Anda di halaman 1dari 2

Reaktif atau solutif ?

Kontroversi kebiri dan hukum mati bagi


pelaku kejahatan seksual anak
26 Mei 2016
(sumber : www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160526_trensosial_pelecehan_seksual )
Kasus kejahatan seksual terhadap anak memicu kemarahan publik, sehingga pemerintah
akhirnya menerbitkan aturan hukum yang lebih berat untuk pelaku dengan hukuman kebiri kimia
hingga hukuman mati. Namun, apakah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu)
yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Rabu (25/05), bisa menjadi solusi? Kami
melihat sejumlah reaksi di media sosial dan mendapat opini yang beragam.

'Bukan soal kelamin saja'

Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin dalam unggahan Facebooknya menyayangkan keputusan yang diambil oleh pemerintah. "(Dengan aturan baru itu) kekerasan
seksual tidak dilihat sebagai konsep penyerangan atas tubuh manusia melalui tindakan seksual
melainkan semata-mata soal libido yang sebetulnya adalah mitos belaka," tulisnya.
Hukuman kebiri dianggap tidak sejalan dengan revolusi mental yang selalu didengung-dengungkan
pemerintah karena kebiri tidak mengubah "mental pelaku sebab dipikirnya hanya soal kelamin
saja." Dia juga mengkritik penerapan hukuman yang hanya berlaku dalam konteks kasus kejahatan
seksual pada anak - tetapi tidak pada perempuan dewasa.

'Berpikir 1000 kali'

Di Twitter, anggota DPD RI yang sering menuai kontroversi, Fahira Idris, menyatakan
dukungannya terhadap keputusan pemerintah. Kebiri dan hukuman mati, menurutnya, bisa memberi
"ruang kepada hakim untuk menghukum seberat-beratnya predator anak sehingga dapat
memberikan efek jera. Ini akan membuat mereka berpikir 1000 kali untuk melakukan kejahatan
terhadap anak," tulisnya. Bagi orang-orang yang menganggap hukuman mati dan kebiri adalah
pelanggaran HAM, dia berkomentar, "Anda sibuk memikirkan HAM pemerkosa-pemerkosa biadab
seperti ini?"

'Tanpa mikir'

Pegiat hak-hak kewargaan, Tunggal Pawestri, menganggap kebijakan tersebut dibuat tanpa
berpikir dan terkesan reaktif. Tak sanggup atasi narkoba, hukuman mati jawabannya. Tak sanggup
atasi kekerasan seksual? Hukuman kebiri & mati jawabannya. Revolusi Mental?" sebutnya dalam
Twitter. Tunggal menilai ada yang salah dalam bagaimana pemerintah melihat kekerasan seksual
dan penyebab-penyebabnya.

'Kepuasan semu'

Secara umum, komentar terkait aturan baru ini beragam di media sosial. Beberapa di antara
mereka setuju dan malah meminta hukuman yang lebih berat. "Kurang kejam," kata Sugeng
Santoso dalam komentarnya di laman Facebook Presiden Joko Widodo. Namum juga yang
menganggapnya salah sasaran dan mempertanyakan penegakan aturannya. "Hukuman kebiri pelaku
pelecehan seksual/pemerkosa anak ini ibaratnya memberi kepuasan semu pada masyarakat yang
lagi jengkel dengan kejahatan seksual," kata akun @NonikWong."Hukuman kebiri tidak bisa
membuat pelaku jera. Kalau jera, dia memilih berhenti. Lah kalau dikebiri, dipaksa untuk tidak
bisa," sebut @uttha.
Menteri Hukum dan HAM Yassona Laoly mengatakan Perppu tersebut sudah berlaku, namun harus
dikirim oleh presiden ke DPR untuk disahkan. "Kita berharap teman-teman di DPR sepakat dengan
Presiden, agar Perppu ini dijadikan UU," katanya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu sore.