Anda di halaman 1dari 15

PAPER

GLASS IONOMER CEMENT (GIC)

Disusun Oleh :
Nama :

Anggi Arieska Fatria

NIM

I4D109232

KEPANITERAAN KLINIK KONSERVASI RSGM GUSTI HASAN AMAN


PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
November 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya lah
maka penyusun dapat menyelesaikan paper / makalah berjudul Glass Ionomer
Cement (GIC) ini.
Pembuatan paper ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan
di klinik Konservasi RSGM Gt. Hasan Aman. Paper ini diharapkan dapat menjadi
referensi pada institusi pendidikan dokter gigi guna kelancaran kegiatan belajar
mengajar.
Tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
membantu penyelesaian paper ini. Penyusun menyadari keterbatasan akan literatur
dan sumber informasi terkait kajian dalam paper, untuk itu kritik dan saran sangat
kami harapkan.
Semoga paper ini dapat dipergunakan dan bermanfaat bagi kita semua.

Banjarmasin, November 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perkembangan bidang kedokteran gigi bukan hanya mencakup tindakan
preventif, kuratif dan promotif, melainkan juga estetik, menyebabkan kebutuhan
terhadap restorasi estetik semakin banyak. Berbagai penelitian telah dilakukan
untuk mendapatkan bahan restorasi yang ideal dari sifat fisik maupun
pengaplikasiannya.
Semen Ionomer Kaca (Glass Ionomer Cement / GIC) merupakan salah satu
bahan restorasi yang sering digunakan karena material ini dianggap paling
biokompatibel.

GIC

yang

merupakan

gabungan

dari

bubuk

kaca

fluoroaluminosilikat dan liquid asam poliakrilat ini pertama kali diperkenalkan


oleh Wilson dan Kent di Inggris pada tahun 1971. Penggabungan kedua bahan
tersebut bertujuan untuk mendapatkan sifat translusen, pelepasan fluor dari semen
silikat dan kemampuan melekat secara kimia pada struktur gigi dari semen
polikarboksilat. Hasilnya cukup memuaskan sebagai bahan restorasi.
Pada saat ini, kebanyakan dokter gigi menggunakan GIC untuk bahan
restorasi, terutama pada kavitas kelas III dan V. GIC digunakan karena memiliki
beberapa keunggulan antara lain, preparasi minimal, mampu berikatan secara
fisikokimia dengan jaringan gigi, dapat melepas fluoride yang memungkinkan
untuk mencegah terjadinya karies sekunder, estetik baik, biokompatibel, koefisien
termal yang sama dengan dentin, translusen, dan bersifat antibakteri.
GIC berkembang sejalan dengan waktu, dengan penambahan partikel logam
pada powder untuk memperbaiki sifat mekanik, penggantian sebagian komponen
agar dapat dikeraskan dengan penyinaran dan banyak lagi modifikasi yang dipakai
untuk memperbaiki sifat ionomer kaca. GIC yang tidak dimodifikasi disebut
semen ionomer kaca konvensional. Kemasan GIC konvensional terdiri dari serbuk
dan cairan. Kandungan powder terdiri dari SiO 29%; A2O3 16,6%; CaF2 34,3%;
AlF3 7,3%; NaF 3,0% dan AlPO6 9,9% presentase berat. Liquid GIC terdiri dari air
dan asam poliakrilik dengan konsentrasi 40-50% dan kadangkala ditambah asam

fumarik. Material dasar ini digabung sehingga membentuk kaca yang solid
dengan cara memanaskan sampai suhu 11001500 C. Lantanum, sronsium,
barium, atau oksida seng ditambahkan untuk mendapatkan sifat radiopak.
Kemudian kaca digerus menjadi powder dengan ukuran partikel berkisar antara
1550 m. Perbedaan kegunaan material GIC, terletak pada ukuran partikelnya.
Material untuk restorasi mempunyai ukuran partikel maksimum 50 m, sedang
ukuran partikel untuk material perekat atau pelapis di bawah 20 m.
Serbuk ionomer kaca itu sendiri adalah kaca kalsium fluoroaluminosilikat
yang larut dalam liquid asam. Kelarutan yang tinggi merupakan salah satu sifat
dari semen-semen gigi tidak terkecuali GIC, yang dapat berakibat hilangnya
bahan tersebut di dalam mulut. Faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut
antara lain komposisi semen, teknik yang dilakukan di dalam klinik, dan kondisi
lingkungan mulut.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Glass Ionomer Cement
Glass Ionomer Cement adalah bahan restoratif yang digunakan dalam
bidang kedokteran gigi sebagai bahan tambal dan semen dasar. Material ini
bekerja memanfaatkan reaksi antara bubuk silikat dan asam polialkeonik. Material

sewarna gigi ini diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 1971 sebagai
bahan restorasi untuk gigi anterior (terutama daerah yang terkena erosi dan yang
termasuk dalam klasifikasi Black kavitas kelas III dan V). Karena sifatnya yang
melekat secara kimiawi dengan jaringan keras gigi, mampu melepas ion fluor,
biokompatibel pada jaringan pulpa, dan koefisien termal ekspansi sama dengan
gigi, penggunaan GIC (Glass Ionomer Cement) menjadi semakin luas. Selain itu,
GIC melepaskan fluoride dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga dapat
menghilangkan sensitivitas dan mencegah terjadinya karies sekunder. (1, 3, 5)
GIC sering disebut dengan ASPA (Alumine Silicate and Polyacrylic Acid).
Struktur GIC dapat dilihat pada Gambar 2.1. Reaksi yang terbentuk dari GIC
adalah reaksi antara alumina silikat kaca dalam bentuk powder dengan asam
poliakrilik sebagai liquid (Gambar 2). (4)

Gambar 2.1. Struktur GIC Konvensional

Gambar 2.2. Reaksi asam-basa dari GIC Konvensional

Dalam penelitian Xu et al (2000) yang mengukur kemampuan bahan


material dalam melepaskan ion fluor terhadap compressive strength dari bahan
restorasi GIC, menyimpulkan bahwa terjadi korelasi negatif antara pelepasan ion
fluoride dengan compressive strength. Bahan material yang memiliki tingkat
pelepasan ion fluoride yang lebih tinggi, secara umum mempunyai kekuatan yang
lebih rendah dari material yang memiliki tingkat pelepasan ion fluoride yang
rendah. Compressive strength GIC konvensional umumnya adalah 188 Mpa. Nilai
ini menunjukan bahwa GIC cukup mampu menahan tekanan oklusal, namun
masih tergolong rendah sehingga terus dikembangkan lagi. GIC konvensional

berkembang menjadi GIC viskositas tinggi yang memiliki compressive strength


yang lebih tinggi. (3, 5)
Selama ini GIC juga digunakan sebagai restorasi intermediate, bahan
pelapik adhesif pada kavitas (teknik sandwich), ART ( Atraumatic Restorative
Treatment ), restorasi gigi desidui, sementasi mahkota, mahkota jembatan, veneer
secara permanen, sebagai pelindung bahan restorasi lain, dan sebagai pelapik
komposit. Beberapa keuntungan GIC yaitu melepaskan ion fluor dan menurunkan
sensitivitas dengan memberikan dasar yang kuat untuk komposit dan pelindung
pulpa. Dengan adanya kemampuan GIC dalam melepaskan ion fluor dan bersifat
adhesif, maka GIC juga secara luas digunakan untuk memperbaiki kehilangan
struktur gigi pada akar gigi sebagai akibat dari kerusakan gigi seperti abrasi
servikal dan sering digunakan pada kavitas non-undercut. (4, 6)
2.2. Komposisi GIC
Glass ionomer cement (GIC) merupakan nama generik dari grup material
berdasarkan reaksi antara silica glass powder dan polyacrilic acid. Material ini
memperoleh namanya dari formulasi antara bubuk kaca dan ionomer yang
mengandung carboxylic acid. Pada awalnya, GIC digunakan untuk restorasi
estetis pada gigi anterior, dan direkomendasikan untuk penggunaan pada restorasi
gigi kavitas kelas III dan kelas V (Klasifikasi Black). Karena perlekatan adhesinya
yang baik dengan struktur gigi dan potensinya untuk mencegah karies, jenis GIC
telah meluas pula penggunaannya sebagai luting agent, orthodontic bracket
adhesive, pit dan fissure sealants, liners dan basis core build-up, dan juga sebagai
material restoratif, GIC tipe I, digunakan untuk luting inlay, onlay, crown dan
bridge, memiliki ketebalan film 20 m atau kurang. GIC tipe II, digunakan untuk
restorasi pada area yang memiliki stress rendah, ketebalan filmnya mencapai 45
m. GIC tipe III, digunakan untuk pit dan fissure sealant, memiliki ketebalan film

25-35 m. Sedangkan GIC tipe IV, termasuk metal-reinforced ionomer,


digunakan untuk area yang memiliki stress tinggi, ketebalannya lebih dari 45 m.
(5, 6)

Bubuk GIC merupakan acid-soluble calcium fluoroaluminosilicate glass.


Komposisi bubuk GIC pada umumnya terdiri dari :
Silicon Dioxide (SiO2) 35,2 41,9 %
Aluminium Oxide (Al2O3) 20,1 28,6 %
Aluminium Fluoride (AlF3) 1.6 8,9 %
Calcium Fluoride (CaF2) 15.7 20,1 %
Sodium Fluoride (NaF) 4,1 - 9.3%
Aluminium Phosphate (AlPO4) 3.8 - 12,1 %
Bahan-bahan tersebut kemudian dipanaskan pada temperatur 1100-1500

supaya berfusi menjadi kaca yang homogen. (5, 6)


Cairan GIC merupakan larutan encer dari asam polyacrylic dengan
konsentrasi antara 40-50 %. Asam ini tersedia dalam bentuk copolymer yang
terdiri dari itaconic, maleic atau tricarboxylic acid. Asam ini cenderung
meningkatkan reaktivitas dari cairan, menurunkan viskositas, dan mengurangi
kecenderungan untuk berubah menjadi gel. Tartaric acid juga terkandung di dalam
cairan, yang berfungsi untuk meningkatkan working time, tetapi memperpendek
setting time. (5)
2.3. Reaksi Setting GIC
Setting dari GIC terdiri atas 3 fase, yaitu fase pelepasan ion (dissolution),
fase hydrogel dan fase polysalt gel. (3, 4)
Fase pelepasan ion terjadi ketika bubuk dan cairan pertama kali
dicampurkan. Larutan encer dari polyacid copolymer dan akselerator tartaric acid
memecah bubuk ion-leachable aluminofluoro-silicate dan melarutkan permukaan
luar kaca. Ion hidrogen dari polyacid copolymer dan tartaric acid menyebabkan
pelepasan dari kation logam, seperti Ca2+ dan Al3+, dari permukaan luar kaca, yang
kemudian bereaksi dengan ion fluor untuk membentuk kompleks CaF2 dan AlF2-.
Pada tahap awal dari fase ini, GIC akan melekat pada struktur gigi. GIC terlihat
licin dan mengkilap hasil dari matriks yang belum bereaksi. Pada tahap lanjut dari
fase ini, material akan kehilangan kilauannya, karena matriks bebas yang ada telah
bereaksi dengan kaca. (3, 4)

Fase kedua adalah fase hydrogel. Fase ini terjadi lima sampai sepuluh menit
setelah pencampuran, menyebabkan terjadinya initial set. Selama fase ini ion
kalsium positif akan dilepaskan lebih cepat dan bereaksi dengan rantai polyacrylic
acid untuk membentuk ikatan silang. Fase hydrogel ini menurunkan mobilitas dari
rantai polimer, menyebabkan gelasi awal dari matriks ionomer. Pada tahap ini,
GIC akan terlihat kaku dan opak. (3, 4)
Fase terakhir adalah fase polysalt gel. Pada fase ini material mencapai final
set. Matriks mengalami proses maturasi ketika ion aluminium yang dilepaskan
lebih lambat, membentuk polysalt hydrogel yang mengelilingi bahan pengisi kaca
yang belum bereaksi. Pada tahap ini GIC akan terlihat lebih seperti gigi. (3, 4)
Penggunaan varnish pada permukaan tambalan GIC bukan saja bermaksud
menghindari kontak dengan saliva tetapi juga untuk mencegah dehidrasi saat
tambalan tersebut masih dalam proses pengerasan. Varnish kadang-kadang juga
digunakan sebagai bahan pembatas antara GIC dengan jaringan gigi terutama
pulpa karena pada beberapa kasus semen tersebut dapat menimbulkan iritasi
terhadap pulpa. (2, 5)

Gambar 2.3. Ilustrasi diagram setting (pengerasan) GIC


2.4. Mekanisme Adhesi GIC Konvensional
Daya tarik awal antara gigi yang telah dipreparasi dengan GIC yang baru
ditempatkan disebabkan oleh adanya daya tarik kutub, yang didominasi oleh

ikatan hidrogen yang lemah. Pada tahap ini, keasaman dari semen akan
mengakibatkan semen dapat bereaksi sebagai agen self-etching pada smear layer
gigi. Ion hidrogen akan dibuffer dengan cepat oleh ion fosfat dari kristal-kristal
hidroksiapatit. Bahkan jika semen relatif kental (viscous), lingkungan gigi yang
berair dan semen yang bebas air akan memastikan terjadinya pertukaran ion pada
interface. Dalam hal ini, pembasahan yang baik oleh substrat dapat tercapai. (4)
Perkembangan lanjutan dari perlekatan GIC dan struktur gigi diperkirakan
terjadi karena adanya pergerakan ion-ion yang lebih jauh pada interface,
kemungkinan disebabkan oleh difusi saat ion-ion fosfat digantikan oleh
polyalkenoic acid. Teori ini mengemukakan bahwa untuk mempertahankan
keseimbangan elektrolit, setiap ion fosfat harus berikatan dengan ion kalsium.
Ikatan-ikatan ion ini nantinya akan diambil oleh semen yang berdekatan dengan
struktur gigi untuk menghasilkan lapisan kaya ion (ion-enriched layer) yang
berikatan secara kuat dengan email dan dentin. (2, 3, 4)
Kekuatan perlekatan yang maksimum dari GIC hanya dapat dicapai setelah
semen mengalami proses maturasi. (3)
GIC mampu melepaskan sejumlah kecil ion fluor. Sejumlah survey
menunjukkan bahwa pelepasan ion fluor oleh GIC bersifat bakteriostatik dan
dapat mencegah perkembangan dari karies sekunder. (3, 4)
2.5. Sifat-Sifat dan Karakteristik GIC
1. Sifat fisik
Material ini memiliki kekuatan yang baik dalam menahan kompresi, tetapi
resistensinya terhadap tegangan rendah. Material ini bersifat getas. GIC tidak baik
digunakan pada permukaan oklusal atau tepi insisal di mana terdapat stimulus
mekanis yang besar. (4)

2. Perubahan dimensional yang kecil


Perubahan dimensi terutama terjadi pada saat proses setting, tetapi dapat
juga terjadi setelah setting karena adanya perubahan kelembaban atau suhu. (4)

3. Konduktivitas termal dan elektrikal yang rendah


Jika konduktivitas termal dan elektrikal material restoratif tinggi, pulpa akan
mengalami iritasi setelah restorasi pada gigi. GIC merupakan material yang
memiliki konduktivitas rendah. (3, 4)
4. Estetik
Warna, transparensi dan kilauan dari material restoratif harus sama dengan
email alami, dan semua kriteria ini dapat ditemukan pada GIC. Masalah estetis
juga dapat muncul, bergantung pada cara penanganan material. Teknik klinis yang
baik akan menghasilkan estetis yang baik pula. (5)
5. Kriteria tambahan
Kriteria lain yang diperlukan oleh suatu material restoratif adalah; material
tersebut hanya mencederai secara ringan jaringan vital yang ada, seperti pulpa dan
jaringan periodontal, memiliki perlekatan yang baik dengan struktur gigi, dan
radiopak. (4)
2.6. Penggunaan GIC
Penggunaan GIC pada umumnya adalah : (5)
Type I Untuk luting cements
Type II Untuk restorasi
Type II A: Aesthetic restorative cements untuk gigi anterior
Type II B: Reinforced restorative cements untuk gigi posterior
Type III Semen Dasar
Type IV - Fissure sealants
Type V Semen Ortodontik
Sebagai Luting Agent
Sebagai Luting Agents, GIC sangat membantu pemasangan crowns,
jembatan, veneer dll. (3)
Restorasi Pada Gigi Susu
Karena sifatnya yang melepaskan fluoride dan kebutuhan preparasinya yang
minimal, GIC menjadi salah satu pilihan utama untuk restorasi pada gigi sulung.

10

Restorasi pada gigi anak-anak berbeda dengan pada gigi dewasa karena umur gigi
sulung yang terbatas dan daya kunyah yang ditahan tidak sebesar gigi dewasa. Di
awal 1977, diketahui bahwa GIC memiliki keuntungan lain pada restorasi karena
kemampuannya melepaskan fluoride dan kemampuannya menempel pada jaringan
keras gigi dengan baik. Di samping itu, dengan jangka waktu pengerjaan yang
relatif singkat, GIC akan sangat menguntungkan jika digunakan pada restorasi
gigi anak. (3)
ART (Atraumatic Restorative Treatment)
ART adalah teknik perawatan karies pada gigi yang banyak dilakukan di
negara dunia ketiga di mana keberadaan tenaga kesehatan gigi dan bahan-bahan
terbatas, sementara kebutuhan cukup tinggi. Teknik ini hanya menggunakan
instrumen sederhana seperti ekskavator untuk membuang sebanyak mungkin
jaringan karies. (3)
Bahan tambal GIC sangat mudah diaplikasikan sehingga direkomendasikan
untuk digunakan dalam metoda ART, akan tetapi bahan tambal ini sangat peka
terhadap kontak dini dengan saliva yang terdapat pada rongga mulut. Untuk
mengatasi hal tersebut, GIC harus dilindungi agar tidak berkontak dengan saliva
yaitu dengan cara memasang cotton roll, saliva suction, rubber dam, atau dapat
pula digunakan teknik pelapisan bahan tambal menggunakan bahan pelapis seperti
varnish atau cocoa butter. (2, 6)
Sebagai Semen Dasar
GIC memiliki berbagai keuntungan untuk digunakan dalam tugas ini karena
kemampuannya melekat pada dentin dan email serta kemampuannya melepas
fluoride yang tidak saja mengatasi karies, tapi juga mencegah terjadinya karies
sekunder. Selain itu, bahan ini juga dapat merangsang terbentuknya dentin
sekunder. GIC dapat digunakan untuk tambalan berbahan resin komposit maupun
amalgam. (3, 4)
Sebagai Adhesive Cavity Liners (Teknik Sandwich)

11

Teknik ini menggunakan GIC yang diposisikan seolah menggantikan dentin,


dan komposit sebagai pengganti email. Restorasi ini sebaiknya dilakukan dengan
terencana dan bukannya sekedar menutupi restorasi GIC yang buruk. (3, 4)
Perawatan Fissure Sealants
Untuk keperluan ini, bubuk GIC dicampurkan dengan liquidnya dimana
liquid lebih banyak. Dengan demikian, GIC bisa masuk ke dalam celah pit dan
fissure pada gigi posterior. (3, 4)
Menempelkan Alat Ortodontik Cekat
Meskipun saat ini lebih banyak digunakan resin komposit untuk proses ini,
tetapi GIC tetap memiliki keunggulan. GIC dapat melekat erat pada gigi karena
interaksi ion poliakrilat dan kristal hidroksiapatit pada gigi, sehingga tidak
membutuhkan etsa asam lagi. Di samping itu, efek antikariogenik yang
dimilikinya tetap menjadi nilai tambah. (4)
2.7. Perkembangan GIC
Di samping berbagai kelebihan dalam penggunaannya seperti perlekatan
yang bagus dengan struktur gigi, retensi cukup tinggi, mampu melepaskan ion
fluoride, biokompatibel, preparasi minimal dan waktu kerja yang singkat,
ditemukan pula beberapa kelemahan pada GIC. Kelemahan GIC antara lain
kurang resisten terhadap abrasi, tensile dan compressive strength lebih rendah dari
resin, bersifat porus, rapuh, mudah larut dalam saliva, kasar, sensitif terhadap air
pada saat setting time, kurang estetis dibandingkan komposit, dan sulit di polish.
(5, 6)
Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan GIC dan memberikan keuntungan
klinis yang lebih baik, maka dikembangkanlah beberapa generasi GIC dari waktu
ke waktu, yaitu: (2, 4, 6)
- First generation of glass ionomer cement :
Fast setting cements (Alumino-Silicate Polyacrylic acid/ASPA I, II, III, IV)
- Second-generation glass ionomer cement :
Water hardening glass ionomer cements (Chemfil, Ketac Cem)

12

Gambar 2.5. Kemasan ChemFill


Reinforced glass ionomer cements:
1. Disperse phase glasses
2. Fiber reinforced glasses
3. Metal reinforced glass ionomer cement
4. Cermet ionomer cements
Resin modified glass ionomers cement (Vitrebond, Fuji II LC, Photac Fill)

Gambar 2.6. Kemasan RMGIC Fuji II LC

13

Nano resin modified glass ionomers cement (Ketac Nano)


Highly viscous conventional glass ionomer cement (Fuji IX and Ketac
Molar)

Gambar 2.7. Kemasan GC Fuji IX

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Anusavice, KJ. 2003. Phillips Science of Dental Materials. 11th Edition.
Philadelphia: W.B. Saunders.
2. Jacobsen, Peter. Restorative Dentistry; An Integrated Approach. 2nd
Edition. Oxford, UK: Blackwell Publishing Ltd. 2008: 83-85, 93-94, 102,
104.
3. Kidd EAM, Bernard GN, Timothy FW. Pickards Manual of Operative
Dentistry. Eighth edition. UK: Oxford University Press. 2003: 58-60, 66,
68-69, 114-116, 124.
4. McCabe John F & Angus WG Walls. Applied Dental Materials. 9th
Edition. Oxford, UK: Blackwell Publishing Ltd. 2008: 246-252, 255-256,
262-263, 286-287.
5. Meizarini A & Irmawati. Kekerasan permukaan semen ionomer kaca
konvensional tipe II akibat lama penyimpanan (The surface hardness of
type II conventional glass ionomer cement conventional because of the
length of storage). Maj. Ked. Gigi. (Dent. J.). JuliSeptember, 2005; 38
(3): 146150.
6. Upadhya NP & Kishore G. Glass Ionomer Cement The Different
Generations. Department of Dental Materials, Manipal College of Dental
Sciences, Manipal: Trends Biomater, Artif, Organs. Januari, 2005; 18 (2):
158163.
7. Usri, K, Elin K, Eriska R. Pengaruh Pelapisan Bahan Tambal Glass
Ionomer dengan Varnish dan Cocoa Butter Terhadap Daya Serap Saliva
Buatan Secara In Vitro (The Effect of Glass Ionomer Filling Material
Lining Using Varnish And Cocoa Butter Towards In Vitro Artifical Saliva
Absorption Level). Bandung: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Padjadjaran. p. 2.

15