Anda di halaman 1dari 9

SASARAN DAN LINGKUP BK

A.

Sasaran Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah


Sasaran bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah adalah tiap-tiap pribadi
siswa secara seseorang; dalam arti mengembangkan apa yang ada pada diri tiap-tiap individu
(siswa) secara optimal agar masing-masing individu dapat sebesar-besarnya berguna bagi dirinya
sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya.
Sasaran pengembangan pribadi tiap-tiap siswa melalui pelayanan bimbingan dan
konseling melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut adalah pertama, pengungkapan,
pengenalan, dan penerimaan diri. Berkenaan dengan pengungkapan, pertanyaan yang bisa
diajukan adalah mengapa harus diungkap? Apa yang mesti diungkap? Siapa yang diungkap? Dan
bagaimana cara mengungkapnya? Tiap individu (siswa) diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa
dibekali dengan potensi-potensi tertentu, namun tidak semua individu mampu mengungkap
potensi dirinya. Dalam kondisi demikian, individu harus dibantu untuk mengungkap potensipotensi dirinya. Demikian juga setiap individu (siswa) pasti memiliki masalah, tetapi
kompleksitasnya berbeda satu dengan yang lain. Tidak semua individu mengenal atau
mengetahui masalah dirinya. Oleh sebab itu, individu tersebut harus dibantu untuk mengenali
masalahnya. Selanjutnya, yang mesti diungkap dari individu adalah potensi-potensi diri dan
masalah yang dihadapinya, sedangkan yang diungkap adalah semua siswa yang menjadi sasaran
pelayanan bimbingan dan konseling. Cara mengungkap potensi-potensi dan masalah individu
bisa dilakukan melalui konseling atau cara yang lainnya seperti tes, observasi, angket,
wawancara, sosiometri, catatan pribadi, kunjungan rumah, dan lain-lain.
Pribadi dewasa yang mantap dan berkembang secara baik adalah apabila individu yang
bersangkutan benar-benar menyadari atau memahami tentang dirinya. Kesadaran tentang diri
sendiri akan tercapai apabila kemampuan pengungkapan diri dapat berkembang secara baik pula.
Tidak semua individu (siswa) mampu mengungkap potensi dirinya seperti kecakapan,
kemampuan, bakat, dan potensi-potensi lainnya. Demikian juga tidak semua individu mampu
mengungkap berbagai persoalan yang dihadapinya. Kemampuan pengungkapan diri tidak serta
merta timbul pada diri seseorang, melainkan memerlukan bantuan orang lain atau alat-alat

tertentu seperti melalui tes intelegensi, tes bakat, minat, alat pengungkapan ciri-ciri kepribadian,
dan lain sebagainya, dengan perkataan lain melalui pelayanan bimbingan dan konseling.
Kedua, pengenalan lingkungan. Individu (siswa) hidup di tengah-tengah lingkungan.
Individu tidak hanya dituntut untuk mengenal dirinya sendiri, melainkan juga dituntut untuk
mengenal lingkungan. Lingkungan yang kurang menguntungkan bagi individu, hendaknya tidak
membuat ia putus asa, melainkan ia terima secara wajar dan berusaha memperbaikinya. Agar
dapat mewujudkan sikap positif terhadap lingkungannya atau agar individu berperilaku sesuai
dengan tuntutan lingkungannya, individu yang bersangkutan harus diperkenalkan dengan
lingkungannya. Individu (siswa) yang tidak mengenal lingkungan sekolahnya secara baik, maka
perilakunya akan bermasalah seperti pelanggaran disiplin. Upaya memperkenalkan individu
terhadap lingkungannya dapat dilakukan melalui pelayanan bimbingan dan konseling, sehingga
terwujud pribadi yang sehat, dalam arti pribadi yang mampu bersikap positif terhadap dirinya
sendiri dan lingkungannya.
Ketiga, pengambilan keputusan. Setelah potensi individu (siswa) terungkap dan
individu yang bersangkutan mengenal potensi dirinya, mengenal masalah-masalah yang
dihadapinya dan individu tersebut pun dapat menerima dirinya apa adanya sesuai potensinya,
serta telah mengenal lingkungannya secara baik (mampu mewujudkan sikap positif terhadap
lingkungannya), maka tahap berikutnya adalah pembinaan kemampuan untuk pengambilan
keputusan.
Pengambilan keputusan yang menyangkut diri sendiri, seringkali amat berat dilakukan,
terlebih apabila terjadi pertentangan antara realitas tentang diri sendiri dengan lingkungannya. Di
sinilah peranan bimbingan dan konseling untuk membantu penampilan secara objektif dua unsur,
yaitu diri sendiri dan lingkungan.
Keempat, pengarahan diri. Kemampuan mengambil keputusan hendaknya diwujudkan
dalam bentuk kegiatan nyata. Sebaik apapun sebuah keputusan, apabila tidak diwujudkan dalam
bentuk kegiatan nyata tidak aka nada manfaatnya. Seseorang (individu) harus berani menjalani
keputusan yang telah diambilnya untuk dirinya sendiri. Misalnya, seorang siswa telah
memutuskan bahwa ia harus menjumpai atau menghadap wali kelas untuk membicarakan
rencana kegiatan liburan akhir semester, maka ia harus berani melaksanakan keputusan itu, yaitu
menghadap wali kelas. Contoh lain, misalnya seorang siswa telah memutuskan bahwa ia harus
membuat jadwal belajar dan melaksanakannya secara konsisten untuk meningkatkan prestasi

belajarnya, maka ia harus berani dan konsekuen melaksanakan keputusan yang telah diambilnya,
yaitu membuat jadwal belajar, dan melaksanakannya.
Kelima, eksistensi diri (perwujudan diri). Dalam konteks ini tujuan pelayanan
bimbingan dan konseling adalah membantu individu (siswa) agar mampu mewujudkan diri
secara baik di tengah-tengah lingkungannya. Setiap individu hendaknya mampu mewujudkan
diri sendiri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dasar, dan karakteristik kepribadiannya.
Perwujudan diri individu hendaknya dilakukan tanpa paksaan dan tanpa ketergantungan
kepada orang lain. Selain itu, perwujudan diri hendaknya normatif dalam arti sesuai normanorma dan nilai-nilai yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Apabila kemampuan
mewujudkan diri benar-benar telah dimiliki seseorang, maka ia akan mampu berdiri sendiri
dengan pribadi yang bebas dan mantap.
B.

Lingkup Pelayanan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah


Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah mempunyai ruang lingkup
yang luas dan dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu segi fungsi, sasaran, layanan, dan masalah.
Pertama, segi fungsi. Dilihat dari segi fungsi, ruang lingkup pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah dan madrasah mencakup fungsi-fungsi: (1) pencegahan, (2) pemahaman,
(3) pengentasan, (4) pemeliharaan, (5) penyaluran, (6) penyesuaian, (7) pengembangan, (8)
perbaikan.
Kedua, segi sasaran. Dilihat dari segi sasaran ruang lingkup layanan bimbingan dan
konseling di sekolah dan madrasah diperuntukkan bagi semua siswa dengan tujuan agar siswa
secara perseorangan mencapai perkembangan yang optimal melalui kemampuan: pengungkapanpengenalan-penerimaan diri, pengenalan lingkungan, pengambilan keputusan, pengarahan diri,
dan perwujudan diri.
Ketiga, segi layanan. Dilihat dari segi layanan yang diberikan, ruang lingkup layanan
bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah meliputi layanan-layanan: (1) pengumpulan
data, (2) pemberian informasi, (3) penempatan, (4) konseling, (5) alih tangan kasus dan (6)
penilaian dan tindak lanjut.
Keempat, segi masalah. Dilihat dari segi masalah ruang lingkup bimbingan dan
konseling di sekolah dan madasah meliputi (1) bimbingan pendidikan, (2) bimbingan karier, (3)
bimbingan pribadi sosial.

Pada saat ini, ruang lingkup layanan bimbingan dan konseling khususnya di sekolah dan
madrasah telah mengalami perkembangan. Perkembangan itu oleh akibat kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Akibat perkembangan IPTEK telah memunculkan berbagai
persoalan baru, sehingga upaya pemecahannya pun memerlukan pendekatan dan cara-cara yang
baru pula. Dampak langsung perkembangan IPTEK dalam dunia pelayanan bimbingan dan
konseling adalah perlunya penyesuaian-penyesuaian dalam lingkup pelayanannya.
Lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah pada saat ini
merujuk kepada pelayanan bimbingan dan konseling pola 17 yang mencakup: pertama,
bimbingan dan konseling sebagai bentuk pemberian bantuan. Kedua, bidang bimbingan dan
konseling yang mencakup bimbingan: (1) pribadi, (2) sosial, (3) belajar, dan (4) karier. Ketiga,
bidang layanan bimbingan dan konseling mencakup: (1) orientasi, (2) informasi, (3) penempatan/
penyaluran, (4) pembelajaran, (5) konseling perorangan, (6) konseling kelompok, dan (7)
bimbingan kelompok. Keempat, kegiatan pendukung bimbingan dan konseling mencakup: (1)
instrumentasi, (2) himpunan data, (3) konferensi kasus, (4) kunjungan rumah dan (5) alih tangan
kasus.
Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah juga bisa menerapkan
pola 17 plus yaitu, pertama, keterpaduan yang mantap tentang pengertian, tujuan, fungsi, prinsip
dan asas serta landasan bimbingan dan konseling.
Kedua, bidang pelayanan bimbingan dan konseling yang meliputi:
1. Bidang pengembangan pribadi adalah jenis bimbingan yang membantu para siswa dalam
menghadapi dan memecahkan masalah-masalah pribadi. Bidang pengembangan pribadi siswa
mencakup aspek-aspek kepribadian siswa yang menyangkut dengan Tuhan dan dirinya sendiri.
2. Bidang pengembangan sosial bermakna suatu bimbingan/ bantuan dalam menghadapi dan
memecahkan masalah-masalah sosial seperti pergaulan, penyelesaian masalah konflik,
penyesuaian diri dsb.
3. Bidang pengembangan kegiatan belajar/ bimbingan akademik adalah suatu bantuan dari
pembimbing kepada individu (siswa) dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam
memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran-kesukaran yang timbul
berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di institusi pendidikan.
4. Bidang pengembangan karier, menurut Winkel (1991) bimbingan karier merupakan bantuan
dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, pemilihan lapangan pekerjaan/ jabatan

(profesi) tertentu serta membekali diri agar siap memangku jabatan tersebut dan dalam
menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki.
5. Bidang pengembangan kehidupan berkeluarga merupakan suatu bimbingan yang diberikan
oleh individu (pembimbing) kepada individu lain (siswa) dalam menghadapi dan memecahkan
masalah kehidupan berkeluarga.
6. Bidang pengembangan kehidupan beragama adalah bantuan yang diberikan pembimbing
kepada terbimbing (siswa) agar mereka mampu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah
yang berkenaan dengan kehidupan beragama.
Ketiga, jenis-jenis pelayanan bimbingan dan konseling meliputi:
1. Layanan orientasi, menurut Prayitno (2004) orientasi berarti tatapan ke depan ke arah dan
tentang sesuatu yang baru. Berdasarkan arti ini, layanan orientasi bisa bermakna suatu layanan
terhadap siswa baik di sekolah maupun di madrasah yang berkenaan dengan tatapan ke depan ke
arah dan tentang sesuatu yang baru.
2. Layanan informasi, menurut Winkel (1991) layanan informasi merupakan suatu layanan yang
berupaya memenuhi kekurangan individu akan informasi yang mereka perlukan. Layanan
informasi juga bermakna usaha-usaha untuk membekali siswa dengan pengetahuan serta
pemahaman tentang lingkungan hidupnya dan tentang proses perkembangan anak muda.
3. Layanan penempatan adalah usaha-usaha membantu siswa merencanakan masa depannya
selama masih di sekolah dan madrasah dan sesudah tamat, memilih program studi lanjutan
sebagai persiapan untuk kelak memangku jabatan tertentu.
4. Layanan penguasaan konten, menurut Prayitno (2004) layanan penguasaan konten merupakan
suatu layanan bantuan kepada individu (siswa) baik sendiri maupun dalam kelompok untuk
menguasai kemampuan/ kompetensi tertentu melalui kegiatan belajar.
5. Layanan konseling perorangan bermakna layanan konseling yang diselenggarakan oleh
seorang pembimbing (konselor) terhadap seorang klien dalam rangka pengentasan masalah
pribadi klien.
6. Layanan bimbingan kelompok merupakan suatu cara memberikan bantuan (bimbingan)
kepada individu (siswa) melalui kegiatan kelompok. Dalam layanan bimbingan kelompok,
aktivitas dan dinamika kelompok harus diwujudkan untuk membahas berbagai hal yang berguna
bagi pengembangan/ pemecahan masalah individu (siswa) yang menjadi peserta layanan.
7. Layanan konseling kelompok dapat dimaknai sebagai suatu upaya pembimbing/ konselor
membantu memecahkan masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota
kelompok melalui kegiatan kelompok agar tercapai perkembangan yang optimal.

8.

Layanan konsultasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan oleh konselor


(pembimbing) terhadap seorang pelanggan (konsulti) yang memungkinkannya memperoleh
wawasan, pemahaman dan cara-cara yang perlu dilaksanakannya dalam menangani kondisi/

permasalahan pihak ketiga.


9. Menurut Prayitno (2004) layanan mediasi merupakan layanan konseling yang dilaksanakan
konselor terhadap dua pihak atau lebih yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan
kecocokan/ dalam kondisi bermusuhan.
Keempat, kegiatan-kegiatan pendukung bimbingan dan konseling, meliputi:
1. Aplikasi instrumentasi dapat bermakna upaya pengungkapan melalui pengukuran yang
dilakukan dengan menggunakan alat ukur atau instrument tertentu. Atau kegiatan menggunakan
instrument untuk mengungkapkan kondisi tertentu atas diri siswa.
2. Himpunan data dapat bermakna suatu upaya penghimpunan, penggolongan-penggolongan, dan
pengemasan data dalam bentuk tertentu. Himpunan data juga bermakna usaha-usaha untuk
memperoleh data tentang peserta didik, menganalisis dan menafsirkan, serta menyimpannya.
3. Konferensi kasus merupakan forum terbatas yang dilakukan oleh pembimbing atau konselor
guna membahas suatu permasalahan dan arah pemecahannya. Konferensi kasus direncanakan
dan dipimpin oleh pembimbing atau konselor, dihadiri oleh pihak-pihak tertentu yang terkait
dengan kasus dan upaya pemecahannya.
4. Kunjungan rumah bisa bermakna upaya mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan
permasalahan individu (siswa) yang menjadi tanggung jawab pembimbing/ konselor dalam
pelayanan bimbingan dan konseling.
5. Alih tangan kasus dapat dimaknai dengan upaya mengalihkan/ memindahkan tanggung jawab
memecahkan masalah atau kasus-kasus tertentu yang dialami siswa kepada orang lain (petugas
bimbingan lain) yang lebih mengetahui dan berwenang. Alih tangan kasus sering juga disebut
layanan rujukan.
Kelima, format layanan, meliputi: (1) format individual, (2) format kelompok, (3)
format klasikal, (4) format lapangan, dan (5) format politik.

PERTANYAAN
1.

Siapa yang menjadi sasaran bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah?

Jawab: Sasaran bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah adalah tiap-tiap
pribadi siswa secara seseorang; dalam arti mengembangkan apa yang ada pada diri tiap-tiap
individu (siswa) secara optimal agar masing-masing individu dapat sebesar-besarnya berguna
bagi dirinya sendiri, lingkungannya, dan masyarakat pada umumnya.
2.

Sebutkan beberapa tahapan yang harus dilalui oleh tiap-tiap siswa dalam pelayanan bimbingan
dan konseling di sekolah dan madrasah?
Jawab: Pertama, pengungkapan, pengenalan dan penerimaan diri. Kedua, pengenalan

3.

lingkungan. Ketiga pengambilan keputusan. Keempat, pengarahan diri. Kelima, eksistensi diri.
Jelaskan secara singkat mengenai tahapan-tahapan pelayanan bimbingan dan konseling di
sekolah dan madrasah!
Jawab: Pada tahap awal yaitu pengenalan diri, individu (siswa) dibimbing untuk dapat
mengungkap dan mengenali diri agar dapat mengetahui batas-batas kemampuannya sendiri
(penerimaan diri) sehingga akan membantu individu tersebut dalam upaya menyelesaikan
masalah yang sedang dihadapinya. Kedua, yaitu pengenalan lingkungan. Setelah mampu
mengenali dirinya sendiri, individu (siswa) dibimbing untuk dapat mengenali lingkungannya
sebagai tempat hidupnya. Hal tersebut bertujuan agar ia dapat mewujudkan sikap positif terhadap

4.

lingkungannya atau agar ia berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkungannya.


Menurut pendapat Saudara, bagaimanakah sosok pribadi yang sehat?
Jawab: Pribadi yang sehat yaitu sosok pribadi yang mampu menerima diri sebagaimana

5.

adanya dan mampu mewujudkan hal-hal positif sehubungan dengan penerimaan diri tersebut.
Berikan contoh tahapan pengarahan diri dalam kehidupan sehari-hari!
Jawab: Seorang siswa yang telah memutuskan bahwa ia harus membuat jadwal belajar
dan melaksanakannya secara konsisten untuk meningkatkan prestasi belajarnya, maka ia harus
berani dan konsekuen melaksanakan keputusan yang telah diambilnya, yaitu membuat jadwal

6.

belajar dan melaksanakannya.


Apa tujuan yang diharapkan dari pelayanan bimbingan dan konseling dalam konteks eksistensi
diri?
Jawab: Tujuan pelayanan bimbingan dan konseling dalam konteks eksistensi diri
adalah membantu (individu) siswa agar mampu mewujudkan diri secara baik di tengah-tengah

7.

lingkungannya sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dasar, dan karakteristik kepribadiannya.
Apa saja ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah?
Jawab: Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah mempunyai ruang
lingkup yang luas dan dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu segi fungsi, sasaran, layanan, dan

8.

masalah.
Apa dampak dari perkembangan IPTEK dalam dunia pelayanan bimbingan dan konseling?

Jawab: Dampak perkembangan IPTEK dalam dunia pelayanan bimbingan dan


konseling adalah perlunya penyesuaian-penyesuaian dalam lingkup pelayanannya.
9.

Jelaskan secara singkat mengenai bidang bimbingan dan konseling!


Jawab: Bidang pengembangan pribadi adalah jenis bimbingan yang membantu para
siswa dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah pribadi. Bidang pengembangan
pribadi siswa mencakup aspek-aspek kepribadian siswa yang menyangkut dengan Tuhan dan
dirinya sendiri. Bidang pengembangan sosial bermakna suatu bimbingan/ bantuan dalam
menghadapi dan memecahkan masalah-masalah sosial seperti pergaulan, penyelesaian masalah
konflik, penyesuaian diri dsb. Bidang pengembangan kegiatan belajar/ bimbingan akademik
adalah suatu bantuan dari pembimbing kepada individu (siswa) dalam hal menemukan cara
belajar yang tepat, dalam memilih program studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukarankesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di institusi pendidikan.
Bidang pengembangan karier, menurut Winkel (1991) bimbingan karier merupakan bantuan
dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, pemilihan lapangan pekerjaan/ jabatan
(profesi) tertentu serta membekali diri agar siap memangku jabatan tersebut dan dalam
menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki.
Bidang pengembangan kehidupan berkeluarga merupakan suatu bimbingan yang diberikan
oleh individu (pembimbing) kepada individu lain (siswa) dalam menghadapi dan memecahkan
masalah kehidupan berkeluarga. Bidang pengembangan kehidupan beragama adalah bantuan
yang diberikan pembimbing kepada terbimbing (siswa) agar mereka mampu menghadapi dan

10.

memecahkan masalah-masalah yang berkenaan dengan kehidupan beragama.


Jelaskan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan pendukung bimbingan dan konseling!
Jawab: Aplikasi instrumentasi dapat bermakna upaya pengungkapan melalui
pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur atau instrument tertentu. Atau
kegiatan menggunakan instrument untuk mengungkapkan kondisi tertentu atas diri siswa.
Himpunan data dapat bermakna suatu upaya penghimpunan, penggolongan-penggolongan, dan
pengemasan data dalam bentuk tertentu. Himpunan data juga bermakna usaha-usaha untuk
memperoleh data tentang peserta didik, menganalisis dan menafsirkan, serta menyimpannya.
Konferensi kasus merupakan forum terbatas yang dilakukan oleh pembimbing atau konselor
guna membahas suatu permasalahan dan arah pemecahannya. Konferensi kasus direncanakan
dan dipimpin oleh pembimbing atau konselor, dihadiri oleh pihak-pihak tertentu yang terkait
dengan kasus dan upaya pemecahannya. Kunjungan rumah bisa bermakna upaya mendeteksi

kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan individu (siswa) yang menjadi tanggung
jawab pembimbing/ konselor dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Alih tangan kasus
dapat dimaknai dengan upaya mengalihkan/ memindahkan tanggung jawab memecahkan
masalah atau kasus-kasus tertentu yang dialami siswa kepada orang lain (petugas bimbingan
lain) yang lebih mengetahui dan berwenang. Alih tangan kasus sering juga disebut layanan
rujukan.

SUMBER:
Tohirin, (2007), Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
http://hasanahlunarisavicenna.blogspot.co.id/2014/10/sasaran-dan-lingkup-bk.html