Anda di halaman 1dari 21

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1

Continuous Mining Method


Continuous Mining Method merupakan metode penambangan yang digunakan

dalam system penambangan terbuka dengan menggunakan Bucket Wheel Excavator


sebagai alat gali utama dan menggunakan Belt Conveyor sebagai alat.muatnya.
Rangkaian aliran continuous mining di daerah penggalian sampai ke daerah
penimbunan baik tanah maupun batubara dimulai dari Bucket Wheel Excavator (BWE)
yang melakukan proses penggalian material galian (tanah dan batubara) yang akan
dialirkan melalui Belt Wagon (BW), kemudian dialirkan ke Conveyor Excavating (CE)
melalui Hopper Car (HC) dengan kendali Cable Rail Car (CRC).
Material yang telah dialirkan oleh Conveyor Excavating (CE) akan dialirkan
menuju Conveyor Distribution Point (CDP) untuk dilakukan pemisahan antara material
tanah dengan batubara. Material tanah akan dialirkan menuju daerah penimbunan
melalui Conveyor Dumping (CD) menuju Spreader dengan bantuan Tripper Car (TC),
sedangkan batubara akan dialirkan menuju stockpile melalui Coal Conveyor (CC), dan
ditumpuk dengan bantuan Stacker/Reclaimer (S/R), dan dilakukan pemuatan pada
gerbong kereta api melalui bantuan Train Loading Station (TLS).

3.2

Alat Tambang Utama

3.2.1

Bucket Wheel Excavator (BWE)


Bucket Wheel Excavator merupakan alat gali yang menggunakan rangkaian

bucket yang berputar pada satu roda putar, bucket penggeruk terdapat sejumlah
14buah dengan kapasitas 0,8 m3. Alat ini terdiri dari tiga bagian utama yaitu :
Substructure (bagian bawah), Intermediate Structure (bagian tengah), Slewable
Superstructure (bagian atas).
BWE juga dilengkapi dua buah lengan mekanis/ban pengangkut material
dengan lebar ban 1.400 mm dan kecepatannya 4,5 m/detik. BWE digerakkan dengan
menggunakan tenaga listrik. Kemampuan gali BWE adalah 1.300 bcm/jam untuk
kapasitas rancangan dan 1.050 bcm/jam untuk kapasitas garansi.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.1
Bucket Wheel Excavator

BWE cocok dipergunakan untuk material seperti coal, clay, sand, dan shale.
Sedangkan untuk material untuk material agak keras terutama batubara yang
mempunyai kekerasan tertentu, sebelum dilakukan penggalian biasanya material
tersebut diledakkan terlebih dahulu agar proses penggalian bisa dilakukan dengan
lebih mudah dan efektif.
Selanjutnya material hasil galian dari BWE ini melalui ban berjalan (Belt
Conveyor) diteruskan ke ATU lainnya yang meliputi :
3.2.2

Belt Wagon (BW)


Belt Wagon merupakan alat yang berfungsi sebagai alat angkut material dari

BWE ke Hopper Car. BW digunakan untuk memperpanjang jangkauan penggalian


BWE 90 meter dari jalur conveyor penggalian (CE), sehingga mengurangi frekuensi
pergeseran (Shifting) jalur belt conveyor di jalur penggalian. Seperti halnya BWE, BW
juga memiliki dua lengan mekanis/ban dengan lebar 1.400 mm dan kecepatan 4,5
m/detik. Kedua ban ini digerakkan dengan tenaga listrik serta bisa diatur arah dan
ketinggiannya.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.2
Belt Wagon

Fungsi ban 1 BW untuk memindahkan material dari BWE ke ban 2 BW,


sedangkan ban 2 BW memindahkan material galian ke Hopper Car. Dalam operasional
BWE secara keseluruhan ban 1 BW diberi nama ban 3, sedangkan ban 2 BW diberi
nama ban 4. Pergerakan BW disesuaikan dengan pergerakan dari BWE. Sebagaimana
BWE, pada Belt Wagon juga terdapat tiga bagian yaitu Substructure (bagian bawah),
Intermediate Structure (bagian tengah),Slewable Superstructure (bagian atas).
3.2.3

Hopper Car (HC)


Hopper Car adalah alat yang berupa corong penerima yang digunakan untuk

menyalurkan material dari BW ke Conveyor Excavating (CE). HC ini seperti gerbong


yang berjalan diatas rel yang dipasang pada sisi kiri dan kanan sepanjang jalur CE,
dengan lantai berbentuk kerucut dan pada bagian bawahnya terdapat sederet rol
impact yang berfungsi untuk menahan beban tumpahan material pada belt.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.3
Hopper Car

3.2.4. Cable Rail Car (CRC)


Cable Rail Car (CRC) adalah suatu kendaraan yang mengangkut segulungan
kabel listrik bertegangan 20 KV yang memasok daya untuk BWE dan BW. Alat ini juga
berfungsi untuk menggerakkan Hopper Car menyesuaikan arah pergerakan dari 2 ban
BW. CRC bersama dengan HC dapat bergerak maju mundur diatas rel yang dipasang
di sepanjang jalur CE. Pergerakan CRC akan disesuaikan dengan gerakan BW.
Konstruksi CRC terdiri dari kabel, rail supporting structure, dan kabin operator.
CRC juga dilengkapi dengan Mechanical Electric Switch yang berguna untuk
menghindari terjadinya tegangan naik pada kabel.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.4
Cable Rail Car

3.2.5

Conveyor System (CS)


Conveyor System adalah alat untuk mengangkut material dari Front penggalian

menuju ke tempat penimbunan tanah (Disposal Area) ataupun ke tempat penumpukan


batubara (Stockpile/TLS). Belt Conveyor berupa sabuk karet yang berjalan
disepanjang jalur conveyor. Pergerakan Belt conveyor ini diatur oleh sebuah drive
pulley (Pulley penggerak) dan dibantu dengan sejumlah idler/rol yang terpasang di
sepanjang belt frame. Jalur belt conveyor dapat dioperasikan secara interlock
(terkoneksi) dan not interlock (tidak terkoneksi). Interlock berarti seluruh segmen jalur
belt conveyor dijalankan secara kontinyu sebagai satu kesatuan sistem. Sedangkan
cara not interlock artinya jalur conveyor dioperasikan terpisah (tersendiri) per
segmen.berdasarkan fungsinya, jalur belt conveyor ini terbagi atas beberapa macam,
berturut-turut dari front penggalian sampai ke front penimbunan yaitu :
3.2.6

Conveyor Excavating (CE)


Conveyor Excavating merupakan jalur conveyor yang pertama kali mengangkut

material hasil galian yang keluar dari Hopper Car. Posisi jalur CE yang paling ujung
bisa digeser menyesuaikan dengan kemajuan galian BWE. Lebar belt CE adalah 1.200
mm.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.5
Conveyor Excavating

3.2.7

Conveyor Shunting (CS)


Conveyor Shunting merupakan conveyor penghubung dari CE ke CDP. Ujung

dari CS dapat digeser baik secara manual ataupun otomatis sesuai dengan jenis
material yang digali. Lebar Belt CS adalah 1.200 mm.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.6
Conveyor Shunting

3.2.8

Conveyor Distribution Point (CDP)


Conveyor Distribution Point berfungsi untuk mengatur distribusi material dari

CS ke conveyor coal (CC) untuk batubara atau ke conveyor dumping (CD) untuk
tanah. Pengaturan distribusi dilakukan oleh operator yang ada di CDP secara otomatis
dan dapat juga secara manual.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.7
Conveyor Distribution Point

3.2.9

Conveyor Dumping (CD)


Conveyor Dumping berfungsi untuk meneruskan pengangkutan material tanah

dari CS ke Spreader di disposal area. CD daoat melayani 2 unit BWE sekaligus karena
memiliki lebar belt 1.600 mm.
3.2.10 Conveyor Coal (CC)
Conveyor Coal berfungsi untuk meneruskan pengangkutan batubara yang telah
melewati Conveyor Distribution Point ke Stacker Reclaimer (SR) di Stockpile area. CC
mampu melayani pengangkutan dari dua jalur penggalian BWE dengan lebar belt
1.600 mm.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.8
Conveyor Coal

3.2.11 Spreader
Spreader merupakan alat penghampar tanah di daerah penimbunan (disposal
area). Kapasitas Spreader mampu melayani penghamparan material tanah yang
berasal dari dua jalur penggalian BWE.
Sama halnya dengan BWE, spreader juga memiliki dua ban lengan mekanis.
Ban 1 diletakkan pada lengan topang Tripper Car (TC) dan berfungsi untuk menerima
material dari CD. Sedangkan ban 2 berfungsi untuk menerima material dari ban 1 dan
selanjutnya menghampar material tersebut di area penimbunan.
Pada prinsipnya, jenis material penimbunan hanya dibagi dua jenis, yaitu
material kering dan material basah atau lumpur. Pengaturan penempatan material
batubara diatur dengan komunikasi antara operator spreader, MCC, dan operator
BWE.
3.2.12 Tripper Car (TC)
Tripper Car merupakan alat yang berfungsi untuk mendistribusikan material
tanah dari CD ke ban 1 spreader.TC bergerak maju mundur menyesuaikan dengan
jalur rel CD dan pergerakan spreader. Dalam kegiatan tertentu seperti transport
spreader jarak jauh, TC dapat dipisahkan dari ban 1 spreader namun sebagai
gantinya, ban 1 spreader ini akan ditopang oleh sebuah transport crawler.

3.2.13 Stacker Reclaimer (SR)


Stacker Reclaimer (SR) merupakan alat yang memiliki fungsi untuk menimbun
dan menggali batubara di stockpile. Stacker Reclaimer dalam melakukan operasinya
bertumpu diatas rel ganda dan hanya bergerak maju mundur dengan kecepatan 0-25
m/menit. Satu unit Stacker Reclaimer mampu melayani operasi stacking batubara
untuk dua jalur penggalian BWE. Peralatan yang berhubungan langsung dengan
Stacker Reclaimer terdiri dari Inclined Conveyor (IC), Coal Conveyor (CC), dan Tripper
Car (TC). Tripper Car berfungsi untuk menggulung/mengulur kabel listrik di saat
Stacker Reclaimer bergerak maju/mundur.
3.2.14 Train Loading Station (TLS)
Train Loading Station adalah alat yang berfungsi untuk memuat batubara dari
stockpile ke gerbong kereta api untuk selanjutnya dikirimkan ke stasiun penerimaan
batubara di Pelabuhan Tarahan maupun Dermaga Kertapati. Kapasitas pemuatan alat
ini bisa mencapai 2.800 ton/jam.

3.3

Alat Penunjang Tambang


Untuk membantu dan memperlancar pekerjaan alat-alat tambang utama, maka

dibutuhkan alat berat lainnya, yang sifatnya sebagai penunjang operasi. Diantaranya :
3.3.1

Back Hoe
Back Hoe berfungsi untuk :

Melakukan pekerjaan yang kurang efektif bila dilakukan oleh ATU, seperti

penggalian, pemuatan tanah/lumpur.


Membersihkan Overburden/Interburden yang tipis pada batubara (<1 meter)
Membuat Parit dan Sump untuk penirisan tambang.
Membantu proses shifting belt conveyor.
Memuat tanah atau batubara yang tercecer di area belt conveyor.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.9
Backhoe

3.3.2

Bulldozer
Bulldozer pada penambangan BWE memiliki fungi untuk :

Mengumpulkan material tanah atau batubara yang sudah tidak terjangkau oleh

BWE untuk didekatkan.


Membersihkan serta memisahkan batubara dengan tanah di front penggalian

BWE.
Mendorong dan meratakan tanah terutama saat CE dan CD melakukan proses

shifting belt conveyor.


Meratakan serta membersihkan lantai kerja pada saat BWE akan transport.
Menguji kuat tekan tanah pada saat BWE dan spreader akan transport.
Mendorong bantingan tanah/ lumpur untuk membuat planum di area disposal

spreader.
Menggeser kopt station untuk meluruskan jalur belt conveyor.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.10
Bulldozer

3.3.3

Track & Wheel Stackle


Track Stackle merupakan modifikasi dari back hoe, sedangkan wheel stackle

merupakan modifikasi dari wheel loader. Kedua alat ini memiliki fungsi yaitu :

Membersihkan ATU (BWE, BW, Spreader & Tripper Car) dari tanah/lumpur

terutama pada bagian track plate dan diatas ballas (penyeimbang BWE).
Membersihkan jalur CE & CD dari tumpukan batubara atau tanah yang berada

dibawah belt conveyor.


Mempermudah proses pemasangan roll pada belt conveyor.
Membantu penggeseran frame CE & CD untuk pelurusan jalur pada saat belt
conveyor miring.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.11
Wheel Stackle

3.3.4

Mini Wheel Loader


Merupakan tipe Wheel Loader mini yang digunakan untuk pembersihan

material yang mengotori atau menumpuk di sekitar jalur-jalur belt conveyor di sekitar
area CDP.

Sumber : Dokumentasi Kerja Praktik, 2016

Gambar 3.12
Mini Wheel Loader

3.3.5

Pipe Layer
Pipe Layer merupakan modifikasi dari bulldozer yang berfungsi untuk :

Menggeser conveyor pada saat melakukan kegiatan/proses shifting.


Membantu mensejajarkan dan meluruskan kedudukan pada belt conveyor baik
secara vertikal maupun horizontal.

3.3.6

Transport Crawler
Transport Crawler mempunyai peran yang sangat vital di penambangan BWE

system. Alat ini digunakan untuk mengangkat kopt station pada saat perpindahan jalur
belt conveyor dari satu tempat ke tempat lain.

3.4

Proses Penggalian Bucket Wheel Excavator

3.4.1

Cara Kerja Blok Penuh (Full Block Working/Voll Blok)

Penggalian ini dilakukan dengan cara membuat blok-blok. BWE bekerja dengan
cara menaikkan dan menurunkan serta mengayun lengansecara terus menerus
dengan sudut s

wing sebesar 1450. Cara kerja ini cocok untuk semua jenis dan

ukuran BWE, namun akan lebih baik bila menggunakan BWE jenis Crowd Boom,
karena ketebalan sayatan akan tetap pada setiap sudut ayun. Lereng depan hasil
penggalian berbentuk busur. Kedalaman penggalian diaturdengan memajukan lengan.
3.4.2

Cara Kerja Setengah Blok (Half Block/Teil Blok)


Pada cara kerja ini, BWE bergerak sepanjang permukaan kerja (working face).

Arah gerak BWE tegak lurus dengan arah lengan dan ayunan (swing) hanya dilakukan
pada akhir permukaan kerja, dimana besarnya sudut swing tersebut sebesar 700.
Jarak jalan BWE pada cara setengah blok lebih besar dari jarak jalan pada cara blok
penuh. Dalam proses penggalian lapisan material, BWE bekerja dibatasi oleh sektor.
Dalam penggalian dimana dalam satu sektor penggalian terbentuk blok-blok
penggalian yang menunjukkan arah gerak BWE tersebut.
3.4.3

Cara Kerja Depan/ Blok Jalur Operasi (Front Working/Strossen Blok)


Cara kerja depan hampir sama dengan cara kerja setengah blok. Hanya saja

pada cara kerja depan, sudut swing pada akhir permukaan kerja sebesar 55 0. Jarak
jalan BWE pada cara kerja depan lebih besar dari jarak jalan pada cara setengah blok.
Kecepatan penggaliannya bergantung terhadap kecepatan gerak BWE. Cara kerja
depan digunakan bila ingin memperoleh kemiringan yang lebih baik dan hasil bahan
galian dengan jangkauan yang maksimum. Cara kerja ini sangat cocok bila
menggunakan BWE dengan roda jenis rel (rail mounted).

3.5

Cara Penggalian BWE System


Cara penggalian BWE system dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

3.5.1

Terrace Cut
Adalah cara penggalian dengan ketebalan galian ditentukan melalui gerak maju

BWE. Dimana pada awal galian gigi bucket terhhadap material adalah tipis dan pada
akhir galian gigi bucket terhadap material adalah tebal.
Penggalian ini juga untuk membuat tangga-tangga agar kestabilan lereng dapat
terjaga serta menghasilkan galian yang optimal.

3.5.2

Dropping Cut
Adalah cara penggalian bucket wheel excavator di mana ketebalan galian

ditentukan melalui gerak turun bucket wheel. Di mana pada awal penggalian gigi
bucket terhadap material dalah tebal dan diakhir galian gigi bucket terhadap material
adalah tipis. Cara penggalian ini digunakan untuk menggali tanah yang lunak dan
lengket agar material hasil galian tersebut tidak mengotori landasan kerja bucket wheel
excavator bagian depan.
3.5.3

Combination Cut

Adalah suatu cara penggalian gabungan antara terrace cut dan bagian bawahnya
menggunakan dropping cut. Cara ini jarang digunakan, karena saaat menggali
dropping cut, bucket akan mengalami tahanan yang besar pada saat memotong slice
yang cukup tebal sehingga beresiko patahnya gigi bucket atau terjadinya vibrasi yang
cukup kuat pada bodi bucket wheel excavator.

3.6

Metode Pengoperasian Bucket Wheel Excavator


Berdasarkan metode pengoperasiannya, operasional BWE dapat dibedakan

menjadi empat macam, yaitu :


3.6.1

High Cut
High Cut adalah sistem pengoperasian BWE dengan elevasi latar kerja BWE,

BW dan CE berada pada ketinggian yang sama. Tinggi maksimal galian adalah 12
meter. Sistem ini berguna untuk memperluas daerah dengan batas maksimum 90
meter dari jalur Conveyor Excavating (CE). Lebar blok galian 20 meter dengan sudut
bidang gali 600. Hasil bidang galian harus tiga slice.
3.6.2

High Step
High step adalah cara penggalian blok penambangan dengan elevasi latar kerja

BWE berada lebih tinggi daripada latar kerja BW dan CE. Perbedaan ketinggian
maksimum ATU adalah 6 meter. Cara ini digunakan apabila ketinggian jenjang
penggalian yang tersedia jauh lebih tinggi (> 12 meter) daripada ketinggian blok
penggalian normal. Lebar blok galian 20 meter dengan sudut gali > 60 0. Kaki ramp
maksimal 37 meter dari CE, dan kemiringan ramp 1 : 25.
3.6.3

Deep Step

Deep step adalah cara penggalian blok dengan elevasi latar kerja BWE dan
BW lebih rendah daripada latar kerja CE dengan beda ketinggian maksimum jenjang 6
meter. Cara ini dilakukan untuk mengurangi ketinggian bench yang di bawahnya.
Dalam operasi deep step ini perlu diperhatikan aliran air pada planum BWE agar tidak
terperangkap dan menggenang. Lebar blok galian adalah 32 meter dan kemiringan
ramp turun minimum 1 : 22,5.
3.6.4

Double Deep Step


Double deep step adalah cara penggalian dengan elevasi latar kerja BWE lebih

rendah (-6 meter) daripada latar kerja BW. Dan latar kerja BW, dan latar kerja BW lebih
rendah (-6 meter) dari latar kerja CE. Jadi beda ketinggian jenjang total antara CE dan
BWE adalah 12 meter.

3.7

Specific Production Factor


Specific Production Factor (SPF) merupakan parameter kapasitas/kinerja

pemindahan tanah dan batubara dari BWE. SPF diperolah dari perbandingan antara
volume tanah dan batubara hasil penggalian dengan waktu penggaliannya.
Kapasitas efektif yang digaransikan oleh Rheinbraun Consulting sebesar 1.300
bcm/jam, akan tetapi berdasarkan kondisi Tambang Air Laya saat itu, maka ditentukan
bahwa kapasitas efektif Bucket Wheel Excavator sebesar 1.050 bcm/jam.
Kapasitas efektif ini ditentukan dengan dua cara, yaitu :
Cara I :

Qeff = 60 x In x S x nf x Sf x np x fp
Dimana :

Qeff

In

= Isi nominal bucket (0,8 m3)

= Jumlah curahan bucket (6,5/menit)

nf

= Faktor pengisian bucket (0,9)

Sf

= Faktor pemuaian (swelling factor = 0,71)

np

= Efisiensi penggalian (0,7)

fp

= Faktor koreksi penggalian (0,75)

Kapasitas produksi efektif

Sehingga besarnya Qeff adalah :

Qeff

= 60 x 0,8 x 0,65 x 0,9 x 0,7 x 0,71 x 0,75 bcm/jam


= 1.046,7 bcm/jam 1.050 bcm/jam

SPF

= 17,5 bcm/menit

Cara II

Qeff = Qg x Fm x Fam
Dimana :

Qeff

Kapasitas produksi efektif

Qg

Kapasitas produksi garansi (1300 bcm/jam)

Fm

Faktor kekuatan matrial (0,9)

Fam

Faktor selective mining (0,9)

Sehingga besarnya Qeff adalah :

Qeff

= 1300 x 0,9 x 0,9 bcm/jam


= 1.053 bcm/jam 1.050 bcm/jam

SPF

= 17,5 bcm/menit

Untuk

menghitung

kapasitas

nyata

bucket

wheel

excavator,

dapat

menggunakan persamaan :

Qny

Vb
Ef

Dimana :

Qny

Vb

= Volume galian hasil ukur (bcm)

Ef

= Waktu jalan efektif (jam atau menit)

Kapasitas sebenarnya (bcm/jam atau bcm/menit)

3.8

Faktor Teknis Material

3.8.1

Kapasitas Bucket (Bucket Capacity)


Untuk mengetahui kapasitas bucket dari alat berat bucket wheel excavator

digunakan persamaan sebagai berikut:

VBucket = Panjang (meter) x Lebar (meter) x Tinggi (meter)


3.8.2

Faktor Isian Mangkuk (Fill Factor)


Faktor Isian mangkuk merupakan perbandingan antara kapasitas nyata

material yang masuk ke dalam mangkuk dengan kapasitas teoritis dari alat muat
tersebut yang dinyatakan dalam persen.
FF

Vn
Vt

x100%

Keterangan :

3.8.3

FF

= Faktor isian (fill factor) (%)

Vn

= Volume nyata (m3)

Vt

= Volume teoritis (m3)

Pengukuran Kecepatan Roda Bucket


Pengukuran kecepatan roda bucket dilakukan untuk mengetahui jumlah

curahan atau tumpahan bucket per menit, maka digunakan persamaan berikut:
Rata-rata CT =

n curahan
Keterangan
CT

CT
n(CT )

60
n

x 14 bucket

= jumlah kecepatan (detik)

n (CT) = jumlah data cycle time (CT)

3.8.4

= jumlah curahan (tumpahan/menit)

60

= konversi waktu

Faktor Pengembangan (Swell Factor)


Apabila material

digali

dari

tempat

aslinya,

maka

akan

terjadi

pengembangan volume (swell). Untuk menghitung swell factor dan percent swell
berdasarkan volume dapat menggunakan persamaan pada berat yang sama:
Swell Factor (SF)

Volume Loose
Volume Insitu

x 100%

Volume LooseBank Volume


=
Bank Volume

% Swell (S)

Jika pengukuran tidak dapat dilakukan dengan mengunakan volume maka


dapat diganti dengan menggunakan data densitas atau masa jenis dari batuan.
Persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut:
Swell Factor (SF) =

(loose )
(insitu)

x 100%

Sebelum menentukan faktor pengembangan berdasarkan densitas, terlebih


dahulu hitung nilai densitas batuan asli atau insitu dan kemudian hitung densitas loose
dengan menggunakan persamaan berikut ini:
Massa jenis material,

Massa jenis material kering, l =


Keterangan:

3.9

M
V

1+W

= Masa jenis material atau densitas (gram/cm3)

= Masa jenis material kering (loose) (gram/cm3)

= Masa material (gram)

= Volume material (cm3)

= Kadar air (%)

Efisiensi Kerja
Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap suatu pelaksanaan pekerjaan,

merupakan perbandingan antara waktu kerja produktif dengan waktu kerja yang
tersedia, dinyatakan dalam persen (%). Efisiensi kerja ini akan mempengaruhi
kemampuan produksi dari suatu alat. Persamaan sebagai berikut:
Ek =

We
x 100%

Di mana :
We

= Wp - (Wtd + Whd)

Keterangan:
Ek

= Efisiensi kerja (%)

We

= Waktu kerja efektif, (menit)

3.10

Wp

= Waktu produktif, (menit)

Wtd

= Waktu hambatan tidak dapat dihindari, (menit)

Whd

= Waktu hambatan dapat dihindari, (menit)

Belt Conveyor
Belt Conveyor merupakan ban berjalan yang dapat digunakan sebagai media

pengangkutan material secara mendatar atau miring. Material yang dapat diangkut
oleh belt conveyor dapat berupa Unit load atau Bulk material.
Unit load adalah benda yang dapat dihitung satu persatu, seperti kantong,
kotak, balok, dan lain-lain. Sedangakan Bulk material adalah material yang berupa
butir, serbuk, atau bubuk, seperti batubara, kaolin, timah, pasir, dan lain-lain.
Produksi atau jumlah material yang dapat diangkut oleh belt conveyor
tergantung dari :

Lebar belt.
Kecepatan belt.
Sudut roller atau idler.
Kerapatan material.
Sudut kemiringan belt.
Produksi belt conveyor dapat ditentukan dengan rumus :
T=
Keterangan

3.11

AxSx D
2000

= Produksi, ton/jam

= Luas Penampang material yang diangkut.

= Kecepatan belt, ft/jam

= Kerapatan material, lb/ft3.

Swabakar
Swabakar atau Spontaneous combustion atau disebut juga self combustion

adalah salah satu fenomena yang terjadi pada batubara pada waktu batubara tersebut
disimpan atau di storage / stockpile dalam jangka waktu tertentu. Swabakar pada
stockpile merupakan hal yang sering terjadi dan perlu mendapatkan perhatian
khususnya pada timbunan batubara dalam jumlah besar. Batubara akan teroksidasi
saat tersingkap dipermukaan sewaktu penambangan, demikian pada saat batubara

ditimbun proses oksidasi ini terus berlanjut. Akibat dari reaksi oksidasi antara oksigen
dengan gas-gas yang mudah terbakar dari komponen zat terbang akan menghasilkan
panas.
Bila reaksi oksidasi berlangsung terus-menerus, maka panas yang dihasilkan
juga akan meningkat, sehingga dalam timbunan batubara juga akan mengalami
peningkatan. Peningkatan suhu ini juga disebabkan oleh sirkulasi udara dan panas
dalam timbunan tidak lancar, sehingga suhu dalam timbunan akan terakumulasi dan
naik sampai mencapai suhu titik pembakaran (self heating), yang akhirnya dapat
menyebabkan terjadinya proses swabakar pada timbunan tersebut.

Sumber:bp.4.blogdpot.com/swabakar.html

Gambar 3.13
Segitiga Swabakar Batubara

Ada dua hal yang menunjang terjadinya proses swabakar pada timbunan yaitu
tergantung suhu reaksi dan konsentrasi oksigen yang cukup. Semua jenis batubara
mempunyai kemampuan untuk terjadinya proses swabakar, tetapi waktu yang
diperlukan dan besarnya suhu yang dibutuhkan untuk proses swabakar batubara ini
tidak sama. Untuk batubara yang mempunyai rank rendah memerlukan waktu yang
lebih pendek dan suhu yang lebih rendah bila dibandingkan dengan batubara yang
mempunyai rank yang tinggi.
Perkembangan panas batubara kelas bituminous yang disebabkan oleh proses
oksidasi antara O2 dan gas gas yang mudah terbakar seperti : methan, hidrogen,

karbon monoksida, yang dapat mengakibatkan proses swabakar dapat diringkas


sebagai berikut (Sukandarrumidi, 1995) :

Suhu 37 C, batubara dalam timbunan mulai teroksidasi secara perlahan-lahan

sampai suhu timbunan 50 C.


Suhu 50 C, proses oksidasi akan meningkat sesuai kecepatan kenaikan suhu

batubara hingga suhu 100 C 140 C.


Suhu 140 C, karbon dioksida dan uap air akan terurai dengan cepat sampai

dicapai suhu 230 C.


Suhu 230 C, dimana hal ini untuk tahap swabakar terjadi.
Suhu diatas 350 C, batubara akan menyala dan terjadi proses swabakar
batubara.
Tinggi timbunan yang teralu tinggi akan menyebabkan semakin banyak panas

yang terserap, hal ini dikarenakan sisi miring timbunan yang terbentuk akan semakin
panjang, sehingga daerah yang tak terpadatkan akan semakin luas dan akan
mengakibatkan permukaan yang teroksidasi semakin besar semakin cepat pula proses
swabakar.