Anda di halaman 1dari 27

PRESENTASI KASUS

SKIZOFRENIA RESIDUAL

Pembimbing:
dr. Altin Walujati, SpKJ
Oleh:
Melissa
141.0221.081

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT KEPRESIDENAN PUSAT ANGKATAN DARAT
GATOT SOEBROTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
PERIODE 08 AGUSTUS 10 SEPTEMBER 2016

STATUS PASIEN PSIKIATRI


I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Nn. H

Jenis kelamin

: Perempuan

Tanggal Lahir

: 02 Mei 1978

Usia

: 38 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Pendidikan Terakhir

: SMK

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Pekerjaan

: PNS DISBINTALAD

Alamat

: Jl. Komp Pepabri Taman Gebang Raya Tangerang

Tanggal masuk RS

: 26 Juli 2016

II.

RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis

: Tanggal 13, 14, 20 dan 24 Agustus 2016

Alloanamnesis

: Dengan ibu pasien, tanggal 13, 20, dan 24 Agustus


2016

A.

Keluhan Utama
Pasien diam saja dan tidak mau bekerja sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
sakit

B.

Riwayat Gangguan Sekarang


(Alloanamnesis) Pasien datang ke IGD RSPAD pada tanggal 26 Juli
2016 pukul 10.00 WIB diantar oleh ibu pasien. Saat dibawa ke Paviliun Amino
pukul 11.00 WIB pasien hanya diam. Pasien hanya diam saja, terlihat murung,
tidak mau bekerja dan tidak mau merawat dirinys sejak 1 minggu SMRS.
Awal keluhan yaitu 7 hari sebelum masuk rumah sakit pasien
mengatakan kepada ibunya tidak mau masuk kerja alasannya karena tidak enak
badan, ibu pasien pun setuju karena menganggap anaknya memang tidak enak
badan. Keesokan harinya pasien masih tidak mau masuk kerja karena alasan
yang sama, namun sudah terlihat perubahan perilaku yaitu hanya berdiam diri

di dalam kamar, keluar kamar hanya untuk makan, dan mandi harus disuruh
ibunya. Keluhan dan perubahan perilaku seperti ini bertahan dan semakin
memburuk setiap harinya, puncaknya sekitar 2 hari sebelum masuk rumah sakit
pasien menjadi semakin murung dengan muka yang selalu menunduk ke bawah
hanya berdiam diri dalam kamar dengan posisi setiap tidur muka ditutup
dengan bantal, makan harus disuruh, mandi harus disuruh dan pasien menjawab
nanti-nanti saja, pasien hanya keluar kamar hanya kalau ingin mengambil
minum di kulkas dan setiap ditanya pertanyaan apapun, jawaban pasien hanya
tidak apa-apa, dan tidak tahu.
Perubahan perilaku dirasakan sudah sejak tahun 2006, menurut ibu
pasien perubahan ini terjadi sejak pasien ada acara jalan-jalan kantor ke
Jogjakarta, disana menurut teman-teman kantor, pasien mengalami kesurupan
setelah keluar dari kamar mandi, pasien saat itu sedang menstruasi. Menurut
teman-teman, pasien mengatakan sempat melihat penampakan kuntilanak di
jemuran, awalnya pasien membuang sampah pembalut sembarangan dan
semenjak saat itu pasien terlihat ketakutan dan selalu menunduk kebawah.
Teman- teman pasien langsung menghubungi ibu pasien untuk menjemput
pasien saat tiba di Jakarta, saat tiba di Jakarta pasien dijemput oleh ibu dan
kakak pasien. Menurut ibu pasien, pasien saat itu terlihat ketakutan dan selalu
menyender pada beliau. Menurut Ibu, pasien pernah mendengar bisikan yang
mengatakan jangan kerja, dan sering melihat adanya penampakan manusia,
pernah pasien melihat suzanna pada saat dirawat di pavilion Amino beberapa
tahun yang lalu(ibu pasien lupa tahun). Pasien tidak pernah melakukan tindakan
yang mencelakakan dirinya maupun orang lain, pasien tidak pernah
mengungkapkan perasaan ingin bunuh diri. Pasien sudah pernah dibawa ke
pengobatan alternative dan tidak menunjukkan perubahan, pasien akhirnya
dibawa ke departemen jiwa RSPAD pada tahun yang sama, sampai saat ini
pasien sudah 7x masuk perawatan Amino RSPAD, pasien kontrol poli rutin dan
mendapatkan obat stelazine, THP, fridept, Aricept. Menurut ibu pasien, pasien
selalu rutin minum obat, ibu pasien sendiri yang selalu mengawasi obatnya.
Menurut Ibu pasien, tiap pasien kambuh tidak ada faktor pencetus yang jelas
karena sejak 2006 pasien menjadi sangat tertutup sifatnya, dan cenderung
menjadi pendiam.

(Autoanamnesa) saat ditanya mengapa mba henny masuk kesini ?,


jawaban pasien karena tidak mau masuk kerja, saat ditanya alasan tidak mau
masuk kerja, pasien menjawab tidak apa-apa, saat ditanya tidak apa-apa yang
bagaimana coba ceritakan ke saya, pasien menjawab tidak tahu.
Saat ditanya siapa yang membawa mba henny kesini ? pasien
mengatakan ibu. Saat ditanya naik apa kesini ? pasien mengatakan naik taksi
sama ibu. Saat ditanya apakah saat ini atau sebelum masuk rumah sakit ada
suara-suara di telinga mba henny yang orang lain tidak bisa dengar hanya mba
henny saja yang dengar ? jawabannya tidak ada. Apakah saat ini atau sebelum
masuk rumah sakit ada yang mba henny lihat, yang orang lain tidak bisa lihat
hanya mba henny yang bisa lihat ? jawabannya tidak ada. Saat ditanya mengapa
mba selalu menunduk kebawah, apakah ada yang mba lihat ? jawabannya tidak
ada. Saat ditanya mengapa mba kalau tidur mukanya ditutup bantal, coba
ceritakan ? pasien menjawab tidak apa-apa.
Namun saat ditanya kalau dulu ada tidak mba henny ? pasien
mengatakan ada tahun 2015, bisikan di telinga sebelah kanan suara seorang
laki-laki yang mengatakan sudah boleh kerja lagi, pasien tidak kenal dengan
suara tersebut. Menurut ibu pasien, pada saat perawatan sebelumnya (lupa
tahun) pasien sempat mengatakan ada suzanna di kamar mandi sehingga pasien
takut ke kamar mandi sendiri. Saat wawancara pasien masih takut ke kamar
mandi dan harus ditemani ibu, alasan takut ke kamar mandi menurut pasien
tidak apa-apa, takut saja
Awal mula perubahan perilaku mba henny sejak kapan ? pasien
menjawab sejak tahun 2006, karena kesurupan di Jogjakarta setelah buang air
kecil di kamar mandi. Bagaimana perilaku mba pada saat itu ? ketakutan dan
bicara kacau, pada saat ditanyakan ketakutan dan bicara kacau yang bagaimana
coba ceritakan, pasien menjawab tidak tahu. Apakah sebelumnya mba merasa
ada yang berbicara di telinga atau mba melihat sesuatu ? jawaban pasien tidak
ada, tidak tahu. Saat ditanya memang ke Jogjakarta dalam rangka apa ? pasien
menjawab ziarah ke makam sunan dari kantor saya selama 3 hari. Saat ditanya
apakah ada kejadian yang tidak menyenangkan yang terjadi selama

di

Jogjakarta, coba mba ceritakan saja ke saya ? jawaban pasien tidak ada, tidak
tahu. Saat ditanya apakah ada selisih dengan teman kantor ? jawabannya tidak
ada.

Pasien mengatakan semenjak tamat SMK, pasien sempat kerja menjadi


kasir, penjaga wartel sampai akhirnya mendaftar CPNS pada tahun 2004, pasien
saat ini merupakan PNS di DISBINTALAD dan sudah 12 tahun bekerja disana,
tugas pasien adalah sebagai pengantar surat ke setiap bagian. Pasien tidak
melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya, karena ayah pasien sudah
meninggal, tetapi menurut ibu pasien, pasien menerima dengan ikhlas
keputusan tersebut. Sebelum sakit pada tahun 2006 menurut ibu, pasien
merupakan pribadi yang cukup terbuka, dan hubungannya dengan tetangga dan
teman-teman cukup baik.
Pada saat ditanya mba henny orangnya seperti apa ? pasien menjawab
saya pemalu, penakut, saat ditanya pemalu dan penakut dalam hal apa coba
diceritakan saja, pasien menjawab pemalu saja, penakut saja. Menurut ibu,
pasien cenderung orang yang teliti dalam melakukan apapun,dan cukup
perfeksionis, kalau pergi pun pasien tidak harus selalu ditemani, pasien juga
semenjak sekolah sampai saat ini mempunyai beberapa teman dekat. Saat ini
teman dekat di kantor namanya mba Nur, menurut ibu mereka akrab karena
sama-sama masih lajang. Saat ditanya ke pasien : apakah mba henny suka
curiga tanpa alasan ke orang lain ? jawabannya tidak. Saat ditanya mba henny
kalau pergi harus ditemani tidak ? jawabannya iya. Apakah mba henny orang
yang teliti ? jawabannya tidak. Apakah mba henny punya teman dekat ?
jawabannya tidak. Apakah mba henny senang dengan keramaian ? jawabannya
iya. Apakah mba henny nyaman sendirian di kamar ? jawabannya tidak, senang
dengan keramaian.
Semenjak sakit menurut ibu, pasien cenderung tertutup, pasien selalu
langsung pulang kerumah setelah kerja, setiap sabtu minggu pasien suka
membantu ibu memasak di dapur, dan suka mengajak keponakannya ke
supermarket. Menurut Ibu pasien setelah habis libur lebaran tahun ini, ada
seseorang laki-laki yang sedang dekat dengan pasien, namun pasien masih
menutupinya. Pada saat itu adik pasien melihat handphone pasien dan melihat
sms dari pria tersebut, ibu pasien khawatir karena pria tersebut pasien menjadi
kambuh lagi. Selain itu di kantor, di ruangan pasien bekerja ada pegawai

perempuan baru yang katanya cerewet, ibu pasien juga khawatir karena hal ini
juga pasien kambuh. Ibu pasien mengatakan lingkungan kantor juga sudah
mengetahui tentang keadaan pasien dan mendukung supaya pasien sembuh.
Dan menurut ibu, pada saat dijenguk oleh atasan pasien, sempat ada wacana
akan kembali ke makam sunan di Jogjakarta, untuk meminta maaf. Karena
menurut kepercayaan disana, mungkin ada perilaku yang kurang berkenan yang
dilakukan disana.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1.

Riwayat Gangguan Psikiatri

Pada tahun 2006 pasien sempat dibawa ke beberapa pengobatan alternative


namun tidak ada perubahan, akhirnya dibawa poliklinik jiwa RSPAD pada
tahun yang sama, pasien rutin kontrol poli dan mendapatkan obat stelazine,
THP, fridep, Aricept. Pasien sudah sudah 7x (lupa tahun berapa saja) masuk
perawatan Amino dengan keluhan utama setiap masuk bangsal adalah diam dan
tidak mau bekerja. Menurut ibu dan pasien, perawatan terakhir kali 3 tahun
yang lalu.
.
2.

Riwayat Medis

Menurut Ibu pasien dan Pasien menyangkal adanya riwayat hipertensi, DM,
asma, kolesterol, penyakit jantung dan ginjal. Riwayat trauma ada waktu kelas
5 SD, saat itu pasien jatuh dari sepeda dan mengatakan kepalanya sakit sekali
lalu pasien dirawat di perawatan anak RSPAD, semenjak itu pasien tidak pernah
mengeluhkan adanya nyeri kepala lagi, penyakit saraf, riwayat kejang, tumor
otak, nyeri kepala juga disangkal oleh pasien. Tahun 2014 pasien dirawat
karena Typhus di Rumah Sakit di Tangerang. Tahun 2015 pasien operasi
ambeien di Rumah Sakit Ridwan.
3.

Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif


Menurut Ibu pasien dan Pasien tidak pernah mengkonsumsi alcohol,
bukan perokok aktif, maupun menggunakan obat-obatan terlarang yang
rutin maupun penggunaan jangka panjang. Penggunaan narkoba disangkal.

III.

RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


A.

Riwayat Prenatal dan Perinatal


Pasien lahir cukup bulan (aterm), melalui persalinan normal di bidan dan
merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Pasien merupakan anak yang
diharapkan oleh kedua orang tuanya. Ayah pasien seorang TNI dengan pangkat
terakhir Letda, ibu pasien seorang ibu rumah tangga.

B.

Masa Kanak-Kanak (0-3 tahun)


Pasien tumbuh normal sesuai usianya. Pasien tinggal dengan kedua
orangtuanya

C.

Masa Pertengahan (3-11 tahun)


Pada saat usia 4 tahun ayah pasien meninggal dunia karena sakit liver.
Pasien memulai jenjang pendidikan pada usia 4 tahun di TK Yonif 203 daerah
Tangerang dan menjalani pendidikan selama dua tahun kemudian melanjutkan
SD di Tangerang, tetapi pasien sempat tinggal kelas satu kali pada saat kelas 5
mau naik kelas 6 karena pada saat kenaikan kelas pasien dirawat di rumah sakit
sehingga diputuskan oleh wali kelas, pasien tidak naik kelas namun bukan
karena masalah nilai. Menurut ibu pasien, pasien memiliki banyak teman.
Pasien periang dan suka bercerita kepada orang tua. Nilai pasien pun cenderung
bagus-bagus, pasien rata-rata 10 besar di kelas

D.

Masa Kanak akhir dan Remaja


Pada saat pasien SMP hingga SMK pasien tinggal di Panti Asuhan Seroja di
Bekasi, awalnya panti asuhan tersebut untuk anak-anak yang ayahnya (TNI)
yang meninggal di Timor-Timor. Namun pada saat pasien tinggal disana, panti
asuhan tersebut sudah dikhususkan untuk anak-anak yang ayahnya (TNI) sudah
meninggal. Ibu pasien merupakan salah satu anggota perkumpulan Warakawuri,
pada saat itu ibu pasien mendata siapa saja yang mau tinggal di panti asuhan
tersebut di kompleknya, dan ibu menawarkan ke pasien karena alasan biaya
sekolah dan akomodasi semuanya ditanggung oleh pengurus panti asuhan, pada
saat itu bapak asuh panti tersebut adalah Bapak Soeharto, Pertamina dan Rumah
Sakit Dharmais. Pasien tinggal dengan 3 orang teman dalam 1 kamar, dan
temannya silih berganti sesuai lulus sekolahnya. Menurut ibu, pasien akrab

dengan teman-teman pantinya, dan sempat mempunyai teman dekat. Pasien


pulang pada saat liburan kenaikan kelas dan hari raya. Kunjungan orang tua
dibatasi, hanya 1 bulan sekali. Ibu dan kakak pasien selalu menambahkan uang
jajan tiap pasien pulang ke rumah. Pasien mengaku senang dan tidak ada
masalah saat tinggal disana, dan tidak ada perkelahian selama tinggal disana.
Prestasi pasien cukup baik dan dapat mengimbangi teman-teman sebayanya,
sempat ranking 1 pada saat kelas 2 SMK
E.

Masa Dewasa

Riwayat Pendidikan
Pasien tidak melanjutkan pendidikannya dikarenakan keterbatasan

biaya. Pasien merasa ikhlas dengan keputusan tersebut

Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja menjadi kasir, di wartel dan menjadi PNS di

DISBINTALAD sejak tahun 2004

Riwayat Pernikahan
Pasien belum menikah

Riwayat Agama
Pasien beragama Islam. Pasien rajin sholat 5 waktu dan mengaji.

Riwayat Psikoseksual
Menurut ibu, pasien memiliki orientasi seksual yang normal yaitu

heteroseksual. Namun pada saat ditanya apakah mba Henny tertarik dengan
lelaki ? jawabannya tidak tahu. Pasien sempat suka dengan beberapa lelaki
dan sempat dikenalkan dengan lelaki oleh kakak-kakaknya, namun tidak
berlangsung lama. Pasien sempat menjalin hubungan dengan pria yang
belakangan diketahui sudah mempunyai istri, akhirnya diputuskan untuk
mengakhiri hubungan tersebut, respon pasien biasa saja menurut ibu. Pada
saat dirawat di pavilion Amino beberapa tahun yang lalu (lupa tahun),
pasien sempat suka dengan pasien laki-laki di bangsal yang bernama Yanto,

pasien tersebut seorang TNI. Pasien (henny) sempat mengajak ibunya untuk
menjenguk Yanto, pada saat itu mba henny sudah pulang rawat lebih dulu.
Pasien kenal pada saat makan bersama-sama di ruang makan, pasien
bertukar nomor telepon, pasien mengaku pada saat sudah tidak dirawat
mereka masih berhubungan via telepon tetapi pasien lupa kapan terakhir
kali mereka berhubungan. Ibu pasien mengetahui hal ini.

Riwayat Hukum
Pasien belum pernah melakukan tindakan pelanggaran hukum

maupun berurusan dengan pihak berwajib.

Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke empat dari lima bersaudara. Ayah pasien

(almarhum) bekerja sebagai TNI dengan pangkat terakhir Letda dan Ibu
pasien hanya menjadi ibu rumah tangga. Hubungan pasien dengan kakak
maupun adik baik, jarang terlibat perkelahian, maupun konflik.
Genogram

Keterangan :
perempuan

pasien

laki-laki

meninggal

Riwayat Sosial Ekonomi sekarang


Pasien tinggal satu rumah dengan ibu pasien dan keponakan. Sehari-

hari biaya dari uang pensiunan, gaji pasien dan dibantu oleh saudarasaudara pasien. Untuk kebutuhan pribadi, pasien menggunakan gajinya
sendiri, dan pasien juga memberikan sebagian gajinya untuk membantu
kebutuhan rumah tangga. Pasien juga suka mengajak keponakannya untuk
jalan-jalan setiap sabtu dan minggu.
1.

Persepsi Pasien tentang Diri dan Lingkungannya


Pasien tidak menyadari bahwa dirinya sakit, dan ada yang salah terhadap
dirinya. Menurut pasien yang menyebabkan dirinya seperti ini karena
kesurupan pada saat rekreasi.

2.

Persepsi Keluarga tentang Diri Pasien


Keluarga pasien mengetahui bahwa pasien memiliki gangguan jiwa sejak
tahun 2006. Keluarga beranggapan bahwa pasien seperti ini karena awalnya
jalan-jalan kantor tahun 2006. sejak kecil pasien cukup percaya diri, punya
cukup banyak teman dan terbuka. Namun semenjak sakit pasien menjadi
tertutup dan lebih banyak diam. Keluarga pasien menerima keadaan pasien
dan berusaha membuat pasien sembuh.

3. Mimpi, fantasi dan nilai-nilai


Pasien ingin kembali ke rumah karena ingin melanjutkan pekerjaannya,
supaya bisa pulang ke rumah pasien mengatakan harus rutin minum obat
dan kontrol tiap bulan.

IV.

STATUS MENTAL
A.

Deskripsi Umum
1.

Penampilan
Perempuan, 38 tahun, tampak sesuai dengan usianya, kulit sawo matang.
Menggunakan baju tidur, memakai sandal jepit, rambut diikat tampak agak
berantakan dan berketombe, kerapihan dan perawatan diri kurang baik.
Postur tubuh baik, perawakan gemuk. Tidak tampak tanda-tanda anxietas.

2.

Perilaku dan Aktivitas Psikomotor


Selama wawancara, pasien duduk dengan tenang, psikomotor berkurang
karena harus selalu diperintah dulu baru melakukan kegiatan. pasien tidak
terlihat tampak gelisah. Kontak mata tidak adekuat, pasien selalu
menunduk. Pasien cenderung menjawab pertanyaan tertutup.

3.

Sikap terhadap Pemeriksa


Pasien tidak kooperatif tetapi cukup fokus saat proses wawancara
berlangsung.Kontrol impuls pasien cukup baik.

B.

Mood dan Afek (alam perasaan)


1.

Mood

: hipotim

2.

Afek

3.

Keserasian : Serasi antara mood dan afek namun tidak serasi

: tumpul dan cenderung sulit diraba rasakan

dengan isi pikir


C.

Bicara
Pasien berbicara tidak spontan, agak lama untuk memulai pembicaraan, bicara
hanya satu kata, artikulasi jelas, volume suara rendah, bicara sesuai dengan
emosi dan cenderung menjawab pertanyaan tertutup

D.

Gangguan Persepsi

Halusinasi auditorik : dahulu ada suara-suara yang menyuruh pasien


tidak kerja, pada tahun 2015 suara tersebut mengatakan pasien sudah
boleh kerja. Suara tersebut menurut pasien seorang laki-laki dan

berbisik di telinga kanan pasien. Untuk saat ini kesan masih ada
halusinasi auditorik, namun saat ini sulit untuk mendapatkan

informasi dari pasien.


Halusinasi visual : dahulu ada riwayat melihat Suzanna di kamar
mandi yang membuat pasien tidak mau ke kamar mandi. Saat ini
kesan masih ada, karena pasien sempat pada awal perawatan tidak

E.

mau ke kamar mandi sendiri


Taktil : tidak ada
Olfaktorik : tidak ada
Gustatorik : tidak ada
Ilusi : tidak ada
Depersonalisasi : riwayat kesurupan pada tahun 2006
Derealisasi : tidak ada

Pikiran
1.

Proses Pikir

a. Arus Pikir

Produktivitas : miskin ide, cenderung melambat

Proses pikir :

Psikosis : ada

Tes realita : RTA terganggu

Berpikir tidak logis : tidak ada

Kontinuitas :

Blocking : ada, pembicaraan masih koheren

Asosiasi longgar : tidak ada

Inkoherensi : tidak ada

Flight of ideas : tidak ada

Word salad : tidak ada

Neologisme : tidak ada

Sirkumstansialitas : tidak ada

Tangensialitas : tidak ada

2.

Isi Pikir
Miskin ide

Cenderung waham nihilistic dan waham kejar, namun saat ini sulit diraba
rasakan.

F.

Sensorium dan Kognitif


1.

Taraf Kesadaran dan Kesiagaan

a. Kesadaran neurologi atau sensorium : Compos Mentis, GCS 15


b. Kesadaran Psikiatrik (kualitas kesadaran): Tampak terganggu

2.

Orientasi
Waktu

: Baik, pasien dapat membedakan waktu baik pagi siang


maupun malam. Pasien juga dapat mengetahui tanggal hari
dan jam.

Tempat

: Baik, pasien mengetahui bahwa dirinya berada pavilion


Amino di RSPAD Gatot Subroto

Orang

: Baik, pasien dapat mengingat pemeriksa, ingat akan


identitas dirinya dan nama seluruh keluarga dekat pasien.
serta ingat dengan nama teman sekamarnya di bangsal saat
ini

3.

Daya Ingat
Jangka Panjang

Baik, pasien dapat mengingat tanggal lahir dirinya, dan memori masa
kecilnya, serta nama saudara-saudaranya
Jangka Sedang

Baik, pasien dapat mengingat siapa yang mengantarnya ke rumah sakit.


Jangka Pendek

Baik, pasien dapat mengingat menu makanan sebelum wawancara


Jangka Segera

Baik, pasien dapat mengingat 3 kata yang diberikan oleh pemeriksa yaitu
bangku, apel, dan laut.

4.

Konsentrasi dan Perhatian


Pasien kurang mampu mempertahankan konsentrasi dan perhatian, namun
pasien tidak mudah terdistraksi oleh suara luar. Pada saat berhitung 100-7.
Jawaban pasien benar yaitu 93. Namun pada saat ditanya 93-7, pasien
menjawab dengan salah yaitu 96.

5.

Kemampuan Membaca dan Menulis


Pasien dapat membaca tulisan pemeriksa dengan baik, dan dapat menulis
dengan baik

6.

Kemampuan Visuospasial
Agak berkurang karena tidak dapat menunjukkan jam 10.30 namun pasien
masih dapat menirukan gambar segilima bertumpukan yang digambar oleh
pemeriksa

7.

Pikiran abstrak
Baik, mengetahui arti peribahasa berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke
tepian. Pasien menyampaikan arti dari peribahasa tersebut yaitu: bersusahsusah dahulu, baru bersenang-senang kemudian

8.

Intelegensia dan Kemampuan Informasi


Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan yang ditanyakan pemeriksa. Yaitu
siapa nama presiden RI sekarang ? pasien menjawab Joko Widodo
.

G.

Kemampuan Mengendalikan Impuls


Selama wawancara pasien tampak tenang, tidak gelisah, dapat mengendalikan
diri, berperilaku baik, namun bersikap kurang kooperatif karena pasien selalu
menunduk ke bawah dan tiap kali diminta untuk melihat mata pemeriksa,
pasien melakukannya tetapi dengan cepat menunduk lagi. Saat disuruh untuk
melakukan kegiatan pasien cenderung menolaknya.

H.

Daya Nilai dan Tilikan


1.

Daya Nilai Sosial


Baik, pasien bersikap sopan terhadap pemeriksa, dokter, perawat dan
petugas Paviliun Amino.

2.

Penilaian Realita
RTA terganggu

3.

Tilikan
Derajat III, pasien mengatakan alasan dia dibawa ke rumah sakit karena dia
tidak mau bekerja dan awal mula sakit sejak kesurupan pada tahun 2006

4. Taraf Dapat Dipercaya


Secara umum, keterangan yang diberikan pasien kurang dapat dipercaya.
Karena ada beberapa pernyataan yang tidak sesuai dengan alloanamnesa
terhadap ibu pasien.
V.

PEMERIKSAAN DIAGNOSIS LEBIH LANJUT


Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 14 Agustus 2016
A. Status Interna
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Kompos Mentis

Status Gizi

: gizi lebih

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Frekuensi Nadi

: 84 x/ menit

Frekuensi Nafas

: 18 x/ menit

Suhu

: Afebris

Mata

: Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik

THT

: Tidak ada gangguan

Mulut dan Gigi

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Thorax

:
Jantung

: BJ 1-2 reguler, gallop (-), murmur (-)

Paru

: Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen

: Datar, Bunyi Usus normal

Ekstremitas

: Akral hangat, perfusi perifer baik, tidak ada edema

B. Status Neurologis
GCS

: E4M5V6

Tanda Rangsang Meningeal

: Tidak dilakukan

Tanda-tanda Efek Ekstrapiramidal

:Tidak ditemukan

VI.

Tremor
Akathisia
Bradikinesia

: negatif
: negatif
: negatif

Keseimbangan

: Baik

Motorik

: 5/5/5/5

Sensorik

: Baik

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pemeriksaan dilakukan pada Nn. H, usia 38 tahun, agama Islam, pendidikan
terakhir SMK, pekerjaan PNS. Pasien masuk dirawat di pavilion Amino RSPAD
Gatot Soebroto pada tanggal 26 Juli 2016, diantar oleh ibu pasien karena diam saj
dan tidak mau bekerja sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit yang semakin
parah.
Berdasarkan autoanamnesa dan alloanamnesa 7 hari sebelum masuk rumah
sakit awalnya pasien mengatakan tidak ingin masuk kerja karena tidak enak badan
pasien hanya berdiam diri di dalam kamar, mandi harus disuruh, pasien hanya
keluar untuk buang air besar, buang air kecil dan minum. Keluhan ini berlanjut
terus setiap hari dan semakin parah. Puncaknya 2 hari sebelum masuk rumah sakit
pasien terlihat semakin murung dengan wajah yang selalu menunduk ke bawah,
hanya berdiam diri di dalam kamar dengan posisi tidur muka ditutup bantal, makan
harus disuruh, mandi harus disuruh dan cenderung tidak dilakukan, pasien hanya
keluar kamar untuk mengambil minum, dan setiap ditanya pertanyaan apapun,
jawabannya hanya tidak apa-apa dan tidak tahu.
Dari pemeriksaan status mental tanggal 14 agustus 2016 didapatkan Pasien
berjenis kelamin perempuan berusia 38 tahun dengan penampilan sesuai usia,
tinggi 162 cm, dengan berat badan lebih, berkulit sawo matang, rambut tidak
rapi, perawatan diri kurang, mengenakan baju tidur dan memakai alas kaki.
Sebelum, selama dan setelah wawancara, pasien tampak berdiam diri saja. Tidak
terdapat kontak mata antara pasien dan pewawancara. Selama wawancara pasien

kurang kooperatif dan menjawab semua pertanyaan dengan jawaban tidak apa-apa
dan tidak tahu, cenderung merespons pertanyaan tertutup. Mood pasien saat itu
hipotim, afek tumpul, serasi antara mood dan afek namun tidak serasi dengan isi
pikir. Cara berbicara tidak spontan, artikulasi jelas, suara pelan. Proses Pikir miskin
ide, melambat, ada blocking, namun tidak ada hendaya berbahasa. Isi pikir
cenderung waham nihilistic dan waham kejar. Persepsi riwayat halusinasi auditorik
dan visual, saat ini kesan masih terdapat halusinasi visual dan auditorik.
Kesadaran, orientasi, dan daya ingat baik, kemampuan membaca dan menulis baik,
kemampuan visuospasial berkurang, konsentrasi dan perhatian berkurang, pikiran
abstrak serta intelegensia baik. RTA terganggu dengan tilikan derajat 3, pasien
mengatakan alasan dia dibawa ke rumah sakit karena tidak mau bekerja dan awal
mula penyakitnya sejak kesurupan pada tahun 2006.

VII.

FORMULASI DIAGNOSTIK
Aksis I

Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan persepsi dan pikiran yang bermakna
yang menimbulkan distress (penderitaan) dan disability (hendaya) dalam kehidupan
sosial pasien, sehingga disimpulkan pasien mengalami gangguan jiwa menurut
PPDGJ III.
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah menderita penyakit
yang secara fisiologis mengganggu fungsi otak, memiliki riwayat trauma (jatuh dari
sepeda) pada waktu SD, tidak ada riwayat kejang sebelumnya. Pada pemeriksaan
fisik tidak ditemukan keadaan yang menunjukan gangguan organik di otak.
Sehingga Ganggguan Mental Organik (F00-F09) dapat disingkirkan. Pasien juga
tidak dalam pengaruh zat psikoaktif maupun alkohol, sehingga Gangguan Mental
dan Perilaku Akibat Penggunaan Alkohol dan Zat Psikoaktif Lainnya (F10-F19)
dapat disingkirkan
Berdasarkan hasil dan anamnesa pemeriksaan status mental pada pasien,
terdapat gejala negative dari skizofrenia yang menonjol (afek tumpul, mood
hipotim, tangensialitas, miskin ide, abulia, tidak ada kontak mata, perawatan diri
kurang, alogia, dan anhedonia). Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang
jelas di masa lampau ( di dapatkan dari aloanamesis dan autoanamnesis, pernah ada

halusinasi dengar dan halusinasi visual). Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu
satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata telah sangat berkurang
(minimal) dan telah timbul sindrom negative dari skizofrenia. Tidak terdapat
dementia atau gangguan otak organic lain, depresi kronis atau institusionalisasi
yang dapat menjelaskan disabilitas negative tersebut. Sehingga menurut kriteria
diagnostik PPDGJ III digolongkan dalam F20.5 Skizofrenia Residual

Aksis II
Ditemukan ciri kepribadian yang mengarah ke arah schizoid, yaitu pasien hanya
mempunyai satu teman akrab, kurang tertarik untuk mengalami pengalaman
seksual, kurang mampu mengekspresikan kehangatan, kelembutan atau kemarahan
terhadap orang lain, ketidakpedulian terhadap pujian.
Aksis III
Tidak ada
Aksis IV
Kemungkinan terdapat masalah yang berkaitan dengan lingkungan social, yaitu
pasien yang belum menikah sampai saat ini. Dan masalah pekerjaan, yaitu adanya
karyawan baru di lingkungan kerja pasien yang sifatnya cerewet dan kemungkinan
menyebabkan pasien kurang nyaman di kantor.
.
Aksis V
Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assement Of
Functioning (GAF) menurut PPDGJ III, saat dirawat di Bangsal Amino (tanggal 14
Agustus 2016) didapatkan GAF 50 - 41 dimana gejala berat (serious), disabilitas
berat.. GAF tertinggi 1 tahun terakhir 80-71 dimana gejala sementara dan dapat
diatasi, disabilitas ringan dalam social, pekerjaan dll. GAF pada saat awal masuk
perawatan 40-31 dimana beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan
komunikasi, disabilitas berat dalam beberap fungsi

VIII.

EVALUASI MULTI AKSIAL


Aksis I

: skizofrenia residual F.20.5

Aksis II

: ciri kepribadian skizoid

Aksis III

: tidak ditemukan kelainan

Aksis IV

: masalah pekerjan dan psikososial

Aksis V

: GAF pada saat perawatan tanggal 14 Agustus 2016 = 50-41


GAF tertinggi 1 tahun terakhir (HLPY) = 80-71
GAF pada awal masuk perawatan = 40-31

IX.

DIAGNOSIS BANDING
Depresi berat dengan ciri psikotik F32.3

X.

DAFTAR MASALAH
A.

Organobiologik
Pada Pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan atau gangguan

B.

Psikologis

Mood

: hipotim

Afek

: tumpul, saat ini sulit diraba rasakan namun sesuai

dengan mood dan isi pikir

Gangguan Persepsi

: kesan halusinasi auditorik dan visual

Arus Pikir

: blocking, cenderung melambat

Isi Pikir

: miskin ide-ide, cenderung waham kejar dan

nihilistik

C.

Tilikan

: Derajat 3

Lingkungan dan Sosioekonomi


Psikososial (masalah sampai saat ini belum ada pasangan hidup)
Pekerjaan (karyawan baru yang kemungkinan membuat pasien tidak nyaman)

XI.

XII.

PROGNOSIS
Ad Vitam

: ad bonam

Ad Sanationam

: ad malam

Ad Fungsionam

: ad malam

RENCANA TERAPI
D.

Psikofarmaka

E.

Seroquel 1x400
Triheksifenidil 2x2 mg
Stelazine 2x5 mg
Donepezil 1x5 mg
Cipralex 1x10 mg

Psikoterapi
1. Kepada pasien
Psikoterapi suportif dengan memberikan motivasi kepada pasien agar
bisa cepat kembali pulih dan berkumpul lagi bersama keluarganya, berempati
dan memberikan perhatian pada pasien, menerima pasien tanpa menghakimi,
mensupport usaha adaptif pasien, menghormati pasien sebagai manusia
seutuhnya dan menunjukkan ketertarikan pada aktivitas keseharian pasien.
Pasien juga perlu dihimbau untuk mengabaikan pikiran-pikiran yang
membuatnya cemas, seperti adanya bisikan dan adanya halusinasi lihat.

Motivasi pasien agar pasien tidak menganggap dirinya tak berguna dalam
pekerjaan dan jangan terlalu memikirkan masalah pasangan hidup. Serta cari
keunggulan/bakat dalam diri pasien dan dicoba untuk dikembangkan

2. Kepada keluarga pasien


Psikoedukasi karena peran serta keluarga sangat dibutuhkan dalam penangana
pasien. Psikoedukasi mengenai penyakit pasien dengan memberikan penjelasan
yang bersifat komunikatif, informatif dan edukatif mengenai penyebab
penyakit pasien,

gejala-gejalanya, faktor-faktor yang memberatkan, dan

bagaimana cara pencegahannya. Sehingga keluarga bisa menerima

dan

mengerti keadaan pasien serta mendukung proses terapi dan mencegah


kekambuhan. Perlu dijelaskan pula mengenai pentingnya peranan keluarga
pasien dalam memberikan dukungan moral kepada pasien, terutama saat pasien
mencemaskan sesuatu. Serta memberikan penjelasan mengenai terapi yang
diberikan pada pasien dengan menerangkan mengenai kegunaan obat terhadap
gejala pasien serta efek samping yang mungkin muncul pada pengobatan.
Selain itu juga ditekankan pentingnya pasien minum obat secara teratur dan
kontrol setelah pasien rawat jalan sehingga diharapkan keluarga turut serta dan
bekerja sama dalam berjalannya program terapi.
3. Terapi Lingkungan
Pemberitahuan kepada lingkungan kerja dan atasan pasien tentang kondisi
pasien dan supaya pasien diberikan lingkungan kerja dengan teman-teman
yang pasien kenal yang membuat pasien nyaman, familiar. Diusahakan
teman-teman tersebut tidak yang bersifat agresif dan cerewet terhadap pasien.
DISKUSI
Pada pasien ini didapatkan Distress dan Disability berupa gangguan melakukan aktifitas
sehari-hari seperti perawatan, menjalankan tanggung jawab pekerjaan. Sehingga pasien
dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan jiwa.
Untuk menegakkan sebuah diagnosis, hierarki diagnosis psikiatri harus digunakan, pada
pasien ini berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah menderita penyakit
yang secara fisiologis mengganggu fungsi otak, tidak memiliki riwayat trauma kepala, atau
kejang sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan keadaan yang menunjukan
gangguan organik di otak. Sehingga Ganggguan Mental Organik (F00-F09) dapat

disingkirkan. Pasien juga tidak dalam pengaruh zat psikoaktif maupun alkohol, dan tidak
ada riwayat pemakaian zat-zat tersebut sehingga Gangguan Mental dan Perilaku Akibat
Penggunaan Alkohol dan Zat Psikoaktif Lainnya (F10-F19) dapat disingkirkan. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa gangguan pasien adalah murni gangguan psikotik primer, bukan
karena penyebab medis yang lain.
Pada pasien terdapat gangguan psikotik yang ditandai terdapatnya gangguan pada daya
nilai realita, yang dapat dibuktikan dengan adanya tingkah laku yang kacau, persepsi yang
salah, proses pikir yang terganggu, disertai alam perasaan yang terganggu. Gangguan
psikotik pada pasien cenderung ke arah skizofrenia yang ditandai pada umumnya
penyimpangan pikiran dan persepsi, afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran yang
jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran
kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Pedoman diagnostik skizofrenia secara
umum yang terdapat pada pasien ini adalah :

Halusinasi auditorik

Halusinasi visual

Waham nihilistic

Gejala negative : sikap sangat apatis, bicara jarang, respon emosional yang
menumpul, penarikan diri dari pergaulan social, menurunnya kinerja social

Telah berlangsung selama satu bulan lebih, pada pasien terdapat sejak tahun 2006

Saat ini pada pasien cenderung mengarah ke arah skizofrenia residual F20.5 karena
terdapat gejala negative yang lebih menonjol, ada riwayat episode psikotik yang jelas,

waham dan halusinasi minimal dan timbul sindrom negative (karena pasien perawatan
terakhir di bangsal 3 tahun yang lalu), tidak terdapat gangguan organic lain.
Untuk diagnosis banding depresi berat dengan gejala psikotik dapat disingkirkan F32.3
karena pada pasien hanya terdapat gejala utama yaitu afek depresif, anhedonia, dan
menurunnya aktifitas. Namun pada pasien

tidak didapatkan minimal 4 dari 7 gejala

lainnya (konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang,
gagasan rasa bersalah, pandangan masa depan suram dan pesimis, tidur terganggu, nafsu
makan kurang)
Saat ini pasien mengalami kemunduran pada fungsi kognitif (dibuktikan dengan tes yang
dilakukan pemeriksa) yang kemungkinan disebabkan karena perjalanan penyakit yang
cukup lama ditambah dengan efek obat-obat yang diminum pasien selama ini.
Kemungkinan prognosis pada pasien buruk karena :

Kemunculan bertahap tanpa faktor pencetus

Riwayat social dan premorbid buruk

Perilaku menyendiri

Tidak menikah

Dominan gejala negative

Saat ini pasien mendapatkan psikofarmaka :


a. Seroquel

Seroquel (Quetiapine) adalah obat golongan antipsikotik atypical. Biasa


digunakan sebagai obat untuk skizofrenia dan bipolar.Obat ini digunakan
untuk merawat bipolar disorder (manic depression) pada orang dewasa 13
tahun ke atas. Pada pemakaian pertama, pasien mungkin merasa lelah yang
berlebihan dan kondisi kesadaran umum menurun.
Dosis harian total untuk 4 hari pertama: 50 mg hari pertama, 100 mg
hari kedua, 200 mg hari ketiga, 300 mg hari keempat. Mulai hari keempat
dan seterusnya, dosis titrasi ke dosis efektif yaitu 300-450 mg/ hari
diberikan 2 kali sehari. Dosis yang digunakan pada pasien ini adalah tab XR
400 mg dan diberikan 1 kali dalam sehari.
Efek samping yang dapat terjadi adalah pusing, konstipasi, mulut kering,
astenia ringan, rinitis, dispepsia, peningkatan berat badan, hipotensi
postular atau hipotensi ortistatik, takikardi, sinkop, edema perifer,
peningkatan

serum transaminase, penurunan jumlah hitung neutrofil,

hiperglikemia.

b. Triheksifenidil
Merupakan obat antikolinergik yang mempunyai efek sentral lebih kuat
daripada perifer, sehingga banyak digunakan untuk terapi penyakit Parkinson.
Senyawa ini bekerja dengan menghambat pelepasan asetilkolin endegon dan
eksogen.
Efek sentral terhadap susunan saraf pusat akan merangsang pada
dosis rendah dan mendepresi pada dosis toksik. Triheksilfenidil tersedia dalam
sediaan tablet 2 mg. Pada kasus ini diberikan Triheksilfenidil sebanyak 2 mg
dan diberikan 2 kali sehari. Indikasi pemberian obat adalah gangguan
ekstrapiramidal yang disebabkan oleh obat-obatan SSP dan Parkinson. Efek

samping yang dapat ditimbulkan berupa mulut kering, penglihatan kabur,


pusing, cemas, konstipasi, retensi urin, takikardi, dilatasi pupil, sakit kepala.
c. Stelazine
Adalah obat anti psikosis tipikal rantai piperazine. Dengan sediaan tab 1-5 mg
dan dosis anjuran 15-50 mg/h. pada pasien diberikan dosis 5 mg diberikan 2
kali perhari
d.

Donepezil

Atau Aricept adalah penghambat kolinesterase yang digunakan dalam hendaya


kognitif ringan sampai sedang. Digunakan pada pasien Alzheimer. Obat ini
mengurangi inaktivitas neurotransmitter asetilkolin sehingga menghasilkan
perbaikan sedang pada memori dan pemikiran bertujuan. Dosis 5 mg/hari, dosis
dapat ditingkatkan hingga 10 mg/hari. Dosis maksimum 10 mg/hari. Pasien ini
mendapatkan dosis 5 mg diberikan 1 kali perhari
Efek samping : diare, kram otot, lemah, mual muntah, insomnia, pusing
e. Cipralex
Adalah escilatopram, indikasi untuk episode depresi mayor, gangguan panic.
Dosis 10 mg 1x/hari, maksimal 20 mg 1x/hari. Pada pasien diberikan dosis 10
mg dan diberikan 1 kali perhari.
Efek samping penurunan nafsu makan, insomnia, somnolen, pusing,
diare,lemah.
.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock, Benjamin J., Sadock, Virginia A., Ruiz, Pedro. 2009. Kaplan & Sadock's
Comprehensive Textbook of Psychiatry, 9th Edition Volume 1. Lippincott Williams
& Wilkins: New York
2. Maslim, Rusdi. 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik, Edisi Ketiga. PT. Nuh
Jaya: Jakarta
3. Sadock, Benjamin J., Sadock, Virginia A., Ruiz, Pedro. 2007. Kaplan & Sadock's
Synopsis

of

Psychiatry:

Behavioral

Sciences/Clinical

Psychiatry,

10th

Edition. Lippincott Williams & Wilkins: New York


4. Maslim, Rusdi, 2003. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya: Jakarta.
5. Kusumawardhani, A.A.A.A. Buku Ajar Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Badan Penerbit FKUI. Jakarta: 2010.