Anda di halaman 1dari 18

Nama Kelompok

Siti Nur Indah O


Siti Nuraini
Sri Ika Rahayuni Y
Tri Wahyuningrum
Yustika Usman
Zelika Dine F
Anindia Putri
Galih AjengASUHAN IBU POST PARTUM DIRUMAH
A. JADWAL KUNJUNGAN
Paling sedikit 4 kali kunjungan pada masa nifas, dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan
bayi baru tahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang
terjadi. Frekuensi kunjungan pada masa nifas adalah:
1. Kunjungan I ( 6-8 jam setelah persalinan)
Tujuan:
Mencegah perdarahan pada masa nifas karena atonia uteri
Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan
berlanjut
Membenkan konseling pada ibu atau satah satu anggota keluarga, bagaimana
mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
Pemberian ASI awal
Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah terjadi hipotermi
Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi
baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam
keadaan stabil.
2. Kunjungan II ( 6 hari setelah persalinan)
Tujuan:
Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi dengan baik,
fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal atau tidak ada bau
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal
Memastikan ibu cukup mendapatkan makanan, cairan dan istirahat
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda tanda
penyulit
Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga
bayi agar tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3. Kunjungan III ( 2 minggu setelah persalinan)
Tujuan: sama dengan kunjungan II yaitu :
Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi dengan baik,
fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal atau tidak ada bau
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan abnormal
Memastikan ibu cukup mendapatkan makanan, cairan dan istiraha
2

Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda tanda
penyulit
Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga
bayi agar tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
4. Kunjungan IV ( 6 minggu setelah persalinan)
Tujuan:
Menanyakan pada ibu tentang penyulit yang ia atau bayi alami
Memberikan konseling untuk KB secara dini.
Asuhan post partum di rumah difokuskan pada pengkajian, penyuluhan dan konseling.
Dalam memberikan asuhan kebidanan di rumah, bidan dan keluarga diupayakan dapat
berinteraksi dalam suasana yang rileks dan kekeluargaan.
Tantangan yang dihadapi bidan dalam melakukan pengkajian dan peningkatan perawatan
pada ibu dan bayi di rumah, pada pelaksanaannya bisa cukup unik, sehingga bidan akan memiliki
banyak kesempatan untuk menggunakan keahlian berpikir secara kritis untuk meningkatkan
suatu pilihan kreatif perawatan bersama keluarga.
Perencanaan Kunjungan Rumah
Dalam memberikan asuhan kebidanan pada perawatan postpartum di rumah, sebaiknya Bidan :
a. Merencanakan kunjungan rumah dalam waktu tidak lebih dari 24-48 jam setelah
kepulangan klien ke rumah.
b. Pastikan keluarga telah mengetahui rencana mengenai kunjungan rumah dan waktu
kunjungan bidan ke rumah telah direncanakan bersama anggota keluarga.
c. Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan.
d. Rencanakan tujuan yang ingin dicapai dan menyusun alat dan perlengkapan yang akan
digunakan.
e. Pikirkan cara yang dapat digunakan untuk menciptakan dan mengembangkan hubungan
yang baik dengan keluarga.
f. Melakukan tindakan yang sesuai dengan standar pelayanan kebidanan dalam memberikan
asuhan kepada klien.
g. Buatlah pendokumentasian mengenai hasil kunjungan.
h. Sediakan sarana telepon untuk tindak lanjut asuhan pada klien.
Keamanan
merupakan hal yang harus dipikirkan oleh bidan pada saat melakukan kunjungan rumah tanpa
menghiraukan dimana bidan berinteraksi dengan klien. Bagaimanapun bidan harus tetap
waspada. Tindakan kewaspadaan ini, dapat meliputi :
a. Mengetahui dengan jelas alamat yang lengkap arah rumah klien.

b. Gambar rute alamat klien dengan peta sebelum berangkat, perhatikan keadaan di sekitar
lingkungan rumah klien sebelum kunjungan diadakan untuk mengidentifikasi masalah
potensial yang kemungkinan akan muncul.
c. Beritahu rekan kerja anda ketika anda pergi untuk kunjungan dan beri kabar kepada rekan
anda segera setelah kunjungan selesai
d. Bawalah telepon selular dan yakinkan batere telepon selular anda telah diisi ulang.
e. membawa cukup uang dan uang recehan untuk menelepon dari telepon umum jika
diperlukan.
f. Menyediakan senter khususnya untuk kunjungan malam hari.
g. Sebaiknya memakai tanda nama pengenal dan kenakan sepatu yang pantas dan nyaman,
serta hindari memakai perhiasan yang mencolok.
h. Waspada terhadap bahasa tubuh yang diisyaratkan dari siapa saja yang ada selama
kunjungan.
i. Tunjukkan perasaan menghargai di setiap kesempatan.
j. Saat perasaan tidak aman muncul, segeralah akhiri kunjungan.

B. MANAJEMEN IBU POST PARTUM


a. Defenisi
Asuhan ibu postpartum adalah asuhan yang diberikan pada ibu segera setelah kelahiran,
sampai 6 minggu setelah kelahiran
b. Tujuan
Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada ibu segera setelah melahirkan
dengan memperhatikan riwayat selama kehamilan, dalam persalinan dan keadaan
segera setelah melahirkan
c. Asuhan pada ibu nifas
1. Kersihan Diri
Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan
sabun dan air. Pastikan ibu mengerti membersihkan daerah disekitar
vulva terlebih dahulu, dari depan kebelakang, baru kemudian
memmbersihkan daerah sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk
membersihkan diri selesai buang air kecil atau besar.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya
dua kali sehari
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sessudah membersihkan daerah kelaminnya
Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu
untuk mrnghindari menyentuh daerah luka.

2. Istirahat

Anjurkan ibu untuk beristirahat cukup mencegah kelelahan yang berlebihan


Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan biasa perlahan-lahan, serta untuk tidur
siang atau beristirahat selagi bayi tidur
Kurang istirahat akan memmpengaruhi ibu dalam beberapa hal :
Mengurangi jumlah ASI
Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
Menyebabkan depresi dan ketidak mampuan merawat bayi dan diri sendiri

3. Senam nifas
Diskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal ibu
akan merasa kuat dan menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit
pada punggung.Menjelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat membantu,
seperti:
Dengan tidur terlentang dengan lengan disamping, menarik otot perut selagi menarik
nafas, tahan nafas kedalam dan angkat dagu kedada, tahan satu hitungan sampai 5. Rileks
dan ulangi 10 kali.
Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot, pantat dan pinggul dan tahan
sampai 5 hitungan, kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.
Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan
jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke 6 setelah persalinan itu harus
mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali.
4. Gizi
Ibu menyusui harus :
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang
cukup.
Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)
Pil zat besi harus dimnum untuk mendapatkan tambahan zat gizi selama 40 hari pasca
bersalin
Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya
melalui ASInya.
5. Perawatan Payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering
5

Menggunakan bra yang menyokong payudara


Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting
susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan mulai dari puting yang tidak
lecet.
Apabila lecet sangat berat dapa diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan
diminumkan dengan menggunakan sendok.
Unuk menghilangkan nyeri dapat minum paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam
Apabila payudara bengkak akibat pemberian ASI. Lakukan :
Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5
menit
Urut payudara dari pangkal menuju puting atau gunakan sisir untuk mengurut
payudara dengan arah Z menuju puting.
Keluar ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susu menjadi
lunak
Susukan bayi 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI
keluarkan dengan tangan.
Letakkan kain dingi pada payudara setelah menyusui.
Payudara keringkan
6. Hubungan Seksual
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan
ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah
berhenti dan dia tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan
hubungan suami istri kapan saja ibu siap.
Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa
waktu tertentu, misalnya 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan trgantung
pada pasangan yang bersangkutan.
7. Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil
kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka
merencanakan tentang keluarganya. Namun petugas kesehatan dapat membantu
merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada meraka cara mencegah
kehamilan yang tidak diinginkan.
Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi
haidnya selama meneteki. Oleh karena itu metode amenorhe laktasi dapat dipakai
sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko ini
ialah 2% kehamilan.
Sebelum menggunakan metode KB hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada
ibu:
6

Bagaiman metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya


Kelebihan/keuntungan
Kekurangannya
Efek samping
Bagaimana menggunakan metode ini
Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk waniKta pasca salin yang
menyusui
Jika seorang ibu telah memiliki metode KB tertentu, ada baiknya untuk bertemu
denganya lagi 2 minggu utuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh
ibu/ pasangan itu dan melihat apakah metode tersebut bekerja baik.

C. POST PARTUM GROUP


Di dalam melaksanakan asuhan pada ibu postpartum di komunitas, salah satunya adalah
dalam bentuk kelompok. Ibu-ibu postpartum dikelompokkan dengan mempertimbangkan jarak
antara satu orang ibu postpartum dengan ibu postpartum lainnya.
Kegiatan dapat dilaksanakan di salah satu rumah ibu postpartum atau di Posyandu dan
Polindes. Kegiatannya dapat berupa penyuluhan dan konseling tentang:
a. Kebersihan diri (personal hygiene)
Menganjurkan ibu untuk membersihkan seluruh badan (mandi) minimal 2 kali sehari.
Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah genitalia dengan sabun dan air dari
arah depan ke belakang.
Sarankan ibu untuk mengganti pembalut minimal 2-3 kali sehari.
Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah membersihkan
genitalia.
Apabila ibu mempunyai luka bekas episiotomi, maka sarankan ibu untuk tidak
menyentuh daerah luka
b. Istirahat
Sarankan ibu untuk beristirahat dengan cukup, sebaiknya ibu istirahat di saat bayinya
sedang tidur.
Sarankan ibu agar mengerjakan pekerjaan rumah pertahan-lahan
c. Gizi
Nasi 200 gram (1 piring sedang)
Lauk 1 potong sedang
Tahu/tempe 1 potong sedang
7

Sayuran 1 mangkuk sedang


Buah1 potong sedang
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
Makanan dengan diet berimbang: protein, mineral, vitamin yang cukup
Minum sedikitnya 3 liter per hari (8 gelas sehari)
Meminum pil zat besi selama 40 hari pasca persalinan
Minum kapsul vitamin A

d. Menyusui
1) Tanda-tanda ASI cukup

Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam


Bayi sering BAB, berwama kekuningan berbiji
Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, kemudian bangun tapi tidur cukup
Bayi setidaknya menyusu 10-12 kali dalam 24 jam
Payudara terasa kosong setiap kali selesai menyusui
Berat badan bayi bertambah

Bayi harus diberi ASI setiap kali ia merasa lapar, jika tayi dibiarkan tidur lebih dari 3-4 jam
atau bayi diberi jenis makanan lain atau payudara tidak dikosongkan dengan baik setiap kali
menyusui, maka "pesan hormonal" yang diterima otak ibu adalah untuk menghasilkan susu lebih
sedikit.
2) Meningkatkan suplai ASI

Menyusui bayi setiap 2 Jam, lama 10-15 menit


Pastikan posisi ibu benar saat menyusui bayinya
Susukan bayi dalam keadaan tenang dan suasana yang nyaman
Tidurlah bersebelahan dengan bayi
Tingkatkan istirahat dan hidrasi

3) Perawatan payudara

Menjaga payudara tetap bersih dan kering


Gunakan bra yang menyokong
Apabila puting susu lecet, keluarkan kolostrum dan oleskan setiap kali selesai menyusui
Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam
Payudara yang bengkak dapat dikompres hangat selama 5 menit
Untuk menghilangkan nyeri, ibu dapat diberikan parasetamol 500 mg setiap 6-8 jam

e. Lochea
Pembagian lochea antara lain:
8

Lochea rubra (1-3 hari postpartum) : warna merah segar dan berisi gumpalan darah, sisa
selaput ketuban, sisa vernik, lanugo.
Lochea sanguinolenta (3-7 hari postpartum) : berwarna merah kekuningan, berisi darah
dan vernik kaseosa.
Lochea serosa (7-14 hari postpartum) : Berwarna kekuning-kuningan, berisi serum
Lochea alba ( 14-40 hari post partum) : berwarna putih
f.. Involusi uterus
Setelah bayi dilahirkan, uterus yang selama persalinan mengalami kontraksi dan retraksi akan
menjadi keras, sehingga dapat menutup pembuluh darah besar yang bermuara pada bekas
implantasi placenta. Pada involusi uteri, jaringan ikat dan jaringan otot mengalami proses
proteolitik, berangsur-angsur akan mengecil sehingga akhir kala nifas besarnya seperti semula
dengan berat 30 gram.
g. Senggama
Secara fisik untuk memulai hubungan suami istri, begitu darah merah berhenti, ibu dapat
memasukkan satu atau dua jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Memulai hubungan suami istri
tergantung pada pasangannya.
h. Keluarga berencana
Idealnya, pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali.
Pasangan sendirilah yang menentukan kapan ingin berKB. Tapi sebaiknya segera sebelum 40
hari masa nifas. Tenaga kesehatan akan memberitahu tentang cara, kelebihan, keuntungan, dau
efek samping dari alat kontrasepsi itu. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko,
penggunaan kontrasepsi aman setelah ibu haid kembali.

ASUHAN BAYI BARU LAHIR DAN NEONATAL


A. Kunjungan neonatal
9

Pelayanan kesehatan kepada neonatus sedikitnya 3 kali yaitu:

Kunjungan neonatal I (KN1) pada 6 jam sampai dengan 48 jam setelah lahir

Kunjungan neonatal II (KN2) pada hari ke 3 s/d 7 hari

Kunjungan neonatal III (KN3) pada hari ke 8 28 hari

Kunjungan neonatus bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus terhadap pelayanan


kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin komplikasi yang terjadi pada bayi sehingga
dapat segera ditangani dan bila tidak dapat ditangani maka dirujuk ke fasilitas yang lebih
lengkap untuk mendapatkan perawatan yang optimal
Jadwal Kunjungan Bayi dan balita
Pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi:
1. Kunjungan bayi satu kali pada umur 29 hari-2 bulan
2. Kunjungan bayi satu kali pada umur 3-5 bulan
3. Kunjungan bayi satu kali pada umur 6-8 bulan
4. Kunjungan bayi satu kali pada umue 9-11 bulan
B. Managemen asuhan Bayi Baru lahir Dan Neonatal
Prinsip dasar pelayanan kesehatan neonatal:
a. Pelayanan kesehatan yang diberikan pada ibu hamil.
b. pencegahan dan penanggulangan dini terhadap factor-faktor yang memperlemah kondisi
ibu hamil seperti gizi yang rendah, anemia, dekatnya jarak antara kehamilan dan
buruknya hygiene.
c. pembinaan kesehatan prenatal.
d. penanggulangan factor-faktor yang menyebabkan kematian perinatal. Meliputi
perdarahan, hipertensi, infeksi, kelahiran preterm, asfiksia dan hipotermia
C. PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
Tujuan :
Menilai kondisi bayi baru lahir dan membantu dimulainya pernafasan serta mencegah
hipotermi, hipokglikemia dan infeksi
Pernyataan standar:

10

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan
mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk
sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah dan menangani hipotermia
D. PELAYANAN KESEHATAN BAYI BARU LAHIR
1. Asuhan bayi baru lahir
Pelaksanaan asuhan bayi baru lahir
dilaksanakan dalam ruangan yang sama dengan ibunya atau
rawat gabung (ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar , bayi
berada dalam jangkauan ibu selama 24 jam).
2. Asuhan bayi baru lahir meliputi:
Pencegahan infeksi (PI)
Penilaian awal untuk memutuskan resusitasi pada bayi
Pemotongan dan perawatan tali pusat
Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama
6 jam, kontak kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan
tubuh bayi.
Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan vitamin K1 dosis tunggal di paha
kiri
Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan
Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata
antibiotika dosis tunggal
Pemeriksaan bayi baru lahir
Pemberian ASI eksklusif
E. Standar Pelayanan Bayi dan Balita
Pelayanan bagi Ibu dan Bayi pada Masa Nifas
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga,
minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan , untuk membantu proses pemulihan
ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini penanganan atau
rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan
tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi
baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.
Tujuan :
Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah persalinan dan
memberikan penyuluhan ASI eksklusif
Prasyarat :
a. Sistem yang berjalan dengan baik agar ibu dan bayi mendapatkan pelayanan pasca
persalinan dari bidan terlatih sampai dengan 6 minggu setelah persalinan, baik
dirumah, puskesmas atau rumah sakit.
b. Bidan telah dilatih dan terampil dalam :
Perawatan nifas, termasuk pemeriksaan ibu dan bayi dengan cara yang benar
11

c.
d.
e.
f.
g.
h.

Membantu ibu untuk memberikan ASI


Mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada ibu dan bayi pada masa nifas
Penyuluhan dan pelayanan KB/penjarangan kelahiran
Bidan dapat memberikan pelayanan imunisasi atau bekerja sama erdengan juru
imunisasi di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat
Tersedia vaksin, alat suntik, tempat penyimpananvaksin dan tempat pembuangan
benda tajam yang memadai
Tersedianya tablet besi dan asam folat
Tersedia alat/perlengkapan, misalnya untuk membersihkan tangan, yaitu sabun, air
bersih, dan handuk bersih, sarung tangan bersih/DTT
Tersedia kartu pencatatan, kartu ibu, kartu bayi, kartu KIA
Sistem rujukan untuk perawatan komplikasi kegawatdaruratan ibu dan bayi baru lahir
berjalan dengan baik

F. Jenis-jenis Pelayanan Balita


1. Pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun yang tercatat dalam Buku
KIA/KMS.
Pemantauan pertumbuhan melalui pengukuran berat badan anak balita setiap bulan yang
tercatat pada Buku KIA/KMS. Manfaat KMS adalah :
Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara
lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi,
penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan pemberian
ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.
Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak
Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan
penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.
2. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) minimal 2 kali
dalam setahun.
Pelayanan SDIDTK meliputi pemantauan perkembangan motorik kasar, motorik halus,
bahasa, sosialisasi dan kemandirian minimal 2 kali setahun (setiap 6 bulan). Pelayanan
SDIDTK diberikan di dalam gedung (sarana pelayanan kesehatan) maupun di luar
gedung.
3. Pemberian Vitamin A 2 kali dalam setahun.
Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat diperlukan oleh
tubuh yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat melihat dengan baik) dan untuk
kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya tahan tubuh.
Vitamin A terdiri dari 2 jenis :
1) Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi yang berusia 6-11 bulan
satu kali dalam satu tahun
2) Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada balita
Kekurangan vitamin A disebut juga denga xeroftalmia ( mata kering ).

12

4. Pelayanan posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat
dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan
memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan
dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi
5. Pelayanan anak balita sakit sesuai standar dengan menggunakan pendekatan MTBS.
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood
Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita
sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara
G. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik
seseorang. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan
penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu. Kedua proses ini terjadi secara
sinkron pada setiap individu.
Mengapa Deteksi Dini Perlu ???
a. Kualitas generasi penerus tergantung kualitas tumbuh kembang anak, terutama batita (0-3
tahun) merupakan masa perkembangan otak.
b. Penyimpangan tumbuh kembang harus dideteksi (ditemukan) sejak dini, terutama
sebelum berumur 3 tahun, supaya dapat segera di intervensi (diperbaiki)
c. Bila deteksi terlambat, maka penanganan terlambat, penyimpangan sukar diperbaiki
Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang mencakup
1. Aspek Pertumbuhan:

Timbang berat badannya (BB)

Ukur tinggi badan (TB) dan lingkar kepalanya (LK)

Lihat garis pertambahan BB, TB dan LK pada grafik

2. Aspek Perkembangan

Tanyakan perkembangan anak dengan KPSP (Kuesioner Pra Skrining


Perkembangan)

Tanyakan daya pendengarannya dengan TDD (Tes Daya Dengar), penglihatannya


dengan TDL (Tes Daya Lihat),

3. Aspek Mental Emosional


13

KMEE (Kuesioner Masalah Mental Emosional)

CHAT (Check List for Autism in Toddles = Cek Lis Deteksi Dini Autis)

GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas)

H. Imunisasi
Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi dengan menyuntikkan vaksin
kepada anak
Vaksin yang di gunakan adalah :
1. BCG
2. DPT
3. Polio
4. Hepatitis B
5. Campak
1. Imunisasi BCG
a. Tujuan
Untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit TBC
b. Jadwal pemberian
Bayi berumur 0-11 bulan, tapi dengan dosis 0,05 cc. Vaksinasi diulang pada umur 5
tahun. Diberikan secara intracutan pada lengan kanan keatas
c. Efek samping
Penyuntikan secara intradermal yang benar akan menimbulkan ulkus lokal yang
supervialal 3 minggu setelah penyuntikan, ulkus yong biasu tertutup krusta akan sembuh
dalam 2-3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm. Apabila dosis
terlalu tinggi maka ulkus yang timbul semakain besar, namun apabila penyutikan terlalu
dalam, parut yang terjadi tertarik ke dalam.
2. DPT
a. Tujuan
Untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tatanus.
b. Jadwal pemberian

14

Pada bayi 2-11 bulan, sebanyak 3 kali suntikan dengan selang waktu 4 minggu secara IM
di paha bagian atas dengan dosis 0,5 cc. Imunisasi ulang lainnya diberikan umur 1,5-2
tahun, kemudian pada usia 6-8 tahun dan 10 tahun
c. Efek samping
Kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi injeksi, terjadi pada kira-kira separuh
penderita. Proporsi yang sama juga akan menderita demam ringan dan 1% dapat
hiperperiksia. Anak sering gelisah, dan menangis terus menerus selama beberapa jam
pasca penyuntikan.
3. Hepatitis B
a. Tujuan
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap virus hepatitis
b. Jadwal pemberian
Pada usia 0-1 bulan, dianjurkan pad usia 0-7 hari. Kemudian pada usia 23 bulan.
c. Diberikan secara IM di paha bayi dengan dosis 0,5 cc
d. Efek samping yang terjadi biasanya ringan, berupa nyeri, panas, mual nyeri sendi dan
otot
4. Polio
a. Tujuan
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis
b. Jadwal pemberian
Pada bayi umur 2-3 bulan, diberikan sebanyak 3 kali pemberian dengan dosis 2 tetes
dengan interval 4 minggu. Pemberian ulang pada umur 1,5 - 2 tahun dan menjelang
umur 5 tahun
c. Efek samping
Setelah vaksinasi sebagian kecil resipen dapat mengalami gejala- gejala pusing, diare
ringan, dan otot
5. Campak
a. Tujuan
Untuk mendapatkan, kekebalan terhadap penyakit campak
15

b. Jadwal pemberian
Umur 9-11 bulan dengan 1 kali pemberian, dengan dosis 0,5 cc
lengan kiri

secara

subkutan

di

c. Efek samping
Di laporkan setelah vaksinasi MMR (measies mumps, dan ruballa) dapat terjadi malaise
demam atau ruam sering terjadi 1 minggu setelah imunisasi dapat terjadi kejang demam
ensefalitas pasca imunisasi dan pembengkakan kelenjar parutis pada minggu ke - 3
Vaksin Pentavalen

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan merilis tahapan baru pemberian imunisasi


untuk bayi. Perubahan ini dikarenakan dikenalkan Vaksin Pentavalen (DPT-HB-Hib),
maka bisa dipastikan akan ada perubahan pada pemberian jadwal imunisasi anak

Vaksin yang merupakan pengembangan dari vaksin tentravalen (DPT-HB) kombinasi


buatan Indonesia ini disebut Pentavalen, karena merupakan gabungan dari lima antigen,
yaitu DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus), Hepatitis B serta Hib). Lima antigen tersebut
diberikan dalam satu suntikan, sehingga memberikan kenyamanan bagi bayi yang
mendapat imunisasi beserta ibunya.

Indikasi
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan),
hepatitis B, dan infeksi Haemophilus influenzae tipe b secara simultan.
Kontraindikasi

Hipersensitivitas terhadap komponen vaksin, kejang atau gejala kelainan otak pada bayi
baru lahir atau kelainan saraf serius lainnya merupakan kontraindikasi terhadap
komponen pertusis.

Penyimpanan: Vaksin ini harus disimpan dan ditransportasikan pada suhu antara +2 oC
dan +8oC.

Vaksin ini tidak boleh beku sehingga penyimpanannya dilengkapi dengan indikator
paparan suhu beku

imunisasi DPT harus diberikan 3 kali dan tambahan pada usia 15-18 bulan untuk
meningkatkan titer anti bodi pada anak-anak.

SASARAN DAN JADWAL


Sasaran :
16

Imunisasi DTP-HB-Hib : usia 0 11 bulan

Imunisasi lanjutan DPT/HB/Hib dan

Campak diberikan kepada anak batita.

Jadwal :
Pemberian imunisasi DTP-HB-Hib merupakan bagian dari pemberian imunisasi dasar
pada bayi sebanyak tiga dosis.

Vaksin DTP-HB-Hib merupakan pengganti vaksin DPT-HB, sehingga memiliki


jadwal yang sama dengan DPT-HB.

UMUR

JENIS AKSIN

INTERVALMINIMAL
IMUNISASI DASAR

SETELAH

0 Bulan

Hepatitis B

1 Bulan

BCG, Polio 1

2 Bulan

DPT-HB-Hib 1-Polio 2

3 Bulan

DPT-HB-Hib 2-Polio 3

4 Bulan

DPT-HB-Hib 3-Polio 4

9 Bulan

Campak

18 Bulan

DPT-HB-Hib

12 bulan dari DPT-HB-Hib 3

24 Bulan

Campak

6 bulan dari campak dosis pertama

Pada tahap awal DTP-HB-Hib hanya diberikan pada bayi yang belum pernah mendapatkan
imunisasi DPT-HB. Apabila sudah pernah mendapatkan imunisasi DPT-HB dosis pertama atau
kedua, tetap dilanjutkan dengan pemberian imunisasi DPT-HB sampai dengan dosis ketiga.
Prof Sri menilai ada beberapa keunggulan vaksin Pentavalen (DPT-HB-Hib) jika dibandingkan
dengan program imunisasi yang lama, antara lain:
1. Mengurangi kesakitan pada anak
17

2. Mengurangi kunjungan ke posyandu


3. Mengurangi risiko 6 penyakit sekaligus

18