Anda di halaman 1dari 30

I.

1 Latar Belakang
Indonesia tergolong sebagai daerah vulkanik teraktif di dunia, sehingga memiliki
potensi energi panasbumi yang cukup besar. Potensi energi panasbumi di Indonesia terdapat
di sepanjang pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Sulawesi. Potensi
energi panasbumi yang dimiliki Indonesia tidak kurang dari 40% total energi panasbumi di
dunia atau sebesar 25.875 Mwatt atau setara dengan 12,37 milyar barel minyak. Jika
dimanfaatkan secara efektif dan efisien dirasa Indonesia tidak akan mengalami krisis energi
terutama energy listrik yang dipasok oleh Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi.
Namun demikian tidak dapat dipungkiri dibalik dampak positif tersebut terselip
dampak negatif berupa bencana geologi baik itu ancaman letusan gunung merapi, bencana
Tsunami, Gempabumi, dan lainya. Ancaman bencana ini tidak dapat dipindahkan dan bisa
saja terjadi pada waktu yang tidak ditentukan sehingga akan menimbulkan kerugian baik
secara moril maupun materiil. Untuk menekan resiko tersebut perlu dilakukan langkah tangga
bencana geologi dengan cara melakukan tindakan mitigasi becana. Kegiatan mitigasi bencana
tidak serta merta dapat dilakukan secara langsung, tetapi melalui pengamatan dan
pemahaman mengenai karaktersitik dari bencana yang ditimbulkan agar dapat mendesain
model mitigasi yang tepat guna sehingga menjadi efektif dan efisien.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas sebagai mahasiswa yang menggeluti bidang
kebumian sangat perlu dilakukan pengamatan secara langsung mengenai aplikasi dari materi
perkuliahan mitigasi bencana dan panasbumi melalui kegiatan fieldtrip, agar menimbulkan
insting geosaintis yang dapat menumbuhkan kerjasama antar mahsiswa maupun dosen
pembimbing.
I.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari kegiatan ini adalah agar mahasiswa lebih memahami penerapan
geofisika dan mitigasi bencana geologi di lapangan serta dapat mengalisanya di studio
Tujuan dilaksanakan kegiatan fieldtrip ini adalah sebagai berikut :
a

Mahasiswa mengetahui kegiatan monitoring untuk pemantauan aktivitas vulkanisme


gunung merapi sebagai salah satu langkah mitigasi bencana geologi

Mahasiswa Memahami produk erupsi gunung merapi pada endapan sungai yang
membentuk urutan-urutan lapisan sebagai representasi erupsi masa lalu.

Mahasiswa Memahami dan mengetahui geothermal system dari gunung Ungaran


sebagai dasar dalam perencanaan survei geofisika

Mahasiswa dapat membuat rekontruksi geologi dari pengamatan dan pengukuran di


lapangan secara langsung

I.3. Manfaat Kegiatan


a

Menambah pengetahuan mahasiswa mengenai aplikasi ilmu-ilmu yang di pelajari di


bangku perkuliahan

b Menjalin dan menumbuhkan kerjasama tim (teamwork) antar mahasiswa maupun


dosen yang berbeda karakter dan latar belakang
c

Menjadikan mahasiswa lebih kreatif dalam melihat fenomena-fenomena alam


disekitar yang berkaitan dengan bidang minat kegeofisikaan

I.4. Waktu dan Lokasi


Kegiatan fieldtrip ini dilaksanakan selama 2 hari yaitu 13 14 november 2015 dengan
rute perjalanan yang di tempuh mulai dari Kampus Universitas Gadjah Mada, Fakutas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada menuju pos
pengamatan gunung merapi (Pos Ngepos) dan dilanjutkan ke kawasan gunung Ungaran di
Jawa Tengah. Selama perjalanan setidaknya terdapat empat stopsite pemberhentian yang
diberikan penjelasan oleh dosen yang berkompeten pada bidangnya masing-masing. Peserta
yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 35 orang mahasiswa pascasarjana Ilmu Fisika, bidang
minat geofisika FMIPA UGM didampingi oleh 3 orang Dosen yaitu Dr. H. Wahyudi. M.Si.,
Imam Suryanto, M.Si., Dr.rer.nat. Ade Anggraeni, S.Si., M.T. dan Dr. Nukman serta 1 orang
Staff Program Studi Geofisika yaitu mas Budi.
I.5. Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan untuk menunjang kegiatan fieltrip ini adalah
sebagai berikut :
a. Peta geologi regional daerah gunung Ungaran
b. Peta Topografi daerah gunung Ungaran
c. Peta DEM daerah gunung Ungaran
d. Kompas Geologi
e. Global Positioning System (GPS)
f. HCl 0,1 M
g. Termometer suhu
h. pH-meter
2

i. Palu Geologi
j. Alat tulis dan buku catatan lapangan
II. Tinjauan Mitigasi Bencana dan Geologi
II.1. Manajemen Mitigasi Bencana
UU No. 24/2007 mendefinisikan penaggulangan bencana atau disaster management
sebagai serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi, dan
rekonstruksi. Bencana seringkali mengakibatkan keadaan yang kacau atau chaos yang pasti
mengganggu kegiatan normal sehingga hasil yang dicapai tidak optimal. Melalui manajemen
bencana yang baik, keadaan kacau akan tetap terjadi, namun diusahakan agar waktunya
sesingkat mungkin sehingga hasil yang diperoleh lebih optimal. Ada 3 aspek mendasar dalam
manajemen bancana: a. Respons terhadap bencana, b. Kesiapsiagaan menghadapi bencana,
dan c. Minimisasi (mitigasi) efek bencana Ketiga aspek manajemen bencana tersebut
bersesuaian dengan fase-fase dalam apa yang disebut siklus bencana (Gambar 1)

Gambar 1. Skema Siklus Bencana


Fase Predisaster: kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi kerugian harta dan
korban manusia yang disebabkan oleh bahaya dan memastikan bahwa kerugian yang ada juga
minimal ketika terjadi bencana.
Kesiapsiagaan: serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi melalui
pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Langkahlangkah
kesiapan tersebut dilakukan sebelum peristiwa bencana terjadi dan ditujukan untuk
meminimalkan korban jiwa, gangguan layanan, dan kerusakan saat bencana terjadi.
3

Misalnya: penyiapan lokasi evakuasi, rencana kontijensi, dan sosialisasi peraturan/pedoman


penanggulangan bencana.
Mitigasi: serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana (UU No 24/2007). Bentuk mitigasi: (1) Mitigasi struktural: membuat checkdam,
bendungan, tanggul sungai, rumah tahan gempa, dan lain-lain, dan (2) Mitigasi non struktural
(perundang-undangan, pelatihan, dan lain-lain).
Pencegahan: upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana (jika
mungkin meniadakan bahaya). Misalnya: melarang pembakaran hutan dalam perladangan,
dan melarang penambangan batu di daerah yang curam.
Peringatan dini: upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana
kemungkinan akan segera terjadi. Pemberian peringatan dini harus: menjangkau masyarakat
(accessible), segera (immediate), tegas tidak membingungkan (coherent), dan bersifat resmi
(official).
Saat bencana (tanggap darurat): serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan
segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan.
Meliputi kegiatan: (1) penyelamatan dan evakuasi korban maupun harta benda, (2)
pemenuhan kebutuhan dasar. (3) perlindungan, (4) pengurusan pengungsi, dan (5)
penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
Bantuan darurat (relief): merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan
dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa: pangan, sandang, tempat tinggal sementara,
kesehatan, sanitasi dan air bersih.
Fase Pasca Bencana, Pemulihan/Recovery: proses pemulihan darurat kondisi
masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada
keadaan semula. Upaya yang dilakukan adalah memperbaiki (rekonstruksi) prasarana dan
sarana dari pelayanan dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar puskesmas, dan lain-lain)
Rehabilitasi: upaya langkah yang diambil setelah kejadian bencana untuk membantu
masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting dan
menghidupkan kembali roda perekonomian.
Rekonstruksi: program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fisik,
sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama
atau lebih baik dari sebelumya.

II.2. Kajian Geologi Kawasan Candi Gedong Songo


Candi Gedong Songo yang merupakan wilayah desa Candi, Kecamatan Bandungan,
Kabupaten Semarang, terletak di lereng selatan Gunung Ungaran pada ketinggian 1300-an
m di atas permukaan laut. Iklim di wilayah Gedong Songo termasuk iklim tropis basah
dengan temperatur berkisar antara 15o-25oC.
Dari Yogyakarta, Candi Gedong Songo dapat dicapai melalui jalan Yogyakarta
Semarang; yang pertama sesampai desa Pringsurat, Bedono, Kabupaten Temanggung,
berbelok ke barat menuju kota kecil Sumowono dan sesampai Sumowono berbelok ke timur
ke arah Bandungan dan sesampai di desa Candi belok ke utara; atau yang kedua; melalui
Ambarawa belok ke barat menuju Bandungan kemudian terus ke barat menuju Sumowono
dan sesampai desa Candi berbelok ke utara.
II.3. Geologi Regional
Gunungapi Ungaran merupakan salah satu dari beberapa gunungapi di Jawa Tengah
yang membentuk suatu deretan gunungapi yang menarik yaitu deretan Ungaran-TelomoyoSoropati-Merbabu-Merapi (Gambar 3). Kegiatan gunungapi di deretan ini berada di utara
dengan gunung ungaran dan lambat laun berpindah ke selatan ungaran dan Merbabu kini
berada dalam keadaan solfatara. Soropati-Telomoyo merupakan reruntuhan gunungapi tanpa
tanda kegiatan dan Merapi kini merupakan yang paling giat (Zen,1983).
Geologi regional (Thanden dkk., 1996) Gunung Ungaran tersusun terutama oleh
batuan beku ataupun hasil letusan gunung api dan batuan sedimen, yang tertua berumur
Miosen Tengah (11,8 16 juta tahun) sampai dengan yang termuda berumur Kuarter (kurang
dari 1,8 juta tahun). Secara setempat, di sebelah selatan sampai tenggara, di sekitar
Ambarawa, dan di sebelah utara, di sekitar Ungaran, tersingkap batuan beku andesit (Tma)
yang membentuk gunung-gunung kecil, seperti pada Gunung Turun, Gunung Kendalisodo,
Gunung Siwakul, Gunung Mabang, dan Gunung Pertapan yang berumur Miosen Tengah
(lihat Gambar 2, Thanden dkk., 1996). Di samping itu juga tersingkap secara setempat pula
batuan beku basal (Tmb) yang berumur Miosen Tengah di Gunung Sitapel, Gunung Klesem
dan Gunung Mergi di sebelah timur. Di sekitar Gunung Ungaran, pada lereng, juga tersingkap
Formasi Kerek (Tmk) yang tersusun oleh perselingan batulempung, napal, batupasir tufan,
konglomerat, breksi volkanik dan batugamping. Secara tidak selaras batuan beku dan formasi
berumur Miosen Tengah tersebut ditumpangi oleh formasi dan hasil aktivitas gunungapi
Pliosen, yaitu: Formasi Penyatan (QTp) yang terdiri dari batupasir tufan, breksi volkanik,
tuf, batulempung dan aliran-aliran lava; Formasi Kaligetas (Qpkg) yang tersusun oleh breksi
5

volkanik, tuf, aliran lava, batupasir tufan dan batulempung; Formasi Jongkong (Qpj) yang
tersusun oleh breksi andesit hornblende-augite; Batuan Gunungapi Kaligesik (Qpk) yang
tersusun oleh aliran basal olivin augite; Batuan Gunungapi Gajahmungkur (Qhg) yang terdiri
dari lava andesit hornblende-augite, berumur Holosen.

Gambar 2. Peta geologi regional daerah gunung Ungaran (Thanden dkk., 1996)
6

Gambar 3. Citra satelit yang menunjukkan rangkaian gunungapi Merapi-MerbabuTelomoyo-Ungaran di Jawa Tengah. Tanda kotak garis putih adalah daerah area
manifestasi Geothermal Gedongsongo, lereng selatan Gunung Ungaran,
11.4. Morfologi Gunung Ungaran
Morfologi Gunungapi Ungaran

dapat dibagi menjadi beberapa satuan morfologi

utama yaitu morfologi gunung Ungaran tua, morfologi gunung Ungaran muda (daerah
puncak,lereng dan kaki), kerucut gunungapi,daerah manifestasi panas bumi dan dataran
alluvial. Morfologi gununug Ungaran tua menempati pada bagian baratlaut (G. Kaligesik, G.
Balong dan G. Diwak) dan bagian baratdaya (daerah Lanjan, Kalibanger, Barokaan dan
Banyukuning). Morfologi bagian baratlaut berupa pegunungan dengan lereng sisi barat-laut
lebih landau dibandingkan sisi tenggara. Morfologi ini merupakan salah satu sisa tubuh
Gunung Ungaran tua yang telah mengalami runtuhan yang terbentuk akibat proses volcanotectonic depression (Bemmelen,1970).
Morfologi gunung Ungaran muda menempati sebagian besar daerah gunung Ungaran.
Morfologi ini dibagi menjadi tiga bab satuan yaitu daerah puncak,lereng dan kaki. Daerah
puncak memiliki beda ketinggian lebih dari 100 m dan shape lebih dari 35,menurut Zuidam
(Syabarrudin, dkk, 2003) termasuk ke dalam very sleep. Pada sub satuan ini dijumpai adanya
kenampakan kawah yang terbentuk akibat proses letusan Gunung Ungaran yang meghasilkan
produk aliran lava dan endapan piroklastik aliran. Kawah dapat dikenali dan perbukitan yang
mengelilingi kerucut utama. Kerucut yang terdapat di dalam kawah telah mengalami
runtuhan menjadi dua puncak yaitu G. Botak dan G. Gendol. Runtuhan cenderung ke arah
baratdaya-selatan dan membentuk gawir sesar (fault scarp) yang curam. Daerah lereng
memiliki beda tinggi antara 20-100 m dengan slope berkisar antara 10 hingga 32. Menurut
7

Zuidam (Syabarudin, dkk, 2003) termasuk ke dalam moderately sleepscarp. Daerah kaki
memiliki beda tinggi 1-15an dengan shape kurang dari 10 yang menurut

Zuidam

(Syabarudin, dkk, 2003) termasuk ke dalam kelompok genly sloping-sloping.


Kerucut gunungapi terbentuk karena adanya proses pemunculan magma ke
permukaan sehingga membentuk kerucut gunungapi. Morfologi ini berupa bukit yang
terisolasi seperti G. Pertapan, G. Gendol dan G. Lapak.
Daerah manifestasi panasbumi merupakan daerah yang terdapat manifestasi panasbumi
yang berupa mata airpanas. Fumarol dan alterasi hydrothermal. Daerah ini berada pada
ketinggian sekitar 1450 m. Daerah tersebut dijumpai di dekat kompleks Candi Gedongsongo.
Litologi yang ada berupa endapan piroklastik aliran dan endapan piroklastik surge. Endapan
piroklastik aliran yang berdekatan dengan manifestasi panasbumi mengalami alterasi menjadi
mineral lempung (Aribowo,dkk,2003).
Dataran alluvial memiliki relief yang rendah dengan kemiringan kurang dari 3. Satuan
ini terdapat di sebelah selatan daerah penelitian yang berada pada ketinggian 850-1000 m.
Sungai yang ada pada daerah tersebut adalah sungai panjang, sungai benger, sungai dadar,
sungai wetan, sungai talun dan sungai Tarukam.
11.5. Stratigrafi Gunungapi Ungaran
Gunungapi Ungaran selama perkembangannya mengalami ambrolan tektonik yang
diakibatkan oleh pergeseran gaya berat karena dasarnya yang lemah. Menurut Bemmelen
(1970), Ungaran termasuk ke dalam deretan pegunungan Serayu Utara
Secara umum, stratigrafi regional daerah penelitian dan sekitarnya dari yang tertua
hingga termuda adalah sebagai berikut :
1

Lutut Beds
Endapan ini berupa konglomerat dan batu gamping dengan fosil berupa Spirodypens,
Eulepidema, Miogypsyda dengan penyebaran yang sempit. Endapan ini menutupi
endapan Eosen yang ada di bawahnya. Endapan in berumur Oligo-Miosen

Merawu Beds
Endapan ini merupakan endapan flysch yang berupa perselangselingan lempung serpihan
batu pasir kuarts dan batupasir tufan dengan fosil Lepidocyclina dan cycloclypeus.
Endapan ini berumur Miosen bawah.

Panjatan Beds
Endapan ini berupa lempeng serpihan yang relative tebal dengan kandungan fosil .. Fosil
yang ada menunjukkan Miosen tengah
8

Banjuk Beds
Endapan ini berupa batupasir tufan yang diendapkan pada Miosen atas.

Tjipluk Beds
Endapan ini berupa Napal yang berumur Miosen atas berada di atas Banjak Beds

Kapwig Limestone
Batu gamping tersebut diendapkan pada Pliosen bawah dengan dijumpainya fosil
Trybludepidina dan Clavilahes sp. Namun kedua fosil ini kelimpahannya sangat sedikit.

Kalibuk Beds
Endapan ini berupa lempeng serpihan dan batupasir yang mengandung moluska yang
mencirikan fauna Cheribonsan yang berumur Pliosen tengah

Damar Serves
Endapan ini merupakan endapan yang terbentuk pada lingkungan transisi. Endapan yang
ada berupa tuffaceous marls dan batupasir tufan yang mengandung fosil gigi rhinoceros,
yang mencirikan Pleistosen Awal-Tengah

Notopuro Brecures
Endapan ini berupa breksi vulkanik yang menutupi secara tidak selaras di atas endapan
Damar series. Endapan ini terbentuk pada Pleistosen Atas.

10 Alluvial dan endapan Ungaran Muda


Endapan ini merupakan endapan alluvial yang dihasilkan oleh proses erosi yang terus
berlangsung sampai saat ini (Hollosen). Selain itu juga dijumpai endapan breksi andesit
yang merupakan produk dari Gunung Ungaran Muda.
Sementara itu, Budiarjo dkk (1997) menjelaskan bahwa tatanan stratigrafi daerah
gunungapi Ungaran tersusun atas lava andesit dan penlitik serta batuan piroklastik dan breksi
volkanik setelah pembentukan Kaldera Ungaran. Formasi ini terletak di atas batuan vulkanik
tua yang terbentuk sebelum pembentukan Kaldera Ungaran.
11.6. Struktur Geologi Gunungapi Ungaran
Struktur geologi yang dijumpai di gunungapi Ungaran sebagian besar berupa sesar
turun dan kekar (gambar 4). Tubuh gunungapi ungaran terpotong-potong oleh beberapa sesar
normal yang memberikan kesan adanya sesar gelang (ring fault) yang belum berhasil dicari
adalah beberapa besar throw sesar-sesar tersebut untuk dapat menghitung besar volume yang
terperosok ke dalam lapisan sedimen di bawah gunungapi tersebut, sehingga mengakibatkan
perlipatan di sebelah utara dalam perbukitan candi (Zen, 1983).

Sesar turun ringin terbentuk akibat runtuhan tubuh Ungaran tua yang disebabkan
proses volcano-tectonic depression yang membentuk blokGatel (Bemmelen, 1970). Sesar
tersebut berarah baratlaut-tenggara yang diperkirakan dari kenampakan break morfologi dan
kelurusan alur sungai Ringin yang terdapat di bagian baratdaya daerah penelitian.
Sesar turun Corong diidentifikasi berdasarkan pola aliran kali Corong yang mengalir
dari timurlaut ke arah baratdaya serta adanya perbedaan morfologi yang memisahkan antara
morfologi Ungaran tua dan Ungaran muda. Sesar ini dijumpai di daerah Gunungsari,
ditunjukkan pada gambar 4.

Gambar 4. Peta geologi tentative daerah Gunung Ungaran (Nugroho, dkk, 2003)
Sesar turun gading dijumpai di daerah Babadan yang didasarkan pada pola penyaluran
sungai Gading yang mengalir dari arah baratdaya kea rah timurlaut dan berdasarkan break
morfologi antara Gunung Ungaran tua dan Gunung Ungaran muda.
Sesar turun Kalibanger terbentuk akibat runtuhan tubuh gunung Ungaran tua yang
membentuk blok Berokan (Bemmelen, 1970). Sesar tersebut berarah baratdaya-timurlaut.
Kenampakan di lapangan berupa break morfologi yang kontras antara Ungaran tua dan
Ungaran muda.
Sesar turun berokan terbentuk akibat runtuhnya Gunung Ungaran tua. Kenampakan di
lapangan berupa break morfologi dan kelurusan alur sungai yang ada di daerah Berokan serta
adanya bidang sesar dengan arah N 105 E70 dan N30E150 dengan pitch 40 ke arah
selatan.
Sesar turun Losari merupakan bagian dari runtuhan blok gunung Ungaran tua yang
membentuk Blok pluang akibat proses volcano-tectonic depresiion (Bemmelen, 1970). Arah
sesar yang dijumpai di daerah Berokan adalah N265 E/83, N 98E/68, N 3 E/85 (pitch
15 ke arah utara), N 35 E/78, N 27E/85(pitch 40 ke arah timur). Batuan yang ada di
10

zona sesar mengalami hancuran yang sangat intensif, dan pada zona tersebut juga muncul gas
alam (masyarakat setempat menyebutnya api abadi). Gas alam yang berupa metana tersebut
dapat langsung terbakar jika terkena api secara langsung.Sesar turun Gongso terbentuk akibat
proses runtuhan tubuh gunung Ungaran Muda kearah baratdaya dan membentuk gawir sesar
(fault scarp )dengan alur sungai yang dalam dan Sesar turun Tarukan diindikasikan terbentuk
akibat runtuhan tubuh Gunung Ungaran muda kearah tenggara-selatan. Sesar ini didasarkan
pada gawir sesar (fault scarp) yang curam. Kenampakan sesar di lapangan berupa break
morfologi yaitu blok bagian baratdaya lebih turun dibandingkan blok sebelah timurlaut.
Sesar turun panjang terbentuk akibat runtuhan gunung Ungaran muda yang
membentuk kenampakan gawir sesar (fault scarp) yang terjal mengarah ke selatan. Pada jalur
sesar ini dapat dijumpai manifestasi berupa mata air panas, kolam air panas, fumarole,
steaming gorund, dan alterasi hydrothermal.
Pola kelurusan berdasarkan pada kelurusan alur sungai dan bentuk morfologi yang ada
di daerah penelitian berarah baratlaut-tenggara dan utara-selatan. Kelurusan yang berarah
baratlaut-tenggara dijumpai di daerah Kaligesis, di sebelah timur G. Gajahmungkur , sebelah
selatan G. Gajahmungkur dan sebelah timur G. Gendol. Kelurusan yang berarah utara-selatan
dijumpai di daerah Babadan sebelah utara G., Gendol. Kelurusan ini menerus sampai Kali
Promasan.
III. Stop Site pengamatan
III.1. Stop Site I Pos Ngepos
Pemantauan aktivitas gunung merapi dilakukan secara kontinyu yang dilakukan oleh
Kementrian Energi dan Sumber Daya (ESDM) bagian Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Semua informasi terkait direkam oleh Pos pengamatan
gunung merapi yang terdapat dari lima lokasi, yaitu :
1. Pos Kaliurang
2. Pos Jrakah
3. Pos Selo
4. Pos Babadan
5. Pos Ngepos
Pada kesempatan fieldtrip kali ini berkesempatan mengujungi salah satu pos pengamatan
gunung merapi yaitu pos Ngepos yang berada di jalan Cendana No. 15, dusun Ngepos, desa
Ngablak, kecamatan Srumbung, kabupaten Magelang. Secara geofrafis terletak pada
koordinat longitude 7o 35 06.9 dan latitude 110o 51 15.2 pada ketinggian 603.4 mdpl. Ini
11

merupakan salah satu dari dua pos pengamatan yang ada di kabupaten Magelang selain Pos
Babadan. Pos Ngepos berjarak

12 Km barat daya dari puncak kawah gunung merapi,

merupakan jarak yang cukup jauh, sehingga erupsi merapi 2010 tidak terkena dampak letusan
(Gambar 5).

Gambar 5. Posisi pos pengamatan gunung Merapi


Pos Ngepos dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1935, dan di halaman
depan terdapat menara pengawas yang tingginya 27 meter dalam kondisi baik, termasuk
kentongan yang digunakan sebagai tanda bahaya dini untuk warga lokal sebelum
digunakanya radio.
Melihat lebih detil kedalam bangunan yang berukuran

8 x 12 meter terdapat

banyak pajangan dinding yang memuat kondisi dan data statistik gunung merapi. Di bagian
dinding sisi utara ruangan terdapat foto kondisi erupsi gunung merapi tahun 2006 dan 2010,
dimana salah satu foto di ambil dari desa Turgo yang berada di selatan gunung merapi. Foto
ini memberikan gambaran bahwa bagaimana keadaan saat terjadi erupsi dengan keluarnya
material awal panas yang meluncur dari kawah merapi. Di sisi dinding selatan terdapat
beberapa data statistik hasil pemantauan gunung merapi berupa data hasil pengukuran EDM,
TIltmeter, dan sejarah erupsi.
EDM merupakan salah satu metode dalam pemantauan aktivitas gunung api dengan
prinsip mengukur jarak stasiun amat (benchmark) terhadap sensor-sensor (reflektor) yang
dipasang di sekitar gunung api. Jika terjadi peningkatan aktivitas magmatisme di bawah
permukaan dengan meningkatnya tekanan dan teperatur ditandai terjadinya deformasi di
permukaan. Sehingga posisi dari sensor EDM akan berubah tergantung arah deformasi.
Stasiun amat akan mengukur perubahan jarak karena deformasi dengan menembakan
gelombang elektromagnetik yang akan dipantulkan kembali dan direkam waktu penjalaran
gelombang. Dari analisa penjalaran waktu perambatan gelombang dapat diprediksi jarak
12

tempuh. Selanjutnya secara periodik akan diukur perubahan jarak awal (kondisi status
normal) terhadap jarak setelah deformasi. Perubahan posisi dalam rentang orde sentimeter
(cm) hingga meter (m) pada kondisi awas.
Dalam proses pengukuran keakuratan jarak EDM dipengaruhi oleh beberapa hal berikut :
-

Kebenaran dalam mengukur temperatur dan tekanan udara

Kestabilan frekuensi standar yang digunakan EDM

Kesalahan pemasangan EDM dan reflektor

Kesalahan dalam pengukuran sudut kemiringan dan ketinggian relatif antara dua titik
pengukuran.

Pengukuran EDM dilakukan secara skalar dikarenakan tidak diketahui kearah mana
deformasi terjadi, namun hanya memberikan informasi bahwa telah terjadi perubahan jarak
awal. Ini merupakan salah satu dari beberapa metode untuk penentuan status gunung merapi.
Hasil perekaman data EDM dibuat statistik dalam bentuk grafik yang diplot dengan ordinat
bulan (januari desember) dan absis perubahan jarak (Gambar 6). Analisa grafik dapat
dianalisa lebih lanjut oleh tenaga ahli untuk mengetahui sejarah letusan atau keperluan lainya.

Gambar 6. Grafik pengukuran EDM


Tiltmeter merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur perubahan
sudut kemiringan/ slope (tilt) suatu struktur gunung api serta sekaligus mengukur suhu
permukaan. Perubahan sudut tilt dan suhu ini disebabkan oleh perubahan tekanan yang
menyebabkan perubahan ketinggian antar dua titik pengamatan. Pengukuran tiltmeter
dilakukan secara kontinyu terhadap dua titik dimana terjadinya deformasi akibat erupsi.
Aplikasi dari tiltmeter dalah sebagai berikut :
-

Monitoring perubahan struktur akibat penggalian terowongan

Monitoring kestabilan tanah paa area tanah longsor

Monitoring dan mitigasi bencana akibat deformasi gunung api

13

Tilmeter diletakan pada lereng-lereng gunung merapi yang bertujuan untuk mementau secara
dini sebagai salah satu langkah mitigasi bencana. Peubahan sudut tilt dipantau terus menerus
dan diaktualisasikan dalam bentuk grafik yang diplot dengan ordinat bulan (januari
desember) dan absis perubahan sudut tilt dan suhu Gambar 7.

Gambar 7. Grafik pengukuran tiltmeter


Sedangkan foto sejarah erupsi memberikan pengetahuan kepada pengunjung
mengenai erupsi gunung merapi masa lalu yang perah terjadi dari waktu ke waktu hingga
tahun 2010. Data statistik ini memberikan informasi orde pendek ataupun orde panjang dari
erupsi merapi. Orde pendek dperkirakan 20 30 tahun, dan orde panjang diperkirakan 50
100 tahun Hingga dapat digunakan untuk memprediksi seberapa lama lagi akan terjadi erupsi
dengan skala tertentu. Namun ini hanya sebatas prediksi statistik, bahwasanya karakteristik
letusan dari gunung merapi berubah dari waktu ke waktu. Hal ini menjadi tantangan
tersendiri bagi ahli gunung api dalam mempelajari lebih jauh mengenai gunung merapi untuk
memberikan rekomendasi kepada pihak lain dalam mensiasati program mitigasi bencana.
Karena berbeda karakteristik maka akan memberikan tindakan mitigasi bencana yang
berbeda pula.

Gambar 8. Sejarah erupsi gunung merapi


14

Disisi lain bangunan pos Ngepos terdapat satu ruang monitoring yang berukuran

2.5 x 3 meter. Ruangan ini dikontrol selama 24 jam sehari setidaknya ada 2 orang petugas
dari PVMBG yang bertugas secara bergantian. Petugas bertanggung jawab atas semua data
dan informasi terkait dengan hasil perekaman data dan menginformasikan ke badan pusat
untuk disampaikan kepada publik. Dalam ruangan ini dilengkapi fasilitas AC (air
conditioner) serta terdapat CPU dan Monitor dengan berbagai fungsi dan kegunaanya
masing-masing. Dua buah monitor berfungsi sebagai tampilan seismogram dari beberapa
stasiun seismik yang dipasang disekitar lereng gunung merapi. Di antara stasiun pengamatan
seismik yang terpasang adalah sebagai berikut :
-

Stasiun Plawangan

Stasiun Pusung London

Stasiun Pasar Pundak

Stasiun Klatan

Stasiun Deles

Stasiun Jurang Jero

Setiap stasiun pengamatan aktivitas seismik gunung merapi ini dilengkapi sensor 3
komponen (3-component sensor), yaitu sensor perekaman getaran Utara-Selatan (N-S),
Barat-Timur (W-E), dan vertikal (Z). keseluruhan stasiun seismik terkoneksi dengan pusat
perekaman secara online, dimana rekaman data hasil pengukuran akan langsung terbaca oleh
monitor di ruang monitoring setiap pos pengamatan. Prinsip kerja alat ini adalah jika timbul
getaran yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas gunung merapi baik dari kedalaman yang
dalam, dangkal, hingga dekat permukaan. Hal ini dapat disebabkan oleh pergerakan magma
dari dapur magma menuju ke permukaan karena mengandung gas-gas volatile bertekanan
tinggi yang dapat menimbulkan getaran dengan frekuensi tertentu. Karakteristik dari gempa
yang dihasilkan bervariasi tergantung frekuensi gelombang, analisa jenis gempa dilakukan
oleh petugas dengan melihat kecendrungan even gempa yang terjadi. Hasil rekaman
seismogram dapat dilihat pada Gambar 9.

15

Gambar 9. Kondisi (a) ruang monitoring, (b) Rekaman seismogram


Gambar di atas merupakan rekaman seismogram pada komponen barat-timur (W-E),
terlihat bahwa muncul even-even seismik di beberapa stasiun tetapi tidak muncu pada stasiun
yang lainya. Hal ini bukan merupakan getaran yang bersumber dari aktivitas gunung merapi
melainkan getaran lokal yang mungkin disebabkan oleh runtuhan batu atau material lain
disekitar alat perekaman. Besar kecilnya gangguan yang terekam tergantung dari intensitas
getaran. Namun jika sumber getaran berasal dari aktivitas gunung merapi yang bersifat lebih
global maka akan muncul even seismik pada waktu yang sama pada seluruh stasiun seismik.
Aktivitas vulkanisme dapat ditinjau dari peningkatan gempa-gempa vulkanik yang terjadi, hal
ini dapat menjadi acuan bagi badan berwenang untuk memutuskan status dari gunung merapi.
Dengan pengalaman yang cukup lama petugas dengan cepat mengetahui jenis gempa , baik
itu dari gempa yang dalam, dangkal, maupun dekat permukaan. Analisa berdasarkan
karakteristik spektrum seismogram, dikarenakan gempa yang berbeda menghasilkan respon
rekaman yang berbeda pula. Petugas yang berjaga akan selalu memantau setiap even gempa
vulkanik yang terjadi dan mencatatkanya disebuah papan informasi setiap hari (Tabel 1).
Langkah yang dilakukan adalah mecatat seberapa banyak gempa dengan berbagai jenis yang
terjadi setiap hari, hal ini menjadi penting untuk meningkatkan status gunung merapi dari
keadaan normal ke level yang lebih tinggi.
Namun, peningkatan status gunung merapi tidak semata-mata hanya dilakukan
melalui analisa rutin seperti pengamatan EDM, Tiltmeter, GPS, dan seismik. Tetapi juga
melalui pengamatan perubahan tanda-tanda fisik dan analisa geokimia yang terjadi di area
gunung. Tanda fisik tersebut berupa terjadinya hembusan debu vulkanik, kepanikan binatang
disekitaran gunung merapi , dan lainya diamati dari menara dengan yang berada di halaman
luar ruangan yang dilengkapi dengan teropong. Secara geokimia dapat diprediksi dengan
meningkatkan kandungan CO2 dan unsur-unsur kimia lain akibat dari peningkatan aktivitas
vulkanisme merapi. Keseluruhan data-data ini akan dikombinasikan dan diinformasikan
kepada badan berwenang untuk menaikan status merapi.

16

Tabel 1. Tabulasi kejadian gempa vulkanik


Bulan : Oktober
Tg A V V L LH M Gu Te Tel Tre
l
P
a
b
F
F
P
g
k
e
m
1
2
1
2
1
1
3
3
3
1
2
4
2
2
1
5
1
3
3
6
3
1
5
7
5
3
2
8
2
4
9
4
2
10
2
3
3
11
3
4
4
12
4
5
5
13
5
2
2
14
2
1
1
15
1
1
1
16
1
2
2
17
2
3
3
18
3
1
1
19
1
3
20
3
3
4
21
4
4
2
22
2
2
3
23
6
6
4
24
4
2
1
25
2
2
26
1
1
2
27
4
4
1
28
4
1
29
2
2
2
30
1
1
3
31
1
1
Keterangan :
Ap : Awan Panas

Hem
b

LHF : Low High Frekuensi

Tele

MP : Multi Phase

Trem : Tremor

Teleseismic
Va : Gempa dangkal

17

Vb : Gempa dalam

Gug : Guguran

Hemb

Hembusan
LF

: Low Frekuensi

Tek

: Tektonik

Ruang monitoring juga dilengkapi dengan monitor rekaman CCTV yang terpasang di
beberapa lokasi untuk mengamati lajur

lahar dingin merapi setelah terjadinya erupsi

(Gambar 10). Langkah ini dilakukan untuk memberikan informasi sedini mungkin kepada
masyarakat di sekitaran sungai yang berhulu di gunung merapi agar dapat menyelamatkan
diri. Ini merupakan salah satu dari penerapan mitigasi bencana, ditimbang dari banyaknya
masyarakat yang melakukan aktivitas di daerah sungai seperti melakukan penambangan pasir
dan lain-lain. Tidak hanya itu, juga terdapat satu poster yang menggambarkan zonasi daerah
rawan bencana gunung merapi yang diaktualisasikan dalam bentuk lingkaran (radius) tertentu
tergantung dari tingkat kerawanan. Petugas maupun pengunjung dapat mengetahui sejauh
mana jangakauan bahaya ancaman gunung merapi, kemana arah lahar dan awan panas akan
bergerak dan lain sebagainya.

Gambar 10. Tampilan CCTV yang memantau pergerkan ahar dingin gunung merapi
Menyimpulkan dari keseluruhan pengamatan pada stopsite I adalah sangat diperlukan
langkah mitigasi bencana sedini mungkin dari ancaman bahaya merapi yang dilakukan dari
setiap pos pengamatan gunung merapi. Semua informasi dari setiap pos pengamatan
dikumpulkan suatu pusat dan diinformasikan ke publik secara cepat yang bertujuan untuk
mengurangi resiko bencana.
III.2. Stop Site II Kali Putih
Aktivitas gunung merapi meningkat karena adanya perubahan karakteristik tekanan
dan temperatur di dalam tubuh gunung yang disebabkan oleh proses magmatisme. Magma
yang bersifat mobile karena banyak mengandung gas-gas volatil akan bergerak secara
18

perlahan dari bawah permukaan dari P dan T yang tinggi ke P dan T yang rendah di
permukaan. Akibatnya adalah akan timbul getaran-getaran baik skala kecil maupun besar,
tergantung dari tipe gempa yang dihasilkan. Puncaknya adalah terjadi erupsi dengan
mengeluarkan material-material yang berada di sekitaran kawah ke permukaan. Material
tersebut dapat berupa bongkahan batuan maupun magma yang berasal dari bawah
permukaan. Karakteristik dari erupsi merapi berubah dari waktu ke waktu, ini menjadi suatu
keunikan gunung merapi. Awalnya berupa eksplosif yang memuntahkan material jauh ke atas
menyebabakan endapan piroklastik yang halus melempar jauh dari kawah gunung merapi.
Keadaan ini mungkin disebabkan kawah yang tersumbat dan menyimpan energi yang besar.
Seiring berjalanya waktu geologi tipe letusan gunung merapi berubah menjadi tipe
gelindingan awan panas (surge) melewati lereng-lereng dari kawah merapi di beberapa sisi,
Meskipun demikian masih terdapat pirokalstik yang halus yang melambung ke atas. Material
awan panas sangat beragam dari lava, batuan ukuran bongkah besar (boulder), hingga batuan
berukuran halus.
Hasil erupsi berupa awan panas yang melewati lereng-lereng gunung merapi akan
terendapkan dan jika terdapat hujan yang besar maka material tersebut akan menjadi lahar
dingin terbawa oleh air melewati sungai-sungai besar maupun kecil yang berhulu di gunung
merapi. Endapan lahar dingin merapi memiliki dampak negatif dan positif. Dampak negatif
berupa banjir lahar dingin yang dapat merubuhkan bangunan disekitar sungai yang
dilewatinya dikarenakan luapan dari banjir lahar dingin tersebut. Banjir lahar dingin merapi
membawa material yang beragam ukuran tergantung energi air sebagai medium
pembawanya. Hal ini menjadi ancaman bagi masyarakat yang tinggal dipinggiran sungaisungai sebagai aliran lahar dingin merapi. Namun, disamping itu dampak positif diperoleh
jika banjir lahar dingin berhenti. Material-material akan terendapkan di sepanjang sungai
yang dilewatinya yang memiliki nilai ekonomis dan dapat dilakukan penambangan oleh
masyarakat di sekitaran sungai (Gambar 11). Pasir dan bongkahan yang ditambah memliki
kualitas yang baik karena banyak mengandung unsur besi (Fe) yang berasal dari dalam
gunung merapi.

19

Gambar 11. Endapan lahar dingin di bantaran kali putih


Seperti terlihat pada Gambar di atas bahwasanya di bantaran sungai Putih (kali Putih)
terdapat lubang-lubang hasil penambangan pasir merapi yang dilakukan oleh masyarakat.
Material yang ditambang beragam baik

batu-batu besar hingga ukuran pasir sesuai

ketersedian dan permintaan konsumen. Jika dilihat lebih detil bentuk dan ukuran butir dari
material yang terendapkan dapat dianalisa seberapa jauh material tersebut tertranspor dari
pusat erupsi gunung merapi. Bentuk butir relatif menyudut (angle) dan berukuran besar
merepresentasikan material tertransportasi tidak jauh dari pusat erupsi, sedangkan bentuk
relatif membundar (subrounded - rounded) dan berukuran halus merepresentasikan material
tertransportasi sudah jauh dari pusat erupsi karena dipengaruhi beberapa faktor berupa
gesekan antar permukaan butir serta pengaruh gravitasi.
Rekaman stratovulkano dan sejarah letusan gunung merapi dapat dianalisa dari
endapan yang tersingkap dekat permukaan (Gambar 12). Terlihat bahwa urutan lapisan yang
bervariasi mencirikan karakteristik erupsi dan transportasi lahar dingin yang terjadi. Batas
lapisan endapan tergambarkan oleh garis warna merah dan hijau yang diinterpretasikan dari
perbedaan karakteristik lapisan. Batas ini terlihat jelas antara material endapan yang
didominasi oleh matrik berukuran kecil dan diisi oleh bongkahan batuan beku berukuran
sedang ( 10 30 cm) yang disebut sebagai matrik supported, dapat menjelaskan bahwa pada
saat terjadi banjir lahar dingin material yang terbawa relatif berupa lumpur yang pekat dan
intensitas banjir tidak besar. Hal ini terbukti dari terdapatnya bongkah-bongkah yang
berukuran besar dan tidak mampu terbawa oleh energi banjir ke daerah yang lebih jauh.
Sedangkan lapisan endapan yang didominasi oleh fragmen batuan yang berukuran sedang (
5 10 cm) disebut sebagai grain supported yang merepresentasikan banjir lahar dingin
20

dengan energi besar dan tidak terlalu berlumpur. Proses ini disebabkan oleh ketersedian air
sebagai media pembawa material hasil erupsi gunung merapi disekitaran lereng. Analisa
lanjut dapat dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari letusan gunung merapi dari waktu
ke waktu serta perkiraan terjadinya letusan melalui dating batuan.

Gambar 12. Lapisan endapan material hasil erupsi gunung merapi


Akibat energi letusan yang besar dari dalam gunung merapi akan menyebabkan
keluarnya batuan-batuan disekitaran kawah merapi, dapat berupa batuan beku vulkanik
hingga batuan piroklastik. Dari sampel batuan yang diamati dari lokasi pengamatan
didapatkan beberapa jenis batuan. Diantaranya adalah batuan beku intermediet andesit
(Gambar 13) dengan komposisi kandungan mineral discontiniuos pada deret bowen (Bowens
series) berupa hornblenda 60 % dan biotit 20 %, mineral lain berupa feldspar 10 % dan
kuarsa 10 %. Ukuran dari mineral realatif seragam dan kecil mencirikan batuan beku
vulkanik dimana pembentukan mineral melalui proses pendinginan temperatur relatif cepat.
Pembentukan mineral tertentu tergantung pada penurunan temperatur magma, penurunan
temperature yang lambat akan menghasilkan mineral yang relative berukuran besar dan
sebaliknya. Pada deret bowen discontinuous pada temperature tinggi terbentuk mineral
olivine yang banyak mengandung usur Fe (besi), seiring berkurangnya temperatur diiringi
dengan pertambahan Mg (Magnesium) dan pengurangan Fe terbentuk mineral dengan urutan
Piroksin, Horblenda, hingga biotit. Pada deret continuous yaitu deret alkali feldspar pada
temperatur tinggi terbentuk Anortit yang banyak mengandung Na (Natrium), dengan
berkurangnya temperatur diiringi dengan penambahan unsur Ca (Kalsium) dan pengurangan
Na terbentuk mineral dengan urutan bitownit, labradorit, andesine, oliogoklas, dan albit. Pada
akhirnya seiring bertambahnya SiO2 pertemuan dua deret ini menghasilkan K-Feldspar,
Muscovit dan kuarsa.
21

Gambar 13. Batuan beku intermediet (andesit)


Pada Gambar 14 dapat dilihat bahwa terdapat sampel batuan berupa batuan beku
basalt berwarna hitam dengan komposisi mineral 50 % piroksin, 20 % biotit, dan 30 % kuarsa
dan feldspar. Batuan beku basalt merupak batuan beku basa vulkanik memiliki ukuran
mineral yang kecil merupakan ciri penurunan temperature yang cepat dan terdapat ronggarongga kecil tempat keluarnya gas-gas volatil. Disamping itu juga terdapat batuan beku
piroklastik berupa tuffan berwarna abu-abu dengan komposisi dominan abu vulkanik dan
sebagian kecil terdapat biotit. Batuan ini mmerupakan produk dari erupsi gunung merapi
yang mengalami proses pembatuan pada rentang waktu geologi tertentu.

Gambar 14. Batuan Beku Basalt dan batuan piroklastik tuffan


III.3. Stop Site III Mesjid Pringsurat
Pada stopsite ini merupakan tempat pemberhentian sebelum sampai ke penginapan di
daerah Bandungan, kecamatan Ambarawa. Kegiatan yang dilakukan adalah pengenalan
aplikasi andoroid costume map oleh pak Nukman. Aplikasi ini terhubung dengan internet
berfungsi untuk memasukan peta geologi, peta DEM, dan peta geospasial lainya yang telah
terikat koordinat, sehingga diketahui keberadaan posisi yang sebenarnya di dalam peta. Hal
22

ini bertujuan agar selama perjalanan dapat diketahui melewati berbagai macam formasi
batuan yang dapat dibuat suatu rekonstruksi. Selain itu kita juga dapat mengetahui sedang
berada di formasi batuan tertentu dan memprediksi selanjutnya akan menemukan formasi
batuan lain. Hal ini menjadi penting ketika melakukan survey di lapangan untuk membangun
pola fikir secara geologi dan memperkirakan topografi di lapangan, apakah bias di lalui atau
tidak.
III.4.1. Stopsite 1
Stopsite 1 pada observasi gunung Ungaran merupakan area pintu masuk kawasan
wisata candi Gedong Songo berada pada koordinat X = 0427358, Y = 9203008, dan Z = 1270
mdpl. untuk mengawali kegiatan observasi diawali dengan penjelasan mengenai karaktersitik
dari gunung Ungaran yang merupakan tipe gunung api stratovulkano (berlapis) yang
diterobos oleh intrusi magma berupa volcanic neck. Diperkirakan keberadaan gunung
Ungaran saat ini merupakan bagian dari tengah kaldera akibat letusan hebat masa lalu,
diindikasikan dinding kaldera terlihat di sebelah selatan sekitaran kawasan rawa pening.
Disamping itu juga diberikan pengetahuan mengenai cara penggunaan kompas
geologi untuk pengukuran strike-dip lapisan batuan serta pengukuran slope (kemiringan)
lereng, hal ini sangat penting bagi geosaintis ketika melakukan pengamatan singkapan batuan
di lapangan untuk memperkirakan kemenerusan dan kemiringan lapisan batuan tersebut
sehingga dapat membangun suatu model geologi daerah pengamatan. Model geologi perlu
dibangun agar penelusuran saat melakukan pengukuran geofisika mendapatkan hasil yang
maksimal. Selanjutnya dijelaskan mengenai cara mengeplot posisi didalam peta topografi dan
peta DEM daerah pengamatan, ini bertujuan agar dapat mengetahui keberadaan observer
didalam peta dan nantinya akan dibuatsuatu peta lintasan. Pengeplotan posisi menjadi penting
karena dapat memprediksi keadaan topografi yang akan dilewati baik berupa lembah maupun
lereng dengan kecuraman tertentu.
III.4.2. Stopsite 2
Stopsite 2 berada di komplek Candi Gedong II pada posisi koordinat X = 0427204, Y
= 9203553, dan Z = 1368 mdpl. Pada pemberhentian dapat diamati batuan penyusun candi
berupa batuan beku andesit yang relatif berwarna abu-abu gelap hingga kemerahan.
Diperkirakan bahwa batuan penyusun candi ini di ambil dari produk dari gunung Ungaran
yang berada di sekitaran komplek candi. Pengamatan geologi dari kejauhan dapat dilihat
bahwa terdapat columnar joint yang tersingkap akibat longsoran di dinding gunung Ungaran
23

(Gambar 15). Ini merupakan fenomena alam yang unik dari suatu produk gunung api, dimana
struktur columnar joint terbentuk akibat adanya lava yang mengalir di lereng gunung dan
mengalami pendinginan secara bertahap sehingga membentuk struktur blocky yang
mempunyai ukuran yang relative seragam. Jika dilakukan pengamatan dari atas maka akan
berbentuk seperti paving yang tersusun rapi.

Gambar 15. Kenampakan struktur columnar joint di dinding gunung Ungaran


Keberadaan struktur columnar joint dapat merepresentasikan tipe letusan dari gunung
Ungaran masa lalu yang berupa aliran lava dengan kemiringan lereng sedang, hal ini berbeda
dengan proses pembentuk struktur sheeting joint dengan proses pembentukan pada lereng
yang relatif kecil. Keadaan ini bersesuain dengan hukum geologi yang dikemukan oleh James
Hutton mengatakan the present is the key to the past bahwasanya kenampakan geologi saat
ini merupakan kunci untuk mengetahui kondisi geologi masa lalu. Namun pengamatan dari
jauh belum dapat menyimpulkan banyak hal untuk mengetahui tipe batuan serta komposisi
dari struktur ini perlu dilakukan pengamatan secara langsung di singkapan.
III.4.3. Stopsite 3
Stopsite 3 berada di komplek Candi Gedong III, sepanjang perjalanan dari stopsite 2
menuju stopsite 3 dapat diamati bongkahan-bongkahan batuan baik berukuran kerakal hingga
boulder yang merupakan hasil produk letusan gunung Ungaran masa lalu. Batuan yang
ditemukan berbagai jenis dan komposisi yang indikasikan keberagaman material yang berada
di sekitaran kawah gunung Ungaran. Pada pemberhentian ini dapat teramati beberapa jenis
batuan diantaranya batuan beku andesit yang merupakan kelompok batuan beku intermediet
dengan warna abu-abu mengandung banyak mineral feldspar, biotit, dan kuarsa. Jika batuan
ini lapuk maka tanah hasil lapukan akan relatif lebih subur karena mengandung alumunium
silika. Selain itu terdapat batuan piroklastik dengan berat relatif ringan karena mengandung
24

tuffaceous (ash), diindikasikan bahwa terdapatnya tuff merupakan erupsi destruktif dengan
kondisi magma asam-granitik yang mengandung banyak gas. Jika erupsi berupa ekslusif
maka tipe magma berupa basaltik dengan kandungan gas sedikit.
Pada stopsite ini juga teramati batuan dengan tipe laharik breksia ditandai dengan
terdapatnya fragmen-fragmen batuan beku yang beragam jenis dan ukuran terdapat pada
matrik yang lebih halus. Kondisi ini merepresentasikan material lahar yang bercampur
lumpur mengalir dari gunung Ungaran dan terendapkan pada tempat tertentu. Jika dilihat
lebih detil fragmen berukuran besar yang menandakan transportasi laharik belum jauh dari
sumber erupsi. Pada Gambar 16 terdapat kekar minor pada bongkahan batuan andesit, jika
terdapat dibawah permukaan pada kedalaman tertentu dapat menjadi sebagai reservoir panas
bumi yang berisikan fluida panas. Kekar-kekar minor ini dapat terjadi secara alamiah akibat
adana tekanan dari bawah permukaan atau juga dapat dilakukan dengan teknik hidrolic
fracturing pada teknik pengoboran sumur. Proses ini bertujuan membuat kekar-kekar pada
batuan agar fluida panas dapat masuk sehingga memudahkan proses eksploitasi.

Gambar 16. Strutur kekar pada bongkahan batuan dekat candi Gedong-II
Pada Gambar diatas terlihat bongkahan batuan dengan kondisi bagian luar kemerahan
yang merupakan hasil lapukan melalui medium air dan udara karena mengalam oksidasi dari
Fe dan Mg yang terdapat pada komposisi mineral, namun tidak semua bagian lapuk bagian
dalam dari bongkahan batuan andesit ini masih dalam kondisi fresh.
III.4.4. Stopsite 4
Stopsite 4 merupakan salah satu manifestasi panasbumi dari gunung Ungaran berada
pada koordinat X = 0427085, Y = 9203682, dan Z = 1362. Pada stopsite ini terlihat batuan
yang mengalami alterasi (berubah struktur dan komposisi kimia serta mengalami proses cair
dan padat) yang di akibatkan oleh fluida asam kontak dengan batuan fresh

sehingga
25

menyebabkan perubahan warna batuan menjadi putih. Keberadaan batuan alterasi merupakan
informasi penting untuk memahami sistem panasbumi, karena beberapa tipe alterasi seperti
argilitik, porfiritik, kristobalistik dan lainya merupakan ubahan dari batuan yang berbedabeda tergantung bagian mana yang diterobos oleh fluida asam. Kontak fluida asam
temperatur tinggi dengan dinding batuan akan mengubah komposisi kimia mineral dan
struktur dari batuan yang diterobos. Jika yang diterobos berupa batuan piroklastik atau
laharik breksia maka akan terjadi alterasi argilitik dengan kandungan mineral ilite, smectite,
kaolonit, dan monmorilonite. Dimana tipe alterasi ini merupakan ciri dari batuan penudung
(clay cap) yang awalnya memiliki porositas dan permeabilitas sedang akibat laterasi maka
rongga-rongga tersebutakan tertutup oleh mineral ubahan. Jika fluida menerobos batuan beku
baik andesitik-granitik maka alterasi yang terjadi berupa porfiritik dalam sistem panasbumi
akan berpotensi sebagai reservoir dan alterasi kristobalistik merupakan penciri batuan heat
source. Pada temperature tinggi >250 oC maka akan muncul mineral-mineral seperti epidote,
wairukit, dan adularia sebagai penanda terdapatnya feed zone. Pengetahuan mengenai alterasi
menjadi penting dalam penafsiran sistem panasbumi untuk penetuan dari kedalaman top of
reservoir (TOR).
Selain pengamatan geologi juga perlu dilakukan pengamatan geokimia pada
manisfestasi panasbumi dengan cara mengambil sampel batuan dan air pada manifestasi
untuk dilakukan pengukuran di laboratorium. Pada kesempatan ini hanya dilakukan
pengukuran suhu menggunakan thermometer dan derajat keasaman (pH) menggunakan pHmeter pada manifestasi mata air panas (Gambar 17). Data yang didapatkan berupa suhu mata
air panas sekitar 56 oC dan pH 5,6 (kondisi asam), secara konvensional dilakukan pengukuran
debit mata air panas yaitu sekitar 10 mL/detik atau 600 liter/menit. Mata air panas ini muncul
karena adanya rekahan yang sampai ke permukaan sehingga aquifer yang diakibatkan panas
di bawah permukaan akan naik melalui rekahan tersebut mencari suhu dan tekanan yang
lebih rendah di permukaan (hukum termodinamika).

26

Gambar 17. Manifestasi air panas (hot water)


Pada lokasi yang sama tetapi pada elevasi yang lebih tinggi sekitar 30 meter dari mata
air panas terdapat manifestasi panasbumi berupa tanah beruap (steaming ground) dengan
suhu 56 oC pengkuran dilakukan pada suhu udara 29 oC. Steaming Ground terjadi karena
level air tanah lebih rendah sehingga yang sampai kepermukaan hanya panas saja tidak
diiringi dengan air panas (Gambar 18).

Gambar 18. Manifestasi steaming ground


Masih pada lokasi yang sama terdapat bongkahan batuan laharik breksia dengan
fragmen berupa batuan beku yang tertanam dalam matrik batuan yang berukuran kecil
(lumpur), namun pada Gambar 19 terlihat warna kuning yang menutupi beberapa bagian
merupakan belerang/sulfur (S) merupakan produk dari gas gunung Ungaran (FeS). Jika
batuan ini teralterasi maka akan menjadi tipe argilitik dengan permeabilitas yang kecil
sehingga secara regional akan menjadi sebagai clay cap.

27

Gambar 19. Bongkahan batuan breksi vulkanik


III.4.5. Stopsite 5
Stopsite 5 berjarak sekitar 75 meter dari stopsite 4, pada pemberhentian ini terdapat
manifestasi panasbumi berupa fumarol (steaming jet) berada pada koordinat X = 0427059, Y
= 9203761, dan Z = 1388 mdpl. Pada semburan panas fumarol dilakukan pengukuran tercatat
suhu sebesar 90 oC dengan tekanan uap yang sangat tinggi (Gambar 20). Kondisi ini
mengindikasikan berasosiasi langsung dengan sumber panas dibawah permukaan dengan
tekanan dan temperatur yang tinggi. Pada lokasi ini berpotensi untuk dilakukan pengeboran
sumur untuk eksploitasi namun perlu studi lebih lanjut mengenai sistem panasbumi.

Gambar 20. Manifestasi fumarole

28

Menuju kebarat dari pusat fumarol dilakukan pengukuran suhu tercatat sebesat 65 0C,
namun dinding di bagian timur yang dipisahkan oleh sungai kecil baik mata air panas
maupun tanah beruap menghasilkan suhu yang relatif lebih rendah sekitar 27 oC 60 oC.
Dapat dibuat kesimpulan sementara bahwa pada stopsite 4 dan 5 terdapat dua kondisi yang
berbeda baik temperatur, tekanan, maupun geokimia di bagian sebelah timur dan barat, untuk
informasi akurat perlu dilakukan penelitian lebih detil untuk daerah ini.
III.4.6. Stopsite 6
Stopsite 6 merupakan stopsite terakhir pada kegiatan fieldtrip kali ini berada pada
manifestasi panasbumi berupa steaming Ground pada koordinat X = 0426918, Y = 9203813,
dan Z = 1471 mdpl. manifestasi ini terjadi karena level yang jauh lebih lebih tinggi dari
akuifer air tanah. Sehingga air panas tidak sampai muncul ke permukaan. Sistem ini dikenal
dengan hot dry system dimana hanya uap panas saja yang muncul ke permukaan. Pada
Gambar 21 terlihat bahwa disekitar Steaming Ground juga terdapat alterasi ditandai dengan
ubahan batuan yang realtif berwarna putih kekuningan (bercampur balerng). Pada
pengukuran suhu pada kedalaman sekitar 30 cm dari permukaan tercatat suhu 97 oC
menandakan sumber panas yang tinggi di bawah permukaan.

Gambar 21. Manifestasi steaming ground


IV. Kesimpulan
Kegiatan Fieltrip mitigasi bencana dapat memberikan pengetahuan yang lebih banyak
kepada mahasiswa mengenai aplikasi langsung di lapangan mengenai proses mitigasi

29

bencana dalam hal ini gunung Merapi. Hal ini sangat penting karena materi yang
disampaikan di bangku perkuliahan belum cukup jika belum menyaksikan secara langsung
penerapanya. Disimpulkan bahwa perlu pemahaman mengenai karakteristik dari suatu
bencana sebelum melakukan langkah mitigasi secara dini serta banyak teknik mitigasi yang
harus dikembangkan untuk mengurangi dampak resiko baik moril maupun materiil.
Kegiatan Fieldtrip mengenai geothermal system gunung Ungaran memberikan
dampak positif kepada mahasiswa salah satunya adalah menumbuhkan insting geology dalam
memahami sistem panasbumi baik dari karakter secara regional maupun lokal. Setelah
mengikuti kegiatan ini mahasiswa dapat lebih jelas dalam pengukuran-pengukuran parameter
suhu maupun pH pada manifestasi panasbumi serta mengetahui batuan-batuan non-alterasi
maupun alterasi sebagai produk dari suatu sistem panasbumi.

30