Anda di halaman 1dari 6

Karakteristik Surfaktan

1. HLB (Hydrophile-Lipophile Balance)


HLB merupakan suatu parameter untuk mengkorelasikan secara kuantitatif struktur surfaktan
dengan aktifitas permukaannya. Secara formal, harga HLB diberikan dalam kisaran skala 020. Semakin tinggi nilai HLB menunjukkan surfaktan makin bersifat hidrofilik sehingga lebih
mudah larut dalam air dan pada umumnya digunakan sebagai bahan pelarut (solubilizing
agents) yang baik, detergen, dan penstabil untuk emulsi O/W. Sementara bila nilai HLB
semakin rendah menunjukkan kelarutan dalam air yang rendah sehingga sering digunakan
sebagai pelarut air dalam minyak dan penstabil emulsi W/O yang baik (Myers 2006).

2. Tegangan Permukaan
Tegangan permukaan dirumuskan sebagai energi yang dibutuhkan untuk memperbesar
permukaan suatu cairan sebesar 1 cm2. Tegangan permukaan disebabkan oleh adanya gaya
tarik-menarik dari molekul cairan. Semakin besar ikatan antar molekul-molekul dalam cairan,
semakin besar tegangan permukaannya (Bodner dan Pardue 1989).
Surfaktan dapat diserap pada permukaan atau antarmuka dengan bagian hidrofiliknya
berorientasi pada fase yang lebih rendah viskositasnya dan bagian hidrofobiknya berorientasi
pada uap atau fase yang kurang polar. Berbagai jenis surfaktan memiliki kemampuan yang
berbeda untuk mengurangi tegangan permukaan atau tegangan antarmuka karena struktur
kimia yang berbeda.
3. Tegangan Antarmuka
Tegangan antarmuka adalah gaya persatuan panjang yang terjadi pada antarmuka dua fase
cair yang tidak dapat bercampur. Surfaktan berfungsi sebagai senyawa aktif yang dapat
digunakan untuk menurunkan energi antarmuka yang membatasi dua cairan yang tidak saling
larut. Kemampuan ini disebabkan oleh gugus hidrofilik dan hidrofobik yang dimilki oleh
surfaktan. Surfaktan akan menurunkan gaya kohesi dan sebaliknya meningkatkan gaya adhesi
sehingga dapat menurunkan tegangan antarmuka (Matheson 1996). Tegangan antarmuka
sebanding dengan tegangan permukaan, tetapi nilai tegangan antarmuka akan selalu lebih
kecil daripada tegangan permukaan pada konsentrasi yang sama (Moecthar 1989).
4. Kemampuan Pembusaan
Kebanyakan surfaktan dalam larutan dapat membentuk busa, baik diinginkan maupun tidak
diinginkan dalam penggunaanya. Kestabilan busa diperoleh dari adanya zat pembusa
(surfaktan). Zat pembusa ini teradsorpsi ke daerah antarfase dan mengikat gelembunggelembung gas sehingga diperoleh suatu kestabilan (Ware et al. 2007). Kemampuan
pembusaan surfaktan dipengaruhi oleh panjang rantai hidrokarbon. Dibandingkan dengan
surfaktan anionik sebagai agen pembusa yang telah lama digunakan, surfaktan nonionik
dianggap sebagai surfaktan yang memiliki kemapuan pembusaan yang lebih rendah.
5. Stabilitas Emulsi
Stabilitas emulsi merupakan keseimbangan antara gaya tarik-menarik dan gaya tolakmenolak yang terjadi antar partikel dalam sistem emulsi. Jika kedua gaya tersebut
dipertahankan tetap seimbang, maka partikel-partikel dalam sistem emulsi akan dapat

dipertahankan untuk tidak bergabung. Mekanisme kerja dari surfaktan untuk menstabilkan
emulsi yaitu dengan menurunkan tegangan permukaan dan membentuk lapisan pelindung
yang menyelimuti globula fase terdispersi sehingga senyawa yang tidak larut akan lebih
mudah terdispersi dalam sistem dan menjadi stabil. Gugus hidrofilik dan lipofilik yang
dimiliki surfaktan dapat membentuk lapisan film pada bagian antarmuka dua cairan yang
berbeda fase. Adanya dua gugus tersebut pada emulsifier memungkinkan emulsifier
membentuk selaput tipis atau disebut juga dengan lapisan film, disekeliling globula-globula
fase terdispersi dan bagian luarnya berikatan dengan medium pendispersi (Suryani et al.
2000). Pembentukan film tersebut mengakibatkan turunnya tegangan permukaan kedua
cairan yang berbeda fase tersebut sehingga mengakibatkan turunnya tegangan antarmuka.
6. pH
Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu karakteristik surfaktan. Setiap jenis surfaktan
memiliki pH yang berbeda-beda, misalnya saja pH dari surfaktan dietanolamida berkisar
antara 9 dan 10. Dalam penggunaan surfaktan, pH perlu diperhatikan karena akan
berpengaruh terhadap aktivitas surfaktan tersebut meskipun ada sebagian jenis surfaktan yang
tidak dipengaruhi oleh perubahan pH.

Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunnya tegangan


permukaan larutan. Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan
walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Bila surfaktan ditambahkan melebihi
konsentrasi ini maka surfaktan mengagregasi membentuk misel. Konsentrasi terbentuknya
misel ini disebut Critical Micelle Concentration (CMC). Tegangan permukaan akan menurun
hingga CMC tercapai. Setelah CMC tercapai, tegangan permukaan akan konstan yang
menunjukkan bahwa antar muka menjadi jenuh dan terbentuk misel yang berada dalam
keseimbangan dinamis dengan monomernya (Genaro, 1990).
4. Cara Kerja Surfaktan dalam Menurunkan Tegangan Muka Cairan
Cara kerja dari surfaktan sangatlah unik karena bagian yang hidrofilik akan masuk
kedalamlarutan yang polar dan bagian yang hirdrofilik akan masuk kedalam bagian yang non
polar sehinggasurfaktan dapat menggabungkan (walaupun sebenarnya tidak bergabung)
kedua senyawa yangseharusnya tidak dapat bergabung tersebut. Namun semua tergantung
pada komposisi darikomposisi dari surfaktan tersebut. Jika bagian hidrofilik lebih dominan
dari hidrofobik maka ia akan melarut kedalam air, sedangkan jika ia lebih banyak bagian
hidrofobiknya maka ia akan melarutdalam lemak dan keduanya tidak dapat berfungsi sebagai
surfaktan.Bagian liofilik molekul surfaktan adalah bagian nonpolar, biasanya terdiri dari
persenyawaanhidrokarbon aromatik atau kombinasinya, baik jenuh maupun tidak jenuh.

Bagian hidrofilik merupakan bagian polar dari molekul, seperti gugusan sulfonat, karboksilat,
ammonium kuartener,hidroksil, amina bebas, eter, ester, amida.Biasanya, perbandingan
bagian hidrofilik dan liofilik dapat diberi angka yang disebutkeseimbangan Hidrofilik dan
Liofilik yang disingkat KHL, dari surfaktan.
5. Aplikasi Surfaktan
Jenis surfaktan yang biasanya digunakan pada produk-produk kosmetika dan pangan
adalah lemak/asam lemak yang berasal dari minyak kelapa, dan saat ini seluruhnya diimpor
dari negara lain. Surfaktan alkanolamida yang berasal dari minyak kelapa contohnya coconut
dietanolamida. Coconut dietanolamida dimanfaatkan sebagai penstabil busa, bahan
pendispersi, dan viscosity builder pada produk-produk toiletries dan pembersih seperti
shampo, emulsifier, bubble bath, detergen bubuk dan cair, stabilizer skin conditioner dan
sebagainya. Bahkan, aplikasi surfaktan sangat luas, tak terbatas dalam industri pembersih tapi
juga pada industri cat, pangan, polimer, tekstil, dan lain-lain.
Sampo
Dalam sampo modern, sabun telah diganti dengan bahan aktif yang disebut surfaktan.
Surfaktan adalah senyawa yang molekul-molekulnya mempunyai dua ujung yang berbeda
interaksinya dengan air, yakni ujung satu (biasa disebut kepala) yang suka air dan ujung
satunya (yang disebut ekor) yang tidak suka air.
Berdasarkan muatan kepalanya, surfaktan dibagi atas surfaktan anionik, kationik,
nonionik, dan amfoterik. Surfaktan akan berbusa dengan baik di segala jenis air dan akan
dapat dibilas dengan mudah dan sempurna. Sebagian besar sampo kini dalam kemasan 2 in 1,
bahan pembersih sekaligus conditioner. Bahan pembersihnya akan membersihkan rambut dan
kulit kepala, sementara conditioner-nya akan membuat rambut lebih mudah disisir ketika
basah dan akan membuat rambut ketika kering lebih tampak "berisi (seolah lebih besar
volumenya)" tanpa tampak beterbangan.
Seperti telah disinggung di atas, kandungan sampo 2 in 1 utamanya adalah bahan
pembersih dan conditioner. Lebih lengkapnya, kandungan sampo yang beredar di pasar kini
umumnya adalah, pertama, bahan pembersih, umumnya berupa sistem surfaktan. Kadang
selain surfaktan, ditambahkan pula sedikit booster busa untuk mengubah sifat busa yang
dihasilkan surfaktan. Bahan surfaktan yang umum digunakan adalah surfaktan anionik,
seperti natrium lauril eter sulfat (juga sering disebut natrium lauret sulfat), natrium lauril
sulfat, dan senyawa amonium. Kedua, bahan conditioner, biasanya digunakan bahan berupa

surfaktan kationik, seperti olealkonium klorida, distearildimonium klorida, dan isostearil


etildimonium etosulfat.
Ketiga, bahan aditif fungsional, termasuk di dalamnya bahan yang dapat mengontrol
viskositas sampo. Dapat dibayangkan apabila sampo terlalu encer, sampo akan sukar dipakai,
demikian pula jika sampo, misalnya, sekental pasta gigi. Bahan yang umum digunakan
adalah

surfaktan

amfoterik,

seperti

kokamidopropil

betain

atau

kokamidopropil

hidroksisultain. Aditif lain adalah pengontrol pH, agar sampo mempunyai pH antara 3,5 dan
4,5. Keempat, pengawet. Sampo tanpa pengawet akan merupakan tempat ideal bagi
berkembangnya berbagai jenis bakteri. Hal ini akan membuat produknya cepat rusak dan
dapat membahayakan kesehatan. Pengawet yang umum digunakan adalah natrium benzoat,
paraben, tetranatrium EDTA.
Kelima, bahan aditif estetik, termasuk di dalamnya pewarna, parfum yang membuat
sampo enak dipakai. Keenam, bahan-bahan aktif medis, misalnya beberapa sampo
mengandung seng piritionin yang dapat mengobati ketombe, atau pantenol yang penting
untuk pertumbuhan rambut dan yang meningkatkan kelembaban rambut.
Ketika pertama kali ditemukan pada tahun 1986, sampo 2 in 1 menjadi topik
perdebatan yang sengit di kalangan ilmuwan. Pasalnya, kimiawan sebelum tahun 1980-an
percaya penuh bahwa tidak mungkin mencampurkan bahan pembersih dan conditioner,
seperti disebut di atas pembersihnya adalah surfaktan anionik, sedangkan conditoner-nya
adalah surfaktan kationik. Namun, beberapa orang, terutama di perusahaan Procter &
Gamble, berhasil melakukannya dengan menambahkan bahan khusus, yakni suatu senyawa
karbon dari silikon (yakni silicone, sejenis yang dipakai dalam kosmetik dan jangan
dikacaukan dengan unsur silikon).
Bahan kondisioner yang bermuatan positif akan tertarik ke rambut yang bermuatan
negatif (mengenai rambut yang bermuatan listrik tentu sudah kita kenal, inilah yang
menyebabkan mengapa sisir plastik pun dapat diberi muatan apabila digunakan untuk
menyisir rambut kering). Akibatnya, rambut akan menjadi netral sehingga tolak-menolak
antarhelai rambut akan berkurang, dan kesan beterbangan pun berkurang.
Surfaktan Pengusir Kuman dan Racun
Beberapa pestisida bersifat lipofil dan dapat mengganggu kesehatan manusia. Oleh
karenanya, diperlukan usaha untuk menghilangkan pestisida yang terdapat pada produk
pertanian seperti sayur dan buah yang akan kita santap. Mengingat sifatnya yang lipofil,
maka pencucian menggunakan air saja tidaklah cukup.Nah, di sinilah diperlukan surfaktan
untuk meningkatkan daya bersih air, terhadap makanan yang akan kita masak. Apa itu

surfaktan dan bagaimana kerjanya untuk melenyapkan residu pestisida pada produk pertanian
yang biasa dimasak ibu di dapur?
Surfaktan merupakan singkatan dari surface active agents, bahan yang menurunkan
tegangan permukaan suatu cairan dan di antarmuka fasa (baik cair-gas maupun cair-cair),
sehingga mempermudah penyebaran dan pemerataan.Dimana surfaktan adalah senyawa
kimia, yang dalam molekulnya memiliki dua ujung yang berbeda interaksinya dengan air
yakni ujung yang biasa disebut kepala (hidrofil), sifatnya `suka` air dan ujung yang disebut
ekor (lipofil), sifatnya tidak `suka` air. Dalam proses pencucian menggunakan air, bagian
hidrofil akan berinteraksi dengan air, sedangkan bagian lipofil akan berinteraksi dengan
kontaminan seperti pestisida. Dengan demikian, surfaktan bertindak sebagai jembatan dan
dengan sendirinya akan meningkatkan efektivitas pencucian pestisida menggunakan air.
Surfaktan dalam kehidupan kita sehari-hari terdapat pada sabun, yang berupa garam
natrium (Na) dari asam lemak yaitu asam stearat, asam palmitat, dan asam oleat. Umumnya,
surfaktan digunakan sebagai bahan pembersih. Hal ini, karena surfaktan lebih ramah
lingkungan.
Detergen
Detergen adalah salah satu senyawa yang memudahkan proses pembersihan. Istilah
detergen, kini dipakai untuk membedakan antara sabun dengan surfaktan jenis
lainnya.Produk yang disebut detejen ini merupakan pembersih yang terbuat dari bahan-bahan
turunan minyak bumi. Dibandingkan dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara
lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.
Detergen pun mengandung bahan surfaktan. Pada detergen, jenis muatan yang dibawa
surfaktan adalah anionik. Kadang ditambahkan surfaktan kationik sebagai bakterisida atau
pembunuh bakteri. Bahan aktif ini berfungsi sama, yaitu menurunkan tegangan permukaan
air, sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan, termasuk
racun pestisida yang menempel pada sayur dan buah.Kemampuan detergen untuk
menghilangkan berbagai kotoran yang menempel pada tangan, kain, dan bahan lain
mengurangi keberadaan kuman dan bakteri, yang menyebabkan infeksi dan meningkatkan
umur pakai kain, karpet, alat rumah tangga, dan peralatan rumah lainnya sudah tidak
diragukan lagi.
Kosmetika
Pada kosmetik dan personal care, surfaktan juga memiliki syarat-syarat. Syarat
syaratnya sebagai surfaktan :

1. Anti alergi
2. Anti iritasi
3. Bau dan warna berlebihan tidak anjurkan
4. Reaksi yang merugikan diminimalkan
5. Bebas dari kotoran dan tidak toksik
Untuk meminimalkan risiko medis, pembuat kosmetik cenderung menggunakan
surfaktan polimer. Selain itu surfaktan anionik, kationik, nonionik, dan amfoterik juga dapat
digunakan. Beberapa penelitian menggunakan surfaktan alami karena lebih aman untuk
aplikasi.