Anda di halaman 1dari 11

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/280093621

ANALISIS BATAS UNTUK KESTABILAN LERENG


Article January 2004

CITATION

READS

157

1 author:
Budijanto Widjaja
Universitas Katolik Parahyangan
33 PUBLICATIONS 9 CITATIONS
SEE PROFILE

Available from: Budijanto Widjaja


Retrieved on: 08 August 2016

ANALISIS BATAS UNTUK KESTABILAN LERENG


Budijanto Widjaja
E-mail: widjaja@home.unpar.acid
Jurusan Teknik Sipil
Universitas Katolik Parahyangan
Jl. Ciumbuleuit 94, Bandung 40141, Indonesia

ABSTRAK: Berbagai metode seperti analisis keseimbangan batas, metode elemen hingga, dan
analisis batas digunakan dalam analisis kestabilan lereng. Masing-masing metode rnemberikan
hasil berupa solusi pendekatan semata dalam mensimulasikan perilaku tanah khususnya dalam
menjelaskan proses kelongsoran pada tanah yang bersifat progresif.
Salah satu metode yang representatif yang dipaparkan pada makalah ini adalah analisis batas.
Analisis ini rnemberikan solusi dalam suatu rentang tertentu. Rentang tersebut dibatasi oleh nilai
bawah dan nilai atas. Metode yang digunakan dalam hal ini adalah seperti yang diusulkan oleh
Michalowski (1995). Metode ini dapat digunakan untuk material lempung dan clayshale dalam
kondisi jangka pendek.
Untuk menjelaskan penggunaan metode Michalowski (1995) diberikan studi kasus yang diambil
pada lokasi Bukit Indoeement, Bukit Sentul, Bogor. Lokasi ini didominasi oleh clayshale dengan
tanah hasil pelapukan di atasnya setebal 2 - 4 m.
KATA KUNCI: analisis batas, analisis ketabilan lereng, metode Michalowski, clayshale

ABSTRACT: Several methods as limit equilibrium analysis, finite element method, and limit
analysis are used in slope stability analysis. Each method gives an approximate solution to
simulate soil behavior and to explain the progressive slope failure in soil slope.
There is a powerful tool which is described in this paper is limit analysis. This analysis gives a
solution in certain range. This range is limited by upper bound and lower bound. One model which
uses this analysis is proposed by Michalowski (1995). This method can be used in clay and
clayhale material.
To explain the Michalowski's method (1995), there is a case study which is located at Bukit
Indoeement, Bukit Sentul, Bogor. This location is dominated by clayshale with its weathering
product is 2-4 m thickness.
KEYWORDS: limit analysis, slope stability analysis, Michalowski's method, clayshale

PENDAHULUAN
Berbagai metode seperti analisis keseimbangan batas, metode elemen hingga, dan
analisis batas digunakan dalam analisis kestabilan lereng. Masing-masing metode
rnemberikan hasil berupa solusi pendekatan semata dalam mensimulasikan
perilaku tanah khususnya dalam menjelaskan proses kelongsoran pada tanah yang
bersifat progresif.
Salah satu metode yang representatif yang dipaparkan pada makalah ini adalah
analisis batas. Analisis ini rnemberikan solusi dalam suatu rentang tertentu.
Rentang tersebut dibatasi oleh nilai bawah dan nilai atas. Metode yang digunakan

Analisis Batas untuk Kestabilan Lereng (Widjaja)

L9

dalam hal ini adalah seperti yang diusulkan oleh Michalowski (1995). Metode ini
dapat digunakan untuk material lempung dan ciayshale dalam tinjauan jangka
pendek.
Untuk menjelaskan penggunaan metode Michalowski (1995) diberikan studi
kasus yang diambil pada lokasi Bukit Indocement, Bukit Sentul, Bogor. Lokasi ini
didominasi oleh ciayshale dengan tanah hasil pelapukan di atasnya setebal 2 - 4
m.

METODE-METODE ANALISIS
Metode Analisis Kesetimbangan Batas
Metode analisis yang umum digunakan pada tinjauan kestabilan lereng pada tanah
dan batuan karena alasan kemudahan adalah analisis kesetimbangan batas (AKB,
limit equilibrium analysis). Metode ini membutuhkan beberapa asumsi dalam
memodelkan mekanisme keruntuhan yang terjadi. Solusi pada umumnya berupa
suatu nilai faktor keamanan (FK), yang menggunakan beberapa persamaan
kesetimbangan. Solusi yang diperoleh pada metode ini umumnya berupa solusi
batas atas. Solusi yang diperoleh ini umumnya memberikan jawaban yang lebih
tinggi daripada kondisi beban nil. Hal ini terjadi karena mekanisme keruntuhan
yang terjadi di lapangan umumnya lebih efisien dan lebih nyata daripada yang
diasumsikan.
Terdapat kelemahan pada solusi yang dihasilkan. Kelemahan ini terletak pada
jumlah persamaan kesetimbangan yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah
variabel yang tidak diketahui. Oleh karena itu, dalam aplikasinya perlu dilakukan
determinasi dengan menghilangkan friksi yang terjadi antar baji. Pada analisis ini
pun, tidak dapat memodelkan bidang diskontinuitas pada lereng.
Ditinjau dari pemodelan tegangan terhadap regangan, keruntuhan akan segera
terjadi setelah mencapai tegangan geser puncak {peak strength). Namun demikian,
setelah mencapai tegangan puncak, kondisi lereng dimungkinkan terjadi
keruntuhan progresif di mana kuat geser yang dimobilisasi bisa jadi lebih rendah
daripada tegangan geser puncak.
Pada metode ini, tidak terdapat informasi deformasi yang terjadi sepanjang bidang
gelincir. Hal ini terjadi karena pemodelan ini didasarkan pada model massa tanah
yang umumnya dibagi dalam baji-baji sebagai material solid yang kaku. Hal ini
jelas mempengaruhi hasil dimana dapat memberikan nilai FK yang jauh lebih
tinggi daripada yang sesungguhnya terjadi. Hal ini memiliki kontradiksi dengan
kenyataan bahwa material tanah sendiri merupakan material yang bersifat
kompresibel.
Kelemahan lain dari AKB adalah kuat geser sepajang bidang keruntuhan
diasumsikan bekerja konstan. Pada kondisi sesungguhnya, nilai FK adalah
bervariasi sepanjang bidang keruntuhan akibat keruntuhan tanah yang bersifat
progresif.

20 Jurnal Teknik Sipil, Vol. 1, No. 1, Januari 2004:19-28

Pada metode AKB ini, FK diperoleh dengan cara membagi massa tanah menjadi
baji-baji di mana kuat geser tanah berada dalam kondisi yang seimbang. Cara
penentuan FK ini masih masuk akal mengingat bahwa dalam penentuan kuat
geser pun, harga kuat geser memiliki derajat ketidakpastian terbesar (Lowe,
1976).
Metode Elemen Hingga
Metode yang paling fleksibel digunakan adalah metode elemen hingga.
Pemodelan pada metode ini hampir serupa dengan model analisis batas namun
metode elemen hingga memerlukan diskretisasi elemen massa tanah.
Salah satu keuntungan metode ini adalah tidak dibutuhkannya asumsi ataupun
spekulasi letak titik pusat bidang gelincir yang kritis. Hal tersebut tercermin
dengan solusi berupa identifikasi bagian mana dari lereng yang telah mencapai
kondisi keruntuhan. Umumnya keruntuhan progresif dapat dimodelkan dalam
metode ini.
Analisis Batas
Salah satu metode yang jarang namun sangat bermanfaat digunakan pada analisis
kestabilan lereng adalah analisis batas (limit analysis). Analisis ini menggunakan
model karakteristik tegangan-regangan tanah atau batuan dengan memasukkan
kriteria keruntuhan tanah. Solusi yang diperoleh berupa batas atas dan batas
bawah.
Solusi berupa batas bawah memberikan jawaban yang lebih rendah dibandingkan
kondisi sesungguhnya. Solusi batas atas memberikan informasi beban keruntuhan
lebih rendah daripada beban yang berhubungan dengan mekanisme pergerakan
jika digunakan prinsip kerja virtual.
Analisis batas merupakan alat yang baik dalam menyelesaikan masalah stabilitas.
Dalam aplikasinya, analisis batas ini mampu memasukkan pemodelan material
yang bersifat non elastis seperti sifat material tanah itu sendiri. Kriteria yang
umum digunakan dapat berupa keruntuhan Mohr Coulomb ataupun teori
plastisitas.
Hasil yang diperoleh pada analisis batas berupa suatu rentang yang diapit oleh
batas atas dan batas bawah. Hal ini sebenarnya jauh lebih realistis dibandingkan
metode AKB dimana kondisi sesungguhnya terletak di antara rentang yang relatif
sempit itu. Namun, terdapat kesulitan dalam menentukan batas bawah dari
problem geoteknik ini.
Analisis batas digunakan untuk mengestimasi besarnya beban batas yang dapat
dinyatakan sebagai tinggi kritis atau FK. Solusi batas atas menggunakan
pendekatan mekanisme translasi dari blok kaku sehingga hasilnya
mendekati/serupa dengan metode AKB.

Analisis Batas untuk Kestabilan Lereng (Widjaja)

21

Oleh karena itu, Michalowski (1995) mengusulkan penggunaan analisis batas


dalam memasukkan rentang batas atas dan batas bawah. Hal ini dijelaskan pada
bagian berikut di bawah ini.
Metode Michalowski
Michalowski (1995) mengusulkan suatu analisis kestabilan lereng dengan
pendekatan analisis batas berupa keruntuhan rotasi dalam tinjauan tinggi kritis
(yH/C). Metode ini merupakan modifikasi dari metode Chen et al. (1969, 1971,
1975). Keruntuhan rotasi yang dimaksud di sini adalah mengikuti kurva log spiral.
Persamaan log spiral tersebut seperti pada Gambar 1 adalah mengikuti persamaan:
(0-0 o )tani>

(1)

di mana :
r = jari-jari spiral yang berhubungan dengan nilai 0
r0 = jari-jari sehubungan dengan sudut 0O

Gambar 1. Persamaan log spiral

Failure surface
(log-spiral)
Rigid rotation block

Gambar 2. Mekanisme longsoran (Michalowski, 1995)

22 Jurnal Teknik Sipil, Vol. 1, No. 1, Januari 2004:19-28

Formula yang diberikan oleh Michalowski (1995) untuk kondisi keruntuhan


berupa rotasi dengan bentuk log spiral adalah:
2(0h - ^ o ) t a n 0

FK ==
In l + 2 ^ - ^ - t a n 0 ( f 1 - f 2 - f 3 - f 4 )

(2)

di mana :
Y = tinggi kritis
c
H
r0

s\nfi
|sin(tf + eh)e{6-9^n
sin(/? - a)

sin(0h

- sm{a + 0Qj

(3)

H sm(fl + 0h)

-0o)

r0

sin/?

sin(c + 0h)

(4)

Harga fi hingga U tergantung atas bentuk geometri lereng dan sudut geser dalam
(Chen, 1975). Masing-masing harga tersebut adalah sebagai berikut:
- J ( 3 tan <f> cos 9h - s i n f y j e 3 ^ " ^ " ' - 3tan<z>cos0o - s i n 0 o ] ( 5 )

fx =-,

3(1 + 9 tan 2 <p)


2

h =

*-f

iJLs^
6 r0

//
\

oJ

6 rn

2cos<90

cos a sin(ar + 90)

+ eh)(2cos0heto.-*.)*n.

sin/?

cos 60

L
r0

cos a

H_cotfi

1 H
3 r

(6)

(<?-0o)tan<2>

(cot fi'+ cot fi)

(7)

(8)

Untuk memperoleh batas atas dan batas bawah diambil dengan mengaplikasikan
besaran kuat geser yang bekerja pada sisi-sisi baji. Besaran kuat geser yang
diambil berupa kuat geser termobilisasi penuh dan kuat geser sebesar nol sehingga
batas atas dan bawah dapat ditentukan.
Michalowski mengembangkan juga kurva-kurva desain berupa hubungan antara
yH/c terhadap kemiringan lereng dengan variasi sudut geser dalam. Kurva-kurva
tersebut dapat diaplikasikan untuk koefisien air pori (ru) dari 0 hingga 0.5.
Pengembangan kurva ini didasarkan pada kondisi permukaan tanah di atas lereng
adalah horisontal atau oc=0.

Analisis Batas untuk Kestabilan Lereng (Widjaja)

23

Pada Gambar 3, 4, dan 5 terlihat bahwa analisis batas memberikan suatu rentang
yang cukup baik. Terlihat pada gambar-gambar tersebut bahwa dengan aplikasi
metode Bishop dan Spencer, analisis batas memberikan harga berupa rentang
batas atas dan batas bawah. Metode Bishop dan Spencer tersebut didasarkan pada
analisis kesetimbangan batas.
r =0
u
100
Cp = 40*"

>H

Spencer (1967)
- Bishop (1955)
I i i i i i i

15

30

45

Chen (1975)
i i i i

60

i_

75

90

P (deg.)
Gambar 3. Hubungan antara kemiringan lereng dengan variasi sudut geser dalam
(Michalowski, 1995)
<3>

ru =0.25
30
1 ^ Translational mech.
|R' , *~ Rotational mech.

25

I l k Spencer (1967)
I l k Bishop (1955)

20
IB,

yli 15
c
10
5
0

=30

ISteJ^^C^

10
1

15

30

45

60

75

90

15

30

45

60

75

90

P (deg.)
Gambar 4. Tinggi kritis lereng untuk koefisien air pori ru = 0.25

24 Jurnal Teknik Sipil, Vol. I, No. 1, Januari 2004:19-28

ru = 0.50

15

30

45

60

75

15

30

45

60

75

90

L.

90

P (deg.)
Gambar 5. Tinggi kritis lereng untuk koefisien air pori r = 0.50

STUDI KASUS
Aplikasi metode Michalowski (1995) ini diterapkan pada lereng yang didominasi
oleh material clayshale. Lokasi penelitian berada di daerah Bukit Indocement,
Bukit Sentul. Bukit dengan lereng alami ini pada lapisan atasnya merupakan has;.l
pelapukan dari clayshale berupa lapisan lempung dengan ketebalan bervariasi
antara 2 - 4 m. Di bawah lapisan tersebut terdapat lapisan clayshale yang
memiliki nilai kuat tekan uniaksial (qu) bervariasi antara 23 - 149 kg/cm2.
Durabilitas lapisan clayshale tersebut bervariasi antara rendah hingga tinggi
(Gamble, 1971). Digunakan sebanyak dua buah potongan pada bukit tersebut
untuk diaplikasikan dengan metode Michalowski (1995).

Analisis Batas untuk Keslabilan Lereng (Widjaja)

25

R?1

B44

240

MA
q^lMTKfttgrri''*^.
Durabilitas"
Medlum-tlnggl ~~
2. Rating: 5.7

1. DurabilitasRendah
2. Rating: 3.]

200

Akhir pembora'n
Catalan :
1. Klasilikasi Gamble (1971)
2. Klasitikasi Franklin (1981)

190
200

400

600

800

1000

Jarak (m)
Gambar 7. Potongan bukit melalui melalui B6, B2, B41, B43, dan B44

26 Jurnal Teknik Sipil, Vol. 1, No. 1, Januari 2004:19-28

1200

300

500

600

Jarak (m)
Gambar 8. Profil durabilitas clayshale Bukit Sentul melalui B01, B02, B08, B09,B10, B l l ,
dan B12

Kondisi lereng yang ditinjau memiliki kemiringan lereng antara 2.4 hingga 8.
Parameter berat isi dan kuat geser dapat dilihat pada Tabel 1. Harga yH/c untuk
kondisi lereng ini berada dalam interval antara 0.12 hingga 0.31. Sedangkan nilai
kritis lereng (yH/c kritis) adalah sebesar 5.20. Secara umum, dapat dikatakan
bahwa lereng ini aman terhadap longsor.
Faktor yang belum dimasukkan dalam metode Michalowski ini berupa tingkat
durabilitas/pelapukan clayshale. Dalam kasus ini, secara umum lapisan clayshale
masih dilapisi oleh hasil pelapukannya sendiri.
Tabel 1. Tingkat keamanan lereng Bukit Indocement
Lokasi

H
2

t/m

YH/c

YH/C kriu,

Kondisi lereng

2.4

291

37

0.31

()
8

5.2

.iiii.in

2.4

242

12

0.12

5.2

aman

2.4

274

23

0.20

2.6

5.2

am.in

2.4

116

0.12

2.4

5.2

aman

i/m'

KESIIMPULAN
Metode Michalowski memberikan gambaran bahwa analisis batas relatif
memberikan perspektif yang lebih baik dan merupakan salah satu cara
dalam menjelaskan perilaku dan tingkat keamanan lereng. Lereng tersebut
dapat berupa tanah lempung dan clayshale.
Analisis batas pada metode Michalowski memberikan informasi bahwa
lereng pada daerah Bukit Indocement, Bukit Sentul berada dalam kondisi
aman. Hal ini didasarkan pada tinggi kritis lereng yang jauh lebih tinggi
dari pada kondisi aktual.

Analisis Batas untuk Kestabilan Lereng (Widjaja)

27

Hal yang belum dijelaskan pada metode Michalowski adalah pengaruh


kondisi pelapukan dan juga kondisi kuat geser pada laminasi clayshale
yang belum dimasukkan dalam analisis. Akan tetapi, dengan analisis batas
hal ini dapat diselesaikan.

REFERENSI
Laguros, J.G., Kumar, S. (1980). "Failure of Slopes Cut into Clayshales", 6'h Southeast Asian
Conference on Soil Engineering, 19 - 23 May 1980, 407-413.
Michalowski, R.L. (1995). "Stability of Slopes: Limit Analysis Approach", Reviews in
Engineering Geology, Volume X, Colorado: The Geological Society of America, 51-62.

28 Jurnal Teknik Sipil, Vol. 1, No. 1, Januari 2004:19-28