Anda di halaman 1dari 27

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Supervisi merupakan salah satu fungsi dari manajemen. Seorang manajer
dalam hal ini supervisor hendaknya mampu menjalankan fungsi-fungsi
manajemen. Sebagaimana mestinya agar dapat dicapai secara berdaya guna dan
hasil guna. Supervisi adalah teknik pelayanan yang tujuan utamanya adalah
mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama (H. Burton dalam Nursalam,
2012)
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan sebagai suatu
fenomena yang harus direspon oleh perawat. Oleh karena itu pelayanan
keperawatan ini perlu mendapat prioritas utama dalam pengembangan ke masa
depan.
Perawat harus mau mengembangkan ilmu pengetahuannya dan berubah
sesuai tuntutan nasyarakat, menjadi tenaga perawat professional.
Seiring dengan semakin tingginya tingkat pengetahuan dan kesadaran akan
kebutuhan kesehatan maka semakin tinggi pula tuntutan masyarakat pada
pelayanan keperawatan. Keadaan tersebut menuntut perawat pada suatu bentuk
persaingan untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat akan pelayanan
keperawatan paripurna.
Pelayanan yang berkualitas haruslah didukung oleh sumber-sumber yang
memadai, antara lain sumber daya manusia yang bermutu, standar pelayanan
termasuk pelayanan keperawatan yang berkualitas, disamping fasilitas yang
sesuai dengan harapan masyarakat. Agar pelayanan keperawatan senantiasa
memenuhi harapan konsumen dan sesuai dengan standar yang berlaku maka
diperlukan suatu pengawasan terhadap pelaksanaan asuhan keperawata. Melalui
pengawasan dan supervisi diharapkan perawat dapat melaksanakan asuhan yang
berkualitas sesuai standar. Supervisi tersebut merupakan salah satu bentuk
kegiatan dari manajemen dan merupakan cara yang tepat untuk menjaga mutu
pelayanan keperawatan.
1.2 TUJUAN
1.2.1

Tujuan umum
Tujuan supervisi adalah pemenuhan peningkatan pelayanan pada klien dan

keluarga yang berfokus pada kebutuhan, ketrampilan, dan kemampuan perawat


dalam melaksanakan tugas di Ruang Arofah Rumah Sakit Muhammadiyah
Lamongan.
1

1.2.2

Tujuan Khusus

a. Menjalankan pelaksanaan yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan


dengan sumber daya yang tersedia.
b. Mengetahui kekurangan-kekurangan para petugas kesehatan dalam hal
kemampuan, pengetahuan, dan pemahaman serta mengatur pelatihan yang
sesuai.
c. Mengenali dan memberi penghargaan atas pekerjaan yang baik dan mengenali
staf yang layak diberikan kenaikan jabatan dan pelatihan yang lebih lanjut.
d. Menentukan penyebab kekurangan pada kinerja perawat tersebut.
1.3 MANFAAT
1.3.1

Bagi Institusi
Dapat digunakan sebagai referensi untuk meningkatkan mutu asuhan

keperawatan khususnya dalam bidang manajemen keperawatan


1.3.2

Bagi Rumah Sakit


Dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja perawat dalam memenuhi

kepuasan pasien dan kemajuan rumah sakit kedepannya.


1.3.3

Bagi Pasien

1. Membantu menyelesaikan masalah pasien sehingga mempercepat masa


penyembuhan
2.

Memberikan perawatan secara profesional dan efektif kepada pasien.

3.

Memberikan kepuasan kepada pasien.

BAB 2
KONSEP DASAR TEORI
2.1 Pengertian
Supervisi merupakan upaya membantu pembinaan dan peningkatan
kemampuan pihak yang disupervisi agar mereka dapat melaksanakan tugas
kegiatan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif (Sujana D, 2004).
Arief (1987) merumuskan supervisi sebagai suatu proses kegiatan dalam
upaya meningkatkan kemampuan dan ktrampilan tenaga pelaksaan pogram,
sehingga program itu dapat terlaksana sesuai dengan proses dan hasil yang
diharapkan. Supervisi keperawatan adalah kegiatan pengawasan dan pembinaan
yang dilakukan secara berkesinambungan oleh supervisor mencakup masalah
pelayanan keperawatan, masalah (Nursalam,2012).
2.2 Unsur Pokok
Dalam melaksakan supervisi terdapat beberapa unsur pokok . Unsur-unsur
pokok yang dimaksud menurut Nursalam, 2012 adalah :
1. Pelaksana
Pelaksana atau yang bertanggung jawab melaksakan suprvisi adalah
atasan, yakni mereka yang memiliki kelebihan dalam organisasi. Kelebihan
yang dimaksud sering dikaitkan dengan status yang lebih tinggi (supervisor).
fungsi supervisi memang dimiliki oleh atasan. Namun untuk keberhasilan
supervisi, yang lebih diutamakan adalah kelebihan pengetahuan atau
ketrampilan.
Ali Zaidin membagi tingkatan manajer dalam melakukan supervisi,
menjadi:
a. Manajer puncak (Top Manajer)
Manajer puncak bertanggung jawab atas seluruh kegiatan dari hasil
kegiatan

serta

proses

manajemen

organisasi.

Tugas

utamanya

menetapkan kebijaksanaan (policy), memberi petunjuk atau pengarahan


umum berkaitan dengan tujuan misalnya: Kakanwil Depkes Propinsi,
Kadinkes Daerah, Direktur RS, dan sebagainya
b. Manajer menengah (Middle Manager)
Manajer menengah ini memimpin sebagian manajer tingkat pertama.
Tugasnya menjabarkan kebijaksanaan top manager ke dalam programprogram misalnya: Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Bidang, Kasubdin
Propinsi, Kasubbag Dati II.
3

c. Manajer Tingkat Pertama (First Line, First Level Manajer, Supervisor


Manager)
Manajer tingkat bawah yang bertugas memimpin langsung para
pelaksana atau pekarya. Melaksanakan supervisi sebagai mandor atau
supervisor. Misalnya: Kepala seksi dan Kepala Urusan.
Untuk dapat melakukan supervisi dengan baik diperlukan beberapa syarat
atau karakteristik yang harus dimiliki oleh pelaksana supervisi atau supervisor
(Nursalam, 2012) adalah:
1. Sebaiknya pelaksana supervisi adalah atasan langsung dari yang
disupervisi, atau apabila tidak mungkin dapat ditunjuk staf khusus dengan
batas-batas wewenang dan tanggung jawab yang jelas.
2. Pelaksana supervisi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
cukup untuk jenis pekerjaan yang disupervisi.
3. Pelaksana supervisi harus memiliki keterampilan melakukan supervisi,
artinya memahami prinsip-prinsip pokok serta tehnik supervisi.
4. Pelaksana supervisi harus memiliki sifat edukatif, suportif dan bukan
otoriter.
5. Pelaksana harus mempunyai waktu yang cukup, tidak tergesa-gesa
melainkan harus sabar berupaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan
dan sikap bawahan yang disupervisi.
Pelaksana supervisi yang baik, memerlukan bekal kemampuan yang
banyak. Selain lima syarat atau karakteristik diatas juga dibutuhkan
kemampuan melakukan komunikasi, motivasi, pengarahan bimbingan dan
kepemimpinan.
Dalam pelaksanaan supervisi, akan ada dua pihak yang akan melakukan
kegiatan, yaitu pihak supervisi dan yang disupervisi. Supervisor melakukan
kegiatan yang pelayanan profesional untuk membantu atau membimbing
pihak yang dilayani. Pihak yang disupervisi inilah yang menerima layanan
profesional berupa bantuan dan bimbingan agar mereka dapat meningkatkan
kemampuan dalam melaksanakan kegiatan secara efisien dan efektif
( Sudjana,2004).
Menurut WHO (1999) proses pengawasan pegawai yang baik :
1. Tepat waktu, artinya untuk mempertahankan standar kerja, tindakan
pengawasan harus dilakukan pada saat yang tepat.
2. Sederhana, artinya tindakan pengawasan harus sederhana, bila tidak akan
memerlukan waktu yang lama untuk menerapkan dan menghasilkan efek
yang diinginkan.
4

3. Minimal, artinya pengawasan harus disediakan sedikit mungkin, yakni


sedikit yang diperlukan untuk menjamin pekerjaan akan diselesaikan dan
standar dipertahankan.
4. Luwes, artinya pengawasan yang selalu kaku dapat menjadi seperti
senjata makan tuan, para pekarja akan mencoba menghindarinya.
2. Sasaran
Sasaran atau obyek dari supervisi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh
bawahan yang melakukan pekerjaan. Sasaran yang dilakukan oleh bawahan
disebut sebagai sasaran langsung.
3. Frekuwensi
Supervisi harus dilakukan dengan frekuensi yang berbeda. Supervisi
yang dilakukan hanya sekali, bukanlah supervisi yang baik. Tidak ada
pedoman yang pasti mengenai seberapa sering supervisi dilakukan. Pegangan
umum yang digunakan bergantung pada derajat kesulitan pekerjaan yang
dilakukan serta sifat penyesuaian yang akan dilakukan.
Menurut Nursalam (2002) Dalam melakukan supervisi yang tepat,
supervisior harus bisa menentukan kapan dan apa yang perlu dilakukan
supervisi dan bantuan. Sepanjang kontrol/supervisi penting, bergantung pada
bagaimana staf melihatnya:
a. Overcontrol. Kontrol yang terlalu berlebihan akan merusak delegasi yang
diberikan sehingga staf tidak akan dapat memiliki tanggung jawabnya.
b. Undercontrol. Kontrol yang kurang juga akan berdampak buruk terhadap
delegasi, dimana staf akan tidak produktif melaksanakan tugas limpah dan
berdampak secara signifikan terhadap hasil yang diharapkan. Hal ini akan
berdampak terhadap pemborosan waktu dan anggaran yang sebenarnya
dapat dihindarkan. Berikan kesempatan waktu dan anggaran yang
sebenarnya dapat dihindarkan. Berikan kesempatan waktu yang cukup
kepada staf untuk berpikir dan melaksanakan tugas tersebut.
4. Tujuan
Tujuan supervisi adalah memberikan bantuan kepada bawahan secara
langsung, sehingga bawahan memiliki bekal yang cukup untuk dapat
melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan hasil yang baik.
Menurut Nursalam, 2012 tujuan pengawasan adalah:
1. Menjamin bahwa pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan dalam tempo yang diberikan dengan menggunakan sumber daya
yang tersedia.

2. Memungkinkan

pengawas

menyadari

kekurangan-kekurangan

para

petugas kesehatan dalam hal kemampuan, pengetahuan, dan pemahaman


serta mengatur pelatihan yang sesuai.
3. Memungkinkan para pengawas mengenali dan memberi penghargaan atas
pekerjaan yang baik dan mengenali staf yang layak diberikan kenaikan
jabatan dan pelatihan lebih lanjut.
4. Memungkinkan manajemen bahwa sumber yang disediakan bagi petugas
telah cukup dan dipergunakan dengan baik.
5. Memungkinkan manajemen menentukan penyebab kekurangan pada
kinerja tersebut.
5. Tehnik
Kegiatan pokok pada supervisi pada dasarnya mencakup empat hal yang
bersifat pokok, yaitu: (1) Menetapkan masalah dan prioritas: (2) Menetapkan
penyebab masalah, prioritas dan jalan keluarnya: (3) Melaksanakan jalan
keluar: dan (4) menilai hasil yang dicapai untuk tindak lanjut berikutnya.
Untuk dapat melaksanakan supervisi yang baik ada dua teknik, yaitu:
1. Pengamanan langsung
Pengamanan

yang

langsung

dilaksanakan

supervisi

dan

harus

memperhatikan:
a. Sasaran pengamatan
Pengamatan langsung yang tidak jelas sasarannya, dapat menimbulkan
kebingungan. Untuk mencegah keadaan seperti ini, maka pengamatan
langsung ditujukan pada sesuatu yang bersifat pokok dan strategis.
b. Objektivitas pengamatan
Pengamatan langsung yang tidak terstandarisasi dapat mengganggu
objektivitas. Untuk mencegah keadaan seperti ini, maka pengamatan
langsung ditujukan pada suatu daftar isian atau checklist yang telah
dipersiapkan.
c. Pendekatan pengamatan
Pengamatan langsung sering menimbulkan berbagai dampak dan kesan
negatif, misalnya: rasa takut, tidak senang, atau kesan menganggu
pekerjaan. Dianjurkan pendekatan pengamatan dilakukan secara
edukatif dan suportif, bukan kekuasaan atau otoriter.
2. Kerja sama
Keberhasilan

pemberian

bantuan

dalam

upaya

meningkatkan

penampilan bawahan dalam supervisi, perlu terjalin kerja sama antara


supervisor dengan yang disupervisi. Kerja sama tersebut akan terwujud
6

bila terjalin komunikasi yang baik, sehingga mereka yang disupervisi


merasakan masalah yang dihadapi adalah juga masalah mereka sendiri
(Azwar, 1996).
2.3 Langkah Supervisi
Menurut Ali Zainudin, teknik atau metode dalam melaksanakan pengawasan
adalah bertahap dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Langkah I : Mengadakan Persiapan Pengawasan
(1) Menentukan tujuan.
(2) Menentukan metode pengawasan yang tepat.
(3) Menentukan standar/kriteria pengukuran.
2. Langkah II : Menjalankan Pengawasan
Terdiri atas tiga tahap, yaitu:
(1) Membuat dan menentukan rencana pengawasan, di mana rencana
pengawasan harus memuat sistem pengawasan, standar yang dipakai, dan
cara pelaksanaan.
(2) Pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan dengan berbagi sistem, yaitu:
a. Sistem prevensif, dilaksanakan sebelum suatu usaha dilakukan.
b. Sistem reprensif, dilaksakan setelah suatu usaha dilakukan, misalnya
memberikan laporan-laporan kegiatan.
c. Sistem Verifikatif, pemeriksaan secara terperinci dengan memberikan
laporan-laporan perincian dan analisis dari segala hal yang terjadi
dalam pelaksaan rencana.
d. Sistem inpektif, yaitu suati sistem pengawasan dengan mengadakan
pemeriksaan setempat secara langsung dengan tujuan mengetahui
sendiri keadaan yang sebenarnya.
e. Sistem investigatif, yaitu suatu pengawasan dengan jalan mengadakan
penelitian,

penyelidikan

untuk

mengetahui

kesalahan

dan

membongkar adanya penyelewengan. Sistem ini terdiri atas inpektif


dan vertivikatif.
f. Kombinasi sistem preventif dan represif, yaitu suatu sistem
pengawasan dari suatu usaha yang dilakukan baik sebelum maupun
sesudah usaha tersebut berjalan.
(3) Penilaian dari pelaksanaan pengawasan. Penilaian adalah proses
penerapan secara sistematis tentang nilai, tujuan, efektivitas, atau
kecocokan sesuatu sesuai dengan kriteria dan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Penilaian sebagai kegiatan sistematis untuk
7

mengumpulkan,

mengolah,

menganalisis,

mendeskripsikan,

dan

menyajikan data atau informasi yang diperlukan sebagai masukkan untuk


pengambilan keputusan (Sudjana, 2004). Menurut UNESCO (1982)
dikutip oleh sudjana (2004) evaluasi dilakukan sejak perencanaan
program, mengarah pada upaya menyiapkan bahan masukkan untuk
pengambilan keputusan tentang ketepatan, perbaikan perluasan, atau
pengembangan program, terkait dengan pengambilan keputusan tentang
penyusunan rancangan dan isi program.
3. Langkah III : Memperbaiki Penyimpangan
Tujuan dari hal ini adalah mengadakan perbaikan dari hasil kerja yang
kurang atau salah untuk memperoleh hasil yang lebih besar dan efisien.
Setelah data melalui pengawas diperoleh, dianalisis serta masalah yang timbul
dicarikan pemecahannya serta mencegah membuat masalah pada waktu
mendatang. Menurut Sudjana (2004) pembinaan yang efektif dapat
menggambarkan melalui lima langkah pokok yang berurutan. Kelima langkah
itu adalah sebagai berikut :
a. Mengumpulkan informasi. Informasi yang dihimpun meliputi kenyataan
atau peristiwa yang benar-benar terjadi dalam kegiatan berdasarkan
rencana yang telah ditetapkan. Pengumpulan informasi yang dianggap
efektif adalah yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan dengan
menggunakan pemantauan dan penelaahan laporan kegiatan.
b. Mengidentifikasi masalah. Masalah ini diangkat dari informasi yang telah
dikumpulkan dalam langkah pertama. Masalah akan muncul apabila terjadi
ketidaksesuaian dengan atau penyimpangan dari kegiatan yang telah
direncanakan. Ketidaksesuaian atau penyimpangan menyebabkan adanya
jarak (perbedaan) antara kegiatan yang seharusnya terlaksana dengan
kegiatan yang benar-benar terjadi. Jarak atau perbedaan antara kegiatan
inilah yang disebut masalah.
c. Menganalisis masalah. Kegiatan analisis adalah untuk mengetahui jenisjenis masalah dan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.
Faktor-faktor itu mungkin datang dari pelaksana kegiatan, sasaran,
kegiatan, fasilitas, biaya, proses, waktu dan kondisi lingkungan. Di
samping faktor penyebab, diidentifikasi pula sumber-sumber dan potensi
yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang timbul. Hasil
analisis ini penting untuk memperhatikan dalam upaya pemecahan
masalah.

d. Mencari dan menetapkan alternatif pemecahan. Kegiatan pertama yang


perlu dilakukan adalah mengidentifikasi alternatif upaya yang dapat
dipertimbangkan untuk memecahkan masalah. Alternatif ini disusun
setelah memperhatikan sumber-sumber pendukung dan kemungkinan
hambatan yang akan ditemui dalam upaya pemecahan masalah. Kegiatan
selanjutnya adalah menetapkan prioritas upaya pemecahan masalah yang
dipilih dari alternatif yang tersedia.
e. Melaksanakan upaya pemecahan masalah. Pelaksanaan upaya ini dapat
dilakukan pembina baik secara langsung dapat maupun secara tidak
langsung. Pembinaan secara langsung dapat dibagi dua macam: pertama,
pembinaan individual (perorangan), yaitu pembinaan yang dilakukan
terhadap seseorang pelaksana kegiatan. Pihak pembina memberikan
dorongan, bantuan, dan bimbingan langsung pda pelaksana kegiatan. Cara
ini tepat dilakukan apabila pihak yang dibina mempunyai kegiatan
beraneka ragam atau memerlukan pembinaan bervariasi. Teknik-teknik
yang digunakan antara lain adalah dialog, diskusi, bimbingan, individual,
dan peragaan. Kedua, pembinaan kelompok. Pembinaan ini dapat
digunakan apabila para pelaksana kegiatan secara kelompok. Pembinaan
ini dapat digunakan apabila para pelaksana kegiatan atau pihak yang dibina
memiliki kesamaan kegiatan atau kesamaan permasalahan yang dihadapi.
Pembinaan kelompok dapat menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Teknikteknik yang dapat digunakan dalam pembinaan kelompok antara lain
diskusi, penataran, rapat kerja, demonstrasi, dan lokakarya. Secara tidak
langsung apabila upaya pemecahan masalah yang diputuskan oleh pihak
pembina itu dilakukan melalui pihak yang lain, seperti melalui orang lain
atau media tertulis.
Melalui orang lain adalah pembinaan yang dilakukan oleh pejabat dari
organisasi yang lebih tinggi atau melalui tenaga khusus yang diberi tugas
pembinaan. Sedangkan melalui media tertulis antara lain ialah pembinaan
yang dilakukan dalam bentuk pedoman, petunjuk pelaksanaan, dan
korespondensi. Teknik-teknik pembinaan tidak langsung mencakup kegiatan
memberikan petunjuk, pedoman, dan informasi kepada pihak yang dibina
tentang kegiatan yang harus dikerjakan. Alat atau media yang digunakan
mencakup media tertulis seperti surat menyurat, media cetak seperti lembaran
pedoman, brosur, dan buletin.
2.4 Manfaat Supervisi
9

Manfaat yang dimaksud apabila ditinjau dari sudut manajemen dapat


dibedakan aras dua macam:
a. Meningkatkan efektivitas kerja
Peningkatan efektivitas kerja ini berhubungan erat dengan makin
meningkatnya pengetahuan dan keterampilan bawahan, serta makin
terbinanya hubungan dan suasana kerja yang lebih harmonis antara atasan
dengan bawahan.
b. Meningkatkan efisiensi kerja
Peningkatan efisiensi kerja ini erat hubungannya dengan makin
berkurangnya kesalahan yang dilakukan oleh bawahan, dan karena itu
pemakaian sumber daya (tenaga, dana, dan sarana) yang sia-sia akan dapat
dicegah (Azwar, 1996).
Supervisi mempunyai tiga kegunaan. Pertama, supervisi berguna untuk
meningkatkan kemampuan supervisor dalam memberikan layanan kepada
para pelaksana kegiatan (perawat). Kemantapan kemampuan akan dialami
apabila supervisior sering melakukan supervisi. Kedua, supervisi bermanfaat
untuk meningkatkan kemampuan para pelaksana kegiatan. Ketiga, hasil
supervisi berguna untuk menyusun pedoman atau petunjuk pelaksanaan
layanan profesional kepada pelaksana kegiatan. Proses memberikan layanan,
format-format yang digunakan, catatan, dan laporan supervisi, serta interaksi
melalui hubungan kemanusiaan antara supervisor dan yang disupervisi
merupakan informasi yang bermanfaat untuk menyusun patokan-patokan
supervisi berdasarkan pengalaman lapangan. Dengan demikian, supervisi
berguna untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap para
pelaksana kegiatan agar program itu dapat dilaksanakan dengan baik sesuai
dengan yang telah direncanakan.
Supervisi akan mencapai tingkat kegunaan yang tinggi apabila
kegiatannya dilakukan melalui tiga prinsip hubungan kemanusiaan, yaitu:
pengakuan dan penghargaan, objektivitas, dan kesejawatan

. hubungan

kemanusiaan mengisyaratkan bahwa supervisi dilakukan secara wajar,


terbuka, dan partisipatif. Pengakuan dan penghargaan berkaitan dengan sikap
supervisor untuk mengakui potensi dan penampilan pihak yang disupervisi
dan

menghargai

mengembangkan

bahwa
diri.

pihak

yang

Objektivitas

disupervisi

berkaitan

dapat

dengan

dan

informasi

harus
dan

permasalahan yang telah ditemukan yang diperlakukan oleh supervisor


sebagaimana adanya sedangkan upaya pemecahan permasalahan dilakukan
secara rasional. Titik berat hubungan kemanusiaan ialah sikap dan ekspresi
10

yang menunjukkan pengakuan, pujian, dan penghargaan; bukan sebaliknya


yaitu mencerminkan pengabaian, penentangan, dan makian terhadap aktivitas
yang dilakukan oleh pihak yang disupervisi (Sudjana, 2004).

11

BAB 3
PENERAPAN SUPERVISI KEPERAWATAN PADA PENERAPAN METODE
ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL
(MAKP)
3.1 Pengertian
Supervisi adalah suatu tehnik pelayanan yang tujuan utamanya adalah
mempelajari dan memperbaiki secara bersama-bersama. Supervisi keperawatan
adalah suatu proses pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan tugas dalam rangka mencapai tujuan. (Nursalam, 2012)
3.2 Tujuan Supervisi
Tujuan supervisi adalah pemenuhan dan peningkatan pelayanan pada klien
dan keluarga yang berfokus pada kebutuhan, keterampilan, dan kemampuan
dalam melaksanakan tugas.
3.3 Prinsip Supervisi
1) Sesuai Supervisi dilakukan dengan struktur organisasi.
2)

Supervisi memerlukan pengetahuan dasar manajemen, keterampilan


hubungan antar manusia dan kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan
kepemimpinan.

3) Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas, terorganisasi, dan dinyatakan melalui


petunjuk, peraturan, uraian tugas, dan standar.
4) Supervisi merupakan proses kerja sama yang demokratis antara supervisor
dan perawat pelaksana.
5) Supervisi merupakan visi, misi, falsafah, tujuan, dan rencana yang spesifik.
Supervisi menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi efektif,
kreativitas, dan motivasi.
6) Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil dan berdaya guna dalam
pelayanan keperawatan yang memberi kepuasan klien, perawat, dan manajer.
3.4 Pelaksana Supervisi
1) Kepala Ruang:
a) Bertanggung jawab dalam supervisi pelayanan keperawatan pada klien di
ruang perawatan
b) Merupakan ujung tombak penentu tercapai atau tidaknya tujuan
pelayanan kesehatan di rumah sakit.

12

c) Mengawasi perawat pelaksana dalam melaksanakan praktek keperawatan


di ruang perawatan sesuai dengan tugas yang didelegasikan.
2) Pengawas Keperawatan
Bertanggung jawab dalam melakukan supervisi pelayanan kepada
kepala ruangan yang ada di ruangan yang ada instalasinya.
3) Kepala Seksi Keperawatan
Mengawasi instalasi dalam melaksanakan tugas secara langsung
dan seluruh perawat secara tidak langsung.
3.5

13

Alur Supervisi

Kepala Bidang Perawatan

Kepala Seksi Perawatan

Kepala Ruang Teratai

supervisi
Menciptakan Kegiatan dan Tujuan serta instrumen/alat ukur

PP 1

PP 2

PA

PA

Menilai Kinerja Perawat

Kinerja Perawat dan Kualitas Pelayanan Meningkat


PEMBINAAN (3 f)
Penyampaian penilaian (fair)
Feed Back
Follow up, pemecahan masalah dan reward

Keterangan : Kegiatan supervisi

14

Langkah Supervisi
1) Pra-supervisi
a) Supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi
b) Supervisor menetapkan tujuan
2)

Pelaksanaan supervisi
a. Supervisor menilai kinerja perawat berdasarkan alat ukur atau instrumen
yang telah disiapkan.
b. Supervisor mendapat beberapa hal yang memerlukan pembinaan.
c. Supervisor memanggil PP dan PA untuk mengadakan pembinaan dan
klarifikasi permasalahan.
d. Pelaksanaan supervisi dengan inspeksi, wawancara, dan memvalidasi
data sekunder
- supervisor memberikan penilaian supervisi (f-fair).
- supervisor melakukan tanya jawab dengan perawat
3) Pasca-supervisi 3f
a. Supervisor memberikan penilaian supervisi (f-fair).
b. Supervisor memberikan feedback dan klarifikasi.
c. Supervisor memberikan reinforcement dan follow up perbaiakan.
3.6 Peran Supervisor Dan Fungsi Supervisi Keperawatan
Peran dan fungsi supervisor dalam supervisi adalah mempertahankan
keseimbangan pelayanan keperawatan dan manajemen sumber saya yang
tersedia.
1) Manajemen pelayanan keperawatan
Tanggung jawab supervisor adalah :
a. Menetapkan dan mempertahankan standar praktek keperawatan.
b. Menilai kualitas asuhan keperawatan dan pelayanan yang diberikan.
c. Mengembangkan peraturan dan prosedur yang mengatur
2) Manajemen anggaran
Manajemen keperawatan berperan aktif dalam membantu perencanaan, dan
pengembangan.
Supervisor berperan dalam:
a. Membantu menilai rencana keseluruhan dikaitkan dengan dana tahunan
yang tersedia, mengembangkan tujuan unit yang dapat dicapai sesuai
tujuan RS.
b. Membantu mendapatkan informasi statistik untuk merencanakan
anggaran keperawatan.
15

c. Memberi justifikasi proyeksi anggaran unit yang dikelola.


Supervisi yang berhasil guna dan berdaya guna dapat terjadi begitu saja,
tetapi memerlukan praktek dan evaluasi penampilan agar dapat
dijalankan dengan tepat. Kegagalan supervisi dapat menimbulkan
kesenjangan dalam pelayanan keperawatan.
3.7 Teknik Supervisi Meliputi
a. Proses supervisi keperawatan terdiri atas 3 elemen kelompok, yaitu :
Mengacu pada standar asuhan keperawatan.
Fakta pelaksanaan praktek keperawatan sebagai pembanding untuk
menerapkan pencapaian.
Tidak lanjut dalam upaya memperbaiki dan mempertahankan kualitas
asuhan.
b. Area supervisi
Pengetahuan dan pengertian tentang asuhan keperawatan kepada klien.
Keterampilan yang dilakukan disesuaikan dengan standar.
Sikap penghargaan terhadap pekerjaan misalnya kejujuran dan empati
Secara aplikasi area supervisi keperawatan meliputi:
1. Kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada
klien.
2. Pendokumentasian asuhan keperawatan.
3. Pendidikan kesehatan melalui perencanaan pulang.
4. Pengelolaan logistik dan obat.
5. Penerapan metode ronde keperawatan dalam menyelesaikan masalah
keperawatan klien.
6. Pelaksanaan timbang terima.
c. Cara supervisi
Supervisis dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu :
1) Langsung
Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang sedang
berlangsung, dimana supervisor dapat terlibat dalam kegiatan,
umpan balik, dan perbaikan.
Proses supervisi meliputi :
Perawat pelaksana melakukan secara mandiri suatu tindakan
keperawatan didampingi oleh supervisor.

16

Selama

proses,

supervisor

dapat

memberi

dukungan,

reinforcemen, dan petunjuk.


Setelah selesai, supervisor dan perawat pelaksana melakukan
diskusi yang bertujuan untuk menguatkan yang telah sesuai
dan memperbaiki yang masih kurang. Reinforcement pada
aspek yang positif sangat penting dilakukan oleh supervisor.
2) Supervisi secara tidak langsung
Supervisi dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan.
Supervisor tidak melihat langsung apa yang terjadi di lapangan
sehingga mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan balik dapat
diberikan secara tertulis.
3.8 Peran Kepala Ruangan, PP Dan PP Dalam Metode Asuhan Keperawatan
Profesional Primer (MAKP-PRIMER)
1) Peran kepala ruangan (Karu)
o Sebagai konsultan dan pengendali mutu perawat primer.
o Mengorientasi dan merencanakan karyawan baru.
o Menyusun jadwal dinas dan memberi penugasan kepada PP.
o Evaluasi kerja.
o Merencanakan atau menyelenggarakan pengembangan staf.
2) Peran perawat primer (PP)
o Menerima klien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif.
o Membuat tujuan dan merencanakan keperawatan.
o Melaksanakan rencana yang telah dibuat.
o Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan
oleh disiplin lain maupun perawat.
o Menerima dan menyesuaikan rencana asuhan.
o Menyiapkan penyuluhan untuk pasien pulang.
o Menyiapkan rujukan kepada tim pelayanan kesehatan terkait.
o Mengadakan kunjungan rumah bila perlu.
3) Peran perawat assosiate (PA)
Peran

PA adalah melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan

rencana yang telah disusun oleh PP.


3.9 Delegasi/Pendelegasian

17

Delegasi/pendelegasian adalah menyelesaikan pekerjaan yang dikerjakan


melalui orang lain untuk menyelesaikan tujuan organisasi (Nursalam, 2002).
Unsur-unsur dalam proses delegasi meliputi: R-A-A
a. Tanggung jawab (responsibility), adalah pekaryaan-pekaryaan yang harus
diselesaikan oleh seseorang pada jabatan tertentu.
b. Kekuasaan (authority) adalah hak atau wewenang untuk memutuskan segala
sesuatu yang berhubungan dengan fungsinya.
c. Pertanggung jawaban (accountability), adalah memberikan pertanggung jawaban
dengan memberikan laporan bagaimana seseorang melaksanakan tugasnya dan
bagaimana memakai wewenang yang diberikan kepadanya.
Dari uraian ketiga unsur diatas, jelas bahwa authority (kekuasaan) dan
responbility (tugas) dapat didelegasikan, sedangkan accountability (pertanggung
jawaban) tidak dapat didelegasikan, ini berarti bahwa seseorang yang memimpin
yang mendelegasikan tugas dan kekuasaannya dan bawahannya tidak berarti
mendelegasikan pertanggungjawabannya, melainkan ia tetap bertanggung jawab
akan pelaksanaan tugas yang didelegasikan kepada bawahannya.
Tugas-tugas yang didelegasikan
Tugas yang dapat didelegasikan dari atasan kepada bawahan menurut Manullang
(2001) dapat dibedakan menjadi 2, yang ditinjau berdasarkan aspek:
1. Ditinjau dari tugas proses (Manulang, 2001; 113-114)
Manajer Bertugas

Pelaksanaan

Perencana Pengorganisasian

Pengawasan

Sebagian didelegasikan kepada bawahan


Perencana

Pelaksanaan

Pada gambar 1 diatas terlihat bahwa fungsi manajer (supervisor) disederhanakan


menjadi 3 fungsi yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
Tugas-Tugas Pelaksana

Pelaksanaan

Perencanaan

Pengawasan

18
A

Pada gambar 2 di atas terlihat bahwa para bawahan yang menerima delegasi
tugas dan kekuasaan, selanjutnya mendelegasikan tugas dan kekuasaan kepada
bawahannya. Pada keadaan ini, manajer terdahulu lebih banyak ia memutuskan
perhatian dalam pengawasan. Jika diperhatikan pada kedua gambar di atas, tampak
bahwa tugas-tugas perencanaan dan pelaksanaan sebagian besar dapat didelegasikan,
sedangkan tugas pengawasan tidak dapat didelegasikan (hanya sebagian kecil saja).
2. Ditinjau dari aspek bidang (spesialisasi).
Pendelegasian dari aspek ini sesuai dengan organisasi karena masing-masing
bidang mempunyai uraian tugas sesuai fungsi masing-masing bidang.
Pendelegasian yang efektif memiliki beberapa ciri-ciri yaitu :
Unsur pendelegasian harus lengkap dan jelas.
a. Harus mendelegasikan kepada orang yang tepat.
b. Pemberi delegasi harus memberikan peralatan yang cukup dan mengusahakan
keadaan linhkungan yang efisien.
c. Pemberi delegasi harus memberikan inisiatif atau rangsangan material maupun
non material.

19

BAB 4
RENCANA KEGIATAN
4.1 Pelaksanaan Supervisi
Hari/tanggal

: Sabtu / 12 Maret 2016

Pukul

: 11.00 wib

Topik

: Supervisi tentang kegiatan Nebulizer

Tempat

: Nurse Station Dan Ruang Perawatan Pasien

4.2 Metode
1. Observasi
2. Tindakan
3. Evaluasi dan Diskusi
4.3 Media
1. Lembar Supervisi
2. Standar Asuhan keperawatan
4.4 Pengorganisasian
Supervsior/Pembimbing : Ruchin S. Kep, Ns. (Kepala Ruangan)
Achmad Sutarjo S.Kep, Ns (Pembimbing Klinik)
Ninik Endang S. S.kep, Ns (Supervisior)
Karsim, S. Kep.Ns. (Supervisior)
Suratmi S.Kep. M.Kep. (Pembimbing Akademik)
Kepala ruangan

: Riki Adi, S,Kep

Perawat primer

: Winda Ariska Ardi, S,Kep

Perawat associate

: Saydatut Maghfiroh, S. Kep

4.5 Mekanisme Kegiatan


No
Kegiatan
1
Karu
mengucapkan
salam
dan
menyampaikan pada PP bahwa akan
diadakan Supervisi tentang tindakan
Nebulizer.
KARU menjelaskan tujuan dan prosedur
tindakan.
2
PP memilih pasien yang
dilakukan
tindakan Nebulizer.
3
PP menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan
untuk tindakan Supervisi Nebulizer.
4
KARU memberikan kesempatan pada PP
dibantu PA untuk melengkapi persiapan
Nebulizer dan mempersiapkan pasien.
5
KARU memeriksa kelengkapan peralatan
dan pasien.
6
PP dan PA menuju ruang perawatan
pasien dan segera menyiapkan pasien dan
alat yang akan digunakan untuk tindakan
Nebulizer
7
PP dan PA melaksanakan tindakan
Nebulizer.
20

Pelaksana
KARU

Tempat
Nurse
Station

Waktu
5 menit

PP dan PA

Nurse
Station
Nurse
Station
Nurse
Station

2 menit

Nurse
Station
Ruang
perawatan
pasien

1 menit

Ruang
perawatan

15
menit

PP dan PA
KARU
KARU
PP dan PA

PP dan PA

5 menit
2 menit

1 menit

pasien
Nurse
Station

Karu melakukan evaluasi tindakan yang KARU


sudah dilakukan oleh PP dan PA, dengan
3 tahapan pembinaan yaitu:
a. Penyampaian penilaian (fair)
b. Feed Back
c. Follow Up, pemecahan masalah.
Memberikan reword
Ttd

2 menit

Lampiran1
Hari/Tanggal
:
Yang disupervisi :
Aspek
penilaian
Persiapan

FORMAT SUPERVISI NEBULIZER


Supervisor :
Ruangan :
Parameter

Bobot

A. Persiapan Alat
1. Set Nebulizer
2. Obat bronkodilator
3. Bengkok 1 buah
4. Tisuue
B. Persiapan Pasien
1. Memberikan salam
dan memperkenalkan
diri.
2. Menjelaskan tujuan
3. Menjelaskan
langkah/prosedur
yang akan dilakukan.
4. Menanyakan
persetujuan
pasien
untuk
diberikan
tindakan.
5. Meminta
pengunjung/keluarga
meninggalkan
ruangan.
6. Mengatur
posisi
pasien yang nyaman
C. Persiapan Lingkungan
1 Menutup korden.

Pelaksanaan D. Posedur Pelaksanaan


1. Mencuci tangan dengan
handcrub
2. Mengatur pasien dalam
posisi
duduk
atau
semifowler
3. Mendekatkan peralatan
yang berisi set nebulizer
ke bad pasien.
4. Mengisi
nebulizer
dengan
obat
21

1
1
1
1
1
1
1
1

1
1

1
1
1
1

Dilakukan
Ya
Tidak

Keterangan

bronkodilator
sesuai
dosis.
5. Memasang
masker
nebulizer pada pasien.
6. Menghidupkan nebulizer
dan meminta pasien
nafas dalam sampai obat
habis.
7. Matikan Nebulizer.
8. Bersihkan mulut dan
hidung dengan tisuue.
9. Bereskan alat.
10. Mencuci tangan dengan
handrub

1
1

1
1
1
1

Evaluasi:
1. Evaluasi
perasaan
pasien.
2. Dokumentasi prosedur
dan hasil observasi.
3. Kontrak waktu untuk
kegiatan selanjutnya.
4. Berpamitann
dengan
pasien/keluarga.

1
1
1
1

TOTAL

24
Penilaian : Jumlah Dilaksanakan

100%
Jumlah Total

Penilaian terhadap hasil supervisi:


Jika tindakan yang dilakukan sesuai, 76-100%, diberi nilai Baik
Jika tindakan yang dilakukan sesuai, 56-75%, diberi nilai Cukup
Jika tindakan yang dilakukan sesuai, 56%, diberi nilai Kurang
Jumlah dilaksanakan
Penilaian:

X 100% =
Jumlah Total
Mengetahui

Kepala Ruangan

Yang Disupervisi

(Riki Adi, S.Kep, )

(Winda Ariska Ardi, S.Kep)

BAB 5
HASIL LAPORAN KEGIATAN
5.1 Resume Pelaksanaan Supervisi
Hari/tanggal

: 12 Maret 2016
22

Pukul

: 10.00 wib

Pelaksana

: Perawat primer

Tempat

: Ruang Arofah Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan

Sasaran

: Supervisi pada tindakan Nebulizer

Materi

: Supervisi

Metode

: Observasi, Tindakan, Evaluasi dan Diskusi

Media

1. Lembar SOP tindakan Nebulizer


2. Peralatan perlengkapan tindakan pemberian nebulizer
3. Lembar penilaian tindakan nebulizer.
5.2 Pengorganisasian
Kepala ruangan : Riki Adi, S.kep
Perawat Primer : Winda Ariska Ardi, S.kep
Perawat associate : Saydatut Maghfiroh, S. Kep
Supervisor : Ninik Endang S. S.kep, Ns
Karsim, S. Kep.Ns
Pembimbing : Achmad Sutarjo, S.kep, Ns
Ruchin, S.kep,Ns
Suratmi, S.kep, Ns.M.kep
A. Presensi
1. Pembimbing dari pendidikan 1 orang
2. Supervisor sebanyak 2 orang
3. Pembimbing ruangan paviliun

Arofah

Rumah

Sakit

Muhammadiyah Lamongan sebanyak 1 orang


4. Mahasiswa STIKES Muhammadiyah Lamongan sebanyak 12
orang.
B. Hasil Evaluasi
1. Evaluasi sruktur
Persiapan dilakukan 2 hari sebelum acara dimulai. Acara dilakukan sesuai
dengan jadwal gann chart yang telah dibuat.
2. Evaluasi Proses
No

Waktu

Kegiatan

10.00-10.45
10.45-11.00

Pelaksanaan supervisi pada tindakan nebulizer


Diskusi dan klarifikasi dari supervisor serta

.
1
2

pembimbing (baik pendidikan ataupun pembimbing


ruangan) :
Bapak Achmad Sutarjo S.kep, Ns
1.Komunikasi sudah baik, menggunakan bahasa yang
dimengerti pasien.
2.Setting tempat antara KARU dan PP, PA tidak
duduk berdampingan Namun saling berhadapan
agar lebih jelas peran yang dimainkan.
23

3.KARU mengecek peralatan yang akan dilakukan


saat supervisi.
4.Pemberian obat seharusnya disesuaikan dengan
jadwalnya.
Bapak Karsim, S.kep, Ns
5. Ketidaktepatan waktu pemberian obat
6. KARU Seharusnya menegur PP saat terjadi
ketidaktepatan waktu pemberian obat.
7. Hendaknya KARU memberikan reward ke PP
dan menanyakan perasaan PP setelah melakukan
tindakan.
8. Manajemen waktunya kurang diperbaiki.
Ibu Suratmi, S.kep,Ns
9. Jadwal pemberian obat pasien seharusnya
disesuikan

dengn

waktu

yang

sudah

ditetapkan.
10. KARU harus hafal SOP tindakan nebulizer
11. Komunikasi dalam melakukan tindakan tetap
di utamakan
C.

EVALUASI HASIL
a. Kegiatan dihadiri 90% atau 4 orang dari 5 orang yang di undang dan 12
mahasiswa.
b. Selama kegiatan, masing masing mahasiswa bekerja sesuai dengan
tugasnya.
c. Acara dimulai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
d. Kegiatan berjalan lancar dan tujuan mahasiswa tercapai dengan baik.
e. Ketidaktepatan jadwal pemberian waktu pemberian obat

B.

HAMBATAN
a. Pelaksanaan supervisi tentang tindakan nebulizer kurang optimal karena
kurangnya ketelitian KARU dan harus menguasai yang dilakukan
Perawat Primer dan Perawat Pelaksana.
b. Dalam pelaksanaan supervisi mahasiswa belum berpengalaman dalam
melakukan supervisi sehingga mahasiswa belum bisa menjiwai sesuai
dengan perannya masing-masing.

C.

DUKUNGAN
a. Pengorganisasian supervisi yang terstruktur.

24

b. Proses bimbingan pelaksana supervisi oleh pembimbing akademik,


ruangan dan rumah sakit.
c. Adanya alur yang terstruktur dengan baik
d. Hubungan saling percaya yang terjalin antara pihak perawat ruangan
dengan mahasiswa praktek.
e. Tersedianya fasilitas pendukung untuk kelancaran proses supervisi yang
baik di Ruang Arofah RS Muhammadiyah Lamongan.

BAB 6
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Supervisi merupakan upaya membantu pembinaan dan peningkatan kemampuan
pihak yang disupervisi agar mereka dapat melaksanakan tugas kegiatan yan g
telah ditetapkan secara efisien dan efektif
2. Tujuan supervisi adalah memberikan bantuan kepada bawahan secara langsung,
sehingga bawahan memiliki bekal yang cukup untuk dapat melaksanakan tugas
atau pekerjaan dengan hasil yang baik.
6.2 Saran
1. Menggunakan bahasa yang dimengerti pasien.
25

2. Setting tempat antara KARU dan PP, PA tidak duduk berdampingan Namun
3.
4.
5.
6.

saling berhadapan agar lebih jelas peran yang dimainkan.


KARU mengecek peralatan yang akan dilakukan saat supervisi.
Pemberian obat seharusnya disesuaikan dengan jadwalnya.
Ketidaktepatan waktu pemberian obat.
KARU Seharusnya menegur PP saat terjadi ketidaktepatan

waktu

pemberian obat.
7. Hendaknya KARU memberikan reward ke PP dan menanyakan perasaan PP
setelah melakukan tindakan.
8. Manajemen waktunya kurang diperbaiki.
9. Jadwal pemberian obat pasien seharusnya disesuikan dengan waktu yang
sudah ditetapkan.
10. KARU harus hafal SOP tindakan Nebulizer
11. Komunikasi dalam melakukan tindakan tetap di utamakan

DAFTAR PUSTAKA
Nursalam. (2012). Manajemen keperawatan edisi III. Aplikasi Dalam Praktek
Keperawatan Professional. Jakarta: Salemba Medika.
Swenbrek Alih Bahasa Suhariyati. (2000). Pengantar Kepemimpinan Dan
Manajemen Keperawatan Untuk Perawat Klinis. Jakarta: EGC.

26

27