Anda di halaman 1dari 7

SIALOLITHIASIS

DEFINISI
Sialolithiasis (batu saliva) merupakan satu dari kondisi patologi saliva yang
paling sering terjadi. Sialolith merupakan struktur yang terkalsifikasi yang timbul
di dalam sistem duktus glandula saliva mayor atau minor. Sialolithiasis dapat
menyebabkan terjadinya sialoadenitis kronis rekuren, dan sering menyebabkan
sialadenitis akut supuratif. Batu saliva biasanya terdiri dari kalsium inorganik dan
garam sodium fosfat. Debrisnya dapat mengandung mukus yang kental, bakteri,
sel epitel duktus atau benda asing.
80% batu saliva terdapat di glandula atau duktus submandibula, 10%
terdapat di glandula parotis, 7% di glandula sublingual dan sisanya terdapat di
glandula saliva minor.

ETIOLOGI dan EPIDEMIOLOGI


Penyebab sebenarnya dari pembentukan sialolith tidak diketahui, tetapi
terdapat tiga faktor etiologi primer, antara lain:
1. Kondisi neurohumoral, dapat menyebabkan stagnasi saliva,
2. Nidus atau matrix untuk pembentukan batu saliva, dan
3. Mekanisme metabolik memudahkan aliran garam saliva masuk kedalam
matrix disertai dengan adanya proses inflamasi.

Sialolithiasis muncul pada pria dua kali lebih sering dibandingkan pada
wanita. Terdapat insidensi tertinggi yaitu pada usia 30-50 tahun, dan glandula
submandibula merupakan daerah yang paling sering terlibat, yaitu sebesar 80%.

Peningkatan

insidensi

dalam

pembentukan

sialolith

pada

glandula

submandibula terjadi karena beberapa faktor:


1. Tingginya viskositas sekresi.
2. Aliran saliva yang lambat karena duktusnya yang panjang.
3. Saliva harus mengalir keatas, melawan gravitasi untuk mencapai orifice.

4. Sering terjadi trauma pada duktus.


5. Duktus dari glandula submandibula yang berliku-liku.
Ph saliva pada glandula submandibula adalah 6,8-7,1 yang produknya
lebih bersifat alkaline bila dibandingkan dengan glandula parotid yang produknya
lebih bersifat asam. Sebagai tambahan, glandula submandibula lebih banyak
mengandung garam kalsium dan fosfat yang membentuk apatit. Produk yang
bersifat

alkaline

dan

banyak

mengandung

garam

kalsium

fosfat

akan

menyebabkan pengendapan dari garam-garam ini.


Mukus glandula submandibula dan sekresinya lebih kental daripada
glandula parotis. Duktus kelenjar submandibula lebih panjang dan terletak lebih
kebawah dari orificenya, menyebabkan seringnya terjadi stagnasi saliva pada
duktus yang dapat menyebabkan pembentukan kalkuli.

TANDA DAN GEJALA


Tanda klinis dari sialolith bervasiasi. Kadang-kadang, tidak terdapat gejala
subjektif, seperti pada kasus-kasus yang sialolithnya ditemukan secara tidak
sengaja pada saat pemeriksaan radiografi atau pada saat palpasi rutin pada
glandula dan duktus pasien saat pemeriksaan awal.
Pada kasus lain, pasien mengeluhkan adanya rasa sakit saat menelan
yang kadang timbul pada saat makan. Kadang pasien melaporkan keluarnya
kalkuli kecil dari duktus secara spontan. Penemuan yang paling sering pada
pemeriksaan adalah adanya titik nyeri di daerah hilus atau di dekat duktus
Wharton pada glandula submandibula.
Bila perawatan tidak segera dilakukan, akan ditemukan eksaserbasi, yang
ditandai dengan proses akut supuratif disertai manifestasi sistemik. Pus dapat
keluar dari orifice duktus.
Mukosa disekitar duktus mengalami inflamasi, biasanya dasar mulut
membengkak, merah dan sakit. Glandula membesar, lembut dan tegang. Palpasi
pada glandula dan duktus akan menyebabkan rasa sakit dan mengalirnya pus.
Sialolith

glandula

minor

biasanya

asimptomatik,

tetapi

kadang

menimbulkan pembengkakan lokal dan lembut disekitar glandula yang terlibat.

DIAGNOSIS
Diagnosis biasanya dilakukan dengan palpasi dan pencitraan digital.
Sialografi memegang peran penting dalam mengidentifikasi lokasi kalkuli.
Pemeriksaan klinis pasien yang diduga menderita sialothiasis harus meliputi
palpasi ekstraoral pada glandula saliva mayor dan palpasi bimanual pada sistem
duktus dengan pengamatan simultan untuk aliran saliva, baik jumlahnya
maupun konsistensinya.
Sialolith sering ditemukan pada duktus mandibularis di dasar mulut, bisa
dilihat, dipalpasi ataupun difoto secara radiografis. Sialolit bisa terbentuk pada
glandula saliva minor. Daerah yang sering terkena adalah bibir atas. Bila batu
saliva terjadi dalam glandula, maka diagnosisnya sangat bergantung pada
pemeriksaan foto rontgen.
Sialografi, ultrasound, dan computed tomography (CT) scanning dapat
membantu menggambarkan sialolith. Sialografi merupakan pengenalan dari
media kontras radioopaque yang di masukan ke dalam orifice salah satu
glandula saliva mayor melalui suatu kanul. Media yang digunakan adalah semua
larutan yang mengandung iodine (biasanya larutan garam iodine yang rendah
osmolalitasnya). Kontras dimasukan perlahan-lahan sampai rasa tidak nyaman
dirasakan oleh pasien. Biasanya dua gambar dibuat dengan sudut yang berbeda
(tampak lateral dan antero-posterior). Setelah itu, kanul diangkat dan gambaran
ddrainase

didapatkan,

biasnaya

setelah

stimulasi

dengan

menggunakan

sialogogue (misalnya larutan asam citric, jus lemon.


Ultrasound merupakan transducer frekuensi tinggi yang digunakan untuk
mendapatkan gambar glandula dalam berbagai bidang. Bila lesi seluruhnya
terlihat

dengan

ultrasound

dan

tidak

ada

kecenderungan

keganasan,

pemeriksaan menggunaan ultrasound cukup berguna untuk rencana perawatan


bedah.
Computed Tomography (CT) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI)
digunakan bila semua pemeriksaan diatas tidak dapat dilakukan (dengan alasan
visualisasi yang kurang komplit dan/atau adanya dugaan keganasan).

GAMBARAN HISTOPATOLOGI
Pada pemeriksaan kasar, sialolith tampak berupa massa padat yang bulat,
ovalatau silindris. Biasanya berwarna kuning, meskipun demikian ada juga yang
berwarna putih atau kuning kecoklatan. Batu submandibula cenderung lebih
besar daripada batu galndula parotis atau glandula minor. Sialolith biasanya
hanya satu, walaupun kadang dua atau lebih batu bisa ditemukan pada saat
pembedahan.
Secara mikroskopis, massa yang terkalsifikasi menunjukkan klamina
konsentris yang mengelilingi nidus debris amorphous. Apabila duktus yang
bersangkutan juga diangkat, terlihat sel skuamosa, oncocytic atau metaplasia sel
mukus.

GAMBARAN RADIOGRAFI
Sialolith biasanya tampak sebagai massa radioopaque pada pemeriksaan
radiografi. Meskipun demikian, tidak semuabatu saliva dapat terlihat dengan
radiografi standar (mungkin karena derajat kalsifikasi yang berbeda pada setiap
kalkuli). Batu saliva dapt ditemukan dimana saja di sepanjang duktus atau
didalam

glandula

itu

sendiri.

Batu

pada

bagian

terminal

dari

duktus

submandibula paling baik lihat dengan radiografi oklusal. Pada foto panoramic
atau periapikal, batu dapat terlihat superimposisi dengan mandibula dan dapat
gambarannya mirip dengan lesi intrabony.
85% batu submandibula adalah radioopaque dan dapat divisualisasikan
dengan mudah pada film biasa. Hampir 50% batu saliva ditemukan pada duktus
distal dari tepi m.mylohyoid dan paling baik bila dilihat dengan foto radiografi
oklusal. Foto oklusal sangat membantu karena gambaran batu yang kecil harus
diproyeksikan jauh dari struktur radioopaque lainnya seperti gigi dan tulang
rahang. 50% lainnya ditemukan dibawah m.mylohyoid atau pada hilum dari
glandula dan dapat dilihatdengan foto radiografi lateral oblique atau panoramic.
Batu

glandula

parotis

mayoritasnya

(85%-90%)

adalah

radiolusen.

Radiografi dental dapat digunakan untuk mendiagnosa batu yang terkalsifikasi.


Sedangkan batu glandula parotis yang radiolusen tidak dapat dideteksi dengan

foto radiografi biasa. Penggunaan sialogram akan sangat menguntungkan untuk


mendiagnosis batu yang radiolusen.

PERAWATAN
Sialolith kecil pada glandula mayor kadang dapat dirawat secara
konservatif dengan pemijatan perlahan pada glandula dengan tujuan untuk
mengeluarkan batu menuju orifice duktus. Sialagogues (semacam obat yang
menstimuli aliran saliva), kompres hangat dan meningkatkan konsumsi cairan
juga dapat mempermudah jalannya batu saliva. Sialolith yang lebih besar
biasanya harus dikeluarkan secara bedah. Bila kerusakan didalam glandula
akibat inflamasi telah terjadi, glandula harus dibuang. Sialolith glandula minor
paling baik dirawat secara bedah, termasuk pembuangan glandula yang terlibat.
Apabila batu terletak di dalam duktus, pendekatan intraoral diindikasikan.
Apabila batu terletak di dalam glandula dan bila terdapat kerusakan yang
bersifat irreversible baik pada duktus maupun pada glandula, maka pembuangan
glandula atau duktus yang terlibat melalui pendekatan ekstraoral diindikasikan.
Pada fase akut, perawatan standar diberikan, seperti pemberian antibiotik,
analgesik, dan oral hygiene yang baik. Perawatan bedah untuk drainase pus
kadang diperlukan. Saat fase akut terlewati, perawatan bedah dapat dilakukan.
Sialolitotomi (Peroral)
Pengambilan sialolith dari duktus submandibula merupakan prosedur yang
tidak rumit bila batutersebut terletak didasar mulut dekat dengan muaaduktus.
Anestesi yang dilakukan cukup dengan anestesi blok lingual dan infiltrasi lokal.
Disekitar duktus, pada sisi posterior dari batu tersebut, ditempatkan jahitan
penahan sementara untuk mencegah pergeseran batu ke proksimal atau ke
posterior. Diatas sialolith dibuat insisi pada mukosa, dan setelah duktus terlihat,
kemudian dipotong secara longitudinall. Batu diambil dengan menggunakan
penjepit jaringan atau hemostat kecil. Daerah operasi diirigasi dengan saline
steril dan diperiksa kembali. Insisi pada mukosa dapat ditutup tidak terlalu rapat,
tetapi duktus biasanya tidak dijahit karena manipulasi duktus seminimal
mungkin merupakan cara terbaik untuk mempertahankan keberadaannya.
Jika pemerasan tidak memberikan aliran saliva secara bebas, maka
diindikasikan

untuk

memasukan

selang

polietilen

ke

dalam

duktusdan

dipertahankan dengan penjahitan. Jika selang dibiarkan tinggal selama 2-3


hari,keberadaan duktus akan bertahan dan kemungkinan terjadinya aliran saliva
yang normal akan meningkat.
Bila batu terdapat pada duktus proksimal dekat dengan glandula ataupun
didalam

glandula

itu

sendiri,

maka

penanganannya

biasanya

meliputi

pengambilan glandula yang terlibat. Sialolithiasis pada glandula saliva minor bisa
diatasi dengan anestesi lokaldan pengambilan batu biasanya disertai dengan
pengambilan glandula yang terlibat.
Sialendoskopi
Sialendoskopi, sebagai teknik minmal invasive, pertama kali diperkenalkan
oleh Katz pada tahun 1991. Keuntungan utamanya adalah penggunaan teknologi
optikal

yang

memungkinkan

eksplorasi

komplit

pada

sistem

duktus,

mendapatkan lokasi yang akurat dari tempat penyumbatan, dan perawatan yang
sesuai.

Untuk

sialolithiasis,

batu

padaduktus

dapat

dibuang

dengan

menggunakan keranjang dan tang khusus.


Sejak deskripsi Katz mengenai endoskopi pada glandula saliva mayor,
terdapat beberapa penemuan. Yang pertama, endoskop fleksibel yang digunakan
untuk pemeriksaan sederhana didalam duktus, tetapi pemeriksaanyang lebih
lanjut bersamaan dengan perawatannya tidak dapat digunakan karena dapat
merusak instrumen selama prosedur dilakukan. Kemudian, endoskopi rigid
berdiameter 1,0- 2,7 mm ditemukan. Instrumen ini jauh lebih kuat dan kualitas
gambar yang ditampilkan lebih baik. Namun, resiko terlukanya dinding duktus
juga meningkat.
Baru-baru ini Marchal dkk dan Nahlieli dan Baruchin memperkenalkan
endoskopi semirigid yang memiliki keuntungan gabungan dari endoskopi
fleksibel dan rigid. Endoskop Nahlieli dan Baruchin terdiri dari 2 unit, unit
eksploratif dan unit surgikal. Keuntungan special dari endoskop ini adalah
fleksibilitasnya (dapat dibengkokan sampai 90 tanpa patah) dikombinasikan
dengan sifat rigidnya yang dibutuhkan untuk insersi kedalam ostium dari duktus.
Ostium glandula yang terlibat didilatasi dengan suatu dilatators dan
kemudian endoskop dimasukan. Irigasi secara terus-menerus selama insersi
untuk mempartahankan lumen agar terbuka. Irigasinya adalah dengan 0,9%
saline

dicampur

dengandexamethasone

(20mg/100mL

saline).

Operator

mengusahakan agar lumen duktus tetap terlihat selama prosedur. Bila batu
saliva sudah tercapai, irigasi dihentikan sejenak untuk mencegah batu saliva
bergerak dan keranjang dimasukan dan diletakan dibelakang batu saliva,
kemudian keranjang dilebarkan lalu diputar. Bila batu salivasudah masuk dalam
keranjang, angkat endoskop secara perlahan. Setelah batu terangkat, sistem
duktus diirigasi lagi untuk melihat adakah kalkuli residual, variasi anatomi lain,
atau inflamasi.
Prosedur sialendoskopi standar berlangsung selama 30-90 menit. Semua
pasien dirawat dengan diberi antibiotic selama 3-7 hari dan pasien disarankan
memijat glandula secara perlahan dan rutin. Setelah operasi pasien dikontrol dan
dimonitor selama 1-3 bulan untuk mengetahui adanya rekurensi gejala dan
evaluasi aliran saliva dari glandula yang dirawat.