Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN PERKEBUNAN 1

OLEH :

NAMA

: ANGGI SETIAWAN

NO BP

: 1410211009

KELAS

:A

KOOR ASISTEN

: TOMI

ASISTTEN KELAS

: YUDI

DOSEN PENANGGUG JAWAB : Prof.Dr.Ir. Reni Mayerni, MP

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2016

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT serta sholawat
serta salam tercurahkan ke junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sehingga
penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir Praktikum Teknologi Produksi
Tanaman Perkebunan 1. Penulisan laporan ini brtujuan sebagai tugas akhir
praktikum dan syarat untuk mmengikuti Ujian Akhir Praktikum (UAP) Teknologi
Produksi Tanaman Perkebunan 1.
Penulisan laporan ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari segala pihak
yang membantu menyelesaikan laporan ini. Dalam pembuatan tugas laporan ini,
tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa
kelancaran dalam pembuatan laporan ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan
bimbingan dari Dosen, Asisten dan teman-teman satu kelompok yang ikut
berpartisipasi dalam pembuatan laporan ini. Penulis juga mengucapkan banyak
terima kasih kepada ibuk Prof.Dr.Ir Reni Mayerni selaku Dosen dalam mata
kuliah ini, yang mana telah banyak memberikan bimbingan dan motivasi
sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kesalahan dan
kekurangan, maka dari itu penulis mengharapkan sumbangan pikiran, pendapat
serta saran saran yang berguna demi penyempurnaan laporan ini. Semoga
laporan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca, terumatama bagi penulis
sendiri. Terima Kasih.

Padang, 14 Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar....................................................................................................i
Daftar Isi.............................................................................................................ii
Daftar Tabel........................................................................................................iii
Daftar Gambar....................................................................................................iv
Daftar Lampiran..................................................................................................v
BAB I. PENDAHULUAN..................................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Tujuan............................................................................................................3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................4
2.1 Budidaya Tanaman Karet..............................................................................4
2.2 Budidaya Tanaman Kakao...........................................................................10
BAB III. BAHAN DAN METODA..................................................................16
3.1 Waktu dan Tempat.......................................................................................16
3.2 Alat dan Bahan............................................................................................16
3.3 Cara Kerja....................................................................................................16
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................18
4.1 Hasil.............................................................................................................18
4.2 Pembahasan..................................................................................................20
BAB V. Penutup.................................................................................................27
5.1 Kesimpulan..................................................................................................27
5.2 Saran............................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran

ii

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Pengamatan Karet di Rumah Kawat..........................................18
Tabel 2. Hasil Pengamatan Karet di Lahan Atas...............................................19

iii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tanaman Karet Rumah Kawat............................................................18
Gambar 2. Tanaman Karet Lahan Atas.................................................................19
Gambar 3. Gambar Kakao BL50...........................................................................24
Gambar 4. Standar Operational Procedure............................................................25
Gambar 5. Alat pengering biji kakao hingga KA 7%............................................26
Gambar 6. Mesin Pengayak..................................................................................26
Gambar 7. Mesin Penyangrai................................................................................26
Gambar 8. Mesin Pemisah biji kako dengan kulit arinya.....................................27
Gambar 9. Mesin Penggilingan.............................................................................27

iv

DAFTAR LAMPIRAN
Rekomendasi Pupuk
Dokumentasi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkebunan yaitu usaha pertanian dengan memanfaatkan lahan luas untuk
menanam tanaman yang menghasilkan komoditi yang masih membutuhkan
pengolahan lebih lanjut dan biasanya tidak dikonsumsi secara lokal namun
diperdagangkan dalam skala besar.Usaha perkebunan merupakan usaha yang
menghasilkan barang dan/atau jasa perkebunan dengan suatu tujuan memperoleh
keuntungan, skala usaha perkebunan yang didasarkan pada luas lahan usaha, jenis
tanaman usaha, teknologi yang digunakan, banyaknya tenaga kerja, besarnya
modal, dan/atau kapasitas pabrik yang wajib memiliki izin usaha.
Perkebunan dan kebun tidak sepenuhnya sama. Perkebunan dilakukan secara
intensif menggunakan berbagai mesin untuk mengolah hasil komoditi
perdagangan (pertanian) dalam skala besar dan bukan untuk konsumsi lokal.
Lahan perkebunan merupakan lahan usaha pertanian yang cukup luas, biasanya
terletak di daerah tropis maupun subtropis. Sedangkan kebun adalah lahan yang
tidak terlalu luas yang berafda di sekitar perkarangan tempat tinggal manusia
yang dimanfaatkan untuk biofarma atau bertanam sayur namun tidak dilakukan
secara intensif dan memiliki manajemen yang tegas serta berskala kecil tidak
untuk menghasilkan keuntungan.
Ukuran luas perkebunan sangatlah relatif dan tergantung dari volume
komoditas yang dihasilkan. Namun, suatu perkebunan memerlukan suatu luas
minimum untuk menjaga keuntungan yang dihasilkan melalui sistem produksi
yang diterapkannya. Kepemilikan lahan usaha bukan merupakan syarat mutlak
dalam perkebunan, sehingga untuk beberapa komoditas berkembang sistem sewamenyewa lahan ataupun sistem pembagian usaha.
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di
dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20
tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada
tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun
2004.

Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk


pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha
yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan
perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8%
perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005
mencapai angka sekitar 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan
lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani dan lahan
kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap
komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan
pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa
merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini,
perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau perkebun
swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman
secara intensif.
Kakao secara garis besar dapat dibagi menjadi dua tipe besar, yaitu Criollo
(Amerika Tengah dan Amerika Selatan) dan Forastero (Amazona dan Trinitario).
Tanaman kakao dapat diperbanyak dengan cara generativ ataupun vegetatif.
Kakao lindak umumnya diperbanyak dengan benih dari klon-klon induk yang
terpilih. Sedangkan kakao mulia umumnya diperbanyak secara vegetatif. Namun,
kakao lindak pun dewasa ini juga sering diperbanyak secara vegetatif untuk
meningkatkan mutu dan hasil. Budidaya kakao sangat ditentukan oleh tersedianya
benih dan bibit yang baik untuk menjamin tersedianya benih yang bermutu, maka
dewasa ini di Indonesia terdapat sekitar 10 produsen benih
Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang
peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional di Indonesia, khususnya
sebagai penyedia lapangan kerja, dan sumber pendapatan. Selain itu, kakao juga
berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan
agroindustri. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan
tanaman kakao adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman kakao
merupakan tanaman tahunan, karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit akan

berakibat buruk dalam pengusahaannya, walaupun diberi perlakuan kultur teknis


yang baik tidak akan memberikan hasil yang diinginkan, sehingga modal yang
dikeluarkan tidak akan kembali karena adanya kerugian dalam usaha tani. Untuk
menghindari masalah tersebut, perlu dilakukan cara pembibitan kakao yang baik.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui semua hal
tentang Budidaya Tanaman Karet ( Hevea brasiliensis ) dan Budidaya Tanaman
Kakao ( Theobroma cacao L ).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Budidaya Tanaman Karet ( Hevea brasiliensis )
Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi
dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 25 m. Batang
tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di
beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke
arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama
lateks.(Tim Penulis PS. 2008)
Sesuai dengan habitat aslinya di Amerika Selatan, terutama di Brazil yang
beriklim tropis, maka karet juga cocok ditanam di daerah-daerah tropis lainnya.
Daerah tropis yang baik ditanami karet mencakup luasan antara 15 o LU - 10o LS.
Walaupun daerah itu panas, sebaiknya tetap menyimpan kelembapan yang cukup.
Suhu harian yang diinginkan tanaman karet rata rata 25 30 o C. Apabila dalam
jangka waktu panjang suhu harian rata-rata kurang dari 20 o C, maka tanaman
karet tidak cocok di tanam di daerah tersebut. Pada daerah yang suhunya terlalu
tinggi, pertumbuhan tanaman karet tidak optimal. Tanaman karet dapat tumbuh
dengan baik pada ketinggian antara 1 - 600 m dari permukaan laut. Curah hujan
yang cukup tinggi antara 2000 - 2500 mm setahun. Akan lebih baik lagi apabila
curah hujan itu merata sepanjang tahun. (Tim Penulis PS. 2008)
Menurut (Tim Penulis PS. 2008) Dalam kerajaan tanaman atau sistem
klasifikasi kedudukan tanaman karet adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiosperma

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Euphorbiales

Family

: Euphorbiaceae

Genus

: Hevea

Spesies

: Hevea brassiliensi

Sistem perakarannya padat/kompak, akar tunggangnya dapat menghujam


tanah hingga kedalaman 1-2 meter, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar

sejauh 10 meter.Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan


akar tunggang, akar ini mampu menopang batang tanman yang tumbuh tinggi dan
besar. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang
tinggi di atas.Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya
agak miring ke arah Utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal
dengan nama lateks (Dwijoseputro.1994)
Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi
dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 25 m. Batang
tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di
beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke
arah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama
lateks. Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang
cukup besar. Pohon dewasa dapat mencapai tinggi antara 15 30 m.
Perakarannya cukup kuat serta akar tunggangnya dalam dengan akar cabang yang
kokoh. Pohonnya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi diatas.
(Dwijoseputro.1994)
Tangkai daun utama 3-20 cm. Daun berbentuk elips memanjang dengan
ujung runcing atau lancip. Tepinya rata. Pada tiap tangkai tumbuh 3 helai daun.
Daunnya tersusun melingkar batang (spiral), berambut. Bunganya bergerombol
muncul dari ketiak daun (aksilar), individu bunga bertangkai pendek, bunga
betina tumbuh di ujung. (Dwijoseputro.1994)
Bunga tanaman karet tumbuh bergerombol dari ketiak daun. Bunga betina
terletak di ujung proporsi bunga jantan lebih banyak dari bunga betina. Bunga
jantan mekar selama 1 hari lalu langsung luruh, sedangkan bunga betina mekar
selama 3-4 hari. Biji karet berwana coklat. Berbentuk bulat sampai lonjong.
Warna putih pada biji karet mengandung banyak air. (Dwijoseputro.1994)
Syarat tumbuh Tanaman Karet adalah Tanaman karet adalah tanaman daerah
tropis. Luasan tanaman karet 150 LU-100 LS. Ketinggian tempat yang sesuai
untuk tanaman karet adalah 100-600 mdpl. Curah hujan yang diinginkan berkisar
antara 2.000-2.500 mm/thn. Tanaman karet tmbuh optimal di dataran rendah,
yakni pada ketinggian sampai 200 m dpl. Makin tinggi tempat, perumbuhannya
semakin lambat dan hasilnya lebih rendah. Ketinggian lebih dari 600 m dari

permukaan laut tidak cocok lagi untuk tanaman karet. Jika dalam waktu yang
lama suhu rata-rata kurang dari 200c, maka tempat tersebut tidak cocok untuk
budidaya karet, demikian sebaliknya. Pertumbuhan tanaman karet optimal adalah
pada suhu antar 15-300C. Di pulau Jawa, (>200m dpl), sedangkan di Sumatera
umumnya di dataran rendah. (Andoko, A dan Setiawan. 1997)
Tanaman karet tidak tahan terhadap hembusan angin yang terlalu kencang.
Hembusan angin yang terlalu kencang dapat membuat pohon karet roboh. Makin
tinggi tempat, perumbuhannya semakin lambat dan hasilnya lebih rendah.
Ketinggian lebih dari 600 m dari permukaan laut tidak cocok lagi untuk tanaman
karet. (Andoko, A dan Setiawan. 1997)
Tanah tempat tanaman karet tumbuh,Tanaman karet bukanlah tanaman
manja, dapat tumbuh pada tanah yang mempunyai sifat fisik baik atau sifat
fisiknya dapat diperbaiki. Tanah yang dikehendaki adalah bersolum dalam,
permukaan air tanah rendah yaitu 1 m . Jika lahan untuk budidaya karet tidak
berkontur rata, tetapi memiliki kemiringan lebih dari 100 sebaiknya dibuat teras
dengan lebar minimum 3 m. Teras ini dibuat untuk mencegah terjadinya erosi.
Jenis tanah tanaman karet mulai dari vulkanis muda, tua dan aluvial sampai tanah
gambut dengan drainase dan aerase yang baik, tidak tergenang air. pH tanah yang
bervariasi dari 3,0-8,0. Tanaman karet rekasi tanah yang umunya di tanam yang
mempunyai pH antara 3-8. pH tanah di bawak 3 atau diatas 3 dapat menyebabkan
tanaman akan terhambat. (Sutanto, R. 2005)
Media tanam yang dikehendaki tanaman karet adalah Tanah untuk media
tanam ini harius subur dan humus yang bisa diambil dari tanah permukaan (top
soil) dengan kedalaman maksimum 15 cm. tanah tidak perlu dicampur dengan
pupuk kandang, pair atau bahan lainnya. Setelah itu, kecambah karet ditanam
dengan cara yang sama dengan menanam kecambah karet di persemaian lahan.
(Sutanto, R. 2005)
Media tanam karet dapat dikombinasikan dari top soil, humus dan pukan.
Humus merupakan ikatan atau gabungan senyawa organik yang tidak mudah
terurai (resisten berwarna coklat sampai hitam), berkemampuan mengikat atau
menahan air, memegang atau menyimpan unsur hara. Kompos merupakan
kotoran ternak yang dicampurkan dengan media tanam yang lain. Secara kimia,

kompos dapat meningkatkan kapasitas tukar kation, ketersediaan unsur hara dan
ketersediaan asam humat. Asam humat akan membantu meningkatkan proses
pelapukan bahan mineral secara biologi. Kompos merupakan sumber makanan
(energi) bagi mikroorganisme tanah. (Andoko, A dan Setiawan. 1997)
Pupuk tanaman karet adalah Fosfor merupakan senyawa penyusun jaringan
tanaman seperti asam nukleat , fosfolipida dan fitin. P diperlukan untuk
pembentukan primordia bunga dan organ tanaman untuk reproduksi. Peranan P
yang lain adalah memepercepat masaknya buah biji tanaman, terutama pada
tanaman serealia. Fosfor ditemukan relatif dalam jumlah lebih banyak dalam
buah dan biji tanaman. P anorganik diperlukan dalam sel-sel daun waktu
penyusunan karbohidrat. Bila kandungan P berlebihan, umur tanaman seakanakan menjadi lebih pendek dibandingkan dengan tanaman yang normal. (Musa,
L. 2006)
Pertambahan fosfor ke dalam tanah hanya bersumber dari defosit atau
peapukan batuan dan mineral yang mengandung fosfat, tidak seperti nitrogen
yang pertambahannya dapat melalui pengikatan bio-kimia. Oleh karena itu
kandungan fosfor di dalam tanah hanya bersumber dan ditentukan oleh banyak
sedikitnya cadangan mineral fosfor dan tingkat pelapukannya. Kekurangan unsur
P umumnya menyebabkan volume jaringan tanaman menjadi lebih kecil dan
warna daun menjadi lebih gelap. Pada tanaman jagung, di samping menjadi
kurang baik pertumbuhannya, warna daun juga menjadi purple (keunguan) dan
kecoklatan serta pembentukan antosianin terhambat. Kadar P pada daun indikator
mulai menampakkan gejala defisiensi untuk tanaman. (Musa, L. 2006)
Pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet
meliputi pengendalian gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman.
Pengendalian Gulma dilakukan pada areal pertanaman karet, baik tanaman
belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus
bebas dari gulma seperti alang alang,Mekania, Eupatorium, dan lain - lain
sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.(Dwijoseputro.1994)
Proses pemupukan, selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat
penanaman, program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus
dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun.

Jadwal pemupukan pada semeseter I yakni pada Januari/Februari dan pada


semester II yaitu Juli/Agustus. Seminggu sebelum pemupukan, gawangan lebih
dahulu digaru dan piringan tanaman dibersihkan. Pemberian SP-36 biasanya
dilakukan dua minggu lebih dahulu dari Urea dan KCl. Sementara itu untuk
tanaman kacangan penutup tanah, diberikan pupuk RP sebanyak 200 kg/ha, yang
pemberiannya dapat dilanjutkan sampai dengan tahun ke-2 (TBM-2) apabila
pertumbuhannya kurang baik (Dwijoseputro.1994)
Penyakit karet sering menimbulkan kerugian ekonomis di perkebunan karet.
Kerugian yang ditimbulkannya tidak hanya berupa kehilangan hasil akibat
kerusakan tanaman, tetapi juga biaya yang dikeluarkan dalam upaya
pengendaliannya. Oleh karena itu langkah-langkah pengendalian secara terpadu
dan efisien guna memperkecil kerugian akibat penyakit tersebut perlu dilakukan.
Lebih 25 jenis penyakit menimbulkan kerusakan di perkebunan karet. Penyakit
tersebut dapat digolongkan berdasarkan nilai kerugian ekonomis yang
ditimbulkannya. (Dwijoseputro.1994)
Penyakit tanaman karet yang umum ditemukan pada perkebunan adalah
Penyakit

akar

putih

disebabkan

oleh

jamur

Rigidoporus

microporus

(Rigidoporus lignosus). Penyakit ini mengakibatkan kerusakan pada akar


tanaman. Gejala pada daun terlihat pucat kuning dan tepi atau ujung daun terlipat
ke dalam. Kemudian daun gugur dan ujung ranting menjadi mati. Ada kalanya
terbentuk daun muda, atau bunga dan buah lebih awal. Pada perakaran tanaman
sakit tampak benang-benang jamur berwarna putih dan agak tebal (rizomorf).
Jamur kadang-kadang membentuk badan buah mirip topi berwarna jingga
kekuning-kuningan pada pangkal akar tanaman. (Dwijoseputro.1994)
Pada serangan berat, akar tanaman menjadi busuk sehingga tanaman mudah
tumbang dan mati. Kematian tanaman sering merambat pada tanaman
tetangganya. Penularan jamur biasanya berlangsung melalui kontak akar tanaman
sehat ke tunggultunggul, sisa akar tanaman atau perakaran tanaman sakit.
Penyakit akar putih sering dijumpai pada tanaman karet umur 1-5 tahun terutama
pada pertanaman yang bersemak, banyak tunggul atau sisa akar tanaman dan
pada tanah gembur atau berpasir. Pengobatan tanaman sakit sebaiknya dilakukan
pada waktu serangan dini untuk mendapatkan keberhasilan pengobatan dan

mengurangi resiko kematian tanaman. Bila pengobatan dilakukan pada waktu


serangan lanjut maka keberhasilan pengobatan hanya mencapai di bawah 80%.
Cara penggunaan dan jenis fungisida anjuran yang dianjurkan adalah :
Pengolesan :

Calixin CP, Fomac 2, Ingro Pasta 20 PA dan Shell CP.

Penyiraman :

Alto 100 SL, Anvil 50 SC, Bayfidan 250 EC, Bayleton 250 EC,

Calixin 750 EC, Sumiate 12,5 WP dan Vectra 100 SC.


Penaburan

Anjap P, Biotri P, Bayfidan 3 G, Belerang dan Triko SP+

(Dwijoseputro.1994)
Kekeringan Alur Sadap (Tapping Panel Dryness, Brown Bast) Penyakit
kekeringan alur sadap mengakibatkan kekeringan alur sadap sehingga tidak
mengalirkan lateks, namun penyakit ini tidak mematikan tanaman. Penyakit ini
disebabkan oleh penyadapan yang terlalu sering, terlebih jika disertai dengan
penggunaan bahan perangsang lateks ethepon. Adanya kekeringan alur sadap
mula-mula ditandai dengan tidak mengalirnya lateks pada sebagian alur sadap.
Kemu-dian dalam beberapa minggu saja kese-luruhan alur sadap ini kering tidak
me-ngeluarkan lateks. (Andoko, A dan Setiawan. 1997)
Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi kakao karena pada
bagian ini terbentuk gum (blendok). Kekeringan kulit tersebut dapat meluas ke
kulit lainnya yang seumur, tetapi tidak meluas dari kulit perawan ke kulit pulihan
atau sebaliknya. Gejala lain yang ditimbulkan penyakit ini adalah terjadinya
pecah-pecah pada kulit dan pembengkakan atau tonjolan pada batang tanaman.
Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan Menghindari penyadapan yang
terlalu sering dan mengurangi pemakaian Ethepon terutama pada klon yang
rentan terhadap kering alur sadap yaitu BPM 1, PB 235, PB 260, PB 330, PR 261
dan RRIC 100. Bila terjadi penurunan kadar karet kering yang terus menerus
pada lateks yang dipungut serta peningkatan jumlah pohon yang terkena kering
alur sadap sampai 10% pada seluruh areal, maka penyadapan diturunkan
intensitasnya dari 1/2S d/2 menjadi 1/2S d/3 atau 1/2S d/4, dan penggunaan
Ethepon dikurangi atau dihentikan untuk mencegah agar pohon-pohon lainnya
tidak mengalami kering alur sadap. (Tim Penulis PS. 2008)
Pengerokan kulit yang kering sampai batas 3-4 mm dari kambium dengan
memakai pisau sadap atau alat pengerok. Kulit yang dikerok dioles dengan bahan

perangsang pertumbuhan kulit NoBB atau Antico F-96 sekali satu bulan dengan 3
ulangan. Pengolesan NoBB harus diikuti dengan penyemprotan pestisida Matador
25 EC pada bagian yang dioles sekali seminggu untuk mencegah masuknya
kumbang penggerek. Penyadapan dapat dilanjutkan di bawah kulit yang kering
atau di panel lainnya yang sehat dengan intensitas rendah (1/2S d/3 atau 1/2S
d/4). Hindari penggunaan Ethepon pada pohon yang kena kekeringan alur sadap.
Pohon yang mengalami kekeringan alur sadap perlu diberikan pupuk ekstra untuk
mempercepat pemulihan kulit. (Tim Penulis PS. 2008)
2.2 Budidaya Tanaman Kakao ( Theobroma cacao L )
Morfologi akar tanaman kakao adalah Akar kakao adalah akar tunggang
(radix primaria). Pertumbuhan akar kakao bisa sampai 8 meter kearah samping
dan 15 meter kearah bawah. kakao yang diperbanyak secara vegetatif pada awal
pertumbuhannya tidak menumbuhkan akar tunggang, melainkan akar-akar
serabut yang banyak jumlahnya. Setelah dewasa tanaman tersebut menumbuhkan
dua akar yang menyerupai akar tunggang. (Ashari, S., 1995)
Perkembangan akar sangat dipengaruhi oleh struktur tanaman, air tanah, dan
aerasi didalam tanah. Pada tanah yang drainasenya jelek dan permukaan air
tanahnya tinggi, akar tunggang tidak dapat tumbuh lebih dari 45 cm. Hal yang
sama juga akan terjadi bila air permukaan tanah terlalu dalam. Percobaan di
Malaysia memberi petunjuk bahwa air tanah yang baik untuk pertumbuhan akar
bibit kakao adalah 25 64 cm. Keterbatasan akar kakao untuk berkembang pada
tanah yang permukaan airnya ekstrem menjadi faktor pembatas penanaman kakao
di daerah pantai. Akar kecambah yang telah berumur 1 2 minggu biasanya
menumbuhkan akar-akar cabang (radix lateralis). Dari akar cabang ini tumbuh
akar-akar rambut (Fibrillia) yang jumlahnya sangat banyak. Pada bagian ujung
akar itu terdapat bulu akar yang dilindungi tudung akar (calyptra). Bulu akar
inilah yang berfungsi untuk menghisap larutan dan garam-garam tanah. Diameter
bulu akar hanya10 mikron dan panjangnya maksimum hanya 1 mm. (Ashari, S.,
1995)
kakao akan mempunyai perakaran lengkap setelah tanaman berumur 3 tahun,
tetapi hal ini masih bergantung pada faktor-faktor tanah dan jenis tanaman serta

pemupukannya. Pada akar kakao terdapat juga jamur mikoriza yang berperan
dalam penyerapan hara tertentu, terutama fosfor. (Ashari, S., 1995)
Morfologi batang tanaman kakao adalah kakao dapat tumbuh sampai
ketinggian 8 10 meter dari pangkal batangnya pada permukaan tanah. Tanaman
kakao punya kecenderungan tumbuh lebih pendek bila ditanam tanpa pohon
pelindung. Diawal pertumbuhannya tanaman kakao yang diperbanyak melalui
biji akan menumbuhkan cabang-cabang primer. Letak cabang-cabang primer itu
tumbuh disebut jorquette, yang tingginya dari permukaan tanah 1 2 meter.
Ketinggian jorquette yang ideal adalah 1,2 1,5 meter agar tanaman dapat
menghasilkan tajuk yang baik dan seimbang. (Sadjad, M. 1993)
Pada tanaman kakao yang diperbanyak secara vegetatif tidak didapati
jorquette. Cabang-cabang primer tumbuh dari pangkal batang dekat permukaan
tanah sehingga ketinggian tanaman relatif lebih rendah dari tanaman kakao asal
biji. Untuk mebentuk habitat yang baik, dibutuhkan seleksi cabang dan
pemangkasan yang teratur. (Sadjad, M. 1993)
Dari batang maupun cabang acapkali tumbuh tunas-tunas air (chupon). Bila
tunas air ini dibiarkan tumbuh akan membentuk jorket kembali. Tunasa air
tersebut juga menyerap banyak energi sehingga bila dibiarkan tumbuh akan
mengurangi pembungaan dan pembuahan. Karena itu, tunas air harus ditunas
secara berkala. Ditinjau dari tipe pertumbuhannya, cabang-cabang pada tanaman
kakao tumbuh kearah atas maupun samping. Cabang-cabang yang tumbuh kearah
samping disebut cabang-cabang plagiotrop dan cabang-cabang yang tumbuh
kearah atas disebut cabang-cabang orthotrop. (Sadjad, M. 1993)
Morfologi Daun kakao terdiri atas tangkai daun dan helai daun. Panjang daun
berkisar 25-34 cm dan lebarnya 9-12 cm. Daun yang tumbuh pada ujung-ujung
tunas biasanya berwarna merah dan disebut daun flush, permukaannya seperti
sutera. Setelah dewasa, warna daun akan berubah menjadi hijau dan
permukaannya kasar. Pada umumnya daun-daun yang terlindung lebih tua
warnanya bila dibandingkan dengan daun yang langsung terkena sinar matahari.
(Sadjad, M. 1993)
Mulut daun (stomata) terletak pada bagian bawah permukaan daun. Jumlah
mulut daun sangat bergantung pada intensitas sinar matahari. Karena kakao

termasuk tanaman lindung, aka pengaturan pertumbuhan tanaman cara


penguranagan daun untuk menyerap sinar matahari akan sangat menentukan
pembungaan dan pembuahan. Dari hasil penelitian Djati Roenggo diperoleh hasil
rata-rata bahwa permukaan bawah daun kakao mempunyai 70 stomata per mm2.
Kedudukan daun kakao pada cabang primer maupun sekunder terdiri atas dua
tipe, masing-masing 3/8 dan 1/2. Kedudukan daun 3/8 didapati pada cabang
ortotrop dan kedudukan daun didapati pada cabang plagiotrop.(Sadjad, M.
1993)
Morfologi bunga kakao adalah Jumlah bunga kakao mencapai 5.000-12.000
bunga per pohon per tahun, tetapi jumlah buah matang yang dihasilkannya hanya
berkisar satu persen saja. Bunga kakao tergolong bunga sempurna, terdiri atas
daun kelopak (calyx) sebanyak 5 helai, dan benang sari (androecium) sejumlah 10
helai. Diameter bunga 1,5 cm. Bunga disangga oleh tangkai bunga yang
panjangnya 2-4 cm. Tangkai bunga tersebut tumbuh dari bantalan bunga pada
batang atau cabang. Bantalan bunga pada cabang akan menumbuhkan bunga
ramiflora sedangkan bantalan bunga pada batang akan menumbuhkan bunga
cauliflora, yang diameter serbuk sarinya hanya 2-3 mikron.(Sadjad, M. 1993)
Daun kelopak bunga (calyx) berbentuk lanset, panjangnya 6-8 m. Warna
daun kelopak putih dan kadang-kadang makin keujung warnanya ungu
kemerahan. Daun mahkota (corolla) berbentuk cawan, panjang 8-9 mm. Warna
daun mahkota putih kekuningan atau putih kemerahan. Benang sari (androecium)
tersusun dalam dua lingkaran. Satu lingkaran terletak dilekungan mahkota.
Ukurannya pendek dan tidak keluar dari bunga, berbentuk pita dan berwarna
kuning. Lingkaran kedua terdiri atas 5 helaian yang tidak mengandung tepung
sari, terletak disebelah dalam. Ukurannya panjang dan tumbuh keluar dari bunga.
Daun buah (gynoecium) terdiri atas 5 helai dengan tepi saling berlekatan untuk
membentuk bakal buah (ovarium) beruang satu.(Sadjad, M. 1993)
Penyerbukan bunga kakao dibantu oleh serangga. Sebanyak 75% dari bunga
yang menyerbuk diketahui dibantu oleh serangga Forcipomya spp sedangkan
25% lagi oleh serangga lain yang didapati pada bunga. Ada 3 ordo serangga
penyerbuk pada tanaman kakao, yaitu Homoptera, Hymenoptera, dan Diptera.
Forxipomya spp sendiri diketahui terdiri atas 16 subgen. Umumnya serangga

Toxopera aurintii box, Tyora tessmani, Crematogester dpressa,Crematogester


clariventis, dan Cecidomyiid, serta Drosophila terdapat pada bunga yang siap
diserbuki. Dari hasil penelitian diketahui bahwa serangga Forcipomya spp atau
serangga lainnya hinggap pada bunga kakao dan kemudian tanpa sengaja
menyerbukannya karena tertarik pada garis merah yang terdapat pada staminodia
dan pada kerudung penampung bunga. Penyerbukan biasanya berlangsung pada
pagi hari, yaitu pada pukul 7.30-10.30. Lingkungan yang lembab, dingin dan
gelap karena tajuk sudah tumbuh rapat merupakan kondisi yang disenangi
serangga tersebut. Lingkungan hidup serangga penyerbuk, terutama Forcipomya
spp, adalah bahan bahan organik yang lembab dan gelap seperti daun daun
busuk, sisa-sisa kulit buah, atau batang pisang yang dibiarkan busuk dilapangan.
Forcipomya spp betina lebih sering mengunjungi bunga daripada yang jantan,
karena yang betina membutuhkan protein untuk pematangan telur (Siregar,
Tumpal H.S. 2006)
Morfologi Buah kakao berupa buah buni yang daging bijinya sangat lunak.
Kulit buah mempunyai 10 alur dan tebalnya 1-2 cm. Pada waktu muda, biji
menempel pada bagian dalam kulit buah, tetapi bila buah telah matang maka biji
akan terlepas dari kulit buah. Buah yang demikian akan berbunyi jika digoncang.
Jumlah bunga yang menjadi buah sampai matang dan jumlah biji didalam
buah serta berat biji merupakan faktor-faktor yang menentukan produksi. Buah
muda yang ukurannya kurang dari 10 cm disebut cherelle (buah pentil). Buah
muda ini acapkali mengalami pengeringan (cherelle wilt) sebagai gejala yang
spesifik dari kakao. Gejala demikian disebut physiological effect thinning, yakni
adanya proses fisiologis yang menyebabkan terhambatnya penyaluran hara untuk
menunjang pertumbuhan buah muda. Gejala tersebut bisa juga dikarenakan
adanya kompetisi energi antara vegetatif dan generatif atau karena adanya
pengurangan hormon yang dibutuhkan untuk pertumbuhan buah muda. (Siregar,
Tumpal H.S. 2006)
Didalam setiap buah terdapat 30-50 biji, bergantung pada jenis tanaman.
Sedangkan berat kering atau satu biji kakao yang ideal adalah 1 + 0,1 gram.
Beberapa jenis tanaman kakao yang menghasilkan buah yang banyak tetapi
bijinya kecil, dan sebaliknya. Perubahan warna kulit tongkok dapat dijadikan

tanda kematangan buah. Terdapat buah yang berwarna hijau tua, hiaju muda, atau
merah pada waktu muda, tetapi akan berwarna kuning bila telah matang. (Siregar,
Tumpal H.S. 2006)
Syarat tumbuh tanaman kakao adalah Sejumlah faktor iklim dan tanah
menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman cokelat. Lingkungan
alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,
temperatur, dan sinar matahari menjadi bagian dari faktor iklim yang
menentukan. Demikian juga faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya
dengan daya tembus (penetrasi) dan kemampuan akar menyerap hara. (Susanto,
F.X. 1994.)
Curah Hujan, Hal terpenting dari curah hujan yang berhubungan dengan
pertanaman kakao adalah distribusinya sepanjang tahun. Hal tersebut berkaitan
dengan masa pembentukan tunas muda (flushing) dan produksi. Areal penanaman
ideal dari kakao adalah 1.100 - 3.000 mm/tahun. Disamping kondisi fisik dan
kimia tanah, curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun tampaknya berkaitan
dengan serangan penyakit busuk buah (black pods).Didaerah yang curah
hujannya lebih rendah dari 1.200 mm per masih dapat ditanami kakao, tetapi
dibutuhkan air irigasi. Hal ini disebabkan air yang hilang karena transpirasi akan
lebih besar daripada air yang diterima tanaman dari curah hujan, sehingga
tanaman perlu dipasok dengan air irigasi. (Susanto, F.X. 1994.)
Temperatur, Pengaruh temperatur pada kakao erat kaitannya dengan
ketersediaan air, penyinaran matahari dan kelembaban yang dapat dikelola
melalui pemangkasan, penanaman tanaman pelindung, dan irigasi. Temperatur
sangat berpengaruh pada pembentukan flush, pembungaan, serta kerusakan daun.
Menurut hasil penelitian, temperatur ideal bagi pertumbuhan kakao adalah 30 0 C
- 32

C, kakao dapat tumbuh dengan baik pada temperatur minimum 15oC per

bulan dengan temperatur minimum absolut 10oC per bulan. Temperatur yang
lebih rendah dari 10o akan mengakibatkan gugur daun dan mengeringnya bunga,
sehingga laju pertumbuhannya berkurang. Temperatur yang tinggi akan memacu
pembungaan, tetapi kemudian akan segera gugur. Pembuangan akan lebih baik
jika berlangsung pada temperatur 26o 30o C pada siang hari dibandingkan bila
terjadi pada temperatur 23oC. Demikian juga temperatur 26 oC pada malam hari

masih lebih baik pengaruhnya terhadap pembungaan daripada temperatur 23o


30o C. Jumlah flush maupun luas daun lebih besar pada suhu rendah, demikian
juga waktu hidupnya. (Susanto, F.X. 1994.)
Sinar Matahari, Lingkungan hidup alami tanaman kakao adalah hutan tropis
yang di dalam pertumbuhannya mebutuhkan naungan untuk mengurangi
pencahayaan penuh. Cahaya matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman
kakao akan mengakibatkan lilit batang kecil, daun sempit, dan tanaman relatif
pendek. Walaupun demikian pembibitan masih memerlukan naungan, karena
benih cokelat akan lebih lambat pertumbuhannya pada pencahayaan sinar
matahari penuh. (Susanto, F.X. 1994.)
Pemanfaatan cahaya matahari semaksimal mungkin dimaksudkan untuk
mendapatkan intersepsi cahaya dan pencapaian indeks luas daun (ILD) optimum.
Hal itu dapat diperoleh dengan penataan naungan atau pohon pelindung serta
penataan tajuk melalui pemangkasan. Cokelat tergolong sebagai tanaman C3
yang mampu berfotosintesis pada suhu daun rendah. Fotosintesis maksimum
diperoleh pada saat penerimaan cahaya pada tajuk sebesar 20% dari pencahayaan
penuh. Kejenuhan cahaya di dalam fotosintesis setiap daun kakao yang telah
membuka sempurna pada 3 - 30 cahaya matahari penuh atau pada 15 persen
cahaya matahari penuh. Hal ini berkaitan pula dengan pembukaan stomata yang
menjadi lebih besar bila cahaya yang diterima lebih banyak. (Susanto, F.X. 1994.)
Tanah, Tanaman kakao dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asal
persyaratan fisik dan kimia tanah yang berperan terhadap pertumbuhan dan
produksi kakao terpenuhi. Kemasaman tanah (pH), kadar zat organik, unsur hara,
kapasitas adsorbsi, dan kejenuhan basa merupakan sifat kimia yang perlu
diperhatikan, sedangkan faktor fisiknya adalah kedalaman efektif, tinggi
permukaan air tanah, drainase, struktur, dan konsistensi tanah. Selain itu
kemiringan lahan juga merupakan sifat fisik yang mempengaruhi pertumbuhan
dan pertumbuhan kakao.(Susanto, F.X. 1994)

BAB III
BAHAN DAN METODA
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Teknologi Produksi Tananaman Perkebunan 1 ini dilaksanakan
mulai tanggal 13 Februari 2016 s/d 24 April 2016 pada pukul 08.00 s/d 10.00
WIB di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang
Sumatera Barat.
Sedangkan Praktikum kunjungan Lapangan Teknologi Produksi Tanaman
Perkebunan 1 dilaksanakan pada Minggu, 17 April 2016 yang bertujuan ke
Perkebunan Kakao di Jorong Balubuih Nagari Sungai Talang, Kecamatan
Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota dan ke Pabrik Kakao yang bertempat di
Kelurahan Kapalo Koto, Aur Kuning Kecamatan Payakumbuh, Sumatera Barat
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum di Lahan Percobaan adalah
Cangkul, Penggaris, meteran, Kayu ukuran 1 meter, Sprayer HP dan alat tulis.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah Tanaman Karet, dan Fungisida.
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Tanaman Karet di Lahan Atas
Tanaman karet dibagi berdasarkan kelas dan jumlah kelompok yang ada,
masing - masing kelompok mendapatkan satu tanaman karet yang akan
dipelihara. Setelah ditentukan, kemudian tanaman karet dibersihkan dari gulma
yang ada di sekitar tanaman karet tersebut. Setelah gulma bersih lalu tanah yang
ada disekitar tanaman karet digemburkan dan diberi pupuk buatan yang terdiri
dari pupuk NPK, SP36 dan KCl, dan disiram. Setelah perawatan tanaman karet
selesai maka tanaman karet tersebut diamati Panjang Batang, jumlah daun, lebar
kanopi dan panjang tunas nya. Hasil pengamatan dicatat.

3.3.2 Tanaman Karet di Lahan Bawah


Tanaman karet dibagi berdasarkan kelas dan jumlah kelompok yang ada, dan
masing - masing kelompok mendapatkan delapan tanaman karet yang akan
dipelihara. Setelah ditentukan, kemudian tanaman karet dibersihkan dari gulma
yang ada di sekitar tanaman karet tersebut. Setelah gulma bersih lalu tanah yang
ada di dalam polybag tanaman karet digemburkan dan diberi pupuk buatan yang
terdiri dari pupuk NPK, SP36 dan KCl, dan disiram. Setelah perawatan tanaman
karet selesai maka tanaman karet tersebut diamati Panjang Batang, jumlah daun,
lebar kanopi dan panjang tunas nya. Hasil pengamatan dicatat.

BAB IV
HAASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Tanaman Karet di Rumah Kawat
Tabel 1. Hasil Pengamatan Karet di Rumah Kawat

Polybag ke-

1
2
3
4

5
6
7
8

Kriteria
Pengamatan
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Lebar Kanopi
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Lebar Kanopi
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Lebar Kanopi
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Lebar Kanopi
Panjang Tunas
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Lebar Kanopi
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Lebar Kanopi
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
Lebar Kanopi
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun

1
70
2
7,5
50
5
13
34
2
15
55,5
5
15
40
60
4
15,5
83
7
22,5
60
2

2
72
2
7,75
53
5
15
35
2
16
56
5
15,5
41
62,5
4
16
83
7
24,5
65
2

Pengamatan Ke3
4
5
73
73
73
2
3
3
8
8,5
10
54
54
56
5
6
8
16,5 17 16,5
37
37
37
2
4
4
16,3 16,5 16,5
57,5 58
60
5
5
16
17 17,5 17,5
42
43 45,5
65,5 66 66,5
4
4
6
26,5 27
27
87
87
87
7
7
7
26
27
27
66 66,5 67
2
5
5

6
73,5
5
11,5
56
7
16,5
38
4
18
70
16
26,5
60
68
6
27,5
89
7
27,5
68
6

7
74
5
13
57
7
17
38,5
4
18,5
73
16
27
62
69
6
28
89
7
29
69
6

Lebar Kanopi

10

11

12

13

14

16

16,5

Gambar 1. Tanaman Karet Rumah Kawat

4.1.2 Hasil Tanaman Karet di Lahan Atas


Tabel 2. Hasil Pengamatan Karet di Lahan Atas

Pengamatan ke
1
2
3

Tinggi Tanaman
43
53
55

Kriteria Pengamatam
Jumlah Daun
19
21
21

Lebar Kanopi
51,5
54,5
56

Gambar 2. Karet di Lahan Atas

4.2 Pembahasan
4.2.1 Tanaman Karet (Hevea brasilliensis)
Tanaman karet (Hevea brasilliensis) merupakan tanaman tahunan. Satu siklus
tanam yang dihitung dari saat penanaman di lapangan sampai dengan peremajaan
memakan waktu 25 tahun. Hal ini berarti pemilihan bahan tanaman dilakukan
hanya sekali dalam 25 tahun. Pemilihan bahan tanam harus dipertimbangkan
secara cermat karena adanya kekeliruan dalam pemilihan bahan tanam akan

berdampak negatif terhadap perkebunan khususnya, maupun usaha karet alam


nasional.
Bahan tanam karet anjuran adalah bahan tanaman klon yang diperbanyak
secara okulasi. Dibandingkan dengan benih semaian, penggunaan bahan tanam
klon sangat menguntungkan karena produktivitas tanaman lebih tinggi, masa
tanaman belum menghasilkan lebih cepat, tanaman lebih seragam sehingga
produksi pada tahun sadap pertama lebih tinggi serta memiliki sifat sekunder
yang diinginkan seperti relatif tahan terhadap penyakit tertentu, batang tegap,
responsif terhadap stimulan dan pupuk, serta volume kayu per pohon tinggi.
Perbanyakan tanaman Karet (Hevea brasilliensis) umumnya dilakukan
dengan cara vegetatif melalui okulasi. Okulasi adalah perbanyakan tanaman yang
dilakukan dengan cara menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman
lain yang sejenis agar mendapatkan sifat tanaman yang diinginkan/unggul. Bibit
okulasi dapat diperoleh dari stum mata tidur dan stum mini. Yang dimaksud
dengan stum mata tidur adalah bibit okulasi yang mata okulasinya masih belum
tumbuh. Keuntungan dengan bibit stum mata tidur antara lain waktu
penyiapannya lebih mudah dan cepat dan harganya relatif murah. Namun ada
kelemahannya yaitu presentase kematian cukup tinggi (15%-20%) dan
pertumbuhan tanaman kurang seragam.
Sedangkan stum mini adalah bibit hasil okulasi yang ditumbuhkan di
pembibitan selama 6-8 bulan sebelum pembongkaran sehingga bibit mempunyai
mata lebih banyak.Keuntungan bibit dengan stum mini antara lain mata tunas
lebih banyak, presentase kematian rendah, pengangkutan dan penanaman lebih
mudah, masa tanaman belum menghasilkan (TBM) lebih singkat. Kelemahan
stum mini adalah waktu penyiapan lebih lama dan harga relatif mahal.
Pada tanaman karet yang di rumah kawat di perbanyak dengan menggunakan
biji dan juga stum mata tidur, pemeliharaan tanaman karet yang dilakukan di
rumah kawat diantara nya adalah penyiangan gulma yang tumbuh di sekitar
tanaman karet, setelah itu tanah yang ada di dalam polybag digemburkan setelah
tanah gembur diberikan pupuk kimia buatan yang terdiri atas pupuk NPK, SP36
dan KCL. Setelah di lakukan pemupukan tanaman karet di siram, dan dilakukan
pengamatan sebanyak 7 kali.

Selain di lakukan pengamatan sebanyak 7 kali tanaman karet ini harus rajin
di siram sekitar 2 hari sekali, penyiraman ini bertujuan untuk menjaga
kelembaban tanah dan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman karet ini, karena
karet membutuhkan air yang cukup banyak unttuk pertumbuhan dan
perkembangan nya.
Disetiap pengamatan terjadi nya variasi data yang secara keseluruhan
tanaman karet dapat tumbuh dengan baik dan pertumbuhan tanamn karet ini
terjadi secara berlanjut, namun ada di beberapa pengamatan seperti pada
pengamatan jumlah daun pada tanaman karet ke dua di dapati hasil jumlah daun
tanaman karet pada awal nya adalah 5, 5, 5, 6, 8, 7, 7. Terjadi penurunan jumlah
daun pada pengamatan ke-6 dan pengamatan ke-7, hal ini terjadi di karenakan
pada tanaman karet tersebut ada daun nya yang menguning layu dan gugur.
Sedangkan pengamatan jumlah daun pada tanaman karet yang ke-4 terjadi
penambahan jumlah daun yang cukup banyak yaitu 5, 5, 5, 5, 16, 16, 16.
Penambahan jumlah daun tanaman karet ini terjadi pada minggu ke-5 mengamat
tumbuh daun - daun muda sebanyak 11 daun muda.
Pada pengamatan Panjang batang tanaman karet dapat diambil kesimpulan
bahwa tanaman karet yang ada di rumah kawat ini pertumbuhan batang nya
bertambah secara sedikit demi sekitit, karena perambahan tinggi batang nya tidak
terlalu signifikan dengan kata lain pertambahan panjang hanya terjadi seditit demi
sedikit, pertambahan tinggi hanya terjadi sekitar 0,5 cm dan bahkan terkadang
pertumbuhan tinggi batang tanaman karet ini konstan.
Pada pengamatan lebar kanopi dapat dilakukan dengan cara mengambil
sampel lebar daun dari arah timur ke barat dan lebar kanopi dari arah utara ke
selatan, setelah kedua lebar kanopi itu di dapatkan maka kedua nya di jumlahkan
dan di bagi 2. Maka didapatkan hasil pertambahan lebar kanopi pada daun
tanaman karet ini terjadi cukup signifikan, karena pertambahan nya terjadi sekitar
1 cm - 2 cm setiap kali mengamat.
Tanaman karet pada lahan atas di peranyak dengan menggunakan benih
okulasi stum mata tidur, stum mata tidur adalah bibit okulasi yang mata
okulasinya masih belum tumbuh. Di pilih menanam stum mata tidur adalah
Keuntungan dengan bibit stum mata tidur antara lain waktu penyiapannya lebih

mudah dan cepat dan harganya relatif murah. Namun demikian stum mata tidur
juga memiliki akelemahannya yaitu presentase kematian cukup tinggi (15%-20%)
dan pertumbuhan tanaman kurang seragam.
Selain itu tanaman karet yang di tanam dengan bibit yang berasal dari stum
mata tidur ini menghendaki air yang banyak untuk pertumbuhannya karena
tanaman karet ini rentan terhadap musim kemarau sehingga akan lebih baik saat
penanaman di lakukan pada awal musim hujan, agar kebutuhan air tanaman karet
ini tercukupi dengan baik dan tidak mengganggu dari proses pertumbuhan dan
perkembangan nya.
Pemeliharaan yang di lakukan pada tanaman karet ini tidaklah jauh berbeda
dengan pemeliharaan yang diberikan kepada tanaman karet yang ada di rumah
kawat diantara nya penyiangan gulma yang ada disekitar tanaman karet tersebut
dan ada nya penggemburan tanah yang ada di sekitar perakaran tanaman karet
yang bertujuan untuk mempermudah tanaman karet menyerap hara. Setelah
penggemburan tanaman karet ini diberi pupuk buatan yaitu NPK, KCL dan SP36.
Pemberian pupuk bertujuan untuk memenuhi nutrisi yang diperlukan tanaman
karet ini.
Permasalah yang terjadi pada karet yang ada dilahan atas ini adalah adanya
serangan dari hama babi yang menyebabkan kerusakan tanaman karet untuk
mengatasi serangan hama babi ini maka di lakukan dengan cara dilakukan
pemasangan pagar di sekitar tanaman karet, namun sebenar nya pemasangan
pagar disekitar tanaman karet ini tidak baik karena mengganggu sistem perakaran
tanama karet, oleh sebab itu pemasangan pagar ini harus memperhatikan aspek aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga dalam jangka panjang
pertumbuhan dan perkembangan tanaman karet tidak terganggu.
4.2.2 Tanaman Kakao Fieldtrip
Tanaman Kakao yang dibudidayakan di daerah nagari Belubus kecamatan
Guguak Kabupaten Lima Puluh kota ini menggunakan tanaman Kakao dengan
Varietas BL50 (singkatan dari Balubuih Lima Puluh Kota). Pada tahun 2015, klon
BL 50 telah didaftarkan sebagai varietas baru kepada Pusat Perlindungan Varietas
Tanaman (PPVT).

Berbicara mengenai produk alam Indonesia, selain kopi Indonesia juga


memiliki produk kakao atau cokelat yang memiliki kualitas baik. Buktinya adalah
adanya sebuah penghargaan yang diterima oleh Pak Edi Syafianto bersama
dengan kelompok taninya, yang dianugerahkan karena kakao hasil produksi
mereka masuk ke dalam 50 besar jenis kakao dunia yang memiliki citarasa
terbaik. Edi yang bersama dengan kelompok taninya mengembangkan biji kakao
klon unggul seakan tidak percaya ketika mendengar kabar yang disampaikan
KBR Perancis mengenai kabar membahagiakan, mengenai masuknya kakao
unggulan mereka dan apresiasi berupa penghargaan Cocoa Award 2015.
Pak Edi sendiri merupakan seorang petani kakao yang berasal dari Jorong
Balubuih, Nagari Sungai talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh
Kota, Sumatera Barat. Ia bersama dengan kelompok Tani Inovasi di desanya
berhasil menemukan sebuah varietas biji kakao unggulan yang dinamakan BL-50
(Balubuih 50 Kota). Pak Edi yang dibantu oleh Dinas Perkebunan Sumbar dan
Puslitkoka Jember kemudian mencoba mengikut sertakan biji kakao unggulan
mereka tersebut ke ajang bergengsi dunia tersebut. Sebelum diberangkatkan
menuju Paris biji kakao tersebut terlebih dahulu difermentasikan.
Dengan kemenangan yang diterima olehnya bersama dengan kelompok
taninya tersebut, tentunya membuatnya berbangga hati, sebab memang ajang
International Cocoa Award (ICA) ini diketahui merupakan sebuah ajang yang
sangat berengsi di dunia yang mengapresiasi bagaimana hasil kerja para petani
kakao dari seantero dunia. Di tahun 2015 sendiri hanya ada 50 petani dari
seantero dunia, dari mulai Amerika Selatan, Eropa, Asia dan Afrika yang berhasil
dan berhak mendaptakan penghargaan tersebut.
Perlu diketahui jika klon kakao BL-50 yang ditemukan Pak Edi bersama
kelompok tani inovasi di tahun 2011 itu memang sangat spesial, dengan teknik
yang mereka sebut sambung samping, Pak Edi sendiri berhasil mengoptimalkan
ukuran kakao hasil budidayanya menjadi jumbo, sehingga meskipun dengan
lahan yang teramat sempit, para petani bisa mendapatkan jumlah biji kakao yang
cukup banyak, sehinggabisa memenuhi kebutuhan para petani kakao. Diketahui
juga jika biji kakao klon BL-50 ini juga cukup tahan terhadap serangan penyakit.

Kini Pak Edi berserta kelompok taninya seringkali kedatangan tamua dari
berbagai kota, bahkan negara yang tertarik dengan klon BL-50 tersebut, sebab
diketahui juga jika harga klon kako BL-50 ini cukup unggul dan diatas dari jenis
biji kako biasa. Pak Edi yang kini memiliki lahan tanam perkebununan kakao
yang sudah cukup luas ini berharap jika kedepannya ia bisa menghasilkan
kualitas biji kako terbaik di dunia, disamping itu ia juga berharap mampu untuk
mengolah biji-biji tersebut menjdai cokelat sendiri.
Gambar 3. Kakao BL50

Pabrik
kakao
Chokato
Data
Umum
Perusahaan Chokato sendiri adalah :
Nama Perusahaan

: Pabrik Mini Chokato Kepala

Pelaksana Pabrik

: Joni Saputra, SE

Alamat

: Kelurahan Kapalo Koto Kecamatan Payakumbuh

Selatan Kota Payakumbuh Sumatra Barat


CHOKATO (Choklat Kapalo Koto) adalah suatu usaha kecil menengah yang
bergerak di bidang pengolahan kopi coklat sampai menjadi beberapa
olahanproduk dari coklat.yang didirikan oleh Kelompok Tani Tanjung Subur di
Kel.kapalo koto Kec.payakumbuh selatan payakumbuh Sumatera Barat.Karena di
daerah Payakumbuah selatan ini memiliki banyak petani kakao, jadi pemerintah
ingin mendirikan pabrik mini pengolahan kakao, dimana pada umumnya
masyarakat disini setidaknya memiliki 10 batang kakao pada tiap rumah.

Gambar 4. Standar Operational Procedure

Gambar 5. Alat pengering biji kakao hingga KA 7%


Gambar 6. Mesin Pengayak
Gambar 7. Mesin Penyangrai

Gambar 8. Mesin Pemisah biji kako dengan kulit arinya

Gambar 9. Mesin Penggilingan


Beberapa olahan CHOKATO, sebagai berikut : a. Bubuk coklat murni, b.
Lulur coklat alami / Masker, c. Lemak coklat / Coco butter, d. Milk Chocolate /
Coklat batangan & permen coklat dan e. Bubuk coklat 3 in 1.

BAB V
PEBUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil yang didapat, maka dapat disimpulkan bahwa : Tanaman karet
(Hevea brasiliensis) merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup
besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15 25 m. Batang tanaman biasanya
tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun
karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke arah utara.
Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. Dalam
pengamatan yang dilakukan maka dapat disimpukan pertumbuhan dan
perkembangan tanaman karet berjalan secara perlahan bahkan konstan
Tanaman Kakao yang dibudidayakan di daerah nagari Belubus kecamatan
Guguak Kabupaten Lima Puluh kota ini menggunakan tanaman Kakao dengan
Varietas BL50 (singkatan dari Balubuih Lima Puluh Kota). Pada tahun 2015, klon
BL 50 telah didaftarkan sebagai varietas baru kepada Pusat Perlindungan Varietas
Tanaman (PPVT). Diketahui juga jika biji kakao klon BL-50 ini juga cukup tahan
terhadap serangan penyakit.
Pengolahan kakao di Payakumbuh di lakukan di pabrik mini Chokato
( cokelat kapalo koto ) yang berada di Kelurahan Kapalo Koto Kecamatan
Payakumbuh Selatan Kota Payakumbuh Sumatra Barat, Beberapa olahan
CHOKATO, sebagai berikut : a. Bubuk coklat murni, b. Lulur coklat alami /
Masker, c. Lemak coklat / Coco butter, d. Milk Chocolate / Coklat batangan &
permen coklat dan e. Bubuk coklat 3 in 1.
5.2 Saran
Sebaiknya untuk praktikum Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan 1 ini
lebih serius lagi dan rajin dalam melakukan penyiraman agar prtumbuhan dan
pekembangan tanaman karet tidak terganggu

DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S., 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Jakarta.: UI Press,
Andoko, A dan Setiawan. 1997. Petujuk Lengkap Budidaya Karet. Jakarta
Penebar Swadaya
Dwijoseputro.1994.Pengantar Fisiologi Tumbuhan.Jakarta : PT.Gramedia
Musa, L. 2006. Dasar Ilmu Tanah. USU Press, Medan.
Sadjad, M. 1993. Budidaya Tanaman Perkebunan. Jakarta : Rajawali Press
Siregar, Tumpal H.S; Slamet Riyadi, Laeli Nuraeni. 2006. Pembudidayaan,
Pengolahan, dan Pemasaran Cokelat. Jakarta : Penerbit Penebar
Swadaya
Susanto, F.X. 1994. Tanaman Kakao Budidaya dan Pengolahan Hasil.
Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Sutanto, R. 2005. Dasar- Dasar Ilmu Tanah. Kanisius : Yogyakarta.
Tim Penulis PS. 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.

LAMPIRAN
Rekomendasi Pupuk Karet
Dosis anjuran pemberian puppuk selama 20 tahun umur tanaman karet

29

Dokumentasi