Anda di halaman 1dari 25

BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1. Konsep Kehamilan
2.1.1.
Pengertian
Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan fisiologis. Setiap wanita yang
memiliki organ reproduksi yang sehat yang telah mengalami menstruasi, dan melakukan
hubungan seksual dnegan seorang pria yang organ reproduksinya sehat sangat besar
kemungkinannya akan mengalami kehamilan. Apabila kehamilan ini direncanakan, akan
memberii rasa kebahagiaan dan penuh harapan. (Mandriwati, 2012)
Kehamilan merupakan proses alamiah untuk menjaga kelangsungan peradaban
manusia. Kehamilan baru bisa terjadi jika seorang wanita sudah mengalami pubertas yang
ditandai dengan terjadinya menstruasi. (Hani, dkk, 2011)
Menurut Syaifuddin (2009) kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan
dari spermatozoa dan ovum yang dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung
dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung sekitar 40
minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional (Elisabeth, 2014: 69).
2.1.2.

Proses Kehamilan
Fertilisasi
Proses kehamilan dimulai dari fertilisasi yaitu bertemunya sel telur dan sel sperma.
Saat terjadi ejakulasi, kurang lebih 3cc sperma dikeluarkan dari organ reproduksi pria
yang kurang lebih berisi 300 juta sperma. Setelah masuk ke organ genitalia interna
wanita, sperma akan menghadapi beberapa ritangan antara lain lendir vagina yang
bersifat asam, lendir serviks yang kental, panjangnya uterus, serta silia yyang ada di
tuba fallopi. Untuk bisa menghadapi rintangan yang ada tersebut, maka sperma
harus mempunyai akrosom dan melewati proses kapasitasi,. Sedangkan ovum akan
dikeluarkan dari ovarium sebanyak satu detiap bulan, ditangkap oleh fimbrae, dan
berjalan menuju tuba fallopi. Tempat bertemunya ovum dan sperma paling sering
dalah di daerah ampula tuba. Sebelum keduanya bertemu maka akan terjadi tiga fase
sebagai berikut:
1) Tahap penembusan korona radiata
Dari 200-300 juta hanya 300-500 saja yang samoau di tuba fallopi yang
menembus korona raidata karena sudah mengalami proses kapasitasi.
2) Penembusan zona pellusida
Zona pellusida adalan sebuah perisai glikoprotein disekeliling ovum yang
mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan mengindksi
pengikatan akrosom. Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di zona pellusida
tetapi hanya satu yang terlihat mampu menembus oosit.
3) Tahap penyatuan oosit dan membran sel sperma.
Setelah menyatu maka akan dihasilkan zigot yang mempunyai kromosom diplod
(44 autosom dan 2 gonosom) dan terbentuk jenis kelamin baru (XX untuk wanita

dan XY untuk pria).


Pembelahan

Setelah itu zigot akan membelah menjadi tingkat 2 sel (30jam), 4 sel, 8 sel, sampai
dengan 16 sel disebut Blastomer (3hari)dan membentuk sebuah gumpalan bersusun
longgar. Setelah 3 hari sel sel tersebut akan membelah membentuk buah arbei dan 16
sel disebut morula (4hari). Saat morula memasuki rongga rahim, cairan mulai
menembus zona pellusida masuk kedalam ruang antar sel menyatu dan akhirnya
terbentuklah sebuah rongga atau blastokel sehigga disebut blastokista (4 - 5 hari).
Sel yang bagian dalam disebut embrioblas dan sel yang diluar disebut trofoblas. Zona
pellusida akhirnya menghilang sehingga trofoblast bisa memasuki dinsing rahim
(endometrium) dan siap berimplantasi (5 -6 hari) dalam bentuk blastokista tingkat

lanjut.
Nidasi/implantasi
Nidasi atau imlantasi adalah penanaman sel telur yang sudah sibuahi (pada stadium
blastokista)kedalam dinding uterus pada awal kehamilan. Biasanya terjadi pada pars
superior korpus uteri bagian anterior tau posterior. Pada saat implantasi selaput lendir
rahim sedang berada pada fase sekretorik (2 hari setelah ovulasi). Pada saat ini,
kelenjar rahim dan pembuluh nadi menjadi berkelok kelok. Jaringan ini mengandung
banyak cairan.

(Hani, dkk, 2011)


Perkembangan embrio
1) Usia 2-4 minggu
Terjadi perkembangan sle telur menjadi satu organ yang terus berkembang dengan
membentuk lapisan di dalamnya.
Jantung mulai memompa cairam melalui pembuluh darah dan hari berikutnya
muncul sel darah merah yang pertama.
2) Usia 4-5 minggu
Panjang embrio 0,64cm dan sudah tebentuk bakal organ. Jantung sudah berdenyut
dan sudah terdapat pergerakan bila di USG.
3) Usia 8 minggu
Organ mulai terbentuk secara jelas. Pada masa ini mulai terbentuk genitalia, anus,
dan usus. Jantung mulia memompa darah.
4) Usia 12 minggu
Embrio berubah menjadi janin, usus genitalia dan anus sudah terbentuk. Jani mulai
bisa menggerakkan anggota badan dan berekspresi. BB 15-30 gram.
5) Usia 16 minggu
Gerakan fetal pertama. Sudah ada mekonium dan verniks caseosa. Sitem rangka
janin sudah matang. Semua organ mulai matang dan sistem saraf mulai melakukan
kontrol. Kaki menendang dengan aktif, tangan sudah bisa menggenggam. DJJ dapat
didengar dengan dopller. Berat janin 0,2kg.
6) Usia 24 minggu
Aktifitas pembentukan tulang meningkat diiringi dengan perkembangan pernafasan.
Berat janin 0,7-0,8 kg.
7) Usia 28 minggu
Janin sudah dapat bernafas, membuka dan menutup mata, serta menelan. Surfaktan
mulai terbentuk di paru-paru. Ukuran janin 2/3 saat lahir.
8) Usia 32 minggu

Janin mulai menyimpan zat besi, kalsium, fosfor, dan lemak coklat, bayi sudah
tumbuh 38-43 cm.
9) Usia 36 minggu
Bayi tidak dapat bergerak banyak karena uterus penuh. Antibody ibu ditransfer ke
janin sebagai pertahanan selama 6 bulan pertama hingga antibody bayi bekerja
sendiri.
(Sulistyawati,2014)
2.1.3.

Tanda Gejala Kehamilan


Tanda-tanda Kehamilan:
a. Tanda Tidak Pasti (Presumtive)
Tanda tidak pasti adalah perubahan-perubahan fisiologis yang dapat dikenali dari
pengakuan atau yang dirasakan oleh wanita hamil.
1) Amenorea (berhentinya menstruasi)
Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel de Graaf
dan ovulasi sehingga menstruasi tidak terjadi. Lamanya amenorea dapat
dikonfirmasi dengan memastikan hari pertama haid terakhir (HPHT), dan
digunakan untuk memperkirakan usia kehamilan dan taksiran persalinan. Tetapi,
amenorea juga dapat disebabkan oleh penyakit kronik tertentu, tumor pituitari,
perubahan dan faktor lingkungan, malnutrisi, dan biasanya gangguan emosional
seperti ketakutan akan kehamilan.
(Ummi Hani, dkk 2010: 72)
2) Mual (nausea) dan muntah (emesis)
Perubahan hormonal pada kehamilan (peningkatan kadar HCG dan estrogen)
berpengaruh terhadap sistem gastrointestinal yang dapat menyebabkan mual
muntah. Lebih dari 50-70% wanita hamil mengalami ini. Sering terjadi pada pagi
hari sehingga disebut morning sickness. Tetapi dapat juga terjadi sepanjang hari.
Keadaan mual dan muntah ini biasanya terjadi pada bulan-bulan awal kehamilan
antara minggu ke 4-14 kehamilan. Dalam batas-batas tertentu hal ini masih
fisiologis, bila terlampau sering dapat mengakibatkan hiperemesis gravidarum.
Hal ini dapat terjadi pada kondisi-kondisi lain seperti stress dan gastrointestinal
viruses.
(Indrayani, 2011: 139)
3) Ngidam (mengingini makanan tertentu)
Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan yang demikian
disebut ngidam. Ngidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan dan
akan menghilang dengan makin tuanya kehamilan.
(Ummi Hani, dkk 2010: 72)
4) Syncope (pingsan)
Terjadinya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia
susunan saraf pusat dan menimbulkan syncope atau pingsan. Hal ini sering
terjadi terutama jika berada pada tempat yang ramai, biasanya akan hilang
setelah 16 minggu.
(Ummi Hani, dkk 2010: 73)
5) Kelelahan
Sering terjadi pada trimester pertama, akibat dari penurunan kecepatan basal
metabolisme (basal metabolisme rate-BMR) pada kehamilan, yang akan

meningkat seiring pertambahan usia kehamilan akibat aktivitas metabolisme


hasil konsepsi.
(Ummi Hani, dkk 2010: 73)
6) Perubahan pada payudara (perasaan dada berisi dan agak nyeri)
Perasaan dada berisi dan agak nyeri biasanya dirasakan oleh beberapa orang
sebelum mengalami menstruasi. Keadaan ini juga dapat mengarah kepada
kehamilan yang disebabkan oleh perubahan hormon estrogen dan progesteron
yang merangsang duktuli dan alveoli mammae. Biasanya mulai terjadi pada
minggu ke-3 atau ke -4 kehamilan. Dari minggu ke-8-12, vena subkutan pada
payudara mulai tampak serta terjadi perubahan pada ukuran dan mulai terjadi
pigmentasi pada putting dan aerola. Glandula Montgomery pada aerola juga
akan tampak lebih jelas. Pada minggu ke-16 kolustrum mulai disekresi. Tetapi
hal ini juga dapat ditemui hyperprolactemia.
(Indrayani, 2011: 139)
7) Sering miksi
Desakan rahim ke depan menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh dan
sering miksi. Frekuensi miksi yang sering, terjadi pada triwulan pertama akibat
desakan uterus terhadap kandung kemih. Pada triwulan kedua umumnya keluhan
ini akan berkurang karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul.
Pada akhir triwulan, gejala bisa timbul karena janin mulai masuk ke rongga
panggul dan menekan kembali kandung kemih.
(Ummi Hani, dkk 2010: 73)
8) Konstipasi atau Obstipasi
Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus (tonus otot menurun)
sehingga kesulitan untuk BAB.
(Ummi Hani, dkk 2010: 73)
9) Pigmentasi Kulit
Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12 minggu. Terjadi akibat
pengaruh hormon kortikosteroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.
Pigmentasi ini meliputi tempat-tempat berikut ini.
a) Sekitar pipi: cloasma gravidarum (penghitaman pada daerah dahi, hidung,
pipi, dan leher).
b) Sekitar leher: tampak lebih hitam.
c) Dinding perut: striae lividae/gravidarum

(terdapat

pada

seorang

primigravida, warnanya membiru), striae nigra, linea alba menjadi lebih


hitam (linea grisea/nigra).
d) Sekitar payudara: hiperpigmentasi aerola mamae sehingga terbentuk aerola
sekunder. Pigmentasi areola ini berada pada tiap wanita, ada yang merah
muda pada wanita kulit putih, coklat tua pada wanita kulit coklat, dan hitam
pada wanita kulit hitam. Selain itu, kelenjar Montgomeri menonjol dan
pembuluh darah menifes sekitar payudara.
e) Sekitar pantat dan paha atas: terdapat striae akibat pembesaran bagian
tersebut.
(Ummi hani, dkk 2010: 74)
10) Epulis
Hipertropi papilla ginggivae/gusi, sering terjadi pada triwulan pertama.
(Ummi hani, dkk 2010: 74)

11) Varises atau penampakan pembuluh darah vena.


Pengaruh estrogen dan progesteron menyebabkan pelebaran pembuluh darah.
Varises dapat terjadi di sekitar genetalia eksterna, kaki dan betis, serta
payudara. Penampakan pembuluh darah ini dapat hilang setelah persalinan.
(Ummi hani, dkk 2010: 74)
b. Tanda Kemungkinan (Probability Sign)
Tanda Kemungkinan adalah perubahan-perubahan fisiologis yang dapat diketahui oleh
pemeriksa dengan melakukan pemeriksaan fisik pada wanita hamil.
1) Pembesaran Perut
Sebelum 12 minggu kehamilan, uterus masih berada dalam rongga panggul dan
untuk melihat pembesarannya dapat dilakukan dengan pemeriksaan bimanual.
Setelah kehamilan 12 minggu, uterus mulai dapat dipalpasi dari luar. Dari minggu
ke 12-20, perkiraan usia kehamilan dapat dilakukan dengan palpasi pada uterus.
Dari minggu ke 20-36 usia kehamilan dapat diperkirakan dengan melakukan
pengukuran tinggi fundus uteri dengan menggunakan pita mengukur ( 2 cm).
Dari minggu ke 36 sampai persalinan hasilnya bervariasi sesuai dengan berat
badan janin dan karena terjadi penurunan bagian terendah janin.
(Indrayani, 2011: 142)
2) Tanda Hegar
Ditemukan pada kehamilan 6-12 minggu, yaitu adanya uterus segmen bawah
rahim yang lebih lunak dari bagian yang lain. Terjadi pelunakan dan dapat
ditekannya isthmus uteri.
(Ummi Hani, dkk 2010: 74)
3) Tanda Goodel
Adalah pelunakan serviks. Pada wanita yang tidak hamil serviks seperti ujung
hidung , sedangkan pada wanita hamil melunak seperti bibir.
(Ummi Hani, dkk 2010: 74)
4) Tanda Chadwicks
Adanya vaskularisasi mengakibatkan vulva dan vagina menjadi tampak lebih
merah agak kebiru-biruan. Tanda ini disebut dengan tanda Chadwick atau
jacquemers sign. Biasanya mulai minggu ke 8 akibat vaskularisasi yang
meningkat.
(Indrayani, 2011: 141)
5) Tanda Piscaseck
Merupakan pembesaran uterus yang tidak simetris. Terjadi karena ovum
berimplantasi pada daerah dekat dengan kornu sehingga daerah tersebut
berkembang lebih dulu.
(Ummi Hani, dkk 2010: 74)
Kadang-kadang pembesaran tidak rata, pada daerah telur yang bernidasi
tumbuhnya lebih cepat, dikenal dengan istilah piscaseck.
(Indrayani, 2011: 141)
6) Kontraksi Braxton Hicks
Selama kehamilan uterus berkontraksi. Kontraksi ini mungkin dapat dirasakan
ataupun tidak oleh ibu. Pemeriksa mungkin dapat merasakan kontraksi ini pada
saat melakukan palpasi pada abdomen. Kontraksi ini dapat terjadi mulai usia
kehamilan 16 atau 20 minggu. Juga dapat terjadi pada saat melakukan

pemeriksaan dalam, rahim yang teraba lunak sekonyong-konyong menjadi keras


karena adanya kontraksi.
(Indrayani, 2011: 141)
7) Teraba Ballotement
Pada bulan ke 4 dan ke-5 janin lebih kecil dengan jumlah banyaknya air ketuban,
maka kalau rahim didorong dengan sekonyong-konyong atau digoyangkan, maka
anak akan melenting di dalam rahim, ini dikenal dengan istilah ballotement.
(Indrayani, 2011: 142)
8) Pemeriksaan Tes Biologis Kehamilan (Planotest) positif
Pemerikasaan ini adalah untuk mendeteksi adanya Human Chorionic
Gonadotropin (hCG) yang diproduksi oleh sinsiotropoblastik sel selama
kehamilan. Hormon ini disekresi di peredaran darah ibu (pada plasma darah), dan
dieksresi pada urin ibu. Hormon ini dapat mulai dideteksi pada 26 hari setelah
konsepsi dan meningkat dengan cepat pada hari ke 30-60. Tingkat tertinggi pada
hari 60-70 usia gestasi, kemudian menurun pada hari ke 100-130.
(Ummi Hani, dkk 2010: 75)
c. Tanda Pasti (Positif Sign)
Tanda Pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung keberadaan janin, yang dapat
dilihat langsung oleh pemeriksa.
1) Gerakan janin dalam rahim
Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh pemeriksa. Gerakan janin
baru dapat dirasakan pada usia kehamilan sekitar 20 minggu.
2) Denyut jantung janin
Dapat didengar pada usia 12 minggu dengan menggunakan alat fetal
electrocardiograf (misalnya dopler). Dengan stetoskop Laenec, DJJ baru dapat
didengar pada usia kehamilan 18-20 minggu.
3) Bagian-bagian Janin
Bagian-bagian janin yaitu bagian besar janin (kepala dan bokong) serta bagian
kecil janin (lengan dan kaki) dapat diraba dengan jelas pada usia kehamilan lebih
tua (trimester akhir). Bagian janin ini dapat dilihat lebih sempurna lagi
menggunakan USG.
4) Kerangka Janin
Kerangka janin dapat dilihat dengan foro rontgen maupun USG.
(Ummi Hani, dkk 2010: 75)
2.1.4.

Perubahan Fisiologis
1) Sistem Reproduksi
a. Vagina dan Vulva
Pada trimester I vagina dan vulva mengalami penigkatan pembuluh darah sehingga
nampak kebiruan. Hormon kehamilan mempersiapkan vagina dan supaya distensi
selama persalinan denganmeproduksi mukosa vagina yang tebal, jaringan ikat
melonggar, hipertropi otot polos, sertapemanjangan vagina, pH sekresi vagina
menjadi lebih asam sehinga wanita hamil rentan mengalami infeksi vagina
Pada trimester II terjadi peningkatan vaskularisasi vagina dan viseria panggul
menyebabkan sensitivitas ibu hamil meningkat yang disertai dengan peingkatan
keinginan seksual.
Pada trimester II dinding vagina mebgalami banyak perubahan untuk
mempersiapkan proses persalinan dengan meningkatnya penebalan mukosa,

mengendornya

jaringan

ikat,

dan

hipertopi

otot

polos.

Perubahan

ini

mengakibatkan pemanjangan vagina. (Romauli, 2011)


b. Serviks
Serviks mengalami penurunan konsentrasi kolagen secara terus menerus sehingga
serviks menjadi lunak namun mampu mempertahankan kehamilan. Konsentrasi
serviks menjadi lunak dan kelenjar di serviks akan mengeluarkan sekresi lebih
banyak. Saat kehamilan mendekati aterm, terjadi penurunankolagen lebih lanjut.
Konsentrasinya menurun secara nyata dari keadaan yang relatif ilusi menjai
dispersi. Proses perbaikan serviks terjadi setelah persalinan sehingga siklus
kehamilan berikutnya terulang. (Romauli, 2011)
c. Uterus
Pada minggu pertama kehamilan, uterus masih berbentuk seperti avokat dan akan
membentuk peris pada usia kehamilan 12 minggu. Lalu uterus akan memanjang.
Pada trimester II ukuran uterus terus membesar akibat hipertropi dan hiperplasi
otot polos rahim, serabut serabut kolagen menjadi higroskopik dan endometrium
berubah menjadi desidua. Pada akhir kehamilan uterus akan membesar dalam
rongga pelvis dan menyentuh dinding abdomen, mendorong usus ke samping dan
ke atas hingga menyentuh hati. (Sulistyawati, 2014)
d. Ovarium
Pada awal kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatum yang berfungsi
mengeluarkan hormon esterogen dan prodesteron. Korpus luteum graviditatum
kemudian mengecil setelah plasenta terbentuk dan menggantikan fungsinya pada
usia kehamilan 16 minggu. Pada trimester III korps luteum tiak berfungsi lagi
karena sudh digantikan oleh plasenta (Sulistyawati, 2014)
2) Payudara
Payudara akan membesar dan terjadi hiperpigmentasi areola karena pengaruh hormon
somatomamotropin, esterogen, dan progesteron. Rasa penuh, gatal, dan geli akan
timbul pada minggu ke 6. Pada minggu ke 12payudara mulai mengeluarkan kolostrum.
Pada payudara ajab mulai terasa penyebaran nodul kasar. Dari hemailan ke 32 minggu
sampai terakhir, cairan kolostrum akan keluar lebih kental, kuning, dan banyak
mengandung lemak. Cairan ini disebut kolostrum. (Sulistyawati, 2014)
3) Sistem Endokrin
Terjadi peningkatan HCG secara pesat hingga kehamilan 6 minggu pertama. Pada
trimester II ada peningkatan hormon esterogen dan progesteron serta tehambatnya
pembentukan LH dan FSH. Memasuki kehamilan trimester II kelenjar tiroid akan
mengalami pembesaran higga 15ml pada saat persalinan akibat hiperplasia kelenjar
dan peningkatan vaskularisasi. Konsentrasi plasma hormon pada tiroid akan menurun
pada trimester I dan meningkat secara progresif. (Sulistyawati, 2014)
4) Sistem perkemihan
Selama kehamilan, ginjal bekerja lebih berat. Ginjal menyaring darah yang akan
meningkat (30-50% atau lebih), yang puncaknya terjadi pada usia 16-24 minggu
sampai sesaat sebelum persalinan. (pada saat ini aliran darah berkurag akibat
penekanan rahim yang membesar).

Dalam keadaan normalaktifitas ginjal meningkat ketika berbaring dan menurun ketika
berdiri. Keadaan ini semakin menguat pada saat kehamilan. Karena itu, wanita hamil
sering merasa ingin berkemih saat berbaring. Pada akhir kehamilan, peningkatan
aktifitas ginjal lebih besart terjadi pada wanita yang tidur miring. Tidur miring
mengurangi tekanan darah dari rahim pada vena yang mebawa darah dari tungkai
sehingga terjadi perbaikan aliran darah yang meningkatkan aktivitas ginjal dan curah
jantung. (Sulistyawati, 2014)
5) Sistem Gastrointestinal
Rahim yang semakin membesar akan menekan rektum dan usus bagian bawah
sehingga terjadi sembelit atau konstipasi. Sembelit semakin berat karena gerakan otot
di dalam usus diperlambat oleh tingginya kadar progesteron. Wanita hamil sering
mengalami heartburn atau sendawa yang terjadi karena makanan lebih lama di dalam
lambung. Dan karena relaksasi sfingter di kerongkongan bagian bawah yang
memungkinkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan.
Ulkus gatrikum jarang ditemukan pada wanita hamil dan jika sebelumnya menderita
ulkus gastrikum biasanya akan membaik karena sistem lambung yang dihasilkan
sedikit. (Sulistyawatu, 2014)
6) Sistem metabolisme
Selama kehamilan janin membutuhan 30-40gram kalsium untuk pembentukan tulang.
Wanita hamil embutuhkan setidaknya 3,5 mg zat besi setiap hari untuk pembentukan
sel darah merah. Sselain itu terjadi peningkatan kadar kolesterol sampai 350 mg. Ibu
hamil juga membutuhkan fosfor rata rata 2gm/hari. Disamping itu ibu hamil juga
memerlukan air karea cenderung terjadi retensi. (Sulistyawati, 2014)
7) Sistem Muskuloskeletal
Esterogen dan progesteron memberi efek maksimal pada relaksasi otot dan ligamen
pelvis pada akhir kehamilan. Adanya sakit punggung dan ligamen pada kehamilan tua
disebabkan oleh meningkatnya pergerakan pelvis akibat pembesaran uterus. Bentuk
tubuh selalu berubah menyesuaikan dengan pembesaran uterus kedepan karena tidak
ada otot abdomen.
Pada wanita kurus lekukan lumbalnya lebih dari normal dan menyebabkan lordosis
dengan gaya beratnya berpusat pada kaki bagian belakang. Hal ini menyebabkan rasa
sakit yang berat dan membutuhkan aktu yang cukup lam untuk relaksasi sehingga tak
jarang mempengaruhi kondisi psikologis ibu. Selain itu cara berjalan ibu aan berbeda
dibandingnkan sebelum hamil, yang terlihat akan jatih dan tertatih.
8) Kulit
Pada ibu hamil akan timbul kloasma pada pipi dan kening. Terjadi hiperpigmentasi
areola, dan timbul spider angioma pada perut bagian bawah. Pelebaran pembuluh
darah di tungkai juga akan terlihat. Pembesaran rahim akan menimbulkan peregangan
yang menyebabkan robeknya selaput elastis di bawah kulit sehingga menimbulkan
peregangan yang menimbulkan striae gravidarum/ striae lividae. Bila terjadi
peregangan hebat misalnya pada hidramnion atau gemelli dapat terjadi diastasis rekti
bahkan hernia. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya dan disebut linea

nigra. Adanya vasodilatasi kulit menyebabkan ibu mudah berkeringat. (Sulistyawati,


2014)
9) Sistem Pernapasan
Ruang abdomen yang membesar karena pembesaran rahim akan menyebabkan paru
paru berfungsi sedikit berbeda dari biasanya. Wanita hamil bernafas lebih cepat dan
lebih dalam dari biasanya karena memerlukan lebih banyak oksigen untuk janin dan
dirinya. Lingkar dada wanita hamil akan membesar. Lapisan saluran pernafasan
menerima lebih banyak darah dan menjadi agak tersumbat oleh penumpukan darah
(kongesti). Kadang hidung dan tenggorokan akan tersumbat karena adanya kongesti
ini. Tekanan dan kualitas suara wanita hamil akan berubah. (sulistyawati, 2014)
10) Sistem Kardiovaskular
Curah jantung meningkat sampai 30-50% dimulai pada usia kehamilan 6-28 minggu.
Karena curah jantung meningkat maka denyut jantung juga meningkat (dalam keadaan
normal 70x/menit menjadi 80-90x/menit). Setelah mencapai usia kehamilan 30
minggu curah jantung sedikit menurun karena pembesaran rahim menekan pembuluh
vena yang membawa darah dari tungkai ke jantung sehingga sering menimbulkan
varises. Selain itu tekanan darah ibu juga menurun.
Sel darah merah meningkat 25-30%. Sel darah putih sedikit mebgalami peningkatan.
Hb cenderung menurun karena kenaikan relatif volume plasma darah. Jumlah eritrosit
meningkat untuk memenuhi kebutuhan O2. (Sulistyawati, 2014)
2.1.5.

Perubahan Psikologis
1) Trimester I
Ibu merasa tidak sehat terkadang benci dengan kehamilannya.
Terkadang muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan.
Terkadang ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja.
Ibu akan selamu mencari tanda tanda apakah dia hamil. Hal ini dilakukan untuk
meyakinakn dirinya.
Karena perutnya masih kecil, kehamilan menjadi rahasia seorang ibu yang
mungkin akan diberitahukan kepada orang lain atau mungkin dirahasiakannya.
Terjadi penurunan hasrat seksual.
2) Trimester II
Ibu merasa sehat, tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormon yang tinggi.
Ibu sudah bisa menerima kehamilannya.
Ibu mulai merasakan gerakan anak.
Ibu merasa lepas dari ketidaknyamaan dan kehawatiran.
Libido meningkat.
Menuntut perhatian dan cinta.
Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya.
Hubungan sosial meningkat pada wanita hamil lainnya atau pada wanita yang
baru menjadi ibu.
Ketertarikan dan aktifitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran, dan persiapan
untuk peran baru.
3) Trimester III
Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak
menarik.
Merasa tidak menyenangkan ketika bayi lahir tidak tepat waktu.

Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan,
khawatir akan keselamatannya.
Khawatir bayi yang akan dilahirkan tidak normal, bermimpi yang

2.1.6.

mencerminkan perhatian dan kekhaatirannya.


Merasa sedih akan terpisah dari bayinya.
Merasa kehilangan perhatian.
Perasaan sensitif.
Libido menurun.
Kebutuhan Dasar Ibu Hamil
1) Aktifitas fisik
Dapat dilakukan seperti biasa (aktifitas ringan sampai sedang) istirahat minimal 15
menit setiap 2 jam. Jika duduk atau berbaring dianjurkan kaki agak ditinggikan.
Olahraga ringan sampai sedang, dipertahankan nadi tidak melebihi 140x/menit. Jika
ada keluhan yang dapat membahayakan (perdarahan pervagina) maka aktifitas harus
dihentikan.
2) Pekerjaan
Hindari pekerjaan yang membahayakan, terlalu berat, atau berhubungan dengan bahan
kimia/radiasi, terutama pada usia kehamilan muda.
3) Imunisasi
Imunisasi yang dibutuhkan oleh ibu hamil yang utama adalah tetanus toksoid imunisasi
lain diberikan sesuai indikasi.
4) Mobilisasi
Tidak perlu khawatir bepergian menggunakan pesawat karena udara dalam kabin kapal
disesuaikan dengan tekanan atmosfir normal.
Duduk terlalu lama akan menyebabkan vena stagnansi atau kaki bengkak. Bila
pembuluh darah pecah aakn menimbulkan emboli paru. Dianjurkan meggunakan
sepatu berhak rendah untuk mengurangi nyeri punggung dan menghindari mengangkat
benda berat serta bergerak secara tiba-tiba.
5) Personal hygiene
Mandi cukup seperti biasa namun tidak disarankan menggunakan sabun antiseptik
khusus vagina karena akan emnganggu flora normal vagina.
Ibu juga dianjurkan memakai pakaian yang nyaman dantidak ketat serta mudah
meyerap keringat. Sealin itu ibu juga dianjurkan untuk menggunakan BH yang
menyangga payudara.
6) Senggama
Senggama daapt dilakukan seperti biasa kecuali ada perdarahan atau orgasme. Jika ada
riwayat abortus, hubungan seksual sebaiknya ditunda hingga usia kehamilan diatas 16
minggu. Sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual pada 3-4 minggu terakhir
menjelang tafsiran persalinan.
7) Perawatan abdomen dan mammae
Jika terjadi papila retraksi, dibiasakan papila untuk ditarik secara manual dengan pelan.
Striae/hiperpigmentasi dapat terjadi, tidak perlu dikhawatirkan berlebihan.
8) Hewan peliharaan
Hewan peliharaan dapat menjadi penyebab infeksi (misalnya bulu kucing/burung dapat
mengandung parasit toxoplasma). Oleh karena itu, dianjurkan untuk menghindari
kontak.
9) Merokok/ minum minuman keras/ obat-obatan

Harus dihentikan setidaknya selama kehamilan hingga persalinan, nifas, dan menyusui
selesai. Obat depresan mendepresi sirkulasi janin dan menekan perkembangan susunan
syaraf pusat pada janin. Sebaiknya dihindari pemakaian obat terutama pada trimester I.
10) Gizi/ Nutirsi
Makanan sehari hari yang dianjurkan adalah yang memenuhi standar kecukupan gizi
untuk ibu hamil. Untuk pencegahan anemia defisensi, diberi tambahan vitamin dan
tablet Fe.
(Romauli, 2011)
2.2. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Kehamilan
2.2.1. Definisi
Asuhan kehamilan adalah asuhan yang diberikan kepada ibu hamil sejak konfirmasi
konsepsi hingga awal persalinan. bidan akan menggunakan pendekatan yang berpusat pada
ibu dalam memberikan asuhan kepad ibu dan keluarga dengan memberikan berbagai
informasi yang dapat memudahkan ibu dan keluarga dalam mengambil keputusan.
Asuhan antenatal yang baik sangat penting untuk hasil kehamilan yang baik karena
sebagian besar dari kematian ibu bisa dihindarkan melalui asuhan antenatal, intranatal, dan
postnatal yang bermutu tinggi. Selama masa antenatal, pemberi asuhan kesehatan akan
memperoleh kesempatan untuk menyentuh banyak hidup wanita dan barangkali membantu
mengubah tragedi kehilangan nyawa para ibu. (Hani, 2011)
2.2.2. Tujuan
- Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan tumbuh kembang
-

janin.
Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, serta sosial ibu dan bayi.
Menemukan secara dini adanya masalah/gangguan dan kemungkinan komplikasi yang

terjadi selama masa kehamilan.


Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu maupun bayi

dengan trauma seminimal mungkin.


Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI eksklusif berjalan normal.
Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam memelihara bayi
agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal.

(Sulistyawati, 2011)
2.2.3. Standar Asuhan Kebidanan
a) Kunjungan Antenatal Care
1. Satu kali pada trimester I (0-13 minggu)
2. Satu kali pada trimester II (14-27 minggu)
3. Satu kali pada trimester III (28-40 minggu)
b) Standar minimal asuhan kehamilan adalah sebagai berikut:
1. Timbang berat badan
Ibu hamil akan mengalami kenaikan berat badan antara 9-11 kg selama kehamilan
atau 0,5 kg per minggu. Penambahan berat badan terbanyak terjadi pada trimester
II.
Tanda bahaya:
a. Tubuh ibu sangat kurus atau tidak bertambah.
b. Tubuh ibu sangat gemuk, kenaikan lebih dari 19 kg selama kehamilan.
c. Berat badan ibu naik secara tiba-tiba lebih dari 0,5kg dalam 1 minggu.
2. Ukur tekanan darah
Tekanan darah normal antara 90/60-140/90 mmHg dan tidka banyak meningkat
selama kehamilan.

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan banyak masalah dalam kehamilan, aliran
darah dari plasenta ke bayi juga mengalami gangguan sehingga penyaluran oksigen
serta nutrisi terhambat, yang menyebabkan gangguan pertumbuhan dan sebagainya.
3. Ukur tinggi fundus uteri
Uterus semakin lama semakin membesar seiring dengan penambahan usia
kehamilan. Pemeriksaan tinggi fundus uteri dilakukan dengan membandingkan
HPHT (hari pertama haid terakhir) , dan diukur dengan menggunakan palpasi atau
meteran terhadap TFU. Uterus tumbuh kira kira 2 jari per bulan.
Tanda bahaya:
TFU tidak sesuai usia kehamilan.
Pembesaran uterus lebih dari atau kurang dari 2 jari per bulan.
4. Imunisasi TT
Imunisasi TT perlu diberikan pada ibu hamil guna memberikan kekebalan pada
janin terhadap infeksi tetanus (Tetanus Neonatorum) pada saat persalinan, maupun
postnatal.
5. Pemberian tablet besi (Fe)
Selama kehamilan seorang ibu hamil minimal harus mendapatkan 90 tablet tambah
darah (Fe) karena sulit untuk mendapatkan zat besi dengan jumlah yang cukup dari
makanan.
6. Tes terhadap PMS
PMS yang terjadi selama kehamilan berlangsung akan menyebabkan kelainan atau
cacat bawaan pada janin dengan segala akibatnya, oleh karena itu tes terhadap PMS
perlu dilakukan agar dapat didiagnosis secara dini dan mendapatkan pengobatan
secara tepat.
7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan
Temu wicara mengenai persiapan tentang segala sesuatu yang mungkin terjadi
selama kehamilan penting dilakukan karena apabila terjadi komplikasi dalam
kehamilan ibu dapat segera mendapat pertolongan yang tepat.
(Hani, 2011)
2.2.4. Hak Hak Wanita Hamil
Hak hak ibu ketika menerima layanan asuhan kehamilan adalah sebagai berikut:
1) Mendapatkan keterangan mengenai kondisi kesehatannya. Informasi harus diberikan
secara langsung kepada klien.
2) Mendiskusikan keprihatinannya, kondisinya, dan harapannya terhadap sistem
pelayanan dan lingkungan yang dapat ia percaya. Proses ini berlangsung secara
pribadi dan didasari rasa percaya.
3) Mengetahui prosedur yang akan dilakukan terhadapnya.
4) Mendapatkan pelayanan secara pribadi/ dihormati privasinya dalam setiap
pelaksanaan prosedur.
5) Menerima layanan senyaman mungkin.
6) Menyatakan pandangan dan pilihannya mengenai pelayanan yang diterimanya.
(Vivian, 2011)
2.2.5. Informasi Yang Harus Diberikan
Kunjungan
Trimester I

Waktu
Sebelum minggu ke-14

Informasi
- Membangun hubungan saling percaya
antara petugas kesehatan dengan ibu
hamil.
- Mendeteksi

masalah

dan

menanganinya.
- Melakukan
tindakan

pencegahan

seperti tetans neonatorum, anemia,


penggunaan praktek tradisional yang
merugikan.
- Memulai persiapan kelahiran bayi dan
kesiapan

untuk

komplikasi
- Perilaku hidup
Trimester II

Minggu ke-14-28

(PHBS)
Sama seperti
keaspadaan

Trimester III

Antara minggu ke-28-36

menghadapi

bersih
di

atas

khusus

dan

sehat

ditambag
mengenai

preeklampsia.
Sama seperti di atas ditambah palpasi
abodminal untuk mengetahui apakah

Setelah minggu ke-36

ada kehamilan ganda.


Sama seperti di atas ditambag deteksi
letak bayi yang abnormal atau kondisi
lain yang memerlukan persalinan di
rumah sakit.

( Hani, 2011)
2.3. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Kehamilan
2.3.1. Pengkajian data
Data Subjektif
1) Biodata
a) Nama
Mengetahui nama klien atau suami berguna untuk memperlancar komunikasi
dalam asuhan sehingga tidak terlihat kaku dan lebih akrab.
b) Umur
Umur perlu diketahui guna mengetahui apakah klien dalam kehamilan yang
beresiko atau tidak. Usia di bawah 16 tahun dan di atas 35 tahun merupakan
umur-umur yang beresiko tinggi untuk hamil. Umur yang baik untuk kehamilan
adalah 19-25 tahun.
c) Agama
Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait agama yang harus
diobservasi. Informasi ini dapat menuntun ke suatu diskusi tentang pentingnya
agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan
kelahiran, perasaan tentang jenis kelamin tenaga kesehatan ,dan pada beberapa
kasus, pengguna produk darah.
d) Pendidikan
Informasi ini membantu klinisi memehami klien sebagai individu dan memberi
gambaran kemampuan pengetahuan serta baca-tulisnya.
e) Pekerjaan
Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien
berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi kelahiran, prematur dan
pajanan terhadap bahaya lingkungan kerja, yang dapat merusak janin.
f) Penghasilan

Penghasilan di tanyakan untuk mengetahui gambaran status ekonomi dimana


untuk memenuhi kebutuhuhan biaya persalinan ibu dan kebutuhan keluarga.
g) Alamat
Alamat rumah klien perlu diketahui bidan untuk lebih memudahkan saat
pertolongan persalinan dan untuk mengetahui jarak rumah dengan tempat
rujukan.
2) Alasan Datang
Alasan wanita datang ke tempat bidan/klinik, yang diungkapkan dengan kata-katanya
sendiri.
3) Keluhan Utama
Keluhan utama adalah alasan kenapa klien datang ke tempat bidan. Hal ini di sebut
tanda atau gejala. Dituliskan sesuai dengan yang di ungkapkan oleh klien serta
tanyakan juga sejak kapan hal tersebut di keluhkan oleh klien.
4) Riwayat Kesehatan Ibu
Tanyakan pada klien tentang penyakit apa yang pernah dan sedang di derita klien
selama ini. Apabila klien pernah mengalami penyakit keturunan, maka ada
kemungkinan janin yang di kandungnya juga akan menderita penyakit yang sama.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga
a) Penyakit menular
Tanyakan kepada klien apakah mempunyai keluarga yang saat ini sedang
menderita penyakit menular. Apabila klien menjawab mempunyai keluarga yang
saat ini sedang menderita penyakit menular, sebaiknya bidan menyarankan
kepada kliennya untuk menghindari secara langsung atau tidak langsung
bersentuhan fisik atau mendekati keluarga tersebut untuk sementara waktu agar
tidak menular pada ibu hamil dan janinnya. Berikan pengertian kepada keluarga
yang sedang sakit tersebut agar tidak terjadi kesalahfahaman.
b) Penyakit keturunan/genetik
Tanyakan kepada klien apakah mempunyai penyakit keturunan. Hal ini
diperkukan untuk mendiagnosa apakah si janin berkemungkinan akan menderita
penyakit tersebut atau tidak , hal ini bisa dilakukan dengan cara membuat daftar
penyakit apa saja yang pernah di derita oleh keluarga klien yang dapat di
turunkan (penyakit genetik, misalnya hemofili, TD tinggi , dan sebagainya).
Biasanya di buat dalam silsilah keluarga atau pohon keluarga.
6) Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu
a) Jumlah kehamilan (Gravid/G)
Jumlah kehamilan ditanyakan untuk mengetahui seberapa besar pengalaman
klien tentang kehamilan .
b) Jumlah anak yang hidup (L)
Untuk mengetahui pernah atau tidaknya kien mengalami keguguran, apabila
pernah maka pada kehamilan berikutnya akan beresiko mengakami keguguran
kembali. Serta apabila jumlah anak yang hidup hanya sedikit dari kehamilan
yang banyak, berarti kehamilannya saat ini adalah kehamilanan yang sangat di
inginkan.
c) Jumlah kelahiran prematur (P)
Untuk mengidentifikasi apabila pernah mengalami kelahiran prematur
sebelumnya maka dapat menimbulkan resiko persalinan prematur berikutnya.
d) Jumlah keguguran (A)

Tanyakan kepada klien apakah ia pernah keguguran atau tidak. Sebab apabila
pernah mengalami keguguran dalam riwayat persalinan sebelumnya akan
beresiko untuk mengalami keguguran berikutnya (keguguran berulang).
e) Persalinan dengan tindakan (operasi sesar,vakum, forcep)
Catat kelahiran yang terdahulu, apakah pervaginam, melalui bedah sesar dibantu
forsep atau vakum.
f) Riwayat perdarahan pada persalinan atau pascapersalinan
Tanyakan pada klien apakah pernah mengalami perdarahan pascapersalinan
sebelumnya. Perdarahan antepartum atau intrapartum misalnya placenta previa,
solutio placenta, retensio placenta, atonia uteri, ruptur uteri, dan lain lain
cenderung dapat berulang pada kehamilan berikutnya.
g) Kehamilan dengan tekanan darah tinggi
Pertanyaan ini perlu ditanyakan untuk mendiagnosis apakah klien beresiko
mengalami preeklamsi/eklamsi yang tanda dan gejalanya merupakan tingginya
tekanan darah klien saat hamil. Kehamilan dengan eklamsia perlu mendapatkan
perawatan yang intensif.
h) Berat bayi <2500 gr atau >4000 gr
Berat lahir sangat penting untuk mengidentifikasi apakah bayi kecil untuk masa
kehamilan (BKMK) atau bayi besar untuk masa kehamilan (BBMK), suatu
kondisi yang biasa berulang. Apabila persalinan pervaginam, berat lahir
mencerminkan bahwa bayi dengan ukuran tertentu berhasil memotong pelvis
maternal.
i) Masalah lain
Setiap komplikasi yang terkait dengan kehamilan harus diketahui sehingga dapat
dilakukan antisipasi terhadap komplikasi berulang.
7) Riwayat Perkawinan
a) Status pernikahan
Tanyakan status klien, apakah ia sekarang sudah menikah atau belum menikah.
Hal ini penting untuk mengetahui status kehamilan tersebut apakah dari hasil
pernikahan yang resmi atau dari hasil kehamilan yang tidak diinginkan, status
pernikahan bisa berpengaruh pada psikologis ibunya pada saat hamil.
b) Usia saat menikah
Tanyakan pada klien pada usia berapa ia menikah. Hal ini diperlukan karena
apabila klien mengatakan bahwa ia menikah di usia muda sedangkan klien
pada saat kunjungan awal ke tempat bidan tersebut sudah tidak lagi muda dan
kehamilannya adalah yang pertama, ada kemungkinan bahwa kehamilannya
saat ini adalah kehamilan yang sangat di harapkan. Hal ini akan berpengaruh
bagaimana asuhan kehamilannya.
c) Lama pernikahan
Tanyakanlah kepada klien sudah berapa lama ia menikah. Apabila klien
mengatakan bahwa telah lama menikah dan baru saja bisa mempunyai
keturunan, maka kemungkinan kehamilannya saat ini adalah kehamilan yang di
harapkan.
8) Riwayat Kehamilan Sekarang
a) Riwayat Haid
(1) Menarche (Usia pertama datang haid)

Usia wanita pertama haid bervariasai, antara 12-16 tahun. Hal ini
dipengaruhi oleh keturunan, keadaan gizi, bangsa, lingkungan, iklim dan
keadaan umum.
(2) Siklus
Siklus haid terhitung mulai hari pertama haid hingga hari pertama haid
berikutnya, siklus haid perlu ditanyakan untuk mengetahui apakah klien
mempunyai kelainan siklus haid atau tidak. Siklus normal haid biasanya
adalah 28 hari.
(3) Lamanya
Lamanya haid yang normal adalah 7 hari. Apabila sudah mencapai 15
hari berarti sudah abnormal dan kemungkinan adanya gangguan ataupun
penyakit yang mempengaruhinya.
(4) Banyaknya
Normalnya yaitu 2 kali ganti pembalut dalam sehari. Apabila darahnya
terlalu berlebih, itu berarti telah menunjukkan gejala kelainan banyaknya
darah haid.
(5) Dismenorhoe (Nyeri Haid)
Nyeri haid perlu ditanyakan

untuk

mengetahui

apakah

klien

menderitanya atau tidak di tiap haidnya. Nyeri haid juga menjadi tanda
bahwa kontraksi uterus klien begitu hebat sehingga menimbulkan nyeri
haid.
b) Riwayat Hamil Sekarang
(1) HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)
Bidan ingin mengetahui tanggal hari pertama dari mensturasi terakhir
klien untuk memperkirakan kapan kira-kira sang bayi akan di lahirkan.
(2) TP (Taksiran Persalinan)/Perkiraan Kelahiran
Gambaran riwayat mensturasi klien yang akurat biasanya membantu
penetapan tanggal perkiraan kelahiran (estimated date of delivery[EDD])
yang disebut taksiran partus (estimated date of delivery[EDD]) di
beberapa tempat. EDD ditentukan dengan perhitungan internasional
menurut hukum Neagele. Perhitungan dilakukan dengan menambahkan 9
bulan dan 7 hari pada hari pertama haid terakhir(HPHT) atau dengan
mengurangi bulan dengan 3, kemudian menambahkan 7 hari dan 1 tahun.
(3) Kehamilan yang keJumlah kehamilan ibu perlu ditanyakan karena terdapatnya perbedaan
antara ibu yang baru pertama hamil dengan ibu yang sudah beberapa kali
hamil, apabila ibu tersebut baru pertama kali hamil otomatis perlu
perhatian ekstra pada kehamilannya.
(4) Masalah-masalah
a. Trimester I
Tanyakan kepada klien apakah ada masalah pada kehamilan
trimester I, masalah-masalah tersebut misalnya hiperemesis
gravidarum, anemia, dan lain lain.
b. Trimester II
Tanyakan kepada klien masalah apa yang pernah ia rasakan pada
trimester II kehamilan pada kehamilan sebelumnya. Hal ini untuk

sebagai faktor persiapan kalau-kalau kehamilan yang sekarang akan


terjadi hal seperti itu lagi.
c. Trimester III
Tanyakan kepada klien masalah apa yang pernah ia rasakan pada
trimester III kehamilan pada kehamilan sebelumya. Hal ini untuk
sebagai faktor persiapan kalau-kalau kehamilan yang sekarang akan
terjadi hal seperti itu lagi.
(5) ANC (Antenatal Care/Asuhan Kehamilan)
Tanyakan kepada klien asuhan apa yang pernah ia dapatkan pada
trimester I, II, dan III kehamilan sebelumnya dan tanyakan bagaimana
pengaruhnya terhadap kehamilan. Apabila baik, bidan bisa memberikan
lagi asuhan kehamilan tersebut pada kehamilan sekarang.
(6) Tempat ANC
Tanyakan kepada klien di mana tempat ia mendapatkan asuhan
kehamilan tersebut.
(7) Penggunaan obat-obatan
Pengobatan penyakit saat hamil harus selalu memperhatikan apakah obat
tersebut tidak berpengaruh terhadap tumbang janin. pengaruh obat
terhadap janin dapat digolongkan sebagai berikut.
- Obat yang tergolong tidak boleh diberikan saat hamil
- Obat yang dapat diberikan saat hamil dengan keamanan terbatas
-

umumnya aman diberikan setelah hamil trimester II


Obat yang aman diberikan namun tidak ada keterangan tertulis yang

lengkap
Obat atau bahan kimia yang pemberiannya saat hamil memerlukan

pertimbangan dengan seksama


Obat atau bahan kimia yang aman jika diberikan pada kehamilan,

yaitu vitamin khusus untuk ibu hamil.


Tanyakan klien riwayat pemakaian obat-obaan resep dan obat bebas.
Tanyakan juga tentang alergi obat, mencakup berbagai reaksi yang terjadi
setelah obat ditelan. Tanyakan secara spesifik suplemen vitamin dan
pengobatan bukan tradisional.
(8) Imunisasi TT (Tetanus Toxoid)
Tanyakan kepada klien apakah sudah pernah mendapatkan imunisasi TT.
Apabila belum, bidan bisa memberikannya. Imunisasi tetanus toxoid
diperlukan untuk melindungi bayi terhadap penyakit tetanus neonatorum,
imunisasi dapat dilakukan pada trimester I atau II pada kehamilan 3-5
bulan dengan interval minimal 4 minggu. Lakukan penyuntikan secara
IM (intramuscular), dengan dosis 0,5 ml.
(9) Penyuluhan yang didapat
Penyuluhan apa yang pernah didapat klien perlu ditanyakan untuk
mengetahui apa saja yang kira-kira telah didapat klien dan berguna bagi
kehamilannya.
9) Riwayat Sosial Ekonomi
a. Riwayat Kontrasepsi
(1) Metode

Tanyakan kepada klien metode KB apa yang selama ini ia gunakan.


Riwayat kontrasepsi diperlukan karena kontrasepsi hormonal dapat
mempengaruhi EDD, dan karena penggunaan metode lain dapat membantu
menanggali kehamilan. Seorang wanita yang mengalami kehamilan tanpa
menstruasi spontan setelah menghentikan pil, harus menjalani sonogram
untuk menentukan EED yang akurat. Sonogram untuk penanggalan yang
akurat juga diindikasikan bila kehamilan terjadi sebelum mengalami
menstruasi yang dikaitkan dengan atau setelah penggunaan metode
kontrasepsi hormonal lain (misalnya, Norplant dan Depo-Provera)
(2) Lama
Tanyakan kepada klien berapa lama ia telah menggunakan alat kontrasepsi
tersebut.
(3) Masalah
Tanyakan kepada klien apakah ia mempunyai masalah saat menggunakan
alat kontrasepsi tersebut. Apabila klien mengatakan bahwa kehamilannya
saat ini dikarenakan kegagalan kerja alat kontrasepsi, berikan pandanganpandangan klien terhadap alat kontrasepsi lain.
b. Pola Kebiasaan Sehari-hari
(1) Pola Nutrisi
(a) Jenis makanan
Tanyakan kepada klien, apa jenis makanan yang biasa ia makan.
Anjurkan kepada kien mengonsumsi makanan yang mengandung zat
besi (150 mg besi sulfat, 300 mg besi glukonat), asam folat (0,4-0,8
mg/hari), kalori (ibu hamil umur 23-50 tahun perlu kalori sekitar 2300
kkal), protein (74 gr/hari), dan garam mineral (kalsium, fosfor,
magnesium, seng, yodium) agar kebutuhan nutrisinya dapat tercukupi
sehingga ibu tidak kekurangan nutrisi.
(b) Porsi
Tanyakan bagaimana porsi makan klien. Porsi makanan yang terlalu
besar kadang bisa membuat ibu hamil mual, terutama pada kehamilan
muda. Anjurkan klien untuk makan dengan porsi sedikit namun sering
untuk mengurangi mual.
(c) Frekuensi
Tanyakan bagaimana frekuensi makan klien per hari. Anjurkan klien
untuk makan dengan porsi sedikit dan dengan frekuensi sering.
(d) Pantangan
Tanyakan apakah klien mempunyai pantangan dalam hal makanan.
Diagnosa apakah alasan pantangan klien terhadap makanan tertentu itu
benar atau tidak dari segi ilmu kesehatan, kalau ternyata tidak benar
dan bahkan dapat mengakibatkan klien kekurangan nutrisi saat hamil,
bidan harus segera memberitahukannya kepada klien.
(2) Pola Istirahat
Kebiasaan tidur siang banyak menguntungkan dan baik untuk kesehatan.
Anjurkan pada klien untuk mencoba dan membiasakan. Sedangkan pola
tidur malam harus ditanyakan, karena wanita hamil tidak boleh kurang tidur,

apalagi tidur malam, jangan kurang dari 8 jam. Tidur malam merupakan
waktu dimana proses pertumbuhan janin berlangsung.
(3) Pola Eliminasi
BAB (Buang Air Besar)
Tanyakan kepada klien apakah BABnya teratur,karena ajpabila klien
mengatakan sering dapat di curigai klien menderita diare (sering dan feces
cair). Sebaliknya apabila terlalu jarang di curigai

klien mengalami

konstipasi (jarang, feses kering, dan keras).


BAK (Buang Air Kecil)
Tanyakan kepada klien seberapa sering ia berkemih dalam sehari. Jelaskan
kepada klien mengkatnya frekuensi berkemih dikarenakan meningkatnya
jumlah cairan yang masuk , atau bisa juga karena adanya tekanan dinding
uterus yang membesar karena kehamilan terhadap dinding vesica urinaria
sehingga organ tersebut hanya bisa menampung sedikit urin dan
menyebabkan sering berkemih . Apabila ternyata klien mengalami kesulitan
berkemih maka bidan harus dapat mengambil tindakan, misalnya memasang
kateter.
(4) Pola Aktifitas
Aktivitas ibu hamil harus dibatasi bila di dapatkan penyulit karena dapat
mengakibatkan persalinan prematur, KPD, dan sebagainya. Anjurkan klien
mengikuti program senam hamil untuk mereganggkan otot-otot yang kaku
karena semakin besar usia kehamilan semakin beras beban yang di topang
ibu hamil.
(5) Pola Seksual
Hubungan seksual dilarang selama kehamilan, kecuali pada keadaankeadaan tertentu, seperti: sering terjadi abortus/prematur, terjadi perdarahan
per vaginam pada saat koitus, pengeluaran cairan (air ketuban) yang
mendadak, terdapat tanda-tanda infeksi (nyeri dan panas). Sebaiknya koitus
dihindari pada kehamilan muda sebelum kehamilan 16 minggu dan pada
hamil tua, karena akan merangsang kontraksi.
(6) Pola Kebersihan
(a) Frekuensi Mandi
Tanyakan kepada klien seberapa sering ia mandi. Mandi diperlukan
untuk menjaga kebersihan atau hygiene terutama perawatan kulit,
karena

fungsi

ekskresi

dan

kringat

bertambah.

Dianjurkan

menggunakan sabun lembut atau ringan. Mandi berendam tidak


dianjurkan.
(b) Frekuensi Gosok Gigi
Tanyakan kepada klien seberapa sering ia menyikat giginya.
Kebersihan gigi sangat penting karena saat hamil sering terjadi karies
yang berkaitan dengan cairan emesis-hiperemesis gravidarum,
hipersalivasi dapat menimbulkan timbunan kalsium di sekitar gigi.
Memeriksakan gigi saat hamil diperlukan untuk mencari kerusakan
gigi yang dapat menjadi sumber infeksi.

(c) Frekuensi ganti pakaian


Tanyakan kepada klien, seberapa sering ia mengganti pakainnya.
Pakaian yang di kenakan harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan
yang ketat pada daerah perut. Selain itu wanita dianjurkan
menggenakan bra yang menyokong payudara dan memakai sepatu
dengan hak yang tidak terlalu tingggi, karena titik berat wanita hamil
berubah. Pakaian yang digunakan harus bersih dan menyerap keringat.
Di anjurkan pula memakai pakaian dan pakaian dalam yang berbahan
katun yang dapat menyerap keringat.
(d) Kebersihan vulva
Tanyakan kepada klien apakah ada maslah terhadap daerah vulvanya.
Menjaga kebersihan vulva sangat di anjurkan, karena untuk
menghindari datangnya penyakit-penyakit yang di akibatkan karena
kurangnya kebersihan vulva. Hal ini sebagai proses pencegahan
penularan penyakit dari ibu terhadap BBL.
(7) Merokok/Minuman Keras/ Obat terlarang
Hal ini perlu ditanyakan karena ketiga kebiasaan tersebut secara
langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan janin, dan
menimbulkan kelahiran dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
bahkan dapat menimbulkan cacat bawaan atau kelainan pertumbuhan
dan perkembangan mental.
c) Data Psikologis
(1) Respon ibu hamil terhadap kehamilan
Ada bermacam-macam respon wanita hamil terhadap kehamilannya
diantaranya ada yang mengharapkan kehamilan ada juga yang tidak
mengharapkan kehamilan tsb. Oleh karena itu, bidan harus pintar-pintar
mencari celah hati terdalam ibu apabila ia berada pada kondisi
kehamilan yang tidak diinginkan agar ia dapat menerima dengan
lapang dada.
(2) Respon suami terhadap kehamilan
Respon suami terhadap kehamilan perlu diketahui untuk lebih
memperlancar asuhan kehamilan. Mengingat, suami merupakan sumber
dukungan untama bagi klien dalam menjalani masa-masa sulit
kehamilan. Apabila respon suami klien terlihat kurang bahagia
menyambut kehamilan, maka bidan harus pintar mempengaruhi suami
klien agar bisa menerima kehamilan istrinya.
(3) Dukungan keluarga lain terhadap kehamilan
Hal ini perlu ditanyakan karena keluarga selain suami klien juga sangat
berpengaruh besar bagi kehamilan klien. Apabila ternyata keluarga
kurang mendukung, tentunya bidan harus bisa memberikan strategi
bagi klien dan suami agar kehamilan klien tersebut dapat diterima di
keluarga.
(4) Pengambilan keputusan

Pengambilan keputusan perlu ditanyakan karena untuk mengetahui


siapa yang diberi kewenangan klien mengambil keputusan apabila
ternyata bidan mendiagnosa adanya keadaan patologis bagi kondisi
kehamilan klien yang memerlukan adanya penanganan serius.
d) Data Sosial Budaya
(1) Tradisi yang mempengaruhi kehamilan
Hal ini perlu ditanyakan karena bangsa indonesia mempunyai beranek
ragam suku bangsa yrang tentunya dari tiap suku bangsa tersebut
mempunyai tradisi yang dikhususkan bagi wanita saat hamil. Tugas
bidan adalah mengingatkan bahwa tradisi-tradisi semacam itu
diperbolehkan saja selagi tidak merugikan kesehatan klien saat hamil.
(2) Kebiasaan yang merugikan kehamilan
Hal ini perlu ditanyakan karena setiap orang mempunyai kebiasaankebiasaan yang berbeda-beda. Dari bermacam-macam kebiasaan yang
dimiliki manusia, tentunya ada yang mempunyai dampak positif dan
negatif. Apabila klien mempunyai kebiasaan buruk, misalnya merokok
atau kebiasaan lain yang sangat merugikan, tentunya bidan harus tegas
mengingatkan bahwa kebiasaan klien tersebut sangat berbahaya bagi
kehamilannya.
Data Objektif
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum dan kesadaran penderita
Composmentis (kesadaran baik), gangguan kesadaran (apatis, samnolen, spoor,
koma).
b) Tekanan Darah
Tekanan darah pada ibu hamil tidak boleh mencapai 140 mmHg sistolik atau 90
mmHg diastolik. Perubahan 30 mmHg sistolik dan 15 mmHg diastolik diatas
tensi sebelum hamil, menandakan toxaemia gravidarum (keracunan kehamilan).
c) Nadi
Nadi normal adalah 60 sampai 100 kali/menit. Bila abnormal mungkin ada
kelainan paru-paru dan jantung.
d) Suhu
Suhu badan normal adalah 36,5C sampai 37,5C. Bila suhu lebih tinggi dari
37,5C kemungkinan ada infeksi.
e) Berat Badan
Berat badan dalam triwulan ke-III tidak boleh bertambah lebih dari 1 kg dalam
seminggu atau 3 kg dalam sebulan. Jika terjadi penambahan yang melebihi batas
tersebut, harus dipertimbangkan kemungkinan adanya penimbunan (retensi) air
yang disebut praedema.
f) Tinggi Badan
Diukur dalam cm, tanpa sepatu. Tinggi badan kurang dari 145 cm ada
kemungkinan terjadi Cepalo Pelvic Disproposian (CPD)
2) Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
a) Wajah
Pada inspeksi wajah, tentukan ada atau tidanya cloasma gravidarum, edema
wajah, apakah wajah pucat.
b) Mata

Periksa palpebra, konjungtiva, dan sklera. Periksa palpebra untuk memperkirakan


gejala oedema umum. Periksa konjungtiva dan sklera untuk memperkirakan
adanya anemia dan ikterus.
c) Mulut/Gigi
Periksa adanya karies, tonsillitis atau faringitis. Hal tersebut merupakan sumber
infeksi.
d) Dada
Pada inspeksi dada, tentukan bentuk buah dada, pigmentasi puting susu dan
areola, keadaan puting susu, serta ada tidaknya kolustrum.
e) Abdomen
Pada inspeksi abdomen, tentukan apakah perut membesar ke depan atau ke
samping (pada asites misalnya membesar ke samping), keadaan pusat, pigmentasi
di linea alba, penampakan gerakan anak atau kontraksi rahim, adanya striae
gravidarum atau bekas luka operasi.
f) Vulva
Pada inspeksi vulva, tentukan keadaan perinium, adanya varises, oedem,
keputihan, perdarahan, luka, cairan yang keluar, dsb.
g) Ekstremitas
Inspeksi pada tibia dan jari untuk melihat adanya oedema dan varices. Bila terjadi
oedema pada tempat-tempat tersebut kemungkinan terjadi pre-eklamsia.
Palpasi
a) Leher
Pada palpasi leher, tentukan adanya bendungan vena di leher, pembesaran kelenjar
gondok, dan pembesaran kelenjar limfe.
b) Dada
Palpasi payudara, tentukan adanya benjolan atau massa pada payudara.
c) Abdomen
Lepold I
Untuk mengetahui tinggi fundus uteri dan bagian yang berada pada bagian
fundus dan mengukur tinggi fundus uteri dari simfisis untuk menentukan usia
kehamilan dengan menggunakan cara Mc. Donald dengan pita ukur (>22

minggu).
Leopold II
Untuk mengetahui letak janin memanjang atau melintang, dan bagian janin

yang teraba disebelah kiri atau kanan.


Leopold III
Untuk menentukan bagian janin yang ada dibawah (presentasi)
Lepold IV
Untuk menentukan apakah bagian janin sudah masuk panggul atau belum.
Auskultasi
Auskultasi dengan menggunakan stetoskop monoaural atau dopler untuk menentukan

DJJ setelah umur kehamilan 18 minggu, yang meliputi frekuensi, keteraturan, dan
kekuatan DJJ. DJJ normal adalah 120 sampai 160 per menit. Bila DJJ <120 atau >160
per menit, kemungkinan ada kelainan janin atau plasenta.
Perkusi
Melakukan pengetukan pada daerah patella untuk memastikan adanya refleks pada
ibu.
3) Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Urin
Pemeriksaan urin yang dilakukan secara rutin pada kunjungan awal adalah
untuk melihat adanya glukosaria yang mungkin berhubungan dengan renal
system atau adanya diabetes militus, sehingga apabila ditemukan diperlukan
pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, penting juga untuk melihat adanya
proteinurin yang sering berhubungan dengan adanya pre-eklamsia atau
mungkin juga mengarah kepada pyelonefritis atau cronic nefritis. Apabila
dicurigai adanya infeksi saluran kencing, ambil midstream urin spesimen
untuk dikirim ke laboratorium guna pemeriksaan lebih lanjut atau pada klien
yang mengalami hyperemesis, pemeriksaan urin juga dapat untuk melihat

keton.
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah yang dilakukan secara rutin pada kunjungan awal adalah

pemeriksaan hemoglobin untuk mendeteksi adanya anemia.


Pemeriksaan Rotgen
Pemeriksaan rontgen baiknya dilakukan pada kehamilan yang sudah agak
lanjut karena sebelum bulan ke-IV rangka janin belum tampak dan pada

hamil muda pengaruh sinar rontgen terhadap janin lebih besar.


Pemeriksaan rontgen dilakukan pada kondisi-kondisi sbb:
1) Diperlukan tanda pasti hamil
2) Letak anak tidak dapat ditentukan dengan jelas dengan palpasi.
3) Mencari sebab dari hidraamnion (gemeli, anencephal)
4) Untuk menentukan hamil kembar
5) Untuk menentukan kematian anak dalam rahim
6) Untuk menentukan kelainan anak (hidrocepalus, anencepalus)
7) Untuk menentukan bentuk dan ukuran panggul.
Pemeriksaan USG
Kegunaan USG adalah sbb:
1) Diagnosis dan konfirmasi awal kehamilan
2) Penentuan umur gestasi dan penafsiran ukuran fetal
3) Diagnosis dari malformasi janin
4) Pendarahan pervaginam dengan penyebab yang tidak jelas
5) Mengetahui posisi plasenta
6)
Mengetahui adanya kehamilan ganda, hidraamnion

dan

oligohidraamnion
7) Mengetahui adanya IUFD
8) Mengetahui presentasi janin pada kasus yang tidak jelas
9) Mengevaluasi pergerakan janin dan detak jantung janin
10) Mendiagnosis adanya keabnormalan pada uterus dan pelvis selama
2.3.2.

kehamilan
Implementasi Data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan

intrepetasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah
dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah
spesifik. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang
diidentifikasikan oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian.
Cara penulisan diagnosis kehamilan:
G P

Ab

dengan... (kehamilan normal/dengan penyulit dan komplikasi)

G (Gravida)

: jumlah kehamilan yang dialami wanita.

P (Para)

: jumlah kehamilan yang diakhiri dengan kelahiran janin yang memenuhi

syarat untuk melangsungkan kehidupan (28 minggu atau 1000 gram)


P digit pertama

: jumlah kelahiran bayi cukup bulan (>36 minggu atau >2500 gram),

P digit kedua

: jumlah kelahiran bayi prematur (28 sampai 36 minggu atau 1000

sampai 2499 gram)


P digit ketiga

: jumlah kelahiran bayi imatur (21 sampai 28 minggu atau 500 sampai

1000 gram)
P digit keempat

: jumlah anak yang hingga kini masih hidup

Ab (Abortus)

: jumlah kelahiran yang diakhiri dengan aborsi spontan atau terinduksi

pada usia kehamilan sebelum 20 minggu atau dengan berat kurang dari 500 gram.
Ab digit pertama : jumlah seluruh abortus yang pernah dialami
Ab digit kedua

: jumlah seluruh kehamilan mola yang pernah dialami

Ab digit ketiga

: jumlah seluruh kehamilan ektopik yang pernah dialami

2.3.3. Perumusan Diagnosis/Masalah Potensial


Pada langkah ini, mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial berdasarkan
diagnosis/masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila
memungkinkan dilakukan pencegahan.
2.3.4. Perumusan Kebutuhan Segera
Pada langkah ini, bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan
konsultasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien.
2.3.5. Perencanaan Asuhan/Intervensi
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari
kondisi klien atau setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga dari kerangka pedoman
antisipasi terhadap wanita tersebut, apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah
dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalahmasalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi, kultural, atau masalah psikologis.
2.3.6. Penatalaksanaan/Implementasi
Pada langkah ini, dilakukan pelaksanaan asuhan langsung secara efisien dan aman. Pada
langkah ke-6 ini, rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke5 dilaksanakan secara efisien dan aman.
2.3.7. Evaluasi
Pada langkah ke-7, ini dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan. Hal
yang dievaluasi meliputi apakah kebutuhan telah terpenuhi dan mengatasi diagnosis dan
masalah yang telah diidentifikasi.