Anda di halaman 1dari 19

Kontan Weekend / Peluang Usaha

Pernak-pernik Peluang Pengisian Tabung Elpiji


| Dian Pitaloka Saraswati | Roy Franedya |
Minggu, 18 Oktober 2009

KENDATI masyarakat sempat ragu,


program konversi minyak tanah ke gas elpiji agaknya tak terbendung lagi. Karena itu,
program itu juga membuka ceruk peluang meraih untung. Selain menjadi agen dan
produsen tabung, masyarakat juga bisa menjadi pengusaha stasiun pengisian dan
pengangkutan bulk elpiji (SPPBE).
Peluang usaha pengisian tabung elpiji ini terbuka lebar. Selaku pelaksana program
konversi minyak tanah ke gas elpiji, Pertamina mengaku masih membutuhkan pom elpiji.
Hingga saat ini, perusahaan minyak milik negara itu baru memiliki 150 SPPBE. Jumlah
itu masih jauh dari target Pertamina yang membutuhkan 310 SPPBE untuk tahun ini.
Ke depan, naga-naganya, prospek usaha pom elpiji ini bakal semakin cerah. Direktur
Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal mengatakan, jumlah pengguna gas elpiji
bakal terus mekar. Untuk program konversi gas saja, Pertamina menargetkan tahun depan
bakal ada 50 juta rumahtangga beralih ke gas elpiji.
Agar mempermudah pendistribusian, Pertamina menawarkan kemitraan kepada swasta
untuk berperan sebagai penyedia jasa pengisian elpiji. Pertamina sendiri akan bertindak
sebagai pemasok liquefied petroleum gas ini. Mereka hanya sebagai distribution channel
Pertamina, papar Faisal.
Untuk menjadi mitra, Anda bisa mendaftar secara online melalui situs
http://sppbe.pertamina.com. Syaratnya, calon mitra harus berbentuk badan usaha atau
koperasi.
Namun, sejak 30 April lalu, Pertamina telah menutup pendaftaran bagi mitra yang ingin
membangun SPPBE di Jawa. Sebab, calon mitra yang sudah mengajukan izin melampaui
target. Sedangkan pendaftaran pendirian SPPBE di luar Pulau Jawa masih terbuka lebar.

Anda tak perlu kecewa bila keukeuh ingin mendirikan SPPBE di Pulau Jawa. Penawaran
dibuka lagi bila calon mitra yang sudah mengantongi izin tak kunjung membangun
SPPBE dalam tempo enam bulan. Kami akan buka lagi tawaran kemitraan bila realisasi
pembangunan SPPBE tidak mencapai target, kata Faisal.
Untuk melengkapi pendaftaran online ini, calon mitra harus menyertakan identitas, nama
perusahaan, rencana pembangunan dan tata letak SPPBE, termasuk rencana bisnis.
Setelah melakukan pendaftaran online, Pertamina akan melakukan seleksi awal.
Seleksi awal ini terbagi dalam dua tahap. Pertama, seleksi penentuan lokasi. Faktor lokasi
memiliki bobot paling besar dalam penentuan persetujuan permohonan izin SPPBE.
Lokasi pembangunan SPPBE bisa di mana saja asal bukan di daerah permukiman atau
dekat dengan saluran udara tegangan ekstra tinggi (sutet). Pertamina mematok luas tanah
area SPPBE minimal berukuran 75 meter x 68 meter.
Yang juga harus Anda perhatikan, lokasi pembangunan SPPBE harus cocok dengan
rencana pembangunan jaringan distribusi Pertamina. Bila tidak, Pertamina kemungkinan
bakal menampik permintaan calon investor. Sebab, boleh jadi di lokasi yang Anda
ajukan, Pertamina sudah memiliki SPPBE dalam jumlah cukup. Kami hanya
menyarankan lokasi sesuai dengan studi yang sudah dilakukan, tambah Faisal.
Kedua, seleksi valuasi ekonomi. Pada tahap ini Pertamina akan mengevaluasi
kemampuan finansial calon mitra. Catatan saja, setiap lokasi yang dipilih mempunyai
hasil valuasi ekonomi yang berbeda.
Hasil proses seleksi secara online ini bakal diumumkan lewat e-mail kepada calon mitra
dalam tempo 7 x 24 jam. Bila lolos, calon mitra harus melakukan pendaftaran ulang
dengan menyerahkan berbagai persyaratan seperti fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP) perusahaan, akta pendirian perusahaan, dan sertifikat tanah. Selanjutnya,
Pertamina akan melakukan verifikasi data yang disampaikan.
Tapi, perjuangan pendirian SPPBE belum berakhir sampai di situ. Pasalnya, calon mitra
Pertamina juga harus mengurus izin ke pemerintah daerah setempat. Surat izin itu
menyangkut keamanan dan gangguan yang biasa disebut analisis mengenai dampak
lingkungan (amdal) serta izin dari warga sekitar lokasi SPPBE.
Tak jarang pengurusan izin ke pemerintah daerah merupakan batu ganjalan yang besar
(lihat boks: Awas, Banyak Biaya Siluman Saat Mengurus Izin). Banyak calon mitra yang
akhirnya gigit jari lantaran pemerintah daerah tak kunjung mengeluarkan izin usaha,
padahal restu Pertamina sudah mereka kantongi.
Nah, setelah mengantongi izin dari Pertamina dan pemerintah daerah, baru Anda bisa
membangun SPPBE. Pembangunan stasiun elpiji harus sesuai standar Pertamina.
Persyaratannya sangat ketat karena terkait dengan faktor keamanan dan keselamatan.

Pom elpiji harus memiliki prasarana dan sarana standar seperti tangki penyimpanan
(storage tank), mesin pengisian (LPG filling machines), roda berjalan (chain conveyor),
pengosong tangki, duiker untuk saluran air umum di depan bangunan SPPBE, sensor api,
serta perangkat pemadam kebakaran berikut generator. SPPBE juga harus memiliki
fasilitas umum seperti toilet, musala, dan lahan parkir.
Setiap area SPPBE harus memiliki pencahayaan yang cukup terang dengan lampu yang
khusus. Lampu tersebut tidak boleh memercikkan api ketika terpapar gas elpiji.
Pertamina juga mewajibkan karyawan SPPBE bekerja sesuai standar etika kerja
perusahaan pelat merah tersebut. Bila ada praktik kerja yang curang, Pertamina tak
segan-segan memberikan sanksi.
Wah, modalnya jumbo
Yang mesti Anda catat, untuk menjadi mitra Pertamina ini modalnya lumayan gede.
Biaya pertama yang wajib dibayarkan adalah initial fee. Biaya ini ibarat royalti, nilainya
Rp 250 juta.
Tak perlu khawatir bila uang Anda belum cukup untuk membayar initial fee. Pertamina
membolehkan mitra membayar secara mencicil. Calon mitra bisa membayar sebesar 50%
sebagai uang muka. Sisanya boleh dicicil secara bertahap hingga satu tahun setelah izin
usaha dikeluarkan.
Setelah semua itu terpenuhi, Anda akan mendapatkan izin prinsip dari Pertamina. Izin
prinsip berdurasi antara 20 tahun hingga 40 tahun. Dengan adanya izin ini, Pertamina
akan memasok minimal 30 ton elpiji per hari.
Initial fee tersebut belum mencakup biaya pendirian bangunan SPPBE. Calon mitra harus
menanggung juga biaya pembangunan stasiun pengisian ulang elpiji sendiri. Besarnya
sangat variatif tergantung besar atau luasnya lahan serta kapasitas SPPBE.
Wahyu Raharjo, seorang pengusaha SPPBE di Depok, Jawa Barat, mengaku
menghabiskan modal hingga Rp 15 miliar untuk mendirikan satu unit SPPBE. Kalau
hanya bisa mengisi satu ukuran tabung elpiji, biayanya sekitar Rp 10 miliar, ujarnya.
Modal awal nan jumbo tersebut sebagian besar tandas untuk membeli prasarana dan
sarana SPPBE, seperti tangki penyimpanan dan mesin pengisian. Porsinya bisa
menghabiskan 40% dari modal awal. Sisanya, untuk membeli tanah dan bangunan. Itu
belum termasuk biaya pengangkutan tabung dan elpiji ke pelanggan.
Jika melakukan pengangkutan sekaligus, Anda harus kembali merogoh kocek lebih
dalam. Duit tambahan ini untuk membeli truk dan mobil tangki. Biayanya bisa
menghabiskan Rp 2 miliar. Semua barang impor, jadi agak mahal, ujar Wahyu yang
terjun ke bisnis elpiji sejak tahun 2000 lalu.

Gunawan Budiraharja, pengusaha SPPBE di Bantul, Yogyakarta, juga mengeluarkan


modal yang tak jauh berbeda. Pengusaha yang terjun ke bisnis elpiji sejak dua tahun lalu
ini mengeluarkan Rp 13 miliar untuk membangun SPPBE yang hanya bisa melayani
pengisian tabung elpiji ukuran 12 kg.
Kalau mau bisa mengisi si melon, julukan bagi tabung ukuran 3 kg, Gunawan
mengatakan harus ada penambahan mesin pengisi. Harga mesin yang paling murah US$
3.000, ujarnya.
Kendati modalnya besar, keuntungan usaha SPPBE ini lumayan menjanjikan. Faisal
meramalkan calon mitra bisa mengembalikan modalnya dalam tempo enam tahun.
Pengembalian modal ini berasal dari komisi yang diberikan Pertamina atas jasa pengisian
tabung elpiji. Untuk setiap kilogram pengisian elpiji, Pertamina memberikan komisi
sekitar Rp 300 per kg. Artinya, investor bisa meraih keuntungan hingga Rp 900 per
tabung ukuran 3 kg.
Berdasarkan studi kelayakan Pertamina, calon investor bisa meraih pendapatan bersih
sebesar Rp 200 jutaan per bulan. Tapi itu dengan catatan, kapasitas pengisian SPPBE
mencapai 30 ton per hari.
Studi Pertamina ini tak berbeda jauh dengan kenyataan di lapangan, kendati Wahyu dan
Gunawan tidak secara eksplisit membuka keuntungan yang mereka peroleh. Yang pasti,
setelah sembilan tahun terjun ke bisnis ini, Wahyu mengaku sedang membangun satu unit
SPPBE lagi di seputar Tegal, Jawa Tengah.
Di SPPBE miliknya yang ada saat ini, Wahyu mengaku mampu menyalurkan elpiji
hingga sebanyak 40 ton setiap hari. Dia melayani pengisian tabung ukuran 3 kg, 12 kg,
dan 50 kg dari 38 agen elpiji di Depok dan sekitarnya.
Untuk setiap pengisian tabung ukuran 12 kg, Wahyu mendapatkan keuntungan Rp 320
per kg. Sedangkan untuk ukuran 50 kg, Wahyu memperoleh komisi Rp 289 per kg, dan
mengantongi fulus Rp 300 per kg untuk tabung ukuran 3 kg.
Pendapatan itu harus ia kurangi untuk membayar gaji 40 karyawan. Setiap karyawan
memperoleh bayaran sesuai dengan upah minimum regional (UMR) plus uang lembur.
Biaya pengeluaran ini ditambah dengan tagihan listrik, air, telepon, dan perawatan.
Sementara, Gunawan mengaku pengeluarannya bisa lebih dari Rp 100 juta per bulan.
Rinciannya, pembayaran gaji 60 karyawan sesuai dengan UMR plus uang lembur, listrik
Rp 16 juta, telepon Rp 3 juta, bahan bakar truk Rp 20 juta, dan biaya perawatan Rp 25
juta. Selain itu, Gunawan harus membayar premi asuransi kendaraan dan bangunan
sebesar Rp 200 juta per tahun.
Meski menutup rapat angka keuntungannya, Gunawan mengaku bisa meraup fulus yang
lumayan menggembirakan. Buktinya, dia sudah memiliki tiga SPPBE yang terletak di

Bantul, Ngawi, dan Purwokerto. Ketiga pom elpiji itu melayani pengisian gas elpiji untuk
tabung ukuran 3 kg dan 12 kg.
Cuma, bisnis SPPBE yang menggiurkan ini mulai mengalami persaingan yang sangat
ketat. Banyak orang yang tertarik menjadi pengusaha SPPBE lantaran penggunaan gas
elpiji semakin banyak.
Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Pusat
Muhammad Nur Adib mengatakan, tak jarang antara satu SPBBE satu dengan lainnya
saling banting harga jual. Agar konsumen mau datang. Hal ini terjadi karena Pertamina
terlalu banyak menerbitkan izin prinsip, ujarnya
Karena itu, Nur Adib menyarankan Pertamina menghentikan terlebih dahulu penerbitan
izin prinsip SPPBE. Dia meminta perusahaan nasional itu tidak semata-mata hanya
mengejar target pencapaian SPPBE tanpa memiliki program kesejahteraan yang pas buat
pengusaha. Lama-lama kami bisa tekor karena persaingan apalagi agen penjualnya juga
ditentukan oleh pemerintah, cetusnya.
Nah, tertarikkah menjadi juragan penyalur elpiji?

Studi Tentang :
PELUANG DAN PROSPEK BISNIS LPG DI INDONESIA
(Setelah Program Konversi Minyak Tanah), Maret
2007
Setelah program pemakaian briket batubara tidak terealisasi, pemerintah akhirnya
melakukan program pengalihan pemakaian BBM jenis minyak tanah ke liquified
petroleum gas (LPG). Setidaknya terdapat empat alasan untuk melakukan konversi
minyak tanah ke LPG, yaitu berdasarkan kesetaraan nilai kalori, maka subsidi LPG lebih
murah, LPG lebih sulit dicampur (oplos), LPG lebih bersih dari minyak tanah dan subsidi
LPG telah diterapkan di negara kawasan Asean lainnya seperti Malaysia dan Thailand.
Program konversi minyak tanah ke LPG dimulai dengan pembagian kompor dan tabung
gas beserta aksesorinya secara gratis. Sementara, untuk memuluskan kegiatan program
konversi minyak tanah ke LPG ini sendiri, pada Desember 2006, telah dilakukan
perluasan uji pasar di Jakarta dan Tangerang dengan target pemakai sebanyak 25.000
kepala keluarga (KK). Sebelumnya, pada Agustus 2006 juga telah dilaksanakan uji pasar
pada 500 KK di Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Secara keseluruhan, pada tahun
2007 ini, minyak tanah yang dikonversi mencapai satu juta kiloliter yang setara dengan
567.767 ton LPG.
Berdasarkan kesiapan dan kedekatan dengan LPG filling plant dan Stasiun Pengangkutan
& Pengisian Bulk Elpiji (SPPBE), maka pada tahun 2007 ini, target konversi masingmasing di wilayah III/UPMS III (Jabodetabek, Cilegon, Bandung dan Cirebon) sebanyak
4.413 ribu KK, wilayah IV/UPMS IV (Semarang dan Yogyakarta)sebanyak 283 ribu
n="center">Baja

PT.MULTIDATA RISET INDONESIA


Market Research & Feasibility Studies

Sabtu, April 11, 2009


Proposal SPBU dan SPPBE
CV CITRA BANGUN CEMERLANG
General Trading,Contractor&Suplayer
Corekan Kaliombo Kediri (0354) 7034751
warikhin@yahoo.com
JAWATIMUR 64126
CP : 081330762946
Hal : Penjelasan Umum SPBU&SPPBE .
Berkaitan dengan rencana Bapak untuk mendirikan usaha SPPBE(Stasiun Pengangkutan
dan Pengisian Bulk Elpiji) maka dengan ini Kami sampaikan sedikit penjelasan sekaligus
perbandinganya dengan usaha SPBU(Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Sengaja
Kami susun dengan format seperti ini agar praktis dan mudah dipahami khususnya bagi
calon pengusaha pemula dalam bidang ini, dengan harapan semoga bermanfaat.
A .PENDAHULUAN
Krisis ekonomi yang berkepanjangan di Negeri ini telah berdampak langsung terhadap
kegiatan ekonomi masyarakat Kita khususnya Masyarakat Pengusaha. Seringnya terjadi
fluktuasi atau turun dan naiknya harga atas berbagai komoditas perdagangan ditambah
tersendat-sendatnya suplay bahan baku mengakibatkan rusaknya mekanisme pasar mulai
dari kegiatan produksi, kegiatan distribusi , hingga ritaeler belum lagi daya beli
Masyarakat Konsumen yang semakin lemah karena tingginya tingkat kenaikan inflasi dan
lain sebagainya dan hal ini telah berlangsung sangat lama sehingga situasi ini sangat
menyulitkan kelangsungan hidup para Pengusaha Kita bahkan tidak sedikit yang tidak
mampu bertahan sehingga harus menghentikan atau menutup unit Usaha yang telah
ditekuninya selama bertahun-tahun dan hal ini tentu sangatlah disayangkan mengingat
betapa sulitnya merintis sebuah unit Usaha.
Memetik pelajaran dari pengalaman tersebut diatas maka hendaknya Kita dapat
mengambil hikmahnya yaitu dengan cara lebih selektif dalam berinvestasi terutama
dalam memilih sektor Usaha yang akan Kita tekuni dan jenis komoditas perdaganganya.

B . SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum)


SPBU atau yang ditengah Masyarakat disebut juga dengan istilah POM Bensin
merupakan unit Usaha Migas mitra PT.PERTAMINA dengan komoditas yang sangat
strategis, kegiatan utamaya adalah menyalurkan atau menjual Bahan Bakar Minyak
bersubsidi kepada Masyarakat umum khususnya untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan

Rakyat/pribadi. Namun Sebagaimana Kita ketahui bahwa mekanisme perdagangan atas


komoditas yang namanya Minyak dan Gas ini tidaklah sebebas komoditas perdagangan
pada umumnya melainkan tata niaganya diatur oleh Undang-undang migas maka
penyaluranyapun diatur sedemikian rupa sehingga dipisahkan antara Migas yang
bersubsidi dengan Migas yang non subsidi yangmana SPBU ini khusus
menyalurkan/melayani penjualan Bahan bakar minyak yang bersubsidi saja, sedangkan
Bahan Bakar Minyak yang non subsidi yaitu untuk kebutuhan Industri atau kebutuhan
komersial lainnya maka penyaluranya tidak dilayani oleh SPBU ini melainkan akan
dilayani oleh unit Usaha Migas mitra PT.PERTAMINA lainya.
C . PROSPEK USAHA SPBU
Selain memiliki unit usaha sampingan seperti rumah makan,mini market,service station,
kios Olie,dll maka unit Usaha SPBU ini komoditas utamanya adalah Bahan bakar minyak
antara lain Pertamax, Solar dan Premium. Demikian strategisnya komoditas Migas ini
bahkan merupakan kebutuhan yang sangat vital ditengah Masyarakat sehingga manakala
komoditas yang satu ini mengalami keterlambatan suplay atau kelangkaan maka pasti
akan terjadi kepanikan bahkan kekacauan ditengah Masyarakat. Oleh karena itu
meskipun Komoditas jenis ini sering kali mengalami kenaikan harga yang disebabkan
karena dikuranginya subsidi atau oleh faktor-faktor lain maka penyesuaian pasarnya
relatif sangat cepat sehingga dalam waktu yang relatif singkat maka pemasaranyapun
akan segera stabil/normal kembali bahkan kenyataanya dari waktu kewaktu kebutuhan
minyak ini justru semakin meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan dan
pertumbuhan ekonomi Masyarakat. Unit usaha SPBU ditunjang oleh perngkat digital
yang cukup canggih,sisimatis dan terproteksi sehingga pengelolaannya menjadi sangat
praktis dan aman, dimana Pengusaha cukup melihat dan membandingkan total angka
meter yang terdapat pada mesin pompa/dispencernya saja bilamana ingin mengontrol
persediaan/stock BBM sekaligus omzet penjualannya secara berkala/periodik bahkan bisa
memanfaatkan system perangkat
lunak/Computerisasi jarak jauh sehingga bisa diakses secara online setiap saat.
Jangkauan pasarnyapun sangat luas yaitu mencakup semua sekment pasar dari sekment
atas hingga sekment bawah sekaligus. Selain itu Unit Usaha ini tidak membutuhkan
promosi yang berlebihan sehingga relatif lebih efisien dibanding sektor usaha dibidang
lainnya. Oleh karena itu unit Usaha SPBU ini dapat menjadi alternatif/pilihan Investasi
yang cukup baik dalam situasi ekonomi yang tidak menentu dewasa ini.
D . MEKANISME & PROVIT MARGIN
Mekanisme bisnis SPBU yaitu pihak Pengusaha/Pengelola SPBU harus terlebih dahulu
melakukan pembayaran/penebusan Delivery Order(DO) ke PT PERTAMINA kemudian
barulah Bahan Bakar Minyak(BBM) dikirim melalui Perusahaan transportir Rekanan PT

PERTAMINA menuju SPBU dan proses ini biasanya memakan waktu antara 1(satu)
hingga 3(tiga) hari sehingga ada baiknya pengelola SPBU dapat mengantisipasinya
dengan menyiapkan cadangan BBM secukupnya agar intensitas penjualan tidak
tersendat/terganggu. Adapun keuntungan unit Usaha SPBU ditentukan oleh perusahaan
induknya PT PERTAMINA selaku franchiesor yaitu untuk SPBU Standard dengan provit
margin Rp 180;(seratus delapan puluh rupiah) per liternya sedangkan untuk SPBU Way
yang telah menerapkan program SPBU Pastipas maka Provit marginya adalah Rp 205;
(dua ratus lima rupiah) per liternya. Sehingga untuk merencanakan prospeck usaha SPBU
ini maka Pengusaha/calon Pengusaha SPBU perlu memilih lokasi yang strategis serta
menyeleksi/merekrut Manager Pengelola dan tenaga pelayanan yang berpenampilan baik
jujur dan terampil guna menunjang besaran volume omzet penjualan dengan demikian
maka diharapkan terjadi percepatan BEP(Break Evet Point) yaitu nilai Investasi yang
telah ditanamkan dapat segera kembali yangmana idealnya adalah kurang dari 5(lima)
tahun sudah kembali modal. Dan sebagai gambaran umum dibawah ini Kami berikan
ilustrasi Perhitungan Harga Pokok Penjualan unit Usaha SPBU dalam satu bulan (30 hari
kerja) dengan asumsi omzet penjualan BBM 20(dua puluh) ton/hari belum termasuk
pendapatan dari penjualan dan jasa lainya.
Perhitungan Harga Pokok Penjualan unit Usaha SPBU perbulan :
NO.
URAIAN
JUMLAH RP
TOTAL RP
1 Penjualan BBM
1 Premium 300.000lt x Rp 4500;
2 Solar 300.000lt x Rp 4.500;
1.350.000.000;
1.350.000.000;
Penjualan BBM 2.700.000.000;
2 Penebusan DO/Baiya Variable
1 Premium 300.000 x Rp 4.295;
2 Solar 300.000 x Rp 4.295;
1.288.500.000;
1.288.500.000;
Biya Variable 2.577.000.000;
3 Biaya Operasional
1 Gaji Karyawan 2shif

2 Tunjangan
3 Askes/Astek
4 Listrik+Air&Telp
5 Penyusutan alat&gedung
6 Perawatan&sosial
6.500.000;
550.000;
1.300.000;
2.000.000;
5.000.000;
500.000;
Biaya Tetap 15.850.000;
Total Biaya 2.592.850.000;
Laba bersih per bulan 107.150.000;
Laba bersih pertahun (sebelum Pph) 1.285.800.000;
Dengan asumsi perhitungan tersebut diatas maka bilamana seluruh dana yang di
Investasikan untuk mendirikan unit Usaha SPBU adalah senilai Rp 5.000.000.000;(lima
milyar rupiah) maka dalam jangka waktu antara 4(empat) tahun akan kembali modal atau
terjadi BEP(Break Event Point).

E . SPPBE (Stasiun Pengangkutan dan Pengisian Bulk Elpiji) program tabung 3kg.
Seperti halnya SPBU unit usaha SPPBE ini juga merupakan perusahaan Franchise
rekanan dari PT PERTAMINA namun dengan komitment dan mekanisme yang berbeda,
dan perbedaan tersebut antara lain :
Pengusaha SPBU harus melakukan penjualan sendiri terhadap stock BBM nya sedangkan
Pengusaha SPPBE tidak melayani penjualan melainkan cukup melakukan refill atau jasa
isi ulang saja khususnya untuk tabung 3kg(Program konversi minyak tanah) karena stock
Elpiji seluruhnya akan diambil dan didistribusikan oleh agen-agen elpiji rekanan yang
telah ditunjuk oleh PT PERTAMINA.
Pengusaha SPBU diharuskan membeli/menebus Delivery Order (DO) sebelum mendapat
kiriman BBM sedangkan Pengusaha SPPBE tidak perlu melakukan hal tersebut sehingga
Pengusaha SPBU harus menyediakan modal kerja sedangkan pengusaha SPPBE tidak
membutuhkan modal kerja, sebagaimana Kita maklumi bahwasanya besar/kecilnya
modal kerja ini dipengaruhi oleh fluktuasi atau naik/turunya harga BBM.
Saat ini Provit margin SPBU sebesar Rp205; per liter sedangkan filling fee SPPBE
adalah Rp 300; per kg dan masih ditambah lagi jasa transportasi yangmana besaranya
tergantung jarak tempuh dengan depot pengambilan.
Selain perbedaan komitment Franchise antara SPBU dan SPPBE tersebut ada perbedaan
lainya yaitu yang menyangkut volume lahan dan nilai Investasi, jika untuk mendirikan

SPBU cukup dengan lahan minimal 700(tujuh ratus)m2 dan ivestasi dibawah Rp
5.000.000.000;(lima milyar rupiah) sedangkan SPPBE membutuhkan lahan minimal
1(satu) hektar dan investasi kisaranya rata-rata diatas Rp 10.000.000.000;(sepuluh
milyar) tergantung kapasitas dan pemanfaatan kwalitas teknology yang akan digunakan.
Dan sebagai gambaran dengan ini Kami berikan ilustrasi Perhitungan Harga Pokok
Produksi Usaha SPPBE dengan asumsi jatah kuota 30ton/hari dan jarak tempuh
pengambilan dari depot 125km :

NO.
URAIAN
JUMLAH RP
TOTAL RP
1 PENDAPATAN
3 Filling fee 30.000 x Rp 300; x 30
4 Transport fee 3.750** x Rp 835; x 30
270.000.000;
93.937.500;
Pendapatan kotor/bulan 363.937.500;
2 Baiya Variable
3 BBM
4 Listrik
5 Utilities/lain-lain
30.000.000;
15.000.000;
5.000.000;
Biaya variable 50.000.000;.
3 Biaya Operasional/Tetap
7 Gaji tetap
8 Tunjangan
9 Askes/Astek
10 Air&Telp
11 Penyusutan
12 Perawatan&sosial
25.000.000;
4.000.000;
2.000.000;
2.000.000;
10.000.000;
1.000.000;

Biaya Tetap 44.000.000;.


Total Biaya/bulan 94.000.000;
Laba bersih per bulan 269.937.500;
Laba bersih pertahun(sebelum Pph) 3.239.250.000;
(** = dari rumus perbandingan antara jarak X 15 X skid tank)
Dengan asumsi perhitungan tersebut maka bilamana seluruh dana yang di Investasikan
untuk mendirikan unit Usaha SPPBE adalah senilai Rp 15.000.000.000;(lima belas
milyar rupiah) maka dalam jangka waktu antara 5(lima) tahun akan kembali modal atau
terjadi BEP(Break Event Point).

F . PERSYARATAN
SPBU bisa diajukan atasnama perorangan, Koperasi berbadan hukum atau Perseroan
Terbatas (PT) sedangkan SPPBE hanya bisa diajukan oleh Koperasi berbadan Hukum
dan Perseroan Terbatas(PT) dengan persyaratan awal :
KTP yang masih berlaku.
Akta pendirian Perusahaan.
NPWP Badan Usaha (Nomor Pokok Wajib Pajak)
Surat tanah (Sertifikat Hak milik/Akta tanah)
Rekening koran.
Sedangkan persyaratan lainya berupa HO,IMB,SIUP,TDP,ijin peruntukan lahan,dll yang
diterbitkan oleh Pemda setempat menyusul setelah turunya Surat rekomendasi dari PT
PERTAMINA.
G . PENUTUP
Demikianlah Proposal ini Kami sampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dengan
harapan dapat memberikan gambaran umum mengenai Usaha SPBU dan SPPBE
khususnya bagi calon Pengusaha pemula pada bidang usaha ini, selebihnya dari hal
tersebut diatas dapat Kami presentasikan secara langsung termasuk pembuatan
RAB(Rencana Anggaran Biaya) lebih rinci setelah dilakukan survey terhadap kondisi
lahan nantinya. Oleh karena itu untuk selanjutnya Kami selalu menunggu berita baik dari
Bapak dan atas perhatianya disampaikan terimakasih.
Diposkan oleh Investasi Bisnis di 21:23

0 komentar:
Poskan Komentar

PERTAMINA REPOSISI POLA BISNIS ELPIJI,


Upaya Peningkatan Layanan dan Penghematan Rp.
34 milliar per
Jakarta, Monday, June 06 2005 (15:50)
Pertamina melakukan pembenahan jalur distribusi Elpiji dengan melakukan reposisi
fungsi Stasiun Pengangkutan dan Pengisian Bulk Elpiji (SPPBE) sebagai supply point.
Melalui reposisi pola bisnis ini Pertamina dapat mengontrol dan mengatur kembali jalur
distribusi Elpiji. Pola tata niaga strategis ini ditempuh Pertamina untuk meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat serta mengantisipasi persaingan bisnis di masa mendatang.
Pola baru yang mulai berlaku Juni 2005 ini akan mengoptimalkan jalur distribusi serta
menghemat biaya distribusi Elpiji Pertamina sebesar Rp 34 milyar/tahun. Penghematan ini
diperoleh dari peningkatan utilisasi Filling Plant Pertamina dan penebusan Elpiji yang
dilakukan secara cash kepada Pertamina.
Reposisi pola bisnis Elpiji ini merubah pola transaksi jual beli Elpiji, dengan
memberlakukan transaksi langsung antara Pertamina dengan Agen. Agen akan membayar
sejumlah Elpiji yang akan diambil kepada Pertamina kemudian mengambil Elpiji tersebut
di SPPBE yang ditunjuk oleh Pertamina. Sementara kepada SPPBE yang ditunjuk akan
diberikan fee pengangkutan dan pengisian Elpiji. Penerapan pola tata niaga ini Pertamina
dapat menjamin ketepatan isi tabung serta meningkatkan kualitas layanan kepada
konsumen. Hal ini dimungkinkan karena Agen akan menerima Elpiji dari SPPBE sesuai
dengan jumlah uang yang dibayarkan. Disamping itu, Pertamina juga menerapkan standar
layanan yang sesuai dengan harapan konsumen Elpiji untuk sektor rumah tangga maupun
sektor industri. Pada tahap pertama penerapan pola baru ini akan dilakukan pada Wilayah
I Unit Gas Domestik yang meliputi wilayah DKI, Jawa Barat dan Banten yang menyerap
50 % pasar Elpiji nasional. Secara nasional konsumsi Epiji mencapai 3500 metrik ton per
hari atau sama dengan kondisi konsumsi sebelum kenaikan harga tahun lalu. Pola baru ini
juga akan diterapkan secara bertahap di wilayah-wilayah lain di seluruh Indonesia.
Pola lama memberikan keleluasaan penjualan Elpiji melalui SPPBE swasta hingga
mencapai 84% dari total penjualan Elpiji Pertamina sehingga merugikan Filling Plant
Pertamina. Melalui pola lama ini Pertamina hanya merupakan supplier Elpiji dan bukan
sebagai principal Elpiji sehingga upaya peningkatan pelayanan kepada konsumen sangat
tergantung kepada SPBBE dan Agen Elpiji. Pola lama ini menempatkan Pertamina pada
posisi kontrol yang lemah karena Pertamina melakukan ?jual beli putus? dengan pihak
SPPBE. Selanjutnya SPPBE mengisi Elpiji bulk tersebut ke dalam tabung dan menjualnya
ke Agen Elpiji. Pertamina hanya menjual ke Agen yang mengisi Elpiji melalui Filling
Plant Pertamina. Hal ini mengakibatkan Agen tidak memiliki hubungan bisnis langsung
dengan Pertamina. Sehingga Pertamina mengalami kesulitan dalam mengukur loyalitas
dan kinerja Agen dan SPPBE. Oleh karenanya pola ini telah di tata ulang sehingga
Pertamina kembali memegang kontrol distribusi serta memberikan layanan yang lebih
baik kepada masyarakat.

Telah menjadi komitmen Pertamina untuk melayani konsumen lebih baik meskipun
tingginya harga minyak dunia yang mencapai diatas USD 50/barrel dalam kurun waktu
yang lama masih merupakan tantangan terbesar dalam bisnis Elpiji saat ini. Beberapa
tahapan peningkatan pelayanan yang telah dilakukan berupa jaminan ketepatan isi,
kelengkapan tabung, pemasangan plastik wrap dan tampilan yang lebih baik serta
penambahan petugas pengawas di lapangan. Pengawasan yang dilakukan khusus untuk
wilayah I DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten, Pertamina telah memberikan sanksi
berupa: pemotongan alokasi terhadap 1 Agen dan 1 Stasiun Pengisian & Pengangkutan
Bulk Elpiji (SPPBE), surat peringatan kepada 19 Agen dan 2 SPPBE, surat teguran
kepada 5 Agen dan 1 SPPBE. Pertamina juga membuka hotline khusus untuk Elpiji
dengan nomor: 0 800 1 ELPIJI (357454).
Secara nasional angka konsumsi Elpiji per kapita penduduk di Indonesia masih jauh lebih
rendah dibanding negara tetangga. Malaysia mengkonsumsi LPG 5 % dari jumlah
penduduk, Thailand yang kondisi ekonominya relatif sama dengan Indonesia saat ini telah
mengkonsumsi 2 % dari jumlah penduduk. Konsumsi LPG di Indonesia saat ini baru
sekitar 0.5 % dari jumlah penduduk. Penggunaan LPG terbesar masih di dominasi oleh
sektor rumah tangga 69%, sektor komersial, hotel dan restauran 13%, dan industri 18%.
Apabila iklim bisnis LPG cukup kondusif diperkirakan potensi pemakaian LPG dapat
ditingkatkan hingga 3 juta Metrik ton per tahun.

Upaya Tingkatkan Layanan - PERTAMINA


INTERVENSI RETAIL ELPIJI
Jakarta, Tuesday, October 12 2004 (15:34)
PT Pertamina (Persero) kembali melakukan upaya peningkatan pelayanan retail LPG
(Liquified Petroleum Gas) dengan jaminan ketepatan kualitas isi dan penyeragaman harga
jual retail sesuai harga Pertamina. Mulai saat ini, konsumen LPG dapat membeli tabung
maupun LPG dengan harga sesuai yang ditetapkan Pertamina. Untuk tabung LPG 12 kg
(kososng) dijual dengan harga Rp Rp 177.000 dan untuk LPG saja dijual sesuai harga
retail Pertamina Rp 36.000 (atau Rp. 3000/kg). Harga ini jauh lebih murah dibanding
harga pasaran tabung yang mencapai Rp. 250.000 dan harga LPG di beberapa pengecer
yang bisa mencapai Rp 41.000/tabung. Intervensi Pertamina ini bertujuan untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan menciptakan alternatif lain untuk
memperoleh LPG secara mudah, murah, aman dengan jaminan ketepatan isi.
Intervensi retail ini dilakukan melalui kerjasama pemasaran LPG antara PT Pertamina
(Persero) dengan Indomaret. Kerjasama yang dimulai hari ini 12 Oktober 2004 diawali
dengan pemasaran Elpiji Pertamina di gerai di Indomaret Jl Kepu Selatan Kemayoran
Jakarta Pusat oleh GM Gas Domestik Ahmad Faisal dan Direktur Operasional PT
Indomarco Prismatama L Tirta Widjaya. Untuk tahap awal Elpiji Pertamina akan dijual di
194 toko Indomaret di wilayah Jakarta. Kerjasama ini juga diharapkan dapat memacu para
agen dan pengecer Elpiji Pertamina untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada
masyarakat, khususnya dari sisi harga jual dan ketepatan isi. Hal ini perlu ditekankan
karena pada prinsipnya para agen dan pengecer telah menikmati margin yang wajar
meskipun Pertamina menderita kerugian yang cukup besar dari bisnis LPG akibat
tingginya harga minyak dunia.
Dengan harga minyak yang merupakan bahan baku utama LPG diatas USD 50/barrel
semakin menambah berat beban Elpiji Pertamina dan bisnis ini menjadi semakin tidak
menarik untuk investor lain. Bisnis LPG di Indonesia sudah sejak 4 tahun lalu di
liberalisasi tetapi karena rendahnya struktur harga di dalam negeri, bisnis ini tidak mampu
menghadirkan pemain baru diluar Pertamina.
Untuk harga minyak mentah USD 36/barrel, biaya pokok LPG Pertamina sebesar USD
312/Metrik ton, atau jauh lebih rendah dibandingkan Cost Price (CP) Aramco yang
menjadi patokan harga pasar dunia USD 383/barrel. Harga ini akan terus merangkak naik
seiring peningkatan harga minyak dunia yang diprediksikan akan terus terjadi hingga
akhir 2004. Perubahan harga pokok yang sangat tinggi inilah yang mengakibatkan bisnis
ini memerlukan penyesuaian strategi bisnis meskipun potensi pertumbuhan dan pangsa
pasarnya cukup terbuka.
Telah menjadi komitmen Pertamina untuk melayani konsumen lebih baik meskipun
struktur harga masih merupakan kendala terbesar dalam pemuasan layanan konsumen.
Beberapa tahapan peningkatan pelayanan yang telah dilakukan berupa jaminan ketepatan

isi, kelengkapan tabung, pemasangan plastik wrap dan tampilan yang lebih baik serta
penambahan petugas pengawas di lapangan. Pengawasan yang dilakukan khusus untuk
wilayah I DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten yang menyerap 48% konsumsi national,
Pertamina telah memberikan sanksi berupa: pemotongan alokasi terhadap 1 Agen dan 1
Stasiun Pengisian & Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE), surat peringatan kepada 19 Agen
dan 2 SPPBE, surat teguran kepada 5 Agen dan 1 SPPBE. Pertamina juga membuka
hotline khusus untuk Elpiji dengan nomor: 0 800 1 ELPIJI (357454).
Konsumsi LPG di Indonesia terus mengalami peningkatan dari 83 ribu Metrik ton per
bulan pada 2003 menjadi 100 ribu Metrik ton pada 2004. Meskipun mengalami kenaikan,
angka konsumsi per kapita penduduk masih jauh lebih rendah dibanding negara tetangga.
Malaysia mengkonsumsi LPG 5 % dari jumlah penduduk, Thailand yang kondisi
ekonominya relatif sama dengan Indonesia saat ini telah mengkonsumsi 2 % dari jumlah
penduduk. Konsumsi LPG di Indonesia saat ini baru sekitar 0.5 % dari jumlah penduduk.
Penggunaan LPG terbesar masih di dominasi oleh sektor rumah tangga 69%, sektor
komersial, hotel dan restauran 13%, dan industri 18%. Apabila iklim bisnis LPG cukup
kondusif dengan struktur harga yang memadai, potensi pemakaian LPG dapat
ditingkatkan hingga 3 juta Metrik ton per tahun.
Pada era persero ini, Pertamina mengemban misi meraih profit dari sektor hilir yang
selama ini beroperasi secara nir laba. Oleh sebab itu Pertamina tetap komit untuk
mengelola usahanya secara efisien, profesional dan berorientasi laba. Mempertimbangkan
beberapa hal tersebut maka Pertamina akan mendorong terciptanya iklim bisnis yang
sehat dengan terciptanya keuntungan yang wajar kepada produsen dan pelaku usaha LPG
serta pelayanan yang lebih baik kepada konsumen. Pada gilirannya konsumen akan
menjadi raja dengan membayar LPG sesuai harga keekonomian dan tingkat layanan yang
diperolehnya.

Investasi SPPBE, Untung Nggak Ya?


Kamis, 03 September 2009
Oleh : Sudarmadi/Kristiana Anissa
Satu lagi alternatif investasi ditawarkan PT Pertamina (Persero). Setelah di era
sebelumnya cukup gencar menawarkan alternatif investasi melalui pendirian SPBU, kini
Pertamina memberi kesempatan pebisnis investasi melalui pendirian Stasiun Pengisian
dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE), yang bisnisnya adalah jasa pengisian gas LPG
(filling station).
Seperti dijelaskan Wahyudin Akbar, Vice President Gas Domestik PT Pertamina,
pengadaan program ini tak lepas dari konversi minyak tanah ke liquefied petroleum gas
(LPG) dari pemerintah yang untuk itu butuh infrastruktur. Konversi minyak tanah ke
LPG yang awalnya ditargetkan butuh waktu lima tahun kemudian dipercepat menjadi
hanya dua-tiga tahun sehingga pembangunan infrastrukturnya pun dipercepat. Salah satu
caranya dengan pengadaan SPPBE, Wahyudin menjelaskan. Pengadaan ini dilakukan
agar pendistribusian LPG lebih efisien.
Bisnis SPPBE sebenarnya hanya pada jasa pengisian LPG karena gasnya sendiri milik
Pertamina. Pada dasarnya, yang menjual LPG tetap Pertamina. Urutan jalur distribusi
LPG-nya sendiri: dari kilang Pertamina gas dikirim ke depot menggunakan tangki, dan
dari depot dikirim ke SPPBE menggunakan mobil tangki. Di SPPBE atau bottling plant
itulah LPG dibotolkan ke kemasan ukuran 3 kg, 12 kg dan 50 kg, Wahyudin
menguraikan.
Nah, untuk mendirikan SPPBE, Pertamina menawarkan kemitraan ke investor. Bagi-bagi
keuntungan yang ditawarkan sebatas uang jasa pengisian LPG. Uang jasa pengisian itu
besarnya Rp 300/kg untuk tabung gas ukuran 3 kg, sehingga untuk satu tabung uang jasa
pengisian yang diterima investor Rp 900. Sejauh ini, berdasarkan studi kelayakan
Pertamina, investor disarankan membuka SPPBE dengan kapasitas pengisian 30 ton/hari.
Dengan asumsi ini, dalam 30 hari atau sebulan, sebuah SPPBE dapat mengisi LPG
sebanyak 900 ton. Dan uang jasa pengisian yang diperoleh dapat mencapai Rp 270
juta/bulan. Jika biaya-biaya seperti biaya listrik, biaya tenaga kerja dan sebagainya yang
dikeluarkan setiap bulannya hanya sekitar Rp 100 juta, maka dia masih akan memperoleh
keuntungan Rp 170 juta, Wahyudin merinci.
Menurut Wahyudin, pada skala itulah investor dapat menikmati hasil investasi dalam
membangun SPPBE. Dia menyayangkan, terkadang ada investor yang membangun
SPPBE dengan kapasitas di atas 30 ton/hari. Pertamina selalu merekomendasikan
SPPBE dengan kapasitas 30 ton ini, sesuai dengan studi kelayakan kami. Yang jadi
masalah, kalau ada investor yang menginginkan lebih dari itu, sehingga bisnis LPG ini
akan menjadi bisnis yang oversupply, paparnya.
Modal buat membangun stasiun berkapasitas 30 ton/hari itu berkisar Rp 3-6 miliar.
Dengan modal sejumlah itu, pemilik bisa memperoleh revenue senilai Rp 270 juta/bulan.
Pemilik tidak perlu modal LPG, karena LPG-nya milik Pertamina. Persyaratan

membangun SPPBE menurut Wahyudin hanya izin prinsip dari pemda. Luas tanah yang
diminta biasanya 75 x 68 meter. Tentu saja harus di daerah yang sedang dilakukan
konversi dari minyak tanah ke gas.
Teuku Rizal Pahlevi termasuk entrepreneur yang juga investasi membangun SPPBE
bekerja sama dengan Pertamina. Rizal memang banyak berbisnis di industri migas, tak
heran dia juga memiliki SPBU serta mengageni LPG dan minyak tanah selain punya
SPPBE. SPPBE miliknya (PT Agam Seulawah Jaya) berada di Desa Pringu, Kecamatan
Bululawang, Kabupaten Malang, sudah dia jalankan sejak 1,5 tahun lalu.
Investasi yang dikeluarkan untuk pembuatan SPPBE mencapai Rp 18 miliar, termasuk
tanahnya. Maklum, buat lahan saja Rizal mengeluarkan dana sekitar Rp 2 miliar. Dia
mengakui investasinya tergolong mahal karena termasuk angkatan pertama yang
membuka SPPBE. Program SPPBE Pertamina tidak berhasil di tahun pertama, maka
sekarang syarat pendirian lebih dilonggarkan. Dengan dana Rp 3-4 miliar saja, orang
sudah bisa membuka, ujar lelaki yang mempekerjakan 42 karyawan di SPPBE miliknya.
SPPBE memperoleh uang jasa pengisian LPG Rp 300/kg. Dengan demikian uang jasa
pengisian setiap tabung Rp 900. Namun uang jasa pengisian ini dibatasi, SPPBE hanya
dapat memperoleh uang jasa pengisian senilai Rp 900/tabung buat 250 ribu tabung
sebulan atau sekitar 10 ribu tabung/hari. Di atas angka tersebut, uang jasa pengisian per
tabung bagi SPPBE hanya Rp 840. Peraturan penurunan uang jasa pengisian ini menurut
Rizal cukup merugikan pemilik stasiun seperti dirinya.
Berdasarkan hitungan bisnisnya, investasi di SPPBE ini baru dapat balik modal dalam 10
tahun, dengan asumsi pengisian per hari mencapai 16 ribu tabung. Sementara SPPBE
Rizal sendiri dapat mengisi sekitar 15 ribu tabung sehari atau 45 ton LPG. Dan itu pun
keagenannya masih diatur Pertamina, ujarnya dengan nada kecewa. Tak heran Rizal
mengatakan, ke depan, dia tidak akan lagi membangun SPPBE. Yang satu ini saja masih
rugi. Kapok saya, katanya.
Ya, bisa jadi tak semua investor SPBU bernasib murung seperti Rizal. Pertamina sendiri
menargetkan minimum ada 250 SPPBE di seluruh Indonesia tahun 2009 ini, dengan
kapasitas pengisian 30 metrik ton per hari. Saat ini yang sudah beroperasi 150 SPPBE.
Pertamina juga memiliki beberapa SPPBE itu tetapi ditargetkan tak lebih dari 15 unit,
selebihnya ditawarkan ke investor. Pertamina pun tengah membuat persetujuan kontrak
dengan pihak swasta untuk membangun hampir 400 SPPBE. Izinnya sudah kami
keluarkan, tapi kami tidak yakin semua akan merealisasi. Kami hanya menargetkan, dari
400 itu kalau yang merealisasi 300-an, sudah cukup memenuhi kebutuhan, kata
Wahdyudin percaya diri. Anda tertarik?

Beri Nilai