Anda di halaman 1dari 20

M AK ALAH

PROFESI KEGURUAN MIPA


BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

Dosen Penanggung Jawab


Dr.Hetty Langkudi, M.Pd

Disusun Oleh :
Dianira G. Maengkom

UNIVERSITAS NEGERI MANADO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2016
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang karena kasih
karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah berjudul Bimbingan dan
Konseling di Sekolah. Adapun penulisan makalah ini untuk menyelesaikan salah satu
tugas Profesi Keguruan MIPA. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
khususnya dosen pembimbing, Dr. Hetty Langkudi, M.Pd serta orang tua.
Dengan

kerendahan

hati

kami

mohon

perkenaan

para

pembaca

untuk

memberikan saran dan kritik. Harapan kami makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca. Terima kasih.

Tondano,

Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

2 | BIM BIN GAN & KO NS E LING D I SE KO L AH

KATA PENGANTAR.............................................................................................................................2
.......................................................................................................................................... DAFTAR ISI
................................................................................................................................................................ 3
.........................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................................................4
A.Latar Belakang....................................................................................................................................4
B.Rumusan Masalah...............................................................................................................................4
..................................................................................................................................................................
C.Tujuan................................................................................................................................................4
BAB 2 PEMBAHASAN.......................................................................................................................5
A.Pengertian Bimbingan dan Konseling ...............................................................................................5
B.Tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah ....................................................................................6
C.Fungsi,Asas dan Prinsip bimbingan dan Konseling............................................................................7
D.Kegiatan Pokok Bimbingan dan Konseling......................................................................................12
E.Keberadaan dan Tugas Konselor.......................................................................................................17
F.Kualifikasi Akademik Konselor.........................................................................................................18
BAB 3 PENUTUP .............................................................................................................................19
Kesimpulan...........................................................................................................................................19
............................................................................................................................. DAFTAR PUSTAKA
..............................................................................................................................................................20

3 | BIM BIN GAN & KO NS E LING D I SE KO L AH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada kehidupan manusia.
Kenyataan menunjukkan bahwa manusia di dalam kehidupannya menghadapi persoalanpersoalan yang silih berganti.Manusia tidak sama satu dengan yang lain, baik dalam sifat
maupun kemampuannya. Ada manusia yang sanggup mengatasi persoalan tanpa bantuan pihak
lain, tetapi tidak sedikit manusia yang tidak mampu mengatasi persoalan bila tidak dibantu orang
lain. Khususnya bagi yang terakhir inilah bimbingan dan konseling diperlukan.
Pada pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah guru memiliki perananan yang sangat
penting karena guru merupakan sumber yang sangat menguasai informasi tentang keadaan siswa.
Di dalam melakukan bimbingan dan konseling, kerja sama konselor dengan personel lain di
sekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Kerja sama ini akan menjamin
tersusunnya program bimbingan dan konseling yang komprehensif, memenuhi sasaran, serta
realistik.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian bimbingan dan konseling dan tujuan diadakannya bimbingan dan
konseling di sekolah?
2. Apa saja fungsi, asas dan prinsip bimbingan dan konseling di sekolah?
3. Apa saja kegiatan pokok bimbingan dan konseling serta tugas dan kualifikasi konselor?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian bimbingan, konseling dan tujuan diadakannya bimbingan
dan konseling di sekolah
2. Untuk mengetahui fungsi,asas dan prinsip bimbingan dan konseling di sekolah
3. Untuk mengetahui kegiatan pokok bimbingan dan konseling di sekolah serta tugas dan
kualifikasi konselor.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling


4 | BIM BIN GAN & KO NS E LING D I SE KO L AH

1. Pengertian Bimbingan
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu atau kelompok secara
berkelanjutan, dengan tujuan individu atau kelompok dapat mengembangkan diri seccara optimal
menjadi pribadi yang mandiri sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat dengan
menggunakan pendekatan secara pribadi.
2. Pengertian Konseling
Konseling merupakan terjemahan dari counseling, yaitu bagian dari bimbingan, baik sebagai
pelayanan maupun sebagai teknik. Pelayanan konseling merupakan jantung hati dari usaha
layanan bimbingan secara keseluruhan ( counseling is the heart of guidance program ).
Konseling merupakan inti dan alat yang paling penting dalam bimbingan.
Standarisasi diperlukan oleh setiap profesi. Standarisasi profesi konselor dilakukan atas dasar
pertimbangan sebagai berikut.
a. Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu
kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor,
widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6).
b. Konselor memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja yang tidak sama persis
dengan guru.
c. Pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang diampu oleh konselor berada adalam konteks
tugas kawasan pelayanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi
perjalanan hidupnya melalui pengambilan keputusan tentang pendidikan termasuk yang
terkait dengan keperluan untuk memilih, meraih serta mempertahankan karir untuk
mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera, serta untuk menjadi warga masyarakat
yang peduli dengan pendidikan.
d. Ekspektasi kinerja konselor yang mengampu pelayanan bimbingan dan konseling selalu
digerakkan oleh motif altruistik dalam arti selalu menggunakan penyikapan yang empatik,
menghormati keragaman, serta mengedepankan kepentingan pengguna pelayanannya,
dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindak
pelayanannya itu terhadap pengguna pelayanan, sehingga pengampu pelayanan professional
itu juga dinamakan the reflective practitioner.
5 | BIM BIN GAN & KO NS E LING D I SE KO L AH

Dasar pertimbangan atau pemikiran tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di


sekolah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum, undangundang atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya
memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugastugas perkembangannya secara optimal (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan
moral-spiritual).
Dalam konteks tersebut, hasil studi lapangan menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan
konseling di sekolah sangat dibutuhkan, karena banyaknya masalah peserta didik di sekolah,
besarnya kebutuhan peserta didik akan pengarahan diri dalam memilih dan mengambil
keputusan, perlunya aturan yang memayungi layanan bimbingan dan konseling di sekolah, serta
perbaikan tata kerja baik dalam aspek ketenagaan maupun manajemen.
Layanan bimbingan dan konseling diharapkan membantu peserta didik dalam pengenalan
diri, pengenalan lingkungan dan pengambilan keputusan, serta memberikan arahan terhadap
perkembangan peserta didik; tidak hanya untuk peserta didik yang bermasalah tetapi untuk
seluruh peserta didik. Layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas pada peserta didik
tertentu atau yang perlu dipanggil saja, melainkan untuk seluruh peserta didik.

B. Tujuan Bimbingan dan Konseling di Sekolah


1

Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa


yang akan datang.

Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki peserta didik secara optimal.

Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat serta lingkungan


kerjanya.

Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan
lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk :

6 | BIM BIN GAN & KO NS E LING D I SE KO L AH

Mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya.

Mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya,

Mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan
tersebut

Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri.

Menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat


bekerja dan masyarakat.

Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya.

Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal.

C. Fungsi, Asas dan Prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah


1. Fungsi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Bimbingan dan konseling disekolah berfungsi sebagai upaya untuk membantu kepala sekolah
beserta stafnya di dalam menyelenggarakan kesejahteraan sekolah. Secara umum fungsi
bimbingan dan konseling dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli (klien) agar
memiliki pemahaman terhadap potensi dirinya dan lingkungan (pendidikan, pekerjaan, dan
norma agama). Konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal
dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.
2. Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa
mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya
supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan
kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang
membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi,
informasi, dan bimbingan kelompok.
3. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif .
konselor berupaya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif. Konselor dan
7 | BIM BIN GAN & KO NS E LING D I SE KO L AH

guru atau staf sekolah bekerja sama membentuk tim kerja merencanakan dan melaksanakan
program bimbingan secara berkesinambungan membantu konseli mencapai tugas
perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan di sini adalah pelayanan
informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan
karyawisata.
4. Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi
ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami
masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar maupun karir. Teknik yang dapat
digunakan adalah konseling dan remedial teaching.
5. Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih
kegiatan ekstrakurikuler, jurusan, atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir
atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam
maupun di luar lembaga pendidikan.
6. Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah/
madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap
latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan konseli. Dengan menggunakan informasi
yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam
memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi
sekolah/madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran maupun menyusun bahan
pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.
7. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli untuk
menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
8. Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga
dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak).
Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konsli supaya memiliki
pola berpikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat
menghantarkan mereka pada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
9. Fungsi fasilitas, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan
perkembangan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam seluruh aspek dalam diri
konseli.
10. Fungsi pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu supaya dapat
menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi

8 | BIM BIN GAN & KO NS E LING D I SE KO L AH

ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan
penurunan produktifitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program
yang menarik, rekreatif, dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.
Adapun fungsi khusus bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :
1. Menolong anak dalam kesulitan belajarnya
Sekolah-sekolah kita pada umumnya masih kurang memperhatikan individual anak-anak.
Banyaknya jumlah mata pelajaran dan luasnya bahan pelajaran, menyebabkan guru pada
umumnya hanya memompakan bahan pelajaran itu kepada otak anak-anak. Fungsi pokok dari
bimbingan dan konseling adalah menolong individu-individu yang mencari dan membutuhkan
bantuan. Jenis bantuan yang dibutuhkan oleh individu berbeda-beda meskipun ada
kemungkinan kesukaran yang dihadapi sama.
2. Berusaha memberikan pelajaran yang sesuai dengan minat dan kecakapan anak-anak
Melaksanakan bimbingan dengan sebaik-baiknya diperlukan pengetahuan yang lengkap
tentang individu yang bersangkutan, seperti bakat, kecerdasan, minat, latar belakang keluarga,
riwayat pendidikan, dan sebagainya, yang berhubungan dengan bantuan yang akan diberikan.
3. Memberikan nasihat kepada anak yang akan berhenti sekolahnya
4. Memberi petunjuk kepada anak-anak yang melanjutkan belajarnya, dan sebagainya.
b

Asas-asas Bimbingan dan Konseling di Sekolah

1. Asas Kerahasiaan (confidential) yaitu asas yang menuntut dirahasiakannya segenap data
dan keterangan peserta didik (klien) yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau
keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini, guru
pembimbing (konselor) berkewajiban memelihara dan menjaga semua data dan keterangan
itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2. Asas Kesukarelaan yaitu asas yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan peserta
didik (klien) mengikuti/menjalani kegiatan yang diperuntukkan baginya. Guru pembimbing
(konselor) berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan seperti itu.

9 | BIM BIN GAN & KO NS E LING D I SE KO L AH

3. Asas Keterbukaan yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi
sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura-pura, baik dalam memberikan
keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi
dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Guru pembimbing (konselor)
berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien). Agar peserta didik (klien)
mau terbuka, guru pembimbing (konselor) terlebih dahulu bersikap terbuka dan tidak
berpura-pura. Asas keterbukaan ini bertalian erat dengan asas kerahasiaan dan dan kerelaan.
4. Asas Kegiatan yaitu asas yang menghendaki agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran
layanan dapat berpartisipasi aktif di dalam penyelenggaraan/kegiatan bimbingan. Guru
Pembimbing (konselor) perlu mendorong dan memotivasi peserta didik untuk dapat aktif
dalam setiap layanan/kegiatan yang diberikan kepadanya.
5. Asas Kemandirian yaitu asas yang menunjukkan pada tujuan umum bimbingan dan
konseling; yaitu peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan
konseling diharapkan menjadi individu-individu yang mandiri, dengan ciri-ciri mengenal diri
sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan
diri sendiri. Guru Pembimbing (konselor) hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan
bimbingan dan konseling bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
6. Asas Kekinian yaitu asas yang menghendaki agar obyek sasaran layanan bimbingan dan
konseling yakni permasalahan yang dihadapi peserta didik/klien dalam kondisi sekarang.
Kondisi masa lampau dan masa depan dilihat sebagai dampak dan memiliki keterkaitan
dengan apa yang ada dan diperbuat peserta didik (klien) pada saat sekarang.
7. Asas Kedinamisan yaitu asas yang menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan
(peserta didik/klien) hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang
serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke
waktu.
8. Asas Keterpaduan yaitu asas yang menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan
bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain,
saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Dalam hal ini, kerja sama dan koordinasi
dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi amat penting
dan harus dilaksanakan sebaik-baiknya.
9. Asas Kenormatifan yaitu asas yang menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan
bimbingan dan konseling didasarkan pada norma-norma, baik norma agama, hukum,
peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan kebiasaan yang berlaku. Bahkan
10 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

lebih jauh lagi, melalui segenap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling ini harus dapat
meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami, menghayati dan
mengamalkan norma-norma tersebut.
10. Asas Keahlian yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling diselnggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana
layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling lainnya hendaknya tenaga yang benar-benar
ahli dalam bimbingan dan konseling. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus
terwujud baik dalam penyelenggaraaan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11. Asas Alih Tangan Kasus yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu
menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu
permasalahan peserta didik (klien) kiranya dapat mengalih-tangankan kepada pihak yang
lebih ahli. Guru pembimbing (konselor)dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua,
guru-guru lain, atau ahli lain. Demikian pula, sebaliknya guru pembimbing (konselor), dapat
mengalih-tangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten, baik yang berada di dalam
lembaga sekolah maupun di luar sekolah.
12. Asas Tut Wuri Handayani yaitu asas yang menghendaki agar pelayanan bimbingan dan
konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana mengayomi (memberikan rasa
aman), mengembangkan keteladanan, dan memberikan rangsangan dan dorongan, serta
kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik (klien) untuk maju.

Prinsip-prisip Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Bimbingan diberikan kepada individu yang sedang berada dalam proses berkembang. Ini
berarti bahwa bantuan yang diberikan kepada siswa harus bertolak dari perkembangan dan
kebutuhan siswa.

Bimbingan diperuntukkan bagi semua siswa. Bimbingan tidak hanya ditunjukkan kepada
siswa yang bermasalah atau salah satu dari mereka.

Bimbingan dilaksanakan dengan mempedulikan semua segi perkembangan siswa. Prinsip ini
mengandung arti bahwa dalam bimbingan semua segi perkembangan siswa, baik fisik,
11 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

mental, social, emosional, maupun moral-spriritual dipandang sebagai satu kesatuan yang
saling berkaitan.
4

Bimbingan berdasar kepada kemampuan individu untuk menentukan pilihan. Prinsip ini
mengandung makna bahwa setiap siswa memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan
sendiri tentang apa yang akan dia lakukan.

Bimbingan adalah bagian terpadu dari proses pendidikan. Proses pendidikan bukanlah proses
pengembangan aspek intelektual semata, melainkan proses pengembangan seluruh aspek
kepribadian siswa.

Bimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa merealisasikan dirinya. Prinsip ini


mengandung arti bahwa bantuan di dalam proses bimbingan diarahkan untuk membantu
siswa memahami dirinya, mengarahkan dirinya kepada tujuan yang realistik.

D. Kegiatan Pokok Bimbingan dan Konseling


Macam-macam layanan bimbingan dan konseling :
a. Layanan Orientasi, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta
didik (klien) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki peserta didik,
untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru
itu.
b. Layanan Informasi, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta
didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan
jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan
untuk kepentingan peserta didik (klien).
c. Layanan Penempatan dan penyaluran, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang
memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat
(misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program
studi, program latihan, magang, kegiatan ektrakulikuler) sesuai dengan potensi, bakat, minat
erta kondisi pribadinya.
d. Layanan pembelajaran, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta
didik (klien) mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai materi
pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya, serta berbagai aspek tujuan
dan kegiatan belajar lainnya.
12 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

e. Layanan Konseling Individual, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan
peserta didik (klien) mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan
guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang
dideritanya.
f. Layanan Bimbingan Kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan
peserta didik (klien) secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai
bahan dari narasumber tertentu (teruama dari guru pembimbing) dan/atau membahas secara
bersama-sama pokok bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk

pemahaman dan

kehidupannya mereka sehari-hari dan/atau untuk pengembangan kemampuan sosial, baik


sebagai individu maupun sebagai pelajar, serta untuk pertimbangan dalam pengambilan
keputusan dan/atau tindakan tertentu.
g. Layanan Konseling Kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan
peserta didik (klien) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan
permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok, masalah yang dibahas itu adalah
maalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok.
Kegiatan Pendukung diantaranya :
a. Aplikasi Instrumentasi, yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk
mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik (klien), keterangan tentang
lingkungan peserta didik dan lingkungan yang lebih luas. Pengumpulan data ini dapat
dilakukan denagn berbagai cara melalui instrumen baik tes maupun nontes.
b. Himpunan Data, yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk menghimpun
seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik
(klien).

Himpunan

data

perlu

diselenggarakan

secara

berkelanjutan,

sistematik,

komprehensif, terpadu, dan sifatnya tertutup.


c. Konferensi Kasus, yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk membahas
permasalahan yang dialami oleh peserta didik (klien) dalam suatu forum pertemuan yang
dihadiri oleh berbagai pihak yang diharapkan dapat memberikan bahan, keterangan,
kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan tersebut. Pertemuan ini dalam
rangka konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup.
d. Kunjungan Rumah, yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk memperoleh
data, keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik
(klien) melalui kunjungan ke rumahnya. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang penuh dari
orang tua dan anggota keluarga klien yang lainnya.
13 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

e. Alih tangan kasus,yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mendapatkan
penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik (klien)
dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. Kegiatan ini
memerlukan kerjasama yang erat dan amntap antara berbagi pihak yang dapat memberikan
bantuan dan atas penanganan masalah tersebut (terutama kerjasama dari ahli lain tempat
kasus itu dialihtangankan).
Dibawah ini adalah contoh rekapitulasi kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah :
REKAPITULASI KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING
(JENIS LAYANAN BK DAN KEGIATAN PENDUKUNG)
CAWU III TAHUN PELAJARAN .. / .
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

JENIS KEGIATAN

JUMLAH
SASARAN
KLS KEL PERO

BUKTI FISIK
NO : ..

KET

Layanan orientasi
Layanan informasi
Layanan penempatan penyaluran
Layanan pembelajaran
Layanan konseling perorangan
Layanan bimbingan kelompok
Layanan konseling kelompok
Aplikasi instrumentasi BK
Penyelenggaraan himpunan data
Konperensi kasus
Kunjungan rumah
Aluh fungsi kasus

Koordinator BK,

..,..

.
Kepala Sekolah
NIP. 131013926

Bimbingan Belajar

14 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan
dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkahlangkah sebagai berikut:
1

Identifikasi Kasus

Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan
bimbingan belajar. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang
diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni:
a

Call them approach yaitu melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara
bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar

membutuhkan layanan bimbingan.


Maintain good relationship yaitu menciptakan hubungan yang baik dan penuh keakraban
sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan
melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar

saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
Developing a desire for counseling yaitu menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah
penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan
dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat,
dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak

lanjutnya.
Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan

jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.


Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga
mengalami kesulitan penyesuaian sosial

Identifikasi Masalah

Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis dan karakteristik kesulitan atau masalah
yang dihadapi siswa. Dalam konteks proses belajar mengajar, permasalahan siswa dapat
berkenaan dengan aspek (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d)
ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai
dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu
senggang.
3

Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)


15 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran
dan masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian
bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika
permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas
maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada
ahli yang lebih kompeten.
4

Evaluasi dan Follow Up

Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan
evaluasi dan tindak lanjut untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang
telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.
Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria
keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh
siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas, adanya perasaan positif sebagai dampak dari
proses dan materi yang dibawakan melalui layanan, dan adanya rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih
lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.
Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa
kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan yaitu apabila siswa telah
menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi, siswa telah memahami (self
insight) permasalahan yang dihadapi, siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima
kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance), siswa telah menurun
ketegangan emosinya (emotion stress release), siswa telah menurun penentangan terhadap
lingkungannya, siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan,
mengadakan pilihan, dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional, serta siswa telah
menunjukkan kemampuan melakukan usaha-usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap
lingkungannya sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.
Kegiatan layanan dan pendukung bimbingan dan konseling ini, kesemuanya saling terkait dan
saling menunjang baik langsung maupun tidak langsung. Saling keterkaitan dan tunjang

16 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

menunjang antara layanan dan pendukung itu menyangkut pula fungsi-fungi yang diemban oleh
masing-masing layanan/kegiatan pendukung.

E. Keberadaan dan Tugas Konselor


Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu
kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara,
fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Masing-masing kualifikasi
pendidik, termasuk konselor, memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Standar
kualifikasi akademik dan kompetensi konselor dikembangkan dan dirumuskan atas dasar
kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor.
Konteks tugas konselor berada dalam kawasan pelayanan yang bertujuan mengembangkan
potensi dan memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan dan pilihan untuk mewujudkan
kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Pelayanan dimaksud
adalah pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor adalah pengampu pelayanan ahli
bimbingan dan konseling, terutama dalam jalur pendidikan formal dan nonformal. Ekspektasi
kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa
digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman,serta mengutamakan
kepentingan konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang
diberikan.
Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai
satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari kiat pelaksanaan
pelayanan profesional bimbingan dan konseling. Kompetensi akademik merupakan landasan
bagi pengembangan kompetensi profesional, yang meliputi :
1. Memahami secara mendalam konseli yang dilayani,
2. Menguasai landasan dan kerangka teoretik bimbingan dan konseling,
3. Menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan
4. Mengembangkan pribadi dan profesionalitas konselor secara berkelanjutan.

F. Kualifikasi Akademik Konselor


Konselor adalah tenaga pendidik profesional yang telah menyelesaikan pendidikan akademik
strata satu (S-1) program studi Bimbingan dan Konseling dan program Pendidikan Profesi
17 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

Konselor dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan yang
terakreditasi. Sedangkan bagi individu yang menerima pelayanan profesi bimbingan dan
konseling disebut konseli, dan pelayanan bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal
dan nonformal diselenggarakan oleh konselor. Kualifikasi akademik konselor dalam satuan
pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah:
1
2

Sarjana pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling.


Berpendidikan profesi konselor.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Program bimbingan dan konseling di sekolah merupakan suatu program yang sangat penting
dan dibutuhkan untuk memajukan sekolah. Dengan adanya program bimbingan dan
konseling di sekolah dapat membantu sekolah dalam menangani masalah-masalah yang
dialami oleh siswa. Program BK disekolah sangat membantu pengembangan potensi siswa,
jika siswa dapat mengetahui potensinya maka siswa dapat lebih mengasah dan
mengembangkan potensinya tersebut.
Menjadi seorang konselor merupakan suatu hal yang berat, dikarenakan seorang konselor
harus mempunyai program-program dan tanggung jawab yang sangat besar. Maka seorang
konselor harus mempunyai kemauan yang keras untuk memajukan sekolah dan memajukan
pendidikan. Dengan adanya Program BK di sekolah dapat membantu pihak sekolah
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik.
18 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

DAFTAR PUSTAKA

Administrasi Bimbingan dan Konseling


(https://www.scribd.com/document_downloads/direct/36668385?
extension=doc&ft=1463362270&lt=1463365880&user_id=318690445&uahk=xMVQJVeNsJGcj
8Tf0X4UVjfEDzk) diakses 16 Mei 2016
Bimbingan dan Konseling (https://www.scribd.com/document_downloads/direct/244835439?
extension=docx&ft=1463361857&lt=1463365467&user_id=318690445&uahk=voN6+wqvTwZ
vuZcOzfHXgmPSxsw) diakses 16 mei 2016
Konselor profesional (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/Microsoft%20Word%20%20MENJADI%20KONSELOR%20PROFESIONAL_TRAINING%20HIMA%20PPB_.pdf)
diakses 16 Mei 2016
Makalah Bimbingan dan Konseling
(https://www.scribd.com/document_downloads/direct/113658272?
extension=docx&ft=1463362154&lt=1463365764&user_id=318690445&uahk=I1hZRLLfVb6Y
Iw6tyCCk+ToVZZE) diakses 16 Mei 2016

19 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H

Profesionalisasi Bimbingan dan Konseling


(https://ebekunt.files.wordpress.com/2009/06/profesionalisasi-bimbingan-dan-konseling.pdf)
diakses 16 Mei 2016
Rahmat Wahyudi,dkk. 2012. Makalah bimbingan dan konseling di sekolah.
(https://www.scribd.com/document_downloads/direct/230931272?
extension=docx&ft=1463361686&lt=14633652) diakses 16 Mei 2016

20 | B I M B I N G A N & K O N S E L I N G D I S E K O L A H