Anda di halaman 1dari 21

MARAMUS KWASHIOR

1. DEFINISI
Marasmus-Kwashiorkor adalah salah satu kondisi dari kurang gizi berat yang
gejala klinisnya merupakan gabungan dari marasmus, yaitu kondisi yang disebabkan oleh
kurangnya asupan energi, dan kwashiorkor, yaitu kondisi yang disebabkan oleh
kurangnya asupan protein sehingga gejalanya disertai edema.
2. ANATOMI DAN FISIOLOGI
ANATOMI
Sistem pencernaan terdiri dari mulut,faring,laring,esophagus ,gaster,usus halaus
,usus besar,rectum,anus.sistem ini berfungsi menyediakan nutrisi bagi kebutuhan sel
melalui proses ingesti,digesti,dan absorbs,serta eliminasi bagi makanan tidak dapat di
cerna oleh tubuh.(syarifudin,1997).
Proses ingesti terjadi saat makanan berada di lingkungan mulut yaitu saat
mengunyah yang dilakukan oleh koordinasi otot rangka dan system saraf sehingga
makanan menjadi halus dan saat yang sama makanan bercampur dengan saliva sehingga
makanan menjadi licin.(syrafifudin,1997)
Digesti adalah perubahan fisik dan kimia dari makanan dengan bantuan enzim
yang pengeluarannya diatur oleh hormone dan saraf,sehingga zat-zat makanan dapat di
absorbsi kealiran darah .proses digesti dapat dimulai dari mulut dan berakhir diusus
halus.(syarifudin).
Eliminasi adalah pengeluaran sisa pencernaan dari tubuh melalui anus.zat-zat
makanan yang diserap oleh tubuh di metaboliseme oleh sel sehingga menghasilkan
energy,membentuk jaringan hormone dan enzim.
Makanan dapat bergerak dari saluran cerna sampai keanus karena adanya
peristaltic yang berasal dari kontraksi ritmis dari usus yang diatur oleh system saraf
otonom dan saraf enteric(syarifudin,1997)
FISIOLOGI
Energi diperlukan oleh tubuh untuk pertumbuhan,metabolisme ,utilisasi bahan
makanan,dan aktivitas .protein dalam diet dapat memberi energy untuk keperluan
tersebut dan juga untuk menyediakan asam amino bagi sintesis protein sel,dan hormone
maupun enzim untuk mengatur metabolisme.
Suplai energy bagi pemeliharaan sel lebih diutamakan daripada suplai
pertumbuhan.maka bila mana jumlah energy makanan sehari-hari tidak cukup,sebagian

masukan protein makanan akan di pergunakan sebagai energy,hingga mengurangi bagian


yang di perlukan bagi pertumbuhan .bahkan jika masukan energy dan protein jauh dari
cukup,proses katabolisme terjadi terhadap otot-otot untuk menyediakan glukosk a bagi
energy dan asam-amino untuk sintesi protein yang sangat esensial.(solihin,2000).
Jumlah protein dan energy yang di perluukan untuk pertumbuhan yang normal tergantung
dari pada kualitas zat gizi yang dimakan,seperti bagaimana mudah zat tersebut dapat
dicerna(digestibility),diserap(absorbability,distribusi asam amino,proteinnya,dan factorfaktor lain,seperti umur,berat badan,aktivitas individu,suhu lingkungan dan sebgainya.
(solihin,2000)
3. ETIOLOGI
Penyakit KEP merupakan penyakit lingkungan. Oleh karena itu ada beberapa
faktor yang bersama-sama menjadi penyebab timbulnya penyakit tersebut, antara lain
faktor diet, faktor social, kepadatan penduduk, infeksi, kemiskinan, dan lain-lain.2
a. Peranan diet
Menurut konsep klasik, diet yang mengandung cukup energi tetapi kurang protein
akan menyebabkan anak menjadi penderita kwashiorkor, sedangkan diet kurang
energi walaupun zat-zat gizi esensialnya seimbang akan menyebabkan anak menjadi
penderita marasmus. Tetapi dalam penelitian yang dilakukan oleh Gopalan dan
Narasnya (1971) terlihat bahwa dengan diet yang kurang-lebih sama, pada beberapa
anak timbul gejala-gejala kwashiorkor, sedangkan pada beberapa anak yang lain
timbul gejala-gejala marasmus. Mereka membuat kesimpulan bahwa diet bukan
merupakan faktor yang penting, tetapi ada faktor lain yang masih harus dicari untuk
dapat menjelaskan timbulknya gejala tersebut.2
b. Peranan faktor social
Pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turuntemurun dapat mempengaruhi terjadinya penyakit KEP. Adakalanya pantangan
tersebut didasarkan pada keagamaan, tetapi ada pula yang merupakan tradisi yang
turun-temurun. Jika pantangan itu didasarkan pada keagamaan, maka akan sulit

diubah. Tetapi jika pantangan tersebut berlangsung karena kebiasaan, maka dengan
pendidikan gizi yang baik dan dilakukan terus-menerus hal tersebut masih dapat
diatasi. Faktor-faktor sosial lain yang dapat mempengaruhi terjadinya penyakit KEP
adalah2 :
a

Perceraian yang sering terjadi antara wanita yang sudah mempunyai banyak anak
dengan suaminya yang merupakan pencari nafkah tunggal;

Para pria dengan penghasilan kecil mempunyai banyak istri dan anak, sehingga
dengan pendapatan yang kecil ia tidak dapat member cukup makan pada anggota
keluarganya yang besar itu;

Para ibu mencari nafkah tambahan pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada
musim panen mereka pergi memotong padi para pemilik sawah yang letak
sawahnya jauh dari tempat tinggal para ibu tersebut. Anak-anak terpaksa
ditinggalkan di rumah sehingga jatuh sakit dan mereka tidak mendapat perhatian
dan pengobatan semestinya;

Para ibu yang setelah melahirkan menerima pekerjaan tetap sehingga harus
meninggalkan bayinya dari pagi sampai sore. Dengan demikian, bayi tersebut
tidak mendapat ASI sedangkan pemberian pengganti ASI maupun makanan
tambahan tidak dilakukan dengan semestinya.

c. Peranan kepadatan penduduk


Dalam World Food Conference di Roma (1974) telah dikemukakan bahwa
meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya
persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis
pangan. Sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya. Ditekankan
pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik di samping kuantitasnya. 2
McLaren (1982) memperkirakan bahwa marasmus terdapat dalam jumlah
yang banyak jika suatu daerah terlalu padat penduduknya dengan keadaan hygiene

yang buruk, misalnya, di kota-kota dengan kemungkinan pertambahan penduduk


yang sangat cepat; sedangkan kwashiorkor akan terdapat dalam jumlah yang banyak
di desa-desa dengan penduduk yang mempunyai kebiasaan untuk member makanan
tambahan berupa tepung, terutama pada anak-anak yang tidak atau tidak cukup
mendapat ASI. 2
d. Peranan infeksi
Telah lama diketahui adanya interaksi antara malnutrisi dan infeksi.
Indeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Malnutrisi, walaupun masih
ringan, mempunyai pengaruh negative pada daya tahan tubuh terhadap infeksi.
Hubungan ini sinergistis, sebab malnutrisi disertai infeksi pada umumnya mempunyai
konsekuensi yang lebih besar daripada sendiri-sendiri. 2
e. Peranan kemiskinan
Penyakit KEP merupakan masalah negara-negara miskin dan terutama
merupakan problema bagi golongan termiskin dalam masyarakat negara tersebut.
Pentingnya kemiskinan ditekankan dalam laporan Oda Advisory Committee on
Protein pada tahun 1974. Mereka menganggap kemiskinan merupakan dasar penyakit
KEP. Tidak jarang terjadi bahwa petani miskin harus menjual tanah miliknya untuk
mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, lalu ia menjadi penggarap yang menurunkan
lagi penghasilannya, atau ia meninggalkan desa untuk mencari nafkah di kota besar.
Dengan penghasilan yang tetap rendah, ketidakmampuan menanam bahan makanan
sendiri, ditambah pula dengan timbulnya banyak penyakit infeksi karena kepadatan
tempat tinggal seperti telah diutarakan tadi, timbulnya gejala KEP lebih dipercepat

4. PATOFISIOLOGI
Banyak manifestasi dari KEP merupakan respon penyesuaian pada kurangnya
asupan energi dan protein. Untuk menghadapi asupan yang kurang, maka dilakukannya
pengurangan energi dan aktifitas. Namun, meskipun ini respon penyesuaian, deposit
lemak dimoilisasi untuk memenuhi kebutuhan energi yang sedang berlangsung meskipun

rendah. Setelah deposit lemk habis, katabolisme protein harus menyediakan substrat yang
berkelanjutan untuk menjaga metabolisme basal.
Alasan mengapa ada anak yang menderita edema dan ada yang tidak mengalami edema
pada KEP masih belum diketahui. Meskipun tidak ada faktor spesifik yang ditemukan,
beberapa kemungkinan dapat dipikirkan. Salah satu pemikiran adalah variabilitas antara
bayi yang satu dengan yang lainnya dalam kebutuhan nutrisi dan komposisi cairan tubuh
saat kekurangan asupan terjadi. Hal ini juga telah dipertimbangkan bahwa pemberian
karbohidrat berlebih pada anak-anak dengan non-edematous KEP membalikkan respon
penyesuaian untuk asupan protein rendah, sehingga deposit protein tubuh
dimobilisasikan. Akhirnya, sintesis albumin menurun, sehingga terjadi hipoalbuminemia
dengan edema. Fatty liver juga berkembang secara sekunder, mungkin, untuk lipogenesis
dari asupan karbohidrat berlebih dan mengurangi sintesis apoliprotein. Penyebab lain
KEP edematous adalah keracunan aflatoksin serta diare, gangguan fungsi ginjal dan
penurunan aktivitas NA K ATPase. Akhirnya, kerusakan radikal bebas telah diusulkan
sebagai faktor penting dalam munculnya KEP edematous. Kejadian ini didukung dengan
konsentrasi plasma yang rendah akan metionin, suatu precrusor dari sistein, yang
diperlukan untuk sintesis dari faktor antioksidan major, glutathione. Kemungkinan ini
juga didukung oleh tingkat yang lebih rendah dari sintesis glutathione pada anak-anak
dengan pembengkakan dibandingkan dengan non-edematous KEP.

5. MANIFESTASI KLINIS
GEJALA KLINIS KEP
Gejala klinis KEP berbeda-beda tergantung dari derajat dan lamanya deplesi protein dan
energi, umur penderita, modifikasi disebabkan oleh adanya kekurangan vitamin dan
mineral yang menyertainya. Pada KEP ringan yang ditemukan hanya pertumbuhan yang
kurang, seperti berat badan yang kurang dibandingkan dengan anak yang sehat. Keadaan
KEP yang berat memberi gejala yang kadang-kadang berlainan, tergantung dari dietnya,
fluktuasi musim, keadaan sanitasi, kepadatan penduduk, dan sebagainya.2
A Gejala klinis Kwashiorkor

Gambar 1. Manifestasi klinis anak dengan kwashiorkor

Penampilan
Penampilannya seperti anak yang gemuk (suger baby) bilamana dietnya
mengandung cukup energi disamping kekurangan protein, walaupun di bagian
tubuh lainnya, terutama di pantatnya terlihat adanya atrofi.2

Gangguan Pertumbuhan
Pertumbuhan terganggu, berat badan di bawah 80% dari baku Harvard persentil 50
walaupun terdapat edema, begitu pula tinggi badannya terutama jika KEP sudah
berlangsung lama. 2

Perubahan Mental
Perubahan mental sangat mencolok. Pada umummnya mereka banyak menangis,
dan pada stadium lanjut bahkan sangat apatis. Perbaikan kelainan mental tersebut
menandakan suksesnya pengobatan. 2

Edema
Edema baik yang ringan maupun berat ditemukan pada sebagian besar penderita
kwashiorkor. Walaupun jarang, asites dapat mengiringi edema. 2

Gambar 2. Edema dan kelainan kulit pada kwashiorkor

Atrofi otot
Atrofi otot selalu ada hingga penderita tampak lemah dan berbaring terus-menerus,
walaupun sebelum menderita penyakit demikian sudah dapat berjalan. 2

Sistem gastro-intestinum
Gejala saluran pencernaan merupakan gejala penting. Pada anoreksia yang berat
penderita menolak segala macam makanan, hingga adakalanya makanan hanya
dapat diberikan melalui sonde lambung. Diare tampak pada sebagian besar
penderita, dengan feses yang cair dan mengandung banyak asam laktak karena

mengurangnya produksi lactase dan enzim disakaridase lain. Adakalanya diare


demikian disebabkan pula oleh cacing dan parasit lain. 2

Perubahan rambut
Perubahan rambut sering dijumpai, baik mengenai bangunnya (texture) maupun
warnanya. Sangat khas bagi penderita kwashiorkor ialah rambut yang mudah
dicabut. Pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala yang
kusam, kering, halus, jarang, dan berubah warnanya. Warna rambut yang hitam
menjadi merah, coklat, kelabu, maupun putih. Rambut alispun menunjukkan
perubahan demikian, akan tetapi tidak demikian dengan rambut matanya yang
justru memanjang. 2

Perubahan kulit
Perubahan kulit yang oleh Williams, dokter wanita pertama yang melaporkan
adanya penyakit kwashiorkor, diberi nama crazy pavement dermatosis merupakan
kelainan kulit yang khas bagi penyakit kwashiorkor. Kelainan kulit tersebut dimulai
dengan titik-titik merah menyerupai ptechiae, berpadu menjadi bercak yang lambatlaun menghitam. Setelah bercak hitam mengelupas, maka terdapat bagian-bagian
yang merah dikelilingi oleh batas-batas yag masih hitam. Bagian tubuh yang sering
membasah dikarenakan keringat atau air kencing, dan yang terus-menerus
mendapat tekanan merupakan predileksi crazy pavement dermatosis,seperti di
punggung, pantat, sekitar vulva, dan sebagainya. Perubahan kulit lainnya seperti
kulit kering dengan garis kulit yang mendalam, luka yang mendalam tanpa tandatanda inflamasi. Kadang-kadang pada kasus yang sangat lanjut ditemui petechiae
tanpa trombositopenia dengan prognosis yang buruk bagi si penderita. 2

Pembesaran hati
Termasuk gejala yang sering ditemukan. Kadang-kadang batas hati terdapat setinggi
pusar. Hati yang membesar dengan mudah dapat diraba dan terasa kenyal pada
rabahan dengan permukaan yang lici dan pinggir yang tajam. Sediaan hati demikian

jika dilihat dibawah mikroskop menunjukkan, bahwa banyak sel hati terisi dengan
lemak. Pada kwashiorkor yang relatif ringan infiltrasi lemak itu terdapat terutama di
segi taga Kirnan, lebih berat penyakitnya lebih banyak sel hati yang terisi dengan
lemak, sedangkan pada yang sangat berat perlemakan terdapat pada hamper semua
sel hati. Adakalanya terlihat juga adanya fibrosis dan nekrosis hati. 2

Anemia
Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita demikian. Bilamana kwashiorkor
disertai oleh penyakit lain, terutama ankylostomiasis, maka dapat dijumpai anemia
yang berat. Jenis anemia pada kwashiorkor bermacam-macam, seperti normositik
normokrom, mikrositik hipokrom, makrositik hiperkrom, dan sebagainya.
Perbedaan macam anemia pada kwashiorkor dapat dijelaskan oleh kekurangan
berbagai faktor yang mengiringi kekurangan protein, seperti zat besi, asam folat,
vitamin B12, vitamin C, tembaga, insufisiensi hormone, dan sebagainya. Macam
anemia yang terjadi menunjukkan faktor mana yang lebih dominan. Pada
pemeriksaan sumsum tulang sering ditemukan mengurannya sel system eripoitik.
Hipoplasia atau aplasia sumsum tulang demikian disebabkan terutama oleh
kekurangan protein dan infeksi menahun. 2

Kelainan biokimiawi darah


Ada hipotesis mengatakan bahwa pada penyakit kwashiorkor tubuh tidak dapat
beradaptasi terhadap keadaan baru yang disebabkan oleh kekurangan protein
maupun energi. Oleh sebab itu banyak perubahan biokimiawi dapat ditemukan pada
penderita kwashiorkor, misalnya:
o Albumin serum
Albumin serum yang merendah merupakan kelainan yang sering dianggap
spesifik dan sudah ditemukan pada tingkat dini, maka McLarena member angka

(skor) untuk membedakan kwashiorkor dan marasmus. Lebih rendah kadar


albumin serum, lebih tinggi pemberian angkanya. 2
o Globulin serum
Kadar globulin dalam serum kadang-kadang menurun akan tetapi tidak
sebanyak menurunnya albumin serum, hingga pada kwashiorkor terdapat rasio
albumin/globulin yang biasanya 2 menjadi lebih rendah, bahkan pada
kwashiorkor yang berat ditemukan rasio yang terbalik. 2
o Kadar kolesterol serum
Pada penderita kwashiorkor, terutama yang berat, kadar kolesterol darahnya
rendah. Mungkin saja rendahnya kolesterol darah disebabkan oleh makanan
sehari-harinya yang terdiri dari sayuran hingga tidak mengandung kolesterol,
atau adanya gangguan dalam pembentukan kolesterol dalam tubuh. 2
o Tes thymol turbidity(derajat kekeruhan)
Merupakan tes fungsi hati. Penentuan terhadap 109 penderita kwashiorkor
member hasil sebagai berikut : pada 73 penderita meninggi, sedangkan pada
selebihnya tidak. Tidak ditemukan korelasi antara tingginya kekeruhan dan
beratnya perlemakan hati maupun tingginya angka kematian, maka tes tersebut
tidak mempunyai nilai diagnosis maupun prognosis. 2
B Gejala klinis Marasmus
Marasmus dapat terjadi pada segala umur, akan tetapi yang sering dijumpai pada bayi
yang tidak mendapat cukup ASI dan tidak diberi makanan penggantinya atau sering
diserang diare. Marasmus juga dapat terjadi akibat berbagai penyakit lain, seperti
infeksi, kelainan bawaan saluran pencernaan atau jantung, malabsorbsi, gangguan
metabolic, penyakit ginjal menahun, dan juga pada gangguan saraf pusar. Perhaian ibu
dan pengasuh yang berlebihan sehingga anak dipaksa menghabiskan makanan yang
disediakan, walaupun jumlahnya jauh melampaui kebutuhannya, dapat menyebabkan

anak kehilangan nafsu makannya, atau muntah begitu melihat makanan atau formula
yang akan diberikannya. Adakalanya anak demikian menolak segala macam makanan
hingga pertumbuhannya terganggu. 2

Gambar 3. Manifestasi klinis marasmus

aPenampilan
Muka seorang penderita marasmus menunjukkan wajah seorang tua. Anak terlihat
sangat kurus (vel over been) karena hilangnya sebagian besar lemak dan ototototnya. 2

Perubahan mental
Anak menangis, juga setelah mendapat makan oleh sebab masih merasa lapar.
Kesadaran yang menurun (apati) terdapat pada penderita marasmus yang berat. 2

Kelainan pada kulit tubuh

Kulit biasanya kering, dingin, dan mengendor disebabkan kehilangan banyak lemak
dibawah kulit serta otot-ototnya. 2

Kelainan pada rambut kepala


Walaupun tidak sering seperti pada penderita kwashiorkor, adakalanya tampak
rambut kering, tipis dan mudah rontok. 2

Lemak dibawah kulit


Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit mengurang. 2

Otot-otot
Otot-otot atrofis, hingga tulang-tulang terlihat lebih jelas. 2

Saluran pencernaan
Penderita marasmus lebih sering menderita diare atau konstipasi. 2

Jantung
Tidak jarang terdapat bradikardi. 2

Tekanan darah
Pada umummnya tekanan darah penderita lebih rendah dibandingkan dengan anak
sehat seumur. 2

Saluran nafas
Terdapat pula frekuensi pernafasan mengurang. 2

Sistem darah
Pada umummnya ditemukan kadar hemoglobin yang agak rendah. 2

C Gejala klinis Marasmus-Kwashiorkor


Penyakit marasmus-kwashiorkor memperlihatkan gejala campuran antara penyakit
marasmus dan kwashiorkor. Makanan sehari-harinya tidak cukup mengandung protein
dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian, disamping
menurunnya berat badan di bawah 60% dari normal memperlihatkan gejala-gejala
kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan
biokimiawi terlihat pula. 2

Gambar 4. Manifestasi klinis Marasmus-Kwashiorkor


Gejala-gejala yang dialami oleh penyakit Marasmik-kwashiorkor dapat meliputi:
1. Rentan terkena infeksi pernafasan dan pencernaan

2. Adanya pembengkaan pada tubuh


3. pandangan mata terlihat sayur
4. Memiliki rambut tipis kemerahan
5. Mudah rewel
6. Otot mengcil
7. Adanya pembesaran hati
8. Sering terjadi infeksi yang akut.

6. KOMPLIKASI
Gizi buruk atau KEP berat seperti marasmus-kwashiorkor memiliki komplikasikomplikasi yaitu :

Perkembangan mental
Mwnurut Winick dan Rosso (1975) bahwa KEP yang diderita pada masa dini
perkembangan otak akan mengurangi sintesis protein DNA, dengan akibat
terdapatnya otak dengan jumlah sel yang kurang walaupun besarnya otak normal. Jika
KEP terjadi setelah masa divisi otak berhenti, hambatan sintesis protein akan
menghasilkan otak dengan jumlah sel yang normal namun dengan ukuran yang lebih
kecil. Dari hasil penelitian Karyadi (1975) terhadap 90 anak yang pernah menderita
KEP bahwa terdapat deifisit IQ pada anak-anak tersebut, deficit tersebut meningkat
pada penderita KEP lebih dini. Didapatkan juga hasil pemeriksaan EEG yang
abnormal mencapai 30 persen pada pemeriksaan setelah 5 tahun lalu meningkat
hinggal 65 persen pada pemeriksaan ulang 5 tahun setelahnya.2

Noma
Noma atau stomatitis gangrenosa merupakan pembusukan mukosa mulut yang
bersifat prograsif hingga dapat menembus pipi, bibir, dan dagu, biasanya disertai
nekrosis sebagian tulang rahang yang berdekatan dengan lokasi noma tersebut. Noma

merupakan salah satu penyakit yang menyertai KEP berat akibat imunitas tubuh yang
menurun, noma timbul umumnya pada tipe kwashiorkor. 2

Xeroftalmia
Merupakan penyakit penyerta KEP berat yang sering ditemui akibat defisiensi dari
vitamin A umumnya pada tipe kwashiorkor namun dapat juga terjadi pada marasmus.
Penyakit ini perlu diwaspadai pada penderita KEP berat karena ditakutkan akan
mengalami kebutaan.2

Kematian
Kematian merupakan efek jangka panjang dari KEP berat. Pada umumnya penderita
KEP berat menderita pula penyakit infeksi seperti tuberkulosa paru, radang paru lain,
disentri, dan sebagainya. Tidak jarang pula ditemukan tanda-tanda penyakit gizi
lainnya. Maka dapat dimengerti mengapa angka mortalitas pada KEP berat tinggi.
Daya tahan tubuh pada penderita KEP berat akan semakin menurun jika disertai

dengan infeksi, sehingga perjalanan penyakit infeksi juga akan semakin berat.
7. PROGNOSIS
Prognosis pada penyakit ini buruk karena banyak menyebabkan kematian dari
penderita akibat efeksi yang menyertai penyakit tersebut,tetapi prognosisnya dapat
dikatakan baik apabila malnutrisi di tangani secara tepat dan cepat.kematian dapat
dihindarkan apabila dehidrasi berat dan penyakiy infeksi kronis lain seperti tuberkolosis
atau hepatitis yang menyebabkan terjadinya hepatis dapat di hindari .pada anak yang
mendapatkan malnutrisu pada usia yang lebih dewasa.hal ini berbanding terbalik dengan
psikomotor anak yang mendapat penanganan malnutrisi lebih cepat. menurut
umurnya,anak lebih muda saat mendapat perbaikan keadaan gizinya akan cenderung
mendapatkan kesembuhan psikomotornya lebih sempurna di bandingkan anak yang lebih
tua,sekalipun telah mendapatkan penanganan yang sama.hanya saja pertumbuhan dan
perkembangan anak pernah mengalami kondisi marasmus ini cenderung lebih
lambat,terutama terlihat jelas dalam hal pertumbuhan tinggi badan anak dan pertambahan
berat badan anak,walaupun jika dilihat secara ratio berat dan tinggi anak berada dalam
batas yang normal.
8. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Albumin

Kreatinin
Nitrogen
ElektroliT
Hb
Ht
Transferin

9. PENGOBATAN
Makanan yang dibutuhkan oleh anak yang kurang gizi berat adalah ia harus makan, juga
menambah susu yang berprotein dan berenergi tinggi. Pembuatan susunya:

Timbanglah semua bahan untuk membuat makanan tersebut.

Minyak, gula dan susu diukur dengan sendok penuh.

Campurkan 80 gram susu bubuk skim, 60 gram minyak goreng, dan 50 gram gula.

Bila mungkin tambahkan 1 gram kalium klorida dan 0,5 g magnesium hidroksida.
Campuran ini dijadikan 1 liter.

Buatlah bubuk campuran antara susu dan gula, kemudian tambahkan minyak dan
aduklah. Campuran ini tahan 1 bulan dalam kaleng tertutup.

Tambahkan 7 sendok makan penuh cairan kedalam 500 ml air matang dingin.

Pastikan bahwa semua yang ada tersebut bersih

Bila tidak mempunyai susu bubuk skim, gunakan susu lain atau susu masak, juga dapat
diberi telur atau kacang-kacangan serta jagung, beras atau jewawut

Cara Pemberiannya: \
Bila mungkin biarkan anak minum susunya dari cangkir. Bila tidak mau, pakailah pipa
plastik dari hidung masuk kedalam lambungnya. Masukkan susu dengan tetesan atau semprit.
Dosis pemberiannya, berikan 150 ml/kg/hari. Bila menderita busung berikan 110 ml/kg/hari

sampai busungnya hilang. Berikan 6 kali dalam sehari. Pengobatan lainnya dapat diberikan
kapsul vit.
Tabel Perbedaan Ciri dan Tanda Marasmus dan Kwashiorkor.
Marasmus
1. Anak tua dan kecil
2 Rambut normal, warna
3

Kwashiorkor
Muka bulat
Rambut tidak normal,rambut

rambut hitam
Badan kurus, tidak ada

jagung mudah dicabut


Lengan bagian bawah

lapisan lemak

bengkak, pembesaran pada


hati,edema/bengkak pada

Kelihatan sangat lapar


Berat badan sangat kurang

kaki
Tidak lapar
Berat badannya kurang,

Kadang-kadang

walaupun tubuh tidak kurus


Lingkar lengan kurang

disertai mencret menahun dari 14 cm


Lingkar lengan lebih dari 14 Perut bengkak karena otot

cm
Mata cekung

4
5

perut lemah
Tampak sedih dan duduk
diam tidak bergerak dan
tidak tertarik ada sesuatu

atau apatis
Lebih aktif dan tidak apatis Terdapat ruam seperti cat tua
mengelupas pada kaki dan

10 Tidak ada busung

lengannya
Kulitnya tipis dan pucat atau

11

agak merah
Anemis

10. PENCEGAHAN

Tindakan pencegahan penyakit KEP bertujuan untuk mengurangi insidensi KEP


dan menurunkan angka kematian sebagai akibatnya. Usaha disebut tadi mungkin dapat
ditanggulangi oleh petugas kesehatan tanpa menunggu perbaikan status social dan ekonomi
golongan yang berkepentingan. Akan tetapi tujuan yang lebih luas dalam pencegahan KEP
ialah memperbaiki pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak-anak Indonesia
sehingga dapat menghasilkan manusia Indonesia yang dapat bekerja baik dan memiliki
kecerdasan yang cukup.
Ada berbagai macam cara intervensi gizi, masing-masing untuk mengatasi satu
atau lebih dari satu factor dasar penyebab KEP (Austin, 1981), yaitu :
1. Meningkatkan hasil produksi pertanian, supaya persediaan bahan makanan menjadi
lebih banyak, yang sekaligus merupakan tambahan penghasilan rakyat..
2. Penyediaan makanan formula yang mengandung tinggi protein dan tinggi energi untuk
anak-anak yang disiplin. Makanan demikian pada umumnya tidak terdapat dalam diet
tradisi, tetapi sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat pada anakanak berumur 6 bulan keatas. Formula tersebut dapat diberikan dalam program
pemberian makanan suplementer maupun dipasarkan dengan harga yang terjangkau oleh
masyarakat. Pembuatan makanan demikian juga dapat diajarkan pada masyarakat sendiri
3.

sehingga juga merupakan pendidikan gizi.


memperbaiki infrastruktur pemasaran. Infrastruktur pemasaran yang tidak baik akan

berpengaruh negative terhadap harga maupun kualitas bahan makanan.


4. subsidi harga bahan makanan. Interfensi demikian bertujuan untuk membantu mereka
yang sangat terbatas penghasilannya.
5. pemberian makanan suplementer. Dalam hal ini makanan diberikan secara cuma-cuma
atau dijual dengan harga minim. Makanan semacam ini terutama ditujukan pada anakanak yang termasuk golongan umur rawan akan penyakit KEP.
6. Pendidikan gizi. Tujuan pendidikan gizi ialah untuk mengajar rakyat mengubah
kebiasaan mereka dalam menanam bahan makanan dan cara menghidangkan makanan
supaya mereka dan anak-anaknya mendapat makanan yang lebih baik mutunya. Menurut
Hofvandel (1983), pendidikan gizi akan berhasil jika:
a. Penduduk diikutsertakan dalam pembuatan rencana, menjalankan rencana tersebut,
serta ikut menilai hasilnya;
b. Rencana tersebut tidak banyak mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun.
c. Anjuran cara pemberian makanan yang diulang pada setiap kesempatan dan situasi
d. Semua pendidik atau mereka yang diberi tugas untuk memberi penerangan pada

rakyat memberi anjuran yang sama


e. Mendiskusikan anjuran dengan kelompok yang terdiri dari para ibu serta anggota
masyarakat lainnya, sebab keputusan yang diambil oleh satu kelompok lebih mudah
dijalankan daripada oleh seorang ibu saja.
f. Pejabat kesehatan, teman-teman dan anggota keluarga memberi bantuan aktif dalam
mempraktekkan anjuran
9. PATOFLOW

10. DIAGNOSA KEPERAWATAN


a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b. Kekurangan volume cairan
c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan
d. Resiko aspirasi
e. Bersihan jalan nafas tidak efektif

11. INTERVENSI KEPERAWATAN


a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat,
anoreksia dan diare.
Intervensi :
1. Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi
pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang, tunjukkan
contoh jenis sumber makanan ekonomis sesuai status sosial ekonomi klien.
2. Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan keluarga
untuk melakukannya sendiri.
3. Laksanakan pemberian roborans sesuai program terapi.
4. Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap
pagi.
b. Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan
kehilangan akibat diare.
Intervensi :

1. Lakukan/observasi pemberian cairan per infus/sonde/oral sesuai program


rehidrasi.\
2. Jelaskan kepada keluarga tentang upaya rehidrasi dan partisipasi yang
diharapkan dari keluarga dalam pemeliharan patensi pemberian infus/selang
sonde.
3. Kaji perkembangan keadaan dehidarasi klien.
4. Hitung balans cairan.
c. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang
tidak adekuat.
Intervensi :
1. Ajarkan kepada orang tua tentang standar pertumbuhan fisik dan tugas-tugas
2.
3.
4.
5.

perkembangan sesuai usia anak.


Lakukan pemberian makanan/ minuman sesuai program terapi diet pemulihan.
Lakukan pengukuran antropo-metrik secara berkala.
Lakukan stimulasi tingkat perkembangan sesuai dengan usia klien.
Lakukan rujukan ke lembaga pendukung stimulasi pertumbuhan dan
perkembangan (Puskesmas/Posyandu)

d. Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan peningkatan


sekresi trakheobronkhial.
Intervensi :
1. Periksa dan pastikan letak selang sonde pada tempat yang semestinya secara
berkala.
2. Periksa residu lambung setiap kali sebelum pemberian makan-an/minuman.
3. Tinggikan posisi kepala klien selama dan sampai 1 jam setelah pemberian
makanan/minuman.
4. Ajarkan/demonstrasikan tatacara pelaksanaan pemberian makanan/ minuman
per sonde, beri kesempatan keluarga melakukan-nya setelah memastikan
keamanan klien/kemampuan keluarga.
5. Observasi tanda-tanda aspirasi.
e. Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder
terhadap infeksi saluran pernapasan
Intervensi :
1. Lakukan fisioterapi dada dan suction secara berkala.
2. Lakukan pemberian obat mukolitik/ekspektorans sesuai program terapi.
3. Observasi irama, kedalaman dan bunyi napas

http://dokumen.tips/documents/bab-ii-marasmus-kwashiorkor.html
https://idtesis.com/marasmik-kwashiorkor/
https://www.scribd.com/doc/127376545/BAB-II-Marasmus-kwashiorkor