Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penduduk

usia lanjut ( yang kemudian disingkat lansia )

merupakan bagian masyarakat yang tidak bisa dipisahkan dalam


kehidupan kita. Siapapun pasti akan mengalami masa fase lansia tersebut.
Menurut data Pusat Statistik, jumlah lansia di Indonesia pada tahun 1980
adalah sebanyak 7,7 juta jiwa atau hanya 5,2 persen dari seluruh jumlah
penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat
menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Dan data terbaru menunjukkan
bahwa jumlah lansia di Indonesia diperkirakan akan mencapai 9,77 % atau
sejumlah 23,9 juta jiwa pada tahun 2010 dan meningkat lagi secara
signifikan sebesar 11,4 % atau sebanyak 28,8 juta jiwa pada tahun 2020.
Hal ini berkorelasi positif dengan peningkatan kesejahteraan yang dialami
oleh masyarakat Indonesia khususnya di bidang kesehatan yang
ditunjukkan dengan semakin tingginya angka harapan hidup masyarakat
Indonesia. Pada tahun 1980, angka harapan hidup masyarakat Indonesia
hanya sebesar 52,2 tahun, Sepuluh tahun kemudian meningkat menjadi
59,8 tahun pada tahun 1990 dan satu dasa warsa berikutnya naik lagi
menjadi 64,5 tahun. Diperkirakan pada tahun 2010 usia harapan hidup
penduduk Indonesia akan mencapai 67,4 tahun. Bahkan pada tahun 2020
diperkirakan akan mencapai 71,1 tahun. Dengan data data tersebut,
maka diperkirakan 10 tahun ke depan struktur penduduk Indonesia akan
berada pada struktur usia tua.
Isu sentral masalah kependudukan yaitu masih rendahnya kualitas
sumber daya manusia usia lanjut (LANSIA) yang dipengaruhi langsung
oleh beberapa faktor, antara lain konsumsi makanan dan gizi, tingkat
kesehatan, tingkat pendidikan serta pengakuan masyarakat bahwa mereka
1

masih mempunyai kemampuan kerja dan pendapatan dari pensiunan yang


masih rendah. Konsumsi makanan dan gizi kurang (malnutrisi) masih
dialami oleh beberapa Lansia di Indonesia yang tersebar pada beberapa
desa dan daerah pinggiran kota. Kondisi yang demikian mengakibatkan
masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat Lansia.
Pertambahan penduduk di Jawa Tengah telah berhasil diturunkan
dari 1,47 % pada tahun 1990 menjadi 0,91 % tahun 1995. Namun secara
absolut pertumbuhan penduduk tersebut masih relatif tinggi yaitu sebesar
196.758 jiwa per tahun. Dampak lebih jauh dari permasalahan
kependudukan adalah bertambahnya penduduk berusia lanjut dengan
kriteria:
rendahnya kualitas kesehatan Lansia yang disebabkan oleh
rendahnya pendapatan, disamping pendapatan itu sendiri belum
merata diterima setiap Lansia.
adanya tuntutan persediaan pangan disesuaikan dengan tingkat
kebutuhan kalori yang makin berkualitas bagi Lansia.
Permasalahan penduduk Lansia perlu ditangani dengan strategi
antara lain melalui pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi bersama-sama
dengan peningkatan prasarana dan pelayanan kesehatan yang di pusatkan
pada Posyandu. Strategi peningkatan kesehatan Lansia ini ditempuh
melalui penurunan angka kesakitan dan jumlah jenis keluhan Lansia.
Penurunan Angka Kesakitan Lansia (AKL) tidak hanya merupakan
tanggung jawab sektor kesehatan tapi merupakan tanggung jawab semua
sektor terkait.
Agar program penurunan AKL dapat dicapai secara efektif dan
efisien perlu didukung adanya data. POSYANDU LANSIA merupakan
sarana pelayanan kesehatan dasar untuk meningkatkan kesehatan para
Lansia. Gerakan Sadar Pangan dan Gizi (GSPG) juga merupakan wadah

lintas sektoral untuk melaksanakan keterpaduan unsur terkait dalam


rangka mendukung kesehatan para Lansia.
Berbagai kemitraan antara Pemda Kabupaten sebagai pelaksana
pembangunan daerah dengan pihak swasta maupun universitas telah ikut
berpartisipasi secara aktif dan bekerja sama dalam gerakan sadar pangan
dan gizi yang di khususkan bagi Lansia. Cita-cita pembangunan untuk
Lansia supaya tetap sehat, aktif dan produktif dapat terwujud di setiap
wilayah baik desa maupun kota. Untuk itu perlu keterlibatan mahasiswa
FK dalam upaya menyusun strategi pemberdayaan kaum Lansia
khususnya pada tingkat pelayanan kesehatan dasar berbasis masyarakat.

B. Tujuan Pembelajaran
Adapun tujuan pembelajaran pada topik keterampilan Pembinaan
Posyandu Lansia ini adalah diharapkan mahasiswa mampu:
1. Mampu memahami peran dan fungsi posyandu lansia.
2. Mampu menjelaskan cara pengisian dan penggunaan KMS lansia.
3. Mampu menjelaskan kelainan-kelainan yang sering terjadi pada lansia
beserta pencegahan dan pengobatannya.
4. Memahami tatalaksana Diet Lansia dan pola hidup sehat Lansia.
5. Melakukan penyuluhan kesehatan komunitas tentang manfaat
Posyandu Lansia dalam meningkatkan kesehatan Lansia.
6. Melakukan pengumpulan data tentang program posyandu, prevalensi
penyakit yang diderita lansia, serta upaya kuratif dan rehabilitatif.
7. Melakukan penilaian status depresi lansia dengan menggunakan
Geriatric

Depression

Scale

dan

MMSE

(mini

mental

state

examination).
8. Mampu melakukan pengamatan dan penilaian pada posyandu lansia
setempat dengan standar program posyandu lansia
BAB II
KEGIATAN YANG DILAKUKAN

Kegiatan Field Lab kelompok XI dilaksanakan di Puskesmas


Kartasura, Sukoharjo dalam tiga kali pertemuan, yaitu tanggal 4 Mei 2016, 11
Mei 2016, dan 18 Mei 2016. Sebelum kegiatan Field Lab dilaksanakan,
mahasiswa melakukan pra-kunjungan (survey) pada tanggal 2 Mei 2016 untuk
menyerahkan surat pengantar kegiatan dari Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret.
A. Kegiatan Hari Pertama : 4 Mei 2016
Pada pertemuan pertama, kami mendapat pengarahan dari Instruktur
lapangan yaitu dr. Tri Isponingsih dan Ibu Siti Bandriyah di Puskesmas
Kartasura. Pengarahan dimulai pukul 10.30 WIB. Pada pengarahan, kami
mendapat gambaran umum mengenai pelaksaanaan posyandu lansia di
puskesmas Kartasura. Selain itu pada pertemuan pertama ini juga dibahas
mengenai materi penyuluhan dan teknis kegiatan pada hari kedua. Kegiatan
hari kedua di lapangan direncanakan berupa penyuluhan dan deteksi
gangguan fungsi kognitif pada lansia dengan menggunakan MMSE (Mini
Mental State Examination) di tiga posyandu lansia yang dipilih.
B. Kegiatan Hari Kedua : 11 Mei 2016
Pada pertemuan kedua, kami melakukan kegiatan lapangan yang
dimulai pada pukul 7.30 WIB. Kelompok yang terdiri dari 12 orang
dibagi menjadi 3 kelompok kecil, masing-masing beranggotakan 3-4
orang. Setiap kelompok kecil ditugaskan pada posyandu lansia yang
berbeda yaitu : Posyandu lansia Sehat Sejahtera yang terletak di desa
Pucangan , Posyandu lansia Brotoseno yang terletak di desa Ngabeyan dan
Posyandu lansia Delima I yang terletak di desa Singopuran.
Dengan didampingi oleh bidan desa di masing-masing posyandu,
yaitu Ibu Ratih, Ibu Ratih dan Ibu Siti, kami mengikuti dan mengamati
kegiatan posyandu lansia, serta melakukan penyuluhan tentang penyakitpenyakit yang sering dialami oleh lansia (diabetes millitus, hipertensi, dan
osteoartritis). Materi penyuluhan disampaikan dengan menggunakan
4

flipchart yang berisi gambar-gambar sederhana seputar materi penyuluhan.


Selain itu peserta posyandu lansia juga diberikan brosur berisi ringkasan
singkat mengenai pencegahan sederhana penyakit yang sering dialami
lansia.
Setelah penyuluhan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan tes deteksi
gangguan kognitif pada lansia dengan menggunakan MMSE ( mini mental
state examination).
C. Kegiatan Hari Ketiga : 18 Mei 2016
Pada pertemuan ketiga, kami melakukan presentasi di Puskesmas
Kartasura. Presentasi berisi hasil kegiatan lapangan yang kami lakukan di
hari kedua. Presentasi dihadiri drg. Anik Arifah selaku Kepala Puskesmas
Kartasura dan dr. Tri Isponingsih \selaku Instruktur lapangan. Kegiatan
dilanjutkan dengan penyerahan laporan kelompok XI kepada Kepala
Puskesmas dan Instruktur yang telah membimbing kegiatan field lab di
Puskesmas Kartasura.
D. Kegiatan Tambahan : 17 & 18 Mei 2016
Kegiatan ini merupakan kegiatan lapangan susulan yang bertempat
di 2 Posyandu lansia, ditemani oleh Ibu Dewi selaku bidan desa. Pada
tanggal 17 Mei pagi hari, melakukan koordinasi dengan dr. Tri Isponingsih
mengenai kegiatan susulan yang akan dilakukan. Setelah itu langung
menuju lapangan yakni Posyandu Cempaka Sari, untuk melakukan
kegiatan Field Lab pembinaan posyandu lansia yang meliputi pengukuran
BB, tekanan darah, konsultasi kesehatan, dan penghitungan target cakupan
posyandu. Kegiatan dimulai pukul 08.30 sampai dengan 10.30 WIB
Pada tanggal 18 Mei, dilakukan kegiatan lapangan di Posyandu
Nadia Grup yang meliputi penyuluhan tentang penyakit yang sering
diderita lansia, pemeriksaan status mental MMSE, dan konsultasi
kesehatan. Selain itu juga dilakukan pembagian brosur yang berisi
ringkasan singkat pencegahan penyakit lansia. Kegiatan dimulai pukul
08.15 sampai dengan 10.00 WIB.

BAB III
PEMBAHASAN

Pada pertemuan kedua tanggal 11 Mei 2016 yang dilaksanakan di tiga


posyandu, yaitu Posyandu Brotoseno, Posyandu Delima I, dan Posyandu Sehat
Sejahtera, kami telah melakukan beberapa kegiatan antara lain penyuluhan,
pemeriksaan tekanan darah dan berat badan, serta melakukan pengukuran Mini
Mental Scale Examination (MMSE).
A. Posyandu Brotoseno di Desa Ngabeyan
Pada kegiatan Field Lab KIE : Penyuluhan Posyandu Lansia yang
dilaksanakan pada Rabu, 11 Mei 2016 kemarin, ada beberapa hal yang kami
lakukan di Posyandu Lansia Brotoseno, RT 3 RW 3 Indronatan, Ngabeyan,
Sukoharjo antara lain pendataan; pemeriksaan tekanan darah Berat Badan;
pengukuran Mini Mental Scale Examination (MMSE); penyuluhan mengenai
diabetes mellitus (DM), hipertensi, dan osteoarthritis (OA). Kader yang
menemani kelompok mahasiswa di posyandu brotoseno adalah Ibu Siti. Target
cakupan yang diperoleh dari puskesmas ini hanya 34% karena biasanya
posyandu lansia Brotoseno dilaksanakan tiap bulan pada hari rabu minggu
pertama, namun pada bulan ini diundur jadi minggu kedua. Kebetulan waktu
itu posyandu yang rencananya akan kami gunakan berganti hari sehingga kami
dipilihkan tempat ini untuk menjadi posyandu kami. Namun karena
pengunduran ini, maka lansia yang datang hanya 20 atau sekitar setengah dari
biasanya.
Penyuluhan dimulai pada pukul 9 pagi, sebelumnya para lansia sudah
dikumpulkan di sebuah ruangan. Kami melakukan penyuluhan dengan
menggunakan flipchart berbentuk kertas A3 yang sudah diberi gambar untuk
di presentasikan di depan lansia. Selain itu juga diberikan brosur kecil
sehingga apabila nanti lansia belum bisa menerima materi atau lupa materi
yang diberikan, maka dapat dicek ulang di brosur tersebut. Materi pertama
disampaikan oleh Lisye tentang Diabetes Melitus atau gula darah, materi
kedua adalah tentang tekanan darah tinggi yang dibawakan oleh Alim Nur
Rohman, dan materi terakhir dibawakan oleh Dwitia Ayu mengenai
osteoarthritis (OA). Pada akhir sesi penyuluhan, kami memberi mengadakan
doorprize bagi yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar.

Setelah penyuluhan selesai, kami melakukan pengambilan data pemeriksaan


Mini Mental Status Examination MMSE.
Tes Mini Mental Scale Examination (MMSE) merupakan suatu alat
untuk mendeteksi adanya gangguan kognitif pada seseorang/individu,
mengevaluasi perjalanan suatu penyakit yang berhubungan dengan proses
penurunan kognitif dan memonitor respon terhadap pengobatan. MMSE
sangat reliabel untuk menilai gangguan fungsi kognitif dan dapat digunakan
secara luas sebagai pemeriksaan yang sederhana untuk penapisan adanya
gangguan fungsi kognitif. MMSE berisi 11 pertanyaan dan perintah yang
meliputi orientasi waktu, tempat, ingatan segera, memori jangka pendek, dan
kemampuan pengurangan serial atau membaca terbalik. MMSE menilai
fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dengan skor maksimal adalah 30.
Berdasarkan skor atau nilai tersebut, status kognitif pasien dapat digolongkan
menjadi 3 yaitu status kognitif normal (nilai 24-30), gangguan kognitif ringan
(nilai 17-23) dan gangguan kognitif berat (nilai 0-16). Berdasarkan hasil
wawancara, didapatkan hasil sebagai berikut:
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Responden Umur Nilai Status Kognitif


Sukamti
65
25
Normal
Suroso
74
30
Normal
Wajiyem
65
11
Gangguan Berat
Mulyani
68
28
Normal
Sutina
57
21 Gangguan Ringan
Supari
58
21 Gangguan Ringan
Sukatri
67
29
Normal
Simon Sunarno
65
20 Gangguan Ringan
Wagiyem
65
3
Gangguan Berat
Sudati
70
25
Normal

Berdasarkan tabel diatas, didapatkan sebanyak 50% yakni lima dari


sepuluh orang lansia yang datang ke Posyandu Lansia Brotoseno memiliki
status kognitif normal. Terdapat tiga orang (40%) lansia yang mengalami
gangguan kognitif ringan dan dua orang (10%) lansia yang mengalami
gangguan kognitif berat. Kebanyakan dari lansia mengeluhkan sudah mulai

lupa tanggal, kesulitan membalikkan kata, serta mengingat kembali nama


benda yang telah disebutkan. Selain itu, lansia kurang percaya diri dalam
menjawab tes yang diberikan sehingga menyulitkan pemeriksa untuk
melakukan pemeriksaan. Berkurangnya fungsi pendengaran juga merupakan
faktor penyulit saat melakukan tanya jawab MMSE. Selain itu pada kelompok
kami, senam tidak dilakukan karena keterbatasan sarana dari posyandu, dan
instruksi dari Ibu Siti agar tidak melakukan senam. Saran untuk posyandu
yaitu sebaiknya diadakan senam untuk selanjutnya walaupun memang agak
merepotkan tapi bisa menarik perhatian para lansia untuk mengikuti posyandu
lansia.
B. Posyandu Delima I di Desa Singopuran
Pada kegiatan Field Lab KIE : Kegiatan lapangan yang dilakukan di
Posyandu Lansia yang dilaksanakan di Posyandu Lansia Delima I, RT 03/
RW V, Notosuman, Singopuran, Kartasura, Sukoharjo antara lain mengamati
senam lansia, cek kesehatan, penyuluhan dan pemeriksaan status mental
dengan menggunakan MMSE. Kegiatan ini didampingi oleh bidan desa Ratih
Kusumastuti
Posyandu dihadiri sekitar 20-30 lansia yang mayoritas perempuan,
Kegiatan pertama yang dilakukan pada posyandu delima I adalah senam
lansia, kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan mengenai Diabetes Millitus,
Osteoarthritis, dan Hipertensi. Dan diakhiri dengan cek kesehatan berupa :
cek tekanan darah, penimbangan berat badan, dan cek darah sederhana. Cek
kesehatan dilaksanakan bersama dengan pemeriksaan status mental.
Penyuluhan diawali dengan pembukaan oleh Ibu lurah dan pembukaan
acara oleh Bertina Surya Aryani. Setelah dibuka, penyuluhan dimulai dengan
materi pertama yaitu Diabetes Millitus yang disampaikan oleh Jea Ayu
Yogatama. Kemudian penyuluhan dilanjutkan dengan pemberian materi
mengenai Osteoarthritis dan Hipertensi yang disampaikan oleh Sabrina
Damara Luvi. Kegiatan penyuluhan diakhiri dengan pembagian doorprize
yang dilakukan oleh Junivers D. E. I. Kaiba. Secara umum penyuluhan

berjalan dengan lancar. Peserta penyuluhan mengikuti kegiatan penyuluhan


dengan baik.
Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan cek kesehatan dan pemeriksaan
status mental dengan menggunakan MMSE yang dilakukan oleh setiap
mahasiswa. Karena keterbatasan waktu maka pemeriksaan MMSE hanya
dilakukan pada beberapa orang saja. Berikut merupakan hasil pemeriksaan
status mental dengan menggunakan MMSE.
No
1
2
3
4
5
6

Nama Responden Umur Nilai Status Kognitif


Muryani Afansi
71
29
Normal
Harjono
50
27
Normal
Sri Purwanti
53
29
Normal
Sri Hartati
55
29
Normal
Siti Aisyah
83
21 Gangguan Ringan
Khoiriah
65
26
Normal
Berdasarkan tabel diatas, didapatkan sebanyak 83,33% yakni lima dari

enam orang lansia yang datang ke Posyandu Lansia Delima I memiliki status
kognitif normal. Lansia yang mengalami gangguan kognitif ringan hanya satu
orang (16,67%) dan tidak ada yang mengalami gangguan kognitif berat.
C. Posyandu Sehat Sejahtera di Desa Pucangan
Pada kegiatan Field Lab KIE : Penyuluhan Posyandu Lansia yang
dilaksanakan di Posyandu Lansia Sehat Sejahtera adalah melakukan
penyuluhan mengenai diabetes, osteoarthritis dan hipertensi. Peserta yang
hadir adalah 49 orang dari total 60 orang. Target cakupan sudah mencapai
81,66%. Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan flipchart dengan
dilakukan kegiatan tanya jawab di akhir penyuluhan. Pada penyuluhan ini
didapatkan banyak lansia yang aktif bertanya dan memperhatikan materi.
Senam lansia tidak dilakukan di posyandu ini karena senam sudah dilakukan
terlebih dahulu sebelum mahasiswa tiba di puskesmas. Dikarenakan waktu
yang terbatas, mahasiswa tidak melakukan pemeriksaan MMSE.
Kegiatan posyandu lansia sudah terlaksana dengan sangat baik. Para
penyuluh disambut dengan sangat terbuka oleh ibu-ibu kader pelaksana
10

posyandu. Para lansia yang hadir antusias dan menyimak dengan baik pada
saat diberikan penyuluhan dan juga dapat menjawab dengan baik ketika
diberikan pertanyaan pada sesi pembagian doorprize. Selain itu lansia juga
tidak segan-segan untuk mengajukan pertanyaan kepada para penyuluh pada
sesi tanya-jawab.
D. Posyandu Cempaka Sari, Kertonatan
Pada kegiatan Field Lab di Posyandu Lansia Cempaka Sari, dilakukan
pengukuran BB, tekanan darah, konsultasi kesehatan, dan penghitungan target
cakupan posyandu oleh Ghani Abdurahim. Pada hari tersebut didapatkan
jumlah lansia yang hadir sekitar 42 orang. Hasilnya banyak lansia yang
tergolong tekanan darah tinggi dan juga tergolong penderita Diabetes Melitus.
Secara umum kegiatan tersebut sudah terlaksana dengan baik, para lansia
yang hadir dapat memeriksakan kesehatannya dengan lancar dan tertib. Tetapi
pada kegiatan ini, penyuluhan dan pemeriksaan status mental tidak dilakukan,
karena kurangnya kesiapan dan koordinasi.
E. Posyandu Nadia Grup, Kertonatan
Pada kegiatan Field Lab di Posyandu Lansia Nadia Grup, Kertonatan,
dilakukan penyuluuhan, pemeriksaan status mental, dan juga konsultasi
kesehatan

oleh

Ghani

Abdurahim.

Penyuluhan

dilakukan

dengan

menggunakan flipchat dan juga pembagian brosur yang berisi ringkasan


pencegahan penyakit pada lansia. Penyuluhan dihadiri sekitar 12 lansia, dan
juga beberapa anak-anak yang ikut serta. Setelah itu, dilanjutkan dengan
pemeriksaan status mental beberapa lansia yang sudah menjalani pemeriksaan
kesehatan. Berikut hasil pemeriksaan status mental
No Nama Responden Umur Nilai

Status Kognitif

Marjuki

57

29

Normal

Sumiasih

66

27

Normal

11

Kegiatan di Posyandu Nadia Grup secara umum sudah terlaksana dengan


cukup baik, peserta penyuluhan terlihat antusias saat mendegarkan penyuluhan,
dan juga aktif bertanya. Setelah sesi selesai juga banyak lansia yang bertanya
mengenai keluhan yang dideritanya,

12

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Kegiatan Field Lab yang kami lakukan di Puskesmas Kartasura antara
lain: mendapat pegarahan mengenai Pembinaan Posyandu Lansia di
wilayah Puskesmas Kartasura dan melakukan penyuluhan lansia pada
hari kedua.
2. Pada hari kedua dilakukan penyuluhan lansia, pemeriksaan tensimeter,
dan pemeriksaan MMSE pada lansia di 3 posyandu.
B. SARAN
1. Mempersiapkan dan lebih menguasai materi penyuluhan
2. Meningkatkan kemampuan komunikasi dan bahasa dalam melakukan
penyuluhan
3. Masing masing individu membawa alat-alat yang diperlukan, seperti
tensimeter
Saran untuk Posyandu Brotoseno
1. Sebaiknya posyandu mengadakan senam untuk lebih menarik peserta
2. Sebaiknya posyandu menggunakan KMS
Saran untuk Posyandu Delima I
1. Sebaiknya posyandu menggunakan KMS
Saran untuk Posyandu Sehat Sejahtera
1. Sebaiknya ada tambahan tenaga kesehatan yang membawa pasien ke
puskesmas ketika terjadi kasus yang membutuhkan pasien untuk
dirujuk.
Saran untuk Posyandu Cempaka Sari, Kertonatan
1. Sebaiknya diadakan senam lansia, sehingga lebih menarik lansia dan
juga memberi kegiatan untuk peserta yang sedang antri
2. Menggunakan KMS Lansia
Saran untuk Posyandu Nadia Grup, Kertonatan
1. Sebaiknya diberi tambahan meja dan kursi, agar antrian pemeriksaan
kesehatan bisa lebih kondusif dan tertata

13

14

DAFTAR PUSTAKA

Depsos RI. 2009. Dukungan Kelembagaan Dalam Kerangka Peningkatan


Kesejahteraan Lansia. Kantor Urusan Pemberdayaan Lansia, Depsos.
RI. Jakarta. www.depsos.go.id.
Folstein, M.F., Folstein, S.E., and McHugh, P.R. 1975. Mini Mental State: A
practical method for grading the cognitive state of patient for the
clinician. J. Of Psychiatris Research, 12: 189-198.
Hanim, D. 2004. Pemberdayaan Perempuan Lansia Untuk Peningkatan Status
Gizi. Laporan Penelitian. Surakarta: LPPM UNS.
Probosuseno.

2007.

Mengatasi

Isolation

pada

Lanjut

Usia.

www.Geriatric&InternalMedicineConsultation.Medicalzone.
Sri Gati Setiti. 2006. Pelayanan Lanjut Usia Berbasis Kekerabatan (Studi Kasus
pada Lima Wilayah Di Indonesia)

15