Anda di halaman 1dari 9

1

1. Introduction
Proses penetapan standar dapat dikatakan sebagai fenomena akuntansi
keuangan internasional paling penting. Penelitian ini berusaha menjelaskan
proses penetapan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh IASC.
Kelompok yang berkepentingan dibagi menjadi penyusun, pengguna dan
akuntan dimana masing-masing memiliki tujuan yang berbeda pada standar
akuntansi. Misal pengguna umumnya menuntut pengungkapan lebih banyak
informasi sementara penyusun menolak dengan alasan biaya. Dewan penyusun
standar akuntansi seperti IASC mengikuti sekumpulan proses dimana umpan
balik diminta dari pihak yang berkepentingan sebelum standar diselesaikan
sehingga pihak tsb dapat memastikan kepentingannya diperhitungkan oleh IASC.
Untuk membahas pelaksanaan wewenang, 2 proyek penetapan standar (yaitu
pelaporan segmen dan aset tak berwujud) dibahas secara rinci.
2. Literature Review: a model of power
2.1 The concept of power and accounting standard setting
Lukes (1977) mendefinisikan power (wewenang) sebagai kemampuan untuk
menghasilkan konsekuensi. Dahl (1957) menyatakan actor (pelaku) adalah
individu, kelompok, perusahaan, pemerintah atau penduduk. Arendt (1986)
memandang wewenang sebagai kepemilikan kelompok, bukan individu. Terkait
proses IASC, kami dapat membentuk dua jenis pelaku yaitu internal dan
eksternal.
Pelaku internal adalah anggota IASC yang terlibat dalam pemilihan IAS dan
memiliki pengaruh langsung pada proses. Pelaku eksternal meliputi seluruh
pihak berkepentingan lainnya seperti KAP dan perusahaan. Meskipun mereka
tidak memberi suara pada pemilihan standar, mereka dapat memberikan input
terhadap proses (memiliki pengaruh tidak langsung. Pelaku eksternal lebih lanjut
dapat dibagi menjadi kelompok yang memiliki konflik kepentingan. Cyert dan Ijiri
(1974) mengidentifikasi tiga kelompok yaitu pengguna laporan keuangan,
manajemen (penyusun) dan akuntan publik.
Beechy (1994) membedakan tujuan utama pengguna (proyeksi arus kas,
evaluasi kinerja dan kepatuhan kontrak) dengan manajemen (pajak penghasilan
yang ditangguhkan, memaksimalkan atau meminimalkan laba bersih serta
income smoothing). Kekuatan relatif dua kelompok ini akan mempengaruhi
pemilihan kebijakan akuntansi. Penelitian juga menunjukkan bahwa akuntan
publik tidak perlu menyesuaikan terhadap kepentingan pengguna.
Karena IASC tidak memiliki wewenang untuk memaksakan standarnya di
berbagai negara, IASC mengandalkan penyusun standar (regulator) akuntansi
nasional untuk menyetujui dan menggunakan IAS. Oleh karena itu, regulator
ditambahkan terhadap kelompok pelaku. Hussein dan Ketz (1991) mengukur
wewenang dengan tiga variabel yaitu kemampuan (pengaruh dari seorang
pelaku), keterbatasan (batasan terhadap kemampuan aktor atau alasan
menghalangi mereka berperilaku tertentu) dan peluang mempengaruhi proses
penetapan IAS. Wewenang menunjukkan kemungkinan individu atau kelompok
memperoleh perilaku yang diinginkan dari individu atau kelompok lain. Pengaruh
merupakan hubungan antar pelaku dimana satu pelaku menyebabkan pelaku
lainnya berperilaku sesuai keinginannya.

2
Pengaruh dapat timbul dalam beberapa bentuk mekanisme yaitu force
(paksaan), coercion (kekerasan), inducement (dorongan), persuasion (bujukan),
manipulation (penggerakan) serta authority (wewenang disusun dalam perintah
dan kepatuhan).
2.2 Power and the IASC
Dari bentuk yang dijelaskan di atas, mekanisme mana yang tepat bagi penelitian
mengenai proses IASC ? Dua mekanisme yang paling relevan untuk penelitian ini
yaitu:
Sanctions (gabungan dari mekanisme coercion dan inducement). IASC tidak
memiliki wewenang untuk mewajibkan kepatuhan terhadap IAS sehingga
selalu ada kemungkinan penghindaran terhadap IAS. Kategori ini membantu
IASC memahami seberapa besar hambatan yang dihadapi dalam pembuatan
kebijakan akuntansi
Persuasion terjadi dimana wewenang berperan sebagai dasar alasan.
Persuasion bergantung pada kegunaan akuntansi yang dirasakan. Ijiri
(1975,1982) menyarankan kebijakan akuntansi dapat berfungsi sebagai
standar pengambilan keputusan atau akuntabilitas. Pendekatan pengambilan
keputusan sesuai dengan kriteria seperti decision-usefulness
dan
understandability sementara pendekatan akuntabilitas sesuai dengan kriteria
seperti kehandalan, netralitas dan objektivitas. Penelitian ini menerapkan
pandangan bahwa dalam kebijakan akuntansi akan bermanfaat jika
membedakan akuntansi yang memberikan informasi berdasarkan ramalan
(ex ante) dan informasi berdasarkan fakta (ex post) lalu dievaluasi terhadap
tujuan.
Levy et al. (1974) membedakan decision, outcome dan output. Decision
(keputusan) merupakan pilihan dari banyak alternatif. Ouput adalah barang dan
jasa yang disediakan serta outcome (hasil) adalah dampak dari output. Decision
merupakan syarat timbul output tetapi hanya menjelaskan sebagian outcome.
Terkait dengan IASC, decision adalah pilihan dari beberapa alternatif akuntansi
dan output adalah standar yang diusulkan atau dihasilkan. Figure 1 menunjukkan
wewenang IASC harus dipahami sebagai hubungannya dengan keterbatasan
struktural. Penelitian ini terkait dengan pertanyaan bagaimana yang lebih
menjelaskan (explanatory) pengaruh wewenang pada pengembangan standar
internasional.
3. Research Methodology
Penelitian mencari pemahaman lebih dalam mengenai pengalaman partisipan
atas proses IASC. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian ini
memilih dua proyek spesifik IASC yaitu pelaporan segmen dan aset tak berwujud
untuk dianalisa. Setiap proyek mengandung sejumlah isu dimana keputusan
harus diambil dari sejumlah alternatif akuntansi dan dikatakan sesuai dengan
penelitian ini karena empat alasan.
1. Terkait isu kontroversial dalam akuntansi yang tidak memiliki jawaban jelas
dan mudah. Hanya dengan berfokus pada isu, kami dapat memahami konflik
antar pelaku.

3
2. Beberapa isu dalam proyek ini menghasilkan komentar dari pelaku eksternal,
yang memungkinkan kami menentukan hubungan antara perilaku pelaku
dengan IASC.
3. Proyek dimulai dan melewati proses pada waktu yang sama sehingga melalui
mekanisme yang sama (misal susunan anggota dewan yang sama),
mengurangi kemungkinan terdapat pengaruh lainnya.
4. Dua proyek tsb merupakan inisiatif yang timbul baru-baru ini dan membantu
pekerjaan pengumpulan data, akses terhadap pihak yang relevan serta
hubungan terhadap pengamatan.
Pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah secara umum, bagaimana pelaku
mempengaruhi penyusunan standar akuntansi internasional? Secara khusus,
dapatkah konsep wewenang menjelaskan penyusunan proyek pelaporan segmen
dan aset tak berwujud yang dilakukan oleh IASC?
Sementara sub pertanyaan pada penelitian ini adalah:
1. Isu utama apa yang ada di setiap proyek ?
2. Apa hasil dari isu utama tsb ?
3. Apa preferensi pelaku eksternal pada isu tsb ?
4. Bagaimana pelaku eksternal mencoba mempengaruhi hasil ?
5. Apakah faktor mengenai pelaku eksternal terkait dengan preferensi dan jenis
pengaruh yang digunakan ?
6. Dapatkah kami menghubungkan hasil terhadap pengaruh eksternal ini ?
7. Mengapa proyek ini dimulai ?
8. Apa yang dilihat pelaku internal sebagai isu akuntansi utama dalam proyek
ini?
9. Apakah pelaku internal mengubah pemikirannya selama proses proyek ? Jika
ya, kapan dan mengapa ?
10.Sumber informasi apa (dan pentingnya) yang diandalkan pelaku internal
ketika memutuskan isu ini ?
11.Dapatkah pelaku internal menghubungkan hasil atau keputusan osi ini
terhadap sumber apa pun ?
Dua cara pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan
review dokumen. Wawancara mendalam dilakukan untuk memperoleh
pandangan dan pengalaman anggota IASC. Menurut aturan IASC, setiap anggota
dewan dapat mencalonkan tiga perwakilan untuk mengikuti dan memilih dalam
pengambilan suara. Daftar yang diperoleh dari IASC menunjukkan sekamir 50
nama perwakilan dari berbagai negara. Kriteria pemilihan orang yang
diwawancara yaitu:
1. Harus perwakilan dewan
2. Harus terlibat dengan IASC sebelum tahun 1998 sehingga mereka lebih
paham proses IASC dan dua proyek tsb.
Selain itu, pihak lain yang memiliki banyak informasi terkait tujuan penelitian
juga akan dipilih seperti staf IASC yang secara aktif terlibat dalam rapat IASC
atau menguasai dua proyek tsb. Pihak lain juga ditambahkan selama kunjungan
lapangan.
Wawancara dilakukan berdasarkan sub pertanyaan penelitian selama 7 bulan
dari Februari - Agustus 1998. Total terdapat 30 wawancara yang dilakukan dan
tercatat. Untuk menyusun analisis hasil wawancara, kami menggunakan suatu
software komputer bernama NUD*IST (Non-numeric Unstructured Data Indexing

4
Searching and Theorizing). Sebelumnya NUD*IST telah digunakan dalam
penelitian mengenai proses penyusunan standar akuntansi di Malaysia oleh
Selvaraj (1999).
Review dokumen dilakukan untuk menguji isu akuntansi dalam proyek pelaporan
segmen dan aset tak berwujud. Pertama, isu akuntansi utama dalam setiap
proyek diidentifikasi dari dua sumber berikut:
1. Dalam bagian invitation to comment setiap Draft Statements of Principles
(DSOP) dan Exposure Draft (ED), IASC Steering Committee mengajukan
sejumlah pertanyaan yang memerlukan umpan balik dari responden
2. Isu dimana setiap surat komentar disebutkan paling sering. Hasil dari isu ini
terselesaikan dalam Exposure Draft atau standar IASC.
Selanjutnya, isu dan hasil tsb dihubungkan terhadap preferensi pelaku eksternal
seperti yang dinyatakan dalam surat komentar. Setiap proyek menghasilkan dua
kumpulan surat komentar (dari DSOP dan ED selanjutnya) dari pelaku eksternal
yang berbeda. Empat surat komentar untuk setiap proyek diperiksa untuk
memahami preferensi pelaku eksternal.
Review dokumen surat komentar menggunakan analisis isi, yang berusaha
menempatkan teks naratif menjadi kategori-kategori untuk menghasilkan
kesimpulan mengenai isi. Dari review kita memperoleh tiga kategori mekanisme
pengaruh yaitu sanction, persuasion (ex ante- berdasarkan ramalan) dan
persuasion (ex post-berdasarkan fakta). Kita mencari kata kunci seperti
force;paksaan dan threat;ancaman untuk sanctions, keputusan, relevan dan
bermanfaat untuk persuasion (ex ante) serta dapat dibuktikan dan objektif
untuk persuasion (ex post). Pencarian dengan komputer tidak menggantikan
interpretasi peneliti dengan teliti. Proses pemberian kode dibandingkan dengan
apa yang telah dibaca dan dievaluasi peneliti untuk setiap surat komentar.
Setiap surat komentar merupakan unit analisis. Setiap kategori hanya dihitung
satu untuk setiap pernyataan, tanpa mempedulikan berapa kali responden
menyebutkannya. Kepentingan relatif dapat ditunjukkan ukuran seperti tingkat
ruang yang disediakan untuk setiap kategori. Kesulitan karena perbedaan font,
panjang kalimat serta nada suara yang digunakan, menjadikan upaya analisis isi
tidak dapat dipercaya. Penetapapan batas unit analisis sejalan dengan tujuan
analisis isi yaitu untuk mendokumentasikan apa yang responden gunakan untuk
mempengaruhi IASC pada surat komentar.
Pengumpulan data dimulai pada Februari 1998. Kami memperoleh dokumen
kunci (Draft Statements of Principles- DSOP, Exposure Draft-ED, ED yang telah
direvisi serta IAS final) untuk setiap proyek. Setiap surat komentar yang
dikumpulkan sebagai tanggapan terhadap DSOP digunakan untuk menentukan
sikap responden terhadap isu ini.
Untuk menilai pengaruh responden terhadap proyek, setiap surat komentar
diberi kode berdasarkan kesesuaian hasil pada dokumen IASC selanjutnya atau
dari Exposure Draft yang ada setelah DSOP. Jika surat komentar senang dengan
hasil dalam ED, diberi kode +1. Jika menentang diberi kode -1. Jika pendapat
netral atau diam saja mengenai perubahan diberi kode 0.

5
4. Influences on the Segment Reporting Project
Proyek pelaporan segmen merupakan revisi dari standar IASC yaitu IAS 14 yang
diterbitkan tahun 1981. Manajer proyek IASC berpendapat bahwa IAS 14 sangat
mirip dengan FAS 14, standar asli pelaporan segmen di Amerika Serikat. Sejak
FASB mulai merevisi standarnya bersama Canadian Institute of Chartered
Accountants (CICA), peristiwa ini menciptakan dorongan bagi IASC untuk
memeriksa standarnya.
FASB dan CICA memulai pendekatan untuk mendefinisikan segmen yang
mengandalkan struktur manajemen internal perusahaan. Pendekatan ini disebut
pendekatan manajemen. IASC Steering Committee merekomendasikan
pendekatan berbeda yang disebut pendekatan risk and reward, yang berarti
penilaian risiko dan hasil sebagai tujuan utama informasi segmen.
Seluruh pihak yang diwawancara mengatakan bahwa perbedaan yang dirasakan
dalam dua pendekatan merupakan isu utama dalam tahap DSOP proyek
pelaporan segmen. Seluruh surat komentar atas DSOP dibaca untuk
mengidentifikasi isu utama lainnya. IASC agenda paper yang bersifat non publik,
yang telah disediakan untuk penelitian ini juga diperiksa. Berdasarkan agenda
paper, surat komentar dan wawancara terhadap perwakilan dewan, diketahui isu
utama DSOP adalah pemilihan antara pendekatan risiko dan hasil dengan
pendekatan manajemen. IASC memilih pendekatan modifikasi manajemen
(modified management) pada exposure draft E51.
Tabel 1 menunjukkan hasil pengujian pengaruh kelompok stakeholder dan
tabulasi setiap kelompok stakeholder menurut preferensinya terhadap
pendekatan pelaporan segmen. Hasil menunjukkan isu yang diberi kode +1 lebih
banyak dari yang diberi kode -1. Analisis menunjukkan bahwa IASC dipengaruhi
oleh preferensi responden seperti yang dinyatakan pada surat komentar.
Untuk menguji hubungan antara variabel independen, kelompok stakeholder dan
pengaruh pada isu akuntansi digunakan chi-square. Bagian tengah tabel
menunjukkan kelompok stakeholder terkait dengan hasil isu akuntansi. Bagian
terakhir tabel menunjukkan pelaku eksternal mana yang paling berpengaruh.
Penyusun paling mendukung pendekatan manajemen (pendekatan yang
digunakan pada E51) karena 23 orang memilih pendekatan ini dibandingkan
pendekatan risiko hasil yang hanya didukung 6 orang sementara akuntan lebih
banyak mendukung pendekatan risiko dan hasil (pendekatan yang digunakan di
DSOP). 2 Responden dari kelompok pengguna mendukung pendekatan
manajemen sementara 2 responden dari kelompok regulator mendukung
pendekatan risiko dan hasil.
Perubahan signifikan pada exposure draft E51 adalah perubahan pendekatan
manajemen untuk menentukan segmen tetapi dengan safety net provision
untuk mencegah segmen memiliki risiko dan hasil yang berbeda. Sebagai hasil
perubahan, sebagian besar perusahaan harus meninjau sistem pelaporan
keuangan internalnya untuk mengidentifikasi segmen pelaporan. Dua
pendekatan di atas menimbulkan isu utama bagi E51 yaitu:
1) Apakah menerapkan pendekatan management/safety net atau pendekatan
manajemen
2) Apakah segmen eksternal terbatas pada pendapatan utama dari luar atau
mencakup segmen internal yang terintegrasi vertikal

6
3) Apakah batas pengukuran harus ditetapkan untuk menentukan segmen
eksternal atau sebagai batasan seluruh segmen internal
4) Apakah ukuran terstandarisasi hasil segmen diperlukan untuk seluruh
perusahaan atau terbatas pada pengukuran hasil segmen secara internal dan
5)
Apakah informasi segmen disiapkan menggunakan prinsip akuntansi
konsolidasi atau kebijakan akuntansi internal diperbolehkan.
Isu-isu di atas diberi kode berdasarkan hasilnya pada standar yang telah direvisi
yaitu IAS 14. Hasil menunjukkan perubahan dari E51 menjadi IAS 14, IASC telah
menyelaraskan preferensi sebagian besar responden karena isu yang diberi kode
+1 lebih banyak dari -1 sehingga menunjukkan IASC dipengaruhi oleh preferensi
responden. Untuk menguji hubungan antara variabel independen, kelompok
stakeholder dan pengaruhnya terhadap isu akuntansi juga menggunakan chisquare.
Hasil menunjukkan pengelompokan stakeholder baik untuk membedakan
variabel karena hasil signifikan ditunjukkan oleh 3 dari 5 isu yang ada. Hampir
semua (19 dari 28 responden-lihat tabel 2) penyusun memilih menggunakan
pendekatan manajemen murni sementara kebanyakan pengguna, akuntan dan
regulator memilih management/ safety net approach. 15 dari 23 responden
penyusun cenderung memilih batas dengan ukuran non kuantitatif (nonquantified thresholds) sementara kebanyakan pengguna, akuntan dan regulator
lebih suka batas yang dinyatakan secara kuantitatif (quantified thresholds).
Terkait hasil pelaporan segmen, 8 dari 15 penyusun menyarankan penggunaan
pengukuran internal sementara sebagian besar pengguna, akuntan dan regulator
cenderung menyukai hasil segmen yang terstandarisasi. Penyusun cenderung
mengingingkan fleksibilitas dalam pelaporan keuangan karena mereka ingin
mempertahankan kemampuan mempertimbangkan apa yang dilaporkan pada
pihak eksternal.
Tabel 3 merangkum mekanisme pengaruh surat komentar dalam DSOP dan E50.
Sanction terkait penggunaan ancaman untuk menghambat progres IASC
misalnya memboikot penggunaan IAS. Ketika pihak yang diwawancara ditanya
apakah mereka terpengaruh dengan pendapat ini, mereka menjawab negatif.
Saya tidak berfikir saya memberi banyak bobot terhadap surat komentar yang
menyatakan bahwa mereka tidak ingin melakukannya karena akan memaksa
perubahan pada mereka. Surat ini (menolak untuk mematuhi) sangat tidak
mencolok.
Tabel 3 menunjukkan proporsi pendapat jenis sanction yang digunakan
responden sangat kecil (bahkan tidak ada). Sebagian besar responden
mengandalkan argument ex-ante persuasion untuk mempengaruhi IASC (46
pada DSOP dan 51 pada E51).
Kerangka IASC menyatakan 4 karakteristik utama informasi laporan keuangan
yaitu dapat dipahami, relevan, dapat dibandingkan serta handal. Karakteristik
handal terkait dengan ex post (berdasarkan data aktual) sementara tiga
karakteristik lainnya terkait dengan ex ante (berdasarkan ramalan).
Berdasarkan uji statistik, preferensi kelompok stakeholder seperti pengguna dan
penyusun terlihat berpengaruh terhadap proyek pelaporan segmen. Sebagian
besar pihak yang diwawancara bahwa surat komentar yang diproses terutama
dari pengguna dan penyusun.

7
Sejak penerbitan DSOP, IASC Steering Committee mengadakan rapat beberapa
kali dengan perwakilan tim proyek Amerika Utara untuk mendiskusikan
persamaan dan perbedaan proyek pelaporan segmen mereka. Pihak yang
diwawancari mengatakan bahwa mereka tidak ingin standar pelaporan segmen
milik IASC terlalu berbeda dengan milik Amerika Utara karena akan
membingungkan pihak yang menerapkan. Hasilnya, tetap terdapat perbedaan
dimana standar IASC didasarkan pada pendekatan manajemen dengan safety
net provision untuk risiko dan hasil sementara standar Amerika Utara
menggunakan pendekatan manajemen murni.
Pihak yang diwawancara menyebutkan bahwa IOSCO dan anggota SEC
berpengaruh penting pada pertimbangan IASC. IAS 14 final (yang telah direvisi)
terlihat memberikan solusi yang menguntungkan bagi pihak-pihak terkait.
Standar memastikan bahwa penerapannya akan menghasilkan pelaporan
berkualitas tinggi. Kami masih dapat menyatakan bahwa pendekatan risiko dan
hasil masih merupakan inti standar sehingga penyusun diperbolehkan
menggunakan pendekatan manajemen bergantung pada risiko dan hasil yang
dihadapi.
5. Influences on the intangible assets project (pengaruhnya terhadap
proyek aset tak berwujud)
Berdasarkan pada dokumentasi IASC pada tahun 1994 dimana dewan
mengadposi aset tidak berwujud pada proyek tahun 1989 dengan staf yang
terbatas yaitu beberapa staf dan dewan utama. Kemdian proyek tersebut
diaktifkan kembali pada tahun 1993 dengan IOSCO sebagai salah satu yang ikut
dalam proyek. IASC sepakat bahwa aset tak berwujud meliputi paten, copy-right,
lisnesi, daftar pelanggan, brand, kuota impor, software komputer, leased
improvement, hak pemasran dan specilized know-how. Dan goodwill merupaka
aset tidak berwujud yang dibedakan dari semua aset tersebut karena goodwill
terbentuk melalui proses merger atau akuisisi yaitu bussiness combination
(penggabungan usaha). Accounting arbitrage mumcul sejak terdapat mejer yaitu
bagaimana melakukan penilaian terhada goodwill, walaupun goodwill dipisahkan
dari aset tak berwujud lainnya, akan tetapi prinsip perlakuannya sama.
Berdasarkan DSOP terdapat empat isu mengidentifikasi pengakuan dan
pengukuran terhadap semua aset tak berwujud tersebut yaitu :
1 Bagaimana pengakuan terhadap aset tak berwujud secara umum,
2 Berdasarkan apa periode amortosaso dilakukan,
3 Bagaimana penilaian ulang diperbolehkan dan bagaimana melakukannya,
4 Bagaimana jika terjadi hanya pada pasar skunder aktif
DSOP membedakan tiga aset tidak berwujud yaitu mendapatkannya terpisah
atau dari luar, mendapatkannya dari penggabungan usaha dan dari internal
perusahaan. Periode amortisasi aset tak berwujud menjadi hal yang kontroversial
dalam proyek tersebut. DSOP menetapkan bahwa penggunaaan masa manfaat
dari aset tak berwujud menjadi periode yang paling reliabel, amortisasi tidak
boleh kurang dari 5 tahun dan maksimal 20 tahun dari tanggal pengakuan dan
bisa dilakukan penyesuaian. DSOP menetapkan bahwa didalam nilai aset tak
berwujud termasuk nilai pengurangan atau amortisasi sehingga nilai bersihnya
tidak melebihi nilai perolehanya. Selain itu aset tidak berwujud bisa dilakukan
revaluasi akan tetapi dikurangi seluruh akumulasi amortisasi sehingga lebih

8
reliabel. DSOP beranggapan bahwa pengukuran yang reliabel sebagai referensi
dalam pasar sekunder, sehingga aset tak berwujud bisa dilakukan revaluasi.
Alternatif pengukuran tersebut diperbolehkan yaitu berdasar harga perolehannya
dan dan berdasarkan fair value apabila memasuki pasar sekunder. Maka terlihat
perbedaan posisi kepentingan IASC pada DSOP dan ED. Sehingga terdapat
perbedaan krusial antara following analis dan kebohongan laporan persegmen.
Dalam kondisi ini IASC tidak merubah posisi isu akuntansi dari dokumen satu ke
dokumen yang lain, sehingga terdapt hubungan signifikan antara aktor eksternal
dan IASC mengenai aktiva tak berwujud. Maka seja saat itu DSOP dan E50, atau
hubungan signifikan tersebut berdampak pada posisi IASC sejalan dengan aktor
eksternal dan tidak diperlukan pengaruh dari aktor eksternal. Kesimpulan
tersebut masih harus dikuatkan, analis masih memeliki segudang wawasan yang
berhubungan dengan dokumen yang berpengaruh pada aktor eksternal.
Dari 3 isu hasil tes binomial yaitu jumlah waktu dengan kode +1 lebih signifikan
daripada jumlah waktu dengan kode -1. Sehingga dokumen E50 sejalan dengan
hampir seluruh responden terhadap DSOP. Akan tetapi responden yang lebih
menyukai revaluasi dari aset tidak berwujud, dimana hampir sama dengan
responden yang bersikeras unyik melakukan revaluasi berdasarkan aktivitas nilai
pasar dan berpikir itu merupakan cara lain dengan menggunakan diskon dan
penilaian profesional.
Dari ED pertama E50 ke ED kedua E60 terdapat empat isu yaitu :
1 Periode amortisasi apa yang digunakan
2 Pada saat apa diperboleh kan revaluasi dan bagaimana caranya
3 Bagaimana dasar revaluasi hanya pada pasar sekunder
4 Bagaimana aplikasi standar yang diperlukan
E60 mengatakan bahwa periode amortisasi adalah asumsi awal yang dapat
disangkal dimana sebuah perusahaan dapat mengamortisasi lebih lama dari
periode yang ditentukan selama aset tersebut artinya secara periodik
diidentifikasi penurunnanya dan diungkapkan kenapa hal tersbut dilakukan. Dari
hasil statistik grup stakeholder terdapat dua perbedaan yaitu amortisasi lebih
dari 20 tahun dan kurang dari 20 tahun.
Dari hasil interview, terdapat tiga alasan yang digunakan mengapa aset tidak
berwujud menjadi topik yang sulit :
1 Keterbatasan teori konsensus
2 Wide-ranging isu akuntansi
3 Perbedaan pada dunia praktek
6. Contributions, limitations and suggestions for future research
( kontribusi, keterbatasan dan harapan untuk penelitian selanjutnya)
Walaupun pembuatan standart tidak terlepas dari pengaruh kekuasaan, akan
tetapi sejumlah penelitian melalui teori akuntansi positof mencoba untuk
memberikan pandangan berebda terhadap standart tersebut melalui kelompok
ataupun individu yang merupakan para parktisi.Penelitian ini menyadari bahwa
IASC memberikan kontribusi untuk membuat standart yang dapat mewakili
empat stakeholder yaitu pengguna, pembuat, akuntan dan pemerintah sebagai
regulator. IASC memberikan apa yang dibutuhkan oleh pengguna yang
menanamkan modal pada perusahaa. Bahkan secara umum dari interviewers
berargumentasi bahwa keberadaan IASC hadir karena adanya kepentingan pasar

9
modal. Oleh karena itu alasan bahwa kekuasaan yang paling besar adalah
regulator yang diwakili oleh IOSCO (yang merupakan sebagian besar anggota
SEC). Dan skenario terburuk bahwa IOSCO tidak mengkin mendelegasikan pada
IAS, sehingga menunjukkan kekatan laten IOSCO dalam laporan segmentasi dan
proyek aset tidak berwujud, akan tetapi tidak ada bukti bahwa proyek tersebut
diatur oleh IOSCO dan tidak diinterfensi oleh IOSCO sebagai tangan kebijakan
dalam proses IASC. Proses IASC untuk kebutuhan pengguna, penelitian
menunjukkan bahwa dalam dunia nyata menjadi poses yang sulit untuk
mencapai konsensus standar final karena akan ada banyak intepretasi yang
diperbolehkan. Secara keseluruhan proses IASC termasuk adanya kemungkinan
adanya proses aktual yang tidak sempurna atau tidak sejalan dengan tujuan dan
motovasinya. Startegi konsensus melalui beberapa negoisasi, kompromi dan
pertimbangan baik secara teknis maupun politik. Penelitian ini belum banyak
menjawab bagaimana proses dibelakang standart yaitu permasalahan inheren
seperti kekuasaan atau ketidaktahuan ilmuwan politik. Oleh karena itu
pandangan empiris bahwa banyak latar belakang yang berdampak pda
pembuatan standart tidak bisa diteliti. Pengumpulan data pada penelitian ini
hanya ada dua dari tiga dogma kualitatif data yaitu melalui pemeriksaan dan
pertanyaan, dan untuk melakukan praktek secara langsung tidak digunakan
dalam penelitian ini. Maka untuk penelitian selanjutnya diharapkan peneliti dapat
terlibat secara langsung dengan melakukan diskusi dan pertemuan terhadap
IASC. Akan tetapi sejaka pertemuan IASC menjadi tertutup maka hal ini akan
sulit dilakukan. Pertmbangan waktu dan tempat untuk selalu mengikuti
pertemuan IASC dalam mencari data mejadi hal yang tidak diperbolehkan,
sehingga penelitan ini akan melelahkan dalam pengumpulan data, segingga
diharapkan penelitian selanjutnya terlibat dalam proses IASB dapat berguna
dalam mengumpulkan data dan menghasilkan perspektif yang berbeda.