Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

PENGARUH PERENDAMAN BIJI DALAM AIR TERHADAP


PERKECAMBAHAN BIJI KACANG MERAH

Disusun oleh:
Mirsa Risky Virdaussya
14030204014
Pendidikan Biologi A 2014

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2016

A. Rumusan Masalah
Rumusan permasalahan dari percobaan ini adalah:
Bagaimana

pengaruh

lama

perendaman

biji

dalam

air

terhadap

perkecambahan biji kacang merah?


B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah :
Mengkaji pengaruh lama perendaman biji dalam air terhadap perkecambahan
biji kacang merah.
C. Hipotesis
Hipotesis dari rumusan masalah di atas adalah :
Ho : Tidak ada pengaruh lama perendaman biji dalam air terhadap
perkecambahan biji kacang merah.
H1 : Ada pengaruh lama perendaman biji dalam air terhadap perkecambahan
biji kacang merah.
D. Kajian Pustaka
1. Metabolisme Perkecambahan
Menurut (Lakitan, 2012) benih dikatakan berkecambah apabila sudah
dapat dilihat atribut perkecambahannya yaitu plumula dan radikel yang
keduanya tumbuh normal dalam jangka waktu sesuai dengan ketentuan
ISTA. Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks
dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Proses
metabiolisme terdiri dari proses katabiolisme dan anabiolisme dimana
pada katabiolisme terjadi proses terjadi perombakan cadangan makanan
sehingga menghasilkan energi ATP sedangkan pada anabiolisme terjadi
sintesa senyawa protein untuk pembentukan sel-sel baru pada embrio.
Kedua proses ini terjadi secara

berurutan pada tempat yang berbeda.

Tahap awal metabiolisme untuk tumbuh benih dapat diungkapkan sebagai


tiga tipe yaitu perombakan bahan cadagan, translokasi dari bagian benih
kesatu bagian yang lain dan sintesa bahan-bahan yang baru. Tahapan
proses perkecambahan sebagai berikut :

1.

Tahap pertama dimulai dengan penyerapan air oleh benih, melunaknya


kulit benih dan hidrasi oleh protoplasma.

2.

Tahap kedua dimulai dengan kegiatan sel-sel dan enzim-enzim serta


naiknya tingkat respirasi benih.

3.

Tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian bahan-bahan


seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang
melarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh.

4.

Tahap keempat adalah asimilasi dari bahan-bahan yang telah terurai


di daerah meristematik untuk menghasilkan energi dari kegiatan
pembentukan komponen dalam pert umbuhan sel- sel baru.

5.

Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses


pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik
tumbuh, pertumbuhan kecambah ini tergantung pada persediaan
makanan yang ada dalam biji.

2. Pertumbuhan dan Perkecambahan


Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua istilah berbeda
makna, dan sepintas lalu kita sulit untuk membedakannya. Kedua istilah
tersebut merupakan suatu peristiwa biologi yang senantiasa berbarengan
dan saling melengkapi. Dalam kenyataan kedua istilah tersebut sulit untuk
dipisahkan. Pertumbuhan adalah peristiwa perubahan yang bersifat
irreversible. Perubahan tesebut meliputi pertambahan volume dan jumlah,
perubahan struktur dan susunan kimia. Perlu diperhatikan bahwa
pertumbuhan jangan hanya diartikan penambahan volume saja, melainkan
juga dapat diartikan sebagai peningkatan masa atau protoplasma suatu
organisma. Peningkatan masa mencakup perubahan struktur dan susunan
kimia. Oleh karena itu, pertumbuhan dapat diketahui melalui peningkatan
ukuran dan peningkatan jumlah sel. Perubahan bentuk pada pertumbuhan
biasanya disertai dengan penambahan volume. Kenaikan volume tersebut
disebabkan oleh pertambahan jumlah sel, sebagai akibat kegiatan titik
tumbuh, dan pembesaran tiap sel. Peristiwa pertumbuhan pada tumbuhan
disebabkan oleh meristem yaitu jaringan yang sel-selnya tetap bersifat

embrional. Berkaitan dengan itu maka pada meristem terdapat sel-sel yang
selalu membelah, yaitu satu atau banyak sel yang dapat dianggap menjadi
tempat aktivitas pembelahan. Meristem atau titik tumbuh yang dimaksud
adalah antara lain titik tumbuh primer dan titik tumbuh sekunder. Tumbuh
pada tanaman disebabkan oleh adanya jaringan meristematis, yaitu titik
tumbuh,

kambium

primer,

kambium

sekunder

dan

perisikel

(perikambium). Titik tumbuh terletak pada ujung akar, ujung batang, yang
menyebabkan akar dan batang tersebut tumbuh memanjang dan tinggi.
Sel-sel dalam meristem akan mulai mengadakan diferensiasi, artinya
membentuk deretan atau lapisan sel yang mulai berbeda bentuk dan mulai
timbul ruang antar sel. Pertumbuhan seperti demikian disebut sebagai
pertumbuhan primer. Pertumbuhan primer adalah suatu peristiwa tumbuh
oleh adanya kegiatan meristem primer di ujung batang dan di ujung akar
yang terbentuk sejak tumbuhan masih berupa embrio (lembaga). Bila
ujung embrio yang satu membentuk akar dan ujung lainnya membentuk
batang maupun daun, maka disebut embrio tumbuhan bipolar atau
berkutub dua. Tetapi bila ujung embrio yang satu membentuk batang
maupun daun dan ujung lainnya tidak berkembang, maka disebut embrio
tumbuhan univolar atau berkutub satu. Pada setiap ujung akar maupun
batang, terdapat pelindung yaitu koleoptil untuk ujung batang dan
koleorhyza untuk ujung akar. Sel-sel dalam meristem akan mulai
mengadakan diferensiasi, artinya membentuk deretan atau lapisan sel yang
mulai berbeda bentuk dan mulai timbul ruang antar sel. Pertumbuhan
seperti demikian disebut sebagai pertumbuhan

primer. Pertumbuhan

primer adalah suatu peristiwa tumbuh oleh adanya kegiatan meristem


primer di ujung batang dan di ujung akar yang terbentuk sejak tumbuhan
masih berupa embrio (lembaga). Bila ujung embrio yang satu membentuk
akar dan ujung lainnya membentuk batang maupun daun, maka disebut
embrio tumbuhan bipolar atau berkutub dua. Tetapi bila ujung embrio yang
satu membentuk batang maupun daun dan ujung lainnya tidak
berkembang, maka disebut embrio tumbuhan univolar atau berkutub satu.
Pada setiap ujung akar maupun batang, terdapat pelindung yaitu koleoptil

untuk ujung batang dan koleorhyza untuk ujung akar. (Sasmitamihardja,


1990)

Perkembangan

tumbuhan

adalah suatu proses menuju ke arah


pendewasan

suatu

tanaman.

Perkembangan tersebut mencakup proses


pembentukan bunga, buah dan biji,
diferensiasi

batang

dan

akar.

Perkembangan berjalan paralel dengan


pertumbuhan tanaman menuju ke arah
tingkat

yang

lebih

sempurna

yang

ditandai dengan adanya diferensiasi dan spesialisasi. Proses perkembangan


tidak dapat diukur secara kuantitatif tetapi secara kualitatif, dengan kata
lain perkembangan menunjukkan kompleksitas

proses dari berbagai

macam dan fungsi sel atau jaringan. (Jumhana, 2007)


3. Proses Perkecambahan Biji
Menurut (Suena, 2005), proses perkecambahan benih terjadi melalui 6
tahapan sebagai berikut: 1) imbibisi, 2) respirasi, 3) pengaktifan enzim-

enzim, 4) katabolisme, 5) anabolisme (sintesis protein), dan 6 emergence


(berkecambah).

a. Imbibisi
Imbibisi adalah penyerapan air oleh imbiban, misalnya pada
penyerapan

air

oleh

biji.

Imbibisi

merupakan

proses

awal

perkecambahan. Proses penyerapan air atau imbibisi berguna untuk


melunakkan kulit biji dan menyebabkan pengembangan embrio dan
endosperma. Hal ini menyebabkan pecah atau robeknya kulit biji.
Selain itu, air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen ke dalam
biji. Dinding sel yang kering hampir tidak permeabel untuk gas, tetapi
apabila dinding sel di-imbibisi oleh air, maka gas akan masuk ke dalam
sel secara difusi.
Apabila dinding sel kulit biji dan embrio menyerap air, maka suplai
oksigen meningkat kepada sel-sel hidup sehingga memungkinkan lebih
aktifnya pernapasan. Sebaliknya CO2 yang dihasilkan oleh proses
respirasi tersebut lebih mudah berdifusi keluar. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kecepatan penyerapan air oleh biji yaitu: permeabilitas
kulit biji, konsentrasi air, suhu, luas permukaan biji yang kontak dengan
air, daya intermolekuler.
Biji yang ditempatkan pada suatu lingkungan yang basah maka
molekul air yang ada di luar akan mulai berdifusi ke dalam biji. Ketika
molekul itu sudah berhasil melalui selaput pembungkus biji sebagian
diantaranya ada yang diserap sehingga menyebabkan terjadinya
peristiwa imbibisi (peristiwa penyerapan air ke dalam ruangan antar
dinding sel, sehingga dinding selnya akan mengembang). Sedangkan
molekul air yang lainnya akan berpindah melalui membran sitoplasma
yang permeabel dengan cara osmosis menuju vakuola sel-sel hidup
yang ada dalam biji sehingga dari sinilah awal biji dapat berkecambah
dengan ditandai munculnya radikula dari dalam biji (Ferry dan Ward,
1959).
Syarat terjadinya imbibisi antara lain:

1) Adanya perbedaan potensial antara benih dengan larutan, dimana


potensial benih lebih keil dibandingkan dengan potensial larutan.
2)
Adanya tarik menarik yang spesifik antara air dengan benih.
3) Benih memiliki partikel koloid yang merupakan matriks, bersifat
hidrofil berupa protein, pati, selulosa.
4) Benih kering memiliki potensial air yang sangat rendah.
b. Respirasi
Bersamaan dengan proses imbibisi akan terjadi peningkatan laju
respirasi yang akan mengaktifkan enzim-enzim dan hormone yang
terdapat di dalam benih. Pada benih yang telah berimbibisi terjadi
respirasi aktif melalui 3 lintasan yang berjalan secara simultan.
c. Pengaktifan enzim-enzim dan hormon
Pada benih kering, aktivitas metabolismenya sangat rendah. Jika terjadi
hidrasi (penyerapan air) pada protein dari benih kering ini, akan
menyebabkan aktivitas biologi yang mengakibatakan perubahan
komposisi kimia pada semua bagian biji. Hormon giberelin pada benih
kering terdapat dalam bentuk terikat dan tidak aktif, kemudian akan
menjadi aktif setelah benih mengimbibisi air. Hormon giberelin ini akan
mendorong pembentukan enzim-enzim hidrolisis seperti: enzim
amylase, enzim protease, enzim ribonuklease, enzim glukonase, dan
enzim fosfatase. Enzim-enzim ini akan berdifusi ke endosperm dan
mengkatalisis cadangan makanan menjadi: gula, asam amino, dan
nukleosida

yang

mendukung

pertumbuhan

embryo

dalam

perkecambahan benih.
d. Katabolisme
Katabolisme merupakan proses perombakan cadangan makanan yang
akan menghasilkan energy ATP dan unsur hara. Cadangan makanan
utama yang disimpan pada biji berupa: pati, hemiselulosa, lemak, dan
protein.

Kesemua

bahan-bahan

ini

terdapat

pada

monocotyl

(endosperm), dikotyl (cotyledon), dan pada embryonic axis juga


terdapat sedikit tetapi segera habis pada permulaan perkecambahan biji.
Kesemua bahan-bahan ini tidak larut dalam air, berupa senyawa koloid,
merupakan senyawa kompleks bermolekul besar, immobile (tidak bisa

diangkut ke tempat yang memerlukan embryonic axis), oleh sebab


itu zat-zat ini tidak bisa diangkut dari sel ke sel yanglain dan dipakai
untuk pembentukan protoplasma dan dinding sel, sampai zat tersebut
diubah menjadi zat /senyawa yang lebih sederhana, bermolekul kecil,
larut dalam air, dan dapat melakukan difusi. Dalam proses ini
diperlukan enzim.
e. Anabolisme /sintesis protein
Ini merupakan tahap terakhir dalam penggunaan makanan cadangan,
dan merupakan suatu proses pembangunan kembali. Pada proses ini
protein yang dirombak oleh enzim protease menjadi asam amino dan
diangkut ke titik-titik tumbuh disusun kembali menjadi protein baru.
Misalnya: protoplasma dan organelles disusun dari protein. Zat
makanan lain seperti karbohidrat (cellulose) melalui protoplasma
dipergunakan untuk pembentukan dinding sel (cell wall).
f. Emergence /berkecambah
Karena pembesaran sel-sel yang sudah ada, pembentukan sel-sel baru
(karena pembelahan sel-sel), differensiasi sel-sel, pada titik-titik
tumbuh (embryonic axis) sehingga terbentuk: plumule (bakal batang
dan daun) dan radikula (bakal akar) yang terus bertambah besar. Karena
terjadi proses imbibisi, maka kulit biji akan menjadi lunak, sehingga
radikula dan plumula akan menembus kulit biji (emergence). Pada
umumnya radikula yang terlebih dahulu muncul dibandingkan plumula.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
a. Faktor dalam
1. Gen
Di dalam gen terkandung faktor. Di dalam gen terkandung faktorfaktor sifat keturunan yang dapat diturunkan pada keturunannya dan
berfungsi untuk mengontrol reaksi kimia di dalam sel, misalnya
sintesis protein yang merupakan bagian dasar penyusun tubuh
tumbuhan, dikendalikan oleh gen secara langsung.
2. Tingkat kemasakan benih

Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologis tercapai


tidak mempunyai viabilitas yang tinggi.dikarenakan pada tingkat
kemasakan benih yang belum cukup,benih belum mempunyai
cadangan makanan yang cukup untuk metabolism perkecambahan.
3. Hormon
Hormon merupakan zat yang berperan penting dalam metabolism
perkecambahan.hormon

merupakan

stimultan

dalam

prose

metabolism sehingga keberadaan hormone yang mencukupi dalam


biji dapat memberikan kemampuan dinding sel untuk mengembang
sehingga

sifatnya

memungkinkan

menjadi

dinding

elastis.

sel

Elastisitas

bersifat

dinding

permeable

sel

sehingga

mempermudah imbibisi dan mempercepat perkecambahan.


4. Ukuran dan kekerasan biji
Di dalam biji terdapat cadangan makan yang nantinya akan
dirombak pada tahap metabolism perkecambahan.semakin bear
ukuran biji,diasumsikan memiliki cadangan makanan yang lebih
banyak daripada biji yang kecil,sehingga Semakin besar biji maka
metabolism perkecambahan akan berjalan dengan baik.
5. Dormansi
Dormansi adalah suatu keadaan pertumbuhan yang tertunda atau
keadaan istirahat. Setiap benih tanaman memiliki masa dormansi
yang

berbedabeda.dormansi

ini

mempengaruhi

dari

proses

perkecambahan, bila sifat dormansi benih tergolong lama,maka


perkecambahan akan semakin lambat.begitu pula sebaliknya.
b. Faktor luar
1. Air
Berfungsi sebagai pelunak kulit bji, melarutkan cadangan makanan,
sarana transportasi serta bersama hormon mengatur elurgansi
(pemanjangan) dan pengembangan sel.sehingga kecukupan kadar air
ketika proses perkecambahan mutlak diperlukan.
2. Temperatur

Temperatur

merupakan

syarat

penting

yang

kedua

bagi

perkecambahan benih.temperatur optimum adalah temperature yang


paling

menguntungkan

bagi

berlangungnya

perkecambahan

benih.pada kiaran ini terdapat prosentae perkecambahan tertinggi.


temperatur optimum bagi kebanyakan benih yaitu 80 oF sampai 95
o

F (20,5

C sampai 35

C).jika benih dikecambahkan pada

temperature yang di bawah optimum atau diatas optimum maka akan


terjadi kegagalan berkecambah atau dapat merusaj biji ehingga
memunculkan kecambah abnormal.
3. Oksigen
Oksigen diperlukan biji untuk proses respirasi.Proses respirasi akan
meningkat disertai pula dengan menigkatnya pengambilan oksigen
dan pelepasan karbon dioksida, air, dan energi yang berupa panas.
Terbatasnya oksigen akan menghambat perkecambahan benih.
4. Media
Media yang baik untuk perkecambahan benih adalah mempunyai
sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyimpan
air, dan bebas dari pengganggu terutama cendawan. Medium
menentukan pertumbuhan kecambah, pada medium yang keras akar
kecambah muda akan sulit menembus media dan mengakibatkan
pertumbuhan terganggu. (Sasmitamihardja, 1990)
E. Variabel Penelitian
a. Variabel kontrol

: jenis biji, lama penanaman, media tanam, intensitas


cahaya, waktu penanaman, jumlah biji.

b. Variabel Manipulasi : waktu; lama perendaman biji dalam air.


c. Variabel Respon
: nilai indeks kecepatan perkecambahan.
F. Definisi Operasional Variabel
a. Jenis biji yang digunakan adalah biji kacang merah.
b. Lama penanaman atau perkecambahan untuk setiap perlakuan adalah 10
hari.
c. Media tanam yang digunakan untuk setiap perlakuan adalah kapas.

d. Waktu penanaman untuk semua perlakuan adalah di hari yang sama pada
pukul 18.00 WIB.
e. Jumlah biji untuk masing-masing perlakuan adalah 50 butir, sehingga total
biji yang dugunakan dalam pengamatan adalah 250 butir.
f. Waktu; lama perendaman biji dalam air untuk setiap perlakuan adalah 4
jam; 3 jam; 2 jam; 1 jam; dan 0 jam.
g. Nilai indeks kecepatan perkecambahan dihitung dengan dengan rumus:

G. Alat dan Bahan


Alat :
1. nampan
2. kapas
3. cutter
4. kantong plastik
5. karet gelang

5 buah
secukupnya
1 buah
secukupnya
secukupnya

Bahan :
1.
2.

Biji kacang merah


Air suling

250 biji
secukupnya

H. Rancangan Praktikum

biji diberi
yang 4berbeda
3
2 perlakuan

Biji kacang
merah

1 jam

2 jam

3 jam

4 jam

air

Diamati selama 10
hari

Biji ditanam pada cawan yang telah diberi kapas


basah

Membuat dan mengisi


data pada tabel hasil
pengamatan

Gambar 1. Rancangan Praktikum Pengaruh Lama Perendaman Biji dalam Air


terhadap Perkecambahan Biji Kacang Merah

I.

Langkah Kerja

Biji kacang merah direndam selama 4


jam, 3 jam, 2 jam, 1 jam dan tanpa
direndam @50 biji
Hari pertama pengamatan dihitung saat penanaman biji
pertama
Ditanam pada
wadah yang sama
(dikontrol), dialasi kapas (media tanam)

Wadah/ cawan petri ditutup kemudian disimpan ditempat


gelap dan diamati setiap hari selama 10 hari dan
dipisahkan biji yang sudah berkecambah dan dihitung

Membuat tabel persentase perkecambahan dan IKP

Gambar 2. Langkah Kerja Praktikum Pengaruh Lama Perendaman Biji dalam Air
terhadap Perkecambahan Biji Kacang Merah
J. Rancangan Tabel Pengamatan

Data hasil penelitian mengenai pengaruh lama perendaman biji dalam air
terhadap perkecambahan biji kacang merahdisajikan pada tabel berikut :
Tabel 1. Pengaruh Lama Perendaman Biji dalam Air terhadap Perkecambahan
Biji Kacang Merah
Jumlah biji yang berkecmbah pada perlakuan
Hari ke4 jam
3 jam
2 jam
1 jam
0 jam
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
2
36
33
30
23
7
3
7
7
11
10
6
4
3
5
2
8
4
5
1
2
2
3
4
6
1
1
1
0
0
7
1
0
0
0
0
8
0
0
0
0
0
9
0
0
0
0
0
10
0
0
0
0
0
Total biji yang
49
48
46
44
21
berkecambah
Persentase
98 %
96 %
92 %
88 %
42 %
perkecambahan
IKP
21,59
20,65
19,74
17,43
7,3
Data hasil pengamatan tersebut kemudian disajikan dalam bentuk
histogram sebagai berikut;

Gambar 3. Histogram Pengaruh Lama Perendaman Biji dalam Air terhadap


Perkecambahan Biji Kacang Merah
K. Rencana Analisis Data
Dari data hasil percobaan diatas dapat diketahui bahwa lama perendaman
biji dalam air mempengaruhi perkecambahan. Dimana pada perendaman biji
selama 4 jam, 3 jam, 2 jam, 1 jam, dan 0 jam diperoleh data total biji yang
berkecambah untuk setiap perendaman secara berurut adalah 49; 48; 46; 44,
dan 21, yang mana jika dipersentasekan menjadi 98%; 96%; 92%; 88%; dan
42%.
Setelah dihitung Indeks Kecepatan Perkecambahan (IKP) maka dapat
diperoleh data yang menunjukkan bahwa biji yang direndam selama 4 jam
memiliki IKP paling besar jika dibandingkan dengan biji yang direndam
selama 3 jam, 2 jam, 1 jam, dan 0 jam. Dimana nilai IKP yang diperoleh
untuk masing-masing perendaman secara berurut, yaitu 21,59; 20,65; 19,74;
17,43; dan 7,3.
Dari analisis analisis di atas dapat diketahui bahwa biji yang direndam
lebih

lama

(4

jam)

jumlah

prosentase

biji

yang

berkecambah

(perkecambahan) lebih banyak, sedangkan biji yang tidak direndam


prosentase perkecambahannya paling sedikit. Jika dilihat dari IKP maka biji
yang direndam lebih lama memiliki IKP lebih besar dibandingkan biji yang
direndam lebih singkat atau yang tidak direndam.
L. Hasil Analisis Data
Pada praktikum yang dilakukan, biji kacang merah diberi perlakuan
perendaman yang berbeda-beda, yaitu perendaman dalam air dengan rentang
selisih waktu 1 jam, antara lain perendaman selama 4 jam, 3 jam, 2 jam, 1
jam dan tanpa perlakuan perendaman (0 jam) dengan jumlah biji pada setiap
perlakuan masing-masing sebanyak 50 biji. Efek dari perendaman ini yaitu
persentase biji yang berkecambah dan nilai indeks kecepatan perkecambahan
(IKP) biji kacang merah dari masing-masing perlakuan.
Dari hasil yang didapat, menunjukkan bahwa lama perendaman
berpengaruh terhadap persentase jumlah biji yang berkecambah dan nilai
indeks kecepatan perkecambahan (IKP). Semakin lama perendaman biji
dalam air, maka semakin banyak pula total biji yang berkecambah dan nilai

IKP-nya. Ini disebabkan proses imbibisi yang dialami oleh biji kacang merah
itu sendiri ketika perendaman berlangsung, imbibisi adalah proses awal
perkecambahan dimana terjadi penyerapan air pada biji yang berguna untuk
melunakkan kulit biji dan menyebabkan pengembangan embrio dan
endosperma. Hal ini menyebabkan pecah atau robeknya kulit biji. Selain itu,
air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen ke dalam biji. Dinding sel
yang kering hampir tidak permeabel untuk gas, tetapi apabila dinding sel diimbibisi oleh air, maka gas akan masuk ke dalam sel secara difusi. Dalam
imbibisi, potensial air rendaman lebih tinggi daripada potensial air yang
berada di dalam biji. Dengan kata lain, potensial osmotik air rendaman lebih
besar daripada potensial osmotik biji, sehingga air berdifusi dari lingkungan
(yaitu air rendaman) ke dalam biji kacang merah. Prinsip difusi adalah
perpindahan molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Sehingga
dapat dihasilkan biji yang direndam akan terlihat lebih besar dari ukuran
semula, kulit biji mulai pecah, kemudian biji mulai berkecambah ketika
diletakkan pada media tanam yang ditandai dengan munculnya radikula dari
dalam biji.
Penjelasan lebih mendalam, masuknya air pada biji menyebabkan enzim
dapat bekerja. Bekerjanya enzim merupakan proses kimia. Pada saat air
diserap oleh biji (proses imbibisi) maka enzim amilase yang ada pada biji
dapat bekerja memecah tepung menjadi maltosa, selanjutnya maltosa
dihidrolisis oleh maltase menjadi glukosa. Protein juga dipecah menjadi
asam-asam amino. Senyawa glukosa masuk ke dalam proses metabolisme dan
dipecah menjadi energi atau diubah menjadi senyawa karbohidrat yang
menyusun struktur tubuh. Asam-asam amino nantinya akan dirangkaikan
menjadi protein yang berfungsi untuk menyusun enzim-enzim baru.
Sedangkan asam-asam lemak terutama dipakai untuk menyusun membrane
sel.
Air yang diserap oleh biji akan mempercepat proses metabolisme dalam
biji karena air dibutuhkan tumbuhan sebagai pelarut bagi kebanyakan reaksi
didalam tubuh tumbuhan dan dipakai sebagai medium reaksi enzimatis
sehingga biji yang direndam lebih lama proses metabolisme yang terjadi

dalam biji akan lebih cepat dan menyebabkan perkecambahanpun akan lebih
cepat dan lebih efisien.
Pada fase biji yang akan berkecambah, jika kekurangan air (misalnya biji
yang tidak direndam) akan meningkatkan sintesis asam absisat, yaitu suatu
hormon yang dapat menghambat pertumbuhan. Sedangkan sintesis hormon
lain seperti auksin, giberelin, dan sitokinin terhambat. Sebagai pelarut, air
juga mempengaruhi kadar enzim dan substrat sehingga secara tidak langsung
mempengaruhi laju reaksi metabolisme. Semakin air terpenuhi maka
perkecambahan biji akan lebih baik.
Saat perkecambahan terjadi, berbagai zat pengatur tumbuhan (ZPT) yang
berupa hormon pengatur proses pertumbuhan dan perkembangan, antara lain
1)

auksin,

yang

berperan

dalam

pemanjangan

sel,

yang

artinya

mengendalikan pertumbuhan biji kacang merah itu sendiri, baik radikula


maupun koleoptil; 2) sitokinin atau kinetin, yang merangsang pembelahan
sel; dan 3) giberelin berupa GA3 (asam giberelat), yang terlibat dalam proses
perkecambahan biji dan menghilangkan dormansi.
M. Kesimpulan
Ada pengaruh lama perendaman biji terhadap perkecambahan biji kacang
merah. Semakin lama perendaman biji kacang merah dalam air, maka
semakin besar nilai indeks kecepatan perkecambahan (IKP) yang dihasilkan
pada perkecambahan biji kacang merah.
N. Daftar Pustaka
Ferry, James F. dan Ward, Henry Silas. 1959. Fundamentals of Plant
Physiology. New York: The Macmillan Company.
Jumhana, 2007. Berbagai Fungsi Pada Tumbuhan. FMIPA Universitas
Diponegoro: Semarang.
Lakitan, Banyamin. 2012. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Cetakan ke-11.
Jakarta: PT. Raga Grafindo Persada.
Sasmitamihardja, D., Siregar, A. (1990). Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan.
FMIPA ITB. Bandung.
Suena, Wayan I, Ir. PhD. 2005. Teknologi Benih. Departemen Pertanian:
Surabaya.

LAMPIRAN PERHITUNGAN
Perhitungan persentase (%) biji yang berkecambah :
o Perendaman 4 jam

x 100% = 98%

o Perendaman 3 jam

x 100% = 96%

o Perendaman 2 jam

x 100% = 92%

o Perendaman 1 jam

x 100% = 88%

o Perendaman 0 jam

x 100% = 42%

Perhitungan IKP biji yang berkecambah :


o Perendaman 4 jam

= 0 + 0 + 18 + 2,33 + 0,75 + 0,2 + 0,17 + 0,14


= 21,59

o Perendaman 3 jam

+ +

= 0 + 0 + 16,5 + 2,33 + 1,25 + 0,4 + 0,17


= 20,65

o Perendaman 2 jam

= 0 + 0 + 15 + 3,67 + 0,5 + 0,4 + 0,17


= 19,74

o Perendaman 1 jam

= 0 + 0 + 11,5 + 3,33 + 2 + 0,6


= 19,74
o Perendaman 0 jam

= 0 + 0 + 3,5 + 2 + 1 + 0,8
= 7,3
LAMPIRAN
No

Gambar

1.

Keterangan
Biji

kacang

merah

direndam

selama 4 jam, 3 jam, 2 jam, 1 jam,


dan tanpa direndam masing-masing
50 biji.

2.

Ditanam
bersamaan

dalam

waktu

pada

yang
cawan

petri/ember/ piring yang sudah


dialasi kertas tissu/ kertas saring/
kapas.

0 jam

1 jam

2 jam

3 jam

4 jam
3.

Diamati setiap hari berapa jumlah


biji yang berkecambah selama 10

hari, kemudian mencari indeks


kecepatan

perkecambahan

hasil pengamatan.

0 jam

1 jam

2 jam

3 jam

dari

4 jam