Anda di halaman 1dari 42

KUMPULAN ABSTRAK SKRIPSI ALUMNI JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNDIKSHA SINGARAJA


TAHUN AKADEMIK 2011/2012
NO
1.

NAMA
NI LUH PUTU SERIASIH

NIM
0712031004

JUDUL SKRIPSI
WAYANG LEMAH DI DESA PENARUKANTABANAN:
(SEBUAH KAJIAN SENI RUPA)

TANGGAL
YUDISIUM
31 JANUARI 2012

Abstrak :
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) sejarah keberadaan wayang lemah di Desa Penarukan, Tabanan (2) rupa wayang lemah
di Desa Penarukan, Tabanan (3) tata artistik pertunjukan wayang lemah di Desa Penarukan, Tabanan.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan subyek penelitian dengan menggunakan metode impiris dan metode survey. Sasaran
penelitian ini adalah dalang wayang lemah di Desa Penarukan, Tabanan. Instrumen yang digunakan adalah (1) instrumen observasi (2)
instrumen wawancara (3) instrumen dokumentasi (4) instrumen kepustakaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) teknik
observasi (2) teknik wawancara (3) teknik dokumentasi (4) teknik kepustakaan.
Hasil penelitian ini menunjukkan (1) sejarah dan keberadaan wayang lemah di Desa Penarukan awalnya berasal dari Puri Agung
Kerambitan dan diwariskan ke Gria Gede Penarukan, wayang lemah ini berumur sekitar 900 tahun (2) rupa wayang lemah di Desa
Penarukan hampir sama dengan rupa wayang kulit Bali secara umum, kresna memakai gelungan agung, rahwana memakai gelungan kurung
agung, yudhistira memakai gelungan kaklingan, arjuna memakai gelungan supit urang, calya memakai gelungan prabu (3) tata artistik
pertunjukan wayang lemah di Desa Penarukan, Tabanan adalah saat pementasan wayang lemah pada siang hari, tidak memakai klir (layar
putih) melainkan memakai benang tridatu (benang putih, benang merah, benang hitam) sebagai pengganti klir, tidak memakai lampu
blencong, sebagai pusat sinar adalah matahari.
Kata Kunci : Wayang Lemah, Rupa wayang, Artistik pertunjukan

Abstract
This study aims to describe (1) the historical existence of a lemah puppet at Penarukan village, Tabanan (2) the form of lemah
puppet at Penarukan village, Tabanan (3)the artistic of lemah puppet show at Penarukan village, Tabanan.
The approach that in that used in this study was the approach of subject research methods by using impiris method and survey
method. The objectivity of this study was the puppeteer of lemah pupet at Penarukan village, Tabanan. The Instruments that used
were (1) observation instument (2) interview instrument (3) documentation instrument (4) library instrument. The techniques of
data collection that use were (1) observation technique (2) interview techniques (3) technical documentation (4) technical
literature.
The results of this study indicate (1) the history and the presence of a lemah puppet at Penarukan village originally came from
Kerambitan and Puri Agung Gede Penarukan Gria inherited, this lemah puppet was about 900 years (2) the form of lemah
puppet at Penarukan village almost similar to Balinese puppet in general, Krishna wearing great bun, Ravana wearing great coil
brackets, yudhistira wearing coil kaklingan, arjuna wearing chopsticks urang bun, calya wearing bun prabu (3) the show of
lemah puppet artistic at Penarukan village, Tabanan is currently staging a weak puppet in the afternoon day, it did not use klir
(white screen) instead of klir it used yarn tridatu (white thread, red yarn, black yarn) , it did not used Blencong light, as the
center of the sun's rays.
Key words: Lemah puppet, puppet art, show artistic

2.

I PUTU SUKA KARUNIA


ARTA

0712031014

SENI BORDIR LUKIS DI DESA KESIMAN,


KOTA DENPASAR

31 JANUARI 2012

Abstrak :

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) sejarah keberadaan seni bordir lukis di Desa Kesiman, Kota Denpasar (2)
sistem pewarisan seni bordir lukis di Desa Kesiman, Kota Denpasar (3) bahan dan alat yang digunakan dalam proses
pembuatanseni bordir lukis di Desa Kesiman, Kota Denpasar (4) proses pembuatanseni bordir lukis di Desa Kesiman, Kota
Denpasar (5) jenis-jenis ornamen yang dihasilkan pada seni bordir lukis di Desa Kesiman, Kota Denpasar.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan subyek penelitian dengan pengambilan sampel menggunakan tehnik purposive
sampling. Sasaran penelitian ini adalah seni bordir lukis di Desa Kesiman, Kota Denpasar. Instrumen yang digunakan adalah (1)
instrumen observasi (2) instrumen wawancara (3) instrumen dokumentasi (4) instrumen kepustakaan. Teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah (1) teknik observasi (2) teknik wawancara (3) teknik dokumentasi (4) teknik kepustakaan.
Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Keberadaan Seni bordir lukis di Desa Kesiman, Kota Denpasarawalnya berasal dari Desa
Sampalan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, sejak tahun 1966 dan dilanjutkan pada tahun 1990-an di Desa Kesiman,
Kota Denpasar (2) seni bordir lukis di Desa Kesiman, Kota Denpasar mulai dari I Wayan Rudja dan Wayan Murdja kemudian
dilanjutkan oleh Ida Kusuma (3) Alat dan bahan yang digunakan meliputi : mesin jahit bordir, spul, skoci, gunting kain, gunting
bordir, gunting benang, pemidangan, sayang nenek (Needle Threader), meteran, rader, pendedelan, kertas karbon jahit, jarum
pentul, jarum mesin, kertas, kapur jahit, alat tulis, setrika, meja setrika, warna, air accu, kuas, kain dan benang (4) proses
pembuatan diawali : menyiapkan bahan dan alat, membuat motif pada kertas pola, menggunting kain, memindahkan motif dari
kertas ke kain, kain dipindahkan ke dalam pemidangan, proses pembordiran, proses pewarnaan, pengeringan ( penyetrikaan )
(5) jenis-jenis ornamen yang dihasilkan kebanyakan mengambil ornamen tumbuhan dan ornamen binatang yang di stilir menjadi
motif hias seni bordir lukis.
Kata Kunci :Bordir lukis, Ornamen.

Abstract
This study aims to described (1) the history of art embroidery painting at Kesiman village, Denpasar city (2) system of
inheritance in art of embroidery painting at Kesiman village, Denpasar city (3) materials and equipment used in the process of
making the art of embroidery painting in the Kesiman village , Denpasar city (4) the process of making the art of embroidery
painting at Kesiman village, Denpasar city (5) the types of ornaments that produced on the art of embroidery painting at
Kesiman village, Denpasar city.
The approach that used in this study is approach took sample of the study by using purposive sampling technique. The
objectivity of this research was the art embroidery painting in the Kesiman village, Denpasar city. The instruments that use were
(1) observation instrument (2) interview instrument (3) documentation instrument (4) library instrument. The technique of data
collection was use (1) observation technique (2) interview techniques (3) technical documentation (4) technical literature.
The result of this study indicate (1) the existence of the Art embroidery painting in Kesiman village, Denpasar city. Firstly
started from Sampalan village, Dawan district, Klungkung regency, since 1966, and continued in the 1990s in Kesiman village,
Denpasar city (2) the art of embroidery painting at Kesiman village, Denpasar city start from I Wayan Rudja and Wayan Murdja
followed by Ida Kusuma (3) the equipment and materials used include: embroidery sewing machines, spool, skoci, fabric
scissors, embroidery scissors, yarn scissors, pemidangan, dear grandmother (needle threader), meter, rader, pendedelan, carbon
paper, sewing, needle pins, machine needles, paper, tailor's chalk, stationery, iron, ironing board, color, water, batteries, brush,
cloth and yarn (4) the process of making begins: preparing the materials and tools, making motif on the paper pattern, cut fabric,
moving from paper to fabric patterns, fabric is moved into the pemidangan, pembordiran process, the process of dyeing, drying
(Ironing) (5) the types of ornaments were produced mostly take ornamental plants and ornamental animals in stilir become a
decorative motif of embroidery painting art.
Key words: Embroidery painting, Ornament.

3.

I MADE ARTANA

0612031021

RUPA PERAHU TRADISIONAL DI KABUPATEN


BULELENG

31 JANUARI 2012

Abstrak :

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) rupa perahu tradisional, (2) Fungsi perahu, (3) fungsi dari komponen
perahu di Kabupaten Bulelelng. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Proses
pengumpulan data daripenelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, kepustakaan, dan dokumentasi.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah : (1) Sebagian besar rupa perahu tradisional yang ada di wilayah Kabupaten
Buleleng cenderung terdapat adanya sebuah klasifikasi yang berupa hiasan kepala perahu, hiasan ekor, cadik, paruh, dan rupa
tampak depan perahu tersebut, sehinga setiap perahu memiliki keindahan rupa dan asesoris yang ada pada masing-masing
perahu. Berdasarkan rupa desain perahu, sebagaian besar perahu yang berfungsi untuk pencari ikan desainya lebih sederhana
dari pada rupa perahu pariwisata. Rupa perahu pariwisata biasanya berisi tulisan-tulisan yang menggunakan bahasa Inggris dan
terdapat berbagai hiasan yang mampu menarik perhatian wisatawan. (2) Pada umumnya kelompok nelayan di Kabupaten
Buleleng memanfaatkan perahu hanya untuk mencari ikan. Namun, seiring berjalannya waktu, selain berfungsi mencari ikan,
perahu juga dimanfaatkan sebagai alat transportasi untuk mencari trumbu karang. Selain itu ada juga kelompok nelayan yang
memanfaatkan perahu sebagai transfortasi wisatawan, seperti snorkeling. (3) Di dalam perahu terdapat komponen-komponen
pendukung, fungsi dari komponen tersebut adalah: Katir digunakan sebagai penyangga cadik agar cadik kuat dalam menjaga
keseimbangan perahu. Selain itu, katir juga digunakan sebagai pegangan para nelayan ketika perahu hendak berlabuh ke
permukaan; Cadik yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan, sehingga perahu tidak gampang terbalik; Alat kemudi sebagai
alat yang dipergunakan untuk menentukan arah mana perahu akan dituju; Layar merupakan salah satu komponen perahu yang
bisa menggantikan peran mesin atau dayung saat berlayar, apabila ada angin dalam perjalanan, layar sangat bermanfaat sebagai
penggati dayung atau mesin. Jangkar merupakan alat labuh yang mempunyai berat khusus yang akan di turunkan ke kedalaman
air sampai dengan dasar, sehingga pada saat jangkar di turunkan keberadaan perahu tetap pada posisinya; Dayung sebagai alat
penggerakan perahu.

ABSTRACT

This study aims to describe the (1) a way as traditional boats, (2) The function of the boat, (3) the functions of
the components in the District Bulelelng boat. In this study the method used is descriptive qualitative method.
The process of collecting data from this study using observation techniques, interviews, literature, and
documentation.
The results obtained in this study were: (1) Most of the way of traditional boats in the region tend Buleleng
classifications contained in the form of a boat headdress, jeweled tail, outrigger, beak, and a way forwardlooking boat, so that each boat has a beautiful appearance and accessories available on each boat. Based on
the way the boat design, which serves most of the boat to fish finders desainya simpler than the way the boat
tourism. Arts tourism boat usually contains the writings of the English language and there are a variety of
ornaments that can attract tourists. (2) In general, groups of fishermen in Buleleng use for fishing boats only.
However, over time, besides functioning fishing, the boats are also utilized as a means of transportation to seek
trumbu reefs. There was also a group of fishermen who use boats as transfortasi tourists, such as snorkeling.
(3) In the boat there supporting components, the function of these components are: used as a buffer outrigger
outrigger outrigger so strongly in maintaining the balance of the boat. In addition, the outrigger is also used as
a handle while the boat was about to fishermen anchored to the surface; outrigger which serves as the keeper
of balance, so the boat is not easily reversed; Tool steering as a tool used to determine which direction the boat
will be addressed; The screen is one component of the boat which can replace the role or rowing machine while
sailing, if there is wind on the way, the screen is very useful as penggati paddles or machine. The anchor is
moored instrument that has a specific weight that will be scaled to the depth of water up to the base, so that at
the time revealed the existence of a boat anchor in fixed position; Rowing boat as a mobilization tool.

4.

KADEK AGUS RIA


ARNAWAN

0612031019

SENI DAWANG-DAWANG PROFAN DI SINGARAJA

31 DESEMBER
2012

Abstrak :
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) Keberadaan, (2) Fungsi dan makna, (3) bentuk visual, (4) nilai-nilai estetis yang
terkandung dalam Seni Dawang-Dawang di Kota Singaraja. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif
kualitatif. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, kepustakaan, dan dokumentasi.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah : (1) Keberadaan seni Dawang-Dawang Profan di Kota Singaraja memberikan dampak
yang cukup positif terhadap perkembangan seni, budaya, serta kehidupan sosial masyarakat Kota Singaraja. Seni Dawang-Dawang Profan
di Kota Singaraja telah menjadi bagian dari atraksi pariwisata budaya yang mampu menarik perhatian banyak wisatawan asing dan secara
tidak langsung membawa dampak positif terhadap perkembangan dunia kepariwisataan di Kota Singaraja. Dawang-Dawang yang pada
awalnya digunakan sebagai sarana mediasi ritual Upacara Ngaben saat ini telah digunakan sebagai sarana Seni Pertunjukan yang sama
sekali tidak terkait dengan sarana ritual. (2) Fungsi dan makna Dawang-Dawang di Kota Singaraja memiliki dua fungsi yakni sebagai media
ritual keagamaan serangkaian upacara Ngaben dan sebagai sarana seni pertunjukan yang digelar serangkaian HUT Kota Singaraja. (3)
Bentuk visual Dawang-Dawang di Kota Singaraja ada dua yaitu, bentuk tradisi dan modern. (4) Ditinjau dari segi nilai estetis, DawangDawang memiliki nilai estetis di dalamnya seperti warna, bentuk, proporsi.

5.

I WAYAN SUARJAYA

0612031023

SENI PATUNG KAYU DI DESA ANGANTAKA,


KECAMATAN ABIANSEMAL, KABUPATEN BADUNG

27 AGUSTUS
2011

Abstrak :
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang (1) keberadaan seni patung kayu di Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal,
Kabupaten Badung.(2) bahan dan alat apa saja yang digunakan dalam pembuatan patung kayu yang ada di Desa Angantaka.(3) proses
pembuatan patung kayu di Desa Angantaka.(4) jenis-jenis tema patung kayu yang dihasilkan di Desa Angantaka.(5) nilai estetis yang
terkandung dalam seni patung kayu di Angantaka.(6) Penelitian ini adalah penelitian Deskriptif Kualitatif, dengan teknik pengumpulan data

menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik kepustakaan. Adapun subjek penelitian ini adalah I Gusti Ngurah bawa, I
Gusti Putra Wijaya, I Wayan Sudika, I Nyoman Sujana, I Made Giri, I Made Narta,selaku pematung di Desa Angantaka,Kecamatan
Abiansemal,Kabupaten Badung. Hasil temuan penelitian ini adalah (1) Keberadaan Seni patung di Desa Angantaka dimulai sejak tahun
1958 di pelopori oleh Igusti Gurah Bawa (2) Adapun alat dan bahan yang dipakai dalam pembuatan patung di Desa Angantaka meliputi
bahan; kayu. Amplas, Lem Kayu,Adapun alat meliputi; Pengotok, Pahat, Pengutik dan Pangot, Kapak, Gergaji Mesin (Sengsor),(3) Adapun
proses pembuatan patung Desa Angantaka meliputti; Pemilihan Kayu, Makalin, Pemahatan, Nyawi, Pengamplasan, (4) Jenis-jenis patung
yang dihasilkan oleh pematung Desa Angantaka meliputi; Patung nelayan, Patung pemelihara ayam, Patung membelah kelapa, Patung bayi,
Patung jateran , Patung nenek, Patung pembaca lontar, Patung ibu dan anak, Patung binatang, (5) Nilai estetis patun kayu di Desa Angantaka
meliputti nilai estetis dan nilai visual yang didalamnya terkandung wujud, bobot dan penampilan.
Kata kunci : Patung,kayu, alat, proses, estetika.

ABSTRACT
This research aims to gain an overview of (1) The presence of wood sculpture in the Village Angantaka, Abiansemal District,
Badung Regency. (2) What materials and tools used in the manuafacture of wooden sculpture in the village Angantaka.(3) The
process of making wood sculpture in the village Angantaka (4) Types of wood sculpture themes generated in the village
Angantaka. (5) Aesthetic values embodied in the art of wood sculpture in Angantaka. (6) This research is a qualitative
descriptive research, with data collection using observation, interview, and literature techniques. The subject of this research was
I Gusti Ngurah Bawa, I Gusti Putra Wijaya, I Wayan Sudika, I Nyoman Sujana, I Made Giri, I Made Narta, as a sculptor in the
village Angantaka, Abiansemal District, Badung regency. The findings of this research ware (1) The presence of sculpture in the
Village Angantaka started since 1958 pioneered by I Gusti Ngurah Bawa, (2) The tools and materials used in making sculpture
in the Village Angantaka includes materials: wood, sandpaper, wood glue, while the tools include : pengotok, chisel, pengutik,
pangot, axes, chainsaws (sensors), (3) As for the process of making sculpture Angantaka village include: selection of wood,
makalin, sculpting, nyawi, sanding, (4) The types of sculpture produced by sculptor Angantaka village include: fishing sculpture,
maintainer of chicken sculpture, coconut splitting sculpture, baby sculpture, jateran sculptures, grandmother sculptures, palm
readers sculpture, mother and child sculpture, animal sculptures, (5) Aesthetic value of wood sculpture in the village Angantaka
include aesthetics and values contained therein/in them visual form, weight and appearance.

Keywords: Sculpture, wood, tools, processes, aesthetics

6.

NGAKAN KETUT GEDE


DARMA PUTRA
Abstrak :

0612031006

PATUNG GARUDA DI DESA PAKUDUI, KECAMATAN


TEGALALANG, KABUPATEN GIANYAR

27 AGUSTUS
2011

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Keberadaan patung garuda di Desa Pakudui (2) Tokoh-tokoh pematung garuda di Desa
Pakudui (3) Bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan patung garuda di Desa Pakudui (4) proses pembuatan patung garuda di Desa
Pakudui (5) Nilai Estetis dari patung Garuda di Desa Pakudui (6) Sistem pewarisan dalam pembuatan patung Garuda di Desa Pakudui
Sasaran penelitian ini adalah para pematung garuda di Desa Pakudui, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Patung garuda sendiri
merupakan patung berwujud setegah burung setengah manusia yang merupakan wahana dari salah satu dalam Tri Murti, yaitu Dewa Wisnu.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskritif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik Snowball
Instrumen yang digunakan adalah (1) instrument observasi (2) instrument wawancara (3) insrumen Inventarisasi (4) Instrumen
Dokumentasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) analisis domain yang bertujuan untuk memperoleh gambaran
atau pengertian umum, relative dan menyeluruh, dan (2) analisis taksonomi untuk mengolah data lebih lanjut, lebih rinci dan mendalam.
Hasil penelitian ini menunjukan (1) keberadaan patung garuda di Desa Pakudui, bisa dilihat dari seratus kepala keluarga hampir sebagian
besar berprofesi sebagai pematung garuda. (2) Tokoh pematung garuda di antaranya, I Made Ada, I Nyoman Sukarmen, I Wayan Susila, I
Made Jon, I Wayan Aan, I Wayan Rajeg, I Wayan Mustika. (3) Alat dan Bahan berupa Alat: pahat pengancap, pahat pemuku, pahat penyisir,
pemutik, pangot, pangotok, gergaji mesin, amplas, lem kayu dan kuas. Bahan: kayu albasia, kayu cempaka, kayu jati, kayu nangka, cat dan
vernis. (4) Proses pembuatan dimulai dari pemilihan bahan baku, pembuatan sketsa, pembetukan secara global, pengrintisan, pengukiran,
pengamplasan, dan finishing. (5) nilai estetis patung garuda adalah kesatuan dari garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, proporsi, dan
komposisi. (6) Pewarisan. I Made Ada merupakan murid sekaligus pewaris bakat seni pematung dari sang Ayah I Nyoman Kampih.
Kata kunci: Patung, kayu, alat dan bahan, nilai estetis.

ABSTRACT
This study aims to determine (1) The presence of eagle statue in the village of Pakudui (2) Eminent sculptors in the village
Pakudui eagle (3) Materials and tools used in the manufacture of eagle statue in the village of Pakudui (4) the process of making
eagle statue in the village of Pakudui (5) Aesthetic Value of the statue of Garuda in the village of Pakudui (6) The system of
inheritance in the manufacture of the statue of Garuda in the Village Pakudui

Objectives of this study is the eagle in the Village Pakudui sculptor, Tegalalang District, Gianyar Regency. Sculpture eagle statue
itself is half-bird half-human shape which is the vehicle of one of the Tri Murti, the god Vishnu. The approach used is qualitative
deskritif approach. Data collection techniques used are the instruments used Snowball technique are (1) observation instrument
(2) instrument interview (3) insrumen Inventory (4) Instrument Documentation. Analysis of the data used in this study were (1)
domain analysis which aims to obtain a picture or a general sense, relative and thorough, and (2) taxonomic analysis to process
the data further, more detailed and profound.
The results of this study indicate (1) presence in the Village Pakudui eagle statue, can be seen from a hundred head of the family
most of the work as a sculptor eagle. (2) figure sculptor eagle in between, I Made Ada, I Nyoman Sukarmen, I Wayan Vice, I
Made Jon, I Wayan Aan, I Wayan Rajeg, I Wayan Mustika. (3) Equipment and Materials in the form of tools: chisels pengancap,
beatings chisel, chisel penyisir, pemutik, pangot, pangotok, chain saws, sandpaper, wood glue and a brush. Ingredients: albizia
wood, wood cempaka, teak, jackfruit wood, paint and varnish. (4) manufacturing process starts from raw material selection,
production sketches, formation globally, pengrintisan, carving, sanding, and finishing. (5) aesthetic value eagle sculpture is unity
of line, plane, shape, color, texture, proportion, and composition. (6) Inheritance. I Made There is a disciple and heir to the
artistic talent of the sculptor's father, I Nyoman Kampih.
Keywords: Sculpture, wood, tools and materials, aesthetic value.

7.

I KADEK SEPTA ADI

0712031010

SENI HIAS JIMBE DI DESA MAS, UBUD

31 JANUARI 2012

Abstrak :
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang (1) Keberadaan kerajinan seni hias jimbe di Desa Mas, Ubud. (2) Alat dan
bahan yang dipergunakan dalam pembuatan kerajian seni hias jimbe di Desa Mas, Ubud. (3) Proses pembuatan kerajinan seni hias jimbe di
Desa Mas, Ubud. (4) Motif hias yang dihasilkan dalam pembuatan kerajinan seni hias jimbe di Desa Mas, Ubud. Penelitian ini adalah
penelitian Deskriptif Kualitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik
kepustakaan. Adapun subjek penelitian ini adalah kerajinan seni hias Jimbe yang berada di Desa Mas, Ubud.
Hasil temuan penelitian ini adalah (1) Keberadaan kerajinan seni hias jimbe di Desa Mas, Ubud dimulai sejak tahun 1999 yang diplopori
oleh Pak Tohari seorang pengrajin yang kreatif. (2) Adapun alat dan bahan yang dipakai dalam pembuatan kerajinan seni hias jimbe di
Desa Mas, Ubud meliputi alat antara lain: amplas, mesin amplas, kuas, meteran, palu, catokan cincin, cutter, tarikan, pemberat, gergaji,
pahat, palu, pisau raut/ pengutik, kompresor, sepait, cetakan stencil, penyemprot (sprayer), masker, pencil . Sedangkan bahan meliputi

jimbesetengah jadi, soda api, plamir kayu, pewarna kayu, kawat, tali anyam, kulit kendang, parapin, cat kayu, cat untuk pointilis, cat untuk
air brush, thinner, cat dasar, Vernis/ clear. (3) Adapun proses pembuatan kerajinan seni hias jimbe di Desa Mas, Ubud meliputi dua tahap,
tahap perakitan dan tahap penghiasan. Tahap perakitan terdapat beberapa proses yaiu: proses perendaman dengan soda, proses
pengamplasan, proses pendempulan, proses pewarnaan jimbe, proses pembuatan cincin, proses pembalutan cincin, proses penggosokan
tepian jimbe, proses pemasangan tali dan kulit. Tahap penghiasan terdapat tiga teknik menghias, teknik yang pertama, menghias dengan
teknik pahat, dalam teknik pahat terdapat dua jenis pahat, yaitu pahatan timbul dan tipis. Dalam pahatan timbul terdapat beberapa proses
yang dipakai, yaitu: proses pembuatan seket, proses pembuatan global/ makalin, proses pemahatan, proses perautan, proses pengamplasan
dan finishing, dan untuk pahatan tipis tedapat beberapa proses yaitu: proses pengukiran dan proses finishing. Teknik yang kedua adalah
teknik menghias dengan pointilis dan stencil, yaitu: proses pembuatan dasar atau bidang hias, proses menghias dengan teknik stencil, proses
menghias dengan teknik pointilis, proses finishing. Dan teknik yang ketiga adalah menghias dengan air brush, yaitu: proses pengecatan
dasar dengan epoxy, proses pengamplasan dengan amplas halus, proses pengecatan warna tahap pertama, proses pewarnaan desain, proses
finishing. (4) Jenis-jenis motif hias yang dihasilkan dalam kerajinan seni hias jimbe di Desa Mas, Ubud dibagi berdasarkan teknik
pembuatan, yaitu motif hias dengan teknik pahat antara lain: motif geometris, motif naga, motif kura-kura, motif kekarangan, motif
pepatran, motif premitif. Dan motif hias dengan teknik pointilis dan stencil antara lain: motif gajah, motif bintang laut, motif geometris,
motif lumba-lumba. Motif hias dengan teknik air brush yaitu motif harimau, motif alam, dan motif campuran.
Kata kunci : Kerajinan, jimbe, alat dan bahan, proses, motif hias.

ABSTRACT
This research intents to get description about 1. The existence of jimbe decorative art crafts in the village of Mas, Ubud. 2. Tools
and materials used in the manufacture of decorative arts crafts jimbe in Mas Village, Ubud. 3. The process of making crafts
decorative arts jimbe in the village of Mas, Ubud. 4. Decorative motifs were produced in the manufacture of decorative arts crafts
jimbe in the village of Mas, Ubud. This study is a qualitative descriptive study, which data collection techniques using observation
techniques, interview techniques, and technical literature. The subject of this study is the decorative art crafts Jimbe residing in the
village of Mas, Ubud. These research findings were. (1).The existence of jimbe decorative art crafts in the village of Mas, Ubud
started since 1999 spearheaded by Mr. Tohari a creative craftsman. (2). The tools and materials used in the manufacture of
decorative arts crafts jimbe in Mas Village, Ubud include tools such as: sandpaper, sanding machines, brushes, tape measure,
hammer, ring printer, cutter, drawn, ballast, saws, chisels, hammers, knives expression , compressor, syringes, prints stencil, spray
(sprayer), masks, pencil. While the semi-finished materials include jimbe, caustic soda, putty, mowilek, wire, rope wicker, leather
drums, parapin, paint djarum, q-tex paint, paint Nippon paint, thinner, epoxy, varnish / clear. (3). The jimbe decorative art crafts
making process in the village of Mas, Ubud includes two stages, which were the assembly stage and stage decking. The assembly
stage, there were several processes: the soaking process with soda, the sanding process, filling process, the jimbe coloring process,
the rings making process, the dressing rings process, the jimbe edge polishing process, the mounting strap and leather. Stage

decking there were three decorating techniques, the first technique was decorate with a chisel technique, this technique had two
types of chisel, which were bas-relief and thin. In the bas-relief there were several processes which were used: the process of
making a sketch, a global process / makalin, sculpting process, the depletion process, the sanding and finishing process, and for a
thin sculptured artifacts several processes: the process of carving and finishing process. The second technique was the decorating
with pointillism and stencil technique: the making basic or ornamental areas process, the decorating process with the stencil
technique, the decorating process with pointillism techniques, and the finishing process. The third technique was decorating with air
brush: base with epoxy painting process, the sanding process with fine sandpaper, the first stage of the painting color process, the
coloring process design, the finishing process. (4). The types of decorative motifs produced in jimbe decorative art crafts in the
village of Mas, Ubud was divided based on the techniques of manufacture, namely decorative motifs with a chisel techniques
include: geometric motif, dragon motif, turtle motif, kekarangan motif, pepatran motif, primitive motif, and decorative motifs with
pointillism and stencil techniques include: elephant motifs, starfish motifs, geometric patterns, motifs dolphins. Ornamental motifs
with air brush techniques including tiger motif, nature motifs, and mixed motives.
Keywords: Crafts, jimbe, tools and materials, processes, ornamental motifs.
8.

I PUTU MUJI ANTARA

0712031003

ANYAMAN DAUN RONTAL DI DESA PENGOSEKAN,


UBUD, GIANYAR

31 JANUARI 2012

Abstrak :

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) keberadaan seni kerajinan anyaman daun rontal di Desa Pengosekan, Ubud,
Gianyar. (2) alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan seni kerajinan anyaman daun rontal di Desa Pengosekan, Ubud,
Gianyar. (3) proses pembuatan seni kerajinan anyaman daun rontal di Desa Pengosekan, Ubud, Gianyar. (4) bentuk dan motif
hias seni kerajinan anyaman daun rontal di Desa Pengosekan, Ubud, Gianyar.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalahsentra kerajinanMangku
Made Gina. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara,(3) dokumentasi, dan
(4) kepustakaan.
Hasil temuan dalam penelitian ini adalah: (1) keberadaan anyaman daun rontal di Desa Pengosekan diawali oleh I Wayan Silur
dan I Made Seken pada tahun 1930-an, kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Mangku Made Gina hingga sekarang. (2) alat
yang digunakan dalam pembuatan seni kerajinan anyaman daun rontal di Desa Pengosekan, Ubud, Gianyar antara lain: gergaji,
blakas, pisau raut (pemutik), pusut, pisau kecil (tiyuk), alat penyitsit, panci, siyut danalat penyemprot serangga. Bahan yang
digunakan antara lain: daun rontal, bambu, rotan, pewarna dan bahan pengawet. (3) proses pembuatan seni kerajinan anyaman

daun rontal di Desa Pengosekan, Ubud, Gianyar, diawali dengan proses persiapan bahan yang terdiri dari pengolahan bambu
dan daun rontal. Pengolahan bambu terdiri dari: pemotongan bambu dan membelah bambu. Selanjutnya adalah proses
pengolahan daun rontal yang terdiri dari: pemisahan tulang lidi, pewarnaan dan penyisitan. Setelah bambu dan daun rontal siap
dipakai, maka dilanjutkan proses menganyam yang terdiri dari: proses ngiseh, membuat alas, membentuk anyaman, dan
membuat tutup anyaman. Setelah anyaman selesai maka diakhiri dengan proses pengawetan. (4) Jenis bentuk dan motif hias
yang dihasilkan dalam seni kerajinan anyaman daun rontal di Desa Pengosekan, Ubud, Gianyar, terdiri atas: saab, kapar, vas
bunga, talenan, tumpang, toples, kaling, jengki Lombok, kempur, dandang, gangsing dan tumpang tanpa tutup.Motif hias yang
biasa diterapkan adalah: ceracap, mat-matan/ legad-legod, undag-undag, jajar genjang, patra T, patra S, zig-zag, pohon/ potpotan, bungan tuwung, anjing, kucing, burung, kupu-kupu, laba-laba, dan motif hias manusia.
Kata kunci: anyaman, daun rontal, alat dan bahan, bentuk dan motif hias.
ABSTRACT
This research was aimed at describing: (1) the existence of arts handcraft of woven rontal leaves in Pengosekan Village, Ubud,
Gianyar, (2) tools and materials used in manufacturing the arts handcraft of woven rontal leaves in Pengosekan Village, Ubud,
Gianyar (3) the process of making art handcrafts of woven rontal leaves in Pengosekan Village, Ubud, Gianyar (4) forms and
decorative motifs of woven rontal leaves handcrafts in Pengosekan Village, Ubud, Gianyar.
This study was a descriptive study with a qualitative approach. The object of this study was the craft center of Mangku Made
Gina. The data collection of this study was done using several techniques; (1) observation, (2) interview, (3) documentation, (4)
literature.
The findings of this study were: (1) the existence of woven rontal leaves handcrafts in Pengosekan Village was established by I
Wayan Silur and I MadeSeken in 1930s, and then, was developed further by Mangku Made Gina until now, (2) the tools and
materials used in manufacturing the woven rontal leaves handcrafts in Pengosekan Village, Ubud, Gianyar, were: jigsaw,
blakas, shaping form (pemutik), needle (pusut), small-sized knife (tiyuk), penyitsit, pan, siyut, and flit gun. The materials used
were: rontal leaves, bamboo, rattan, dye and preservatives things. (3) the process of making the woven rontal leaves handcrafts
in Pengosekan Village, Ubud, Gianyar, was begun by preparing the materials which would be used starting from manufacturing
the bamboo and rontal leaves. Manufacturing the bamboo was done through cutting and splitting the bamboo. The next process
was manufacturing the rontal leaves: separating the bone sticks of rontal leaves and turning those leaves into a very small sheet
(penyisitan).After those things were ready to be used, then, it was followed by the woven process: ngiseh, making the base of the
handcrafts, shaping the weaving, and making the lid of the woven. After all of those processes done, it was ended by the process

of preservation. (4) Type of forms and decorative motifs which was produced on woven rontal leaves handcrafts in Pengosekan
Village, Ubud, Gianyar included such as: saab, kapar, vase, talenan, tumpang, jar, kaling, jengki Lombok, kempur, dandang,
gangsing dan tumpang without lid. The decorative motifs which was commonly used were: ceracap, mat-matan/ legad-legod,
undag-undag, jajar genjang, patra T, patra S, zig-zag, plan/ pot-potan, bungan tuwung, dogs, cats, birds, butterflies, spiders,
and humans.
Key words: weaving, rontal leaves, tools and materials, form and decorative motifs.

9.

I MADE WIRA DHARMA

0612031011

IDENTIFIKASI KARYA GAMBAR ANAK-ANAK


PANTAI DI DESA KUBUTAMBAHAN, KABUPATEN
BULELENG

27 AGUSTUS
2011

(STUDI KASUS DI SEKOLAH DASAR SE-DUSUN


KAJEKANGIN)
Abstrak :
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran sosiologis anak-anak pantai di SD se-Dusun kajekangin, Kubutambahan, Buleleng
terhadap kegiatan kreatif kesenirupaan yaitu menggambar, (2) tema gambar bebas anak-anak pantai di SD se-Dusun kajekangin,
Kubutambahan, Buleleng.
Penyusunan hasil penelitian ini bersifat deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah karya gambar
anak-anak pantai yang masih duduk di Kelas III, IV, dan V sekolah dasar se-Dusun Kajekangin, Desa/Kec. Kubutambahan, Kab. Buleleng.
Terdapat 91 karya murni setiap anak yang terdiri atas 16 gambar dengan tema suasana pantai dan laut, 58 gambar dengan tema
pemandangan bukit dan gunung, 11 gambar dengan tema suasana gunung dan perairan, serta 6 gambar dengan tema rumah dan benda
kesukaan. Dibahas sebanyak 27 gambar yang dipilih secara purposive untuk mewakili pembahasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Gambaran sosiologis anak-anak pantai di Dusun Kajekangin, Kubutambahan, Buleleng adalah
kehidupan sosial ekonomi yang sederhana dan dalam kondisi keluarga yang berkecukupan. Dalam kosmologi masyarakat pesisir, sebagian
besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai nelayan yang mengandalkan sumber daya alam berupa laut sebagai sumber penghidupan.

Dilihat dari hasil karya gambar, sebagian besar belum menunjukkan adanya pengaruh lingkungan dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat
setempat. Sebagai anak-anak semestinya perlu mendapat perhatian khusus untuk memiliki kesempatan menikmati dunianya sendiri,
khususnya dunia kesenirupaan yang sangat menarik. (2) Identifikasi sebanyak 27 gambar yang terpilih dan dianggap mewakili dari 91
gambar yang ada, berusaha menghadirkan visual yang sangat beragam dan menarik. Warna, bentuk, dan karakter obyek yang terdapat dalam
gambar merupakan cermin kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing anak menurut imajinasi dan fantasinya yang dipresentasikan
melalui pendekatan realis (sesuai dengan perkembangan seni rupa yang pada umur 9-12 tahun menunjukkan fase realisme awal). Sebagian
besar obyek yang hadir pada bidang gambar adalah gunung, pohon, dan sejenisnya yang masih memiliki kesatuan untuk sebuah gambar
pemandangan.

Kata kunci: gambar, anak-anak, visual, tema, identifikasi

ABSTRACT
This study was aiming at investigating the beach children in elementary schools of Kajekangin environment Kubutambahan
village, Buleleng regency in terms of their : (1) sociological features toward fine art creative activity which is drawing and (2)
free drawing theme.
The method used in this study is descriptive method which uses qualitative approach. The limitation of this study is focusing on
the drawing of the third, fourth, and fifth grade of beach children in elementary schools of Kajekangin environment
Kubutambahan village, Buleleng regency. There were 91 pure creation of each child which involves 16 drawings in the theme
of beach and sea scenery, 58 drawings in the theme of mountain and hill view, 11 drawings in the theme of waters and mountain
scenery and 6 drawing in the theme of houses and favorite things. There are 27 drawing which were taken as the sample
purposively to present the discussion.
The result of the study shows that: (1) the children in elementary schools of Kajekangin environment Kubutambahan village
live in a simple social economic situation and in the sufficient family condition. In the cosmology of coastal society, mostly the
community occupation is becoming fishers. They much rely on the sea product as the source of life. However, from the result of
the drawings, there is no significant influence from the environment and the social economic situation of the community. As a

child, they should get a special attention to have an opportunity to feel their own world, especially the world of fineart which is
very interesting. Furthermore, (2) the identification of the 27 choosen drawings is precieved to represent the whole 91
drawings. These drawings can present interesting and variative visual. Color, shape and character of the objects which were exist
in the drawings show each child ability based on their creativity and imajination through realist approach. It is based on children
art development which shows the early reaism phase in the year of 9 to 12. Therefore, the drawings are dominated by the objects
of mountains, trees, and others which still have relation in the concept of scenery.
Key words: drawing, , children, visual, theme, identification.

10.

NYOMAN GEDE PASTIKA

0612031003

KAJIAN ESTETIK LAMPU HIAS LOGAM


SUMEDANG
DI ARTSHOP ASTITI DESA ANDONG, KECAMATAN
UBUD, KABUPATEN GIANYAR:
SEBUAH KAJIAN SENI RUPA

27 AGUSTUS
2011

Abstrak :
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) keberadaan lampu hias logam Sumedang di Artshop Astiti (2) alat dan bahan dalam
pembuatan lampu hias logam Sumedang (3) proses pembuatan lampu hias logam Sumedang dan jenis benda yang dihasilkan (4) ornamen
yang diterapkan (5) Fungsi dan nilai estetik (6) sistim penurunan yang dipergunakan di Artshop Astiti, Desa Andong, Kecamatan Ubud,
Kabupaten Gianyar.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskritif kualitatif Sasaran penelitian ini adalah pemilik dan perajin lampu hias logam
Sumedang di Artshop Astiti. Instrumen yang digunakan adalah (1) instrumen observasi (2) instrumen wawancara (3) instrumen
inventarisasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) teknik observasi (2) teknik wawancara (3) teknik inventarisasi (4)
Teknik telaah pustaka. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) analisis domain dan (2) analisis taksonomi.
Hasil penelitian ini menunjukkan (1) keberadaan lampu hias logam Sumedang di Artshop Astiti diawali oleh perkembangan kerajinan logam

di Cipacing, Sumedang, Jawa Barat (2) alat yang digunakan meliputi : gunting, penggaris, pensil, palu, pahat, tool, soder, tang, kapi, sikat
kawat, pemotong kaca, kikir, kompor, kuas, drum, kayu pola, gergaji besi, besi gilik, dan paron, selanjutnya bahan yang digunakan
meliputi : kuningan, timah, kaca, arpus, larutan Hcl, Pk, semir, kit, dan minyak tanah.(3) proses pembuatan diawali dengan pengolahan
bahan, dilanjutkan dengan pembentukan bagian-bagian lampu, setelah itu dilanjutkan dengan proses pengkombinasian bentuk dasar dan
hiasan, pematrian, penghalusan, pencucian, pengantikan, pengeringan dan tahap akhir dilakukan dengan proses penyemiran, dan
penggosokan, sedangkan jenis-jenis benda yang dihasilkan adalah lampu hias gantung, lampu hias tempel, dan lampu hias duduk. (4)
ornamen yang diterapkan adalah ornamen batun timun, geometri, dan batik. (5) fungsinya sebagai penerangan dan penghias ruang dan nilai
estetik yang dihasilkan mempunyai unsur-unsur yang menjadi dasar terbentuknya wujud karya seni rupa yaitu titik, garis, bidang, bentuk,
ruang, warna, dan tekstur (6) sistem penurunan keterampilan yang dipergunakan adalah sistem cantrik.
Kata Kunci : Estetika, Logam, dan Lampu Hias.

ABSTRACT
This study aims to determine (1) the presence of metal decorative lights Sumedang in Artshop Astiti (2) tools and materials
in the manufacture of metal decorative lights Sumedang (3) the process of making decorative lights Sumedang metals and
types of objects are generated (4) ornament applied (5 ) function and aesthetic value (6) system used in decline Artshop
Astiti, Andong Village, Ubud District, Gianyar Regency.
The approach used is qualitative targets deskritif approach of this study is the owner and craftsman metal decorative lights in
Artshop Astiti Sumedang. Instruments used are (1) observation instruments (2) instrument interview (3) instrument
inventory. Data collection techniques used are (1) observation technique (2) interview techniques (3) inventory techniques
(4) Technical literature review. Analysis of the data used in this study were (1) domain analysis and (2) taxonomic analysis.
The results of this study show (1) the presence of metal decorative lights in Artshop Astiti Sumedang preceded by the
development of metal craft in Cipacing, Sumedang, West Java (2) the tools used include: scissors, rulers, pencils, hammers,
chisels, tools, soder, pliers , pulley block, wire brush, glass cutting, griping, stoves, brushes, drums, wood patterns, hacksaw,

iron gilik, and the anvil, then the materials used include: brass, tin, glass, arpus, a solution of HCl, Pk, polish, kit, and
kerosene. (3) the manufacturing process begins with the processing of materials, followed by the formation of parts of the
lamp, then continued with the process of combining the basic shapes and decoration, soldering, smoothing, cleaning,
antique, drying and final stage is done by a process Shine, and scrubbing, while the types of objects that are generated are
decorative hanging lights, decorative lights outboard, and decorative lamps sit. (4) is applied ornament ornaments Batun
timuns, geometry, and batik. (5) function as a lighting and decorating the space and aesthetic values that have generated the
elements that form the basis for the formation of works of art that is the point, line, plane, shape, space, color, and texture (6)
skill reduction system used is apprentice system.
Keywords: Aesthetics, Metal, and Lighting.

11.

I KETUT SETIAWAN

0712031009

KERIS DI DESA TAMAN BALI, KECAMATAN

31 JANUARI 2012

BANGLI,
KABUPATEN BANGLI
(SEBUAH TINJAUAN SENI RUPA)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Sejarah dan keberadaan pande pembuat keris di Desa Taman Bali, Kabupaten
Bangli (2) Sistem penurunan pande pembuat keris di Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli (3) Alat dan bahan yang digunakan dalam
membuat keris di Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli (4) Proses pembuatan keris di Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli (5) Jenis
keris yang dibuat di Desa Taman Bali, Kabupaten Bangli (6) Nilai estetis serta filosofi dari keris di Desa Taman Bali, Kabupaten
Bangli.
Sasaran penelitian ini adalah pande pembuat keris di Desa Taman Bali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Keris adalah
benda seni yang meliputi seni tempa, seni ukir dan pahat, seni bentuk, serta seni perlambang. Pembuatannya selalu disertai dengan

doa-doa tertentu, mantra dan upacara khusus. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah (1) teknik observasi (2) teknik wawancara (3) teknik telaah dokumen. Instrumen yang
digunakan adalah (1) instrumen observasi (2) instrument wawancara (3) insrumen dokumentasi (4) instrumen kepustakaan. Analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) analisis domain untuk memperoleh gambaran atau pengertian umum, relatif dan
menyeluruh, (2) analisis taksonomi untuk mengolah data lebih lanjut, lebih rinci dan mendalam.
Hasil penelitian ini menunjukan (1) sejarah perjalanan Pande Wayan Gelgel dalam membuat keris dimulai pada tahun 1971
sampai sekarang. (2) sistem penularan memakai sistem pewarisan (3) alat dan bahan untuk membuat keris terdiri dari (a) palu,
paron, culik api, sepit, penangges, sabet, weteng, kikir, gerinda, (b) bahan terdisi dari besi, nikel, arang. (4) proses pembuatan keris
dimulai dari pemilihan hari baik, penyiapan alat dan bahan, memanaskan besi, mengawinkan besi dengan pamor, membuat calonan
keris, finishing, nyepuh, nyeruk/mewarangi, mempasupati keris. (5) jenis keris yang dibuat ada 2, yaitu keris pesikepan dan keris
normal. (6) nilai estetis keris dapat dilihat dari bentuk dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Kata-kata kunci: keris, pande, taman bali, seni rupa


ABSTRACT

This research is aimed at finding (1) History and existence of Kris maker in Taman Bali village, Bangli regency, 2)
derivation process in Kris maker in Taman Bali village, Bangli regency 3) tools and material in making Kris in Taman Bali
Village, Bangli regency 4) The making process of Kris in Taman Bali Village, Bangli regency(5) types of Kris which made in
Taman Bali Village, Bangli regency 6) esthetical and philosophical value of the Kris in Taman Bali Village, Bangli regency.
The objective of this research is the Kris maker in Taman Bali Village, Bangli subdistrict, Bangli regency . Kris is an art
thing which involves metal handiwork, carve art and sculpture, curve art, and art of symbol. In making Kris involved a process
with particular pray, spell and special ceremony. Descriptive approach is used in this research. Data collection which is used in
this research are 1) observation technique, 2) interview, 3) research document technique, 4) library research. Data analyses in

this research are 1) domain analysis to find image or general definition, relative, and comprehensive, 2) taxonomy analysis to
process continued data, detail and deepen.
The result of this research shows 1) the history of Pande Wayan Gelgel's journey in making Kris since 1971 until now 2)
derivation process is using heritance system 3) tools and material in making Kris consist of a) hammer, paron, culik api, sepit,
penangges, sabet, weteng, kikir, gerinda b) material consists of iron, nickel, charcoal, 4) the Kris making process starts from
choosing good days, preparing tools and material, heating the iron, combining iron with pamor, making Kris postulant, finishing,
nyepuh, nyeruk/mewarangi, mempasupati keris. 5) there are two types of Kris such as keris pesikepan and normal Kris 6)
esthetical value in Kris can be seen from the shape and value in it.

Keywords: Kris, Pande, Taman Bali, Fine Art

12

I GEDE PUTU ADI


MAHENDRA

0712031012

KERAMIK DUA DIMENSI I MADE DANU HOME


INDUSTRY DI BR. SIMPANGAN, DESA

31 JANUARI 2012

PEJATEN, TABANAN

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang (1) Keberadaan I Made Danu Home (2) Bahan dan alat-alat yang
digunakan dalam pembuatan keramik dua dimensi I Made Danu Home Industry (3) Motif hias yang diterapkan pada keramik dua
dimensi I Made Danu Home Industry, dan (4) Proses pembuatan keramik dua dimensi I Made Danu Home Industry. Penelitian ini
adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, teknik
dokumentasi dan teknik kepustakaan. Adapun subjek penelitian ini adalah kerajinan keramik dua dimensi yang berada di Br.
Simpangan, Desa Pejaten, Tabanan.
Hasil temuan penelitian ini adalah (1) Keberadaan keramik dua dimensi Made Danu Home Industry di br. Simpangan, desa
Pejaten, Tabanan dimulai sejak tahun 1971 oleh I Made Danu seorang pengrajin keramik yang ulet dan kreatif (2) Adapun bahan
dan alat-alat yang dipakai dalam pembuatan keramik dua dimensi I Made Danu Home Industry, br. Simpangan, desa Pejaten,
Tabanan bahan meliputi tanah liat, serbuk paras sari, bubuk gips, cat genteng, cat besi, cat prada/emas, vernis. Sedangkan meliputi
alat-alat antara lain; kawat pemotong, sujen, pemutik, pangeplak, panakehan, kuas, alas cetakan, cetakan, capi, pangangkan, palu,
tang (3) Motif hias yang diterapkan pada keramik dua dimensi I Made Danu Home Industry adalah motif garis, motif ornamen
geometris, motif binatang/ fauna, motif manusia, motif hias Bali, motif tokoh pewayangan (4) Adapun proses pembuatan keramik
dua dimensi I Made Danu Home Industry meliputi lima tahap yakni; tahap persiapan bahan, tahap pembentukan, tahap
pengeringan, tahap pembakaran, dan tahap finishing. Tahap persiapan bahan meliputi menyiapkan tanah liat. Tahap pembentukan
meliputi penggunaan teknik cetak dimana tanah dimasukan kedalam cetakan dan diratakan dengan pangeplak dengan cara dipukulpukul, barulah kemudian cetakan diangkat dan menaruh hasil cetakan di atas alas. Tahap pengeringan meliputi penjemuran hasil
cetakan agar menghilangkan sisa air dalam tanah sebelum proses pembakaran. Tahap pembakaran, proses pembakaran dilakukan
secara tradisional yakni dengan menggunakan bak terbuka dan bahan bakar kayu dan sabut kelapa. Tahap finishing meliputi
pemberian warna dan vernis agar produk terlihat menarik.
Kata kunci : keramik, dimensi, alat dan bahan, proses, motif hias, finishing
Abstract

This study aimed at picturing about (1) The existancy of I Made Danu Home Industry (2) The ingredients and equipments
used in the process of two dimensions ceramics I Made Danu Home Industry (3) The motif used in two dimensions ceramics I
Made Danu Home Industry, and (4) The process of making the two dimensions ceramics I Made Danu Home Industry. This
study is a descriptive qualitative study wich used observation, interview, documentation, and review of related literature as the
methods in collecting the data. The subjects of this study the craft of two dimensions ceramics which located in Br. Simpangan,
Pejaten Village, Tabanan.
The result of this study were (1) The existancy of two dimensions ceramics I Made Danu Home Industry in Br. Simpangan,
Pejaten Village, Tabanan. Began at 1971 by I Made Danu, a creative a innovative ceramics craft. (2) The ingredients used in the
process of two dimensions ceramics I Made Danu Home Industry, Br. Simpangan, Pejaten Village, Tabanan include clay, paras
sari powder, powder gips, proof paint, iron paint, golden paint, vernis. Then the equipment include cutting wire, sujen, pemutik,
pengeplak, panakehan, brush, layer of former, layer, capi, pangangkan, hammer, and clampers. (3) The motif of decorations
applied in two dimensions ceramics I Made Danu Home Industry were line motif, ornament geometrics of motif, motif of
fauna/animal, motif of human, Balinese motif, and motif of pewayangan. (4) The process of making the two dimensions
ceramics include 5 steps, those were, preparing the ingredients, forming step, drying step, burning step, and finishing. The
preparation step included preparing the clay. The forming step included the use of layering technique in which the clay inserted
in the layer and separated by using pangeplak. The drying step included drying the result to get the rest of the water in the clay
before burning. The burning step was done traditionally. The finishing step included giving color and vernis to make the product
look attractive and interesting.
Keywords : ceramics, dimension, ingredients, and equipment, process, motif of decorations, finishing.
13

ARI ANANTO

0712031016

PEMBELAJARAN KESENIRUPAAN DI TK

31 JANUARI 2012

LAB. UNDIKSHA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pembelajaran kesenirupaan di TK Lab. Undiksha. Jenis
penelitian ini adalah penelitian survei dengan pendekatan kualitatif, menggunakan metode deskriptif.
Penelitian diawali dengan melaksanakan wawancara dan penyebaran angket, dan diakhiri dengan pelaksanaan
observasi pelaksanaan pembelajaran di kelas untuk melihat pelaksanaan pembelajaran kesenirupaan di Tk Lab.
Undiksha.
Hasil penelitian ini terdiri atas hasil wawancara, angket, dan observasi. Rencana pelaksanaan
pembelajaran kesenirupaan di TK Lab Undiksha sudah berjalan baik, hal ini dilihat dari hasil angket yang
menunjukkan 100% administrasi pembelajaran telah dibuat sebelum pembelajaran dimulai. Dilihat dari cara
penilaian atau evaluasi pembelajaran kesenirupaan di TK juga telah sesuai dengan sasaran belajar
kesenirupaan dengan memberikan penilaian langsung dan sekaligus memberikan apresiasi hasil kerja siswa.
Observasi bertujuan untuk melihat gambaran pelaksanaan pembelajaran kesenirupaan di TK Lab.
Undiksa. Hasil observasi menunjukkan pelaksanaan pembelajaran kesenirupaan di TK Lab. Undiksha telah
terlaksana sesuai prinsip pembelajaran kesenirupaan. Kegiatan pembelajaran kesenirupaan di Tk Lab. Undiksha
dilaksanakan dengan memberikan arahan, tema atau pun cerita, contoh atau benda nyata sebagai perangsang
siswa dalam kegiatan kesenirupaan. Selanjutnya guru menyediakan alat dan bahan yang digunakan dalam
kegiatan kesenirupaan. Dan pada saat kegiatan belajar, guru berkeliling kelas untuk meninjau kegiatan siswa
memberikan respon, penguatan dan apresiasi, serta memberikan penghargaan.

Kata-kata kunci:pembelajaran, kesenirupaan, TK

ABSTRACT

This study aims to see how the artistic learning in kindergarten Lab. Undiksha. This type of research is
survey research with a qualitative approach, using descriptive methods. The study begins by conducting
interviews and distributing questionnaires, observation and ending with the implementation of the
implementation of learning in the classroom to see the implementation of artistic learning in the Nursery Lab.
Undiksha.
The results of this study consisted of interviews, questionnaires, and observation. Plan the
implementation of learning in kindergarten artistic Undiksha Lab has been running well, it is seen from the
results of a questionnaire showed 100% administration of learning has been made before learning begins.
Judging from the way the assessment or evaluation of artistic learning in kindergarten also complies with the
artistic learning objectives by providing a direct assessment and provide appreciation of students' work.
Observation aims to see the picture of the implementation of artistic learning in kindergarten Lab.
Undiksa. Observations indicate the implementation of artistic learning in kindergarten Lab. Undiksha been
implemented according to the principle of artistic learning. Artistic learning activities in the Nursery Lab.
Undiksha implemented by providing direction, theme or story, an example or real objects as stimuli to the
students in artistic activities. The teacher provides the tools and materials used in artistic activities. And at the
time of learning, the teacher went around the classroom to review the activities of students responded,
reinforcement
and
appreciation,
and
reward.

Key words: learning, artistic, TK

14

IDA BAGUS KETUT


ARTAWAN

0612031015

PATUNG KAYU FOSIL

27 AGUSTUS
2011

DI DESA BANJAR, KABUPATEN, BULELENG


ABSRTAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang (1) Sejarah keberadaan patung kayu fosil di Desa Banjar, Kabupaten
Buleleng. (2) Alat dan bahan yang dipergunakan dalam pembuatan Patung kayu fosil di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng. (3)
Proses pembuatan patung kayu fosil di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng. (4)Nilai estetis yang terkandung dalam patung kayu fosil.
(5) Sistem penurunan pembuatan patung kayu fosil di Desa Banjar, Kabupaten, Buleleng. (6) Tema yang terdapat pada patung kayu
fosil di Desa Banjar, Kabupaten, Buleleng. Penelitian ini adalah penelitian Deskritif dengan teknik pengumpulan data
menggunakan Teknik Observasi, Teknik Wawancara,Teknik Dokumentasi, dan Teknik Kepustakaan. Adapun objek penelitian ini
adalah Ida Kade Arjana selaku pengerajin patung kayu fosil di Desa Banjar Kabupaten, Buleleng.
Hasil temuan penelitian ini adalah (1) Sejarah keberadaan patung kayu fosil di Desa Banjar, Kabupaten, Buleleng dimulai sejak
tahun 1990 yang diploporo oleh Ida Kade Arjana seoran pematung muda yang kreatif. (2) Adapun alat dan bahan yang dipakai
dalam pembuatan patung kayu fosil di Desa Banjar, Kabupaten, Buleleng meliputi alat antara lain: Gergaji, Pemutik, Pengotok,
Kuas, Pahat, amplas, golok, dan Sedangkan bahan meliputi Akar kayu jati. (3) Adapun proses pembuatan patungt kayu fosil di Desa
Banjar, Kabupaten, meliputi proses pencarian kayu, proses pembersihan akar kayu jati, proses pemotongan kayu jati, proses
pembentukan global atau, proses pemahatan, proses perautan atau nyawi, proses pengamplasan, proses finishing. (4) Nilai estetis
yang terkandung dalam patung kayu fosil di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng meliputi tiga komponen pokok yakni Wujud, Bobot,
dan Penampilan, (5) Sistem penurunan pembuatan patung kayu fosil dengan cara pewarisan dan cantrik, (6) Tema yang terdapat
pada patung kayu frosil yaitu Bentuk Burung elang, Bentuk kidang, Bentuk babau da kepiting, Bentuk orang santai, Bentuk orang
tidur, Bentuk orang kembar, Bentuk rang minta, dan Bentuk anjing.
Kata kunci : Kerajinan, akar kayu, alat, proses, estetika.
Kata kunci: Seni, Patung dan kayu fosil

Abstract
This study aims to gain an overview of (1) The history of the existence of wood sculpture fossil in Banjar Village, Buleleng
regency. (2) Equipment and materials used in the manufacture of the wood Statue of fossil in Banjar Village, Buleleng regency.
(3) The process of making a wood statue fossil in Banjar Village, Buleleng regency. (4) aesthetic value contained in wood
sculpture fossil . (5) System reduced the manufacture of wood sculpture fossil in Banjar Village Regency, Buleleng. (6) The
themes found in wood sculpture fossil in Banjar Village, Buleleng Regency. This study is a descriptive research with data
collecting technique using the Observation Techniques, Interview Techniques, Technical Documentation, and Engineering
Library. The object of this study was Ida Kade Arjana fossil as a wood sculpture craftsmen in Banjar Village, Buleleng Regency.
The findings of this study were (1) History of the existence of wood sculpture fossil in Banjar Village, Buleleng Regency started
since 1990 which was spearheaded by Ida Kade Arjana a young creative sculptor. (2) The tools and materials used in the
manufacture of wood sculpture fossil in Banjar Village, Buleleng Regency includes tools such as: Saw, pemutik, Pengotok,
Brush, Chisel, sandpaper, machetes, and while materials include teak wood root. (3) The process of making fossil wood statue in
Banjar Village, covering the process of finding the wood, the process of cleaning the root of teak wood, teak wood cutting
process, the process of formation, the process of sculpting, or sharpening process, the process of sanding, finishing processes.
(4) aesthetic value contained in wood sculpture fossil in Banjar Village, Buleleng Regency includes three main components
namely Shape, Weight, and Appearance, (5) System of reducing the manufacture of wood sculpture fossil by way of inheritance
and the pupil, (6) themes contained in the shape of a wooden statue fossil are eagle, deer, babau da crabs, the relaxed shape,
sleeping, twin shape, begging, and a dog shape.
Keywords: Art, sculpture, and fossil wood

15

ROMY INDRA

0712031022

SUSANTO

T-SHIRT SEBAGAI MEDIA EKSPRESI

31 JANUARI 2012

ANAK MUDA SINGARAJA


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) nilai estetis t-shirt buatan anak muda Singaraja, (2) tema apa saja yang tertuang
dalam unsur grafis t-shirt anak muda Singaraja.
Sasaran penelitian ini adalah remaja yang mengenakan t-shirt buatan sendiri yang menggambarkan ekspresinya melalui media tshirt yang dikenakannya tersebut. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan model pendekatan kualitatif (qualitative).
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi, (2) wawancara, (3) dan kepustakaan. Data yang
terkumpul kemudian dianalisis dengan cara (1) analisis domain yang bertujuan untuk mendekati masalah secara langsung atau
mengenal masalah secara umum, (2) analisis taksonomi dengan mengolah data lebih lanjut, lebih rinci dan mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) nilai estetis yang tampak pada t-shirt anak muda Singaraja mengindikasikan bahwa
anak muda Singaraja telah memungsikan unsur karya seni rupa pada umumnya seperti garis, bidang, warna, dan tekstur sebagai
pendukung visualisasi dalam unsure grafis t-shirt mereka. (2) Tema-tema yang tertuang dalam unsur grafis t-shirt anak muda
Singaraja diantaranya tema (a) ekspresi diri, (b) ekspresi merek, (c) kartun, (d) komunitas, (e) konsentrasi ilmu, (f) nama
sekolah, (g) pasangan (couple), (h) acara,
Kata-kata kunci :T-shirt, ekspresi, remaja.

(i) penggemar (fans), dan (j) sosial.

ABSTRACT
This research aims to determine: (1) aesthetic value of t-shirts made by young people of Singaraja, (2) what are the themes set
out in the elements of graphic t-shirts of young people of Singaraja.
This research target is teenagers who wore a homemade t-shirt depicting the expression through the medium of t-shirt he wore
the. The study was a descriptive study with qualitative approach model (qualitative). Data collection in this study was done by
using : (1) observation, (2) interviews, (3) and literature. The collected data were then analyzed by (1) domain analysis which
aims to approach the problem directly or recognize the problem in general, (2) taxonomic analysis by processing the data further,
more detailed and in-depth.
The results showed that (1) the aesthetic value that appears on the t-shirt young people of Singaraja indicate that young children
had functioning element Singaraja works of art in general such as lines, shapes, colors, and textures to support visualization of
the graphical elements of their t-shirts. (2) These themes are set out in the elements of graphic t-shirt themes include Singaraja
young children (a) self-expression, (b) the expression of the brand, (c) cartoons, (d) community, (e) concentration, (f) name of
school, (g) the pair (couple), (h) of the event, (i) fans , and (j) social.

Key words: T-shirts, expression, teenagers

16

RATIH KUSUMAWATI

0712031021

TEKS AND KONTEKS MURAL AT PARTITION

31 JANUARI 2012

FBS UNDIKSHA
TEKS DAN KONTES MURAL DI DINDING FBS
UNDIKSHA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui latar belakang keberadaan mural di FBS Undiksha (2) mengetahui teks visual dan
verbal mural di FBS (3) Untuk mengetahui konteks sosial mural di FBS.
Objek penelitian adalah mural-mural di dinding Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha. Subyek penelitian
adalah muralis-muralis di FBS Undiksha. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik (1) observasi (2)
kepustakaan (3) dokumentasi (4) wawancara. Data yang didapat dari teknik observasi, kepustakaan, dokumentasi dan
wawancara selanjutnya dianalisis dengan metode deskriptif-kualitatif.
Hasil pendokumentasian teks visual dan verbal mural di FBS dideskripsikan, dan menghasilkan simpulan (1) gaya
penggambaran mural sebagain besar menggunakan pendekatan karikatural (2) komposisi warna yang dimainkan pada gambar
adalah kontras simultan, kontras komplementer, kontras saturasi, keselarasan polikromatik,dan keselarasan monokromatik. Hasil
wawancara dengan muralis meliputi (1) Simbol yang digambarkan banyak membahas tentang pergaulan bebas, pewayangan dan
FBS Undiksha (2) Citra yang terdapat pada mural berisi kritik terhadap lembaga FBS yang kurang komunikasi secara baik
sehubungan dengan perubuhan kampus, kritik terhadap pemerintah tetang korupsi dan ketidak adilan, pergaulan bebas dan
pewayangan.
Kata-kata kunci: teks , konteks mural

Abstract

This study aimed at (1) identifying the background of the existence of mural in FBS Undiksha (2) identifying the visual
and verbal text of mural in FBS (3) identifying the social context of mural in FBS.
The object of this study were the murals on the wall of Language and Art Faculty, Ganesha University of Education. The
subject of the study were the muralist in FBS Undiksha. The techniques of data collection in this study were (1) observation
(2)references (3) documentation (4) interview. The data collected from observation, references, documentation and interview
were analyzed using descriptive-qualitative method.
The result of documentation toward visual and verbal text of mural in FBS were described and arrived at the conclusion
that (1) the style of illustrating the mural were mostly used caricatured approach (2) the color composition used in the pictures
were simultaneous contrast, complementary contrast, saturate contrast, polychromatic harmony, and monochromatic harmony.
The result of interview done toward the muralist including (1) the symbols illustrated in the mural mainly expressed free sex,
puppets and FBS Undiksha (2) the image within the murals contained critique towards FBS which less maintain good
communication regarding to the campus changes, critique towards the government due to corruption and injustice, free sex and
puppets.
Keywords: text, context, mural

17

I KETUT WISANA

ANALISIS TEKS VISUAL

ARIANTO

KARIKATUR HARIAN KOMPAS

27 AGUSTUS
2011

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) unsur visual karikatur Harian Kompas; (2) fungsi tanda karikatur Harian Kompas;
(3) makna karikatur Harian Kompas.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Sasaran penelitian ini adalah karikatur harian
Kompas edisi Bulan Januari 2010 sampai Bulan Juni 2010, rentangan waktu enam bulan ini diambil merujuk pada waktu
penelitian dilaksanakan (kekinian). Terdapat 50 buah karikatur yang terdiri atas 30 buah karikatur dengan tema Politik, 11
karikatur dengan tema Sosial Budaya, 3 buah karikatur dengan tema Pertahanan Keamanan, 3 buah karikatur dengan tema
lingkungan, dan 3 buah karikatur dengan tema ekonomi. Dibahas sebanyak 16 buah karikatur yang dipilih secara porposif untuk
mewakili tema dan topik dari hasil klasifikasi yang telah dilakukan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Berbagai kemungkinan komposisi hadir dalam karikatur Harian Kompas. Komposisi
tersebut diantaranya, statis ditengah bidang gambar, dinamis, membentuk garis diagonal, dan perulangan frame (panel).
Meskipun karikatur adalah gambar yang berbicara, kehadiran teks verbal pada karikatur Harian Kompas tidak dapat dihindari.
Karikatur karya GM Sudarta dan Jitet Koestana cenderung boros dalam pemakaian kata-kata (teks verbal), berbeda dengan
karikatur Thomdean dan Didie SW yang bahkan tanpa teks. Karikaturis GM Sudarta dan Jitet Koestana mengindikasikan
pemakaian tokoh yang sama meski dengan peran yang berbeda pada karikatur-karikaturnya. Karikatur Harian Kompas karya
Thomdean dan Didie SW, mengalir dan menyesuaikan penggunaan tokoh dengan karakter peran yang dibutuhkan dalam topik
yang diangkat. Karikatur Harian Kompas dominan memakai jenis huruf Sans Serif dan Script sebagai teks pengiring atau
pelengkap visualisasi objeknya; (2) Karikatur Harian Kompas memfungsikan tanda-tanda dalam penyampaian pesan atau
pendapat, sehingga menjadi sebuah kesinambungan komunikasi oleh karikaturis dengan para penyimak karikatur sampai saat
ini; (3) Makna karikatur Harian Kompas dapat dilihat dari penggunaan kode bahasa dan makna konotasinya. Kode bahasa dan

makna konotasi berfungsi sebagai kata kunci dari sebuah pesan, dan turut membangun sebuah satir humor pada karikatur.
Kata kunci: teks visual, karikatur, semiotika
ABSTRACT
This research aims to determine: (1) Visual elements of caricatures Kompas daily; (2) Sign function of the Kompas daily
caricatures; (3) Kompas daily caricatures of meaning.
This research is a descriptive study with qualitative approach. Objectives of this study is the Kompas daily caricature edition
January 2010 to June 2010, the six-month time span is taken to refer to the time of the research conducted (contemporary).
There are 50 pieces of caricatures, consisting of 30 caricatures with political theme, 11 Social Culture themed, 3 caricatures with
the theme of Defence Security, 3 caricatures themed environments, and 3 caricatures with economic themes. Discussed as many
as 16 pieces selected porposif caricatures to represent the themes and topics of the classification results that have been done.
The results showed that: (1) Various possibilities present in the composition of the Kompas daily caricatures. The composition of
which, amid the fields of static images, dynamic, forming a diagonal line, and looping frames (panels). Although the caricature
is a picture that speaks, the presence of a verbal text in Kompas Daily caricatures can not be avoided. GM Sudarta caricature
work and Jitet Koestana tend wasteful in the use of words (verbal text), in contrast to caricature and Didie SW Thomdean even
without text. GM Sudarta caricaturists and Jitet Koestana usage figures indicate that the same albeit with different roles on their
caricatures. Kompas daily caricatures works of Thomdean and Didie SW, flow and adjust use character roles required in the
topics raised. Kompas daily caricature dominant using Sans Serif typeface and script as a text companion or complementary
visualization object, (2) Kompas daily caricatures enabled the signs in the delivery of a message or opinion, to be a continuity of
communication with readers by caricaturist caricatures so far; (3) The meaning of Kompas newspaper caricatures can be seen
from the use of code language and meaning connotations. Code language and connotations of meaning serves as the key words
of a message, and helped build a satirical humor in caricature.

Key Word: Visual Text, Caricatures, Semiotika


18

INDRA WARDANA

0612031008

SENI LUKIS KACA ANAK-ANAK DI DESA


NAGASEPAHA, BULELENG

27 AGUSTUS
2011

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang (1) Sistem Pendidikan Seni Lukis Kaca di desa Nagasepaha,(2)
Tema Lukisan Kaca pada Anak-anak Nagasepaha. Penelitian ini adalah penelitian Deskritif Kualitatif dengan teknik
pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Penelitian ini membahas tentang Seni Lukis
Kaca Anak-anak di Desa Nagasepaha, Buleleng. Adapun subyek penelitian ini adalah anak-anak yang yang menekuni Lukis
Wayang Kaca dan tinggal di Desa Nagasepaha.
Hasil penelitian ini antara lain (1) Sistem penularan atau sistem pendidikan Seni Lukis Wayang Kaca yang selama ini berjalan di
Komunitas Seni Lukis Kaca Nagasepaha seperti kesenian tradisi lainnya, umumnya, diajarkan secara turun temurun melalui dua
cara, yaitu Sistem Pewarisan (Parental Succession) dan Sistem Cantrik (A.J. Soehardjo, 2005). Pada perkembangan selanjutnya,
sistem pendidikan itu masuk ke jalur Formal. Kegiatan Seni Lukis Kaca menjadi sebuah kegiatan pembelajaran di lembaga
pendidikan formal dalam hal ini kegiatan Pengembangan Diri di SD Negeri 1 Nagasepaha, (2) Tema dalam karya yang
dihasilkan oleh Anak-anak Nagasepaha menampilkan berbagai macam tampilan secara visual namun adanya semangat tradisi
masih sangat kuat sehingga cenderung mempengaruhi dari tiap karya yang mereka hasilkan. Dalam tampilan karya mereka
terlihat ada 3 (Tiga) faktor yang mempengaruhi, yakni (a) Pengaruh dari Tradisi (Pewayangan), terlihat jelas pada karya-karya
mereka yang menggunakan pakem-pakem tradisi, seperti pada komposisi, teknik dan bentuk (aspek visual). Selain itu, (b)
Pengaruh dari Media Massa juga terlihat pada objek-objek atau tema yang dipilih. Seperti tokoh-tokoh kartun yang akhirnya
mereka jadikan karya. (c) Pengaruh dari Lingkungan (Geologis). Karya-karya yang dipengaruhi oleh lingkungan memang tak
terhindari mengingat pola pikiran anak-anak sangat peka terhadap hal yang mereka temui. Lingkungan yang dimaksudkan disini
hampir bersifat umum, misalnya saja lingkungan sekitar, keluarga, pergaulan , sekolah dan desa, budaya setempat serta peristiwa
upacara keagamaan masuk ke dalamnya.
Kata kunci : Seni Lukis Kaca, Anak-anak Nagasepaha, Sistem Pendidikan, Tema Lukisan.
ABSTRACT
This Study aimed to obtain information about (1) The System of glass painting art education in Nagasepaha Village, (2) the

theme of glass painting by children in Nagasepaha Village. This study is a Qualitative Descriptibe study with data collection
techniqes are observation, interviews, documentations and literature review. This study discusses the art of Glass painting of
Children in Nagasepaha Village, Buleleng. As the subject of this study were Children who pursue Glass Painting and live in
Nagasepaha village.
The result of the study include (1) the transmition system or education system of the art of Glass Puppet Painting that had been
running in the community of Glass Painting in Nagasepaha like the other traditions, gennerally are thaught from generation to
generation throught two ways, namely inheritance systems (Parental Succession) and System Cantrik (A.J. Soehardjo, 2005). On
the subsequent developments, that educations system goes into formal. Glass Painting activity becomes learning activity in
formal educational instutions, in this case, the self development activities in SDN 1 Nagasepaha shows some kinds of
appeareance in visual display, but the spirit of tradition is still strong that tend to affect every product they produced. In their
works we can see there are three factor affect their products such as (a) the efect of traditionn (wayang tradition), cearly seen on
their works which is using traditional concept in the composition, technique and shape ( visual aspect), besides that, (b) the
effect of (media massa) also seen on the object or the theme they were choose, for example, character from their favorite
animation as the model in their art product. (c) the effect from their environment (geologist). Art products that affect by the
environment are cannot be deny, because of the factor of children perspective which is very sensitive for everythink they have
found. The environment here means the general one, for example their live environment, family, associate environment, shool
and the village, their culture, including the religious ceremonial.
Key words : Glass Painting Art, Nagasepaha Children, Education System, the theme of the paint.

19

I WAYAN JUNI ANTARA

0612031017

INTERAKSI PROSES KREATIF


KELUARGA PERUPA I KETUT MUJA

27 AGUSTUS
2011

ABSTRAK
(i-xvi, 198 halaman)
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang (1) Interaksi Proses Kreatif Keluarga Perupa I Ketut Muja; (2)
Biografi masing-masing anggota keluarga I Ketut Muja; (3) Proses Kreatif masing-masing anggota keluarga I Ketut Muja; (4)
Konsep berkarya dari masing-masing anggota keluarga I Ketut Muja; (5) Teks dan konteks masing-masing anggota keluarga I
Ketut Muja.
Penetitian ini adalah penelitian deskritif kualitatif dengan proses pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik
wawancara, dan teknik kepustakaan. Subyek penelitian ini adalah masing-masing anggota keluarga I Ketut Muja yang memiliki
keragaman dari segi konsep, gagasan dan tampilan visualnya.
Hasil temuan penelitian ini adalah (1) Interaksi yang terjadi di keluarga perupa I Ketut Muja yang berpengaruh terhadap
motivasi, konsep, serta perwujudan karyanya; (2) Biografi masing-masing anggota keluarga I Ketut Muja yang hidup bersama
pada satu kompleks rumah berarsistektur Bali, anggota keluarga perupa ini meliputi Ketut Muja sebagai kepala rumah tangga, I
Wayan Jana, I Made Supena, I Ketut Lekung Sugantika adalah anak kandung, sedangkan Ni Nyoman Sani adalah
menantunya; (3) Proses kreatip masing-masing anggota keluarga perupa I Ketut Muja yang memiliki kecenderungan pada
gubah rupa realistik, naturalistik, surealistik, maupun abstraksi melalui jalan pemiuhan objeknya. I Ketut Muja dan Wayan Jana
dalam berkarya patung mempercayai intuisi yang dimiliki guna merespon serta mencari rahasia yang paling esensi dari alur kayu
sebagai mediumnya, I Made Supena serta I Ketut Lekung Sugantika menggunakan sketsa acuan yang kemudian dipindahkan
pada kanvas-kanvasnya, sedangkan Ni Nyoman Sani tidak menggunakan sketsa acuan dalam tindak kreatifnya; (4) Konsep
karya dari masing-masing anggota keluarga perupa I Ketut Muja dapat dikategorikan dalam subyek mater yang diangkat sebagai
gagasan yang meliputi representasi realitas sosial dan budaya; (5) Karya dari masing-masing anggota keluarga perupa I Ketut
Muja dibaca nilai teks dan konteksnya sehingga pembacaan karya tidak hanya berhenti pada nilai estetis semata namun akan
ditafsir pula makna yang terkandung dibalik karya pera perupa muda tersebut.
Kata Kunci : Interaksi, Proses Kreatif, Perupa, Biografi, Konsep, Teks dan Konteks.
ABSTRACT
This research aims to gain an overview of (1) Family Interaction Processes Creative Artists I Ketut Muja, (2) Biogafi each

family member, I Ketut Muja, (3) Creative Process each family member, I Ketut Muja, (4) Concept work of each family
member, I Ketut Muja, (5) Text and context of each family member, I Ketut Muja.
This research is a qualitative descriptive research with data collection process using observation techniques, interview
techniques, and technique literature. The subjects of this study is each family member, I Ketut Muja that has diversity in terms of
concepts, ideas and visual appearance.
These research findings are (1) interactions that occur in families artists I Ketut Muja that affect the motivation, concepts, and
the embodiment of his work, (2) biography of each family member, I Ketut Muja who live together in one compound
architecture Bali family members of this artists include Ketut Muja as head of household, I Wayan Jana, I Made Supena, I Ketut
"Lekung" Sugantika is the biological child, while Ni Nyoman Sani is the law, (3) creative process of each family member artists
I Ketut Muja who have a tendency to change their way of realistic, naturalistic, surrealistic, and abstraction through the streets
abstraction object. I Ketut Muja and Wayan Jana statue trusting intuition in the work that has to respond and seek the most secret
essence of wood as a medium groove, I Made Supena and I Ketut "Lekung" Sugantika using reference sketches that are then
transferred to canvases, while Ni Nyoman Sani not use the sketch reference in his creative act, (4) the concept of work from each
member of the family of artists I Ketut Muja can be categorized in the subject mater of which was adopted as ideas covering
social and cultural representations of reality, (5) the work of each family members of artists I Ketut Muja read the text and its
context so that the readings do not just stop at the aesthetic value will be interpreted alone but also embodied the meaning
behind the work of young artists;
Keywords: Interaction, Creative Process, Artists, Biography, Concept, Text and Context.

20

KETUT SUMERTA YASA

0812037002

PENGANEKARAGAMAN TEKNIK FINISHING


KRIYA KAYU MELALUI METODE TUTORIAL

27 AGUSTUS
2011

AHLI
DI SMK N I SUKASADA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) mendeskripsikan keanekaragaman tkhnik finishing kriya kayu, (2)
nendeskripsikan penerapan keanekaragaman teknik finishing kriya kayu di SMK N 1 Sukasada melalui metode tutorial ahli (3)
mendeskripsikan kualitas finishing kriya kayu di SMK N 1 Sukasada.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam satu siklus. Subjek penelitian yang dipakai
adalah siswa kelas XI Desain Produksi Kayu SMK N I Sukasada tahun pelajaran 2010/2011, sebanyak 37 orang yang
kesemuanya berjrnis klamin laki-laki. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan
pengamatan. Data yang diperoleh dari observasi dan pengamatan selanjutnya dianalisis dengan tehnik deskriptif-kualitatif
dengan hasil penelitian yang berupa hasil diskusi.
Hasil penelitian dengan menggunakan metode tutorial ahli dalam pembelajaran finishing kriya kayu menunjukkan hasil
bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa yaitu sebelum diadakan bimbingan dari tutor ahli perolehan nilai siswa adalah
sebagai berikut 0 orang yang memperoleh nilai dengan predikat amat baik (A), 1 orang siswa yang memperoleh nilai dengan
predikat baik (B), 21 orang siswa yang memperoleh nilai dengan predikat cukup (C), dan 15 orang siswa yang memperoleh nilai
dengan predikat kurang (K), dan setelah diadakan penganekaragaman teknik finishing kriya kayu melalui metode tutorial ahli
perolehan hasil belajar siswa sebagai berikut 10 orang siswa memperoleh nilai dengan predikat amat baik (A), 22 orang siswa
memperoleh nilai dngan predikat baik (B), 5 orang siswa memperoleh nilai dengan predikat cukup (C), dan tidak ada siswa yang
memperoleh nilai dengan predikat kurang (K).
Pencapaian hasil belajar yang begitu signipikan ini disebabkan karena penyampaian materi finishing oleh tutor ahli
mudah di mengerti oleh siswa. Penyampaian materi dilakukan secara teori dan praktek langsung dan di demontrasikan proses
aplikasi finishing tersebut oleh tutor ahli.

ABSTRACT

This study aims to determine (1) describe the diversity of craft wood finishing techniques, (2) nendeskripsikan application of
diversity techniques in finishing wood craft SMK N 1 Sukasada through tutorial method expert (3) describes the craft of wood
finishing quality at SMK N 1 Sukasada
This study is a classroom action research conducted in one cycle. Research subjects who used the class XI student of
Wood Production Design Sukasada SMK NI 2010/2011 school year, as many as 37 people who all male sex. Collecting data in
this study carried out by the method of observation and observation. Data obtained from observations and subsequent
observations were analyzed with descriptive techniques, qualitative research results in the form of discussion.
The results using the method of expert tutorials in learning the craft of wood finishing results suggest that an increase in
student learning outcomes that before held the guidance of expert tutors students' grades are as follows 0 people who get very
good value with the predicate (A), 1 student obtain the value of the predicate either (B), 21 students who received grades with
sufficient predicate (C), and 15 students who obtain less value by the predicate (K), and after extensive diversification of craft
wood finishing techniques through expert tutorial method proceeds student learning as follows 10 students get very good value
with the predicate (a), 22 students received grades dngan predicate either (B), 5 students received grades with sufficient
predicate (C), and no student who obtained the value of the predicate less (K).
Achievement of learning outcomes so signipikan is due to delivery of material finishing by expert tutors easily
understood by students. Delivery of content made in theory and practice and in finishing the application process is demonstrated
by expert tutors.

20

I GEDE KARTIASA

0812037001

PENERAPAN MEDIA VIDEO UNTUK

31 DESEMBER

MENINGKATKAN KUALITAS ESTETIS


KERAMIK FUNGSIONAL SISWA KELAS
XII DESAIN PRODUKSI KRIYA
KERAMIK SMK NEGERI 1 SUKASADA
TAHUN PELAJARAN 2010/2011

2011

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) ada tidaknya peningkatan Kreativitas belajar siswa kelas XII SMK
Negeri 1 Sukasada tahun pelajaran 2010/2011 melalui penerapan media video pembelajaran, (2) peningkatan
kualitas estetis keramik fungsional oleh siswa kelas XII SMK Negeri 1 Sukasada tahun pelajaran 2010/2011
melalui penerapan media video pembelajaran pada kompetensi desain produksi kriya keramik.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, dengan subjek penelitian disini adalah siswa kelas XII
desain produksi kriya keramik SMK Negeri 1 Sukasada tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 10 orang ( 1
orang perempuan dan 9 orang laki-laki). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metode
observasi, dan untuk data kreativitas belajar adalah dengan metode penugasan. Selanjutnya data tersebut
dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan: (1) tingkat
kreativitas belajar siswa melalui media video pembelajaran pada kompetensi dasar desain produksi kriya
keramik pada siklus I termasuk dalam kategori cukup baik, dan pada siklus II termasuk dalam kategori baik. (2)
kualitas estetis keramik fungsional oleh siswa kelas XII pada siklus I dan II termasuk dalam kualifikasi sedang
dan tinggi dengan rata-rata hasil belajar masing-masing 71,6 dan 81,3. Ketuntasan belajar yang dicapai pada
siklus I mencapai 83,6% dan pada siklus II mencapai 100%.Sesuai dengan penelitian tindakan kelas ini, maka
dapat disimpulkan bahwa penerapan media video pembelajaran dalam pembelajaran desain produksi kriya
keramik dapat meningkatkan kreativitas belajar dan kualitas estetis dalam pembuatan keramik fungsional oleh
siswa kelas XII desain produksi kriya keramik SMK Negeri 1 Sukasada.

ABSTRACT

This research is purposefully intended to know : (1)whether the increased creativity can be inchanced or not
through the application of videi learning XII grade students of ceramic productive craft design SMK Negeri 1
Sukasada academic year 2010/201, (2) to increase the estetic quality of functional ceramic XII grade students
SMK Negeri 1 Sukasada academic year 2010/2011.
This rsearch is an action research and the subjects are students XII grade students of ceramic productive craft
design SMK Negeri 1 Sukasada academic year 2010/2011, the number of students are to consisting of 1 female
and 9 male. Data are collected with an observation technique data on students creating through assignment
giving technique (through project work) as the data are collected its analysed through qualitative descriptive.
The outcome of this research shows that the creativity rate t cycle 1 is fairly good increase to good at cycle 2.
the estetic quality at cycle 1 is fair with mean of 71.6, at cycle 2 high at with mean of 81.3. learning mastery
reach the number of 83.6 %, at cycle 1 t cycle 2 is 100 %. Learning the research outcome, the conclusion can
be aran (as to the). Through the application of video learning can increase the learning creativity as well as the
estetic quality of froductive ceramic, students of ceramic productive craft design SMK Negeri 1 Sukasada
academic year 2010/2011.
21

I MADE ARTANA

0712031006

KERAJINAN PRASI DI BANJAR TENGAH,


KECAMATAN SIDEMEN KABUPATEN
KARANGASEM

31 DESEMBER
2011

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Alat dan bahan dalam pembuatan prasi(2) Proses pembuatan prasi (3) tema prasi (4)
model pewarisan pelaku pembuat prasi di Banjar Tengah, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem.
Sasaran penelitian ini adalah prasi yang berada di Banjar Tengah, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Prasi itu

sendiri merupakan ilustrasi yang dibuat di atas daun rontal. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskritif kualitatif.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) teknik observasi (2) teknik wawancara (3) teknik telaah dokumentasi.
Instrumen yang digunakan adalah (1) instrument observasi (2) instrumen wawancara (3) insrumen pendokumentasian. Analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) analisis domain yang bertujuan untuk memperoleh gambaran atau
pengertian umum, relatif dan menyeluruh, dan (2) analisis taksonomi untuk mengolah data lebih lanjut, lebih rinci dan
mendalam.
Hasil penelitian ini menunjukan alat dan bahan pembuatan prasi terdiri atas (1) a. pengrupak, jempurit, blagbag atau pengepresan,
gergaji kayu, kuas, penggaris, pensil, dan serut, b. bahan terdiri atas daun rontal, buah kemiri (Aleurites Moluccana), gincu atau cat
kayu, benang kasur, dan bambu. (2) Proses pembuatan prasi melalui tahap pembentukan daun rontal, penggambaran, dan finishing .
(3) Tema dari prasi itu sendiri adalah cerita Ramayana, cerita Mahabharata, dan Lelintangan. (4) Model pewarisan prasi yang
dilakukan oleh masyarakat pelaku pembuat prasi dilakukan dengan sistem pewarisan dan sistem cantrik.
ABSTRACT
This researchs aimed to know (1) the tools and the materials in making prasi (2) prasi production (3) the topic of prasi (4) in
heriting doer of making prasi model in Banjar Tengah, Sidemen Distric, Karangasem Regency.
The target of this research was the prasi of Banjar Tengah, Sidemen Distric, Karangasem Regency. That prasi formed
illustration that made on the rontal leaves. Approximation that used was descriptive qualitative approach. Collcting data
technique that used was (1) observation technique (2) interview technique (3) documentation research technique. The
instrument that used was (1) observation instrument (2) interview instrument (3) documentation instrument. Analysis data
that used in this research was (1) domain analysis that aimed to have description or general meaning relative and spread,
and (2) the taxonomy analysis to process the data more over, more specivy and thorough.
The result of this research that the tools and materials of making prasi consist of (1) a. pengrupak, jempurit, blagbag or
pengepresan, the wood saw, brush, ruler, pencil, and shaving, b. the materials rontal leaves, kemiri fruit (Aleurites Moluccana),
gincu or wood paint, mattress thread, and bamboo. (2) Prasi production process through rontal leaves formation process,
description, and finishing. (3) The topic of that prasi are Ramayana story, Mahabharata story, and Lelintangan.Prasi inheriting
model that done by the doer society of making prasi with inheriting system and cantrik system.