Anda di halaman 1dari 4

RTRW Provinsi Papua Barat

5.3 ANALISIS SWOT


Keberadaan komponen SWOT (Strengths, Weakness, Opportunity, and Threats)
diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai kemungkinan pengembangan dan tujuan yang
ingin dicapai dalam rangka pengembangan wilayah Provinsi Papua Barat. Hasil
identifikasi

tersebut

akan

dikombinasikan

untuk

menghasilkan

strategi-strategi

pengembangan wilayah Provinsi Papua Barat.


5.3.1

Strategi S-O

Pengembangan sektor perikanan tangkap di wilayah pesisir yang berorientasi pada


pengembangan sektor perikanan dan kelautan yang berkelanjutan.
Pengembangan kualitas sumberdaya manusia yang berfokus kepada sektor-sektor
unggulan: pertambangan & penggalian, kehutanan, perikanan tangkap dan
konstruksi.
Pengembangan kegiatan penelitian (R&D) untuk mengembangkan potensi-potensi
daerah

setempat

melalui

pengembangan

linkages

SWP

(Satuan

Wilayah

Pengembangan).
Penciptaan struktur ruang dan pola pemanfaatan lahan yang memperhatikan upaya
pemeliharaan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna dan dalam koridor
pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Pengembangan

entry-port

pada

masing-masing

SWP

(Satuan

Wilayah

Pengembangan) sebagai bagian penting pemasaran komoditas-komoditas unggulan


pada masing-masing wilayah dan kawasan unggulan.
Pengembangan kawasan-kawasan strategis dan ekonomi khusus yang berbasiskan
pada komoditas unggulan dan strategis untuk mendorong peningkatan kesejahteraan
masyarakat di Provinsi Papua Barat.

5.3.2

Strategi W-O

Pengembangan strategi pusat-pusat permukiman melalui arahan pengembangan


pusat-pusat permukiman pada wilayah-wilayah yang memiliki kondisi topografi relatif
datar sekaligus menjaga kawasan lindung setempat tidak beralih fungsi.
Pengembangan strategi pengendalian kegiatan pembangunan melalui mekanisme
development control, carbon swap dan transfer of development rights sebagai upaya
menjaga kualitas lingkungan hidup di Provinsi Papua Barat.
Pengembangan rencana pemanfaatan ruang yang memperhatikan aspek kerawanan
bencana dalam bentuk mitigasi bencana pada tiga jenjang: mitigasi bencana makro
pada jenjang provinsi dalam bentuk cetak biru (blue print), mitigasi bencana pada
jenjang kabupaten/kota dan kawasan-kawasan khusus dan strategis, dan mitigasi

Laporan Fakta Analisis

5-1

RTRW Provinsi Papua Barat

bencana pada jenjang pusat-pusat permukiman/neighborhood dengan memasukkan


aspek kearifan lokal dan budaya setempat.
Pengembangan sumberdaya manusia untuk meningkatkan kualitas hidup dengan
mendistribusikan secara proporsional fasilitas-fasilitas pendukung (pada berbagai
jenjang dan tingkatan) pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang ada di Provinsi
Papua Barat.
Pengelolaan kawasan-kawasan khusus seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) dan
kawasan rawan bencana longsor secara multi sektor dan multi institusi pada
berbagai jenjang (nasional, provinsi dan kabupaten/kota).
Pengembangan struktur ruang wilayah dan pola pemanfaatan lahan yang
memperhatikan karakteristik daerah rawan bencana.
Pengembangan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang berbasiskan pada komoditas
unggulan setempat dan mempergunakan teknologi tepat guna sebagai basis
pengolahan kegiatan industri setempat.
Pengembangan jejaring infrastruktur transportasi wilayah yang selain memperhatikan
arahan struktur ruang wilayah dan pola pemanfaatan ruang yang ingin dicapai, juga
bertujuan meratakan dan menyeimbangkan pemusatan kegiatan-kegiatan ekonomi
yang telah tercipta sekaligus sebagai development control mechanism untuk
mendorong terciptanya functional linkages antar kawasan dan sub wilayah.
Pengembangan strategi perlindungan kawasan-kawasan konservasi (fisik maupun
budaya) dengan mengintegrasikan pendekatan teknokratik dan kearifan lokal dan
budaya setempat.
Pengembangan sistem informasi geografis dan perencanaan sebagai satu sistem
yang utuh dan terpadu untuk mendukung proses perencanaan, pemanfaatan dan
pengendalian ruang di wilayah Provinsi Papua Barat sekaligus sebagai upaya
mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

5.3.3

Strategi S-T

Pengembangan wilayah pesisir Utara Provinsi Papua Barat dengan memperhatikan


hak eksklusif pengelolaan perikanan tangkap: ZEE 200 mil laut, kawasan
pengelolaan tingkat provinsi 12 mil laut, dan kawasan pengelolaan tingkat
kabupaten/kota 4 mil laut melalui kerjasama lintas sektor dan lintas wilayah
administrasi.
Pengembangan
koordinator

dan

kerjasama
mediasi

antar
untuk

kabupaten/kota
penetapan

dengan

provinsi

kawasan-kawasan

sebagai

andalan

dan

pengembangan ekonomi terpadu yang berbasiskan pada komoditas-komoditas


unggulan (perikanan dan pertambangan).
Pengintegrasian kebijakan-kebijakan pada tingkat nasional (pengembangan KAPET,
KAWAN, KPEL dan KEKI) dalam pengembangan struktur ruang wilayah untuk

Laporan Fakta Analisis

5-2

RTRW Provinsi Papua Barat

mendorong pertumbuhan ekonomi makro wilayah Provinsi Papua Barat dan subwilayah (kabupaten/kota atau lintas kabupaten/kota).
Pengintegrasian

kebijakan-kebijakan

yang

bersifat

cross

border

dengan

pembentukan segitiga pertumbuhan (growth triangle) yang bersifat kerjasama lintas


negara, (Indonesia, Phillipines, Australia) dalam rangka mendorong pertumbuhan
ekonomi wilayah melalui pengembangan sektor perikanan tangkap dan sumberdaya
hayati pesisir dan kelautan dengan meniru model IMT (Indonesia, Malaysia,
Thailand)-GT dan SIJORI (Singapore, Johor, Riau)-GT, dan mendorong kerjasama
regional mendorong keunggulan komparatif masing-masing ekonomi kawasan KESR
BIMP-EAGA Brunei, Indonesia, Malaysia.
Pengembangan penelitian dan implementasi teknologi tepat guna untuk sektor energi
kelistrikan dengan memaksimalkan sumber-sumber bahan baku kelistrikkan yang
potensial di Provinsi Papua Barat.

5.3.4

Strategi W-T

Pengembangan pusat-pusat permukiman yang memadukan antara kawasan


unggulan/strategis dengan fungsi perumahan dalam bentuk modifikasi agropolitan
ataupun growth pole/growth center dimana kawasan unggulan/strategis menjadi
motor pendorong pertumbuhan ekonomi sub wilayah yang dikelilingi oleh fungsifungsi perumahan/permukiman.
Pengintegrasian pengembangan kawasan unggulan/strategis yang telah ditetapkan
pada tingkat nasional dengan upaya mendorong pertumbuhan wilayah kawasan
sekitar melalui skema corporate social responsibility/community development
ataupun skema lain yang telah diadopsi daerah-daerah lain (PEMP-Pemberdayaan
Ekonomi Masyarakat Pesisir).
Pengintegrasian

kebijakan

pada

tingkat

nasional

(keharusan

penerapan

CSR/COMDEV melalui Pasal 74 UU No. 40/2007 mengenai Perseroan Terbatas)


untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia agar setara dengan kualitas
sumberdaya manusia di Indonesia bagian Barat melalui penggunaan dana
CSR/COMDEV untuk pengembangan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang
diintegrasikan dengan sistem kota-kota dan arahan struktur ruang wilayah.
Pengintegrasian

kebijakan

pada

tingkat

internasional

(kemungkinan

upaya

pertukaran output industri dengan dana untuk pengembangan SDM melalui beragam
mekanisme: debt swap yang digagas oleh Pemerintah Jerman untuk peningkatan
kualitas pendidikan, carbon swap yang merupakan bagian dari Kyoto Protocol) untuk
meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui beragam program capacity
building terutama pada tingkat manajemen administrasi publik agar paradigma
pengelolaan

layanan

publik

berorientasi

wirausaha

dan

dalam

kerangka

entrepreneurship.

Laporan Fakta Analisis

5-3

RTRW Provinsi Papua Barat

Pengembangan pusat-pusat permukiman yang berbasiskan pada industri dengan


komponen utama komoditas unggulan setempat yang didukung oleh sentra-sentra
inkubasi bisnis pada masing-masing wilayah yang memiliki jenjang layanan regional
(disesuaikan dengan arahan struktur ruang wilayah) yang dapat mendorong
perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah.
Pengembangan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat setempat, terutama yang
ada di wilayah pesisir melalui penguatan modal dengan skema bapak asuh (industri
besar membina industri kecil dan menengah melalui pola functional linkages dan
rantai tata produksi dan niaga yang menguntungkan kedua belah pihak).

Laporan Fakta Analisis

5-4