Anda di halaman 1dari 9

Analisa Portofolio

Pemilihan dan penentuan saham-saham yang menjadi kandidat portofolio dengan model
indeks

tunggal

penghitungannya

menggunakan

program

Excel.

Langkah-langkah

penghitungannya adalah sebagai berikut:


1. Mendeskripsikan perkembangan harga saham, IHSG dan SBI
Data harga saham yang diteliti adalah harga saham penutupan (closing price) pada
setiap hari selama 27 hari yaitu tanggal 27 April 2015 sampai 5 Juni 2015. Nilai return
dan risiko saham diambil dari perubahan harga saham harian. Data harga saham
penutupan (closing price) dari 20 saham tersebut diperoleh dari yahoofinance.co.id.
Daftar saham anggota sampel yang digunakan dalam penelitian ditunjukkan tabel
berikut:
Tabel
Anggota Saham Portofolio

Data kedua yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) selama periode pengamatan yang diperoleh dari laporan Bursa Efek
Jakarta (BEJ). Data IHSG mewakili data pasar yang diperlukan untuk menghitung
tingkat return pasar (Rm) dan risiko pasar (m). Tabel dibawah ini menunjukkan data
IHSG tersebut:
Tabel Data IHSG

Gambar berikut ini menunjukkan grafik perubahan nilai IHSG yang digunakan dalam
penelitian selama periode pengamatan.
5,350
5,300
5,250
5,200
5,150
5,100
5,050
5,000
4,950

42122 42124 42129 42131 42135 42137 42142 42144 42146 42150 42152 42156 42159
42121 42123 42128 42130 42132 42136 42139 42143 42145 42149 42151 42153 42158 42160
IHSG

Data ketiga yang diperlukan adalah data tingkat suku bunga SBI, diperoleh dari
webside BI selama periode 27 April 2015 sampai 5 Juni 2015. Data SBI ini digunakan
sebagai proxy return aktiva bebas risiko atau risk free rate of return (Rf) dengan

pertimbangan bahwa return dan risiko saham juga dihitung secara bulanan. Seperti
terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel SBI

Gambar berikut ini menunjukkan grafik perubahan nilai SBI yang digunakan dalam
penelitian selama periode pengamatan.

6.66%
6.66%
6.66%
6.66%
6.65%
6.65%
6.65%
6.65%
6.65%

SBI

2. Menghitung realized return, expected return, standar deviasi dan varian dari
masing-masing saham individual, IHSG dan SBI.
Untuk menghitung realized return, expected return, standar deviasi dan varian dari
masing-masing saham individual, IHSG dan SBI menggunakan program Excel. Realized
return diperoleh dari prosentase perubahan harga penutupan saham i pada hari ke t
dikurangi harga penutupan saham i pada hari ke t-1 kemudian hasilnya dibagi dengan
harga penutupan saham i pada bulan ke t-1. Expected return dihitung dengan rumus
Average, standar deviasi dihitung dengan rumus STDev dan varian dihitung dengan
rumus Var. Hasil penghitungan realized return masing-masing saham diperlihatkan
pada lampiran. Sedangkan hasil penghitungan expected return, standar deviasi dan
varian dari masing-masing saham individual terlihat dalam tabel berikut ini:

Tabel E(Ri), Stdev dan Variance Saham Individual

Hasil

perhitungan

realized

return

IHSG

dan

perhitungan

realized

return

SBI

diperlihatkan pada lampiran. Sedangkan hasil penghitungan expected return, standar


deviasi dan varian dari IHSG dan SBI-1 selama periode 27 April 2015 sampai 5 Juni
2015 seperti terlihat dalam tabel berikut ini:
Tabel E(Ri), Stdev, Variance IHSG dan SBI

3. Menghitung alpha, beta, dan variance error masing-masing saham


Untuk menghitung alpha, beta, dan variance error masing-masing saham
menggunakan program Excel. Alpha dihitung dengan rumus intercept, merupakan
perbandingan return realisasi suatu saham dengan return pasar pada suatu periode
tertentu. Beta dihitung dengan rumus slope, mencerminkan volatilitas return suatu
saham terhadap return pasar. Variance error merupakan risiko unik atau unsystematic

risk suatu saham. Hasil perhitungan alpha, beta, dan variance error masing-masing
saham individual terlihat dalam tabel berikut ini:

Tabel Alpha, Beta dan Variance Error Saham

4. Menghitung nilai excess return to beta (ERB) dan nilai Ci masing-masing


saham.
Setelah return, varians, beta, dan alpha masing-masing saham diketahui, langkah
selanjutnya untuk menentukan portofolio optimal dengan menggunakan model indeks
tunggal adalah dengan menghitung tingkat Excess Return to Beta (ERB) serta
menentukan Cut off Rate. Berdasarkan hasil perhitungan di atas kemudian dihitung
nilai excess return to beta (ERB) dan nilai Ci masing-masing saham. Nilai ERB yang
diperoleh diurutkan atau diranking dari nilai ERB terbesar ke nilai ERB yang terkecil.
Nilai Ci merupakan hasil bagi varian pasar dan return premium terhadap variance
residual error saham dengan varian pasar pada sensitivitas saham individual terhadap
variance residual error saham. Hasil perhitungan nilai ERB dan nilai Ci saham
ditunjukkan pada tabel berikut.
5. Menentukan cut-of-point (C*)
Nilai cut-of-point (C*) adalah nilai Ci maksimum dari sederetan nilai Ci saham. Nilai
cut-of-point digunakan sebagai titik pembatas untuk menentukan saham yang masuk
kandidat dengan yang tidak masuk kandidat portofolio. Hasil perhitungan nilai cut-ofpoint pada penelitian ini adalah sebesar C* = 0,0000007.
6. Menentukan portofolio optimal dan proporsi dana masing-masing saham
pembentuk portofolio.
Dari ke-20 saham kandidat portofolio tersebut kemudian dipilih saham-saham yang
akan dibentuk menjadi portofolio optimal. Kriteria pemilihan berdasarkan besarnya
nilai excess return to beta masing-masing saham kandidat portofolio. Portofolio efisien
adalah portofolio yang dibentuk oleh saham-saham yang mempunyai nilai excess
return to beta tinggi. Nilai excess return to beta mencerminkan besarnya return
premium yang dapat dihasilkan oleh suatu saham relatif terhadap satu unit risiko yang
tidak dapat didiversifikasikan yang diukur dengan beta. Beta mencerminkan volatilitas
return suatu saham terhadap return pasar, mengukur risiko sistematik dari suatu
saham relatif terhadap risiko pasar. Pada kasus ini dibentuk portofolio optimal dengan
memilih saham-saham yang mempunyai nilai excess return to beta terbesar. Saham
yang menjadi kandidat portofolio adalah saham yang mempunyai nilai excess return
to beta lebih besar atau sama dengan nilai cut off- point. Dengan nilai cut-of-point (C*)
= 0,0000007 diperoleh 20 saham yang menjadi kandidat portofolio. Tabel berikut ini
memperlihatkan daftar 20 saham kandidat portofolio yang diurutkan dari nilai ERB
terbesar menuju nilai ERB terkecil.

Tabel Saham Portofolio

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa ada 6 (enam) saham perusahaan yang
masuk ke dalam portofolio saham dan proporsinya, antara lain GGRM dengan proporsi
dana sebesar 67,08%, BBRI dengan proporsi dana sebesar 21,70%, UNVR dengan
proporsi dana sebesar 5,76%, BBNI dengan proporsi dana sebesar 2,53%, KLBF
proporsi dana sebesar 2,13% dan MNCN proporsi dana sebesar 0,80%. Tabel datiatas
menunjukkan bahwa portofolio yang terbentuk menghasilkan expected return sebesar
-0,40% dengan tingkat risiko sebesar 4,833% per bulan.
Dari hasil analisis, expected return portofolio dari 6 (enam) perusahaan yang masuk ke
dalam portofolio adalah sebesar -0,40%per bulan. Return tersebut lebih rendah jika
dibandingkan dengan expected return pasar yaitu sebesar -0,10% dan jauh lebih
rendah jika dibandingkan dengan pengembalian bebas risiko yaitu sebesar -0,1044%.
Meskipun pada beberapa saham perusahaan seperti UNVR dan TLKM memiliki
expected return yang lebih tinggi dibanding expected return portofolio namun
keduanya memiliki risiko yang lebih besar dibanding risiko portofolio. Hasil ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Pandya dan Rao yang menyimpulkan bahwa
return saham-saham yang didiversifikasi akan lebih tinggi dibanding dengan return
saham yang tidak didiversifikasi.

Expected return yang rendah dari portofolio ini dikarena ada beberapa masalah dari

Posisi pertumbuhan IHSG pun berada di urutan 12 dilihat dari acuan indeks saham
di seluruh dunia. Posisi pertama dipegang oleh bursa saham China. Indeks saham
China mencatatkan kenaikan pertumbuhan sebesar 42,57 persen. Lalu disusul
indeks saham Jepang Nikkei dengan pertumbuhan indeks sahamnya naik 17,84
persen. Sementara itu, indeks saham Hong Kong Hang Seng berada di posisi ketiga

dengan pertumbuhan indeks sahamnya mencapai 16,18 persen.


Investor asing pun masih cenderung melakukan aksi jual di pasar modal Indonesia
sepanjang Mei 2015. Total aksi jual investor asing mencapai Rp 4,59 triliun. Adapun
secara year to date, investor asing melakukan aksi beli bersih mencapai Rp 7,82

triliun.
"Kondisi makro ekonomi Indonesia dan ekonomi global terkait pelambatan ekonomi
China dan rencana kenaikan suku bunga The Federal Reserve membuat pasar
saham Indonesia jadi kurang bagus," ujar Kepala Riset PT NH Korindo Securities

Indonesia, Reza Priyambada


sentimen ekternal juga mempengaruhi laju IHSG. Sentimen itu mulai dari
kekhawatiran kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS)/The Federal Rate, krisis
utang Yunani, dan pelambatan ekonomi dunia. Hans mengatakan, dari sentimen
eksternal itu, kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi risiko utama di pasar
saham. Hal itu mengingat ada potensi kenaikan suku bunga The Fed dilakukan pada
September 2015