Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian pcristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik
oieh faktor alam dan/atau faktor nonalam ulah tangan manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda serta dampak psikologis.
Letak geografis Indonesia yang berada antara lempeng Euronesia dan
lempeng Euroasia menjadikan sebagian besar wilayah Indonesia rawan
terhadap bencana alam, kondisi ini merupakan ancaman yang sulit diprediksi
dengan perhitungan kapan, dimana, bencana apa yang terjadi, berapa kekuatan
bahkan kita tidak dapat memperkirakan estimasi korban jiwa maupun harta
benda. Indonesia merupakan negara dengan potensi bahaya (hazard potency)
yang sangat tinggi, beberapa potensi tersebut antara lain adalah gempa bumi,
tsunami, banjir, letusan gunung berapi, tanah longsor, angin ribut, kebakaran
hutan dan lahan. Terdapat 2 (dua) kelompok utama potensi bencana di wilayah
Indonesia yaitu potensi bahaya utama (main hazard) dan potensi bahaya ikutan
(collateral hazard). Potensi bahaya utama (main hazard) dapat dilihat antara
lain pada peta potensi bencana gempa di Indonesia yang menunjukkan bahwa
Indonesia adalah wilayah dengan zona gempa yang rawan, peta potensi
bencana tanah longsor, peta potensi bencana letusan gunung api, peta potensi
bencana banjir. Sedangkan peta potensi bencana ikutan (collateral hazard
potency) dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain bangunan yang
terbuat dari kayu, kepadatan bangunan dan kepadatan industri berbahaya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah pengembangan kawasan wisata dan aspek bencana ?
2. Apa tujuan dilaksanakannya analisis risiko bencana ?
3. Bagaimanakah analisis risiko bencana pada daerah pariwisata ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengembangan kawasan wisata dan aspek bencana
2. Untuk mengetahui tujuan dilaksanakannya analisis risiko bencana
3. Untuk mengetahui analisis risiko bencana pada daerah pariwisata

1.4 Sistematika Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengembangan Kawasan Wisata Dan Aspek Bencana
Pariwisata merupakan salah satu sector dan kegiatan yang mengalami
pertumbuhan pesat. Walaupun terdapat berbagai faktor eksternal yang kurang
menguntungkan perkembangan pariwisata, sampai saat ini pariwisata masih

dianggap sebagai sector yang mempunyai pertumbuhan yang pesat dan


memberikan kontribusi ekonomi bagi banyak negara maupun wilayah.
Kegiatan wisata dinilai semakin penting peranannya dalam mewujudkan
keberlanjutan dan kedinamisan kehidupan sosial dan perekonomian seharihari. Banyak penduduk yang terlibat dalam kegiatan pariwisata baik sebagai
wisatawan maupun pekerja. Hal ini dapat dilihat dari jumlah wisatawan, baik
wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara, yang secara bertahap
dan kontinu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Berdasarkan
laporan tahunan Organisasi Pariwisata Dunia, pariwisata internasional
mencapai 563 juta kedatangan pada tahun 1995 dan diperkirakan akan
mencapai 1,6 milyar kedatangan pada tahun 2020. Jumlah tersebut belum
termasuk wisatawan domestik yang jumlahnya bisa mencapai sepuluh kali
lipat dari jumlah wisatawan mancanegara (WTO,1999). Beberapa kawasan
mengalami pertumbuhan pesat baik jumlah pengunjungnya maupun
keragaman daya tarik yang ditawarkan.berbagai jenis bentang alam dan
fenomena sosial budaya dari berbagai negara atau daerah dimanfaatkan
sebagai daya tarik wisata untuk dinikmati penduduk local maupun penduduk
dari wilayah atau negara lain.
Pariwisata menjadi sumber pendapatan utama maupun penunjang bagi
masyarakat di beberapa kawasan wisata seperti di provinsi Bali, kawasan
wisata Pangandaran, Pelabuhan Ratu, Anyer (Serang),dll. Di beberapa negara
lain, pariwisata juga menjadi salah satu andalan pendapatan atau devisa negara
tersebut. Di Thailand, Kepulauan Karibia, Maldives dan beberapa pulau kecil
lainnya, pariwisata merupakan industry terbesar dan memberikan devisa yang
cukup besar bagi negara tersebut.
Pariwisata menciptakan keterkaitan, baik langsung maupun tidak
langsung, antar sector, antar kawasan wisata maupun antar daerah. Dari tahun
ke tahun makin bertambah sector yang memperoleh manfaat atau keuntungan
dari pariwisata, baik yang terdapat di kawasan setempat maupun di daerah
lain. Pariwisata Bali, misalnya memberikan manfaat kepada pengusaha
industri kecil dan kerajinan di beberapa daerah provinsi Jawa Timur maupun
Jawa Tengah serta beberapa daerah lain.

Kegiatan wisata, terutama yang berbasis sumberdaya alam, dapat


dikembangkan di kawasan pantai, pegunungan atau perbukitan tergantung
pada karakteristik lingkungan di wilayah tersebut. Negara-negara di sekitar
Samudera Hindia, dimana mempunyai kawasan pantai dan perairan yang
cukup luas, banyak yang memanfaatkan kawasan pantai sebagai resort
pariwisata. Hal ini dapat dilihat di Thailand (Phuket, Krabi, Phiphi,dll),
Malaysia (Penang dan Langkawi), Maldives, Andaman, Sri Lanka (Galle)
yang cukup lama mengembangkan kawasan pantai sebagai kawasan wisata
dan rekreasi. Setiap tahunnya tidak kurang dari sejuta wisatawan mengunjungi
kawasan tersebut. Pariwisata di kawasan ini telah memberikan manfaat yang
cukup besar, baik bagi wisatawan dari berbagai negara, penduduk local
maupun perekonomian di kawasan/negara tersebut. Sekitar sepertiga
penduduk

Amerika

Serikat

mengunjungi

pantai

setiap

tahunnya.

Pembangunan hotel dan rumah kedua lebih banyak dilakukan di kawasan


pantai.
Begitu pula di Indonesia, tidak sedikit kegiatan wisata yang dikembangkan
pada kawasan pantai seperti di P.Bali

(Kuta, Nusa Dua, Sanur,

Karangasem,dll), pantai barat Sumatera (Lampung, Bengkulu, Padang,dll) dan


beberapa pulau kecil (Nias, Siemelue, Weh, Buru, Kep.Seribu, Biak,dll),
Anyer,

Pelabuhanratu,

Pangandaran,

Bunaken,

Makasar,

Parangtritis,

Kawasan Pantura,dll. Beberapa kegiatan wisata juga dikembangkan di


kawasan perbukitan atau kawasan dengan kondisi topografi yang berat seperti
di kawasan Puncak, Bandung Utara, Bandung Selatan, Garut-Cipanas
(Mojokerto), Lawang, Kaliurang, Baturaden, Tawangmangu, dll. Kawasan
dengan kondisi topografi yang terjal/curam dapat menjadi daya tarik wisata
karena pemandangan/view yang bagus maupun kesegaran udara serta daya
tarik lain.
Pengembangan komponen pariwisata (daya tarik, akomodasi, fasilitas
penunjang, dll) pada beberapa kawasan bahaya alam dapat memicu timbulnya
bencana alam. Pembangunan fasilitas pariwisata (hotel,vila, akomodasi lain
serta restaurant, dll) pada lereng bukit karena pertimbangan keindahan
pemandangan dapat memicu timbulnya longsoran sehingga membahayakan
pengunjung, pekerja, penduduk sekitar maupun pelaku mobilitas di kawasan

tersebut. Terjadinya bencana pada beberapa kawasan wisata seperti di kawasan


wisata Puncak dan beberapa kawasan wisata lain memberikan gambaran
tentang pesatnya pembangunan tempat rekreasi yang kurang memperhatikan
daya dukung dan dampaknya terhadap lingkungan. Sejarah pengembangan
pariwisata menunjukkan bahwa cukup banyak kawasan wisata yang
berkembang atau dikembangkan pada kawasan dengan resiko bencana.
Beberapa kawasan wisata di sepanjang pantai, perbukitan, perairan, pernah
mengalami bencana baik yang bersumber dari kawasan wisata tersebut
maupun dari kawasan lain.
Pemanfaatan pantai untuk pariwisata atau rekreasi memberikan tekanan
pada kondisi lingkungan pantai. Hal ini dapat pula dilihat pada beberapa
kawasan pantai dimana kegiatan pariwisata di kawasan pesisir telah memicu
pertumbuhan pemukiman khususnya rumah peristirahatan. Pada waktu
tertentu, jumlah pengunjung kadang-kadang melebihi jumlah penduduk local.
Pengunjung tidak hanya berasal dari wilayah setempat tetapi juga dari kotakota sekitar dan dari negara lain. Kegiatan wisata di pantai dapat merusak
lingkungan yang rapuh dan sensitive, menggusur vegetasi penutup (mangrove
maupun vegetasi pantai lainnya, dll) dan meningkatkan erosi ole angin. Akhirakhir ini sering dijumpai adanya polusi suara dan perairan oleh jetski di
kawasan pantai.
Mengingat peran pariwisata yang cukup penting bagi peningkatan kualitas
hidup manusia serta pengembangan kawasan, wilayah maupun kota maka
berbagai upaya perlu dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan
kinerja dan peran pariwisata dalam berbagai bidang kehidupan atau kegiatan
tersebut. Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat memperkecil kerentanan
kawasan wisata terhadap bencana sehingga memperkecil jumlah kerugian dan
korban jiwa serta kerusakan apabila terjadi bencana.

2.2 Tujuan Analisis Risiko Bencana


Pengurangan

Risko

Bencana

dimaknai

sebagai

sebuah

proses

pemberdayaan komunitas melalui pengalaman mengatasi dan menghadapi


bencana yang berfokus pada kegiatan partisipatif untuk melakukan kajian,

perencanaan, pengorganisasian kelompok swadaya masyarakat, serta pelibatan


dan aksi dari berbagai pemangku kepentingan, dalam menanggulangi bencana
sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana. Tujuannya agar komunitas mampu
mengelola risiko, mengurangi, maupun memulihkan diri dari dampak bencana
tanpa ketergantungan dari pihak luar. Dalam tulisan siklus penanganan
bencana kegiatan ini ada dalam fase pra bencan
Fokus kegiatan Pengurangan Risiko Bencana secara Partisipatif dari
komunitas dimulai dengan koordinasi awal dalam rangka membangun
pemahaman bersama tentang rencana kegiatan kajian kebencanaan, yang
didalamnya dibahas rencana pelaksanaan kajian dari sisi peserta, waktu dan
tempat serta keterlibatan tokoh masyarakat setempat akan sangat mendukung
kajian analisa kebencanaan ini. Selain itu juga di sampaikan akan Pentingnya
Pengurangan Risko Bencana mengingat wilayah kita yang rawan akan
bencana.
Setelah ada kesepakatan dalam koordinasi awal maka masyarkat
melakukan kegiatan PDRA ( Participatory Disaster Risk Analysis / Kajian
Partisipatif Analisa Bencana ). Kegiatan ini selain melibatkan masyarakat,
Tokoh masyarakat juga kader posyandu dan PKK dusun, dengan kata lain
semua unsur di masyarakat yang ada dilibatkan. Dalam kegiatan ini dijelaskan
maksud dan tujuan kegiatan kajian dan analisa kerentanan, ancaman dan
resiko kebencanaan.

2.3 Analisis Risiko Bencana pada Daerah Pariwisata


Risiko bencana dinilai berdasarkan ada atau tidaknya ancaman pada
suatu daerah, besar kecilnya tingkat kerentanan faktor fisik/infrastruktur,
penduduk, dan sosial-ekonomi serta seberapa kuat atau lemah kapasitas
masyarakat untuk melakukan pencegahan, adaptasi maupun mitigasi dalam
rangka meminimalkan korban dan kerugian akibat bencana. Kerangka
penilaian risiko tersebut didasarkan pada tiga buah elemen utama kegiatan
penilaian risiko bencana: ancaman, kerentanan dan kapasitas. Masing-

masing komponen memiliki peranan tersendiri dalam menentukan tingkat


risiko, sehingga perlu dilakukan analisis untuk memperoleh nilai risiko
sebagai kombinasi dari semua elemen tersebut. Untuk itu, akan digunakan
metode AHP untuk memberikan proporsi bobot yang sesuai dengan peran
masing-masing komponen tersebut.
1. Ancaman/bahaya
Ancaman adalah peristiwa atau kejadian baik disebabkan oleh faktor alam
(seperti letusan puting beliung, banjir, gempabumi dan lainnya) maupun faktor
non-alam (seperti konflik sosial, tawuran, dan lain sebagainya) yang
berpotensi menimbulkan kerugian apabila terjadi bencana. Ancaman/bahaya
dapat dikategorikan dalam kelas-kelas sesuai dengan tingkat ancaman yang
ditimbulkannya pada kelompok masyarakat. Semakin tinggi nilai ancaman,
semakin besar pula potensi terjadinya kerusakan dan jatuhnya korban jiwa.
Untuk memudahkan penilaian risiko, biasanya dibuat tiga buah kelas yang
menyatakan tingkat ancaman yang rendah (atau tidak ada ancaman), sedang
dan tinggi. Masing-masing ancaman memiliki ciri-ciri yang berbeda.
Sebagai contoh, Banjir dapat dikelaskan menjadi tiga kelas sesuai
dengan tingkat bahayanya: banjir yang melanda suatu desa, memiliki
ketinggian air yang rendah dan lama genangan yang singkat dapat
dikategorikan bahwa tingkat ancaman banjir di desa tersebut adalah rendah.
Sebaliknya, apabila di desa lain terkena banjir dengan ketinggian air yang
cukup tinggi dan menggenang cukup lama, maka dapat dinyatakan bahwa
ancaman banjir di desa ini adalah tinggi. Contoh lainnya adalah Letusan
Puting beliung yang dapat dikelaskan menjadi tiga buah kelas berdasarkan
Kawasan Rawan Bencana (KRB) nya.

Tabel: Jenis Ancaman pada Peta Risiko Bencana (Perka BNPB No 2 th 2012)
No.
1
2
3
4
5
6

Jenis Ancaman
Banjir
Gempa Bumi
Tsunami
Kebakaran Pemukiman
Kekeringan
Cuaca Ekstrim
7

No.
8
9

Jenis Ancaman
Letusan Puting beliung
Gelombang Ekstrim

10
11
12
13

Abrasi
Kebakaran Hutan dan Lahan
Kegagalan Teknologi
Konflik Sosial
Epidemi
dan
Wabah

dan

Penyakit
7

Tanah Longsor
Karena sifatnya yang kompleks, penilaian ancaman seringkali harus

diserahkan kepada para ahli yang bersangkutan. Sebagai contoh, pada bencana
gempa, penentuan kelas ancaman rendah, sedang dan tinggi sebaiknya
dilakukan oleh ahli geologi dan kegempaan. Data untuk ancaman biasanya
diperoleh dari instansi-instansi terkait atau dari perguruan-perguruan tinggi.
2. Kerentanan
Apabila terjadi bencana, maka pada suatu desa yang penduduknya padat
akan mengalami kerugian yang lebih banyak dibandingkan dengan desa lain
yang penduduknya relatif tidak padat. Kondisi ini menggambarkan apa yang
dimaksud dengan kerentanan: Kerentanan merupakan kondisi dari suatu
komunitas

atau

masyarakat

yang

mengarah

atau

menyebabkan

ketidakmampuan dalam menghadapi bencana. Semakin rentan suatu


kelompok masyarakat terhadap bencana, semakin besar kerugian yang dialami
apabila terjadi bencana.
Sebagaimana ancaman, kerentanan juga dapat dikategorikan dalam tingkat
rendah, sedang dan tinggi. Sebuah desa dikatakan memiliki tingkat
kerentanan yang tinggi apabila di desa tersebut banyak kondisi-kondisi yang
rentan mengalami kerusakan saat terjadi bencana, dan sebaliknya, sebuah desa
dikatakan memiliki kerentanan yang rendah apabila desa tersebut hanya
memiliki sedikit kondisi-kondisi yang rentan. Kondisi-kondisi rentan ini dapat
diketahui melalui adanya indikator-indikator kerentanan pada desa tersebut.
Kerentanan dapat dibagi menjadi 4 macam komponen berdasarkan pada
indikator tersebut, yaitu kerentanan fisik, kerentanan ekonomi, kerentanan
sosial-budaya dan kerentanan lingkungan.
Tabel: Contoh Indikator Komponen Kerentanan
No

Komponen
Kerentanan

Penjelasan

Contoh Indikator

Ukuran kerentanan sarana


1

Kerentanan Fisik

dan prasarana pada suatu


daerah terhadap kejadian
bencana

Kepadatan rumah
Jumlah bangunan
Jumlah Fasilitas penting
Kepadatan penduduk

Ukuran kondisi rentan pada


2

Kerentanan Sosial- unsur


Budaya

sosial-

kemasyarakatan

terhadap

Rasio Jenis Kelamin


Rasio penduduk difabel
Rasio kelompok umur
Jumlah

kejadian bencana

berisiko

Ukuran seberapa kuat suatu


3

Kerentanan

komunitas bertahan secara

Ekonomi

ekonomi

menghadapi

kejadian bencana

penduduk
(ibu

hamil,

dsb)
Luas lahan produktif
Keberadaan

industri

kecil dan menengah


Adanya

kelompok

pertokoan
Ukuran
4

Kerentanan
Lingkungan

seberapa

kuat

lingkungan hidup di suatu Luas Hutan Lindung


komunitas

bertahan Luas hutan alam

menghadapi

kejadian Adanya Rawa-rawa

bencana
Dengan menggunakan indikator-indikator dari masing-masing komponen
seperti pada contoh di atas, dapat diketahui tingkat kerentanan pada suatu unit
analisis (misalnya desa). Apabila hasil dari semua indikator kerentanan yang
ada pada suatu desa dijumlahkan, maka dapat diperoleh ukuran seberapa
rentan desa tersebut terhadap bencana.

Gambar: Diagram Komponen Kerentanan

Dalam prakteknya nanti, masing-masing komponen diberikan penilaian


kerentanan yang berbeda untuk tiap kejadian bencana yang berbeda. Sebagai
contoh pada kejadian gempa bumi, kerentanan lingkungan mungkin tidak
terlalu signifikan dibandingkan dengan kerentanan fisik karena gempa hanya
sedikit berpengaruh pada tegakan hutan dibandingkan pada bangunan di
daerah pemukiman.
3. Kapasitas
Kapasitas merupakan kebalikan dari kerentanan: apabila kerentanan
menggambarkan seberapa rapuh suatu komunitas masyarakat terhadap
bencana, maka kapasitas menggambarkan seberapa mampu komunitas
masyarakat tersebut menghadapi bencana. Sebuah desa yang dilengkapi
dengan peralatan Early Warning System dan memiliki Tim Siaga Bencana
sendiri tentu lebih siap menghadapi bencana dibandingkan dengan desa yang
tidak memiliki keduanya. Demikianlah kapasitas digunakan untuk mengukur
tingkat kesiapan tersebut.
Sebagaimana kerentanan, kapasitas juga terdiri dari beberapa komponen
yang terdiri dari indikator-indikator kapasitas untuk mengukur tingkat
kapasitas unit analisis yang ditanyakan. Dari hasil penilaian terhadap
indikator-indikator tersebut dapat disimpulkan tingkat kapasitas dari unit
analisis yang dimaksud: apakah rendah, sedang, atau tinggi.

10

Tabel: Contoh Indikator Komponen Kapasitas (Perka BNPB No. 2/2012)


No

Komponen

Penjelasan

Kapasitas

Contoh Indikator
Adanya Tagana

Ukuran seberapa siap unit Anggaran khusus untuk


Aturan
1

dan

kelembagaan

analisis

dalam

hal

penanggulangan

peraturan-peraturan

dan

bencana

keberadaan dan fungsi dari Ada struktur organisasi

kebencanaan

lembaga-lembaga

yang

menanggulangi bencana

yang berfungsi untuk


menangani

kondisi

darurat saat bencana


Ada sistem peringatan
dini yang berfungsi
Mengukur seberapa siap
Peringatan
2

dini

dan kajian risiko


bencana

unit analisis menghadapi


bencana dari keberadaan
mekanisme peringatan dini
dan penerapan kajian risiko
bencana di daerah tersebut

Telah ada jalur evakuasi


yang akan digunakan
pada

saat

kejadian

Keberadaan

kajian-

bencana

kajian mengenai risiko


bencana

di

daerah

tersebut

dan

penerapannya
Mengukur seberapa kuat
suatu komunitas apabila
3

Pendidikan

terjadi

bencana

Kebencanaan

ada/tidaknya

pendidikan

kebencanaan

di

Pengurangan

tersebut
Mengukur

faktor risiko dasar

dasar

yang

melalui
daerah

Pendidikan
kebencanaan
anak-anak sekolah
Ada simulasi kejadian
bencana

faktor-faktor Adanya
diperlukan

sarana-

prasarana

untuk bertahan pada saat

mendukung

terjadinya bencana

ekonomi
tersebut

11

untuk

yang
aktivitas
di

daerah

Ada/tidaknya

fasilitas

kredit untuk membantu


ekonomi masyarakat
Ukuran tingkat komunikasi Ada komunikasi antar
dan

Pembangunan
5

Kesiapsiagaan
semua lini

di

kerjasama

antar

komponen yang bertugas


pada

saat

terjadi bencana.

menangani bencana
untuk komunikasi pada
saat terjadi bencana

Sebagaimana kerentanan, tingkat kapasitas unit analisis juga dapat diketahui


setelah melalui proses skoring indikator dari masing-masing komponen.

Gambar: Diagram Komponen Kapasitas


4. Risiko
Tingkat risiko merupakan nilai yang dicari pada pemetaan risiko, yaitu
seberapa rendah, sedang atau tinggi risiko tersebut. Dengan mengetahui
tingkat risiko pada suatu daerah, akan dapat diperoleh gambaran seberapa
besar risiko yang diperkirakan akan dialami apabila terjadi bencana. Risiko
merupakan fungsi dari Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas. Berikut
ilustrasinya:
Semakin besar ancaman, maka tingkat risiko yang ditimbulkan juga akan
semakin besar. Semakin luas daerah genangan banjir menunjukkan tingkat
risiko yang semakin tinggi pula.
***

12

yang

kelompok Media yang digunakan

mengawal
masyarakat

lembaga

Semakin besar kerentanan, maka tingkat risiko yang ditimbulkan juga akan
semakin besar, karena semakin rentan suatu komunitas maka risiko timbulnya
korban jiwa dan kerugian materil juga akan semakin besar.
***
Semakin besar kapasitas, maka tingkat risiko akan semakin kecil, sebab
semakin siap sebuah komunitas dalam menghadapi bencana, maka
kemungkinan timbulnya korban jiwa maupun kerusakan materil akibat
bencana juga akan semakin kecil.
Hubungan tersebut juga dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan matematis:
Risiko (R) = Ancaman (H) * Kerentanan (V)/Kapasitas(C)

dimana:
R : Disaster Risk

: Risiko Bencana, potensi terjadinya kerugian

H : Hazard Threat

: Ancaman bencana yang terjadi pada suatu lokasi.

V : Vulnerability

: Kerentanan suatu daerah yang apabila terjadi


bencana maka akan menimbulkan kerugian

C : Coping Capacity

: Kapasitas yang tersedia di daerah itu untuk


melakukan

pencegahan

atau

pemulihan

dari

bencana.
Analisis risiko dilakukan dalam beberapa tahap sesuai dengan data yang
dimiliki. Berikut adalah beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk
melakukan analisis risiko:

13

Gambar: Diagram analisis risiko bencana


Unit analisis risiko merupakan satuan terkecil dimana analisis risiko dilakukan
(Aditya, 2010). Berdasarkan Peraturan Kepala (Perka) BNPB No. 2 Tahun
2012, unit analisis memiliki ketentuan tingkat kedetailan analisis (kedalaman
analisis) yaitu:
a. Peta risiko di tingkat nasional minimal hingga kabupaten/kota,
b. Kedalaman analisis peta risiko di tingkat provinsi minimal hingga
kecamatan,
c. Kedalaman analisis peta risiko di tingkat kabupaten/kota minimal
hingga tingkat kelurahan/desa/kampung/nagari
Setelah berhasil mengidentifikasi daerah mana saja yang memiliki tingkat
risiko tinggi, selanjutnya dapat disusun rencana aksi yang dapat dilakukan
pada daerah tersebut untuk mengurangi risiko bencana. Rencana aksi ini dapat
berupa:
1) Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat di daerah yang dimaksud
agar mampu menghadapi bencana, seperti melalui kegiatan pelatihan dan

14

simulasi kebencanaan, pembangunan Sistem Peringatan Dini, pembuatan


jalur evakuasi, pengadaan alat komunikasi, dan seterusnya.
2) Pengurangan kerentanan, seperti membangun pusat kesehatan masyarakat,
mendirikan koperasi, usaha-usaha mitigasi seperti pembangunan sabo
dam, dan seterusnya.
Pada sebuah kegiatan penanggulangan bencana yang terpadu, hasil hitungan
dan identifikasi risiko perlu diwujudkan dalam program nyata penanggulangan
bencana. Program tersebut selain berupa rencana aksi juga perlu dilengkapi
dengan stakeholder yang bertanggungjawab melakukan program-program
tersebut, juga estimasi biaya dan target capaian program.
Tabel: Contoh dari rencana aksi (Aditya, 2010)

5. Multi-Risiko
Untuk mendapatkan hitungan yang lebih akurat mengenai potensi risiko di
suatu daerah, perlu dilakukan analisis multi-risiko. Analisis multi-risiko
menggabungkan hasil hitungan risiko dari berbagai kejadian bencana pada
suatu daerah sehingga diperoleh akumulasi hitungan risiko pada daerah
tersebut. Pada Perka BNPB No. 2 tahun 2012, analisis multi risiko dapat
dilakukan menggunakan pembobotan pada beberapa jenis kejadian bencana
yang diidentifikasi.
Tabel: Hitungan multi-risiko bencana (Perka BNPB No.2 tahun 2012)

15

Dengan demikian, hitungan multi-risiko dapat dinyatakan sebagai fungsi


penjumlahan dan perkalian bobot dari masing-masing risiko bencana. Hal ini
dilakukan dengan menggunakan analisis AHP.
6. Analytic Hierarchy Process (AHP)
Dengan mengetahui berbagai komponen yang mempengaruhi nilai suatu
risiko pada daerah tertentu, maka dapat dilakukan analisis untuk mengetahui
peranan keseluruhan komponen tersebut terhadap nilai risiko yang dihasilkan.
Analisis Proses Berjenjang (AHP) merupakan proses analisis yang
menggunakan

pendekatan

Multicriteria

Decision

Analysis

(MCDA),

dilakukan dengan cara melakukan evaluasi berbobot terhadap berbagai


komponen yang mempengaruhi suatu variable secara berjenjang (hierarkhis).
Dalam hal ini, bobot masing-masing komponen ditentukan secara relatif, yaitu
suatu komponen yang dianggap memiliki pengaruh lebih besar akan diberikan
bobot yang lebih besar secara berjenjang, dan demikian sebaliknya, komponen
dengan pengaruh yang tidak terlalu besar akan diberikan nilai bobot yang
tidak terlalu besar pula.

16

Gambar: Mekanisme AHP (sumber: www.emeraldinsight.com)


Pada kegiatan penilaian risiko, AHP digunakan untuk memberikan bobot pada
masing-masing elemen risiko (ancaman, kapasitas dan kerentanan) yang
masing-masing dipengaruhi oleh berbagai komponen turunan. Dengan
menggunakan AHP, akan diperoleh nilai risiko yang diwakili oleh semua
komponen yang teridentifikasi, sesuai dengan bobot masing-masing.

Gambar: AHP dalam penilaian Risiko (Sumber: http://miavita.brgm.fr/)


Dalam kerangka analisis spasial untuk penentuan nilai risiko, penilaian
AHP dilakukan dengan memberikan bobot yang berbeda untuk tiap atribut

17

pada zona yang berbeda. Sebagai contoh, sebuah daerah erupsi gunung berapi
dapat dibagi menjadi tiga buah zona berdasarkan tingkat bahayanya. Pada
zona paling berbahaya diberikan bobot yang lebih tinggi, sedangkan pada zona
yang tidak terlalu berbahaya diberikan nilai bobot yang tidak terlalu tinggi
pula. Dengan melakukan analisis multikriteria secara berjenjang akan
diperoleh nilai risiko yang cukup representatif sesuai dengan bobot komponen
yang diberikan.

BAB III

18

PENUTUP
3.1 Simpulan
Mengingat tingginya tingkat kejadian bencana di Indonesia, perencanaan
yang berkelanjutan dalam penanggulangan bencana menjadi suatu kebutuhan
yang harus dipenuhi oleh tiap kabupaten/kota di Indonesia. Peta multi-risiko
bencana dapat digunakan dalam siklus penanggulangan bencana sebagai
masukan dalam kegiatan penguatan kapasitas dan pengurangan risiko bencana.
Peta multi-risiko bencana dapat dibuat menggunakan perangkat lunak bebas
dan terbuka, yang dalam tugas ini ditunjukkan dengan QGIS. Metode
penilaian menggunakan AHP diperlukan untuk mendistribusikan peran yang
sesuai dengan masing-masing indikator. Pemberian bobot perlu mengacu pada
sebuah aturan yang baku namun fleksible, sehingga memungkinkan
dilakukannya adaptasi pada parameter yang ada agar dapat disesuaikan dengan
ketersediaan data yang ada. Hasil analisis risiko dapat digunakan untuk
membantu pengambilan keputusan dan perencanaan yang berkelanjutan dalam
upaya untuk mengurangi risiko dari beberapa kejadian bencana pada suatu
daerah.
3.2 Saran
Diharapkan daerah yang merupakan kawasan rawan bencana (KRB)
melakukan analisis risiko bencana untuk mengurangi dampak kerugian yang
ditimbulkan dari bencana.

19