Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

CREEPING ERUPTION/ CUTANEOUS LARVA MIGRAN


Oleh:
Tsintia Pebriyani Bhuhori
SMF ILMU KESEHATAN KUIT DAN KELAMIN
RSUD EMBUNG FATIMAH BATAM
UNIVRSITAS BATAM
2016

BAB I
A. Latar Belakang
Cutaneus Larva Migrans (CML) merupakan penyakit infeksi kulit yang
banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini pertama
kali diperkenalkan oleh Lee pada tahun 18741.

Penyakit ini lebih sering dijumpai pada anak-anak dibandingkan pada


orang dewasa.

Kebanyakan kasus CLM dapat sembuh sendiri atau tanpa pengobatan dan
tanpa diikuti efek samping jangka panjang. Morbiditas dihubungkan dengan
pruritus hebat dan kemungkinan adanya infeksi bakterial sekunder.

BAB II
A. Definisi
Sinonim
Creepting Eruption, dermatosis linear migrans, sandow
disease.

Definisi
Cutaneous larva migrans (CLM) merupakan kelainan
kulit yang merupakan peradangan yang berbentuk linear
atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif

B. Epidemiologi

CLM terjadi di seluruh daerah tropis dan


subtropis di dunia, terutama di daerah yang lembab
dan terdapat pesisir pasir.
Penyakit ini sering muncul pada daerah dimana
anjing dan kucing tidak diberikan antihelmintes
secara teratur3

C. Faktor Resiko
Faktor perilaku

Faktor lingkungan

Faktor demografis

C. Etiologi
Ancylostoma braziliense, Ancylostoma ceylanicum,
Ancylostoma caninum dan Strongyloides

Penyebab lain Hypoderma dan Gasterophilus

D. Gejala Klinis
1.
2.
3.
4.

Gatal
Panas
Papul
Lesi menimbul dengan
ukuran 2-3 mm dan
kemerahan

E. Diagnosis Banding

Skabies

Herpes zooster

Dermatofitosis

Insect bite

F. Pengobatan
1. Oral albendazol 400 mg sebagai dosis tunggal,
diberikan 3 hari berturut- turut
2. Tiabendazol (50 mg per kg berat badan selama 2-4 hari)
3. Ivermectin Dosis tunggal (200 g/kg berat badan).
Ivermectin kontradiksi pada anak-anak dengan berat
kurang dari 15 kg atau berumur kurang dari 5 tahun dan
pada ibu hamil atau wanita menyusui
4. Cara terapi lain ialah dengan cryotherapy yakni
menggunakan CO2 snow (dry ice) dengan penekanan selama
45 detik sampai 1 menit, dua hari berturu- turut
5. Nitrogen liquid dan penyemprotan kloretil sepanjang
lesi

G. Prognosis

CLM termasuk ke dalam golongan penyakit selflimiting. Pada akhirnya, larva akan mati di
epidermis setelah beberapa minggu atau bulan.

BAB III
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Pekerjaan
Tanggal ke RS

: An. YG
: 4th
: laki- laki
: Putri Hijau
: Kristen
::29 Juli 2016

B. ANAMNESIS (Autoanamnese)
1. Keluhan Utama: Pasien datang bersama dengan ibu,
menurut ibu di punggung pasien muncul garis berwarna
merah yang menjalar bertambah panjang sejak 1 minggu
yang lalu.
2. Keluhan Tambahan : Menurut ibu lima hari yang lalu
pernah datang ke poli kulit RSUD Embung fatimah
dengan keluhan yang sama dan pada psien di berikan
obat (ibu pasien lupa) kemudian di berikan semprotan
sehingga garisnya tidak bertambah melebar namun sejak
sehari sebelumnya garis tersebut kembali melebar,
pasien juga sering mengeluhkan gatal terutama pada
malam hari pada punggung dan terasa nyeri. menurut
keterangan ibu pasien pernah pergi bersama kedua
orang tuanya ke pantai sebelum munculnya gejala ini.

3. Riwayat Perjalanan Penyakit : Menurut keterangan


ibu pasien garis ini muncul sejak 1 minggu yang
lalu, terasa gatal dan nyeri. Awal mulanya benjolan
kecil berwarna merah dan kemudian membentuk garis,
berkelok dan seperti menjalar ke sisi lainnya
membentuk seperti terowongan, Menurut ibu lima hari
yang lalu pernah datang ke poli kulit RSUD Embung
fatimah dengan keluhan yang sama dan pada psien di
berikan obat (ibu pasien lupa) kemudian di berikan
semprotan sehingga garisnya tidak bertambah melebar
namun sejak sehari sebelumnya garis tersebut
kembali melebar, pasien juga sering mengeluhkan
gatal terutama pada malam hari pada punggung dan
terasa nyeri. menurut keterangan ibu pasien pernah
pergi bersama kedua orang tuanya ke pantai sebelum
munculnya gejala ini.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
:5. Riwayat Penyakit Terdahulu :-

C. PEMERIKSAAN
1. Status Generalisata
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Keadaan Umum
Kesadaran
Gizi
Suhu badan
Nadi
Tekanan Darah
Pernafasan
Rasa Sakit

: Baik
:Compos Mentis
:Baik
:36,00c
:tidak dilakukan
:tidak dilakukan
:22x/ menit
:-

2. Satus Dematologikus
a. Lokalisasi
trapezius

: regio muskulus

3. Keadaan Spesifik
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kepala
Leher
Thoraks
Abdomen
Genetalia
Ekstremitas

:
:
:
:
:
:

:
dalam
dalam
dalam
dalam
dalam
dalam

batas
batas
batas
batas
batas
batas

normal
normal
normal
normal
normal
normal

g. Ruam Kulit
Lokasi

Ruam

1. Regio

Papul eritema berukuran

muskulus

miliar bentuk polisiklik

trapezius

bentuk lesi teretur dan


lokalisasi serpiginosa.

D. TES- TES YANG DILAKUKAN


E. PEMERIKSAAN LABORATORIK
1. Rutin
2. Khusus

: tidak dilakukan
: tidak dilakukam

F. RINGKASAN
Menurut keterangan ibu pasien garis ini
muncul sejak 1 minggu yang lalu, terasa
gatal dan nyeri. Awal mulanya benjolan kecil
berwarna merah dan kemudian membentuk garis,
berkelok dan seperti menjalar ke sisi
lainnya membentuk seperti terowongan, rasa
gatal sangat hebat di rasakan os terutama
pada malam hari.

Menurut ibu lima hari yang lalu pernah


datang ke poli kulit RSUD Embung fatimah
dengan keluhan yang sama dan pada psien di
berikan obat (ibu pasien lupa) kemudian di
berikan semprotan sehingga garisnya tidak
bertambah melebar namun sejak sehari
sebelumnya garis tersebut kembali melebar,
pasien juga sering mengeluhkan gatal
terutama pada malam hari pada punggung dan
terasa nyeri. Menurut keterangan ibu pasien
pernah pergi bersama kedua orang tuanya ke
pantai sebelum munculnya gejala ini.
Lokasisasi: Regio musculus trapezius
Efloresensi: Papul eritema berukuran
miliar bentuk polisiklik bentuk lesi
teretur dan lokalisasi serpiginosa.

G. DIAGNOSA BANDING
1.
2.
3.
4.
5.

Cutaneus Larva Migran/ Creepting Eruption


Herper Zooster
Dermatofitosis
Skabies
Insect Bite

H. DIAGNOSA KERJA
Cutaneous larva migran/ Creepting eruption

I. PENATALAKSANAAN
1. Umum :
a. Menyarankan agar bagian tubuh untuk tidak
berkontak langsung dengan tanah atau pasir
yang terkontaminasi
b. Saat menjemur pastikan handuk atau pakaian
tidak menyentuh tanah

2. Khusus
a. Albendazole oral 400mg selama 3 hari
b. Semprotan dengan kloretil pada ujung lesi sampai
beku, dengan harapan larva akan mati.
c. Hidrokortison 1% 5gr zalf di campur dengan
Oxytetracycline 5gr zalf di masukkan dalam pot
di berikan 2x1/ hari

J. PEMERIKSAAN ANJURAN
K. PROGNOSIS
1. Ad Vitam: Bonam
2. Ad Fungsional :Bonam
3. Ad Sanationam: Dubia ad bonam

BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasrkan hasil autoanamnesis dari ibu pasien (nama An YG usia
4tahun) didapatkan keluhan kulit muncul garis berwarna merah yang
menjalar bertambah panjang sejak 1 minggu yang lalu,terasa gatal
terutama pada malam hari pada punggung dan terasa nyeri. Awal
mulanya benjolan kecil berwarna merah dan kemudian membentuk
garis, berkelok dan seperti menjalar ke sisi lainnya membentuk
seperti terowongan. Menurut ibu lima hari yang lalu pernah datang
ke poli kulit RSUD Embung fatimah dengan keluhan yang sama dan
pada psien di berikan obat (ibu pasien lupa) kemudian di berikan
semprotan sehingga garisnya tidak bertambah melebar namun sejak
sehari sebelumnya garis tersebut kembali melebar, pasien juga
sering mengeluhkan gatal terutama pada malam hari pada punggung
dan terasa nyeri. Menurut keterangan ibu os pernah pergi bersama
kedua orang tuanya ke pantai sebelum munculnya gejala ini. Dan
berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan ruam berupa papul eritema
berukuran miliar bentuk polisiklik bentuk lesi teretur dan
lokalisasi serpiginosa yang berlokasi di regio muskulus trapezius.

Teori
Menurut kepustakaan pada saat larva masuk ke kulit
biasanya disertai rasa gatal dan panas ditempat larva
melakukan penetrasi. Rasa gatal yang timbul terutama
terasa pada malam hari, jika digaruk dapat menimbulkan
infeksi sekunder8. Mula-mula akan timbul papul, kemudian
diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear
atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm, dan
berwarna kemerahan8. Perkembangan selanjutnya, papul merah
ini menjalar seperti benang berkelok-kelok, polisiklik,
serpiginosa, menimbul, dan membentuk terowongan (burrow),
mencapai panjang beberapa sentimeter1. Secara epidemiologi
CLM terjadi di seluruh daerah tropis dan subtropis di
dunia, terutama di daerah yang lembab dan terdapat
pesisir pasir. CLM endemik di masyarakat kurang mampu di
negara berkembang. Kasus sporadis biasanya berhubungan
dengan kondisi iklim yang tidak umum seperti musim semi
atau hujan yang memanjang. Penyakit ini sering muncul
pada daerah dimana anjing dan kucing tidak diberikan
antihelmintes secara teratur3. Kemudian berdasarkan usia
CLM paling sering terkena pada anak berusia 4 tahun1.

Diagnosa banding pada kasus ini adalah herpes


zoster, scabies, dermatofitosis, dan insect
bite.

Teori
Jika ditinjau dari teori terowongan yang ada, CLM harus
dibedakan dengan skabies. Pada skabies, terowongan yang
terbentuk tidak sepanjang pada CLM. Namun, apabila dilihat
dari bentuknya yang polisiklik, penyakit ini sering
disalahartikan sebagai dermatofitosis. Pada stadium awal,
lesi pada CLM berupa papul, karena itu sering diduga dengan
insects bite. Bila invasi larva yang multiple timbul
serentak, lesi berupa papul-papul sering menyerupai herpes
zoster stadium awal1.

Pengobatan yang diberikan adalah Albendazole oral 400mg selama


3 hari, Semprotan dengan kloretil pada ujung lesi sampai beku,
dengan harapan larva akan mati. Hidrokortison 1% 5gr zalf di
campur dengan Oxytetracycline 5gr zalf di masukkan dalam pot di
berikan 2x1/ hari

Teori
Secara teori oral albendazol 400 mg sebagai dosis tunggal, diberikan 3
hari berturut- turut menunjukkan tingkat kesembuhan yang sangat baik,
dengan angka kesembuhan mencapai 92-100%1. Karena dosis tunggal
albendazol memiliki efikasi yang rendah, albendazol dengan regimen
tiga hari biasanya lebih direkomendasikan3. Selain itu dapat juga
dilakukan dengan menggunakan nitrogen liquid dan penyemprotan kloretil
sepanjang lesi. Hidrokortison termasuk dalam Kortisol dan analog
sintetiknya mencegah atau menekan tibmbulnya gejala inflamasi akibat,
radiasi, infeksi, zat kimia, mekanik atau allergen11. Oxytetrasiklin
termasuk antibiotic golongan tetrasiklin yang spektrum antibakteri
luas yang meliputi kuman gram positif dan negative, aerobic, dan non
aerobic. Selain itu juga aktif terhadap spiroket, mikroplasma,
riketsia, klamidia, legionella, dan protozoa tertentu11.

Saran yang diberikan ke pasien yaitu menyarankan agar


bagian tubuh untuk tidak berkontak langsung dengan
tanah atau pasir yang terkontaminasi dan saat menjemur
pastikan handuk atau pakaian tidak menyentuh tanah

Teori
Hal ini seusai dengan teori, dimana salah satu cara
untuk mencegah kejadian CLM:
1. Mencegah bagian tubuh untuk berkontak langsung
dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi
2. Saat menjemur pastikan handuk atau pakaian tidak
menyentuh tanah