S.M.)setuju dengan pendapat
Phytagoras dan menyatakan bahwa ahli-ahli ukur telah mengadakan perkiraan keliling
bumi sebesar 300.000 stadia,atau kalau perkiraan satu stadia sama dengan 185 meter,
maka keliling bumi menjadi kirakira 40% terlalu besar dari ukuran dewasa ini. Setelah
masa-masa tersebut, bumi dianggap bulat dan dimensinya ditentukan dengan menetapkan
jarijarinya.
Catatan pertama tentang pengamatan untuk menentukan jari jari bumi adalah
dibuat oleh Eratosthenes (276-194 S.M.). Eratosthenes seorang ahli Yunani mengukur
busur meridian antara Alexandria-Syene (Aswan) dengan jalan menghitung waktu
perjalanan onta antara kedua tempat dan menentukan sudut pusat lingkaran (bumi)
dengan jalan mengukur arah bayangan matahari di Alexandria ketika bayangan matahari

pada saat yang sama jatuh tegak lurus pada sumur di Syene. Hasil hitungan diperoleh
panjang busur AlexandriaSyene sebesar 5000 stadia,dan keliling bumi sebesar 250.000
stadia,atau kirakira 46.250.000 meter, atau sekitar 16% terlampau besar dari ukuran
dewasa ini.
Orang awam sejak jaman dahulu sudah menyadari bahwa bentuk bumi bukanlah
bidang datar,melainkan sebuah bidang lengkung. Fenomena bidang lengkung ini dapat
dibuktikan, jika orang berdiri di pantai dan memandang ke laut lepas, maka jika ada kapal
datang yang kelihatan lebih dulu adalah tiang kapalnya, baru kemudian perlahan-lahan
muncul badan kapal. Jika orang berjalan dari daerah katulistiwa ke arah utara pada siang
hari, nampak bahwa bayangan semakin ke utara akan semakin panjang.jika orang
mengalami sudut horizon pada malam hari (sudut yang dibentuk antara arah bintang utara
dan garis singgung/ horison), nampak bahwa sudut horison makin ke arah utara akan
semakin besar.

Gambar I. 5. : Konsep pengukuran dimensi bumi oleh Erastotenes

Geodesi berkembang di negara-negara Arab sesudah Masehi, seperti per.gukuran busur


secara astronomis oleh Kafilah Arab bernama Abdulah al Mamun di tahun 827.
Permulaan pengukuran cara triangulasi dicatat pada tahun 1533 oleh R. Gemma Frisius.
Seorang sarjana Belanda Willebord Snellius adalah orang pertama yang menerapkan
metode triangulasi untuk mengukur dimensi bumi pada tahun 1617.
Abad ke-17 geodesi mulai melaksanakan perannya sebagai ilmu untuk menentukan
bentuk dan ukuran bumi, antara lain dapat disebutkan nama-nama Willebord Snellius
pada tahun 1617 mengukur jaringan triangulasi antara Alkamaar dan Bergen-op-Zoom
dengan 33 buah segitiga dan sebuah basis yang pendek. Dad ukuran dengan ukuran
tersebut diperoleh hasil jari jari bumi yang menurut ukuran sekarang 3,4% terlalu kecil.
Jean Piccard di tahun 16701690 mengukur triangulasi antara Paris-Amiens untuk
menentukan dimensi bumi. Kegiatan pengukuran dimensi bumi diteruskan di abad 18
dengan ekspedisi Perancis yang terkenal untuk mengukur busur di peru pada tahun 1735
dan di Lappfand pada tahun 1736 untuk membuktikan bahwa bumi tidak gepeng di
kutub. Di abad 19 masih diteruskan pengukuran dimensi burni dengan mengukur busur
antara Rusia dan Skandinavia oleh Struve pada tahun 1821 pada tahun 1841 F.W.Bessel
menetapkan dimensi ellipsoid acuan dari analisis data yang ada pada waktu itu. Ellipsoid
dengan dimensi menurut analisis Bessel tersebut dikenal dengan sebutan ellipsoid Bessel
1841. ellipsoid Bessel 1841 digunakan di Indonesia sebagai ellipsoid acuan sampai
sekitar tahun 1970.
Berdasarkan analisa data yang diperoleh dari satelit (1960), ternyata bahwa titik
yang terdekat (perigee) dad orbit satelit selalu lebih dekat dengan muka bumi saat satelit
melewati daerah dekat kutub utara daripada saat satelit mengorbit di daerah dekat kutub
selatan yang lebih banyak (lebih gepeng) dan di bagian kutub utara lebih sedikit
menonjol.
(Untuk jelasnya baca buku Hitung Geodesi , hal 5 sampai dengan hal 15 atau
Geometric Geodesy Part I, hal. 1 sampai dengan hal.5. Buku Geodesy : The Concepts,
Chapter 2, Hal 19 sampai dengan 24)

I.2.3. peran gayaberat dalam geodesi


Pada Gambar 1.3 di atas penyimpangan dimensi geoid terhadap ellipsoid disebut
undulasi geoid ( N ) sedangkan penyimpangan bentuk dinyatakan dengan perbedaan
arah normal geoid (n) dan arah normal elipsoid (m), disebut sudut defleksi vertikal ( ).
Dengan demikian penentuan geoid pada dasarnya adalah penentuan N dan .
Di dalam Geodesi Fisis solusi penyelesaian

N da dilakukan dengan

menggunakan data gayaberat . Oleh karena itu pada bab-bab berikut terlebih dahulu
akan diuraikan tentang gayaberat yang dipelajari dalam ilmu Gravimetri dan selanjutnya
akan dijelaskan konsep hubungan antara gayaberat dengan N dan dengan dasar teori
potansial dan contoh-contoh praktis penentuan geoid secara gravimetris. Selain itu , akan
diberikan juga kegunaan data geoid dalam geodesi praktis. Namun demikian penentuan
geoid tidak hanya dapat dilakukan secara gravimetris. Tetapi penentuan geoid juga dapat
dilakukan dengan cara satelit (Satellite Techniques) misalnya GPS (Global Positioning
System) dan Satellite Altimetry. Bahkan juga sering dilakukan dengan cara kombinasi
antara gravimetris dan satelit. Prinsip dasar dua metode yang terakhir juga akan dipelajari
dalam mata kuliah Geodesi Fisis.

I.3. Penutup
I.3.1. Rangkuman
Ilmu geodesi fisis merupakan bagian dari ilmu geodesi. Ilmu geodesi fisis
menekankan pada misi keilmuan, yaitu menentukan dimensi dan bentuk bumi melalui
pendekatan matematik dan fisika bumi. Penyelidikan mengenai ukuran bumi sudah
dimulai sejak berabad-abad yang lalu sampai sekarang. Penyelidikan dmulai saat
penggunaan teknologi masih sangat sederhana sampai saat sekarang dengan teknologi
satelit yang komplek.
Hal yang mendorong para ilmuwan untuk selalu melakukan penyelidikan bentuk
dan dimensi bumi antara lain karena pentingnya model bumi dalam keperluan praktis.
Sehingga sangat perlu mendekatkan bentuk bumi riil ke bentuk bumi matematis dengan
penyimpangan yang sekecil-kecilnya.

I.3.2.Tes formatif
1. Jelaskan misi keilmuan dan misi praktis dari disiplin ilmu geodesi
2. Jelaskan keterkaitan antara bidang ilmu geodesi dengan bidang ilmu geodesi fisis
3. Apa yang mendorong para ahli dari dulu sampai sekarang ingin mengetahui
bentuk dan ukuran bumi ?
4. Mengapa orang lebih cenderung memilih ellipsoid sebagai model bumi di
bandingkan dengan model bumi lainnya ?
5. Jelaskan dengan gambar hubungan geometris antara permukaan topografi, model
bumi geoid dan model bumi elipsoid
6. Dalam kaitanya dengan pertanyaan no.3 , jelaskan mengenai peran data
gayaberat.
I.3.3. Petunjuk Penilaian dan umpan balik
Kriteria
Lingkup geodesi fisis

0
Tidak mampu
menjelaskan

Perkembangan
penentuan dimensi bumi

Tidak mampu
menjelaskan

Peran data gayaberat di


bidang geodesi

Tidak mampu
menjelaskan

Skor
1
Dapat
menjelaskan
sebagian
Dapat
menjelaskan
sebagian
Dapat
menjelaskan
sebagian

2
Dapat
menjelaskan
secara runtut
Dapat
menjelaskan
secara runtut
Dapat
menjelaskan
secara runtut

I.3.4. Tindak lanjut


Bagi mahasiswa yang termasuk dalam katagori dengan nilai skor kurang dari 2
dianjurkan untuk membaca sumber pustaka terkait lebih intensif dianding dengan
kelompok mahasiswa yang memiliki katagori dengan skor 2
I.3.5. Sumber Pustaka:
Heiskanen, W. and Moritz, H., 1967, Physical Geodesy, W.H. Freeman and Co., San
Francisco
Krakiwsky E.,J., Vanicek P., 1984, Geodesy: The Concepts
Rapp R.,H., 1984, Geodesy Geometric Part 1, The Ohio State University, Department of
Geodetic Science and Surveying, Columbus, Ohio. Soeprapto, 1981