Anda di halaman 1dari 6

Trauma Thoraks

Definisi
Trauma toraks adalah luka atau cedera yang mengenai dinding torkas dan atau organ intra
toraks yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding toraks maupun isi dari cavum toraks
yang disebabkan oleh bendatajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan gawat
toraks akut.
Etiologi
Trauma pada toraks dapat dibagi 2 :
-

Trauma tumpul, dengan ciri: tidak terjadi diskontinuitas dinding toraks. Dua
mekanisme yang terjadi pada trauma tumpul: transfer energi secara direct pada
dinding dada dan organ toraks, deselerasi deferensial yang dialami oleh organ toraks
ketika terjadinya impak.
Trauma tajam, dengan ciri: terjadi diskontinuitas dinding toraks. Berdasarkan tingkat
energinya dibedakan menjadi 3: trauma tusuk atau tembak dengan energi rendah,
berenergi sedang dengan kecepatan < 1500 kaki per detik dan trauma toraks karena
proyektil berenergi tinggi dengan kecepatan melebihi 3000 kaki/detik.

Penyebab trauma toraks yang lain adalah karena adanya tekanan yang berlebihan pada paruparu yang menimbulkan pneumotoraks.
Udara dalam kavum pleura ini ditimbulkan oleh:
a) Robeknya pleura visceralis sehingga saat inspirasi udara yang berasal dari alveolus akan
memasuki kavum pleura. Pneumothoraks jenis ini disebut sebagai closed pneumothorax.
Apabila kebocoran pleura visceralis berfungsi sebagai katup, maka udara yang masuk saat
inspirasi tak akan dapat keluar dari kavum pleura pada saat ekspirasi. Akibatnya, udara
semakin lama semakin banyak sehingga mendorong mediastinum kearah kontralateral dan
menyebabkan terjadinya tension pneumothoraks.
b) Robeknya dinding dada dan pleura parietalis sehingga terdapat hubungan antara kavum
pleura dengan dunia luar. Apabila lubang yang terjadi lebih besar dari 2/3 diameter trakea,
maka udara cenderung lebih melewati lubang tersebut disbanding traktus respiratorius yang
seharusnya. Sehingga udara dari luar masuk ke kavum pleura lewat lubang tadi dan
menyebabkan kolaps pada paru ipsi lateral. Saat ekspirasi, tekanan rongga dada meningkat,
akibatnya udara dari kavum pleura keluar melalui lubang tersebut, kondisi ini disebut sebagai
open pneumothoraks.
Jenis trauma toraks:
Pneumothoraks
Pneumotoraks adalah suatu kondisi adanya udara yang terperangkap di rongga pleura akibat
robeknya pleura visceral, dapat terjadi spontan atau karena trauma, yang mengakibatkan

terjadinya peningkatan
pengembangan paru.

tekanan

negatif

intrapleura

sehingga

mengganggu

proses

Pneumotoraks terjadi karena trauma tumpul atau tembus toraks.Dapat pula terjadi
karena robekan pleura viseral yang disebut dengan barotrauma, atau robekan pleura
mediastinal yang disebut dengan trauma trakheobronkhial.
Pneumotoraks dibagi menjadi simple pneumotoraks, tension pneumotoraks, dan open
pneumotoraks.
1. Simple pneumothorks
Adalah pneumotoraks yang tidak disertai peningkatan tekanan intra toraks yang progresif.
Pada keadaan normal, rongga diantara pleura parietalis dan viseralis punya tekanan dibawah
tekanan udara luar. Bila karena suatu sebab tekanan udara berubah jadi sama atau lebih besar
dari tekanan udara luar.
Adapun manifestasi klinis yang dijumpai :
a. Paru pada sisi yang terkena akan kolaps, parsial atau total
b. Tidak dijumpai mediastinal shift
c. Dijumpai hipersonorpada daerah yang terkena,
d. Dijumpai suara napas yang melemah sampai menghilang pada daerah yang terkena.
e. Dijumpai kolaps paru pada daerah yang terkena.
f. Pada pemeriksaan foto toraks dijumpai adanya gambaran radiolusen atau gambaran lebih
hitam pada daerah yang terkena, biasanya dijumpai gambaran pleura line.
Penanganan dilakukan dengan pemasangan toraks drain pada sela iga kelima di anterior dari
garis midaksila dan dihubungkan dengan WSD dengan ataupun tanpa penghisap.
2. Tension pneumothorax
Adalah pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraks yang semakin lama
semakin bertambah atau progresif. Pada tension pneumotoraks ditemukan mekanisme ventil
atau udara dapat masuk dengan mudah, tetapi tidak dapat keluar. Adapun manifestasi klinis
yang dijumpai :
a. Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif, sehingga terjadi kolaps total paru,
mediastinal shift atau pendorongan mediastinum ke kontralateral, deviasi trachea, hipotensi
&respiratory distress berat.
b. Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengan cepat, takipneu, hipotensi,
tekanan vena jugularis meningkat, pergerakan dinding dada yang asimetris, nyeri dada,
takikardia, hipotensi, hilangnya suara nafas, hipotensi

3. Open pneumothorax
Terjadi karena luka terbuka yang cukup besar pada toraks sehingga udara dapat keluar dan
masuk rongga intra toraks dengan mudah. Tekanan intra toraks akan sama dengan tekanan
udara luar. Dikenal juga sebagai sucking-wound.
Penanganan awal dilakukan dengan menutup defek dengan kassa steril yang diplester hanya
pada 3 sisi saja. Tindakan definitif dilakukan dengan memasang drain dan menutup defek.

Berdasarkan luasnya paru yang


diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

mengalami

kolaps,

maka

pneumotoraks

dapat

1. Pneumothoraks parsialis, yaitu pneumotoraks yang menekan sebagian kecil paru (< 50%
volume paru)
2. Pneumotoraks totalis, yaitu pneumotoraks yang mengenai sebagian besar paru (>50%
volume paru)

Flail Chest
Flail chest adalah area toraks yang melayang, disebabkan adanya fraktur iga multipel
berturutan lebih atau sama dengan 3 iga, dan memiliki garis fraktur lebih atau sama dengan 2
pada tiap iganya. Akibatnya terbentuk area melayang yang bergerak paradoksal dari gerakan
mekanik pernapsan dinding toraks. Area tersebut akan bergerak masuk pada saat inspirasi dan
bergerak keluar saat ekspirasi.
Penanganan awal dilakukan oksigenasi dan pemberian analgetik.
Hematotoraks
Hematotoraks adalah terakumulasinya darah pada rongga toraks akibat trauma tumpul atau
tembus pada toraks. Sumber perdarahan biasanya berasal dari arteri interkostalis atau arteri
mamaria interna. Pasien hematotoraks dapt mengalami syok hipovolemik berat yang
mengakibatkan terjadinya kegagalan sirkulasi, karena kegagalan massive yang terjadi dan
terkumpul di dalam rongga toraks.
Gejala yang muncul: hipoksia berat,penderita tampak anemis dan syok, perkusi pada sisi paru
yang abnormal redup, sesak, takipneu.
Penanganan awal dilakukan dengan pemasangan drain toraks, infus kristaloid. Terapi definitif
dilakukan dengan torakotomi.
Kontusio Paru
Kontusio paru merupakan cedera jaringan yang menyebakan edema dan reaksi inflamasi
sehingga terjadinya penurunan pengembangan paru, ventilation-perfusion mismatch yang

hipoksia dan usaha untuk bernafas yang meningkat. Kontusio paru disebabkan oleh trauma
benda tumpul atau benda tajam dengan mekanisme perdarahan dan edema parenkim
konsolidasi dan sering ditemukan bersamaan dengan cedera toraks yang berat.
Penanganan dilakukan dengan intubasi dan pemberian ventilasi untuk penderita dengan
hipoksia yang bermakna (PaO2 < 65 mmHg dalam udara ruangan dan SaO2 < 90%).
Penderita dengan kondisi stabil dapat ditangani tanpa intubasi endotrakeal atau ventilasi
mekanik.

Pemeriksaan Awal
-

Airway (jalan nafas): sumbatan di daerah orofaring, retraksi otot intercosta dan
supraklavikular, suara tambahan seperti gargling
Breathing (pernafasan): adanya perubahan frekuensi nafas
Circulation (sirkulasi): pemeriksaan PEA

Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi :
Dapat terjadi pencembungan pada sisi yang sakit (hiper ekspansi pada dada), pada waktu
respirasi, bagian yang sakit gerakannya tertinggal, trakea dan jantung terdorong ke sisi yang
sehat, deviasi trakea, ruang intercostals yang melebar.
b. Palpasi :
Pada sisi yang sakit, ruang antar iga dapat normal atau melebar, iktus jantung terdorong ke
sisi thorax yang sehat, fremitus suara melemah atau menghilang pada sisi yang sakit.
c. Perkusi :
Suara ketok pada sisi sakit, hipersonor sampai timpani dan tidak menggetar, batas jantung
terdorong kearah thorax yang sehat, apabila tekanan intrapleural tinggi, pada tingkat yang
berat terdapat gangguan respirasi sianosis, gangguan vaskuler syok.
d. Aukustalsi :
Pada bagian yang sakit , suara nafas melemah sampai mengilang, suara vocal melemah dan
tidak menggetar serta bronkofoni negative.

Penatalaksanaan
1. Water Sealed Drainage (WSD)
WSD dilakukan untuk:
-

Menentukan sumber perdarahan, sehingga dapat ditentukan untuk tindakan


selanjutnya yaitu torakotomi sebelum pasien jatuh dalam syok.
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan
rongga pleura sehingga mekanisme bernafas dapat kembali normal

2. Torakotomi

Torakostomi merupakan suatu tindakan membuat lubang pada dinding dada di daerah
interkostal V di anterior garis mid aksila pada sisi toraks yang patologis, kemudian
dipasang tube elastik dan difiksasi, untuk mengeluarkan cairan, darah atau udara dari
kavum pleura, baik secara aktif maupun pasif.
3. Farmakologis: antibiotik, analgetik, ekspektoran

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal
karena trauma.
Kriteria hasil :
Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif
Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru
Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab
Intervensi :
a. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi
yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.Untuk meningkatkan inspirasi
maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
b. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tandatanda vital. Karena distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai
akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok sehubungan dengan
hipoksia.
c. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan
pernapasan lebih lambat dan dalam.. Hal ini dilakukan untuk membantu klien mengalami
efek fisiologi hipoksia, yang dapatdimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
f. Cek alat drainase setiap 1 - 2 jam :
1) Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar. Untuk
mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan
ekspansi paru optimum/drainase cairan.
2) Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.
Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke
area pleural.
3) Observasi gelembung udara botol penempung. Gelembung udara selama ekspirasi
menunjukkan lubang angin dari penumotoraks. Gelembung biasanya menurun seiring

dengan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat
menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau selang buntu.
4) Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan selang tidak
terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan
akumulasi draniase bela perlu.
5) Catat karakter/jumlah drainage selang dada. Berguna untuk mengevaluasi
perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.
g. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam:
- Pemberian antibiotika.
-Pemberian analgetika.
-Fisioterapi dada.