Anda di halaman 1dari 4

Amerika Serikat menggunakan taktik serangan Israel ke Gaza untuk membombardir markas ISIS di Irak, dengan

alasan untuk mengurangi korban warga sipil. (Reuters/Toby Melville)

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat menggunakan taktik serangan Israel ke Gaza untuk
membombardir markas ISIS di Irak, yaitu dengan melepaskan tembakan peringatan ke atas
gedung sebelum menghancurkan bangunan tersebut.
Taktik serangan yang disebut "ketuk-pintu" ini digunakan israel untuk menyerbu Gaza dalam
beberapa tahun terakhir. Diharapkan dengan tembakan peringatan, warga sipil di dalam gedung
itu bisa keluar dan tidak jadi korban.

Pilihan Redaksi

Meski Gencatan Senjata, Kurdi dan Syiah Bentrok di Irak


Bom Bunuh Diri di Baghdad, 11 Orang Tewas
Militan ISIS Diduga Akan Serang Warga Sipil Swedia
Kanada dan Inggris Tolak Beri Tebusan untuk Abu Sayyaf

Dikutip dari CNN, ihwal taktik ini disampaikan oleh wakil komandan operasi dan intelijen antiISIS, Mayor Jenderal Angkatan Udara Peter E. Gersten, dalam pernyataan ke media pada
Selasa (27/4).
Gersten mengatakan, taktik ini digunakan dalam menyerang pusat finansial ISIS pada 5 April lalu
di kota Mosul, Irak. AS, kata dia, telah lama mengamati bangunan operasi finansial ISIS di kota
itu dan mengidentifikasi petinggi keuangan kelompok militan tersebut.
"Dia adalah penyalur utama dana bagi tentara Daesh. Kami melihat dia keluar masuk dari rumah
itu, kami melihat pasokannya, kami melihat keamanannya. Dan kami juga sering melihat seorang
wanita dan anak-anak mereka keluar masuk bangunan itu," kata Gersten, menyebut nama lain
ISIS.

Menggunakan pesawat mata-mata dan aset intelijen lainnya, AS mulai merancang strategi untuk
mengeluarkan wanita, anak-anak dan warga sipil lainnya dari bangunan itu, kata Gersten.
"Kami menembakkan rudal Hellfire dan ledakan di udara di atas gedung sehingga tidak merusak
bangunan, hanya mengetuk atap untuk memastikan wanita itu dan anak-anaknya keluar, lalu
kami melanjutkan operasi," kata Gersten.
Dia mengakui taktik ini dipelajarinya dari Israel. "Dari situ kami memperoleh taktik, teknik dan
prosedur ini," kata dia.
Gersten tidak mengatakan bahwa militer Israel memberitahu cara melakukannya, tapi dia
menegaskan taktik itu dilakukan setelah melihat dan mengamati pola serangan Israel.
Selain itu, lanjut dia, selebaran juga disebarkan di kota Mosul untuk memberitahu akan
datangnya serangan. Hal ini juga mengambil dari Israel yang menelepon warga Gaza sebelum
menyerang. Namun kebanyakan peringatan dini Israel melalui telepon tidak cukup banyak
mengurangi jumlah korban sipil di Gaza karena waktu yang sangat sempit untuk melarikan diri.
Menggunakan taktik Israel, AS berhasil membuat wanita dan anak-anaknya keluar dari
bangunan di Mosul itu. Gersten mengatakan, wanita itu kemudian tewas setelah kembali masuk
ke dalam gedung, beberapa saat sebelum roket ditembakkan.
Kementerian Pertahanan AS menyatakan semua peristiwa itu terekam kamera namun tidak akan
dirilis karena menunjukkan korban warga sipil.
Menurut Gersten, serangan itu telah menewaskan petinggi keuangan ISIS. Namun Gersten tidak
menyebutkan identitas pria tersebut dan anggota ISIS lainnya yang terbunuh dalam serangan itu.
Gersten mengklaim moral tentara ISIS saat ini tengah anjlok akibat serangan AS yang
mengincar pundi-pundi uang mereka. Dia mencatat, jumlah tentara asing yang datang ke Suriah
dan Irak untuk bergabung dengan ISIS kini berkurang hingga 200 orang per bulan, dibanding
1.500 orang per bulan pada setahun yang lalu. (den)

Pejabat intelijen Amerika Serikat mengatakan ISIS telah memiliki jaringan terselubung di Inggris, Jerman dan
Italia, yang siap menyerang kapan saja. (Thinkstock/IakovKalinin)

Jakarta, CNN Indonesia -- Pejabat intelijen Amerika Serikat mengatakan ISIS telah memiliki
jaringan terselubung di Inggris, Jerman dan Italia. Komentar ini disampaikan menyusul seruan
Presiden Barack Obama agar Eropa meningkatkan upaya mengadang ISIS.
Diberitakan CNN, Rabu (27/4), Direktur Intelijen Nasional AS James Clapper pada pertemuan
dengan wartawan Senin lalu membenarkan ISIS memiliki jaringan di Inggris, Jerman dan Italia,
seperti halnya di Brussels, Belgia, yang melakukan serangan mematikan pada Maret lalu.

Pilihan Redaksi

Pemerintah Bersatu Libya Ambil Alih Kementerian di Tripoli


Kanada dan Inggris Tolak Beri Tebusan untuk Abu Sayyaf
AS Gunakan Taktik Israel untuk Serang ISIS
Lukai Ratusan Pasien, 'Dokter Gigi Horor' Dibui Delapan Tahun

"Kami terus melihat adanya bukti perencanaan kelompok ISIL (di Inggris, Jerman dan Italia),"
kata Clapper, menggunakan nama singkatan lain dari ISIS.
Matthew Levitt, pengamat terorisme dari lembaga Washington Institute for Near East Policy
mengatakan kepada CNN bahwa informasi soal jaringan ISIS di tiga negara Eropa itu bukan "hal
yang baru" namun ini baru kali pertama "Clapper mengatakannya."
Levitt, yang merupakan mantan wakil sekretaris intelijen dan analis di Kementerian Keuangan AS
mengatakan, fokus saat ini terlalu tertuju pada Perancis dan Belgia sebagai negara yang pernah
diserang ISIS. Padahal belakangan, penangkapan terduga teroris dilakukan juga di Inggris dan
Jerman.

Obama dalam kunjungannya ke kota Hanover, Jerman, mengatakan ISIS adalah "ancaman
paling besar bagi negara-negara". Obama menyerukan pentingnya berbagi informasi antar
intelijen di Barat untuk mencegah serangan ISIS dan menghalau teroris masuk ke negara-negara
Eropa.
Menurut Levitt, masalah terbesar Eropa dalam menghadapi ISIS saat ini adalah "kurangnya
kolaborasi dan berbagi informasi intelijen."
Clapper mengatakan saat ini ISIS "mengambil keuntungan dari krisis imigran di Eropa".
Simpatisan ISIS bisa saja menyusup dalam rombongan pengungsi dari Suriah dan Irak menuju
Eropa.
Namun Obama dalam kunjungannya ke Jerman memuji kebijakan Kanselir Angela Merkel yang
membuka pintu bagi para pengungsi Suriah. Merkel tetap pada kebijakannya itu kendati menuai
kritikan dari dalam dan luar negeri karena dianggap membahayakan Eropa.
"Kanselir Merkel mengingatkan bahwa kita tidak bisa berpaling dari saudara-saudara kita
sesama manusia yang ada di sini saat ini, dan membutuhkan bantuan kita," kata Obama.(den)