Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN
A. Judul Percobaan
Rotary Evaporator
B. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui prinsip kerja Rotatory Evaporator.
2. Mengetahui prinsip kerja ekstraksi senyawa secara vacuum.
3. Menentukan kadar ekstraktif pigmen warna daun pandan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Ekstraksi adalah proses penyaringan dari bahan mentah dengan


menggunakan pelarut yang dipilih, di mana zat yang diinginkan dapat larut.
Ekstraksi dengan menggunakan pelarut adalah cara yang paling efisien, di mana
pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak zat yang diinginkan tanpa
melarutkan zat lain. Pelarut yang ideal adalah yang tidak bersifat toksik, tidak
eksplosif, mempunyai interval titik didih yang sempit, memiliki daya melarutkan,
mudah diperoleh, dan murah. Prinsip ekstraksi pelarut adalah pemisahan secara
komponen dari zat terlarut di dalam dua campuran yang tidak saling bercampur
(Dermawan, 2012).
Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan padat maupun cair
dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak
substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi padat-cair
atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut padatan inert ke dalam
pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen
terlarut kemudian dikembalikkan lagi ke bentuk semuala tanpa mengalami
perubahan kimia. Ekstrak dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang
diinginkan dapat larut dalam pelarut pengekstraksi (Irawan, 2010).
Menurut Harborne (1987), terdapat dua macam ekstraksi berdasarkan
cara ekstraksinya, yaitu:
1. Ekstraksi fisik-kimia, merupakan pemisahan cairan dari padatan misalnya
dengan pemanasan, pengecilan ukuran, pemasakkan, dan pengendapan secara
sentrifugasi.
2. Ekstraksi Khemis, merupakan pemisahan komponen berdasarkan sifat
kimiawinya seperti dengan cara rendering dan solvent extraction.
Menurut Simanjutak (2008), terdapat dua macam ekstraksi yaitu:
a. Cara Dingin, yang meliputi:
1. Maserasi, yang merupakan proses pengekstrakan dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokkan atau pengadukan pada
temperature ruangan (kamar). Remaserasi berarti melakukan pengulangan
penambahan pearut setelah diketahui maserat pertama dan seterusnya.
2. Perkolasi, yang merupakan ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru
sampai proses penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada

temperatur kamar. Proses perkolasi terdiri dari tahapan pengembangan


bahan,

tahap

maserasi

antara,

tahap

maserasi

sebenarnya

penetesan/pengapungan ekstrak), terus-menerus sampai diperoleh ekstrak


(perkolat).
b. Cara panas, yang meliputi:
1. Refluks, yang merupakan ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik
didihnya selama waktu tertentu dan dalam pelarut terbatas yang relative
konstan dengan adanya pendingin balik.
2. Digesti yang adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperatur
yang lebih tinggi dari temperatur kamar, yaitu 400C -500C.
3. Infus yang merupakan ekstraksi dengan menggunakan pelarut air pada
temperatur penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air
mendidih, temperatur terukur pada 900C selama 15 menit.
4. Dekok, adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut air pada temperatur
900C selama 30 menit.
5. Sokletasi, adalah metode ekstraksi untuk bahan yang tahan pemanasan
dengan cara meletakkan bahan yang akan diekstraksi dalam sebuah kantung
ekstraksi (kertas saring) di dalam sebuah alat ekstraksi dari gelas yang
bekerja kontinu (soklet). Metode ini lebih hemat dalam hal pelarut yang
digunakan.
Menurut Senjaya dan Wahyu (2008), jenis pelarut merupakan kunci utama
keberhasilan ekstraksi, artinya pemilihan pelarut sangat berpengaruh pada laju
ekstraksi karena setiap pelarut memiliki karakterisasi masing-masing untuk
mempengaruhi laju ekstraksi. Pemilihan pelarut harus didasarkan pada prinsip
like dissolve like, artinya pelarut polar akan mudah melarutkan senyawa polar dan
pelarut nonpolar akan lebih mudah melarutkan senyawa nonpolar.
Alkohol 95% berperan sebagai pelarut, berfungsi untuk melarutkan zat
warna klorofil daun pandan, karena klorofil larut dalam pelarut non polar (Senjaya
dan Wahyu. 2008). Menurut Harborne (1987), alkohol 95% digunakan sebagai
pelarut karena alkohol mudah menguap dan tidak turut melarutkan zat-zat lain
dari daun pandan wangi. Pelarut yang digunakan adalah alkohol 95%, hal ini
dikarenakan alkohol 95% dapat melarutkan zat warna dari bahan dan memiliki
titik didih yang lebih rendah dari air yaitu sekitar 75-80oC.

Menurut Senjaya dan Wahyu (2008), kriteria pelarut untuk digunakan


dalam ekstraksi adalah sebagai berikut:
1.

Selektif, dapat melarutkan semua zat volatile dengan cepat, sempurna, dan sedikit

2.
3.
4.
5.

mungkin melarutkan bahan lain (lilin, pigmen, senyawa albumin.


Mempunyai titik didih rendah dan seragam.
Tidak larut dalam air.
Bersifat inert dan tidak mudah terbakar.
Harga pelarut murah
Menurut Senjaya dan Wahyu (2008), ada tiga macam pelarut berdasarkan
polaritasnya, yaitu:
1. Pelarut Non Polar
Pelarut non polar ini baik untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang sama
sekali tidak larut dalam pelarut polar. Senyawa ini baik untuk mengekstrak
berbagai jenis minyak. Beberapa contoh senyawa dan karakteristiknya terdapat
dalam tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1. Pelarut Non Polar
Pelarut
Rumus Kimia

Titik Didih

Konstan
Dielektrik
2,0
4,8
2,4

Heksana
C6H14
6900C
Kloroform
CHCl3
6100C
Toluena
C6H5-CH3
11100C
2. Pelarut Semipolar
Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan
dengan pelarut polar. Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawa-senyawa
semipolar dari tumbuhan. Beberapa contoh pelarut semipolar terdapat dalam tabel
2 berikut ini:
Tabel 2. Pelarut Semipolar
Pelarut
Rumus Kimia
Diklorometana
Dimetil sulfoksid
3. Pelarut Polar

CH2Cl2
CH3HSO

Titik Didih
40 0C
1890C

Konstan
Dielektrik
9,1
4,7

Pelarut polar memiliki tigkat polaritas yang tinggi sehingga cocok untuk
mengekstrak senyawa-senyawa yang polar dari tanaman. Pelarut polar cenderung
universal digunakan karena biasanya walaupun polar, tetap dapat melarutkan
senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. Beberapa contoh pelarut
polar terdapat dalam tabel 3 sebagai berikut:
Tabel 3. Pelarut Non Polar

Pelarut

Rumus Kimia

Titik Didih

Konstan
Dielektrik
Air
H2O
1000C
80
Metanol
CH3-OH
650C
33
0
Etanol
CH3-CH2OH
79 C
30
Rotary evaporator adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan suatu
larutan dari pelarutnya, sehingga dihasilkan ekstrak dengan kandungan kimia
tertentu sesuai yang diinginkan. Cairan yang ingin diuapkan biasanya ditempatkan
dalam suatu labu

yang kemudian dipanaskan dengan bantuan penangas dan

diputar. Uap cairan yang dihasilkan kemudian didinginkan oleh suatu pendingin
(kondensor) dan ditampung pada suatu tempat (receiver flask) (Senjaya dan
Wahyu, 2008).
Vacuum Rotary Evaporator berfungsi untuk memisahkan suatu larutan
dari pelarutnya sehingga dihasilkan ekstrak dengan kandungan kimia tertentu
sesuai dengan yang diinginkan. Kecepatan alat ini dalam melakukan evaporasi
sangat cepat, terutama bila dibantu oleh vakum. Terjadinya bumping dan
pembentukan busa juga dapat dihindari. Kelebihan lain dari alat ini adalah
diperolehnya kembali pelarut yang diuapkan (Senjaya dan Wahyu, 2008).
Prinsip kerja Rotary Evaporator adalah memisahkan suatu senyawa dari
sumbernya dengan pemanasan secara hampa udara atau vakum yang didasarkan
pada titik didih pelarut dan adanya tekanan yang menyebabkan uap dari pelarut
terkumpul di atas. Setelah pelarutnya diuapkan akan dihasilkan ekstrak yang dapat
berbentuk padatan (solid) atau cairan (liquid) (Senjaya dan Wahyu, 2008). Pada
umumnya ekstrak yang dihasilkan dari ekstraksi awal ini (ekstraksi dari bahan
tumbuhan) disebut sebagai ekstrak kasar (crude extract). Rotary Evaporator
mampu menguapkan pelarut dibawah titik didih normalnya sehingga zat yang
terkandung di dalam sampel tidak rusak oleh suhu tinggi (Damayanti dan Fitriana,
2012).
Menurut Khopkar (1990), kegunaan dari Rotary Evaporator adalah
sangat efektif untuk memisahkan sebagian besar pelarut organik selama proses
ekstraksi untuk tujuan analisis kuantitatif. Pelarut yang masih tertinggal biasanya
dipisahkan secara vakum dengan kondisi vakum yang lebih tinggi. Rotary

Evaporator tidak disarankan menggunakan pelarut air dalam proses ekstraksi


karena air memiliki titik didih yang tinggi. Alat ini selain digunakan untuk
memisahkan pelarut dari campuran reaksinya juga dapat digunakan untuk
pemurnian serta pemekatan kadar.
Pandan (Pandanius amarylifolius) adalah tanaman perdu menjalar yang
memiliki daun bewarna hijau berbentuk tipis memanjang, bertepi rata, ujungnya
berduri halus, dan berbau wangi ketika diremas. Panjang daunnya sekitar 40-80
cm dan lebarnya 4,5 cm. Daun pandan mengandung pigmen klorofil sebanyak
2363,014 ppm atau sekitar 0,236% (Kartoprawiro, 2008).
Pandan wangi termasuk ke dalam suku Pandanaceae yang menghasilkan
minyak atsiri. Minyak atsiri dari distilat daun pandan wangi ini mengandung
senyawa

3-metil

2(5H)

furanon,

3-alkil-6-metoksifenoldietil

ester,

1,2-

benzenadikarboksilat, dan 1,2,3-propanaetril ester asam deodekanat. Daun pandan


memiliki beberapa senyawa seperti tannin, saponin, alkaloid, flavonoid, dan zat
warna (Dewi, 2009). Daun pandan wangi mengandung minyak atsiri, terdiri dari
6-12% hidrokarbon seskuiterpen, dan 6% monoterpen linalool, serta 10%
senyawa aromatic berupa 2-asetil-1-pirolin. Senyawa ini merupakan senyawa
aromatic terbanyak pada daun pandan wangi (Sukandar dkk., 2008).

III. METODE
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah rotary
evaporator, erlenmeyer, gelas pengaduk, corong, cawan porselin, oven,
eksikator, dan timbangan elektrik.
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah daun pandan,
alkohol 95%, kertas saring, aquades, dan air kran.
B. Cara Kerja
Daun pandan ditimbang (50 gram)

Diiris kecil-kecil direndam alkohol 95% selama 6 jam


Filtrat disaring Kertas saring dimasukkan ke dalam erlenmeyer
Filtrat di evaporasi (suhu 750C)
Pasta dikerigkan, oven kehilangan 1000C, 3-6 cm
Pasta diturunkan suhunya eksikator
Kadar ekstraktif dihitung dengan rumus :
Kadar Ekstraktif :

(berat porselin+sampel) berat porselin


x 100%
berat awal

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh data berat padatan ekstraksi dan
kadar ekstraktif pada sampel pada tabel 4 berikut ini:
Tabel 4. Hasil Ekstraksi Mengunakan Rotary Evaporator
Berat Sampel X
Berat Padatan Ekstraksi
50 gram
1,464 gram
B. Pembahasan

Kadar %
2,928%

Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan padat maupun cair dengan


bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang
diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi padat-cair atau leaching
adalah transfer difusi komponen terlarut padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses
ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian
dikembalikkan lagi ke bentuk semuala tanpa mengalami perubahan kimia (Irawan,
2010).

Menurut Simanjutak (2008), ekstraksi vacuum merupakan suatu cara


pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu bahan yang merupakan sumber
dari komponen tersebut dalam kondisi hampa udara atau vacum. Ekstraksi vacum
dapat dilakukan dengan menggunakan Rotary Evaporator yang memiliki prinsip
memisahkan suatu senyawa dari sumbernya dengan pemanasan secara hampa
udara/ vacuum.
Menurut Simanjutak (2008), ekstraksi dibedakan menjadi 2 macam, yakni
fisik-mekanik dan khemis:
1. Fisik-mekanik Pemisahan cairan dari padatan yang sebelumnya telah dilakukan
perlakuan pendahuluan yaitu : pengecilan ukuran dan pemasakan.
2. Khemis Pemisahan komponen berdasarkan sifat kimianya, dibagi menjadi 2
macam, yaitu:
a. Rendering
b. Solvent extraction
Pada percobaan ini alat yang digunakan untuk ekstraksi adalah rotary
evaporator dengan merk IKA WERKE RV06-ML. Prinsip kerja rotary
evaporator ini adalah pemisahan senyawa atau komponen dari sumbernya dengan
pemanasan secara vakum. Berikut adalah gambar alat yang digunakan beserta
bagian-bagiannya:
1
2

14

3
15

16

17
6

10

12

13
11

Gambar 1. Alat Rotary Evaporator (Dokumentasi Pribadi, 2015)


Keterangan :
1.

Pengatur tekanan, adalah komponen serupa kran putar berfungsi untuk mengatur
tekanan vakum (menaikkan dan menurunkan tekanan vakum pada labu

2.

penguapan.
Pipa ulir, merupakan pipa yang terletak di dalam kondensor untuk mengalirkan air

3.

dan udara serta membantu pada proses pendinginan.


Kondensor berfungsi untuk mendinginkan uap air yang menguap sehingga dapat

4.

diembunkan oleh air pada pipa ulir.


Knop/Sekrup pengunci untuk mengencangkan labu penguapan ketika dipasang
pada alat rotary evaporator; sekrup diputar ke kanan untuk mengunci dan

5.

diputar ke kiri untuk melepas labu penguapan.


Labu penampung berfungsi untuk menampung pelarut (fase cair) dari uap hasil

6.
7.

pengembunan.
Selang air yang berfungsi untuk mengalirkan air ke pipa ulir.
Selang vakum yang menghubungkan rotary evaporator dengan pompa vakum,
berfungsi untuk mengeluarkan udara dalam komponen rotary evaporator

8.

sehingga tekanannya menjadi tekanan vakum.


Tombol ON/OFF yang berfungsi untuk menyalakan atau mematikan rotary

9.

evaporator secara keseluruhan.


Kaki Penyangga berfungsi untuk menyangga komponen-komponen dari rotary

10.

evaporator.
Kenop Pengunci untuk mempermudah pemasangan dan pelepasan labu penguapan

11.

dengan mengatur kemiringan kondensor dan labu penguapan.


Tombol ON/OFF pemutar yang berfungsi untuk memulai pemutaran labu
penguapan.

12.

Tombol pengatur kecepatan pemutaran labu penguapan; pada percobaan ini

13.
14.
15.

kecepatan yang digunakan adalah 75 rpm.


Tombol up and down yang berfungsi untuk menaik-turunkan meja pemanas.
Labu penguapan berfungsi sebagai wadah sampel yang akan diekstraksi.
Pengatur suhu yang digunakan untuk mengatur suhu yang akan digunakan untuk

16.

mendidihkan sampel.
Tombol ON/OFF pemanas yang berfungsi untuk menyalakan dan mematikan

17.

pemanas.
Pompa vakum berfungsi untuk memberi tekanan vakum pada proses pemisahan.
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah daun pandan wangi.
Pertama-tama daun pandan ditimbang menggunakan timbangan elektrik, berat
pandan yang dibutuhkan adalah 50 gram. Penimbangan berfungsi untuk
memastikan berat awal dari daun pandan. Kemudian daun pandan dicuci bersih
untuk menghilangkan debu dan kotoran yang menempel pada pandan supaya tidak
mengganggu proses ekstraksi.
Lalu daun pandan diiris menjadi bagian yang kecil dan tipis kemudian
direndam dalam alkohol 95% selama enam jam. Fungsi perlakuan pemotongan
daun pandan adalah untuk memperluas permukaan daun pandan sehingga dapat
mempermudah zat warna pada pandan untuk larut dalam alkohol. Alkohol 95%
berperan sebagai pelarut, berfungsi untuk melarutkan zat warna klorofil daun
pandan, karena klorofil larut dalam pelarut non polar. Menurut Gadd dkk. (1995),
Alkohol 95% digunakan sebagai pelarut karena alkohol mudah menguap dan tidak
turut melarutkan zat-zat lain dari daun pandan wangi. Pelarut yang digunakan
adalah alkohol 95%, hal ini dikarenakan alkohol 95% dapat melarutkan zat warna
dari bahan dan memiliki titik didih yang lebih rendah dari air yaitu sekitar 7580oC.
Setelah daun pandan direndam selama enam jam, alkohol 95% dan daun
pandan tersebut disaring menggunakan kertas saring dan corong untuk
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Penyaringan berfungsi untuk memisahkan
filtrat dan residunya, filtrat berupa larutan alkohol yang terdapat klorofil terlarut
di dalamnya dan residu berupa potongan daun pandan. Filtrat kemudian
dimasukkan

ke

dalam

labu

penguapan

untuk

selanjutnya

dievaporasi

menggunakan rotary evaporator. Fungsi dari evaporasi ini adalah untuk


memisahkan alkohol dengan ekstraknya.
Pada pengoperasian alatnya, pertama-tama bejana pemanas air diisi air
secukupnya, kemudian labu penguapan dipasang dengan menaikkan tuas
penggerak. Pemasangan labu penguapan dengan cara memasukkan bagian mulut
labu penguapan ke dalam tuas pengunci labu penguapan, kemudian tuas pengunci
diputar ke kanan untuk mengencangkan atau mengunci labu penguapan. Setelah
itu ketinggian bejana pemanas air dan tuas penggerak diatur sehingga labu
penguapan terendam air hingga setengah bagian, agar filtrat di dalam labu
penguapan dapat terendam sepenuhnya dalam air panas.
Tombol on/off alat rotary evaporator dinyalakan untuk memulai
ekstraksi filtrat klorofil daun pandan secara keseluruhan. Kemudian suhu pada
bejana pemanas air diatur, suhu yang digunakan tidak boleh mencapai 100 0C
karena titik didih alkohol lebih rendah dibandingkan titik didih air. Setelah itu
labu diputar dalam air yang telah dipanaskan, fungsi pemutaran labu adalah
membantu dan mempercepat proses pemisahan zat terlarut dari pelarutnya dan
membuat pemanasan merata sehingga penguapan lebih optimal. Air yang panas
dalam bejana pemanas air berfungsi untuk menguapkan pelarut.
Uap hasil pemanasan akan mengalir menuju kondensor yang merupakan
komponen dari rotary evaporator. Kondensor berfungsi untuk mendinginkan uap
air sehingga dapat diembunkan oleh air pada pipa ulir. Kondensor dihubungkan
dengan kran air dan dialiri air kran melalui pipa ulir. Pada ujung kondensor juga
terpasang selang yang dihubungkan dengan pompa vakum yang membantu
menghisap uap dari labu penguapan. Uap yang sudah terhisap akan diturunkan
suhunya oleh kondensor sehingga uap akan menjadi cair kembali dalam bentuk
embun yang akan ditampung di labu penampung.
Ekstraksi menggunakan rotary evaporator dapat dianggap selesai bila
sudah tidak ada tetesan dari kondensor atau tidak adanya pengembunan, cairan
yang sudah ditampung dalam labu penampung minimal sudah 80% dari jumlah
larutan awal, dan bila zat terlarut sudah terpisah dari pelarutnya. Indikasi lain

yang dapat diamati adalah adanya gelembung udara di permukaan larutan dalam
labu penampung, dan larutan yang ada di labu penguapan sudah pekat dan kental.
Setelah bahan berubah dari cairan menjadi bentuk pasta, alat kemudian
dimatikan dan bahan dipindahkan ke dalam cawan porselin untuk dikeringkan
dalam oven dengan suhu 1050C selama 3-6 jam. Setelah pasta mongering, cawan
porselin diambil dan didinginkan dalam eksikator. Fungsi penurunan suhu dalam
eksikator ini selain untuk mendinginkan pasta yang telah kering, juga untuk
menghindari pengembunan uap panas yang akan membasahi pasta yang telah
kering tersebut. Hal ini dikarenakan dalam eksikator terdapat silica gel yang
bersifat higroskopis yang berfungsi untuk menyerap kandungan air yang
tertinggal.
Setelah suhu dari pasta tersebut sudah turun, cawan porselin berisi pasta
tersebut ditimbang dalam timbangan elektrik. Fungsi penimbangan sebagai
langkah terakhir ini adalah untuk mengetahui berat akhir cawan porselin berisi
pasta yang telah kering untuk kemudian dihitung kadar ekstraktifnya. Pada
percobaan ini hasil kadar ekstraktifnya sebesar 2,928% dengan berat ekstraktif
yang
Daun pandan mengandung pigmen klorofil sebanyak 2363,014 ppm atau
sekitar 0,236% (Kartoprawiro, 2008). Klorofil dari daun pandan apabila diekstrak
akan didapatkan kadar ekstraksi klorofil daun sekitar 0,615/100 gr (Van Wyk dan
Erii, 2005). Berdasarkan teori tersebut dapat diketahui bahwa kadar ekstraktif
hasil percobaan berbeda dengan kadar ekstraktif berdasarkan teori yang ada.
Perbedaan ini dapat disebabkan karena proses pengeringan saat di oven belum
maksimal sehingga memungkinkan masih ada pelarut di pasta yang tertinggal.
Warna daun pandan yang hijau diakibatkan oleh adanya pigmen zat
warna pada daun pandan tersebut. Menurut Wyk dan Erik (2005), kadar klorofil
pada tiap tumbuhan berbeda jumlahnya salah satu faktornya adalah pengaruh
tempat tinggalnya. Klorofil merupakan pigmen fotosintesis yang dapat menyerap
cahaya merah, biru, dan ungu, serta merefleksikan cahaya hijau yang
menyebabkan daun pandan memperoleh ciri warna hijaunya. Klorofil terdapat di

kloroplas dan memanfaatkan cahaya yang diserap sebagai energi untuk reaksireaksi cahaya dalam proses fotosintesis.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ekstraksi menggunakan
rotary evaporator diantaranya adalah lama waktu pengovenan, ketepatan
penyaringan, dan ketepatan suhu yang digunakan dalam proses evaporasi.
Menurut Senjaya dan Wahyu (2008), jenis pelarut yang dipilih dalam ekstraksi
merupakan kunci keberhasilan proses ekstraksi tersebut. Pemilihan jenis pelarut
harus didasarkan prinsip "like dissolve like".

V. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Prinsip kerja dari Rotary Evaporator adalah memisahkan senyawa atau
komponen dari sumbernya dengan pemanasan secara vakum.
2. Ekstraksi vacuum memiliki prinsip memisahkan suatu senyawa dari
sumbernya dengan pemanasan secara hampa udara/ vacuum.
3. Kadar ekstraktif pigmen warna daun pandan berdasarkan percobaan ini
adalah 2,928%.

DAFTAR PUSTAKA
Damayanti, A. dan Fitriana, E. A. 2012. Pemungutan Minyak Atsiri Mawar
dengan Metode Maserasi. Jurnal Bahan Alam Terbarukan 17(9):33-37.
Dermawan, P. 2012. Pengaruh Jenis Pelarut Terhadap Rendemen Minyak Bunga
Cengkeh dengan Menggunakan Metode Ekstraksi Sokhletasi. Jurnal
Kimia dan Teknologi 4(2):283-297.
Dewi, E. W. A. 2009. Pengaruh Ekstrak Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius
Roxb.) 6Mg/Grbb Terhadap Waktu Induksi Tidur dan Lama Waktu Tidur
Mencit Balb/C yang Diinduksi Thiopental 0,546 Mg/20Grbb. Skripsi.
Universitas Diponegoro, Semarang.
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Penerbit ITB, Bandung.
Irawan, T. A. 2010. Peningkatan Mutu Minyak Nilam dengan Ekstraksi dan
Destilasi Pada Berbagai Komposisi Pelarut. Universitas Diponegoro
Press, Semarang.
Kartoprawiro,
M.
H.
2008.
Pewarna
Alami
untuk
Pangan.
http://seafast.ipb.ac.id/pewarna-alami-untuk-pangan/download.pdf.
16
Oktober 2015.
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Kimia Dasar Analitik. Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Senjaya, W. A. dan Wahyu, S. 2008. Potensi Ekstrak Daun Pinus (Pinus merkusii)
sebagai Bioherbisida Penghambat Perkecambahan Echinochloa colonum
L. Jurnal Perennial 4(1):1-5.

Simanjutak, M. 2008. Ekstraksi dan Fraksinasi Komponen Ekstrak Daun


Tumbuhan Senduduk (Melastoma malabathricum L.). Skripsi.
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Sukandar, D., Hermanto, S., dan Nurichawati, S. 2008. Karakterisasi Senyawa
Aktif Pengendali Hama Kutu Beras (Sitophilus oryzae L.) dari Distilat
Minyak Atsiri Pandan Wangi (P. Amaryllifolius Roxb.). Jurnal Penelitian
dan Pengembangan Ilmu Kimia 1(3):127-132.
Van Wyk, G. dan Erik, B. Food Plants of The World. Timber Press, Inc., Oregon.

LAMPIRAN
A. Perhitungan
Kadar Ekstraktif : (berat porselin+sampel) berat porselin
berat awal
:

x 100%

(62,054 gram ) 60,59 gram x 100%


50 gram

: 2,928%
B. Gambar

Gambar 2. Preparasi Alat dan Bahan sebelum Percobaan Rotary Evaporator


(Dokumentasi Pribadi, 2015)

Gambar 3. Filtrasi Larutan Alkohol dan Daun Pandan (Dokumentasi Pribadi,


2015)

Gambar 4. Filtrat dari Filtrasi Berupa Zat Klorofil Terlarut dalam Alkohol
(Dokumentasi pribadi, 2015)

Gambar 5. Pemasukkan Filtrat ke Dalam Labu Penguapan (Dokumentasi


Pribadi, 2015)