Anda di halaman 1dari 3

Paradigma Input dan Output Pendidikan 26 April 2011 07:15:00 Diperbarui: 26 Juni 2015

06:23:08 Dibaca : 2,611 Komentar : 0 Nilai : 0 Pendidikan menurut Ki hajar Dewantara diartikan
sebagai daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter),
pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat
memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Pendidikan karakter merupakan bagian penting
dan hendaknya terintegral dalam perilaku pendidikan di negara ini. Namun menilik fakta
pelaksanaan pendidikan yang selama ini di Indonesia sepertinya belum mengarah kepada
pembentukan karakter sebagaimana jati diri bangsa Indonesia dan bahkan cenderung menurun.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini dapat diilustrasikan dalam bagan seperti dibawah ini:
Konsepsi Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara Sedangkan John Dewey dalam bukunya yang
berjudul Democracy and Education John Dewey mengemukakan empat konsep pokok dalam
belajar yang harus dilalui oleh seorang pembelajar sehingga dapat menjadi manusia yang
memiliki karakter dan berperilaku sehat. Keempat aspek tersebut adalah: (1) Learning to know,
(2) Learning to do, (3) Learning to be, dan (4) Learning to live together. Dua konsep terakhir
sangat dekat dengan upaya pendidikan karakter dan itulah corak akhir dari kehidupan manusia.
Sedangkan untuk mencapai dua yang terakhir, maka siswa perlu melewati dua jenis belajar
sebelumnya yaitu learning to know dan learning to do. Ditambahkan oleh Jacques Delors( 1996)
dalam bukunya: Learning : The Treasure Within, menulis bahwa the essential features of basic
education that teaches pupils how to improve their lives through knowledge, through experiment,
and through the development of their own personal cultures are preserved. Hal ini mengandung
makna bahwa pendidikan itu hanya akan bermakna jika pembelajar selain memiliki kemampuan
otak, juga memiliki kemampuan memaknai nilai-nilai dari belajarnya. Mencermati konsep dasar
pendidikan diatas, permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yang salah
satunya adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan,
khususnya pendidikan dasar dan menengah. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan
mutu pendidikan nasional, misalnya pengembangan kurikulum nasional dan lokal, peningkatan
kompetensi guru melalui pelatihan, pengadaan buku dan alat pelajaran, pengadaan dan perbaikan
sarana dan prasarana pendidikan, dan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun demikian,
berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukan peningkatan yang berarti. Sebagian
sekolah, terutama di kota-kota, menunjukan peningkatan mutu pendidikan yang cukup
menggembirakan, namun sebagian lainnya masih memprihatinkan. Salah satu faktor yang
menyebabkannya adalah kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan
pendekatan education function atau input-output analisys yang tidak dilaksanakan secara
konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi sebagai pusat produksi
yang apabila dipenuhi semua input (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut,
maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap
bahwa apabila input seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan
sarana serta prasarana pendidikan lainnya, dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara
otomatis akan terjadi. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak terjadi.
Mengapa? Karena selama ini dalam menerapkan pendekatan educational production function
terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.
Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan. Jadi dalam memandang
konsepsi input output pendidikan sebagaimana digambarkan dalam bagan berikut: Konsepsi
input dan output pendidikan sejauh ini merupakan gambaran mutu pendidikan adalah gambaran
dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam
memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersirat. Dalam konteks pendidikan pengertian

mutu mencakup input, proses, dan output pendidikan. Input pendidikan adalah segala sesuatu
yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Sesuatu yang dimaksud
berupa sumberdaya dan perangkat lunak serta harapan-harapan sebagai pemandu bagi
berlangsunnya proses. Input sumber daya meliputi sumberdaya manusia (kepala sekolah, guru
termasuk guru BP, karyawan, siswa) dan sumberdaya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang,
bahan, dsb.). Input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perundangundangan, deskripsi tugas, rencana, program, dsb. Input harapan-harapan berupa visi, misi,
tujuan, dan sasaran- sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah. Kesiapan input sangat diperlukan
agar proses dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tinggi rendahnya mutu input dapat
diukur dari tingkat kesiapan input. Makin tinggi tingkat kesiapan input, makin tinggi pula mutu
input tersebut. Proses Pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses disebut input sedangkan sesuatu dari
hasil proses disebut output. Dalam pendidikan bersekala mikro (ditingkat sekolah), proses yang
dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses yang dimaksud adalah proses
pengembilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses
belajar mengajar, dan proses monitoring dan evaluasi, dengan catatan bahwa proses belajar
memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibanding dengan proses- proses lainnya. Proses
dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian serta pemaduan input
sekolah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan dsb) dilakukan secara harmonis, sehingganya
mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), mampu
mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik.
Kata memberdaykan mengandung arti bahwa peserta didik tidak sekadar menguasai pengetahuan
yang diajarkan oleh gurunya, akan tetapi pengetahuan tersebut juga telah menjadi muatan nurani
peserta didik, dihayati, diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan lebih penting lagi peserta
didik tersebut mampu belajar secara terus menerus (mampu mengembangkan dirinya). Output
pendidikan adalah merupakan kinerja sekolah. Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang
dihasilkan dari proses/perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya,
efektivitasnya, produktivitasnya, efesiendinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya dan
moral kerjanya. Khusus yang berkaitan dengan mutu output sekolah, dapat dijelaskan bahwa
output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi sekolah, khusunya prestasi
belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam : (1) prestasi akademik, berupa nilai
ulangan umum, UNAS, karya ilmiah, lomba akademik, dan (2) prestasi non-akademik, seperti
misalnya IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olah raga, kesnian, keterampilan kejujuran, dan
kegiatan-kegiatan ektsrakurikuler lainnya. Mutu sekolah dipengaruhi oleh banyak tahapan
kegiatan yang saling berhubungan (proses) seperti misalnya perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan. Sehingga kesimpulannya adalah bukan konsepsi input output yang salah namun
cara pandang atau fokus dari pengembangan pendidikan yang selama ini berjalan. Sebagaimana
kita ketahui bersama bahwa pelaksanaan pendidikan terlalu terfokus pada input (berapa siswa
yang bersekolah) dan output (berapa siswa yang lulus UNAS). Kedepan ,perlu fokus itu lebih
pada pelaksanaan (proses) pendidikan disekolah, tentang bagaimana pembelajaran dilaksanakan,
media pembelajaran, dan ketersediaan sumber belajar bagi siswa. Sekaligus sejauhmana
kompetensi guru dan tenaga pengajar lainnya beserta alat evaluasi proses pembelajaran yang
dilakukan sekolah. Untuk memulai hal tersebut perbaikan awal yang harus dilakukan adalah
pembenahan pola manajemen sekolah. Dalam pada pola lama, tugas dan fungsi sekolah lebih
pada melaksanakan program dari pada mengambil inisiatif merumuskan dan melaksanakan
program peningkatan mutu yang dibuat sendiri oleh sekolah. Sedang pada Pola Baru, sekolah

memiliki wewenang lebih besar dalam pengelolan lembaganya, pengambilan keputusan


dilakukan secara partisipasif dan partisipasi masyarakt makin besar, sekolah lebih luwes dalam
mengelola lembaganya, pendekatan profesionalisme lebih diutamakan dari pada pendekatan
birokrasi, pengelolaan sekolah lebih desentralistik, perubahan sekolah didorong oleh motivasi
diri sekolah dari pada diatur dari luar sekolah, regulasi pendidikan lebih sederhana peranan pusat
bergesr dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan dari mengarahkan ke memfasilitasi, dari
menghindari resiko menjadi mengolah resiko, pengunaan uang lebih efesien karena sisa
anggaran tahun ini dapat digunakan untuk anggaran tahun depan (Effesiensi-based budgeting),
lebih mengutamakan teamwork, informasi terbagi ke semua warga sekolah, lebih mengutamakan
pemberdayaan, dan struktur organisasi lebih datar sehingga lebih efesien. POLA LAMA
MENUJU POLA BARU Subordinasi ===> Otonomi Pengambilan keputusan terpusat ===>
Pengambilan keputusan partisipasif Ruang gerak kaku ===> Ruang gerak luwes Pendekatan
birokratik ===> Pendekatan profesional Sentralistik ===> Disentralistik Diatur ===> Motivasi
Overegulasi ===> Deregulasi Mengontrol ===> Mempengaruhi Mengarahkan ===>
Memfasilitasi Menghindari resiko ===> Mengelola resiko Gunakan uang semuanya ===>
Gunakan uang seefesien Individual yang cerdas ===> Teamwork yang cerdas Informasi
terpribadi ===> Informasi terbagi Pendelegasian ===> Pemberdayaan Organisasi herakis ===>
Organisasi datar Pendidikan harus dimaknai sebagai sistemik-organik, menekankan bahwa
proses pendidikan formal harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Pertama, pendidikan lebih
menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching). Kedua,
pendidikan diorganisasi dalam suatu struktur yang fleksibel. Ketiga, pendidikan memperlakukan
peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri. Keempat,
pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan
lingkungan. Sehingga pada gilirannya pendidikan dapat menjadi jawaban atas permasalahan
yang ada.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hafismuaddab/paradigma-input-dan-outputpendidikan_5500b8a0a33311531850fa56