Anda di halaman 1dari 143

PENGOLAHAN KULIT KELINCI

Pengawetan dan penyamakan kulit kelinci


Kulit kelinci yang sudah dilepas dari karkas harus segera ditangani agar tidak
kering, menimbulkan bau busuk serta kerusakan bulu (rontok). Proses pengolahan
kulit mencakup beberapa tahapan yang kompleks dan saling berkaitan.
Syarat pemilihan kulit kelinci:
Pengolahan kulit kelinci harus menggunakan kulit kelinci yang baik, sehat dan tidak
pernah terkena penyakit kulit, karena akan mempengaruhi hasil akhir dari
penyamakan kulit. Untuk memperoleh kulit kelinci yang simetris maka harus
memperhatikan tata laksana pengulitan pada saat penyembelihan. Selain itu kulit
yang telah diperoleh dari penyembelihan sebaiknya segera dilakukan pengawetan,
maksimal 4 jam setelah penyembelihan. Hal ini dapat merusak kulit kelinci jika tidak
segera dilakukan penanganan.
Syarat pemilihan kulit kelinci yang akan di samak:
Kulit yang digunakan berasal dari kulit kelinci yang sehat (tidak sakit kulit).
Pengulitan dilakukan dengan hati-hati dan dikuliti secara simetris.
Bulu kelinci jangan sampai kotor atau tercemar oleh darah saat pemotongan.
Ingat : fungsi penyamakan untuk mempertahankan kualitas yang disamak, jadi
seandainya kulit yang disamak memiliki kualitas yang baik maka penyamakan akan
mempertahankan kualitas kulit tersebut.
Bahan-bahan :
1.Garam halus
2.Tawas bubuk 0,5 kg
3.Soda 125 gr
4.Formalin 60 cc
5.Boraks 300 gr
6.Sabun mandi 1 buah
7.Minyak kelapa 100 ml
Alat-alat :
1.Ember atau wadah dari plastik
2.Pengaduk kayu
3.Alat pelemas kulit
4.Alat pengamplas halus
Tahap pengawetan dan pengolahan kulit kelinci
a.Pembersihan (Fleshing)
Kulit kelinci yang sudah dilepaskan biasanya masih mengandung sisa-sisa lemak
dan daging yang menempel. Oleh karena itu kegiatan utama yang dilakukan adalah
membersihkan bulu dari cemaran darah sewaktu penyembelihan dan sisa-sisa
daging dan lemak yang masih menempel.
Cara: dihilangkan dengan kikir atau pisau (hati-hati agat tidak menyayat kulit),
dicelupkan dilarutan sabun mandi (ingat: kulit jangan diperas).
b.Penggaraman
Garam merupakan bahan pengawet yang sederhana tetapi memberikan pengaruh
yang sangat baik dalam mengawetkan kulit kelinci. Setelah kulit benar-benar bersih

dari noda dan sisa lemak selanjutnya ditaburi dengan garam pada bagian kulit yang
tidak berbulu ini dilakukan untuk mengawetkan kulit seandainya tidak diolah
setelah penyembelihan.
Sedangkan jika ingin langsung diolah kulit dapat direndam dalam larutan garam
selama 1 malam dengan perbandingan penggunaan garam 200% dari berat kulit
kelinci setelah itu, keesokan harinya dibilas dengan air (ingat jangan diperas) dan
setelah itu bagian dalam kulit ditaburi dengan garam halus secara merata. Ini
berfungsi agar bulu tidak rontok dan kulit menjadi lebih awet. Setelah itu kulit
ditiriskan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.
c.Penyamakan (Tanning)
Kulit yang sudah mengalami penggaraman selanjutnya di proses secara kimia
sehingga didapat kulit yang tahan lama (awet) dan siap dibuat produk lain.
Bahan yang perlu dipersiapkan dalam proses penyamakan : (untuk setiap 10 buah
kulit)
1.Larutan A : 0,5 kg tawas bubuk dan 4,5 liter air hangat.
2.Larutan B : 0,25 kg garam, 125 gr soda, dan 2 liter air hangat.
3.Larutan C : 60 cc atau 60 ml formalin 37%
4.Ketiga larutan tersebut dicampurkan menjadi satu dan diaduk perlahan-lahan
dengan pengaduk kayu, dan dibiarkan dingin.
5.Kulit yang sudah dibersihkan dari garam direndam selama 3 hari dan dilakukan
pengadukan 3 kali setiap hari.

a.Peminyakan (Fatliquoring)
Setelah penyamakan selesai dilakukan, kulit diangkat dari rendamannya. Kemudian
dibilas dengan larutan boraks (1 sendok makan dengan 4,5 liter). Kemudian kulit
dibilas dengan air tawar (ingat: jangan diperas)

Penyiapan minyak khusus :


1. air : 250 ml
2. boraks : 300 gr
3. minyak kelapa : 100 ml
4. sabun mandi : 1 buah

Keempat bahan tersebut dicampurkan menjadi satu kemudian siap untuk dioleskan
ke kulit kelinci. Kulit kelinci di pasang pada alat peregang kemudian diolesi oleh
minyak tersebut ke bagian bulu kelinci. Kemudian kulit digantungkan di tempat
terbuka yang tidak terkena sinar matahari langsung dan dibiarkan hingga kering.
e. Pelemasan (Stacking)
ketika kulit yang sudah diberi minyak hampir kering 95%, selanjutnya dilakukan
tahap pelemasan. Tahap ini bertujuan untuk melemaskan bagian dalam kulit
sehingga dapat diperoleh kulit yang lemas dan lembut . Selain itu proses pelemasan
ini bermanfaat untuk melonggarkan serat-serat yang terdapat dalam kulit setelah
dilakukan penyamakan sehingga akan memudahkan tahap pengamplasan untuk
menghaluskan kulit bagian dalam.
Cara : dilakukan dengan cara menggosokkan kulit kelinci bagian dalam (bagian
tidak berbulu) pada tepi permukaan bagian tumpul secara merata, seperti papan
atau lempengan logam.
f. Pengamplasan (Buffing)
Tahap pengamplasaan merupakan tahap akhir untuk memperoleh kulit kelinci yang
halus. Bagian kulit yang dilakukan pengamplasan adalah bagian dalam kulit kelinci
yang tidak berbulu.

Cara : dilakukan dengan cara menggosokkan kulit kelinci bagian dalam (bagian
tidak berbulu) pada amplas yang halus secara merata, amplas bisa dipasangkan
pada kayu sehingga pada saat pengamplasan dapat dilakukan secara lebih mudah.
Setelah tahap pengamplasan selesai kulit kelinci dapat langsung dipasarkan
ataupun diproses lebih lanjut menjadi produk baru seperti topi, hiasan, sendal, tas,
karpet dan lain-lain.
Pengolahan Kaki dan Ekor Kelinci
Kaki-kaki dan ekor kelinci termasuk produk ikutan. Agar tidak terbuang begitu saja,
bagian ini dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi produk baru yang bermanfaat
dan bernilai ekonomis seperti dibuat menjadi sovenir, gantungan kunci maupun
aksesoris lainnya. Sebelum dijadikan sovenir kaki dan ekor kelinci harus diolah lebih
dahulu.
Bahan-bahan :
1. Kaki dan ekor kelinci
2. Wadah atau ember plastik
3. Formalin 37%
4. Sabun
5. Dakron
6. Gantungan kunci atau benang nilon
7. Alat Pembolong
Tahap Pengolahan kaki dan ekor kelinci
1. Pembersihan kaki dan ekor
Kaki dan ekor kelinci yang telah dipotong dibersihkan dari darah yang ada pada
tulang dan bulu agar bulu tidak tercemar dan mengakibatkan rusak. Usahakan
pembersihkan dilakukan setelah kaki diperoleh dan jangan sampai lebih dari 4 jam
karena akan mempengaruhi kulit sehingga mengakibatkan kerusakan pada hasil
akhir.
Setelah bersih dari sisa-sisa darah, bulu kaki dan ekor dibersihkan dengan larutan
sabun. Ini bertujuan untuk mengangkat kotoran yang ada pada bulu kelinci dan
membersihkan dari sisa kutu seandainya terdapat pada bulu. Setelah itu dibilas
secara perlahan dengan air dan jangan diperas.
2. Penyiapan larutan formalin
Siapkan larutan formalin 37% dalam wadah yang terbuat dari bahan plastik. Larutan
ini dibuat dengan cara mencampurkan formalin dengan air dengan konsentrasi 3%
formalin dalam 100% larutan. Misalnya menggunakan 720 ml air jadi penggunaan
formalin sebesar 21,6 ml.

3. Perendaman dengan formalin


Setelah kaki dan ekor bersih dan larutan formalin telah siap, kaki dan ekor direndam
dalam larutan formalin minimal selama 3 hari. Perendaman dengan formalin
bertujuan untuk mengeraskan tulang.
4. Pembersihan
Setelah selesai direndam, kaki dan ekor kelinci segera dicuci dengan larutan sabun.
Setelah itu dibilas dengan air. Pada proses ini dilakukan secara hati-hati.
5. Pengeringan
Selanjutnya setelah kaki dan ekor dibersihkan, bagian-bagian tersebut dijemur di
bawah sinar matahari hingga kering. Setelah kering kaki dan ekor dapat
dimanfaatkan menjadi souvenir dengan memasangkan bandul gantungan kunci
ataupun bahan lainnya.
Pembuatan Souvenir Gantungan Kunci Kaki dan Ekor Kelinci
Cara pembuatan :
1. Siapkan bahan-bahan yang terdiri dari lem kayu, paku uril ukuran kecil,
pembolong, benang nilon atau gantungan.
2. Bagian ujung tulang kaki dan ekor diratakan.
3. Lubangi secara membujur sedalam 1,5 cm.
4. Paku uril diberi lem kayu kemudian dipasang pada lubang dengan cara memutar.
5. Biarkan paku uril menempel dengan sempurna (dapat dilakukan dengan cara
menjemurnya di bawah sinar matahari).
6. Pasang gantungan kunci pada mata paku uril.
7. Souvenir berupa gantungan kunci model kaki atau ekor kelinci siap dipasarkan.
Rekomendasi Tempat Pelatihan Pengolahan Kulit
Balai Besar Kulit Karet dan Plastik (BBKKP)
Jl. Sokonandi no 9 yogyakarta
Tlp. (0274) 512929

Tahap Proses Penyamakan Kulit Kelinci

Kelinci merupakan salah satu jenis ternak yang pada umumnya diambil dagingnya
sedangkan kulitnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Biasanya limbah kulit
kelinci dapat dipergunakan sebagai barang kerajinan kulit maupun sepatu baik
sebagai aksesoris sepatu maupun sebagai barang kulit. Karena kulit kelinci
mempunyai bulu yang sangat indah maka kulit kelinci biasanya disamak bersama
bulunya. Sedangkan kulit kelinci yang bulunya tidak rata atau banyak yang rontok
karena kesalahan pengawetan masih dapat dimanfaatkan sebagai kulit jaket atau
atasan sepatu. Kulit kelinci sebelum digunakan untuk kerajinan maupun sepatu
harus disamak terlebih dahulu, agar kulit menjadi stabil yaitu tahan terhadap
perlakuan fisis maupun kimiawi.
Komoditas kulit digolongkan menjadi kulit mentah dan kulit samak (Purnomo, 1985).
Menurut Judoamidjojo (1974), kulit mentah segar bersifat mudah busuk karena
merupakan media yang baik untuk tumbuh dan berkembangbiaknya
mikroorganisme. Kulit mentah tersusun dari unsur kimiawi seperti: protein,
karbohidrat, lemak, dan mineral. Oleh sebab itu, perlu dilakukan proses pengawetan
kulit sebelum kulit diolah lebih lanjut. Teknik mengolah kulit mentah menjadi kulit
samak disebut penyamakan. Dengan demikian, kulit hewan yang mudah busuk
dapat menjadi tahan terhadap serangan mikroorganisme (Judoamdjojo, 1981).
Prinsip mekanisme penyamakan kulit yaitu memasukkan bahan penyamak ke dalam
anyaman atau jaringan serat kulit sehingga menjadi ikatan kimia antara bahan
penyamak dan serat kulit (Purnomo, 1985). Menurut Muslich (1999), teknik

penyamakan kulit dikelompokkan menjadi 3 tahapan, yaitu proses pra-penyamakan,


penyamakan, dan pasca penyamakan.

Alat dan Mesin Pendukung Pengolahan


Penyamakan kulit-bulu kelinci dalam jumlah terbatas dapat dilakukan secara
manual. Namun, diperlukan pengadukan terus menerus yang sangat melelahkan,
sehingga kurang efisien dan efektif. Untuk memperoleh hasil yang baik, diperlukan
alat-mesin yang sesuai. Untuk pengawetan kulit dibutuhkan alat perentang
(stretcher). Menurut Pawirohasono (2008), penyamakan kulit kelinci butuh
Bak perendaman
Mesin samak berbentuk drum dengan putaran bolak-balik 90-120o atau
drum/dengan pedal (pengayuh) berkecepatan rendah (<16 rpm),
Mesin peniris cairan seperti spinner
Rak peniris
Alat atau mesin stacking
Glacing (pelemas kulit)
Mesin buffing (pengampelas kulit).
Teknik penyamakan kulit dikelompokkan menjadi 3 tahapan antara lain yaitu :
1.

Pra-penyamakan,

Proses pra-penyamakan (beam open house operation) meliputi


Perendaman
Perendaman (soaking) merupakan tahapan pertama dari proses penyamakan yang
bertujuan mengembalikan kadar air kulit yang hilang selama proses pengawetan
sehingga kadar airnya mendekati kadar air kulit segar.
Pengapuran
Tujuan pengapuran adalah menghilangkan epidermis dan bulu, kelenjar keringat
dan lemak, dan menghilangkan semua zat-zat yang bukan kolagen yang aktif
menghadapi zat-zat penyamak.
Pembuangan daging dan bulu
Proses buang daging (fleshing) bertujuan menghilangkan sisa-sisa daging (subcutis)
dan lemak yang masih melekat pada kulit. Proses buang bulu (scudding) bertujuan
menghilangkan sisa-sisa bulu beserta akarnya yang masih tertinggal pada kulit
(Muslich, 1999).
Pembuangan kapur dan Bating
Pembuangan kapur (deliming) bertujuan untuk menurunkan pH yang disebabkan
sisa kapur yang masuk masih terdapat pada kulit (Purnomo, 1985). Dilanjut dengan
proses pencucian Pelumatan (bating) bertujuan untuk membuka atau melemaskan

kulit lebih sempurna secara enzimatik. Bahan yang digunakan adalah oropon atau
enzilen, yaitu bahan yang dibuat dari pankreas dan garam-garam ammonium
sebagai aktivator (Setiyono, 1995).
Pengawetan dengan Asam (Picle)
Picle yaitu untuk memberikan suasana asam pada kulit sehingga lebih sesuai
dengan senyawa penyamak dan kulit lebih tahan terhadap serangga bakteri
pembusuk
2.

Penyamakan

Penyamakan krom menghasilkan kulit yang lebih lembut/lemes, dan lebih tahan
terhadap panas. Lewat proses penyamakan, dilakukan proses pemeraman yaitu
menumpuk atau menggantung kulit selama 1 (satu) malam dengan tujuan untuk
menyempurnakan reaksi antara molekul bahan penyamak dengan kulit
3.

Pasca penyamakan.

Menurut Muslich (1999), pasca penyamakan bertujuan membentuk sifat-sifat


tertentu pada kulit terutama berhubungan dengan kelemasan, kepadatan, dan
warna kulit. Menurut Purnomo (1985), proses pasca penyamakan terdiri atas
Netralisasi
Penetralan bertujuan mengurangi kadar asam dari kulit yang disamak
menggunakan krom agar tidak menghambat proses pengecatan dasar dan
peminyakan.
Pewarnaaan
Pewarnaan dasar memiliki fungsi sebagai pemberian warna dasar pada kulit
tersamak seperti yang diinginkan.
Peminyakan
Peminyakan bertujuan melicinkan serat kulit sehingga lebih tahan terhadap gaya
tarikan, menjaga serat kulit agar tidak lengket dan menjadi lebih lunak, lemas,
memperkecil daya serap, serta membuat kulit lebih fleksibel.
Pengecatan
Pengecatan bertujuan untuk memenuhi selera konsumen. Pengecatan zat warna
hanya melekat di permukaan dalam media bahan perekat yang fungsinya
melekatkan warna dan memperbaiki permukaan kulit.
Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menghentikan semua reaksi kimia di dalam kulit.
Pelembaban
Pelembaban biasanya dilakukan selama 1-3 hari pada udara biasa agar kulit
menyesuaikan kelembaban udara sekitarnya.

Pelemasan
Pelemasan dilakukan dengan tujuan untuk melemaskan kulit dan mengembalikan
luas kulit yang hilang karena mengkerut selama proses pengeringan.

rencana usaha penyamakan kulit kelinci


TUGAS AKHIR

RENCANA USAHA PENYAMAKAN KULIT KELINCI


SAMAK BULU (FUR) SEBAGAI BAHAN KERAJINAN
TAS DI KABUPATEN PEMALANG
JAWA TENGAH

Disusun Oleh:
KHURRIYATUL KHASANAH
100102013

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INDUSTRI
AKADEMI TEKNOLOGI KULIT
YOGYAKARTA
2013

PENGESAHAN
RENCANA USAHA PENYAMAKAN KULIT KELINCI SAMAK
BULU (FUR) SEBAGAI BAHAN KERAJINAN TAS
DI KABUPATEN PEMALANG JAWA TENGAH

Disusun Oleh:
Khurriyatul Khasanah
100102013
Program Studi Teknologi Bahan Kulit Karet dan Plastik

Pembimbing Utama,

Sri Sumarni, B.Sc, ST.


NIP. 19530906 108003 2 001

Pembimbing Pendamping,

RLMS Ari Wibowo, S.Pt., MP.


NIP. 19760303 200112 1 002

Telah dipertahankan didepan Dewan Penguji Tugas Akhir dan dinyatakan memenuhi
syarat yang diperlukan untuk mendapatkan Derajat Ahli Madya Diploma III (D3)
Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) Akademi Teknologi Kulit
Tanggal : 20 September 2013

Dewan Penguji
Ketua

Suharyanto B.Sc, S.E, MM


NIP. 19551017 198503 1 00

Anggota

Ir. Cahya Widiyati M.Kes


NIP. 19581203 198803 2 002

Yogyakarta, September 2013


Direktur Akademi Teknologi Kulit

Drs. Muhdori, M.Si


NIP. 19591110 198111 1 001
KATA PENGANTAR

Sri Sumarni, B.Sc, ST.


NIP. 19530906 108003 2 001

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir rencana usaha
Penyamakan Kulit Kelinci Samak Bulu (Fur) Sebagai Bahan Kerajinan Tas Di
Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. Rencana usaha ini disusun untuk memenuhi
syarat yang diperlukan demi mendapatkan Derajat Ahli Madya Diploma III (D3)
Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Drs.Muhdori, M.Si sebagai direktur Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.
Drs. Sugiyanto, S.Sn, M.Sn sebagai ketua panitia Tugas Akhir.
Dra. Maria Sri Wiyanti, M.Si, A.pt sebagai ketua program studi Teknologi Pengolahan
Kulit.
Sri Sumarni, B.Sc, ST, M.Sc sebagai dosen pembimbing utama.
RLMS Ari Wibowo, S.Pt., MP sebagai dosen pembimbing pendamping.
DISKOPERINDAG dan UKM Kabupaten Pemalang.
Serta semua pihak yang telah ikut berpartisipasi demi kelancaran penyusunan
rencana usaha ini.
Penulis menyadari bahwa rencana usaha ini masih terdapat kekurangan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan
penyusunan rencana usaha yang akan datang. Semoga rencana usaha ini dapat
memberikan pengetahuan dan manfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, September 2013

Penulis

MOTTO

Buat apa kita memikirkan apa yang dipikirkan orang lain, buat apa kita
mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain
Mereka jelas tidak menjalani hidup kita, pun mereka tidak mengerti situasi dan
penjelasannya. Jadi lebih baik terus fokus memperbaiki diri sendiri.
Tere liye

Ketahuilah bahwa kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang terluang, maka
bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya dan jika
engkau punya tugas selesaikanlah segera (Hasan Al-Banna)

Allah tidak membebani seseorg itu melainkn sesuai dengan kesanggupanya


(surah Al-Baqarah ayat 286)

Dalam setiap kisah sukses, Anda akan menemukan seseorang yang telah
mengambil keputusan dengan berani.
(Peter F. Drucker)

"Be a strong wall in the hard times and be a smiling sun in the good times."

La Tahzan innallaha maana

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah ya Allah....
Atas RidhaMu kini studiku telah selesai
Ku persembahkan karya sederhana ini untuk orang-orang yang kusayang...

Ayahanda Kasrofi dan Ibunda Wartijah yang telah berjuang demi masa depanku.
motivator terbesar dalam hidupku yang tak pernah jemu mendoakan dan
menyayangiku, atas semua pengorbanan dan kesabaran mengantarku sampai kini.
Tak pernah cukup ku membalas cinta ayah bunda padaku. Juga untuk keluargaku
umi fa & Abah fa, masku Ipul yang telah banyak membantu memberi semangat,
inspirasi dan motivasinya.

Terima kasih untuk pihak Diskoperindag Kab. Pemalang yang selama survey dengan
ramah telah membantu dalam pencarian data. Serta seniorku TPL mbk Iin dan mas
Adi terimakasih atas bantuan dan bimbingannya, adek2ku Indah, Fitriyah dan
Nazilla terimakasih atas bantuannya selama survey, yang telah menemani dan
mengantarku kesana kemari, mohon maaf apabila selama survey banyak
merepotkan kalian. Dan juga untuk sahabatku Bani yang super jenius dan baik hati.

Tak lupa untuk penghuni kos Alamanda mb Nita, dek tri, dek Nadia, dek Iis..
terimakasih untuk kebersamannya dan kebaikan2 yang telah kalian berikan selaam
ini. Untuk pak Alex dan ibuku yang paling cuantik ibu Oci, kalian merupakan ayah
dan bunda yang terhebat.. terima kasih atas kebaikan2nya selama ini. Hemmmmm
buat adek2ku yang unyu2 kakak Oja dan ade ia yang bisa menjadi penghiburku
disaat lagi suntuk...

Buat sahabat-sahabatku Titis, Hasna, Entoen, Rima, Murni, Memin pokoknya temen2
seperjuangan BT 104 ALT yang tidak bisa ku sebutkan satu persatu, for u all i miss u
forever, rasanya nano-nano bisa mengenal kalian semuaaaaa.... kalian luar
biasa!!!!

Buat temen-temen UKKI Al Fatih, sebuah Anugerah terindah bisa bertemu dan
berkumpul dalam ketaatan dengan kalian semua, banyak sekali ilmu dan
pengalaman yang kudapat. Jazakillah.. semoga Allah memberikan keteguhan &
kekuatan pada kita semua dalam langkah dakwah ini.

Serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam penyelesaian tugas akhir ini.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
MOTTO iv
PERSEMBAHAN v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR LAMPIRAN xii
RINGKASAN EKSEKUTIF xiii
BAB I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Permasalahan 4
C. Maksud Dan Tujuan 4
D. Manfaat 5
E. Metode Pengumpulan Data 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 7
A. Kabupaten Pemalang 7
B. Potensi Peternakan di Kabupaten Pemalang 8
C. Kelinci 9
D. Kelinci Lokal Berbulu 11
E. Topografi dan Histologi Kulit 12
F. Penyamakan Kulit 16
G. Proses Penyamakan Kulit Kelinci Samak Bulu (Fur) 18
H. Pengertian Tas 24
I. Perencanaan Business plan 26
1. Aspek Pasar dan Pemasaran 26
2. Aspek Teknis dan Teknologi 28
3. Aspek Organisasi dan Manajemen 29
4. Aspek AMDAL 30
5. Aspek Keuangan dan Kelayakan Usaha 32
Halaman
BAB III. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN 36
A. Perkembangan dan Proyeksi Permintaan Produk 36
B. Perkembangan dan Proyeksi Penawaran Produk 40
C. Perkembangan dan Proyeksi Harga Produk 42
D. Analisis Persaingan 44

E. Rencana Penjualan dan Pangsa Pasar 45


BAB IV. ASPEK PRODUK DAN TEKNOLOGI 46
A. Spesifikasi Produk 46
B. Penentuan Kapasitas dan Rencana Produksi 47
C. Penentuan Lokasi dan Tata Letak Usaha / UKM 49
D. Bangunan, Mesin, Peralatan dan Harta Tetap Lainnya 50
E. Kebutuhan Bahan Baku, Bahan Pembantu dan Bahan Pendukung Lainnya 52
F. Kebutuhan Tenaga Kerja 57
G. Proses Produksi 57
H. Pengolahan Limbah 64
I. Kegiatan Umum Usaha 69
BAB V. ASPEK ORGANISASI DAN MANAJEMEN 70
A. Bentuk Usaha dan Struktur Organisasi 70
B. Pengurusan Perijinan 74
C. Kebutuhan SDM dan Sistem Kompensasi 75
D. Kebutuhan Inventaris dan Alat Tulis Kantor 77
E. Kegiatan Pra Operasi dan Jadwal Pelaksanaan 78
BAB VI. ASPEK KEUANGAN DAN KELAYAKAN USAHA 79
A. Jumlah dan Struktur Permodalan 79
B. Analisis Proyeksi Keuangan 84
1. Proyeksi Arus Kas 84
2. Proyeksi Laba Rugi 85
3. Proyeksi Neraca 87
C. Analisis Titik Impas 91
D. Analisis Kelayakan Usaha 92
1. Net Present Value (NPV) 92
2. Internal Rate of Return (IRR) 93
3. Net B/C 95
4. Payback Period (PP) 95
E. Analisis Sensitivitas 97

Halaman
BAB VII. STRATEGI PENGEMBANGAN 99
A. Strategi Pengembangan Pemasaran 99
B. Strategi Pengembangan Produksi 102
C. Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia 104
D. Strategi Pengembangan Keuangan/Permodalan 105
BAB VIII 106
KESIMPULAN DAN SARAN 106
A. Kesimpulan 106
B. Saran 107
DAFTAR PUSTAKA 108

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Daftar Populasi Ternak Kelinci Kabupaten Pemalang Tahun 2010-2013 9
Tabel 2. Demografi Penduduk Kabupaten Pemalang Tahun 2011 37
Tabel 3. Analisa Pasar Sasaran dan Jumlah Permintaan 38
Tabel 4. Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Tahun 2011-2020 39
Tabel 5. IKM Pengolahan Produk Kulit di Kabupaten Pemalang 41
Tabel 6. Proyeksi Pertumbuhan Penawaran Tahun 2011-2020 42
Tabel 7. Proyeksi Harga Produk Tas Kulit Kelinci Tahun 2016-2020 43
Tabel 8. Analisis Kelemahan dan Kelebihan Perusahaan 44
Tabel 9. Rencana Penjualan dan Pangsa Pasar Tahun 2016-2020 45
Tabel 10. Rencana Kapasitas Produksi Tahun 2016-2020 48

Tabel 11. Rencana Penjualan Produk Tas Kulit Kelinci Tahun 2016-2020 49
Tabel 12. Jenis dan Harga Peralatan Pada Tahun 2013 51
Tabel 13. Jenis dan Harga Peralatan Pada Tahun 2015 52
Tabel 14. Persediaan Bahan Baku Kulit Kelinci 54
Tabel 15. Kebutuhan Bahan Penolong Dalam Satu Bulan Tahun 2013 55
Tabel 16. Kebutuhan Baahn Baku dan Bahan Penolong Dalam Satu Tahun 56
Tabel 17. Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Penolong Tahun 2016 2020 56
Tabel 18. Kebutuhan Bahan Kimia Pengolahan Limbah Cair Tahun 2013 68
Tabel 19. Kebutuhan Bahan Kimia Pengolahan Limbah Cair Tahun 2016 69
Tabel 20. Kebutuhan Biaya Umum Usaha Tahun 2016 69
Tabel 21. Biaya Perijinan Usaha 74
Tabel 22. Sistem Kompensasi Tenaga Kerja 76
Tabel 23. Kebutuhan Inventaris Kantor Tahun 2015 77
Tabel 24. Kebutuhan Alat Tulis Kantor 77
Tabel 25. Kebutuhan Pra Operasi dan Jadwal Pelaksanaan 78
Tabel 26. Investasi Harta Tak Berwujud 79
Tabel 27. Investasi Peralatan 80
Tabel 28. Biaya Operasional dan Kebutuhan Modal Kerja Tahun 2016 81
Tabel 29. Total Biaya Proyek 82
Tabel 30. Biaya Kumulatif Angsuran Pinjaman Per Tahun 83
Tabel 31. Biaya Penyusutan dan Amortisasi 86
Tabel 32. Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Tiap Tahun 86
Tabel 33. Rasio Keuangan Perusahaan Penyamakan Kulit Kelinci 88
Tabel 34. Proyeksi Analisa Break Event Point (BEP) 92
Tabel 35. Net Present Value (NPV) 1 93
Tabel 36. Net Present Value (NPV) 2 94
Tabel 37. Payback Period 96
Tabel 38. Perbandingan Analisis Kelayakan Pada Sensitivitas 98
Tabel 39. Matrik SWOT Pengembangan Pemasaran 99
Tabel 40. Matrik SWOT Pengembangan Produk 103

Tabel 41. Perbandingan Analisis Kelayakan Pada Sensitivitas 107


Tabel 42. Proyeksi Arus Kas 110
Tabel 43. Proyeksi Laba Rugi 111
Tabel 44. Proyeksi Neraca 113
Tabel 45. Proyeksi Laba Rugi Skenario 1 : Penurunan Penjualan Tas Kulit Kelinci
Sebesar 5 % 115
Tabel 46. Net Present Value 1 117
Tabel 47. Net Present Value 2 117
Tabel 48. Payback Period 118
Tabel 49. Proyeksi Laba Rugi Skenario 2 : Peningkatan Harga Bahan Baku dan Biaya
Produksi Lainnya sebesar 5 % 120
Tabel 50. Net Present Value 1 122
Tabel 51. Net Present Value 2 122
Tabel 52. Payback Period 123
Tabel 53. Proyeksi Laba Rugi Skenario 3 : Penurunan Penjualan Tas Kelinci 5 % dan
Peningkatan Harga Bahan Baku Serta Biaya Produksi Lainnya Sebesar 5 % 125
Tabel 54. Net Present Value 1 127
Tabel 55. Net Present Value 2 127
Tabel 56. Payback Period 128
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Kelinci Lokal 11
Gambar 2. Pembagian Kulit Hewan Secara Topografis (Fahidin, 1973) 13
Gambar 3. Penampang Kulit Secara Histologis (Anonim, 2008) 16
Gambar 4. Contoh Produk Tas Kulit Kelinci 47
Gambar 5. Rencana Layout Perusahaan 50
Gambar 6. Diagram Alir Proses Penyamakan Kulit Kelinci 58
Gambar 7. Diagram Alir Proses Pengolahan Limbah Cair 65
Gambar 8. Struktur Organisasi Penyamakan Kulit Kelinci 72


DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Proyeksi Arus Kas 110
Lampiran 2. Proyeksi Laba Rugi 111
Lampiran 3. Proyeksi Neraca 113
Lampiran 4. Skenario 1 115
Lampiran 5. Skenario 2 120
Lampiran 6. Skenario 125
Lampiran 7. Gambar Peralatan dan Mesin 130
Lampiran 8. Gambar Bahan-bahan Kimia 133
Lampiran 9. Pengenaan PPh atas Usaha dengan Omzet Tertentu 136

RINGKASAN EKSEKUTIF

Salah satu potensi yang unggul di Kabupaten Pemalang adalah potensi di bidang
peternakan. Salah satunya adalah peternakan kelinci. Salah satu produk samping
yang diperoleh dari pemeliharaan ternak kelinci setelah diambil dagingnya adalah
kulit. Kulit kelinci sebagai hasil sampingan rumah-rumah makan dan penjual sate
kelinci ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Hal tersebut disebabkan
belum tersedianya pabrik penyamakan kulit di Kabupaten Pemalang serta
kurangnya Sumber Daya Manusia yang dapat mengelola. Peluang usaha
penyamakan kulit kelinci di Kabupaten Pemalang masih sangat terbuka lebar. Hal ini
dikarenakan belum adanya pesaing serta ketersediaan bahan baku kulit kelinci yang
melimpah. Kulit kelinci mentah untuk dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku

kerajinan dan industri kulit harus melalui proses penyamakan terlebih dahulu.
Penyamakan bertujuan untuk mengubah kulit yang tadinya mudah rusak atau
busuk menjadi kulit samak yang stabil, lentur, dan kuat dengan cara mereaksikan
kolagen dengan bahan penyamak tertentu. Proses penyamakan kulit merupakan
serangkaian unit operasi yang dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu proses
pendahuluan (beam house operation), penyamakan (tanning), dan penyempurnaan
(finishing). Perusahaan Prima leather merupakan perusahaan yang akan mengolah
kulit kelinci mentah menjadi kulit kelinci tersamak dengan tetap mempertahankan
bulunya. Kulit kelinci yang sudah melalui proses penyamakan kemudian akan
dijadikan produk berupa tas ke Industri Kecil Menengah (IKM) kerajinan kulit yang
ada di Kabupaten Pemalang. Usaha penyamakan kulit kelinci ini rencananya akan
berdiri pada tahun 2016. Kapasitas produksi tahun pertama operasi sebesar 4800
lembar kulit kelinci atau sekitar 2400 tas kulit kelinci. Target pemasaran produk tas
ini yaitu penduduk Kabupaten Pemalang dengan usia antara 18 50 tahun dari
kalangan menengah ke atas khususnya untuk perempuan. Produk tas kulit kelinci
akan dijual dengan harga Rp 100.000,- untuk tahun 2016 dengan mengalami
peningkatan harga setiap tahunnya berdasarkan pertumbuhan ekonomi di
Kabupaten Pemalang. Pada tahun pertama proyek, usaha penyamakan kulit kelinci
ini mendapatkan laba bersih sebesar Rp 12.301.167,- dan terus mengalami
peningkatan laba setiap tahunnya. Total proyek yang dibutuhkan cukup besar yaitu
Rp 82.475.181,-. Oleh karena itu, dalam hal permodalan perusahaan akan
mengajukan dana pinjaman sebesar 30% yaitu Rp 25.000.000,- dan 70% sisa modal
yang dibutuhkan bersumber dari dana sendiri yaitu sebesar Rp 57.475.181,-. Pada
tahun pertama BEPnya sebesar Rp 220.170.052 atau 91,74% atau 2.202 unit.
Setelah dianalisis dengan beberapa indikator, rencana usaha penyamakan kulit
kelinci samak bulu (fur) sebagai kerajinan tas di Kabupaten Pemalang ini sudah
dikatakan layak. Hal ini bisa dilihat dari nilai NPV = Rp 114.996.299,- , IRR =
69,82%, arus kasnya positif, Net B/C = 3,45 dan payback periodnya 2 tahun, 10
hari.

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Industri Kecil dan Menengah (IKM) memiliki peranan yang sangat penting dan
strategis dalam menumbuhkan perekonomian nasional di era globalisasi seperti
sekarang. Pengalaman menunjukan bahwa IKM memiliki ketangguhan dan daya
tahan terhadap berbagai krisis ekonomi dan goncangan perekonomian global
dikarenakan karakteristik IKM yang memiliki fleksibilitas dan elastisitas yang tinggi.
Apabila IKM berhasil ditumbuh kembangkan dengan karakteristik tersebut, tentunya

akan memberikan andil yang besar untuk mewujudkan ekonomi nasional yang
tangguh dan maju dengan bercirikan ekonomi kerakyatan.
Pada kenyataannya, usaha kecil mampu tetap bertahan dan mengantisipasi
kelesuan perekonomian yang diakibatkan inflasi maupun berbagai faktor penyebab
lainnya. Tanpa subsidi dan proteksi, industri kecil di Indonesia mampu menambah
nilai devisa bagi negara. Sedangkan sektor informal mampu berperan sebagai
buffer (penyangga) dan perekonomian masyarakat lapisan bawah. Secara umum
perusahaan skala kecil baik perorangan maupun kerja sama memiliki keunggulan
dan daya tarik tersendiri (Subanar, 1993).
Melihat pentingnya peranan IKM tersebut, maka Pemerintah Republik Indonesia
khususnya Kementerian Perindustrian membuat berbagai kebijakan
strategis yang sangat memprioritaskan pemberdayaan dan penumbuh kembangan
IKM di Indonesia. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan program
beasiswa Tenaga Penyuluh Lapangan Industri Kecil dan Menengah (TPL-IKM) dengan
merekrut dan menyeleksi lulusan Sekolah Menengah Atas yang berprestasi dari
berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti program beasiswa pendidikan
setingkat D3 sebagai calon Tenaga Penyuluh Lapangan Industri Kecil dan Menengah
(TPL-IKM) sekaligus calon wirausaha IKM di Kabupaten /Kota daerah asalnya.
Selain potensi di bidang pertanian dan perkebunan, Kabupaten Pemalang juga
mempunyai potensi di bidang peternakan. Peternakan hewan besar seperti
peternakan sapi, kerbau dan kuda maupun peternakan hewan kecil seperti
peternakan kambing, ayam dan kelinci. Peternakan kelinci dapat dijumpai di
beberapa Kecamatan yang ada di Kabupaten Pemalang diantaranya yaitu di
Kecamatan Pemalang, Taman dan Comal. Kebanyakan para penjual sate kelinci
maupun rumah makan mempunyai peternakan sendiri dalam skala kecil. Kelinci
yang diternakkan bermacam-macam jenisnya dari kelinci lokal, kelinci Australia,
kelinci bulu karpet dan kelinci spot. Kelinci yang paling banyak dan paling sering
dikonsumsi yaitu kelinci jenis lokal.
Salah satu produk samping yang diperoleh dari pemeliharaan ternak kelinci setelah
diambil dagingnya adalah kulit. Kulit kelinci sebagai hasil sampingan rumah-rumah
makan dan penjual sate kelinci ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Hal
tersebut disebabkan belum tersedianya pabrik penyamakan kulit di Kabupaten
Pemalang serta kurangnya Sumber Daya Manusia yang dapat mengelola. Padahal
produk ini apabila dimanfaatkan dengan baik akan memberikan keuntungan
ekonomis yang cukup tinggi. Kulit kelinci mentah untuk dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku kerajinan dan industri kulit harus melalui proses penyamakan terlebih
dahulu.
Di Kabupaten Pemalang terdapat tiga IKM kerajinan kulit ular, yang semuanya
beralamat di Kecamatan Comal. Salah satunya adalah IKM Cobra Jaya yang hingga
sekarang masih tetap eksis, produknya sudah menembus pasar luar kota dan
kapasitas produksinyapun sudah besar. Tetapi untuk kedua IKM lainnya, kondisinya
jauh berbeda. Mereka baru bisa melakukan proses penyamakan dan membuat
produk ketika ada pesanan saja. Kapasitas produksinya disesuaikan dengan

pesanan. Pembinaan dari pemerintah Kabupaten tidak banyak membantu dan


terbatasnya modal yang dimiliki menyebabkan kegiatan usahanya terkadang macet
dan tidak lancar.
Melihat peluang yang ada dan permasalahan yang terjadi serta menyesuaikan
pengetahuan dan kemampuan penulis yang sudah didapatkan di Akademi Teknologi
Kulit Yogyakarta, maka penulis tertarik membuat rencana usaha dengan judul
Rencana Usaha Penyamakan Kulit Kelinci Samak Bulu (Fur) Sebagai Kerajinan Tas
Di Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. Diharapkan dengan perencanaan usaha ini
dapat memberikan nilai tambah kulit kelinci yang selama ini hanya sebagai limbah.

Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengidentifikasi beberapa
permasalahan yang terjadi antara lain :
Kurangnya kesadaran masyarakat Kabupaten Pemalang dalam memanfaatkan
potensi daerah yang ada dan belum adanya Sumber Daya Manusia yang mengolah
potensi tersebut terutama di bidanng perkulitan.
IKM kerajinan kulit di Kabupaten Pemalang yang masih mengalami kesulitan dalam
mencari pasar serta terbatasnya modal menyebabkan usahanya stagnan dan tidak
lancar.
Perencanaan usaha ini akan memuat hal- hal yang berkaitan dengan penyamakan
kulit kelinci menjadi produk tas serta analisa tentang kelayakan usaha penyamakan
kulit kelinci di Kabupaten Pemalang.

Maksud dan Tujuan


Tujuan dari penyusunan rencana usaha penyamakan kulit kelinci samak bulu (fur)
sebagai bahan kerajinan tas di Kabupaten Pemalang adalah:
Memanfaatkan dan mengembangkan potensi daerah Kabupaten Pemalang.
Mengenalkan kepada masyarakat tentang pemanfaatan kulit kelinci sebagai bahan
baku pembuatan produk industri.
Menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Kabupaten Pemalang.
Menerapkan dan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan sebagai seorang
wirausaha ke dalam realisasi sebuah usaha bisnis.
Mengetahui layak atau tidaknya usaha ini di laksanakan di Kabupaten Pemalang
jika ditinjau dari aspek pemasaran, aspek produksi, aspek sumber daya manusia
dan aspek keuangan.

Manfaat
Bagi Kabupaten Pemalang
Rencana usaha ini dapat digunakan sebagai upaya untuk membuka lapangan
pekerjaan baru bagi masyarakat setempat dengan memanfaatkan peluang usaha
yang ada serta potensi daerah yang selama ini belum terkelola.
Bagi IKM
Rencana usaha ini dapat digunakan sebagai upaya untuk menjalin kerja sama yang
saling menguntungkan dalam menjalankan usaha dan memanfaatkan potensi
daerah terutama di bidang perkulitan.

Metode Pengumpulan Data


Penyusunan rencana usaha ini diperlukan data pendukung baik data primer maupun
data sekunder yang dapat membantu keakuratan sebuah rencana usaha. Adapun
metode pengumpulan data yang dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
Data Primer
Wawancara (interview)
Pengumpulan data dan informasi yang dilakukan dengan mewawancarai Kepala
Dinas, Kepala Bidang, maupun pegawai Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan
Perdagangan Kabupaten Pemalang serta penjual sate kelinci maupun rumah makan,
IKM kerajinan kulit dan pihak-pihak lain yang terkait dengan usaha ini.
Pengamatan langsung ke lapangan (survey)
Pengamatan langsung ke lapangan atau lokasi industri terkait untuk mencari
informasi yang dapat mendukung dalam penyusunan rencana usaha.
Data Sekunder
Pengolahan data dari pustaka dan internet.
Analisis dan pengolahan data Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, Perdagangan
Kabupaten Pemalang, analisis dan pengolahan data Dinas Pertanian dan Kehutanan
Kabupaten Pemalang dan data umum Badan Pusat Statistik Kabupaten pemalang
serta data dari instasi lain yang dapat mendukung penyusunan rencana usaha ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kabupaten Pemalang
Kabupaten Pemalang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah
yang terletak di pantai utara Pulau Jawa. Secara astronomis Kabupaten Pemalang
terletak antara 10917'30" - 10940'30" BT dan 652'30" - 720'11" LS. Kabupaten
Pemalang memiliki luas wilayah sebesar 111.530 km dengan jumlah penduduk 1,3
juta jiwa, dengan batas-batas wilayah : sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa,
sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga, sebelah Timur
berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan sebelah Barat berbatasan dengan
Kabupaten Tegal.
Secara geografis Kabupaten Pemalang memiliki topografi yang bervariasi. Bagian
Utara merupakan daerah pantai dengan ketinggian berkisar antara 1-5 meter di
atas permukaan laut. Bagian tengah merupakan dataran rendah yang subur dengan
ketinggian 6-15 m di atas permukaan laut dan bagian Selatan merupakan dataran
tinggi dan pengunungan yang subur serta berhawa sejuk dengan ketinggian 16-925
m di atas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Pemalang ini dilintasi dua buah
sungai besar yaitu Sungai Waluh dan Sungai Comal yang menjadikan sebagian
besar wilayahnya merupakan daerah aliran sungai yang subur.
Ibukota Kabupaten ini berada di ujung barat laut wilayah Kabupaten, berbatasan
langsung dengan Kabupaten Tegal. Pemalang berada di jalur
pantura Jakarta-Semarang-Surabaya. Selain itu terdapat jalan Provinsi yang
menghubungkan Pemalang dengan Purbalingga. Salah satu obyek wisata terkenal di
Pemalang adalah Pantai Widuri (Data Umum, BPS Kab. Pemalang 2012).
Kabupaten Pemalang memiliki posisi yang strategis, baik dari sisi perdagangan
maupun pemerintahan dan menyimpan potensi sumber daya alam dengan
panorama keindahan alam yang memikat serta sumber daya manusia yang sangat
besar menjadikan Kabupaten Pemalang sebagai sebuah potensi laksana permata
yang terpendam yang siap untuk digali.
Topografi alamnya yang berupa dataran pantai, dataran rendah, dataran tinggi
serta daerah pegunungan sehingga menjadikan tanah di Kabupaten Pemalang
memiliki tanah yang subur dengan panorama yang asri dan indah sangat tepat
untuk berwisata maupun melakukan kegiatan-kegiatan pecinta alam. Ternak seperti
sapi potong, sapi perah, kambing, domba, kerbau, kuda, ayam buras, ayam petelur,
ayam pedaging dan itik, burung puyuh, burung dara dan kelinci sangat cocok
dikembangkan di Kabupaten ini (Anonim, 2010).

Potensi Peternakan di Kabupaten Pemalang


Kegiatan usaha peternakan yang terdapat di Kabupaten Pemalang yang
dikembangkan terdiri dari :

Peternakan unggas, terutama burung puyuh, ayam pedaging, ayam petelur dan
ayam bukan ras.
Peternakan hewan kecil, terutama ternak domba, kambing dan kelinci.
Peternakan hewan besar, terutama ternak sapi, kerbau dan kuda.
Hasil usaha peternakan yang terutama adalah telur ayam, telur puyuh dan daging
ayam serta itik. Peternakan kambing dan domba terutama menghasilkan daging.
Demikian pula ternak besar (sapi dan kerbau) tidak sebanyak ternak unggas.
Kegiatan usaha peternakan hewan besar di Kabupaten Pemalang belum secara
optimal diusahakan oleh masyarakat. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan daging
dan susu segar di Kabupaten Pemalang mengimpor dari daerah lain. Selain
peternakan ayam, di Kabupaten Pemalang juga terdapat peternakan kelinci (Data
Umum, BPS Kab. Pemalang 2012).
Daftar populasi ternak kelinci di Kabupaten Pemalang dari tahun 2010 sampai
dengan 2013 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Daftar Populasi Ternak Kelinci Kabupaten Pemalang Tahun 2010-2013
No. Tahun Kelinci (ekor)
1 2010 4.336
2 2011 4.445
3 2012 5.120
4 2013 5.184
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang (2013)

Kelinci
Kelinci termasuk dalam famili Leporidae yaitu spesies Orictolagus cuniculus. Kelinci
mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang biak dengan pesat dalam
suatu pemeliharaan yang sederhana maupun pada suatu pemeliharaan yang
intensif sehingga dapat diandalakan untuk penyediaan daging dan kulit dalam
waktu yang relatif singkat (Templeton, 1968).
Kelinci mempunyai banyak keunggulan jika dibandingkan dengan ternak lainnya.
Kelinci dapat meghasilkan daging yang lezat, berprotein tinggi, rendah kolesterol
dan lemak serta rendah kalori. Kelinci mempunyai produktivitas yang tinggi, pola
produksi dan pertumbuhannya relatif cepat (Cheeke et al., 1987).
Menurut Nugroho (1982), tujuan pemeliharaan kelinci dapat dibagi menjadi lima
tujuan, yaitu : 1) penghasil bulu-wool, 2) penghasil kulit-bulu, 3) pengghasil daging,
4) penghasil daging dan kulit-bulu, 5) sebagai binatang kesayangan, biasa
dipelihara untuk pameran atau show.

Jenis kelinci yang ada di Indonesia digolongkan menjadi tiga macam yaitu kelinci
lokal, kelinci unggul atau ras dan persilangan. Kelinci jenis lokal tahan terhadap
iklim tropik (iklim di Indonesia). Kelinci lokal beratnya 2-3 kg (ada yang lebih ),
warnanya ada yang putih, hitam, coklat muda, belang atau warna campuran dari
yang telah disebutkan. Kelinci lokal merupakan keturunan dari kelinci Belanda
(Dutch) dan keturunan dari kelinci New Zealand White. Kelinci lokal tergolong kelinci
kelas ringan dan telah beradaptasi dengan baik pada lingkungannya (Nugroho,
1982).
Berat kulit segar dari kulit kelinci antara lain 6-8,5% dari berat hidupnya. Secara
ekonomis kulit kelinci setelah disamak dapat digunakan sebagai bahan kerajinan
(Anonim, 2008).

Kelinci Lokal Berbulu


Hattab (1979), menyatakan bahwa kemampuan ternak kelinci seperti halnya ternak
potong lainnya di dalam menghasilkan kulit sangat dipengaruhi oleh bangsa, umur,
jenis kelamin dan cara pemeliharaan. Umur potong sangat menentukan keprimaan
kulit bulu yang berhubungan dengan kerontokan bulu dan kematangan pigmentasi
bulu (Cheeke dkk, 1987). Pemotongan kelinci muda menghasilkan kulit dengan
tenunan jaringan yang kompak, berajah halus tetapi kurang kuat terhadap
pengaruh luar (Judoamidjojo, 1984). Stewart (1984), menyatakan bahwa
keterlambatan memotong dari umur potong yang tepat, walaupun menghasilkan
kulit dengan tenunan yang rapat akan tetapi kulitnya kurang elastis dan bulunya
sudah mulai rontok. Dinyatakan pula bahwa pada umumnya umur potong kelinci
adalah 6 bulan. Kulit kelinci yang baik untuk penyamakan pada umumnya adalah
kulit yang padat serta seragam. Kualitas kulit bulu yang terbaik dan berharga mahal
hanya diperoleh dari kelinci yang berumur lebih dari lima bulan dan dipotong pada
musim dingin.

Sumber : Dokumen pribadi


Gambar 1. Kelinci Lokal

Topografi dan Histologi Kulit


Pada ternak hidup, kulit mempunyai banyak fungsi antara lain sebagai alat perasa,
pelindung jaringan di bawahnnya, memberi bentuk, mengatur suhu tubuh, tempat
sintesis vitamin D, alat gerak (ular), alat pernafasan (amfibi), dan tempat
menyimpan cadangan energi. Fungsi utama kulit adalah melindungi kerusakan dan
infeksi mikroba jaringan yang ada di bawahnya (Ockerman dan Hansen, 2000).

Menurut Judoamidjojo (1974) dan Fahidin (1973), secara topografis kulit dibagi
menjadi tiga yaitu :
Daerah Croupon yang merupakan daerah terpenting meliputi kira-kira 55% dari
seluruh kulit, mempunyai jaringan kuat dan rapat serta merata dan padat.
Daerah leher dan kepala, kira-kira 23% dari seluruh kulit , daerah ini relatif lebih
tebal dari croupon dan jaringannya longgar serta kuat sekali.
Daerah perut, paha dan ekor kira-kira 22% dari seluruh kulit. Bagian ini merupakan
daerah yang paling tipis dan longgar.

Gambar 2. Pembagian Kulit Hewan Secara Topografis (Fahidin, 1973)

Kulit mentah segar tersusun dari 64% air, 33% protein, 2% lemak, 0,5% garam
mineral dan 0,5% penyusun lainnya misalnya pigmen. Komponen penyusun kulit
paling penting adalah protein. Protein kulit terdiri dari protein kolagen (29%), keratin
(2%), dan elastin (0,5%). Protein kolagen sangat menentukan kualitas kulit samak,
semakin dewasa umur hewan semakin tinggi pula kandungan kolagennya. Elastin
adalah protein serabut berwarna kuning, protein ini mempunyai peran yang besar
terhadap kemuluran kulit samak, sedangkan protein kolagen sangat berperan dalam
menentukan kekuatan kulit (Sarkar, 1995).
Menurut Widodo (1997), struktur histologi kulit pada dasarnya sama semua, hanya
bentuk dari kulit yang berbeda dan zat yang terkandung didalam kulit mempunyai
persentase berbeda tergantung dari jenis hewannya.
Secara histologi, kulit tersusun dari tiga lapis yaitu epidermis, dermis, dan
hipodermis. Epidermis merupakan bagian kulit paling atas tersusun dari sel epitel
pipih kompleks, dan di lapisan ini juga terdapat asesori epidermis seperti rambut,
kelenjar sudorifera, kelenjar sebacea, otot erector fili, dan akar rambut. Di
bawahnya terletak lapisan dermis yang tersusun dari jaringan ikat padat dan
lapisan hipodermis yang tersusun dari jaringan ikat longgar, jaringan adiposa, dan
sisa daging (Bailey, 1997).
Sarkar (1995), menyatakan lapisan epidermis tersusun dari jaringan ikat keratin
yang relatif tahan terhadap serangan bahan kimia maupun agen biologi (mikroba
dan enzim). Pada kulit terdapat dua macam keratin yaitu soft keratine (keratin
lunak) yang menyusun akar rambut dan epidermis bawah, dan hard keratine
(keratin keras) menyusun batang rambut. Keratin lunak mudah larut dan mudah
didegradasi oleh enzim, sedangkan keratin keras sangat tahan terhadap bahan
kimia dan serangan enzim kecuali sulfida dan enzim keratinase.

Dermis atau corium terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan papillaris/thermostat atau
juga disebut grain layer dan lapisan reticularis. Di dalam corium terdapat tiga
jaringan protein yang penting diperhatikan yaitu collagen, elastin, dan reticullin.
Pada Collagen terdapat fibril-fibril yang terdiri dari semacam protein yang
bersambung-sambung dan susunannya sedemikian rupa sehingga berbentuk jonjotjonjot serta terdiri dari asam-asam amino prolin dan Hydroksi prolin, fibril ini
mempunyai sifat daya renggang yang kuat/kuat dibebani. Sedangkan elastin tahan
terhadap tarikan berwarna kuning dan merupakan serabut lentur. Reticulin tidak
tahan terhadap zat-zat reagensia dalam penyamakan. Dengan sifat-sifat protein di
dalam collagen ini maka pada akhir penyamakan yang tertinggal hanyalah fibril dan
elastin saja (Widodo, 1997).
Hipodermis merupakan lapisan kulit paling bawah yang terdiri dari serat-serat
tenunan pengikat yang longgar. Dalam lapisan ini juga banyak terdapat daging,
pembuluh-pembuluh darah, tenunan syaraf dan tenunan lemak. Disamping itu
hipodermis berfungsi sebagai batas antara tenunan kulit dan tenunan daging.
Sebenarnya hipodermis ini tidak dapat dipisahkan dari kulit pada proses pengulitan
maka dengan sendirinya dimasukkan kedalam kulit (Fahidin, 1973).
Pada proses penyamakan, dermis inilah yang nantinya akan disamak dan diubah
menjadi kulit samak yang bersifat lentur, fleksibel, kuat, dan tahan terhadap
pengaruh cuaca dan serangan mikroba. Menurut Sarkar (1995), lapisan epidermis
harus dihilangkan sebelum disamak, biasanya menggunakan bahan kimia kapur dan
Na2S dan lapisan hipodermis dibuang dari kulit secara mekanis pada proses buang
daging (fleshing).

Gambar 3. Penampang Kulit Secara Histologis (Anonim, 2008)

Penyamakan Kulit
Proses penyamakan kulit merupakan serangkaian unit operasi yang dapat
dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu pra penyamakan (pre-tanning),
penyamakan (tanning), dan penyempurnaan (finishing). Unit operasi pra
penyamakan bertujuan untuk membersihkan kulit dari substansi non kolagen secara
mekanis, kimia maupun biologis. Penyamakan bertujuan untuk mengubah kulit yang
tadinya mudah rusak atau busuk menjadi kulit samak yang stabil, lentur, dan kuat
dengan cara mereaksikan kolagen dengan bahan penyamak tertentu. Unit operasi
pasca penyamakan dan finishing menambah tampilan kulit menjadi lebih menarik
(Bailey, 1997).
Bahan penyamak terbagi menjadi empat yaitu bahan penyamak nabati, bahan
penyamak sintetis, bahan penyamak mineral (krom, aluminium) dan bahan
penyamak minyak. Bahan penyamak nabati adalah bahan penyamak yang berasal
dari tumbuh-tumbuhan seperti akasia, segawe, mahoni, gambir, teh. Bahan
penyamak sintetis adalah bahan penyamak yang terbuat dari benda-benda phenol
yang telah dibesarkan molekulnya dengan melalui jalan kondensasi dan sulfitasi.

Dalam perdagangan merupakan bahan penyamak yang siap dipakai dengan nama
misalnya : Basyntan, Irgatan, Tanigan dan lainnya, dan biasa dipergunakan untuk
menyamak kulit reptil dengan warna aslinya (hitam dan putih). Bahan penyamak
mineral yang sering dipakai adalah krom. Sedangkan penggunaan aluminium lebih
sedikit dan biasa dipakai untuk penyamakan kulit putih. Bahan penyamak minyak
ini biasanya berasal dari minyak ikan hiu atau lainnya yang dalam perdagangan
disebut minyak ikan kasar. Minyak yang dapat untuk menyamak adalah minyak
yang mempunyai ikatan C rangkap (C=C) yang mempunyai angka yodium 80-120
(Anonim, 2008).
Penyamakan krom pada prinsipnya adalah mengusahakan agar Cr2O3 dapat masuk
dan menempatkan diri dalam kulit pada tahap awal dan akhirnya mengadakan
ikatan dengan protein kolagen. Bahan penyamak krom yang banyak digunakan
adalah garam yang mengandung atom-atom krom yang bervalensi 3+. Garamgaram krom yang trivalen ini dapat membentuk ikatan dengan asam-asam amino
cabang dalam struktur protein kolagen yang reaktif. Terjadinya ikatan antara bahan
penyamak krom dengan protein kulit adalah melalui jembatan gugus hidroksil (OH-).
Jembatan-jembatan yang terbentuk ini disebut ikatan silang (cross linked). Ikatan
silang ini terbentuk selama proses penyamakan menyebabkan kulit mentah
berubah sifatnya menjadi kulit tersamak dengan sifat-sifat tertentu baik secara fisik
maupun khemis (Anonim, 2008).
Proses Penyamakan Kulit Kelinci Samak Bulu (Fur)
Proses penyamakan kulit adalah suatu proses yang mengubah kulit mentah
(hide/skin) menjadi kulit tersamak (leather) sehingga terdapat perbedaan sifat fisik
maupun sifat kimianya. Tujuan penyamakan kulit yaitu mengubah kulit mentah
yang mempunyai sifat tidak stabil yaitu mudah rusak oleh mikroorganisme fisik
maupun khemis menjadi kulit tersamak yang mempunyai sifat stabil (Anonim,
2008).
Proses penyamakan kulit kelinci menjadi kulit bulu bertujuan untuk memperoleh
kulit bulu (fur) yang indah dan menarik. Kerusakan yang dapat menyebabkan
rontoknya bulu harus dihindari. Penyamakan kulit kelinci berbulu (fur) sama dengan
penyamakan kulit-kulit lainnya kecuali epidermis berikut bulu tidak dibuang. Jadi
tidak dilakukan pengapuran karena kapur dapat merusak epidermis. Bahan
penyamak yang tepat untuk mendapatkan kulit berbulu (fur) yang baik adalah
dengan penyamakan krom (Judoamidjojo, 1984).
Kulit kelinci yang akan disamak bulu (fur) sebaiknya diawetkan dengan garam
karena akan mengurangi kerontokan bulunya, ada pengaruh pengawetan dengan
garam terhadap kua1itas fisis maupun organoleptis. Kulit kelinci berbulu (fur) yang
berkualitas baik dapat diperoleh dari proses awal dengan cara pengawetan yang
baik dan benar. Hal ini disebabkan karena pengawetan yang salah akan
mengakibatkan kerontokan bulu bahkan bisa terjadi kebusukan kulit yang
berdampak pada kerusakan pada struktur kulit sehingga komponen kulit yang
diperlukan pada penyamakan yaitu kolagen, elastin, retikulin tidak reaktif dengan
bahan penyamak (Untari, 2005).

Proses penyamakan kulit berbulu (fur) dilakukan dalam tiga tahap yaitu proses
pendahuluan (beam house operation), proses penyamakan (tanning) dan proses
penyelesaian (finishing). Berikut ini proses penyamakan kulit kelinci :
Sortasi
Kegiatan pertama yang perlu dilakukan adalah memilih dan menyiapkan kulit kelinci
berbulu yang akan dilakukan proses penyamakan. Pengolahan kulit kelinci harus
menggunakan kulit kelinci yang baik, sehat dan tidak pernah terkena penyakit kulit,
karena akan mempengaruhi hasil akhir dari penyamakan kulit. Untuk memperoleh
kulit kelinci yang baik maka harus memperhatikan tata laksana pengulitan pada
saat penyembelihan. Selain itu kulit yang telah diperoleh dari penyembelihan
sebaiknya segera dilakukan pengawetan, maksimal 4 jam setelah penyembelihan.
Hal ini dapat merusak kulit kelinci jika tidak segera dilakukan penanganan.
Syarat pemilihan kulit kelinci yang akan disamak :
Kulit yang digunakan berasal dari kulit kelinci yang sehat (tidak sakit kulit).
Pengulitan dilakukan dengan hati-hati dan dikuliti secara simetris.
Bulu kelinci jangan sampai kotor atau tercemar oleh darah saat pemotongan.
Fungsi penyamakan untuk mempertahankan kualitas yang disamak, jadi seandainya
kulit yang disamak memiliki kualitas yang baik maka penyamakan akan
mempertahankan kualitas kulit tersebut.
Penimbangan
Kulit kelinci ditimbang untuk mengetahui berat kulit seluruhnya. Berat kulit inilah
yang digunakan sebagai dasar perhitungan kemikalia pada proses selanjutnya.
Pencucian (washing)
Pencucian dilakukan untuk membersihkan kulit kelinci dari kotoran-kotoran yang
masih melekat pada kuit.
Proses Perendaman (soaking)
Perendaman (soaking) bertujuan melemaskan kulit, membuang darah, kotoran,
tanah dan lain-lain bahan atau zat-zat asing yang tidak hilang pada waktu
pengawetan, membuka tenunan kulit dan membuang garam karena garam dapat
memberikan pengaruh kurang baik pada reaksi dalam proses lebih lanjut.
Perendaman harus dilakukan dengan sangat hati-hati sekali serta harus
berlangsung secepat mungkin untuk menghindari kemungkinan lepasnya rambut
(Judoamidjojo, 1984). Perendaman bermaksud mengembalikan kebasahan kulit
pada keadaan seperti baru saja dilepas dari karkas. Lama perendaman tergantung
pada tebal tipisnya kulit, cara pengawetannya, keadaan kulit serta bahan pembantu
yang digunakan dalam perendaman. Perendaman kulit yang akan disamak bersama
bulunya dikerjakan dalam suasana asam (Sumarmi dkk, 1989).
Penghilangan daging (fleshing)

Maksud dan tujuan dari penghilangan daging adalah menghilangkan sisa-sisa


daging yang masih terdapat pada kulit. Sisa daging tersebut dapat menghalangi
masuknya bahan kimia ke dalam penampang kulit. Proses penghilangan daging
dapat dilakukan dengan menggunakan pisau buang daging atau dengan mesin
buang daging (Sumarmi dkk, 1989).
Penguatan bulu
Bahan yang digunakan dalam proses penguatan bulu adalah formalin. Kulit
dimasukkan ke dalam drum yang berisi air yang telah dicampur formalin dan
diaduk-aduk selama 30 menit.
Pengasaman (pickle)
Proses pengasaman bertujuan untuk mengasamkan kulit supaya pH kulit sesuai
dengan pH bahan penyamak terutama bahan penyamak krom. Pengasaman ini
selain untuk menyesuaikan pH kulit dengan bahan penyamak, juga bertujuan untuk
menghentikan kerja enzim protease yang mengikis protein, menghilangkan flek-flek
besi, menghambat terjadinya kenaikan basisitas krom pada saat proses
penyamakan berlangsung dan mengawetkan kulit. Oleh karena itu proses ini
bertujuan untuk mengasamkan kulit, tetapi kulit tidak bengkak, maka pada proses
tersebut digunakan asam dan garam (Lutfie, 1997). Menurut Oflaherty et. al.
(1978), bahwa sebelum pemberian asam, terlebih dahulu kulit dimasukkan ke
dalam larutan garam, hal ini bertujuan untuk menghindari pembengkakan (swelling)
yang berlebih pada kulit yang akan disamak. Garam yang biasa digunakan adalah
garam dapur (NaCl) sedangkan macam-macam asam yang digunakan pada proses
pengasaman adalah asam sulfat (H2SO4), asam formiat (HCOOH) dan asam klorida
(HCl).
Penyamakan (tanning)
Menurut Untari (2005), penyamakan merupakan mekanisme proses penyamakan
kulit dimulai dari usaha memasukkan zat penyamak ke dalam jaringan serat kulit
selanjutnya mengusahakan agar terjadi ikatan kimia antara jaringan serat kulit
dengan bahan penyamak yang ditambahkan. Penyamakan bertujuan mengubah
kulit mentah yang bersifat tidak stabil artinya mudah terserang oleh
mikroorganisme menjadi kulit yang bersifat stabil. Kulit bulu yang tahan terhadap
berbagai macam pengaruh dapat diperoleh dengan penyamakan krom. Keuntungan
menggunakan samak krom untuk kulit bulu adalah kulit bulu menjadi tahan
kelembaban, tahan panas, dan tahan lama (Judoamidjojo, 1984). Bahan penyamak
krom yang dimaksud adalah Cr2O3 yang dalam dunia perkulitan bisa didapatkan
pada Kromosal B dan Krometan. Bahan penyamak krom dalam penggunaannya
harus diperhatikan basisitasnya (Lutfie, 1997). Basisitas adalah banyaknya gugus
OH yang diikat oleh valensi krom dibagi jumlah valensi krom yang ada dikalikan
100% (Judoamidjojo, 1974).
Pemeraman (aging)
Pemeraman bertujuan untuk memberikan kesempatan penyempurnaan reaksi kimia
yang berlangsung di dalam kulit serta untuk mengurangi kadar air (Lutfie, 1997).

Penetralan (neutralizing)
Tujuan penetralan adalah menetralisir kulit yang disamak dengan zat penyamak
krom karena bersifat asam dengan pH 3,5-3,8. Asam tersebut berasal dari proses
pengasaman dan asam dari asam hidrolisa zat penyamak krom itu sendiri (Untari,
2005).
Penyamakan ulang (retanning)
Penyamakan ulang (retanning) bertujuan untuk mengurangi elastisitas kulit.
Manfaat dari penyamakan ulang (retanning) adalah supaya kulit lebih berisi dan
mengurangi elastisitas. Retanning dilakukan untuk memadatkan kulit supaya tidak
gembos dan untuk menyempurnakan penyamakan (Anonim,2008).
Peminyakan (fatliquoring)
Tujuan dari peminyakan adalah melicinkan serat-serat kulit sehingga menjadi
fleksibel, mudah ditekuk, tahan terhadap daya tarik, tahan terhadap getaran. Tujuan
lainnya adalah membuat kulit lunak dan lemas serta tahan air (Suwarastuti, 1992).
Menurut Untari (2005) peminyakan dapat membuat serat kulit tidak lengket antara
satu dengan lainnya, dan memperkecil daya serap kulit terhadap air.
Pengikatan minyak (fixasi)
Tujuan dari fiksasi adalah untuk memantapkan ikatan minyak pada kulit dengan
menggunakan asam formiat. Biasanya pada proses ini juga dimasukkan bahan anti
jamur yang bertujuan untuk mencegah tumbuhnya jamur pada kulit samak.
Pemeraman (aging)
Pemeraman dilakukan dengan meletakkan kulit pada kuda-kuda untuk ditiriskan
selama satu malam (Anonim, 2008).
Pengeringan (drying)
Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam kulit. Pengeringan dilakukan
dengan cara hanging, yaitu kulit digantung pada kuda-kuda kayu dan pengeringan
dilakukan di tempat yang teduh agar dapat kering sempurna dan merata.
Pelemasan (stacking)
Pelemasan dilakukan untuk meregangkan kulit supaya didapat kelemasan yang
diperlukan dan menambah luas dari permukaan kulit yang hilang selama proses
pengeringan, sehingga menjadi normal kembali. Pelemasan dapat dilakukan dengan
bantuan mesin regang (staking machine).
Pengampelasan (buffing)
Proses pengampelasan menggunakan kertas ampril yang halus. Kulit diampelas
pada bagian dagingnya agar permukaannya menjadi halus dan rata (Anonim, 2008).
Pengertian Tas

Gunarno (1979) berpendapat tas adalah tempat untuk menyimpan sesuatu, baik
alat-alat maupun barang-barang yang diperlukan. Misalnya, tempat surat, buku,
pakaian, dokumen dan lain sebagainya semua itu dapat di masukkan ke dalamnya
dan dapat di bawa dengan mudah. Jenis-jenis tas antara lain :
Tas koper
Tas koper untuk menyimpan pakaian terutama ketika sedang berpergian yang
memerlukan sejumlah pakaian cukup banyak. Sesuai kegunaannya, tas koper
dibuat dalam berbagai bentuk yang praktis dan kuat.
Tas sekolah
Bentuk tas sekolah selalu mengikuti perkembangan mode yang sesuai dengan
penerapan dan fungsinya. Biasanya memiliki ciri khusus yaitu berbentuk sederhana,
kuat dan cukup untuk menampung alat-alat sekolah.
Tas kantor
Tas kantor merupakan tas yang digunakan untuk keperluan pergi ke kantor.
Biasanya mempunyai perbedaan dengan bentuk-bentuk lain mengingat
kegunaannya yang khusus pula. Terutama untuk pemakai yang mempunyai peranan
penting dalam kantor tersebut, maka tas kantor akan dipandang penting gunanya.
Disamping bentuknya harus praktis dan kuat, harus pula mencerminkan kepribadian
dan kewibawaan si pemakai.
Tas untuk olah raga
Tas untuk olah raga adalah tas yang digunakan untuk olah raga sesuai dengan
fungsinya. Misalnya, tas untuk olah raga tennis, tas untuk olah raga badminton, tas
untuk olah raga golf dan sebagainya.
Tas pesiar atau tas santai
Tas pesiar atau tas santai adalah tas yang digunakan dalam keadaan santai, baik
rekreasi maupun jalan-jalan. Sesuai dengan fungsinya, maka tas ini cocok untuk
membawa apa saja, misalnya dompet, sisir, make up dan sebagainya. Bentuk tas
santai selalu mengikuti perkembangan mode yang disesuaikan dengan fungsinya.
Biasanya mempunyai ciri-ciri khusus yang berbentuk sederhana, kecil, tali panjang
dan kuat.
Tas wanita
Tas wanita pada dasarnya adalah tas yang digunakan oleh wanita. Sesuai dengan
perkembangannya, tas wanita dibuat dalam kegiatan dari wanita si pemakai
tersebut serta waktu yang cocok digunakan. Tas wanita mempunyai beberapa
model, antara lain tas pesta, tas berpergian, tas kantor, tas sekolah, tas santai dan
lain-lain. Pada masa perkembangan sekarang ini, tas wanita bukan hanya sebagai
tempat untuk menyimpan barang atau perlengkapan, tetapi juga sebagai pelengkap
busana dan simbol status sosial si pemakai.

Perencanaan Business plan


Aspek Pasar dan Pemasaran
Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi.
Sedangkan pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang mana
individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan
dengan cara menciptakan serta mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak
lain. Pasar dan Pemasaran merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, dengan
kata lain setiap ada kegiatan pasar selalu diikuti oleh pemasaran dan setiap
kegiatan pemasaran adalah untuk mencari atau menciptakan pasar (Irawan, 2008).
Tujuan dari pengkajian aspek pasar dan pemasaran menurut Kasmir dan Jakfar
(2010) adalah melihat perkembangan produk atau usaha yang dituju seperti :
Ada tidaknya pasar.
Seberapa besarnya pasar yang ada.
Faktor-faktor apa saja yang mungkin mempengaruhi permintaan di masa yang akan
datang.
Tingkat persaingan yang ada, termasuk besarnya market share yang akan direbut
dan market share pesaing.
Strategi apa saja yang perlu dilakukan dalam meraih market share yang
direncanakan.
Segmentasi pasar adalah membagi pasar menjadi beberapa kelompok pembeli
yang berbeda yang mungkin memerlukan produk atau marketing mix yang berbeda
pula. Variabel untuk melakukan segmentasi pasar terdiri dari segmentasi pasar
konsumen dan segmentasi pasar industrial (Irawan, 2008).
Variabel utama untuk melakukan segmentasi pasar konsumen menurut Kotler
(2005) yaitu :
Segmentasi berdasarkan geografis : bangsa, provinsi, kabupaten, kecamatan, dan
iklim.
Segmentasi berdasarkan demografis : umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, daur
hidup keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kebangsaan.
Segmentasi berdasarkan psikografis terdiri dari : kelas sosial, gaya hidup,
karakteristik kepribadian.
Segmentasi berdasarkan perilaku terdiri dari : pengetahuan, sikap, kegunaan,
tanggap terhadap suatu produk.
Secara umum pengertian menetapkan pasar sasaran menurut Kasmir dan Jakfar
(2010) adalah mengevaluasi keaktifan setiap segmen, yang meliputi ukuran dan
perrtumbuhan segmen, kemenarikan struktur segmen (profitable), sasaran dan
sumber daya yang dimiliki, kemudian memilih salah satu dari segmen pasar atau
lebih untuk dilayani.

Aspek Teknis dan Teknologi


Aspek teknis dan teknologi merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses
pembangunan suatu usaha secara teknis dan pengoperasiannya setelah usaha
tersebut dibangun. Aspek teknis dan teknologi ini harus dipertimbangkan secara
tepat. Adapun aspek pokok yang dibahas antara lain lokasi usaha, luas produksi,
pemilihan teknologi, tata letak (layout) pabrik yang digunakan (Husnan dan
Muhammad, 2000).
Selanjutnya menurut Husein (2009) Perencanaan yang perlu dilakukan menyangkut
produk (output), terutama pada usaha manufaktur dan industri pengolahan adalah:
Dimensi Produk, berkenaan dengan sifat dan ciri-ciri produk yang meliputi bentuk,
ukuran, warna serta fungsinya.
Nilai/Manfaat Produk, berisi manfaat yang dapat ditawarkan oleh produk.
Kegunaan/Fungsi Produk, dibedakan menjadi dua yaitu produk konsumsi dan
produk industri. Produk konsumsi yaitu produk yang dibeli dan digunakan oleh
konsumen akhir (pemakai akhir). Sedangkan produk industri yaitu produk yang
biasa dibeli oleh pelaku usaha produksi lainnya.
Aspek Organisasi dan Manajemen
Manajemen adalah proses kegiatan dari perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan dalam mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan. Pengertian dari organisasi adalah suatu kumpulan individu-individu
yang mempunyai tujuan, sasaran, dan target yang harus dicapai. Agar tercapai
tujuan, sasaran dan target dengan efektif dan efisien, maka diperlukan suatu fungsi
manajemen. Organisasi merupakan susunan dan hubungan antar bagian dan posisi
dalam perusahaan yang menggambarkan tugas, wewenang dan tanggung jawab
masing-masing bagian. Tujuan organisasi akan menentukan struktur organisasinya,
yaitu dengan menentukan seluruh tugas, hubungan antar tugas, batas wewenang
dan tanggung jawab untuk menjalankan masing-masing tugas tersebut (Husein,
2009).
Menurut Kasmir dan Jakfar (2010) jenis izin usaha yang berkaitan dengan jenis
usaha yang dijalankan adalah sebagai berikut :
Tanda Daftar Perusahaan (TDP),
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),
Izin-izin Usaha, dan sertifikat tanah atau surat-surat berharga lainnya.
Aspek AMDAL
Analisis dampak lingkungan merupakan suatu kegiatan atau kajian yang dilakukan
untuk mengidentifikasi, memprediksi, menginterpretasi dan mengkomunikasikan
pengaruh suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan. Berdasarkan UU No. 4 Tahun
1982 tentang Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup, suatu industri yang
mencemarkan lingkungan harus dapat bertanggung jawab dalam penanganan

limbah tersebut. Pencemaran didefinisikan sebagai masuknya atau dimasukkannya


makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup dan
atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam
sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya (Silalahi,
1995).
Analisis dampak lingkungan (di Indonesia, dikenal dengan nama AMDAL) adalah
kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan atau kegiatan di Indonesia. AMDAL
ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan
pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Lingkungan hidup yang
dimaksud di sini adalah aspek abiotik, biotik dan kultural. Dasar hukum AMDAL di
Indonesia adalah Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang "Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup" (Anonim, 2008).
Pada dasarnya limbah dari industri penyamakan kulit bisa berupa limbah padat, cair
dan gas. Tetapi, dikararenakan proses penyamakan merupakan proses yang banyak
menggunakan air, maka biasanya limbah cair merupakan permasalahan utama
buangan proses penyamakan kulit. Pengolahan limbah cair pada dasarnya adalah
pembebasan air dari beberapa kontaminan yang menggangggu. Sharphouse
(1971), menyebutkan bahwa biaya pengolahan limbah penyamakan kira-kira
sebesar 10% dari biaya pembuatan kulit tersamak atau 12% dari investasi pabrik
penyamakan kulit.
Produksi bersih didefinisikan sebagai strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat
preventif dan terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses
produksi dan daur hidup produk dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap
manusia dan lingkungan. Penerapan produksi bersih memerlukan perubahan sikap,
manajemen yang bertanggung jawab pada lingkungan dan evaluasi teknologi yang
dipilih dan digunakan oleh suatu organisasi (Anonim, 1999).
Menurut Bintang (1997) Dampak proyek pendirian industri penyamakan kulit
terhadap lingkungan terutama dampak negatif, harus dianalisis agar tidak
merugikan lingkungan sehingga proyek mendapat dukungan yang positif dari
masyarakat sekitarnya. Dampak negatifnya disebabkan oleh adanya limbah yang
dikeluarkan oleh proyek selama pelaksanaan konstruksi bangunan dan operasional
pabrik. Jenis limbah yang dihasilkan proyek ini adalah berupa limbah padat dan cair.
Limbah cair berupa air buangan yang berasal dari proses soaking, liming, dan
pickle. Limbah padat yang dihasilkan berupa sisa-sisa daging, sisa lemak, dan
potongan-potongan kecil dari kulit yang berasal dari proses beam house.
Pengolahan limbah dilakukan berdasarkan jenis limbahnya. Limbah padat
dialokasikan sebagai pengisi lahan (land fill) yang dimanfaatkan sebagai pupuk.
Limbah cair diolah melalui pengolahan limbah cair. Alat-alat yang digunakan untuk
pengolahan limbah cair adalah kolam penampungan dan screening tank, bak
pengaduk, bak aerator, bak pengumpul (flokulator), bak sedimentasi I, kolam
diffuser udara, bak sedimentasi II, bak netralisasi I dan II, dan kolam aerasi.

Aspek Keuangan dan Kelayakan Usaha


Keuangan merupakan salah satu fungsi usaha yang bertujuan untuk membuat
keputusan-keputusan investasi, pendanaan dan dividen. Keputusan investasi
ditujukan untuk menghasilkan kebijakan yang berhubungan dengan kebijakan
pengalokasian sumber dana secara optimal, kebijakan modal kerja dan kebijakan
investasi yang berdampak pada strategi perusahaan yang lebih luas. Tujuan
menganalisis aspek keuangan adalah untuk menentukan rencana investasi melalui
perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara
pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan
proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam jumlah waktu yang telah
ditentukan dan menilai apakah proyek akan dapat berkembang terus (Kasmir dan
Jakfar, 2010).
Kriteria penilaian investasi (Husein, 2009) :
Analisis break even point (BEP)
Analisis break even point adalah suatu alat analisis yang digunakan untuk
mengetahui hubungan antar beberapa variabel didalam kegiatan perusahaan,
seperti biaya yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diterima perusahaan dari
kegiatannya. Break even point diperoleh dimana total pendapatan sama dengan
total pengeluaran.
Return on investment (ROI)
Merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan dalam
perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Jadi rasio ini
digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan. Rumus
untuk mencari Return on Investment dapat digunakan sebagai berikut :
Return on Investment (ROI) =(Net Profit After Tax)/(Total Assets) x 100%
Payback period (PP)
Merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu (periode) pengembalian
investasi suatu proyek atau usaha dengan menggunakan aliran kas, yang hasilnya
merupakan satuan waktu. Perhitungan yang akan digunakan dalam menghitung
masa pengembalian investasi apabila kas bersih setiap tahun sama :
PP = Investasi/(Kas bersih/tahun) x 12 tahun

Net present value (NPV)


Yaitu selisih antara total nilai sekarang dari semua kas yang akan diterima pada
masa yang akan datang sepanjang umur proyek dengan pengeluaran kas untuk
investasi pada permulaan proyek.

Rumus yang biasa digunakan dalam menghitung NPV adalah sebagai berikut :
NPV = (kas bersih 1)/((1+r))+ (kas bersih 2)/((1+ r)2)+ +(kas bersih N)/((1+ r)n)
Investasi
Kriteria penilaian :
Jika NPV > 0, maka usulan proyek diterima
Jika NPV < 0, maka usulan proyek ditolak
Jika NPV = 0, nilai perusahaan tetap walau usulan proyek diterima atau ditolak.
Internal rate of return (IRR)
Merupakan alat untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari
arus kas yang diharapkan di masa mendatang atau penerimaan kas dengan
mengeluarkan investasi awal. Rumus untuk menghitung IRR adalah sebagai
berikut :
IRR = i1+ NPV1/(NPV1-NPV2) x(i2-i1)
Jika IRR lebih besar (>) dari bunga pinjaman, maka diterima
Jika IRR lebih kecil (<) dari bunga pinjaman, maka ditolak
Profitability index (PI) atau benefit and cost ratio (B/C)
Adalah rasio antara total nilai sekarang dari semua arus kas yang akan diterima
pada masa yang akan datang sepanjang umur proyek, dengan investasi awal pada
permulaan proyek. Rumus yang digunakan untuk mencari PI adalah sebagai
berikut :
PI = (PV Kas bersih)/(PV Investasi) x 100%
Kesimpulan :
Apabila PI lebih besar (>) dari 1 maka diterima
Apabila PI lebih kecil (<) dari 1 maka ditolak
Analisis sensitivitas
Merupakan analisis terhadap elemen-elemen finansial investasi apa saja yang akan
berpegaruh terhadap keputusan apabila elemen-elemen tersebut mengalami
perubahan.

BAB III
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

Perkembangan dan Proyeksi Permintaan Produk


Dunia fashion senantiasa terus mengalami perkembangan yang sangat pesat dari
tahun ke tahun. Tidak sekedar perkembangan fashion pakaian dan lain sebagainya,
produk-produk kulit juga mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Perusahaan Prima Leather ini memproduksi tas dari kulit kelinci yang tetap
mempertahankan bulunya. Konsumen sasaran dari produk ini masih berkisar di
wilayah Kabupaten Pemalang, dengan gambaran sebagai berikut :
Konsumen sasaran yang potensial adalah masyarakat dengan usia 1850 tahun.
Menurut Hurlock (1980) bahwa seseorang dikatakan telah dewasa adalah ketika
usianya sudah mencapai 18 tahun. Pada usia itu, mereka mulai dihadapkan pada
tugas perkembangan yang harus dijalaninya, antara lain: mulai bekerja, memilih
pasangan, mulai membina keluarga, mengasuh anak, mengelola rumah tangga,
mengambil tanggung jawab sebagai warganegara, dan mencari kelompok sosial
yang menyenangkan. Sedangkan menurut Papalia (2008) tahap reorganisasional
(reorganizational) yaitu sekitar umur 50 tahun disebut akhir usia pertengahan atau
masa pensiun. Tahap dimana orang dewasa yang memasuki masa pensiun
mereorganisasi kehidupan mereka seputar aktivitas bukan kerja.

Segmentasi yang kedua yaitu yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini
dikarenakan produk tas kulit kelinci ini sangat identik dengan perempuan dengan
bulu kelinci yang tetap dipertahankan memberikan kesan mewah, eksotik dan
feminim.
Segmentasi yang ketiga yaitu berdasarkan tingkat ekonomi. Pasar sasaran yang
dituju produk tas kulit ini yaitu tingkat ekonomi menengah ke atas. Hal ini atas
pertimbangan bahwa produk kulit memang mempunyai keunggulan yang indah dan
awet sehingga harga yang ditawarkan sedikit lebih mahal.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Pemalang tahun 2011 jumlah seluruh penduduk
Kabupaten Pemalang adalah 1.271.157 jiwa. Kondisi demografi penduduk
Kabupaten Pemalang Tahun 2011 tertera pada Tabel 2.
Tabel 2. Demografi Penduduk Kabupaten Pemalang Tahun 2011
Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
0 4 58.399 55.446 113.845
5 9 62.751 59.628 122.379
10 14 69.121 64.528 133.649
15 19 58.803 52.534 111.337
20 24 44.480 46.317 90.797

25 29 48.131 52.264 100.395


30 34 47.303 50.019 97.322
35 39 43.665 46.609 90.274
40 44 44.441 46.439 90.880
45 49 39.952 41.568 81.520
> 50 114.049 124.710 238.759
Jumlah 631.095 640.062 1.271.157
Sumber : BPS Kabupaten Pemalang 2011
Berdasarkan Tabel 2. dapat dilihat bahwa jumlah penduduk usia 18-50 tahun
adalah sebesar 551.188 jiwa. Sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebesar
283.216 jiwa.
Persentase penduduk menengah ke atas adalah sebesar 77,83% (BPS Kabupaten
Pemalang 2011).
Diasumsikan persentase penduduk menengah ke atas tersebut berlaku juga pada
penduduk usia 1850 tahun berjenis kelamin perempuan. Jadi jumlah konsumen
sasaran dari produk tas kulit kelinci adalah sebesar 77,83% x 283.216 jiwa =
220.427 jiwa.
Diasumsikan dari penduduk dewasa golongan ekonomi menengah ke atas yang
berpotensi sebagai konsumen produk kulit kelinci sebesar 50%.
Maka jumlah konsumen = 50 % x 220.427 jiwa = 110.214 jiwa
Tabel 3. Analisa Pasar Sasaran dan Jumlah Permintaan
Uraian Keterangan Pengkali Jumlah
Wilayah Pasar Kabupaten Pemalang & sekitarnya
Target :
Kabupaten Pemalang Jumlah Penduduk 1.271.157 Jiwa
Kalangan usia 18 50 tahun 551.188 Jiwa
Jenis kelamin Perempuan 283.216 Jiwa
Strata ekonomi Menengah ke atas 77,83% 220.427 Jiwa
Proyeksi Permintaan :
Konsumen potensial 50% 110.214 Jiwa
Kebutuhan produk per konsumen 1
Total Permintaan 110.214 produk/th

Proyeksi permintaan selama beberapa tahun ke depan, diasumsikan sebanding


dengan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pemalang pada tahun 2012 yakni
sebesar 5,13 % (ILPPD Kabupaten Pemalang Tahun 2012) dengan kondisi yang
tetap. Proyeksi pertumbuhan permintaan dari Tahun 2011 sampai Tahun 2020 dapat
dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Tahun 2011-2020


Tahun Proyeksi Permintaan (buah)
2011 110.214
2012 115.867
2013 121.811
2014 128.060
2015 134.630
2016 141.536
2017 148.797
2018 156.431
2019 164.455
2020 172.892

Peningkatan permintaan untuk produk tas dari kulit kelinci ini akan sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
Meningkatnya jumlah penduduk, perkembangan fashion yang terjadi serta
meningkatnya gaya hidup masyarakat.
Meningkatnya pendapatan masyarakat juga cenderung mengakibatkan
meningkatnya permintaan terhadap produk-produk kulit.
Dinamika para pengusaha kerajinan kulit dalam memproduksi berbagai jenis
produk. Hal ini dikaitkan dengan peranan para usahawan kerajinan kulit dalam
upaya mereka mencari bentuk, jenis dan motif produk sepanjang waktu yang
mampu menarik minat para konsumen.
Harga produk-produk kulit yang bersangkutan. Hal ini perlu adanya strategi
promosi mengenai keunggulan dan kualitas produk yang dihasilkan terkait harga
produk kulit yang memang sedikit lebih mahal tetapi lebih awet.

Program Pemerintah daerah dalam mendorong meningkatnya peranan sektor


usaha kerajinan kulit dengan memanfaatkan potensi daerah yang selama ini belum
terkelola secara optimal.

Perkembangan dan Proyeksi Penawaran Produk


Bisnis penyamakan kulit memang masih jarang dan belum banyak ditekuni
terutama di Kabupaten Pemalang. Meski demikian Industri kulit dan kulit-bulu (fur)
kelinci memiliki prospek pasar yang cerah. Tidak hanya pasar di dalam negeri tetapi
juga di luar negeri.
Di Kabupaten Pemalang, kulit kelinci selama ini belum ada yang memanfaatkan
untuk diolah. Kebanyakan penjual sate kelinci dan rumah-rumah makan membuang
kulit kelinci begitu saja/sebagai limbah yang tidak ada manfaatnya. Hal ini
dikarenakan belum adanya pengetahuan tentang pemanfaatan kulit kelinci untuk
dijadikan produk industri. Peluang untuk membuka usaha penyamakan kulit kelinci
di Kabupaten Pemalang masih terbuka lebar, dengan tersedianya bahan baku yang
melimpah dan murah.
Di Kabupaten Pemalang terdapat tiga IKM kerajinan kulit ular, yang semuanya
beralamat di Kecamatan Comal. Salah satunya adalah IKM Cobra Jaya yang hingga
sekarang masih tetap eksis, produknya sudah menembus pasar luar kota dan
kapasitas produksinyapun sudah besar. Tetapi untuk kedua IKM lainnya, kondisinya
jauh berbeda. Mereka baru bisa menyamak dan membuat produk ketika ada
pesanan saja. Kapasitas produksinya disesuaikan dengan pesanan. Sehingga
kegiatan usahanyapun terkadang macet dan tidak lancar.
Melihat permasalahan yang terjadi, maka rencana usaha penyamakan kulit kelinci
ini akan memberdayakan kedua IKM kerajinan kulit untuk ikut andil dalam
kelancaran usaha ini. Kulit kelinci yang sudah disamak nantinya akan dijadikan
produk berupa tas di IKM tersebut dan produk tas yang sudah jadi akan diambil
kembali untuk dipasarkan. Hal ini dikarenakan kedua IKM tersebut juga masih
mengalami kendala dalam hal pemasaran, dengan begitu diharapkan terjalin
kerjasama yang baik dan saling menguntungkan.
Proyeksi penawaran diperoleh dari jumlah penawaran dari produk lain yang sejenis
atau dari pesaing yang memiliki pasar sasaran yang sama. Berdasarkan data dari
Dinas Perindustrian Kabupaten Pemalang, di Kabupaten Pemalang terdapat 3 unit
usaha IKM kerajinan kulit ular berada di Desa Purwoharjo Kecamatan Comal dan 17
unit usaha IKM tas imitasi berada di Desa Kreyo Kecamatan Randudongkal. Rincian
IKM pengolahan produk kulit di Kabupaten Pemalang dapat terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5. IKM Pengolahan Produk Kulit di Kabupaten Pemalang
Bidang Usaha Jumlah Unit Usaha Kapasitas Produksi/tahun
Kerajinan kulit ular 3 7.000 buah
Tas imitasi 17 33.000 buah

Total Penawaran 40.000 buah


Sumber : Diskoperindag Kabupaten Pemalang (2009)
Berdasarkan hasil survey pasar produk-produk kulit yang sejenis yang berasal dari
luar Kabupaten Pemalang jumlahnya sedikit lebih banyak dari pada produk sejenis
yang berasal dari dalam Kabupaten Pemalang dengan perbandingan sekitar 1,5 : 1.
Jadi diasumsikan total penawaran produk sejenis adalah sebesar 40.000 x 1,5 =
60.000 buah. Sehingga jumlah semua penawaran produk sejenis baik dari dalam
maupun dari luar Kabupaten Pemalang yaitu 100.000 buah.
Proyeksi penawaran beberapa tahun ke depan diasumsikan meningkat berbanding
lurus dengan pertumbuhan industri Kabupaten pemalang tahun 2012 mencapai
5,49% (ILPPD Kabupaten Pemalang Tahun 2012). Proyeksi pertumbuhan penawaran
tahun 2011 sampai tahun 2020 tertera pada Tabel 6.
Tabel 6. Proyeksi Pertumbuhan Penawaran Tahun 2011-2020
Tahun Proyeksi Penawaran (buah)
2011 100.000
2012 105.490
2013 111.281
2014 117.391
2015 123.836
2016 130.634
2017 137.806
2018 145.371
2019 153.352
2020 161.771

Perkembangan dan Proyeksi Harga Produk


Berdasarkan hasil survey untuk harga kulit kelinci awet garaman untuk wilayah
Yogyakarta berkisar antara Rp 7.000,- sampai dengan Rp 7.500,-. Di Kabupaten
Pemalang kulit kelinci selama ini hanya sebagai limbah. Sehingga belum ada yang
mengumpulkan kulit kelinci untuk diawetkan. Akan tetapi selama survey kemarin,
apabila nanti ke depannya usaha ini berjalan maka penulis akan bekerja sama
dengan salah satu penjual sate kelinci yaitu Bapak Herman yang bersedia untuk
mengumpulkan dan mengawetkan kulit kelinci untuk bahan baku dalam usaha ini.
Harga kulit kelinci untuk sementara sebesar Rp 3.000,- /lembar untuk kulit kelinci
jenis lokal dan Rp 5.000,-/lembar untuk kulit kelinci jenis Australia. Jenis kelinci yang
ada di Kabupaten Pemalang antara lain kelinci lokal, kelinci Ausatralia, kelinci spot,

kelinci bulu karpet, dan kelinci anggora. Kelinci yang paling sering dipotong di
penjual sate dan rumah-rumah makan adalah kelinci lokal, sehingga dalam usaha
ini penulis masih memfokuskan untuk menyamak kulit kelinci jenis lokal.
Kulit kelinci yang sudah mengalami proses penyamakan kemudian akan dibuat
produk berupa tas di IKM kerajinan kulit di Kabupaten Pemalang. Perusahaan ini
akan mulai beroperasi pada Tahun 2016. Produk tas kulit kelinci akan dijual dengan
harga Rp 100.000,- pada tahun 2016. Berdasarkan situs resmi Kabupaten Pemalang
besarnya inflasi pada tahun terakhir 2012 adalah sebesar 4,04% per tahun. Jadi
proyeksi kenaikan harga produk tas kulit kelinci selama beberapa tahun kedepan
diasumsikan sebanding dengan besarnya tingkat inflasi yaitu 4,04%.
Tabel 7. Proyeksi Harga Produk Tas Kulit Kelinci Tahun 2016-2020
Tahun Jumlah Produk Harga Jual/unit (Rp) Hasil Penjualan (Rp)
2016 2.400 100.000,2017 2.523 104.040,-

240.000.000,262.505.405,-

2018 2.653 108.243,- 287.121.198,2019 2.789 112.616,-

314.045.276,-

2020 2.932 117.166,-

343.494.093,-

Analisis Persaingan
Berdasarkan hasil survey pasar, persaingan produk-produk kulit di Kabupaten
Pemalang tidak begitu ketat bahkan untuk produk yang berbahan baku kulit kelinci
seperti tas dan dompet belum ditemukan di Kabupaten Pemalang. Namun, di
Kabupaten Pemalang sudah ada beberapa jenis usaha yang produknya hampir
sama seperti kerajinan kulit ular untuk tas, dompet dan ikat pinggang serta
pembuatan tas imitasi. Keunggulan dari tas kulit kelinci ini yaitu bulu kelinci yang
tetap dipertahankan akan membuat daya tarik tersendiri. Selain itu jika dilihat dari
perhitungan proyeksi permintaan yang cukup jauh lebih besar dibandingkan dengan
penawaran, usaha ini masih bisa memasuki pasar yang ada.
Tabel 8. Analisis Kelemahan dan Kelebihan Perusahaan
No Faktor Usaha Kekuatan Kelemahan
1. Tenaga Kerja Masih kuranngnya SDM khususnya di bagian produksi sehingga
masih perlu adanya pelatihan-pelatihan.
2. Peralatan Produksi - Masih terbilang semi modern

3. Cara Produksi Dengan mesin dan peralatan yang ada dan pengetahuan yang
sudah didapat selama kuliah maka pemilik usaha akan terjun langsung dalam
proses produksi agar proses yang dilakukan benar dan kualitasnya bagus.
4. Bahan Baku Melimpah dan belum ada pesaing yang sama-sama menggunakan
bahan baku kulit kelinci di Kabupaten Pemalang 5. Produk - Masih perlu adanya pelatihan untuk IKM perajin kulit dan melihat
perkembangan fashion di pasar. Produk yang dibuat masih berupa tas saja.
6. Pemasaran - Sasaran pasarnya masih berkisar di Kabupaten Pemalang.
Perusahaan harus selalu melakukan perbaikan-perbaikan dan menerapkan
manajemen yang baik demi kelancaran dan kemajuan usaha penyamakan kulit
kelinci ini.

Rencana Penjualan dan Pangsa Pasar


Berdasarkan hasil analisis proyeksi permintaan, proyeksi penawaran dan pasar
sasaran yang ada, maka dapat diketahui kemungkinan peluang pasar yang masih
dapat dimasuki. Hal tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan perusahaan
dalam menentukan rencana penjualan dan besarnya pangsa pasar yang akan
diambil. Adapun rencana penjualan dan pangsa pasar yang ditargetkan untuk
produk tas kulit kelinci pada Tahun 2016 sampai Tahun 2020 dapat dilihat pada
Tabel 9.
Tabel 9. Rencana Penjualan dan Pangsa Pasar Tahun 2016-2020
Tahun Permintaan A
(buah) Penawaran B
(buah) Peluang C=A-B (buah) Rencana penjualan D (buah) Pangsa pasar
E=D/(C+D)x100
(% )
2016 141.536 130.634 10.902 2.400 18,04%
2017 148.797 137.806 10.991 2.523 18,67%
2018 156.431 145.371 11.059 2.653 19,35%
2019 164.455 153.352 11.103 2.789 20,07%
2020 172.892 161.771 11.121 2.932 20,86%

BAB IV
ASPEK PRODUK DAN TEKNOLOGI

Spesifikasi Produk
Prima Leather merupakan perusahaan yang mengolah kulit kelinci awet garaman
menjadi kulit kelinci tersamak yang tetap mempertahankan bulunya. Kulit kelinci
yang sudah disamak ini kemudian dijadikan produk berupa tas di IKM kerajinan kulit
yang ada di Kabupaten Pemalang. Produk yang akan dijual untuk sementara hanya
berupa tas karena usaha ini baru dirintis. Uraian yang lebih spesifik mengenai
produk tas kulit kelinci ini adalah sebagai berikut :
Merek Produk
Merek dari produk tas kulit kelinci adalah furli. Maksud Pemberian nama merek tas
kulit kelinci furli adalah agar mudah diingat konsumen dengan menggunakan kata
yang sederhana namun mengandung makna. Furli ini merupakan singkatan dari fur
leather Indonesia yang mana fur berarti bulu dan leather berarti kulit yang sudah
melalui proses penyamakan.
Bahan Baku Utama Produk
Bahan baku utama berupa kulit kelinci mentah yang sudah diawetkan dengan cara
penggaraman. Kulit kelinci yang akan melalui proses penyamakan akan disortasi
terlebih dahulu untuk memilih kulit kelinci yang kualitasnya masih bagus yang
ditandai dengan besarnya cacat dan keadaan bulunya.

Ukuran dan Bentuk Produk


Produk yang akan dihasilkan berupa tas dari kulit kelinci dengan ukuran 25x15x3
cm. Model tas yang ditawarkan dan kombinasi warnanya masih sederhana. Hal ini
dikarenakan usaha ini masih berada ditahap perkenalan kepada masyarakat. Akan
tetapi produk tas ini mempunyai keunikan dengan menonjolkan bulu kelinci yang
indah. Selain itu, produk kulit juga mempunyai keunggulan yaitu lebih awet jika
dibandingkan dengan produk tas dari bahan kain maupun kulit imitasi. Tas bulu kulit
kelinci ini sangat cocok apabila dipakai pada saat jalan-jalan, untuk menghadiri
acara yang sifatnya santai maupun acara yang sifatnya resmi. Penerapan
manajemen produksi yang benar maka akan dihasilkan pula kualitas kulit kelinci
sesuai dengan apa yang diinginkan. Gambar 4 merupakan contoh produk dari Prima
Leather.

Sumber : Dokumen pribadi

Gambar 4. Contoh Produk Tas Kulit Kelinci

Penentuan Kapasitas dan Rencana Produksi


Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan besarnya kapasitas
produksi. Aspek-aspek tersebut antara lain seperti ketersediaan bahan baku,
pangsa pasar yang dimiliki, target penjualan, dan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan produk berdasarkan jumlah tenaga kerja serta kapasitas peralatan
yang dimiliki. Tenaga kerja langsung untuk melakukan proses penyamakan kulit
kelinci sebanyak 2 orang. Proses penyamakan kulit kelinci dari kulit mentah menjadi
kulit tersamak dalam sekali proses membutuhkan waktu 6 hari. Jumlah hari kerja
senin sampai sabtu, maka perusahaan merencanakan akan melakukan proses 4 kali
dalam satu bulan. Perusahaan merencanakan jumlah kapasitas produksi setiap
proses sebanyak 100 lembar kulit kelinci atau setara dengan 25 kg. Hal ini
disesuaikan dengan kapasitas drum penyamakan yang akan dipakai yaitu drum
yang kapasitasnya 25 kg serta kemampuan tenaga kerja yang dimiliki. Sehingga
dalam satu bulan akan memproduksi 400 lembar kulit kelinci tersamak. Maka dalam
satu tahun akan ada 4.800 lembar kulit kelinci tersamak.
Rincian kapasitas produksi perusahaan Prima Leather dengan asumsi kenaikan
setiap tahun sebesar 5,13% (sesuai dengan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Pemalang Tahun 2012) dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Rencana Kapasitas Produksi Tahun 2016-2020
Tahun Rencana produksi (lembar)
2016 4.800
2017 5.046
2018 5.305
2019 5.577
2020 5.863

Di asumsikan untuk membuat produk tas dari kulit kelinci yang sudah disamak,
untuk satu tas membutuhkan kulit kelinci dua lembar. Hal ini dikarenakan untuk
kulit kelinci jenis lokal ukurannya relatif kecil. Jadi rencana penjualan produk tas
kulit kelinci yaitu setengah dari rencana kapasitas produksi penyamakan kulit
kelinci. Rencana penjualan produk tas kulit kelinci pada Tahun 2016 sampai Tahun
2020 tertera pada Tabel 11.
Tabel 11. Rencana Penjualan Produk Tas Kulit Kelinci Tahun 2016-2020
Tahun Rencana Penjualan (buah)

2016 2.400
2017 2.523
2018 2.653
2019 2.789
2020 2.932

Penentuan Lokasi dan Tata Letak Usaha / UKM


Lokasi Usaha
Usaha penyamakan kulit kelinci ini akan dilakukan di Desa Bandelan Kecamatan
Taman Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. Tempat ini dipilih karena memiliki
beberapa kelebihan, diantaranya adalah di daerah ini masih banyak lahan kosong
yang jauh dari pemukiman penduduk, mengingat akan limbah yang dihasilkan dari
proses penyamakan kulit kelinci ini. Selain itu lokasi ini dekat dengan bahan baku
yang diperlukan.
Rencana Layout Pabrik
Proses produksi penyamakan kulit kelinci agar bisa berjalan secara efektif dan
efisien serta mampu mengoptimalkan kualitas produk maka perlu adanya
pengaturan tata letak (layout) tempat usaha secara tepat dan benar. Tata letak
tempat usaha yang direncanakan dalam rencana bisnis penyamakan kulit kelinci ini
secara garis besar dapat dilihat pada Gambar 5.

Bangunan, Mesin, Peralatan dan Harta Tetap Lainnya


Mesin, peralatan dan tempat usaha diperlukan demi kelancaran proses produksi dan
berjalannya kegiatan produksi. Mesin, peralatan dan tempat usaha ini juga
merupakan investasi bagi perusahaan. Namun untuk selengkapnya daftar investasi
harta tetap dan peralatan produksi dapat dilihat pada Tabel 13.
Selain investasi mesin dan peralatan, untuk menunjang kegiatan operasional
perusahaan perlu juga adanya investasi berupa kendaraan. Adapun biaya yang
dikeluarkan untuk investasi kendaraan tersebut adalah sebesar Rp 8.000.000,-

untuk membeli kendaraan berupa motor roda tiga (Tossa) yang bekas. Sedangkan
untuk pemenuhan kebutuhan bangunan sebagai tempat produksi dilakukan dengan
cara menyewa atau kontrak selama masa proyek 5 tahun, dengan pertimbangan
keterbatasan biaya investasi serta masa proyek yang hanya 5 tahun. Dimensi
gedung atau bangunan yang dibutuhkan untuk melakukan proses produksi adalah
sekitar 20x10 m2 dengan biaya sewa sebesar Rp 10.000.0000,- per tahun pertama
dan diasumsikan naik sesuai dengan tingkat inflasi Kabupaten Pemalang yaitu
sekitar 4,04% pertahun berikutnya.
Tabel 12. Jenis dan Harga Peralatan Pada Tahun 2013

No NAMA MESIN Jml Satuan Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp)
1 Drum kapasitas 25 kg 1 unit
2 Mesin steaking 1 unit
3 mesin buffing 1 unit
4 Tempat aging 1 unit

7.500.000,-

7.000.000,3.775.000,-

7.500.000,-

7 .000.000,3.775.000,-

300.000,- 300.000,-

5 Timbangan duduk kapasitas 60kg 1 unit


6 Timbangan analitik 1 unit

375.000,-

2.700.000,- 2.700.000,-

7 Pisau buang daging 2 unit

95.000,-

190.000,-

8 Landasan buang daging 2 unit

50.000,- 100.000,-

9 Kompor & panci 1 set 400.000,-

400.000,-

10 Ember besar 2 unit

375.000,-

20.000,-

11 Gelas ukur plastik 1 lt 1 unit

40.000,50.000,- 50.000,-

12 Baumemeter 1 unit 10.000,- 10.000,13 Termometer 1 unit

20.000,-

20.000,-

14 Almari penyimpanan kulit 1 unit

1.250.000,-

15 Almari penyimpanan bahan kimia 1 unit


16 Almari penyimpanan alat 1 unit

1.250.000,-

1.250.000,- 1.250.000,-

600.000,- 600.000,-

17 Sarung tangan 3 pasang 15.000,- 45.000,18 Sepatu karet 3 pasang 50.000,19 Masker 3 unit

5.000,-

150.000,-

15.000,-

20 Instalasi pengolahan limbah 2.000.000,- 2.000.000,21 Lain-lain

500.000,-

500.000,-

Jumlah Biaya 27.965.000,- 28.270.000,(Sumber harga : BBKKP Yogyakarta, Toko alat kimia Pemalang, Toko Putri Tunggal
Pemalang).

Perusahaan Prima Leather ini akan beroperasi pada Tahun 2016. Pembelian mesin
dan peralatan serta harta tetap lainnya akan dilakukan pada Tahun 2015 yaitu
persiapan pra operasi sebelum kegiatan operasi tersebut dijalankan. Sehingga
untuk harga mesin dan peralatan harus diproyeksikan sampai Tahun 2015 dan
diasumsikan peningkatan harga sesuai dengan tingkat inflasi Kabupaten Pemalang
yaitu sebesar 4,04%. Rincian harga mesin dan peralatan pada Tahun 2015 dapat
dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Jenis dan Harga Peralatan Pada Tahun 2015
No NAMA MESIN Jml Satuan Harga Satuan (Rp) Total Harga (Rp)
1 Drum kapasitas 25 kg 1 unit 8.118.241,2 Mesin steaking 1 unit
3 mesin buffing 1 unit

8.118.241,-

7.577.025,- 7.577.025,4.086.181,- 4.086.181,-

4 Tempat aging 1 unit 324.730,-

324.730,-

5 Timbangan duduk kapasitas 60kg 1 unit


6 Timbangan analitik 1 unit

405.912,-

2.922.567,-

405.912,-

2.922.567,-

7 Pisau buang daging 2 unit 102.831,- 205.662,8 Landasan buang daging 2 unit

54.122,-

108.243,-

9 Kompor & panci 1 set 432.973,- 432.973,10 Ember besar 2 unit 21.649,- 43.297,11 Gelas ukur plastik 1 lt 1 unit

54.122,-

12 Baumemeter 1 unit 10.824,-

324.730,-

13 Termometer 1 unit 21.649,-

21.649,-

54.122,-

14 Almari penyimpanan kulit 1 unit 1.353.040,- 1.353.040,15 Almari penyimpanan bahan kimia 1 unit
16 Almari penyimpanan alat 1 unit

649.459,- 649.459,-

17 Sarung tangan 3 pasang 16.236,- 48.709,18 Sepatu karet 3 pasang 54.122,- 162.365,19 Masker 3 unit 5.412,- 16.236,-

1.353.040,- 1.353.040,-

20 Instalasi pengolahan limbah 2.164.864,- 2.164.864,21 Lain-lain

541.216,- 541.216,-

Jumlah Biaya 30.270.215,- 30.600.357,-

Kebutuhan Bahan Baku, Bahan Pembantu dan Bahan Pendukung Lainnya

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai kebutuhan bahan baku serta bahan
pembantu dalam proses penyamakan kulit kelinci. Selain itu juga dihitung biaya
yang diperlukan untuk proses penyamakan kulit kelinci dalam satu bulan dan satu
tahun.
Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan berupa kulit kelinci awet garaman. Jenis kelinci yang
ada di Kabupaten Pemalang antara lain kelinci lokal, kelinci Australia, kelinci spot,
dan kelinci bulu karpet. Tetapi yang paling sering digunakan untuk olahan makanan
di rumah-rumah makan maupun sate kelinci yaitu kelinci lokal, sehingga untuk
pertama perusahaan ini akan memfokuskan pada kulit kelinci jenis lokal.
Berdasarkan survey yang sudah dilakukan, di Kabupaten Pemalang terdapat 4
penjual sate kelinci dan 1 rumah makan yang menyediakan olahan daging kelinci.
Kulit kelinci yang selama ini dihasilkan merupakan limbah yang dibuang begitu saja.
Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang pemanfaatan kulit kelinci baik
untuk olahan makanan seperti dibuat kerupuk maupun dijadikan produk industri.
Rata-rata dalam satu hari jumlah pemotongan kelinci sebanyak 3 ekor. Pada saat
moment-moment tertentu mereka memotong cukup banyak seperti pada hari raya
dan tahun baru lebih dari 5 ekor sampai 10 ekor, karena kulit kelinci selama ini
merupakan limbah, maka belum ada yang mengumpulkan untuk diawetkan. Ketika
survey salah satu penjual kelinci yang bernama Bapak Herman merespon dengan
positif dan sangat antusias dengan rencana yang penulis buat. Beliau bersedia
untuk mengumpulkan semua kulit kelinci yang ada di Kabupaten Pemalang untuk
kemudian diawetkan dengan garam untuk kemudian akan diambil sebagai bahan
baku dalam proses penyamakan. Dengan begitu diharapkan adanya kerjasama
yang saling menguntungkan dan dapat menambah nilai jual dari kulit kelinci.
Adapun untuk harga yang dipatok untuk sementara perlembarnya dihargai Rp
3.000,- untuk kelinci lokal dan Rp 5.000,- untuk kelinci Australia yang ukurannya 2
kali lebih besar dari kelinci lokal. Tetapi untuk mengawali usaha ini penulis
memfokuskan untuk menggunakan kelinci jenis lokal saja dalam proses
penyamakannya. Perkiraan ketersediaan bahan baku kulit kelinci dapat dilihat pada
Tabel 14.
Tabel 14. Persediaan Bahan Baku Kulit Kelinci
No. Nama penjual sate kelinci /rumah makan Rata-rata pemotongan/hari
1 Bapak Herman (Desa Pelutan, Pemalang) 3

2 Bapak Wales (Alun-alun Pemalang) 3


3 Ibu Um (Desa Wanarejan, Taman) 3
4 Bapak Sisam (Desa Ujung Gede, Comal) 5
5 Bapak Aat (Desa Doyong, Taman) 3
Jumlah 17

Satu hari diperkirakan terdapat 17 lembar kulit kelinci, berarti dalam satu minggu
akan ada 119 lembar kulit kelinci yang tersedia. Proses penyamakan yang
membutuhkan waktu 6 hari, kapasitas produksi untuk sekali proses 100 lembar.
Hal ini sudah diperhitungkan berdasarkan kapasitas mesin yang digunakan,
kemampuan tenaga kerja dan ketersediaan bahan baku yang ada.
Bahan Pembantu
Bahan-bahan pembantu yang digunakan dalam proses penyamakan kulit kelinci
antara lain : Formalin, Tepol, Soda abu, Garam, FA, H2SO4, Cromosal B, Sodium
Formiat, Soda kue, Preventol Zr, Preventol Cr, Tanigan PAK, Basintan DLE, Novaltan
Pf, SAF, Pelan 802. Hal yang terpenting dalam pemilihan bahan kimia yang akan
digunakan adalah pengetahuan kita tentang tujuan dan kegunaan serta efek bahan
kimia tersebut terhadap struktur kulit.
Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Penolong Serta Biaya Yang Dibutuhkan

Berikut akan dirinci kebutuhan untuk bahan baku dan bahan penolong yang
diperlukan dalam satu bulan pada Tahun 2013.
Tabel 15. Kebutuhan Bahan Penolong Dalam Satu Bulan Tahun 2013
Jenis Bahan Penolong Jml. Sat. Harga Satuan (Rp) Harga Total (Rp)
Formalin 6 liter
Tepol 2 liter

20.000,18.500,-

Soda abu 1 Kg

120.000,37.000,-

8.500,-

8.500,-

Garam 30 Kg

3.000,- 90.000,-

FA 6 liter 28.000,-

168.000,-

H2SO4 0,6 liter


Cromosal B 16 Kg
Sodium Formiat 4 Kg
Soda Kue 5 Kg

8.000,22.000,9.500,7.000,-

4.800,352.000,38.000,35.000,-

Preventol Zr 1 Kg

37.000,- 37.000,-

Preventol Cr 1 kg

165.000,-

165.000,-

Tanigan PAK 2 kg

29.000,-

58.000,-

Basintan DLE 8 kg

42.000,-

336.000,-

Novaltan Pf 3 liter

50.000,-

150.000,-

SAF 10 liter

57.000,-

Pelan 802 4 liter


Jumlah

570.000,-

47.000,551.500,-

188.000,-

2.357.300,-

(Sumber harga : Toko Bahan Kimia Pemalang, Toko Karyanti Yogyakarta)


Kebutuhan bahan baku, bahan penolong serta penunjang langsung kegiatan
produksi lainnya Tahun 2013 dapat diuraikan seperti pada Tabel 16.

Tabel 16. Kebutuhan Baahn Baku dan Bahan Penolong Dalam Satu Tahun
NO. Bahan Baku/penolong Kebutuhan Harga Satuan (Rp) Total Satu Tahun (Rp)
1 Kulit kelinci 4.800 lembar 3.000,- 14.400.000,2 Bahan penolong 12

bulan

3 Gas LPG 3kg 3


4 pH stik 2
5 Kemasan 2.400
6 Listrik & air 12
Jumlah

2.357.300,- 28.287.600,-

buah 16.000,- 48.000,pcs

200.000,-

buah

400.000,-

1.000,-

2.400.000,-

bulan 150.000,- 1.800.000,-

47.335.600,-

Harga tersebut adalah harga yang berlaku pada Tahun 2013 sehingga masih
mungkin ada kenaikan di tahun selanjutnya. Berdasarkan tingkat inflasi Kabupaten
Pemalang sebesar 4,04% maka kenaikan harga bahan-bahan tersebut diasumsikan
sebanding dengan tingkat inflasi setiap tahunnya, sehingga kebutuhan biaya untuk
bahan baku dan bahan penunjang proses produksi pada tahun pertama proyek
2016-2020 dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Penolong Tahun 2016 2020
Biaya produksi 2016 (Rp) 2017 (Rp) 2018 (Rp) 2019 (Rp) 2020 (Rp)
Kulit kelinci 16.216.739,23.034.393,-

17.703.814,-

19.327.254,- 21.099.563,-

Bahan penolong
45.249.145,-

31.856.432,-

34.777.667,-

37.966.779,- 41.448.333,-

Gas LPG 3kg


76.781,-

54.056,-

59.013,-

64.424,-

pH stik
639.844,-

450.465,-

Kemasan
3.839.065,-

2.702.790,-

Listrik & air


2.879.299,-

2.027.092,-

491.773,2.950.636,2.212.977,-

70.332,-

536.868,-

586.099,-

3.221.209,-

3.516.594,-

2.415.907,-

2.637.445,-

Jumlah 53.307.574,- 58.195.878,- 63.532.440,- 69.358.365,- 75.718.527,-

Kebutuhan Tenaga Kerja


Berdasarkan rencana produksi dan investasi peralatan yang dimiliki, maka tenaga
kerja langsung yang dibutuhkan adalah sebanyak 2 orang. Kriteria usia maksimal 45
tahun, pendidikan tidak diutamakan serta lebih diutamakan untuk remaja yang
putus sekolah dan mempunyai loyalitas yang tinggi.
Tenaga kerja tersebut merupakan tenaga kerja dengan upah mingguan yang
disesuaikan dengan UMR di Kabupaten Pemalang. UMR di Kabupaten Pemalang saat
ini (2013) adalah sebesar Rp 905.000,- /bulan atau sekitar Rp 30.167,-/hari.
Diasumsikan UMR tersebut akan terus mengalami kenaikan sesuai dengan tingkat
inflasi di Kabupaten Pemalang yaitu sebesar 4,04% setiap tahunnya. Jadi
diasumsikan pada tahun pertama proyek (2016) UMR Kabupaten Pemalang tersebut
akan naik menjadi sebesar Rp 1.019.177,- /bulan atau sekitar Rp 33.973,-/hari,
dengan jumlah hari kerja 24 hari setiap bulannya maka gaji yang diberikan sebesar
Rp 203.835,-/minggu. Perusahaan akan memberikan gaji di atas UMR yaitu sebesar
Rp 212.500,-/minggu sehingga besarnya gaji yang diberikankan setiap bulan yaitu
sebesar Rp 850.000,-.

Proses Produksi
Proses penyamakan kulit berbulu (fur) dilakukan dalam tiga tahap yaitu proses
pendahuluan (Beam House Operation), proses penyamakan (Tanning) dan proses
penyelesaian (Finishing). Berikut ini adalah diagram alir proses penyamakan kulit
kelinci samak bulu (fur) :

Proses penyamakan kulit kelinci samak bulu (fur) dapat diuraikan sebagai berikut :
Sortasi
Bahan baku berupa kulit kelinci disortir dengan melihat besarnya cacat dan keadaan
bulunya. Cara penyortiran cukup dilakukan dengan melihat keadaan kulit kelinci
secara organoleptis.
Penimbangan
Kulit kelinci yang sudah disortir kemudian ditimbang untuk mengetahui berat kulit
seluruhnya. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan timbangan duduk. Berat
kulit inilah yang digunakan sebagai dasar perhitungan kemikalia pada proses
selanjutnya.
Pencucian (washing)
Pencucian dilakukan untuk membersihkan kulit kelinci dari kotoran-kotoran yang
masih melekat. Kulit dicuci dalam drum dan diputar selama 15 menit dengan jumlah
air 800%.
Perendaman (soaking)
Proses ini bertujuan untuk mengembalikan kadar air kulit pada keadaan seperti baru
saja dilepas dari karkas, melemaskan kulit, membersihkan kotoran yang masih
melekat dan membuka tenunan kulit. Bahan yang digunakan yaitu 300% air, tepol 1
% yang bertujuan untuk mempercepat pembasahan kembali, dan 0,5% soda abu.
Soda abu ini berfungsi sebagai degreasing agent.

Penghilangan daging (fleshing)


Tujuan proses ini adalah menghilangkan sisa-sisa daging yang masih terdapat pada
kulit. Sisa daging tersebut dapat menghalangi masuknya bahan kimia ke dalam
penampang kulit. Proses penghilangan daging dilakukan dengan menggunakan
pisau buang daging (pisau yang tumpul).
Penguatan bulu
Proses ini dilakukan untuk memperkuat akar-akar bulu didalam kulit agar kuat dan
tidak mudah lepas. Bahan yang digunakan dalam proses penguatan bulu adalah
formalin. Kulit dimasukkan ke dalam drum yang berisi air yang telah dicampur
formalin dan diaduk-aduk selama 30 menit. Formulasinya yaitu 200% air, 3%
formalin, 0,5% soda kue. Formalin berfungsi sebagai penguat bulu.
Pengasaman (pickle)
Proses pengasaman bertujuan untuk mengasamkan kulit supaya pH kulit sesuai
dengan pH bahan penyamak terutama bahan penyamak krom (pH 2,5-3). Pertama
kulit dimasukkan ke dalam drum yang berisi 200% air, 15% NaCl. Garam dilarutkan

terlebih dahulu dengan air sampai kepekatannya 10o Be menggunakan alat baume
meter. Garam ini berfungsi sebagai penahan (buffer) terhadap terjadinya
pembengkakan kulit yang disebabkan oleh asam. Akibat kebengkakan kulit
tersebut, kondisi kulit menjadi rapuh dan mudah sobek, selanjutnya pemberian FA
1,5 % yang sudah diencerkan 10 kali dengan pemberian 3 kali 15 menit. FA ini
berfungsi untuk menurunkan pH. Kemudian ditambahkan 1,5% Novaltan Pf yang
berfungsi sebagai pretanning yang memberikan warna cerah. Pada tahap ini kulit
diputar selama 1 jam. Sebelum memasuki proses selanjutnya, terlebih dahulu
dilakukan pengecekan pH. pH yang diharapkan adalah 2,5-3. Apabila pH nya belum
memenuhi maka ditambahkan 0,3% H2SO4 yang diencerkan 10 kali dengan
pemberian 3 kali 15 menit untuk menurunkan pH sampai dengan pH yang
diinginkan. Selain itu, perlu juga di cek menggunakan indikator BCG dengan
menetesi di bagian kulit yang paling tebal dan harus memberikan warna kuning.
Penyamakan (tanning)
Penyamakan bertujuan mengubah kulit mentah yang bersifat tidak stabil artinya
mudah terserang oleh mikroorganisme menjadi kulit yang bersifat stabil. Metode
yang dipakai dalam proses penyamakan kulit bulu adalah dengan bahan penyamak
krom dengan merek chromosal B. Penggunaan bahan penyamak krom ini akan
memberikan bulu yang kompak. Langkah pertama yaitu pemberian 8% krom
diputar selama 1 jam. Kemudian dimasukkan 2% sodium formiat yang telah
diencerkan 5 kali dengan penambahan dilakukan 3 kali 15 menit. selanjutnya
penambahan 1,5% soda kue dengan teknik yang sama. Penambahan sodium
formiat dan soda kue ini bertujuan untuk menaikkan basisitas supaya mencapai 5566 %. Pada basisitas tersebut zat penyamak mempunyai daya ikat yang tinggi, tapi
penetrasinya rendah. Apabila basisitasnya masih rendah dapat menyebabkan kulit
menjadi tidak matang sehingga kulit menjadi keras dan kaku serta sulit untuk
proses selanjutnya. Selain itu perlu juga ditambahkan dengan 0,5 % preventol Cr
sebagai anti jamur. Drum diputar selama 4 jam. Proses ini selesai dengan cara
pengecekan pH 3,8-4,1 dan tes BCG memberikan warna hijau. Selian itu juga
dilakukan boiling test untuk mengetahui kematangan kulit. Tes ini dengan cara
bagian kulit yang paling tebal dipotong dengan ukuran 2x2 cm untuk direbus
selama 1 menit dan bila bentuknya tidak mengalami perubahan berarti kulit
yang disamak telah matang. Boiling test menunjukkan hasil yang baik, kulit setelah
direbus masih tetap lemas dan tidak mengkerut. Kematangan kulit samak dapat
diketahui dengan menghitung rumus kematangan penyamakan sebagai berikut :
Kematangan penyamakan = (luas awal-luas akhir)/(luas awal) x 100%
Pemeraman (aging)
Pemeraman bertujuan untuk memberikan kesempatan penyempurnaan reaksi kimia
yang berlangsung di dalam kulit serta untuk mengurangi kadar air.
Penetralan (neutralizing)
Kulit yang sudah melalui proses penyamakan dengan menggunakan bahan
penyamak krom mempunyai keasaman yang tinggi. Hal ini dapat dilihat melalui pH

akhir penyamakan (3,8). Keadaan ini disebabkan oleh hidrolisa dari zat penyamak
krom yang membebaskan asam yang berasal dari proses pengasaman. Asam bebas
inilah yang perlu dinetralkan agar tidak mengganggu proses selanjutnya. Asam
yang tidak dinetralisasi akan menyebabkan emulsi minyak yang digunakan pada
proses peminyakan tidak dapat meresap kedalam serat-serat kulit. Bahan yang
digunakan yaitu 200% air, 1% tanigan PAK dan 0,5% soda kue. Penambahan
tanigan PAK berfungsi sebagai bahan pembantu sedangkan soda kue berfungsi
untuk menaikkan basisitas dan pH. Proses penetralan ini dikontrol dengan indikator
BCG memberikan warna biru seluruhnya dan pH cairan mencapai 5-5,5.
Penyamakan ulang (retanning)
Retanning bertujuan untuk memperbaiki sifat-sifat fisik kulit yang telah disamak
agar mempunyai sifat yang lebih baik. Misalnya kulit lebih padat, lebih berisi, supel,
halus dan rajahnya kuat. Pada proses ini digunakan 150% air, 4% basintan DLE
yang berfungsi sebagai retanning agent, dan 4% tanigan PWB berfungsi untuk
memberikan efek warna putih pada kulit sehingga kulit menjadi bersih dan lebih
cerah.
Peminyakan (fatliquoring)
Peminyakan bertujuan untuk mendapatkan kulit yang lebih lemas, lebih fleksibel,
lebih lunak, lebih liat dan mempunyai kemuluran yang tinggi sesuai dengan standar
dan tujuan pemakaiannya. Minyak yang dipakai berupa minyak sulfat.
Pemeraman (aging)
Pemeraman dilakukan dengan meletakkan kulit pada kuda-kuda untuk ditiriskan
selama satu malam.
Pengeringan (drying)
Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam kulit. Pengeringan dilakukan
dengan cara hanging, yaitu kulit digantung pada kuda-kuda kayu dan pengeringan
dilakukan di tempat yang teduh agar dapat kering sempurna dan merata.

Pelemasan (stacking)
Pelemasan dilakukan untuk meregangkan kulit supaya didapat kelemasan yang
diperlukan dan menambah luas dari permukaan kulit yang hilang selama proses
pengeringan, sehingga menjadi normal kembali. Pelemasan dapat dilakukan dengan
bantuan mesin regang (staking machine).
Pengampelasan (buffing)
Proses pengampelasan menggunakan mesin buffing pada bagian daging atau flesh.
Kulit yang sudah disamak kemudian dijadikan produk berupa tas.

Pengolahan Limbah

Limbah yang ditimbulkan terjadi dari hasil proses produksi penyamakan kulit kelinci
yang bahan-bahannya merupakan larutan kimia, sehingga limbahnya merupakan
limbah kimia yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air
(sungai). Adanya proses pengolahan limbah, maka limbah yang dibuang tidak akan
menimbulkan polusi dan tidak membahayakan terhadap lingkungan dan kesehatan
manusia.
Perusahaan penyamakan kulit kelinci ini baru dirintis dan kapasitas produksinyapun
masih sedikit sehingga volume limbah yang dihasilkanpun masih sedikit. Limbah
yang dihasilkan akan ditampung untuk kemudian dikelola sendiri. Proses
pengolahan limbah di perusahaan Prima Leather merupakan proses gabungan, yaitu
proses pengolahan secara fisika, proses pengolahan secara kimia dan proses
pengolahan secara biologi.
Limbah yang dihasilkan oleh proses penyamakan kulit berasal dari berbagai sumber
dengan karakteristik yang berlainan, dengan demikian langkah modifikasi proses
dan teknik pemilahan/pengelompokan dan pencampuran limbah dapat dilakukan
untuk memodifikasi sistem pengolahan yang akan diterapkan agar dapat mencapai
hasil yang optimal dengan biaya pengolahan yang minimal. Khusus untuk limbah
tanning yang mengandung krom akan didaur ulang.
Diagram alir proses pengolahan limbah cair penyamakan kulit kelinci dapat dilihat
pada bagan berikut ini :

endapan

beningan

Proses pengolahan limbah cair penyamakan kulit kelinci dijelaskan sebagai berikut :
Limbah cair penyamakan kulit kelinci ini dijadikan satu kecuali limbah tanning yang
mengandung krom dipisah. Selanjutnya untuk pertama limbah dilewatkan pada
saringan kasar agar padatan bisa tersaring.
Setelah itu dari saringan kasar, limbah ini dialirkan ke bak pengendapan awal. Di
dalam bak ini bertujuan untuk mengendapkan padatan-padatan yang masih tersisa
dalam limbah secara fisik.
Saringan halus dan bak pengendapan
Air limbah setelah melewati pengendapan awal disaring dengan saringan halus
terlebih dahulu supaya padatan yang berbentuk kecil dapat tersaring kemudian
masuk ke bak pengendapan selanjutnya. Bak pengendapan ini bertujuan agar
kotoran-kotoran dapat terendapkan lagi.
Bak equalisasi
Dalam bak penampungan ini, air limbah menjadi homogen dan variasi pH-nya tidak
begitu menyolok. Disamping itu residu yang terdapat dalam bak ini akan menguap
sehingga kandungannya dalam air limbah menjadi kecil. Cairan dari bak
penampungan ini, kemudian diallirkan ke bak netralisasi dan bak koagulasi.
Bak netralisasi
Air limbah kemudian dinetralkan dengan penambahan kapur (CaOH2). Penambahan
kapur ini berfungsi untuk menaikkan pH agar pH menjadi netral yaitu antara 6,57,5.
Bak koagulasi
Air limbah dicampur dengan larutan tawas dari tong penampung tawas yang diberi
kran dengan kecepatan pengadukan cepat yaitu 200 rpm. Larutan tawas Al2(SO4)3
18H2O, berfungsi untuk mengikat kotoran yang masih terbawa cairan.
Bak flokulasi
Pada bak flokulasi, air limbah ditambahkan kuriflok atau bahan pembantu flokulan
dengan kecepatan pengadukan lambat yaitu 15 rpm. Penambahan flokulan ini untuk
mengikat koloid-koloid atau kotoran-kotoran lembut yang masih terbawa dalam
cairan membentuk molekul yang lebih besar.
Bak penyaringan
Bak penyaringan ini terbuat dari susunan batu bata kosongan. Dan didalamnya dari
bawah ke atas tersusun dari batu kali, kerikil, pasir, arang, dan ijuk, dengan
kedalaman 1m. Susunan bahan-bahan tersebut berfungsi sebagai penyaring
sebelum air di buang ke sungai.
Kolam ikan

Ikan disini sengaja dipelihara untuk mengontrol kualitas air limbah yang akan
dibuang ke sungai, karena air limbah yang telah diolah dilewatkan dahulu sebelum
dibuang ke sungai.
Sedangkan untuk proses daur ulang krom dapat dijelaskan sebagai berikut :
Limbah cair yang mengandung krom diendapkan dengan larutan alkali (NaOH).
selanjutnya pemisahan endapan dan cairan (beningan). Endapan yang terjadi lalu
dipress menggunakan filter press. Endapan krom hidroksida yang sudah dipress
selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki lalu dicampur dengan larutan asam sulfat
untuk dijadikan sebagai bahan penyamak krom hasil daur ulang setelah diatur
basisitasnya dengan menambah bahan penyamak krom yang segar.
Sedangkan untuk limbah padat yang dihasilkan berupa sisa-sisa daging pada saat
proses fleshing, kotoran-kotoran, bulu kulit kelinci yang rontok dan serpihanserpihan daging proses stecking dan buffing. Limbah padat ini bisa dimanfaatkan
untuk pakan ternak maupun pupuk kompos. Sedangkan limbah padat pada proses
steacking dan buffing dapat digunakan untuk pembuatan batako, kertas, dan media
tanam.
Pengolahan limbah ini akan dilaksanakan oleh tenaga kerja bagian produksi.
Pengolahan limbah akan dilakukan satu bulan sekali. Adapun rincian biaya yang
dibutuhkan adalah sebagai berikut :
Tabel 18. Kebutuhan Bahan Kimia Pengolahan Limbah Cair Tahun 2013
Jenis bahan kimia jml Harga satuan (Rp) Kebutuhan 1 tahun (Rp)
Tawas 1 kg 8.000,- 96.000,Kapur 1 kg 12.000,- 144.000,Kuriflok 1 kg 50.000,- 600.000,NaOH 1 kg 20.000,- 240.000,H2SO4 1 lt 8.000,- 96.000,Jumlah 98.000,- 1.176.000,-

Harga yang tertera pada tabel di atas merupakan harga pada Tahun 2013,
sehingga harga-harga tersebut harus diproyeksikan sampai tahun pertama operasi
yaitu Tahun 2016. Kenaikan biaya tersebut diasumsikan sebanding dengan tingkat
inflasi Kabupaten Pemalang yaitu sebesar 4,04%.

Tabel 19. Kebutuhan Bahan Kimia Pengolahan Limbah Cair Tahun 2016
Jenis bahan kimia jml Harga satuan (Rp) Kebutuhan 1 tahun (Rp)
Tawas 1 kg 9.009,- 108.112,-

Kapur 1 kg

13.514,-

162.167,-

Kuriflok 1 kg 56.308,- 675.697,NaOH 1 kg 22.523 270.279,H2SO4 1 lt 9.009 108.112,Jumlah 110.364,-

1.324.367,-

Kegiatan Umum Usaha


Kegiatan umum usaha meliputi alat tulis kantor, biaya sewa bangunan, biaya
transportasi dan sebagainya. Rincian kebutuhan biaya umum rencana usaha
penyamakan kulit kelinci ini dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Kebutuhan Biaya Umum Usaha Tahun 2016
Keterangan Kebutuhan/bulan (Rp) Kebutuhan/tahun (Rp)
Alat Tulis Kantor 25.000,-

300.000,-

Biaya sewa gedung 833.333,-

10.000.000,-

Biaya transportasi 120.000,-

1.440.000,-

Pulsa handphone &internet 100.000,Perawatan bangunan, peralatan &


Biaya pengolahan limbah

1.200.000,-

kendaraan

200.000,-

110.364,- 1.324.367,-

Total Biaya Usaha 1.388.333,- 16.664.367,-

BAB V
ASPEK ORGANISASI DAN MANAJEMEN

2.400.000,-

Bentuk Usaha dan Struktur Organisasi


Profil dan Bentuk Usaha
Profil usaha yang akan didirikan dari rencana usaha penyamakan kulit kelinci adalah
sebagai berikut.
Nama perusahaan : Prima Leather
Alamat : Ds. Bandelan Kec. Taman, Kab. Pemalang
Badan usaha : Perseorangan
Tahun berdiri : 2016
Kegiatan usaha : Penyamakan kulit kelinci samak bulu (fur)
Nama pemilik : Khurriyatul Khasanah
Merek : Furli
No Hand phone : 089 667 152 481
Email : FurliLeather@gmail.com
Facebook : Prima Leather
Twitter : @Prima Leather
Bentuk usaha atau badan usaha yang dipilih adalah bentuk/badan usaha
perseorangan dimana badan usaha tersebut dibentuk, didirikan dan dijalankan oleh
perseorangan dan modalnya berasal dari satu orang. Perusahaan perseorangan
adalah suatu bentuk badan hukum yang kepemilikan badan usahanya dimiliki oleh
satu orang. Individu itu juga yang
bertanggung jawab penuh atas kegiatan dan resiko perusahaan. Seseorang dapat
membuat badan usaha perseorangan dengan proses perijinan yang mudah dan tata
caranya juga relatif sederhana.
Bentuk usaha perseorangan tersebut dipilih dengan pertimbangan antara lain
sebagai berikut :
Kegiatan usahanya yang relatif sedikit dan masih sangat sederhana maka
diperlukan adanya manajemen yang bersifat lebih fleksibel. Kendali penuh
perusahaan hanya dipegang oleh satu orang pimpinan yaitu pemilik usaha.
Relatif mudah mendirikan dan membubarkannya.
Tidak perlu berbadan hukum.
Biaya operasionalnya rendah.
Rahasia perusahaan terjamin.
Seluruh keuntungan menjadi hak pemilik usaha.

Namun dari kelebihan bentuk badan usaha perseorangan tersebut masih terdapat
beberapa kukarangan atau keterbatasan antara lain :
Apabila kekayaan perusahaan tidak dapat menutupi hutang perusahaan, maka
kekayaan pribadi menjadi jaminan untuk melunasi kekurangan pembayaran hutang
perusahaan.
Kendali perusahaan berada di tangan satu orang yaitu pimpinan, maka pada
umumnya kemampuan investasi terbatas sehingga besar atau luas usaha juga
terbatas.
Jika ditemukan hubungan yang merugikan dan melawan hukum dengan pihakpihak lain di luar perusahaan baik yang dilakukan pengusaha atau para tenaga
kerjanya yang mengatas namakan perusahaan, maka itu semua menjadi tanggung
jawab pengusaha seorang diri.
Struktur Organisasi
Perusahaan kecil pada umumnya, selain memiliki kendali dan tanggung jawab
penuh atas perusahaan, pemilik usaha biasanya juga memiliki peran manajerial
yang lebih dari satu. Begitu pula pada rencana usaha ini dimana pemilik usaha
memiliki peran manajerial yang lebih dari satu yaitu dalam bidang keuangan,
produksi maupun sumber daya manusia. Secara garis besar struktur organisasi
perusahaan penyamakan kulit kelinci dapat digambarkan sebagai berikut :

Masing-masing bagian dalam struktur organisasi tersebut memiliki peran dan fungsi
sebagai berikut :

Pemimpin / Pemilik Usaha


Bertanggung jawab atas semua kegiatan produksi maupun kegiatan pengelolaan
usaha.
Bertanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan perusahaan.
Membuat program kerja.

Mengkoordinasi pekerjaan yang ada di perusahaan.


Mengambil keputusan atas setiap kegiatan di dalam perusahaan.
Membuat perencanaan untuk setiap kegiatan di dalam perusahaan.
Memberikan motivasi kepada staff dan tenaga kerjanya.
Mengawasi dan mengarahkan para tenaga kerja.
Bagian Administrasi dan Keuangan
Melakukan pencatatan keuangan dalam perusahaan
Melakukan pencatatan mengenai berapa banyak bahan baku yang terpakai dan
jumlah produk yang laku terjual.
Menganggarkan biaya-biaya untuk setiap divisi di perusahaan.
Bertanggung jawab atas perputaran dan penggunaan uang dalam perusahaan.
Bagian Pemasaran
Memberikan rekomendasi program pemasaran.
Bertanggung jawab atas semua pencatatan transaksi perusahaan.
Bertanggung jawab atas pelaksanaan program pemasaran dan penjualan.
Bertanggung jawab atas kelancaran distribusi produk.
Menentukan strategi perusahaan dalam memasarkan produknya.
Bagian Produksi
Bertanggung jawab terhadap pengadaan bahan baku dan hasil produksinya.
Menentukan kuantitas dan kualitas produksi.
Mengawasi jalannya proses produksi.
Mengelola limbah yang dihasilkan.

Pengurusan Perijinan
Perijinan usaha sangat penting bagi keberadaan perusahaan dalam menjalankan
kegiatan usahanya, karena dengan begitu perusahaan telah terdaftar
keberadaannya dan akan lebih mudah untuk mendapatkan dukungan dari pihakpihak terkait khususnya instansi pemerintah dan lembaga keuangan. Selain itu
dengan memiliki ijin usaha, usaha yang dijalankan akan mendapat perlindungan
badan hukum. Adapun rincian perijinan tersebut dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Biaya Perijinan Usaha
No Jenis Perijinan Biaya Pengurusan (Rp)

1 Tanda Daftar Perusahaan 2 Izin Gangguan (HO) 300.000,3 Surat Izin Usaha Perdagangan 4 Nomor Pokok Wajib Pajak Jumlah 300.000,-

Kebutuhan SDM dan Sistem Kompensasi


Sumber daya manusia dalam perusahaan merupakan salah satu faktor internal
yang sangat menentukan kelancaran kinerja dan pertumbuhan perusahaan.
Kebutuhan SDM harus disesuaikan dengan kapasitas perusahaan dan sistem
perekrutan yang tepat supaya setiap kegiatan dalam perusahaan berjalan lancar,
maka diperlukan staff yang memang memiliki kemampuan pada bidangnya.
Perusahaan Prima Leather ini hanya merekrut 1 orang untuk ditempatkan dalam
fungsi manajerial perusahaan yaitu bagian pemasaran dan 2 orang dibagian
produksi. Sedangkan untuk bagian keuangan akan ditangani sendiri oleh pemilik
usaha. Tenaga kerja tersebut akan direkrut dari daerah sekitar lokasi usaha,
sehingga masyarakat sekitar dapat merasakan manfaat secara langsung.
Kriteria utama perekrutan tenaga pemasaran tersebut antara lain sebagai berikut :
Minimal lulusan SMA atau sederajat.
Usia maksimal 30 tahun.
Bisa mengoperasikan komputer khususnya Ms. Word, Ms. Excel dan internet.
Menyukai social media (Facebook dan Twitter).
Ramah dan komunikatif.
Berwawasan.
Jujur dan pekerja keras.
Memiliki SIM C
Sedangkan kriteria bagian produksi yang dibutuhkan antara lain :
Minimal lulusan SMA atau sederajat.
Usia maksimal 45 tahun.
Pekerja keras.
Mempunyai loyalitas yang tinggi.
Mau belajar terus menerus.

Kompensasi merupakan hal yang sangat penting bagi karyawan sebagai individu
karena besarnya kompensasi mencerminkan ukuran nilai karya mereka diantara
para karyawan itu sendiri, keluarga dan kehidupannya. Kompensasi juga relatif
menunjukkan status, martabat dan harga mereka. Oleh karena itu, bila para
karyawan memandang kompensasi mereka tidak memadai, prestasi kerja, motivasi
dan kepuasan kerja mereka bisa turun secara drastis.
Tenaga borongan pembuatan tas di IKM kerajinan kulit di Kabupaten Pemalang,
biaya untuk pembuatan satu tas sebesar Rp 40.000,-. Hal ini sesuai dengan hasil
survey, rata-rata biaya pembuatan tas kulit kelinci di Yogyakarta.
Berdasarkan persyaratan, fungsi, tanggung jawab dan tingkat kesulitan pekerjaan,
maka kompensasi yang diberikanpun sedikit berbeda antara bagian. Besarnya
kompensasi tersebut dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Sistem Kompensasi Tenaga Kerja
Jabatan Upah/Bulan (Rp) Upah/Tahun (Rp)
Pimpinan

1.200.000,-

14.400.000,-

Bag. pemasaran 1.000.000,-

12.000.000,-

Bag. produksi (2 orang) 850.000,Tenaga borongan

20.400.000,-

8.000.000,-

96.000.000,-

Jumlah 11.050.000,- 142.800.000,-

Kebutuhan Inventaris dan Alat Tulis Kantor


Kegiatan operasional serta manajemen usaha supaya bisa berjalan dengan baik,
perlu adanya kegiatan administrasi yang baik. Oleh karena itu, perlu adanya
investasi pada inventaris dan alat tulis kantor untuk menunjang kegiatan
administrasi tersebut. Adapun kebutuhan inventaris dan alat tulis kantor pada
rencana usaha penyamakan kulit kelinci ini dapat dilihat pada Tabel 23 dan Tabel
24.
Tabel 23. Kebutuhan Inventaris Kantor Tahun 2015
No Nama Peralatan Jml Sat Harga Satuan (Rp) Total (Rp)
1 Meja dan kursi 1 set

1.082.432,-

1.082.432,-

2 Komputer 1 set

1.623.648,-

1.623.648,-

3 Printer 1 set

541.216,-

541.216,-

4 Kalkulator 1 buah
5 Kipas Angin 1 buah
6 Peralatan Kebersihan 1 set

162.365,324.730,108.243,-

162.365,324.730,108.243,-

7 Handphone 1 buah

216.486,-

8 Lemari etalasi/penyimpanan 1 buah


1.082.432,9 Lemari file 1 buah
Jumlah Biaya

216.486,1.082.432,-

811.824,-

811.824,-

5.953.377,-

Tabel 24. Kebutuhan Alat Tulis Kantor


No Jenis Biaya Biaya per Tahun (Rp)
1 Alat tulis 30.000,2 Buku, faktur, kop surat, amplop, HVS 240.000,3 Map 30.000,Total 300.000,-

Harga peralatan inventaris kantor dan kebutuhan alat tulis kantor sudah merupakan
harga untuk tahun 2015. Harga tersebut berasal dari harga tahun 2013 yang sudah
diproyeksikan ke tahun 2015, diasumsikan kenaikan harga sebanding dengan
tingkat inflasi Kabupaten Pemalang yaitu 4,04%.
Kegiatan Pra Operasi dan Jadwal Pelaksanaan
Kegiatan pra operasi dilakukan sebagai langkah awal perusahaan dalam melakukan
peninjauan awal terhadap hal-hal yang dapat menunjang berdirinya suatu usaha.
Tabel 25 merupakan rincian kegiatan yang dilakukan sebagai tahap awal dalam
perencanaan pendirian usaha.
Tabel 25. Kebutuhan Pra Operasi dan Jadwal Pelaksanaan
No Jenis Kegiatan Praoperasi Jadwal Pelaksaan (Tahun 2015)
Oktober November Desember
1234123412345
1 Survey pasar
2 Survey tempat usaha
3 Survey mesin dan peralatan
4 Perijinan
5 Pemasangan sarana penunjang
6 Uji coba produksi & pelatihan

7 Rekruitmen
8 Operasional

Kegiatan operasional dan launching produk secara keseluruhan diasumsikan akan


mulai berjalan pada awal bulan pertama Tahun 2016.

BAB VI
ASPEK KEUANGAN DAN KELAYAKAN USAHA

Jumlah dan Struktur Permodalan


Permodalan merupakan elemen utama yang sangat penting dalam mendirikan
suatu usaha, baik sebelum kegiatan usaha dimulai maupun ketika perusahaan mulai
beroperasi. Sebelum memulai usaha penyamakan kulit kelinci, dilakukan kegiatan
pra operasi yang meliputi investasi harta tak berwujud dan kegiatan uji coba
produksi serta pelatihan.
Tabel 26. Investasi Harta Tak Berwujud
No. Jenis Invsetasi Perkiraan Biaya (Rp)
1. Perijinan

300.000,-

2. Pemasangan sarana penunjang

500.000,-

3. Pelatihan dan uji coba poduksi 1.000.000,Total investasi harta tak berwujud 1.800.000,-

Usaha penyamakan kulit kelinci ini nantinya belum menggunakan tanah dan
bangunan milik sendiri, melainkan menyewa bangunan dengan biaya sewa Rp
10.000.000,- per tahun pertama dengan kenaikan 4,04% per tahun sesuai dengan
laju inflasi Kabupaten Pemalang, sedangkan untuk investasi harta tetap yang
digunakan untuk rencana usaha ini dapat dilihat pada Tabel 27.

Tabel 27. Investasi Peralatan


No. Jenis Investasi Perkiraan Biaya (Rp)
1. Mesin dan Peralatan 30.600.357,2. Inventaris Kantor

5.953.377,-

3. Kendaraan

8.659.457,-

Total 45.213.191,-

Jumlah biaya investasi adalah sebesar Rp 45.213.191,- diluar sewa bangunan. Biaya
tersebut sudah merupakan biaya yang sudah diproyeksikan dari tahun 2013 ke
tahun 2015. Hal ini dikarenakan untuk pembelian peralatan dilakukan pada tahun
pra opersi yaitu tahun 2015 (kenaikan harga peralatan diasumsikan sesuai dengan
laju inflasi Kabupaten Pemalang yaitu 4,04%).
Total biaya produksi tahun pertama yaitu sebesar Rp 53.307.574,- dan total biaya
usaha yang dibutuhkan sebesar Rp 159.464.367,- sehingga total biaya operasional
yang dibutuhkan yaitu total biaya produksi ditambah total biaya usaha yaitu
sebesar Rp 212.771.941,-. Besarnya jumlah modal kerja perusahaan ini adalah
sebesar Rp 35.461.990,- atau 1/6 dari jumlah biaya operasional, dengan
pertimbangan bahwa usaha penyamakan kulit kelinci ini memiliki siklus perputaran
modal setiap 2 bulan sekali.
Secara lebih rinci untuk kebutuhan modal kerja pada tahun pertama operasi 2016,
untuk usaha penyamakan kulit kelinci ini dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28. Biaya Operasional dan Kebutuhan Modal Kerja Tahun 2016
BIAYA OPERASIONAL
KETERANGAN Biaya /tahun (Rp)
A.Biaya produksi
Kulit kelinci

16.216.739,-

Bahan penolong
Gas LPG 3kg
pH stik

31.856.432,54.056,-

450.465,-

Kemasan

2.702.790,-

Listrik & air

2.027.092,-

Total Biaya Produksi

53.307.574,-

B. Biaya Usaha
Gaji pimpinan

14.400.000,-

Gaji bag pemasaran

12.000.000,-

Gaji Tenaga Kerja @ 2 orang

20.400.000,-

Jasa penjahitan tas 96.000.000,Alat tulis kantor

300.000,-

Biaya sewa gedung

10.000.000,-

Biaya transportasi

1.440.000,-

Pulsa handphone dan internet

1.200.000,-

Perawatan bangunan, peralatan dan kendaraan 2.400.000,Biaya pengolahan limbah 1.324.367,Total Biaya Usaha 159.464.367,TOTAL BIAYA OPERASIONAL 212.771.941,Kebutuhan modal kerja 2 bulan 35.461.990,-

Sedangkan untuk total aktiva tetap usaha penyamakan kulit kelinci ini sebesar Rp
45.213.191,- dan total aktiva tak berwujud sebesar Rp 1.800.000,-, sehingga total
investasi keseluruhan yaitu total aktiva tetap ditambah total aktiva tak berwujud
yaitu Rp 47.013.191,-. Total biaya proyek yang merupakan jumlah dari total
investasi dan modal kerja yaitu sebesar Rp 82.475.181,-. Rincian biaya proyek
usaha penyamakan kulit kelinci ini dapat dilihat pada Tabel 29.
Tabel 29. Total Biaya Proyek
Keterangan Total (Rp) Sumber Pembiayaan (Rp)
Aktiva tetap Modal sendiri Kredit
1 Mesin dan peratalan 30.600.357,- 30.600.357,- 2 Inventaris kantor 5.953.377,- 5.953.377,- 3 Kendaraan 8.659.457,- 8.659.457,- Total aktiva tetap 45.213.191,- 45.213.191,-

Aktiva tak berwujud


1 Perijinan

300.000,- 300.000,- -

2 Pemasangan sarana penunjang 500.000,- 500.000,3 Pelatihan dan uji coba poduksi
Total aktiva tak berwujud

1.000.000,-

1.800.000,-

1.000.000,- -

1.800.000,- -

Total biaya investasi 47.013.191,- 47.013.191,Modal Kerja 35.461.990,- 10.461.990,- 25.000.000,Total Biaya Proyek 82.475.181,- 57.475.181,- 25.000.000,100,00% 69,69% 30,31%

Pembiayaan proyek tersebut akan didapat dari modal pinjaman sebesar kurang
lebih 30% yaitu Rp 25.000.000,- dan modal sendiri sebesar kurang lebih 70% yaitu
Rp 57.475.181,-. Pertimbangan pengambilan besarnya persentase pembiayaan
modal tersebut adalah berdasarkan anggapan bahwa pembelanjaan yang sehat itu
pertama-tama harus dibangun atas dasar modal sendiri, yaitu modal yang tahan
resiko, maka aturan finansiil tersebut menetapkan bahwa besarnya modal asing
dalam keadaan bagaimanapun juga tidak boleh melebihi besarnya modal sendiri.
Koefisien utang, yaitu perbandingan antara jumlah modal asing dan modal sendiri
tidak boleh melebihi 1 : 1. Setiap perluasan basis modal sendiri akan memperbesar
kemampuan perusahaan dalam menanggung resiko usaha perusahaan yang akan
dibelanjainya. Pandangan ini adalah terutama didasarkan pada prinsip keamanan,
dimana hal ini akan memberikan pengaruh yang baik terhadap kreditur maupun
terhadap perusahaan sendiri.
Sumber pembiayaan modal asing tersebut didapat dari kredit modal kerja dari
Kredit Usaha Rakyat (KUR). Syarat-syarat dan ketentuan pengajuan KUR adalah
sebagai berikut :
Plafon maksimum Rp. 500 juta.
Suku bunga 12% per tahun.
Angsuran tergantung pengmbilan berapa tahun.
Jaminan utama adalah proyek yang dibiayai.
Calon debitur tidak tercatat sebagai debitur macet/bermasalah atau tidak termasuk
dalam daftar hitam Bank Indonesia.
Mempunyai izin usaha SIUP, TDP, NPWP .
Fotokopi KTP, KK, surat nikah.
Fotocopi PBB tahun terakhir.

Fotocopi sertifikat agunan.


Cara pembayaran angsuran adalah dengan sistem bunga menurun (faktor pengali
bunga adalah sisa pinjaman). Selengkapnya biaya angsuran setiap tahunya dapat
dilihat pada Tabel 30.
Tabel 30. Biaya Kumulatif Angsuran Pinjaman Per Tahun
Tahun Angsuran (Rp) Nilai Bunga 12% (Rp) Sisa Pinjaman (Rp)
1. 8.333.333,33 3.000.000,00 16.666.666,67
2. 8.333.333,33 2.000.000,00 8.333.333,33
3. 8.333.333,33 1.000.000,00 -

Analisis Proyeksi Keuangan


Analisis proyeksi keuangan adalah kegiatan untuk mengevaluasi kemampuan
proyek dalam memenuhi kewajiban finansial dan mendatangkan keuntungan bagi
perusahaan. Susunan proyeksi dalam analisis keuangan terangkum dalam tiga
macam daftar keuangan yaitu proyeksi arus kas, proyeksi laba rugi dan proyeksi
neraca.
Proyeksi Arus Kas
Laporan arus kas adalah laporan yang memberikan informasi tentang mutasi atau
perubahan dari pada kas selama periode tertentu dengan menunjukkan sumbersumber pengeluaran kas.
Selama lima tahun kegiatan usaha penyamakan kulit kelinci secara keseluruhan,
arus kas berada pada nilai positif. Saldo kas akhir pada periode praoperasi sebesar
Rp 35.461.990,- dan akan terus meningkat hingga akhir tahun kelima sebesar Rp
250.690.694,-. Besarnya saldo kas akhir rencana usaha penyamakan kulit kelinci ini
terus mangalami peningkatan setiap tahunnya. Hal tersebut bisa terjadi dengan
asumsi bahwa selama masa proyek lima tahun tersebut perusahaan tidak
melakukan investasi lagi dan saldo akhir dari setiap tahunnya terus disimpan
hingga akhir masa proyek.
Peningkatan tersebut juga merupakan efek dari adanya kenaikan rencana produksi
dan rencana pejualan sebesar 5,13% setiap tahunnya serta karena adanya kenaikan
harga jual untuk mengimbangi inflasi yang terjadi setiap tahunnya sebesar 4,04%.
Proyeksi arus kas selanjutnya dapat dilihat pada Lampiran 1.
Proyeksi Laba Rugi
Tingkat keuntungan (profitability) dari usaha yang dilaksanakan merupakan bagian
yang sangat penting dalam analisis keuangan dari rencana kegiatan investasi.

Keuntungan dihitung berdasarkan selisih antara penerimaan dan pengeluaran tiap


tahunnya.
Selama lima tahun operasi, laba yang didapat oleh perusahaan Prima Leather terus
mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa faktor
utama yang mempengaruhi perubahan laba tersebut antara lain :
Tingkat inflasi diasumsikan 4,04% setiap tahun (ILPPD Kabupaten Pemalang tahun
2012).
Hasil penjualan terus meningkat setiap tahun karena adanya kenaikan rencana
produksi dan rencana penjualan sebesar 5,13% setiap tahunnya dan kenaikan harga
jual produk sebesar 4,04% per tahun. Kenaikan harga jual produk tersebut dihitung
berdasarkan asumsi untuk mengantisipasi kenaikan biaya produksi seiring dengan
kenaikan tingkat inflasi.
Biaya produksi mengalami peningkatan sebesar 9,17% setiap tahun dengan asumsi
adanya kenaikan rencana produksi sebesar 5,13% dan kenaikan harga bahan baku
dan bahan penolong sebesar 4,04% setiap tahunnya.
Gaji tenaga kerja dan biaya umum usaha akan mengalami kenaikan 4,04% per
tahun.
Penyusutan menggunakan metode garis lurus tanpa ada nilai sisa, seperti dapat
dilihat pada Tabel 31 dan Tabel 32.
Tabel 31. Biaya Penyusutan dan Amortisasi
Harta Tetap Harta Perolehan Umur Ekonomis Penyusutan/
Amortisasi
Mesin & peralatan 30.600.357,- 5 6.120.071,Inventaris kantor
Kendaraan

5.953.377,- 5
8.659.457,- 5

1.190.675,1.731.891,-

Jumlah penyusutan 9.042.638,Total harta tak berwujud

1.800.000,- 5 360.000,-

Umur ekonomis untuk semua harta tetap yaitu selama 5 tahun dan disusutkan
dengan metode garis lurus tanpa nilai sisa. Sehingga prosentase penyusutannya
100% : 5 = 20%. Tabel 32 menunjukkan akumulasi penyusutan dan amortisasi
dengan prosentase penyusutan 20%.
Tabel 32. Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Tiap Tahun
Tahun Penyusutan Praoperasi (Rp) 2016
20% (Rp) 2017

20% (Rp) 2018


20% (Rp) 2019
20% (Rp) 2020
20% (Rp)
Total Harta Tetap 45.213.191,9.042.638,- 9.042.638,-

9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,-

Akumulasi Penyusutan
9.042.638,36.170.553,- 45.213.191,Total harta Takberwujud
1.800.000,360.000,- 360.000,- 360.000,Akumulasi Amortisasi
1.080.000,1.440.000,-

18.085.277,- 27.127.915,360.000,- 360.000,-

360.000,1.800.000,-

720.000,-

Kredit modal kerja diangsur selama tiga tahun dengan suku bunga 12% dengan
pola pembayaran bunga menurun.
Bagi wajib pajak orang pribadi dan badan yang menerima penghasilan dari usaha
dengan peredaran bruto (omzet) tidak melebihi Rp 4.800.000.000,- (empat miliar
delapan ratus juta rupiah) dalam satu tahun pajak, akan dikenai pajak dengan tarif
pajak penghasilan (PPh) sebesar 1%. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013 tentang PPh atas penghasilan dari usaha
yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu,
yang terbit tanggal 12 Juni 2013 dan mulai berlaku sejak 1 Juli 2013.
Selengkapnya laporan laba rugi dapat dilihat pada Lampiran 2.
Proyeksi Neraca
Neraca adalah laporan yang menunjukkan posisi keuangan yang meliputi aktiva,
hutang dan modal sendiri dari suatu perusahaan pada periode tertentu. Selama 5
tahun kegiatan usaha berjalan, secara keseluruhan perusahaan terus mengalami
peningkatan aset yang disumbangkan dari kas perusahaan. Nilai harta tetap di luar
tanah dan bangunan, terus mengalami penurunan karena faktor penyusutan.
Sementara itu, posisi hutang perusahaan juga terus mengalami penurunan, karena
pembayaran angsuran pokok. Proyeksi neraca dapat dilihat pada Lampiran 3.
Berdasarkan proyeksi neraca, dapat dihitung beberapa rasio keuangan yang dapat
menggambarkan kemampuan proyek untuk memenuhi kewajiban finansialnya, baik
jangka panjang maupun jangka pendek. Beberapa hasil perhitungan rasio keuangan
berdasarkan proyeksi neraca dapat dilihat pada Tabel 33.

Tabel 33. Rasio Keuangan Perusahaan Penyamakan Kulit Kelinci


Keterangan 2016 2017 2018 2019 2020
Solvabilitas
Total aktiva / total hutang 5,19 12,27 ~~ ~~ ~~
Rentabilitas
Laba usaha/total modal 20,81% 40,08% 67,34% 91,45% 118,49%
Rentabilitas modal sendiri
Laba setelah pajak /modal sendiri 21,40% 41,99% 64,95% 90,54% 117,30%
Profitabilitas
Ratio laba kotor
Laba kotor / penjualan 77,79% 77,83% 77,87% 77,91% 77,96%
Ratio laba bersih
Laba setelah pajak / penjualan 5,13% 9,19% 13,00% 16,57% 19,63%
Total asset turn over
(Penjualan / total aktiva) x 1 kali 2,78 2,57 2,19 1,71 1,37
Return of Invesment
(Laba bersih/total aset)x100% 14,23% 23,60% 28,44% 28,39% 26,89%

Berikut ini penjelasan untuk masing-masing rasio dan besarnnya rasio tahun 2016:
Solvabilitas yaitu kemampuan perusahaan atau badan usaha untuk memenuhi
seluruh kewajiban finansialnya, apabila perusahaan atau badan usaha yang
bersangkutan dinyatakan pailit atau dilikuidasi.
Solvabilitas = (total aktiva)/(total hutang)
= 86.443.015/16.666.667
= 5,19
Solvabilitas 5,19 artinya hutang perusahaan sebesar 1 , dijamin dengan 5,07 total
asset yang dimiliki.
Rentabilitas adalah perbandingan antara laba dengan aktiva (modal) yang
dimanfaatkan untuk menghasilkan laba tersebut.

Rentabilitas = (laba usaha)/(total modal)


Ditinjau dari struktur modal kerja atau modal usaha, maka rentabilitas dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu :
Rentabilitas modal sendiri yaitu rentabilitas hanya diperhitungkan terhadap modal
sendiri.
Rentabilitas = (laba setelah pajak)/(modal sendiri)
= 12.301.167/57.475.181 x100%
= 21,40 %
Rentabilitas ekonomi yaitu rentabilitas diperhitungkan terhadap keseluruhan modal
kerja (modal sendiri + penyertaan modal lain).
Rentabilitas = (laba usaha)/(total modal)
= 15.425.421/74.141.848 x 100%
= 20,81 %
Rasio laba kotor yaitu perbandingan antara laba kotor dengan penjualan.
Rasio laba kotor = (laba kotor )/penjualan
= (186.692.426)/(240.000.000) x100%
= 77,79%
Rasio laba bersih yaitu perbandingan antara laba setelah pajak dengan penjualan.
Rasio laba bersih = (laba setelah pajak )/penjualan
= 12.301.167/(240.000.000) x100%
= 5,13 %
Total asset turover
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang
ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Caranya adalah
membandingkan antara penjualan bersih dengan aktiva tetap dan biasanya rasio ini
dinyatakan dengan desimal. Rumus untuk mencari fixed assets turn over dapat
digunakan sebagai berikut :
Total assets turn over =sales/(total asset)
= 240.000.000/86.443.015
= 2,78
Return of Invesment
Return of Investment merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah
aktiva yang digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi

manajemen. Rasio ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikannya
dengan mengabaikan sumber pendanaan dan biasanya rasio ini diukur dengan
persentase. Rasio ini menunjukkan produktifitas dari seluruh dana perusahan baik
modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil (rendah) rasio ini semakin
tidak baik, demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur
efektifitas dari keseluruhan operasi perusahaan. Rumus untuk mencari Return of
Investment dapat digunakan sebagai berikut :
ROI = (laba setelah pajak)/(total asset) x100%
= 12.301.167/86.443.015 X100%
= 14,23 %

Analisis Titik Impas


Analisis titik impas ( Break Event Point) adalah suatu teknik analisis untuk
mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuangan dan volume
kegiatan. Analisis BEP diperlukan untuk mengetahui tingkat penjualan produk yang
dapat menutupi semua biaya yang dikeluarkan, baik biaya tetap maupun biaya
variabel. Analisis BEP dapat dilihat pada Tabel 34. Perhitungan analisis titik impas
adalah sebagai berikut:
BEP Penjualan (Rp)
penjualan

=(Total biaya usaha & penyusutan)/(laba kotor) x hasil

BEP Penjualan (%)

=(BEP Penjualan)/(Hasil Penjualan) x 100%

BEP Penjualan (unit) = (BEP Penjualan)/(Harga per unit)


Contoh perhitungan BEP perusahaan Prima Leather tahun 2016 :
BEP Penjualan (Rp)

=171.267.005/186.692.426 x 240.000.000 = 220.170.052

BEP Penjualan (%)

=220.170.052/240.000.000 x 100% = 91,74

BEP Penjualan (unit) = 220.170.052/100.000

= 2.202

Tabel 34. Proyeksi Analisa Break Event Point (BEP)


Tahun 2016 2017 2018 2019 2010
BEP ( Rp ) 220.170.052,- 228.617.567,- 237.417.521,- 246.585.406,256.137.466,BEP ( % ) 91,74 87,09 82,69 78,52 74,57
BEP ( Unit ) 2.202 2.197 2.193 2.190 2.186

Analisis Kelayakan Usaha


Analisis kelayakan usaha atau disebut juga feasibility study adalah kegiatan utama
menilai sejauh mana manfaat yang diperoleh dalam melaksanakan suatu kegiatan
usaha. Hasil analisis ini digunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil
keputusan, apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha.
Net Present Value (NPV)
NPV merupakan manfaat yang diperoleh dalam jangka waktu analisis yang ditarik
pada nilai uang saat ini. NPV atau nilai bersih sekarang adalah perbandingan antara
PV kas bersih (PV of proceed) dengan PV investasi (capital outlays) selama umur
investasi. Selisih antara nilai kedua PV adalah Net Present Value (NPV). Tabel 35.
Menunjukkan perhitungan nilai NPV dengan discount factor 12 %.
Rumus :
NPV = (Aliran kas bersih tahun pertama x df1) + (Aliran kas bersih tahun kedua x
df2) + (Aliran kas bersih tahun ketiga x df3) + .......... Investasi
Keterangan : df = discount factor

Tabel 35. Net Present Value (NPV) 1


Tahun Net Benefit (Rp) DF(i=12%) Present Value (Rp)
2016 21.703.805,- 0,89286

19.378.397,-

2017 33.533.994,- 0,79719 26.733.095,2018 46.731.131,- 0,71178

33.262.296,-

2019 61.438.071,- 0,63552 39.045.005,2020 76.821.703,- 0,56743 43.590.697,PV dari Proceeds

162.009.490,-

PV dari Investasi

47.013.191,-

NPV

114.996.299,-

NPV = PV dari Proceeds - PV dari Investasi


= 162.009.490 - 47.013.191
= 114.996.299
Hasil perhitungan di atas menunjukan bahwa nilai NPV yang dihasilkan adalah
sebesar Rp 114.996.299,-. Menurut Husein (2009), kriteria penilaian NPV :

Jika NPV > 0, maka usulan proyek diterima


Jika NPV < 0, maka usulan proyek ditolak
jadi bisa dikatakan bahwa investasi usaha penyamakan kulit kelinci ini layak.
Internal Rate of Return (IRR)
IRR merupakan suatu ukuran yang mencerminkan manfaat proyek dibanding
dengan tingkat suku bunga. Jika nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang
digunakan saat ini, maka proyek yang bersangkutan layak untuk dijalankan.
Perhitungan IRR dapat dilihat pada Tabel 36.

Tabel 36. Net Present Value (NPV) 2


Tahun Net Benefit (Rp) DF(i=70%) Present Value (Rp)
2016 21.703.805,- 0,58824

12.766.944,-

2017 33.533.994,- 0,34602 11.603.458,2018 46.731.131,- 0,20354

9.511.730,-

2019 61.438.071,- 0,11973

7.356.003,-

2020 76.821.703,- 0,07043

5.410.524,-

PV dari Proceeds
PV dari Investasi
NPV 2

46.648.659,47.013.191,-

(364.532)

Adapun formula perhitungan IRR adalah sebagai berikut :


IRR = I1+(NPV1/(NPV1-NPV2))x(I2-I1)
IRR = 0,12+(114.996.299/( 114.996.299- (-364.532)))x(0,70-0,12)
IRR = 0,6982
= 69,82 %
Menurut Kasmir dan Jakfar (2010), jika IRR lebih besar dari bunga pinjaman maka
proyek diterima tetapi jika IRR lebih kecil dari bunga pinjaman maka proyek ditolak.
Nilai dari hasil perhitungan IRR usaha penyamakan kulit kelinci adalah 69,82% lebih
besar dari pada besarnya bunga pinjaman 12%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
rencana usaha ini sangat layak untuk dilaksanakan.

Net B/C
Net B/C merupakan perbandingan antara net benefit yang telah di discount positif
(+) dengan net benefit yang telah di discount negatif (-). Jika Net B/C lebih dari 1,
berarti gagasan usaha atau proyek usaha tersebut layak untuk dijalankan. Jika Net
B/C sama dengan 1 berarti cash in flows sama dengan cash out flows, dalam
present value disebut dengan BEP, yaitu total cost sama dengan total revenue. Net
B/C dapat dicari dengan formula sebagai berikut :
Net B/C = (Jumlah Net Benefit Positif)/(Jumlah Net Benefit Negatif)
Net B/C = 162.996.299/47.013.191
Net B/C = 3,45
Menurut Kasmir dan Jakfar (2010), jika Net B/C > 1 usaha diterima dan jika Net B/C
< 1 maka usaha ditolak (tidak layak). Berdasarkan hasil perhitungan, nilai Net B/C
sebesar 3,45. Maka dapat disimpulkan bahwa usaha penyamakan kulit kelinci ini
layak.
Payback Period (PP)
Payback Period merupakan ukuran untuk melihat jangka waktu yang dibutuhkan
agar dana yang diinvestasikan kembali. Perhitungan PP usaha penyamakan kulit
kelinci dapat dilihat pada Tabel 37.

Tabel 37. Payback Period


Jml Investasi (Rp) 47.013.191,Proceeds 1

(Rp) 19.378.397,-

Sisa

(Rp) 27.634.794,-

Proceeds 2

(Rp) 26.733.095,-

Sisa

(Rp) 901.699,-

Proceeds 3

(Rp) 33.262.296,-

Sisa/proceeds 3 x360 hr 9,8 hari

Penjelasan perhitungan payback periode :


Investasi = 47.013.191
Kas bersih tahun 1 = 19.378.397

Sisa = 27.634.794
Kas bersih tahun 2 = 26.733.095
Sisa = 901.699
Karena sisa tidak dapat dikurangi proceed tahun ketiga, maka sisa proceed tahun
kedua dibagi proceed tahun ketiga, yaitu :
PP = 901.699/33.262.296 x 360 hari = 9,8 hari
Berdasarkan perhitungan diatas, dapat diketahui Payback Period recana usaha ini
adalah sekitar 2 tahun, 10 hari.
Berdasarkan analisis di atas, keempat alat analisis kelayakan usaha tersebut
menyatakan bahwa usaha penyamakan kulit kelinci samak bulu (fur) sebagai bahan
kerajinan tas ini layak untuk dijalankan.

Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas kelayakan usaha penting untuk dilakukan karena komponenkomponen biaya dan pendapatan yang ada pada cash flow didasarkan pada asumsiasumsi tertentu yang memungkinkan untuk terjadinya kesalahan. Untuk
mengurangi resiko ini, analisis sensitivitas digunakan untuk menguji tingkat
sensitivitas proyek terhadap perubahan harga beli maupun penjualan. Pola
pembiayaan ini digunakan 3 skenario sensitivitas, yaitu :
Sensitivitas penurunan penjualan tas kulit kelinci sebesar 5 %. Sensitivitas
penurunan penjualan dimungkinan karena penurunan jumlah permintaan sehingga
jumlah rencana penjualan dan kapasitas produksi harus diturunkan, sedangkan
biaya yang lain dianggap tetap atau konstan.
Sensitivitas peningkatan harga bahan baku dan biaya produksi lainnya sebesar
5%. Sensitivitas kenaikan harga bahan baku diasumsi bisa terjadi akibat pengaruh
faktor konsumsi daging kelinci yang membuat bahan baku berupa kulit kelinci
menjadi sulit didapat sehingga harganya menjadi naik.
Penurunan penjualan tas kulit kelinci 5 % dan peningkatan harga bahan baku serta
biaya produksi lainnya sebesar 5%.
Perhitungan analisis kelayakan terhadap semua skenario 1, 2, dan 3 untuk
mengetahui sensetivitas usaha penyamakan kulit kelinci dapat dilihat secara
lengkap pada Lampiran. Hasil perbandingan dari ketiga skenario diatas dapat dilihat
pada Tabel 38.

Tabel 38. Perbandingan Analisis Kelayakan Pada Sensitivitas

Keterangan Kondisi normal Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3


NPV (Rp) 114.996.299,- 75.586.575,- 103.796.735,-

53.167.449,-

IRR (%) 69,82 50,72 64,65 39,63


Net B/C 3,45 2,61 3,21 2,13
Payback Period 2 tahun, 10 hari 2 tahun, 8 bulan & 4 hari 2tahun, 2 bulan, 4 hari 3
tahun, 2 bulan, 15 hari

Dari hasil perhitungan sensitivitas berdasarkan keadaan normal dan tiga skenario,
dapat dilihat perubahan kelayakan. Pada kondisi normal, usaha Pengolahan
penyamakan kulit kelinci dilihat dari empat alat analisis yakni NPV, IRR, Net B/C,
dan PP dapat dinyatakan bahwa usaha penyamakan kulit kelinci layak dilaksanakan.
Pada ketiga skenario tersebut, keempat alat analisis kelayakan usaha menyatakan
bahwa usaha penyamakan kulit kelinci ini masih layak untuk dijalankan.

BAB VII
STRATEGI PENGEMBANGAN

Strategi Pengembangan Pemasaran


Analisis SWOT
Salah satu cara untuk menentukan strategi pemasaran yang tepat adalah dengan
manganalisis kondisi internal dan eksternal perusahaan terlebih dahulu untuk
mengetahui kekuatan dan peluang yang ada untuk dimanfaatkan dan untuk
mengantisipasi kelemahan dan ancaman yang akan datang. Berikut ini adalah
analisis mengenai kondisi internal dan eksternal perusahaan :
Tabel 39. Matrik SWOT Pengembangan Pemasaran
Internal

Eksternal S (Strength)
Kualitas produk menjadi prioritas.

Lokasi strategis (dekat dengan pasar dan bahan baku).


SDM bidang pemasaran yang terkualifikasi untuk menggunakan teknologi informasi
dan komunikasi.
W (Weaknes)
Merek baru belum dikenal masyarakat/pasar.
O (Opportunity)
Peluang pasar yang masih besar.
Tren pengguna media sosial yang terus berkembang.
Gaya hidup masyarakat sekarang terutama mengenai fashion yang semakin
berkembang pesat. Strategi SO
Menggunakan media jejaring sosial untuk promosi murah serta untuk berinteraksi
langsung dengan konsumen dan mejaga loyalitas konsumen.
Strategi WO
Menggunakan strategi pre launching untuk memperkenalkan produk.
T (Threat)
Munculnya pesaing baru
Munculnay usaha pembuatan produk bulu buatan yang harganya lebih murah.
Strategi ST
Menekankan pencitraan pada integritas perusahaan terhadap kualitas produk kulit
yang awet walaupun harganya sedikit lebih mahal. Strategi WT
Menggunakan strategi Co-Creation untuk menciptakan pengalaman dan Brand
Awareness pada konsumen.
Menanamkan nilai serta visi dan misi perusahaan kepada tenaga kerja.

Pemilihan Strategi
Pada awalnya, pemasaran hanya dilihat sebagai salah satu dari beberapa fungsi
penting yang mendukung produksi, begitu pula dengan keuangan dan sumber daya
manusia, dimana fungsi utama dari pemasaran adalah hanya untuk menciptakan
permintaan terhadap produk. Kemudian seiring dengan perkembangan zaman
setelah masuknya era teknologi informasi dan komunikasi, konsumen bisa dengan
lebih leluasa untuk mengakses informasi maupun berekspresi. Hal ini membuat
konsep pemasaran mulai meluas dimana untuk menciptakan permintaan tidak lagi
cukup hanya dengan membidik pikiran konsumen dengan model positioning klasik,
namun penting juga untuk membidik hati konsumen.

Oleh karena itu pada strategi pengembangan pemasaran kali ini, penulis akan
menggunakan strategi pemasaran yang mengacu pada konsep bauran pemasaran
4P dan analisis STP.
Manajemen bauran pemasaran / 4P (product, price, place, promotion)
Product
Produk furli merupakan produk tas yang berbahan baku dari kulit kelinci yang telah
melalui proses penyamakan dengan tetap mempertahankan bulunya. Kelebihan dari
produk ini yaitu keindahan dari bulu kelinci asli dan keawetan produk yang terjamin.
Produk tas ini cocok dipakai baik dalam acara formal maupun acara non formal.
Perusahaan akan memperhatikan kualitas dari kulit yang dihasilkan dan juga terus
melihat perkembangan fashion yang terjadi di masyarakat.
Price
Produk tas ini pada tahun pertama produksi akan dijual dengan harga Rp 100.000,dan tahun berikutnya meningkat sesuai dengan meningkatmya pedapatan ekonomi
masyarakat.
Place
Untuk membeli produk ini bisa langsung datang ke outletnya sendiri. Kami juga
akan menitipkan produk ini di toko wari yang beralamat di jl. A.Yani Pemalang yang
memang khusus menjual produk-produk kulit. Selain itu kami juga melayani
pemesanan secara online.
Promotion
Promosi atau pengenalan produk dilakukan dengan cara antara lain :
Promosi melalui media jejaring sosial facebook dan twitter.
Menyertakan informasi tentang keunggulan dari produk kulit kelinci ini
Manajemen Pelanggan / STP (Segmentation, Targeting, Positioning)
Segmentation
Variabel yang digunakan untuk membagi segmentasi pasar adalah variabel
geografis, strata ekonomi, usia dan gaya hidup.
Targeting
Konsumen yang menjadi sasaran utama adalah
Secara geografis: daerah Kabupaten Pemalang dan sekitarnya. Setelah usaha ini
berkembang maka pasar sasaran akan diperluas juga di kota-kota besar seperti
Bandung, Jakarta, Bali dan sebagainya.
Strata ekonomi : kalangan menengah keatas.
Usia : 18 50 tahun.

Target khusus : perempuan


Positioning
Positioning dari Prima Leather ini adalah sesuai dengan visi perusahaan yaitu
Menjadi perusahaan yang senantiasa menghasilkan produk kulit kelinci yang indah,
eksotik dan mewah dengan selalu memperhatikan kualitas.

Strategi Pengembangan Produksi


Untuk mendapatkann formulasi strategi pengembangan produk yang tepat, perlu
adanya analisis pada faktor-faktor yang berkaitan dengan faktor produksi. Salah
satunya adalah dengan menggunakan analisis SWOT. Berikut ini adalah analisis
SWOT yang digunakan untuk menentukan strategi pengembangan produk
perusahaan.

Tabel 40. Matrik SWOT Pengembangan Produk


Internal

Eksternal S (Strength)
Menggunakan bahan baku dan bahan penolong pilihan.
Peralatan semi otomatis W (Weaknes)
Jenis produk yang masih satu jenis yaitu tas.
Kemasan yang masih sederhana hanya menggunakan plastik.

O (Opportunity)
Bahan baku melimpah.
Pengepul biasanya akan memberi harga murah dengan pelanggan.
Teknologi mempermudah akses informasi. Strategi SO
Menjaga hubungan baik dengan pengepul bahan baku
Meningkatkan rencana produksi setiap tahun untuk mengoptimalkan kapasitas
produksi. Strategi WO

melakukan penelitian dan pengembangan untuk mendiversifikasi produk.


Pengembangan produk yaitu berupa dompet, dan sebagainya,
T (Threat)
Perubahan selera konsumen yang sulit diprediksi.
Munculnya produk-produk yang meniru dengan bulu buatan. Strategi ST
memperkenalkan keunggulan dari produk kulit yang awet. Strategi WT
selalu melakukan inovasi produk
memperhatikan perkembangan fashion di pasar

Dari hasil analisis tersebut, beberapa langkah strategis sangat ditekankan


perusahaan untuk dilakukan dalam rangka pengembangan produk antara lain :
Meningkatkan rencana produksi untuk mengoptimalkan kapasitas produksi yang
ada dan mengoptimalkan peluang bahan baku yang melimpah.
Memanfaatkan akses teknologi informasi untuk melakukan penilitian dan
pengembangan produk guna memenuhi kebutuhan dan perubahan selera
konsumen.
Menerapkan prinsip-prinsip Good Manufacturing Process( GMP ) yakni antara lain :
Fasilitas yang memadai.
Alat perlengkapan produksi yang selalu dirawat.
Proses produksi dan kontrol yang baik.
Penyimpanan produk yang baik dan terpisah dari kegiatan produksi.
Melakukan difersifikasi produk tidak hanya memproduksi tas saja tapi juga bisa
dikembangkan dompet, sepatu, sandal dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan
dan selera konsumen yang berbeda-beda.

Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia


Beberapa strategi yang akan dilakukan dalam rangka pengembangan sumber daya
manusia antara lain :
Memberikan sanksi untuk karyawan yang melanggar disiplin.
Memberikan kompensasi di atas UMR.
Rekruitmen tenaga pemasar yang berkualitas.
Memberikan bonus kepada tenaga pemasar jika berhasil melebihi rencana
penjualan perusahaan (akumulasi per tahun).

Memberikan tunjangan hari raya kepada tenaga kerja dari keuntungan perusahaan.
Mengikutsertakan tenaga kerja pada pelatihan yang diadakan oleh dinas.
Memberikan kenaikan gaji sebesar 10% setiap tahunnya.
Menjaga hubungan secara kekeluargaan baik di dalam maupun di luar lingkungan
kerja.

Strategi Pengembangan Keuangan/Permodalan


Strategi pengembangan keuangan merupakan salah satu strategi penting yang
dapat menunjang kelancaran usaha. Strategi yang akan dilakukan perusahaan
Prima Leather dalam hal pengembangan keuangan atau permodalan adalah sebagai
berikut :
Membuat laporan keuangan pada setiap periode tertentu. Dalam hal ini
perusahaan akan membuat laporan keuangan seperti laporan rugi laba setiap akhir
bulan dan neraca pada akhir tahun.
Mengajukan kredit modal kerja terhadap bank atau lembaga keuangan lainnya
untuk pengembangan perusahaan.
Selalu melakukan pencatatan terhadap setiap transaksi yang telah dan sedang
dilakukan oleh perusahaan.

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Sesuai dengan uraian dan pemaparan isi rencana usaha penyamakan kulit kelinci
ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan atara lain :
Rencana usaha penyamakan kulit kelinci samak bulu (fur) sebagai kerajinan tas di
Kabupaten Pemalang ini merupakan usaha yang memanfaatkan kulit kelinci yang
selama ini hanya sebagai limbah menjadi produk tas dengan tetap
mempertahankan bulunya.
Total biaya proyek usaha yang mencapai angka sebesar Rp 82.475.181,- penulis
menyadari akan kekurangan modal yang dimiliki, maka penulis akan mengajukan
pinjaman kepada pihak perbankan maupun kepada investor untuk
menginvestasikan modalnya ke dalam perusahaan Prima Leather.

Peluang usaha penyamakan kulit kelinci di Kabupaten Pemalang masih terbuka


lebar dengan ketersediaan bahan baku yang melimpah dan murah serta persaingan
yang tidak begitu ketat.
Jika ditinjau dari segi analisis kelayakan usahanya, usaha penyamakan kulit kelinci
samak bulu (fur) sebagai bahan kerajinan tas di Kabupaten Pemalang ini sudah
layak untuk dijalankan. Selain itu pada ketiga skenario yang sudah dibuat, dengan
adanya berbagai perubahan usaha penyamakan kulit kelinci samak bulu (fur) ini
masih tetap layak.

Tabel 41. Perbandingan Analisis Kelayakan Pada Sensitivitas


Keterangan Kondisi normal Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3
NPV (Rp) 114.996.299,- 75.586.575,- 103.796.735,-

53.167.449,-

IRR (%) 69,82 50,72 64,65 39,63


Net B/C 3,45 2,61 3,21 2,13
Payback Period 2 tahun, 10 hari 2 tahun, 8 bulan & 4 hari 2tahun, 2 bulan, 4 hari 3
tahun, 2 bulan, 15 hari

Selain bisa memberikan keuntungan bagi pemilik usaha, pelaksanaan rencana


usaha ini juga akan memberikan dampak positif terhadap lingkungan masyarakat
sekitar yaitu penyerapan tenaga kerja serta terjalinnya kerjasama dengan IKM
kerajinan kulit di Kabupaten Pemalang
.
Saran
Adapun saran yang dapat diberikan berhubungan dengan rencana usaha ini adalah
sebagai berikut :
Dilihat dari berbagai aspek, rencana usaha penyamakan kulit kelinci ini cukup
menguntungkan dan cukup sehat untuk direalisasikan. Oleh karena itu, disarankan
agar rencana investasi usaha ini diteruskan.
Bagi Kabupaten Pemalang khususnya DISKOPERINDAG dan UKM diharapkan dapat
memberikan dukungan serta kerja sama demi terealisasinya rencana usaha
penyamakan kulit kelinci ini.
Bagi IKM kerajinan kulit di Kabupaten Pemalang diharapkan dapat bekerjasama dan
saling membantu untuk terus mengembangkan potensi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1999. Pollution, Prevention and Abatemant Hanbook. Toward Cleaner


Production: Washington
. . 2008. Pedoman Penyamakan Kulit dan Penggunaan Kulit Tersamak. Balai
penelitian kulit. Yogyakarta
. 2010. Kabupaten Pemalang. [Online, accessed 10 Juni 2013]. URL :
http://www.promojatengpemprovjateng.com/ambildaerah.php?
kota=Pemalang&page=7
Badan Pusat Statistik Kabupaten Pemalang. 2012. Data Umum BPS Kabupaten
Pemalang 2012. Pemalang
Bailey, D.G. 1997. Handling, Grading and Curing of Hide and Skins. Inedible Meat
Cheeke, P.R., N.M. Patton and G.S Templeton. 1987. Rabbit Production. 6th Ed. The
Interstate Printers and Publisher, inc. Davile, Illinois
Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pemalang. 2009.
Potensi Industri Kabupaten Pemalang Tahun 2009. Pemalang.
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang. 2013. Daftar Populasi Ternak
Kabupaten Pemalang. 2013
Fahidin. 1973. Ilmu Penegtahuan dan Teknologi Kulit. Direktorat Jendral Peternakan.
Departemen Pertanian
Gunarto dan Sugiono. 1979. Pengetahuan Teknologi Kerajinan Kulit. Departemen
pendidikan dan kebudayaan RI
Hattab, S. 1979. Peningkatan Pendapatan Mutu Kulit Mentah Indonesia. Warta
Pertanian. Jakarta
Hurlock, Elizabeth. 1980. A Life Span Approach. 5th ed. McGraw-Hill, Inc.
Husein, Umar. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Husnan, Suad dan Suwarsono Muhammad. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Unit
Penerbit Dan Percetakan AMP YKPN. Yogyakarta
Irawan. 2008. Manajemen Pemasaran Modern. Liberty. Yogyakarta
Judoamidjojo, M. 1974. Dasar Teknologi dan Kimia Kulit. Departemen Teknologi Hasil
Pertanian, FATEMETA. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Judoamidjojo, M. 1984. Penyamakan Kulit Untuk Pedesaan. Angkasa. Bandung


Kasmir dan Jakfar. 2010. Studi Kelayakan Bisnis. Kencana Prenada Media Group.
Jakarta
Kotler, Philip. 2005. Manajemen Pemasaran. PT Indeks Kelompok Gramedia. Jakarta

Lutfie, Muchtar. 1997. Teknologi Proses Penyamakan Kulit Kelinci. Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit, Karet dan Plastik. Yogyakarta
Nugroho. 1982. Beternak Kelinci Secara Modern. Penerbit Eka Offset. Semarang
Ockerman, H.W. and C.L. Hansen. 2000. Animal By-product Processing & Utilization.
CRC press. Washington
Oflaherty F., W.T. Roddy and R.M. Lollar. 1978. The Chemistry of Leather. Reinhold
Publishing Co. New York
Papalia, D.E; S.W.Old; RD Feldman. 2008. Human Development. 9th ed. McGraw-Hill
Co.
Purwanto. E. 2009. Penerapan Teknologi Produksi Bersih untuk Meningkatkan
Efisiensi dan Mencegah Pencemaran Industri. Pidato Pengukuhan Guru Besar
Universitas Diponegoro: Semarang.
Sarkar, K.T. 1995. Theory and Praktice of Leather Manufacture. Resived ed. The
Author. Madras
Stewart, J. 1984. Rex Fur, How to Prime. Jens Stewart Publishers. Phelan- California
Subanar, Harimurti. 1993. Manajemen Usaha Kecil. UGM. Yogyakarta
Sumarmi, Koesman, B. Oetojo dan S. Untari. 1989. Pendidikan Pengawetan Kulit
Mentah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

Suwarastuti, A. 1992. Teknik Pasca Panen Hasil Ikutan Ternak. Fakultas Peternakan.
Universitas Diponegoro. Semarang
Templeton, S.G. 1968. Domestic Rabbit Production. The Interstate Printer and
Publishers Inc. Denville- Illionis
Untari, S. 2005. Penyamakan Kulit Kelinci dengn Teknologi Tepat Guna Sebagai
Bahan Kerajinan Kulit dan Sepatu dalam Menunjang Agribisnis Ternak Kelinci. BBKKP.
Yogyakarta
Widodo, Tri Sunu B.A. 1997. Histologi Kulit Mentah. ATK. Yogyakarta

Lampiran 1. Proyeksi Arus Kas


Tabel 42. Proyeksi Arus Kas
KETERANGAN PRAOPERASI (Rp) 2016
(Rp) 2017
(Rp) 2018
(Rp) 2019

(Rp) 2020
(Rp)
Rencana Produksi dalam Unit 2.400 2.523 2.653 2.789 2.932
A. Arus Kas Masuk
1. Saldo kas awal 35.461.990,- 48.832.462,- 74.033.122,- 112.430.920,173.868.991,2. Hasil penjualan 240.000.000,- 262.505.405,- 287.121.198,- 314.045.276,343.494.093,3. Modal sendiri 57.475.181,4. Kredit investasi
5. Kredit modal kerja 25.000.000,Total Arus Kas Masuk 82.475.181,- 275.461.990,- 311.337.867,- 361.154.320,426.476.197,- 517.363.084,B. Arus Kas Keluar
1. Investasi 47.013.191,2. Biaya produksi 53.307.574,- 58.195.878,- 63.532.440,- 69.358.365,75.718.527,3. Biaya usaha sebelum peny. & Amort.
175.480.571,- 182.723.230,- 190.272.862,-

161.864.367,- 168.531.781,-

4. Biaya bunga 3.000.000,- 2.000.000,- 1.000.000,5. Pajak 124.254,- 243.751,- 377.055,- 525.610,- 681.001,Total Arus Kas Keluar 47.013.191,- 218.296.195,- 228.971.411,- 240.390.067,252.607.206,- 266.672.390,KAS NETTO (A-B) 35.461.990,- 57.165.795,- 82.366.456,- 120.764.253,173.868.991,250.690.694,Angsuran Pinjaman 8.333.333,- 8.333.333,- 8.333.333,Saldo Kas Akhir 35.461.990,- 48.832.462,- 74.033.122,- 112.430.920,173.868.991,- 250.690.694,-

Lampiran 2. Proyeksi Laba Rugi


Tabel 43. Proyeksi Laba Rugi
KETERANGAN 2016
(Rp) 2017

(Rp) 2018
(Rp) 2019
(Rp) 2020
(Rp)
Rencana Dagang ( unit ) 2.400 2.523 2.653 2.789 2.932
Harga per unit 100.000,- 104.040,- 108.243,- 112.616,- 117.166,A. HASIL PENJUALAN 240.000.000,- 262.505.405,- 287.121.198,- 314.045.276,343.494.093,-

B.Biaya produksi
Kulit kelinci 16.216.739,- 17.703.814,- 19.327.254,- 21.099.563,- 23.034.393,Bahan penolong 31.856.432,- 34.777.667,- 37.966.779,- 41.448.333,45.249.145,Gas LPG 3kg 54.056,- 59.013,- 64.424,- 70.332 ,- 76.781,pH stik 450.465,- 491.773,- 536.868,- 586.099,- 639.844,Kemasan 2.702.790,- 2.950.636,- 3.221.209,- 3.516.594,- 3.839.065,Listrik & air 2.027.092,- 2.212.977,- 2.415.907,- 2.637.445,- 2.879.299,Total Biaya Produksi 53.307.574,- 58.195.878,- 63.532.440,- 69.358.365,75.718.527,C. LABA KOTOR (A-B) 186.692.426,- 204.309.526,- 223.588.758,- 244.686.911,267.775.566,-

D. BIAYA USAHA
Gaji pimpinan
16.871.895,-

14.400.000,-

14.981.760,- 15.587.023,-

Gaji bag. pemasaran


12.000.000,- 12.484.800,13.513.949,14.059.913,-

16.216.739,-

12.989.186,-

Gaji Bag. produksi 20.400.000,- 21.224.160,- 22.081.616,- 22.973.713,23.901.851,Tenaga borongan tas 96.000.000,108.111.592,112.479.301,-

99.878.400,-

103.913.487,-

ATK

300.000,-

Biaya sewa gedung


11.716.594,Biaya transportasi
1.687.190,-

312.120,-

324.730,- 337.849,- 351.498,-

10.000.000,- 10.404.000,-

10.824.322,- 11.261.624,-

1.440.000,- 1.498.176,-

Pulsa handphone &internet


1.351.395,1.405.991,-

1.200.000,-

1.558.702,- 1.621.674,1.248.480,- 1.298.919,-

Perawatan bangunan, peralatan & kendaraan 2.400.000,- 2.496.960,- 2.597.837,2.702.790,2.811.983,Biaya pengolahan limbah 1.324.367,- 1.377.871,- 1.433.537,- 1.491.452,1.551.707,Biaya promosi 2.400.000,- 2.625.054,- 2.871.212,- 3.140.453,- 3.434.941,Total Biaya Usaha 161.864.367,- 168.531.781,- 175.480.571,- 182.723.230,190.272.862,Penyusutan 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,Amortisasi 360.000,- 360.000,- 360.000,- 360.000,- 360.000,Total biaya usaha + penyusutan 171.267.005,- 177.934.420,- 184.883.209,192.125.868,- 199.675.501,E. LABA USAHA (C-D) 15.425.421,- 26.375.107,- 38.705.548,- 52.561.043,68.100.065,F. Biaya Bunga Pinjaman (12%) 3.000.000,- 2.000.000,- 1.000.000,G. LABA SEBELUM PAJAK (E - F)
52.561.043,- 68.100.065,H. Pajak 124.254,-

12.425.421,- 24.375.107,- 37.705.548,-

243.751,- 377.055,-

I. LABA BERSIH (G-H) 12.301.167,67.419.065,-

24.131.356,-

525.610,-

681.001,-

37.328.493,- 52.035.432,-

Prosentase keuntungan 5,13 9,19 13,00 16,57 19,63


BEP ( Rp ) 220.170.052,- 228.617.567,- 237.417.521,- 246.585.406,- 256.137.466,BEP ( % ) 91,74% 87,09% 82,69% 78,52% 74,57%
BEP ( Unit ) 2.202 2.197 2.193 2.190 2.186

Lampiran 3. Proyeksi Neraca


Tabel 44. Proyeksi Neraca
KETERANGAN PRAOPERASI (Rp) 2016
(Rp) 2017
(Rp) 2018
(Rp) 2019
(Rp) 2020
(Rp)
AKTIVA
A. Aktiva Lancar
1. Kas 35.461.990,- 48.832.462,- 74.033.122,- 112.430.920,- 173.868.991,250.690.694,Total Aktiva Lancar 35.461.990,- 48.832.462,- 74.033.122,- 112.430.920,173.868.991,- 250.690.694,-

B. Aktiva Tetap
1. Mesin & Peralatan 30.600.357,- 30.600.357,- 30.600.357,- 30.600.357,30.600.357,- 30.600.357,2. Inventaris Kantor 5.953.377,- 5.953.377,- 5.953.377,- 5.953.377,- 5.953.377,5.953.377,3. Motor Bebek 8.659.457,- 8.659.457,- 8.659.457,- 8.659.457,- 8.659.457,8.659.457,Total Aktiva Tetap 45.213.191,- 45.213.191,- 45.213.191,- 45.213.191,45.213.191,- 45.213.191,-

Akumulasi Penyusutan 9.042.638,- 18.085.277,- 27.127.915,- 36.170.553,45.213.191,Nilai Buku Harta Tetap 45.213.191,- 36.170.553,- 27.127.915,- 18.085.277,9.042.638,- -

C. Aktiva Tak Berwujud


1. Perijinan 300.000,- 300.000,- 300.000,- 300.000,- 300.000,- 300.000,-

2. Pemasangan sarana penunjang 500.000,- 500.000,- 500.000,- 500.000,500.000,- 500.000,3. Pelatihan & uji coba poduksi
1.000.000,- 1.000.000,-

1.000.000,- 1.000.000,- 1.000.000,- 1.000.000,-

Akumulasi Amortisasi 360.000,- 720.000,- 1.080.000,- 1.440.000,- 1.800.000,Nilai Buku Aktiva Tak Berwujud 1.800.000,- 1.440.000,- 1.080.000,- 720.000,360.000,- -

Total Aktiva 82.475.181,- 86.443.015,- 102.241.037,- 131.236.197,183.271.629,- 250.690.694,-

PASSIVA
A. Hutang Lancar
1. Hutang dagang
2. Hutang biaya & lain-lain
3. Kredit modal kerja 25.000.000,- 16.666.667,- 8.333.333,Total Hutang Lancar 25.000.000,- 16.666.667,- 8.333.333,-

B. Hutang Jangka Panjang


1. Kredit Investasi
Total Hutang Jangka Panjang

C. Modal
1. Modal sendiri 57.475.181,- 57.475.181,- 57.475.181,- 57.475.181,57.475.181,- 57.475.181,2. Laba ditahan

12.301.167,- 36.432.522,- 73.761.015,- 125.796.448,-

3. Laba tahun berjalan 12.301.167,- 24.131.356,- 37.328.493,- 52.035.432,67.419.065,Total Modal 57.475.181,- 69.776.348,- 93.907.704,- 131.236.197,- 183.271.629,250.690.694,-

Total Passiva 82.475.181,- 86.443.015,- 102.241.037,- 131.236.197,183.271.629,- 250.690.694,-

Lampiran 4. Skenario 1
Tabel 45. Proyeksi Laba Rugi Skenario 1 : Penurunan Penjualan Tas Kulit Kelinci
Sebesar 5 %
Keterangan 2016
(Rp) 2017
(Rp) 2018
(Rp) 2019
(Rp) 2020
(Rp)
Rencana Dagang ( unit ) 2.280 2.397 2.520 2.649 2.785
Harga per unit 100.000,- 104.040,- 108.243,- 112.616,- 117.166,A. HASIL PENJUALAN 228.000,- 249.380.135,- 272.765.138,- 298.343.013,326.319.389,-

B. BIAYA PRODUKSI
Kulit kelinci 15.405.902 ,- 16.818.623,21.882.673,Bahan penolong
42.986.687,Gas LPG 3kg

20.044.585,-

30.263.610,- 33.038.784,- 36.068.440,51.353,-

39.375.916,-

56.062,- 61.203,- 66.815,- 72.942,-

pH stik

427.942,-

Kemasan

2.567.650,- 2.803.104,-

Listrik & air


2.735.334,-

18.360.891,-

467.184,- 510.025,-

1.925.738,-

3.060.148,-

2.102.328,-

556.794,-

607.852,-

3.340.764,-

2.295.111,-

3.647.112,-

2.505.573,-

Total Biaya Produksi 50.642.195,- 55.286.084,- 60.355.818,71.932.601,-

65.890.447,-

C. LABA KOTOR (A-B) 177.357.805,- 194.094.050,- 212.409.320,- 232.452.566,254.386.788,-

D. BIAYA USAHA
Gaji pimpinan
16.871.895,-

14.400.000,-

14.981.760,- 15.587.023,- 16.216.739,-

Gaji bag. pemasaran 12.000.000,- 12.484.800,14.059.913,-

12.989.186,- 13.513.949,-

Gaji bag. produksi 20.400.000,- 21.224.160,- 22.081.616,- 22.973.713,23.901.851,-

Tenaga borongan tas


112.479.301,-

96.000.000,-

99.878.400,- 103.913.487,- 108.111.592,-

Alat tulis kantor 300.000,- 312.120,- 324.730,- 337.849,- 351.498,Biaya sewa gedung
11.716.594,Biaya transportasi
1.687.190,-

10.000.000,-

10.404.000,-

1.440.000,- 1.498.176,-

Pulsa handphone &internet


1.351.395,- 1.405.991,-

10.824.322,1.558.702,-

1.200.000,- 1.248.480,-

Perawatan bangunan, peralatan & kendaraan


2.597.837,2.702.790,- 2.811.983,-

11.261.624,1.621.674,-

1.298.919,-

2.400.000,-

2.496.960,-

Biaya pengolahan limbah 1.324.367,- 1.377.871,- 1.433.537,- 1.491.452,1.551.707,Biaya promosi


3.434.941,-

2.400.000,-

Total Biaya Usaha 161.864.367,190.272.862,-

2.625.054,-

2.871.212,-

3.140.453,-

168.531.781,- 175.480.571,- 182.723.230,-

Penyusutan 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,Amortisasi 360.000,- 360.000,- 360.000,- 360.000,- 360.000,-

Total biaya usaha + penyusutan 171.267.005,- 177.934.420,- 184.883.209,192.125.868,- 199.675.501,-

E. LABA USAHA (C-D) 6.090.800,- 16.159.630,- 27.526.110,- 40.326.697,54.711.287,F. Biaya Bunga Pinjaman (12%) 3.000.000,G. LABA SEBELUM PAJAK (E-F) 3.090.800,40.326.697,- 54.711.287,-

2.000.000,- 1.000.000,14.159.630,- 26.526.110,-

H. Pajak 30.908,- 141.596,- 265.261,- 403.267,- 547.113,I. LABA BERSIH (G-H) 3.059.892,- 14.018.034,- 26.260.849,- 39.923.430,54.164.174,

Analisis Kelayakan Usaha Skenario 1


Net Present Value (NPV)
Tabel 46. Net Present Value 1
Tahun Net Benefit (Rp) DF(i=12%) Present Value (Rp)
2016 12.462.530,- 0,89286 11.127.259,2017 23.420.672,- 0,79719 18.670.817,2018 35.663.488,- 0,71178 25.384.566,2019 49.326.069,- 0,63552 31.347.608,2020 63.566.812,- 0,56743 36.069.517,PV dari Proceeds 122.599.766,PV dari Investasi 47.013.191,NPV 75.586.575,-

Hasil perhitungan di atas menunjukan bahwa nilai NPV yang dihasilkan adalah
sebesar Rp 75.586.575,- (lebih besar dari nol), jadi bisa dikatakan bahwa investasi
ini layak.
Internal Rate of Return (IRR)
Tabel 47. Net Present Value 2
Tahun Net Benefit (Rp) DF(i=51%) Present Value (Rp)
2016 12.462.530,- 0,66225

8.253.331,-

2017 23.420.672,- 0,43858

10.271.774,-

2018 35.663.488,- 0,29045 10.358.407,2019 49.326.069,- 0,19235 9.487.870,2020 63.566.812,- 0,12738

8.097.402,-

PV dari Proceeds

46.468.784,-

PV dari Investasi

47.013.191,-

NPV 2

(544.407)

Adapun formula perhitungan IRR adalah sebagai berikut :


IRR = I1+(NPV1/(NPV1-NPV2))x(I2-I1)
IRR = 0,12+(( 75.586.575)/( 475.586.575 (- 544.407)))x(0,51-0,12)
IRR = 0,5072
IRR = 50,72 %
Nilai dari hasil perhitungan IRR tersebut adalah 50,72% lebih besar dari pada
besarnya bunga diskon faktor 12%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rencana
usaha ini sangat layak untuk dilaksanakan.
Net B/C
Net B/C = (Jumlah Net Benefit Positif)/(Jumlah Net Benefit Negatif)
Net B/C = 122.599.766/47.013.191
Net B/C = 2,61 > 1 (layak)
Payback Period (PP)
Tabel 48. Payback Period
Jml Investasi (Rp)
Proceeds 1
Sisa

11.127.259,-

35.885.933,-

Proceeds 2
Sisa

47.013.191,-

18.670.817,-

17.215.116,-

Proceeds 3

25.384.566,-

Sisa/proceeds 3 x360 hr 244,1 hari

Dari perhitungan diatas, dapat diketahui PP recana usaha ini adalah sekitar 2 tahun,
8 bulan, dan 4 hari.

Berdasarkan analisis di atas, keempat alat analisis kelayakan usaha tersebut


menyatakan bahwa usaha penyamakan kulit kelinci untuk skenario 1 yaitu
penurunan penjualan tas kulit kelinci sebesar 5% ini masih layak untuk dijalankan.

Lampiran 5. Skenario 2
Tabel 49. Proyeksi Laba Rugi Skenario 2 : Peningkatan Harga Bahan Baku dan Biaya
Produksi Lainnya sebesar 5 %
KETERANGAN 2016
(Rp) 2017
(Rp) 2018
(Rp) 2019
(Rp) 2020
(Rp)

Rencana Dagang (unit) 2.400 2.523 2.653 2.789

2.932

Harga per unit 100.000,- 104.040,- 108.243,- 112.616,- 117.166,A. HASIL PENJUALAN 240.000.000,- 262.505.405,- 287.121.198,- 314.045.276,343.494.093,-

B. Biaya Produksi
Kulit kelinci 17.027.576,- 18.589.004,- 20.293.616,- 22.154.541,- 24.186.112,Bahan penolong 33.449.254,- 36.516.550,- 39.865.118,- 43.520.749,47.511.602,Gas LPG 3kg 56.759,- 61.963,- 67.645,- 73.848,- 80.620,pH stik 472.988,- 516.361,- 563.712,- 615.404,- 671.836,Kemasan 2.837.929,- 3.098.167,- 3.382.269,- 3.692.423,- 4.031.019,Listrik & air 2.128.447,- 2.323.626,- 2.536.702,- 2.769.318,- 3.023.264,Total Biaya Produksi 55.972.953,- 61.105.672,- 66.709.062,- 72.826.283,79.504.454,-

C. LABA KOTOR (A-B) 184.027.047,- 201.399.733,- 220.412.136,- 241.218.993,263.989.640,-

D. BIAYA USAHA
Gaji pimpinan 14.400.000,- 14.981.760,- 15.587.023,- 16.216.739,- 16.871.895,Gaji bag pemasaran 12.000.000,- 12.484.800,- 12.989.186,- 13.513.949,14.059.913,Gaji bag. produksi 20.400.000,- 21.224.160,- 22.081.616,- 22.973.713,23.901.851,-

Tenaga borongan tas 96.000.000,- 99.878.400,- 103.913.487,- 108.111.592,-,


112.479.301,Alat tulis kantor 300.000,- 312.120,- 324.730,- 337.849,- 351.498,Biaya sewa gedung 10.000.000,- 10.404.000,-, 10.824.322,- 11.261.624,11.716.594,-

Biaya transportasi 1.440.000,- 1.498.176,- 1.558.702,- 1.621.674,- 1.687.190,Pulsa handphone &internet 1.200.000,- 1.248.480,-, 1.298.919,- 1.351.395,1.405.991,Perawatan bangunan, peralatan & kendaraan 2.400.000,- 2.496.960,- 2.597.837,2.702.790,- 2.811.983,Biaya pengolahan limbah 1.324.367,- 1.377.871,- 1.433.537,- 1.491.452,1.551.707,Biaya promosi 2.400.000,- 2.625.054,- 2.871.212,- 3.140.453,- 3.434.941,Total Biaya Usaha 161.864.367,- 168.531.781,- 175.480.571,- 182.723.230,190.272.862,-

Penyusutan 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,Amortisasi 360.000,- 360.000,- 360.000,- 360.000,- 360.000,-

Total biaya usaha plus penyusutan 171.267.005,- 177.934.420,- 184.883.209,192.125.868,- 199.675.501,-

E. LABA USAHA (C-D) 12.760.042,- 23.465.313,- 35.528.926,- 49.093.125,64.314.139,F. Biaya Bunga Pinjaman (12%) 3.000.000,- 2.000.000,G. LABA SEBELUM PAJAK (E-F) 9.760.042,- 21.465.313,49.093.125,- 64.314.139,-

1.000.000,34.528.926,-

H. Pajak 97.600,- 214.653,- 345.289,- 490.931,- 643.141,I. LABA BERSIH (G-H) 9.662.442,- 21.250.660,- 34.183.637,- 48.602.193,63.670.998,-

Analisis Kelayakan Usaha Skenario 2


Net Present Value (NPV)
Tabel 50. Net Present Value 1
Tahun Net Benefit (Rp) DF(i=12%) Present Value (Rp)
2016 19.065.080,- 0,89286

17.022.393,-

2017 30.653.298,- 0,79719

24.436.621,-

2018

43.586.275,- 0,71178 31.023.850,-

2019 58.004.832,- 0,63552

36.863.119,-

2020 73.073.636,- 0,56743

41.463.943,-

PV dari Proceeds

150.809.927,-

PV dari Investasi

47.013.191,-

NPV

103.796.735,-

Hasil perhitungan di atas menunjukan bahwa nilai NPV yang dihasilkan adalah
sebesar RP 103.796.735,- (lebih besar dari nol), jadi bisa dikatakan bahwa investasi
ini layak.
Internal Rate of Return (IRR)
Tabel 51. Net Present Value 2
Tahun Net Benefit (Rp) DF(i=65%) Present Value (Rp)
2016 19.065.080,- 0,60606 11.554.594,2017 30.653.298,- 0,36731 11.259.246,2018 43.586.275,- 0,22261 9.702.819,2019 58.004.832,- 0,13492 7.825.794,2020 73.073.636,- 0,08177 5.975.042,PV dari Proceeds 46.317.495,PV dari Investasi 47.013.191,NPV (695.696)

Adapun formula perhitungan IRR adalah sebagai berikut :


IRR = I1+(NPV1/(NPV1-NPV2))x(I2-I1)
IRR = 0,12+(( 103.796.735)/( 103.796.735 (-695.696)))x(0,65-0,12)
IRR = 0,6465
IRR = 64,65 %
Nilai dari hasil perhitungan IRR tersebut adalah 64,65% lebih besar dari pada
besarnya bunga diskon faktor 12%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rencana
usaha ini sangat layak untuk dilaksanakan.

Net B/C
Net B/C = (Jumlah Net Benefit Positif)/(Jumlah Net Benefit Negatif)
Net B/C = 150.809.927/47.013.191
Net B/C = 3,21> 1 (layak)
Payback Period (PP)
Tabel 52. Payback Period
Jml Investasi (Rp) 47.013.191,Proceeds 1 (Rp) 17.022.393,Sisa (Rp) 29.990.798,Proceeds 2 (Rp) 24.436.621,Sisa (Rp) 5.554.177,Proceeds 3 (Rp) 31.023.850,Sisa/proceeds 3 x360 hr 64,5 hari

Dari perhitungan diatas, dapat diketahui PP recana usaha ini adalah sekitar 2 tahun,
2 bulan, dan 4 hari.
Berdasarkan analisis di atas, keempat alat analisis kelayakan usaha tersebut
menyatakan bahwa usaha penyamakan kulit kelinci untuk skenario 2 yaitu
Peningkatan harga bahan baku dan biaya produksi lainnya 5 % ini tetap masih layak
untuk dijalankan.

Lampiran 6. Skenario
Tabel 53. Proyeksi Laba Rugi Skenario 3 : Penurunan Penjualan Tas Kelinci 5 % dan
Peningkatan Harga Bahan Baku Serta Biaya Produksi Lainnya Sebesar 5 %
KETERANGAN 2016
(Rp) 2017
(Rp) 2018
(Rp) 2019
(Rp) 2020
(Rp)
Rencana Dagang ( unit ) 2.280 2.397 2.520 2.649 2.785
Harga per unit 100.000,- 104.040,- 108.243,- 112.616,- 117.166,A. HASIL PENJUALAN 228.000,- 249.380.135,- 272.765.138,- 298.343.013,326.319.389,-

B.Biaya produksi
Kulit kelinci 17.027.576,- 18.589.004,- 20.293.616,- 22.154.541,- 24.186.112,Bahan penolong 33.449.254,- 36.516.550,- 39.865.118,- 43.520.749,47.511.602,Gas LPG 3kg 56.759,- 61.963,- 67.645,- 73.848,- 80.620,pH stik 472.988,- 516.361,- 563.712,- 615.404,- 671.836,Kemasan 2.837.929,- 3.098.167,- 3.382.269,- 3.692.423,- 4.031.019,Listrik & air 2.128.447,- 2.323.626,- 2.536.702,- 2.769.318,- 3.023.264,Total Biaya Produksi 55.972.953,- 61.105.672,- 66.709.062,- 72.826.283,79.504.454,-

C. LABA KOTOR (A-B) 172.027.047,- 188.274.462,- 206.056.076,- 225.516.729,246.814.935,-

D. BIAYA USAHA
Gaji pimpinan 14.400.000,- 14.981.760,- 15.587.023,- 16.216.739,- 16.871.895,Gaji bag pemasaran 12.000.000,- 12.484.800,- 12.989.186,- 13.513.949,14.059.913,-

Gaji bag. produksi 20.400.000,- 21.224.160,- 22.081.616,- 22.973.713,23.901.851,Tenaga borongan tas 96.000.000,- 99.878.400,- 103.913.487,- 108.111.592,-,
112.479.301,Alat tulis kantor 300.000,- 312.120,- 324.730,- 337.849,- 351.498,Biaya sewa gedung 10.000.000,- 10.404.000,-, 10.824.322,- 11.261.624,11.716.594,Biaya transportasi 1.440.000,- 1.498.176,- 1.558.702,- 1.621.674,- 1.687.190,Pulsa handphone &internet 1.200.000,- 1.248.480,-, 1.298.919,- 1.351.395,1.405.991,Perawatan bangunan, peralatan & kendaraan 2.400.000,- 2.496.960,- 2.597.837,2.702.790,- 2.811.983,Biaya pengolahan limbah 1.324.367,- 1.377.871,- 1.433.537,- 1.491.452,1.551.707,Biaya promosi 2.400.000,- 2.625.054,- 2.871.212,- 3.140.453,- 3.434.941,Total Biaya Usaha 161.864.367,- 168.531.781,- 175.480.571,- 182.723.230,190.272.862,-

Penyusutan 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,- 9.042.638,Amortisasi 360.000,- 360.000,- 360.000,- 360.000,- 360.000,-

Total biaya usaha + penyusutan 171.267.005,- 177.934.420,- 184.883.209,192.125.868,- 199.675.501,-

E. LABA USAHA (C-D) 760.042,- 10.340.043,- 21.172.866,- 33.390.861,47.139.434,-

F. Biaya Bunga Pinjaman (12%) 3.000.000,-

2.000.000,- 1.000.000,-

G. LABA SEBELUM PAJAK (F-G)


33.390.861,- 47.139.434,-

(2.239.958) 8.340.043,- 20.172.866,-

H. Pajak

201.729,-

- 83.400,-

333.909,- 471.394,-

I. LABA BERSIH (G-H) (Rp) (2.239.958) 8.256.642,- 19.971.138,- 33.056.952,46.668.040,-

Analisis Kelayakan Usaha Skenario 3


Net Present Value (NPV)
Tabel 54. Net Present Value 1
Tahun Net Benefit
(Rp) DF(i=12%) Present Value (Rp)
2016 7.162.680,- 0,89286

6.395.250,-

2017 17.659.280,- 0,79719

14.077.870,-

2018 29.373.776,- 0,71178

20.907.674,-

2019 42.459.590,- 0,63552

26.983.837,-

2020 56.070.678,- 0,56743

31.816.009,-

PV dari Proceeds

100.180.640,-

PV dari Investasi

47.013.191,-

NPV

53.167.449,-

Hasil perhitungan di atas menunjukan bahwa nilai NPV yang dihasilkan adalah
sebesar Rp 53.167.449,- (lebih besar dari nol), jadi bisa dikatakan bahwa investasi
ini layak.
Internal Rate of Return (IRR)
Tabel 55. Net Present Value 2
Tahun Net Benefit
(Rp) DF (i=40%) Present Value
(Rp)
2016
2017

7.162.680,- 0,71429
17.659.280,- 0,51020

5.116.200,9.009.837,-

2018

29.373.776,- 0,36443

10.704.729,-

2019

42.459.590,- 0,26031

11.052.580,-

2020

56.070.678,- 0,18593

10.425.470,-

PV dari Proceeds

46.308.816,-

PV dari Investasi

47.013.191,-

NPV

(704.376)

Adapun formula perhitungan IRR adalah sebagai berikut :


IRR = I1+(NPV1/(NPV1-NPV2))x(I2-I1)
IRR = 0,12+(53.167.449/( 53.167.449 (-704.376)))x(0,40-0,12)
IRR = 0,3963
IRR = 39,63%
Nilai dari hasil perhitungan IRR tersebut adalah 39,63% lebih besar dari pada
besarnya bunga diskon faktor 12%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rencana
usaha ini sangat layak untuk dilaksanakan.
Net B/C
Net B/C = (Jumlah Net Benefit Positif)/(Jumlah Net Benefit Negatif)
Net B/C = 100.180.640/47.013.191
Net B/C = 2,13 > 1 (layak)
Payback Period (PP)
Tabel 56. Payback Period
Jml Investasi (Rp)
Proceeds 1
Sisa

14.077.870,-

26.540.071,-

Proceeds 3
Sisa

6.395.250,-

40.617.941,-

Proceeds 2
Sisa

47.013.191,-

20.907.674,5.632.397,-

proceeds 4

26.983.837,-

Sisa/proceeds 5 x360 hr 75 hari

Dari perhitungan diatas, dapat diketahui PP recana usaha ini adalah sekitar 3 tahun,
2 bulan, dan 15 hari.
Berdasarkan analisis di atas, keempat alat analisis kelayakan usaha tersebut
menyatakan bahwa usaha penyamakan kulit kelinci untuk skenario 3 yaitu
Peningkatan harga bahan baku dan biaya produksi lainnya 5 % ini tetap masih layak
untuk dijalankan.

Lampiran 7. Gambar Peralatan dan Mesin


Gambar Peralatan dan Mesin

Nama Alat Fungsi

Drum penyamakan
Drum untuk proses penyamakan kulit

Mesin stecking

Mesin untuk melemaskan kulit

Mesin buffing

Mesin untuk mengampelas kulit bagian daging (flesh)

Timbangan duduk kapasitas 60 kg

Timbangan untuk menimbang kulit

Timbangan analitik
Timbangan untuk menimbang bahan kimia

Kompor & panci

Untuk merebus air yang dibutuhkan dalam proses peminyakan dan untuk
melakukan boiling test

Ember besar

Ember untuk tempat kulit

Gelas ukur plastik 1 lt


Gelas untuk menakar air

Baumemeter
Alat untuk mengukur basisitas

Termometer
Alat untuk mengukur suhu

Sarung tangan
Pelindung tangan

Sepatu karet
Pelindung kaki

masker
Pelindung pernafasan

Lampiran 8. Gambar Bahan-bahan Kimia


Gambar Bahan-bahan Kimia

Jenis bahan kimia Karakteristik

Formalin Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan
air dengan kadar antara 10%-40%.
Rumus kimia : CH2O.
Apabila kadar di udara lebih dari 0,1 mg/kg, formaldehida yang terhisap bisa
menyebabkan iritasi kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan keluarnya
air mata, pusing, teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan.

Tepol Tepol adalah sabun cair dengan fungsi dasar pembersih sehingga dapat
digunakan untuk berbagai keperluan.
Pada penyamakan digunakan pada proses perendaman untuk mengembalikan
kadar air pada kulit.

soda abu Soda abu adalah suatu zat padat ringan yang agak larut di dalam air dan
biasanya mengandung 99,3 % Na2CO3 (Natrium Karbonat).
Tidak larut dalam alkohol.
Dalam larutan merupakan basa yang tidak begitu kuat.
Mempunyai daya emulsi.
Jika kena tangan, licin tidak panas
Bahaya : Iritasi kulit.

Garam Rumus molekul : NaCl


Kelarutan dalam air : 35,9 g/100 mL (25oC).

Berbentuk kristal putih.


Higroskospis : mudah menarik air dari udara hingga menjadi lembab/basah.

FA
Rumus molekul : HCOOH
Asam formiat termasuk dalam katagori asam organik lemah, tapi bersifat sangat
korosif, tidak berwarna, mempunyai bau yang menyengat, dapat menyebabkan
iritasi pada mata, hidung, tenggorokan dan dapat melepuhkan kulit.

Cromosal B Cromosal B berasal dari produk patent Bayer, cromosal B digunakan


dalam proses penyamakan krom.
Warna bahan penyamak krom adalah hijau tua, yang merupakan warna dari krom
kompleks bervalensi 3+.
Kromium (VI) memiliki sifat toksisitas dan sifat karsinogenik, konsentrasi tinggi
kromium (III) dalam sel dapat menyebabkan kerusakan DNA.

Sodium Formiat
Rumus molekul : HCOONa
Bentuknya serbuk putih.
Pada penyamakan digunakan untuk menaikkan basisitas.

Soda kue
Rumus NaHCO3 (Natrium bikarbonat).
Larut dalam air.

Dalam keadaan terbuka dapat melepaskan CO2 menjadi Na2CO3.


Tidak larut dalam alkohol.
Larutan encer bersifat sedikti basa pH 8.
Bentuknya tepung putih tidak mengkilap.

Tanigan PAK

Jenis bahan penyamak sintesis yang merupakan produk dari bayer.


Menghasilkan kulit yang halus dan lembut.

Basintan DLE
Merupakan produk paten.
Memberi efek warna putih pada kulit sehingga kulit menjadi bersih.
Bentuknya pasta kekuningan.

Novaltan Pf
Merupakan produk paten.
Digunakan sebagai pretanning yang memberikan warna cerah.
Bentuknya cairan bening.

Pelan 802

Merupakan minyak produk paten.


Bentuknya pasta putih kecoklatan/putih suram.

Lampiran 9. Pengenaan PPh atas Usaha dengan Omzet Tertentu

Mahasiswa UB Sulap Kulit Kelinci Jadi Kerajinan

Red: Nidia Zuraya


Edwin Putranto/Republika

Kelinci
REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa
Timur, mampu 'menyulap' limbah kulit kelinci menjadi kerajinan bernilai jual tinggi,
bahkan mampu meningkatkan pendapatan warga Kecamatan Bumiaji, Kota Batu
hingga Rp 4,2 juta per bulan.
Menurut Aprilia Fatmawati, salah seorang mahasiswa yang mampu mengubah kulit
kelinci menjadi kerajinan tersebut, kulit kelinci yang menjadi limbah itu diolah dan
diproses dengan teknologi penyamakan yang dilengkapi sistem otomatisasi. "Dalam
prosesnya, kelinci hanya diambil dagingnya dan kulitnya selama ini hanya menjadi
limbah yang dibuang. Untuk memanfaatkan kulit kelinci tersebut, kami mencoba
mengolahnya menjadi kerajinan kulit yang harganya cukup mahal," ujarnya, Kamis

(3/7).
Mahasiswa yang mengolah limbah kulit kelinci tersebut adalah Aprilia Fatmawati,
Meliyana Rusanti dan Haditya Hendra Saputra dari Fakultas Peternakan. Mereka
dibantu dosen pembimbing Dr Aris Sri Sidati dan menggandeng warga Kota Batu
melalui program "SRINKAB Empowerment Business System."
SKINRAB Empowerment Business system merupakan pemberdayaan masyarakat
melalui pendekatan gabungan antara sociopreneurship dan technopreneurship
dengan warga Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kecamatan Bumiaji dipilih karena
merupakan sentra peternakan kelinci di Kota Batu yang hasilnya dipasok ke
sejumlah restoran sate kelinci di wilayah itu.
Untuk memudahkan warga mengolah kulit bulu kelinci, mereka juga dibantu oleh
Achmad Syafiqul Umam (FT 2011) dan Agus Wahyu Prasetyo (FT 2011) dalam
membuat mesin teknologi penyamakan kulit bulu kelinci yang dilengkapi dengan
sistem otomatisasi. "Mesin teknologi penyamakan kulit bulu kelinci yang dilengkapi
dengan sistem otomatisasi lebih mudah pengaturan penyamakannya," tutur Aprilia.
Dengan menggunakan mesin tersebut, lanjutnya, selain lebih meringankan
pekerjaan warga, kulit bulu kelinci yang telah melalui proses menjadi lebih kuat,
tidak berbau, dan antijamur. Dengan mesin otomatisasi, kulit bulu kelinci akan
melalui berbagai proses mulai dari pencucian, perendaman, penguatan bulu,
pengasaman, penyamakan, netralisasi, dan perminyakan, sehingga kualitas kulit
bulu kelinci yang dihasilkan jadi lebih bagus.
Karena kualitasnya yang bagus, warga Desa Bumiaji mampu menjual kulit bulu
kelinci seharga Rp 35 ribu per lembar per 30 cm kepada para perajin seperti di
Yogyakarta. Dan, penghasilan tambahan yang mereka dapatkan dari penjualan
produk kulit samak bulu kelinci mencapai Rp 4,2 juta per bulan.
"Pendapatan penduduk mengalami peningkatan dari Rp 14.077.500 menjadi Rp
18.292.500 per bulan atau mengalami kenaikan sebesar Rp 4,2 juta lebih per
bulannya. Kami berharap masyarakat mampu secara kontinyu memproduksi
kerajinan kulit fur ini, sehingga mampu menunjang pengembangan agribisnis ternak
kelinci Kecamatan Bumiaji," ujarnya.

Menyulap Kulit Jadi Duit Penyamakan Kulit


30 November 2009 Editor 47 Komentar Inspirasi Bisnis

Mau duit? Ayo kita mulai usaha


penyamakan kulit hewan, sebenarnya mau buka usaha apa saja tergantung kita
sendiri. Apalagi bila sudah mengenal usaha tersebut tentu saja lebih mempunya
kesiapan menghadapi berbagai kendala. Terutama lihat prospek jangka
panjangnya. Terus sudah punya pasar belum? Sebaiknya sebelum start coba
petakan dengan jelas kekuatan permintaan dan jalur distribusinya.
Bisnis kulit memang menguntungkan karena pasar masih terbuka lebar. Namun
untuk memulainya, pengusaha membutuhkan modal besar. Dengan modal Rp 200
juta, pengusaha hanya dapat memiliki 4 molen dan dikategorikan sebagai
pengusaha kecil. Namun, bisnis penyamakan kulit tidak harus memiliki mesin yang
banyak. Pengusaha yang tidak memiliki modal peralatan yang cukup, dapat
menggunakan mesin milik pengusaha besar asal memberikan bayaran yang sesuai.
Selain mesin, pengusaha pun harus membeli bahan-bahan kimia untuk proses
penyamakan kulit. Bahan-bahan kimia tersebut harganya sangat mahal karena
sebagian besar masih impor dari Eropa. Hanya kapur dan garam yang tidak perlu
impor, sedangkan sisanya yang mencapai 60% dari kebutuhan harus mengimpor.
Namun, keuntungan yang diperoleh pun dapat selangit bila pengusaha mampu
membaca peta pasar. Pangsa pasar masih sangat luas. Jangankan untuk pasar
internasional, pasar lokal dan nasional pun masih memiliki banyak celah. Namun,
bagi pengusaha kecil masih sulit untuk mencari celahnya. Keterbatasan dana pun
masih menjadi masalah. Ketika ada pesanan yang cukup besar, mereka terpaksa
menolaknya karena modal tidak mencukupi. Bagi pengusaha kecil, hingga saat ini
masih sangat berat untuk tetap bertahan. Selain terbatasnya kualitas dan kuantitas
hasil produksi, mereka pun minim akses terhadap pasar yang lebih luas. Barang
hasil produksi mereka
hanya untuk memenuhi pasar lokal.

Namun berbeda bagi pengusaha besar, gairah kebangkitan mulai terasa. Mereka
mampu menjual hasil produksinya ke hampir seluruh tempat di Indonesia, bahkan
sudah diekspor melalui perusahaan pengekspor ke beberapa negara seperti
Australia, Singapura, Malaysia, dan Cina. Proses dalam industri penyamakan kulit
bertujuan untuk merubah kulit hewan menjadi lembaran-lembaran kulit jadi yang
siap untuk dipergunakan menjadi bahan baku produk kulit seperti : sepatu, tas,
kerajinan, dll.
Terdapat 2 jenis kulit yaitu kulit berkelas yang bebas dari pewarna dan tidak
mengandung metal lebih besar dari 62,5 ppm, sedangkan kulit samak adalah kulit
setengah jadi sebagai bahan baku untuk industri sepatu atau garmen. Penyamakan
kulit terdiri atas banyak proses yang saling berurutan. Pada saat kulit mentah
(rohet) memasuki proses awal, akan diseleksi untuk menghasilkan (menyisihkan)
kulit berkelas. Tahapan proses dilakukan dalam drum yang berkapasitas memproses
400 600 lembar kulit sekaligus. Penyamakan dilakukan untuk mengubah kulit
mentah yang mudah rusak oleh aktivitas mikroorganisma, proses kimia maupun
fisik menjadi kulit tersamak yang lebih tahan terhadap faktor-faktor perusak
tersebut. Yaitu dengan memasukkan bahan penyamak ke dalam jaringan kulit yang
berupa jaringan kolagen sehingga terbentuk ikatan kimia antara keduanya
menjadikan lebih tahan terhadap faktor perusak. Zat penyamak bisa berupa
penyamak nabati, sintetis, mineral, dan penyamak minyak.
Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses panjang, dan garis besarnya dibagi 3
proses utama yaitu proses awal (beam house atau proses rumah basah), proses
penyamakan, dan finishing. Proses awal terdiri atas perendaman (untuk
mengembalikan kadar air yang hilang selama proses pengeringan sebelumnya, kulit
basah lebih mudah bereaksi dengan bahan kimia penyamak, membersihkan dari
sisa kotoran, darah, garam yang masih melekat pada kulit), pengapuran
(membengkakan kulit untuk melepas sisa daging, menyabunkan lemak pada kulit,
pembuangan sisik, pembuangan daging, pembuangan kapur (deliming) (untuk
menghilangkan kapur dan menetralkan kulit dari suasana basa, menghindari
pengerutan kulit, menghindari timbulnya endapan kapur), pengikisan protein,
pengasaman (pickle) (untuk memberikan suasana asam pada kulit sehingga lebih
sesuai dengan senyawa penyamak dan kulit lebih tahan terhadap seranga bakteri
pembusuk). Pada kulit sapi, dilakukan proses pembuangan bulu menggunakan
senyawa Na2S.
Sesuai dengan jenis kulit, tahapan proses penyamakan bisa berbeda. Kulit dibagi
atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit berasal dari binatang besar seperti kulit sapi,
kerbau, kuda dll), dan skin (untuk kulit domba, kambing, reptil dll). Jenis zat
penyamak yang digunakan mempengaruhi hasil akhir yang diperoleh. Penyamak
nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan, bersifat agak kaku
tetapi empuk, kurang tahan terhadap panas. Penyamak mineral paling umum
menggunakan krom. Penyamak krom menghasilkan kulit yang lebih lemas, lebih
tahan terhadap panas. Lewat proses penyamakan, dilakukan proses pemeraman
yaitu menumpuk atau menggantung kulit selama 1 malam dengan tujuan untuk
menyempurnakan reaksi antara molekul bahan penyamak dengan kulit.
Proses penyelesaian (finishing) menentukan kualitas hasil akhir (leather). Terdiri

atas beberapa tahapan proses yang bervariasi sesuai dengan jenis kulit, bahan
penyamak yang digunakan, dan kualitas akhir yang diinginkan. Proses finishing
akan membentuk sifat-sifat khas pada kulit seperti kelenturan, kepadatan, dan
warna kulit. Proses perataan (setting out) bertujuan untuk menghilangkan lipatanlipatan yang terbentuk selama proses sebelumnya dan mengusahakan terciptanya
luasan kulit yang maksimal. proses perataan sekaligus juga akan mengurangi kadar
air karena kandungan air dalam kulit akan terdorong keluar (striking out). Beberapa
proses lanjutan lainnya adalah pengeringan (mengurangi kadar air kulit sampai
batas standar biasanya 18 20 %), pelembaban (menaikkan kandungan air bebas
dalam kulit untuk persiapan perlakuan fisik di proses selanjutnya), pelemasan
(melemaskan kulit dan mengembalikan kerutan-kerutan sehingga luasan kulit
menjadi normal kembali), pementangan (untuk menambah luasnya kulit),
pengampelasan (untuk menghaluskan permukaan kulit). Kulit samakan bisa dicat
untuk memperindah tampilan kulit.
Alat dan mesin yang digunakan dalam melakukan proses penyamakan adalah
sebagai berikut :

Timbangan, berfungsi untuk mengetahui berat kulit dan bahan-bahan kimi


yang akan digunakan.

Pisau seset atau pisau fleshing, digunakan untuk membuang daging yang
masih melekat pada kulit saat proses buang daging.

Papan kuda-kuda, digunakan untuk meniriskan atau menggantung kulit


setelah proses penyamakan

Papan pentang, digunakan untuk mementang kulit agar kulit lebih lemas dan
memperoleh luas yang maksimal.

Mesin ampelas, digunakan untuk meratakan bagian dalam kulit sehingga


diperoleh kulit yang lebih tipis dan lemas.

Meja dan papan staking, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan


kulit yang dikerjakan secara manual.

Drum milling, digunakan untuk melemaskan dan menghaluskan kulit yang


telah disamak.

Drum putar (Tannning Drum), digunakan pada proses perendaman,


pencucian, serta proses-proses lain yang menggunakan air dan bahan-bahan
kimia.

Alat-alat lain yang digunakan adalah spraying, ember, corong plastik, selang
air, gunting, pisau dan kertas pH.

diolah dari berbagai sumber.

ILMU DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH DAN KULIT Oleh : Achmad Prafitdhin
JURUSAN PRODUKSI TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN PERIKANAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MALANG 2009 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Limbah
menjadi masalah serius manakala tidak ditangani secara serius. Dewasa ini
penanganan masalah limbah harus menjadi prioritas utama. Banyak limbah
peternakan yang kini mulai disulap menjadi barang bernilai ekonomis tinggi. Dalam
praktikum kali ini praktikan mengolah limbah kulit kelinci untuk menjadi kurupuk
rambak dan kulit samak. Ceker ayam disulap menjadi kripik ceker dan kulit samak.
Feses di olah menjadi kompos dan bioarang kosaplus. Pembuatan krupuk rambak
kulit kelinci sangat mudah. Hal itulah yang melatarbelakangi praktikum ini
disamping untuk memanfaatkan limbah. Pembuatan krupuk sangat ekonomis jika
ditangani secara serius. Dibandingkan dengan penyamakan, pembuatan krupuk
rambak tidak menimbulkan limbah kimia. Hanya dengan kapur untuk
menghilangkan bulu-bulu yang menempel. Pembuatan krupuk rambak kulit kelinci
juga bermanfaat untuk memberikan informasi kepada masyarakat untuk membuat
hal yang sama. Kulit akan memiliki nilai ekonomis tinggi manakala telah mengalami
penyamakan. Kulit menjadi lebih awet karena telah ditempeli macam-macam bahan
samak yang sangat kuat dan menjadikan lebih tahan lama. Semua kulit dapat
disamak menjadi kulit samak dengan syarat memiliki jaringan kolagen. Jaringan
kolagen adalah jaringan ikat kulit yang terdiri dari protein. Jaringan ini tidak boleh
hilang dalam proses penyamakan kulit. Pembuatan kripik ceker sangatlah mudah
hanya dengan modal ceker ayam sebagai bahan utama. Ceker ayam dewasa ini
mulai diolah menjadi panganan lezat. Kripik ceker menjadi salah satu bentuk
pengolahan ceker ayam menjadi olahan berkelas dan berharga mahal. Per kilogram
kripik ceker mampu dihargai Rp 100.000,- Penyamakan kulit kelinci berbulu ini lebih
sulit dibandingkan dengan penyamakan yang tidak berbulu. Mempertahankan bulu

agar tidak lepas dari kulit menjadi tantangan tersendiri. Dalam praktikum kelompok
praktikan kulit mengalami kerusakan sehingga penyamakan kulit gagal. Perlu
diwaspadai, penyamakan kulit sangat banyak menimbulkan limbah kimia. Praktikan
sebaiknya menggunakan sarung tangan dalam pengerjaannya. Tujuan penggunaan
sarung tangan adalah untuk melindungi kulit kita dari bahan-bahan kimia
berbahaya yang digunakan dalam penyamakan kulit. Kompos menjadi andalan
petani akhir akhir ini. Disamping harganya murah kompos dapat menyuburkan
tanah dan mengembalikan nutrisi tanah. Tanah akan rusak jika terus menggunakan
pupuk kimia. Sehingga harus menggunakan bahan organic untuk mengembalikan
kesuburan dan nutrisi tanah. Briket batubara telah lama dikenal masyarakat untuk
memasak sebagai pengganti bahan dar minyak tanah. Briket kotoran sapi dengan
dtambahkan limbah-limbah pertanian akan menjadi salah sau alternative yang tidak
kalah hebat jika dikelola dengan tepat dan baik. Kotoran sapi yang biasa dibuang
akan lebih bermanfaat. I.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari
praktikum kali ini adalah bagaimana pembuatan krupuk rambak kulit kelinci? I.3
Tujuan Tujuan pembuatan krupuk rambak kulit kelinci yaitu : 1. Memberikan
pendidikan kepada mahasiswa. 2. Memberikan informasi kepada masyarakat 3.
Memanfaatkan kulit dan limbah untuk dijadikan barang yang lebih bernilai
ekonomis. BAB II KAJIAN TEORI Dalam pemanfaatan limbah pada praktikum kali ini
praktikan membahas tentang kulit dan kimbah kotoran sapi untuk dijaadikan barang
bernilai ekonomis tinggi. Ada beberapa sitilah atau pengertian yang berkaitan
dengan pembahasan laporan praktikum kali ini. Kulit adalah segala macam bentuk
kulit yang berasal dari hewan baik diternakkan maupun hewan liar. Ada dua
kelompok kulit yaitu hewan besar seperti sapi, kerbau, kuda, dll.atau disebut
dengan hides dan hewan kecil seperti kambing, domba, kelinci, dll atau disebut
dengan skin (Pancapalaga, 2009). Feses adalah sisa hasil metabolisme yang
dikeluarkan hewan ternak selain unggas sebagai sisa hasil metabolisme tubuh yang
tidak dapat diserap oleh tubuh sehingga harus dibuang. Pembuangan feses oleh
ternak melalui rektum atau anus. A. Krupuk Rambak Kulit Kelinci Krupuk rambak
krupuk yang dibuat dari bahan kulit ternak. Biasanya krupuk rambak dihasilkan dari
kulit sapi, kerbau dan kuda. Pembuatan krupuk rambak pun sangat sederhana
(Karyantina,2008). Krupuk rambak yang dihasilkan pada praktikum kali ini adalah
krupuk rambak yang dihasilkan dari kulit kelinci yang diproses sedemikian rupa
sehingga menghasilkan krupuk kualitas baik. Rasa krupuk pun tidak kalah dengan
krupuk rambak kulit sapi. B. Penyamakan Kulit Kelinci Berbulu Industri Penyamakan
kulit sebagai salah satu industri yang proses limbah yang masih sering
dipermasalahkan, dan mempunyai konsekwen untuk dapat mencemari lingkungan
yang ada disekitarnya baik melalui air, tanah dan udara(Zaenabku 2008). Tujuan
pengawetan kulit mentah adalah untuk menghindari / mencegah agar kulit mentah
tersebut tidak busuk karena terserang bakteri, tidak dimakan serangga serta tahan
terhadap keadaan sekitarnya. Dasar dari pengawetan kulit adalah untuk
mengurangi kadar air dalam kulit mentah sehingga mencapai batas minimum yang
diperlukan oleh bakteri pembusuk untuk dapat hidup dan berkembang biak.
Biasanya pengawetan kulit mentah dikerjakan dengan cara diracun kemudian
dikeringkan, direndam dalam garam jenuh ( 20 - 24 Be ) selama kurang lebih 24
jam, dan ada pula dilakukan dengan ditaburi garam direndam dalam garam jenuh,
dan dapat diawet degan cara diasamkan (pikel) (Anonim, 2009). Industri

penyamatan kulit adalah industri yang mengolah kulit mentah (hides atau skins)
menjadi kulit jadi atau kulit tersamak (leather) dengan menggunakan bahan
penyamak. Pada proses penyamakan, semua bagian kulit mentah yang bukan
colagen saja yang dapat mengadakan reaksi dengan zat penyamak. Kulit jadi
sangat berbeda dengan kulit mentah dalam sifat organoleptis, fisis, maupun
kimiawi. Dalam Industri penyamatan kulit, ada tiga pokok tahapan penyamatan kulit
yaitu proses pengerjaan basah. (beam house), proses penyamakan (tanning), dan
penyelesaian akhir (finishing) (Zaenabku 2008). Penyamakan kulit merupakan
proses produksi yang mengandung limbah yang berbahaya oleh karena itu perlu
dilakukan dengan metode teknologi bersih. Yaitu mengurangi atau meminimumkan
penggunaan bahan baku, air dan energi serta menghindari bahan beracun dan
berbahaya. Sebelum dilakukan penyamakan kulit perlu dilakukan pengawetan
terlebih dahulu dengan menggunakan garam atau asap cair untuk kulit yang akan
disamak dengan bulunya atau dikeringkan untuk kulit yang akan disamak untuk
kulit jaket atau kulit kelinci untuk atasan sepatu. Agar kulit menjadi lemas maka
perlu diberi minyak. Minyak yang digunakan dapat menggunakan minyak kelapa
atau kuning telur. Bahan-bahan tersebut di atas mudah didapatkan di pedesaan,
sedangkan peralatan untuk proses dapat menggunakan ember atau drum
penyamakanukuran kecil (Untari 2008). C. Kripik Kaki Ayam Tulang cakar ayam
dapat diolah menjadi lem (adhesive) yang bermutu tinggi Selain itu, ada satu
bentuk hasil olahan cakar ayam yang berupa makanan ringan yaitu keripik kulit
cakar ayam. Bahan-bahannya mudah didapat dan cara pengolahannya tidak begitu
sulit (Anonim, 2008) Ceker ayam mengandung protein yang tardapat pada kulit,
otot, tulang dan kolagen. Kolagen adalah sejenis protein jaringan ikat yang liat dan
bening berwarna kekuning-kuningan. Kolagen juga berguna untuk mempercepat
pemulihan jaringan yang luka atau cedera, melindungi jaringan dari cedera
kambuhan. Tidak hanya itu, ceker ayam juga bisa mencegah keropos tulang
(osteoporosis) (Anisa, 2008). D. Penyamakan Kulit Kaki Ayam Cakar ayam dapat
diambil kulitnya untuk disamak dan dijadikan barang-barang kerajinan kulit yang
cukup berharga. Secara histologis, kulit hewan pada umumnya dapat dibagi menjadi
tiga bagian yaitu epidermis, dermis dan hypodermis. Persentase dari masing masing lapisan kulit sangat berbeda dengan kulit hewan mamalia. Lapisan dermis
pada kulit cakar ayam cukup tebal dan lapisan hipodermis lebih tipis. Protein
kolagen pengaruhnya sangat dominan karena 90% total protein lapisan dermis
terdiri atas protein kolagen (Anonim, 2008) . E. Kompos Pupuk kompos merupakan
dekomposisi bahan bahan organik atau proses perombakan senyawa yang
komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan
dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji
atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu
mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah
dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah
serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan
kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak di petani/peternak
juga memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu kotoran sapi
merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos (Sinar Tani, 2009). F. Briket
Kosaplus (Kotoran Sapi Plus) Briket kosaplus adalah briket hasil temuan Ir
Wehandaka pancapalaga MM. MKes Kepala Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan

Perikanan, Universitas Muhammadiyah Malang. Briket kosaplus mulai di


sosialisasikan akhir tahun 2008. beberapa komposisi briket adalah feses sapi, arang
kayu dan lem kanji. Pemanfaatan limbah feses sapi mulai dikembangkan mulai dari
bio gas hingga feses sebagai briket kosaplus. Briket Kosap Plus adalah bioarang.
Bioarang adalah biomasa yang berasal dari limbah pertanian dan peternakan yang
merupakan bahan tidak berguna tetapi dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi
alternatif (Pancapalaga, 2008 dalam Prafitdhin, 2008). BAB III OPERASIONALISASI
III.1 Waktu dan Tempat Adapun tempat dilakukannya praktikum adalah
Laboratorium Peternakan, Fakultas Peternakan Perikanan Universitas
Muhammadiyah Malang. Dilaksanakan pada tanggal 1 29 April 2009. III.2 Alat dan
Bahan A. Krupuk Rambak Kulit Kelinci 1. Kulit kelinci 2. Kapur/ gamping 3. Air 4.
Ember 5. Pisau 6. Panci 7. Kompor 8. Nampan 9. Bumbu-bumbu (bawang putih,
ketumbar, dan garam) B. Penyamakan Kulit Kelinci Berbulu 1. Kulit kelinci 2. Wetting
agent 3. Soda abu 4. Formalin 5. Asam sulfat 6. Garam 7. Krom 8. Asam formiat 9.
Air bersih 10. Syinthan 11. Minyak sulphonasi 12. Anti jamur 13. Timbangan 14.
Ember 15. Pisau 16. Kompor 17. Panci C. Kripik Kaki Ayam 1. Kulit kelinci 2. Kapur/
gamping 3. Air 4. Ember 5. Pisau 6. Panci 7. Kompor 8. Nampan 9. Bumbu-bumbu
(bawang putih, ketumbar, dan garam D. Penyamakan Kulit Kaki Ayam 1. Kaki yam 2.
Air bersih 3. Wetting agent 4. Na2S 5. Kapur 6. Degressing agent 7. Asam Formiat 8.
Za 9. Batting agent 10. Garam 11. Zat penyamak nabati 12. Cuka 13. Syinthan 14.
Leveling agent 15. Cat dasar 16. Minyak sulphonasi 17. Casein 18. Seterika 19.
Ember 20. Pisau 21. Timbangan 22. Panci 23. Kompor E. Kompos 1. Feses 2.
Kantong plastic 3. Rumput 4. Kapur / gamping 5. Ember 6. Timbangan 7. EM 4 F.
Briket Kosaplus (Kotoran Sapi Plus) 1. Feses 2. Arang kayu 3. Lumpang dan alu 4.
Ayakan 5. Tepung kanji 6. Kompor 7. Panci 8. Ember 9. Alat pencetak briket III. 3
Cara Kerja A. Krupuk Rambak Kulit Kelinci 1. Cuci bersi kulit kelinci 2. Rendam kulit
kelinci dengan air kapur/gamping 2% dari berat kulit dan air 200% 3. Keesokan
harinya di cek, kalau bulu sudah mudah dicabut berarti telah siap 4. Cabuti bulu
hingga bersih 5. Potong-potong kulit kelinci menurut selera (5cm) 6. Rebus hingga
benar-benar empuk (10menit) 7. Bumbui hasil rebusan kulit kelinci dengan bawang
putih, ketumbar, penyedap rasa, dan garam 8. Ratakan bumbu agar masuk
meresap kedalam bahan 9. Jemur hingga kering (3-4 hari) 10. Bahan kering siap
digoreng menjadi krupuk rambak kulit kelinci B. Penyamakan Kulit Kelinci Berbulu 1.
Cuci bersih kulit kelinci 2. Timbang kulit kelinci, tambahkan 200% air, 3% formalin
90 dan 120, 0,5% soda kue 30 dan esok harinya putar 30. Cuci bersih, lakukan
fleshing dan timbang beratnya. 3. Lakukan picling dengan 10% garam 10, 0,5%
asam formiat (2x15), 1,5% asam sulfat (3x20), putar 60 dan cek pH (2,5-3),
keesokan harinya putar 30 lalu cek pH kembali (3 3,5) 4. Lakukan tanning dengan
100% air pickle, tambahkan 8 10% zat penyamak mineral 120, 1,5% soda
kue(3x15), putar 120 dan 180 lalu cek pH (3,8 4), eok harinya putar 60 lalu cuci
bersih 5. Lakukan washing dengan 300% air 40 C, 0,5 asam formiat 15, 0,25 FA 20
lalu cuci bersih 6. Lakukan retanning dengan 200% air 40 C, 5% syintahn 30 lalu
cuci bersih 7. Lakukan fat liquiring dengan 150% air 60 C, 7% mminyak sulphonasi
60, 1%FA 20, 0,02% anti jamur 10 lalu cek pH (3,7), lalu cuci bersih, bongkar dan
keringkan. C. Kripik Kaki Ayam 1. Cuci bersih kaki ayam 2. Rebus kaki ayam agar
agak lunak 3. Kuliti kaki ayam dengan cermat 4. Cuci bersih kembali hasil
pengulitan 5. Campur dengan bumbu-bumbu bawag putih, penyedap rasa,

ketumbar, dan garam 6. Jemur hingga kering (3-4 hari) 7. Bahan kering siap
digoreng D. Penyamakan Kulit Kaki Ayam 1. Pilih kaki ayam yang sempurna, tidak
ada luka gores atau akibat penyakit 2. Kuliti kaki ayam dengan hati-hati agar tidak
sobek terkena pisau 3. Lakukan liming dengan 300% air , 3% Na2S (2x30),
tambahkan kapur 4%, 0,5 degreasing agent 15 & (4x30), rendam semalam,
esoknya putar 10, cuci dan bongkar 4. Lakukan fleshing dan timbang beratnya 5.
Lakukan deliming, bating, dan degeasing dengan 200% air, 1%Za 30 menit, 0,5% FA
30, 1% bating agent 30, 1%degeasing agent 30 dan cuci bersih 6. Lakukan
pickling dengan 100% air, 8% garam 10, 1% FA (2x20), aduk 60 lalu cek pH (4,5),
rendam semalam dan esoknya aduk 10 lalu cek pH kembali (5-6) 7. Lakukan
tanning dengan 100% air pckle, 15% zat penyamak nabati (5x20), aduk 120
tambahkan cuka30%, lalu cek pH (5,5 6), esoknya aduk 15 lalu cuci bersih 8.
Lakukan retanning dengan 150% air 40 C, 5% syinthan 60 9. Lakukan dyeing dan
fat liquoring engan 150% air 40 C, 0,5 leveling agent 10, tambahkan 0,5% - 1% cat
dasar 60, tambahkan 50% air 60 C, 5% minyak sulphonasi 60, 1% FA 30 lakukan
cek pH (5) lallu cuci dan keringkan 10. Lakukan staking, buffing, dan trimming
setelah kulit kering 11. Kulit diulas dengan 20 gram casein dan 60 ml air lalu
seterika dengan suhu 90 C selama 2 menit 12. Kulit samak jadi E. Kompos 1.
Timbang 2 kg feses dan 1 kg rumput 2. Tambahkan 2 tutup botol EM 4 yang telah
dicampur air 1 0,5 liter 3. Ratakan dengan penambahan gamping 4. Masukkan ke
dalam kantong plastic 5. Tunggu 2 3 minggu berikutnya agar kompos benar-benar
matang 6. Ukur pH F. Briket Kosaplus (Kotoran Sapi Plus) 1. Keringkan feses sapi 2.
Tumbuk arang kayu dan ayak 3. Tumbuk feses kering lalu ayak 4. Buat ukurang
perbandingan dengan campuran arang dan feses dengan perbandingan 2 : 1, 1 : 1
dan seluruhnya feses 5. Tambahkan larutan tepung kaji yang telah direbus hingga
benar bnar menyatu 6. Cetak dengan cetakan dengan terlebih dahulu dipadatkan
7. Jemur hingga kering 8. Briket kering siap digunakan untuk memasak BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Krupuk Rambak Kulit Kelinci Krupuk kulit kelinci kering
dalam waktu 4 hari lalu di goreng, hasilnya krupuk gurih, bumbu meresap dan bisa
mengembang dengan baik. B. Penyamakan Kulit Kelinci Berbulu Penyamakan kulit
kelinci yang dilakukan gagal total karena kesalahan dalam pemberian bahan kimia
yaitu seharusnya soda abu salah diberi soda api. Hasil yang diperoleh bulu terlepas
dari kulitnya. Lemak sulit dihilangkan meskipun telah dilakukan perendaman
dengan tepol. Penyamakan gagal dalam proses tanning menuju washing kembali.
Bulu rontok. C. Kripik Kaki Ayam Kripik kaki ayam kering dalam waktu 4 hari lalu di
goreng, hasilnya gurih, bumbu meresap dan bisa mengembang dengan baik. Belum
ada rasa yang spesifik karena kripik kaki ayam belum dibumbui dengan aneka
bumbu seperti balado dan bumbu pedas. D. Penyamakan Kulit Kaki Ayam
Penyamakan kaki ayam berhasil dilakukan. Penyamakan kulit ini dilakukan dalam
waktu satu minggu. Dengan aneka macam proses mulai pemilihan kaki ayam,
pengulitan, liming, fleshing, deliming, bating, degeasing, pickling, tanning,
retanning, dyeing dan fat liuoring, sampai penjemuran. Warna coklat muda saat
kulit kering. Tekstur kulit miip kulit ular atau kulit buaya. E. Kompos Setelah 2
minggu di fermentasi di dalam kantong plastic kompos jadi dengan warna coklat
hijau, tidak ada bau feses, struktur kompos masih belum terdegradasi seluruhnya,
terdapat jamur. Keadaadn lembab. pH yang dihasilkan netral yaitu 7. F. Briket
Kosaplus (Kotoran Sapi Plus) Briket berhasil dibuat dengan macam-macam

perbandingan feses dan arang kayu yaitu 1 : 2, 1 : 1, dan seluhnya feses. Briket
kering setelah satu minggu dan siap dibakar. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan Kesimpulan praktikum limbah dan kulit adalah semua limbah
peternakan bias dimanfaatkan untuk mendatangkan uang. Nilai ekonomis limbah
peternakan sangat tinggi jika bisa mengolah dengan ilmu dan teknologi yang tepat.
Dalam praktikum limbah yang berupa feses bias diolah menjadi kompos yang
bernilai tinggi dan briket kosaplus yang menjadi andalan jurusan peternakan saat
ini. Kulit apapun yang memiliki jaringan kolagen dapat di samak menjadi kulit
samak berharga mahal tidak terkecuali kulit kelinci dan kulit ceker ayam. Saran
Saran dutujukan kepada seluruh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.
Bahwa semua limbah dapat diolah asalkan kita mau dan mampu dengan dibarengi
oleh ilmu dan teknologi yang tepat. Berfikirlah kritis dan mencarilah bahan-bahan
limbah yang belum terolah hingga kini yang mampu mendatangkan uang dan
bernilai tinggi. Selamat mencoba. DAFTAR PUSTAKA Anisa, Tiara. 2008 Ceker Ayam
Banyak Manfaat. (http://www.inilah.com/rubrik/ gaya-hidup/kesehatan/). Diakses 5
Mei 2009. Anonim. 2008. Keripik Kulit Cakar Ayam.
(http://caricadieng.wordpress.com/ 2008 /11/10/keripik-kulit-cakar-ayam/). Diakses 5
Mei 2009. Anonim. 2009. Mengeruk Untung dari Asap Cair pada Bisnis Penyamakan
Kulit. (http://id.wordpress.com/tag/asap-cair/). Diakses 23 Maret 2009. Karyantina,
Merkuria. 2008. Rambak Cakar (http://unisri.ac.id/merkuria/?p=43). Diakses 2 April
2009. Pancapalaga, Wehandaka. 2009. Histologi Kulit. Malang Prafitdhin, Achmad.
2008. Energi Terbarukan Briket Kotoran Sapi Plus. Diklat Kompas UMM: Malang.
Tidak dipublikasikan. Sinar Tani.com. 2009. Membuat Pupuk Kompos Dari Kotoran
Sapi (http://www. sinartani.com/). Diakses 5 Mei 2009. Untari, S. 2008. Penyamakan
Kulit Kelinci dengan Teknologi Tepat Guna sebagai Bahan Kerajinan Kulit dan Sepatu
dalam Menunjang Agribisnis Ternak Kelinci.
(http://peternakan.litbang.deptan.go.id/). Diakses 5 Mei 2009. Zaenabku. 2008.
Industri Penyamakan Kulit Dan Dampaknya Terhadap Lingkungan.
(http://keslingmks.wordpress.com/2008/08/18/ industri-penyamakan-kulit-dandampaknya-terhadap-lingkungan/).Diakses 5 Mei 2009. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I.2 Rumusan Masalah I.3 Tujuan
BAB II KAJIAN TEORI A. Krupuk Rambak Kulit Kelinci B. Penyamakan Kulit Kelinci
Berbulu C. Kripik Kaki Ayam D. Penyamakan Kulit Kaki Ayam E. Kompos F. Briket
Kosaplus (Kotoran Sapi Plus) A. Krupuk Rambak Kulit Kelinci III.2 Alat dan Bahan BAB
III OPERASIONALISASI III.1 Waktu dan Tempat B. Penyamakan Kulit Kelinci Berbulu C.
Kripik Kaki Ayam D. Penyamakan Kulit Kaki Ayam E. Kompos F. Briket Kosaplus
(Kotoran Sapi Plus) III. 3 Cara Kerja A. Krupuk Rambak Kulit Kelinci B. Penyamakan
Kulit Kelinci Berbulu C. Kripik Kaki Ayam D. Penyamakan Kulit Kaki Ayam E. Kompos
F. Briket Kosaplus (Kotoran Sapi Plus) B. Penyamakan Kulit Kelinci Berbulu A. Krupuk
Rambak Kulit Kelinci BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN C. Kripik Kaki Ayam D.
Penyamakan Kulit Kaki Ayam E. Kompos F. Briket Kosaplus (Kotoran Sapi Plus) BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA

Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu

Penyamakan Kulit

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelinci adalah ternak yang memiliki bulu eksotis. Kelinci banyak dibudayakan di
Indonesia baik sebagai usaha utama maupun sampingan. Pada mulanya kelinci
dibudidayakan untuk diambil dagingnya, namun dewasa ini kelinci juga diambil hasil
sampingnya berupa kulit dan bulu kelinci sebagai bahan samak.
Kulit kelinci sebagai hasil samping memiliki nilai potensial dalam menghasilkan kulit
bulu. Kulit kelinci ini dapat digunakan digunakan sebagai produk jadi yang memiliki
nilai ekonomis tinggi (Mustakim, Imam T, Ipik AR, 2007)
Kulit-bulu kelinci mentah rentan terhadap pembusukan yang menyebabkan produk
tersebut mudah rusak. Penyamakan kulit merupakan salah satu solusi yang bisa
diterapkan untuk pengawetan bulu kelinci. Proses penyamakan pada kulit kelinci
dimaksudkan untuk memperoleh kulit yang tidak mudah rusak dan kuat (Mustakim,
Aris SR, Lisa P, 2007)
Kulit kelinci dapat disamak dengan beberapa metode berdasarkan bahan
penyamaknya, antara lain penyamakan nabati, penyamakan mineral, penyamakan
minyak dan penyamakan secara sintetik.
Penyamakan kulit bulu secara nabati menggunakan tannin dan mimosa dapat
menghasilkan kulit samak yang berwarna coklat muda dan mimosa memiliki
penetrasi yang baik pada kulit berbulu. Penggunaan mimosa sebagai bahan samak
nabati pada kulit samak bulu dengan tingkat konsentrasi yang berbeda mampu
menghasilkan kualitas yang berbeda pula.
Penyamakan kulit berbulu juga dapat dilakukan dengan metode chrome.
Penyamakan dengan menggunakan bahan samak chrome untuk kulit bulu dilakukan

untuk memperoleh kulit bulu yang tahan lama, kuat, lemas, tahan terhadap air
mendidih dan penyerapan airnya kurang. (Mustakim dkk,2007)

1.2 Rumusan Masalah


a.

Bagaimana proses pengolahan kulit kelinci dilakukan?

b.
Bagaimana kualitas penyamakan kulit bulu dengan metode crome pada
tingkat yang berbeda terhadap kekuatan kulit samak?
c.
Bagaimana kualitas penyamakan kulit bulu kelinci dengan metode nabati
pada prosentase tannin yang berbeda terhadap kelenturan, dan kekuatan kulit
samak?

1.3 Tujuan
a.

Untuk mengetahui proses pengolahan kulit kelinci

b.
Untuk mengetahui kualitas kulit bulu samak dengan metode crome pada
tingkat yang berbeda terhadap kekuatan kulit samak
c.
Untuk mengetahui kualitas kulit bulu samak kelinci dengan metode nabati
pada prosentase tannin yang berbeda terhadap kelenturan, dan kekuatan kulit
samak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kulit kelinci yang segar merupakan media yang baik untuk tumbuh dan berkembang
biaknya mikroorganisme, oleh karena itu setelah ditanggalkan dari hewannya harus
segera dilakukan penyamakan, namun popularitas daging kelinci yang masih
rendah dan skala pemeliharaan yang kecil menyebabkan masih rendahnya
ketersediaan kulit kelinci dan sulitnya kontinuitas penyediaannya, sehingga tidak
ekonomis untuk segera melakukan proses penyamakan (Kusmajadi, 2009).
Metode penyamakan dan pengawetan berpengaruh terhadap kematangan kulit,
kuat mulur, dan kekenyalan kulit, sedangkan sifat organoleptik yaitu kepadatan
bulu, kerontokkan bulu, kilapan bulu dan penampilan bulu hanya dipengaruhi oleh
faktor pengawetan. Kuat tarik kulit tidak dipengaruhi oleh metode penyamakan,
pengawetan ataupun oleh interaksi keduanaya. Kualitas kulit samak bulu dengan
penyamakan khrom lebih baik dari penyamakan formalin. Kulit mentah segar yang
langsung diproses/disamak menghasilkan kulit jadi dengan mutu yang baik,

pengawetan garam/penggaraman memberikan hasil kulit jadi yang mendekati hasil


kulit mentah segar (Sasanadharma, 1992).
Kulit bulu memerlukan perhatian yang lebih daripada kulit lain karena kerusakan
sedikit saja dapat menyebabkan lepasnya bulu dan menjadi botak. Pisau pengulitan
harus berbentuk bundar dan ujungnya harus tumpul. Pengulitan harus segera
dilakukan, sebaiknya sewaktu hewan masih hangat. Pemompaan ialah cara yang
paling baik karena caraini menimbulkan kerusakan yang terkecil terhadap bulu
(Judoamijojo,1981).
Hasil yang baik dapat diperoleh bila bulu sampai di pabrik penyamakan dalam
keadaan segar dan dalam waktu empat jam setelah pengulitan. Tetapi pada
umumya keadaan tersebut hampir tidak pernah tercapai maka digunakan bahan
pengawet sementara, seperti penggaraman. Pertama-tama kulit harus dicuci bersih
untuk membuang semua darah, kemudian dihamparkan di meja atau lantai dan
taburi garam hingga merata. Bagian perut dilipat kedalam hingga saling bertemu.
Kulit lalu digulung dengan permukaan bulu keluar dan digulung dari kepala sampai
ekor dan diikat dengan baik agar keamanannya terjamin. Kulit yang diawetkan
dengan cara ini mampu bertahan 10 hari (Judoamijojo,1981).
Tujuan penyamakan ialah untuk memperoleh kulit bulu yang indah dan menarik.
Kerusakan yang dapat menyebabkan botak botak harus dihindari. Penyamakan kulit
bulu tidak dilakukan pengapuran karena dapat merusak epidermis dan bulu
(Judoamijojo,1981).
Perandaman harus berhati hati dan dilakukan secepat mungkin untuk menghindari
kemungkinan rontoknya rambut. Di sini hanya digunakan air dingin. Periode
perandaman bagi kulir bulu yang dikeringkan udara, lebih lama daripada kulit yang
digarami kering atau basah. Maka dapat ditambahkan garam 3-5% didalam airnya
untuk mempercepat periode perendaman. Kulit yang besar dapat diinjak injak
dengan kaki, diangkat dan digerut daging dengan pisau kulit tumpul. Untuk kulit
bulu kecil, larutan garam hanya dinerikan pada muka daging saja untuk
menghindari kerusakan bulu.
Pemikelan untuk kulit bulu berbeda dengan kulit tanpa bulu, karena kulit bulu tidak
dicelupkan dalam cairan tetapi hanya dilaburkan pada bagian atau permukaan
daging kulit yang dihamparkan pada bingkai atau di ayas meja. Konsentrasi
pemikelan adalan 3,6 kg garam dan 0,3 kg asam sulfat pada 40 liter air
(Judoamijojo,1981). Menurut Thorsense yang dikutip Mustakim dkk (2007),
menyatakan bahwa pengasaman dimaksudkan sebagai perlakuan untuk mencapai
pH asam yaitu sekitar 2% atau lebih rendah lagi.
Menurut Judoamijojo(1981), macam penyamakan kulit bulu yaitu menggunakan
chrom dan menggunakan bahan penyamak nabati dan sintetik.

2.1 PENYAMAKAN DENGAN CHROM

Penyamakan chrom dapat diperoleh kulit bulu yang tahan lama, tahan kelembaban
serta panas. Sifat kulit bulu chrom ternyata sangat menguntungkan, khusus bagi
proses pewarnaan. Kini telah dimungkinkan mewarnai segala macam kulit
bulubdengan terlebih dahulu dikerjakan dengan chrom. Bahan penyamak chrom
yan digunakan untuk kulit biasa antara lain chrom alum dan garam chrom yang
dapat juga digunakan untuk kulit bulu. Metode penyamakn chrom yang disarankan
yaitu.
a.
b.

Aplikasi cairan chrom hanya pada muka daging


Pencelupan ke dalam cairan chrom dalam tong (Judoamijojo,1981)

Aplikasi cairan chrom pada permukaan daging hanya dilakukan jika kulit yang akan
diproses tidak banyak. Makan konsentrasi cairan chrom menjadi 30 sampai 40 gram
chrom dan 60 sampai 100 gram garam biasa dalam tiap 100 liter air.Konsentrasi
bahan penyamak yang digunakan dalam tong harus 4 sampai 6 gram garam chrom
dan 30 sampai 40 gram garam biasa tiap 1 liter air. Adapun perbandingan antara
kulit dan cairan adalan 1 : 10 (Judoamijojo,1981).

2.2 PENYAMAKAN DENGAN BAHAN PENYAMAK NABATI DAN SINTETIK


Penyamakan nabati kulit bulu jika dilakukan tersendiri, tidak akan menghasilkan
kulit yang sama kualitasnya dengan yang disamak dengan bahan penyamak lain.
Hasil kulit samak nabati biasanya mempunyai cirri-ciri agak keras, tidak berdaya
lentur dan tidak supel. Karena itu bahan penyamak nabati jarang dipakai untuk
menyamak kulit bulu. Sifat lain yang kurang disukai ialah bahan penyamak nabati
akan memberi sedikit warna pada kulit dan untuk pewarnaan lain dapat dilakukn
dengan suhu rendah saja.
Tetapi hasil yang baik dapat diperoleh dengan menggunakan kombinasi bahan
penyamak nabaati dan sintetik. Bila yang diinginkan ialah kulit terang, maka lebih
baik menggunakan bahan penyamakk sintetik saja. Kulit harus dipikel terlabih
dahulu dalam larutan asam sulfat dan garam dapur, dilanjutkan dengan penrisan
sentriffugal dan akhirnya harus disamak dalm larutan penyamak sintetik 30 o 40o
Bkr. Bahan penyamak sintetik digunakan dengan cara sebagai berikut :
a.
Sebagai penyamak pendahuluan sebalum penyamakan dengan bahan
penyamak nabati;
b.

Tercampur dengan bahan penyamak nabati pada waktu proses penyamakan;

Bahan penyamak sintetik diperlikan untuk kulit yang telah dipekel kira-kira 4 5 %
dari bobot kulit bulu pikel yang telah ditiriskan. Bahan penyamak sintetik yang
belum dilarutkan dibubuhkan langsung pada kulit didalam drum, lalu diputar selama
30 menir. Waktu tersebut dianggap cukup sampai tannin diambil seluruhnya oleh
substansi kulit. Kulit bulu selanjutnya dicuci bersih dengan air untuk membersihkan
garam dan asam berlebih (Judoamijojo,1981).

Peminyakan atau perlemakan liker


Jika waktu penyamakan kulit bulu tidak diberi minyak yang disatukan dengan pasta
alum, maka kulit bulu tersebut perludilakukan perlemakan liker. Proses ini dilakukan
setelah penyamakn chrom, netralisai, pencucian dan penirisan. Tujuan peminyakan
ialah untuk restorasi lemak alami yang telah hilang waktu proses sebelumnya
dengan harapan memperoleh sifat supel dan lemas kembali. Bahan lemak yang
cocok intuk keperluan ini umumnya berbantuk cairan seperti minyak ikan, minyak
mineral, minyak nabati atau juga glyserin yang dicampur minyak.
(Judoamijojo,1981).
Sebagian besar minyak tersulfon kini telah menggantikan minyak-minyak
konvensional karena minyak tersulfon dapat lebih mudah meresap ke dalam
jaringan kulit serta menyebar labih merata. Emulsinya dapat lebih stabil dalam air
sadah.
Perlemakan liker biasa dilakukan pada muka kulitnya dan harus dijaga agar tidak
mengenai rambutnya. Setelah perlemakan liker, kulit bulu ditumpuk dalam keadaan
terlipat sepanjang tulang punggung dan permukaan daging ke dalamselama
beberapa jam. Kemudian kulit bulu digantung pada tonggak dalam ruangan teduh
cukup ventilasi, dimana suhunya tidak lebih dari 30 oC. Kulit tersebut jangan
dibiarkan terlalu kering karena masinh memrlkan proses lebih lanjut. Sebaiknya
pada waktu dikeringkan sesekali dilakukan peregangan (Judoamijojo,1981).
Perlakuan lebih lanjut adalah pembersihan kulit bulu dari segala kotoran, terutama
pada wol atau rambutnya menggunakan serbuk gergaji. Kulit dimasukkan atau
dikuburkan ke dalam serbuk gergajo lembab selama 24 jam. Serbuk gergaji lembab
akan mengabsorbsi kotoran diantara rambut dan memisahkan rambutnya. Proses
selanjutnya ialah pengetunan dengan pisau ketun yang berbantuk setengah bulan
atau dengan alat pengetun lutut. Dengan cara ini serat- serat kulit akan terpisah
satu sama lain sehingga akan menjadi supel (Judoamijojo,1981).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Proses Penyamakan Kulit Bulu Kelinci
Proses penyamakan kulit kelinci diawali dengan melakukan penimbangan terhadap
kulit bulu. Setelah dilakukan penimbangan kulit bulu direndam dalam larutan
campuran dari air, teepol dan soda kue. Kulit bulu tersebut diaduk selama 30 menit
dan direndam selama 1 malam. Stelah proses perendaman selesai, dilakuka
perendaman ulang dengan cairan campuran dari air teepol soda kue dan busen.
Proses pengadukan tersebut dilakukan selama 1 jam.
Setelah proses tersebut selesai maka dilakukan bating, yaitu proses penghilangan
protein menggunakan oropon. Proses bating dilakukan dengan cara mengaduknya
selama 1 jam kemudian dicuci. Setelah proses bating selesai mka dilakukan flesing,
yaitu proses penghilangan daging menggunakan pisau. Kemudian dilakukan

penguatan bulu menggunakan campuran air dan formalin dengan cara diputar dan
direndah semalam. Setelah itu dilakukan proses pengasaman menggunakan
campuran dari air, garam, asam semut dan asam sulfat.
Setelah proses diatas selesai maka dilakukan pelapisan dengan paste alum oxide,
kemudian shalpeter alum oxide. Setelah selesai kemudian dilakukan retanning
dengan campuran air dan syntan dilakukan dengan cara diputar selama1-2 jam dan
direndam semalam. proses terakhir ialah peminyakan. (Usmiati S, Cristina W,
Djajeng S, 2009)
3.2 Penyamakan kulit berbulu dengan metode nabati
Tanin adalah bahan yang digunakan dalam penyamakan nabati, prosentase
tannin yang digunakan sangat mempengauhi kualitas dari kulit sama baik dari
tingakt kelemasan, kekuatan, dan daya serap air. Menurut Mustakim dkk, (2007)
rata rata kelemasan kulit kelinci samak berbulu dengan perlakuan prosentase
penggunaan tannin sebagai bahan penyamak sebesar 15% memberikan hasil
kelemasan yang tertinggi yaitu 5,2 mm, sedangkan rata rata kelemasan yang
terendah pada kulit kelinci samak berbulu dengan penggunaan tannin sebesar 25%
yaitu 4,3 mm.
Penyamakan nabati kulit bulu jika dilakukan tersendiri, tidak akan menghasilkan
kulit yang sama kualitasnya dengan yang disamak dengan bahan penyamak lain.
Hasil kulit samak nabati biasanya mempunyai cirri-ciri agak keras, tidak berdaya
lentur dan tidak supel. Karena itu bahan penyamak nabati jarang dipakai untuk
menyamak kulit bulu. Sifat lain yang kurang disukai ialah bahan penyamak nabati
akan memberi sedikit warna pada kulit dan untuk pwarnaan lain dapat dilakukn
dengan suhu rendah saja (Judoamijojo,1981).
Hasil yang lebih baik akan diperoleh dengan metode kombinasi yaitu nabati
san sintetik, sesuai dengan pendapat Judoamijojo (1981), yang menyebutkan bahwa
hasil penyamakan akan lebih baik jika dengan metode kombinasi nabati dengan
sintetik, karena memiliki tingkat kelemasan yang lebih tinggi dan warna yang lebih
bagus.
3.3 Penyamakan dengan metode krom
Bahan krom bisa digunakan dengan berbagai dosis antara 6-10%. Penyamakan
dengan dosis yang berbeda akan menghasilkan kulit samak yang berbeda baik dari
segi kekuatan dan kelemasan. hal ini sesuai pendapat mustakim(2007) bahwa
perbedaan pengaruh yang terjadi dalam kekuatan bulu kulit kelinci samak bulu
disebabkan oleh penggunaan krom yang berbeda.
Zat krom yang biasa digunakan adalah bentuk korium sulfat basa. Zat penyamak
komersial yang paling banyak digunakan mempunyai basisitas 33,33%. Jika zat
penyamak krom ini difiksasikan di dalam subtansi kulit, maka basisitas dari cairan
krom harus dinaikan sehingga mengakibatkan bertambah besar ukuran partikel zat
penyamak krom. Pemakaiannya diperlukan cromosol B=10%. Hal ini sesuai dengan
pendapat Oetojo (1991) yang dikutip Mustakim dkk (2007) yang menyebutkan

bahwa kerataan bulu yang lebih baik dihasilkan dengan penggunaan Chromosol B
sebesar 10%.
Penyamakan kulit bulu dengan krom (chromosol B) dengan kosentrasi 10 %
memberikan hasil terbaik kekuatan sobek, kekuatan jahit, penyerapan air, kekuatan
bulu dan kerataan bulu (mustakim, 2007)
Berdasarkan data dari literature metode krom memiliki berbagai kelebihan seperti
lebih tahan lama, tahan panas dan lebih mudah dalam proses pewarnaan.

BAB 1V
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN

Proses pengolahan kulit kelinci agar memiliki nilai ekonomis yang lebih adalah
dengan cara peyamakan kulit berbulu yang terdiri dari penyamakan nabati,krom
dan sintetik.

Penyamakan dengan krom (chromosol B 10%) memberikan hasil yang paling


baik, yaitu memiliki kekuatan, kelemasan dan memudahkan dalam pewarnaan.

Penyamakan kulit bulu kelinci dengan tannin kosentrasi 15% mamapu


menghasilkan kulit samak yang terbaik.
4.2 SARAN
Kulit samak kelinci memiliki nilai ekonomis yang tinggi, sehingga banyak yang
memanfaatkan kulit bulu kelinci untuk disamak. Disarankan lebih berhati-hati dalam
proses penyamakan.

DAFTAR PUSTAKA
Judoamidjojo, R Muljono.1981. Teknik Penyamakan Kulit Untuk Pedesaan. Bandung :
Angkasa
Mustakim, Aris SW, Lisa P. 2007. Tingkat Prosentase Tanin Pada Kulit Kelinci Samak
Berbulu Terhadap Kekuatan Jahit, Krkuatan Sobek Dan Kelemasan. di dalam Ilmu
dan Hasil Ternak. Vol 2, No. 1 :Hlm 26-32

Mustakim, Imam T, Ipik AR. 2007. Tingkat Penggunaan Bahan Samak Chrome pada
Kulit Kelinci Samak Bulu Ditinjau Dari Kekuatan Sobek, Kekuatan Jahit, Penyerapan
Air dan Organoleptik. Di dalam Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak. Vol 2, No. 2 : Hlm
14-25
Sasanadharma, Yansa.1992. Pengaruh Pengawetan Dan Metode Penyamakan
Terhadap Sifat-Sifat Kulit Samak Bulu Kelinci
Rex .http://repository.ipb.ac.id/bitstream /handle/123456789/10213/Bab%20II
%202008nad.pdf?sequence=7. 1Oktober 2011
Suradi, Kusmajadi.2009. Potensi Dan Peluang Teknologi Pengolahan Produk Kelinci.
http://etd.eprints.ums.ac.id/2233/1/K100040006.pdf . 1 Oktober 2011

Pengawetan Kulit Dengan Cara Pengeringan


Thomas Saputro on Artikel On 8:03 AM
Advertisement
Pendahuluan

Pemanfaatan kulit ternak / hewan untuk kepentingan manusia itu berjalan searah
dengan perkembangan peradaban manusia. Keseluruhan produk sampingan hasil
pemotongan ternak, maka kulit merupakan produk yang memiliki nilai ekonomis
yang paling tinggi. Berat kulit pada sapi, kambing, dan kerbau memiliki kisaran 710% dari berat tubuh. Secara ekonomis kulit memiliki harga berkisar 10-15% dari
harga ternak .

Potensi hasil ikutan berupa kulit di Indonesia masih sangat besar, hal ini disebabkan
masih sedikitnya industri besar yang mengelola secara intensif, kalaupun ada
kapasitasnya belum mampu memenuhi permintaan pasar. Sebelum era krisis
moneter, pihak pemerintah dengan syarat tertentu masih mengizinkan industriindustri penyamakan kulit untuk mengimpor kulit mentah dan awetan dari luar
negeri, dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kulit dalam negeri
yang sepenuhnya belum mencukupi.

Namun demikian sejak dimulainya krisis moneter, pemerintah akhirnya


mengeluarkan suatu kebijakan untuk melarang impor kulit mentah maupun kulit
setengah jadi dari luar negeri dengan alasan tingginya harga dasar barang (naik +
300-400%) dan pajak impor yang harus ditanggung oleh importir akibat fluktuasi
rupiah oleh mata uang asing. Dengan langkah kebijakan tersebut para pengusaha
dalam negeri tentunya harus menyediakan bahan mentah untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri. Masalah yang timbul, apakah mutu kulit mentah maupun
kulit awetan yang dihasilkan oleh masyarakat di dalam negeri sudah memenuhi
standar yang sesuai atau paling tidak telah mendekati standar kualitas yang telah
ditetapkan. Sebuah fenomena yang patut kita ingat bahwa pada saat industri
perkulitan mengalami kejayaan pesat, ekspor kulit samak (leather) merupakan
sumber devisa negara non migas selain kayu, tekstil dan elektronik. Berdasarkan
gambaran tersebut, tentunya banyak hal yang harus dikaji dan terpulang kepada,
bagaimana perkembangan ilmu dan teknologi khususnya ilmu dan teknologi
pengolahan kulit ke depan serta kualitas SDM peternakan yang dimiliki. Pada
bagian-bagian selanjutnya akan dikaji mengenai teknik penanganan dan
pengolahan pada kulit.

Pembahasan

A.

Teknologi Pengawetan pada Kulit Mentah

Kulit secara histologi adalah merupakan organ tubuh yang paling berat, dimana
pada manusia meiliki berat sekitar 16% dari berat tubuh dan pada ternak sendiri
hanya berkisar 10%. Presentasi ini cukup bervariasi pada beberapa jenis ternak,
yakni pada ternak sapi berkisar 6-9%, domba 12-15% dan kambing 8-12% dari
berat tubuh (Soeparno dkk, 2011).

Pengawetan kulit secara umum didefinisikan sebagai suatu cara atau proses untuk
mencegah terjadinya lisis atau degradasi komponen-komponen dalam jaringan
kulit. Prinsip pengawetan kulit adalah menciptakan kondisi yang tidak cocok bagi
pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme perusak kulit. Hal tersebut
dilakukan dengan menurunkan kadar air sampai tingkat serendah mungkin dengan
batas tertentu sehingga mikroorganisme tidak mampu untuk tumbuh ( 5-10%).

Pengawetan kulit memiliki beberapa tujuan antara lain :


1.
Mempertahankan struktur dan keadaan kulit dari pengaruh lingkungan untuk
sementara waktu sebelum dilakukan proses pengolahan/penyelesaian
2.

Untuk tujuan penyimpanan dalam waktu yang relatif lebih lama

3.
Agar kulit dapat terkumpul sehingga dapat dikelompokkan menurut besar
dan kualitasnya serta mengantisipasi terjadinya over produksi karena stok kulit
yang terlalu banyak

Secara umum proses pengawetan kulit mentah yang dikenal di Indonesia terdiri
atas 4 macam, yakni :
1.

Pengawetan dengan cara pengeringan + zat kimia

2.

Pengawetan dengan cara kombinasi penggaraman dan pengeringan

3.

Pengawetan dengan cara garam basah

4.

Pengawetan dengan cara pengasaman (pickling)

B.

Pengawetan dengan Cara Pengeringan

Pengeringan ialah suatu cara / proses untuk mengeluarkan atau menghilangkan


sebagian air dari suatu bahan, dengan cara menguapkan sebagian besar air yang
dikandungnya dengan menggunakan energi panas. Biasanya kandungan air bahan
dikurangi sampai batas dimana mikroba tidak dapat tumbuh lagi di dalamnya.
Pengeringan dapat pula diartikan sebagai suatu penyerapan panas dalam kondisi

terkendali, untuk mengeluarkan sebagian besar air dalam bahan pangan melalui
evaporasi (pada pengeringan umum) dan sublimasi (pada pengeringan beku).

Pengeringan baik parsial maupun penuh tidak membunuh semua mikroba yang ada
dalam bahan pangan yang dikeringkan. Pengeringan ternyata dapat mengawetkan
mikroba, seperti halnya mengawetkan hasil sampingan ternak yakni kulit. Selain itu,
produk pangan kering umumnya tidak steril. Oleh karena itu, meskipun bakteri tidak
dapat tumbuh pada bahan kering, tetapi jika makanan tersebut dibasahkan kembali,
maka pertumbuhan mikroba akan kembali terjadi.

Ada 2 istilah yang dipakai untuk pengeringan yaitu :


1.
Drying : suatu proses kehilangan air yang disebabkan oleh daya atau
kekuatan alam, misalnya matahari (dijemur) dan angin (diangin-anginkan).
2.
Dehydration (dehidrasi) : suatu proses pengeringan dengan panas buatan,
dengan menggunakan peralatan/alat-alat pengering seperti oven.

Tujuan pengeringan kulit yaitu :


1.
Mengurangi resiko kerusakan karena kegiatan mikroba. Mikroba memerlukan
air untuk pertumbuhannya. Bila kadar air bahan berkurang, maka aktivitas mikroba
dihambat atau dimatikan.
2.
Menghemat ruang penyimpanan atau pengangkutan. Umumnya kulit
mengandung air dalam jumlah yang tinggi, maka hilangnya air akan sangat
mengurangi berat dan volume bahan tersebut.
3.
Untuk mendapatkan produk yang lebih sesuai dengan penggunaannya.
Misalnya rambak.

Keuntungan pengawetan dengan cara pengeringan :


1.

Bahan lebih awet

2.
Volume dan berat berkurang, sehingga biaya lebih rendah untuk pemrosesan,
pengangkutan, dan penyimpanan.
Kerugian pengawetan dengan cara pengeringan :
1.
Sifat asal dari bahan yang dikeringkan dapat berubah, misalnya bentuknya,
sifat fisik dan kimianya, penurunan mutu, dll.
2.
Beberapa bahan kering perlu pekerjaan tambahan sebelum dipakai, misalnya
harus dibasahkan kembali (rehidrasi) sebelum digunakan.
Proses pengeringan dapat dilakukan dengan cara :

1.

pengeringan langsung dengan sinar matahari

2.

pengeringan buatan seperti dengan oven.

Prinsip-prinsip pengeringan adalah untuk menghambat pertumbuhan mikroba


dengan mengurangi kadar air. Jika kita mengeringkan, ada 2 masalah pokok yang
teribat di dalamnya, yaitu :
1.

Hantaran panas kepada bahan dan di dalam bahan yang dikeringkan

2.

Penguapan air dari dalam bahan

Kedua hal di tersebut menentukan kecepatan pengeringan. Penguapan air dari


dalam bahan tergantung dari banyak faktor sekeliling bahan yaitu : suhu,
kelembaban, kecepatan aliran air, tekanan udara, serta waktu pengeringan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan :


1.

Luas permukaan bahan

2.

Suhu pengeringan

3.

Aliran udara

4.

Tekanan uap di udara

Bahan kulit dapat dikeringkan dengan cara :


1.
Alami , yaitu menggunakan panas alami dari sinar matahari, caranya dengan
dijemur (sun drying) atau diangin-anginkan
2.
Buatan (artificial drying), yaitu menggunakan panas selain sinar matahari ,
dilakukan dalam suatu alat pengering

Pengeringan dengan sinar matahari


Pengeringan dengan sinar matahari merupakan jenis pengeringan tertua, dan
hingga saat ini termasuk cara pengeringan yang populer di kalangan pengrajin kulit
terutama di daerah tropis. Teknik pengeringan dilakukan secara langsung maupun
tidak langsung (dikeringanginkan),.
Pengeringan dengan pemanas buatan

Pengeringan dengan pemanas buatan mempunyai beberapa tipe alat dimana


pindah panas berlangsung secara konduksi atau konveksi, meskipun beberapa
dapat pula dengan cara radiasi. Alat pengering dengan pindah panas secara
konveksi pada umumnya menggunakan udara panas yang dialirkan, sehingga

enersi panas merata ke seluruh bahan. Alat pengering dengan pindah panas secara
konduksi pada umumnya menggunakan permukaan padat sebagai penghantar
panasnya.

Adapun urutan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :


1.

Pencucian dan pembuangan daging

Kulit yang baru dilepas dicuci dengan air mengalir dan kelebihan daging maupun
lemak yang masih melekat dibuang. Pisau yang digunakan harus tajam dan
bentuknya melengkung untuk mencegah robeknya kulit. Setelah semua lemak dan
daging telah bersih selanjutnya dicuci kembali dengan air mengalir.

2.

Pengetusan (Pentirisan)

Kulit yang telah dicuci kemudian disampirkan atau ditiriskan diatas kuda-kuda kayu
dan dibiarkan menetes selama 30 menit.

3.

Pemberian zat kimia

Kulit direndam dalam bak yang berisi zat kimia jenis Natrium Arsenat 0,5% selama
5-10 menit. Setelah proses tersebut selesai, kulit masih disampirkan diatas bak
agar sisa-sisa zat kimia masih tetap menetes kembali ke dalam bak.

4.

Pementangan

Setelah zat kimia menetes dengan baik, kulit dipentang dan ditarik dengan tali pada
kerangka kayu (pentangan kulit). Pentangan untuk kulit sapi, kerbau maupun kuda
menggunakan kayu bulat dengan diameter kira-kira 5-10 cm yang menyerupai
model bingkai gambar. Ukuran panjang maupun lebarnya disesuaikan dengan
kondisi kulit dengan acuan bahwa pentangan tersebut dapat menampung luas
maksimal dari kulit. Kulit yang akan dipentang dilubangi pada bagian pinggirnya
dengan jarak kira-kira 2-3 cm dari batas pinggir kulit dan ditarik hingga posisi kulit
terpentang dengan sempurna tanpa adanya pengkerutan dan pelipatan pada
bagian pinggir maupun tengah. Proses pementangan untuk kulit kecil seperti
domba, kambing maupun reptil dapat dilakukan diatas papan dan teknik
pementangannya tidak perlu menggunakan tali tapi cukup dilakukan dengan
menggunakan paku.

5.

Pengeringan

Kulit yang telah dipentang selanjutnya siap untuk dijemur. Proses pengeringan
tidak boleh dilakukan terlalu cepat, sebab zat-zat kulit pada lapisan luar akan
mengering lebih cepat dibanding pada bagian dalam dari kulit.
Temperatur yang terlalu tinggi menyebabkan zat-zat kulit (kolagen) mengalami
proses gelatinisasi menjadi gelatin yang bersifat mengeras dan tentunya dapat
menghalangi proses penguapan air pada bagian dalam. Bila hal tersebut terjadi
mengakibatkan kulit akan membusuk pada saat disimpan dalam jangka waktu yang
lama. Untuk mengantisipasi hal tersebut beberapa petunjuk teknis sederhana
tentang posisi letak kulit dalam proses penjemuran kulit dibawah sinar matahari.
Penjemuran pertama dimulai pada bagian daging (flesh). Pukul 09.00-11.00 dan
pukul 15.00-17.00 penjemuran dilakukan dengan arah sinar matahari tegak lurus
dengan permukaan kulit. Pada waktu siang hari yaitu pukul 11.00-15.00
penjemuran dengan arah sinar matahari sejajar dengan arah datangnya sinar
matahari. Bila kulit pada bagian dagingnya telah kering, maka posisi kulit dapat
dibolak balik sedemikian rupa hingga semua pengeringan dapat merata disemua
permukaan kulit. Proses pengeringan kulit dapat selesai dalam waktu kurang lebih
2-3 hari dengan kondisi panas matahari yang cukup dan penguapan yang teratur.
Beberapa petunjuk sederhana untuk mengetahui apakah proses pengeringan telah
cukup, yakni apabila :
a.

Keadaan kulit terlihat tembus cahaya (transparan)

b.

Keadaan kulit tegang (kaku)

c.

Bagian daging dan bulu telah mongering

d.

Penampang kulit bila diketuk akan berbunyi nyaring

6.

Pelipatan

Setelah kulit menjadi kering selanjutnya dilepas dari pentangannya dan dilipat dua
dengan arah lipatan membujur dari pangkal ekor menuju ke kepala sejajar dengan
garis punggung dan membagi dua bagian tubuh yaitu kiri dan kanan. Bagian
daging atau bulu dapat ditempatkan pada bagian dalam maupun luar. Setelah
dilakukan pelipatan kemudian kulit dapat disimpan sebagai kulit awetan.

Keuntungan pengeringan dengan sinar matahari :


1.

energi panas murah dan berlimpah

2.

tidak memerlukan peralatan yng mahal

3.

tenaga kerja tidak perlu mempunyai keahlian tertentu

Kerugian pengeringan dengan sinar matahari :


1.

tergantung dari cuaca

2.

jumlah panas matahari tidak tetap

3.
kenaikan suhu tidak dapat diatur, sehingga waktu penjemuran tidak dapat
ditentukan dengan tepat.
4.

kebersihan sukar untuk diawasi

Keuntungan pengeringan buatan :


1.

suhu dan aliran udara dapat diatur

2.

waktu pengeringan dapat ditentukan dengan tepat

3.

kebersihan dapat diawasi

Kerugian pengeringan buatan :


1.
memerlukan panas selain sinar matahari berupa bahan bakar, sehingga biaya
pengeringan menjadi mahal
2.

memerlukan peralatan yang relatif mahal harganya

3.

memerlukan tenaga kerja dengan keahlian tertentu

Gambar proses pengawetan kulit dengan sistem pengeringan

KESIMPULAN

1.
Pengawetan kulit secara umum didefinisikan sebagai suatu cara atau proses
untuk mencegah terjadinya lisis atau degradasi komponen-komponen dalam
jaringan kulit.
2.
Ada dua cara pengawetan kulit dengan pengeringan yaitu dengan sinar
matahari dan buatan atau oven.
3.
Tujuan pengeringan kulit yaitu mengurangi resiko kerusakan karena kegiatan
mikroba. Menghemat ruang penyimpanan atau pengangkutan. Untuk mendapatkan
produk yang lebih sesuai dengan penggunaannya (misalnya rambak).

DAFTAR PUSTAKA
Gazali, irmang. 2013. Ilmu Pangan, Teknologi Pengawetan dan Pengolahan Kulit.
Diakses pada tanggal 19 Oktober 2013 pada pukul 14.40 WIB.
Hudaya, saripah. Ir.,MS. 2013. Teknologi Pangan dan Gizi, green word. Diakses pada
tangga 19 oktober 2013 pada pukul 14.35 WIB.
Soearno., R.A.Rihastuti, Indratiningsih dan S.Triatmojo. 2011. Dasar Teknologi Hasil
Ternak. Fakultas Universitas Gadjah Mada. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.