Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN MASTEKTOMI

1. Definisi
Modified Radical Mastectomy adalah suatu tindakan pembedahan onkologis pada
tumor jinak atau ganas payudara dengan mengangkat seluruh jaringan payudara yang
terdiri dari seluruh stroma dan parenkhim payudara, areola dan puting susu serta kulit
diatas tumornya tanpa disertai diseksi kelenjar getah bening aksila ipsilateral level I, II/III
secara en bloc tanpa mengangkat m.pektoralis major dan minor.
Tipe pembedahan secara umum dikelompokkan kedalam tiga kategori :
mastektomi radikal, mastektomi total dan prosedur yang lebih terbatas ( contoh
segmental, lumpektomi ).
a. Mastektomi preventif ( preventife mastectomy) disebut juga prophylactic
mastectomy.operasi ini dapat berupa total mastektomi dengan mengangkat
seluruh payudara dan putting atau berupa subcutaneous mastectomy dimana
seluruh payudara diangkat namun putting tetap dipertahankan .
b. Mastektomi total ( sederhana ) mengangkat semua jaringan payudara tetapi semua
atau kebanyakan nodus limfe dan otot dada tetap utuh.
c. Mastektomi radikal modifikasi mengangkat seluruh payudara , beberapa atau
semua nodus limfe dan kadang-kadang otot pektoralis minor.otot dada mayor
masih utuh.Mastektomi radikal ( halsted ) adalah prosedur yang jarang dilakukan
yaitu pengangkatan seluruh payudara, kulit, otot pektoralis mayor dan minor,
nodus limfe ketiak dan kadang-kadang nodus limfe mamari internal atau supra
klavikular.
d. Prosedur membatasi ( contoh : lumpektomi ) mungkin dilakukan pada pasien
rawat jalan yang hanya berupa tumor dan beberapa jaringan sekitarnya diangkat.
Lumpektomi dianggap tumor non-metastatik bila kurang dari 5 cm ukurannya
yang tidak melibatkan putting.prosedur meliputi dignostik ( menentukan tipe sel )
dan atau pengobatan bila dikombinasi dengan terapi radiasi.
2. Tujuan
Berdasarkan tujuan terapi pembedahan, mastektomi dibedakan menjadi dua
macam yaitu tujuan kuratif dan tujuan paliatif :
1. Prinsip terapi bedah kuratif adalah pengangkatan seluruh sel kanker tanpa
meninggalkan sel kanker secara mikroskopik. Terapi bedah kuratif ini dilakukan pada
kanker payudara stadium dini(stadium 0, I dan II).
2. Sedangkan tujuan terapi bedah palliatif adalah untuk mengangat kanker payudara
secara makroskopik dan masih meninggalkan sel kanker secara mikroskopik.
Pengobatan bedah palliatif ini pada umumnya dilakukan untuk mengurangi keluhankeluhan penderita seperti perdarahan, patah tulang dan pengobatan ulkus, dilakukan
pada kanker payudara stadium lanjut,yaitu stadium III dan IV.

3. Indikasi/Kontraindikasi
a. Indikasi

a) Kanker payudara stadium O (insitu)


b) Keganasan jaringan lunak pada payudara
c) Tumor jinak payudara yang mengenai seluruh jaringan payudara (misal: phyllodes
tumor)
b. Kontraindikasi
a) Tumor melekat dinding dada
b) Edema lengan
c) Nodul satelit yang luas
d) Mastitis inflamatori
4. Penatalaksanaan
Beberapa tipe mastektomi yang ada pada saat ini
a) Mastektomi Preventif (Preventive Mastectomy)
Mastektomi preventif disebut juga prophylactic mastectomy. Operasi ini dapat
berupa total mastektomi dengan mengangkat seluruh payudara dan puting. Atau
berupa subcutaneous mastectomy, dimana seluruh payudara diangkat namun puting
tetap dipertahankan. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekambuhan kanker
payudara dapat dikurangi hingga 90% atau lebih setelah mastektomi preventif pada
wanita dengan risiko tinggi.

Gambar payudara seorang wanita 25 tahun. menjalani prophylacyic


mastectomy dan telah mengalami rekonstruksi dengan menutup lubang bekas
operasi dengan dengan jaringan yang diambil dari perutnya.
b) Mastektomi Sederhana atau Total (Simple or Total Mastectomy)
Mastektomi dengan mengangkat payudara berikut kulit dan putingnya, namun
simpul limfe masih dipertahankan. Pada beberapa kasus, sentinel node biopsy
terpisah dilakukan untuk membuang satu sampai tiga simpul limfe pertama.

Total Mastectomy

c) Mastektomi Radikal Termodifikasi (Modified Radical Mastectomy)

Terdapat prosedur yang disebut modified radical mastectomy (MRM)-mastektomi


radikal termodifikasi. MRM memberikan trauma yang lebih ringan daripada
mastektomi radikal, dan ssat ini banyak dilakukan di Amerika. Dengan MRM, seluruh
payudara akan diangkat beserta simpul limfe di bawah ketiak, tetapi otot pectoral
(mayor dan minor) otot penggantung payudara masih tetap dipertahankan. Kulit
dada dapat diangkat dapat pula dipertahankan, Prosedur ini akan diikuti dengan
rekonstruksi payudara yang akan dilakukan oleh dokter bedah plastik.

Modified Radical Mastectomy


d) Mastektomi Radikal (Radical Mastectomy)
Mastektomi radikal merupakan pengangkatan payudara komplit, termasuk
puting. Dokter juga akan mengangkat seluruh kulit payudara, otot dibawah payudara,
serta simpul limfe (getah bening). Karena mastektomi radikal ini tidak lebih efektif
namun merupakan bentuk mastektomi yang lebih ekstrim , saat ini jarang dilakukan.

e) Mastektomi Parsial atau Segmental (Partial or Segmental Mastectomy)


Dokter dapat melakukan mastektomi parsial kepada wanita dengan kanker
payudara stadium I dan II. Mastektomi parsial merupakan breast-conserving therapyterapi penyelamatan payudara yang akan mengangkat bagian payudara dimana tumor
bersarang. Prosedur ini biasanya akan diikuti dengan terapi radiasi untuk mematikan
sel kanker pada jaringan payudara yang tersisa. Sinar X berkekuatan penuh akan

ditembakkan pada beberapa bagian jaringan payudara. Radiasi akan membunuh


kanker dan mencegahnya menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Partial Mastectomy
f) Quandrantectomy
Tipe lain dari mastektomi parsial disebut quadrantectomy. Pada prosedur ini,
dokter akan mengangkat tumor dan lebih banyak jaringan payudara dibandingkan
dengan lumpektomi.

Quandrantectomy
Mastektomi tipe ini akan mengangkat seperempat bagian payudara, termasuk kulit
dan jaringan konektif (breast fascia). Cairan berwarna biru disuntikkan untuk
mengidentifikasi simpul limfe yang mengandung sel kanker.
g) Lumpectomy atau sayatan lebar,
Merupakan pembedahan untuk mengangkat tumor payudara dan sedikit jaringan
normal di sekitarnya. Lumpektomi (lumpectomy) hanya mengangkat tumor dan sedikit
area bebas kanker di jaringan payudara di sekitar tumor. Jika sel kanker ditemukan di
kemudian hari, dokter akan mengangkat lebih banyak jaringan. Prosedur ini disebuat reexcision (terjemahan : pengirisan/penyayatan kembali).

h) Excisional Biopsy

Biopsi dengan sayatan juga mengangkat tumor payudara dan sedikit jaringan
normal di sekitarnya. Kadang, pembedahan lanjutan tidak diperlukan jika biopsy
dengan sayatan ini berhasil mengangkat seluruh tumor.

5. Perawatan Setelah Operasi


a) Pasca bedah penderita dirawat di ruangan dengan mengobservasi produksi drain,
memeriksa kadar Hemoglobin pasca bedah.
b) Rehabilitasi dilakukan sesegera mungkin dengan melatih pergerakan sendi bahu.
c) Drain dilepas bila produksi masing-masing drain < 20 cc/24 jam. Umumnya drain
sebelah medial dilepas lebih awal, karena produksinya lebih sedikit.
d) Bila luka operasi baik, jahitan dilepas hari ke 12 s/d 14.
6. Diagnosa Perioperatif
a. Fase Preoperatif Mastektomi
Fase preoperatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi dan
diakhiri ketika pasien dikirim ke kamar operasi. Lingkup aktivitas keperawatan
selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien.
Wawancara praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan dalam
pembedahan.
a) Pengkajian :
- Identitas pasien
- Tanda-tanad vital
- Riwayat penyakit : alergi, penyakit paru (asma, PPOM, TB paru),
penggunaan narkoba, alkoholisme, menggunakan obat seperti
kortikosteroid dan obat jantung
- Riwayat kesehatan keluarga : DM. Hipertensi
- Status nutrisi : BB, puasa, tinggi badan
- Keseimbangan cairan dan elektrolit
- Ada tidaknya gigi palsu, pemakaian lensa kontak, atau cat kuku dan
implan prosthesis lainnya

Pencukuran daerha operasi


Kolaborasi dengan dokter anestesi tentang pemberian jenis anestesi dan
pemakaian obat anestesi yang akan dilakukan
- Pemeriksaan penunjung : rontgen, EKG, pemeriksaan laboratorium (darah
lengkap, faal hepar, faa ginjal, masa pembekuan darah), biopsi,
pemeriksaan gula darah
- Informed consent
b) Diagnosa keperawatan pre operasi Mastektomi
- Cemas berhubungan dengan krisis situasional
- Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan
- Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi
Rencana Keperawatan pre operatif Mastektomi:
DIAGNOSA KEP.
NOC
NIC
Cemas
berhubungan Setelah
dilakukan
asuhanAnxiety reduction :
dengan perubahan status keperawatan
selamapasien
Tenangkan pasien
kesehatan
menunjukan anxiety
Jelaskan seluruh prosedur tindakan
control dengan kriteria hasil: kepada pasien dan perasaan yang
pasien kooperatif
mungkin muncul pada saat melakukan
Mampu
mengidentifikasikantindakan
cemas dengan bahasa tubuh
Berusaha memahami keadaan pasien
yang tenang
Berikan informasi tentang diagnosa,
Vital sign dbn
prognosis dan tindakan
Mendampingi
pasien
untuk
mengurangi
kecemasan
dan
meningkatkan kenyamanan
Dorong pasien untuk menyampaikan
tentang isi perasaannya
Kaji tingkat kecemasan
Dengarkan dengan penuh perhatian
Ciptakan hubungan saling percaya
Bantu pasien menjelaskan keadaan
yang bisa menimbulkan kecemasan
Bantu pasien untuk mengungkapkan
hal hal yang membuat cemas
Ajarkan pasien teknik relaksasi
Berikan obat obat yang mengurangi
cemas
Kurang
pengetahuan Setelah
dilakukanasuhanTeaching : Dissease Process
tentang
penyakit, keperawatan
selama......,
Kaji tingkat pengetahuan klien dan
perawatan,pengobatan
pengetahuan klien meningkatkeluarga tentang proses penyakit
kurang paparan terhadap dengan kriteria hasil
-Jelaskan tentang patofisiologi penyakit,
informasi
Klien
mampu
menjelaskantanda dan gejala serta penyebabnya
kembali apa yang dijelaskan -Sediakan informasi tentang kondisi klien

Klien kooperative saat dilakukan


-Berikan informasi tentang perkembangan
tindakan
klien
-Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang
dan atau kontrol proses penyakit
-Jelaskan
alasan
dilaksanakannya
tindakan atau terapi
-Gambarkan komplikasi yang mungkin
terjadi
-Anjurkan klien untuk mencegah efek
samping dari penyakit
-Gali sumber-sumber atau dukungan yang
ada
-Anjurkan klien untuk melaporkan tanda
dan gejala yang muncul pada petugas
kesehatan
Nyeri akut b.d agen Setelah
dilakukan
asuhan Lakukan pengkajian nyeri secara
injuri biologi
keperawatan
selama
1xkomprehensif
termasuk
lokasi,
pertemuan
nyeri
klienkarakteristik, durasi, frekuensi
berkurang dengan kriteria hasil: Monitor vital sign
Nyeri terkontrol
Gunakan
teknik
komunikasi
Klien menggunakan teknikterapeutik
untuk
mengetahui
non
farmakologi
untukpengalaman nyeri
mengurangi nyeri
Ajarkan teknik
Tanda vital dalam rentangrelaksasi
nafas
dalam
untuk
normal
mengurangi nyeri

b. Fase Intraoperatif Mastektomi


Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah dan
berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.
Aktivitas keperawatan yang dilakukan selama tahap intra operatif meliputi 4 hal,
yaitu :
1) Safety Management (Pengaturan posisi pasien)
Faktor penting yang harus diperhatikan ketika mengatur posisi di ruang operasi
adalah: daerah operasi, usia, berat badan pasien, tipe anastesidan nyeri. Posisi
yang diberikan tidak boleh mengganggu sirkulasi, respirasi, tidak melakukan
penekanan yang berlebihan pada kulit dan tidak menutupi daerah atau medan
operasi.

Kesejajaran fungsional maksudnya adalah memberikan posisi yang tepat


selama operasi. Operasi yang berbeda akan membutuhkan posisi yang
berbeda pula
Pemajanan area pembedahan maksudnya adalah daerah mana yang akan
dilakukan tindakan pembedahan. Dengan pengetahuan tentang hal ini
perawat dapat mempersiapkan daerah operasi dengan teknik drapping
Mempertahankan
posisi
sepanjang
prosedur
operasi
dengan tujuan untuk mempermudah proses pembedahan juga sebagai
bentuk jaminan keselamatan pasien dengan memberikan posisi fisiologis
dan mencegah terjadinya injury.
Memasang alat grounding ke pasien
Memberikan dukungan fisik dan psikologis pada klien untuk menenagkan
pasien selama operasi sehingga pasien kooperatif.
Memastikan bahwa semua peralatan yang dibutuhkan telah siap seperti :
cairan infus, oksigen, jumlah spongs, jarum dan instrumen tepat.
2) Monitoring Fisiologis
Melakukan balance cairan
Memantau kondisi cardiopulmonal meliputi fungsi pernafasan,
nadi, tekanan darah, frekuensi denyut jantung, saturasi oksigen,
perdarahan dll.
Pemantauan terhadap perubahan vital sign
3) Monitoring Psikologis
Memberikan dukungan emosional pada pasien
Berdiri di dekat klien dan memberikan sentuhan selama prosedur induksi
Mengkaji status emosional klien
Mengkomunikasikan status emosional klien kepada tim kesehatan (jika
ada perubahan)
4) Pengaturan dan koordinasi Nursing Care
Memanage keamanan fisik pasien
Mempertahankan prinsip dan teknik asepsis
Diagnosa Keperawatan intra operatis yang sering muncul Mastektomi :
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan tekanan inspirasi
danekspirasi karena pemberian agent anastesi.
2. Resiko perdarahan berhubungan dengan perdarahan masive selama pembedahan.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan, prosedur invasif dan truma
jaringan.
4. Resiko cidera berhubungan dengan anastesi dan pembedahan.
Rencana Keperawatan intra operatif Mastektomi:
DIAGNOSA KEP.
Pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan

NOC

NIC

Setelah dilakukan asuhan keperawatan


Airway and breathing
selama..... pasienmenunjukan respiration management :

penurunan tekanan
inspirasi dan ekspirasi
karena pemberian agent
anastesi.

control dengan kriteria hasil:


Jalan nafas adequat
Suara nafas vesikuler
Saturasi O2 dbn

Resiko infeksi
berhubungan dengan
pembedahan, prosedur
invasif dan truma
jaringan.

Setelah dilakukanasuhan keperawatan


selama......, menunjukkan infection
protection, enviroment, host and agent
control dengan kriteria hasil
Terkendalinya nfection control
Luka dan keadaan sekitar bersih

Resiko cidera

Setelah dilakukanasuhan keperawatan

Monitor ventilasi (jalan


dan suara nafas)
Lakukan management
ventilasi dengan head
tilt chin leaf / jaw trust
positioning
Pasang alat bantu
nafas : mouth
airway/orofaringeal
tube, ET, LMA
Monitor keakuratan
fungsi ET, LMA
Lakukan assisted
respiration
Monitor vital sign dan
saturasi O2 secara
periodik
Infection control
management
Kendalikan prosedur
masuk kamar operasi
untuk pasien maupun
petugas
Batasi jumlah personil
di kamar operasi
Kendalikan sterilitas
ruangan dan peralatan
yang dipakai
Lakukan cuci tangan
bedah, pemakaian jas
operasi, pemakaian
sarung tangan dan duk
operasi sesuai prosedur.
Terapkan prosedur
septik aseptik.
Lakukan penutupan
luka sesuai prosedur
Kolaborasi pemberian
antibiotic
Environment kontrol
Injury control

berhubungan dengan
anastesi dan
pembedahan.

selama......menunjukkan injury
neuromuscular protection dengan
kriteria hasil :
Tidak terjadi luka baru diluar
organ target
Instrument terhitung lengkap
sebelum dan sesudah operasi.

management
Anatomis dan imobil
position
Pasang groundit kouter
dengan benar
Melakukan tindakan
anastesi sesuai dengan
prosedur
Memasang alat bantu
pernafasan sesuai
dengan prosedur
Hindari manipulasi
jaringan berlebihan
Penggunaan instrument
yang tepat dan benar
Perhitungan jumlah
instrument sebelum dan
sesudah operasi yang

c. Fase Postoperatif Mastektomi


1. Fase pasca anesthesia.
Setelah dilakukan mastektomi, penderita dipindah ke ruang pemulihan disertai
dengan oleh ahli anesthesia dan staf profesional lainnya.
a) Mempertahankan ventilasi pulmoner
Menghindari terjadiya obstruksi pada periode anestesi pada saluran
pernafasan, diakibatkan penyumbatan oleh lidah yang jatuh, kebelakang dan
tumpukan sekret, lendir yang terkumpul dalam faring trakea atau bronkhial
ini dapat dicegah dengan posisi yang tepat dengan posisi miring/setengah
telungkup dengan kepala ditengadahkan bila klien tidak bisa batuk dan
mengeluarkan dahak atau lendir, harus dilakukan penghisapan dengan
suction.
b) Mempertahankan sirkulasi
Pada saat klien sadar, baik dan stabil, maka posisi tidur diatur semi fowler
untuk mengurangi oozing venous (keluarnya darah dari pembuluh-pembuluh
darah halus) lengan diangkat untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah
terjadinya udema, semua masalah ini gangguan rasa nyaman (nyeri) akibat
dari sayatan luka operasi merupakan hal yang pailing sering terjadi
c) Masalah psikologis
Payudara merupakan alat vital seseorang ibu dan wanita, kelainan atau
kehilangan akibat operasi payudara sangat terasa oleh pasien,haknya seperti
dirampas sebagai wanita normal, ada rasa kehilangan tentang hubungannya

dengan ssuami, dan hilangnya daya tarik serta serta pengaruh terhadap anak
dari segi menyusui.
d) Mobilisasi fisik.
Pada pasien pasca mastektomi perlu adanya latihan-latihan untuk mencegah
atropi otot-otot kekakuan dan kontraktur sendi bahu, untuk mencegah
kelainan bentuk (diformity) lainnya, maka latihan harus seimbang dengan
menggunakan secara bersamaan.
2. Perawatan post mastektomi
a) Pemasangan plester /hipafik
Dalam hal ini pemasangan plester pada operasi mastektomi hendaknya
diperhatikan arah tarikan-tarikan kulit (langer line) agar tidak melawan
gerakkan-gerakkan alamiah, sehingga pasien dengan rileks menggerakkan
sendi bahu tanpa hambatan dan tidak nyeri untuk itu perlu diperhatikan cara
meletakkan kasa pada luka operasi dan cara melakukan fiksasi plester pada
dinding dada.
Plester medial melewati garis midsternal
Plester posterior melewati garis axillaris line/garis ketiak
Plester posterior (belakang) melewati garis axillaris posterior.
Plester superior tidak melewati clavicula
Plester inferior harus melewati lubang drain
Untuk dibawah klavicula ujug hifavik dipotong miring seperti memotong baju
dan dipasang miring dibawah ketiak sehingga tidak mengangu grakkan
tangan.
b) Perawatan pada luka eksisi tumor.
Bila dikerjakan tumorektomi,pakai hipafik ukuran 10 cm yang dibuat seperti
BH sehingga menyangga payudara .
c) Klien yang dikerjakan transplantasi kulit kalau kasa penutup luka basah
dengan darah atau serum harus segera diganti, tetapi bola penutup (thiersch)
tidak boleh dibuka.
d) Pemberian injeksi dan pengambilan darah.
e) Pengukuran tensi
Diagnosa keperawatan post operasi yang sering muncul Mastektomi:
Resiko aspirasi berhubungan dengan status kesadaran, reflek menelan belum
optimal karena pemakaian obat anastesi
Resiko cidera berhubungan dengan tingkat kesadaran pasien
Rencana intervensi keperawatan post operasi Mastektomi:
DIAGNOSA KEP.
Resiko aspirasi berhubungan
dengan status kesadaran,
reflek menelan belum
optimal karena pemakaian
obat anastesi

NOC
Setelah dilakukanasuhan
keperawatan selama......,
menunjukkan control
dengan kriteria hasil
Airway terkontrol dan

NIC
Aspiration Precaution :
Monitor tingkat kesadaran dan
reflek menelan
Monitor status airway dan
bebaskan airway

Resiko cidera berhubungan


dengan tingkat kesadaran
pasien

adequat
Reflek menelan efektif

Lakukan suctioning jika perlu


Posisikan supinasi atau posisi
SIM pada operasi jalan nafas

Setelah dilakukanasuhan
keperawatan selama......,
menunjukkan risk control
dengan kriteria hasil
Pasien terbebas dari
cidera
Pasien komunikatif dan
kooperatif

Environment Management :
Sediakan lingkungan yang aman
dan nyaman
Posisikan tidur sesuai instruksi
medis / anastesi
Memasang side trail tempat
tidur
Hindari dari perabot yang
berbahaya
Kaji tingkat kesadaran
Dampingi selama pasien belum
sadar penuh
Lindungi arah gerakan dan
jangan lawan gerakan pasien
Rangsang kesadaran pasien ke
Compos Mentis
Alat invasif terkontrol

7. Pemeriksaan Penunjang
Mandatory:
- Mamografi dan/atau USG payudara
- Pemeriksaan sitologi (FNAB) atau histopatologi tumor payudara
- Foto toraks
- USG liver/abdomen
- Pemeriksaan kimia darah lengkap, rekam jantung (EKG kalau perlu ekokardiografi)
kalau ada indikasi untuk persiapan operasi
Optional:
- bone scanning
- pemeriksaan kimia darah/ tumor marker: CEA, Ca 15-3, Ca 125

8. Pathway

9. Gambar

Daftar Pustaka

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification


(NIC). St. Louis :Mosby Year-Book.
Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis
:Mosby Year-Book
Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi
10.Jakarta:EGC
Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 .
Edisi 4. Jakarta. EGC
Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC :
Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 2. EGC : Jakarta.
Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta
Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2009-2011,
NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd