Anda di halaman 1dari 12

STUDI KASUS ANAK MALAS BELAJAR

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling

Dosen Pengampu : Dra. Yulianti, M. Pd

Disusun Oleh :

ALIFATURROHMAH M
K7114010/3B

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat
rahmat-Nya penyusun bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Studi Kasus Anak Malas
Belajar. Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik
materill maupun moril sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun
bahasanya maupun segi lainnya. Sangat diharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk
penyusunan makalah yang lebih baik.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil hikmah dan
manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Surakarta, 20 Desember 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tugas utama seorang guru adalah mengajar dan mendidik siswa. Dalam kegiatan
belajar mengajar di sekolah ditemukan hal-hal berikut. Ada siswa yang giat, ada siswa
yang pura-pura belajar, ada siswa yang belajar setengah hati, bahkan ada pula siswa
yang tidak belajar. Guru berkonsultasi dengan guru konselor atau BK sekolah. Kedua
guru tersebut menemukan adanya masalah-masalah yang dialami siswa. Ada masalah
yang dapat diselesikan oleh konselor sekolah ada pula dengan psikologi. Guru
menyadari bahwa dalam tugas pembelajaran ternyata masalah-masalah belajar dialami
siswa. Bahkan guru harus memahami bahwa kondisi lingkungan siswa juga dapat
menjadi sumber timbulnya masalah-masalah belajar.
Guru profesional berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil. Ada
siswa yang tidak belajar karena dimarahi oleh orang tua. Ada siswa yang enggan belajar
karena pindah tempat tinggal. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru
mengajar. Ada pula siswa yang giat belajar karena bercita-cita. Bermacam-macam
keadaan siswa tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang masalah-masalah
dalam belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru. Masalah-masalah dalam
belajar juga mempengaruhi proses dan hasil belajar. Pada hal ini mendorong peneliti
untuk mencoba menerapkan pendekatan terhadap kasus mengenai mengatasi malas
belajar pada anak SD, serta memberikan penguatan sebagai pendorong agar anak mau
berubah. Oleh karena itu, mahasiswa calon pendidik harus melaksanakan sebuah
penelitian mengenai permasalahan pada anak usia sekolah dasar agar dapat memahami
karakteristik serta menanggulangi permasalahan-permasalahan yang mungkin muncul.
B. Tujuan
Studi kasus ini bertujuan untuk:
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan di Sekolah Dasar
2. Untuk menemukan faktor-faktor penyebab anak malas belajar
3. Mengatasi anak yang malas belajar dan memberikan penanganan atau solusi
C. Manfaat
Adapun manfaat yang akan diperoleh dari kegiatan penelitian studi kasus kali ini adalah
memberikan gambaran tentang masalah yang dihadapi guru dan cara membimbing atau
mengatasi masalah yang sedang dihadapi, dan menjadi suatu motivasi untuk

melaksanakan observasi atau penulisan yang berhubungan dengan permasalahan


anak/siswa.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Identitas Siswa
Dalam penyusunan studi kasus, identifikasi siswa yang berkasus (klien) merupakan
tahap awal yang harus dilalui di dalam proses penyusunan studi kasus. Pada saat ini
pengamat mengamati siswa yang malas belajar. Siswa tersebut bersekolah di MI
Muhammadiyah Bekangan, Boyolali sebagai siswa kelas 3.Untuk lebih jelasnya di
bawah ini dicantumkan data identitas siswa yang menjadi objek studi kasus :
1. Identifikasi Diri Siswa
Nama Siswa
: Shafa Fatekha Zahra
Kelas
: 3 SD
Tempat/tgl. Lahir : Boyolali, 22 Juni 2007
Agama
: Islam
Jenis Kelamin
: Perempuan
Alamat
: Bekangan RT.03/RW.02, Sembungan, Nogosari, Boyolali
Sekolah
: MI Muhammadiyah Bekangan
Anak ke
: 1 dari 2 bersaudara
Keadaan Kesehatan
Penglihatan
Pendengaran
Pembicaraan
Potensi jasmani

: Normal
: Normal
: Normal
: Normal

Fasilitas Belajar dan Pendukung


a. Kelengkapan belajar
1) Buku paket
: lengkap
2) Buku catatan
: lengkap
3) Ruang belajar
: tidak punya
b. Bimbingan
1) Dari ayah : pernah
2) Dari ibu : pernah
3) Dari nenek: pernah

Waktu belajar
a. waktu belajar siswa kurang teratur.Siswa belajar jika ada PR dan ujian.
b. kelakuan dan prestasi Klien
Sikap pada teman

: Memilih-milih teman

Sikap pada guru

: Baik, tapi masih merasa segan untuk bertanya.

Prestasi

: Baik

2. Identifikasi Orang Tua


a. Ayah
Nama lengkap : Khoeroni
Umur
: 39 tahun
Pendidikan
: S1
Pekerjaan
: Karyawan Swasta
Alamat
: Bekangan RT.03/RW.02, Sembungan, Nogosari, Boyolali
b. Ibu
Nama lengkap : Junasih
Umur
: 35 tahun
Pendidikan
: D3
Pekerjaan
: Perawat
Alamat
: Bekangan RT.03/RW.02, Sembungan, Nogosari, Boyolali
B. Gambaran Masalah
Ada dua faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah belajar, yaitu faktor intrinstik
(dalam) dan faktor ekstrinsik (luar).
1. Faktor intrinstik (dari dalam diri anak)
Rasa malas untuk belajar yang timbul dari dalam diri anak dapat disebabkan karena
kurang atau tidak adanya motivasi diri. Motivasi ini kemungkinan belum tumbuh
dikarenakan anak belum mengetahui manfaat dari belajar atau belum ada sesuatu
yang ingin dicapainya. Selain itu kelelahan dalam beraktivitas dapat diakibatkan
menurunnya kekuatan fisik dan melemahnya kondisi psikis. Sebagai contoh, terlalu
lama bermain, terlalu banyak mengikuti les merupakan faktor penyebab menurunnya
kekuatan fisik pada anak. Contoh lainnya, terlalu lama menangis, marah-marah
(ngambek) juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak.
2. Faktor ekstrinsik (dari luar)
Faktor dari luar anak yang tidak kalah besar pengaruhnya terhadap kondisi anak
untuk menjadi malas belajar. Hal ini terjadi karena.
a. Sikap orang tua

Sikap orang tua yang tidak memberikan perhatian dalam belajar atau sebaliknya
terlalu berlebihan perhatiannya, bisa menyebabkan anak malas belajar. Tidak
cukup disitu, banyak orang tua di masyarakat kita yang menuntut anak untuk
belajar

hanya

demi

angka

(nilai

dan

bukan

mengajarkan

kepada

anak akan kesadaran dan tanggung jawab anak untuk belajar selaku pelajar.
Akibat dari tuntutan terseebut tidak sedikit anak yang stress dan sering marahmarah (ngmbek) sehingga nilai yang berhasil ia peroleh kurang memuaskan.
Parahnya lagi, tidak jarang orang tua yang marah-marah dan mencela anaknya
jika anak mendapat nilai yang kurang memuaskan.
b. Sikap guru
Guru sebagai tokoh teladan sering berinteraksi dengan anak dan dibanggakan
oleh mereka, tapi tidak jarang sikap guru di sekolah juga menjadi objek keluhan
siswanya. Ada banyak macam penyebabnya, mulai dari ketidaksiapan guru
dalam mengajar, tidak menguasai bidang pelajaran rumah. Selain itu, sikap
sering terlambat masuk kelas disaat mengajar, bercanda dengan siswa-siswi
tertentu saja atau membawa masalah rumah tangga ke sekolah, membuat suasana
belajar semakin tidak nyaman, tegang dan menakutkan bagi siswa tertentu.
c. Sikap teman
Ketika seorang anak berinterksi dengan teman-teman di sekolahnya, tentu secara
langsung anak bisa memperhatikan satu sama lainnya, sikap, perlengkapan
sekolah, pakaian dan aksesoris-aksesoris lainnya. Tapi sayangnnya tidak semua
teman di sekolah memiliki sikap atau perilaku yang baik dengan teman-teman
lainnya. Seorang teman yang berlebihan dalam perlengkapan sekolah seperti
sepatu yang bermerk, alat tulis, tas sekolah dan lainnya. Secara tidak langsung
dapat membuat iri teman-teman yang kurang mampu. Pada akhirnya ada anak
yang minta dibelikan perlengkapan sekolah yang serupa dengan temannya. Jika
tidak dituruti maka dengan cara malas belajarlah sebagai upaya untuk dituruti
permintaannya.
d. Suasana belajar di rumah
Bukan suatu jaminan rumah mewah membuat anak menjadi rajin belajar, tidak
pula rumah yang sangat sederhana menjadi faktor mutlak anak malas belajar.
Rumah yang tidak dapat menciptakan suasana belajar yang baik adalah keadaan

rumah yang berantakan dan kondisi udara yang pengap. Selain itu tersedianya
fasilitas-fasilitas permainan yang berlebihan di rumah juga dapat mengganggu
minat belajar.
e. Sarana belajar
Sarana belajar merupakan media mutlak yang dapat mendukung minat belajar.
Kendala belajar biasanya muncul karena tidak tersedianya ruang belajar khusus,
meja belajar, buku-buku penunjang dan tersedianya buku-buku pelajaran, buku
tulis dan alat-alat tulis lainnya, merupakan bagian lain yang cenderung menjadi
hambatan otomatis anak akan kehilangan minat belajar yang optimal.
Sedangkan Shafa mengalami kesulitan belajar atau malas belajar dikarenakan 2 faktor yaitu
1. Faktor intrinstik (dari dalam dirinya sendiri)
Rasa malas untuk belajar yang timbul dari dalam diri Shafa dapat disebabkan karena
kurang atau tidak adanya motivasi diri dan kepuasan karena sudah mengikuti les.
Anak ini merasa bahwa dengan dia ikut les, dia sudah tidak perlu lagi belajar di
rumah.
2. Faktor ekstrinsik (luar)
a. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anak.
Kedua orang tua sibuk bekerja, anak mereka dititipkan kepada ibu (nenek sang
anak). Ibu yang berkerja sebagai perawat selalu bekerja. Kita tahu bahwa
perawat bisa saja kerja shift pagi, siang, dan malam sesuai yang ditugaskan
kepadanya sehingga intensitas bersama anak kurang sekali. Pada hari libur pun
kadang tetap masuk kerja. Dari sang ayah sendiri juga sibuk bekerja, berangkat
pagi pulang malam sehingga kebersamaan dengan anak hanya terjadi di malam
hari.
b. Terlalu banyak bermain
Setiap pulang sekolah, selalu ada teman-teman yang mengajaknya untuk
bermain. Biasanya waktu bermainnya lama sekali, sore baru pulang.
c. Televisi
Adanya televisi sangat mempengaruhi minat anak untuk belajar. Kebiasaannya
setiap malam adalah menonton TV, padahal itu waktu untuk belajar. Apalagi
acara

TV yang

ditontonnya

berkisah

tentang

remaja

dengan

segala

problematikanya terutama percintaan yang seharusnya tidak ditonton oleh anak


usia SD. Anehnya orang tua tidak menegur dan menasehati anaknya, malah ikut
menonton TV bersama.

C. Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data mengenai Shafa dilakukan dengan berbagai pendekatan.
Dalam studi kasus ini pendekatan atau cara yang digunakan dalam rangka pengumpulan
data tentang siswa yang bermasalah ialah sebagai berikut:
1. Mewawancarai Shafa tentang kebiasaannya malas belajar.
2. Mewawancarai teman-teman Shafa tentang tingkah lakunya sehari-hari pada
umumnya dan dalam belajar pada khususnya.
3. Melakukan pengamatan terhadap perilaku belajar Shafa selama di rumah.
D. Diagnosis
Masalah yang dihadapi siswa SD sangatlah kompleks dan banyak faktor yang dapat
menyebabkan timbulnya masalah. Berdasarkan faktor yang dipaparkan di gambaran
masalah, dapat ditarik kesimpulan yang terjadi pada diri Shafa disebabkan oleh
1. Faktor yang Berasal dari Diri Sendiri
a. Motivasi yang kurang
b. Semua keinginanya harus dipenuhi
c. Suka bermain dengan teman-temannya
d. Suka menonton TV
2. Faktor dari Lingkungan dan Orang tua
a. Kurang bimbingan orang tua saat belajar
b. Pelanggara-pelangaran yang dilakukan oleh Shafa kurang mendapat teguran
dari orang tua.
c. Teman sekitar rumahnya tidak memiliki waktu belajar
Hal-hal tersebut berpengaruh terhadap Rafa yang menyebabkan Rafa malas belajar atau
berpikir untuk mengerjakan tugas.
E. Usaha Pencegahan
Masalah malas belajar yang terjadi pada diri Shafa tidak akan terjadi jika peluang-peluang
timbulnya kejadian ini dapat dihilangkan. Kegiatan pencegahan ini dapat dilakukan oleh
guru, orang tua, dan pihak-pihak terkait. Beberapa usaha yang dapat dilakukan guru untuk
mencegah masalah malas ini antara lain:
a. Menumbuhkan motivasi belajar yang kuat pada siswa
b. Memberikan tugas-tugas yang menarik bagi siswa sehingga siswa terdorong untuk
dapat menyelesaikannya
c. Memantau kegiatan belajar siswa di rumah dengan melalui penerapan buku
penghubung

Beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah anaknya malas belajar
antara lain:
a. Membuat peraturan jam belajar anak di rumah
b. Mematikan televisi pada saat jam belajar agar anak dapat fokus belajar
c. Mendampingi anak dalam belajar di rumah dengan mengisi buku penghubung yang
telah diberikan guru melalui anaknya
d. Memberi pengarahan kepada anak tentang pentingnya belajar
F. Prognosis/ Usaha Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah Shafa dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:
1. Terhadap Shafa
a. Mengajak Shafa berbincang-bincang mengenai masalah yang dihadapinya
sehingga memudahkan guru/pembimbing untuk mengetahui pribadi siswa dan
masalah yang sedang dihadapinya serta mempermudah memberikan bantuan dan
bimbingan.
b. Memberi bimbingan yang luas pada Shafa berhubungan dengan pendidikan
sehingga dapat menimbulkan minat dan motivasi untuk meningkatkan semangat
belajarnya.
c. Memberi pengarahan pada Shafa bahwa sikapnya yang semaunya sendiri
menimbulkan kerugian pada dirinya sendiri maupun terhadap orang lain di
sekitarnya.
d. Memberikan pengarahan dan penjelasan agar Shafa memperhatikan penjelasan
e.

dari guru.
Menasehati Shafa agar tidak telalu banyak menonton televisi, Disarankan

menonton televisi sesuai dengan umurnya.


2. Terhadap Orang Tua
a. Memberikan penjelasan pada orang tua agar selalu mengingatkan Shafa untuk
belajar dan selalu menasihati dan memberikan dorongan padanya untuk lebih
rajin belajar.
b. Memberikan penjelasan pada orang tua bahwa mereka harus selalu
memperhatikan dan membimbing anaknya untuk belajar lebih giat.
c. Memberikan penjelasan terhadap orang tua untuk tidak terlalu fokus pada
pekerjaan saja, melainkan terhadap anaknya karena itu merupakan tanggung
jawab utama dari orang tua.
G. Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Penanganan Masalah

Untuk mengatasi masalah malas belajar yang dilakukan Shafa diperlukan kerjasama dari
berbagai pihak, yaitu:
1. Shafa sendiri; tanpa keikutsertaannya secara aktif, masalah yang dihadapi tidak dapat
diselesaikan secara tuntas.
2. Guru-Guru; untuk memotivasi, mengawasi, dan membantunya agar Mardi dapat giat
belajar.
3. Orang tua Shafa; untuk memotivasi, mengawasi, dan membantunya agar Mardi dapat
giat belajar di rumah.
4. Teman-teman Shafa, supaya dapat mempengaruhi Shafa ikut giat belajar dengan
melakukan tugas kelompok.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masalah yang dihadapi siswa dalam kasus ini tidak memiliki waktu belajar dan siswa
kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Disini orang tua Shafa berperan
penting dalam membimbing Shafa dirumah.
B. Saran
1. Saran kepada objek studi kasus (Shafa)
a. Menanamkan dalam diri tentang pentingnya pendidikan bagi kehidupan.
b. Mengubah pola belajar, sebaiknya belajar secara rutin setiap pulang sekolah
dan malam harinya walau hanya sebentar.
2. Saran kepada Orang Tua
a. Sebaiknya orang tua memberikan perhatian yang lebih kepada anak, terutama
perkembangan belajar di rumah.
b. Hendaknya orang tua memberikan perhatian dengan porsi yang tepat tidak
hanya kebutuhan fisik saja akan tetapi kebutuhan psikis. Misalnya
menumbuhkan rasa percaya diri anak.
c. Hendaknya orang tua memperhatikan kebutuhan sosial anak
3. Saran kepada Guru
a. Guru harus lebih peka terhadap masalah belajar anak didiknya dan memberikan
solusi yang tepat untuk mengatasi masalah.
b. Guru harus lebih sering bekerjasama dengan orang tua siswa untuk mengetahui
perkembangan belajar siswa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Sunarno dan Ny. B. Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Rineka
Cipta

Prayitno dan Erman Amti. 2008. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Rineka
Cipta
Amti, Erman dan Marjohan. 1991. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Sembiring, Ronald. 2014. Solusi Terbaik Orang Tua Menghadapi Kebiasaan Malas Belajar
Pada Anak. http://bacakilat.com/solusi-terbaik-orangtua-mengatasi-kebiasaan-malasbelajar-pada-anak/. Diakses pada tanggal 15 Desember 2015
Ahmad,

Nuriyah.

2014.

Penyebab

Malas

Belajar

pada

Anak

Sekolah

Dasar.

http://www.kompasiana.com/nuriyahahmad/penyebab-malas-belajar-pada-anaksekolah-dasar_54f93e34a333116c048b491f. Diakses pada tanggal 17 Desember 2015

Anda mungkin juga menyukai