Anda di halaman 1dari 42

PETUNJUK TEKNIS

VERIFIKASI WILAYAH
TAHUN 2016

Direktorat Pembinaan SMK


1
Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

KATA PENGANTAR
Peningkatan akses pendidikan yang berkualitas, terjangkau,
relevan, dan efisien menuju terangkatnya kesejahteraan hidup
rakyat, kemandirian, keluhuran budi pekerti, karakter yang kuat,
dan daya saing bangsa merupakan program prioritas pemerintah
untuk pembangunan pendidikan di Indonesia.
Sejak diberlakukannya undang-undang otonomi daerah,
pembangunan pendidikan dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat
melalui mekanisme pemberian bantuan yang beberapa
diantaranya diberikan langsung ke sekolah. Mekanisme ini
dirasakan efektif ketika jumlah dana yang disalurkan hanya
menjangkau beberapa sekolah. Sehubungan dengan
kesanggupan penyediaan dana oleh pemerintah yang semakin
meningkat tajam mendekati angka 20% dari APBN, maka
mekanisme pemberian program bantuan ke sekolah harus
disesuaikan. Salah satu dari tahapan proses mekanisme
verifikasi yang semula dilaksanakan pada setiap sekolah yang
akan menerima program bantuan, kini menjadi tidak relevan
lagi, dan sebagai penyesuaian perubahan adalah Verifikasi
Wilayah.
Petunjuk teknis Verifikasi Wilayah yang tersusun ini telah
dilengkapi dengan strategi dan prosedur pelaksanaan. Petunjuk
teknis Verifikasi Wilayah ini tentu masih memerlukan
penyempurnaan lebih lanjut berdasarkan pengalaman lapangan
dan masukan dari berbagai pihak. Dengan diterbitkannya
i

Petunjuk teknis Verifikasi Wilayah ini diharapkan pelaksanaan di


lapangan akan menjadi lebih baik dan terarah sehingga hasil
kerja petugas verifikasi lebih efektif, efisien, akuntabel dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang
berpartisipasi dalam penyempurnaan Petunjuk teknis Verifikasi
Wilayah ini.

Jakarta,
Tim Verifikasi Wilayah

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................ 3
B. Tujuan ..................................................................................... 3
C. Dasar Hukum........................................................................... 4
BAB II PELAKSANAAN VERIFIKASI WILAYAH ............................. 5
A. Pelaksanaan .......................................................................... 5
B. Tugas dan Tanggungjawab .................................................... 5
BAB III DESKRIPSI INSTRUMEN VERIFIKASI WILAYAH .............. 7
A. Instrumen Usulan.................................................................. 7
B. Instrumen Peralatan ........................................................... 28
BAB IV MEKANISME PEMBARUAN DATA ONLINE .................. 31
A. Ketua MKKS ......................................................................... 31
B. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota ..................................... 36
BAB V PENUTUP ....................................................................... 38

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perencanaan pengembangan pendidikan kejuruan merupakan
hal substansial yang harus dilaksanakan secara efektif, efisien,
dan akuntabel.
Menyikapi tuntutan tersebut, Direktorat pembinaan SMK
melakukan pengembangan mekanisme pelaksanaan verifikasi
SMK calon penerima program bantuan yang sumber dananya
berasal dari APBN.
Verifikasi yang semula dilakukan pada setiap program bantuan,
diubah menjadi verifikasi wilayah yang mencakup keseluruhan
bantuan yang berbasis data SMK di Kabupaten/Kota.
Verifikasi Wilayah adalah kegiatan pembaharuan, pemeriksaan,
dan validasi data/usulan kebutuhan SMK yang dilaksanakan
secara terpadu untuk semua jenis program bantuan yang
disalurkan oleh Direktorat Pembinaan SMK. Pembaharuan data
dilaksanakan di Dinas Pendidikan Provinsi dan/atau Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota dengan melibatkan seluruh SMK,
sedangkan pemeriksaan dan pembuktian kebenaran data
dilakukan dengan mengambil sampel secara acak pada beberapa
SMK.
Hasil verifikasi wilayah akan dipergunakan sebagai salah satu
dasar penyusunan dan pelaksanaan program pembinaan

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan pendistribusian bantuan


peningkatan dan pengembangan SMK.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan pelaksanaan verifikasi
wilayah, antara lain:
1. Verifikasi perlu dilakukan secara komprehensif-terintegrasi
sehingga verifikasi terhadap SMK calon penerima program
bantuan Direktorat Pembinaan SMK dapat dilakukan lebih
efisien.
2. Kebutuhan data untuk perencanaan anggaran 1 (satu) tahun
berikutnya (perencanaan T-1) akan tersedia secara terus
menerus dan tepat waktu karena instrumen verifikasi wilayah
yang digunakan memuat aspek-aspek utama kebutuhan yang
dipersyaratkan pada setiap program bantuan. Aspek utama
setiap program bantuan yang diverifikasi ke lapangan akan
dimanfaatkan untuk memetakan SMK berdasarkan
kebutuhan program bantuan. Dengan demikian seluruh SMK
yang akan menjadi calon penerima program bantuan untuk 1
(satu) tahun ke depan sudah dapat dipetakan pada tahun
yang sedang berjalan.
3. Berdasarkan data dari sejumlah SMK dan beberapa petugas
verifikasi tingkat pusat, diketahui bahwa 1 (satu) lokasi SMK
bisa didatangi lebih dari 1 (satu) petugas verifikasi pusat
untuk program bantuan berbeda. Hal ini sering terjadi karena
setiap petugas verifikasi hanya dipersiapkan untuk
memverifikasi 1 (satu) program bantuan yang melekat pada
Tugas dan Fungsi Subdit. Oleh karena itu, penerapan konsep
verifikasi wilayah diharapkan dapat mencegah terjadinya
2

pengulangan verifikasi pada lokasi yang sama, karena 1 (satu)


kali verifikasi telah menjangkau untuk seluruh program
bantuan.
Verifikasi wilayah harus disikapi secara positif oleh semua pihak
dengan berpartisipasi aktif demi perbaikan verifikasi wilayah ke
depan.
B. Tujuan
Petunjuk teknis Verifikasi Wilayah yang tersusun dalam rangka
pelaksanaan pemberian program bantuan untuk pengembangan
SMK, bertujuan untuk:
1. Meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas
pelaksanaan verifikasi;
2. Menyediakan materi dan informasi kepada para pihak
sehubungan kebijakan pelaksanaan verifikasi wilayah untuk
menggantikan pendekatan verifikasi sebelumnya;
3. Membangun sistem verifikasi yang memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi (TIK);
C. Dasar Hukum
Ketentuan hukum yang menjadi pijakan dan menaungi
pelaksanaan konsep Verifikasi Wilayah agar para pihak memiliki
kepastian langkah dalam melaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional;
2. Undang-Undang RI Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015;
3

3.
4.
5.
6.
7.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang


Standar Nasional Pendidikan;
Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang
Pendanaan Pendidikan;
Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010
Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan;
Peraturan Presiden RI Nomor 14 Tahun 2015 tentang
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 tahun
2008 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah
Menengah Kejuruan/ Madrasah Aliyah Kejuruan
(SMK/MAK).

BAB II
PELAKSANAAN VERIFIKASI WILAYAH
A. Pelaksanaan
Verifikasi wilayah dilaksanakan di region yang telah ditentukan
oleh Direktorat Pembinaan SMK. Pembagian setiap region
tempat pelaksanaan Verifikasi Wilayah memperhatikan antara
lain:
1. Jumlah SMK: Jumlah SMK yang mengikuti Verifikasi Wilayah
tidak boleh melebihi 350 SMK.
2. Letak geografis Kabupaten/Kota: Kabupaten/Kota yang
tergabung dalam satu region adalah Kabupaten/Kota yang
saling berdekatan, dan berada dalam satu Provinsi.
B. Tugas dan Tanggungjawab
1. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
a) Mengkoordinasikan pelaksanaan verifikasi wilayah
dengan petugas verifikasi Direktorat Pembinaan SMK
dan Ketua MKKS;
b) Melakukan validasi data dan usulan sekolah, melalui
aplikasi verifikasi wilayah.
2. Ketua MKKS
a. Mengkoordinasikan pelaksanaan verifikasi wilayah
dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
b. Menyampaikan format instrumen verifikasi wilayah ke
seluruh SMK di Kabupaten/Kota
c. Mengunggah
data/usulan
seluruh
SMK
di
Kabupaten/Kota ke dalam aplikasi verifikasi wilayah.
5

3. Kepala Sekolah
a. Melakukan pembaruan data/usulan pada instrumen
verifikasi wilayah.
b. Menyetujui hasil pembaharuan data/usulan dan
disampaikan ke ketua MKKS.

BAB III
DESKRIPSI INSTRUMEN VERIFIKASI WILAYAH
A. Instrumen Usulan
Instrumen Usulan terbagi ke dalam 2 (dua) jenis data, yaitu: Data
Dasar SMK dan Data Usulan Bantuan.
A.1 Data Dasar SMK
Data Dasar SMK merupakan data kondisi SMK sebagai bahan
pertimbangan untuk menentukan kebutuhan jenis bantuan.
Pada bagian ini akan dijelaskan penjelasan petunjuk pengisian
dan pembaruan dari setiap data. Data Dasar SMK terdiri dari:
1. Nomor
Diisi dengan nomor sesuai urutan sekolah.
2. Nama SMK
Diisi nama semua SMK Negeri/Swasta/SMK yang telah
mendapat ijin operasional dan memiliki Nomor Pokok
Sekolah Nasional (NPSN) di Kabupaten/Kota.
Penulisan nama sekolah harus disesuaikan dengan isian
nama sekolah di Aplikasi Dapodik.
3. Kategori Sekolah
Diisi sesuai dengan Kategori SMK: Potensi Rujukan/ Reguler/
Aliansi/ Konsorsium/ Pesantren/ USB. Bisa diisi lebih dari 1 (satu)
kategori

Rujukan: Sekolah yang memiliki siswa lebih dari 1.000 siswa.


Reguler: Sekolah rata-rata pada umumnya yang memiliki
siswa 4001.000 siswa.
Aliansi: Sekolah yang memiliki jumlah siswa 200-400 Siswa.
Konsorsium: Sekolah yang memiliki jumlah siswa di bawah
200 Siswa.
Pesantren/Komunitas: SMK yang menerapkan pembelajaran
karakter berbasis Pesantren/komunitas dan menerapkan
pola asrama.
USB: Unit Sekolah Baru yang memiliki ijin operasional kurang
dari 3 (tiga) tahun dan diprioritaskan belum meluluskan
siswa.
Contoh Pengisian:
Pesantren, Reguler jika sekolah tersebut termasuk dalam
kategori SMK di pesantren dan merupakan sekolah reguler.
4. Jumlah Siswa Mendaftar
Diisi dengan Jumlah pendaftar ke SMK pada tahun 2016/2017.
Contoh Pengisian:
1065 jika jumlah pendaftar ke SMK sebanyak 1.065 orang.
5. Jumlah Siswa Diterima
Diisi dengan Jumlah pendaftar yang diterima di SMK.
Contoh Pengisian:
750 Jika pendaftar yang diterima sebanyak 750 orang.
8

6. Jumlah Siswa
Diisi dengan jumlah keseluruhan siswa (Kelas X, XI, XII, dan/atau
XIII).
Contoh Pengisian:
1500 jika jumlah total siswa sebanyak 1.500 siswa
7. Daftar Paket Keahlian
Diisi dengan Kode Paket Keahlian yang dibuka di SMK. Kode
Paket Keahlian disesuaikan dengan spektrum SMK 2013.
Contoh Pengisian:
001, 002, 003 jika sekolah tersebut membuka Paket Keahlian
Teknik Konstruksi Baja (001), Teknik Konstruksi Kayu (002), dan
Teknik Konstruksi Batu dan Beton (003)
8. Paket Keahlian dengan Siswa terbanyak
Diisi dengan kode Paket Keahlian dengan siswa terbanyak. Jika
terdapat lebih dari satu paket keahlian yang memiliki jumlah
siswa terbanyak dan sama jumlah siswanya, maka paket
keahlian dengan siswa terbanyak tersebut, tetap didata.
Contoh Pengisian:
001 jika paket keahlian yang memiliki siswa terbanyak adalah
Teknik Konstruksi Baja
001, 002 jika paket keahlian yang memiliki siswa terbanyak
adalah Teknik Konstruksi Baja (001) dan Teknik Konstruksi Kayu
(002)
9

9. Jumlah Rombongan Belajar (Rombel)


Rombongan Belajar adalah kelompok peserta didik yang
terdaftar pada satuan kelas. Pembaharuan data Rombel
dilakukan dengan menghitung jumlah total rombel pada suatu
SMK.
Contoh Pengisian:
54 jika jumlah rombongan belajar sebanyak 54 rombel
10. Jumlah Guru Produktif PNS
Guru Produktif adalah guru yang mengampu mata pelajaran
produktif pada suatu SMK yang berstatus Pegawai Negeri Sipil
(PNS).
Contoh Pengisian:
5 jika guru pengajar berstatus PNS yang mengajar di sekolah
tersebut berjumlah 5 (lima) orang.
11. Jumlah Guru Produktif Non PNS
Guru Produktif adalah guru yang mengampu mata pelajaran
produktif pada suatu SMK yang berstatus Non Pegawai Negeri
Sipil (PNS).
Contoh Pengisian:
17 jika guru pengajar berstatus Non PNS yang mengajar di
sekolah tersebut berjumlah 12 (dua belas) orang.

10

12. Jumlah Ruang Teori


Ruang Teori adalah ruang pembelajaran teori yang dimiliki
suatu SMK. Perhitungan jumlah ruang teori berdasarkan
fungsi dasar/awal dari ruang dan standar ukuran yang telah
ditetapkan, yaitu 9x8=72 m2.
Ruang teori yang difungsikan sebagai RPS atau ruang
penunjang lain tetap dihitung sebagai ruang teori
(dikembalikan kepada fungsi awal).
Ruang teori yang tidak memenuhi standar (luasnya kurang
dari 9x8=72 m2) tetap dihitung tetapi dengan catatan
tersendiri (s= memenuhi standar, ts= tidak memenuhi
standar)
Contoh pengisian:
9s, 10ts jika satu SMK memiliki 9 (sembilan) ruang teori yang
memenuhi standar dan 10 (sepuluh) ruang teori tetapi tidak
memenuhi standar.
13. Jumlah Ruang Praktik Siswa (RPS)
Ruang Praktik Siswa (RPS) adalah tempat pelaksanaan
kegiatan praktik, perawatan, dan perbaikan peralatan.
RPS yang difungsikan sebagai ruang teori atau ruang
penunjang lain tetap dihitung sebagai RPS (dikembalikan
kepada fungsi awal).
RPS yang tidak memenuhi standar tetap dihitung tetapi
dengan catatan tersendiri (s= memenuhi standar, ts= tidak
memenuhi standar). Luas RPS per-ruang minimal 15x8=120
m2 dan selasar 15x2=30 m2.
11

Contoh Pengisian:
7s, 5ts jika satu SMK memiliki 7 (tujuh) RPS yang memenuhi
standar dan 5 (lima) RPS tetapi tidak memenuhi standar.
14. Lahan Pertanian(A)/ Peternakan(B)/ Kolam(C)/ KJA(D)
Lahan praktik adalah sebidang lahan untuk melaksanakan
kegiatan praktik. Secara khusus, Lahan Pertanian/ Peternakan/
Kolam/ Keramba Jaring Apung (KJA) adalah sebidang tanah
untuk melaksanakan kegiatan praktik pada paket-paket keahlian
pada bidang pertanian/perikanan.
Pembaruan data pada instrumen verifikasi wilayah dilakukan
dengan mengisi jumlah Lahan Pertanian/ Peternakan/ Kolam/
Keramba Jaring Apung (KJA) yang dimiliki Sekolah.
Contoh pengisian:
3A, 5B Jika satu sekolah memiliki 2 (dua) lahan pertanian dan
5 (lima) lahan peternakan.
15. Ruang Praktik Hotel Training
Ruang Praktik Hotel Training adalah ruang yang berfungsi
sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran bidang
perhotelan seperti lobi, resepsionis, restoran, kamar hotel,
ruang pertemuan, dan lain-lain.
Contoh pengisian:
20 jika satu sekolah memiliki 20 ruang yang difungsikan
tempat praktik pembelajaran perhotelan

12

16. Ruang Hotel Bisnis


Ruang Hotel Bisnis adalah ruang yang berfungsi sebagai tempat
berlangsungnya bisnis bidang perhotelan yang dikelola sekolah
seperti lobi, resepsionis, restoran, kamar hotel, ruang
pertemuan, dan lain-lain.
Contoh pengisian:
20 jika satu sekolah memiliki 20 ruang yang digunakan
sekolah untuk menjalankan bisnis perhotelan.
17. Laboratorium Mata Pelajaran Adaptif
Ruang Laboratorium adalah ruang untuk pembelajaran
secara praktik yang memerlukan peralatan khusus. Dalam
hal ini dikhususkan untuk mata pelajaran adaptif yaitu:
Laboratorium Fisika, Kimia, Biologi, IPA, Bahasa, Komputer,
multimedia, dan lain-lain.
Laboratorium yang difungsikan sebagai ruang teori, RPS,
atau ruang penunjang lain tetap dihitung sebagai ruang
laboratorium (dikembalikan kepada fungsi awal).
Laboratorium yang tidak memenuhi standar tetap dihitung
tetapi dengan catatan tersendiri (s= memenuhi standar, ts=
tidak memenuhi standar). Luas Minimal Laboratorium mata
pelajaran adaptif adalah 9x8=72 m2.
Contoh Pengisian:
4s, 1ts jika satu SMK memiliki 4 (empat) laboratorium yang
memenuhi standar dan 1 (satu) laboratorium tetapi tidak
memenuhi standar.
13

18. Perpustakaan
Ruang perpustakaan adalah ruang untuk menyimpan dan
memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan pustaka.
Ukuran standar Perpustakaan adalah 14x6=84 m2.
Ruang perpustakaan yang difungsikan sebagai ruang teori,
RPS, atau ruang penunjang lain tetap dihitung sebagai
ruang perpustakaan (dikembalikan kepada fungsi awal).
Ruang perpustakaan yang tidak memenuhi standar (luasnya
kurang dari 64 m2) tetap dihitung tetapi dengan catatan
tersendiri (s= memenuhi standar, ts= tidak memenuhi
standar)
Contoh pengisian:
- 1s (jika SMK sudah memiliki perpustakaan dan memenuhi
standar)
- 1ts (jika SMK sudah memiliki perpustakaan dan tidak
memenuhi standar)
- 0 (Jika SMK belum memiliki ruang perpustakaan)
19. Ruang Serbaguna/Aula/Seni budaya
Ruang serbaguna/aula/seni budaya adalah ruang yang
difungsikan untuk menunjang kegiatan seni budaya atau
kegiatan lain yang memerlukan tempat yang luas. Ukuran
standar ruang serbaguna/aula/seni budaya adalah
24x8=192 m2 dan selasar seluas 48 m2.
Ruang serbaguna/aula/seni budaya yang difungsikan
sebagai ruang teori, RPS, atau ruang penunjang lain tetap

14

dihitung sebagai ruang Serbaguna/Aula/Seni budaya


(dikembalikan kepada fungsi awal).
Ruang serbaguna/aula/seni budaya yang tidak memenuhi
standar tetap dihitung tetapi dengan catatan tersendiri (s=
memenuhi standar, ts= tidak memenuhi standar)
Contoh pengisian:
- 1s (jika SMK sudah memiliki Ruang serbaguna/aula/seni
budaya dan memenuhi standar)
- 1ts (jika SMK sudah memiliki Ruang serbaguna/aula/seni
budaya dan tidak memenuhi standar)
- 0 (Jika SMK belum memiliki ruang serbaguna/aula/seni
budaya)
20. Ruang UKS
Ruang UKS berfungsi sebagai tempat untuk penanganan dini
peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan di SMK.
Contoh kegiatan UKS: mengadakan lomba-lomba yang
berkaitan dengan UKS, menyelenggarakan workshop UKS,
dan lain-lain.
Catatan:
1 = memiliki ruang UKS
0 = tidak memiliki Ruang UKS
A = memiliki kegiatan UKS
B = tidak memiliki kegiatan UKS

15

Contoh Pengisian:
1A Jika sekolah memiliki ruang dan kegiatan UKS
0A jika sekolah tidak memiliki ruang tetapi memiliki kegiatan
UKS
1B Jika sekolah memiliki ruang tetapi tidak memiliki kegiatan
UKS
0B jika sekolah tidak memiliki ruang dan tidak memiliki
kegiatan UKS
21. Kapasitas Asrama
Kapasitas asrama diisi dengan:
a. kapasitas ideal asrama berdasarkan luas ruangan.
b. jumlah siswa yang tinggal di asrama sekolah.
Contoh pengisian:
50 / 25

Kapasitas ideal asrama


Jumlah siswa yang tinggal di asrama

22. Jumlah Ruang Belajar yang Rusak


Jumlah ruang belajar yang rusak adalah jumlah ruang yang rusak
sedang dan rusak berat.
Untuk rusak ringan dapat menggunakan dana BOS.
Penentuan tingkat kerusakan adalah berdasarkan perhitungan
analisis kerusakan dari dinas Pekerjaan Umum (PU) daerah
setempat.
16

Contoh pengisian:
12 jika terdapat 12 (dua belas) ruang yang rusak
23. Lahan Kosong Siap Bangun
Diisi luas lahan/area kosong yang siap bangun. Satuan lahan
dalam meter persegi (m2).
Lahan/area siap bangun adalah lahan yang diperuntukkan untuk
pembangunan ruang belajar dan bukan lahan pertanian, taman,
lapangan upacara, ruang terbuka, atau lahan antar bangunan.
Contoh pengisian:
108 jika satu sekolah memiliki lahan kosong siap bangun
seluas 108 meter persegi.
24. Lahan/area Siap Bangun (Lahan Cor/Dak Beton)
Diisi luas lahan cor/dak beton di lantai dua yang siap bangun.
Satuan lahan dalam meter persegi (m2).
Contoh pengisian:
96 jika satu sekolah memiliki lahan cor/dak beton siap bangun
seluas 96 meter persegi.
25. Bukti Kepemilikan Lahan
Diisi dengan Bukti kepemilikan lahan yang menerangkan bahwa
lahan tersebut atas nama Pemerintah Daerah/Sekolah/Yayasan,
atau masih dalam proses mengurus legalitas lahan.

17

Contoh pengisian:
Pemerintah jika kepemilikan lahan atas nama pemerintah
Sekolah
Yayasan jika kepemilikan lahan atas nama yayasan
Dalam Proses jika masih dalam proses mengurus legalitas
lahan
26. Listrik
Daya listrik yang dimiliki sekolah untuk menunjang proses
pembelajaran di sekolah tersebut. Satuan dalam Watt
Contoh Pengisian:
10000 jika satu sekolah memiliki daya listrik sebesar 10.000
watt
27. Internet
Diisi dengan kecepatan internet di suatu sekolah untuk
mendukung pembelajaran dan proses pembaharuan Data Pokok
Pendidikan. Satuan dalam Mbps.
(catatan: 1 Mbps = 1.024 Kbps; 0,5 Mbps = 512 Kbps; dan
seterusnya)
Contoh Pengisian:
2 jika satu sekolah memiliki kecepatan internet sebesar 2
Mbps

18

28. Jumlah Jenis Lapangan Olahraga


Jumlah jenis Lapangan Olahraga yang dimaksud adalah jumlah
jenis olahraga yang memanfaatkan lapangan yang dimiliki
sekolah. Misalnya satu lapangan dimanfaatkan untuk sepak
bola, basket, futsal, tenis, badminton, dll (sesuai standar ukuran
lapangan olahraga).
Contoh pengisian:
2 jika lapangan sekolah dimanfaatkan untuk 2 jenis olahraga.
29. Jumlah Alat
Perhitungan Peralatan pada suatu sekolah berdasarkan pada
jumlah set alat praktik yang dimiliki di setiap ruang praktik.
Sebagai catatan jika dalam satu ruang praktik terdapat alat
praktisi utama yang cukup untuk digunakan sepertiga jumlah
siswa dalam satu rombel, sudah bisa disebut 1 (satu) set.
Contoh pengisian:
10 jika satu sekolah memiliki 10 (sepuluh) set peralatan
praktik
30. Jumlah Jenis Teaching factory
Diisi jumlah jenis Teaching Factory pada suatu sekolah.
Teaching Factory adalah konsep pembelajaran berbasis industri
(produk dan jasa) melalui sinergi sekolah dengan industri untuk
menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan kebutuhan
pasar.

19

Suatu sekolah disebut telah memiliki Teaching Factory jika


sekolah tersebut sudah memiliki kemampuan untuk membuat
produk berbasis kompetensi keahlian dan memiliki nilai ekonomi
atau daya jual dan diterima oleh pasar.
Contoh pengisian:
1 jika satu sekolah memiliki 1 unit Teaching Factory.
31. Technopark
Diisi dengan jumlah Technopark pada suatu sekolah. Technopark
pada satu SMK adalah sekolah yang menjadi pusat inovasi
produksi, showroom/tempat penawaran untuk kumpulan/hasil
dari Teaching Factory.
Contoh pengisian:
Ada Jika suatu sekolah merupakan Technopark
Tidak jika suatu sekolah bukan merupakan Technopark
32. Jumlah Siswa Berprestasi Nasional(A)/ Internasional(B)/
Nasional dan Internasional (C)
Diisi dengan jumlah siswa yang memiliki prestasi tingkat
nasional, internasional, dan nasional internasional.
Contoh Pengisian:
4A, 5B jika satu SMK memiliki 4 siswa yang memiliki prestasi
nasional dan 5 siswa yang memiliki prestasi internasional.

20

A.2 Data Usulan Bantuan


Data usulan bantuan merupakan data kebutuhan sarana dan
prasarana setiap SMK, disesuaikan dengan isian pembaharuan
dari data dasar. Pada bagian ini akan dijelaskan penjelasan
petunjuk pengisian dan pembaruan dari setiap data. Data Usulan
meliputi:
33. RKB Reguler (Ruang)
Diisi dengan jumlah kekurangan RKB Reguler. RKB Reguler
adalah pembangunan ruang kelas baru (RKB) dimulai dari
semula tanah kosong, selanjutnya didirikan menjadi bangunan
Ruang Kelas Baru (RKB) dan/atau dapat dibangun di lantai kedua
yang sudah dipersiapkan dak beton.
Jumlah Ruang Kelas yang dibutuhkan dihitung sebesar minimal
70% dari Rombel yang ada.
Bantuan RKB Reguler diberikan kepada SMK yang masih memiliki
sisa lahan/area siap bangun.
(catatan: Jumlah RKB yang dibutuhkan dihitung sebesar 70% dari
jumlah rombel yang ditetapkan).
Contoh pengisian:
6 jika sekolah mengusulkan bantuan RKB reguler sebanyak 6
(enam) ruang.

21

34. RKB Vertikal (Ruang)


Diisi dengan jumlah kekurangan RKB vertikal. RKB vertikal adalah
pembangunan RKB dari bangunan yang sudah ada, namun
belum ada penguatan struktur untuk bertingkat. Sehingga
Bantuan tersebut akan digunakan untuk penguatan struktur
bertingkat (Penguatan pondasi, tiang kolom, dan plat lantai) dan
pembangunan ruang kelas baru.
Pemenuhan persiapan konstruksi untuk RKB vertikal sudah
termasuk penguatan fondasi dan pembuatan tangga.
Jumlah Ruang Kelas yang dibutuhkan dihitung sebesar minimal
70% dari Rombel yang ada.
Contoh pengisian:
6 jika sekolah mengusulkan bantuan RKB vertikal sebanyak 6
(enam) ruang.
35. Rehabilitasi (Ruang)
Diisi dengan usulan jumlah ruang yang memerlukan rehabilitasi
berat/sedang.
Contoh pengisian:
5 jika sekolah mengusulkan rehabilitasi ruang belajar
sebanyak 5 (lima) ruang.
36. RPS (Ruang)
Diisi dengan usulan jumlah kekurangan RPS dihitung dengan
mempertimbangkan bahwa setiap Paket Keahlian minimal
22

memerlukan 1 (satu) jenis RPS dan selanjutnya kebutuhan RPS


dalam suatu paket keahlian tertentu dihitung dengan proporsi
tiga rombongan belajar memerlukan 1 (satu) RPS. Bantuan RPS
diberikan kepada SMK yang masih memiliki sisa lahan/area siap
bangun.
Contoh pengisian:
5 jika sekolah mengusulkan bantuan pembangunan RPS
sebanyak 5 (lima) ruang.
37. Ruang Praktik Pertanian(A)/ Peternakan(B)/ Kolam(C)/
KJA(D)
Diisi dengan usulan jumlah kekurangan/usulan Ruang Praktik
Pertanian/ Peternakan/ Kolam/ KJA. Bantuan akan diberikan
kepada SMK yang masih memiliki sisa lahan/area siap bangun.
Contoh pengisian:
3A, 5B Jika sekolah tersebut kekurangan dan mengusulkan 3
(tiga) lahan pertanian dan 5 (lima) lahan peternakan.
38. Ruang Praktik Hotel Training (Ruang)
Diisi dengan usulan jumlah kekurangan/usulan ruang praktik
perhotelan. Bantuan akan diberikan kepada SMK yang masih
memiliki sisa lahan/area siap bangun.
Contoh pengisian:
5 jika sekolah mengusulkan bantuan pembangunan Ruang
Praktik Hotel Training sebanyak 5 (lima) ruang.
23

39. Ruang Hotel Bisnis (Ruang)


Diisi dengan usulan jumlah usulan ruang praktik perhotelan yang
akan digunakan sebagai hotel bisnis. Bantuan akan diberikan
kepada SMK yang masih memiliki sisa lahan/area siap bangun.
Contoh pengisian:
10 jika sekolah mengusulkan bantuan pembangunan Ruang
Hotel Bisnis sebanyak 10 (ruang) ruang.
40. Perpustakaan (Ruang)
Diisi dengan usulan jumlah kekurangan Perpustakaan, dengan
perhitungan bahwa dalam satu sekolah minimal memerlukan
satu perpustakaan. Bantuan akan diberikan kepada SMK yang
masih memiliki sisa lahan/area siap bangun.
Contoh pengisian:
1 jika sekolah mengusulkan bantuan pembangunan Ruang
Perpustakaan sebanyak satu ruang.
41. Ruang Serbaguna/ Aula/ Seni Budaya (Ruang)
Diisi
dengan
usulan
jumlah
kekurangan
Ruang
Serbaguna/Aula/Seni Budaya dengan perhitungan bahwa dalam
satu
sekolah
minimal
memerlukan
satu
Ruang
Serbaguna/Aula/Seni Budaya. Bantuan akan diberikan kepada
SMK yang masih memiliki sisa lahan/area siap bangun.

24

Contoh pengisian:
1 jika sekolah mengusulkan bantuan pembangunan Ruang
Serbaguna/Aula/Seni Budaya sebanyak satu ruang.
42. Peralatan Praktik (Set)
Diisi dengan usulan jumlah kekurangan Peralatan Praktik.
(catatan: satu RPS dihitung memerlukan satu set peralatan.
Kekurangan Peralatan Praktik dihitung berdasarkan jumlah RPS
yang ada, ditambah Kekurangan/Usulan RPS, kemudian
dikurangi dengan Set Peralatan yang telah ada).
Contoh pengisian:
12 jika sekolah mengusulkan bantuan Peralatan Praktik
sebanyak 12 (dua belas) set.
43. Peralatan Kesenian (Set)
Usulan jumlah kekurangan peralatan kesenian.
(catatan: setiap lebih kecil atau sama dengan 9 (sembilan)
rombel diasumsikan memerlukan 1 (satu) set peralatan
kesenian).
Contoh pengisian:
1 jika sekolah mengusulkan bantuan Peralatan Kesenian
sebanyak 1 (satu) set.

25

44. Bantuan PIP (Pemilik KPS/KIP/KKS)


Diisi dengan jumlah siswa yang orang tuanya memiliki Kartu
Perlindungan Sosial (KPS) atau Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau
Kartu Keluarga Sejahtera (KKS)
Contoh Pengisian:
150
45. Bantuan PIP (Bukan Pemilik KPS/KIP/KKS)
Diisi dengan jumlah siswa yang orang tuanya bukan pemilik
Kartu Perlindungan Sosial (KPS) atau Kartu Indonesia Pintar (KIP)
atau Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Contoh Pengisian:
200
46. Kehadiran
Diisi dengan kehadiran sekolah pada saat pelaksanaan Verifikasi
Wilayah. Apabila hadir ditulis angka 1 dan tidak hadir angka 0,
ditambah dengan hasil pengecekan data yang ditampilkan,
apabila data update (A) sedangkan data belum update (B)
Contoh pengisian:
- Diisi 1A jika sekolah hadir dan data update
- Diisi 1B jika sekolah hadir dan data tidak update
- Diisi 0A jika sekolah tidak hadir dan data update
- Diisi 0B jika sekolah tidak hadir dan data tidak update
26

47. Paraf Sekolah


Diisi dengan Paraf Kepala SMK atau yang mewakili.

27

B. Instrumen Peralatan
Instrumen Peralatan berisi detail kebutuhan peralatan pada satu
paket keahlian. Setiap SMK harus mengisi secara rinci daftar alat
yang dimiliki dan kebutuhan peralatan.
Nama Sekolah :
NPSN
:

(di isi nama SMK)


(di isi NPSN)

Kondisi Peralatan yang Dimiliki


No.

Paket Keahlian

Paket Keahlian
Teknik Konstruksi
Baja

Rombel

RPS

Usulan/
Kebutuhan

Baik

Nama Alat

Teknologi
(standar industri)

Berfungsi

Tidak
Berfungsi

Rusak

Baru

Lama

10

11

Manual arc welding

Concrete mixer
Mesin Tekan Beton
Power hacksaw
machine

0
1

0
0

0
0

0
0

0
1

2
1

Penjelasan Instrumen:
Data Paket Keahlian:
Kolom 1: Nomor
Diisi dengan nomor paket keahlian.
Kolom 2: Paket Keahlian
Diisi dengan nama paket keahlian
Kolom 3: Rombel
Diisi dengan jumlah Rombongan Belajar pada tiap paket
keahlian.
Kolom 4: RPS
Diisi jumlah RPS pada tiap paket keahlian
Kolom 5: Nama Alat
Nama alat merupakan alat utama yang dibutuhkan pada
tiap paket keahlian. Sekolah hanya bertugas mengisi jumlah
unit alat yang sudah tertera pada instrumen sesuai dengan
28

kondisi di sekolah. Sekolah tidak diperkenankan menambah


isian nama alat pada instrumen.
Apabila sekolah akan menambahkan isian data alat utama,
bisa diisikan pada instrumen tersendiri. (instrumen dapat
diunduh di: verwil.ditpsmk.net)
Data Kondisi Alat
Kolom 6: Baik dan berfungsi
Diisi dengan jumlah alat (kolom 5) yang masih baik dan
berfungsi dengan baik.
Kolom 7: Baik tetapi tidak berfungsi
Diisi dengan jumlah alat (kolom 5) yang kondisinya masih
baik tetapi tidak berfungsi dengan baik karena kerusakan
ringan
Kolom 8: Rusak
Diisi dengan jumlah alat (kolom 5) yang rusak dan tidak
dapat digunakan lagi.
Standar Alat
Kolom 9: Baru
Diisi jumlah alat (kolom 5) yang teknologinya masih
digunakan di industri
Kolom 10: Lama
Diisi jumlah alat yang teknologinya sudah ketinggalan dan
sudah tidak digunakan di industri

29

Usulan/Kebutuhan Alat
Kolom 11: Usulan/Kebutuhan
Diisi dengan jumlah usulan/kebutuhan unit alat (kolom 5)
yang dibutuhkan sekolah.

30

BAB IV
MEKANISME PEMBARUAN DATA ONLINE
Untuk mempermudah proses pembaruan data verifikasi
wilayah, selanjutnya pembaruan/update data verifikasi wilayah
akan dilaksanakan secara online. Pembaruan data dilakukan oleh
sekolah dengan memperbarui data pada instrumen verifikasi
wilayah, kemudian instrumen verifikasi wilayah akan diunggah
ke aplikasi verifikasi wilayah online oleh pengelola verifikasi
wilayah di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
A. Ketua MKKS Kabupaten/Kota
1. Ketua MKKS login ke aplikasi Verifikasi Wilayah dengan
username dan password yang diberikan khusus untuk ketua
MKKS

2. Setelah masuk ke aplikasi, silahkan membuka menu 3.1 Data


Master yang terdapat pada kolom menu pada bagian sebelah
kiri.

31

3. Klik pada tombol Instrumen Verwil yang terdapat pada


bagian atas, sehingga aplikasi akan mengeluarkan file
instrumen berupa file EXCEL.

4. Buka file EXCEL tersebut, kemudian silahkan perbaiki data


yang terdapat didalamnya apabila terdapat data yang tidak
sesuai.
5. Setelah selesai memperbaiki data, simpan file EXCEL tersebut
dengan tidak merubah format file maupun format instrumen
tersebut. (Format file : .xls tidak boleh diubah)
32

6. Buka Menu 3.2 Upload Instrumen Verwil, setelah terbuka klik


pada icon yang bergambar Excel seperti yang diberi tanda
kotak merah pada gambar dibawah ini.

7. Setelah itu, pilih file EXCEL yang berisi data yang telah
diperbaiki tadi kemudian klik tombol OPEN.

8. Setelah memilih file EXCEL, maka tampilan akan berubah


seperti pada gambar dibawah ini, nama File EXCEL tersebut
akan tertera pada kolom isian.

33

9. Setelah nama FILE EXCEL sudah muncul pada form tersebut,


kemudian klik tombol UPLOAD dan Tunggu Hingga Proses
Selesai.
10. Buka Kembali menu 3.1 Data Master, kemudian klik tombol
refresh seperti yang sudah diberi tanda pada gambar
dibawah ini.

34

11. Sampai Tahap ini berarti data Verifikasi Wilayah untuk


kabupaten/kota sudah selesai di perbaiki. Tahap selanjutnya
adalah meminta persetujuan Dinas Kab/Kota dengan cara
cetak file EXCEL yang datanya sudah diperbaiki tadi,
kemudian mintakan stempel dan tanda tangan KADIS atau
KABID DINAS KAB/KOTA. Setelah instrumen tersebut sudah
mendapat
persetujuan
dari
Dinas
Pendidikan
Kabupaten/Kota, maka instrumen tersebut dipindai (scan)
menjadi file PDF/JPG.
12. Buka Menu 3.3 Pengesahan Data, kemudian klik tombol
Buat Baru yang terdapat pada bagian atas.

Klik pada icon seperti yang diberi tanda kota merah pada gambar
atas, kemudian pilihkan file scan PDF/JPG yang sudah berisi
stempel dan tanda tangan dari KADIS/KABID Dinas Kab/Kota.
Jika sudah memilih scan file PDF/JPG, klik tombol simpan.
Sehingga tampilan akan menjadi seperti pada gambir bibawah
ini:

35

13. Setelah proses ini selesai, segera menghubungi Dinas


Kab/Kota untuk melakukan review ulang data dan meminta
Dinas Kabupaten/Kota untuk memberikan persetujuan
secara online.
B. Dinas Kabupaten/Kota
1. Login ke aplikasi verifikasi wilayah melalui alamat
verwil.ditpsmk.net dengan menggunakan username dan
password khusus Dinas Kab/Kota.

36

2. Kemudian buka menu 3.3 pengesahan data, Jika Ketua MKKS


telah selesai membuat usulan data verifikasi wilayah,maka
akan muncul seperti pada gambar di bawah ini. Menu ini bisa
dipergunakan jika Ketua MKKS telah membuat pengajuan
pengesahan data setiap kali terdapat perubahan data.

3. Periksa kembali apakah data yang dilampirkan pada proses


pengajuan ini sudah sesuai dengan data yang terdapat pada
menu 3.1 Data Master. Jika sudah sesuai, maka pengajuan
tersebut bisa disetujui dengan cara klik pada tombol
Pengajuan Disetujui seperti yang sudah diberi tanda kotak
merah pada gambar di atas. Lampiran pengesahan bisa dilihat
dengan cara klik pada tulisan lampiran pengesahan yang
berwarna biru.

37

BAB V
PENUTUP
Dengan disusunnya Petunjuk teknis Verifikasi Wilayah,
diharapkan verifikasi wilayah berjalan dengan baik sesuai
dengan konsep dan tujuan verifikasi wilayah. Saran dan kritik
sangat dibutuhkan untuk perbaikan Petunjuk teknisVerifikasi
Wilayah.

38