Anda di halaman 1dari 9

JUMP 1

1. Obat Supertetra http://www.dechacare.com/Super-Tetra-P592.html


- SUPER TETRA merupakan antibiotik pilihan utama terhadap infeksi yang
disebabkan oleh mikroorganisme sebagai berikut: Vibrio cholerae, Vibrio
fetus, Haemophilus ducreyi, Mycoplasma pneumoniae, semua jenis
Rickettsia, Borrelia Spp., Chlamydia (psittacosis, omithosis,
lymphogranuloma venereum, Trachoma-Incluston Conjuctivitis), Brucella
Spp.
- SUPER TETRA merupakan obat alternatif lain disamping Penisilin untuk
infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme sebagai berikut: Neisseria
gonorrhoeae, Treponema pallidum dan Treponema pertenuc, Haemophilus
influenzae,Bacillus anthracis.
- SUPER TETRA bukan untuk batuk kering dan virus.
2. Dosis obat
http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/42961/fa445ec1392185997e
29213871dcdfa6
Dosis obat adalah sejumlah obat (satuan berat, isi atau unit
international) yang memberikan efek terapi pada penderita dewasa.
3. Antacid
http://www.ilmudokter.com/2014/07/pengertian-antasida.html
Antasida adalah golongan obat yang berfungsi menetralkan asam
lambung. Umunya, antasida mengandung aluminium hidroksida atau
magnesium hidroksida.
Antasida biasanya digunakan untuk mengobati penyakit maag atau
gastritis.
http://artikata.com/arti-7988-antacid.html
adjective satellite
1. acting to neutralize acid (especially in the stomach)
noun
2. an agent that counteracts or neutralizes acidity (especially in the
stomach)
3.A remedy for acidity of the stomach, as an alkali or absorbent.
4. SGOT http://kamuskesehatan.com/arti/sgot/
SGOT (serum glutamat oksaloasetat transaminase), kini disebut AST
(aspartat aminotransferase), adalah enzim yang biasanya hadir di selsel hati dan jantung. SGOT dilepaskan ke dalam darah ketika hati atau
jantung rusak. Tingkat SGOT meningkat bila ada kerusakan hati (misalnya,
dari virus hepatitis) atau penyakit jantung. Beberapa obat juga dapat
meningkatkan kadar SGOT.
5. SGPT http://kamuskesehatan.com/arti/sgpt/
SGPT (Serum glutamat piruvat transaminase) adalah sebuah enzim yang
biasanya hadir di sel-sel hati dan jantung. SGPT dilepaskan ke dalam

darah ketika hati atau jantung rusak. Juga disebut alanin aminotransferase
(ALT).

JUMP 1
1. Kenapa ada obat yang diminum sebelum makan dan ada yang
diminum sesudah makan?
http://bbpkmakassar.or.id/index.php/Umum/Info-Kesehatan/OBATDIMINUM-SEBELUM-ATAU-SESUDAH-MAKAN.phd

Sebagian besar orang beranggapan bahwa waktu minum obat adalah sesudah
makan, apakah Anda termasuk orang yang mempunyai anggapan seperti itu? Jika ya,
maka mulai saat ini Anda harus meninggalkan anggapan itu secepatnya. Persepsi yang
salah seperti itu sering kali terjadi pada orang-orang awam yang memang hanya tahu
kalau minum obat harus sesudah makan. Padahal, tidak semua obat diminum sesudah
makan, tentunya persepsi seperti itu akan merugikan pasien dan bisa menyebabkan
keberhasilan terapi akan terhambat.
Untuk sebagian obat, kondisi saluran cerna berkaitan erat dengan kesuksesan
terapi. Jadi, ada obat yang sebaiknya diminum 1 jam sesudah makan, pada saat makan
ataupun 2 jam setelah makan. Obat memiliki sifat fisikokimia yang pelarutan,
penyerapan, distribusi, dan ekskresinya di dalam tubuh akan tergantung kondisi
saluran cerna. Waktu untuk meminum obat penting untuk diperhatikan, karena obat
memiliki sifat dan tujuan penggunaan masing-masing. Kesalahan waktu minum obat
dapat berakibat tujuan penggunaan tidak tercapai bahkan menyebabkan efek samping
baru.
Penyerapan obat dapat berkurang oleh makanan yang ada di dalam saluran
cerna, sehingga efeknya dapat menurun. Sebagai contoh, beberapa antibiotik seperti
tetrasiklin, kloramfenikol dan azitromisin sebaiknya diminum pada saat 1 jam
sebelum makan atau 2 jam sesudah makan sehingga mencegah interaksi dengan
makanan dan meningkatkan penyerapannya. Jika diminum bersama makanan, kadar
obat yang masuk ke dalam darah dapat berkurang sehingga efek obat yang diharapkan
tidak tercapai, dapat terjadi resistensi bakteri, dan penyakit yang diderita tidak akan
sembuh.
Kondisi lambung yang kosong, dengan asam lambung tinggi juga dapat
menyebabkan obat terurai dan menurunkan khasiat atau bahkan bisa menyebabkan
perut menjadi perih akibat iritasi lambung. Obat-obat analgesik, AINS (anti inflamasi
non steroidal), dan kortikosteroid oral mempunyai efek samping mengiritasi lambung
sehinggal harus diminum segera setelah makan.
Berkaitan dengan tujuan penggunaannya, antasida yang berfungsi untuk
menetralkan asam lambung dapat diminum 15 menit sebelum makan atau 2 jam
setelah makan. Obat-obat diabetes seperti glibenklamid dan glipizid yang diharapkan
bekerja pada saat makan sebaiknya diminum sekitar 30 menit sebelum makan.
Adapun golongan pencahar seperti minyak jarak sebaiknya diminum pagi-pagi pada
saat perut kosong.

Waktu penggunaan yang berbeda untuk tiap obat, maka mintalah saran kepada
apoteker atau petugas kesehatan lain. Waktu pemakaian dapat dituliskan pada label
obat untuk mencegah Anda lupa. Penggunaan waktu yang tepat salah satu hal yang
menjamin keberhasilan terapi Anda.
Referensi
Brunton L., et al, 2008, Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of
Therapeutics, Tenth Edition, McGraw-Hill Professional, Bethesda NY
2. Apa penyebab diare?

http://medicastore.com/diare/penyebab_diare.htm
Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu
terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa penyebab diare, yaitu:
1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi
telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.
4. Pemanis buatan
Berdasar metaanalisis di seluruh dunia, setiap anak minimal mengalami diare satu kali setiap
tahun. Dari setiap lima pasien anak yang datang karena diare, satu di antaranya akibat
rotavirus. Kemudian, dari 60 anak yang dirawat di
rumah sakit akibat diare satu di antaranya juga karena
rotavirus.
Di Indonesia, sebagian besar diare pada bayi dan anak
disebabkan oleh infeksi rotavirus. Bakteri dan parasit
juga dapat menyebabkan diare. Organisme-organisme
ini mengganggu proses penyerapan makanan di usus
halus. Dampaknya makanan tidak dicerna kemudian
segera masuk ke usus besar.
Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus
akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini proses transit di usus
menjadi sangat singkat sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang
menyebabkan tinja berair pada diare.
Sebenarnya usus besar tidak hanya mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga elektrolit.
Kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat menimbulkan dehidrasi.
Dehidrasi inilah yang mengancam jiwa penderita diare.
Selain karena rotavirus, diare juga bisa terjadi akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap
laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak yang memiliki intoleransi terhadap laktosa
dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit memiliki enzim laktose yang berfungsi
mencerna laktosa yang terkandung susu sapi.

Tidak demikian dengan bayi yang menyusu ASI. Bayi tersebut tidak akan mengalami
intoleransi laktosa karena di dalam ASI terkandung enzim laktose. Disamping itu, ASI
terjamin kebersihannya karena langsung diminum tanpa wadah seperti saat minum susu
formula dengan botol dan dot.
Diare dapat merupakan efek sampingan banyak obat terutama antibiotik. Selain itu, bahanbahan pemanis buatan sorbitol dan manitol yang ada dalam permen karet serta produk-produk
bebas gula lainnya menimbulkan diare.
Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon
yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari
rapuhnya tulang.
Orang tua berperan besar dalam menentukan penyebab anak diare. Bayi dan balita yang
masih menyusui dengan ASI eksklusif umumnya jarang diare karena tidak terkontaminasi
dari luar. Namun, susu formula dan makanan pendamping ASI dapat terkontaminasi bakteri
dan virus.
http://www.penyebab-penyakit.com/2013/07/penyebab-dan-gejala-penyakitdiare.html
Penyebab Penyakit Diare
Penyakit diare dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, beberapa hal yang
menjadi penyebab penyakit ini adalah sebagai berikut:
a. Virus
Pada umumnya penyebab penyakit Diare yaitu disebabkan oleh virus yang
menyerang dan menginfeksi bagian usus.
b. Kelebihan Vitamin C
Kelebihan Vitamin C juga dapat menyebabkan diare, salah satu contohnya yaitu
buah jeruk. Buah jeruk mengandung banyak vitamin C. Jika memakan buah jeruk
secara berlebihan dapat menyebabkan Diare. Mungkin hal ini pernah anda alami
sebelumnya.
c. Alergi Obat-obatan
Obat-obatan juga dapat menyebabkan Diare jika tubuh kita tidak dapat
menyesuaikannya.
d. Keracunan Makanan
Beberapa penyebab diatas adalah penyebab penyakit diare yang sering dialami
oleh masyarakat pada umumnya. Selain itu penyebab lain dapat ditimbulkan dari
lingkungan yang kurang bersih apa lagi pada daerah yang sering terkena banjir.
3. Kenapa setelah minum obat supertetra si ibu gatal-gatal dan
perutnya terasa perih?
http://www.apotikantar.com/super_tetra_250_mg_kapsul

Efek Samping SUPER Mual, muntah, ruam kulit, urtikaria, nyeri epigastrium,
TETRA:
hepatotoksik dan nefrotoksik eksaserbasi SLE

http://kamuskesehatan.com/arti/urtikaria/
Urtikaria adalah erupsi (perebakan) ruam kemerahan pada kulit yang biasanya
disertai dengan rasa gatal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh alergi (misalnya
terhadap makanan atau obat-obatan), stres, infeksi atau agen fisik (misalnya
panas atau dingin). Urtikaria tidak berbahaya kecuali bila menyebabkan
pembengkakan tenggorokan, yang jarang terjadi tetapi membutuhkan
perawatan segera.

http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/nyeri-epigastrium_-9510001031155
Nyeri Epigastrium berhubungan dengan nyeri yang tajam dan terlokalisasi yang dirasakan
oleh seseorang pada daerah tengah atas perut yang berada tepat di bawah tulang iga sewaktu
atau segera setelah makan. Ini adalah gejala yang paling sering didapatkan pada Penyakit
Refluks Gastroesofageal atau rasa panas pada bagian dada. Penyebab nyeri epigastrium yang
paling umum antara lain makan secara berlebihan, minum alkohol sewaktu makan, atau
mengkonsumsi makanan-makanan yang berminyak atau pedas. Nyeri epigastrium juga dapat
disebabkan oleh penyakit saluran pencernaan seperti refluks asam lambung atau intoleransi
laktosa. Hal ini dapat diakibatkan oleh isi lambung yang bergerak ke atas masuk ke bagian
belakang tenggorokan, menyebabkan peradangan dan nyeri dengan sensasi terbakar. Apabila
hal ini terjadi dengan gejala yang mengancam nyawa lainnya seperti serangan jantung,
diperlukan penanganan segera.
4. Mengapa ketika si ibu mengurangi dosis obat dan meminum
anacid serta susu, diare si ibu tidak sembuh-sembuh dan gatalnya
semakin parah?
5. Apa kandungan obat supertetra?

http://www.apotekpasarlegi.com/product/74/590/Super-Tetra
KOMPOSISI :
Tiap kapsul lunak mengandung : tetracycline HCL phosphate buffered setara dengan
tetracycline HCL 250 mg.
INDIKASI :

Super tetra merupakan antibiotik pilihan utama terhadap infeksi yang disebabkan oelh
mikiroorganisme sebagai berikut : Vibrio cholerae, Vibrio fetus, Haemophilus
ducreyi, Mycoplasma pneumoniae, semua jenis rickettsia, Borrelia spp., Chlamydia
(psittacosis, omithosis, lymphogranuloma venereum, Trachoma incluston
conjuctivitis, kerato conjuctivitis), Brucella spp.

Super tetra merupakan obat alternatif lain disamping penisilin untuk infeksi yang
disebabkan oleh mikroorganisme sebagai berikut : Neisseria gonorrhoeae, Treponema
pallidum dan Treponema pertenuc, haemophilus influenzae, Bacillus anthracis.

Super tetra tidak untuk batuk kering dan virus.

KEMASAN :

Box berisi 120 kapsul lunak dalam 20 strip


DOSIS :
Pemberian dilakukan 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah makan. Dosis dan lama
pemakaian tetgantung pada jenis dan beratnya infeksi atau sesuai dengan petunjuk dokter.
Dosis lazim dewasa : 1-2 kapsul setiap 6 jam
Dosis lazim anak-anak > 8 tahun : 25-50 mg/kg berat badan/hari dalam dosis terbagi-bagi
setiap 6 jam.
GOLONGAN :
Keras paten
PABRIK :
Darya Varia
6. Bagaimana konsep farmakogenetik dan farmakagenomik?
7. Bagaimana konsep farmakodinamik?
http://eprints.undip.ac.id/7866/1/KULIAH_FARMAKOLOGI_
%26_TERAPEUTIK_I__2008.pdf
8. Bagaimana konsep farmakokinetik?
a. TERLAMPIR PPT
b. https://www.academia.edu/5897982/FARMAKOLOGI
Farmakokinetik adalah cabang farmakologi yang dikaitkan dengan
penentuan nasib obat dalam tubuh, yang mencakup absorbsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi. Efektivitas suatu senyawa obat pada
pemakaian klinik berhubungan dengan farmakokinetik suatu senyawa dari
suatu bentuk sediaan yang ditentukan oleh ketersediaan hayatinya
(bioavailabilitasnya). Absorpsi merupakan proses penyerapan obat dari
tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses. Pada
klinik pemberian obat yang terpenting harus mencapai bioavaibilitas yang
menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus
metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Hal ini penting,
karena terdapat beberapa jenis obat tidak semua yang diabsorpsi dari
tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sistemik, namun akan
dimetabolisme oleh enzim didinding usus pada pemberian oral atau dihati
pada lintasan pertamanya melalui organ- organ tersebut. Setelah
diabsorpsi obat akan didistribusi keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah,
karena selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan
oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dapat dibedakan menjadi 2 fase
berdasarkan penyebaran didalam tubuh, yaitu :
a. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke
organ yang perfusinya sangat baik, seperti jantung, hati, ginjal dan
otak.
b. Distribusi fase kedua jauh lebih luas lagi, yaitu mencakup jaringan
yang perfusinya tidak sebaik organ pada fase pertama, misalnya pada
otot, visera, kulit dan jaringan lemak. Biotransformasi atau lebih
dikenal dengan metabolisme obat, adalah proses perubahan struktur

kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis oleh enzim. Pada
proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar atau lebih mudah
larut dalam air dan kurang larut dalam lemak, sehigga lebih mudah
diekskresi melalui ginjal. Eliminasi obat dikeluarkan dari tubuh melalui
berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi
(dalam bentuk asalnya). Obat (metabolit polar) lebih cepat diekskresi
daripada obat larut lemak, kecuali yang melalui paru. Ginjal merupakan
organ ekskresi yang terpenting dan ekskresi disini resultante dari 3
proses, yaitu filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan
reabsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal.
9. Apa akibat dalam jangka panjang apabila SGOT dan SGPT
melebihi normal?
http://www.scribd.com/doc/118896155/Bab-2-Sgot-Sgpt
SGOT-SGPT bukan istilah baru. Meski begitu, umumnya kita hanya
tahusepintas lalu. Belum banyak yang paham bahwa angka laboratorium kadang
tak selalu bisa dijadikan patokan baku. Kadar di atas normal tak mesti
sakit. Kadarnormal pun tak selalu berarti sehat.
SGOT-SGPT adalah dua enzim transaminase yang dihasilkan
terutamaoleh sel-sel lever. Bila sel-sel lever rusak, misalnya pada hepatitis
atau sirosis,kadar kedua enzim ini meningkat. Karena itu, keduanya bisa
memberi gambaranadanya gangguan hati.
Gangguan hati bentuknya berjenis-jenis. Penderitanya pun tak
sedikit.Jumlah pengidap hepatitis C saja sekitar 3% dari populasi. Belum
lagi hepatits Adan B yang jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Apalagi jika
ditambah denganperlemakan hati, sirosis, intoksikasi obat, fibrosis hati,
dan penyakit-penyakit lainyang namanya jarang kita dengar. Penyakitpenyakit ini umumnya ditandaidengan peningkatan SGOT-SGPT.
Namun, kedua enzim ini tidak seratus persen dihasilkan lever.
Sebagiankecil juga diproduksi oleh sel otot, jantung, pankreas, dan ginjal.
Itu sebabanya, jika sel-sel otot mengalami kerusakan, kadar kedua enzim
ini pun meningkat.
Rusaknya sel-sel otot bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya
aktivitasfisik yang berat, luka, trauma, atau bahkan kerokan. Ketika kita
mendapat injeksiintramuskular (suntik di jaringan otot), sel-sel otot pun
bisa mengalami sedikitkerusakan dan meningkatkan kadar enzim
transaminase ini. Pendek kata, adabanyak faktor yang bisa menyebabkan
kenaikan SGOT-SGPT.
Dibanding SGOT, SGPT lebih spesifik menjukkan ketidakberesan sel
hatikarena SGPT hanya sedikit saja diproduski oleh sel nonlever. Biasanya,
faktornonlever tidak menaikkan SGOT-SGPT secara drastis. Umumnya,
tidak sampaiseratus persen di atas BAN. Misalnya, jika BAN kadar SGPT
adalah 65 unit/liter(u/l), kenaikan akibat bermain bola lazimnya tak sampai
dua kali lipat.
10.
Apa pengaruh lingkungan terhadap diare yang dialami oleh
si ibu dan suaminya?
https://www.academia.edu/4695685/FAKTOR_FAKTOR_YANG_BERHUBUNGAN_DENGAN_KEJADIAN_DIARE_PADA_PENDUDUK_DI_KE
LURAHAN_GUNG_NEGERI_KECAMATAN_KABANJAHE
Sampah mempunyai pengaruh terhadap kondisi lingkungan danstatus
kesehatan masyarakat. Pola aktifitas dan kehidupan masyarakat jugaberpengaruh
terhadap volume, komposisi dan produksi sampah. Sampah yangdibuang begitu saja

akan mudah mencemari lingkungan dan membahayakanmasyarakat. Salah satu


penyakit akibat sampah adalah diare.
11.
Mengapa timbul efek samping yang berbeda pada si ibu dan
suaminya terhadap obat supertetra?
http://www.scribd.com/doc/239599205/Respon-Reaksi-Obat-DanFaktor-Yang-Mempengaruhi
Faktor yang mempengaruhi respon klinis pengguna obat
Menurut Tanzil (2006) hasil penelitian yang dilakukan oleh para klinisi
memberikan hasil bahwa pasien yang diobati memberikan variasi respon
terhadap obat atau pengobatan yang telah diberikan dengan jumlah dan
kondisi yang sama. Selain itu variasi respon yang timbul dapat
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berhubungan diantaranya;
Dosis dalam resep Dosis Minum Konsentrasi pada Tempat Kerja Obat
Intensitas Efek Faktor klinis secara umum yang memperngaruhi respon
klinis pengguna obat antara lain:
1. Status pasien; umur penderita sangat mempengaruhi kerja dan efek
obat. Hal ini disebabkan karena kondisi metabolism obat dan fungsi ginjal
kurang efisien pada bayi yang sangat muda dan pada orang lansia. Oleh
karena itu, obat yang dikonsumsi pasien cenderung menghasilkan efek
yang lebih kuat dan lebih lama pada kedua umur tersebut. Selain itu,
terdapat perbedaan sensitivitas jaringan yang menyebabkan perbedaan
efek obat pada konsentrasi plasma yang sama.
2. Penyakit dan gangguan; penyebab terjadinya penyakit pada klien
bervariasi, hal ini mempengaruhi penggunaan dan pemberian dosis obat
pada masing-masing klien. Dosis yang diberikan pada pasien yang
menderita hipertensi berbeda dengan pasien yang menderita diabetes.
Penggunaan dosis obat yang berbeda dapat mempengaruhi proses
distribusi yang terjadi dalam tubuh pasien.
3. Faktor fisiologis; semakin tua usia pasien maka proses penyerapan
obat dapat terjadi lebih lama. Hal ini dapat terjadi karena kondisi tubuh
lansia mengalami penurunan sistemik dan metabolism tubuh.
4. Interaksi Obat dan Interaksi Obat-makanan; Obat yang diminum
secara oral lebih baik diminum sebelum makan, karena dalam proses
tersebut lambung dalam keadaan kosong sehingga mempermudah
diteruskannya obat menuju ke usus dan terjadi proses penyerapan.
Namun, tidak semua obat oral dapat diminum sebelum makan, pentingnya
kepatuhan dapat mempercepat proses penyembuhan selain itu perlu
setiap individu perlu memperhatiakan pola makanan yang dikonsumsi
selama sakit (Onder, 2005).
12.
Apa yang dialami oleh si ibu?
http://www.scribd.com/doc/143161206/Teori-SGPT-Dan-SGOT
SGPT atau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim
yang banyakditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis
destruksi hepatoseluler. Enzim inidalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot
jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilaites SGPT/ALT lebih tinggi
daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkanpada proses
kronis didapat sebaliknya.SGPT/ALT serum umumnya diperiksa secara
fotometri atau spektrofotometri, secara semiotomatis atau otomatis.
Nilai rujukan untuk SGPT/ALT adalah :
Laki-laki : 0 - 50 U/L
Perempuan : 0 - 35 U/L

Masalah Klinis
Kondisi yang meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :
A. Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis
hati (toksisitasobat atau kimia)
B. Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis
aktif, sumbatanempedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard
(SGOT>SGPT)
C. Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis
Laennec, sirosisbiliaris.
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
A. Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan
kadar
B. Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena
dapatmeningkatkan kadar
C. Hemolisis sampel
D. Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin,
karbenisilin, eritromisin,gentamisin, linkomisin, mitramisin,
spektinomisin, tetrasiklin), narkotika(meperidin/demerol, morfin, kodein),
antihipertensi (metildopa, guanetidin), preparatdigitalis, indometasin
(Indosin), salisilat, rifampin, flurazepam (Dalmane), propanolol(Inderal),
kontrasepsi oral (progestin-estrogen), lead, heparin.
E. Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar
Arti Dari Kenaikkan AST Dan ALT
AST (SGOT) dan ALT (SGPT) adalah indikator-indikator yang sensitif dari
kerusakan hati dari tipe-tipe penyakit yang berbeda. Namun harus ditekankan
bahwa tingkat-tingkat enzim-enzim hatiyang lebih tinggi dari normal tidak harus
secara otomatis disamakan dengan penyakit hati. Merekamungkin atau mereka
bukan berarti persoalan-persoalan hati. Interpretasi (penafsiran) daritingkattingkat AST dan ALT yang naik tergantung pada seluruh gambaran klinis dan jadi
adalahterbaik dilakukan oleh dokter yang berpengalaman dalam mengevaluasi
penyakit hati.Tingkat-tingkat yang tepat dari enzim-enzim ini tidak berkorelasi
baik dengan luasnya kerusakanhati atau prognosis. Jadi, tingkat-tingkat AST
(SGOT) dan ALT (SGPT) yang tepat tidak dapatdigunakan untuk menentukan
derajat kerusakan hati atau meramalkan masa depan. Contohnya,pasien-pasien
dengan virus hepatitis A akut mungkin mengembangkan tingkat-tingat AST dan
ALTyang sangat tinggi (adakalanya dalam batasan ribuan unit/liter). Namun
kebnyakan pasien-pasiendengan virus hepatitis A akut sembuh sepenuhnya
tanpa sisa penyakit hati. Untuk suatu contohyang berlawanan, pasien-pasien
dengan infeksi hepatitis C kronis secara khas mempunyai hanyasuatu
peningkatan yang kecil dari tingkat-tingkat AST dan ALT mereka. Beberapa dari
pasien-pasien ini mungkin mempunyai penyakit hati kronis yang berkembang
secara diam-diam sepertihepatitis kronis dan sirosis.