Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN FIELD LAB

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS)

KELOMPOK A 1
MULTAZAM HANIF

(G0012141)

HANUGROHO

(G0012089)

RISNU ARDIAN W

(G0012189)

AZMI FARAH FAIRUZYA

(G0012039)

IVO ARYENA

(G0012099)

PUTRI NUR KUMALASARI

(G0012167)

ASTRID ASTARI AULIA

(G0012033)

CHRISANTY AZZAHRA Y

(G0012047)

IGA KUSTIN M

(G0012093)

MARTINA DWI ARIANDINI

(G0012127)

WIDORETNO PRABANDARI

(G0012229)

ARTRINDA A K S P

(G0012029)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2015

LEMBAR PENGESAHAN
JUDUL KEGIATAN:
MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS)
TATANAN PENDIDIKAN
PUSKESMAS PRAMBANAN, KLATEN
BIDANG KEGIATAN:
FIELD LAB
PELAKSANA:
MULTAZAM HANIF

(G0012141)

HANUGROHO

(G0012089)

RISNU ARDIAN W

(G0012189)

AZMI FARAH FAIRUZYA

(G0012039)

IVO ARYENA

(G0012099)

PUTRI NUR KUMALASARI

(G0012167)

ASTRID ASTARI AULIA

(G0012033)

CHRISANTY AZZAHRA Y

(G0012047)

IGA KUSTIN M

(G0012093)

MARTINA DWI ARIANDINI

(G0012127)

WIDORETNO PRABANDARI

(G0012229)

ARTRINDA A K S P

(G0012029)

TEMPAT DAN WAKTU:


PUSKESMAS PRAMBANAN
11 Maret - 8 April 2015

Mengetahui,
Kepala Puskesmas Prambanan

H. Ahmad Budoli, dr.


NIP.196912151998031004

Instruktur Lapangan

Restu Kuswijayanti, dr
NIP.197505012006042001

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................1
B. Tujuan Pembelajaran....................................................................2
BAB II

KEGIATAN YANG DILAKUKAN ...............................................3

BAB III

PEMBAHASAN...............................................................................5

BAB IV

PENUTUP............................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................16
LAMPIRAN...............................................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Setiap tahun, lebih dari sepuluh juta anak di dunia meninggal sebelum
mencapai usia 5 tahun. Lebih dari setengahnya disebabkan dari 5 kondisi
yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati antara lain pneumonia, diare,
malaria, campak, dan malnutrisi serta seringkali kombinasi beberapa penyakit
(Soenarto, 2009). Hal tersebut dapat disebabkan oleh rendahnya kualitas
pelayanan kesehatan.
Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh masalah
dalam keterampilan petugas kesehatan, sistem kesehatan, dan praktek di
keluarga dan komunitas. Perbaikan kesehatan anak dapat dilakukan dengan
memperbaiki manajemen kasus anak sakit, memperbaiki gizi, memberikan
imunisasi, mencegah trauma, mencegah penyakit lain, dan memperbaiki
dukungan psikososial (Soenarto, 2009). Berdasarkan alasan tersebut,
muncullah program Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dalam bahasa Inggrisnya yaitu
Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu manajemen
melalui pendekatan terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit yang
datang di pelayanan kesehatan, baik mengenai beberapa klasifikasi penyakit,
status gizi, status imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebut, dan
konseling yang diberikan (Surjono et al.; Wijaya, 2009; Depkes RI, 2008)
Materi MTBS terdiri dari langkah penilaian, klasifikasi penyakit,
identifikasi tindakan, pengobatan, konseling, perawatan di rumah, dan kapan
kembali untuk tindak lanjut. Sasaran MTBS adalah anak umur 0-5 tahun dan
dibagi menjadi dua kelompok sasaran yaitu kelompok usia 1 hari sampai 2
bulan dan kelompok usia 2 bulan sampai 5 tahun (Depkes RI, 2008).
Kelompok usia 1 hari sampai 2 bulan disebut juga Manajemen Terpadu Bayi
Muda (MTBM). MTBS telah digunakan dilebih dari 100 negara dan terbukti
dapat:
1. Menurunkan angka kematian balita.

2.
3.
4.
5.

Memperbaiki status gizi.


Meningkatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Memperbaiki kinerja petugas kesehatan.
Memperbaiki kualitas pelayanan dengan biaya lebih murah.

B. Tujuan Pembelajaran
Adapun tujuan pembelajaran pada topik keterampilan MTBS ini adalah
diharapkan mahasiswa:
1. Mampu melakukan penilaian balita sakit dengan menggunakan pedoman
MTBS.
2. Mampu menentukan klasifikasi masalah balita sakit dengan menggunakan
pedoman MTBS.
3. Mampu menilai status gizi balita (klinis dan antropometris) menurut
aturan WHO 2005 dan memeriksa adanya penyakit penyerta.
4. Mampu melakukan dan menyarankan tindakan berdasarkan klasifikasi
balita sakit pada pedoman MTBS.
5. Mampu melakukan pendampingan konseling balita sakit berdasarkan
pedoman MTBS berupa perawatan di rumah.
6. Mampu melakukan pendampingan konseling berupa kapan kembali untuk
tindak lanjut.

BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

A. Kegiatan Pra-Lapangan
Sebelum melaksanakan kegiatan di lapangan, terlebih dahulu mahasiswa
mengikuti kuliah pengantar kegiatan Field Lab. Kuliah pengantar ini sedikit
memberikan gambaran teoritis mengenai Komunikasi, Infomasi, dan Edukasi
(KIE) Pembinaan Posyandu Lansia.
Setelah mengikuti kuliah pengantar, mahasiswa juga mengikuti kegiatan
pre-test tertulis dari bagian Field Lab yang bertempat di FK UNS. Pre-test ini
dilaksanakan untuk menguji seberapa jauh materi yang telah dipahami oleh
mahasiswa.
Pada hari Rabu tanggal 27 April 2016 perwakilan kelompok kami
melakukan survey ke Puskesmas Karangpandan, Karanganyar. Perwakilan
kelompok kami disambut baik oleh dokter Wahyudi selaku instruktur. Dalam
kegiatan ini kami mengantarkan surat dari kantor Field Lab UNS kemudian
kami diberi pengarahan mengenai perencanaan dan persiapan pelaksanaan
kegiatan pada minggu berikutnya oleh pihak puskesmas.
B. Kegiatan Lapangan Hari Pertama (Rabu, 4 Mei 2016)
Kegiatan hari pertama dilaksanakan hari Rabu tanggal 4 Mei 2016. Kami
berangkat sekitar pukul 06.00 WIB dan setibanya disana sekitar pukul 08.00
WIB. Sesampainya di Puskemas, dokter Wahyudi dan Ibu Lilis selaku
pengampu program lansia memberikan pengarahan mengenai materi
Komunikasi, Infomasi, dan Edukasi (KIE) Pembinaan Posyandu Lansia dan
kegiatan apa saja yang harus kami lakukan pada lapangan hari kedua.
Kegiatan tersebut berupa penyuluhan, pengukuran tekanan darah, pengukuran
berat badan, senam lansia dan pemberian makanan tambahan untuk lansia di
Posyandu Lansia Bakalan.
C. Kegiatan Lapangan Hari Kedua (Rabu, 11 Mei 2016)
Hari kedua kami berangkat sekitar pukul 06.00 WIB dan setibanya disana
sekitar pukul 08.00 WIB. Selanjutnya saat di Puskesmas Karangpandan kami

mempersiapkan alat-alat yang digunakan untuk penyuluhan di Posyandu


Lansia Bakalan. Kami tiba di Posyandu Lansia Bakalan sekitar pukul 10.00
WIB. Kegiatan pertama yang kami lakukan disana adalah mengukur berat
badan dan tekanan darah lansia. Lansia yang hadir pada Posyandu Lansia
Bakalan pada hari itu adalah 28 orang. Setelah pengukuran berat badan dan
tekanan darah, dilanjutkan dengan penyuluhan dengan materi osteoartritis.
Saat penyuluhan, para lansia antusias mendengarkan dan ikut berdiskusi.
Pukul 11.30 WIB, kegiatan kami lanjutkan dengan senam lansia bersama dan
para lansia tampak bersemangat. Kami mengakhiri kegiatan lapangan hari
kedua dengan pemberian makanan tambahan untuk lansia berupa bubur dan
foto bersama. Lalu kami kembali ke puskesmas dan berpamitan kepada
dokter Wahyudi serta Ibu Lilis.
D. Kegiatan Lapangan Hari Ketiga (Rabu, 18 Mei 2016)
Pertemuan ketiga kami melakukan presentasi dan menyerahkan laporan
kegiatan Field Lab Komunikasi, Infomasi, dan Edukasi (KIE) Pembinaan
Posyandu Lansia di Puskesmas Karangpandan, Karanganyar. Kami menerima
segala kritik atau saran dari kepala puskesmas, instruktur dan pengampu
program lansia atas laporan yang telah kami buat. Setelah semuanya selesai,
kami mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pihak dari
Puskesmas Karangpandan atas kelancaran program Field Lab Komunikasi,
Infomasi, dan Edukasi (KIE) Pembinaan Posyandu Lansia.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Prosedur Kerja
1. Melakukan pengamatan pelaksanaan MTBS di Puskesmas Prambanan.
2. Melakukan penilaian anak balita sakit berdasarkan keluhan dan
3.
4.
5.
6.

pemeriksaan sesuai bagan MTBS.


Menentukan klasifikasi penyakit sesuai bagan MTBS.
Menentukan penanganan / tindakan masalah berdasarkan bagan MTBS.
Memberikan konseling perawatan di rumah berdasarkan bagan MTBS.
Memberikan konseling tentang perawatan tindak lanjut berdasar bagan

MTBS.
7. Menilai status gizi balita (klinis dan antropometris) menurut aturan
WHO 2005 dan memeriksa adanya penyakit penyerta.
8. Melakukan pengisian form MTBS dari Puskesmas Prambanan.
B. Kegiatan MTBS
Pendekatan MTBS terdiri dari beberapa langkah yaitu, penilaian
terfokus, klasifikasi penyakit, identifikasi tindakan, pengobatan, konseling,
perawatan di rumah dan kapan kembali. Bagan penilaian terfokus terdiri dari
petunjuk dan langkah untuk mencari riwayat penyakit dan pemeriksaaan fisik
pada balita sakit. (Surjono et al.,1998)
Penilaian terfokus
a. Tanda bahaya umum
Tanda bahaya umum yang diperhatikan pada saat MTBS meliputi 3 hal
yaitu:
- Apakah anak bisa minum/menyusu?
- Apakah anak selalu memuntahkan semuanya?
- Apakah anak menderita kejang?
- Apakah anak letargis atau tidak sadar?
Anak dengan tanda bahaya umum memerlukan penanganan segera dan
serius.
b. Gejala utama
Gejala utama adalah keluhan yang membawa pasien datang kepada tim
medis untuk diperiksakan. Jika didapatkan keluhan utama maka kita
melakukan penilaian lebih lanjut mengenai gejala lain yang berhubungan

dengan gejala utama kemudian mengklasifikasikan penyakit anak


berdasarkan gejala yang ditemukan.
c. Status gizi
Status gizi balita menurut WHO adalah mencocokkan umur anak (bulan)
dengan berat atau tinggi badan standar pada tabel WHO-NCHS (World
Health Organization-National Center for Health Statistic).
Menurut Prof. Dr. Ir. Ali Khomsa, MS cara menghitung status gizi balita
adalah dengan menimbang berat badan menurut umur (BB/U), berat
badan menurut tinggi badan (BB/TB), dan mengukur tinggi badan
menurut umur (TB/U). Hasilnya dikelompokkan dalam normal, kurus/
underweight dan gemuk/ overweight.
d. Status Imunisasi
Pada alur pendekatan MTBS, dinilai pula status imunisasi pada balita.
Para petugas kesehatan telah mengakui manfaat dari program upaya
preventif/ pencegahan, contohnya adalah program imunisasi. Penekanan
yang terbaru adalah berkaitan dengan konsep promosi kesehatan yang
mengutamakan kesehatan yang optimal dan kesejahteraan anak daripada
hanya penanganan pada saat ada masalah.
e. Masalah Lain
Setelah memeriksa adanya tanda bahaya umum, menanyakan keluhan
utama, memeriksa status gizi, status imunisasi, dan pemberian vitamin
A, harus ditanyakan adakah masalah atau keluhan-keluhan lain yang
dialami balita. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya keluhan atau
masalah yang belum ditanyakan petugas atau belum disebutkan oleh ibu
atau pengantar pasien.
Konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang
konselor kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya
membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri,
mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi
krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya. Koseling merupakan bagian
inti dari kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih berkenaan dengan
masalah individu secara pribadi konseling dalam alur MTBS. Pemberian
konseling menjadi keunggulan dan sekaligus pembeda dari alur pelayanan
selain/sebelum dari MTBS. Materi yang diberikan ketika konseling meliputi

kepatuhan meminum obat, cara meminum obat, menasihati cara pemberian


makanan sesuai umur, memberi nasihat kapan melakukan kunjungan ulang
atau kapan harus kembali segera.
C. Pembahasan Hasil Kegiatan
KASUS 1
Tanggal kunjungan

: 25 Maret 2015

Kunjungan ke

:1

Nama anak

: Aulia

Jenis kelamin

: perempuan

Umur

: 48 bulan (4 tahun)

Berat badan

: 17,5 kg

PB/TB

: 96,5 cm

Suhu badan

: 39,30 C

Keluhan utama

: Panas, batuk, pilek 3 hari

Pembahasan:
Tanda bahaya seperti tidak bisa minum/menyusu, memuntahkan semua
makanan, kejang, dan letargis atau tidak sadar tidak didapatkan pada pasien
Aulia.

Jika

terdapat

tanda

bahaya

maka

akan

digunakan

untuk

mengklasifikasikan pada keluhan selanjutnya serta menjadi indikasi rujukan.


Pasien mengalami batuk berdahak sudah tiga hari, dengan disertai
sukar bernapas. Pada hitungan napas didapatkan 43 kali per menit, yang
berarti napas pasien tergolong napas cepat. Kemudian dilakukan
pemeriksaan laboratorium pada pasien, dan didapatkan leukosit dengan
jumlah 12.300/mm3 dengan rentang normal 3200 10.000/mm3. Kenaikan
leukosit ini berarti menunjukkan adanya infeksi. Dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan laboratorium pada pasien diagnosis mengarah pada pneumonia
dikarenakan terdapat tanda-tanda pneumonia (napas cepat, bukan karena
menangis)

dan

adanya

kenaikan

jumlah

leukosit.

penatalaksanaan yang diberikan pada pasien yaitu:

Konseling

dan

1. Pemberian antiobiotik yang sesuai.


2. Pemberian pelega tenggorokan
dan pereda batuk yang aman.
3. Jika batuk lebih dari 3 minggu,
rujuk

untuk

pemeriksaan

lanjutan.
4. Nasihati kapan kembali segera
5. Kunjungan ulang 2 hari
Di puskesma prambanan, tatalaksana yang diberikan untuk Aulia sendiri
adalah antibiotik (kotrimoksazol), penurun demam (parasetamol), dan CTM
untuk pelega tenggorokan dan pilek. Selain itu pasien juga dinasihatkan
untuk kembali 2 hari lagi ketika obat sudah habis. Hal ini sudah sesuai
dengan tindakan/ pengobatan pada bagan MTBS.
Keluhan diare tidak didapatkan. Jika didapatkan, anak dinilai apakah
letargis, rewel, dan adakah mata cekung. Jika terdapat diare, berikan minum;
apakah pasien anak susah minum atau tidak. Selain itu dilakukan uji cubit
perut untuk menilai turgor, dikatakan baik jika kembali dalam waktu kurang
dari 2 detik. Apabila anak mengalami diare lakukan klasifikasi : ringan/tanpa
dehidrasi, sedang, atau berat, diare persisten, atau desentri serta melakukan
tatalaksana sesuai kasus.
Aulia mengalami demam selama 3 hari. Suhu badan anak ketika
diperiksa dengan termometer menunjukkan angka 39,3O C. Pada anak tidak
didapatkan resiko adanya Malaria, tidak pernah mendapat obat anti malaria,
dan tidak bepergian ke tempat dengan resiko malaria. Tidak ada tanda kaku
kuduk dan pilek. Tanda Campak pada anak negatif, tidak ditemukan adanya
ruam kemerahan di kulit yang menyeluruh. Apabila anak mengalami campak
saat ini atau dalam 3 bulan terakhir maka perlu diidentifikasi adanya luka di
mulut, nanah pada mata dan kekeruhan pada kornea. Demam pada anak
belum masuk dalam klasifikasi demam berdarah sebab pada anak tidak
didapatkan riwayat demam tinggi tiba-tiba, perdarahan gusi dan hidung,
riwayat muntah, berak berwarna hitam, nyeri ulu hati, anak gelisah, tanda-

tanda syok (ujung ekstremitas dingin dan nadi lemah/tidak teraba), serta
bintik perdarahan di kulit. Maka pada anak Aulia didapatkan klasifikasi
Demam mungkin Bukan DBD. Penatalaksanaan demam pada anak dapat
diberikan parasetamol. Edukasi pada Ibu dapat disarankan memberi minum
anak yang banyak, mengompres dengan air hangat, dan Ibu harus kembali 2
hari lagi jika anak masih demam.
Pemeriksaan masalah telinga tidak didapatkan adanya infeksi telinga.
Pemeriksaan ini meliputi nyeri telinga, nanah/cairan keluar dari telinga, dan
pembengkakan di belakang telinga.
Pemeriksaan status gizi dilakukan dengan membandingkan BB dan TB,
lalu dicocokkan dengan tabel status gizi menurut WHO. Pasien anak Aulia
dalam status gizi normal, dimana pada tabel anak Aulia dalam range warna
hijau yakni dengan nilai antara -2SD sampai +2SD. Pada Ibu diberikan
edukasi mengenai : (1) Pemberian makanan 3 kali sehari, dengan porsi 1/3
sampai porsi dewasa dengan memenuhi kriteria minimal 4 sehat, (2)
Pemberian makanan selingan kaya gizi dalam 2 kali sehari diantara waktu
makan.
Pemeriksaan tambahan hanya dilakukan jika anak kurus atau anemia
dengan umur < 2 tahun, yaitu dengan menanyakan riwayat pemberian ASI
dan nutrisi. Ditanyakan mengenai riwayat ibu menyusui anak apakah rutin,
dalam satu hari berapa kali, menyusui pada malam hari, riwayat pemberian
makanan selain ASI (jika iya, ditanyakan jenisnya apa, berapa kali sehari, dan
alat yang digunakan untuk memberi makan). Jika anak kurus ditanyakan
mengenai pemberian makanan/minuman pada anak, apakah anak mendapat
makanan sendiri, siapa yang memberikan makan dan bagaimana caranya,
serta apakah selama sakit adanya perubahan pemberian makan. Tatalaksana
pada pasien yaitu: (1) Ibu perlu melakukan bujukan kepada anak lebih giat
agar anak tetap mendapatkan nutrisi, jika perlu temani anak ketika akan
makan sampai benar-benar selesai makan, (2) Beri makan yang disukai anak
dengan tetap memperhatikan gizinya, (3) Porsi makan harus tercukupi, dan
(4) Dapat dilakukan variasi makanan agar anak tidak bosan.

Pada pemeriksaan anemia tidak didapatkan karena pada pasien tidak


ada tanda anemia yaitu pucat (agak pucat atau sangat pucat). Jika ada,
klasifikasikan dalam anemia atau anemia berat serta memberikan tatalaksana
sesuai klasifikasi.
Status imunisasi pada pasien Aulia lengkap sesuai jadwal.
Dikarenakan sudah lengkap, tidak dilakukan pemberian imunisasi pada saat
kunjungan. Imunisasi yang dinilai meliputi BCG, HB-C, HB-1-3, DPT-1-3,
Campak, Polio-1-4.
Pasien tidak diberikan vitamin A saat kunjungan. Jadwal pemberian
vitamin A adalah bulan Februari dan Agustus, sehingga anak tidak diberikan
vitamin A. Vitamin A akan berfungsi salah satunya untuk tatalaksana campak.
Masalah lain tidak didapatkan pada pasien anak Aulia. Kunjungan
ulang dilakukan 2 hari lagi apabila anak masih demam dan 5 hari lagi apabila
anak masih batuk.
KASUS 2
Tanggal kunjungan

: 25 Maret 2015

Kunjungan ke

:1

Nama anak

: Deva

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 44 bulan (3tahun 8 bulan)

Berat badan

: 17 kg

PB/TB

:-

Suhu badan

: 36,40 C

RR

: 29x/ menit

Keluhan utama
sejak tadi malam
Pembahasan :

Gatal

diseluruh

tubuh

Pada pasien tidak ditemukan tanda bahaya seperti tidak


bisa minum, memuntahkan semua makanan, kejang, dan
letargis. Apabila terdapat tanda bahaya seperti yang tersebut
diatas maka perlu penanganan segera sehingga apabila perlu
rujukan tidak akan terlambat.
Pasien

anak

Deva

datang

dengan

keluhan

gatal

seluruh tubuh. Pada kulit badan pasien terlihat adanya


benjolan tipis eritematosa dan papula. Menurut ibu, anak
mulai

mengalami

gatal-gatal

pada

saat

malam

sehari

sebelumnya. Riwayat alergi pada pasien disangkal oleh orang


tua. Orang tua mengatakan bahwa gejala pada pasien tidak
dipicu oleh suatu kondisi tertentu. Kemungkinan diagnosis
kerja pada anak yaitu urtikaria. Biasanya pasien dengan
urtikaria akan mengalami siklus itch-scratch cycle, yaitu
perasaan gatal hingga menyebabkan rasa ingin menggaruk
dan kemudian akan menyebabkan rasa gatal semakin parah.
Berikut klasifikasi urtikaria berdasarkan waktunya:
1. Akut (sampai 6 bulan secara terus-menerus)
2. Kronis (lebih dari 6 bulan secara terus-menerus)
3. Episodik (akut intermiten atau rekuren)
Pada pasien kadang kala urtikaria ini dapat menimbulkan
angioedema disertai pembengkakan bibir, lidah, kelopak
mata, dan laring. Angioedema merupakan suatu keadaan
darurat medis. Bila muncul reaksi berat seperti bengkak pada
wajah, mulut dan lidah, sesak nafas, sulit menelan, nyeri
perut, muntah, diare, lemah, pusing segera datang ke unit
gawat darurat.
Keluhan diare tidak didapatkan. Jika didapatkan, anak
dinilai apakah letargis, rewel, mata cekung. Jika terdapat
diare, berikan minum; apakah pasien anak susah minum atau

tidak. Selain itu dilakukan uji cubit perut untuk menilai turgor,
dikatakan baik jika kembali dalam waktu kurang dari 2 detik.
Apabila

anak

mengalami

diare

lakukan

klasifikasi

ringan/tanpa dehidrasi, sedang, atau berat, diare persisten,


atau desentri; dan melakukan tatalaksana sesuai kasus.
Anak tidak mengalami demam baik saat pertama
terjadi gatal di seluruh tubuh maupun ketika di periksa di
puskesmas

menggunakan

termometer.

Anak

juga

tidak

mengalami masalah telinga maupun batuk. Jadi pada anak ini


hanya mengalami urtikaria dan tidak termasuk dalam MTBS,
penanganan yang diberikan dari pihak puskesmas :
1. Memberikan bedak salisilat
2. Memberikan

edukasi

kepada

ibu

pasien

membersihkan tempat tidur pasien secara rutin.


KASUS 3
Tanggal kunjungan

: 11 Maret 2015 17 Maret 2015

Kunjungan ke

: - (Rawat Inap)

Nama anak

: Sarwanto

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 3 Tahun 11 Bulan

Berat badan

: 9,6 kg (keluar)

PB/TB

: (tidak mengukur)

Nadi

: 88 kali

Keluhan

: Dehidrasi

Diagnosis masuk

: Dehidrasi pada Gizi buruk

Diagnosis keluar

: Gizi Buruk tipe Marasmik

Keluhan Penyerta

:-

Pemeriksaan Lab

: Darah dan Elektrolit darah

untuk

Pembahasan :
Tanda bahaya seperti tidak bisa minum/menyusu, memuntahkan semua
makanan, kejang, dan letargis atau tidak sadar tidak didapatkan pada pasien
Sarwanto. Jika terdapat tanda bahaya, maka akan digunakan untuk
mengklasifikasikan pada keluhan selanjutnya serta menjadi indikasi rujukan.
Hasil pemeriksaan status gizi yang didapatkan dari rumah sakit tempat
pasien menjalani rawat inap menunjukkan bahwa pasien anak Sarwanto
tergolong berstatus gizi buruk. Dalam MTBS masuk dalam penilaian BB/
(TB) < -3 SD.
Dilakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan lab darah dan
elektrolit darah.
Penatalaksanaan pada pasien ini diberikan Cotrimoksazol, Besi, dan
Asam Folat, serta Zinc, juga diberikan formula 75 serta dilakukan diet F100/3
jam.
Disamping itu, konseling pada ibu yakni perlu melakukan bujukan
kepada anak lebih giat supaya anak mendapatkan nutrisi yang cukup, jika
perlu temani anak ketika mau makan sampai benar-benar selesai makan; beri
makan yang disukai anak dengan tetap memperhatikan gizinya; porsi makan
harus tercukupi; dan dapat dilakukan variasi makanan agar anak tidak bosan.
Masalah lain tidak didapatkan pada pasien anak Sarwanto. Kunjungan
kembali harus segera dilakukan ke Instalasi Gawat Darurat bila terjadi
demam tinggi, sesak nafas, dan anak tidak mau makan.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) adalah suatu
pendekatan terpadu dalam tatalaksana balita yang datang ke fasilitas rawat
jalan pelayanan kesehatan dasar yang meliputi upaya kuratif, promotif,
preventif,

dan

rehabilitatif.

Program

MTBS

di

Puskesmas

Prambanan, Kabupaten Klaten sudah terlaksana dengan


baik dan sesuai alur atau bagan MTBS.
Pelaksanaan kegiatan field lab kelompok kami dengan
topik Keterampilan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
di

Puskesmas

Prambanan,

Kabupaten

Klaten

secara

keseluruhan telah terlaksana dengan baik dan lancar,


meliputi

pengarahan

dan

pembekalan

materi,

pembelajaran MTBS di poli KIA, presentasi dan pembuatan


laporan.
B. Saran
Pelaksanaan program MTBS di wilayah Puskesmas
Prambanan,

Kabupaten

Klaten

diharapkan

dipertahankan atau lebih ditingkatkan lagi


menambah

kemampuan

dan

dapat

dengan cara

keterampilan

petugas

kesehatan dalam tatalaksana kasus melalui pelatihan MTBS


yang efektif dan efisien, serta meningkatkan kualitas
sarana dan prasarana program MTBS agar pelayanan
kesehatan dapat berlangsung lebih baik dan lancar. Selain
itu juga perlu meningkatkan promosi kesehatan balita agar
masyarakat tidak ragu untuk memeriksakan anak balitanya
sedini mungkin ke poli KIA di puskesmas.

Bagi

mahasiswa,

diharapkan

dapat

meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan diri mengenai program


MTBS agar dapat menerapkan pengetahuan tersebut kelak
dan

turut

mendukung

keberhasilan

MTBS

dalam

meningkatkan derajat kesehatan anak khususnya balita.


Sebaiknya mahasiswa membekali diri dengan peralatan
pemeriksaan

tanda

vital

agar

kedepannya lebih berjalan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

pelaksanaan

MTBS

Depkes RI. 2008. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Soenarto, Yati. MTBS: Strategi untuk Meningkatkan Derajat Kesehatan Anak.
Disampaikan pada Simposium Pediatri TEMILNAS 2009. Surakarta, 1
Agustus 2009.
Surjono, Achmad. Endang, D.L. Alan, R. Tumbelaka. Et al. 1998. Studi
Pengembangan Puskesmas Model Dalam Implementasi Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS).
Tim Field Lab FK UNS. 2015. Ketrampilan : Managemen Terpadu Balita Sakit
(MTBS). Surakarta: FK UNS.

LAMPIRAN

Anamnesis Pasien

Pemeriksaan tanda vital pasien

Konseling

Kegiatan MTBS di Puskesmas Prambanan

Kunjungan terhadap pasien gizi buruk