Anda di halaman 1dari 20

PAJAK PENGHASILAN (PPh)

PASAL 21
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
DEVI ASFIANA BALFAS
DWI ERNIATI
HASRAWATI
RUDI SETIAWAN
SEPTIARA EKA HERDIYANTI
SLAMET WAHYUDI

XII AKUNTANSI 1
SMK NEGERI 1 TANAH GROGOT
TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem self assesment. Dengan sistem
tersebut Wajib Pajak diberikan kepercayaan untuk menghitung sendiri besarnya pajak yang
terutang dalam suatu tahun pajak. Perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) terutang dilakukan
oleh Wajib Pajak sendiri dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.
Pajak Penghasilan Pasal 21 atau biasa disebut dengan PPh Pasal 21 adalah pajak
atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan
nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan
kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi Subjek Pajak dalam negeri. Saat ini PPh pasal 21
harus menjadi perhatian bagi wajib pajak yang dikenakan PPh pasal 21, oleh karena itu kita
akan membahasnya secara perlahan-lahan agar mudah dimengerti.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dalam perumusan masalah ini penulis akan merumuskan tentang:
1. Apa Pengertian Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21?
2. Siapa Subjek atau Wajib Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21?
3. Siapa Pemotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21?
4. Penghasilan Apa Saja Yang Dipotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21?
5. Bagaimana Cara Perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21?

Page | 2

1.3 TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk :
1. Mengetahui Pengertian Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
2. Mengetahui Siapa Subjek atau Wajib Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
3. Mengetahui Siapa Pemotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
4. Mengetahui Penghasilan Apa Saja Yang Dipotong Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
5. Menjelaskan Bagaimana Cara Perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21

1.4 MANFAAT
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah para pembaca dapat mengetahui apa
pengertian pajak penghasilan pasal 21, siapa saja subjek atau wajib pajak penghasilan pasal
21, siapa pemotong pajak penghasilan pasal 21, penghasilan apa saja yang dipotong pajak
penghsilan 21, dan bagaimana cara perhitungan pajak penghasilan pasal 21.

Page | 3

BAB II
PEMBAHASAN

Penghasilan yang telah diperoleh oleh setiap wajib pajak yang memiliki NPWP
(Nomor Pokok Wajib Pajak) wajib dikenakan pajak yaitu pajak penghasilan. Pajak
penghasilan adalah pajak yang dikenakan pada subjek pajak atas penghasilan yang
diperolehnya pada tahun pajak, dapat pula dikenakan pajak untuk penghasilan dalam bagian
tahun pajak, bila kewajiban pajak subjektifnya dimulai atau berakhir di tahun pajak.
Berikut definisi dari beberapa ahli mengenai Pajak Penghasilan :
1. Menurut Resmi (2003), adalah sebagai berikut :
Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam suatu tahun pajak (p.74).
2. Menurut Kesit (2001), adalah sebagai berikut :
Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap penghasilan yang
diperoleh oleh wajib pajak (badan usaha) atas kegiatan yang dilakukan di Indonesia
(p.1).
3. Menurut Hartanto (2003), adalah sebagai berikut :
Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan atau dipungut hanya atas
penghasilan (yang berasal dari harta atau modal), dan bukan pajak yang dipungut
atau dikenakan atas harta dan modal (p.136).
4. Sementara itu, Standar Akuntansi Keuangan (2002) memberikan definisi sebagai
berikut :
Pajak penghasilan adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan
pajak dikenakan atas penghasilan kena pajak perusahaan.
5. Menurut UU No.28 Tahun 2007 Pasal 1 Tentang Ketentuan Umum dan Perpajakan
Pajak merupakan suatu konstribusi wajib kepada negara yang terhutang oleh setiap
orang maupun badan yang sifatnya memaksa namun tetap berdasarkan pada
Page | 4

Undang-Undang, dan tidak mendapat imbalan secara langsung serta digunakan untuk
kebutuhan negara juga kemakmuran rakyatnya.
6. Prof. Dr. MJH. Smeeths
Pajak adalah sebuah prestasi pemerintah yang terhutang melalui norma-norma dan
dapat dipaksakan tanpa adanya suatu kontra prestasi dari setiap individual.
Maksudnya ialah membiayai pengeluaran pemerintah atau negaranya.
7. Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH.
Menurutnya, Pajak ialah iuran rakyat kepada negaranya berdasarkan UndangUndang atau peralihan kekayaan dari sektor swasta kepada sektor publik yang bisa
dipaksakan dan yang langsung dapat ditunjuk serta digunakan untuk membiayai
kebutuhan atau kepentingan umum.
8. Prof. Dr. PJA Andriani
Beliau pernah menjadi guru besar di sebuah Perguruan Tinggi Universitas
Amsterdam. Menurutnya, Pajak merupakan iuran rakyat atau masyarakat pada
negara yang bisa dipaksakan dan terhutang bagi yang wajib membayarnya sesuai
dengan peraturan UU dengan tidak memperoleh suatu imbalan yang langsung bisa
ditunjuk serta digunakan untuk pembiayaan yang diperlukan pemerintah.
9. Dr. Soeparman Soemahamidjaya
Beliau mengemukakan pendapatnya mengenai pajak, dimana Pajak merupakan iuran
wajib bagi warga, baik berupa uang maupun barang yang dipungut oleh penguasa
menurut norma-norma hukum yang berlaku guna untuk menutup segala biaya
produksi barang dan jasa untuk mencapai kesejahteraan masyarakat secara umum.
10. Anderson Herschel M, dkk
Pajak ialah pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah dan bukan
suatu akibat dari pelanggaran tetapi sebuah kewajiban berdasarkan ketentuan yang
berlaku tanpa adanya imbalan dan dilakukan untuk mempermudah pemerintah
menjalankan tugasnya.

Page | 5

2.1 Pengertian Pajak Penghasilan PPh Pasal 21


Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Adapun

pengertian

dari

Pajak

Penghasilan

menurut

Undang-Undang

Pajak

Penghasilan adalah Pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi atau perseorangan dan
badan berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu tahun
pajak.
Yang dimaksud penghasilan menurut pasal 4 ayat (1) Undang- Undang Nomor 36
Tahun 2008 Pajak Penghasilan, adalah Setiap tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak
yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Sedangkan yang dimaksud dengan Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah Pajak atas
penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama
dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan
yang dilakukan oleh orang pribadi Subjek Pajak dalam negeri.

Page | 6

2.2 Subjek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21


Jenis-jenis Subjek Pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Undang-undang
Pajak Penghasilan, Yang menjadi subjek pajak adalah :
1.

Orang Pribadi
Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada di
Indonesia ataupun di luar Indonesia. Pengertian orang pribadi menurut Rochmat
Soemitro adalah manusia dari daging, tulang, dan darah.

2.

Warisan belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.


Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek pajak
pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris, maksud warisan
disini adalah warisan yang menghasilkan atau masih ada pajak terutang yang
ditinggalkan.
Dalam menjalankan kewajiban perpajakannya, warisan yang belum terbagi bisa
diwakili oleh:

3.

a.

Salah seorang ahli warisnya

b.

Pelaksana wasiatnya

c.

Pihak yang mengurus harta peninggalannya

Badan
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik
yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi
perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik
negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun,
firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga, dan
bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

Page | 7

4.

Bentuk Usaha Tetap (BUT)


Bentuk Usaha Tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi
yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari
183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan,
atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk
menjalankan usaha dan melakukan kegiatan di Indonesia.

Yang Tidak Termasuk Subjek Pajak Adalah:


a. Kantor perwakilan negara asing;
b. Pejabat-Pejabat Perwakilan Diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari
negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja
pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan syarat bukan warga
negara indonesia dan di indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di
luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik;
c. Organisasi-organisasi Internasional dengan syarat:
1.

Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut;dan

2.

Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan


dari indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya
berasal dari iuran para anggota;

d. Pejabat-Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional sebagaimana dimaksud pada


huruf c, dengan syarat bukan warga negara indonesia dan tidak menjalankan
usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari indonesia
sesuai pmk nomor 215/pmk.03/2008

2.3 Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21


Page | 8

Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah hal yang perlu di ketahui juga oleh
wajib pajak, karena pajak yang telah kita bayar tersebut kelak akan di setorkan oleh
pemotong PPh Pasal 21 ke kas negara.
Yang dimaksud dengan pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah Wajib
Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan, termasuk bentuk usaha tetap, yang
mempunyai kewajiban untuk melakukan pemotongan pajak atas Penghasilan
Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21 Undang-Undang Pajak Penghasilan.
Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 21 meliputi:
1.

Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusat
maupun cabang, perwakilan atau unit yang membayar gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun, sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang dilakukan oleh pegawai
atau bukan pegawai,

2.

Bendahara atau pemegang kas pemerintah, termasuk bendahara atau


pemegang kas pada pemerintah pusat termasuk institusi tni/polri, pemerintah
daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya, dan
kedutaan besar republik indonesia di luar negeri, yang membayarkan gaji, upah,
honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk
apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan,

3.

Dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, dan badanbadan lain yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan hari
tua;

4.

Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta
badan yang membayar:

Page | 9

Honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa


dan/atau kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadai dengan status subjek
pajak dalam negeri, termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan
bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas
nama persekutuannya,

Honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan


kegiatan dan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status subjek
pajak luar negeri,

Honorarium atau imbalan lain kepada peserta pendidikan, pelatihan, dan


magang,

5.

Penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat


nasional dan internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya
yang menyelenggarakan kegiatan, yang membayar honorarium, hadiah, atau
penghargaan dalam bentuk apapun kepada wajib pajak orang pribadi dalam
negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.

Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang mempunyai kewajiban untuk melakukan
pemotongan pajak adalah:
1. Kantor perwakilan Negara asing,
2. Organisasi-organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat
(1) huruf C Undang-Undang Pajak Penghasilan, yang telah ditetapkan oleh
Menteri Keuangan,
3. Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas yang semata-mata mempekerjakan orang pribadi untuk
melakukan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam rangka
melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

2.4 Objek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21


Penghasilan yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah meliputi :
Page | 10

a. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai atau penerima pensiun


secara teratur berupa Gaji, Uang Pensiun Bulanan, Upah, Honorarium
(Termasuk Honorarium Anggota Dewan Komisaris atau Anggota Dewan
Pengawas), Premi Bulanan, Uang Lembur, Uang Sokongan, Uang Tunggu,
Uang Ganti Rugi, Tunjangan Isteri, Tunjangan Anak, Tunjangan Kemahalan,
Tunjangan Jabatan, Tunjangan Khusus, Tunjangan Transpot, Tunjangan
Pajak, Tunjangan Iuran Pensiun, Tunjangan Pendidikan Anak, Bea Siswa,
Premi Asuransi Yang Dibayar Pemberi Kerja, Dan Penghasilan Teratur lainnya
dengan nama apapun;
b. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai, penerima pensiun atau
mantan pegawai secara tidak teratur berupa Jasa Produksi, Tantiem,
Gratifikasi, Tunjangan Cuti, Tunjangan Hari Raya, Tunjangan Tahun Baru,
Bonus, Premi Tahunan, dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak
tetap;
c. Upah Harian, Upah Mingguan, Upah Satuan, Dan Upah Borongan yang
diterima atau diperoleh pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, serta
Uang saku harian atau mingguan yang diterima peserta pendidikan, pelatihan
atau pemagangan yang merupakan calon pegawai;
d. Uang Tebusan Pensiun, Uang Tabungan Hari Tua Atau Jaminan Hari Tua,
Uang Pesangon dan pembayaran lain sejenis sehubungan dengan pemutusan
hubungan kerja;
e. Honorarium, Uang Saku, Hadiah Atau Penghargaan Dengan Nama Dan
Dalam Bentuk Apapun, Komisi, Bea Siswa, dan pembayaran lain sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan
oleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri, terdiri dari :
1. Tenaga ahli sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (7);

Page | 11

2. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang


sinetron, bintang iklan, sutradara, crew film, foto model, peragawan/
peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman
lainnya;
3. Olahragawan;
4. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator
5. Pengarang, peneliti, dan penerjemah;
6. Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik, komputer dan sistem
aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi dan sosial;
7. Agen iklan;
8. Pengawas, pengelola proyek, anggota dan pemberi jasa kepada suatu
kepanitiaan, dan peserta sidang atau rapat;
9. Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan;
10. Peserta perlombaan;
11. Petugas penjaja barang dagangan;
12. Petugas dinas luar asuransi;
13. Peserta pendidikan, pelatihan, dan pemagangan bukan pegawai atau
bukan sebagai calon pegawai;
14. Distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan
kegiatan sejenis lainnya.
f. Gaji, gaji kehormatan, tunjangan-tunjangan lain yang terkait dengan gaji dan
honorarium atau imbalan lain yang bersifat tidak tetap yang diterima oleh
Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil serta uang pensiun dan tunjangantunjangan lain yang sifatnya terkait dengan uang pensiun yang diterima oleh
pensiunan termasuk janda atau duda dan atau anak-anaknya.

Page | 12

Penghasilan di bawah ini dapat dikenai pajak bersifat final:


a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan
surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggota koperasi orang pribadi;
b. Penghasilan berupa hadiah undian;
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang
diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan
modal ventura;
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan,
usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau
bangunan; dan
e. Penghasilan tertentu lainnya, yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan
pemerintah.

Tidak Termasuk Objek Pajak antara lain:


a.

Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat
atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima zakat yang berhak atau sumbangan keagamaan yang
sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh
lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; dan

b.

Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk
yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil,
yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan;
Page | 13

c.

Warisan;

d.

Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti
penyertaan modal.

e.

Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang


diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib
Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan Wajib Pajak, Wajib
Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib Pajak yang menggunakan
norma penghitungan khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 15;

f.

Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan


dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi bea siswa;

g.

Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha milik negara, atau
badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
1.

Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan

2.

Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik

daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang


memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah
modal yang disetor;
h.

Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun
pegawai;
Page | 14

i.

Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana


dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan;

j.

Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan,
firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif

k.

Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa


bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha
atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut :
1.

Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan


kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan; dan

2.
l.

Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;

Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih


lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;

m. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang
ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan
dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4
(empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
n.

Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan


Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Page | 15

2.5

Cara perhitungan PPh Pasal 21


Sejak 1 Januari 2013, tata cara perhitungan pajak penghasilan telah dirubah.

Perubahan tersebut diberlakukan untuk tarif PPh pribadi dan Penghasilan Tidak Kena
Pajak (PTKP). Diubahnya tarif PPh serta PTKP mengacu pada UU No.36 Tahun 2008,
dengan rincian:

Tarif 1-1-2009 s.d. 31

WP Tidak Kawin

Kode

0 Tanggungan

TK/0

15.840.000

24.300.000

1 Tanggungan

TK/1

17.160.000

26.325.000

2 Tanggungan

TK/2

18.480.000

28.350.000

3 Tanggungan

TK/3

19.800.000

30.375.000

Desember 2012

Tarif 1-1-2009 s.d. 31

Tarif mulai 1-1-2013

WP Kawin

Kode

0 Tanggungan

K/0

17.160.000

26.325.000

1 Tanggungan

K/1

18.480.000

28.350.000

2 Tanggungan

K/2

19.800.000

30.375.000

3 Tanggungan

K/3

21.120.000

32.400.000

Desember 2012

Tarif mulai 1-1-2013

Page | 16

Contoh Cara Menghitung PPh 21


Kasus
Budi sudah menikah tanpa anak, merupakan pegawai PT. Citra dimana ia
memperoleh gaji sebulan Rp 3.000.000,00. PT.Citra sendiri mengikuti program
Jamsostek, premi Jaminan Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian yang
dibayar pemberi kerja dengan jumlah masing-masing 0,50% dan 0,30% dari gaji. Selain
itu, PT. Citra juga menanggung iurang Jaminan Hari Tua setiap bulan sebesar 3,70%
dai gaji sedangkan Budi membayar iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2,00% dari gaji
setiap bulan. Disamping itu PT. Citra mengikuti program pensiun untuk pegawainya
dimana pembayarannya setiap bulan sebesar Rp 100.000,00 untuk Budi ke dana
pensiun, yang pendiriannya disahkan oleh Menteri Keuangan. Sedangkan Budi
membayar iuran pensiun sebesar Rp 50.000,00. Pada bulan Juli 2013, Budi hanya
menerima pembayaran berupa gaji.
Penghitungan PPh 21 bulan Juli 2013 adalah sebagai berikut:
Gaji

Rp 3.000.000,00

Premi Jaminan Kecelakaan Kerja

Rp. 15.000,00

Premi Jaminan Kematian

Rp. 9.000,00

Penghasilan Bruto

Rp. 3.024.000,00

Pengurangan
1. Biaya Jabatan 5% x Rp. 3.024.000,00

Rp. 151.200,00

1. Iuran Pensiun

Rp. 50.000,00

1. Iuran Jaminan Hari Tua

Rp. 60.000,00
(Rp. 261.200,00)

Penghasilan neto sebulan

Rp. 2.762.800,00

Page | 17

Penghasilan neto satu tahun :


12 x Rp. 2.762.800,00
PTKP:

Untuk WP sendiri

Tambahan WP kawin

Rp. 33.152.600,00
Rp. 24.300.000,00
Rp. 2.025.000,00
(Rp.26.325.000,00)

Penghasilan Kena Pajak Setahun

Rp. 6.828.600,00

Pembulatan

Rp. 6.828.000,00

PPh terutang 5%x6.828.000,00


PPh Pasal 21 bulan Juli 341.400,00 : 12

Rp. 341.400,00
Rp. 28.452,00

Keterangan:

Biaya Jabatan merupakan biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara


penghasilan yang dapat dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja
sebagai pegawai tetap tanpa memandang mempunyai jabatan atau tidak.

Contoh di atas berlaku bagi pegawai yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib
Pajak (NPWP). Apabila pegawai yang bersangkutan belum mempunyai NPWP,
maka jumlah PPh 21 yang harus dipotong pada bulan Juli adalah sebesar: 120% x
Rp 28.452,00 = Rp 34.140,00

Page | 18

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan pada subjek pajak atas
penghasilan yang diperolehnya pada tahun pajak, dapat pula dikenakan pajak untuk
penghasilan dalam bagian tahun pajak, dapat pula dikenakan pajak untuk penghasilan
dalam bagian tahun pajak bila kewajiban pajak subjektifnya dimulai atau berakhir tahun
pajak.
Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah,
honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun
sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh
orang pribadi Subjek Pajak dalam negeri.
Penghasilan Tidak Kena Pajak, disingkat PTKP adalah pengurangan terhadap
penghasilan bruto orang pribadi atau perseorangan sebagai wajib pajak dalam negeri
dalam menghitung penghasilan kena pajak yang menjadi objek pajak penghasilan yang
harus dibayar wajib pajak di Indonesia.
Dasar Hukum Pajak Penghasilan PPh pasal 21 di Indonesia yang terbaru adalah :
1. Peraturan Menteri Keuangan PMK-162/PMK.011/2012 tentang Penyesuaian
Penghasilan Tidak Kena Pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi
2. Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-31/PJ/2012 Pedoman Teknis Tata Cara
Pemotongan, Penyetoran, Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 Dan Atau
Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa Dan Kegiatan
Orang Pribadi

Page | 19

3.2 Saran
Dengan naiknya PTKP seharusnya kita sebagai wajib pajak bisa bernafas lega
karena ada tambahan penghasilan yang bebas dari pajak, walaupun dari sisi
penerimaan negara akan sedikit mengalami penurunan. Yang penting tetap
berkontribusi dengan membayar pajak tepat jumlah dan tepat waktu.

Page | 20