Anda di halaman 1dari 94

L.I.E.I.N.

G
by
Arzeta Clarkson

1|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

Sinopsis
Jemma Vallerwood, muda, cantik, seksi, cerdas, penuh gairah dan memiliki
segalanya di bawah kakinya. Mampu mengguncang dunia pria manapun hanya
dengan membalikkan telapak tangan. Kini harus mengerahkan segala kekuatannya untuk menjaga warisan pemberian almarhum kakeknya, milyuner ternama
Donald Vallerwood dari tangan Paul Anderson. Sepupu tiri, putra dari anak
haram Donald dengan istri keduanya.
Berpacu dengan waktu, Jemma terlibat dalam permainan berbahaya penuh
intrik. Dan demi memenangkan game ini, Jemma yang melindungi James,
sepupu kandungnya yang lemah, rela merayu Paul agar rencananya tercapai.
Akan tetapi keadaan mulai sulit bagi Jemma setelah dia mulai bisa memahami
kesakitan serta masa lalu kelam Paul yang sebetulnya hanya seorang korban.
Dan bukan perkara mudah untuk bisa menolak pesona dari pria dingin, namun
sangat tampan dan seseksi seorang Paul Anderson.
Saat gairah mulai menerbangkan keduanya ke awan Jemma harus bisa memilih.
Merusak segala rencana sekaligus membongkar rahasia-nya? Atau mengalahkan
musuhnya meskipun hatinya harus hancur luluh tak bersisa demi pembalasan
dendam atas keluarganya.
LoveReads
Setiap orang memiliki rahasia, entah itu ibumu, ayahmu, adikmu, kakakmu,
saudaramu, tetanggamu, sahabatmu, bahkan penjual sayur yang biasanya
mangkal di depan rumahmu. Bahkan TUHAN memiliki rahasianya tersendiri.
S-E-M-U-A-N-Y-A Tak terkecuali aku si penulis.
Akan tetapi kali ini aku tak akan menceritakan tentang rahasiaku, akan mengisahkan cerita hidup orang lain yang pastinya akan sangat lekat dengan cerita
kalian. Dan kalaupun aku menceritakan sedikit rahasiaku disini, kukira kalian
tak akan tahu. Dan siapakah aku? Anggap saja si pengarang misterius...
Salam penuh cinta,
Arzeta Clarkson
2|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

PART 1
JEMMA

Jemma terengah-enggah di atas ranjang double king empuk di dalam


kamar apartemen bernuansa minimalis, satu tangan memegangi
kanopi tangan lain mencakar rambut hitam sosok seksi di hadapannya. Keringat membajiri seluruh tubuhnya, keluar dari setiap titik sel
pori-porinya dan takkan berhenti memproduksi cairan asam
menyengat itu hingga dia menyelesaikan aktifitasnya saat ini.
Masalahnya Jemma tak mau berhenti, tak ingin. Begitu juga pria
tampan di hadapannya. Mereka terlalu larut dalam kenikmatan
duniawi yang kini tengah mereka rengkuh, sehingga takkan
menghentikannya kecuali malaikat pencabut nyawa muncul tiba-tiba
di hadapan mereka sambil mengayunkan sabit bulan peraknya kepada
mereka. Selain itu, segalanya adalah gangguan berupa ilusi.
Jemma mengerang lembut ketika untuk kesekian kalinya Jayden
memasukkan kejantanannya ke dalam dirinya dengan keras, kencang,
layaknya kuda pacu terlepas dari kandangnya. Punggungnya melengkung oleh tekanan ledakan kenikmatan di dalam dirinya, memacu
setiap organ-organ di tubuhnya, pinggulnya bergerak berputar searah
tuntunan lelakinya. Setiap jengkal inci kulitnya meneriakkan gairah
kenikmatan murni, tenggorokannya tercekik oleh hawa nafsu tak
terkendali, jantungnya berdetak secepat gerakan badai topan.
Maju mundur. Gesekan demi gesekan kenikmatan seakan tidak bisa
membuat Jemma puas. Jemma memang takkan pernah berhenti
3|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

hingga salah satu dari mereka pingsan. Dan gadis itu tahu pasangannya juga sama menikmatinya.
"Ah, sayang kamu sangat manis, begitu indah. Rasamu luar biasa,
lekuk tubuhmu, wajahmu, dan demi TUHAN! Payudaramu!" kedua
tangan kokoh Jayden menarik tubuh mungil Jemma hingga pria itu
bisa melingkupinya sepenuhnya. Tak sulit bagi Jayden karena dia
lebih tinggi 20 senti dari perempuannya, dan lebih besar tiga kali
badan Jemma. Meskipun begitu pemuda campuran Itali ini tak pernah
paham mengapa Jemma bisa memiliki payudara 3 kali ukuran normal,
mengingat Jemma tidak pernah sekalipun melakukan operasi dan
nyaris seluruh keluarganya bertubuh langsing cenderung tak berisi.
Tapi Jemma berbeda, gadis itu begitu memukau dan bercahaya dalam
usia awal 20-an. Bertubuh mungil berlekuk, memiliki pantat dan
payudara berisi, rambut coklat kemerahan lurus sepunggung, serta
sepasang mata abu-abu tembaga menyala dipadu bibir semerah tomat
mungil penuh yang selalu membuat Jayden ereksi hanya dengan
memikirkannya. Hanya satu kata bagi pria manapun yang memandang
gadis peranakan Amerika-Spanyol-Rusia itu. S-E-M-P-U-R-N-A.
Jayden menghentak Jemma sekali lagi dengan sangat kuat dan dalam,
tak terlalu sulit baginya mengingat ukuran dan besar. Kedua tangan
Jayden yang besar dengan terampil meremas kedua payudara Jemma
yang bulat, putih menggoda. Dalam satu gerakan Jemma membantu
Jayden dengan melengkungkan tubuhnya, menopangkan kedua tangan
pada ranjang agar Jayden dengan mudah bisa menjangkaunya. Jayden
mengapit kedua puting Jemma melalui jemarinya, dan ketika lidah
4|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

hangat serta kasar menyentuh benda lembut sensitif miliknya Jemma


mengerang lebih hebat lagi. Jemma kembali orgasme dan Jayden
tersenyum licik penuh kepuasan. Jayden menjilat benda bulat mungil
kemerahan di depannya yang sudah mengeras sejak tadi, mencicipi
rasanya kemudian berkata. "Ini enak sayang." dan ucapan cabul dari
mulut Jayden memberikan efek luar biasa pada tubuh gadis itu. Saat
Jayden mulai mengisapnya, Jemma merasa seakan seluruh jiwanya
ikut tersedot masuk ke dalam lidah profesionalnya. Mengejang di
tempat, Jayden semakin berani dengan reaksi Jemma. Menggingit
perlahan dengan giginya, kemudian membuainya lagi di dalam
lidahnya. Sementara tangan Jayden yang kosong memeluntir puting
Jemma yang masih bebas, mempermainkannya, mencubitnya. Dan
saat Jayden menginggit untuk kedua kalinya, dengan lebih keras
bersamaan dengan itu dia kembali menusuk Jemma yang sejak tadi
masih berada di dalamnya.
Jemma mengerang suaranya bertambah serak diikuti desahan hebat.
"Oh TUHAN, aku membutuhkanmu lebih cepat lagi..."
Jayden memamerkan mata zamrudnya yang bersinar jahat. "Memohonlah sayangku" bisiknya nakal sembari menjilat daun telinga
Jemma, gadis itu menggelinjang kegelian.
Wajah Jemma menatap Jayden, kedua iris abu-abunya berkilatan
bukan karena rasa pasrah ataupun permohonan, melainkan sebuah
keberanian sekaligus dominasi. "Lakukan atau kamu akan menyesal."
ancamnya dengan nada memerintah yang selalu diberikan pada anak
buahnya.
5|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

Alih-alih marah, pria itu malah kagum atas keberanian Jemma, gadis
itu tahu Jayden tidak akan menghentikan ini semua bukan hanya demi
Jemma tapi juga karena egonya, dan inilah salah satu alasan Jayden
bertekuk lutut padanya tidak hanya pada masalah pekerjaan, tapi juga
ranjang.
"Oh, sialan kau! Bahkan sangat seksi saat mengancamku." Bisik
Jayden parau dengan suara beratnya yang bagi Jemma bisa
mengguncang jiwanya. Jayden memposisikan Jemma berbaring lagi
di atas ranjang, gadis itu menelantangkan kedua tangannya, gundukan
payudaranya membuatnya agak kesulitan menatap wajah kekasihnya.
"Buka pahamu selebar mungkin." perintah Jayden yang langsung
dengan senang hati dituruti kekasihnya.
Dari tempatnya berdiri Jayden bisa melihat cairan basah dan hangat
bekas pekerjaan mereka tadi sudah berceceran dimana-mana, bahkan
masih mengalir banyak dari dalam lubangnya saat ini.
"Sialan kau!" bisik Jayden frustasi oleh gairah seks hebat yang
membakarnya. Kejantanannya menegak setegaknya, menelan ludah,
Jayden memposisikan dirinya sebaik mungkin pada pintu masuk milik
Jemma.
'Inilah saatnya' batin Jayden. Mendadak merasakan ketegangan karena
keputusan kelanjutan hubungan mereka akan tergantung dari ini
semua. Belum selesai menghitung sampai tiga, Jayden meluncur
cepat, lurus, dan tajam ke dalam diri Jemma.
Gadis itu tersentak, semua isi organnya seakan melambung diudara.
Gerakan hebat dan kasar memenuhi paru-parunya oleh kenikmatan.
6|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

Dalam posisi paha masih terbuka lebar, kejantanan Jayden mengisi


penuh miliknya, gerakkannya yang erotis menyebabkan Jemma
menjerit liar seraya kedua tangannya meremas seprai hingga robek
oleh cakarannya.
Jayden terus dan terus tidak berhenti. Seperti banteng kesurupan.
Kemudian Jayden dalam satu gerakan cepat mendudukkan Jemma di
atasnya, kedua tangan Jemma menstabilkan posisi mereka, gerakan
mereka selaras dan pinggul Jemma tak berhenti berputar meminta
lebih. Tepat ketika mulut Jayden mengginggit puting kirinya dan satu
tangannya mencubit keras-keras puting kanannya, Jemma bisa
merasakan Jayden menyemburkan benihnya di dalam dirinya. Dan
Jemma orgasme habis-habisan di dalam diri Jayden.
Sedetik kemudian, keduanya langsung terkulai di atas ranjang dengan
Jemma berada di atas dada Jayden. Berkeringat hebat, kelelahan,
mirip petarung liar kehabisan darah.
Jemma mencium dada bidang penuh otot kecoklatan milik lelakinya,
sementara Jayden mencium lembut puncak kepala Jemma.
"Aku mencintaimu."
Jemma tersentak ditempatnya. Dengan hati pedih dia menutup mata
nya.
Dan dua kalimat itu cukup untuk mengakhiri segalanya.
LoveReads

7|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

PART 2
JAMES

"Jadi. Setelah bercinta habis-habisan dengan Jayden Parker, kemudian


di tengah malam kabur begitu saja dari apartemennya hanya dalam
balutan satu kain tipis piyama, menaiki bentley ungumu kemudian
kemari menemuiku. Memangnya apa yang kamu pikirkan?!" James
Vallerwood menampakkan wajah tenang namun jelas melalui nada
bicaranya, dia amat sangat marah.
Gadis berambut coklat kemerahan di hadapannya hanya mengedikkan
bahu nampak seksi meskipun berantakan di dalam piyama kelabu
terusan selutut dan bahkan tidak memakai apapun di dalamnya.
"Memangnya kamu apa? Miss Van der Woodsen?" sindir James
sambil mengentakkan kaki jengkel. Semakin sebal karena Jemma
hanya melengkungkan satu alisnya saat menatapnya kemudian asyik
menyantap eskrim bermerk H.D rasa blueberry favoritnya. "Dan
jangan habiskan itu!" bentak James jengkel, maju dalam satu gerakan
cepat dan merampasnya.
"Hei! Kamu kenapa sih?! Aku kelaparan tahu. Butuh banyak asupan
energi sehabis 'berolahraga'." bentak Jemma, terdengar sangat seksi
dengan suara lembut paraunya. Tidak hanya membuat seluruh bulu
halus James berdiri tegak tapi juga benda di bawah perutnya.
"Ini tidak benar!" hardik James pada diri sendiri. James berdiri
berusaha menutupi kecanggungannya, namun sayangnya adegan kecil
barusan terlihat oleh kejelian mata coklat memukai Jemma.
8|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

Dengan elegan gadis itu berdiri dari duduknya, berjalan memutari


James. Dan sebelum pemuda elok berambut tembaga itu sempat
mengatakan sesuatu, Jemma sudah meluncurkan piamanya hingga
jatuh ke tanah. Kini berdiri, telanjang bulat di hadapan James.
James melongo selama bermenit-menit lamanya, memandangi contoh
keindahan kesempurnaan ciptaan Tuhan di dalam fisik Jemma. Kulitnya seputih susu, berkilauan indah memantulkan cahaya matahari
yang menyusup dari balik tirai gorden persia serta cahaya lampu
menyala di dalam ruang santai kamar James, begitu lezat tampak
menggoda, James ingin sekali mencium serta menjilat setiap jengkalnya. Rambut ikal coklat kemerahannya tergerai mencapai punggung.
James ingin sekali menjambaknya ketika Jemma sedang menikmati
kejantanannya di dalam bibir mungil penuh semerah tomatnya. Dan
rasanya selalu semanis madu yang selalu ingin dia cecap dalam setiap
imajinya. Badan mungilnya berlekuk luar biasa indah, dengan sepasang pantat berisi, serta payudara yang berukuran 3 kali ukuran
normal.
James memperhatikan setiap sulur urat di tubuhnya, dan berakhir
pada pangkal paha Jemma. Yang selalu bersih dari rambut pubisnya
akibat selalu rajin dibersihkan. Ereksi James membayangkan kenikmatan berada di dalam diri gadis itu kembali terulang di dalam
kepalanya. Rasanya semanis madu, seenak coklat. Atau lebih dari itu.
James sulit menjabarkannya dengan kata-kata.
Dan saat mata hazel lembut James beradu pandang dengan sepasang
iris abu-abu tembaga milik Jemma, pria itu bisa melihat pantulan
9|R a tu- b uk u.bl ogs p ot.com

sosok 180 senti dirinya di dalam pupil Jemma. Tapi bukan berdiri di
hadapannya dengan ekspresi menderita akibat menahan ereksi,
melainkan sedang menyetubuhi gadis itu di atas ranjang di dalam
kamarnya.
Susah payah menelan ludah, James berusaha keras memalingkan
wajahnya dari Jemma, sayangnya dia kalah cepat dari gadis itu. Kini
Jemma sudah berdiri tepat di hadapannya, jarak wajah mereka hanya
beberapa senti, dan James harus bersitegang di dalam batin karena
mati-matian menahan tangannya agar tidak meremas benda kenyal
menggairahkan yang berada tepat di dekat dadanya.
Menyadari perjuangan James, Jemma dengan sengaja menarik kedua
tangan pria itu dan menempatkan di atas payudaranya, kemudian
menggerakkan tangan James agar meremasnya. James tersentak
kaget, namun alih-alih menghentikan tindakan tak senonoh Jemma,
dia malah terlihat semakin menikmatinya.
Tubuh Jemma berada tepat di dekatnya sekarang, gadis itu jelas bisa
merasakan kejantanan James yang menusuk-nusuk kulitnya dari
dalam celana jeans hitamnya. Jemma berjingkat untuk mencapai
telinga James.
"Kamu mau tahu kenapa aku meninggalkan Jayden? Dia mengatakan
dua kalimat terlarang itu, dan aku tak bisa menerimanya. Maksudku" Jemma berhenti sejenak melepaskan kedua tangannya dari
James yang sudah menerima bimbingan penuh gadis itu pada
payudaranya, kemudian mengalungkan kedua tangannya di atas leher
James. "Jayden hanya pengalihan kenikmatan sesaat, dan bagaimana
10 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

bisa aku bersama dia jika seluruh tubuhku selalu menjeritkan namamu."
Oh brengsek! James mengerang hebat, tampak sangat menikmati
remasan demi remasan pada kedua benda kenyal empuk milik Jemma.
Nafsunya akan kebutuhan biologis berhasil menjebol pertahanan
logikanya. Kemudian ketika Jemma menjilati bagian luar daun telinga
James sambil mendesahkan kalimat sangat sensual untuknya.
"Setubuhi aku James"
Bukan permohonan, melainkan sebuah perintah penuh ketegasan
dibalik penyerahan dirinya. Dan detik itu juga singa di dalam diri
James yang terbangun membuatnya mengerang marah, ditariknya
tubuh Jemma sambil menundukkan wajah James meraih bibir penuh
merahnya yang sensual. Menjilatnya, mencecap rasanya, lidahnya
menjelajahi seluruh isi mulut Jemma, dan saat kedua lidah mereka
beradu James bisa mendengar erangan erotis keluar dari mulutnya.
Lidah James menusuk semakin dalam ketika giginya sesekali menggigit bibir mungil Jemma, satu tangannya meremas payudara kanannya sementara yang lain meremas keras pantat berisi mulus miliknya.
Masih dalam posisi memperkosa lidah Jemma, James menggunakan
kekuatan tangan atletisnya untuk mengangkat tubuh mungilnya ke
atas meja marmer luas di samping perapian mati. Menaruhnya disana,
sementara jemari Jemma turun kebawah untuk membuka celana
James, terdengar bunyi denting sabuk besi miliknya ketika Jemma
lemparkan dan saat gadis itu selesai James sudah melepaskan kaus
hitam lengan pendek ketatnya. James bertelanjang bulat.
11 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

James suka pada efek yang badannya berikan pada semua wanita,
terutama Jemma setiap kali dia terekspos bebas seperti ini. James bisa
mengamati pantulan dirnya lagi pada kedua pupil Jemma yang
melebar. Tubuhnya yang atletis ramping, berotot indah di bagian
perut, dengan dada bidang serta bahu lebar idaman semua wanita dan
mampu membuat iri kaumnya. Pinggulnya terlihat kokoh seakan siap
menentang, James bersyukur karena sudah mencukur habis semua
bulu di area kejantanannya yang kini sudah berdiri sangat tegak. Siap
menghujamkannya ke dalam diri manis Jemma.
"Kamu luar biasa." bisik Jemma dipenuhi senyum jahat. Gadis itu
menarik pinggang James yang sudah menghadapkan kejantanannya
pada Jemma. Dalam satu gerakan lihai milik James telah memenuhi
seluruh mulut mungil si brunette itu.
James memejamkan mata, menikmati setiap pergerakan lembut lidah
Jemma yang mengeksplor di atas kejantanannya. Menjilati setiap inci
kulit sutra yang membalut daging itu, mencecap rasanya, dan ketika
berakhir dibatang Jemma dengan sigap mengelus miliknya dalam satu
arah melalui dua tangan yang semakin lama semakin keras mirip
peternak sedang memerah susu sapi.
"Oh brengsek kau Jemma!!" gertak James sambil mengatupkan
rahang, dia harus memegangi tepian perapian di belakang tubuhnya
ketika Jemma mulai menyesap cairan dari dalam kejantanannya.
'Mungkin seperti inilah rasanya Ibu menyusui' batin James menyunggingkan sedikit senyum geli. James bisa merasakan seluruh
cairannya disesap oleh Jemma sementara tangannya terus mengurut
12 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

dari ujung hingga batang, mengisap, menjilat, dan sesekali menggigit. James mengerang keras penuh kenikmatan dan saat Jemma
menelan habis hingga sisa tetes terakhir, wajahnya tampak sangat
puas.
Ditatapnya James dalam dalam dengan mimik muka bahkan lebih
menggoda dari pelacur kelas atas manapun yang pernah dia temui.
Tapi James tahu Jemma bukan wanita penggoda, bukan, dia hanya
seorang ahli bertehnik tinggi, gadis cerdas yang tahu bagaimana cara
untuk mendapatkan semua keinginannya. Meskipun harus dengan
seks. Tapi James sudah tak peduli, dirinya tahu dia sudah bertekuk
lutut pada gadis itu di hari mereka pertama kali bertemu 3 tahun lalu,
saat Jemma menginjakkan kaki di dalam rumah ini. Dibawa Donald,
kakek mereka. Dan meskipun rasa bersalah masih menghantui James
karena sudah jatuh cinta bahkan menyetubuhi sepupunya sendiri, pria
itu tak peduli. Semua norma sudah dia hancurkan sejak tiga bulan
lalu. Saat pertama mereka bercinta dan James berani bersumpah
belum pernah ada satu perempuan pun yang bisa membuatnya
ketagihan seperti Jemma menjadikannya.
Ya, James sudah jatuh cinta. Dia menyukai aroma green tea Jemma,
rasa semanis madu miliknya, sensualitas serta dominasi gadis itu
terhadapnya. Dan ketika detik berikutnya Jemma buka mulut.
"Rasamu luar biasa James"
Iblis di dalam tubuh James menguasainya. Didorongnya kedua paha
Jemma dengan kedua tangannya yang kemudian dia tahan, James
sudah ikut berpartisipasi di atas meja marmer tersebut, dan dengan
13 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

posisi Jemma menahan berat tubuhnya dengan kedua tangan di


belakang, membuat payudaranya memantul seperti balon semakin
mengobarkan naluri seks James.
Melihat cairan basah kental memenuhi milik Jemma, James semakin
bertambah semangat. Lidahnya menjilat area kewanitaan Jemma,
James bisa merasakan setiap otot tubuh Jemma menegang hebat,
menggelitik bagian clitnya, kemudian dalam satu dorongan lidahnya
menekan inti pusat kewanitaannya, membuat Jemma mengejang hebat
di tempat seraya merutuki nama James. Mulut James menangkap
semua cairan orgasme milik Jemma, menjilatnya, menyesapnya
hingga habis seperti yang dilakukan Jemma tadi terhadapnya.
Ketika James berhenti untuk mengalihkan fokusnya, Jemma tampak
kecewa, pinggulnya sudah bergoyang-goyang seakan minta diisi.
James memberikan isyarat padanya agar bersabar dan detik berikutnya wajah lonjong James sudah beradu diantara kedua payudaranya.
Satu tangannya meremas payudara kiri Jemma sementara lidahnya
mulai menjilati sisi kanannya dari bahu hingga mencapai putingnya.
Jemma menegang, putingnya mengeras dan tanpa ampun James
langsung menyesap, menggingit dan mencecap milik Jemma. Belum
puas dengan itu James menyodokkan tiga jari tangan kanannya ke
dalam kewanitaan Jemma. Tersedak oleh invasi mendadak James,
Jemma mendesah panjang penuh kenikmatan.
Jemari James berputar-putar di liangnya diikuti gerakan tubuh Jemma
yang masih membuka lebar pahanya, kepalanya ikut bergerak
mengikutinya seakan terhipnotis. Jemari James maju mundur di dalam
14 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

diri Jemma, sesekali mengentak diikuti semburan cairan hangat dan


basah. Ketika gigi James kembali ditancapkan pada putingnya Jemma
mengerang marah seraya menjambak rambut tembaganya.
"Sialan James! Setubuhi aku atau tidak sama sekali!!"
Kalimat itu menampar James. Jelas belum pernah ada wanita yang
mengancamnya seperti itu selain Jemma. Gadis itu mungkin lebih
mungil tapi dia memiliki kekuatan 1000 batalyon tentara di dalam
dirinya. Hal yang membuat James menggilainya. James melepaskan
diri dari pelukan Jemma, sambil memundurkan tubuhnya diangkatnya
jemarinya dari dalam liang Jemma. Dan tanpa memberikan ampun
Jemma langsung mengisi kewanitaannya dengan kejantanannya.
Punggung Jemma melengkung naik cepat ke atas, tersentak hebat,
kedua tangannya kembali menjadi fokus stabilitas badan mereka.
James mengguncang Jemma dengan begitu hebat, kencang, keras,
serta sangat kasar. Diraihnya tubuh Jemma sehingga tangannya bisa
menjangkau kepalanya. Dalam gerakan menjambak rambut Jemma
yang sebetulnya tidak menyakitkan, James menyodokkan kejantanannya berulang kali dengan kecepatan seperti cheetah, membuat Jemma
terengah-engah tapi James tahu Jemma takkan berhenti hingga dirinya
sendiri pingsan.
"Lebih cepat lagi sayang" bisik Jemma dengan suara lemah.
James menarik payudara kiri Jemma, tak sulit menggapainya dnegan
ukuran tubuhnya yang dua kali lebih besar dari wanita itu. Dalam
posisi satu kaki James menyangga tubuhnya, dia berkonsentrasi untuk
melakukan akhir yang menganggumkan. James sendiri sudah bisa
15 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

merasakan orgasmenya di ujung tanduk. Menarik kasar tubuh Jemma,


diraihnya puting kiri gadis itu untuk disesap keras-keras kemudian
digigitnya dengan hebat. Dan dalam satu gerakan terakhir yang
kencang serta kasar, James berhasil menusukkan kejantannya begitu
dalam, sampai-sampai pria itu takut merusak organ Jemma.
Kemudian ledakan hebat itu terjadi. James bisa merasakannya
benihnya menyebar di dalam diri Jemma diikuti arus perlawanan
orgasme hebat gadis itu. Mencapai pelepasan bersama-sama. Terenggah-enggah, James jatuh lebih dulu ke atas meja marmer, direntangkannya tubuhnya dan ditariknya kepala Jemma agar bersandar
di atas dadanya.
James merasakan keringat mereka berdua bercampur jadi satu,
merekatkan kulit putihnya dengan kulit susu milik Jemma. Tubuh
mereka menyatu di dalam hasrat, gairah, serta gejolak seks yang luar
biasa dan harus James akui Jemma selalu bisa memuaskan dirinya.
Bahkan terlalu puas. Semenjak tiga bulan lalu susah bagi dirinya
untuk menolak keinginan menyetubuhi Jemma. Dan selama itu juga
seluruh sudut di dalam puri ini menjadi saksi saat mereka bercinta.
Seperti sekarang. Gila-gilaan, habis-habisan.
James mendesah panjang, dipeluknya tubuh mungil gadis itu yang
sekarang berada di atasnya, mendengar detak jantung mereka seirama
dan mulai melambat. Bahkan hembusan nafasnya yang mengenai
bulu-bulu halus didada James bisa membuatnya kembali terangsang
dengan cepat. James menjadikan tangan kirinya sebagai bantal
sementara tangan satunya memeluk Jemma protektif.
16 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

James tahu ini salah, Jemma sepupunya, dan James berani bersumpah
hanya Tuhan yang tahu betapa tersiksanya dia berusaha melepaskan
perasaan ini. James menunduk sejenak untuk mencium aroma
perempuannya. James sangat menyukai ini semua, bau green tea
Jemma bercampur dengan aroma sperma khas miliknya. Seakan
James baru saja sudah menandai gadis itu seperti predator menandai
mangsanya. Tapi James tahu Jemma bukan wanita yang mau terikat
begitu saja dalam komitmen, lusinan mantan kekasih Jemma yang
berakhir dengan patah hati parah dan menjadi pemabuk atau bajingan
kasar adalah bukti nyata betapa Jemma mampu mengangkat seseorang ke surga kemudian melemparkannya ke jurang pedih neraka.
Mendadak amarah menguasainya, perasaan benci sekaligus jengkel
setiap kali James diingatkan pada fakta bahwa kurang dari 10 jam lalu
juga ada pria lain yang sudah memasukkan benihnya ke dalam tubuh
Jemma. Rasanya begitu sesak meskipu Jemma sudah membuat
pernyataan dia meninggalkan Jayden demi James. Namun James tidak
mau menerima resiko bakal mengalami kepahitan lagi.
James mencintai Jemma, seluruh dunia tampaknya tahu itu, tapi
bagaimana dengan Jemma sendiri. James benci melihat Jemma disentuh tangan predator lain, tapi terlalu takut untuk mengakui karena
tak mau kehilangannya.
'Tapi semuanya wajib dicoba, toh sudah sejauh ini' pikir James.
Mengikuti insting dibekali tekad kuat, James pun membisikkan tiga
kalimat maut yang akan menjadi titik kemenangan atau kehancurannya.
17 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

"Jemma, aku mencintaimu"


Jeda sejenak. James terdiam, berusaha merasakan reaksi Jemma, tapi
anehnya tak ada tanda-tanda ketegangan apapun menguar dari aura
tubuhnya. Tidak ada penolakan.
Alih-alih marah dan meninggalkan James dalam kondisi telanjang,
Jemma malah mengetatkan pelukan-nya sehingga payudaranya terasa
begitu hangat menempel pada kulitnya, menimbulkan serangan ereksi
lain.
"Aku juga..."
Tersentak oleh dua suku kalimat jawaban Jemma, James bisa merasakan senyum mengembang pada wajah gadis itu. Kemudian, ribuan
kelegaan mengempasnya dalam ketenangan.
James mencintai Jemma, dan kini gadis itu membalas perasaannya.
Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Kebahagiaan membuainya,
jauh ke dalam alam bawah sadar hingga dia terlelap.
LoveReads

18 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

PART 3
JEMMA

"Aku tahu kamu ada masalah James, bisa-bisanya kamu sudah


menyetubuhiku dan masih belum mau mengungkapkan kejujuran."
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Jemma saat James terbangun.
Jemma sudah menunggu sejam lebih hingga pria itu tersadar dari
kegiatan 'olahraga' mereka.
Keduanya masih telanjang bulat, dalam posisi saling menelungkup
dan memeluk di atas meja marmer. Jemma bersyukur karena James
sudah sempat mengunci ruang pribadinya ini, jika tidak mereka akan
ditemukan oleh salah satu pelayan tua Vallerwood dalam kondisi
terkena serangan jantung, atau lebih parahnya pengacara Pat yang
akan menemukan mereka. Dan itu menjadi hal terakhir yang diinginkan Jemma.
Terduduk di samping Jemma yang sedang menekuk tubuhnya memandangi sepasang iris hazel James. Jemma bisa melihat ringis kesakitan akibat terlalu lama berada di atas benda sekeras marmer
sebagai alas tidur.
"Jam berapa sekarang?" tanya James tak mengindahkan pertanyaan
Jemma.
Bahkan di mata Jemma, atau mungkin wanita lain yang pernah pria
itu tiduri. James terlihat sangat lezat saat baru bangun sehabis bercinta. Rambut tembaga lurus di bawah telinganya berantakan menutupi alis lebatnya, hidung mancung bengkoknya kembang kempis
19 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

seakan kehabisan napas, setiap otot pada tubuhnya yang seksi


menegang karena ereksi, dan rahang lonjongnya menampilkan efek
siluet ketampanan khas prajurit Irlandia. Jayden memang sangat
tampan, tapi James, jauh lebih tahu cara memuaskannya di atas
ranjang.
"Jam lima sore dan jangan mengalihkan pertanyaan!" bentak Jemma
sebal. Sudah akan beranjak pergi saat James secara tiba-tiba menarik
tangannya, mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya dalam posisi
kedua tangan menagkup payudaranya dari belakang.
Seketika itu juga Jemma merasakan kebutuhan James untuk bercinta
dengannya lagi, tapi Jemma mengeluarkan aura penolakan yang
membuat James kecewa.
"Baiklah, maafkan aku. Ini tentang Paul dan perusahaan." ujar James
diikuti desahan panjang, terdengar lelah padahal dia baru bangun
tidur. Jemarinya memainkan kedua puting Jemma yang sudah mengeras, James bisa mendengar desahan lembut gadisnya namun energi
penolakan hanya membuat James berani bermain-main bersamanya.
Jemma menyandarkan kepalanya pada bahu kokoh James, dan dengan
sengaja membiarkan leher jenjangnya telanjang tepat di bawah hidung
James. Seketika aroma green tea berpadu seks membuat James harus
berjuang melawan keinginan menerjang tubuh Jemma untuk bercinta
dengannya semalaman.
"Dia berhasil mendapatkan kepercayaan dari Hendrickson dan Gelael
untuk mengesampingkan rancangan proyek terbaruku." James mendaratkan ciuman lembut di sepanjang leher mulus sehalus sutra se20 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

putih susu Jemma yang seakan menjeritkan teriakan untuk disentuh


sejak tadi.
Jemma mendesah gusar. Campuran sensasi nikmat sekaligus kemarahan. "Si cucu haram Donald itu benar-benar ingin menguasai
segalanya ya!" bisik Jemma diikuti geraman.
Gadis itu bisa merasakan James mengangkat bahu di belakangnya.
"Dia membenciku Jem, dia ingin menyepakku persis seperti ucapan
Donald. Dan inilah yang kutakutkan sejak awal. Donald pergi terlalu
cepat, dua tahun empat bulan Jem! Hanya sebatas itu waktunya membimbing kita mempelajari semua hal baru ini, sementara Paul sudah
menghadapi segala hal berbau 'Vallerwood' selama nyaris 28 tahun
hidupnya. Jadi sangat wajar jika Dewan Direksi lebih memihak padanya."
Jemma tak perlu memandang ke dalam mata cerdas James hanya
untuk mengetahui betapa takut serta rentan posisinya saat ini. Donald
Vallerwood, Kakek mereka menemukan mereka sebagai satu-satunya
penerus sah, keturunan langsung genetiknya tiga bulan lalu. Kemudian menggembleng mereka agar bisa mengalahkan posisi kuat Ben,
anak haram dari hasil perselingkuhan Istri keduanya Clara dengan
bajingan saingan bisnis Donald yang sudah mati karena kanker. Dan
Paul, putra tunggal Ben.
Entah bagaimana, seakan mengikuti insting. Donald mengurus segala
tetek bengek berbau warisan atas nama mereka secepat mungkin pada
Pengacara Pattrick, masalahnya, Clara masih memiliki saham sebesar
32% di dalam Vallerwood Corp. Yang kemudian dia wariskan kepada
21 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

anak dan cucu tunggalnya. Seakan sudah bisa menebak masa depan
dan pertarungan aneh macam ini bakal terjadi. Belum lagi sahamsaham kecil kepemilikan para direksi di atasnamakan pada Clara atas
dasar kepercayaan.
Dan ketika Donald meninggal dunia secara mengejutkan sebulan lalu
dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang di atas samudra Pasifik,
dunia gempar mengenai masalah ahli waris. Perusahaan dengan cepat
terbagi menjadi dua pihak, pendukung Paul dan Ben yang menjadi
salah satu faktor kesuksesan Vallerwood Corp. Saat ini, dengan lawan
seimbang James dan Jemma di bawah per-lindungan kuat hukum serta
pengganti tunggal sah.
Kini James, yang ditunjuk sebagai Direktur pelaksana proyek harus
mampu meyakinkan seluruh anggota Dewan Direksi agar mendukungnya supaya keinginan terakhir Donald dapat terwujud. Mengingat Jemma sudah bersekutu bersama James harusnya kekhawatiran
pria itu bisa sedikit berkurang, tapi nyatanya tidak.
Dimata Jemma, Paul Anderson tak ubahnya petarung licik yang meracuni lawan sebelum mulai bertanding karena takut. Jemma sangat
membenci Paul sejak mereka pertama kali bertemu sebab melalui
tatapan gelapnya Paul hanya menganggap dirinya tak ubah seonggok
tubuh yang bisa ditiduri daripada lawan seimbang. Hal ini yang menyebabkan Jemma bersedia bersekutu bersama James, di luar fakta
mereka juga tertarik secara intim satu sama lain.
Jemma merasakan jika James sudah berhenti merayunya, kedua
tangan pria itu sudah tidak lagi berada di atas puncak payudaranya
22 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

melainkan melingkar erat pada perut ratanya. Jemma membalikkan


tubuhnya hingga mata mereka saling bertemu, gadis itu ngeri melihat
kepercayaan diri prianya perlahan tumbang.
"Aku takut Jem, takut tidak bisa memenuhi harapan terakhir Donald.
Dia percaya padaku, pada kita. Untuk menjaga semua yang harusnya
menjadi hak kita ini agar tidak jatuh ke tangan serigala-serigala bermuka jelek itu!" amarah James bergetar hebat di dalam rahangnya
yang terkatup dan entah kenapa Jemma menjadi basah hanya dengan
melihat itu.
James menengadahkan kepala, saat berbicara berikutnya dia sudah
tidak memandangi Jemma melainkan menangkap pemandangan di
seluruh ruangan pribadinya.
"Donald memintaku untuk menjaga semua ini" menunjuk seluruh
mansion beserta isinya melalui isyarat mata pada Jemma, "Dan juga
dirimu," memandang Jemma sekilas, "agar bisa kita wariskan pada
garis keturunan Vallerwood dan bukannya orang lain! Sialan! Bahkan
mereka bukan darah daging Donald dan tak pantas menyandang nama
itu!" kilatan frustasi tergambar jelas pada setiap sudut mata James.
Bukannya melompat ketakutan, Jemma malah menghadapi situasi di
hadapannya dengan tenang.
Sejak kecil Jemma sudah terbiasa menghadapi perbedaan psikologi
orang-orang di sekitarnya mengingat ibunya adalah ahli terapis terbaik di kota kecil mereka di Wichita, dan almarhum ayahnya adalah
dokter terhebat tidak hanya di atas meja operasi tapi juga menyembuhkan luka kasat mata pada jiwa-jiwa pasiennya.
23 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma menangkupkan kedua tangannya pada wajah James hingga


mata mereka kembali bertemu, aliran hangat menyentak James dan
seakan menyadarkannya dari lamunan kehancuran seorang diri. Bibir
mawar Jemma merekahkan seulas senyuman lebar dan tulus kepadanya, dan seketika hatinya langsung luluh lantak oleh kedamaian.
"Kamu bisa James, aku percaya kamu bisa, begitu juga Donald dan
semua orang yang ada di belakang untuk mendukungmu. Alasanku
bersekutu denganmu bukan karena sekedar melihat hubungan kita,
tapi lebih kepada kekuatan serta kharisma yang terpancar darimu bisa
sangat mempengaruhi siapapun untuk menuruti keinginanmu. Selain
itu, bukankah kamu sudah menjagaku dengan sangat baik hingga
detik ini."
Jemma bergelayut manja di atas James, suara sensualnya menggoda
James, membuatnya kagum sekaligus ingin menghentakkan ereksinya
ke dalam mulut madu gadis itu.
"Yeah, dengan menidurimu." canda James sarkas mengacak rambut
dengan satu tangannya yang bebas.
Jemma tertawa kecil menundukkan kepalanya, menyebabkan otot-otot
perut James tegang mendengar kerenyahan suaranya. Dongakan
mendadak Jemma membuat punggung James menegang. Jemma
menempelkan tubuhnya semakin erat pada kulitnya menyebarkan
hawa panas memenuhi sekitar. Mata elok Jemma dipenuhi api
kelicikan yang menari-nari indah, menambah efek jahat melalui
senyum penuh perhitungannya.

24 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

"Jika aku bisa membantumu, apa yang akan kudapatkan?" tanyanya,


ekspresi seriusnya mengisyaratkan kesungguhan.
"Maksudmu?" James balik menatapnya, bingung.
"Jika aku bisa membuat semua Dewan Direksi berpihak padamu, dan
Paul menyerahkan kewenangnya atas semua proyek-proyek itu." kata
Jemma tajam, kilau kelicikan yang sudah sangat dikenal James menjadikan hatinya gamang sekaligus senang tak terkira.
"Apa kamu mau membantuku?" tanya James dengan mata berbinar.
Jemma tersenyum nakal. "Ya, aku tahu cara tepat untuk menghancurkan kesombongan Paul-si-cucu-haram tepat di titiknya. Selama kamu
bisa meyakinkanku akan imbalannya."
Keceriaan menyelimuti James seketika. Wajah murungnya tersapu
kebahagiaan murni, dia rela harus melakukan apapun demi mendengarkan rencana gila Jemma. "Apapun yang kamu mau!" nada
suaranya terdengar mantap tak tergoyahkan.
Jemma mengangguk serius. "Bagus. Pertama aku butuh dukungan,
dan kedua..." kilatan nakal memenuhi raut mukanya, diikuti senyum
seksi Jemma melirik kebagian bawah James. "Aku ingin milikmu
berada di dalamku. Lagi."
LoveReads

Jemma merapikan dirinya di depan kaca dalam mobil bentley ungunya sekali lagi. Memulaskan sekali lagi pemulas bibir sewarna
delima, kemudian menyemprotkan parfum beraroma green tea
keluaran artis sekaligus penyanyi berdarah latin favoritnya. Jemma
25 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

menunduk sekilas untuk memandangi dirinya sendiri. Dia sudah


sangat hati-hati dalam memilih semua yang dikenakannya hari ini.
Work-dress baru dari katalog brand bermerk ternama sepanjang paha
berwarna merah metalik, tanpa lengan, kerahnya yang sangat rendah
namun masih cukup formal mampu memberikan efek menakjubkan
sebab payudaranya seakan mau tumpah dari dalam push up bra
silvernya yang memang kekecilan. Leher jenjangnya terpampang
indah saat rambut brunette ikalnya sengaja disampirkan pada satu sisi
saja. Dan eyeliner serta pemilihan warnaeyeshadow hijau berglitter
semakin menunjukkan sisi anggun, seksi, sekaligus liar dan berbahaya
diwaktu yang sama. Dilengkapi higheels 14 centi, hitam metalik
keluaran Louboutin, Jemma kembali menjelma menjadi sosok indah
berbalut monster yang siap menghancurkan siapapun lawannya.
James pertama kali yang melihatnya keluar dari kamar pagi ini dalam
penampilan seperti itu, dari tampang 'siap-bertempur' yang dia
berikan serta ultimatum akan membunuh siapapun yang menyentuh
tubuh Jemma. Gadis itu tahu efek 'ketepatan berpakaiannya' telah
menjadi metode ampuh untuk menjatuhkan Paul hari ini. Para
pelayan, tukang kebun, dan seluruh pengurus mansion Vallerwood
sampai nyaris menabrak-kan diri mereka pada apapun disekitar ketika
melihat Jemma turun dalam balutan baju barunya. Bahkan Deborah,
pengurus rumah tangga yang sudah mengabdi selama 35 tahun sampai
menutup mulut dengan kedua tangan lalu menyilangkan tanda salib di
depan dada. Membuat Jemma tertawa dibuatnya, tapi James sama
sekali tidak melihat hal lucu dari semua kejadian itu.
26 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

"Ayolah Jammie, jangan setegang itu." goda Jemma saat pemuda itu
mengantarnya sampai mobilnya di halaman depan mansion mereka.
James mengerang marah sambil mengepalkan tangan di dalam saku
celana kain abu-abu desaigner ternama miliknya. "Kamu bisa
membunuhku, dan banyak pria di luar sana karena penampilanmu ini
Jem! Oh demi Tuhan aku ingin sekali mencabik Paul karena mendapatkan perlakuan istimewa ini darimu!"
Mata Jemma berkilat penuh peringatan. "Jangan coba-coba menggagalkan semua rencana yang sudah tersusun matang ini hanya karena
kecemburuan tololmu sesaat James Patterson Vallerwood! Bukan
Paul yang akan mendapatkan semua ini tapi dirimu! Ingat!" bentak
Jemma menyilangkan kedua tangan di depan dada.
James meringis, tidak terkejut pada dominasi kekuatan Jemma baik di
dalam percakapan, hingga ranjang. Jemma tahu jika logika dan ego
pria itu sekarang sedang berperang. Naluri lelaki dalam diri James
tidak menginginkan dirinya terjun langsung ke dalam pertarungannya,
namun rasionalnya mengatakan dia sangat membutuhkan bantuan dan
Jemma mampu menawarkan semua solusi dari segala permasalahan
mereka.
Jemma tidak menunggu sampai James mengijinkannya masuk ke
dalam mobil, dia melangkah masuk dan duduk di depan kursi kemudi.
James kemudian membungkuk agar suaranya tidak bisa didengar para
pengurus rumah yang masih berkeliaran di sekitar mereka. Jemma
melihat seluruh urat pada wajah dan leher James menegang, wajahnya
merah padam karena menahan kekesalan.
27 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

"Berjanjilah padaku Jemma, jangan-biarkan dia puas." James memberikan penekanan kuat pada tiga kata terakhir dalam kalimatnya.
Suaranya bergetar serta menjadi tak beraturan karena kemarahan.
Jemma mengedipkan matanya cepat kepada James, menyebabkan
kelopak lebat dan lentik miliknya mengerjap mirip pendaran bintang.
Seulas senyum nakal tersungging, tangan Jemma menarik dasi James
hingga bibirnya berada cukup dekat dengan telinga James untuk dapat
mendengarkan suaranya.
"Aku berjanji, saat semua ini berhasil, akan kuberikan pelayanan
terbaik serta seks terhebat yang takkan pernah bisa kamu lupakan
hingga tubuh kita terkubur di dalam tanah." Suara Jemma tak ubahnya
sebuah janji kematian tercantik yang pernah didengar James.
Tersenyum, pemuda itu akhirnya memundurkan diri dan sempat
mengecup pipi Jemma sekilas. Jemma menutup pintu mobilnya,
menghidupkan mesin sambil menyalakan musik dari ipadnya. Jemma,
sadar jika James tidak beranjak dari tempatnya hingga bayangan
bentley ungu beserta dirinya hilang dari pandangan matanya.
Memegang kemudi erat-erat, Jemma berkata dengan tatapan penuh
tekad. " Ini harus berhasil!"
LoveReads

28 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

PART 4
PAUL

Paul Anderson baru saja selesai menikmati senam ketentraman rohani


di dalam jacuzzinya ketika dia mendengar bunyi bel. Bibir sensualnya
menyunggingkan senyum penuh makna, Paul membuka kelopaknya
dan memperlihatan sepasang awan biru jernih sebagai warna irisnya.
Pria itu sepertinya sudah tahu jika dia bakal kedatangan tamu pagi ini,
atau mungkin memang menantikannya. Paul segera berdiri dari dalam
air, melilitkan handuk hitam pada pinggul, kemudian mengacak
rambut pirang madu cepaknya yang masih basah seakan dengan cara
itu dia bisa mengeringkannya.
Melangkah santai keluar dari kamar mandi, menuju ruang tamunya.
Di mana Greg, pengawal setia keluarga Vallerwood yang keluarganya
telah mengabdikan diri sejak generasi Neneknya. Berdiri bersiap
membukakan pintu.
Mata Paul seakan berkata 'biar aku saja, masuklah' pada Greg, dengan
patuh pria separuh baya itu segera mengangguk lalu meninggalkan
atasannya ke dalam dapur.
Jemari Paul memutar knop lalu mendorongnya keluar, bersamaan
dengan munculnya sosok mungil nan mengaggumkan.
"Jemma Vallerwood. Tampaknya berbisnis denganmu selalu memuaskan karena kehadiranmu lebih tepat dari waktu yang dijanjikan." Paul
berbasa-basi. Isi perutnya mendadak seperti terkena serangan
gelombang air pasang. Jemma berdiri di hadapannya, darah Irlandia29 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Amerika dari Julia, Bibinya dan native Amerika ayah kandungnya


melebur menjadi satu keindahan dalam sosoknya. Wajah hati dengan
guratan khas masyarakat irisnya mendongak tinggi memancarkan
keberanian. Sepasang mata bulat besar mempesona hazelnut-nya
memandang tajam kepada Paul, lembut sekaligus membahayakan.
Tidak tampak ketakutan, atau bahkan keraguan, hanya ada rasa
percaya diri luar biasa di dalamnya. Kulitnya yang seputih susu dan
tampak sehalus sutra terpapar indah di dalam baju kerja terusan yang
membuat pria manapun harus menahan nafas seraya memukuli dada
saat melihatnya lewat, kerahnya teramat rendah memajang kecantikan
sepasang payudara berukuran tiga kali tubuh berlekuk mungilnya.
Seakan menantang diri Paul untuk mengeluarkan dari tempatnya.
Bibir mungilnya mawarnya tampak semakin semerah rubi akibat
pengaruh polesan lipsticknya.
Biasanya Paul membenci perempuan memakai pemulas berwarna
semerah darah, tapi khusus untuk Jemma entah kenapa dia malah suka
melihatnya. Sebab tampak sesuai dengan dirinya, membuat Paul ingin
sekali menjilat setiap sudut luar dan isi benda mungil itu dengan
lidahnya.
Jemma melenggang dengan anggun masuk ke dalam rumahnya menyerupai angsa. Paul bahkan belum mempersilahkannya secara sopan,
alih-alih menegur Jemma, sekali lagi Paul dibuat kagum atas keterusterangan caranya bersikap. Aroma green tea yang menampar hidung
Paul saat Jemma melewatinya menyebabkan sengatan hebat pada
simpul di dalam perutnya.
30 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Mata Jemma menangkap seluruh visualisasi di sekitarnya. Ruang


tamu bergaya minimalis modern dengan perobot minim tapi mewah,
dominasi warna merah tua, putih, dan gading menyebabkan semua
ruangan di dalam apartemennya terlihat lebih luas dua kali dari
ukuran aslinya. "Penthouse yang bagus. Sekarang aku akhirnya
mengerti mengapa orang besar sepertimu lebih memilih rumah susun
padahal memiliki kastil Hogwarts." tukas Jemma datar, namun jelas
terdapat nada menghina di dalamnya. Dengan santainya perempuan
itu merebahkan diri di atas sofa beledu hitam, kaki kirinya disilangkan
di atas paha kirinya, menyebabkan kulit mulus sehalus sutra, dan
seputih susu di bagian bawahnya terpapar.
'Sial!' maki Paul. Jelas sekali Jemma memiliki efek sensualitas terhadap dirinya, Jemma kemungkinan besar sudah mengetahuinya dan
mempergunakan kelebihannya untuk menyerang kelemahannya.
Sebuah kisah lama pikir Paul.
Paul telah mengakui ketertarikannya pada Jemma sejak kakek tirinya,
Donald mempertemukan mereka pertama kali 3 tahun lalu, di malam
"Pesta-pora Kembalinya Generasi Penerus Sah Vallerwood". Jemma
mungkin menjadi hama di dalam taman kecilnya, namun perempuan
itu merupakan serangga pengganggu tercantik yang pernah dimiliki
kebun bunganya. Kesempurnaan fisik, dipadu kecerdasan otak, serta
rasa berani dan percaya diri. Kombinasi mematikan bagi semua perempuan yang memilikinya. Dan Paul percaya jika Jemma berbahaya,
dia pernah merasakan contoh langsung dari mantan Istrinya, Calleen
yang meninggalkannya demi seorang pengusaha kebun anggur di
31 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Italia dan tak lain pernah dianggap sebagai sahabat baiknya. "Jatuh
cinta adalah tiket langsung menuju neraka selain narkoba." itulah
nasehat dari Ben, Ayah Paul yang sering diberikan kepada putranya.
Dan Paul mengamini isi kalimat tersebut. Sebab pria itu sudah pernah
merasakan sendiri efek kehancuran karena nafsu, gairah dan perasaannya pada mantan istrinya.
Sekarang, Paul takkan mau mengulangi kesalahan sama. Tidak akan.
Apalagi jika perempuan itu adalah Jemma Vallerwood. Saingannya.
Paul menutup pintu kemudian berdiri di hadapan Jemma dalam posisi
bersandar pada tembok dan kedua tangan terlipat di depan dada.
Matanya berusaha keras mengalihkan fokus kemana saja asalkan
tidak ke arah payudara Jemma yang sejak tadi menantangnya.
"Itu bukan milikku, mansion itu milik kalian." jawab Paul datar, tersenyum pahit. Atau setidaknya pernah menjadi punyaku batin Paul.
Ya, pria itu pernah merasakan masa-masa bahagia dimanjakan Kaisar
grup Vallerwood saat dia masih kecil, hingga usianya 3 tahun Paul
dimanja bagaikan putra mahkota. Hingga tragedi itu tiba, Paul kecil
mengalami kecelakaan saat sedang bersepeda sendirian di halaman
depan mansion itu, mengalami pendaharan hebat hingga kehilangan
banyak darah. Satu-satunya keluarga terdekatnya saat itu hanyalah
Donald karena ayah dan neneknya sedang berada diluar negeri.
Namun betapa terkejutnya dokter dan kakeknya saat mengetahui
golongan darah Paul berbeda darinya, merasa penasaran Donald melakukan tes DNA saat itu juga pada sosok makhluk kecil tak berdaya
yang sedang sekarat dan membutuhkan donor darah secepatnya, tapi
32 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

tampaknya bagi Donald mengurusi silsilah keluarga jauh lebih


penting dibandingkan nyawa manusia. Hasilnya, bisa ditebak. Paul
100% tidak memiliki genetika sama dengan Donald, awalnya Donald
terkejut dan mengira Paul bukanlah anak Ben, orang yang selama ini
putra bungsunya. Donald meminta semua sumber data mengenai Ben
dan hasilnya positif Ben juga bukan anak kandungnya. Merasa marah
dan dipermainkan Donald saat itu juga mengajukan gugatan cerai
pada Clara serta mengusir Ben dari kediamannya, tanpa mempedulikan kesedihan seorang nenek dan ayah menangisi nyawa putranya
yang sudah di ujung tanduk.
Untungnya Paul berhasil disembuhkan berkat donor dari ayahnya, tapi
kebencian Clara pada suaminya telah menjadi kesumat, dia
bersumpah akan merebut segala milik Vallerwood seusai menandatangani gugatan cerai. Clara menemui semua sekutunya di Dewan
Direksi dan saat itu juga mengukuhkan posisi anak dan cucu tunggalnya sebagai calon pemilik grup Vallerwood dimasa depan. Dan
sayangnya itulah tindakan terbaik terakhir yang bisa dilakukan Nenek
Paul, karena pada malam harinya Paul dan Ben menemukan tubuh
wanita itu dalam kondisi tak bernyawa di dalam bath-up yang bersimbah darahnya sendiri. Bahkan pada saat pemakaman Donald tidak
hadir karena terlalu sibuk mencari kedua anak kandungnya yang
sudah melarikan diri sejak masih muda karena membenci ibu tiri
mereka, Nenek Paul. Sebetapa besarpun kesalahan Neneknya, menurut Paul tidak seharusnya Donald bersikap sekejam itu pada wanita
yang telah mengabdikan dirinya selama 29 tahun untuk melayaninya.
33 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Tapi tampaknya Donald tidak memperdulikan meskipun Clara sudah


bersujud untuk meminta pengampunannya sekalipun. Dan saat Ben,
Ayah Paul justru menemukan Ayah tirinya sedang asyik dengan
wanita muda lain di dalam kamar pribadi mereka, yang juga merupakan kamar ibunya sepulang dari pemakaman. Ben marah dan bersumpah akan merebut segala hasil kerja kerasnya. Akhirnya belasan
tahun kemudian Donald muncul bersama dengan dua cucu kandung
dari kedua anak sah bersama almarhum Istrinya terdahulu, Inka, tepat
di hari pemakaman Ben. Ya, benar. Paul saat itu memang masih kecil,
namun amarah, dendam, serta kesedihan dari nenek dan ayahnya telah
berkumpul jadi satu dan menjadi warisan terhebat yang kini
disandang pada pundak Paul, betapapun sebenarnya dia tak menginginkan itu. Terlalu terlambat untuk menjadi orang Benar lagi, itulah
pikiran Paul dihari Donald memperkenalkan Jemma dan James sebagai pewaris sah Group Vallerwood. Hari yang sama dimana Paul
bersumpah akan menerus-kan pekerjaan nenek dan ayahnya hingga
tuntas.
"Tidak usah menjadi melankolis seperti itu, ini bukan waktunya
bermain drama." ucapan sinis Jemma membuyarkan segala lamunan
atas kenangan pahit Paul.
Berdiri tegak, Paul memandang tepat ke dalam mata abu-abu gading
Jemma, dimana gadis itu masih dalam posisi anggun duduk di tempatnya dengan lantang menjawab tantangannya. "Sebaiknya selesaikan
apa yang kamu inginkan Miss. Vallerwood, karena aku tidak punya
banyak waktu untukmu." ujar Paul dingin, dengan rahang terkatup.
34 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma terkekeh, anehnya Paul merasakan sentakan kuat pada simpul


di bawah perutnya, bagaimana bisa Jemma menjadi tampak semanis
itu bagi Paul bahkan disaat dia berubah menjadi jahat. "Kamu tahu,
aku bisa membuatmu meluangkan banyak waktu untukku." kata
Jemma penuh percaya diri. Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari tas
tangan hijau muda bermerk 'P'-nya, dalam satu gerakan anggun
melompat berdiri kemudian berjalan menyebrangi ruangan ke tempat
Paul. Saat berjalan Jemma bergerak layaknya model catwalk internasional. Tidak bakal ada yang menyangka jika perempuan itu tadinya hanyalah seorang gadis dari sebuah kota kecil nun jauh dari
hingar-bingar New York. Jemma bahkan sudah bertingkah laku
seperti yang Paul tahu sekarang jauh sebelum nama Vallerwood
kembali resmi dia sandang. Pada intinya seorang tuan putri akan tetap
terlihat berkilauan meskipun hanya mengenakan karung. Jemma
mengelurkan secarik kertas pada Paul, ragu-ragu pria itu menerimanya dan tersentak saat membaca isinya sekilas. Paul meng-angkat
wajahnya dari atas surat itu, mata birunya terasa panas membara.
"TIDAK." satu kata mati yang biasanya akan membuat orang lain
tunggang langgang. Tapi tentu saja, gertakan kecil macam ini tidak
akan berlaku bagi gadis seperti Jemma. Paul tahu wanita itu takkan
pergi begitu saja se-belum mendapatkan keinginannya, karena itu
Paul sengaja memancingnya dan ingin tahu seberapa jauh langkah
yang akan ditempuh perempuan ini untuk mencapainya.
"Tentu saja kamu akan berkata tidak." Jemma terkikik geli. "Pengecut
seperti dirimu takkan mau bertarung secara adil dengan James."
35 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma berkacak pinggang dan tampangnya begitu angkuh.


Menaikkan satu alis lebatnya, Paul mulai tertarik sekaligus marah
mendengar ucapan Jemma. "Jadi kamu bersama si manja itu sekarang.
Kalau memang aku pengecut apa bedanya dengan James yang bersembunyi di balik ketiak seorang wanita." ejek Paul.
Jemma menyatukan kedua alis hingga membentuk seperti jembatan.
"Aku bukan pengasuh, Paul, kalau kamu ingin tahu. Aku membantunya karena tidak ingin posisiku juga menjadi terancam. Seorang
Jemma Vallerwood tidak bersekutu dengan siapapun."
Jawaban Jemma mengejutkan Paul. "Kalau kamu memang tidak bersekutu dengan James kenapa harus cemas, ini kan bukan urusanmu
lagipula posisimu aman."
"Untuk saat ini." jawab Jemma mantap, matanya menyipit dan kedua
tangannya di silangkan di depan dada membuat Paul sedikit kecewa.
"Aku tahu dengan baik dirimu Paul Anderson, sekarang kamu menjatuhkan James dan membuatku merasa aman kemudian setelah puas
akan mempermainkanku. Kamu takkan berhenti hingga mendapatkan
segalanya." Bukannya marah atas tuduhan Jemma yang memang
benar Paul malah tersenyum gembira. Gadis ini tidak hanya cerdas
dan cantik, tapi juga luar biasa berpengalaman sekaligus licik. Benarbenar keturunan Donald, tampaknya semua genetik pria itu hanya diturunkan pada Jemma dan tidak menyisakan apapun pada cucu satunya yang lemah pikir Paul.
Tapi Jemma tidak berhenti hingga disitu, dia terus bicara. "Benarbenar memuakkan, harusnya jika kamu tahu diri, setidaknya cukuplah
36 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

puas pada apa yang sudah kamu dapatkan. Mengingat identitasmu


yang sebenarnya. Balas dendam bodohmu hanya akan membuat
kepalamu terpenggal sendiri." cibir Jemma diikuti tatapan keji.
Dada Paul serasa dipukul telak, emosi yang sejak tadi berusaha dikuburnya kini bangkit seperti singa kelaparan, memenuhinya. Dalam
satu gerakan cepat Paul sudah berada tepat di hadapan Jemma, wajahnya terasa memanas karena amarah. "Diam!! Memangnya kamu siapa
berhak menghakimiku seperti itu! Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu
hanyalah gadis bodoh yang dibawa si tua itu sebagai tumbal!!! Jadi
tutup mulutmu sebelum menghancur-kanmu!" teriak Paul, suaranya
terdengar menggelegar. Pria itu bahkan tak peduli jika sebentar lagi
semua pelayannya akan mengundurkan diri karena ketakutan mendengar atau melihat amarahnya, seperti yang sudah-sudah.
Tapi Jemma, alih-alih terkejut atau takut dia malah sama sekali tak
nampak terganggu. Kerutan di dahinya mengekspresikan kemarahan,
namun mulutnya tak berhenti memberikan tatapan menghina. Paul
bahkan tak merasakan aura terjebak yang biasanya dirasakan pada
lawan bicara saat amarahnya terlepas. "Jangan marah padaku karena
nasib bodoh yang sudah dipilihkan oleh nenekmu. Kalau ada yang
patut disalahkan dia adalah Leluhurmu sendiri! Seandainya wanita itu
tidak mengkhianati suaminya dulu, atau bisa lebih bersikap berani
untuk jujur maka nasibmu tidak akan semengenaskan sekarang. Kuberitahu ya, segala perbuatan ada karmanya. Dulu gara-gara wanita
itu Donald menelantarkan kedua anak kandungnya, padahal mereka
sudah memperingatkannya, dan nenek serta ayahmu terlalu pecun37 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

dang untuk mengakui kalau mereka bersalah sehingga malah mencari


kambing hitam pada diri orang lain. Kamu mau tahu kejujuran, inilah
kenyataannya."
Dendam, duka, kepahitan, serta kebencian merasuki setiap organ di
dalam tubuh Paul saat ini. Hatinya terasa pilu bukan karena kemarahannya pada Jemma, melainkan kebenaran yang terkandung dalam
setiap perkataan perempuan itu. Paul ingin sekali rasanya meledakkan
emosinya, melempar semua barang di sekitarnya dan menendang
wanita itu keluar dari rumahnya. Tapi anehnya pria itu tak bisa, keberanian, serta kejujuran Jemma telah menghancurkan semua harga
diri yang telah Paul bangun selama puluhan tahun hanya dalam waktu
tak kurang dari setengah jam. Kini hanya ada gairah serta nafsu tak
terbendung yang menyebar di dalam peredaran darahnya, setiap inci
kulitnya meneriakkan nama wanita itu, dan di dalam mata Paul hanya
ada gambaran teriakan serta desah erangan Jemma menyebutkan
namanya di atas ranjangnya. Telanjang. Di bawah cengkramannya.
"Kamu benar-benar takkan pergi sampai mendapatkan keinginanmu
bukan?" bisik Paul dengan suara serak menyeramkan karena amarah
melandanya. Jemma mengangguk mantap.
"Dan kamu akan melakukan apapun demi mendapatkannya." suara
Paul semakin dalam. Yang hanya dijawab senyum penuh perhitungan
dari Jemma. "Baiklah, ikut aku!!" bentak Paul. Dalam satu sentakan
dia menarik tubuh mungil Jemma ke dalam gendongannya kemudian
membawanya menuju kamarnya.
LoveReads
38 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

PART 5
JEMMA

Jemma menggumamkan makian saat Paul dengan seenaknya melemparkan tubuhnya ke atas ranjang besar dengan empat pilar marmer
putih mengelilinginya. Jemma sempat menyapukan visualisasinya
sekilas pada ruangan tempat Paul tidur, bergaya modern minimalis
minim perabot dengan dominasi warna putih dan coklat.
Saat Jemma mengembalikan pandangannya pada sosok atletis berotot
kecoklatan 182 centi di hadapannya, energi listrik yang dikeluarkan
Paul dari auranya menyebabkan setiap bulu halus pada tubuh Jemma
bergidik ngeri. Tapi seperti biasa, perempuan itu sudah tahu
bagaimana cara mengatasi rasa takutnya dan takkan membiarkan
lawan memiliki kesempatan untuk menjatuhkannya dengan menunjukkan kelemahannya.
"Baiklah Jemma, jika niatmu memang begitu besar maka buktikan
padaku dan kita lihat sejauh mana kamu bisa bertahan." warna biru
langit pada kedua iris Paul sudah berubah menjadi kilatan petir tak
terkendali.
Jemma luar biasa senang sebab satu langkahnya sudah berhasil. Melompat berdiri dari atas ranjang, Jemma mengeluarkan segenap keberaniannya agar bisa berjalan lurus di hadapan Paul, hal tersulit yang
sejak tadi berhasil dia lakukan. Jemma berputar sebentar untuk mengamati keseluruhan detail di dalam kamar ini. Tumpukan kain putih di
atas meja dekat cermin raksasa yang tak wajar, kemudian bekas-bekas
39 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

samar sulur disepanjang kanopi serta pilar penyangga ranjang. Jemma


membalikkan tubuhnya lagi, otak liciknya bekerja encer dan cepat,
akhirnya aku menemukan lawan yang seimbang batin Jemma.
Wanita itu sekarang sudah berdiri tepat di hadapan Paul, satu tangannya dengan berani diletakkan di atas bahu bidang sebelah kanan
dengan gambar tato elang yang terjalin mencapai punggungnya.
Jemma bisa merasakan sentakan sensasi bergolak pada kulit keras
telanjang Paul. Sementara satu tangannya tergantung di atas handuk
yang melingkari pinggul Paul, Jemma sudah bisa merasakan ereksi
pria itu yang mengencang dibalik kain penutup tipis dan sudah tak
sabar menyibaknya. Berjingkat, Jemma menggelitik telinga Paul dengan lidahnya membuat pria itu mengepalkan tangan seerat mungkin
agar tidak melenguh.
"Pertama-tama Paul sayang, aku benci diperintah." bisik Jemma dan
dalam satu tarikan handuk terlepas dari atas pinggul Paul, memperlihatkan otot berbalut kulit kecoklatan terkeras, terbesar, dan terpanjang yang pernah Jemma lihat.
Paul terkejut atas tindakan mendadak Jemma, Jemma sendiri harus
menahan diri agar tidak terlihat tertawan oleh keindahan kejantanan
Paul. Menundukkan badan, Jemma berlutut di bawah Paul kemudian
menangkupkan kedua tangannya pada alat kelamin sehalus sutra itu.
Kini Paul tidak bisa lagi menyembunyikan semua hasrat birahinya kepada Jemma sejak wanita itu pertama kali menginjakkan kaki di dalam apartemennya. Dan didetik pertama lidah lembut Jemma menekan kulit kejantanan Paul, semua dinding pelindungnya terlepas.
40 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma melihat kedua tangan Paul menggapai pilar diantara mereka,


tersenyum, Jemma semakin memberanikan dirinya untuk merasakan
kejantanan Paul, menjilatinya dari ujung batang hingga simpulnya
yang bulat, mencecap setiap inci rasanya, aroma citrus dari sabun
yang dipakai Paul saat mandi tadi masih tertinggal jelas pada tubuhnya dan ini semakin membuat Jemma bergairah.
Kedua tangan Jemma mengurut lembut milik Paul dari batang hingga
ujungnya, tanpa mempedulikan sedikit bulu kejantanan yang mengganggu, entah kenapa kali ini Jemma sangat menyukainya padahal
biasanya dia membenci pria yang tidak bersih. Jemma bisa mendengar gertakan tidak sabar keluar dari rahang kokohnya, bersemangat
Jemma mempercepat pergerakan tangannya.
Paul mengerang dan mendesah panjang ketika bibir mungil Jemma
memasukkan seluruh miliknya, terasa sangat nikmat dan indah, matanya berbinar melihat kecantikan Jemma saat ini. Jemma merasakan
sentakan hebat di atas kepalanya dan menyadari Paul telah menyusupkan jemari kokohnya ke dalam rambut Jemma. Menggerakkan kepalanya secara halus maju dan mundur sementara Jemma menyesap keseluruhan rasa Paul, sesekali menginggit ujungnya membuat Paul
meringis. "Oh Jemma!" pekik Paul saat cairan dari dalam dirinya
terasa mengalir deras tertumpah ke dalam mulut Jemma.
Jemma berdiri dipenuhi ekspresi puas, tak membuang waktu Paul
langsung mendekapnya erat kemudian menjilati seluruh bibir mawar
miliknya, merasakan sisa cairannya di dalam mulut Jemma dan
mengerang ketika lidah mereka saling beradu da-lam. Dengan kasar
41 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Paul menelanjangi Jemma kemudian menariknya ke atas ranjang.


"Tunggu dulu!" bentak Jemma dan Paul memelototinya. Jemma tahu
pria itu sedang terangsang hebat melihat kemolekan tubuh polosnya
saat ini. Dan dengan satu kalimat yang meluncur dari mulut Jemma
berikutnya, Paul berubah menjadi macan yang lepas dari kandangnya
setelah berhari-hari tidak diberi makan. "Ikat aku..."
Paul tampak sangat terkejut, mata langitnya mengikuti tatapan Jemma
pada setumpuk kain di atas meja riasnya. Mendadak amarah kembali
mengepul di dalam dadanya. "TIDAK!" gertak Paul.
"Kumohon" bisik Jemma dengan suara sangat seksi, menggeliatkan
tubuhnya serasa membuka lebar pahanya, memperlihatkan pangkalnya yang sudah basah dan penuh tumpahan.
Berusaha keras menolak keinginan Jemma meskipun itu sangat menyiksa Paul, sekarang Jemma sudah tahu kelemahannya tapi dia tidak
ingin membiarkan wanita itu menguasainya. Terlebih dari itu, entah
mengapa Paul tidak ingin memperlakukan Jemma seperti jalang lain
yang sering ditidurinya setiap malam. "Kamu bukan pelacur." kata
Paul, matanya membara oleh sebuah kebenaran, hal lain dalam dirinya tentang Jemma. Sebuah pengakuan.
Tiga kalimat yang keluar dari mulut Paul barusan menerjang Jemma
penuh emosi. Hatinya mencelos oleh perasaan gembira aneh yang
belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan pada James. Ada sesuatu dari dalam diri Paul telah menarik perlahan semua dinding batu
penghalang pada hatinya, ucapannya seakan melelehkan gelombang
es yang terlanjur menancap pada dirinya. Dan untuk pertama kalinya,
42 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma merasa lemah di hadapan seorang pria. Di atas ranjang!


Jemma berjuang keras untuk mengendalikan dirinya lagi, memasang
kembali topeng kaca pada wajahnya, sebuah seringaian penuh nafsu
diikuti suara menggoda membuat Paul tidak akan bisa menolak permintaannya atas kesenangannya lagi. Jemma merebahkan dirinya di
atas ranjang, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seperti
burung bersayap, dan membuka pahanya selebar mungkin. Jemma
bisa merasakan air liur Paul pasti sudah menetes sekarang, dan benar
saja, tak sampai sedetik kemudian bibir pria itu sudah memperkosa
kulitnya. Menjilatinya, menikmati setiap rasa kulitnya dari ujung kaki
hingga mencapai pangkal paha. Kedua lengan Paul terasa hangat dan
begitu kokoh saat memegangi kaki Jemma agar tetap membeku pada
posisinya di tempat, anehnya belum pernah wanita itu merasa begitu
mendambakan sentuhan seseorang seperti sekarang.
Jelas sekali Paul seorang profesional diluar kebiasaan buruknya pada
alat pegikat batin Jemma. Setiap otot di perutnya mengencang, debaran jantungnya meningkat didetik pertama lidah panas Paul membelai
lembut area terluar kewanitaannya yang selalu rajin dia bersihkan,
bibirnya merintih ketika tusukan tajam semakin memasuki liangnya,
gerakan memutar pelan dan menyiksa hingga mencapai clit Jemma.
Kelembutan Paul meleburkan seluruh diri Jemma di dalam pesona
kekuasan musuhnya, belum pernah ada pria yang memperlakukannya
sehalus ini di atas ranjang, di luar memang permintaannya, dan belum
ada satupun pasangannya yang mampu membuatnya begitu tenang
serta tidak ingin terburu-buru sekarang.
43 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma terengah ketika bibir Paul mencicipi rasa manis cairan miliknya yang sudah tertumpah, mengembang dan menciptakan kelembapan nyaman di dalamnya. Jemma tak perlu melihat untuk merasakan
pria itu begitu menikmatinya. Kemudian gerakan lidahnya menjadi
semakin bertambah kencang, dan dengan perkasa menghabiskan seluruh isi di dalam kewanitaannya. Jemma meringis ketika Paul menggigit bagian luar bibir bawahnya, dia sendiri heran kenapa tidak protes
dan malah menikmati. Jemma sudah terbuai tenang ketika merasakan
entakan benda keras menusuk kewanitaannya. Jari Paul!! Hanya
dengan dua jari dan Jemma merasa seakan dihancurkan dari dalam.
Bergerak cepat keluar masuk kemudian berputar-putar di dalam
liangnya, mengelus clitoris-nya dengan cara halus paling kasar.
Jemma tersentak kuat, meng-gigit bibir, kedua tangannya meremas
seprai coklat berbahan katun dan seakan siap merobeknya.
Jemma sudah bersumpah tidak akan memuaskan Paul tapi tubuhnya
mengatakan hal lain, dia begitu mendambakannya saat ini. Berada di
dalam dirinya, menghancurkan benteng pertahanannya. Satu tangan
Paul yang masih bebas dilentakkan di atas payudaranya, meremasnya
dengan keras dan kencang, menekan putingnya yang keras hanya
dengan dua jari dan gerakan mencubitnya mengikuti alunan irama
pergerakan jarinya di dalam diri Jemma. Tidak ada satupun kata terucap diantara mereka tapi jelas sesuatu telah muncul saat ini diantara
keduanya. Paul menarik tubuh Jemma agar bisa lebih dekat dengannya, memanjangkan punggungnya yang luar biasa indah dan coklat,
bibirnya menangkap payudara lain miliknya, lidahnya menjilat dan
44 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

menyesap dalam-dalam rasa benda mungil berwarna pink itu, Jemma


bisa melihat sekilas kilatan di dalam mata biru Paul.
Jemma mengetahui arti tatapan itu. Sesuatu yang tersembunyi dari
balik batu penuh dendam, ambisi, serta niat pembalasan. Hal menyedihkan sekaligus menggembirakan. Jemma mengenalinya jauh
lebih baik dari siapapun di dunia ini. Tatapan yang diberikan Ayahnya
pada Ibunya dan begitu juga sebaliknya.
Sorot mata milik Donald saat pertama kali menemukannya. Tapi lebih
dari itu. Harusnya Jemma menyadari sejak awal. Cara Paul bersikap
padanya, segala kelembutan serta kesopanan di balik sikap kasarnya.
Paul sudah jatuh cinta padanya, baik pria itu akan, belum, atau sudah
mengakuinya. Bersamaan dengan itu sebuah ledakan hebat keluar dari
dalam diri Jemma, seakan jantungnya baru saja hancur oleh pelangi
kebahagiaan, diikuti rembesan cairan hebat di dalam jari mengagumkan Paul Anderson, Jemma orgasme!! Hanya dengan menggunakan
jari, dan Paul bisa menciptkan kenikmatan yang belum pernah ditawarkan pria lain padanya. Terenggah-engah Jemma memandang
rahang persegi kuat milik Paul yang dipenuhi oleh keringat, pancaran
iris lautnya menampakkan kepuasan tak terhingga.
"Apakah kamu tadi menyebutkan namaku Jemma???" tanya Paul tak
percaya sekaligus takjub.
Memukul seluruh perasaannya kembali terkunci di dalam kotak
logika, Jemma mendorong tubuh Paul hingga menjauh darinya.
Sekarang dia tidak memiliki apapun untuk dikatakan kecuali amarah.
LoveReads
45 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

PART 6
PAUL

Ini adalah pertama kalinya Paul kembali merasakan kebahagiaan


murni setelah berbagai penderitaan selama puluhan tahun hidupnya.
Apa yang tengah dia dan Jemma lakukan membuatnya merasakan kedalaman bahkan melebihi bersama mantan Istrinya. Tanpa satupun
kata, energi yang terpancar diantara mereka saat ini sudah cukup
mengatakan kejujuran sebenarnya. Bagaimana saat tubuh indah
berlekuk mungil milik Jemma mendambakan dirinya melalui tiap
lenguhannya Atau setiap kali desahan yang keluar dari bibir
mawarnya yang selalu menciptakan orgasme tersendiri bagi Paul
Lalu hanya dengan merasakan cairan hangat kental semanis madu
milik Jemma, Paul bisa berteriak bahagia sekaligus ereksi... Dan, Paul
berani bersumpah dia telah mendengarkan Jemma me-nyebutkan
namanya dalam gigilan erotis serta rintihan di sela kenikmatan antara
mereka. Namun bukan hanya sekedar nama. Paul berani memotong
lidahnya sendiri untuk hal ini, dia melihat Jemma mengucapkan tigakata-mati itu di akhir kalimatnya.
Namun yang tidak bisa Paul pahami, perempuan itu kini malah melonjak dari atas ranjang setelah mendorong tubuhnya di tengah-tengah
percintaan mereka. Sesudah Paul berhasil membuat Jemma meledak
hanya dengan kedua jarinya. Alih-alih merasa bahagia dan terpuaskan, hanya kemarahan tampak di wajah perempuan itu. "Jadi
bagaimana? Kamu akan memberikan tanda tangannya atau tidak?!"
46 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

tanya Jemma dengan nada dingin, suaranya bergetar hebat oleh


beragam emosi yang tidak bisa ditebak Paul. Sayangnya tubuhnya
membelakangi Paul dan sibuk memakai pakaiannya yang berserakan,
sehingga pria itu tidak bisa melihat ke dalam matanya untuk memastikan apa penyebab keanehan Jemma.
Paul merasa seperti dihempaskan dari atas Surga ke dalam lembah
neraka, bingung pada perubahan sikap Jemma. Padahal baru beberapa
detik lalu wajahnya dipenuhi cinta kasih, sekarang, Jemma kembali
memasang topengnya lagi. Paul mengerang frustasi dalam hati, ingin
rasanya dia menarik gadis itu kembali ke atas ranjang dan menyetubuhinya habis-habisan. Tapi sesuatu dalam diri Paul mencegahnya
agar tidak membuat kelak dia membenci dirinya sendiri.
Entah kenapa, setiap ada Jemma pikiran logis Paul seperti terkubur
jauh, terbakar oleh gairah menggebu yang selama 5 tahun terakhir sudah dia kurung dalam benteng pertahanan kuat. Dan Jemma mampu
meruntuhkannya hanya dalam satu kedipan mata. Paul sudah akan
memberikan jawabannya ketika Jemma yang sudah kembali berpakaian, meskipun rambut dan wajahnya tampak berantakan, bahkan
masih terlihat begitu lezat dalam kondisi seperti itu. Membalikkan
badan, mendongakkan wajah diikuti sorotan mata setajam elang.
"Sudah kuduga." bisiknya dengan bahu bergetar.
Paul sempat menangkap kilas kesedihan sesaat di dalam iris abu-abu
menakjubkannya, sebelum berubah lagi menjadi suatu kelicikan.
Jemma berjalan keluar dari kamarnya bak macan kumbang, membuat
Paul sempat mematung sesaat. Dia sudah bersiap menyusulnya ketika
47 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma kembali lagi sambil membawa tasnya, ponsel di tangan dan


pandangan terfokus pada layarnya.
"Ambil handphonemu." perintah Jemma dengan nada datar, tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari ponselnya.
"Apa??" tanya Paul yang masih membeo sejak tadi.
Kemudian, sebuah dering panggilan pesan video masuk datang dari
smartphone-nya yang tergeletak di atas meja kerja. Paul dengan cepat
meraih benda itu, menekan tombol 'received' dan kemudian, sepasang
matanya melebar ngeri pada gambar yang baru saja dia dapatkan dari
Handphone Jemma. Itu berisi adegan seks yang baru saja mereka
lakukan. Paul membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa mencerna
segalanya sehingga dia perlu mengulang-ulang terus untuk menontonnya. Dan sebuah kesadaran bersarang di dalam otaknya secepat
tepukan tangan. Mendongak dari ponselnya, mata biru Paul berubah
dari ketakutan menjadi amarah luar biasa. Dia ingin sekali menemukan jawaban 'TIDAK' dari semua pertanyaan yang telah menghancurkan semua harapannya pada detik ini. Akan tetapi ekspresi
jahat Jemma sudah cukup menjawab segalanya.
"Bagaimana bisa..." Paul bertanya lebih kepada diri sendiri.
"Oh gampang saja, dengan ini." Jemma menuding anting emas berbentuk bunga dengan hiasan batu amethyst pada telinga kanannya.
"Seorang intel terbaik kawan lama memberikannya padaku."
Dan saat Paul menyadari perbedaan kilauan di antara kedua perhiasan
itu maka marahlah dia. Mengumpat kesal, dilemparkannya ponselnya
hingga pecah menjadi belasan keping di atas lantai marmernya. Mem48 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

buat Jemma sempat terlonjak meski hanya sesaat. "Jadi pada akhirnya
ini yang kamu inginkan bukan? Sejak awal semuanya adalah tipuanmu untuk menjebakku?" Paul merasakan ngilu seperti ditusuk sebilah
pisau kasat mata pada jantungnya, tenggorokannya begitu pedih oleh
rasa pengkhianatan, dadanya sesak akibat perasaan menderita dan
merana. Harga dirinya telah dijatuhkan tepat di depan matanya, dua
kali! karena seorang wanita. Dan lebih parahnya lagi, kali ini lukanya
jauh lebih dalam daripada saat menemukan Istrinya bercinta di atas
ranjang di dalam kamar rumah lama mereka, bersama orang yang
pernah menjadi sahabat baiknya.
"Kamu pria cerdas untuk bisa mengartikan semua ini Mr. Anderson."
jawab Jemma begitu datar, wajahnya menjadi dingin, dengan tangkapan mata seakan membelah gunung.
Paul menginggit bibir keras-keras, tangannya terkepal erat sekarang di
samping tubuhnya. Pria itu berusaha keras agar tidak menghancurkan
tubuh Jemma sekarang. Meskipun dia ingin dan bisa, sebab nantinya
dia akan sangat menyesal.
"Mencoba memerasku ya. Bagaimana jika aku tetap tidak mau." kata
perkata keluar dari mulut Paul terasa keras dan pahit. Jika mata bisa
membunuh, sekarang tubuh Jemma pasti sudah terpotong-potong oleh
tatapannya.
"Well, kita lihat." Jemma melipat kedua tangan di depan dada, mimik
mukanya sudah berubah lagi menjadi sebuah bentuk merajuk.
"Bagaimana dengan headline 'Direktur Muda berbakat dari Group
Vallerwood menodai sepupunya sendiri pewaris sah dari cucu kan49 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

dung Donald Vallerwood' terpampang pada setiap media cetak dan


elektronik yang ada di penjuru negeri ini. Itu pasti akan sangat menyenangkan dan semua pencari berita di dunia akan berterima kasih
padaku karena telah memberi mereka tambahan makan, dan kamu
takkan bisa pergi kemanapun tanpa jepretan kamera sampai setidaknya mereka mendapatkan mangsa lain untuk dijadikan santapan."
Paul mengumpat keras, seperti kerasukan tangannya mengangkat dan
membanting apapun benda pecah belah di dalam kamarnya termasuk
tv layar sentuh 15 inch, menyebabkan bunyi hingar bingar memekakkan telinga. Tapi Jemma tetap berdiri di hadapannya tak bergerak
sesentipun, tidak sekalipun menampakkan ketakutan. Dagunya terangkat tinggi, dadanya membusung layaknya ksatria di medan perang.
Membuat Paul ingin mencabik kepercayaan diri Jemma yang sudah
menghancurkannya. "Kamu takkan berani melakukannya!!" Paul
mengeram, matanya berkibar oleh rasa panas yang disebabkan
gulungan emosi di dalam dadanya.
Jemma mencibir, menantang. "Oh tentu saja aku berani. Cukup satu
tindakan dramatis dariku dan seluruh dunia akan memberikan rasa
simpati. Aku mungkin akan mendapat cap 'gadis malang' seumur
hidup, akan tetapi jangan lupakan satu hal. Aku salah satu pewaris sah
Vallerwood, seperti apapun kondisiku kelak, harta tetap akan turun
sesuai surat wasiat resmi. Berbeda dengan dirimu yang bisa bertahan
sejauh ini karena kepercayaan dari para sekutu Nenek dan ayahmu.
Cukup satu skandal, takkan ada lagi yang tersisa untukmu. Segala hal
yang diperjuangkan keluargamu selama ini akan hangus dalam
50 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

hitungan detik." Jemma menjetikkan satu jari tangan kanannya.


Ekspresinya dipenuhi ancaman.
Paul bergetar hebat di tempat, setiap urat saraf di dalam kepalanya
berdenyut kencang seakan siap meledak lahar kemarahan. Tidak ada
lagi tatapan lembut, rasa simpatik ataupun kekaguman yang bisa dia
berikan kepada Jemma. Sekarang Malaikat di hadapannya sudah
menjelma seutuhnya menjadi Iblis. Atau mungkin memang itulah
sosok asli Jemma sebenarnya batin Paul tersenyum pahit.
Paul memejamkan mata, memaki diri sendiri karena menjadi begitu
lemah di hadapan perempuan yang harusnya dianggap musuhnya,
menghancurkannya seperti selama ini dia selalu melakukan pada
semua lawannya. Tapi Paul tidak bisa, bahkan sulit rasanya merasa
dendam jika sumber utama kemarahannya adalah sakit hati.
Kedatangan wanita itu di dekatnya menimbulkan kegembiraan sekaligus membangkitkan semua kesengsaraan yang selama puluhan tahun
ini berhasil dia pendam dalam-dalam di ujung hatinya. Mengeluarkan
semua pikiran indah yang sempat tertanam dalam benaknya, Paul
meluruskan wajah dan membuka matanya dengan cepat.
Melihat reaksi Jemma, Paul berasumsi dia sudah kembali menjadi
dirinya seperti semula. Paul Anderson. Sosok yang dihormati kawan
karena kewibawaannya, dan ditakuti lawan atas kebekuan hatinya.
"Berikan padaku." Paul tersenyum gembira mendengar kesan
sombong dan angkuh dalam suaranya yang tadi sempat menghilang
kembali lagi. "Cuma tanda tangan kan?" lanjutnya melihat ekspresi
kebingungan pada wajah Jemma begitu kentara.
51 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Namun sama seperti Paul, Jemma dengan cepat bisa menghilangkan


kekikukkannya. Dia membuka tas untuk mengambil sebuah map biru,
mengeluarkan isinya beserta bolpoin kemudian menghampiri Paul.
Jemma cukup cerdas karena membuat jarak sejauh tiga langkah
dengan Paul. Pria itu telah berhasil membangkitkan efek takut atas
dirinya pada Jemma, dan itu sudah cukup baginya agar bisa mengembalikan dominasi kekuatannya.
Paul terlihat begitu kasar saat memberikan tanda tangannya, membuat
Jemma mengedikkan bahu beberapa kali, pria itu merasakan aura
kecemasan dari Jemma. Takut kalau-kalau Paul merobek kertasnya.
Sebetulnya pria itu bisa saja melakukannya dan memaksa Jemma
menuruti semua permintaannya sebelum dia membuatkan surat yang
baru, tapi satu titik di dalam hati Paul tidak bisa melakukannya,
betapapun dia sangat terluka saat ini. Dan begitu ingin membalas
dendam.
'Akan ada waktunya' pikir Paul sembari menutup bolpoin dan
mengangsurkan ke-dua benda itu pada Jemma. Kulit mereka sempat
bersentuhan, Paul berani bersumpah telah melihat getaran kesedihan
cukup lama pada wajahnya. Tapi Paul tak mau terjatuh ke lubang
sama untuk ketiga kalinya, apapun alasannya dia sudah tak bisa
mempercayai Jemma Vallerwood untuk alasan apapun.
Saat mata biru langit Paul menangkap kedua iris abu-abu Jemma,
hanya satu kata yang bisa dia ucapkan. "Enyahlah!"
Dan dengan itu. Jemma Vallerwood menegakkan pundak, membusungkan dada, kemudian berbalik meninggalkan Paul tanpa me52 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

noleh lagi sedikitpun, dengan mulut terkunci. Yang tidak diketahui


oleh Jemma adalah, betapa Paul merasakan kehancuran setelah dia
ditinggalkan.
LoveReads

Paul tidak pergi kemana-mana setelah kejadian pagi yang panjang


bersama Jemma. Mengalih-tugaskan semua pekerjaannya di kantor,
mengunci pintu dan mengurung diri di dalam kamarnya. Bahkan Greg
Cincaid, satu-satunya orang kepercayaan Paul yang mendapat fasilitas
serta penghormatan khusus darinya, tidak berani menggangunya
barang sedetikpun. Saat mengirimkan makanan Greg menyuruh para
pelayan memberikan ketukan dua kali di depan pintu sebagai tanda,
setelah itu mereka akan meletakkan nampan beserta isinya di depan
ruang pribadi Bos mereka dan beranjak pergi. Paul teringat, terakhir
kali kondisinya seperti ini adalah 5 tahun lalu, saat dia mengetahui
perselingkuhan Istrinya dengan Andreas, pengacara sekaligus teman
baiknya sejak masih kecil. Namun, bahkan perzinahan Istri sahnya
takkan sanggup membuatnya menegak 15 botol Jack Daniels seperti
yang sudah Jemma lakukan padanya sekarang. Paul merasa begitu
idiot karena bisa-bisanya membiarkan penggoda kecil seperti itu
membobol pertahanan hatinya semudah membalikkan telapak tangan.
Menyandarkan punggung pada keramik putih jacuzzi, kedua tangannya direntangkan sambil memegang sebotol Jack Daniels, lagi, pada
sisi satunya. Matanya terpejam, ekspresi wajah tampannya seperti
petinju baru saja kalah dalam arena petarungan.
53 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Bedanya, dia memiliki begitu banyak memar tak terlihat di dalam


dirinya. Paul bahkan tidak peduli jika dia bisa pingsan di dalam kolam
akibat kebanyakan minum. Namun, sebuah ketukan keras menariknya
kembali dari segala pelarian alam berpikirnya. Dan berubah menjadi
gedoran saat Paul tak mengindahkannya.
"Sir, ini saya. Greg. Detektif Wood meminta bertemu anda sekarang.
Atau anda mau saya menjadwalkan ulang pertemuan anda dengannya?" suara Greg terdengar mantap serta tertata rapi dengan aksen
british khas.
Mendengar nama Brandon Wood, detektif swasta terkenal yang sudah
disewa Paul selama dua tahun terakhir serta menjadi salah satu
kepercayaannya juga, membuat pria itu menjadi lebih bersemangat.
"Tidak! Suruh dia masuk, aku akan bersiap." teriak Paul keluar dari
dalam kolam. Menghanduki diri sekenanya kemudian bergegas
berpakaian, hal yang tidak dia lakukan sejak percintaan panasnya
dengan Jemma.
"Brengsek!" umpat Paul kesal seraya mengacak rambutnya sendiri.
Semakin dirinya berusaha mengenyahkan pikiran tentang Jemma,
semakin kuat pula gambaran perempuan itu di dalam benaknya.
Telanjang dan sangat menggairahkan.
Setelah mengancingkan jeans hitamnya Paul bergegas keluar dari
kamar menyebrang lorong menuju ruang kerjanya di ujung lorong
satunya. Sesosok pria yang tampak jauh lebih muda dua tahun darinya, hanya lebih pendek 2 senti, berkulit putih, bermata hazel indah,
dengan rahang berbentuk persegi, rambut gelapnya lurus dipotong
54 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

cepak menutupi alis coklat lebat yang terjalin sempurna, bahkan bagi
seorang pria. Sudah duduk menunggunya di atas sofa empuk berlapis
kain beludru hitam. "Maaf membuatmu menunggu. Ada perkembangan terbaru apa?" tanya Paul tanpa basa-basi, berjalan memutari mejanya, memunggungi Brandon, kemudian menuangkan sebotol wiski pada dua sloki kecil di atas meja kerjanya.
Brandon berdiri dari tempatnya, mendekati Paul dan mengangsurkan
tiga amplop coklat tebal pada kliennya. Paul mengambil semuanya
dengan tidak sabar, membuka bungkusan pertama lalu mengeluarkan
setumpuk kertas yang bercampur cukup banyak foto berukuran 4R.
"Semua sidik jari yang ditemukan pada parasut di area ledakan
pesawat pribadi Mr. Donald Vallerwood 2 bulan lalu dinyatakan
positif kepunyaan Mark Shueterland, Pilot Marie-J 4312." kata
Brandon, suaranya begitu renyah dan menyenangkan. Menyebabkan
Paul teringat kembali pada sosok Jemma. Cepat-cepat dia menggelengkan kepala seakan dengan begitu dia bisa mengenyahkannya
dari muka bumi.
Paul mengambil data-data tentang informasi pertama, semuanya berisi
berkas DNA, sidik jari, serta foto pria separuh baya berambut pirang
yang lebih mirip disebut bintang film daripada seorang Pilot. "Dia
berada di Kanada bersama Istrinya sejak insiden itu untuk memulihkan diri." lanjut Brandon, sementara Paul memperhatikan satupersatu data konkrit yang dibawakan detektifnya. Pria itu berusaha
tidak tampak kegirangan di depan Brandon karena meskipun dia
orang bayarannya, tetap saja akan tampak mencurigakan di mata
55 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

orang luar jika seorang cucu gembira atas kematian Kakeknya pada
peristiwa kecelakaan. Setelah yakin sepenuhnya, Paul memasukkan
kembali semuanya ke dalam tempatnya, tangannya sudah bersiap
membuka data kedua ketika Brandon berkata. "Itu adalah semua
informasi yang berhasil saya dapatkan dari wanita bernama Jemma
Vallerwood, seperti permintaan anda beberapa waktu lalu. Dan hasilnya sangat mengejutkan." Paul sudah membuka isinya, amplop
pertama berisi foto-foto semua adegan mesra antara Jemma dan
Jayden Parker si manager SDM kantor pusat, hingga kegiatan di atas
ranjang mereka. Meskipun kaget, namun itu semua belum seberapa
ketika dia melihat gambar-gambar berikutnya. Paul merasa ada petir
menyambar tepat di atas kepalanya, menyiramkan hatinya dengan air
aki hingga hancur luluh lantak tak bersisa. Sudah cukup menyakitkan
melihat Jemma bersama pria lain, dan sekarang dia harus menghadapi
fakta jika perempuan yang kemungkinan telah merenggut sekaligus
menginjak hatinya telah bercinta dengan James Vallerwood, saingan
sekaligus sepupunya sendiri!
"Sir, saya tahu apa yang anda pikirkan tapi sebaiknya lihat dulu isi
amplop terakhir." suara Brandon penuh simpati. Paul melakukan perkataan Brandon tanpa bicara, tampak lebih bingung lagi setelah
melihat berbagai macam data diri, hingga surat-surat kematian.
"Jemma Vallerwood yang asli sudah meninggal 3 tahun lalu sir,
wanita yang anda kenal sekarang sebagai Jemma adalah Veronica
Houlden. Dia seorang penipu"
LoveReads
56 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

PART 7
JEMMA

Jemma tiba di rumah tepat pukul 11.00 malam, setelah insiden di


tempat Paul Anderson Jemma mengalih tugaskan semua pekerjaannya
pada asisten dan meminta ijin tidak masuk. Menghabiskan sisa
siangnya dengan tequila bersama Jayden Parker yang ikut membolos
karena dia, untungnya Jemma berhasil menghindar dari rayuan Jayden
untuk berada di atas ranjangnya. Jemma berhasil mendapatkan
kembali ketenangan sekaligus tekadnya, sebetapapun menarik dan
mempesona sosok Paul bagi Jemma, sekarang semua itu sudah tak
penting lagi karena dia harus mengingat tujuan awalnya sebelum
gairah sesaat membawanya terlalu jauh dari logika dan menghancurkan segala sesuatu yang telah disusun dengan sempurna.
Setelah menyemprotkan parfum sebanyak mungkin untuk mengalihkan aroma bir di tubuhnya dan merapikan diri untuk terakhir kali
di depan kaca mobil, Jemma melenggang turun dari dalam bentleynya
dengan keanggunan serupa macan betina seperti biasanya. Mendaki
undakan marmer berwarna emas secepat dia bisa, tak sabar ingin
segera memberikan kabar baik pada James.
Saat tangannya mendorong pintu utama, hanya ada pantulan kesunyian menyambutnya. Jemma sangat yakin jika semua pelayan
sudah tertidur dan hanya pemilik rumah tersisa di tempat ini sedang
menunggunya di dalam kamar pribadinya. Kaki Jemma menyusuri
tangga marmer semerah darah menuju lantai dua, berbelok memasuki
57 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

lorong pertama dan berhenti di depan kamar terbesar disepanjang


lantai itu. Jemma mengatur nafas sesaat sebelum mendorong pintu
kayu mahoni coklat berbentuk ganda. Meskipun Jemma sangat yakin
jika James sudah menyadari kedatangannya sejak tadi, akibat pantulan
suara berisik yang ditimbulkan sepatu hak tingginya.
"Masuklah." seru James dari dalam ketika tangan Jemma menggerakkan pegangan pintu dengan perlahan.
Dari ambang pintu Jemma bisa melihat sosok pria bertubuh ramping
dan aroma teh melati menjalari hidungnya. James Vallerwood tetap
terlihat tampan meskipun berada diantara tumpukan kertas dan terbenam di dalam meja kerjanya, saat mendongak sepasang mata hazelnya berbinar gembira. Pria itu melompat dari atas tempat duduknya
untuk bergegas menghampiri dirinya.
"Demi Tuhan Jemma! Kamu kemana saja?! Seharian ini aku mencoba
menghubungimu ratusan kali dan mengirimkan pesan yang selalu
berakhir dikotak suara ponselmu. Apa yang terjadi? Apa kamu baikbaik saja? Manusia es itu apa menyakitimu??!" Pertanyaan bertubitubi serta sorot mata James yang menggelap saat mengajukan pertanyaan pada kalimat terakhirnya membuat Jemma bisa mengukur
seberapa besar kecemasannya.
Dalam hati gadis itu merasa lega karena James begitu mengkhawatirkan kondisinya. "Aku baik-baik saja, hari yang berat dengan
Anderson tapi di luar semua itu segala sesuatunya berjalan sesuai
rencana. Aku sengaja meliburkan diri sendiri untuk merayakan kemenangan kecil atas usahaku ini. Soal ponsel, aku memang sengaja
58 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

mematikan semuanya agar tidak ada yang menggangu. Maaf karena


sudah membuatmu cemas." tukas Jemma mencoba terlihat bersungguh-sungguh. Tapi tampaknya tidak terlalu berhasil sebab suaranya terdengar begitu serak, tenggorokannya juga terasa sangat perih
yang dia yakini bukan karena menegak minuman keras sepanjang
hari.
Jemma mengeluarkan map biru sumber utama segala kejadian
melelahkan yang dialaminya hari ini kepada James. Namun pria itu
hanya meletakkannya begitu saja di atas meja kerja dan tetap fokus
pada Jemma. Mata hazelnya menelisik jauh ke dalam diri Jemma
melalui tatapannya, saat tubuh James mendekat seketika dia langsung
menegang. "Kurasa kamu terlalu banyak minum." bisik James lembut
tepat diluar daun telinga Jemma, punggung tangannya membelai pipi
perempuan itu.
Dalam kondisi normal Jemma akan langsung tergetar oleh sentuhan
James yang selalu terangsang akan kehadiran wanita itu di dekatnya.
Tapi setelah semua kejadian tadi pagi bersama Paul, entah kenapa
semua gairah yang selama ini selalu menggebu-gebu di dalam dirinya
mendadak lenyap. Dan semua kontak fisik dengan lawan jenis
membuat Jemma mendadak menjadi sangat muak, hal tak lazim itu
juga dirasakannya saat bersama Jayden tadi.
"Apa terjadi sesuatu diantara kalian?!" pertanyaan James berikutnya
diajukan dalam kondisi rahang terkatup, matanya berkilat oleh
cemburu, ekspresi wajahnya mendadak menjadi serupa dengan
pejantan yang marah karena betinanya diganggu oleh pihak lain.
59 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma berusaha keras menenangkan gejolak yang bergemuruh hebat


sejak tadi di dalam hatinya. Memasang topeng-dingin seperti biasanya, seulas senyum genit berhasil terkembang di mukanya. "Harus
berapa kali kubilang takkan kubiarkan dia mencapai kepuasan James.
Apa kamu sekarang meragukan ucapanku?"
Jemma berhasil membalikkan kondisi, melihat James menjadi salah
tingkah membuatnya puas. "Tentu saja aku percaya padamu." jawab
James cepat, setengah berteriak. "Aku hanya tidak tahan membayangkan pria kepala batu itu meletakkan tangannya pada kulit mulusmu."
Jemari James membelai lembut tangan Jemma, alih-alih menimbulkan
getaran memabukkan seperti biasa, Jemma hanya terpaku. Merasa
dirinya seperti patung. Tak ingin melanjutkan kondisi tidak nyaman
ini, Jemma berhasil melepaskan diri dari James dalam satu gerakan
berputar anggun seraya berkata.
"James, sayang, aku benar-benar lelah malam ini. Paul Anderson telah
menguras tenagaku dengan seluruh kecurigaannya. Bisakah kita
segera selesaikan sekarang sehingga aku bisa beristirahat? Please"
suara Jemma lebih terdengar berupa permohonan tulus di dalam
keletihan daripada rayuan maut andalannya.
James masih berdiri di tempat, tampak terkesiap melihat perubahan
sikap Jemma. Wanita itu tahu tapi sudah terlalu capek untuk terus
berpura-pura. Akhirnya dengan kaku James berjalan memutari mejanya untuk membuka map tersebut.
"Tentu saja, maafkan aku karena terlalu mempermasalahkan segala
sesuatu." kata James berusaha menutupi nada terpukul dalam suara60 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

nya, memberikan tanda tangan secepat mungkin, menutup mapnya


dan memberikan kembali pada Jemma. "Oh, dan sayang, terima kasih
atas sekaligus maaf atas segalanya. Karena membuatmu terlibat dalam
pertarunganku." tambah James saat Jemma mengambil alih suratnya.
Jemma berusaha keras menyunggingkan senyum. "Hei, jangan bicara
begitu. Musuhmu juga lawanku. Mengerti." wanita itu mengecup
cepat pipi James seraya berkata. "Selamat tidur James." Bisiknya
lembut di daun telinga James. Tidak ada rayuan ataupun unsur
menggoda di dalamnya selain ketulusan. James diam-diam mengernyit curiga melihat perubahan sifat Jemma.
Tanpa menunggu tanggapan sepupunya, Jemma membalikkan badan
dan bergegas meninggalkan ruang pribadi James, bahkan tak perlu
repot-repot menutup pintunya. Kurang dari 2 menit kemudian Jemma
sudah tiba dikamar tidurnya yang terletak di lantai tiga sekaligus
ruang terbesar di sepanjang area itu. Sebuah kamar cantik bergaya
victoria dengan dominasi warna ungu muda, magenta, serta putih.
Jemma membanting tubuhnya di atas ranjang empuk, berkanopi
dengan empat pilar kecil terbuat dari batuan onyx ungu muda yang
mengitari kasurnya pada empat titik sudut.
Dirinya sudah terlalu lelah bahkan untuk mandi, jadi Jemma putuskan
untuk langsung beristirahat saja. Di luar itu semua, ada bagian dari
diri Jemma yang menginginkan sisa-sisa aroma, sentuhan dan gairah
milik Paul tetap menempel di atas kulitnya. Menemaninya hingga
dirinya terbuai oleh mimpi.
LoveReads
61 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

"Tolong katakan pada divisi perencanaan aku akan mengadakan


tinjauan ulang atas usulan proposal mereka sesudah makan siang."
ujar Jemma dengan nada penuh percaya diri serta ekspresi lugas saat
dia sudah mendaratkan badan di atas kursi di depan meja kerja,
kantornya.
Di hadapannya berdiri gadis belia berumur awal 20an, dengan rambut
kemerahan dikuncir kuda, memakai atas hem lengan pendek ungu tua
berbahan satin, serta rok pendek lipat putih. Franseska, asistennya,
memegangi setumpuk map dan berkas-berkas untuk diletakkan di atas
meja kerja Jemma.
"Baik Nona, apa ada lagi?" tanya Franseska sigap, dengan gaya ala
militer tak jelas yang selalu membuat Jemma harus menahan tawa
setiap kali mendengarnya.
Jemma menengadah sejenak dari atas file-file perjanjian luar negeri
yang harus dia pelajari secepatnya, memandang sosok lugu dan polos
Franseska jadi mengingatkan akan dirinya dulu. Sayang sekali
kenaifan gadis itu cepat atau lambat akan segera tergilas oleh gila-nya
keadaan, atau makhluk mengerikan pemilik kejantanan yang akan
membuatnya merasa dunianya hanya berpusat pada satu orang saja
batin Jemma.
"Well, jangan biarkan siapapun memasuki ruanganku hingga jam
makan siang karena hari ini ada banyak proposal kerjasama penting
yang harus kutandatangani " celetuk Jemma kemudian kembali mengalihkan perhatian pada kertas-kertas.
"Baik Nona." jawab Franseska mantap.
62 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Gadis itu buru-buru mengundurkan diri karena merasa dirinya sudah


diusir secara halus oleh bosnya. Setelah Franseska pergi barulah
Jemma bisa benar-benar fokus pada semua pekerjaannya.
Sayangnya kedamaian itu hanya berlangsung tak sampai 15 menit
karena konsentrasinya kembali terganggu oleh suara ketukan di luar
pintu ruangannya. Menggertakkan gigi kesal Jemma pun menjawab
dengan teriakan nada tinggi. "Masuklah!"
Kepala Asistennya muncul di ambang pintu, raut wajahnya pucat,
matanya menampakkan ketakutan dan giginya bergemelatuk.
"Maafkan saya Miss. Vallerwood tapi Mr. Anderson memaksa untuk
bertemu dan"
Jemma tak mendengarkan sisa kalimat yang keluar dari mulut
Franseska karena terlalu sibuk memaki di dalam kepalanya. "Suruh
dia masuk." kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, asisten
Jemma mengangguk penuh rasa terima kasih.
Jemma yakin cepat atau lambat Paul akan mencarinya untuk membicarakan insiden kemarin. Entah sekadar membalas dendam atau
berniat mencari gara-gara, itu semakin terlihat jelas dari betapa takutnya Franseska melihat kedatangannya. Paul memang bukan tipikal
pemimpin murah senyum, sebetapapun tampan atau seksinya dia,
dingin dan menyeramkan lebih cocok disematkan pada dirinya. Dan
melihat kecemasan di dalam wajah asistennya barusan, jelas Paul
sedang tidak dalam suasana hati bagus.
Tentu saja, aku yang membuatnya begitu, batin Jemma. Mendesah,
Jemma mengambil nafas panjang dan menghembuskannya lama,
63 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

berusaha menenangkan diri serta menarik seluruh kepercayaan dirinya


agar muncul ke permukaan. Dia tidak boleh membiarkan dirinya
terlihat lemah di hadapan Paul, pria itu pasti akan menunjukkan
dominasi dan memojokkannya untuk membalas kekalahannya
kemarin. Jemma harus mempersiapkan mental dan hatinya sebagus
mungkin, dia harus dan pasti siap untuk hal ini.
Saat pintu terbuka lebar sosok Paul masuk ke dalam ruangan dengan
segala efek kegagahan sekaligus efek menakutkan yang selalu bisa dia
berikan kepada lawan dan sekutunya. Kecuali Jemma. Bagi wanita itu
hanya ada seorang pria dengan segala pesona fisik serta karakter unik
yang sangat rapuh.
Ekspresi Paul tampak datar, gurat senyumnya lebih menunjukkan
kesedihan sekaligus licik, kedua mata biru langitnya tertarik di setiap
satu sudut.
Setelah menutup pintu tanpa basa-basi Paul langsung melemparkan
dua amplop coklat besar ke atas meja Jemma, membuat wanita itu
hanya melirik bingung antara amplop ke pria berbadan menggiurkan
yang masih berdiri tak kurang satu meter dari mejanya.
Memahami bahasa tubuh Paul, Jemma meraih kedua amplop itu dan
membukanya satu persatu. Hanya satu kata saat dia melihat semua
isinya. KENGERIAN.
Seluruh kegiatan Jemma terpampang jelas dari dalam sudut lensa
kamera yang menjadi lembaran foto bergambar di hadapannya,
hingga aktivitas paling pribadi miliknya. Namun itu belum seberapa
ketika dia membaca isi dari amplop berikutnya, seluruh data diri
64 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

pribadi miliknya lengkap dengan segala identitas aslinya. Jemma


sudah tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat, alih-alih merasakan
kecemasan serta ketakutan, hanya ada amarah mulai merayap naik
memenuhi dirinya. Beranjak dari tempatnya, Jemma berusaha keras
tampak santai saat berjalan menghadapi Paul, berdiri dengan seluruh
keberanian serta harga diri yang masih ada di dalam dirinya. Melipat
kedua tangan di depan dada, dagunya terangkat tinggi ke atas, satu
alis coklatnya naik. Dan Jemma bisa melihat efek menantang darinya
mengejutkan Paul.
Ya benar, aku takkan membiarkanmu mendominasiku Anderson!
batin Jemma, berteriak marah di dalam pikirannya.
"Jadi, apa maumu?" Jemma mendengar suaranya berubah menjadi
sedingin es, tidak parau dan serak sesuai harapannya. Dan dengan
sengaja mengobarkan api permusuhan.
Tersentak kaget untuk sesaat, Paul kembali memakai topengnya
dengan cepat. Ekspresinya dipenuhi tekad kuat untuk membalas
dendam. "Tentu saja. Hakku."
Jemma tak bisa menahan dirinya untuk terbahak keras, membuat
wajah Paul merah padam karena tersingung. "Hak katamu?" Jemma
mengubah posisinya menjadi berkacak pinggang. "Satu-satunya hakmu sudah terenggut lama sekali sejak dirimu memutuskan terlibat
dalam permainan kotor ini. Semua orang tahu jika seorang Paul
Anderson tak lebih dari seorang cucu dari anak haram." Kalimat itu
cukup untuk mematahkan ketenangan Paul dan membantingnya
hingga bangkit menjadi amarah.
65 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Menggertakkan gigi, pria itu berjalan semakin mendekat ke arah


Jemma, terprovokasi oleh emosi dipegangnya bahu wanita itu dengan
sangat erat dengan kedua tangannya. Paul menunduk untuk menatap
sepasang iris hazelnut yang bahkan masih bisa berkilauan begitu
indahnya, pria itu tak bisa berhenti terpesona sekaligus terangsang
disaat bersamaan oleh keberanian yang ditunjukkan Jemma di bawah
pengaruh tekanannya.
Paul sadar jika Jemma bukan orang biasa yang akan langsung lari
terbirit-birit hanya dengan melihat pelototan matanya. "Sebenarnya
kamu ini apa?" tanya Paul antara kagum sekaligus jengkel.
Setiap inci kulit Jemma berteriak kegirangan ketika Paul menyentuhnya, getaran panas serta rangsangan erotis yang tidak lagi dirasakan
saat James atau Jayden memegangnya membuat Jemma nyaris gila
saat ini. Ingin rasanya Jemma melepaskan semuanya dan merenggut
bibir Paul yang semanis gula dan terasa panas di dalam mulutnya.
Namun ketika segala kelembutan di dalam mata Paul kembali mejadi
gelap sadarlah Jemma jika Paul tercipta untuk selalu menjadi musuhnya.
"Aku selalu bertanya-tanya apakah aktingmu yang terlalu hebat
hingga bisa membodohi seorang Donald Vallerwood, atau kamu
memang dibayar olehnya untuk berakting. Tapi jika pernyataanku
kedua jawabannya, maka seharusnya kamu berada di Hollywood saat
ini dan memenangkan Oscar atau piala lain. Bukannya merawat si
kecil James." ejek Paul. Berbicara tepat di dekat telinga Jemma.

66 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma kembali merasakan panas membakar tubuhnya ketika Paul


dengan sengaja mengirimkan rangsangannya dalam bentuk ancaman,
sekujur tubuh Jemma bergetar hebat dan inti vital di bagian bawah
perutnya berdenyut hebat akibat kebutuhan belum terpuaskan saat
bersama Paul.
"Jadi, bisa memberikanku jawaban Miss. Jemma Vallerwood, atau
haruskah kupanggil dengan nama aslimu. Victoria Houlden"
Segala harapan serta fantasi indah Jemma hancur seketika. Emosi
Jemma yang selama 3 tahun ini dia tahan terlepas dari kurungannya.
Didorongnya keras tubuh Paul dengan kedua tangannya. Pria itu
hanya terkaget sesaat sebelum kembali menampakkan wajah jahat.
Jemma berbalik ke kursinya untuk mengambil dompet kemudian
berjalan kembali ke depan Paul dan melemparkan sebuah kartu tepat
di depan wajahnya yang langsung dia tangkap.
"Kamu mau tahu kebenarannya kan Tuan Anderson yang terhormat,
baiklah akan kukatakan semuanya hingga keinginanmu terpuaskan.
Aku terlahir dengan nama Victoria Galbannate, Ibuku dibunuh di
depan mataku sendiri saat umurku baru lima tahun oleh ayahku,
bajingan itu menghabiskan sisa hidupnya dengan membusuk di
penjara. Membuatku harus berada di panti asuhan selama 5 tahun dan
nyaris menjadi korban pelecahan sebelum wanita cantik dan baik hati
bernama Julia Gilzon alias Juliana Vallerwood mengadopsiku."
"Keluarganya yang luar biasa memberiku lebih dari harapanku, dan
Jemma putri tunggal mereka sudah kuanggap seperti layaknya saudari
kembarku. Mereka menjadi cahayaku di saat tergelap, mengulurkan
67 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

tangan di kala orang lain menginjakku. Namun Ayahmu dengan luar


biasa telah merenggut Julia dan Mark dariku 6 tahun lalu, dalam
sebuah rencana hebat yang hanya tampak seperti kecelakaan mobil
biasa. Meninggalkanku dan Jemma dalam kedukaan mendalam, sejak
saat itu aku harus bekerja keras demi membiayai hidup kami dan
Jemma sebab seluruh warisan orang tua kami sudah habis untuk
berobat Jemma. Gadis malang itu menderita Kanker otak stadium
akhir.... Untungnya Donald datang di saat yang tepat, memberikan
pertolongan serta kasih sayang tapi tetap saja waktu tidak pernah
berpihak pada Jemma. Sebulan setelah kembali mendapatkan sosok
kakek, dia pergi untuk selamanya. Sebelum meninggal Jemma
memintaku berjanji agar mau mengganti posisinya, menikmati semua
hal yang memang layak kudapat dan memaksa Donald bersumpah
agar menjagaku seperti cucu kandungnya, dan Donald tentu saja
bersedia tanpa keberatan. Setelah pemakam Jemma aku bertemu
dengan James yang bernasib tak kalah malang, kehilangan ayah ibunya dihari kelulusan akibat kebakaran bodoh, bahkan sumbernya tidak
berasal dari dalam rumahnya."
Jeda sejenak, untuk pertama kalinya mata Jemma dan Paul saling
bertemu, menyadari betapa shocknya pria itu atas pernyataan Jemma.
"Kamu boleh menyangkal semaumu Paul Anderson, tapi dirimu lebih
mengenal dengan baik seperti apa sosok Benjamin Harold Anderson.
Kamu bilang kalianlah korbannya? Yang benar saja. Kalian pantas
mendapatkan semua kemalangan ini karena ulah nenekmu si jalang
itu! Kenapa dia harus berselingkuh disaat telah memiliki suami seluar
68 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

biasa Donald hanya karena godaan seorang pelayan bodoh?! Apa


kamu tahu bagaimana perasaan seseorang yang disakiti. Dan ayahmu,
dengan segala ambisi serta dendam tolol warisan nenekmu mengorbankan nyawa orang-orang tak bersalah!"
"Katakan padaku sekarang mana yang benar dan jahat! Aku tahu jauh
di lubuk hatimu kamu mengetahui dengan jelas kebenarannya! Dan
sejujurnya satu-satunya alasan Donald tidak menghancurkanmu
karena dia sadar masih terdapat setitik cahaya di dalam dirimu.
Menyedihkan sekali bukan? Jadi berhentilah bersikap seperti seorang
kor-ban dan hadapilah kenyataan!!"
Emosi Jemma meluap seperti lahar, suaranya serak dan air mata siap
lepas dari bendungannya.
Paul hanya bisa terpaku tak berdaya menatap Jemma, tak ada satupun
kalimat bantahan keluar dari mulutnya, dan ekspresi tersiksa Paul
menjelaskan lebih banyak kebenaran atas ucapan Jemma. Terengahengah, Jemma mendekatkan dirinya pada Paul, berkonsentrasi agar
tangisnya tidak pecah, sorot matanya dipenuhi kejujuran dan kepedihan murni, berkata dengan suara parau serupa ancaman.
"Kamu pikir dirimu tahu apa artinya penderitaan dan kepedihan??
Benarkah itu?? Pikirkan sekali lagi di mana letak kebenaran dari
semua ini. Dan ini kalimat terakhirku untukmu jadi dengarkan baikbaik. Jangan-pernah-memperlakukanku-seperti-pelacur-lagi!!" Dan
dengan itu, Jemma membalikkan badan kemudian berjalan dengan
dada membusung meninggalkan ruangannya dan Paul seorang diri.
Hanya berhenti sejenak untuk mengusap air mata, tanpa mempeduli69 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

kan tatapan tajam disertai penasaran semua orang, Jemma meneruskan langkahnya hingga masuk ke dalam lift, turun dan keluar dari
kantor menuju lapangan parkir.
Meraih kunci mobilnya dari dalam saku dress kerja terusan bermodel
coat silver metaliknya, Jemma masuk ke dalam bentley dan membuka
laci dashboardnya untuk mengambil ponsel yang selama ini jarang dia
pakai dan hanya dipergunakan di saat darurat. Seperti sekarang.
Ditekannya nomor pertama yang ada di dalam daftar penyimpanan
data, dengan ponsel masih ditempelkan pada telinga kanan Jemma
mulai menyalakan sekaligus menjalankan mobilnya.
Terdengar bunyi sambungan diangkat dari saluran telpon di seberang,
tanpa menunggu si penerima mengucapkan salam, Jemma langsung
berbicara.
"Ini aku. Rencana harus kita majukan. Sekarang juga."
LoveReads

70 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

PART 8
PAUL

Paul tak beranjak sedetikpun dari atas kursi meja kerja, ruang kantornya. Hari sudah menujukkan pukul 21.00 malam, tapi dia sama sekali
tak berniat pulang ke apartemennya yang nyaman dan memutuskan
menunggu Greg menyampaikan laporan hasil pencarian sesuai permintaannya.
Sudah empat jam berlalu sejak Greg meninggalkannya untuk mencari
data spesifik mengenai identitas asli Jemma Vallerwood alias Victoria
Houlden/Galbannatte atau siapapun nama lainnya. Di satu sisi Paul
tidak mau tertipu lagi, namun kejujuran di dalam mata Jemma saat dia
mengungkapkan kebenaran padanya tadi siang, semua terasa nyata
tanpa tipu daya.
Puluhan kali Paul ingin menjerit saat wanita itu menghina almarhum
nenek dan ayahnya, bagi Paul merekalah satu-satunya keluarga paling
berharga dan ada untuknya dalam kondisi umum dia takkan membiarkan siapapun mengotori nama keluarga Anderson, nama keluarga asli
neneknya. Tapi untuk kali pertama dia tak bisa, karena hati nurani
pria itu tahu akan kebenarannya.
Kenyataan pahit yang harus ditanggung olehnya seumur hidup di
pundak, dosa besar ayahnya. Paul masih menikah saat itu dan belum
bercerai dengan istrinya, ketika suatu malam sepulang dari rapat
penting di Santa Barbara Paul menemui ayahnya untuk memberitakan
kemenangan mereka dalam tender proyek raksasa.
71 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Paul sudah akan memberi kejutan ketika mendengar ayahnya sedang


berbicara dengan Gareth, salah satu tangan kanannya yang kini juga
sudah mendekam di dalam tanah akibat penyakit jantung. Saat itu
justru dialah yang dikagetkan atas niat jahat ayahnya terhadap David
dan Julia Vallerwood, kedua anak kandung Donald sekaligus orang
tua sepupu-sepupunya Jemma dan James.
Masih terngiang dengan jelas di dalam ingatan Paul bagaimana Ben
menginstruksikan sabotase mobil Julia dan kebakaran di dalam rumah
David sebagai pemicu kematian mereka. Paul jelas-jelas ada di sana,
menjadi saksi hidup, harusnya dia bisa saja bertindak benar dengan
setidaknya melaporkan niat jahat ayahnya pada Donald agar mencegah terjadinya tragedi berdarah itu. Tapi Paul terlalu pengecut
sekaligus dibutakan oleh dendam yang sebetulnya tidaklah pada
tempatnya. Alih-alih bersuara dia memilih tutup mulut dan undur diri,
menghabiskan sisa malam di atas ranjang bersama istrinya yang tak
sampai beberapa bulan terpergok bercinta bersama sahabat baiknya.
Sekitar satu minggu kemudian Paul mendengar berita kematian
pamannya David, disusul bibinya Julia 5 hari setelahnya.
Saat mendengarnya, bukannya gembira dan ikut merayakan bersama
sang ayah dalam pesta sampanye dadakan, Paul lebih memilih mengurung diri di kamar dan merasakan kesedihan aneh mendera batinnya. Meskipun Paul tidak pernah benar-benar mengenal paman dan
bibinya, bagaimanapun juga mereka sama sekali tidak bersalah,
keduanya sudah pergi jauh sebelum perpecahan di dalam tubuh
keluarganya. Dan penyebab utamanya justru neneknya.
72 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Kemudian dua tahun setelahnya ayahnya ditemukan tewas over dosis


di dalam kamar mandi rumahnya. Meskipun sekutu mereka mengira
kematian ayah Paul diduga kuat didalangi oleh Donald, Paul sama
sekali tidak ingin menuntut balas, mungkin di dalam hati dia sudah
merasa sangat lelah dengan segala permusuhan bodoh tak berujung
mirip lingkaran setan ini.
Itulah sebabnya sekarang Paul merasa begitu bersalah sekaligus terpukul, dia bisa merasakan dengan pasti kepedihan milik Jemma atau
Victoria atau siapapun nama aslinya. Setiap kata yang meluncur dari
gadis itu merupakan kebenaran. David, Julia, Jemma asli, Victoria?
Jemma, James, bahkan dirinya hanyalah korban! Korban dari ulah
egois neneknya. Jemma/Victoria memang benar, kalau ada yang patut
disalahkan maka orang itu adalah nenekku!
Seandainya saja dia bersikap setia dan memilih jujur apapun alasannya, Paul meninju meja di hadapannya, membuat benda berbahan
mahoni itu mengalami retakan halus pada permukaannya. Tak mempedulikan rasa sakit pada tangannya sebab jiwanya lebih terluka.
Selama ini dia sudah bersikap sangat egois pada James dan Jemma /
Victoria, merasa dirinya yang paling terluka serta menderita. Bahkan
meskipun Victoria bukanlah Jemma dia tetap tidak berhak mencampuri urusan itu karena Donald secara resmi telah menunjuknya
sebagai pewaris sah. Paul menatap ke arah tas Jemma yang sekarang
berada di dalam tangannya, benda itulah yang menjadi alasan Paul
tidak mau beranjak pergi. Dia sangat berharap Jemma akan kembali
untuk mengambilnya dan saat itulah Paul sudah bertekad untuk
73 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

meminta maaf pada wanita itu apapun resikonya. Dan saat ini Paul
menyadari satu hal. Jika dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Jemma,
Victoria, atau siapapun identitas aslinya. Paul bahkan tak peduli jika
perempuan itu adalah seorang gelandangan yang diangkat oleh
Donald menjadi pewarisnya. Jemma adalah satu-satunya wanita yang
mampu memperlihatkan sisi lain dari diri Paul kepadanya. Fakta jika
pria itu masih memiliki banyak kebaikan serta alasan untuk berubah
menjadi lebih benar.
Jemma bahkan tak butuh waktu puluhan tahun untuk menyadarkannya. Keberanian serta ketegasan wanita itu telah meluluhkan benteng
es di dalam hati Paul sepenuhnya. Mungkin karena nasib menyedihkan yang dia alami bisa membuatnya sekuat sekarang batin Paul. Dan
membuat pria itu semakin membenci dirinya sendiri saat memutar
rekaman kisah hidup Jemma di dalam otaknya, betapa menderita serta
sengsaranya perempuan itu dulu. Kata kisah hidup mendadak muncul
di dalam kepala Paul seperti kedipan lampu di dalam kegelapan.
Mendadak perasaan aneh menyelimuti hatinya, sebuah pertanyaan
besar

mengganjalnya.

Dan

itu

adalah

mengenai

kurangnya

penyampaian data tentang hubungan Jemma/Victoria sebagai anak


adopsi Julia Vallerwood.
Jika Detektif itu bisa menyatakan dengan persis waktu dan penyebab
kematian Jemma Vallerwood asli, kenapa dia sampai melewatkan
bagian terpenting identitas Victoria yang justru membuatku jadi salah
paham? Apa mungkin Donald berhasil menutupi jejak Victoria ini

74 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

begitu baiknya?? pikir Paul, seraya memegang kepalanya dengan


tangan bertumpu pada meja.
Paul mengacak rambutnya karena kesal, rasanya setiap sel syaraf di
dalam otaknya sudah menjadi benang kusut saat ini akibat terlalu
banyak berpikir. Paul bisa mencium adanya ketidakberesan di dalam
permasalahan ini, rasanya segala sesuatu menjadi sangat mudah.
Entah kenapa pria itu dapat merasakan hal buruk tengah menanti di
hadapannya.
Paul segera meraih ponselnya dan bersiap menghubungi nomor
Detektif Brandon ketika panggilan masuk datang. Nama Pattrick
Swazdhen, pengacara pribadi kepercayaan Donald tertera di layar,
dengan cepat Paul langsung menjawab telponnya pada dering ke
empat.
"Ya Mr. Swazdhen, ada masalah apa?" tanya Paul tanpa basa-basi,
jantungnya sudah berdetak cepat padahal si penelpon belum mengucapkan sepatah katapun.
Terdengar dehaman diikuti suara berat mengantuk khas Pengacara
Pattrick. "Maaf mengganggumu malam-malam begini Anderson, aku
hanya akan menyampaikan perihal pengalihan harta serta saham atas
namamu. Sudah dimulai dari malam ini, karena Mrs. Vallerwood
memintanya secepat mungkin, jadi"
Paul sudah tidak bisa mendengar dengan jelas sisa kelanjutan kalimat
obrolan Pengacara Pattrick, pikirannya hanya tertuju pada satu
kalimat. 'Pengalihan harta?' jadi Jemma/Victoria benar-benar serius

75 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

mengabulkan permintaannya?? Lebih mirip kebimbangan daripada


kesenangan.
"Tu tunggu dulu, mengapa secepat itu? Apa James sudah menandatangani segalanya?" tanya Paul hatihati.
"Dia kan sudah memberikan surat kuasanya sejak awal karena dia
sebagai ahli waris." Pengacara Pattrick jelas terdengar kesal.
Kalimat 'ahli waris' seakan menembak Paul dengan peluru tepat
dijantungnya. "Maksudmu??!" Paul tak bisa mencegah nada suaranya
berubah meninggi dan panik.
Pengacara Pattrick terdiam cukup lama dan mengeluarkan suara
gemeletuk yang sudah sangat dikenal Paul sebagai tanda 'kepanikan',
seketika rasa cemas menggelayuti dirinya. 'Ini jelas-jelas bukan hal
yang bagus!' batin Paul, dia ingin sekali mematikan telpon itu saat ini
juga sebelum mendengar penjelasan lebih lanjut yang bisa membuatnya menghancurkan apapun di hadapannya. Namun rasa penasaran
membuatnya tetap bertahan dan menunggu.
"Oh, Demi Tuhan Paul! Jangan bilang kamu menandatangi sesuatu
tanpa membacanya terlebih dulu!" kalimat Pengacara Pattrick berubah
menjadi nada tinggi. "Aku mendapatkan surat pernyataan resmi dari
Jemma Vallerwood yang berisi kesediaanmu untuk menyerahkan 20%
persen saham yang kau miliki beserta 55% aset seluruh harta
Anderson kepada Jemma dan James Vallerwood. Bahkan terdapat
tanda tangan aslimu di sana. Aku juga tidak bodoh dan bisa membedakan jika itu merupakan kepalsuan!"
Seketika lutut Paul melemas di tempat, terduduk.
76 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Pria itu hanya bisa mendengar komentar pedas Pengacara Pattrick atas
keteledorannya.
"Prosesnya sudah selesai Anderson, ini bisa menjadi masalah besar
dan jujur saja aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi, karena dimata
hukum sudah sah." Pengacara Pattrick menegaskan.
Paul bahkan tak perlu repot-repot menutup telponnya karena didetik
berikutnya Pengacara Pattrick sudah memutuskan sambungan dari
pihaknya.
Selesai sudah Batin Paul lemah.
Otaknya terasa kosong saat ini, seperti gelas yang terlalu penuh
kemudian isinya dikuras hingga tak bersisa. Saking shocknya Paul
sampai tidak tahu harus berkata atau bereaksi apa. Tidak ada amarah,
ketakutan, kekhawatiran, hanya kebisuan menemaninya.
Wajah Paul terdongak, jiwanya ikut melayang-layang bersama
tatapan matanya yang mengambang ke belahan dunia lain. Seperti
mencari sesuatu. "Jemma." hanya itu yang mampu dikatakan Paul
dengan sangat lirih.
Pintu ruang kerjanya terbuka tepat pada saatnya, Greg masuk terburuburu dengan keringat mengalir deras dari seluruh wajahnya, ekspresi
mukanya kaku dan tak bisa terbaca. Bergegas mendekati meja kerja
bosnya.
"Sir" bisik Greg. Tangannya memegang beragam tumpukan map,
amplop coklat, beragam kertas berbagai bentuk.
Paul hanya menengadahkan kepalanya sekilas, matanya menatap
Greg namun tidak tampak kilat kehidupan di sana.
77 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Pelayan setianya tampak sangat terkejut.


"Jangan sekarang..." jawab Paul masih dengan tatapan-tanpa-jiwanya.
"Tidak bisa Sir, ini sudah tak dapat ditunda." Greg meletakkan semua
penemuannya ke hadapan Paul.
Awalnya pria itu enggan, namun secarik foto berukuran 5R segera
membuatnya kembali terduduk tegak. Diambilnya gambar berwarna
tersebut, seketika cahaya kehidupan kembali muncul di matanya. Paul
mengenali dengan jelas sosok utama di dalam foto tersebut, karena
dialah keluarganya hancur berantakan, atau lebih tepatnya usaha
pembalasan dendamnya pada nenek dan ayahnya telah menjadikan
Paul seperti sekarang.
Itu Donald Vallerwood!!! Di dalam balutan kemeja merah bermotif
bunga warna-warni, celana pendek putih dan sandal, kacamata hitam
bermerknya menggantung menutupi sepasang mata hazelnya. Pria itu
sedang berada di tepi pantai bersama seorang wanita cantik berumur
awal 40an yang memakai topi rajut melingkar dan seorang pria
tampan bertubuh tinggi tegap, duplikat Donald saat masih muda.
"Foto itu diambil tak kurang dari 20 hari lalu di daerah bernama tanah
Lot, di Bali, Indonesia." Tukas Greg tak sabar. "Menurut juru kameranya, dia sudah dibayar banyak oleh Detektif Brandon agar memberikan seluruh isi rolnya, namun rupanya masih ada beberapa gambar
yang tertinggal."
Perut Paul bergolak panas oleh emosi, rasanya empedunya sudah naik
sampai ke tenggorokan sekarang, debaran jantungnya yang tadi
sempat tenang bahkan terasa nyaris berhenti kini berdetak secepat
78 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

kereta api shinkansen. "20 hari lalu? Tapi ini, mustahil, bagaimana
mungkin???" tangan Paul gemetaran ketika memeriksa dari satu foto
ke foto lain.
Namun berapa kali dilihatpun itu memang mereka. Kakek tiri, serta
paman dan bibi tirinya. Bersama-sama!
"Sejak awal saya merasa ada yang tak beres dengan penyelidikan
Detektif Brandon, karena itu saya mencoba menghubungi semua
relasi saya dan hasilnya mengejutkan. Orang itu tidak melakukan
penyelidikan seorang diri melainkan membayar ahli profesional lain
di bidang pelacakan, dan setara dengan tingkat agen intelijen rahasia.
Dia-lah yang berhasil saya hubungi meskipun sangat susah disuap.
Akan tetapi ada banyak hal tidak dia sampaikan pada anda Sir." Greg
berbicara dengan suara putus-putus tampak kehabisan nafas.
Semangat Paul seakan diisi ulang, berdiri dari duduknya, diperiksanya
setiap data hasil temuan Greg, matanya melotot lebar ketika sampai
pada bukti forensik catatan kematian Kakek tirinya, Julia, dan David
Vallerwood.
"Apa maksudnya ini??" Tanya Paul tanpa menolehkan kepala, matanya menyipit.
Mendesah nafas panjang, Greg menjawab dengan susah payah. "Sir,
Tuan Donald masih hidup. Jasad di dalam lumbung parit itu bukan
miliknya, melainkan seorang co-Pilot muda yang dibawanya, Pilot
Gilbersten telah dibayar sangat mahal dengan uang serta kesetiaannya
untuk membuat pernyataan palsu. Dan Tuan David serta Nyonya Julia
yang sudah kita anggap wafat 5 tahun lalu, berhasil selamat dari maut
79 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

lalu bersembunyi di Italia hingga setahun lalu terlihat kembali ke


Amerika melalui New York."
Greg mengambil dari tumpukan meja foto-foto bukti editan, diambil
melalui kamera bandara, serta potongan-potongan gambar rutinitas
kedua paman dan bibi tiri Paul bersama pasangan mereka, di tempat
yang dikenali Paul sebagai Tuscan.
Greg tampak sedih sekaligus ikut merasakan kemarahan tuannya yang
sewaktu-waktu bisa meledak bagaikan lahar gunung vulkanik dalam
kondisi memuncak. Meskipun begitu sudah tugasnya menyampaikan
kejujuran yang selama ini tersembunyi dari hidupnya. Sudah cukup
rasanya bagi Greg melihat Paul tersiksa akibat menanggung beban
dosa yang tidak diperbuat olehnya, perasaan bersalah karena merasa
bertanggung jawab atas kematian keluarganya diakibatkan dendam
bodoh Ben dan Clara.
Greg menjaga pria itu dari kelahirannya hingga tumbuh sebesar
sekarang, ikut bersamanya dalam tiap detik sisi kehidupannya, pria
tua itu mencintai Paul layaknya anak kandung sendiri, putra yang takkan pernah bisa dimilikinya. Bahkan terkadang Greg yakin cinta Ben
pada putranya tidak setulus kasih sayang Greg.
Greg sudah tak mau lagi melihat Paul hidup dalam gelembung amarah
serta warisan dendam bodoh, dia ingin Paul menjalani sisa umurnya
dengan menjadi dirinya sendiri, bahagia tanpa takut terbangun tengah
malam akibat mimpi buruk dan berhenti meminum pil penenang
hanya agar tidak mendengar teriakan-teriakan bodoh, bunyi ceburan
laut, serta panas api yang hanya ada di dalam pikirannya.
80 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

"Sir," tukas Greg lagi setelah jeda cukup lama. "Masih ada lagi."
tangan Greg menyodorkan berkasberkas di dalam map hijau tebal
kepada Paul. Namun melalui tatapan mata Bosnya, Greg tahu pria itu
sudah terlalu terpukul untuk bisa mengetahui rahasia mengerikan
lainnya, terutama untuk satu ini.
Greg sejujurnya sangat takut kalau informasi yang akan dia berikan
tidak hanya menghancurkan hidup pria itu, tapi juga hati dan jiwanya.
Menolak kebohongan lagi, Greg dengan tegas memberikan sorot mata
tajam tepat ke dalam kedua iris biru laut Paul, saat mulutnya merangkai kalimat.
"Tidak ada yang namanya Victoria Houlden, semua kisah gadis
penderita kanker bernama Jemma adalah kebohongan yang dikarang
oleh Detektif Brandon. Nona Jemma yang kita kenal sekarang
memang cucu kandung Tuan Donald. Semua data lengkap hingga
hasil ke-cocokan tes D.N.A ada di dalam berkas ini." jeda sejenak
untuk mengambil nafas.
"Dan tentang Tuan James yang selama ini anda tahu, dia bukanlah
James sebenarnya. James Vallerwood yang itu hanya seorang aktor
hebat bernama Dean Finnigan, seorang mahasiswa seni di NYU,
begitu pula halnya dengan pria bernama Jayden Parker, Manager
SDM kita"
Wajah Paul memucat, darah seakan dihisap habis dari tubuhnya,
matanya menggelap karena kepedihan. Greg dapat merasakan emosi
serta sakit dikhianati, ditusuk-tusuk, kemudian dibuang mentahmentah ke dalam lautan perih tak berujung.
81 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

"Jemma bukan Victoria, Victoria itu tidak pernah ada. James yang
sekarang adalah seorang aktor penipu ulung, begitu juga dengan si
Parker itu" kalimat tersebut terucap dari mulut Paul terbata-bata,
lambat, otaknya tampak berusaha keras mencerna ini. Kemudian Paul
terduduk kembali, lututnya sudah tidak bisa menopang tubuhnya.
Greg mendadak langsung panik. Tapi bukan ledakan amarah atau
kebencian yang dia lihat berikutnya dari Paul. Bosnya itu alih-alih
meluapkan emosi malah tertawa. Benar tertawa.
Tertawa dengan sangat hebat dan kencang. Seperti orang rakus akan
makanan. Namun Greg tahu dengan pasti di balik tawa itu terdapat
duka yang tampak-nya tak bakal bisa disembuhkan lagi.
Dendam.
Kebencian.
Keserakahan.
Greg merutuki Ben dan Clara karena justru mewariskan harta paling
terkutut di dunia pada pria setulus Paul. Menjadikan orang itu monster
pembalas dendam sesuai keinginan tolol keluarganya.
Setelah puas tertawa hingga menangis, yang bahkan Paul sendiri tidak
dapat mengartikan apa maknanya. Pria itu bergumam dengan tangan
masih memegang berkas riwayat hidup asli Jemma Vallerwood dan
James palsu.
"Pada akhirnya pria itu berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.
Ya, dia memang sangat hebat dan tahu apa tujuannya. Jelas aku bukan
tandingan seorang Donald Vallerwood bukan. Luar biasa jenius"

82 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Paul bertepuk tangan lebih keras daripada saat dia terpukau oleh
pertunjukan Broadway. Kemudian, dia memalingkan wajahnya pada
Greg, pelayannya jelas terkejut pada pergantian suasana pada dirinya
dari orang terpuruk menjadi pria bertopeng kejam seperti biasanya.
"Katakan padaku, siapa James Vallerwood yang sebenarnya." Suaranya dalam, serak, dan sangat dingin. Begitu mengerikan dan mampu
membuat bulu kuduk siapapun berdiri saat di hadapannya.
Greg bergerak-gerak gelisah di tempatnya. Jelas sekali kebingungan
memberikan jawabannya.
"Ituu"
LoveReads

83 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

EPILOG

Gelombang lautan pasifik begitu tenang, gerakannya lambat serta


sangat nyaman, cuaca tidak terlalu terik namun juga tak mendung,
angin lembut bergulir kencang menampar-nampar udara kosong di
antara awan biru muda dan garis putih yang membatasi Bumi dengan
tanah. Bagi Jemma Vallerwood, situasinya begitu kondusif untuk dia
bisa mengistirahatkan otaknya sejenak. Namun tidak bisa jika di
sebelahnya seorang pria muda tampan, bertubuh seksi menggiurkan
tengah, bermain-main dengan dua orang perempuan yang dijuluki
Jemma sebagai Barbie kembar.
Padahal Jemma sudah memasang earphone-nya sekencang dia bisa,
mengeraskan volume suara ipadnya pada takaran batas nyaris
maksimal. Tapi tetap saja suara desahan mengerikan dari mulut kedua
Barbie kembar itu mampu menembus tebalnya busa tebal pada alat
pemasang telinganya.
Jemma bangkit duduk dari posisi tidur nyamannya di atas kursi lipat,
melepaskan earphone, mengangkat kacamata hitamnya, gadis itu
mengerang dengan suara kanak-kanak yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya selama 3 tahun terakhir ini. "Please deh James!! Bisa
tidak kamu cari kamar saja sana!!" bentak Jemma jengkel sejadijadinya, matanya melotot, tangannya bersedekap di depan bikini
bertali satu ungu tuanya. Rambut coklat kemerahannya telah kembali
ke warna semula, hitam, lurus sepunggung, berkibar menampar
wajahnya akibat angin. Kemudian, ekspresi kesalnya berubah menjadi
84 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

seringaian licik. "Atau, lebih suka kupanggil dengan nama Tuan


Detektif terhebat sepanjang masa Brandon Wood"
Pria yang tidur di atas kursi lipat santai berjarak semeter dari Jemma,
mengangkat alis coklat lebatnya hingga menyatu dan seperti membentuk jembatan di atas wajahnya. Sepasang iris hazel di dalam kedua
bola mata bulat memancarkan ekspresi nakal. Rahang perseginya
bergerak membentuk cengiran membuat bibir merah tomatnya
merekah mempesona. Rambut gelap cepak lurusnya berkibar lembut
akibat pengaruh angin. Kedua lengan kokohnya sengaja direntangkan
untuk memberikan ruang kepada kedua gadis berambut pirang seksi
yang sedang menelungkup di atas dada telanjangnya yang bidang dan
mempesona.
Jika Jemma bukanlah sepupu Brandon Wood a.k.a James Vallerwood,
lidahnya pasti sudah berada di atas tubuh seksi, dan perut ramping
berotot milik pria itu. Sayangnya kilau pesona aktor Hollywood dari
James takkan mempan bagi perempuan yang sudah mengenalnya
selama puluhan tahun, bertetangga bahkan kadang tinggal satu atap,
hingga bersekolah kemana-mana selalu berbarengan. Jika orang tidak
tahu akan mengira mereka kembar, kadang-kadang James malah
dengan sengaja tampil bak pacar bagi Jemma saat mereka berjalan di
depan umum.
Alih-alih menggilai James seperti wanita normal diluar sana, dia lebih
sering merasakan jijik sekaligus sebal. Pernah sekali waktu saat orang
tua Jemma berada di luar kota, Brandon mempergunakan rumah
mereka untuk pesta seksnya dan menyogok Jemma dengan sekantung
85 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

coklat asli swiss serta CRV keluaran terbaru yang tentunya terlalu
menggiurkan untuk ditolak.
James sedikit menegakkan tubuhnya sementara kedua wanita pirang
di kedua-sisinya sibuk mencumbui perut bisep seraya memijat pelan
kejantanannya yang sudah sejak tadi ereksi. Jemma yakin jika dia
sedang tidak berada disini mereka bertiga pasti sudah bergulat di atas
dinginnya lantai kapal pesiar pribadi milik Vallerwood Company ini.
"Oh, ayolah sepupu, kamu cuma iri karena dua mainanmu tidak ada
disini. Lagipula siapa suruh kamu menerbangkan mereka ke daratan
jauh di Hungaria." tukas James diikuti senyuman mengejek.
"Dean dan Peter bukan mainanku!" bentak Jemma marah, mata coklat
besarnya melotot selebar dia bisa. "Lagipula, semakin jauh mereka
dari Anderson maka akan lebih baik. Pria itu takkan bisa mencari
mereka disana, bahkan memikirkannya saja tidak."
Dan itu benar, pikiran Paul akan menemukan dan mengoyak Kakak
Beradik Dean dan Peter Finnigan, sahabat baiknya sejak lahir
sekaligus love interest Jemma yang dengan kerelaan hati bersedia terlibat dalam sandiwara berbahaya ini hingga demikian jauh. Membuat
wanita itu sering mengalami mimpi buruk saat malam. Melihat mayat
mereka berdua tergantung dalam posisi termutilasi pada pagar depan
rumahnya di L.A atau hal-hal buruk lain. Dan selalu diakhiri oleh
adegan Paul mencoba membunuhnya dan Jemma berlari dari dia, jika
beruntung mimpi Jemma takkan berakhir dengan kematiannya.
Seluruh bulu halus ditubuh Jemma bergidik hebat dan tak ada
hubungannya dengan udara dingin yang sekali lagi menerpa kulit
86 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

telanjangnya yang hanya berbalut dua lembar kain bikini. Jemma


memelut tubuh dengan kedua tangan, ketika mendengar bunyi
langkah berkelotakan diikuti suara halus bernada tajam yang sudah
sangat familier ditelinga Jemma.
"Tak usah pikirkan Anderson. Aku yakin dia sudah terlalu sibuk
mengurus masalahnya sendiri sekarang."
Jemma menoleh dengan bersemangat, wajahnya berbinar secerah
matahari saat melihat sosok tinggi jangkung, bertubuh ramping tegap
bahkan diusia menjelang 70an, berambut pirang platinum lurus berpotongan pendek rapi, janggut dan kumis putihnya tumbuh tipis-tipis,
sepasang mata hazel bulatnya berkilauan seindah berlian.
Donald Vallerwood turun dari atas geladak diikuti dua pasangan
berumur dua kali Jemma dan James. Mereka memakai atasan santai
dan bawahan masing-masing celana pendek untuk pria, dan Julia serta
Crista Vallerwood (Ibu James) mengenakan terusan selutut dengan
dua tali bermotif kembangkembang beda warna berbahan katun. Serta
seorang wanita seumuran kakeknya, mengenakan terusan satin
berlengan pendek selutut berwarna putih, rambut pirang pendek
lurusnya berkilauan oleh cahaya, kecantikan semasa mudanya sebagai
Miss. Alabama masih tergambar jelas hingga saat ini. Tangannya tak
berhenti menggengam erat lengan Donald.
Maureen Conrad adalah Ratu kecantikan seabad, mantan kekasih
Kakeknya di masa muda, yang ternyata merupakan Bibi jauh Crista,
dan menjadi pengasuh tetap Donald di masa-masa sulitnya dulu.
Mereka baru menikah sebulan lalu di Tahiti dan meskipun terdengar
87 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

bodoh. Jemma sangat bahagia melihat Kakeknya akhirnya mendapatkan pasangan hidupnya kembali setelah segala pengkhianatan Clara
dulu padanya. Maureen tidak hanya baik, tapi juga tepat dan mengetahui apa yang paling dibutuhkan Donald. Ketulusan dan cinta
sederhana.
Julia, Ibu Jemma menjadi orang pertama yang memberikan restu
ketika Donald mengungkapkan niatnya untuk menikahi wanita
beranak 4 bercucu 6 yang hanya lebih muda 3 tahun darinya itu, dan
masih tampak luar biasa.
Jemma melirik ke arah James yang langsung cegukan melihat
kedatangan keluarganya yang begitu mendadak. Terkikik ketika
James dengan paniknya bangkit berdiri dan memberikan instruksi
pada kedua teman kencannya agar menunggu di kamarnya. Meski
tampak jengkel karena diusir mendadak, mereka menurut dan bergegas meninggalkan James yang sibuk merapikan dirinya padahal
tidak memakai apapun selain celana pendek mendekati mirip boxer.
Jemma berbalik kearah keluarganya yang sudah berjalan mendekati
mereka. "Granddy" jeritnya manja, layaknya anak balita berlari
pada Donald dan memeluk Kakeknya seraya mengalungkan kedua
lengannya pada lehernya. Barulah pria tua itu melepaskan genggaman
Maureen darinya.
Jemma tidak terkejut merasakan betapa kokoh tubuh Kakeknya, serta
dada bidang mengingat usia Donald telah memasuki batas senja.
Jemma melepaskan pelukannya kemudian mencium pipi Maureen,
dan berkutat pada keluarganya.
88 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

"Oh sayangku, aku sangat-sangattt-sangatttt merindukanmuu" Julia


memeluk putrinya erat, rambut coklat lurus sepunggungnya seakan
membungkus Jemma di dalam tirai.
"Ibumu nyaris koma karena rindu dan aku hampir saja mematahkan
hidung Anderson saat mendengar cerita dari para Finnigan." Suara
Mark Skylar terdengar berapi-api. Membuat Jemma berjengit setiap
kali ada orang membahas mengenai Paul.
"Oh, hentikanlah adik ipar. Sudah cukup putrimu mendapatkan mimpi
buruk tiap malam tentang si brengsek itu." bentak David Vallerwood
serius. Rambut pirang lurus berpotongan acaknya menari-nari indah
di atas udara, mata hazelnya berbalik menyorot tajam kepada putra
tunggalnya yang bergerak lambat-lambat ke arahnya. Mulutnya membentuk sudut lurus sehingga tak bisa dibedakan antara marah atau
bangga atas kelakuan James yang sok cassanova.
"Like father like son." bisik Jemma yang hanya didengar oleh Julia.
Ibunya memahami kepada siapa kalimat itu ditujukan.
"Hai, Dad" sapa James kikuk, merentangkan kedua tangannya tapi
untuk memeluk Ibunya, "Dan Mom, wow, sungguh kulit coklatmu
sangat sempurna" rayunya.
Crista merengut tapi meraih pelukan putranya. "Berhenti bermainmain James. Kapan kamu mulai serius." kata David dingin, membuat
James memutar bola mata dan Jemma menggumamkan sesuatu yang
didengar Mark sebagai 'oh tidak, mulai lagi'.
Dimata Jemma, David, putra sulung Donald mewarisi watak, sikap,
serta fisik sempurna Kakeknya. Copycat, itulah kalimat yang selalu
89 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

ditujukan Julia merujuk Kakak tunggalnya. Terkadang, sikap David


dirasa Jemma lebih parah daripada Donald sekalipun. Untungnya
suasana tegang tersebut segera mencair setelah Donald muncul
sebagai penengah.
"Jangan bersikap sekeras itu padanya Dave, berkat putramu-lah
rencana brilliant ini berhasil terlaksana." tukas Donald seraya menepuk pundah James, dadanya membusung karena kebanggaan.
James nyengir lebar memperlihatkan sederetan gigi putih rata yang
bagi Jemma lebih mirip gigi hiu.
David menarik nafas panjang sejenak tapi Crista-lah yang pertama
menyahuti." Sejujurnya Dad, aku tidak pernah menyetujui rencana ini.
Satu-satunya alasan aku bersedia mengumpankan putraku adalah,
karena anak tirimu itu nyaris meledakkan tubuhku di dalam rumahku
sendiri." kemudian Crista kembali murung.
Maureen dengan sigap langsung memeluknya selayaknya pekerjaan
Ibu kandung kepada putrinya.
"Dan putramu adalah cucuku." Donald memperingatkan dengan satu
alis terangkat.
"Berbicara tentang kemenangan, harusnya kita memberikan tepuk
tangan meriah untuk ide luar biasa dari Nona Jemma Augustine
Vallerwood." mood David berubah menjadi riang kembali. Membalikkan tubuh tingginya hingga menghadap Jemma yang tengah
berdiri diantara kedua orang tuanya sambil menyilangkan kedua
tangan di depan dada. "Siapa sangka rencana kita dapat berjalan lebih
mulus dan cepat dari seharusnya." Maureen tertawa.
90 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

Jemma menaikkan satu alis, tampak sombong. "Bukankah ini


waktunya kalian mengangkat gelas sampagne sambil meneriakkan
namaku?"
"Yah, tentu saja. Atas kehebatanmu sebagai perayu ulung!" goda
James dengan senyum nakal, tangannya ke atas kepala dengan
gerakan seakan memegang gelas kristal.
Jemma mendengus sementara Mark dan Julia menahan nafas.
"Nanti kita harus bicara mengenai bagian 'perayu' itu." tukas Mark,
nadanya defensif khas kebapakan terang-terangan.
"Daddy" rengek Jemma tak ubahnya anak kecil. Dahinya berkerut
semakin dalam saat Julia melemparkan pelototan tajam padanya.
Jemma bergerak keluar dari lingkaran orang tuanya menuju bagian
ujung geladak kapal, tubuhnya disandarkan santai pada pinggirannya
yang terbuat dari besi berlapis cat keemasan, bertumpu pada satu kaki
dan tangan.
"Aku hanya melakukan apa yang harus kujalankan, semuanya hanya
sebatas akting. Sungguh. Anderson berhak mendapatkan pembalasan
atas segala perbuatan keluarganya pada kita." Jemma berusaha
tampak terdengar serius meskipun saat mengucapkan tiap kalimatnya
tenggorokannya terasa sakit dan lidahnya menjadi kelu. Ada kepedihan aneh menjalari dadanya setiap kali kepalanya meng-ingat
Paul. Serta sebuah kesedihan mendalam setiap kali melihat keluarganya begitu membenci pria itu, bahkan menyebut nama depannya
menjadi sebuah kejijikan. Seakan dia sampah tak berguna. Memori
Jemma terlempar pada kejadian masa lalu di mana nyawa orang
91 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

tuanya dan James nyaris terenggut dari kecelakaan sabotase yang


dibuat oleh Benjamin Anderson, Ayah Paul. Untungnya mata-mata di
dalam tubuh Ben, yaitu Gareth, memberikan informasi terlebih dahulu
kepada Donald sehingga pria itu bisa menyelamatkan keluarganya.
Berusaha menghindari kecurigaan, Donald tetap meng-adakan acara
pemakaman palsu dimana saat itu terjadi Julia, David, Mark, dan
Crista sudah berada jauh di Tuscan. Mengelola perusahaan lain yang
dibangun Donald selama belasan tahun terakhir yang berhasil
berkembang luar biasa pesat di wilayah Eropa.
Dibantu para sekutunya, Donald menciptakan The New Global
Company, untuk menyaingi Vallerwood Corp. yang takkan mungkin
bisa dipertahankan Donald lagi. Donald harus menunggu waktu yang
tepat, untuk bisa menjatuhkan Ben. Dan saat itu tiba, Donald
melemparkan semua bukti kejahatan Ben tepat di depan mukanya,
saat kondisi fisik mantan anaknya tersebut melemah. Ben akhirnya
meninggal akibat serangan jantung dan over dosis akibat ketakutannya sendiri malam itu.
Lalu tiga bulan lalu, Donald sengaja menyiapkan rencana kematiannya sendiri untuk mengelabui Paul dan semua lawannya dalam
kecelakaan pesawat yang dirancang oleh sekutu Ben yang berniat
membalas dendam pada Donald. Sekali lagi Kakek Jemma berhasil
mengantisipasinya berkat informasi James yang menyamar sebagai
Detektif Brandon. Menggunakan jasad si co-Pilot yang berniat
membunuhnya untuk menggantikan diri Donald dan terbang memakai
parasut lain. Dan sudah ada kapal layar yang dikemudikan David
92 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

sudah menunggunya disekitar lautan tempat ledakan pesawat,


menunggu Donald.
Melempar keras-keras perasaan bersalahnya kepada Paul jauh di
dalam lubang kemarahan dirinya, Jemma meninggikan dagu, dengan
suara terkejam yang dia bisa buat Je-mma berkata. "Benar, ini semua
salah keluarganya. Siapa suruh mereka jadi egois, mereka adalah
musuhku."
Kemudian, ledakan tawa menggema. Donald mendekati cucu
perempuan kesayangannya sambil memeluk bahunya. "Kamu tahu
tidak, sikapmu ini mengingatkanku pada nenekmu, Cynthia."
Jemma menegak di tempatnya, raut mukanya kembali berbinar.
"Benarkah?"
Donald mengangguk. "Ya. Nyaris semua ucapannya selalu benar. Dan
harusnya aku mendengarkan ucapannya untuk tidak buru-buru
menikah lagi sampai kesetiaan seseorang itu benar-benar teruji." Raut
wajah pria tua tersebut berubah murung.
Jemma

meremas

tangan

Kakeknya

keras-keras,

memberikan

senyumannya yang benar-benar tulus. "Berhenti bersikap begitu.


Sekarang sudah ada Maureen, dan dia Nenek yang luar biasa hebat."
Jemma mengerling pada wanita tua berambut pirang yang sudah
berdiri di samping kiri Kakeknya.
Donald mengangguk. "Kamu benar. Lagipula aku hanya mempertahankan serta mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak
Vallerwood. Dan cuma Vallerwood sejati pemiliknya."

93 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m

James, Julia, David, Mark, Crista bergabung bersama dengan mereka


bertiga diujung geladak.
"Untuk Jemma" James sekali lagi membuat gerakan melayangkan
gelas di atas kepala, tersenyum lebar.
"Untuk Jemma Vallerwood atas ide brilliant, keberanian, serta
kesetiannya pada keluarga ini" David mengikuti jejak putranya.
Dalam sekejab semua orang menyebut-nyebut nama Jemma sambil
melakukan gerakan konyol mengangkat gelas bayangan ke atas udara.
Jemma tertawa lebar melihat keluarganya.
'Benar, memang disinilah tempatku. Bersama keluargaku yang sangat
mencintaiku. Tak ada yang salah dengan berjuang demi keluarga,
meskipun harus bertaruh dengan iblis sekalipun' bisik batin Jemma.
Gembira melihat keriangan mengelilinginya. Jemma memutar tubuhnya, kedua tangannya terentang santai seperti kepakan sayap di udara,
di pangkukan di atas besi penghalang penyangga. Mata coklatnya
jauh memandang ke atas birunya awan, sementara gema gegap
gempita menjadi latar belakangnya. Senyum Jemma perlahan memudar saat mengingat betapa miripnya warna langit itu dengan mata
seseorang. Dingin, namun dalam dan tulus di dalam.
Hati Jemma bergetar akibat kesedihan aneh.
Dan ketika batinnya mendesahkan nama Paul, sadarlah sudah betapa
dalam luka di hatinya.
LoveReads

E-Book by Ratu-buku.blogspot.com
94 | R a t u - b u k u . b l o g s p o t . c o m