Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Padang penggembalaan merupakan suatu tempat yang dengan sengaja


dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak pada lokasi tertentu
dimana telah ditanami rumput unggul dan atau legum serta tahan terhadap injakan
ternak. Padang penggembalaan yang baik merupakan padang dengan kumpulan
hijauan pakan ternak yang mampu memberikan asupan hijauan secara kontinu
selama ternak melakukan perenggutan didalamnya sehingga ternak akan
menghasilkan produktifitas yang semaksimal mungkin.
Dalam manajemen penggembalaan dikenal sistem penggembalaan bebas,
yaitu ternak dilepas untuk mencari makan di padang rumput alam yang kurang
terkontrol sehingga dapat menyebabkan terjadinya under grazing (kelebihan
rumput yang tersedia) maupun over grazing (penggembalaan yang berlebihan).
Overgrazing yang terjadi berakibat pada musnahnya spesies-spesies rumput alam
yang disenangi ternak (palatable) dan bernilai nutrisi baik yang kemudian
digantikan dengan jenis rumput yang berkualitas kurang baik dan berumur pendek
dan kurang baik.
Daya tampung atau kapasitas tampung (carrying capacity) merupakan
kemampuan padang penggembalaan dalam menghasilkan hijauan makanan ternak
sebanyak yang dibutuhkan oleh ternak yang digembalakan dalam suatu padang
penggembalaan atau kemampuan padang penggembalaan untuk menampung
ternak per hektar. Oleh karena itu dilakukan praktikum tatalaksana padang
penggembalaan mengenai pengukuran kapasitas tampung dengan tujuan untuk
mengetahui cara mengukur kapasitas tampung dari luas lahan yang dikelola dan
untuk mengetahui potensi lahan pertanian sebagai penyedia hijauan makanan

ternak,

serta

kegunaan

dilaksanakan

praktikum

tatalaksana

padang

penggembalaan mengenai pengukuran kapasitas tampung agar sebagai informasi


ilmiah bagi mahasiswa dan masyarakat dalam mengetahui cara mengukur
kapasitas tampung dari luas lahan yang dikelola potensi lahan pertanian sebagai
penyedia hijauan makanan ternak.

TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran Umum Penggunaan Padang Penggembalaan
Padang penggembalaan merupakan suatu daerah padangan dimana
tumbuh tanaman makanan ternak yang tersedia bagi ternak yang merenggutnya
menurut kebutuhannya dalam waktu singkat. Produktivitas hijauan pakan pada
suatu padang penggembalaan dipengaruhi oleh faktor ketersediaan lahan yang

memadai, dimana lahan tersebut harus mampu menyediakan hijauan pakan yang
cukup bagi kebutuhan ternak. Selain itu faktor kesuburan tanah, ketersediaan air,
iklim dan topografi juga turut berpengaruh (Sawen dan Junaidi, 2011).
Padang penggembalaan dapat diklasifikasikan menjadi empat golongan
utama yakni padang penggembalaan alam, padang penggembalaan permanen yang
sudah diperbaiki, padang penggembalaan buatan (temporer), dan padang
penggembalaan

dengan

irigasi.

Vegetasi

yang

tumbuh

pada

padang

penggembalaan terdiri atas rumput-rumputan, kacang-kacangan, atau campuran


keduanya. Fungsi kacang-kacangan pada padang penggembalaan memberikan
nilai gizi pakan yang lebih baik terutama berupa protein, fosfor dan kalium
(Sudaryanto dan Priyanto, 2009).
Faktor faktor yang memepengaruhi padang pengembalaan antara lain,
Air berfungsi untuk fotosintesis, penguapan, pelarut zat hara dari atas ke daun.
Intensitas sinar mata hari.Peningkatan pertumbuhan tanaman sejalan dengan
peningkatan intensitas cahaya.Jumlah energi matahari yang diterima seawal
mungkin pada saat munculnya sampai periode pemasakan adalah penting untuk
akumulasi berat kering selama periode tersebut. Kompetisi zat zat
makanan.Kompetisi terjadi dengan tanaman utama. Kekompakan tanah.Pastura
yang digembala dengan stocking rate yang tinggi, tanah menjadi kompak, padat
dan berakibat mengurangi aerasi akar dan daya tembus air.Pengambilan zat zat
makanan. Makin sering pastura dipotong makin sedikit daun yang gugur yang
menambah humus dan pada waktu yang sama, makin banyak zat-zat makanan
yang hilang. Berkurangnya Produksi. Pastura yang terlalu tinggi menyebabkan
(Pertiwi, 2007).

Pemanfaatan padang penggembalaan alami sebagai sumber pakan hijauan


sudah lama dilakukan oleh peternakan kecil (peternakan rakyat) di pedesaan.
Untuk memperoleh pakan hijauan bagi ternak yang dipeliharanya, peternak
umumnya menggembalakan ternaknya pada padang penggembalaan alami yang
berada di sekitar tempat tinggalnya. Pada kenyataannya, pemeliharaan ternak
ruminansia dengan sistem pemeliharaan tersebut cenderung memperlihatkan
bahwa produksi yang dihasilkan relatif rendah (Sawen dan Junaidi, 2011).
Pengelolaan padang penggembalaan yang digunakan untuk penggemukan
sapi dengan sistem pasture fattening adalah rotasi penggunaan padang
penggembalaan. Suatu areal padang penggembalaan dapat dibagi atas beberapa
petak dan diisi dengan beberapa ekor sapi yang digemukkan. /setiap petak harus
diamati terus agar dapat ditentukan saat yang tepat untuk melakukan rotasi
(Siregar, 2010).
Gambaran Umum Kapasitas Tampung
Kapasitas

tampung

(carry

capacity)

adalah

kemampuan

padang

penggembalaan untuk menghasilkan hijauan pakan yang dibutuhkan oleh


sejumlah ternak yang digembalakan dalam luasan satu hektar atau kemampuan
padang penggembalaan untuk menampung ternak/ ha. Kapasitas tamping identik
dengan tekanan penggembalaan yaitu jumlah ternak atau unit ternak persatuan
luas padang penggembalaan (Hasan dkk., 2015).
Daya tampung padang pengembalaan tergantung kepada kemiringan
lahan, jarak dengan sumber air, kecepatan pertumbuhan/produksi tanaman pakan,
kerusakan lahan, ketersediaan hijauan yang dapat dikonsumsi, nilai nutrisi pakan,
variasi musim,keadaan ekologi padang Pengelolaan padang pengembala

diperlukan untukmencapai keseragaman penggunaan rumput oleh ternak dan


tingkat pertumbuhan hijauan yang optimal. Cara yang digunakan untuk
menghitung daya tampung terditi dari dua cara yaitu Cut and Carry adalah
dipotong langsung dari kebun/ padang diberikan kepada ternak di kandang.
Carrying Capacity adalahdaya tampung padang penggembalaan (ha/UT) untuk
mencukupi kebutuhan pakan hijauan(Damry, 2009).
Pengukuran kapasitas tampung padang penggembalaan digunakan
menurut Susetyo (1980) yaitu sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Kuadran dijatuhkan secara acak dipadang penggembalaan


Hijauan di dalam kuadrant dipotong sedekat mungkin dari permukaan tanah
Hijauan hasil pemotongan dimasukkan ke dalam plastik untuk ditimbang
Cuplikan ke dua diukur ke arah kanan dan kiri sejauh 5 langkah sampai 10

langkah
5. Cuplikan pertama dan kedua disebut satu cluster

Gambaran Animal Unit


Kemampuan berbagai padangan rumput dalam menampung ternak berbeda
- beda karena adanya perbedaan dalam hal produktivitas tanah, curah hujan dan
penyebarannya serta topografi. Oleh karena itu padang rumput sebaiknya
digunakan menurut kemampuannya masing-masing. Kapasitas tampung ternak
bertujuan untuk mendefinisikan tekanan penggembalaan jangka panjang dalam
tingkat optimum yang secara aman berkelanjutan dan dihubungkan dengan
ketersediaan pakan hijauan untuk ternak (Khomar, 2010).
Jumlah hijauan yang tersedia ini tidak terlepas hubungan dengan defoliasi,
aspek lain dalam hal ini adalah hubungan antara tekanan penggembalaan terhadap

produksi ternak. Pengertian tentang tekanan penggembalaan optimum penting


artinya

dalam

pengelolaan

padang

penggembalaan,

karena

tekanan

penggembalaan optimum dalam hal ini sesuai dengan daya tampung padang
rumput bersangkutan. Terjadi penurunan komposisi legum dari umur 1-6 tahun
yaitu terjadi penurunan 10% pada legum dan rumput terjadi peningkatan total
bahan kering lebih dari 60%. Lebih dari 60 spesies hinjauan (Khomar, 2010).
Mengestimasi produksi pastura dan banyaknya hewan yang dapat dilepas
merupakan salah satu prasyarat penggunaan dari suatu pastura.Keseimbangan
akan keduanya diperlukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi rumput,
metode pemberian, umur hewan dan lain sebagainya, mempengaruhi kapasitas
tampung. Luas pastura juga dapat mempengaruhi kapasitas tampung, hal ini
disebabkan karena hewan akan lebih banyak bergerak (misalnya berjalan) di
astura yang lebih luas selanjutnya mempengaruhi tingkat konsumsi dan kapasitas
tampung (Khomar, 2010).
Intensitas Penggembalaan
Intensifikasi tatalaksana lahan penggembalaan dan produksi hijauan,
meliputi

intensitas

perhatian,

pemeliharaan

dan

penggunaan

lahan

penggembalaan, penggunaan lahanproduktif lainnya untuk mendukung produksi


hijauan, serta intensitas peran sumber-dayamanusia, khususnya peternak, dalam
penyediaan hijauan bagi ternaknya, termasukpemanfaatan sumber-sumber pakan
kasar (roughage) sebagai hijauan pakan lainnya (Amar, 2008).
Menurut Amar (2008) menyatakan intensitas penggunaan padang
penggembalaan (jumlah ternak per-unit lahan)hanya mungkin dilakukan bila
didahului dengan perbaikan produktivitas hijauan (kuantitasdan kualitas) padang
penggembalaan melalui perbaikan agronomis dan manajemenpemanfaatannya.
Cara perbaikan yang umum dilakukan adalah :

1. Pemupukan, khususnya unsur-unsur makro seperti nitrogen (N) dan pospor

(P), sertaunsur lainnya sesuai kebutuhan minimum tanaman.


2. Introduksi tanaman baru, rumput dan/atau legum, yang lebih produktif, dapat

beradaptasidengan kondisi lingkungan sasaran, persisten, dan tahan tekanan


(intensitas) penggembalaan.
3. Penanaman tumbuhan perdu/pohon multi-guna (multipurpose trees) sebagai
sumberhijauan tambahan, khususnya pada waktu-waktu hijauan tersedia
sangat terbatas, danberfungsi pula dalam perbaikan gizi temak .
Amar (2008) menyatakan bahwa upaya perbaikan ini merupakan
kebutuhan, dan dapat dilakukan pada padangpenggembalaan, maupun pada lahan
perkebunan yang diintensifkan penggunaannya sebagai penggembalaan ternak.
Kebutuhan seperti ini sudah diakui dimana-mana sebagai akibatpeningkatan
permintaan

produk-produk

ternak,

khususnya

daging,

sehingga

meningkatkankebutuhan lahan untuk produksi hijauan, dan kebutuhan yang urgen


untuk meningkatkanproduktivitas per-unit lahan.Usaha dan tatalaksana pemberian
hijauan padaternak, termasuk dengan perencanaan yang baik oleh peternaknya
sebagai pelaku usaha.Intensifikasi perhatian petani/petemak meliputi segala aspek
usahanya, tetapi dalam hal ini,secara khusus penyediaan hijauan pakan melalui:
1. Pengembangan teknik-teknik pengawetan kering (hay) dan segar (silase),
sertapemanfaatan sumber hijauan lain untuk menjamin persediaan pakan
utama penggantihijauan segar (roughage) pada musim atau tujuan tertentu.
2. Selain teknik pengawetan, pengembangan teknologi pemanfaatan limbah
seperti jeramipadi dan jagung, serta hijauan lain yang mudah diperoleh tetapi
kurang disukai ternakseperti daun johar (Cassea siamea Lamk .) dalamm
bentuk pakan komplit yangdikompakkan/dipress (compacted complete feed).

Amar (2008) lebih menjelaskan bahwa perbaikan produktivitas kebun


rumput dapat dilakukan secara intenfikasi, antara lain melalui :
1. Pemupukan, organik dan mineral, khususnya pupuk kandang
2. Introduksi jenis tanaman yang lebih produktif (dan gizi lebih baik).
3. Pemanfaatan lahan-lahan pertanian, yang tidak memungkinkan untuk
penggembalaan,dengan integrasi tanaman hijauan pakan potongan
Metode Penentuan Daya Tampung
Berdasarkan hijauan tersedia
Produksi hijauan tersedia adalah jumlah keseluruhan hijauan yang
dapat dihasilkan

oleh

padang

penggembalaan (dinyatakan

dalam

bahan

kering) dikurangi produksi komponen gulma, dikali proper use faktor dan dalam
hal ini proper use factor yang digunakan adalah 45%. Kebutuhan luas lahan
per bulan bagi ternak (ha/UT) adalah jumlah kebutuhan hijauan ternak tersebut
selama sebulan (kg/UT) dibagi dengan produksi hijauan tersedia (kg/ha) dari
padang penggembalaan yang dimaksud. Kebutuhan luas lahan ternak per tahun
(ha/UT) dihitung menggunakan rumus Voisin. Kapasitas tampung padang
penggembalaan dihitung dengan asumsi bahwa satu unit ternak (UT) setara
dengan sapi dengan bobot 500 kg, dengan kebutuhan pakan ternak per hari
(dalam bentuk bahan kering) ditetapkan sebesar 3% dari bobot badan, dan
bahwa periode stay (merumput) selama 70 hari (Damry, 2009).
Kualitas nutrisi hijauan yang tumbuh pada suatu padang penggembalaan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya komposisi rumput dan legum,
tahap pertumbuhan hijauan, kondisi tanah, pemupukan, dan ketersediaan air.
Tanaman legum mengandung nitrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan
rumput dan rendahnya proporsi legum yang ada dalam vegetasi yang tumbuh

di padang penggembalaan atau perkebunan kelapa di lokasi penelitian menjadi


salah satu penyebab rendahnya kualitas nutrisi hijauan yang ada. Faktor lain
yang juga diduga menjadi penyebab rendahnya kandungan protein kasar
hijauan di lokasi penelitian adalah kondisi undegrazing yang sedang terjadi
sehingga vegetasi yang ada mengalami penuaan dengan kandungan serat kasar
yang tinggi (Damry, 2009).
Berdasarkan produksi ternak
Menurut Samen dan Junaidi (2011), besarnya produksi hijauan atau kebun
rumput pada suatu areal dapat diperhitungkan, seperti berikut :
1. Produksi Kumulatif, merupakan produksi padang penggembalaan atau kebun
rumput yang ditentukan bertahap selama 1 tahun. Setiap pemotongan
produksi hijauan rumput diukur dan dicatat. Setalah 1 tahun seluruh produksi
dijumlah, dan hasilnya merupakan produksi kumulatif.
2. Produksi Realitas, merupakan produksi yang ditentukan oleh setiap
pemotongan hijauan rumput seluruh areal padang penggembalaan atau kebun
rumput. Jadi, produksi realitas adalah produksi sebenarnya yang bisa diukur
dengan produksi ternak.
3. Produksi Potensial, merupakan produksi yang ditentukan atas dasar perkiraan
suatu areal padang penggembalaan atau kebun rumput. Jadi, perhitungan ini
cenderung disebut sebagai taksiran.
Faktor dominan penyebab rendahnya produksi ternak dengan sistem
pemeliharaan tersebut di atas, yaiturendahnya kualitas padang penggembalaan
alami dan jumlah ternak yang dipelihara pada padang penggembalaan alami
tersebut tidak sesuai dengan kapasitas tampung. Tinggi rendahnya kualitas

suatu padang penggembalaan berkaitan erat dengan komposisi

botanis

(tumbuhan) yang terdapat pada padang penggembalaan tersebut. Sedangkan


padatnya ternak yang dipelihara menyebabkan ketersediaan pakan hijauan yang
terdapat

pada

padang

penggembalaan

alami tersebut

tidak

mencukupi

kebutuhan seluruh ternak yang digembalakan (Samen dan Junaidi, 2011).

METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum Tatalaksana Padang Penggembalaan Peternakan Rakyat
mengenai PengukuranKapasitasTampung dilaksanakanpadahariSabtu, 30 April
2016 pukul 10.00 WITA - Selesai, bertempat di Lahan Pastura di Kabupaten
Sidrap dan Laboratorium Tanaman Pakan, Fakultas Peternakan, Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Materi Praktikum
Alat

yang

digunakan

dalam

praktikum

Tatalaksana

Padang

Penggembalaan Peternakan Rakyat mengenai Pengukuran Kapasitas Tampung


yaitu kudrat, gunting, meteran, dan timbangan.
Bahan

yang

digunakan

dalam

praktikum

Tatalaksana

Padang

Penggembalaan Peternakan Rakyat mengenai Pengukuran Kapasitas Tampung


yaitu alat tulis menulis, kantong plastic dan tali rafia.
Metode Praktikum

Melempar kuadrat ukuran 1 x 1 m secara acak di padang rumput.


Kemudian memotong hijauan yang ada dalam kuadrat sedekat mungkin di
permukaan tanah lalu ditimbang. Meletakkan kuadrat dengan jarak 10 langkah
lurus kekanan dan hijauan yang ada dalam kuadrat dipotong dan ditimbang.
Meletakkan kuadrat pada No. 1 dan 3 disebut kluster. Kluster kedua diambil
sejauh 125 langkah tegak lurus dari kluster pertama. Memotong hijauan yang ada
dalam kuadrat seperti pada No. 2. Mengambil sampel pada kluster ketiga dan
seterusnya. Mengambil sampel 500 gram pada hijauan yang telahditimbangdan
memasukkan kedalam kantong plastic untuk dibawake laboratorium untuk analisis
bahan kering. Menghitung kapasitas tampingdanberathijauan yang ada pada
padang rumput. Menentukan banyak hijauan yang dapat dikonsumsi oleh seekor
ternak. Kemudian mengestimasi luas lahan yang dibutuhkan untuk 1 satuan ternak
per bulan = konsumsi bahan kering 1 satuan ternak/bulan dibagi dengan produksi
bahan kering hijauan/ha yang patut dimanfaatkan.

DAFTAR PUSTAKA
Amar, L, A. 2008. Strategi penyediaan pakan hijauan untuk pengembangan sapi
potong di Sulawesi Tengah. Jurnal Prosiding Seminar Nasional Sapi
Potong. Vol 1. No 2. Hlm 10-18.
Damry. 2009. Produksi dan kandungan nutrien hijauan padang penggembalaan
alam di Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Jurnal Agroland. Vol 16.
No 4. Hlm 296-300.
Hasan, M., dan Reksohadiprodjo, S. 2015. Produksi Hijauan Makanan Ternak
Tropik. Penerbit UGM. Yogyakarta.
Khomar, D, L. 2010. Efektivitas inokulasi rhizobium terhadap perbaikan serapan
N dan P serta kandungan protein legume Arachis pintoi pada tingkat
keasaman tanah yang berbeda. Jurnal Ilmu Ternak. Vol 4. No 1. Hlm 5356.
Pertiwi, P. 2007. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press. Jakarta.
Sawen, D., dan Junaidi, M. 2011. Potensi padang penggembalaan alam pada dua
kabupaten di Provinsi Papua Barat. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner. Vol 1. No 1. Hlm 836-842
Siregar, 2010. Strategies to enhance growth of weaned bali (bos sondaicus) calves
of smallholders in donggala district, Central Sulawesi. Journal of Animal
Production. Vol 10. No 1. 135-139.
Sudaryanto , B., dan Priyanto,D. 2009. Degradasi Padang Penggembalaan. Balai
Penelitian Ternak.

Susetyo, 1980. Padang Penggembalaan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.