Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi lahir dalam tahap perkembangannya akan mempelajari beberapa kemampuan
penting menurut tahap berkelanjutan yang dapat diperkirakan dengan peranan motivasi,
pengajaran dan dukungan selama pertumbuhannya. Kemampuan-kemampuan tersebut dikenal
sebagai tahapan perkembangan.
Perkembangan yang terlambat (developmental delay) adalah ketertinggalan secara
signifikan pada fisik, kemampuan kognitif, perilaku, emosi, atau perkembangan sosial
seorang anak bila dibandingkan dengan anak normal seusianya. Seorang anak dengan
developmental delay akan tertunda dalam mencapai satu atau lebih perkembangan
kemampuannya.
Delay development merupakan keadaan yang terjadi pada masa perkembangan dalam
kehidupan anak (lahir hingga usia 18 bulan). Ciri khasnya biasanya adalah fungsi intelektual
yang lebih rendah daripada anak seusianya disertai hambatan dalam berkomunikasi yang
cukup berarti, keterbatasan kepedulian terhadap diri sendiri, keterbatasan kemampuan dalam
pekerjaan, akademik, kesehatan dan keamanan dirinya.
Delay Development adalah bagian dari ketidakmampuan mencapai perkembangan
sesuai usia, dan didefinisikan sebagai keterlambatan dalam dua bidang atau lebih
perkembangan motor kasar atau motor halus, bicara/berbahasa, kognisi, personal/sosial dan
aktifitas sehari-hari. Istilah ini digunakan bagi anak yang berusia kurang dari lima tahun.
Permasalahan yang timbul pada kasus

Delay Development setiap penyimpangan atau


1

hambatan terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan dapat mengakibatkan gangguan


tumbuh kembang dan cacat.
Delay Development adalah ketertinggalan secara signifikan pada fisik, kemampuan
kognitif, perilaku, emosi, atau perkembangan sosial, seorang anak bila dibandingkan dengan
anak normal seusianya. Seorang anak dengan Delay Development akan tertunda dalam
mencapai satu atau lebih perkembangan kemampuannya (Anonim, 2012).
Prevelensi Delay Developmentdi YPAC Surakarta pada tahun 2014 berjumlah
sebanyak 48 anak, sedangkan pada tahun 2015 berjumlah sebanyak 37 anak. Prevalensi delay
development diperkirakan 5-10 persen dari populasi anak di dunia dan sebagian besar anak
dengan delay development memiliki kelemahan pada semua tahapan kemampuannya.Di
Indonesia, jumlah balita 10 % dari jumlah penduduk, di mana prevalensi (rata-rata)
gangguanperkembangan bervariasi 12.8% sampai dengan 16% sehingga dianjurkan
melakukan observasi atau skrining tumbuh kembang pada setiap anak.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang diambil adalah bagaimana
penatalaksanaan fisioterapi pada kasus Delay Development. Permasalahan yang timbul kasus
Delay Development Setiap penyimpangan atau hambatan terhadap proses pertumbuhan dan
perkembangan dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang dan cacat.

C. Tujuan Penulisan
a. Tujuan umum
Untuk

meningkatkan

pengetahuan

dan

kemampuan

dalam

mempelajari,

mengidentifikasi masalah-masalah, menganalisa dan mengambil kesimpulan tentang kasus


development delay.
b. Tujuan khusus
2

Untuk mengetahui penatalaksanaan fisioterapi yang tepat pada kasus Delayed


Devlopment
D. Manfaat Penulisan
a. Bagi penulis
Dapat lebih mengenal tentang Delayed Devlopment sehingga dapat menjadi bekal bagi
penulis.
b. Fisioterapi
Untuk dapat memberikan wawasan bagi fisioterapi akan memberikan intervensi yang
sama efektif dan efesien. Makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi
fisioterapis dalam menangani kasus Delayed Devlopment.
c. Bagi pasien dan masyarakat
Dapat memberikan informasi yang benar kepada pasien, keluarga, masyarakat
sehingga dapat lebih mengenal dan mengetahui gambaran tentang Delayed Devlopment.

BAB II

LANDASAN TEORI
3

A. Konsep Dasar Tumbuh Kembang


Tercapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi biologik.
Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang merupakan hasil interaksi antar faktor
genetik, biologis, fisik dan psikososial. Proses yang unik ini dan hasil akhir yang berbedabeda memberikan ciri tersendiri pada setiap anak ( Igan, 2014).

1. Defenisi tumbuh kembang


Pertumbuhan dan perkembangan adalah mencakup dua aspek yang berbeda tetapi
saling berkaitan dan sulit di pisahkan. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah
perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu,
yang bisa diukur dengan ukuran berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan
metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh) (Soetjiningsih, 2005).
Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat di
perhitungkan, sebagai hasil dari proses pematangan (Soetjiningsih, 2005) .
2. Tahap tumbuh kembang anak
Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan atau
stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat perhatian.
Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan
orang tuanya atau orang dewasa lainnya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi
sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangannya,
bahkan sejak bayi masih didalam kandungan. Sedangkan lingkungan yang tidak mendukung
akan menghambat perkembangan anak (Soetjinigsih, 1995).
Frankendburg dkk (1981) melalui DDST (Denver Developmental Screening Test)
mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak
balita, yaitu :
4

a) Personal sosial (kepribadian atau tingkah laku)


Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya.
b) Fine motor adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu,
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh saja dan dilakukan otot-otot kecil,
tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan untuk mengambar,
memegang sesuatu benda, dll.
c) Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara spontan.
d) Gross motor (perkembangan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Pada anak dengan Development Delay
dibagi menjadi beberapa tahapan
keterlambatan perkembangan, diantaranya adalah tahapan perkembangan fisik, perkembangan
motorik kasar dan halus, perkembangan kognitif, perkembangan personal sosial, dan
perkembangan bicara dan bahasa (Soetjiningsih, 1995).
1) Tahap Perkembangan Motorik Halus dan Kasar
Proses perkembangan motorik dimulai sejak bayi baru lahir sampai menjadi manusia
dewasa yang berlangsung secara berkesinambungan dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Keterampilan sederhana tercapai sebelum keterampilan yang lebih kompleks dikuasai.
Gerakan yang bersifat umum dan tidak teratur menjadi gerakan yang spesifik dan bertujuan.
Perkembangan motorik merupakan proses yang telah terprogram secara genetik (Kamarul,
2000).
Perkembangan motorik adalah suatu proses gerak yang langsung melibatkan otot-otot
untuk bergerak dan

proses

persyarafan

yang

menjadikan

seseorang

mampu

menggerakkan tubuhnya (Sukamti, 2000). Keterampilan motorik ini dapat dikelompokkan

menurut ukuran otot-otot dan bagian-bagian yang terkait, yaitu keterampilan motorik kasar
(gross motor skill) dan keterampilan motorik halus (fine motor skill) (Desmita, 2005).
a) Keterampilan motorik kasar
Keterampilan motorik kasar (gross motor skill), merupakan keterampilan gerak yang
menggunakan otot-otot besar, kecermatan gerakan bukan merupakan suatu hal yang
penting akan tetapi koordinasi yang halus dalam gerakan hal yang paling penting.
Motorik kasar meliputi melompat, melempar, berjalan, dan meloncat.
b) Keterampilan motorik halus
Keterampilan motorik halus (fine motor skill) merupakan keterampilan yang
memerlukan kontrol dari otot-otot kecil dari tubuh untuk mencapai tujuan dari keterampilan.
Secara umum, keterampilan motorik halus meliputi koordinasi mata dan tangan keterampilan
ini membutuhkan kecermatan yang tinggi.
Secara garis besarnya, urutan perkembangan keterampilan motorik ini mengikuti dua
prinsip yaitu:
1) Prinsip cephalocaudal (dari kepala ke ekor), menunjukkan urutan perkembangan, dimana
bagian atas badan lebih dahulu berfungsi dan terampil digunakan sebelum bagian yang lebih
rendah. Bayi terlebih dahulu belajar memutar kepalanya sebelum belajar menggerakkan kaki
dengan sengaja, dan mereka belajar menggerakkan tangannya sebelum mereka belajar
menggerakkan kaki.
2) Prinsip proximodistal (dari dekat ke jauh), menunjukkan perkembangan keterampilan
motorik, dimana bagian tengah badan lebih dahulu terampil sebelum bagian-bagian di
sekelilingnya atau bagian yang lebih jauh. Bayi belajar melambaikan keseluruhan lengannya
sebelum belajar menggoyangkan pergelangan tangan dan jari-jarinya.
Perkembangan motorik kasar sesuai dengan tahapan perkembangan bayi secara
normal :
Umur
0-4 minggu
1-2 bulan

Perkembangan Motorik Kasar


Didominasi posisi fleksi.
1) Posisi fleksi sedikit menurun.
2) Mampu mengangkat kepala sendiri (15-45).
6

Umur
3 bulan

Perkembangan Motorik Kasar


Mampu mengangkat kepala 45 secara bagus

4 bulan

Mampu menumpu dengan kedua lengan dan berusaha


mengangkat kepala.

5 bulan

Tengkurap dan terlentang secara mandiri.

6 bulan

Terlentang dan tengkurap dengan bagus.

7-8 bulan

Mampu duduk sendiri kemudian mengambil posisi ongkangongkang dan bertahan sebentar.

9-11 bulan 1) Sudah dapat duduk sendiri.


2) Sudah dapat berdiri dengan berpegangan.
12 bulan
13-15 bulan
17-19 bln
24 bulan
3 tahun

Mampu berdiri sendiri dan berjalan sambil berpegangan


(ditetah).
Sudah bisa berjalan dengan high guard.
Sudah bisa berlari
1) Mampu melompat dengan dua kaki sekaligus.
2) Sudah bisa naik turun tangga.
Sudah bisa berjalan dengan sempurna.

Tabel 2.1 Perkembangan Motorik Kasar (Anonim, 2014)

Perkembangan motorik halus sesuai dengan perkembangan bayi secara normal:


Umur
0-4 minggu

Perkembangan Motorik Halus


Gerak didominasi oleh refleks primitif yaitu refleks moro,
grasping, tonic neck (ATNR).
1-2 bulan 1) Sudah bisa melihat pada jarak dekat 10-20 cm dengan
mengikuti gerak cahaya.
2) Refleks primitif masih ada.
3 bulan
Menghisap jari.
4 bulan

Bermain dengan mulut.

5 bln

Mampu bermain-main dengan kedua tangannya

6 bulan

Mampu bermain-main dengan tangan secara bergantian.

7-8 bulan

Bermain dengan tangan, terkadang melemparkan mainan.

9-11 bulan

Melempar mainan.
7

Umur
12 bulan

Perkembangan Motorik Halus


Bermain dengan menggunakan tangan dengan baik.

13-15 bulan

Mengambil benda dengan menjimpit.

17-19 bulan1) Umur Sudah bisa menutup dan membuka botol.


2) Suka membuka buku-buku.
24 bulan
Mampu menyusun balok 2-7 buah
3 thn

Mampu meniru garis tegak, garis lurus dan lingkaran

Tabel 2.2 Perkembangan Motorik Halus (Anonim, 2014)


Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan perkembangan motorik pada anak
(Soetjiningsih,1995) :
a) Faktor familial
Keterlambatan perkembangan dapat merupakan faktor keturunan. Pada keluarga
tersebut perkembangan motorik rata-rata lambat.
b) Faktor lingkungan
Keterlambatan perkembangan motorik disebabkan kurangnya stimulasi dan latihan.
Anak yang tidak mendapat kesempatan untuk belajar, misalnya anak yang terus digendong
atau ditaruh di baby walker terlalu lama.
c) Faktor gizi
Anak yang kegemukan akan terlambat berjalan karena kekhawatiran orang tuanya,
sedangkan anak kurang gizi terlambat berjalan karena kelemahan otot dan kekurangan tenaga.
d) Kelainan tonus otot
Hipertonia dan hipotonia akan menyebabkan perkembangan motorik terlambat. Anak
dengan palsy serebral, sering terjadi keterbatasan perkembangan motorik. Kelemahan tendon
dan kelainan pada sumsum tulang belakang (gross spinal defects), sering disertai dengan
keterlambatan motorik.
2) Tahap Perkembangan Psikososial
Perkembangan psikososial berhubungan dengan perubahan perasaan atau emosi dan
kepribadian serta bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. Sebagaimana telah
dijelaskan diatas, masa bayi adalah masa ketika anak-anak mulai belajar berjalan, berfikir,
berbicara, dan merasakan sesuatu. Tingkah laku sosial diartikan bagaimana seorang anak
8

bereaksi terhadap orang-orang disekitarnya, pengaruh hubungan itu pada dirinya dan
penyesuaian dirinya terhadap lingkungan (Suryanah, 1996).
Dalam pemenuhan kebutuhannya bayi masih sangat tergantung pada pengasuhnya,
namun bukan berarti mereka sama sekali pasif. Sebab, sejak lahir, pengalaman bayi semakin
bertambah dan berpartisipasi aktif dalam perkembangan psikososialnya sendiri, mengamati
dan berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya.
Sebagai bayi yang sedang tumbuh menjadi lebih dewasa, memiliki kedekatan dan
keterikatan emosional dengan orang-orang yang penting dalam hidupnya. Hal ini terlihat
misalnya, bayi menangis ketika didekati oleh orang-orang yang tidak dikenalnya, dan
menyambut hangat kedatangan ibu atau bapaknya. Bayi juga berpartisipasi dalam menjalin
hubungan dengan cara yang lebih halus, seperti ikut bermain bersama saudaranya yang lebih
tua. Lebih dari itu, bayi juga menyatakan perasaan atau kebutuhannya dengan cara-cara yang
membingungkan. Misalnya, ketika orang tuanya memberikan makanan tertentu, bayi
menolak. Tetapi ketika makanan tersebut diberikan oleh seorang baby sister, bayi akan
menerimanya dengan perasaan senang.
Perilaku demikian menunjukkan adanya dua tema utama dalam perkembangan
psikososial selama masa bayi, yaitu kepercayaan dan otonomi. Bayi mempelajari apa yang
diharapkan dari orang-orang yang penting dalam hidupnya. Mereka mengembangkan suatu
perasaan mengenai siapa yang mereka senangi atau yang tidak mereka senangi dan makanan
apa yang mereka sukai atau tidak (Seifert dan Hoffnung, 1994).
Dalam uraian berikut akan dikemukakan beberapa hal penting yang berkaitan dengan
perkembangan psikososial pada bayi, diantaranya emosi dan tempramen.
a) Perkembangan Emosi
Keadaan emosional merupakan suatu reaksi kompleks yang mengait satu tingkat
tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam, serta dibarengi perasaan yang
9

kuat atau disertai keadaan afektif (Chaplin, 2000). Jadi, emosi dapat diartikan sebagai
perasaan atau afeksi yang melibatkan kombinasi antara gejolak fisiologis (seperti denyut
jantung yang cepat) dan perilaku yang tampak (seperti senyuman atau ringisan).
Ekspresi berbagai emosi tersebut mempunyai peranan yang sangat penting bagi
perkembangan anak. Diantaranya 3 fungsi utama ekspresi emosi bayi yaitu :
1) Adaptasi dan kelangsungan hidup, berbagai ketakutan adalah bersifat adaptif, karena ada
kaitan yang jelas antara gejolak perasaan dengan kemungkinan bahaya.
2) Regulasi, berkaitan dengan fungsi pengaturan, emosi mempengaruhi informasi yang diseleksi
anak-anak dari dunia persepsi dan perilaku yang mereka perlihatkan.
3) Komunikasi, anak-anak menggunakan emosi untuk menginformasikan pada orang lain
tentang perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya.
b) Perkembangan Tempramen
Tempramen merupakan salah satu dimensi psikologis yang berhubungan dengan
aktivitas fisik dan emosional serta merespons. Berikut adalah tahap-tahap perkembangan
psikososial bayi secara normal :
Umur
1-2 bln

Perkembangan Psikososial
Reaksi terhadap senyuman.

3-4 bln

Bisa mengoceh.

5 bln

Bisa memegang benda atau mainan.

6 bln

Bisa mengenal orang.

7-8 bln

Mampu bermain ciluk baa.

9-11 bln
12 bln
13-15 bln

Bisa tepuk tangan.


Mampu memberikan mainan pada ibu atau bapak.
Mulai mengenal lingkungan.

17-19 bln

Bisa mengenali beberapa bagian tubuh.

24 bln

Mampu menyebutkan namanya bila ditanya.

3 thn

1) Mampu meniru kegiatan orang dewasa.


2) Mampu bermain bersama dengan teman.
Tabel 2.3 Perkembangan Psikososial (Anonim, 2014)
10

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

perkembangan

psikososial

antara

lain

(Soetjiningsih, 1995) :

a) Stimulasi
Stimulasi merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang
mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibandingkan
dengan anak yang kurang atau tidak mendapat stimulasi.
b) Motivasi belajar
Motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang
kondusif untuk belajar.
c) Ganjaran ataupun hukuman yang wajar
Kalau anak berbuat benar, maka wajib bagi kita member ganjaran, misalnya pujian,
tepuk tangan dan sebagainya. Sehingga menimbulkan motivasi yang kuat bagi anak untuk
mengulangi tingkah lakunya. Sedangkan menghukum dengan cara-cara yang wajar kalau anak
berbuat salah, yang penting hukuman harus diberikan secara obyektif disertai pengertian dan
maksud dari hukuman tersebut. Sehingga anak tahu mana yang baik dan yang tidak baik,
akibatnya menimbulkan rasa percaya diri pada anak yang penting untuk perkembangan
kepribadian anak kelak.
d) Kelompok sebaya
Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya.
Tetapi perhatian dari orang tua tetap dibutuhkan untuk memantau dengan siapa anak tersebut
bergaul.
e) Cinta dan kasih saying
Anak memerlukan kasih sayang dan perlakuan adil dari orang tuanya. Agar kelak
menjadi anak yang tidak sombong dan bisa memberikan kasih sayangnya pula kepada sesama.
f) Kualitas interaksi anak dengan orang tua
Interaksi timbal balik antara anak dan orang tua, akan menimbulkan keakraban dalam
keluarga.
3) Tahap Perkembangan Bicara dan Bahasa

11

Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Semenjak anak
masih bayi sering kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa, tubuh dapat
terpenuhi kebutuhannya (Mulyani dkk, 2006).
Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena
kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya,
sebab melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor, psikologis, emosi, dan lingkungan
disekitar anak. Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan dari
lingkungannya. Mereka harus mendengar pembicaraan yang berkaitan dengan kehidupannya
sehari-hari maupun pengetahuan tentang dunia. Mereka harus belajar mengekspresikan
dirinya, membagi pengalamannya dengan orang lain dan mengemukakan keinginannya
(Soetjiningsih, 1995).
Tahap perkembangan berbicara dan berbahasa pada anak normal diantaranya:
Umur
3 bulan
4 bulan
5-6 bln
9-11 bln

Perkembangan bicara dan bahasa


Sudah bisa mengoceh.
Mampu mendengar suara kertas diremas dan bermain bibir
sambil mengeluarkan air liur
Mampu mengenal suara orang.
Mampu mengeluarkan suara ma..ma..ta..ta..da..da..

12 bln

Mampu mengucapkan satu kata atau lebih dan tahu artinya.

13-15 bln
24 bulan
3 tahun

Mampu berbicara satu kata.


Mampu menjawab dengan kalimat dua kata.
Mampu bertanya dngn memakai kata apa, siapa, dan
dimana.
Tabel 2.4 Perkembangan Bicara dan Berbahasa (Anonim, 2014)
Anak yang sedang belajar berbicara, akan mengamati dengan seksama wajah lawan
bicaranya dan gerakan-gerakan yang dilakukannya sampai pada dimana saat petunjuk visual
menjadi tidak penting, yang menandakan peningkatan dalam memahami sinyal lisan
pendengaran (Soetjiningsih, 1995).
12

Keterampilan mengartikulasikan suara juga mengikuti pola tertentu. Yang pertama


muncul adalah suara yang paling mudah dan paling gampang. Penyebab kelainan berbahasa
bermacam-macam yang melibatkan berbagai faktor yang dapat saling mempengaruhi, antara
lain kemampuan lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi psikologis dan lain
sebagainya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa diantaranya adalah :
a) Perkembangan bahasa yang lambat dapat bersifat familial. Oleh karena itu harus dicari dalam
keluarganya apakah ada yang mengalami keterlambatan bicara juga. Disamping itu, kelainan
bicara juga lebih banyak pada anak laki-laki daripada perempuan, maturasi dan
perkembangan fungsi verbal hemisfer kiri lebih baik. Sedangkan pada laki-laki perkembangan
hemisfer kanan yang lebih baik yaitu untuk tugas yang abstrak dan memerlukan keterampilan.
b) Lingkungan sosial anak
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan perkembangan
bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan gangguan bicara dan bahasa
pada anak.
c) Sistem masukan atau input
Pendengaran merupakan alat yang penting dalam perkembangan bicara. Gangguan
bicara juga terdapat pada tuli oleh karena genetik dan metabolik. Pola bahasa juga akan
terpengaruh pada anak dengan gangguan penglihatan yang berat.
d) Sistem pusat bicara dan bahasa
Kelainan susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman, interpertasi, formulasi,
dan perencanaan bahasa, juga pada aktifitas dan kemampuan intelektual dari anak. Gangguan
komunikasi biasanya merupakan bagian dari retardasi mental.

13

B. Delay Development
1. Definisi
Delay Development adalah bagian dari ketidak mampuan mencapai perkembangan
sesuai usia, dan didefinisikan sebagai keterlambatan dalam dua bidang atau lebih
perkembangan motor kasar atau motor halus, bicara/berbahasa, kognisi, personal/sosial dan
aktifitas sehari-hari. Istilah ini digunakan bagi anak yang berusia kurang dari lima tahun
(Dewanti dkk, 2012).
Menurut Depkes (2006) keterlambatan tumbuh kembang adalah kelainan pada
anak yang meliputi kelainan tumbuh dan kembang maupun

keduanya.

penyimpangan

dan

atau

hambatan

terhadap

proses pertumbuhan

Setiap

perkembangan

dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang dan cacat.


2. Etiologi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya development delay pasien yaitu
faktor internal meliputi faktor keturunan dan faktor kondisi pasien dan faktor eksternal
meliputi pengetahuan ibu, kelahiran, gizi, toksin,

status sosial ekonomi, stimulasi dan

psikologis.

3. Patologi
Development delay disebabkan karena kurangnya suatu rangsangan. Padahal
rangsangan harus diberikan sedini mungkin dan sesering mungkin untuk meningkatkan
perkembangan agar lebih cepat berkembang dan lebih terarah (Laurent & Reader, 2007).
Selain itu pada dasarnya bayi lahir mempunyai reflek primitif yang akan menghilang
pada usia tertentu, menetapnya reflek primitif pada usia tertentu menunjukkan bahwa terjadi
suatu gangguan perkembangan seperti keterlambatan perkembangannya ( Igan, 2014).
Keterlambatan perkembangan juga bisa disebabkan karena hipotonus otot tubuh yang
terlibat dan gangguan kontrol kepala. Dengan terganggunya kontrol kepala maka akan
14

berakibat pada gangguan yang selanjutnya, seperti kontrol gerak, gangguan kontrol postur
(Soetomenggali, 2000).

4. Tanda dan gejala


Dimulai dari tidaknya adanya hypotonus otot, gangguan kontrol kepala dan anak
belum bisa melakukan aktivitas sesuai usia perkembangannya. Misalnya anak belum bisa
mengontrol kepala dengan sempurna pada usia 24-28 minggu, duduk dilantai (5-10 menit)
pada usia 44-48 minggu, merangkak pada usia 52-56 minggu, berjalan sendiri atau dititah
pada usia 18-21 bulan. Kemudian dilakukan pemeriksaan DDST anak mengalami
development delay (Soetomenggali, 2000).
5. Prognosis
Development Delay memiliki kemungkinan penyebab yang beraneka ragam.
Keterlambatan perkembangan dapat terjadi pada otak anak saat otak terbentuk pada masa
gestasi. Penyebab yang mungkin antara lain: lahir premature, kelainan genetic dan herediter,
infeksi, tetapi seringkali penyebab development delay tidak dapat ditentukan. Secara umum,
perjalanan penyakit development delay tidak memburuk seiring dengan waktu pertumbuhan
anak.
C. Deskripsi Problematika Fisioterapi
Berdasarkan International clasification of function (ICF) problematik fisioterapi
dibagi menjadi tiga yaitu impairment, functionl limitasi, dan participan restrcition.
Problematika fisioterapi yang terjadi pada anak dengan kondisi development delay adalah:
1. Impairment
Merupakan gangguan kapasitas fisik yang berhubungan dengan aktifitas fungsional
dasar. Impairment yang biasa terjadi pada anak development delay adalah (1) adanya spasme
pada otot-otot ekstensor anggota gerak atas, anggota gerak bawah dan trunk, (2) reflek
primitif masih dominan, (3) ANTR masih dominan, (4) Ekstensor trust masih dominan.
15

2. Functionl limitasi
Merupakan hambatan seseorang dalam melakukan aktifitas fungsional dasar bagi
dirinya sendiri. Functionl limitasi yang biasa terjadi pada anak delay development adalah (1)
anak belum mampu mengontrol kepala, (2) tengkurap secara mandiri dan (4) merayap secara
mandiri.
3. Participan restrcition
Merupakan keterbatasan seseorang dalam melakukan gerak fungsional.
D. Teknologi Intervensi Fisioterapi
Berdasarkan kajian problematika fisioterapi yang telah dipaparkan, maka penulis
menggunakan teknologi intervensi berupa neurostructure, mobilisasi trunk, dan latihan gerak
fungsional.
1. Neuro structure
Konsep Neuro Structure adalah suatu pendekatan untuk kasus atau kondisi neurologi
untuk menghubungkan brain dengan body, berdasarkan perkembangan biologi, psikologi,
neuro, sosio dan kognitif pasien. Prinsip NS berdasarkan reflex alam yaitu, centering,
grouunding, stability, balancing, gravitasi dan righting. Yang bermanfaat untuk membuka
gerbang sensoris anak, menghilangkan ketegangan tendon guard refleks, struktur tubuh, serta
mengaktifkan kerja receptors yang berhubungan dengan sentuhan dan tekanan (Takarini,
2013).
Posisi pasien : (a) pasien tidur terlentang, (b) miring kanan, (c) miring kiri .
Posisi terapis : berada di dekat pasien
Pelaksanaan

a) Posisi terlentang terdiri dari:


16

Usapan lembut dengan penekanan pada sendi sendi dimulai dari arah
proksimal ke distal. Dimulai dengan menyentuh area wajah, mata, telinga,
kemudian leher lalu shoulder, elbow, wrist kemudian kembali lagi keatas
sampai menyentuh bahu, dada, pelvic lalu menuju ke distal yakni paha, lutut

kemudian ankle diulangi sampai 3 x.


Usapan bintang, usapan bergelombang ke arah bintang, usapan angka 1,

usapan angka 8, contra stretch (badan, lengan, tungkai), tendon guard badan
b) Posisi miring terdiri dari:
Usapan pada trunk, myiofasial sepanjang punggung, kontra stretch, usapan
c) Telungkup terdiri dari:
Usapan seluruh badan (ujung kepala sampai ujung kaki), usapan bintang,
usapan angka 1, usapan angka 8, kontra strech, myofasial punggung
2. Massage Ekspresi
- Dimulai dari jidat sampai kepala 7 titik, lalu kesamping 5 titik (3x
-

pengulangan).
Pada alis 3 titik, bawah mata 3 titik, sepanjang tulang hidung 3 titik, diatas
bibir 3 titik, dibawah bibir 3 titik, dibawah janggut 5 titik, dibelakang telinga 5
titik, didepan telingan 3 titik (gerakan tersebut di ulang 3x).

3. Head control
Gerakannya : anak diposisikan tidur terlentang kemudian orangtua memberikan
mainan yang berwarna-warni atau bunyi-bunyian disebalah kanan atau kiri pasien
agar pasien terdorong untuk menoleh ke kanan maupun ke kiri.
4. Posture control
Gerakannya : anak di posisikan duduk tegak dengan bantuan terapi di belankang
pasien.
5. Myofascial realease
o Tujuannya
: mengkoreksi ketidak seimbangan otot dan meningkatkan LGS
o Gerakan
: teknik menggerakan membuka longitudinal dan gerakan diulur
serta di tambah LGS pada cervical dan romboideous
6. Massage general
- Persiapan tempat dan alat-alat yang dibutuhkan
- Lepas pakaian bayi di area yang akan di massage
- Massage bisa menggunakan baby oil atau bedak
17

Massage dimulai dari kaki lalu ke perut lalu ke dada lalu ke tangan dan yang
terakhir punggung.

BAB III
STATUS KLINIS

DEPARTEMEN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI

LAPORAN STATUS KLINIK


NAMA MAHASISWA

N.I.M.

TEMPAT PRAKTIK

: YPAC SURAKARTA

PEMBIMBING

: EDI WASPADA

Tanggal Pembuatan Laporan : 29 AGUSTUS 2016


Kondisi/kasus

I.

: FT-A

KETERANGAN UMUM PENDERITA


Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
No. CM

: An. M.R
: 4 bulan
: Laki-laki
: Islam
:: Tuwak Kulon Rt 01/02 Gonilan, Kartosuro, Surakarta
: 9791
18

II.

DATA-DATA MEDIS RUMAH SAKIT


A. DIAGNOSIS MEDIS
DELAYED DEVELOPMENT
B. CATATAN KLINIS :
(Diagnosa medis, catatan klinis, medika mentosa, hasil lab, foto rontgen, TORCH,
tes darah dan urin, MRI, Ct-Scan, Eeg, dll)
Tidak ada
C. TERAPI UMUM (GENERAL TREATMENT) :
Pasien terapi di poli YPAC Surakarta pada hari Senin, Kamis dan Sabtu
D. RUJUKAN FISIOTERAPI DARI DOKTER :
Pasien datang dengan inisiatif sendiri

III.

SEGI FISIOTERAPI
TANGGAL : 8 Agustus 2016
A. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF

B. ANAMNESIS (AUTO/HETERO)
1. KELUHAN UTAMA :
Pasien berusia 4 bulan belum bisa tengkurap dan mengkontol kepala secara
mandiri.

2. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :


19

(sejarah keluarga dan genetic, kehamilan, kelahiran dan perinatal, tahap


perkembangan, gambaran perkembangan lainnya)
PreNatal
: - Tidak ada keluhan selama kehamilan
- Ibu tidak merasa mual dan tidak mengkonsumsi obat-obatan
- Saat hamil ibu berusia 29 tahun
Natal
: - Pasien lahir dengan operasi SC karena air ketuban bocor
- Pasien lahir premature 8 bulan 10 hari
- Pasien lahir langsung menangis dan seluruh tubuh merah
- Pasien merupakan anak kedua dari 2 bersaudara
- Anak pertama meninggal G1 P2 A1
- BBL : 1,9 Kg dan Panjang : 44 cm
Post Natal
: - Paisen pernah panas tinggi tetapi tidak sampai kejang
- Pasien susah untuk mengangkat kepala
3. ANAMNESIS SISTEM :
System

Keterangan

Kepala dan leher

Pasien tidak mampu mengontrol kepala

Kardiovaskuler

Tidak ada keluhan

Respirasi

Tidak ada masalah

Gastrointestinalis

Tidak ada masalah

Urogenital

Tidak ada masalah

Musculoskletal

Ada gangguan spasme

Nervorum

Tidak ada masalah

C. PEMERIKSAAN
1. PEMERIKSAAN FISIK
1.1. TANDA-TANDA VITAL
a. Lingkar kepala
b. Tinggi badan
c. Berat badan
d. Komunikasi verbal
e. Komunikasi non verbal
f. Kualitas pendengaran
g. Kualitas penglihatan
h. Kualitas kinetic

:
:
:
:
:
:
:
:

42 cm
58 cm
6,7 kg
baik
kurang baik
baik
baik
baik

1.2. INSPEKSI (STATIS & DINAMIS)


(posture, fungsi motorik kasar/halus, pola gerak, tonus hypo/hypertonus,
reflex, gait, tropic change, dll)
Inspeksi Statis : - Terlihat postur pasien normal
- Terlihat kepala cenderung rotasi ke kiri
- Terlihat bahu dan pelvic sejajar
- Terlihat jari-jari menggenggam
Inspeksi Dinamis: - Terlihat pasien ketika duduk kepalanya menunduk
20

- Terlihat gerakan pasien aktif


- Pasien terlihat kurang nyaman saat dimiringkan kekanan
1.3. PALPASI
(nyeri, spasme, suhu local, tonus, bengkak, dll)
- Adanya spasme pada otot-otot ekstensor pada AGA dan AGB serta di
-

Trunk
Tidak ada oedem

1.4. PERKUSI (reflex fisiologis)


Tidak dilakukan
1.5. GERAKAN DASAR :
a. Gerak Aktif :
- Gerak aktif mudah dilakukan
- Pola gerak baik
- Koordinasi gerak anggota gerak atas dan anggota gerak bawah baik
b. Gerak pasif
Gerak pasif Full Rom pada anggota gerak atas dan anggota gerak bawah
c. Gerak isometric melawan tahanan :
Tidak dilakukan
1.6. KOGNITIF, INTRA PERSONAL & INTER PERSONAL :
c. Kognitif
: Pasien mampu memberikan respon ketika di ajak
komunikasi
d. Intra Personal : Pasien mampu tersenyum saat di ajak bermain oleh
terapis
e. Inter Personal : Hubungan antara pasien , terapis dan keluarga cukup
baik
1.7. KEMAMPUAN FUNGSIONAL DASAR, AKTIFITAS FUNGSIONAL &
LINGKUNGAN AKTIVITAS :
a. Kemampuan Fungsional Dasar : Pasien belum bisa mengontrol kepala,
tengkurap dan merayap dengan mandiri
b. Aktifitas Fungsional
: Pasien sudah mampu memegang
mainan bila ditaruh mainannya di
tangannya tetapi belum bisa mengambil
sendiri
c. Lingkungan Aktivitas
: Lingkungan aktivitas pasien menukung
untuk mempercepat pertumbuhan dan
perkembangan pasien
d. PEMERIKSAAN
a. Nyeri
Tidak dilakukan

21

b. MMT atau XOTR


Anggota
Gerak Atas

Shoulder

Elbow

Wrist

Grup Otot-otot
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Endorotator
Eksorotator
Fleksor
Ekstensor
Supinator
Pronator
Palmar Fleksor
Dorso Fleksor
Medial Devilator
Ulnar Deviator

Anggota Gerak
Bawah

HIP

Knee
Ankle
Trunk

Katerangan

Grup Otot-otot
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Endorotator
Eksorotator
Fleksor
Ekstensor
Plantar Fleksor
Dorso Fleksor
Evetor
Invertor
Fleksor
Ekstensor

: X : Normal
O : Tidak ada kontraksi
T : Ada kontraksi, tapi tidak ada gerakan
R : Gerakan yang terjadi karena reflek

c. LGS
Tidak dilakukan
d. Antropometri
22

Nilai
Kanan
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

Kiri
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
Nilai

Kanan
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

Kiri
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

Lingkar Anggota Tubuh


Lingkar lengan atas
Lingkar lengan bawah
Lingkar tangan
Lingkar tungkai atas
Lingkar tungkai bawah
Lingkar kaki
Lingkar panggul

Panjang Anggota Tubuh


Panjang lengan
- True length
- Brue length
- Apperence length
Panjang tungkai
- True length
- Brue length
- Apperence length

Nilai
Kanan
13
12
14
21
14
19
41

Kiri
13
12
14
21
14
19
41
Nilai

Kanan

Kiri

17
11
25

17
11
25

24
13
27

24
13
27

e. Sens

orik
No
Sistem Sensorik
1
Pengelihatan
2
Pendengaran
3
Penciuman
4
Pengecapan
5
Peraba
6
Otot sendi
7
Keseimbangan
Keterangan : 0 : Tidak ada respon

Nilai
2
2
2
2
2
2
2

1 : Ada respon tapi salah


2 : Normal
f. Reflex
Level
Spinal

Brainstream
Midbrain

Reflek
Fleksor with drawl
Ekstensor thrust
Cross ekstensor
ATNR
STNR
Tonic labirine supine
Tonic labitine prone
Supporting reaction
Neck righting
23

Hasil
+
+
+
+
+
+
+
+
-

Body righting
Optical righting
Amphibian reaction
Naoro
Landau
Parachute
Cortical
Reaksi keseimbangan
Keterangan : - : Tidak ada

+ : Masih ada
g. Test khusus sesuai kelainan/penyakit/gangguan (DDST, GMFM, dll)
DDST terlampir

D. UNDERLYING PROCCESS (CLINICAL REASONING)

Prenatal :
Kehamilan sehat
Ibu tidak
mengkonsumsi obatobatan
Ibu sering kelelahan

Natal :
Lahir premature
8 bulan 10 hari
BBL : 1,9 Kg
G1 P2 A1

Postnatal :
-

Reflek Primitif
masih dominan

DELAYED DEVELOPMENT

Motorik :
Adanya spasme otot
ekstensor
v AGA dan AGB
Kekuatan otot menurun
Motorik kasar terganggu

Sensorik :
Gangguan
24
propieceptif

Kognitif :
Kepala belum
terkontrol

Mobilisasi Trunk dan Pelvic


Myofascial Release

NS
Massage Ekspresi
Massage General

Head Control
Latihan Tengkurap
Latihan Merayap

ADL dan Kemampuan Fungsional


Kemandirian

E. DIAGNOSIS FISIOTERAPI
a. Impairment
- Adanya spasme pada otot-otot ekstensor AGA dan AGB serta Trunk
- Reflek primitive masih dominan
- ATNR masih dominan
- Ekstensor trust masih dominan
b. Functional Limitation
Pasien belum mampu mengotrol kepala, tengkurap dan merayap secara mandiri
c. Disability
Interaksi antara pasien dan terapis bagus
F. PROGRAM/RENCANA FISIOTERAPI
1. TUJUAN
a. Jangka Pendek
- mengurangi reflek primitive
- Mengurangi reflek esktensor trust
- Mengubah pola ATNR menjadi STNR
- Mengurangi spasme pada otot-otot ekstensor pada AGA dan AGB serta
trunk
b. Jangka Panjang
- Melanjutkan tujuan jangka pendek
- Meningkatkan aktifitas fungsional dan kemampuan fungsional

2. TINDAKAN FISIOTERAPI :
a. Teknologi Fisioterapi :
25

Neurosensomotor reflek
Myofascial release treatment
Head control
Posture control
Massage ekspresi
Mobilisasi pelvic dan trunk
Latihan tengkurap dan merayap
Massage general

b. Edukasi :
Memberikan pembelajaran kepada orang tua tentang tahap-tahap latihan,
supaya dapat dilakukan di rumah secara berulang-ulang

3. RENCANA EVALUASI :
-

Spasme dengan palpasi


Kekuatan otot dengan XTOR
Reflek dengan level reflek
Kemampuan fungsional dengan DDST

G. PELAKSANAAN FISIOTERAPI
1. Hari : Senin 8 Agustus 2016
a. Neurosensomotor
1. Posisi terlentang
- Stimulus taktil
- Usapan dari kepala, mata, telinga, mulut, bahu, siku dan tangan , lalu
naik dari tangan, siku, bahu, panggul, lutut dan kaki (3x pengulangan dan
-

di setiap sendi di beri penekanan)


Usapan bintang halus pada semua bagian tubuh (3x pengulangan)
Usapan bintang gelombang pada semua bagian tubuh (3x pengulangan)
Usapan angka delapan pada semua bagian tubuh, tangan dan tungkai (3x
pengulangan)
Groding (usapan angka 1) (3x pengulangan)
Contract stretch pada bagian tubuh (3x pengulangan)
Picking up pada lengan dan kaki (9x pengulangan)
Contract stretch pada lengan dan tungkai (9x pengulangan)
2. Posisi miring
Usapan halus bagian samping (3x pengulangan)
Contract stretch (3x pengulangan)
Mobilisasi bahu
26

Stimulasi area scapula dan sepanjang veterbrae


3. Posisi tengkurap
Stimulasi taktil
Usapan dari kepala, bahu, siku, tangan lalu naik ke siku, bahu, turun ke
pinggul, lutut dan kaki (3x pengulangan dan pada setiap persendian di

beri tekanan)
Usapan bintang halus pada semua bagian punggung (3x pengulangan)
Usapan bintang gelombang pada semua bagian punggung (3x

pengulangan)
Usapan angka 8 pada semua bagian punggung dan tungkai (3x

pengulangan)
Groding (usapan angka 1) (3x pengulangan)
Contract stretch pada semua area punggung (3x pengulangan)
Picking up pada area tungkai (9x pengulangan)
Contract stretch pada area tungkai (9x pengulangan)
b. Myofascial release
- Tujuannya : mengkoreksi ketidak seimbangan otot dan meningkatkan
-

LGS
Gerakan

: teknik menggerakan membuka longitudinal dan

gerakan diulur serta di tambah LGS pada cervical dan romboideous


c. Head control
- Gerakannya : anak diposisikan tidur terlentang kemudian orangtua
memberikan mainan yang berwarna-warni atau bunyi-bunyian disebalah
kanan atau kiri pasien agar pasien terdorong untuk menoleh ke kanan
maupun ke kiri.
d. Massage ekspresi
- Dimulai dari jidat sampai kepala 7 titik, lalu kesamping 5 titik (3x
-

pengulangan)
Pada alis 3 titik, bawah mata 3 titik, sepanjang tulang hidung 3 titik,
diatas bibir 3 titik, dibawah bibir 3 titik, dibawah janggut 5 titik,
dibelakang telinga 5 titik, didepan telingan 3 titik (gerakan tersebut di

ulang 3x)
e. Posture control
- Gerakannya : anak di posisikan duduk tegak dengan bantuan terapi di
f.
-

belankang pasien
Mobilisasi pelvic dan trunk
Pasien di pangku oleh terapis
Terapis memeluk pasien dari belakang
Tarik perlahan-lahan badan pasien ke atas (7x hitungan diulang 3x)
Tarik perlahan-lahan badan pasien ke samping kanan (7x hitungan
diulang 3x)
27

Tarik perlahan-lahan badan pasien ke samping kiri (7x hitungan diulang

3x)
Tarik perlahan-lahan badan pasien ke rotasi kanan (7x hitungan diulang

g.
-

3x)
Tarik perlahan-lahan badan pasien ke rotasi kiri (7x hitungan diulang 3x)
Massage general
Persiapan tempat dan alat-alat yang dibutuhkan
Lepas pakaian bayi di area yang akan di massage
Massage bisa menggunakan baby oil atau bedak
Massage dimulai dari kaki lalu ke perut lalu ke dada lalu ke tangan dan
yang terakhir punggung.
Tanggal tindakan

8 Agustus 2016

11 Agustus 2016

13 Agustus 2016

15 Agustus 2016

18 Agustus 2016

20 Agustus 2016
28

Penatalaksanaan
-

NS
Myofascial release
Head control
Control posture
Massage ekspresi
Massage general
NS
Myofascial release
Head control
Control posture
Massage ekspresi
Massage general
NS
Myofascial release
Head control
Control posture
Massage ekspresi
Latihan tengkurap dan merayap
Massage general
NS
Myofascial release
Head control
Control posture
Massage ekspresi
Latihan tengkurap dan merayap
Massage general
NS
Myofascial release
Massage ekspresi
Head control
Control posture
Mobilisasi pelvic
Massage general
NS
Myofascial release

Massage ekspresi
Head control
Control posture
Mobilisasi pelvic
L atihan tengkurap dan merayap
Massage general

H. HASIL EVALUASI TERAKHIR :


1. Adanya penurunan spasme pada otot-otot ekstensor AGA dan AGB serta
Trunk
2. Reflek primitive mulai berkurang
3. Reflek ATNR dan Ekstensor Trust sudah berkurang
Level
Spinal

Brainstream

Midbrain

Cortical

Reflek
Fleksor with drawl
Ekstensor thrust
Cross ekstensor
ATNR
STNR
Tonic labirine supine
Tonic labitine prone
Supporting reaction
Neck righting
Body righting
Optical righting
Amphibian reaction
Naoro
Landau
Parachute
Reaksi keseimbangan

Hasil
T1
+
+
+
+
+
+
+
+
-

T6
+
+
+

+
+
+
-

4. Kekuatan otot belum ada peningkatan


Anggota
Gerak Atas

Shoulder

Elbow

Grup Otot-otot
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Endorotator
Eksorotator
Fleksor
29

Hasil
T1
R
R
R
R
R
R
R

T6
R
R
R
R
R
R
R

Wrist

Ekstensor
Supinator
Pronator
Palmar Fleksor
Dorso Fleksor
Medial Devilator
Ulnar Deviator

Anggota Gerak
Bawah

HIP

Knee
Ankle
Trunk

R
R
R
R
R
R
R

Grup Otot-otot
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Endorotator
Eksorotator
Fleksor
Ekstensor
Plantar Fleksor
Dorso Fleksor
Evetor
Invertor
Fleksor
Ekstensor

R
R
R
R
R
R
R
Hasil

T1
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

T6
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

5. Kemampuan fungsional meningkat DDST


Tanggal pertama terapi
Tanggal terakhir terapi
Tanggal lahir
Tanggal lahir
2016 8 8
2016 8 - 20
2016 4 8
2016 4 - 8
4 bulan
4 - 12
a. Keterangan (T1) anak berumur 4 bulan dilakukan pengukuran DDST dengan hasil :
- Pada sektor personal sosial didapat 3 item yang tidak lulus dan 1 item lulus
- Pada sektor motorik halus ada 2 item tidak lulus
- Sektor bahasa lulus
- Sektor motorik kasar 4 item yang lulus
b. Keterangan (T6) :
- Pada sektor personal sosial didapat 2 item yang tidak lulus
- Pada sektor motorik halus ada 1 item yang tidak lulus
- Sektor bahasa lulus
- Sektor motorik kasar 3 item tidak lulus
I. CATATAN PEMBIMBING PRAKTIK :

30

J. CATATAN TAMBAHAN :

Surakarta,

agustus 2016

Pembimbing,

NIP.
BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien yang bernama An. M. R yang menderita delayed development yang di tandai
dengan menetapnya reflek primitif pada pasein yang masih dominan yang seharusnya pada
usianya reflek tersebut sudah mulai hilang. Menetapnya reflek primitif pada usia tertentu
menujukkan

bawa

terjadi

gangguan

perkembangan

perkembangannya (Igan, 2014).


31

seperti

keterlambatan

dalam

Keterlambatan pada tumbuh kembang merupakan kelainan yang terjadi pada anak
yang meliputi kelainan tumbuhn dan kembang maupun keduanya. Setiap penyimpangan atau
hambatan terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan dapat mengakibatkan gangguan
tumbuh kembang atau cacat.
Untuk mengatasi masalah pada pasien bernama An. M. R yang berusia 4 bulan dengan
kondisi Delayed development, intervensi fisioterapi berupa : (1) Neurosensomotor, (2)
Myofascial Release Technique, (3) Head Control, (4) Posture Control, (5) Mobilisasi Trunk
dan Pelvic, (7) latihan tengkurap dan merayap.
Setelah dilakukan terapi 7x dengan intervensi tersebut didapatkan hasil berupa : (1)
Adanya penurunan spasme pada otot-otot ekstensor pada anggota gerak atas dan anggota
gerak bawah, (2) Reflek primitive mulai berkurang, (3) Reflek ATNR dan Ektesor Trust sudah
mulai berkurang, dan (4) Belum terdapat peningkatan kekuatan otot yang dievaluasi dengan
pemeriksaan kekuatan otot XOTR.
Berdasarkan hasil terapi yang didapat tersebut maka disimpulkan bahwa terdapat
adanya perubahan yang masih minimal pada problematik fisioterapi yang telah didapatkan
sebelumnya. Hal ini dapat dikarenakan waktu terapi yang singkat, frekuensi terapi yang
kurang dalam seminggu, dan durasi terapi yang terbatas.
Di bawah ini adalah tabel hasil pengecekan reflek primitif pada pasien yang telah
diberikan intervensi sebanyak 7x. Dari awal terapi hingga akhir terapi terdapat penurunan
reflek primitif pada pasien.

Level
Spinal

Brainstream
Midbrain

Hasil

Reflek
Fleksor with drawl
Ekstensor thrust
Cross ekstensor
ATNR
STNR
Tonic labirine supine
Tonic labitine prone
Supporting reaction
Neck righting
Body righting
32

T1
+
+
+
+
+
+
+
+
-

T6
+
+
+

+
+
+
-

Optical righting
Amphibian reaction
Naoro
Landau
Parachute
Reaksi keseimbangan

Cortical

Dibawah ini adalah tabel dari pengukuran kekuatan otot pasien menggunakan XTOR .
Intervensi diberikan selama 7x terapi dan di dapatkan hasil yaitu, belum terdapat peningkatan
kekuatan otot yang dievaluasi dengan pemeriksaan kekuatan otot XOTR.
Anggota
Gerak Atas

Shoulder

Elbow

Wrist

Grup Otot-otot
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Endorotator
Eksorotator
Fleksor
Ekstensor
Supinator
Pronator
Palmar Fleksor
Dorso Fleksor
Medial Devilator
Ulnar Deviator

Anggota Gerak
Bawah

HIP

Knee
Ankle
Trunk

Grup Otot-otot
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Endorotator
Eksorotator
Fleksor
Ekstensor
Plantar Fleksor
Dorso Fleksor
Evetor
Invertor
Fleksor
Ekstensor
33

Hasil
T1
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

T6
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
Hasil

T1
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

T6
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

Katerangan

: X : Normal
O : Tidak ada kontraksi
T : Ada kontraksi, tapi tidak ada gerakan
R : Gerakan yang terjadi karena reflek

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Delay Development adalah bagian dari ketidak mampuan mencapai perkembangan


sesuai usia, dan didefinisikan sebagai keterlambatan dalam dua bidang atau lebih
perkembangan motor kasar atau motor halus, bicara/berbahasa, kognisi, personal/sosial dan
aktifitas sehari-hari. Istilah ini digunakan bagi anak yang berusia kurang dari lima tahun.
Permasalahan yang timbul kasus Delay Development setiap penyimpangan atau hambatan
terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan dapat mengakibatkan gangguan tumbuh
kembang dan cacat.
Delay Development adalah ketertinggalan secara signifikan pada fisik, kemampuan
kognitif, perilaku, emosi, atau perkembangan sosial, seorang anak bila dibandingkan dengan
anak normal seusianya. Seorang anak dengan Delay Development akan tertunda dalam
mencapai satu atau lebih perkembangan kemampuannya (Anonim, 2012).

34

Seorang pasien laki-laki bernama An. M. R yang berumur 4 bulan dengan diagnosis
delayed development. Ibu pasien mengeluhkan bahwa pasien belum mampu untuk mengontol
kepala dan tengkurap secara mandiri. Sehingga mengakibatkan keterlambatan perkembangan
bayi.
Setelah mendapatkan penanganan fisioterapi berupa Neurosensomotor, Myofascial
Release, Head Control, Posture Control, Mobilisasi Trunk dan Pelvic, dan Latihan tengkurap
dan merayap, yang di berikan selam 7x dalam sebulan. Kini pasien mengalami penurunan
reflek primitif.
Dari hasil tersebut penulis menyimpulkan bahwa dengan Neurosensomotor,
Myofascial Release, Head Control, Posture Control, Mobilisasi Trunk dan Pelvic, dan Latihan
tengkurap dan merayap yang merupakan intervensi dari fisioterapis dapat digunakan untuk
mengatasi permasalah permasalah yaitu penurunan reflek primitif, peningkatan kekuatan
otot, penurunan spasme pada otot-otot ekstensor pada anggota gerak atas dan anggota gerak
bawah pada kasus delayed development.

B. Saran
Bagi pasien
Disarankan untuk orang tua pasien untuk rutin menerapikan pasien dan melakukan

latihan-latihan yang telah diajarkan fisioterapi secara rutin dirumah.


- Bagi fisioterapis.
Fisioterapi pada kasus development delayed berperan dalam meningkatkan
kemampuan fungsional agar pasien mampu hidup mandiri sehingga dapat mengurangi
ketergantungan terhadap orang lain .

35