Anda di halaman 1dari 4

Jari-jari Ionik

Perbedaan utama pada jari-jari ionik dengan jari-jari van der waals terletak pada perbedaan
gaya tariknya. Jarak antar ion dalam LiF contohnya, merupakan jarak gaya tolakan antar inti
Li dengan inti F seimbang dengan gaya elektrostatis yang kuat antara ion Li+ dengan F.
Energi tarikan antar Li+F cukup tinggi, lebih dari 400 kj mol-1, dan energi london Li-F
berharhga derajat 4 kj mol-1. Oleh karena itu, gaya-gaya dalam kristal Li-F jauh lebih tinggi,
dan jarak antar ionnya yaitu 195 pm, menjadi lebih pendek dari yang diharapkan berdasarkan
jari-jari van der waals Li dan F yaitu sebesar 294 pm. Dengan perinsip yang sama seperti
halnya menaksir jari-jari kovalen, memungkinkan juga untuk meneliti jari-jari ionik.
Jarak antarnuklir antara dua ion dalam struktur ionik diasumsikan sama dengan jumlah jarijari ionik; d = r++ r (r+ = jari-jari kation dan r = jari-jari anion) dengan membandingkan jarak
antar senyawa-senyawa yang berbeda tetapi mengandung ion yang sama akan dapat
ditunjukkan bahwa jari-jari bersifat relatif tetap. Misalnya perbedaan jari-jari K+ dan Na+
dapat dievaluasi dengan empat senyawa berbeda sebagai berikut:
rk+ -rNa+

= dKF dNaF

= 35pm

= dKCl dNaCl = 33pm


= dKBr dNaBr = 32pm
= dKI d NaI

= 30pm

Sebenarnya, hasil kecenderungan penurunan yang cukup nyata dengan naiknya ukuran halida
adalah sebagai efek nyata yang dapat dimengerti oleh pertimbangan sistim kemas rapat. Jika
dikatakan bahwa (rk+ -rNa+) relatif tetap, maka cukup beralasan untuk mengasumsikan bahwa
rk+ dan rNa+ juga relatif tetap. Baik data penjumlahan maupun pengurangan ion-ion dari
senyawa senyawa yang saling berikatan mudah diperoleh, maka bila jari-jari dari salah satu
ion dapat diketahui jari-jari ion lain pun dapat diketahui atau ditentukan.
Pauling mengusulkan suatu metode praktis untuk menghitung rasio jari-jari ion yaitu bahwa
jika dua ion mempunyai konfigurasi gas mulia yang sama, misalnya NaF maka rasio jari-jari
harus berbanding terbalik dengan rasio muatan nuklir yang dialami oleh elektron-elektron
terluar. Muatan inti efektif dapat dihitung dengan menggunakan tetapan perisai empiris,
misalnya seperti yang dikembangkan oleh Slater. Yang menyatakan bahwa sebuah elektron
didalam kulit utama kedua yang penuh dilindungi oleh semua elektron yang lain sampai
dengan elektron ini mengalami interaksi dengan muatan nuklir sebesar 4,15 unit kurangnya
dari yang aktua 11, muatan efektifnya adalah 11-4,15 = 6,85. Untuk atom F, muatan
efektifnya adalah 9,00 4,15 = 4,85. Maka, menurut pauling :

+
Na

r
r

Karena jarak interionik dalam NaF adalah 231 pm, maka rNa + + rf = 231 pm, hingga dapat
diperoleh rf = 135 pm dan rNa+ = 96 pm, dengan cara ini jari-jari ionik untuk banyak senyawa
dapat ditentukan, dan hasilnya sebagaimana yang ditunjukkan pada tabel.
Namun menurut Shannon dan prewitt, jari-jari ionik berkaitan dengan bilangan koordinasi
dalam kisi kristal senyawanya, dengan jari-jari kation sekitar 14 pm lebih panjang dan anion
sekitar 14 pm lebih pendek dari pada harga-harga tradisional tersebut.
Rasio Jari-jari Ionik
Besarnya ukuran rongga oktahedral dalam sebuah kisi kerapatan anion dapat ditentukan
dengan mudah. ( gambar 1.29). suatu kation yang menempati tepat sebesar rongga
oktahedral, bagian aksialnya akan membentuk bujur sangkar dengan panjang diagonal
sebesar 2 r+ + 2 r. Dengan demikian, dalam segitiga siku-siku sama kaki (gambar 1.29b)
berlaku hubungan sebagai berikut:
++2 r =0,70 7
2 r
2 r

0
cos 45 =

+
+0,707 r
=0,707 r
r
r=2,4 2
r +

r =0,414, atau
r +

+ , sehingga
=0,707 r
0,293 r
Rasio ini (r+/r- 0,414) akan membatasi sifat kestabilan kation dalam rongga oktahedral
untuk menjaga agar anion-anion tetap bersinggungan. Kation dengan ukuran lebih kecil tentu

akan memilih rongga tetrahedral yang lebih kecil dari pada rongga oktahedral, dan kation
yang lebih besar akan memilih rongga kubus yang sederhana.
Dengan cara yang sama, rasio terendah bagi rongga dengan bilngan koordinasi 3 (trigonal,
pada gambar 1,29c), 4 (tetrahedral), 8 (kubus sederhana), dan 12 (dodehedral) dapat
ditentukan yaitu masing-masing sebesar 0,155, 0,225, 0,732, dan 1,00. Hal ini berarti
bahwauntuk rasio 0,155 0,225, bentuk yang lebih diuntungkan adalah koordinasi geometri
trigonal, rasio 0,225 0,414, koordinasi geometri tetrahedral, rasio 0,414 0,732 koordinasi
geometri oktahedral, dan rasio 0,732 1,00 bentuk koordinasi geometri kubus sederhana.
Senyawa BeS mempunyai rasio jari-jari = = 0,35. Dengan demikian dapat diramalkan
bahwa Be mempunyai bilangan koordinasi empat karena cocok menempati rongga
tetrahedral, dan kenyataan memang BeS mengadopsi struktur wurtzit demikian juga dengan
cara yang sama dapat diramalkan bahwa ion Na+ akan memilih menempati rongga-rongga
oktahedral dalam kemas-rapat kisi anion Cl, sehingga membentuk kristal NaCl dengan
bilangan koordinasi enam, karena = = 0,69. Tetapi dengan kation yang lebih besar seperti
Cs+ struktur CsCl tidak lagi mengadopsi bilangan koordinasi enam seperti NaCl, melainkan
mengadopsi bentuk kubus sederhana dengan bilangan koordinasi 8 karena = = 1,08.
Dalam senyawa yang mempunyai jumlah anion yang tidak sama dengan jumlah kation,
misalnya SrF2, TiO2, Li2O, dan Rb2S, penerapan rasio jari-jari terhadap dugaan bilangan
koordinasi tidak begitu mudah, dalam hal ini cara yang terbaik adalah dengan
mempertimbangkan dua macam perhitungan rasio jari-jari seperti pada contoh SrF2 sebagai
berikut:
= = 1,11 maksimum bilangan koordinasi Sr2+ = 8
= = 0,90 maksimum bilangan koordinasi F = 8
Oleh karena jumlah anion F harus dua kali jumlah kation Sr2+, maka sebaliknya bilangan
koordinasi kation Sr2+ harus dua kali bilangan kordinasi anion F. Kesesuaian bilangan
koordinasi dengan stoikiometri ini meyebabkan senyawa SrF2 mengadopso struktur fluorit
dengan kation Sr2+ mempunyai bilangan koordinasi 8 (maksimum) dan anion F mempunyai
bilangan koordinasi 4.
Contoh selanjutnya adalah SnO2 dengan rasio ion sebagai berikut:
= = 0,66 maksimum bilangan koordinasi Sn4+ = 6
= = 1,52 maksimum bilangan koordinasi O2- = 8
Dengan pertimbangan stokiometri senyawa ini, bentuk yang hanya mungkin diadopsi adalah
struktur TiO2 rutil dengan bilangan koordinasi 6 untuk kation Sn4+ dan bilangan koordinasi 3
untuk O2-.
Dengan catatan aplikasi jari-jari ini sangat terbatas dan harus berhati-hati khususnya bila
ikatan kovalen menjadi faktor yang harus dipertimbangkan.
Perkecualian terhadap penerapan rasio jari-jari

Penerapan hubungan rasio jari-jari terhadap bangun geometri pada berbagai contoh yang
telah diberikan memang cukup instruksif. Namun rasio jari-jari hanyalah merupakan sebuah
petunjuk saja yang sesungguhnya sangat terbatas pemakaiannnya dan perlu hati-hati.
Walaupun banyak senyawa ionik benar-benar mengadopsi bangun geometri sesuai dengan
ramalan, ada banyak pengecualian. Berikut contoh yang menunjukkan pengecualian yang
ekstrem.
Tabel 1.12 contoh beberapa senyawa dengan kemasan-nyata yang menyimpang dari
kemasan-duga.
Senyawa
HgS
LiI
RbCl

r+/r
0,68
0,35
0,99

Kemasan-duga
NaCl (koordinasi 6)
ZnS (Koordinasi 4)
CsCl (koordinasi 6)

Kemasan-nyata
ZnS (Koordinasi 4)
NaCl (koordinasi 6)
NaCl (koordinasi 6)

Kimia bukanlah subjek yang sederhana, dan dalam senyawa yang sangat ionik sekalipun
sesunggungnya terdapat sifat kovalen parsial walaupun hanya sederajat rendah; semakin
berkurang derajat ioniknya maka semakin bertambah derajat kovalensinya. Dan dalam
keadaan demikian model bola keras bagi sbagi suatu ion dalam berbagai senyawa tidak lagi
tepat. Sebagai contoh, raksa (II) sulfida, mempunyai tingkat kovalensi yang cukup tinggi
sehingga dapat dipertimbangkan sebagai senyawa dengan jaringan kovalen seperti intan dan
silikon dioksida. Tingginya sifat kovalensi ini memungkinkan pemilihan geometri tetrahedon
struktur ZnS, sebagaimana sering dijumpai bagi senyawa Hg(II).
Sifat kovalen potensial juga terdapat dalam litium iodida. Pemilihan bangun geometri struktur
NaCl pada senyawa ini sungguh tidak masuk akal jika alasan didasarkan pada harga standar
jari-jari ioniknya. Ion Li+ terlalu kecil ukurannya dalam rongga oktahedral anion iodida
sehingga akan mengakibatkan posisi kation tidak pas, tetapi bergejolak terus menerus. Studi
struktur kristal menunjukkan bahwa rapatan elektron litium tidak berupa bola ( sferis)
melainkan mencuat keluar kearah keenam atom iodin di sekelilingnya; oleh karena itu, litium
iodida tidak dapat dipertimbangkan sebagai senyawa yang benar-benar ionik, dan diduga
mengandung sekitar 30% karakter kovalen.
Selain itu ditemukan bukti bahwa perbedaan energi antara kemasaman geometri sering kali
sangat kecil. Sebagai contoh rubidium klorida, RcCl, umumnya mengadopsi geometri
struktur NaCl yaitu kubus pusat muka, dan bukan struktur CsCl yaitu kubus sederhana
sebagaimana yang diramalkan. Namun, kristalisasi dibawah tekana dapat menghasilkan
geometri CsCl. Jadi perbedaan energi pengemasan antar kedua bangun geometri ini tentulah
sangat kecil.
Perlu diingat bahwa, pada nilai jari-jari ionik tidaklah tetap dari lingkungan-tetangga yang
satu ke yang lainnya. Sebagai contoh ion Cs+ mempunyai jari-jari ionik sebesar 181 pm
hanya ketika ion ini dikelilingi olehenam anion tetangga, dan dengan delapan anion tetangga
seperti dalam CsCl, ,Cs+ mempunyai jari-jariionik sedikit lebih besar,188 pm. Untuk ion-ion
berukuran besar perbedaan ini bukaanlah merupakan faktor yang utama, tetapi untuk ion-ion
berukuran kecil perbedaannya sangat signifikan. Litium, dalam lingkungan kordinasi 4,
memiliki jari-jari 73pm, tetapi dalam lingkungan koordinasi enam, Li+ mempunyai jari-jari
90 pm.