Anda di halaman 1dari 9

Disusun Oleh :

Kelompok 5
Mega Shintya
Ikhsan Frata M
Khrisna Indrawan S
XI KI D

SMK SMTI Bandar Lampung


Tahun Pelajaran@2016-2017

A.Pengertian Singkong /Ubi Kayu


Singkong (Manihot utilissima) merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik
rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan memiliki panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong
yang ditanam. Dagingnya umumnya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Singkong
mengandung karbohidrat serta kaya akan prootein dan zat besi pada daunnya.
Singkong yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu merupakan tanaman yang
sangat digemari oleh masyarakat Indonesia, sehingga umbi singkong menjadi makanan pokok di
beberapa daerah tertentu. Di beberapa daerah Indonesia, singkong (Manihot esculenta L) dikenal
dengan berbagai nama, seperti ubi kayee (Aceh), kasapen (Sunda), tela pohong (Jawa), tela
belada (Madura), lame kayu (Makassar), pangala (Papua), dan lain-lain. Tanaman ini juga
merupakan salah satu jenis tanaman yang serbaguna, karena hampir semua bagian dari tanaman
ini dapat dimanfaatkan, mulai dari umbi hingga daunnya.
Singkong atau ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu sumber karbohidrat
lokal Indonesia yang menduduki urutan ketiga terbesar setelah padi dan jagung. Tanaman ini
merupakan bahan baku yang paling potensial untuk diolah menjadi tepung.
Singkong segar mempunyai komposisi kimiawi terdiri dari kadar air sekitar 60%,pati 35%,
serat kasar 2,5%, kadar protein 1%, kadar lemak, 0,5% dan kadar abu 1%, karenanya
merupakan sumber karbohidrat dan serat makanan, namun sedikit kandungan zat gizi
seperti protein. Singkong segar mengandung senyawa glokosida sianogenik dan bila terjadi
proses oksidasi oleh enzim linamarase maka akan dihasilkan glukosa dan asam sianida (HCN)
yang ditandai dengan bercak warna biru, akan menjadi toxin (racun) bila dikonsumsi pada kadar
HCN lebih dari 50 ppm.
Pengelompokkan singkong/ubi kayu berdasarkan kadar HCN-nya dapat dibagi menjadi 3
kelompok, yaitu:
1. tidak boleh dikonsumsi bila kadar HCN lebih dari 100 ppm (rasa pahit)
2. dianjurkan tidak dikonsumsi bila kadar HCN 40 100 ppm (agak pahit)
3. boleh dikonsumsi kadar HCN kurang dari 40 ppm (tidak pahit). Ada korelasi antara kadar
HCN ubikayu segar dengan kandungan pati. Semakin tinggi kadar HCN semakin pahit
dan kadar pati meningkat dan sebaliknya. Oleh karenanya, industri tapioka umumnya
menggunakan varietaherbal berkadar HCN tinggi (varietas pahit).
Kandungan gizi yang terdapat dalam singkong sudah kita kenal sejak dulu. Umbi singkong
merupakan sumber energi yang kaya karbohidrat namun miskin akan protein. Selain umbi akar
singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Berbagai macam upaya
penanganan singkong singkong yang telah banyak dilakukan adalah dengan mengolahnya
menjadi berbagai macam produk olahan baik basah maupun kering. Selain sebagai bahan
makanan pokok, banyak macam produk olahan singkong yang telah dimanfaatkan oleh
masyarakat kita antara lain adalah tape singkong, enyek-enyek singkong, peuyeum, opak, tiwul,
kerupuk singkong, keripik singkong, kue, dan lain-lain
Hampir semua bagian dari pohon singkong bisa dimanfaatkan mulai dari umbi hingga
daunnya. Umbi Singkong biasanya hanya diambil dagingnya dan untuk digoreng atau direbus.
Sedangkan kulitnya dibuang begitu saja atau di jadikan makanan untuk hewan ternak. Kulit
singkong selama ini memang sering disepelekan dan dianggap sebagai limbah dari tanaman
singkong. Padahal, kulit singkong ini memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yang dapat
dikonsumsi pula oleh manusia. Presentase jumlah limbah kulit bagian luar sebesar 0,5-2% dari
berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam sebesar 8-15%.

Adapun beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari tanaman singkong antara lain:
1. Daunnya dimanfaatkan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit,di antaranya sebagai
obat rematik, sakit kepala, demam, luka, diare, cacingan, disentri, rabun senja, beri-beri,
dan bisa meningkatkan stamina.
2. Batangnya digunakan untuk mengatasi luka yang bernanah.
3. Umbinya dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok,bahan baku pembuatan
bioethanol, bahan baku starch tapioka yang diperlukan untuk percampuran untuk bubur
kertas untuk memproduksi berbagai macam kertas, dan lain-lain.
4. Umbinya sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar nabati (biofuel) yaitu untuk
membuat bioethanol.
5. Daun dan kulitnya digunakan sebagai pakan ternak.
6. Kandungan yang Terdapat dalam Singkong

B.Pengertian Kulit Singkong


Kulit singkong merupakan limbah dari tanaman singkong yang memiliki karbohidrat tinggi
yang dapat digunakan sebagai sumber bagi ternak. Persentase jumlah limbah bagian luar sebesar
0,5-2% dari berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam sebesar 8-15%. Limbah
dari singkong ini mengandung beberapa komposisi 74,73% nutrisi, 17,45% bahan kering,
15,20% serat kasar, 0,63% Ca, 0,22% P ( Sudaryanto,1998). Berdasarkan bentuknya sampah
digolongkan menjadi sampah organik, anorganik, dan sampah berbahaya. Maka kulit singkong
ini tergolong dalam sampah organik, karena sampah ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur)
secara alami.Oleh karena pengolahan dari sampah yang dapat terdegradasi ini sangat membantu
dan meminimalisasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Selama ini
pengolahan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena
pengelolahan sampah bersifat terpusat. Misalnya saja, seluruh sampah dari kota Jakarta harus
dibuang di tempat pembuangan akhir di daerah Bantar Gebang, Bekasi.
Dapat dibayangkan begitu banyak ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini. Belum lagi,
sampah yang dibuang masih tercampur antara sampah organik dan anorganik.Padahal, dengan
mengelola sampah besar ditingkat lingkungan terkecil seperti RT atau RW, dengan membuatnya
menjadi kompos maka paling tidak volume sampah dapat dikurangi. Apalagi kulit singkong
sering dianggap remeh dan menjadi limbah rumah tangga padahal banyak bermanfaat yang
didapat dari kulit singkong.

C.Cara Mengurangi Kadar HCN pada Singkong/Ubi Kayu


Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kandungan HCN yang terdapat
dalam singkong, yaitu dengan cara perendaman, pencucian, perebusan, pengukusan,
penggorengan atau pengolahan lain. Dengan adanya pengolahan dimungkinkan dapat
mengurangi kadar HCN sehingga bila singkong dikonsumsi tidak akan membahayakan bagi
tubuh. Pengolahan secara tradisional dapat mengurangi/bahkan menghilangkan kandungan
racun. Pada singkong, kulitnya dikupas sebelum diolah, direndam sebelum dimasak dan
difermentasi selama beberapa hari. Dengan perlakuan tersebut linamarin banyak yang rusak dan
hidrogen sianidanya ikut terbuang keluar sehingga tinggal sekitar 10- 40 mg/kg. Asam biru
(HCN) dapat larut di dalam air maka untuk menghilangkan asam biru tersebut cara yang paling
mudah adalah merendamnya di dalam air pada waktu tertentu.

Kulit singkong yang berpotensi sebagai pakan ternak mengandung asam sianida.
Konsentrasi glukosida sianogenik di kulit umbi bisa 5 sampai 10 kali lebih besar dari pada
umbinya. Sifat racun pada biomass ketela pohon (termasuk kulitnya umbinya) terjadi akibat
terbebasnya HCN dari glukosida sianogenik yang dikandungnya. Total kandungan sianida pada
kulit singkong berkisar antara 150 sampai 360 mg HCN per kg berat segar. Namun kandungan
sianida ini sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh varietas tanaman singkongnya. Dilaporkan
bahwa ternak domba mampu mentoleransi asam sianida pada konsentrasi 2,5 - 4,5 ppm per kg
bobot hidup. Sedangkan Tweyongyere dan Katongole (2002), melaporkan bahwa konsentrasi
asam sianida yang aman dari pengaruh toksik adalah dibawah 30 ppm. Tingginya kandungan
asam sianida dalam kulit singkong ini dapat menimbulkan keracunan jika dikonsumsi oleh ternak
(domba/kambing).

D.Pengolahan Limbah Kulit Singkong


Pada pengolahan limbah singkong ini diperlukan beberapa alat agar mudah dalam
pembuatan pakan dari limbah kulit singkong. Alat-alat yang dibutuhkan antara lain pisau untuk
memotong atau mengupas kulit singkong, telenan sebagai alas ketika memotong kulit singkong,
wadah untuk merendam kulit singkong, kompor sebagai alat untuk merebus/ mengukus, tampah,
dan saringan untuk meniriskan kulit.
Proses pengolahan kulit singkong diantaranya:
a. Perendaman: dilakukan dengan cara memasukkan kulit singkong yang sudah dipotong
kecil-kecil ke dalam ember yang kemudian diisi air sampai kulit singkong terendam dan
dibiarkan semalaman (16 jam).
b. Pengukusan: dilakukan dengan membersihkan kulit singkong dari tanah yang melekat
(dicuci) kemudian dipotong kecil-kecil selanjutnya dikukus dalam panci yang ada
saranganya yang berisi air dan didihkan selama 15 menit.
c. Dicampur dengan urea 3% BK: Kulit singkong dicuci kemudian dipotong kecil-kecil
selanjutnya dicampur dengan urea dengan konsentrasi 3% dari berat kering. Kemudian
campuran tersebut dimasukkan ke dalam plastik disimpan dalam kondisi kedap udara
selama 1 minggu.
d. Fermentasi: dilakukan dengan cara kulit singkong yang sudah dicuci kemudian diiris
kecil-kecil yang selanjutnya dikukus dalam panci yang berisi air mendidih selama 15
menit, setelah itu diangkat kemudian ditebar dalam nampan sampai dingin. Setelah
dingin kulit singkong ini diinokulasi dengan menggunakan kapang Trichoderma resii,
kemudian ditutup dengan nampan diatasnya dan dibiarkan selama 4 hari.
Hasil percobaan perlakuan terhadap kulit singkong dapat dilihat dari Tabel 1 bahwa kulit
singkong yang tidak diolah mempunyai kandungan HCN yang sangat tinggi (459,56 ppm).
Dengan berbagai proses pengolahan yang dilakukan pada percobaan ini terlihat bahwa
kandungan HCN dapat turun secara drastis dan konsentrasi masih dibawah ambang toleransi,
seperti proses fermentasi yang dapat menurunkan kadar HCN hampir hilang (0,77 ppm). Bahkan
dengan proses yang paling sederhana dengan perendaman, kandungan HCN nya dalam batas
yang aman Hal ini menunjukkan bahwa kapang Trichoderma mampu dengan sangat efisien
mendegradasi/mendetoksikasi asam sianida.

E.Cara Pemberian Pakan Ternak Dari Limbah Kulit Singkong


Pemberian Makan Ternak Kulit singkong memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi,
setelah melalui proses pengolahan kulit singkong ini dapat diberikan kepada ternak sebagai
bahan pakan substitusi dan bahkan dapat dikonsumsi oleh manusia. Dalam pemberiannya
limbah kulit singkong kepada ternak ada beberapa cara antara lain :
a. Dicampurkan dalam bahan pakan lainnya yang sebelumnya kulit singkong sudah
dipotong kecil-kecil, dan dilayukan pemberian dengan memeliki takaran yang sesuai
dengan takaran dan kebutuhan yang diinginkan,
b. Dilayukan dan dikeringkan dibawah sinar matahari hingga kadar air 15-20%, agar
tidak ditumbuhnya mikroorganisme (jamur). Kemudian diberikan ke ternak di siang hari.
c. Pemberian pakan limbah kulit singkong pada ternak domba dicampurkan pada air
minumnya (comboran kalau bahasa jawanya) yang tercampur dengan bahan pakan
seperti dedak padi ataupun dedag jagung. Pemberian kulit singkong harus dibatasi sesuai
dengan kebutuhan dan bahan pakan campuran lainnya, untuk menghindari hal-hal yang
merugikan ternak maupun peternak. Sehingga perlu dilakukan dengan mencacahnya/di
potong kecil-kecil terlebih dahulu kemudian dilayukan sebelum diberikan ke ternak
sebagai bahan pakan alternative.

F.Dampak kekurangan dari limbah kulit singkong yaitu :


1. Limbah kulit singkong tidak baik bagi lingkungan karena kandungan sianida (toksik)
yang tinggi sehinga dapat mencemari tanah. Paparan sianida dalam konsentrasi tinggi
dapat menyebabkan kerusakan otak, hati, bahkan koma dan kematian dalam jangka
waktu yang pendek. Namun, sianida ini dapat rusak oleh panas, sehingga dalam
pemanfaatan limbah kulit singkong, digunakan proses pemanasan. Pemanfaatan kulit
singkong juga jarang digunakan, sehingga banyak menumpuk di beberapa tempat
khusunya disekitar industri yang menggunakan bahan baku singkong.
2. Menaikan biaya penanganan limbah yang wajib dilakukan oleh industri yang
memanfaatkan singkong sebagai bahan baku. Dengan penggunaan limbah ini, dapat
meningkatkan limbah yang cukup serius dihasilkan oleh industri tersebut.

G.Sampah kulit singkong termasuk dalam kategori sampah organik karena


sampah ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Pengolahan
limbah kulit singkong dapat dimanfaatkan sebagai:
1. Kompos

Kulit singkong meruapakan limbah hasil pengupasan singkong yang banyak dan
mudah ditemukan di daerah-daerah di Indonesia.kulit singkong memiliki kandungan
karbohidrat, nitrogen, magnesium dan fosfor yang cukup tinggi sehingga dapat dijadikan
pupuk organic sebagai alternative nutrisi tanaman padi yang dapat mempengaruhi
kualitas pertumbuhan tanaman padi, dikarenakan nutrisi yang dimiliki oleh kulit
singkong tersebut sama dengan nutrisi yang dibutuhkan tanaman padi.
Kulit singkong dapat diproses menjadi pupuk organik yang kemudian disebut sebagi
pupuk kompos. Menurut penelitian (Ankabi, 2007) kompos kulit singkong bermanfaat
sebagai sumber nutrisi bagi tumbuhan dan berpotensi sebagai insektisida tumbuhan.
2. Pakan ternak

Kulit singkong sebagai pengganti rumput lapang. Karena kulit singkong yang
mengandung karbohidrat tinggi dapat dengan cepat menggemukkan hewan ternak.
3. Bio energy

Kulit singkong bisa berpotensi untuk diproduksi menjadi bietanol yang digunakan
sebagai pengganti bahan bakar minyak. Teknologi pembuatan bioetanol dari limbah kulit
singkong melalui proses hidrolisa asam dan enzimatis merupakan suatu alternatif dalam
rangka mendukung program pemerintah tentang penyediaan bahan bakar non migas yang
terbarukan yaitu BBN ( bahan bakar nabati ) sebagai pengganti bensin. Bioetanol
memiliki banyak keunggulan, diantaranya ketika harga BBM naik semakin tinggi,
bioetanol dapat digunakan sebagai alternatif bahan bakar kendaraan dengan cara
mencampurkannya dengan bensin. Bioetanol mempunyai tingkat oktan lebih tinggi
dibandingkan dengan bensin biasa.
4. Olahan kuliner

Menciptakan produk makanan dari bahan limbah Kulit singkong, dapat menjadi
olahan kuliner yaitu keripik kulit singkong dan Kulit Singkong Chrispy yang tak kalah
sedap dengan umbi singkong itu sendiri. Bahan dasar yang lebih murah, namu rasa tak
mau kalah.
Mayoritas kulit singkong hanya dijual kepada peternak sapi atau kambing, sebagai
makanan tambahan dengan harga rendah. Manfaat kulit singkong yang menguntungkan
inilah peluang bisnis Anda, karena begitu banyak kandungan dan manfaat dari kulit
singkong. Anda dapat berkreasi dalam sistem pengolahannya, agar limbah kulit singkong
tersebut dapat menjadi hasil olahan yang mempunyai nilai jual tinggi dan yang pasti
menguntungkan. Limbah singkong tersebut yang pasti dapat dengan mrudah Anda
peroleh dari industri rumahan yang memiliki bisnis singkong goreng ataupun keripik

singkong misalnya. Biasanya mereka mempunyai sampah kulit singkong yang banyak,
dan mereka sendiripun tidak sempat untuk mengolahnya kembali. Jadi manfaatkanlah
potensi ini sebagai peluang usaha kuliner yang inovatif dan menyehatkan.
5. Gula Cair

Kulit singkong yang merupakan limbah industri singkong di Bogor tersebut dijadikan
sebagai bahan baku untuk pembuatan gula cair sebagai pengganti gula dari bahan baku
tebu, Gula cair dari kulit singkong ini mengandung energi lebih rendah yakni kurang dari
sepertiga dari energi yang terdapat dalam gula pasir. Gula cair kulit singkong ini
mengandung energi 106 kilo kalori per 100 gramnnya, sedangkan gula pasir mengandung
364 kkal per 100 gram

6. Dendeng kulit singkong

H.Diagram Alir Pohon Industri Singkong