Anda di halaman 1dari 21

UJIAN AKHIR SEMESTER

FARMAKOEPIDEMIOLOGI
Dosen : Dra. Lili Musnelina, M.Si, Apt

Nama

: Nurul Fitryani

Nim

:12330088

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA

2016

Farmakoepidemiologi (UAS) 2016

Ujian Akhir Semester Farmakoepidemiologi


Selasa, 5 Januari 2016
Dosen : Lili Musnelina, Dra.M.Si.

Nama : Nurul Fitryani


Nim

: 12330088

1) Apa

yang

anda

ketahui

tentang

farmakoepidemiologi?

Mengapa

farmakoepidemiologi perlu dipelajari? Apa hubungannya farmakoekonomi


dengan clinical trial. Sejauhmana farmakoepidemiologi diperlukan dalam
pelayanan kesehatan, dan aspek apa saja yang perlu diketahui dalam
farmakoepidemiologi.
Jawaban :
farmakoepidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan obat
dan efeknya pada sejumlah besar manusia. Farmakoepidemiologi sebagi
aplikasi latar belakang, metoda dan pengetahuan epidemiologik untuk
mempelajari

penggunaan

Farmakoepidemiologi

dan

efek

menerapkan

obat

metode

dalam

populasi

epidemiologi

manusia.

untuk

studi

penggunaan klinis obat dalam masyarakat.


Epidemiologi : Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi
(Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok
orang/masyarakat

serta

Determinannya

(Faktor

factor

yang

Mempengaruhinya). Suatu ilmu yang awalnya mempelajari timbulnya,


perjalanan, dan pencegahan pada penyakit infeksi menular. Tapi dalam
perkembangannya hingga saat ini masalah yang dihadapi penduduk tidak
hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit tidak menular, penyakit
degenaratif, kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya.
Oleh karena itu, epidemiologi telah menjangkau hal tersebut.
Farmakoepidemiologi perlu dipelajari karena mendukung penggunaan obat
rasional dan biaya obat yang efektif di masyarakat, dengan demikian
meningkatkan hasil kesehatan. Farmakoepidemiologi juga dapat digunakan

untuk penyediaan informasi mengenai keuntungan dan bahaya penggunaan


obat dan pertimbangan pemilihan penggunaan obat, sesuai pada kondisi
pasien. karena karena dengan ilmu tersebut seorang farmasis dapat
mempelajari sekaligus memahami penggunaan suatu obat dan efeknya
terhadap penyakit tertentu yang timbul pada suatu populasi manusia.
Hubungan farmakoekonomi dengan clinical trial :
Hubungan farmakoekonomi dengan clinical trial umumnya

untuk

mengevaluasi efficacy dan safety suatu obat, rancangan study penggunaan uji
klinik. melalui kegiatan riset farmakoekonomi yang menyangkut identifikasi,
mengukur dan membandingkan biaya serta dampak klinik, yang tidak terlepas
pula masalah ekonomi serta kemanusiaan dari produk dan pelayanan farmasi,
diharapkan dapat dengan mudah dipilih suatu obat yang sesuai dengan
keadaan pasien baik keadaan klinik maupun sosial ekonominya. lebih jauh
dapat

dikemukakan

disini

bahwa

dengan

mengunakan

pendekatan

farmakoekonomi, maka dapat ditetapkan jenis obat dalam formularium rumah


sakit dan asuransi kesehatan, jenis obat yang dapat dikembangkan oleh
industri farmasi, dan jenis obat untuk pasien dengan kondisi penyakit tertentu.
farmakoekonomi merupakan pendekatan penting untuk melakukan pemilihan
secara rasional dan cost-effective suatu intervensi produk farmasi, serta akan
meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya kesehatan,
serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Farmakoepidemiologi perlu dipelajari, karena karena dengan ilmu tersebut
seorang farmasis dapat mempelajari sekaligus memahami penggunaan suatu
obat dan efeknya terhadap penyakit tertentu yang timbul pada suatu populasi
manusia dan melalui beberapa hal seperti :
a) Walaupun teknologi kedokteran telah menngalami kemajuan yang sangat pesat, tetapi
masih banyak faktor penyebab penyakit yang belum terungkap terutama penyakitpenyakit kronis, dan penyakit yang belum pernah terjadi atau penyakit baru dan
belum pernah di laporkan sebelumnya. Dalam hal demikian, pendekatan
epidemiologi merupakan cara yang paling efektif dan efisien untuk mengungkapkan
penyebabnya.

b) Keberhasilan percobaan pengobatan penyakit atau pencegahan penyakit yang


dilakukan di klinik atau di laboratorium masih harus di uji kemampuannya di
masyarakat
c) Frekuensi distribusi penyakit yang diperoleh di rumah sakit harus di sesuaikan
dengan kondisi di masyarakat.
d) Dalam upaya peningkatan derajat kesahatan masyarakat melalui pelayanan kesahatan
di butuhkan informasi tentang yang terkena, jumlah orang yang terkena, dimana dan
bilaman terkenanya. Penyebaran dan penyebabnya. Informasi tersebut dapat
diperoleh melalui studi epidemiologis
e)

Dalam menghadapi masalah kesehatan masyarakat seperti pencegahan penyakit atau


fenomena lain seperti ledakan penduduk dapat dilakukan dalam upaya imunisasi,
penyaringan terhadap orang yang mempunyai risiko terkena suatu penyakit walaupun
penyakit belum tampak, dan upaya keluarga berencana untuk mengatasi ledakan
penduduk.

o Farmakoepidemiologi

diperlukan

dalam

pelayanan

kesehatan,

karena

pengetahuan dalam bidang farmakoepidemiologi kepada seorang farmasis dapat


memepelajari penggunaan obat dan efek yang ditimbulkan obat tersebut dalam
pemakaiannya di masyarakat. Sehingga dapat dilakukan pengembangan atau
pemodifikasian suatu obat agar memiliki efek terapetik yang optimal terhadap
penyakit tertentu. Adapun pe;ayanan kesehatan yang di lakukan seperti :
1. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit
dalam upaya menanggulanginya.
2. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang
perlu dipecahkan.
3. Mengidentifikasi factor-faktor yang berperan dalam terjadinya penyakit atau
masalah kesehatan dalam masyarakat.
4. Menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan
pengambilan keputusan.
5. Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau
telah dilakukan. Bila dari hasil evaluasi program tersebut dianggap tidak
berhasil, maka dapat dihentikan atau dirubah dengan program lain setelah
mengetahui penyebab yang sebenarnya. Misalkan : program fogging untuk

memberantas nyamuk dewasa dapat diganti dengan menggalakkan kegiatan 3


M

(Menguras,

Menutup

sumber

air, Mengubur)

setelah

diketahui

penyebabnya adalah perilaku penduduk.


Aspek yang perlu diketahui dalam farmakoepidemiologi, yaitu :
a. Aspek Akademik
Secara akademik, epidemiologi berarti analisis data kesehatan, sosial ekonomi, dan
kecenderungan yang terjadi untuk mengadakan identifikasi dan interpretasi perubahanperubahan keadaan kesehatan yang terjadi atau akan terjadi di masyarakat umum atau
kelompok penduduk tertentu.
b. Aspek Praktis
Ditinjau dari segi praktis, epidemiologi merupakan ilmu yang ditujukan pada upaya
pencegahan penyebaran penyakit yang mcnimpa individu, kelompok, atau masyarakat
umum.Dalam hal ini, penyebab penyakit tidak harus diketahui secara pasti, tetapi
diutamakan pada cara penularan, infektivitas, menehindarkan agen yang diduga sebagai
penyebab, toksin atau lingkungan, dan membentuk kekebalan untuk menjamin kesehatan
masyarakat. Misalnya:
a. Ditemukannya efek samping obat iodokloroquinolin yang serius di Jepang,
walaupun saat itu mekanismenya belum diketahui dengan jelas dan di Indonesia
belum diternukan adanya efek samping tersebut, tetapi pemcrintah Indonesia
melalui Depanemen Kesehatan telah melarang beredarnya obat tersebut. Hal ini
dimaksudkan untuk mencegah penyebaran efek samping obat tersebut masuk ke
b.

Indonesia.
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), walaupun cara perlindungan
dan pengobatan belum diketahui, tetapi telah dilakukan berbagai upaya untuk
mencegah pcnyebaran penyakit tersebut, misalnya harus ada keterangan bebas
AIDS untuk dapat masuk suatu negara, screening pada donor darah,
pengawasan terhadap homoseks, dan lain-lain.

c. Aspek Klinis
Ditinjau dari aspek klinis, epidemiologi berarti suatu usaha untuk mendeteksi secara dini
perubahan insidensi atau prevalensi melalui penemuan klinis atau laboratoris pada awal
kejadian luar biasa atau timbulnya penyakit Baru seperti, karsinoma vagina pada gadis
remaja atau AIDS yang awalnya ditemukan secara klinis.
d. Aspek Administratif

Epidemiologi secara administratif berarti suatu usaha untuk mengetahui status


kesehatan masyarakat disuatu wilayah atau negara agar dapat diberikan pelayanan
kesehatan yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Usaha ini
membutuhkan data tentang pengalaman petugas kesehatan setempat, data populasi, dan
data tentang pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat.
a. Suatu cabang ilmu kesehatan Suatu cabang ilmu kesehatan.
b. Menganalisis sifat dan penyebaran masalah Menganalisis sifat dan penyebaran
c.
d.

masalah kesehatan kesehatan.


Filosofi dasar ilmu-ilmu kesehatan Filosofi dasar ilmu-ilmu kesehatan.
Memahami hubungan interaksi antara proses fisik,Memahami hubungan interaksi

e.

antara proses fisik, biologis, dan sosial. biologis, dan sosial.


Fokus pada penduduk atau kelompok masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu.

f.
g.

Tertentu.
Cara pendekatan ilmiah mencari faktor-faktor penyebab dan hubungan sebab akibat.
Epidemiologi deskriptif adalah ilmu yang menggambarkan penyebaran/distribusi
penyakit yang terjadi di masyarakat berdasarkan variabel epidemiologi yang
mempengaruhinya.
Referensi buku :
1. materi farmakoepidemiologi : Dr.Rina Herowati,M.Si.,Apt
2. http://kampusfarmasi.blogspot.co.id/2015/08/farmakoepidemiologi-danfarmakologi.html
3. https://rinaherowati.files.wordpress.com/2012/10/1-pendahuluan.pptx
4. Budiharto Martuti, Kosen Soewarta, 2008. Peranan Farmakoekonomi Dalam
Sistem Pelayanan Kesehatan Di Indonesia.jakarta: Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan-Vol.11:337-340
5. https://epidemiolog.wordpress.com/2011/02/24/tujuan-manfaat-dan-peranepidemiologi/
6. Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC

2) Apa yang anda ketahui mengenai penyakit cardiovaskular ? apa penyebab


penyakit faktor resiko terjadinya penyakit tersebut dan bagaimana cara
pencegahannya.
Jawaban :
kardiovaskular adalah penyakit yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan
pembuluh darah. Dan kardiovaskular dipakai pada kondisi yang melibatkan
penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang nantinya dapat
menyebabkan serangan jantung, nyeri dada (angina pectoris) ataupun stroke.

penyakit kardiovaskular yang paling umum dan terkenal adalah penyakit


jantung dan stroke.
penyebab faktor resiko penyakit jantung terdir dari faktor risiko yang tidak
dapat dimodifikasi dan yang dapat dimodifikasi
faktor resiko yang tidak dapat dimodifiksi :
1. riwayat keluarga
2. jenis kelamin
3. umur
4. obesitas
faktor resiko yang dapat dimodifikasi :
1. hipertensi
2. diabetes melitus
3. dislipidemia
4. kurang aktivitas fisik
5. diet tidak sehat
6. stress
cara pencegahannya :
deteksi dini penyakit cardiovaskuler dan penanganan awal hipertensi dan
faktor risiko lainnya, contohnya melalui kebijakan kesehatan masyarakat
untuk mengurangi paparan terhadap faktor risiko perilaku, telah berkontribusi
secara bertahap terhadap turunnya kematian karena serangan jantung dan
stroke di negara berpenghasilan tinggi lebih dari tiga dekade terakhir. jika
hipertensi dapat di deteksi sejak dini maka kemungkinan terjadinya risiko
serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal dapat diminimalisir.
deteksi sejak dini dapat menurunkan biaya pengobatan yang dibutuhkan untuk
mencegah serangan jantung dan stroke. orang dewasa tanpa terkecuali
disarankan untuk memeriksa tekanan darahnya dan mengetahui tingkat
tekanan darahnya. tekanan darah dapat diukur dengan menggunakan alat
pengukur tekanan darah digital. jika terdeteksi mengalami hipertensi, maka
selanjutnya perlu memeriksakan dirinya ke tenaga kesehatan.
sebagaimana penyakit menular lainnya, perawatan diri dapat memfasilitasi
deteksi dini penderita hipertensi, kepatuhan terhadap pengobatan dan perilaku
hidup sehat, pengendalian dan kewaspadaan yang lebih baik terhadap
pentingnya mencari pertolongan kesehatan jika dibutuhkan.
pencegahan dan pengendalian penyakit jantung :
untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dalam menjalankan pola
hidup sehat, diperlukan kebijakan yang mendukung agar masyarakat
termotivasi dalam melaksanakan dan mempertahankan perilaku hidup
sehat. pemerintah indonesia telah membuat kebijakan kesehatan

sebagai salah satu cara mencegah dan mengendalikan penyakit tidak


menular .
Referensi buku :
1. Info Datin, 2014. Situasi Kesehatan Jantung.Jakarta Selatan:Pusat data dan
informasi Kemenkes RI.
2. https://www.jevuska.com/2013/12/22/penyakit-jantung-kardiovaskular/
3) Bagaimana menurut anda hubungan antara pengobatan dengan obat dan efek
samping yang timbul. Apa kaitannya hal tersebut diatas dengan macam-macam
study disain tersebut.
Jawaban :
Menurut saya hubungan antara pengobatan dengan obat dan efek samping yang
timbul, yaitu ada karena hubungan antara pengobatan dengan obat terhadap efek
samping yang timbul dapat terjadi akibat dari penggunaan obat terhadap penyakit
tertentu. Biasanya efek samping akan timbul apabila pengobatan dengan obat
dilakukan pada jangka panjang untuk mengobati penyakit yang kronik, sehingga efek
sampingpun akan timbul selama penggunaan obat dalam jangka panjang tersebut.
Pada penggunaan obat tertentu afek samping biasanya dapat menyebabkan kerusakan
pada organ seperti ginjal yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit lain yang
biasanya akan memeperparah penyakit yang sebelumnya diderita karena apabila salah
dalam pengkombinasian obat maka dapat mengancam kesehatan orang tersebut.
Perbedaan antara pengobatan dengan obat dan pengobatan tanpa obat yang
dikaitkan dengan macam macam studi disain adalah dalam pengobatan tanpa obat
(pengobatan sendiri) oleh masyarakat bertujuan untuk mengobati penyakit tanpa
resep/ tenaga medis. Sehingga kaitanya dengan macam macam desain studi
deskriptif maupun analitiknya kurang begitu berpengaruh karena pengobatan
dilakukan tanpa obat sehingga efek sampingpun sulit terdeteksi karena tidak ada
acuan dalam penanganannya.

Kekurangan dan kelebihan dari masing masing studi disain, yaitu :


1. Studi Kasus Control
Studi Kasus Control merupakan studi observasional yang menilai hubungan
paparan penyakit dengan cara menentukan sekelompok orang-orang berpenyakit
(kasus) dan sekelompok tidak berpenyakit (kontrol), lalu membandingkan
frekuensi paparan pada kedua kelompok.
Kekurangan Studi Kasus Control, yaitu :
a. Tidak dapat dipakai untuk menentukan angka insidensi (incidence rate)
penyakit.
b. Data faktor resiko disimpulkan setelah penyakit terjadi sehingga data tidak
lengkap dan sering terjadi penyimpangan.
c. Odds Ratio tidak dapat digunakan untuk mengestimasi resiko relatif jika
masalah kesehatan yang sedang diteliti terdapat di masyarakat lebih dari
5%.
d. Sulit untuk menghindari bias seleksi karena populasi berasal dari dua
populasi yang berbeda.
Kelebihan Studi Kasus Control, yaitu :
a. Sangat berguna untuk meneliti masalah kesehatan yang jarang terjadi di
masyarakat.
b. Sangat berguna untuk meneliti masalah kesehatan yang terjadi secara laten
di masyarakat.
c. Sangat berguna untuk mempelajari karakteristik berbagai faktor resiko
potensial pada masalah kesehatan yang diteliti.
d. Hanya memerlukan waktu yang singkat dan biaya yang lebih murah
dibandingkan dengan studi kohort.
2. Studi Kohort
Studi kohort merupakan desain observasional yang mempelajari hubungan antara
paparan dan penyakit, dengan memilih dua atau lebih kelompok-kelompok studi
berdasarkan perbedaan status paparan, kemudian mengikuti sepanjang suatu

periode waktu untuk melihat berapa banyak subyek dalam masing masing
kelompok mengalami penyakit.
Kekurangan Studi Kohort, yaitu :
a. Memerlukan ukuran sampel yang besar, terutama untuk jenis penyakit
yang jarang dijumpai di masyarakat.
b. Memerlukan waktu follow up yang cukup lama.
c. Biaya yang diperlukan selama melaksanakan studi cukup besar.
d. Follow up kadang sulit dilakukan dan sampel yang loss overload dapat
mempengaruhi hasil studi.
Kelebihan Studi Kohort, yaitu :
a. Dapat digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya asosiasi antara
faktor resiko dan penyakit.
b. Sangat bermanfaat untuk studi penyakit-penyakit yang jarang dijumpai di
masyarakat.
c. Dapat memberikan keterangan yang lengkap mengenai faktor resiko
(pajanan) yang dialami oleh individu dan riwayat alamiah perjalanan
penyakit.
d. Masalah etika lebih sedikit daripada studi eksperimental.
e. Dapat secara langsung menghitung angka insidensi penyakit dan resiko
relatif, serta dapat mengetahui faktor resiko yang sedang diteliti.
f. Informasi mengenai studi mudah dimengerti oleh orang selain ahli
farmakoepidemiologi.
3. Studi Cross Sectional
Studi cross sectional (potong lintang) adalah studi epidemiologi yang mempelajari
prevalensi, distribusi, maupun hubungna penyakit dan paparan (faktor penelitian)
dengan cara mengamati status paparan, penyakit, atau karakteristik terkait
kesehatan lainnya, secara serentak pada individu-individu dari suatu populasi pada
saat itu.
Kekurangan Studi Cross Sectional, yaitu :
a. Tidak dapat dipakai untuk meneliti penyakit yang terjadi secara akut dan
cepat sembuh (durasi penyakit pendek).
b. Tidak dapat menjelaskan apakah penyakit atau faktor resiko (pajanan)
yang terjadi lebih dulu.
c. Sering terjadi penyimpangan berupa bias observasi dan bias respon.
Kelebihan Studi Cross Sectional, yaitu :
a. Mudah dilakukan dan relatif lebih murah dibandingkan studi kohort.
b. Dapat memberikan informasi mengenai frekuensi dan distribusi penyakit
yang menimpa masyarakat, serta informasi mengenai faktor resiko atau
karakteristik lain yang dapat menyebabkan kesakitan pada masyarakat.
c. Dapat dipakai untuk mengetahui stadium dini atau kasus subklinis suatu
penyakit, seperti pemeriksaan pap-smear pada kanker leher rahim.

4) Paparan penyakit seringkali timbul akibat pencemaran lingkungan, apa saja


yang menjadi faktor penyebabnya, Bagaimana menurut anda penanganan
pasien yang terpapar oleh pencemaran udara dan langkah-langkah apa saja
yang perlu dilakukan.
Jawaban :
Faktor penyebab paparan penyakit yang timbul akibat pencemaran lingkungan ialah
1. radiasi elektromagnetik
2. radiasi Ultraviolet
3. radiasi radioaktif (ionisasi)
4. polusi udara
5. bising
6. air terkontaminasi
7. lingkungan kerjan dan tempat tinggal yang terdapat pajanan bahan kimia yang
berdampak buruk terhadap kesehatan dan tempat tinggal yang tidak sehat
paparan penyakit yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan di sebabkan oleh
jenis pencemaran lingkungan menurut tempat terjadinya dan sumbernya, antara lain
sebagai berikut :
a. Pencemaran Udara
pencemaran udara disebabkan oleh asap buangan misalnya:
1. Karbon monooksida (CO)
2. SO dan SO2
3. CFC
4. CO2
5. asap rokok
6. debu
7. nitrogen oksida (NOX)
8. emisi hydrocarbon (HC)
b. Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah banyak diakibatkan oleh sampah organic dan anorganik
yang berasal dari limbah rumah tangga, pasar, industri, kegiatan pertanian,
peternakan, dan sebagainya. Sampah organic dapat dihancurkan oleh jasad
renik menjadi mineral, gas, dan air, sehigga membentuk humus. Sampah
organic itu misalnya, dedaunan, jaringan hewan, kertas, kulit, dan sebagainya.
Sebaliknya, sampah anorganik seperti besi, alumenium, kca, dan bahan sintetik
seperti plastic, sulit untuk dapt diuraikan, jika plastik di darat akan terurai
sekitar 1000 tahun yang akan dating setelah plastik dibuang.
c. Pencemaran Air
sumber pencemaran air :

1. limbah pertanian, yang dapat mengandung polutan insektisida ataupun pupuk


organik
2. limbah rumah tangga, dapat berbagai bahan organik (sisa sayur, ikan, nasi,
minyak, lemak, air buangan manusia), bahan anorganik (plastik, aluminium,
dan botol yang hanyut terbawa arus air) dan sampah-sampah tersebut akan
tertimbun dan tersumbat di saluran air yang menyebababkan kebanjiran dan
sarana penyakit bagi manusia
3. Limbah Industri
Limbah industri bisa berupa polutan organik yang berbau busuk, polutan
anorganik yang berbuih dan berwarna, polutan yang mengandung asam
belerang berbau busuk, dan polutan berupa cairan panas. Tumpahan minyak
mengancam kehidupan ikan, terumbu karang, burung laut, dan organismelaut
lainnya
4. Penangkapan Ikan Menggunakan Racun
Ada orang yang menggunakan tuba (racun dari tumbuhan), potas, ( racun
kimia), atau aliran listrik untuk menangkap ikan. Akibatnya, yang mati tidak
hanya ikan tangkapan, melainkan juga biota air lainnya. Perbuatan tersebut
sangat merugikan lingkungan dan kelestarian biota air. Jika suatu makhluk
hidup punah, manusia tidak dapat memunculkannya kembali.
d. Pencemaran Suara
Pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkatkan oleh
bunyi atau suara yang mengganggu ketentraman makhluk hidup di sekitarnya.
Pencemaran suara biasanya diukur dalam satuan dB atau desibel. Pencemaran
suara yang bersifat terus-menerus dengan tingkat kebisingan di atas 80 dB
dapat mengakibatkan efek atau dampak yang merugikan kesehatan manusia.
Berikut ini adalah beberapa efek samping negatif dari pencemaran suara :
stres, gila, perubahan denyut nadi, tekanan darah berubah, gangguan fungsi
jantung, kontraksi perut, gangguan janin dalam kandungan, gangguan
tidur.Berikut ini adalah contoh kebisingan yang menimbulkan pencemaran
suara : 1. Orang ngobrol biasa = 40 dB 2. Orang ribut / silat lidah = 80 dB 3.
Suara kereta api / krl = 95 db 4. mesin motor 5 pk = 104 dB 5. suara gledek /
geledek / petir = 120 dB 6. Pesawat jet tinggal landas = 150 dB.
e. Pencemaran Biologi dan Kimia
Bahan pencemar dibedakan menurut jenisnya, yaitu bahan pencemar biologis
dan bahan pencemar kimiawi. Bahan pencemar biologis antaralain bakteri
penghuni usus besar (bakteri E. Coli), bakteri tipus, dan Amoeba

coli.Tumbuhan pengganggu (gulma), seperti eceng gondok, Hydrilla sp., dan


kiambang, juga dapat mencemari perairan. Setelah itu, sampah-sampah dari
tumbuhan air yang mati dan membusuk dengan jumlah terlalu banyak dapat
mencemari lingkungan. Pencemaran kimia dapat disebabkan oleh berbagai zat
organik, misalnya minyak, pestisida, dan p[upuk organik. Kedua macam zat
pencemar tersebut dapat mencemari air dan tanah. Berbagai jenis logam berat,
misalnya raksa, timbal, dan arsen, juga dapat mencemari lingkungan terutama
air. Bahan pencemar kimia dari limbah rumah tangga, misalnya detergen.
FAKTOR PENYEBAB PENCEMARAN UDARA :
Pencemaran udara disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Faktor alam (internal), yang bersumber dari aktivitas alam, contoh :

abu yang dikeluarkan akibat letusan gunung berapi

gas-gas vulkanik

debu yang beterbangan di udara akibat tiupan angin

bau yang tidak enak akibat proses pembusukan sampah organik

Faktor manusia (eksternal), yang bersumber dari hasil aktivitas manusia,


contoh:

hasil pembakaran bahan-bahan fosil dari kendaraan bermotor

bahan-bahan buangan dari kegiatan pabrik industri yang memakai zat kimia
organik dan anorganik

pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara

pembakaran sampah rumah tangga

pembakaran hutan

Udara pada lingkungan tercemar oleh zat-zat polutan sehingga tidak bersih lagi
dan merupakan gangguan bagi makhluk hidup/manusia sekitarnya. Dengan

kemajuan teknologi pada masa kini, polusi udara telah menimbulkan banyak
kekhawatiran terutama di daera daerah industri.
Penyebab polusi udara dapat terjadi akibat dari, yaitu;
Kendaraan bermotor
Semua kendaraan bermotor yang memakai bensi dan solar akan mengeluarkan gas
CO, Nitrogen Oksida, blerang dioksida dan partikel-partikel lain dan sisa
pembakarannya. Unsur-unsur ini bila mencapai kuantum tertentu dapat merupakan
racun bagi manusia atau hewan. Sebagai contoh gas CO merupakan racun bagi
fugnsi-fungsi darah, SO2 dapat menimbulkan penyakit sistem pernapasan.
Pabrik Pabrik industri
Bagi pabrik industri yang di antara bahan bakunya banyak menggunakan zat-zat
kimia organik maupun anorganik. Sebagai hasi pengelolaannya selai menghasilkan
produk-produk yang berguna bagi kepentingan hidup manusia juga dikeluarkan
produk-produk yang tidak berguna malahan dapat berupa racun. Produk-produk yang
tidak berguna ini jelas akan dibuang dan bisa merusak lingkungan, berupa gangguan
pada kehidupan dan kelestarian lingkugan bila tanpa pengendalian. Berbagai bentuk
penyakit akan timbul pada masyarakat di sekitar pabrik atau pada pekerja sendiri
akibat masuknya zat-zat buangan ini ke dalam tubuh. Misal dengan timbulnyaapa
yang disebut penyakit Pneumokoniosis, yaitu segolongan penyakit yang disebabkan
oleh penimbunan debu-debu dalam paru-paru.
Untuk menentukan apakah orang tersebut terserang penyakit paru-paru akibat
penimbunan debu dalam paru-paru, tidak mudah kalau hanya berdasarkan kelainankelainan yang terjadi pada tubuh. Harus ada riwayat pekerjaan atau lingkungan tempat
tinggal ang selalu mereka gunakan atau sering berurusan dengan debu-debu yang
membahayakan misalnya pernah bekerja atau pernah tinggal di sekitar petambangan,
di pabrik keramik dan lain-lain.
Kelainan yang terjadi pad atubuh bergantung pada banyaknya debu yang timbul
dalam paru-paru, makin luas bagian paru yang terkena makin hebatlah gejalagejalanya, walaupun hal itu tidak selalu benar. Gejala yang timbul, antara lain batuk-

batuk kering, sesak napas, kelelahan umum, berat badan yang turun, banyak berdahak
dan lain-lain.
Untuk pengobatan secara khusus terhadap penyakit ini boleh dikatakan tidak ada.
Pemberian obat-obatan umumnya hanya ditujukan untuk mengurangi penderitaan dan
gejala-gejala yang timbul. Satu-satunya tindakan adalah yang bersangkutan tidak lagi
mengisap debu berbahaya tadi.
Dengan demikian pencegahan merupakan hal yang perlu diutamakan. Biaya
pencegahan relatif tidak seberapa bila dibandingkan dengna akibat penyakit ini.
PENANGANAN PASIEN YANG TERPAPAR PENCEMARAN UDARA :
Penanganan pasien yang terpapar oleh pencemaran udara, menrut saya
penanganannya dengan cara memberi ruang dengan udara yang bersih agar
pernapasannya baik dan diberi air putih lalu di rujuk ke rumah sakit agar di
berikan penanganan lebih lanjut oleh dokter dan tenaga medis lainnya.
a. Pada penderita kanker paru akibat tercemar udara ditangani dengan cara
perawatan paliatif, pembedahan, kemoterapi, dan terapi radiasi.
b. Pada penderita asma yang tercemar udara obat inhaler sangat penting karena

lebih efektif dan efeknya lebih cepat dalam mengendalikan asma.


Pada penderita bronkitis :
Terapi umumnya difokuskan pada pengentasan tujuan symptoms.Toward ini,
dokter mungkin meresepkan kombinasi obat yang terbuka menghalangi saluran
udara bronkial dan lendir obstruktif tipis sehingga dapat batuk dengan lebih
mudah.
Perawatan untuk bronkitis akut terutama mendukung dan harus memastikan
bahwa pasien oxygenating memadai. Istirahat di tempat tidur dianjurkan.
Cara yang paling efektif untuk mengendalikan batuk dan produksi sputum pada
pasien dengan bronchitis kronis adalah menghindari iritasi lingkungan, terutama

asap rokok
Pemberian antikejang untuk serangan tiba-tiba
Pemberian kortikosteroid dan manitol untuk edema serebral;
Pada Penderita Pneumonia :
Pneumonia yang disebabkan oleh jamur akan mendapatkan pengobatan dengan
pemberian antijamur.
Pneumonia yang disebabkan oleh virus akan diberikan pengobatan yang hampir
sama dengan penderita flu, namun lebih ditekankan dengan istirahat yang cukup

dan pemberian intake cairan yang cukup banyak serta gizi yang baik untuk
membantu pemulihan daya tahan tubuh.
LANGKAH-LANGKAH APA SAJA YANG PERLU DI LAKUKAN :
a.
b.
c.
d.

Perlu dibatasi penggunaan bahan bakar yang menghasilkan CO.


Pemberian edetat calcium disodium secara IV atau IM.
Penggunaan terapi kelasi
Menerapkan program penghijauan di kota-kota untuk mengurangi tingkat

pencemaran.
e. Perawatan suportif;
f. Memilih lokasi pabrik dan industri yang jauh dari keramaian dan pada
tanah yang kurang produktif.
g. Penghentian paparan dengan segera;
h. Pemberian antikejang untuk serangan tiba-tiba;
i. Gas-gas buangan pabrik perlu dibersihkan dahulu sebelum dikeluarkan ke
udara bebas. Pembersihan dapat menggunakan alat tertentu, misalnya
cottrell yang berfungsi untuk menyerap debu. Meningkatnya kadar karbon
dioksida di atmosfer juga dapat membahayakan kelangsungan hidup
makhluk hidup yang ada di bumiini. Konsentrasi karbon dioksida yang
berasal dari sisa pembakaran, asap kendaraan, dan asap pabrik dapat
menimbulkan efek rumah kaca (green house effect).
Untuk menanggulangi pencemaran udara perlu mengetahui sumber pencemar
dan pengaruh ditimbulkannya. Seperti kita ketahui bahwa sumber utama
pencemaran udara adalah gas buang yang dihasilkan dari alat transportasi,
proses dalam industri, aktivitas rumah tangga, kebakaran hutan, dan aktivitas
gunung berapi. Agar lingkungan tidak bertambah berat menanggulangi akibat
pencemaran udara, sebaiknya setiap individu mampu menahan diri untuk tidak
mencemari lingkungan udara. Hal ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
a. Penggunaan kendaraan bermotor secara efektif.
b. Kendaraan bermotor yang berpotensi tinggi mencemari udara dan sudah tidak
layak pakai sebaiknya di daur ulang.
c. Setiap industri yang menghasilkan gas buang, sebaiknya dilengkapi alat
pengolahan limbah emisi gas buang, terutama pada cerobong asap. Ini dapat
dilakukan dengan menggunakan converter katalitik atau alat pengendap
Cottrell.
d. Di rumah-rumah sebaiknya digunakan sumber energi yang menghasilkan gas
buang sedikit.

e. Hutan-hutan yang berpotensi mengembalikan keseimbangan gas di atmosfer


sebaiknya dipertahankan keasriannya. Jangan menebang pohon sembarangan.
Karena tumbuhan hijau dapat menyerap gas CO2 dan melepaskan O2.
f. Di kota-kota besar dan perumahan sebaiknya diadakan penghijauan.
Tumbuhan di pinggir jalan selain memberikan rasa nyaman dan teduh juga
dapat menyaring polutan udara yang dihasilkan kendaraan bermotor.
g. Di bidang industri misalnya dengan mengurangi jumlah air yang dipakai,
mengurangi jumlah limbah, dan mengurangi keberadaan zat kimia PBT
(Persistent, Bioaccumulative, and Toxic), dan berangsur-angsur menggantinya
dengan Green Chemistry.
h. Langkah pengendalian sangat penting untuk menjaga lingkungan tetap bersih
dan sehat. Pengendalian dapat berupa pembuatan standar baku mutu
lingkungan, monitoring lingkungan dan penggunaan teknologi untuk
mengatasi masalah lingkungan. Jika semua individu menyadari pentingnya
kualitas lingkungan yang bersih dan asri, pencemaran udara dapat
ditanggulangi tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.
Referensi buku :
1. https://www.academia.edu/9294225/FAKTOR__FAKTOR_LINGKUNGAN_YANG_DAPAT_MEMPENGARUHI_KESEHATA
N_LINGKUNGAN_YANG_AKHIRNYA_DAPAT_MENIMBULKAN_GANGG
UAN_KEPADA_MANUSIA
2. http://catatanfisika08.blogspot.co.id/2011/04/makalah-polusi-udara-dan-sampahb3.html.
3. http://paru-paru.com/penyakit-pneumonia/
5) Sebutkan dan jelaskan persamaan dan perbedaan antara HACCP (Hazard
Analysis & Critical Control Point) dengan MESO (Monitoring Efek Samping
Obat).

Bagaimana

kedua

penilaian

ini

diaplikasikan

dalam

farmakoepidemiologi?
Jawaban :
Perbedaan dan persamaan antara HACCP (Hazard Analysis & Critical Control Point)
dengan MESO (Monitoring Efek Samping Obat):
MESO Monitoring Efek Samping Obat, adalah program pemantauan keamanan obat
sesudah beredar (pasca-pemasaran). Program ini dilakukan secara berkesinambungan
untuk mendukung upaya jaminan atas keamanan obat, sejalan pelaksanaan evaluasi
aspek efikasi, MESO oleh tenaga kesehatan di Indonesia masih bersifat sukarela

(voluntary reporting ) dengan menggunakan formulir pelaporan ESO berwarna


kuning, yang dikenal sebagai Form Kuning. Monitoring tersebut dilakukan terhadap
seluruh obat yang beredar dan digunakan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.
Aktifitas monitoring ESO dan juga pelaporannya oleh sejawat tenaga kesehatan
sebagai healthcare provider merupakan suatu tool yang dapat digunakan untuk
mendeteksi kemungkinan terjadinya ESO yang serius dan

jarang terjadi (rare).

keamanan dan mutu sebelum suatu obat diberikan ijin edar (pra-pemasaran)
Efek Samping Obat (ESO) dan Monitoring Efek Samping Obat (MESO) Merupakan
suatu upaya yang dilakukan oleh tenaga professional kesehatan pada umumnya dan
apoteker pada khususnya untuk memantau, mengawasi dan menanggulangi efek
samping obat.
Tujuan MESO :

u/ menghindari terjadinya ESO karena penggunaan yang tidak benar, salah

pemberian dosis, rute pemberian obat yang salah


supaya obat sampai ke penderita dengan aman, cepat, dan tepat.
Diharapkan obat bermanfaat u/ penderita tanpa ada resiko
Akan meningkatkan akreditasi RS
Pembagian edukasi yang berkaitan dengan obat
Peningkatan pelayanan pasie

Manfaat MESO

Memberikan suatu ukuran mutu pelayanan farmasi melalui identifikasi ESO

yang dapat dicegah


Untuk meminimalkan tuntutan ganti rugi dari pasien
Mengkaji keamanan terapi obat tutama obat baru
Mengukur laju kejadian ESO sepanjang waktu
Memberi edukasi kepada pihak professional kesehatan tentang efek obat dan
meningkatkan kewaspadaan mengenai ESO

Jaminan mutu u/ digunakan dalam terapi oba

Metoda Pelaksanaan MESO

Pengumpulan laporan sukarela dari dokter, dokter gigi, perawat, bidan, mantri
Pengumpulan laporan dari sumber lain seperti brosur dari pabrik obat, panitia

MESO dll
Mengkaji catatan sejarah pengobatan pasie
Pemantauan obat tertentu dengan memantau kondisi semua pasien yang
menggunakan obat tersebut

MESO yang terpadu dengan system pencatatan dan pelaporan unit2 pelayanan

kesehatan di RS
MESO secara wajib ditetapkan melalui peraturan perUU

Pelaksanaan MESO:

Monitoring penggunaan obat di ruangan


Monitor cara penyimpanan obat
Monitor mutu obat yang sering digunakan
Monitoring penderita

Yang perlu dilaporkan dalam MESO :

Semua rx efek samping yang dicurigai akibat obat, tutama efek samping yang

belum diketahui
Setiap efek samping yang dicurigai akibat dr IO
Setiap efek samping serius seperti rx pada jantung, rx pada hati, rx pada ginjal,
rx karsinogenik, dan seluruh efek fatal yang terjadi sehingga dpt juga bakibat

kematian pada pasien


Setiap rx ketergantungan obat, misalnya pgunaan codein sbg obat batuk
Rx anafilaktik
Efek karsinogenik
Diskrasia darah
Perforasi usus
Aritmia jantung
Pendarahan lambung
Kegagalan ginjal
ESO Sindrom Steven Johnson
Serangan epilepsy dan neuropati dll

Monitoring efek samping obat Aspek yang harus dipertimbangkan dalam pemakaian
obat adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Efektivitas
Keamanan
Mutu
Rasional
Harga Aspek keamanan tidak terlepas dari kemungkinan terjadinya efek samping obat
(E.S.O
Sasaran yang ingin dicapai dalam monitoring efek samping obat

1.
2.
3.
4.

Mengadakan pengkajian penggunaan obat yang efisien dan terus menerus


Menigkatkan pengembangan standar penggunaan terapi obat
Meningkatkan kemitraan antarpribadi profesional pelayan kesehatan
Menyempurnakan pelayanan pasien yang diberikan

5. Mengurangi biaya rumah sakit dan perawatan pasien sebagai akibat dosis yang akurat
efek samping yang lebih sedikit, dan waktu hospitalisasi yang lebih singkat
Efek Samping Obat, perlu diMonitor karena :

Merupakan dampak negatif dari pengobatan


Kontra produktif terhadap pengobatan rasional
Tingkat kejadian relatif kecil
Dipengaruhi faktor individual pasien
Keterbatasan prediksi dalam proses pengembangan obat baru

HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) adalah suatu sistem jaminan
mutu yang berdasarkan kepada kesadaran bahwa hazard (bahaya) dapat timbul pada
berbagai titik atau tahap produksi tertentu, tetapi dapat dilakukan pengendaliannya
untuk mengontrol bahaya bahaya tersebut. HACCP adalah suatu sistem dengan
pendekatan sistematik untuk mengidentifikasi dan mengakses bahaya-bahaya dan
risiko-risiko yang berkaitan dengan pembuatan, distribusi dan penggunaan produk
pangan. Sistem ini bertanggung jawab untuk menentukan aspek-aspek kritis dalam
memperoleh keamanan makanan selama proses di pabrik. HACCP memberikan
kesempatan pada pabrik makanan untuk meningkatkan efisiensi pengontrolan dengan
menciptakan kedisiplinan pendekatan sistematik terhadap prosedur untuk keamanan
pangan (Mortimore dan Wallace, 1995). HACCP (Hazard Analysis and Critical
Control Point) merupakan suatu sistem yang mengidentifikasi, mengevaluasi dan
mengontrol setiap tahapan proses yang rawan terhadap risiko bahaya signifikan yang
terkait dengan ketidakamanan pangan
Keuntungan dan kerugian :
Penerapan HACCP sebagai alat pengatur keamanan pangan dapat memberikan
keuntungan, yaitu mencegah terjadinya bahaya sebelum mencapai konsumen,
meminalkan

risiko

kesehatan

yang

berkaitan

dengan

konsumsi

makanan,

meningkatkan kepercayaan akan keamanan makanan olahan sehingga secara tidak


langsung mempromosikan perdagangan dan stabilitas usaha makanan.[3] Beberapa
kerugian dari HACCP adalah tidak cocok bila diaplikasikan untuk bahaya atau proses
yang hanya sedikit diketahui, tidak melakukan kuantifikasi (penghitungan) atau
memprioritaskan risiko, dan tidak melakukan kuantifikasi dampak dari tambahan
kontrol terhadap penurunan risiko
prinsip HACCP :
1. melakukan analsis biaya
2. menentukan titik pengendalian kritis (critical control point,CCP)

3. menentukan batass kritis


4. membuat suatu sistem pemantauan (monitoring) ccp
5. melakukan tindakan korektif apabila pemantauan mengindikasikan adanya CCP yang
tidak berada dibawah kontrol
6. menetapkan prosedur verifikasi untuk mengkonfirmasi bahwa sistem HACCP bekerja
secara efektif
7. melakukan dokumentasi terhadap seluruh prosedur dan cacatan yang berhubungan
dengan prinsip dan aplikasinya.
Karakteristik khas HACCP sebagai manajemen keamanan pangan, yaitu:
a. Pendekatan Sistematik
b. Pendekatan Sistematik
c. Proaktif
d. Team Effort
e. Teknik common sense
f. Sistem hidup dan dinamik
Persamaan antara HACCP dan MESO sama-sama untuk mengidentifikasi namun
HACCP untuk pangan dan MESO untuk obat. Guna menghindari efek samping yang
tidak diinginkan dan mencapai keamanan dan kesehatan konsumen.
Kedua penilaian ini diaplikasikan dalam farmakoepidemiologi dapat mendukung
penggunaan obat rasional dan biaya obat yang efektif di masyarakat, dengan demikian
meningkatkan hasil kesehatan
Referensi buku :
1. http://dokumen.tips/documents/3-meso.html
2. Diana Sari Ida,dkk,2014.Studi Monitoring Efek Samping Obat Antituberkulosis FDC
Kategori 1 Di Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat.Jakarta:Media Litbangkes
Vol.24 No.1:28-35.
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_bahaya_dan_pengendalian_titik_kritis#Keuntu
ngan_dan_Kerugian
4. http://giziberkarya.blogspot.co.id/2014/09/haccp-hazard-analysis-and-critical.html