Anda di halaman 1dari 6

Isolasi dan Karakteristik Secara Spektroskopi

serta Uji Bioaktivitas Senyawa Kuinon dari


Daun Pacar Air (Impatiens Balsamina L.)
Abstract
Quinonoid Compound has been isolated from Impatiens balsamina L leaves by
maceration with methanol and the separation by column chromatography on silica, using
step gradient polarity system and recrystallization with methanol. The compound is a yellow
crystal mp.
v

1821830 C

and gave UV Spectra nm: 242,3; 247.4; 275.6; 330.8 IR spectra

cm1 : 1680(C=O), 1605(C=O), 1450(C=C), 1240(C-O), 700-800 (aromatic). Toxicity

assay by brine Artemia Salina Leach showed the isolation compound is active with

LC 50

18,98 ppm. Futher data require NMR and MS spectra to determine its structure.
Keywords : Artemia salina, Impatiens balsamina L., quinonoid.

Pendahuluan
Dalam pengobatan secara tradisional, sebagian besar ramuan obat berasal dari
tumbuhan, baik berupa akar, kulit batang, kayu, daun, bunga atau bijinya. Ada pula yang
berasal dari organ binatang dan bahan-bahan mineral. Agar pengobatan secara tradisional
dapat dipertanggungjawabkan maka diperlukan penelitian-penelitian ilmiah seperti
penelitian-penelitian dibidang farmakologi, toksikologi, identifikasi dan isolasi zat kimia
aktif yang terdapat dalam tumbuhan.
Senyawa aktif yang terdapat dalam tumbuhan umumnya dalam bentuk metabolit
sekunder seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, steriod, kumarin, dan senyawa kuinon.
Seperti metabolit sekunder lainnya, senyawa kuinon mempunyai aktifitas beragam,
diantaranya mempunyai efek sebagai anti bakteri, anti fungi, anti oksidan, dan juga sebagai
pencahar. Senyawa kuinon terdapat pada tumbuhan tingkat tinggi, jamur, bakteri dan juga
pada binatang.
Salah satu tumbuhan yang selama ini hanya dikenal sebagai tanaman hias adalah
Pacar Air (Impatiens balsamina L.) termasuk famili Balsaminaceae. Masyarakat Indonesia
telah memanfaatkan tanaman pacar air sebagai obat luka, bengkak-bengkak dan koreng,
kegunaan lainnya tanaman Pacar Air juga digunakan untuk memerahkan kuku. Dalam
pengobatan Cina, Pacar Air digunakan untuk mengobati penyakit encok, luka memar dan

beri-beri dan di India juga digunakan sebagai racun ikan. Dari penelitian terdahulu dilaporkan
Kaemferol 3-O-glukosida, Rutin dan Kuersetin dari bunga putih Pacar Air. Dari daun Pacar
Air juga telah dilaporkan scopoletin. Namun sejauh ini belum ada laporan tentang senyawa
Kuinon serta bioaktivitasnya dari bagian daun tanaman Pacar Air, sedangkan dari uji
pendahuluan didapatkan daun tanaman Pacar Air positif mengandung senyawa kuinon.

Metodologi Penelitian
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Organik, FMIPA Universitas
Bengkulu dari bulan Mei sampai dengan November 2003.
Bahan dan Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas yang lazim
digunakan dilaboratorium kimia organik, alat destilasi, rotary evaporator Heidolph Rotavapor
WB 2000, kolom kromatografi, spektrofotometer UV-Visible Secoman S. 2000,
spektrofotometer BIORAD/DIGILAB FTS-45, Fisher John Melting Point Apparatus, lampu
UV, pipet mikro, tempat penetasan A. Salina dan aerator.
Bahan-bahan yang digunakan adalah pelarut berkualitas teknis yang telah didestilasi
yaitu n-heksana, klorofom, metanol, etil asetat dan etanol. Kromatografi kolom menggunakan
F254
kolom silika gel
Merck ukuran 230-400 mesh. Analisa kromatografi lapisan tipis
dilakukan pada plat berlapis silika gel Merck Kiesel 60

F254

0,25mm. Uji fitokimia

dilakukan dengan menggunakan natrium hidroksida, dan uap iodium. Pelaratan lainnya
kapas, kertas saring, aquadest, telur A.salina Leach.

Pelaksanaan Penelitian
Sampel
Sampel berupa daun tanaman Pacar Air diambil di Kelurahan Rawa Makmur, Kota
Bengkulu. Sebahagian digunakan untuk spesimen Herbarium daan sebagian lagi digunakan
untuk isolasi. Determinasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Universitas Andalas Padang.
Uji Pendahuluan Senyawa Kuinon
Untuk mendeteksi senyawa kuinon dapat memakai plat KLT, setelah ekstrak di
totolkan, dielusi dengan pelarut yang cocok kemudian disemprot dengan NaOH. Jika terdapat
bercak yang berwarna orange atau merah bata maka positif mengandung senyawa kuinon.

Cara lain, plat KLT dapat disemprot dengan Leucometilen biru, jika terdapat bercak biru
maka positif benzokuinon atau naftakuinon.
Uji Aktifitas Biologis (Bioassay) Ekstrak Metanol, Hasil Fraksinasi dan Senyawa Hasil
Isolasi
Masing-masing fraksi (fraksi n-Heksana, fraksi etil asetat, fraksi metanol) dan juga
senyawa murni dilakukan ujia aktivitas Sitotosik dengan metode Brine shrimp menggunakan
larva A. salina Leach, dengan cara 9 vial disiapkan untuk tiga konsentrasi masing-masing
larutan uji 1000, 100, 10 g/mL serta satu vial untuk kontrol, dicukupkan volumenya
sampai 5 mL dengan air laut, diletakkan dibawah sinar lampu selama 24 jam. Setelah 24 jam
diamati dan dihitung jumlah larva udang yang mati. Dari data yang diperoleh, dihitung nilai
LC 50 nya dengan analisis probit atau program komputer Finey.
Ekstraksi, Fraksinasi dan Isolasi Senyawa Kuinon
Daun segar Impatiens balsamina yang telah dirajang halus sebanyak 3 kg, dimaserasi
dengan metanol 10 L selama 5 (lima) hari, maserasi tersebut dilakukan tiga kali dan hasilnya
digabung. Ekstrak yang didapat diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporator, akan didapat
ekstrak metanol. Ekstrak kental metanol ini diuji aktivitas biologisnya dengan metoda Brine
Shrimp.
Ke dalam ekstrak metanol ditambahkan aquades sehingga perbandingan metanol
dengan aquades (6:4). Seterusnya dilakukan fraksinasi dengan n-heksana sebanyak (6 x 300
mL). Lapisan n-heksana dipisahkan dan dipekatkan in vacuo, diperoleh fraksinasi n-heksana
sebanyak 40,35 g. Terhadap ekstrak pekat n-heksana dilakukan uji kandungan senyawa
kuinon dan uji Brine Shrimp, ternyata ekstrak n-heksana ini tidak mengandung senyawa
LC 50 >1000 ppm
kuinon dan tidak aktif terhadap A. salina dengan nilai
, maka tidak
dilanjutkan.
Fraksi metanol-air kemudian difaksinasi lagi dengan 6 x 300 mL etil asetat, fraksi etil
asetat dipekatkan di in vacuo, diperoleh fraksi etil asetat sebanyak 10,01 g. Terhadap ekstrak
pekat etil asetat ini juga dilakukan deteksi senyawa kuinon dan uji Brine shrimp, diperoleh
hasil fraksi etil asetat ini positif mengandung senyawa kuinon dan aktif terhadap A.salina
LC 50
dengan nilai
707, 64 ppm, maka fraksi etil asetat ini dilanjutkan dengann
kromatografi kolom. Fraksi metanol-air juga diperiksa kandungan kuinonnya ternyata tidak
memperlihatkan noda merah bata dengan NaOH maka tidak dilanjutkan.
Fraksi etil asetat positif mengandung senyawa kuinon dam aktif dengan Brine
Shrimp dilanjutkan dengan kromatografi kolom menggunakan silika gel sebagai fasa diam
dengan sistem step gradient polarity. Sebagai eluent digunakan campuran n-Heksana dengan
klorofom, klorofom: etil asetat, atil asetat: metanol dilanjutkan dengan metanol. Fraksi yang
keluar dari kolom ditampung dengan vial/tabung dan dimonitor dengan kromatografi lapisan
tipis dengan eluent campuran etil asetat dan klorofom dengan perbandingan 7 : 3. Fraksi yang

memberikan noda dan Rf yang sam digabung, diuapkan pelarutnya. Untuk mengetahui
I
jumlah noda, plat disemprot dengan NaOH 10% dan juga menggunakan uap 2 diperoleh
fraksi A tabung 1-26, fraksi tabung B tabung 27-35, fraksi C tabung 36-42, fraksi D tabung
43-56, fraksi E tabung 57-70. Masing-masing fraksi diuapkan pelarutnya dengan rotary
evaporator, fraksi B memperlihatkan satu noda merah bata dengan penampak noda NaOH
I
10% dan tetap satu nida dengan penampak noda uap 2 selanjutnya direkristalisasi dengan
metanol didapat kristal berwarna kuning.
Karakterisasi
Senyawa murni hasil isolasi ditentukan dahulu sifat fisikanya meliputi uji titik leleh
dan KLT dengan berbagai macam eluent. Setelah itu baru direkam spektrum UV dan IR.

Hasil dan Pembahasan


Identifikasi tumbuhan yang telah dilakukan di Herbarium Universitas Andalas Padang
menunjukkan nama species dari tumbuhan ini adalah Impatiens balsamina Linn. Hasil
pemeriksaan kandungan metabolit sekunder dari daunnya memperlihatkan senyawa kumarin,
kuinon, flavonoid, steroid, triterpenoid, fenolik dan saponin.
Hasil ekstraksi 3 kg sampel segar daun Impatiens balsamina L. dipeloreh ekstrak
kental fraksi etil asetat sebanyak 10,01 g. Uji pendahuluan dengan KLT memprgunakan
penampak noda NaOH 10% memperlihatkan satu noda berwarna merah bata, berarti fraks
etil asetat ini positif mengandung senyawa kuinon. Plat KLT setelah disinari dengan lampu
UV 365 nm memberikan warna fluoresensi kuning, hijau, biru, kuning hijau, dan kuning, dari
data ini diperoleh informasi bahwa selain senyawa kuinon fraksi etil asetat juga mengandung
senyawa kumarin dan flavonoid. Selanjutnya ekstrak etil asetat ini dipisahkan dengan
kromatografi kolom menggunakan absorben silika gel dan eluent heksan, heksan: klorofom,
klorofom: etil asetat, etil asetat: metanol dilanjutkan dengan metanol maka didapat 5 (lima)
fraksi, fraksi A, B, C, D, E. Fraksi B di rekristalisasi dengan metanol didapat kristal kuning
seberat 7 mg. Setelah dilakukan kromatogrfi lapisan tipis dengan berbagai macam eluent,
penampak noda lampu ultra violet dan disemprot dengan NaoH 10% didapat satu noda
I2
berwarna merah bata, diganti penampak nodanya dengan
tetap satu noda berarti
senyawa yang didapat sudah murni maka diukur titik lelehnya dengan alat Fisher John
Melting Apparatus didapat
memberikan nilai

LC 50

1821830 C

dan hasil pemeriksaan dengan Brine Shrimp

18,98 ppm.

Spektrum ultraviolet hasil isolasi memberikan serapan maksimum pada panjang


gelombang nm: 242,3; 247,4; 275,6; 330,8.

Spektrum infra merah memperlihatkan serapan pada

v cm

1680(C=O),

1605(C=O), 1450(C=C), 1240(C-O), 700-800(aromatis).


Setelah dilakukan isolasi terhadap daun Impatiens balsamina L didapat kristal
berwarna kuning, dengan uji kromatografi lapisan tipis yang disemprot dengan NaOH 10%
I
didapat satu noda berwarna merah bata dengan penampak noda uap 2 dan lampu UV 365
nm tetap memperlihatkan satu noda serta mempunyai titik leleh

182183 C , artinya

senyawa yang didapatkan dari isolasi ini adalah golongan Quinonoid kerena berwarna merah
bata dengan NaOH 10% dan senyawa ini telah murni karena mempunyai titik leleh yang
relatif tajam.
Spektrum ultraviolet menghasilkan serapan maksimum pada panjang gelombang
242,3; 247,4; 275,6; 330,8 nm. Serapan ini menunjukkan bahwa senyawa hasil isolasi
mengandung inti benzen, karena serapan benzen terjadi pada 255, 200 dan 185 nm. Bila
dibandingkan dengan serapan naftaquinon salah satu senyawa quinon, dimana 1,4
naftaquinon mempunyai serapan pada 240-290 nm tajam yang karakteristik untuk benzenoid
dan quinonoid, serapan pada daerah 330-335 medium, 425 nm lemah. Maka diduga senyawa
hasil isolasi ini adalah 1,4 naftaquinon yang tersubtitusi.
Interprestasi spektrum infra merah didapat puncak-puncak yang penjabarannya
sebagai berikut:
Strukur terpenting dari naftaquinon adalah cincin benzen dan cincin quinonoid yang
terdiri dari dua buah C=O. Satu buah C=O ditunjukkan oleh serapan pada daerah 1680
1

cm

. Serapan pada daerah 1450

cm

merupakan regangan C=C aromatis yang

didukung oleh pita serapan pada daerah 700-800

cm

. Serapan pada daerah 1240

cm1 merupakan puncak serapan untuk O-C yang diduga berupa substituen.

Kesimpulan
1. Isolasi komponen kimia dari daun Impatiens balsamina Linn dengan tuntunan bioassay
0

didapat kristal berwarna kuning seberat 7 mg dengan titik leleh 182183 C .


2. Uji bioassay dengan metoda Brine Shrimp senyawa murni hasil isolasi memperlihatkan
LC 50
keaktifan biologis terhadap hewan uji Artema salina Leach dengan nilai
18,98
ppm.
3. Berdasarkan data titik leleh, data spektrum UV dan IR, maka diduga senyawa hasil isola
ini adalah gologan naftaquinon yang tersubstitusi.

Saran
Senyawa hasil isolasi pada penelitian ini belum bisa ditentukan struktur molekulnya
karena data-data spektroskopi yang belum lengkap, untuk itu disarankan melanjutkan
penelitian ini dengan melengkapi data-data spektroskopi

H1

NMR,

C13

NMR, COSY

serta MS supaya struktur molekulnya bisa ditentukan.

Daftar Pustaka
Thomson, R.H. 1971. Naturally Occuring Quinones. Academic Pres. London.
Fukomoto, H.K. Isoi, K. Ishiguro. M. Semma & T. Murashima. 1994. J. Phytochemistry. 37:
1486-1488.
Shoji. N.A. Umeyama, K. Yoshikawa, N. Saitou, Y. Kan & S. Arihara. 1994. J. Tetrahedron.
50: 4973-4986
Ishiguro, K. and H. Oku. 1997. Phytother-res. 11: 343-347
Fukomoto, H.K. Isoi, K. Ishiguro, M. Semma. & M. Yamaki. 1996. Phytother-res. 10: 202206
Adfa, M. 2000, Isolasi Senyawa kumarin dari Daun Pacar Air (Impatiens balsamina L.).
Tesis Program Pasca Sarjana. Universitas Andalas. Padang.
Meiyanto, E. & Sugianto, 1997. Uji Toksisitas Beberapa Fraksi Ekstak Etanol daun Gymura
Procumbens (Lour) Merr. terhadap Larva Udang Artemia salina Leach. Majalah Farmasi
Indonesia. 8: 42-49
Koestoni, T. 1985. Analisis Probit. Balai Penelitian Hortikultura Lembang. Lembang.
Meyer, B.N. N.R. Ferrigni. J.E. Putman. L.B. Jacabson. D.E. Nichole & C.L. Mclaughin.
1982. Planta Med. 45: 31-34.
Silverstein, R.M., G.C. Bassler. T.C. Morrill. 1991. Spectrometric Identification of Organic
th

Compound., 5

edition. Jhon Wiley & Sons Inc.

Ikan, R. 1968. Natural Products A Laboratory Guide. Academic Press. London.


Panichayupakaranant, Hiroshi, N. Wanchai, D. Ushio, S. 1995. J. Phytochemistry, 40: 11411143.