Anda di halaman 1dari 8

Nama : Dianira G.

Maengkom
Nim

: 13533039

Kelas : C
Tugas : Kimia Amdal

1. Menginventaris bahan-bahan kimia yang ada di lingkungan air, udara dan tanah yang
memberikan dampak/resiko pada lingkungan.
Jawaban
Bahan-bahan kimia yang ada di lingkungan air dan merusak lingkungan :
a. Merkuri (Hg)
Merkuri mempunyai nama Hydragyrum yang berarti perak cair. Di alam dalam jumlah besar
lebih banyak ditemukan dalam mineral. Diantaranya yang dihasilkan dari bijih Sinabar
(HgS). Secara umum merkuri berwujud cair pada suhu kamar (25C) dengan titik beku paling
rendah 390C dan masih berwujud cair pada suhu 1960C, merupakan logam yang paling
mudah menguap jika dibandingkan dengan logam-logam yang lain. Dapat melarutkan
bermacam-macam logam untuk membentuk alloy yang disebut dengan amalgam.
Di alam merkuri terdapat dalam bentuk gabungan dengan elemen lain dan jarang ditemukan
dalam bentuk bebas. Merkuri di alam terdapat dalam bentuk merkuri anorganik dan merkuri
organik. Kasus keracunan Hg pernah terjadi di Minamata dimana penduduk banyak yang
cacat, meninggal, dan bayi yang dilahirkan cacat. Penyebabnya ikan laut yang dimakan
mengandung Hg sekitar 27 - 102 ppm, karena tercemari limbah pabrik plastik. Menurut Polii
dan Sonya (2002) salah satu daerah di Sulawesi Utara yaitu Teluk Buyat Minahasa juga
mengandung merkuri dan sianida.
Sumber :
Merkuri berada di lingkungan oleh karena adanya aktifitas gunung api, volatilisasi dari tanah
dan permukaan laut, dan dari proses industrialisasi seperti peleburan. Keberadaan logam
merkuri selain karena adanya aktifitas gunung api juga dapat berasal dari kegiatan
pertambangan.
Dampak :
Secara alami unsur-unsur logam berat terdapat dalam air laut dalam kadar yang sangat
rendah. Hal ini berarti dengan adanya bahan pencemar dapat meningkatkan kadar merkuri di

dalam air laut. Peningkatan kadar merkuri ini dapat mengkontaminasi ikan-ikan dan makhluk
air lainnya yang kemudian dimakan ikan atau hewan air yang lebih besar atau dapat masuk
melalui insang.
Masuknya merkuri ke dalam tubuh organisme hidup terutama melalui makanan. Merkuri
yang masuk ke manusia baik melalui rantai makanan maupun melalui pernapasan dapat
menghambat enzim Glutathione reductase dan Seric phosproglucose isomerase serum
dengan mengikat gugus SH (sulfihidril) dan apabila terakumulasi merusak otak, ginjal dan
hati. Kerusakan jangka panjangnya dapat merusak system saraf pusat yang dapat memberikan
efek yang sangat berbahaya, selain itu juga dapat mengakibatkan rusaknya kromosom yang
menyebabkan cacat bawaan.
b. Sianida (CN)
Sianida dikenal sebagai racun yang mudah terbakar.Sianida mempunyai berat molekul 27,06.
Sianida terbentuk dari reaksi antara nitrogen (N) dan karbon (C) pada temperatur tinggi. Jika
N direaksikan pada campuran barium oksida dan karbon, maka akan dihasilkan barium
sianida dengan reaksi :
BaO + 3C + N2 Ba(CN)2 + CO
Sumber :
Sianida pada umumnya digunakan pada industri dan pertambangan, terutama digunakan
untuk membersihkan logam dan mengikat emas, dengan reaksi :
Au + CN + O2 Au(CN)4 + OH
Sianida berada di dalam air selain berasal dari lingkungan, juga berasal dari buangan
pertambangan yang menggunakan sianida dalam proses produksinya.Sekurang-kurangnya
satu tambang emas di Amerika Serikat menggunakan 125 ton sianida untuk mencuci 5000 ton
bijih emas yang kemudian dibuang ke sungai.
Dampak :
Polii dan Sonya (2002) menyatakan bahwa tingkat racun dari sianida di dalam air tergantung
dari konsentrasi sianida. Bila terhirup dapat menyebabkan pingsan dan bahkan kematian.
c. Cadmium (Cd)
Sumber :

Ion Cd dapat berasal dari industri yang memakai logam Cd dalam proses produksinya
misalnya industri elektroplating, pipa plastik PVC (Cd sebagai stabilisator), hasil samping
penambangan logam (timah hitam, seng) dan industri obat-obatan (sudah tak banyak
dipakai).
Dampak :
Keracunan ion Cd dapat mempengaruhi otot polos, pembuluh darah (mengakibatkan tekanan
darah tinggi dan gagal jantung), dan merusak ginjal. Kasus keracunan ion Cd pernah
menimpa penduduk Toyama, Jepang. Penduduk banyak yang sakit pinggang bertahun-tahun
semakin parah, pelunakan tulang punggung dan menjadi rapuh, dan kematian karena gagal
ginjal. Penyebabnya beras yang dimakan mengandung Cd 1,6 ppm, karena tanaman padi
diairi dengan air tercemar ion Cd dari limbah industri seng dan timah hitam.
d. Cobalt (Co)
Sumber :
Pada industri Co dipakai sebagai stabilisator, pada pabrik bir dulu dipakai untuk menstabilkan
busa bir agar bagus. Untuk proses pembentukan butir darah merah, tubuh memerlukan Co
dalam jumlah sedikit melalui vitamin B12 yang dimakan.
Dampak :
Bila memakan makanan yang mengandung Co 150 ppm akan merusak kelenjar gondok.Jika
keracunan Co sel darah merah akan berubah, tekanan darah tinggi, pergelangan kaki
membengkak (oedema), gagal jantung terutama pada anak yang baru tumbuh. Kasus
keracunan Co pernah terjadi di Nebraska dan Ohama. Penduduk mengalami kelainan pada
otot jantung primer karena gemar minum bir yang proses pembuatannya menggunakan Co.
Di Kanada penduduk menderita gagal jantung disertai gejala sesak napas, batuk-batuk, sakit
disekitar jantung dan lambung, dan kondisi badan lemah.
e. Nitrat (NO3)
Nitrat (NO3) adalah ion-ion anorganik alami, yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. Di
alam nitrogen terdapat dalam bentuk senyawa organik seperti urea, protein dan asam nukleat
atau sebagai senyawa anorganik seperti amonia, nitrit dan nitrat.Tahap pertama daur nitrogen
adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam tanah (fiksasi nitrogen). Secara biologis
fiksasi biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan polongpolongan, bakteri Azobacter dan Clostridium. Nitrat tersebut kemudian digunakan oleh
tumbuhan dan diubah menjadi molekul protein. Selanjutnya jika tumbuhan atau hewan mati

dekomposer mengurainya menjadi gas amoniak (NH3) dan garam amonium yang larut dalam
air (NH4+).
Sumber :
Digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk nitrogen (urea, ZA dan lain-lain). Nitrat dapat
masuk ke dalam saluran pencernaan melalui makanan dan minuman. Menurut Manampiring
(2009), nitrat yang berlebih dari sisa pemupukan akan mengalir bersama air menuju sungai
atau meresap ke dalam air tanah. Pencemaran nitrit dan nitrat terhadap air sumur disebabkan
juga karena perembesan hasil dekomposisi sampah ke dalam sumur (Rusman, 2013)
Dampak :
Rusman (2013) menyatakan bahwa pengaruh negatif nitrit dan nitrat terhadap kesehatan
sangat besar. Pada bayi di mana keasaman lambungnya kecil yaitu sekitar pH : 4 dihasilkan
nitrit yang besar yang akan mengoksidasi haemoglobin darah menjadi methaemoglobin dan
akan menimbulkan methemoglobinemia. Pada bayi methemoglobinemia ini akan
menyebabkan bayi kekurangan oksigen sehingga mukanya akan tampak membiru maka
penyakit ini dikenal sebagai blue baby. Nitrat dan nitrit dalam jumlah besar dapat
menyebabkan gangguan gastro intestinal antara lain diare campur darah, disusul oleh
konvulsi, koma, dan bila tidak mendapatkan tindakan medis dapat menimbulkan kematian.
Senyawa nitrit yang berlebih di tambak akan menyebabkan menurunnya kemampuan darah
udang untuk mengikat O2, karena nitrit akan bereaksi lebih kuat dengan hemoglobin yang
mengakibatkan tingkat kematian udang tinggi.

Bahan-bahan kimia yang ada di lingkungan udara dan merusak lingkungan :


a. Karbon Monoksida (CO)
Sumber :
Gas CO tidak berbau dan tidak berwarna. Pada keadaan normal konsentrasinya di udara 0,1
ppm, dan di kota dengan lalu lintas padat 10 - 15 ppm.
Dampak :
Tampang (2002), bagi manusia dampak CO dapat menyebabkan gangguan kesehatan sampai
kematian, karena CO bersifat racun metabolis, ikut bereaksi secara metabolis dengan
hemoglobin dalam darah:
Hb + O2

O Hb (oksihemoglobin)
2

Hb + CO COHb (karboksihemoglobin)
COHb 140 kali lebih stabil daripada O2Hb.
Tanda-tanda keracunan gas CO adalah: pusing, sakit kepala dan mual. Keadaan yang lebih
berat lagi adalah : kemampuan gerak tubuh menurun, gangguan pada sistem kardiovaskular,
serangan jantung, sampai dengan kematian. Bagi tumbuhan, kadar CO 100 ppm pengaruhnya
hampir tidak ada khususnya tumbuhan tingkat tinggi. Kadar CO 200 ppm dengan waktu
kontak 24 jam dapat mempengaruhi kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas terutama
yang terdapat pada akar tumbuhan.
b. Nitrogen Oksida
Sumber :
Gas NO tidak berbau dan tidak berwarna. Gas NO 2 berbau menyengat, berwarna coklat
kemerahan. Sifat racun (toksisitas) NO2 empat kalinya NO.
Dampak :
Organ yang paling peka paru-paru, jika terkena NO 2 akan membengkak sehingga sulit
bernapas sampai kematian. Konsentrasi NO yang tinggi mengakibatkan kejang-kejang, bila
keracunan berlanjut mengakibatkan kelumpuhan. NO akan lebih berbahaya jika teroksidasi
menjadi NO2. Oksida nitrogen bagi tumbuhan menyebabkan bintik-bintik pada permukaan
daun, bila konsentrasinya tinggi mengakibatkan nekrosis (kerusakan jaringan daun), sehingga
fotosintesis terganggu. Konsentrasi NO 10 ppm dapat menurunkan kemampuan fotosintesis
60 70 %. Di udara oksida nitrogen dapat menimbulkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates) yang
dapat menyebabkan iritasi mata (pedih dan berair). PAN bersama senyawa yang lain akan
menimbulkan kabut foto kimia (Photo Chemistry Smog).
c. Oksida Belerang
Sumber :
SOx sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, terutama batubara. Gas buang
lebih banyak mengandung SO2 dibanding SO3. Dengan oksigen dari udara SO2 menghasilkan
SO3:
SO2 + O2 SO3
Gas SO2 berbau tajam dan tak mudah terbakar. Gas SO 3 sangat reaktif. Dengan uap air dari
udara:

SO2 + H2O H2SO3


SO3 + H2O H2SO4
Jika ikut terkondensasi di udara dan jatuh bersama air hujan menyebabkan hujan asam.

Bagi tumbuhan kadar SOx 0,5 ppm dapat menyebabkan timbulnya bintik-bintik pada

daun. Jika paparan lama daun menjadi berguguran.


Bagi manusia SOx menimbulkan gangguan pernapasan. Jika SOx berubah menjadi asam
akan menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran napas yang lain
sampai ke paru-paru. SO2 dapat menimbulkan iritasi tenggorokan tergantung daya tahan
masing-masing (ada yang 1 - 2 ppm, atau 6 ppm). SO 2 berbahaya bagi anak-anak, orang
tua, dan orang yang menderita kardiovaskuler. Otot saluran pernapasan akan mengalami
kejang (spasma). Akan lebih berat lagi jika konsentrasi SO 2 tinggi dan suhu udara rendah.
Pada paparan lama akan terjadi peradangan yang hebat pada selaput lendir yang diikuti
paralysis cilia (kelumpuhan sistem pernapasan), kerusakan lapisan ephitelium, akhirnya
kematian. Pada konsentrasi 6 12 ppm dengan paparan pendek yang berulang-ulang
dapat menyebabkan hiperplasia dan metaplasia sel-sel epitel yang akhirnya menjadi

kangker.
Pada benda-benda, SO2 bersifat korosif. Cat dan bangunan gedung warnanya menjadi
kusam kehitaman karena PbO pada cat bereaksi dengan SOx menghasilkan PbS.
Jembatan menjadi rapuh karena mempercepat pengkaratan.
Bahan-bahan kimia yang ada di lingkungan tanah dan merusak lingkungan :
Pencemaran yang terjadi pada lingkungan tanah dapat menyebabkan tanah menjadi
kurang produktif juga menyebabkan kekeringan. Akibatnya pertumbuhan tumbuhtumbuhan jadi kurang sempurna dan mahluk hidup dalam tanah tidak dapat berkembang
biak dengan semestinya. Penyebab terjadinya pencemaran tanah diantaranya :

Limbah Pertanian : berupa zat-zat kimia dalam pupuk buatan (pestisida) yang terlalu
banyak terdapat dalam tanah, sehingga tanah tidak subur tapi justru rusak. Pestisida
merupakan suatu zat yang dapat bersifat racun (WHO,2000), namun di sisi lain pestisida
sangat dibutuhkan oleh petani untuk melindungi tanamannya. Penggunaan pestisida yang
tidak tepat dapat membahayakan kesehatan petani dan konsumen, mikroorganisme non
target serta berdampak pada pencemaran lingkungan baik itu tanah dan air
(Yuantari,2015).Contoh bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalam pestisida :

a. Arsenik
Arsenik tersebar luas di lapisan kerak bumi dan terkandung dalam lebih dari 150 zat
mineral. Arsenik juga dapat ditemukan dalam biji tambang dalam logam seperti emas,
timbal, tembaga, timah dan zink. Arsenik dilepas ke atmosfir sebagai produk samping
peleburan bijih tambang nonfero, dari proses pembuatan pestisida, dan dari pembakaran
kaca yang digunakan untuk pembuatan gelas.
Sumber :
Arsen terdapat dalam pestisida yaitu dalam bentuk senyawa As 2O5. Fungsinya yaitu untuk
mengendalikan jamur dan rayap pada kayu
Dampak :
Dapat menimbulkan penyakit hiperpigmentasi, keratosis (pertumbuhan lapisan tanduk),
dan kanker kulit.

Limbah logam : Bahan anorganik berbahaya misalnya bahan kimia beracun yang dibuang
bersama limbah industri, limbah pertambangan seperti logam berat dan logam radioaktif.
Bila air membawa limbah mengalir ke sungai, danau atau sawah maka tanah akan teraliri,

sehingga akan terkontaminasi bahan-bahan kimia.


Limbah plastik
: umumnya plastik tidak dapat dibiodegradasi (diurai oleh
mikroorganisme dalam tanah) sehingga akan menjadi pencemar dalam tanah.

Dampak :

Dampak langsung, seperti bau, merusak pandangan, kotor dan kumuh.


Dampak tak langsung, seperti menjadi tempat berkembangnya nyamuk, lalat, tikus,
bakteri, dan lain-lain, sehingga menjadi penyebab penyakit seperti kaki gajah (filiariasis),
malaria, demam berdarah, dan lain-lain.

Sumber Referensi :
Manampiring, A . 2009. Studi kandungan Nitrat (NO3) Pada Sumber Air Minum Masyarakat
Kelurahan Rurukan Kecamatan Tomohon Timur Kota Tomohon. Karya Ilmiah.
Universitas Sam Ratulangi. Manado. ( diakses 3 Maret 2016 )
Polii, J.B. 2002. Pendugaan Kandungan Merkuri dan Sianida di Daerah Aliran Sungai (DAS)
Buyat Minahasa. Jurnal Ekoton, 2 (1) 31-37 ( diakses 3 Maret 2016 )
Romdhoni. Kimia Lingkungan. ( http://romdhoni.staff.gunadarma.ac.id )
( diakses 3 Maret 2016 )
Rusman. 2013. Analisis Kandungan Nitrit (NO2) dan Nitrat (NO3) Pada Air Sumur di Sekitar
Tempat Pembuangan Akhir Sampah Kelurahan Tamangapa Kecamatan Manggala
Makassar. Artikel, 3 : 78-82 ( diakses 3 Maret 2016 )
Tampang. B. L. 2002. Pencemaran Udara dan Kebisingan Sumber Energi Diesel (Studi
Kasus di PLTD Kota Bitung Sulawesi Utara). Buletin Kimia, 2 : 24-27. ( diakses 3
Maret 2016 )
WHO. 2000. Hazardous Chemical in Human and Environmental Health. Terjemahan
Indonesia. Penerbit Buku Kedokteran : Jakarta. ( diakses 3 Maret 2016 )
Yuantari, M.G, Widianarko Budi, Sunoko Henna Rya. 2015. Analisis Resiko Pajanan
Pestisida Terhadap Kesehatan Petani. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10 (20) : 239245. ( diakses 3 Maret 2016 )